Anda di halaman 1dari 8

Oseanologi dan Limnologi di Indonesia (2009) 35(1): 57- 64

ISSN 0125 9830

PERBANDINGAN KUALITAS NATRIUM ALGINAT BEBERAPA


JENIS ALGA COKLAT
oleh
ABDULLAH RASYID
Pusat Penelitian Oseanografi LIPI
Received 15 October 2008, Accepted 17 February 2009

ABSTRAK
Natrium alginat merupakan salah satu polisakarida yang diekstraksi dari
alga coklat dan telah dimanfaatkan secara luas oleh industri makanan, minuman,
tekstil, farmasi, kosmetik, kertas, dan lain-lain. Metode ekstraksi yang digunakan
dalam penelitian ini merupakan hasil modifikasi beberapa metode yang telah
digunakan di Laboratorium Produk Alam Laut LIPI. Penelitian ini bertujuan untuk
membandingkan kualitas natrium alginat yang diekstraksi dari beberapa jenis alga
coklat asal Nusa Tenggara Barat. Kualitas natrium alginat biasanya ditentukan
berdasarkan nilai viskositasnya. Hasil analisis menunjukkan bahwa nilai viskositas
terendah diperoleh dari Turbinaria conoides (134 cps) asal Gili Petagan, sedangkan
nilai viskositas tertinggi diperoleh dari Sargassum polycystum (503,7 cps) asal
Batunampar. Hal ini berarti Sargassum polycystum asal Batunampar memiliki
kualitas lebih baik dibanding keenam sampel lainnya.

Kata kunci : Natrium alginat, viskositas, alga coklat, Nusa Tenggara Barat.

ABSTRACT

THE COMPARISON OF SODIUM ALGINATE QUALITY FROM


SEVERAL SPECIES OF BROWN ALGAE. Sodium alginate is one of
polysaccharides extracted from brown algae and have been widely used in food,
drinks, textile, pharmacy, cosmetic, paper and so on. Extraction method used in this
research is a modification of that used in the Natural Product Laboratory Indonesian Institute of Sciences. The objective of this research is to compare the
sodium alginates quality extracted from brown algae. The quality of sodium alginate
is usually based on the viscosity value. Result of analysis showed that the lower
viscosity value produced by Turbinaria conoides (134 cps) from Gili Petagan,
whereas the highest viscosity value produced by Sargassum polycystum (503.7 cps)

RASYID

from Batunampar. Apparently Sargassum polycystum collected from Batunampar is


better than others.

Key words : Sodium alginate, viscosity, brown algae, West Nusa Tenggara.

PENDAHULUAN
Semua jenis algae coklat mengandung alginat, namun demikian kebanyakan
alginat yang diproduksi secara komerisal hanya diekstraksi dari beberapa jenis.
Misalnya, di Amerika Serikat alginat diekstraksi dari Macrocystis pyrifera yang
tumbuh di sepanjang pantai barat kepulauan Amerika Utara, yaitu dari Meksiko
sampai California. Di Kanada, alginat diekstraksi dari Ascophylum nodosum yang
tumbuh sepanjang pantai bagian selatan Nova Scotia. Beberapa negara produsen
alginat di Eropa seperti Inggris, Norwegia dan Perancis menggunakan Ascophylum
nodosum, Laminaria hyperborea dan Laminaria digitata sebagai bahan baku
alginate, sedangkan negara di Asia yang juga merupakan produsen alginat yang
signifikan yaitu Jepang dan Korea, menggunakan Eclonia cava dan beberapa jenis
lainnya (KIRK & OTHMER 1994).
Menurut ATMADJA et al. (1996), beberapa jenis algae coklat juga
ditemukan tumbuh di perairan Indonesia, yaitu Sargassum binderi, Sargassum
duplicatum, Sargassum echinocarpum, Sargassum plagyophyllum, Sargassum
polycystum, Sargassum crassifolium, Turbinaria ornate, Turbinaria conoides,
Turbinaria decurrens, Hormophysa triquetra dan Padina australis. Seperti jenis
alga lainnya, keberadaan alga coklat juga bersifat musiman. Artinya pada bulan
tertentu dapat ditemukan melimpah, misalnya jenis Sargassum
ditemukan
melimpah sekitar bulan Agustus Oktober. Walaupun alga coklat dapat ditemukan
tumbuh melimpah di perairan Indonesia, kendala teknologi menyebabkan sampai
saat ini industri-industri pengguna alginat masih sepenuhnya mengimpor dari
negara-negara produsen alginat.
Berbeda dengan alga merah jenis Eucheuma cottonii dan Gracilaria
verrucosa yang sudah dapat dibudidayakan di Indonesia, jenis alga coklat sebagai
sumber
bahan baku alginat sampai saat ini belum dapat dibudidayakan.
Kemungkinan faktor ketersediaan bakan baku yang menyebabkan belum adanya
pihak yang berminat mendirikan industri alginat dalam negeri.
Menurut CHAPMAN & CHAPMAN (1980) pemanfaatan alginat telah
dikenal secara luas, terutama dalam industri makanan (campuran kue, campuran es
krim, campuran gula-gula, campuran salad dan saus, campuran sirup), industri
farmasi (bahan pensuspensi penisilin), industri kosmetik (bahan dasar krim, pewarna
rambut), industri tekstil (bahan pencelup), industri cat (pensuspensi pigmen,
penstabil emulsi, meningkatkan daya rekat), industri kertas (pelapis kertas,
meningkatkan daya serap tinta), industri karet (bahan penstabil), fotografi, dan
bahan adesif pada keramik. Tujuan penelitian ini adalah untuk membandingkan

