Anda di halaman 1dari 8

Online Jurnal of Natural Science, Vol.

2(3): 1-8
Desember 2013

ISSN: 2338-0950

STANDARISASI EKSTRAK ETIL ASETAT KAYU SANREGO (Lunasia amara Blanco)


Syariful Anam1, Muhammad Yusran1, Alfred Trisakti1, Nurlina Ibrahim1,
Ahmad Khumaidi1, Ramadanil2, Muhammad Sulaiman Zubair1*
1

Program Studi Farmasi, Universitas Tadulako, Palu, Sulawesi Tengah, Indonesia


2
Jurusan Biologi, Universitas Tadulako, Palu, Sulawesi Tengah, Indonesia

ABSTRACT
Lunasia amara Blanco is a popular medicinal plant which is known as aphrodisiac in South Sulawesi
Province. Biological activity as antibacterial, anticancer dan antituberculosis were also scientifically
reported. This study is to ascertain the safety and quality of the plant extract by standardization
procedures mentioned in literature, including specific and non-specific parameters. The result showed that
ethyl acetate wood extract of L. amara Blanco, which is brown viscous extract, astringent to the taste and
characteristic odor, contain water-soluble extractive matters of 23,95 2,192 %, ethanol-soluble
extractive matters of 67,05 3,61 %, water content of 5,33 0,407 %, total ash content of 0,65 0,199
%, acid-insoluble ash content of 0,58 0,225 %, density of 0,7734 0,0016 (5%) and 0,7957 0,0021
(10%), total contaminant number of bacteria and fungus of each < 1 x 104 colony/g, and Pb concentration
of 10,59 0,239 mg/kg. Ethyl acetate wood extract of L. amara Blanco has been qualified as
standardized extract. Therefore, this study can be a reference for identification and control quality of the
extract as a herb-medicine material
Key words : Sanrego, Lunasia amara, Standardization, Specific Parameter, Non Spesific Parameter

ABSTRAK
Kayu sanrego (Lunasia amara Blanco) telah dikenal penggunaannya sebagai jamu obat kuat lelaki di
daerah Sulawesi Selatan. Selain itu, tanaman ini juga dilaporkan memiliki aktivitas antibakteri,
antikanker dan antituberculosis. Untuk dapat digunakan sebagai bahan aktif sediaan obat, perlu dilakukan
standarisasi ekstrak untuk menjamin mutu dan keamanannya. Standarisasi ekstrak etil asetat kayu
Sanrego (L. amara Blanco) telah dilakukan sesuai dengan metode standarisasi dari literatur, yang meliputi
penentuan parameter spesifik dan non spesifik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak etil asetat
dengan karakteristik berupa ekstrak kental berwarna coklat tua, rasa sepat dan berbau khas, mengandung
kadar senyawa yang larut dalam air sebesar 23,95 2,192 %, kadar senyawa yang larut dalam etanol
sebesar 67,05 3,61 %, kadar air sebesar 5,33 0,407 %, kadar abu sebesar 0,65 0,199 %, kadar abu
tidak larut asam sebesar 0,58 0,225 %, berat jenis ekstrak sebesar 0,7734 0,0016 (5%) dan 0,7957
0,0021 (10%), total cemaran bakteri dan kapang masing-masing < 1 x 104 koloni/g dan kadar logam
timbal (Pb) sebesar 10,59 0,239 mg/kg. Ekstrak etil asetat kayu sanrego telah memenuhi syarat sebagai
ekstrak terstandar sehingga diharapkan dapat menjadi acuan dalam identifikasi dan kontrol kualitas
ekstrak dalam penggunaanya sebagai bahan obat.
Kata kunci : Sanrego, Lunasia amara, Standarisasi, Parameter Spesifik, Parameter Non Spesifik

Online Jurnal of Natural Science, Vol. 2(3) : 01-08


Desember 2013
I.

