Anda di halaman 1dari 13

LAPORAN KASUS

OTITIS MEDIA SUPURATIF KRONIS

Disusun oleh:
Diana Mayasari, S.Ked
201310401011043

Dokter Pembimbing:
dr. Purnaning W.P. Sp. THT-KL

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH


MALANG
SMF IMU KESEHATAN TELINGA HIDUNG TENGGOROK
RSUD JOMBANG
2014

OTITIS MEDIA SUPURATIF KRONIK


(Laporan Kasus)
Bagian/ SMF Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok
Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Malang/ RSUD Jombang

PENDAHULUAN
Otitis Media Supuratif Kronis (OMSK) adalah proses inflamsi di dalam
telinga tengah yang berhubungan dengan kerusakan jaringan yang bersifat
irreversible.6 Secara klinis otitis media supuratif kronik dibagi menjadi 2 tipe yaitu
tipe benigna dan tipe malignan. Otitis Media Supuratif Kronik Benigna
mempunyai berbagai tipe karkteristik diantaranya adalah sekret mukopurulen,
perforasi sentral membran timpani, tidak bergranulasi dan tidak ada kolesteatom,
sedangkan pada tipe maligna mempunyai berbagai tipe karakteristik diantaranya
adalah sekret mukopurulen yang berbau, perforasi total pada membran timpani,
dan di tandai dengan adanya granulasi dan kolesteatom.12
Di Negara berkembang Insiden Otitis Media Supuratif Kronik (OMSK)
lebih tinggi karena standar sosial-ekonomi yang jelek, kurang gizi dan kurangnya
pendidikan kesehatan, salah satunya dinegara Indonesia insiden OMSK masih
tinggi. Menurut survei yang dilakukan oleh Departemen Kesehatan tahun 19941996, kejadian OMSK adalah 3,8 persen. 3,12
Dari bakterinya Otits Media Suprutif Kronik (OMSK) dan Otitis Media
Akut sangat berbeda. Pada Otitis Media Akut di telinga tengah ditemukan bakteri
yaitu berupa Streptococcus Pneumonia, Staphylococcus Aureus, Haemophilus

Influenza dan Micrococcus catarrhalis. Sedangkan pada Otitis Media Supuratif


Kronik terdapat bakteri aerobic yaitu diantaranya Pseudomonas aeruginosa,
Escherichia coli, Stapilococcus aureus, Streptococcus pyogenesis, Proteus
mirabilis, spesies Klabisiella, sedangkan pada bekteri yang anaerobic diantaranya
adalah Bakteroides, peptstrptococcus, Proprionibakterium.
Laporan Kasus
Seorang Laki-laki berusia 16 tahun, berat badan 50 kg, Alamat Kedung
Lumpang-Mojoagung-Kabupaten Jombang. Datang ke Instalansi Gawat Darurat
RSUD Jombang pada Tanggal 30 Maret 2014. Pada anamnesis di dapatkan
keluhan utama nyeri kepala hebat. Dari riwayat penyakit sekarang nyeri kepala
hebat sejak hari minggu tanggal 30 Maret 2014, badan panas sejak 2 minggu
yang lalu, keluar cairan dari telinga kiri sejak 2 minggu yang lalu, cairan berwarna
kuning kehijauan, cairan yang keluar dari telinga berbau, telinga kiri juga
mengalami penurunan pendengaran sejak hari selasa tgl 1 April 2014, telinga kiri
terasa berdenging , tidak ada nyeri telinga. Pada hidung dan tenggorokan tidak ada
keluhan. Pada kelas 1 SD telinga sebelah kiri keluar cairan berwarna putih molor,
nyeri telinga sebelumnya disangakal, tidak ada suara berdenging sebelumnya,
riwayat batuk pilek saat kecil sering tapi tidak diobati. Riwayat sering mengkorekkorek telinga dengan korek api. Sering berenang. Sering minum es dan makan
gorengan. Tidak ada riwayat alergi makanan, obat,debu, dan dingin. Pada
pemeriksaan fisik terdapat kaku kuduk positif
Dari hasil pemeriksaan didapatkan telinga kanan dan kiri membrane
timpani tidak dapat dievalusi karena pada telinga kanan didapatkan sekret