58

PERBANDINGAN KUALITAS NATRIUM ALGINAT


BEBERAPA JENIS ALGA COKLAT

kualitas natrium alginat yang diekstraksi dari beberapa jenis alga coklat asal Nusa
Tenggara Barat. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi informasi berharga
bagi kegiatan penelitian natrium alginat selanjutnya.

BAHAN DAN METODE

Lokasi Penelitian
Pengambilan sampel alga coklat yang digunakan dalam penelitian ini
dilaksanakan di perairan Nusa Tenggara Barat, meliputi pantai Batunampar, Gili
Petagan, Gili Bedil dan perairan Pulau Sumbawa (Gambar 1). Pengambilan sampel
alga coklat di semua lokasi penelitian dilakukan dengan cara koleksi bebas, untuk
mendapatkan sampel alga coklat dalam jumlah yang memadai agar dapat
mendukung pelaksanaan kegiatan laboratorium. Sedangkan kegiatan laboratorium
dilaksanakan di Laboratorium Produk Alam Laut, Pusat Penelitian Oseanografi
LIPI.
Bahan Penelitian
Sampel penelitian yang digunakan dalam penelitian ini berupa alga coklat,
terdiri dari Sargassum polycistum, Sargassum
sp., Turbinaria decurrens,
Turbinaria ornata dan Turbinaria conoides. Bahan kimia yang digunakan dalam
penelitian ini terdiri dari : asam klorida, natrium karbonat, hidrogen peroksida,
isopropanol, natrium hidroksida, celite dan kalsium klorida.
Metode ekstraksi dan pengukuran kadar
Metode ekstraksi yang digunakan dalam penelitian ini merupakan hasil
pengembangan dari beberapa metode yang telah dilaksanakan di laboratorium
Produk Alam Laut - LIPI (RASYID & RACHMAT 2002). Secara umum tahapan
prosedur ekstraksi natrium alginat yang dilakukan adalah sebagai berikut : sampel
alga coklat yang dikumpulkan dari lokasi penelitian dicuci sampai bersih dengan air
tawar, kemudian dikeringkan dengan sinar matahari langsung. Sampel dihaluskan
dengan menggunakan blender, kemudian ditimbang masing-masing 50 gram untuk
tiga perlakuan. Sampel dicuci dengan larutan asam klorida 5% untuk menghilangkan
sisa-sisa kotoran yang masih menempel sehingga mempermudah proses
pembentukan asam alginat, kemudian dicuci dengan aquades untuk menghilangkan
sisa asam. Ke dalam sampel yang sudah dicuci ditambahkan larutan natrium
karbonat 4% untuk pembentukan natrium alginat sambil diaduk sampai menjadi
pasta. Pasta yang terbentuk diencerkan dengan aquades sambil diaduk kemudian
disaring. Selanjutnya dipucatkan dengan menambahkan larutan hidrogen peroksida
25% ke dalam filtrat dan kemudian ditambahkan larutan kalsium klorida 5%
sehingga terbentuk endapan berwarna putih. Ke dalam endapan yang terbentuk

59

RASYID

Gambar 1. Peta lokasi pengambilan sampel di perairan Nusa Tenggara Barat.