LATAR BELAKANG

ISSN: 2338-0950
obat kuat lelaki. Arnida dkk (2008) telah

Di Indonesia terdapat

lebih dari

melaporkan aktivitas afrodisiaka dari ektrak

30.000 jenis tumbuhan dan lebih dari 1000

etil asetat Kayu sanrego. Selain itu, kayu

jenis

tumbuhan

yang

telah

sanrego juga telah diteliti memiliki aktivitas

industri

obat

farmakologis yang lain seperti antibakteri

tradisional. Tumbuhan obat indonesia telah

dan antikanker (Prescoot et al., 2007) serta

semakin banyak dimanfaatkan baik sebagai

antituberculosis (Aguinaldo et al., 2007;

obat tradisional indonesia (jamu), obat

Macabeo and Aguinaldo, 2008). Agar

herbal

fitofarmaka.

khasiat dan kualitas ekstrak etil asetat kayu

Berbagai penelitian dan pengembangan yang

sanrego ini dapat terjamin, maka perlu

memanfaatkan kemajuan teknologi juga

dipenuhi suatu standar mutu produk/bahan

dilakukan sebagai upaya peningkatan mutu

ekstrak

dan keamanan produk yang diharapkan

ekstrak. Standarisasi dilakukan agar dapat

dapat

kepercayaan

diperoleh bahan baku yang seragam yang

terhadap manfaat obat bahan alam tersebut.

akhirnya dapat menjamin efek farmakologi

Obat tradisional dibuat dalam bentuk ekstrak

tanaman tersebut. Standardisasi merupakan

karena tanaman obat tidak lagi praktis jika

proses penjaminan produk akhir (simplisia,

digunakan

utuh

ekstrak atau produk herbal) agar mempunyai

(simplisia). Ekstrak tersebut bisa dalam

nilai parameter tertentu yang konstan dan

bentuk ekstrak kering, ekstrak kental dan

ditetapkan terlebih dahulu (Helmi dkk,

ekstrak cair yang proses pembuatannya

2006). Dari hasil penelusuran pustaka,

disesuaikan

yang

belum ditemukan adanya laporan mengenai

dikandung serta maksud penggunaannya,

standarisasi ekstrak etil asetat kayu sanrego

apakah dibuat menjadi sediaan dalam bentuk

(L. amara Blanco), sehingga penelitian ini

kapsul, tablet, cairan obat dalam, pil, dan

bertujuan

lain-lain.

pula

standarisasi ekstrak etil asetat kayu sanrego

terstandarisasi untuk menjamin mutu dan

yang meliputi parameter spesifik dan non

keamanannya (Hariyati dkk, 2005).

spesifik

dimanfaatkan

dalam

terstandar

lebih

obat

ataupun

meningkatkan

dalam

bentuk

dengan

Ekstrak

bahan

tersebut

bahan

aktif

harus

dengan

untuk

melakukan

menentukan

Kayu sanrego (Lunasia amara Blanco)


merupakan

tanaman

yang

popular

di

Sulawesi Selatan sebagai aprodisiaka atau


Standarisasi Ekstrak Etil Asetat Kayu Sanrego (Lunasia amara Blanco)
(Syariful Anam et al.)
2

standarisasi

parameter

Online Jurnal of Natural Science, Vol. 2(3) : 01-08


Desember 2013

ISSN: 2338-0950

II.

BAHAN DAN METODE

freeze drier untuk memastikan seluruh pelarut

2.1

Bahan Tanaman

telah menguap maksimal. Ekstrak siap sebagai

Bahan tanaman (kayu sanrego) diambil

sampel untuk distandarisasi

dari desa Siawung, kabupaten Barru, Sulawesi

2.5

Selatan pada bulan Juli 2013. Tanaman telah

Standarisasi Ekstrak (Departemen


Kesehatan RI, 2000)

dideterminasi oleh Yayasan Keragaman Hayati

Penentuan parameter non spesifik

Sulawesi (KHAS), Makassar, Indonesia

1.

2.2

Bahan Kimia

Penentuan kadar air

Sejumlah 0,1 g ekstrak ditimbang

Metanol (Merck), n-heksana (Merck),

dalam

krus

porselen

bertutup

yang

etil asetat (Merck), kloroform (Merck), Nutrien

sebelumnya telah dipanaskan pada suhu

Agar (Merck), Potato Dextrose agar (PDA),

1050C selama 30 menit dan telah ditera.

