Anda di halaman 1dari 8

BAB I

PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang
Kesehatan adalah hak asasi manusia dan merupakan suatu investasi yang

diberikan oleh Tuhan, oleh karenanya perlu dipelihara dan ditingkatkan kualitasnya.
Setiap manusia memiliki hak untuk sehat dan perlindungan terhadap kesehatannya,
begitu pula bagi para tenaga kerja. Tenaga kerja merupakan aset perusahaan yang
harus diberikan perlindungan terhadap ancaman gangguan kesehatan yang
berhubungan dengan pekerjaannya. Pelayanan kesehatan di tempat kerja, yang
disebut dengan kesehatan kerja, merupakan salah satu upaya yang dilakukan untuk
memberikan perlindungan kepada tenaga kerja sebaik mungkin, guna menjamin
derajat kesehatan pekerja setinggi-tingginya. Dengan derajat kesehatan yang tinggi
ini diharapkan tenaga kerja dapat mencapai tingkat produktivitas yang optimal
(WHO, 2005).
Kesehatan kerja adalah spesialisasi dalam ilmu kesehatan/kedokteran beserta
praktiknya yang bertujuan agar masyarakat pekerja memperoleh derajat kesehatan
setinggi-tingginya, baik fisik, mental, maupun sosial, dengan usaha preventif dan
kuratif, terhadap penyakit/gangguan kesehatan yang diakibatkan oleh faktor
pekerjaan dan lingkungan kerja, serta penyakit umum. Selain memusatkan terhadap
kesehatan kerja, pekerja juga harus dijamin keselamatannya dalam melaksanakan
pekerjaannya (Buchari, 2007).

Keselamatan kerja bisa terwujud bilamana tempat kerja itu aman, yang berarti
bebas dari risiko terjadinya kecelakaan yang mengakibatkan si pekerja cedera atau
bahkan mati. Kesehatan kerja dapat direalisasikan apabila tempat kerja dalam kondisi
yang sehat, sehingga tidak terjadi risiko gangguan kesehatan atau penyakit
(occupational diseases) sebagai akibat kondisi kurang baik di tempat kerja
(Markkanen, 2009).
Hampir diseluruh dunia sering kali terjadi kecelakaan di tempat kerja. Tidak
dapat dipungkiri, hal ini merupakan akibat langsung dari cara kerja yang tidak aman
serta penggunaan teknologi canggih yang tidak disertai dengan peningkatan
keamanan dalam pemakaiannya. Di Amerika Serikat dilaporkan bahwa lebih dari 7
juta pekerja setiap tahunnya mengalami penyakit dan cedera yang disebabkan karena
pekerjaannya dan beberapa juta di antaranya mengakibatkan pekerja tersebut tidak
bisa bekerja lagi atau berakhir dengan kematian. Menurut National Institute of
Occupational Safety and Health, di Amerika Serikat setiap hari rata-rata 32 orang
tewas di tempat kerja dan 5500 orang mengalami cedera yang mengakibatkan mereka
tidak bisa bekerja (Harrington, 2005).
Sedangkan jika berbicara mengenai kesehatan kerja di Indonesia maka memang
masih perlu banyak perbaikan didalam banyak hal. Hal ini diakibatkan negara-negara
yang masih berkembang seperti Indonesia masih menganggap kesehatan kerja adalah
hal yang kurang penting dan tidak diperhatikan. Namun bukan berarti negara
berkembang tidak bisa menerapkan sistem kesehatan kerja yang baik, karena alasan
kurangnya kemampuan secara finansial. Hal dikarenakan beberapa penelitian
membuktikan bahwa kesehatan dan keselamatan kerja justru dapat sejalan dengan
2