Figure 1. Map of West Nusa Tenggara waters showing collecting site of
materials
ditambahkan larutan asam klorida 5%. Asam alginat yang terbentuk ditandai
dengan timbulnya gumpalan di bagian atas cairan. Setelah disaring, residu yang
diperoleh ditambah dengan larutan natrium hidroksida 10%. Untuk proses
pemurnian dan memudahkan penyaringan, ke dalam campuran ditambahkan
isopropanol 95%. Endapan bersama kertas saring yang telah diketahui bobotnya
dikeringkan dalam oven suhu 60 oC. Endapan yang telah kering ditimbang bersama
kertas saring untuk penentuan kadar natrium alginat. Hasil yang diperoleh adalah
natrium alginat, selanjutnya dihaluskan dan dianalisis kadar natrium alginat, kadar
air dan nilai viskositasnya. Penetapan kadar air natrium alginat menggunakan
metode AOAC dalam SUDARMADJI et al. (1984). Pengukuran nilai viskositas
natrium alginat dilakukan dengan menggunakan Brookfield viscometer No. M/85150-C dengan konsentrasi larutan 2% pada temperatur 25OC.

60

PERBANDINGAN KUALITAS NATRIUM ALGINAT


BEBERAPA JENIS ALGA COKLAT

HASIL DAN PEMBAHASAN


Berdasarkan hasil analisis terhadap kadar natrium alginat sampel alga coklat
yang diuji dalam penelitian ini menunjukkan bahwa kadar tertinggi dihasilkan oleh
Turbinaria conoides asal Gili Petagan sebesar 19,96%, sedangkan kadar terendah
dihasilkan oleh Turbinaria decurens asal perairan Pulau Sumbawa sebesar 13, 17%.
Secara keseluruhan, kadar natrium alginat semua sampel yang diuji hampir sama.
Hasil yang diperoleh dalam penelitian ini lebih rendah jika dibandingkan dengan
hasil penelitian sebelumnya yang menggunakan metode ekstraksi yang sama (Tabel
1), dimana kadar natrium alginat Sargassum echinocarphum asal Pulau Pari sebesar
24,32% (RASYID & RACHMAT 2002), Turbinaria decurrens asal Pulau Otangala
(Sulawesi Utara) sebesar 30,19% (RASYID 2002), Turbinaria conoides asal Pulau
Pari sebesar 25,65% (RASYID 2004), Turbinaria decurrens
asal Pulau
Barranglompo sebesar 20,30% (RASYID 2004) dan Sargassum polycystum asal
Pameungpeuk sebesar 28,60% (RASYID 2003).
Kadar air natrium alginat terendah (15,12%) yang diperoleh dalam
penelitian ini dari Sargassum sp. asal Batunampar, sedangkan kadar air tertinggi
(17,43%) dari Turbinaria conoides asal Gili Petagan (Tabel 1). Kisaran kadar air
natrium alginat yang diuji tidak terlalu jauh berbeda dengan kadar air yang
ditetapkan oleh FOOD CHEMICAL CODEX (1981) yaitu maksimum 15%.
Analisis terhadap nilai viskositas natrium alginat yang dihasilkan dalam
penelitian ini menunjukkan bahwa Sargassum polycystum asal Batunampar memiliki
nilai tertinggi yaitu 503,7 cps. Sedangkan nilai terendah diperoleh dari Turbinaria
conoides asal Gili Petagan yaitu 134 cps (Tabel 1). Kualitas natrium alginat
biasanya ditentukan oleh tinggi rendahnya nilai viskositas. Hal ini berarti dari semua
sampel yang diuji dalam penelitian ini, natrium alginat yang dihasilkan dari
Sargassum polycystum asal Batunampar memiliki kualitas paling baik dibanding
keenam sampel lainnya.
Alginat paling sering digunakan sebagai pengental dan tersedia dalam
berbagai tingkatan nilai viskositas. Sebagai contoh, natrium alginat yang diproduksi
oleh SIGMA (2008) tersedia dalam 3 tingkatan nilai viskositas yaitu 250 cps (low
viscosity), 3.500 cps (medium viscosity) dan 14.000 cps (high viscosity). Jika
mengacu pada tingkatan nilai viskositas yang diproduksi oleh SIGMA (2008), maka
sampel yang memiliki nilai viskositas di bawah kategori low viscosity sebanyak 2
jenis yaitu Turbinaria conoides (134 cps) dan Sargassum sp. (143,5 cps) asal
Batunampar. Sedangkan 5 jenis sampel lainnya memiliki nilai viskositas antara low
viscosity dan medium viscosity, yaitu Sargassum polycystum (503,7 cps) asal
Batunampar, Turbinaria ornata (335 cps) asal Gili Bedil, Sargassum polycystum
(390 cps), Sargassum sp. (285 cps) asal perairan Sumbawa dan Turbinaria decurens
(335 cps) asal perairan Pulau Sumbawa. Jika dibandingkan hasil penelitian
sebelumnya yang pernah dilakukan di Laboratorium Produk Alam Laut, Pusat
Penelitian Oseanografi LIPI dengan menggunakan metode yang sama, nilai
viskositas yang diperoleh dalam penelitian ini lebih rendah. Seperti terlihat pada