H2SO4 pekat, HCl, HNO3, dan HClO4 (Merck),

Diratakan dengan menggoyangkan hingga

Etanol (Merck), dan Aquadest


2.3

merupakan lapisan setebal 10 15 mm dan

Alat

dikeringkan pada suhu penetapan hingga

Seperangkat alat ekstraksi refluks, rotary

bobot tetap, tutupnya dibuka, dibiarkan krus

evaporator, neraca analitik, oven, tanur, krus


silikat, cawan petri, cawan penguap, autoklaf,

dalam keadaan tertutup dan mendingin

penangas

dalam

air,

desikator,

inkubator,

coloni

desikator

hingga

suhu

kamar,

counter, dan Spektrofotometer serapan atom

kemudian dicatat bobot tetap yang diperoleh

(SSA)

untuk

2.4

Pembuatan ekstrak etil asetat


Kayu

sanrego

dibersihkan

persentase

susut

pengeringannya
dan
Kadar Air =

dikeringkan di bawah sinar matahari tidak


langsung. Selanjutnya, kayu dipisahkan dari

2.

kulitnya dan dipotong kecil-kecil. Batang kayu

Berat sebelum pengeringan Berat akhir


100%
Berat sebelum pengeringan

Penentuan kadar abu

Sejumlah 0,2 g ekstrak ditimbang

lalu diekstraksi secara refluks dengan n-heksan


selama 4 jam.

menghitung

dengan seksama dalam krus yang telah

Setelah filtrat disaring, residu

ditera, dipijarkan perlahan-lahan. Kemudian

kemudian dikeringkan beberapa saat. Residu


kemudian diekstraksi kembali dengan etil asetat

suhu dinaikkan secara bertahap hingga 600

selama 4 jam. Proses ini diulangi sebanyak 2

250C sampai bebas karbon, selanjutnya

kali. Filtrat dikumpulkan lalu diuapkan dengan

didinginkan

evaporator hingga diperoleh ekstrak etil asetat

ditimbang berat abu. Kadar abu dihitung

kental. Penguapan selanjutnya dilakukan dalam

dalam persen berat sampel awal.

dalam

Standarisasi Ekstrak Etil Asetat Kayu Sanrego (Lunasia amara Blanco)


(Syariful Anam et al.)
3

desikator,

serta

Abu

Online Jurnal of Natural Science, Vol. 2(3) : 01-08


Desember 2013

ISSN: 2338-0950

yang diperoleh dari penetapan kadar abu,

ekstrak dengan asam nitrat dan hydrogen

kemudian dididihkan dengan 25 ml asam

peroksida, kadar Pb ditentukan dengan

klorida encer P selama 5 menit, bagian

spektrofotometri serapan atom. Ditimbang

yang

dikumpulkan,

teliti 0,799 g timbal nitrat Pb(NO3)2

disaring melalui kertas saring bebas abu,

kemudian dilarutkan ke dalam labu ukur

dicuci dengan air panas, disaring dan

500 ml dengan air suling, dicukupkan

ditimbang, ditentukan kadar abu yang tidak

volumenya. Dibuat beberapa konsentrasi 1,

larut asam dalam persen terhadap berat

2, 4, 8, dan 10 ppm. Ditimbang teliti 45 mg

sampel awal.

sampel ekstrak kemudian dimasukkan ke

tidak

Kadar Abu =

larut

asam

Berat awal Berat akhir


100%
Berat awal

dalam labu kjeldahl, ditambahkan 5 ml


HNO3 p.a. dan 1 ml HClO4 p.a. lalu

Penentuan total bakteri dan total kapang

didestruksi

a.

Penentuan total bakteri

diperoleh larutan jernih, dimasukkan ke

Sejumlah 1 ml ekstrak dari pengenceran

dalam labu ukur 10 ml, dicukupkan

dipipet dengan pipet steril, kemudian

volumenya.

10

-4

ditanamkan dalam medium NA, lalu diinkubasi

pada

Kadar

suhu

2000C

3.

logam

Pb

sampai

diukur

menggunakan AAS pada 217 nm.

pada suhu 37C selama 24 jam. Kemudian


diamati dan dihitung jumlah koloni yang tumbuh

5.

dan dikalikan dengan faktor pengenceran.

Bobot

Dilakukan replikasi sebanyak tiga kali.


b.

Penentuan bobot jenis


jenis

ekstrak

ditentukan

terhadap hasil pengenceran ekstrak 5% dan

Penentuan total kapang

10% dalam pelarut etanol dengan alat

Sejumlah 1 ml ekstrak dari pengenceran


10-4 dipipet dengan pipet steril, kemudian

piknometer. Digunakan piknometer bersih,

ditanam dalam medium PDA, lalu diinkubasi

kering

pada suhu 25C selama tiga hari. Kemudian

menetapkan bobot piknometer dan bobot air

diamati dan dihitung jumlah koloni yang tumbuh

yang baru dididihkan pada suhu 25oC. Suhu

dan dikalikan dengan faktor pengenceran.

diatur hingga ekstrak cair lebih kurang 20oC,

Dilakukan replikasi sebanyak tiga kali.

lalu dimasukkan ke dalam piknometer.

dan

telah

dikalibrasi

dengan

Diatur suhu piknometer yang telah diisi


4.