peningkatan profit dan merupakan salah satu syarat untuk memenangkan kompetisi di
persaingan global (Suardi, 2005).
Berdasarkan survei didapatkan bawah di antara negara-negara berkembang di
Asia Tenggara lainnya, Indonesia merupakan negara yang masih kurang
memperhatikan kesehatan kerja. Dimana didapatkan bahwa 20 dari 100.000 pekerja
di Indonesia per tahunnya mengalami kecelakaan kerja yang bersifat fatal. Sedangkan
untuk Malaysia, Thailand dan Singapura hanya kurang dari 10 pekerja per 100.000
setiap tahunnya yang mengalami kecelakaan yang fatal (Markkanen, 2009).
Dari deskripsi di atas dapat disimpulkan bahwa Indonesia memang masih harus
terus berjuang keras, berperan aktif dan bekerja secara kolektif dalam mendukung
cita-cita besar bangsa, yaitu Indonesia Berbudaya Keselamatan dan Kesehatan Kerja
(K3). Salah satu program yang dicanangkan pemerintah untuk mewujudkannya
adalah Indonesia Berbudaya K3 Tahun 2015 (Markkanen, 2009).
Selain akibat kecelakaan kerja yang bersifat terjadi secara mendadak dan
langsung mengakibatkan kerugiannya, maka ada juga occupational diseases atau
penyakit akibat pekerjaan yang baru tampak sesudah pekerja bekerja cukup lama.
Misalnya penyakit paru-paru (pneumocosiosis atau silicosis) yang diakibatkan karena
pekerja di pertambangan kapur, batu alam, batu bara menghirup debu di atas ambang
toleransi dalam periode yang lama. Dalam industri modern pun, para pekerja akan
menjumpai jauh lebih banyak faktor risiko untuk kesehatan, khususnya bahan
artifisial, bahan kimia, bahan nuklir, dan sebagainya. Salah satu contoh adalah asbes.
Kalau dihirup dalam kuantitas besar dan dalam waktu singkat maka akan

mengakibatkan penyakit paru-paru kronis yang disebut asbestosis, dan jika dihirup
dalam waktu panjang menimbulkan penyakit kanker paru-paru (Harrington, 2005).
Disamping adanya occupational diseases, maka yang perlu diperhatikan lagi
adalah kasus penyakit yang lebih sulit untuk diidentifikasi dan ditangani berupa
stress on the job atau stres yang disebabkan oleh pekerjaan. Kondisi medis ini sangat
banyak ditemukan. Menurut penelitian di Amerika, tiga dari empat pekerja Amerika
mengeluh tentang stres yang disebabkan oleh pekerjaan. Namun dikarenakan
penyakit ini berkembang perlahan-lahan dan muncul setelah periode yang cukup
lama, maka pertanggung jawaban perusahaan tidak terlalu jelas (Harrington, 2005).
Pengetahuan mengenai tentang kesehatan kerja sangat penting diketahui oleh
tenaga medis/kesehatan yang menangani kesehatan pekerja di pabrik, pertambangan,
dan perusahaan. Didalam dunia kesehatan lebih dikenal dengan istilah HIPERKES
(Higiene Perusahaan dan Kesehatan Kerja). Selain itu, pengetahuan tentang aspek
medikolegal dibidang kesehatan kerja ini juga harus dipahami, agar dapat membentuk
program kesehatan kerja yang sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang ada
sehingga kesejahteraan pekerja dapat terjamin dan tidak dilanggar oleh perusahaan
tempat ia bekerja. Masalah hukum dalam kesehatan kerja biasanya berhubungan
dengan pemeriksaan seleksi pada calon pekerja muda dan pemeriksaan wajib bagi
pekerja di tempat yang berbahaya atau yang bertugas di tempat yang membahayakan
(Rachman, 1990).
Penerapan konsep kesehatan kerja ini tidak boleh dianggap sebagai upaya
pencegahan kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja yang menghabiskan banyak
biaya (cost) perusahaan, tetapi harus dianggap sebagai bentuk investasi jangka
4

