Anda di halaman 1dari 2

Larutan amoniak disini berfungsi sebagai ligan yang mempunyai sebuah orbital ya

ng berisi elektron tak berpasangan untuk interaksinya dengan logam, bentuk kompl
eks koordinasi yang klasik dengan logam. Mereka bergabung hanya dengan interaksi
elektron ligan dengan orbital d,s, atau p yang kosong dari logam. Ligan ini ada
lah basa lewis, dan logam adalah asam lewis. Ikatan ini dibentuk dari rotasi sim
etrik diatas sumbu logam dengan ligan dan digambarkan sebagai suatu ikatan. Pada
percobaan ini, ada tiga langkah yang dilakukan, yaitu pembuatan larutan A, laru
tan B dan kemudian larutan A dan larutan B dicampur.
1. Larutan A
Pada percobaan ini Larutan A dibuat dengan melarutkan 5gram serbuk besi (warna s
erbuk besi hitam) dalam 40mL H2SO4 20 % (larutan tak berwarna). Serbuk besi kemu
dian dilarutkan dengan asam sulfat dan serbuk besi melarut sedikit demi sedikit
. Untuk melarutkan semua besi, larutan tersebut dipanaskan sampai hampir semua
besi larut, tapi sulit untuk melarutkan semua besi. Serbuk besi tidak larut semp
urna karena dapat disebabkan oleh serbuk besi yang digunakan bukan merupakan zat
pro analisa, sehingga terganggu oleh zat pengotor. Fungsi pemanasan disini yait
u untuk menghilangkan gas H2 dan mempercepat pembentukan ion Fe2+ yang ditandai
dengan terbentuknya endapan berwarna kehijauan. Kemudian larutan tersebut disari
ng dalam keadaan panas dengan mengunakan kertas saring
H2SO4 disini berfungsi untuk mengoksidasi logam Fe menjadi ion logam Fe2+. Adapu
n tujuan dari penyaringan adalah untuk memisahkan larutan dari filtratnya, dan p
enyaringan dalam keadaan panas berfungsi untuk menghindari terbentuknya kistal p
ada suhu yang rendah dan tujuan dari pemanasan adalah sebagai katalis yaitu untu
k mempercepat terjadinya reaksi sehingga hampir semua besi larut. Larutan ini te
rus diuapkan dengan tujuan untuk mengurangi molekul air yang ada pada larutan. P
ercobaan ini menghasilkan garam besi (II) sulfat yang merupakan garam besi (II)
yang terpenting. Garam-garam besi (II) atau fero diturunkan dari besi (II) oksid
a, FeO. Dalam larutan, garam-garam ini mengandung kation Fe2+ sehingga berwarna
hijau.
2. Larutan B
Pada percoaan ini Larutan B dibuat dengan melarutkan 25mL H2SO4 20% dengan 35mL
NH4OH 10%, campuran dipanaskan pada suhu set 80derajat Celcius, kemudian diukur
lah pH campuran, yang seharusnya pH netral tetapi masih sangat asam, hal ini dis
ebabkan kami salah men-set suhu, seharusnya set suhu 80 derajat celcius adalah s
et suhu larutan, bukan suhu hotplate.
3. Larutan A dan B
Pembentukan kristal garam mohr dapat dilakukan dengan cara mencampurkan larutan
A dan B ketika masih panas, pada set suhu ini pun kami melakukan kesalahan, seha
rusnya st suhu 100-125 derajat celcius adalah untuk set suhu larutan, bukan set
suhu hotplate, sehingga kristal garam mohr tidak terbentuk. Lalu kami pun memana
skan kembali campuran pada hari kedua hingga campuran lewat jenuh, maka dihasilk
an larutan dan endapan berwarna hijau muda. Untuk memperoleh kristal, dilakukan
pendinginan sehingga terbentuk kristal yang lebih halus. Pada hari ketiga kami m
enyaring dan memisahkan kristal dari larutannya. karena diduga masih ada garam m
ohr dalam larutan, maka kami memanaskan kembali larutan filtrat hingga lewat jen
uh, namun kristal yang terbentuk pada pemanasan kedua ini berwarna hijau dan leb
ih halus hal ini dapat disebabkan oleh zat pengotor. Larutan pemanasan kedua did
inginkan dan kemudian disaring, kristal pemanasan kedua disatukan dengan kristal
pemanasan pertama lalu dikeringkan di oven pada suhu 60 derajat celcius. Krist
al garam Mohr ditimbang dengan neraca analitik dan didapatkan 8,08 gram garam Mo
hr murni. Dari data yang diperoleh, maka didapatkan rendamen garam mohr sebanyak
23 %, artinya kemurnian garam Mohr hanya 23 %, sangat berbedea jika dibandingka
n dengan berat teori dari garam Mohr. Ini disebabkan dari berbagai faktor dianta
ranya karena adanya zat-zat penganggu dari luar dan suhu pemanasan campuran yang
kurang tinggi. Garam Mohr yang terbentuk berwarna warna hijau muda. kami melaku
kan pengujian Garam Mohr dengan uji pH dan uji SO4. uji pH dilakukan dengan cara
mencampurkan 2mL garam mohr (0,5g garam mohr dalam 10mL aquadest) dengan 2mL Na
OH, pH campuran adalah 10 maka pH garam mohr kami sesuai yaitu basa. dan pada uj

i SO4 kami mencampurkan 2mL garam mohr (0,5g garam mohr dalam 10mL aquadest) lal
u ditambah 2mL BaCl2, maka terbentuk endapan putih yang menunjukkan garam mohr k
ami mengandung SO4.