Penentuan batas logam berat

hingga suhu 25oC, kelebihan ekstrak cair

Penentuan batas logam Pb di dalam

dibuang dan ditimbang. Kurangkan bobot

ekstrak dilakukan secara destruksi basah

piknometer kosong dari bobot piknometer

Standarisasi Ekstrak Etil Asetat Kayu Sanrego (Lunasia amara Blanco)


(Syariful Anam et al.)
4

Online Jurnal of Natural Science, Vol. 2(3) : 01-08


Desember 2013

ISSN: 2338-0950

yang telah diisi. Bobot jenis ekstrak cair

berkali-kali dikocok selama 6 jam pertama

adalah

dan kemudian dibiarkan selama 18 jam.

hasil

yang

diperoleh

dengan

membagi bobot ekstrak dengan bobot air,

Disaring

dalam piknometer pada suhu 25oC

penguapan etanol, kemudian diuapkan 2ml

Bobot jenis =

Bobot pikno sampel bobot pikno kosong


Bobot pikno air bobot pikno kosong

cepat

dengan

menghindari

filtrat hingga kering dalam cawan penguap


yang telah ditera, residu dipanaskan pada

Penentuan parameter spesifik


1.
Pemeriksaan organoleptik, meliputi

suhu 1050C hingga bobot tetap. Dihitung


kadar dalam persen senyawa yang larut

bentuk, warna, rasa dan bau. Pegujian

dalam etanol terhadap berat ekstrak awal.

ini dilakukan dengan menggunakan


panca indera langsung.
2.

III.

Pada penelitian ini, digunakan sampel

dalam pelarut tertentu.


a.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Penetapan kadar senyawa terlarut


kayu Sanrego (L. amara Blanco). Setelah kayu

Kadar senyawa yang larut dalam air.

dibersihkan dan kulit kayunya dipisahkan, maka

Sejumlah 0,5 g ekstrak disari selama

kayu dikeringkan-anginkan untuk mengurangi

24 jam dengan10 ml air-kloroform LP,


menggunakan

labu

bersumbat

kadar air. Setelah itu, kayu dipotong kecil-kecil

sambil

dengan tujuan untuk menambah luas permukaan

berkali-kali dikocok selama 6 jam pertama

sampel sehingga ketika diekstraksi, maka pelarut

dan kemudian dibiarkan selama 18 jam,

dapat terabsorpsi maksimal ke dalam kayu,

kemudian disaring. Diuapkan 2 ml filtrat

sehingga hasil ekstraksi dapat optimal.

hingga kering dalam cawan penguap, residu

proses ekstraksi dilakukan dengan metode

dipanaskan pada suhu 105C hingga bobot

refluks karena tekstur kayu yang keras. Pelarut

tetap. Dihitung kadar dalam persen senyawa

ekstraksi digunakan pelarut n-heksana dan etil

yang larut dalam air terhadap berat ekstrak

asetat secara berturut-turut. Pelarut n-heksana

Pada

digunakan pertama kali karena bersifat kurang

awal.

polar dibandingkan etil asetat, sehingga dangan


ektraksi n-heksana terlebih dahulu maka akan

b.

Kadar senyawa yang larut dalam


etanol

menarik komponen kimia yang bersifat kurang


polar, seperti lipid, lilin, dll. Setelah itu, residu

Sejumlah 0,5 g ekstrak dimaserasi

kayu hasil ekstraksi n heksana dikeringkan

selama 24 jam dengan 10 ml etanol 95%

beberapa menit lalu dilanjutkan dengan ekstraksi

menggunakan

menggunakan

labu

bersumbat

sambil

etil

asetat

Standarisasi Ekstrak Etil Asetat Kayu Sanrego (Lunasia amara Blanco)


(Syariful Anam et al.)
5

untuk

menarik

Online Jurnal of Natural Science, Vol. 2(3) : 01-08


Desember 2013

ISSN: 2338-0950

komponen kimia yang bersifat lebih polar. Dari

Kadar senyawa yang larut dalam air dan

hasil ekstraksi kayu sanrego sebanyak 2,6 kg,

dalam etanol adalah masing-masing sebesar

diperoleh ekstrak n-heksana sebesar 2,04 g dan

23,95% 2,192 dan 67,05% 3,61. Hal ini

ekstrak etil asetat sebesar 4,06 g (0,15% dihitung

berarti ekstrak lebih banyak terlarut didalam

terhadap berat awal).

etanol daripada di dalam air. Kadar zat

Ekstrak etil asetat diperoleh setelah


dilakukan

penguapan

menggunakan

rotary

pelarut

dengan

evaporator.