mukopurulen dan pada telinga kiri didapatkan debris dan sekret mukopurulen.
Pada pemeriksaan hidung dan tenggorok tidak didapatkan kelainan.
Dari hasil pemeriksaan foto schuller kiri didaptkan air cell yang
menghilang, terdapat rongga, dan sklerotik. Selain itu dapat dilakukan
pemeriksaan penunjang CT-scan untuk menilai apakah ada komplikasi
intrakranial karena pada pasien terdapat tanda-tanda infeksi intrakranial yaitu
nyeri kepala hebat, febris, dan kaku kuduk positif.
Diagnosis pada pasien diatas adalah Otitis Media Supuratif Kronik
Malignan Sinistra suspect meningitis.
Terapi yang deiberikan pada pasien ini adalah tetes telinga , berupa
larutan H2O2 3% selama 3-5 hari, tetes telinga, antibiotik, antipiretik-analgesik
parasetamol, jika keadaan sudah stabil dilakukan operasi mastoidektomi

PEMBAHASAN
Otitis media supuratif kronis (OMSK) adalah suatu infeksi yang bersifat
persisten ataupun intermitten pada telinga tengah yang ditandai dengan keluarnya
cairan dari telinga lebih dari 3 bulan melalui perforasi atau membran timpani yang
sudah tidak intak lagi akibat infeksi bakteri, jamur, dan virus yang menyebabkan
inflamasi pada mukosa kavum timpani sehingga biasa sering ditemukan hilangnya
sebagian atau total dari membran timpani atau tulang-tulang pendengaran.4
Dari beberapa kasus, OMSK dapat terjadi karena episode otitis media
supuratif akut (OMSA) yang telah perforasi. Mekanisme terulangnya kembali
infeksi telinga tengah ini akibat dari terkontaminasinya bakteri secara langsung
dari telinga luar melalui membran timpani yang telah perforasi. Pada membran
timpani yang masih intak akan berfungsi sebagai bantalan udara pada telinga
tengah yang akan mencegah refluknya sekresi nasofaring ke dalam telinga tengah
melalui tuba eustachius, hilangnya proteksi ini akan menyebabkan meningkatnya
paparan telinga tengah terhadap bakteri patogen melalui nasofaring, sehingga
akan menyebabkan terjadinya OMSK.1
Pada OMSK dapat ditemukan bakteri aerob dan anaerob, lain halnya pada
OMSA sering terinfeksi oleh bakteri aerob. Bakteri aerob yang sering
menyebabkan OMSK adalah Pseudomonas aeruginosa, Escherichia coli,
S.aureus, Streptococcus pyogenes, Proteus mirabilis, Klebsiella. Sedangkan
bakteri anaerob adalah Bacteroides, Peptostreptococcus, proprionibacterium.9
Pada penelitian yang dilakukan oleh Mohammad S. Attallah,MD (2000)
tentang mikrobiologi pada OMSK didapatkan bakteri merupakan penyebab

tersering OMSK, bakteri aerob yang tersering adalah Pseudomonas aeruginosa


(51%), S.aureus (31%), Proteus species (17%). Sedangkan bakteri anaerob yang
tersering adalah Bacteroides species (12,5%) selain itu ada beberapa jamur
sebagai penyebab OMSK adalah Aspergillus species (10%) dan Candida albicans
(7%).6
Secara klinis otitis media supuratif kronis dibagi bagi menjadi 2 yaitu tipe
benigna dan tipe malignan. Tipe benigna tidak disertai dengan kolesteatom dibagi
menjadi fase aktif yaitu timbulnya sekret yang supuratif terus menerus, sedangkan
pada fase tenang tidak ada keluar sekret akan tetapi masih ada sisa dari infeksi
sebelumnya yaitu terdapatnya perforasi sentral pada membran timpani. Pada
OMSK malignan selalu disertai kolesteatom yang akan menimbulkan gejala
seperti sekret mukopurulen yang sangat berbau, perforasi atik,perforasi marginal
maupun perforasi total pada membran timpani serta biasa di sertai granulasi.12
Perbedaan OMSK tipe benigna dan malignan
Tipe benigna
Sekret