61

RASYID

Tabel 1. Hasil analisis natrium alginate yang diekstraksi dari beberapa jenis
sampel alga coklat.
Table 1. Results analysis of sodium alginate extracted from several species of
brown algae.
No

Species / Location

1.

Turbinaria conoides / Gili


Petagan
Sargassum
polycystum
/
Batunampar
Sargassum sp. / Batunampar
Turbinaria ornata / Gili Bedil
Sargassum polycystum /
Sumbawa Island
Sargassum sp. / Sumbawa Island
Turbinaria decurrens /
Sumbawa Island
Turbinaria conoides / Pari Island

2.
3.
4.
5.
6.
7.
8

Test Parameters
Sodium alginate
Water
content (%)
content (%)
19.96
17.43

Viscosity
value (cps)
134

18.05

16.85

503.7

16.89
17.05
18.12

15.12
15.86
16.92

143.5
335
390

17.25
13.17

16.82
16.34

285
335

25.65

14.96

560

20.30

15.03

560

30.19

15.20

680

28.60

15.20

1,500

24.32

15.12

3,000

a)

9
10
11
12

Note :

Turbinaria decurrens /
Barranglompo Island b)
Turbinaria decurrens / Otangala
Island c)
Sargassum polycystum /
Pameungpeuk d)
Sargassum echinocarphum /Pari
Island e)
a)
d)

RASYID (2004)
RASYID (2003)

b)

e)

c)
RASYID (2004)
RASYID (2002)
RASYID & RACHMAT (2002)

Tabel 1, nilai viskositas natrium alginat yang diekstraksi dari Sargassum


echinocarphum asal Pulau Pari sebesar 3.000 cps (RASYID & RACHMAT 2002),
Turbinaria decurrens asal perairan Pulau Otangala (Sulawesi Utara) sebesar 680 cps
(RASYID 2002), Sargassum polycystum asal Pameungpeuk sebesar 1.500 cps
(RASYID 2003), Turbinaria decurrens asal Pulau Barranglompo sebesar 560 cps
(RASYID 2004) dan Turbinaria conoides asal Pulau Pari sebesar 560 cps
(RASYID 2004).
Kemungkinan perbedaan lokasi tempat tumbuh (meliputi kondisi perairan,
pH, salinitas, cahaya, kedalaman, unsur hara) yang menjadi salah satu penyebab
perbedaan nilai viskositas yang dihasilkan. Faktor lain yang kemungkinan menjadi
penyebab perbedaan nilai viskositas yang dihasilkan dalam penelitian ini adalah
kualitas sampel yang digunakan. Secara morfologi, bentuk tallus setiap jenis alga
coklat berbeda-beda. Bentuk tallus ini pula yang kemungkinan sangat berpengaruh
terhadap kadar natrium alginat dan nilai viskositas yang dihasilkan.
Mengacu pada Tabel 1 menunjukkan bahwa meskipun jenis sampel yang
digunakan sama ternyata nilai viskositasnya berbeda-beda. Perbedaan nilai

62

PERBANDINGAN KUALITAS NATRIUM ALGINAT


BEBERAPA JENIS ALGA COKLAT

viskositas alginat dari setiap jenis alga coklat akan berpengaruh terhadap
pemanfaatannya. Oleh karena itu, menurut AN ULLMANS ENCYCLOPEDIA
(1998), untuk mendapatkan produk-produk dengan nilai viskositas yang bervariasi,
industri-industri alginat melakukan pencampuran alginat yang berasal dari berbagai
jenis alga coklat.

KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian di atas, dapat disimpulkan bahwa :
1. Sampel Sargassum polycystum asal Batunampar menghasilkan natrium alginat
dengan kualitas paling baik disbanding keenam sampel lainnya.
2. Dua jenis sampel memiliki nilai viskositas di bawah kategori low viscosity
yaitu Turbinaria conoides (134 cps) dan Sargassum sp. (143,5 cps) asal
Batunampar. Sedangkan 5 jenis sampel memiliki nilai viskositas antara low
viscosity dan medium viscosity yaitu Sargassum polycystum (503,7 cps) asal
Batunampar, Turbinaria ornata (335 cps) asal Gili Bedil, Sargassum sp. (390
cps),Sargassum sp. (285 cps) asal perairan Sumbawa dan Turbinaria decurrens
(335 cps) asal perairan Pulau Sumbawa.

PERSANTUNAN
Penulis mengucapkan terima kasih kepada Prof. Dr. Rachmaniar Rachmat,
Apt. atas kesempatan yang diberikan kepada penulis untuk terlibat langsung dalam
kegiatan penelitian Census of Marine Life (CoML) tahun anggaran 2004 dan rekanrekan di laboratorium Produk Alam Laut LIPI atas bantuan dan kerjasamanya
selama penelitian berlangsung.

DAFTAR PUSTAKA
AN ULLMANS ENCYCLOPEDIA. 1998. Industrial Organic Chemicals. Vol. 7.
Wiley-VCH, New York : 3993-4002.
ATMADJA, W.S., A. KADI, SULISTIJO dan R. RACHMAT 1996. Pengenalan
jenis-jenis rumput laut Indonesia. Puslitbang Oseanologi - LIPI, Jakarta :
180 hal.

63

RASYID

CHAPMAN, V.J. and D.J. CHAPMAN 1980. Seaweed and their uses. Third
edition. Chapman and Hall, New York : 344 pp.
FOOD CHEMICAL CODEX 1981. Food chemical codex.3rd edition.Volume III.
National Academic of Science, Washington D.C. : 155-195.
KIRK and OTHMER 1994. Encyclopedia of chemical technology. Fourth Edition.
Volume 12. John Wiley & Sons, New York : 844 - 847.
RASYID, A. 2002. Ekstraksi natrium alginat dari Turbinaria decurrens asal
perairan Pulau Otangala (Sulawesi Utara). Makalah disampaikan pada
Seminar Nasional Rumput Laut, Mini Simposium Mikroalgae dan Kongres I
Ikatan Fikologi Indonesia 23 - 25 Oktober 2002 di Hotel Sedona, Makassar :
6 hal.
RASYID, A. 2003. Karakteristik natrium alginat hasil ekstraksi Sargassum
polycystum. Makalah disampaikan pada Seminar RIPTEK Kelautan
Nasional 30 31 Juli 2003 di Gedung BPPT, Jakarta : 6 hal
RASYID, A. 2004. Turbinaria conoides as one of alternative raw materials of
sodium alginate processing in Indonesia. In: B. SULISTYO, E.S.
HERUWATI, A. SUDRADJAT, I.G.S. MERTHA and A.H. PURNOMO
(eds.). International Seminar on Marine and Fisheries. The Agency for
Marine and Fisheries Research, Jakarta : 225 227.
RASYID, A. 2004. Utilization of Turbinaria decurrens as one of raw materials of
sodium alginate. In: B. SULISTYO, E.S. HERUWATI, A. SUDRADJAT,
I.G.S. MERTHA and A.H. PURNOMO (eds.). International Seminar on
Marine and Fisheries. The Agency for Marine and Fisheries Research,
Jakarta : 229 231.
RASYID, A. dan R. RACHMAT 2002. Modifikasi Metode Ekstraksi natrium
alginat untuk meningkatkan nilai viskositasnya. Makalah disampaikan pada
Seminar Nasional Rumput Laut, Mini Simposium Mikroalgae dan Kongres I
Ikatan Fikologi Indonesia 23 - 25 Oktober 2002 di Hotel Sedona, Makassar :
6 hal.
SIGMA 2008. Biochemical & reagents for life science research. Sigma-Aldrich
Pte., Ltd. : 2706 pp.
SUDARMADJI, S., B. HARYONO dan SUHARDI 1984. Prosedur analisa untuk
bahan makanan dan pertanian. Edisi ketiga. Liberty, Yogyakarta : 138 hal.

64