Untuk

terlarut ini merupakan uji kemurnian ekstrak


untuk

dilakuan

terendah

dalam pelarut tertentu.

maka ekstrak dikering-bekukan dalam freeze


Selanjutnya

jumlah

kandungan kimia ekstrak yang terlarut

memastikan seluruh pelarut telah menguap,

drier.

mengetahui

Kadar air dalam ekstrak sebesar 5,33%

pengujian

standarisasi ekstrak etil asetat. Hasil pengujian

0,407. Hasil ini telah sesuai dengan

standarisasi ekstrak etil asetat Kayu Sanrego

persyaratan dimana kadar air untuk ekstrak

(Lunasia amara Blanco) dapat dilihat pada tabel

kental adalah antara 5 30%. Hal ini

1.

bertujuan untuk menghindari cepatnya

Pada pemeriksaan organoleptik ekstrak,

pertumbuhan

meliputi bentuk, bau, warna dan rasa, diperoleh

jamur

dalam

ekstrak

(Saifuddin dkk, 2011).

hasil bahwa ekstrak berkonsistensi kental,

Penentuan kadar abu bertujuan untuk

berwarna coklat, berbau khas dan berasa sepat.

memberikan gambaran kandungan mineral

Rasa sepat dari ekstrak disebabkan dari kadar

internal dan eksternal. Ekstrak dipanaskan

alkaloid yang terdapat di dalam ekstrak.

pada suhu tinggi hingga senyawa organik


dan turunannya terdestruksi dan menguap

Standarisasi Ekstrak Etil Asetat Kayu Sanrego (Lunasia amara Blanco)


(Syariful Anam et al.)
6

Online Jurnal of Natural Science, Vol. 2(3) : 01-08


Desember 2013

ISSN: 2338-0950

hingga tersisa unsur mineral dan unsur

masing-masing < 1 x 104 koloni/gram. Hasil

anorganik saja. Diperoleh kadar abu dalam

ini

ekstrak sebesar 0,65 0,199 %, sedangkan

maksimum

kadar abu tidak larut asam diperoleh sebesar

menurut

0,58 0,225 %. Hal ini menunjukkan bahwa

03726/B/SK/VII/89 yaitu batas maksimum

sisa unsur mineral dan anorganik dalam

sebesar 106 koloni/gram. Tidak ditemukan

ekstrak sebesar 0,65 0,199 %, dan unsur

pula pada biakan dalam medium PDA ciri

tersebut tidak larut dalam asam sebesar 0,58

mikroskopis

0,225 % (Helmi dkk, 2006).

koloni yang tumbuh dengan karakteristik

Penentuan

bobot

jenis

ditentukan

memenuhi

persyaratan

mikroba
SK

dalam

Dirjen

biakan

batasan
makanan

POM

Aspergillus

No.

flavus,

berwarna kuning muda dan hifa tidak

dengan menggunakan piknometer. Ekstrak

bersekat,

sehingga

penentuan

yang digunakan adalah ekstrak yang telah

aflatoksin

tidak

diencerkan dengan etanol 96% hingga

merupakan

menjadi konsentrasi 5% dan 10%. Ekstrak

dihasilkan jamur yang dapat menyebabakan

5% memiliki bobot jenis sebesar 0,7734

toksigenik,

0,0016, sedangkan ekstrak 10% memiliki

karsinogenik (Helmi dkk, 2006).

dilanjutkan.

metabolit

mutagenik,

angka

Aflatoksin

sekunder

yang

teratogenik

dan

bobot jenis sebesar 0,7957 0,0021. Hal ini

Pemeriksaan kadar logam berat (Pb)

menggambarkan besarnya massa per satuan

pada ekstrak bertujuan untuk menjamin

volume untuk memberikan batasan antara

bahwa ekstrak tidak mengandung logam

ekstrak kental dan ekstrak cair. Bobot jenis

berbahaya timbal melebihi batas yang

juga berkaitan dengan kontaminasi dan

ditetapkan karena dapat bersifat toksik pada

kemurnian ekstrak (Departemen Kesehatan

tubuh manusia. Pada pengujian ini dilakukan

RI, 2000)

dengan

menggunakan

metode

Pengujian cemaran bakteri dan kapang

spektrofotometri serapan atom (SSA) karena

merupakan saah satu uji untuk kemurnian

memiliki batas seleksi rendah dan lebih

ekstrak. Uji ini mencakup penentuan jumlah

selektif dalam menentukan kadar logam

mikroorganisme yang diperbolehkan dan

dalam

untuk menunjukkan tidak adanya adanya

menunjukkan kandungan logam Pb dalam

bakteri atau kapang tertentu di dalam

ekstrak etil asetat kayu sanrego sebesar

ekstrak.