Tipe malignan

Banyak, mukoid, tidak Sedikit, purulen, berbau


berbau

Perforasi

Sentral

Atik atau marginal

Granulasi

Jarang

sering

Polip

Pucat

Merah

Kolesteatom

Tidak ada

ada

Komplikasi

jarang

Sering

Audiogram

Tuli

konduksi

sampai sedang

ringan Tuli konduksi atau tuli


campuran

Tabel 1. Perbedaan OMSK tipe benigna dan malignan.3

Kolesteatom merupakan tanda telah terjadinya otitis media supuratif


kronis tipe malignan.12 Kolesteatom adalah suatu koleksi abnormal yang aktif dan
berisi deskuamasi sel epitel squamosa yang terdapat pada telinga tengah dan celah
mastoid.8 Kolesteatom diklasifikasikan menjadi dua yaitu kolestetom kongenital
dan kolestetom akuisital. Kolesteatom kongenital terbentuk pada masa embrionik
dan ditemukan pada telinga dengan membran timpani utuh tanpa adanya tandatanda infeksi. Lokasi kolesteatom biasanya di kavum timpani, petrosus mastoid
atau di cerebellopontin angle.15
Sedangkan kolesteatom akuisital dibagi lagi menjadi dua yaitu primer dan
sekunder. Disebut primer karena tidak ada riwayat otitis media sebelumnya atau
perforasi. Ada beberapa teori timbulnya kolesteatom akuisital primer yaitu teori
invaginasi, teori ini menyatakan bahwa kolesteatom terjadi karena adanya tekanan
negatif yang persisten di telinga tengah akibat gangguan tuba sehingga akan
menyebabkan akumulasi keratin debris pada telinga tengah.3
Kolesteatom akuisital sekunder terdiri dari teori migrasi dan metaplasi,
teori migrasi disebabkan oleh adanya perforasi membran timpani sehingga epitel
kulit dari liang telinga atau dari pinggiran perforasi membran timpani akan ke
telinga tengah sedangkan teori metaplasi akibat dari metaplasi kavum timpani
akibat iritasi infeksi yang berlangsung lama. Selain itu ada teori implantasi yaitu
akibat implantasi kulit secara iatrogenik kedalam telinga tengah sewaktu operasi,
setelah blust injury, pemasangan pipa ventilasi atau setelah miringitomi.15

Jika kolesteatom masuk kedalam telinga tengah maka akan menyerang


struktur telinga disekitarnya serta akan menghasilkan enzim-enzim perusak tulang
seperti kolagenase, asam fosfatase, proteolisis sehingga akan menyebabkan
kerusakan tulang-tulang pendengaran, erosi dari tulang labirin, kanal nervus
fasialis, sinus plate atau tegmen timpani dan dapat menyebabkan beberapa
komplikasi lainnya.3
Untuk menegakkan diagnosis OMSK yaitu dengan anamnesis keluhan dan
gejala pasien, keluhan yang sering timbul adalah keluar cairan dari telinga, nyeri
telinga. Perlu ditanyakan pula sebelum keluar cairan telinga penderita mengalami
demam, nyeri tenggorokan, batuk atau gejala-gejala infeksi saluran nafas atas.
Jika sebelum keluar cairan dari telinga didapatkan keluhan infeksi saluran nafas
atas maka harus dicurigai OMSK.9
Selain anamnesis perlu dilakukan pemeriksaan telinga menggunakan
otoskopi untuk melihat sekret telinga dan melihat jenis perforasi pada membran
timpani. Jika perforasi pada membran timpani bentuk sentral maka OMSK tipe
benigna sedangkan jika perforasi bentuk atik atau marginal dan disertai adanya
granulasi dan kolesteatom maka OMSK tipe malignan.3,9
Selain itu dapat dilakukan tes pendengaran garpu tala dan audiogram
untuk menilai seberapa besar penurunan pendengaran dan tipe tuli yaitu konduktif
atau sensorineural. Kultur sekret juga dapat dilakukan untuk menetukan bakteri
yang menginfeksi pada telinga tengah sehingga pemilihan antibiotik sesuai
dengan jenis bakteri. Mastoid X-ray juga disarankan untuk menilai mastoid,
biasanya terdapat sklerotik dan perselubungan air cell mastoid yang menandakan