panjang yang memberi keuntungan yang berlimpah pada masa yang akan dating
(Suardi, 2005).
Jika ditinjau dari segi Islam, sehat merupakan suatu rahmat Allah yang sangat
besar, oleh karena itu Islam sangat menekankan agar manusia menjaga kesehatannya,
juga menjaga setiap penyebab yang dapat menjadikannya sakit. Dalam hal ini, Islam
sangat mengedepankanpola hidup sehat, seperti anjuran tentang menjaga kesehatan,
kebersihan, pola makan, menjaga kehormatan dari perbuatan keji, dan lain-lain
(Zuhroni, 2003).
Islam juga sangat mendukung hal-hal yang berhubungan dengan kesehatan
kerja karena Islam menginginkan agar orang mukmin kuat dan Allah mencintai orang
mukmin yang kuat dibandingkan yang lemah. Kekuatan tergambar dari berbagai
unsur, salah satunya kekuatan fisik, sedangkan kekuatan fisik tercermin dari bebasnya
tubuh dari berbagai penyakit dan mampu memikul beban yang berat dalam menjalani
kehidupan sebagai hamba Allah dimuka bumi ini (Qardhawy, 1997).
Kesehatan moral dan fisik mempunyai kaitan yang sangat erat dengan
kecakapan pekerja. Seorang pekerja yang sehat dan kuat lebih cakap dari buruh yang
lemah dan sakit. Begitu pula dengan seorang pekerja yang jujur dan bertanggung
jawab, maka akan menyandang tugas serta tanggung jawab dengan lebih kuat dan
tekun (Qardhawy, 1997). Hal ini sesuai dengan ayat dalam al-Quran yaitu:

Artinya:
Salah seorang dari kedua wanita itu berkata: "Ya bapakku ambillah ia sebagai
orang yang bekerja (pada kita), karena sesungguhnya orang yang paling baik
yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat lagi dapat
dipercaya"(QS.Al-Qasas(28): 26).
Selain itu Islam juga mengajarkan bahwa bekerja adalah ibadah. Sebab bekerja
akan memberikan suatu kehidupan bagi dirinya maupun keluarganya. Hal ini juga
memperjelas identitas seorang muslim yang wajib berikhtiar keras dalam menjalani
hidupnya di muka bumi ini. Adanya kaitan erat antara kesehatan kerja dengan tatacara
pelaksanaan kesehatan dan keselamatan kerja yang dimiliki tiap perusahaan membuat
perlu adanya peraturan yang jelas dan mengikat agar pekerja tidak mengalami
kerugian (Qardhway, 1997). Oleh karena itu, perlu dikaji lebih lanjut mengenai aspek
medikolegal dari kesehatan kerja, agar tujuan kesejahteraan pekerja dapat tercapai.

1.2

Permasalahan
1. Bagaimana pelaksanaan kesehatan kerja di Indonesia ditinjau dari sudut
pandang kedokteran?
2. Bagaimana aspek medikolegal kesehatan kerja di Indonesia ditinjau dari
sudut pandang kedokteran?
3. Bagaimana aspek medikolegal kesehatan kerja di Indonesia ditinjau dari
sudut pandang Islam?

1.3

Tujuan

1.3.1 Tujuan Umum


Mengetahui aspek medikolegal kesehatan kerja ditinjau dari sudut
pandang kedokteran dan sudut pandang Islam.
1.3.2 Tujuan Khusus
1.

Menjelaskan bagaimana pelaksanaan kesehatan kerja di Indonesia


ditinjau dari sudut pandang kedokteran.

2.

Menjelaskan tentang aspek medikolegal kesehatan kerja ditinjau


dari sudut pandang kedokteran.

3.

Menjelaskan tentang aspek medikolegal kesehatan kerja ditinjau


dari sudut pandang Islam.

1.4

Manfaat
1.4.1

Bagi Penulis
1. Menambah pengetahuan mengenai aspek medikolegal kesehatan
kerja ditinjau dari sudut pandang kedokteran dan Islam.
2. Menambah pengetahuan tentang tata cara penulisan skripsi yang
baik dan benar.

1.4.2

Bagi Universitas YARSI


Menambah sumber pengetahuan dalam kepustakaan Universitas YARSI
mengenai aspek medikolegal kesehatan kerja ditinjau dari sudut pandang
kedokteran dan Islam.

1.4.3

Bagi Masyarakat
7

Menambah pengetahuan masyarakat, mengenai aspek medikolegal


kesehatan kerja ditinjau dari sudut pandang kedokteran dan sudut
pandang Islam.