10,59 0,239 mg/kg.

Hasil

penelitian

menunjukkan

cemaran bakteri dan kapang dalam ekstrak

suatu

sampel.

Hasil

penelitian

Hasil ini telah

memenuhi persyaratan batas maksimum

Standarisasi Ekstrak Etil Asetat Kayu Sanrego (Lunasia amara Blanco)


(Syariful Anam et al.)
7

Online Jurnal of Natural Science, Vol. 2(3) : 01-08


Desember 2013

Pengawasan Obat dan Makanan,


Direktorat Pengawasan Obat
Tradisional, Bakti Husada,
Jakarta, 9 - 18
Hariyati, S., (2005), Standarisasi Ekstrak
Tumbuhan Obat Indonesia,
Salah Satu Tahapan Penting
dalam Pengembangan Obat Asli
Indonesia, InfoPOM, 6(4), 1-5
Haryani Y, Muthmainah S, dan Sikumbang
S., (2013), Uji Parameter Non
Spesifik
dan
Aktivitas
Antibakteri Ekstrak Metanol
dari Umbi Tanaman Dahlia
(Dahlia
variabilis),
Jurnal
Penelitian Farmasi Indonesia,
1(2), 43-46
Helmi, A, Nelmi A, Dian H, Roslinda R.,
(2006), Standarisasi Ekstrak
Etanol Daun Eugenia cumini
Merr, J. Sains Tek. Far, 11(2),
88-93
Macabeo A.P.G., and Aguinaldo A.M.,
(2008),
Chemical
and
Phytomedicinal Investigations
in
Lunasia
amara,
Pharmacognosy Reviews, 2(4),
pp. 317-325.
Prescott A.K., Maciver S.K., Sadler I.H., &
Kiapranis
R.,
(2007),
Lunacridine
from
Lunasia
amara is a DNA intercalating
topoisomerase II inhibitor,
Journal of Ethnopharmacology,
109, pp. 289-294.
Saifuddin A, Rahayu V, Teruna HY, (2011),
Standarisasi Bahan Obat Alam,
Graha Ilmu, Yogyakarta

cemaran logam timbal pada rempah-rempah


sesuai

SK

Dirjen

POM

No.03725/B/SK/VII/89 yang menyatakan


bahwa batas maksimum cemaran logam
sebesar atau sama dengan 10 mg/kg (Helmi
dkk, 2006, Haryani dkk, 2013).
Ekstrak etil asetat kayu sanrego (Lunasia
amara Blanco) telah memenuhi persyaratan
standarisasi yang meliputi parameter spesifik
dan non spesifik sebagai bahan baku obat

IV.

UCAPAN TERIMA KASIH


Penulis

mengucapkan

terimakasih

kepada DP2M DIKTI yang telah membiayai


penelitian ini melalui skema Hibah Bersaing
Tahun

2012

dengan

nomor

kontrak

2851/UN28/DT/2013.
V.

ISSN: 2338-0950

DAFTAR PUSTAKA

Arnida, Imono AD, Subagus W., (2003),


Isolasi fraksi aktif afrodisiaka
dari kayu Sanrego (Lunasia
amara
Blanco),
Majalah
Farmasi Indonesian, 14(4): 195200
Aguinaldo A.M., Dalangin M.V., Macabeo
A.P.G., Abe F, Yamauchi T,
Franzblau S, & Byrne L.T.,
(2007), Quinoline alkaloids
from Lunasia amara inhibit
Mycobacterium
tuberculosis
H37Rv in vitro, Int. J.
Antimicrob Agents, 29(6), pp.
744-6.
Departemen
Kesehatan
RI,
(2000),
Parameter
Standar
Umum
Ekstrak Tumbuhan Obat, Edisi
I,
Direktorat
Jenderal

Standarisasi Ekstrak Etil Asetat Kayu Sanrego (Lunasia amara Blanco)


(Syariful Anam et al.)
8