OMSK tipe benigna, sedangkan bila terdapat destruksi tulang maka ini merupakan
tanda OMSK malignan. CT Scan juga di indikasikan jika ada gejala intrakranial.3
OMSK dapat menimbulkan beberapa komplikasi yaitu komplikasi
intratemporal, ekstratemporal dan intrakranial. Komplikasi intratemporal meliputi
paresis nervus fasialis, labirinitis sedangkan komplikasi ekstratemporal meliputi
abses subperiosteal dan petrositis, dan komplikasi intrakranial terdiri dari
meningitis, abses otak, abses subdural dan abses ekstradural.15,1,7
Paresis nervus fasialis terjadi karena komplikasi OMSA maupun OMSK,
pada OMSK paresis nervus fasialis terjadi karena tekanan langsung oleh granulasi
dan kolesteatom pada nervus fasialis, selain itu kolesteatom ini merusak tulang
disekitarnya yang akan menimbulkan infeksi pada kanal fasialis. Jika paralisis
nervus fasialis ini terjadi disebabkan oleh OMSK maka harus dilakukan
pembedahan untuk dekompresi nervus fasialis.1,15
Labirinitis, infeksi pada telinga tengah dapat menginvasi bakteri ke telinga
dalam dengan cara langsung. Selain itu erosi kapsul tulang pada telinga tengah
oleh kolesteatom memudahkan bakteri masuk ketelinga tengah. Labirinitis dapat
menyebabkan tuli sensorineural mendadak, vertigo yang berat, nistagmus, mual
dan muntah. Cochlear aqueduct merupakan tempat komunikasi antara perilimf
dan cairan serebrospinal sehingga hal ini merupakan resiko timbulnya meningitis.
Terapi pada komplikasi ini adalah diberikan antibiotik untuk mencegah terjadinya
komplikasi meningitis.1
Petrositis, kira-kira sepertiga dari populasi manusia tulang temporalnya
mempunyai sel-sel udara sampai ke apeks os petrosum, terdapat beberapa cara
penyebaran infeksi dari telinga tengah ke os petrosum, yang paling sering adalah

penyebaran langsung ke sel-sel udara tersebut. Adanya petrositis harus dicurigai


jika timbul keluhan diplopia, kelemahan N.VI, nyeri daerah parietal, temporal
atau oksipital dan otore purulen persisten. Pengobatan petrositis ialah operasi dan
pemberian antibiotik dosis tinggi mencegah komplikasi intrakranial.15
Meningitis terjadi karena penyebaran melalui hematogen ataupun
langsung melalui cochlear aqueduct telinga dalam. Gejala yang sering timbul ada
nyeri kepala hebat, fotofobia, kaku leher, dan menurunnya kesadaran. Untuk
menegakkan diagnosis ini dapat dilakukan pemeriksaan penunjang CT scan
ataupun MRI dan dapat pula dilakukan lumbal pungsi. Pada kasus OMSK dengan
meningitis, untuk terapi pembedahan harus menunggu sampai pasien dalam
keadaan stabil.1
Abses otak sering terdapat pada lobus temporal atau serebelum, sehingga
akan menimbulkan gejala saraf fokal sesuai lokasi abses. Jika abses terlalu besar
maka akan meningkatkan tekanan intrakranial. Jika abses otak ini telah
terdiagnosis secara pasti maka dilakukan segera pembedahan saraf untuk
mendrainase abses.1
Abses subdural terbentuk diantara duramater dan arakhnoid. Tanda dan
gejala yang ditimbulkan lebih cepat dibandingkan abses otak. Drainase abses
merupakan terapi yang paling baik. Pungsi lumbal yang dilakukan pada abses
subdural untuk membedakan dengan meningitis. Pada abses subdural pada
pemeriksaan likuor serebrospinal didapatkan kadar protein yang normal dan tidak
ditemukannya bakteri.1,15
Abses ekstradural terbentuk di fossa tengah yaitu antara duramater dan
lempeng tulang tipis pada tegmen. Pada foto rontgen schuller dapat dilihat

kerusakan di lempeng tegmen. Pada umumnya abses ekstradural ditemukan pada


waktu mastoidektomi.1,15
Pada semua komplikasi intrakranial gejala yang sering dikeluhkan adalah
nyeri kepala hebat dan demam.1
Pada pasien diatas mengeluh nyeri kepala, sebelumnya 2 minggu yang lalu pasien
mengeluh demam dan sekret purulen berbau. Pada tinjauan pustaka diatas
menyebutkan bahwa hebat sejak , badan panas sejak 2 minggu yang lalu, keluar
cairan dari telinga kiri sejak 2 minggu yang lalu, cairan berwarna kuning
kehijauan, cairan yang keluar dari telinga berbau, telinga kiri juga mengalami
penurunan pendengaran sejak hari selasa tgl 1 April 2014, telinga kiri terasa
berdenging , tidak ada nyeri telinga. Pada hidung dan tenggorokan tidak ada
keluhan. Pada kelas 1 SD telinga sebelah kiri keluar cairan berwarna putih molor,
nyeri telinga sebelumnya disangakal, tidak ada suara berdenging sebelumnya,
riwayat batuk pilek saat kecil sering tapi tidak diobati. Riwayat sering mengkorekkorek telinga dengan korek api. Sering berenang. Sering minum es dan makan
gorengan. Tidak ada riwayat alergi makanan, obat,debu, dan dingin. Pada
pemeriksaan fisik terdapat kaku kuduk positif
Terapi pada OMSK tujuannya adalah untuk menyembuhkan infeksi dan
memperbaiki gangguan pendengaran pada telinga. Terapi pada OMSK meliputi
Aural toilet yaitu untuk membersihkan semua sekret dan debris dari telinga.
Dengan cara meneteskan steril salin normal pada telinga, lalu dibersihkan dengan
penyerap cotton bud dan telinga dikeringkan. Kemudian dilanjutkan terapi tetes
telinga yang mengandung antibiotik neomycin, polimiksin, chloromycetin atau
gentamisin. semuanya dikombinasikan dengan steroid yang memiliki efek lokal

anti-inflamasi, tetes telinga yang menganndung antibiotik digunakan dengan cara


menekan tragus agar dapat masuk pada telinga tengah. Hal ini harus dilakukan
tiga atau empat kali sehari. pH asam membantu untuk menghilangkan infeksi
pseudomonas.3
Pembedahan adalah pengobatan yang pertama. Tujuannya adalah untuk
menghilangkan penyakit dan membuat telinga aman, dan prioritas kedua adalah
untuk mempertahankan pendengaran . Dua jenis prosedur pembedahan yang
dilakukan untuk menangani kolesteatom adalah mengambil rongga mastoid.
Operasi yang umum dilakukan adalah mastoidektomi.

Kolesteatom dapat merusak susunan ossicular yang menyebabkan


penurunan pendengaran. Incus, stapes dan incudostapedeal joint merupakan

tempat yang paling rentan terhadap kerusakan karena daerah ini merupakan
tempat yang memiliki vaskularisasi yang paling minimal.12