Anda di halaman 1dari 167

PENGEMBANGAN TERMINAL 3 TANJUNG PRIOK

MENJADI DEDICATED INTERNATIONAL CONTAINER


TERMINAL

TUGAS AKHIR
Karya tulis sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana

Oleh
Dwingga Anindito
NIM 15506031

Program Studi Teknik Kelautan

Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan

INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG


2011

Lembar Pengesahan
Tugas Akhir Sarjana

PENGEMBANGAN TERMINAL 3 TANJUNG PRIOK MENJADI


DEDICATED INTERNATIONAL CONTAINER TERMINAL
Adalah benar dibuat oleh saya sendiri dan belum pernah dibuat dan diserahkan
sebelumnya baik sebagian ataupun seluruhnya, baik oleh saya maupun orang lain,
baik di ITB maupun institusi pendidikan lainnya.

Bandung, Agustus 2011


Penulis,
Pasfoto 3x4

Dwingga Anindito
NIM 15506031

Bandung, Agustus 2011


Pembimbing

Andojo Wurjanto, Ph.D


NIP19600330 198503 1 007

Mengetahui:
Program Studi Teknik Kelautan
Ketua,

Dr. Ir Muslim Muin, MSOE


NIP19600407 198601 1 001

PROGRAM STUDI TEKNIK KELAUTAN


FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN LINGKUNGAN
INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG
TUGAS AKHIR
Diberikan kepada,
Nama
NIM

: Dwingga Anindito
: 15506031

Judul Tugas Akhir adalah PENGEMBANGAN TERMINAL 3 TANJUNG PRIOK


MENJADI DEDICATED INTERNATIONAL CONTAINER TERMINAL, dengan isi Tugas
Akhir sebagai berikut :

Bab I
Bab II
Bab III
Bab IV
Bab V
Bab VI
Bab VII

Pendahuluan
Dasar Teori
Profil dan Lalulintas Pelabuhan Tanjung Priok
Pelayanan Petikemas Pelabuhan Tanjung Priok
Profil dan Analisa Terminal 3 Tanjung Priok
Desain Terminal
Penutup

Tugas Akhir ini dibuat rangkap 6 (enam) :


1. Untuk Mahasiswa
2. Untuk Pembimbing Tugas Akhir
3. Untuk Penguji Sidang Tugas Akhir
4. Untuk Tata Usaha Program Studi Teknik Kelautan
5. Untuk Perpustakaan

( 1 buah )
( 1 buah )
( 2 buah )
( 1 buah )
( 1 buah )

Bandung, Agustus 2011


Menyetujui,
Koordinator,

Andojo Wurjanto, Ph.D


NIP. 19600330 198503 1 007

Pembimbing,

Andojo Wurjanto, Ph.D


NIP. 19600330 198503 1 007

ABSTRACT
DEVELOPMENT OF TERMINAL 3 TANJUNG PRIOK INTO DEDICATED
INTERNATIONAL CONTAINER TERMINAL

By

Dwingga Anindito
NIM : 15506031
The use of container is the answer to the need for a method of transporting goods in a more fast
and efficient way. This is urgent because of the rapidly growing volume of trade and goods
transportation between countries throughout these last few years.
Indonesia is an archipelagic country and is geographically located near one of the busiest sea trade
routes in the world. However, today Indonesia in only ranked 24th in the world (Port of Tanjung
Priok) in the TEU container per year served. It is rather disappointing because the Port of Singapore
which is a close neighbor of ours is currently ranked one in the world. For that reason it is necessary
for us to develop a dedicated container terminal with good infrastructure and management in
Tanjung Priok Port in order to be competitive enough in the market to seize container service in
Southeast Asia region.
In this Final Project the port profiles, the traffic of goods and infrastructure from the port of Tanjung
Priok Port and Terminal 3 was analyzed and then compared with a neighboring country container
terminal in order to produce a new container terminal design. The new container terminal design is
projected to be built on the existing Terminal 3 land. From the design that was just created, we find
that land Terminal 3 could be used more optimally with the right arrangement and equipment. The
new layout that we just designed can hopefully be able to increase the capacity of containers that
can be served as well as an increase in terms of safety and international standard of service.
Hopefully the new container terminal design can become a reference or examples that can further
help the development of container terminals in Indonesia.

Keyword: Container, Terminal, Port, Tanjung Priok,

Laporan Tugas Akhir


Pengembangan Terminal III Tanjung Priok Menjadi Dedicated International Container Terminal

ABSTRAK
PENGEMBANGAN TERMINAL 3 TANJUNG PRIOK MENJADI DEDICATED
INTERNATIONAL CONTAINER TERMINAL

Oleh

Dwingga Anindito
NIM : 15506031
Penggunaan petikemas merupakan jawaban dari semakin diperlukannya suatu metode
pengangkutan barang yang efisien dan mudah untuk dipindahkan. Hal ini sangat mendesak karena
berkembang pesatnya volume perdagangan dan transportasi barang antar negara dalam beberapa
tahun terakhir.
Negara Indonesia yang merupakan negara kepulauan dan secara geografis terletak didekat salah
satu jalur perdagangan laut tersibuk didunia saat ini hanya menempati peringkat 24 dunia
(Pelabuhan Tanjung Priok) dalam besarnya TEU pertahun yang dilayani. Hal ini cukup
mengecewakan karena Pelabuhan Singapura yang merupakan tetangga dekat kita saat ini
menempati peringkat 1 dunia. Karena itu diperlukan pengembangan terminal petikemas dedicated
dengan infrastruktur dan manajemen yang baik agar Pelabuhan Tanjung Priok bisa bersaing dalam
merebut pasar pelayanan petikemas di wilayah Asia Tenggara.
Dalam Tugas Akhir ini telah dianalisa profil, lalulintas barang dan infrastruktur dari pelabuhan
Tanjung Priok dan Terminal 3 kemudian dibandingkan dengan terminal yang dimiliki tetangga untuk
menghasilkan desain terminal petikemas yang akan dibangun di lahan eksisting Terminal 3. Dari
desain yang dibuat kita mendapatkan bahwa lahan Terminal 3 seharusnya bisa digunakan dengan
lebih optimal dengan penataan dan penggunaan alat yang tepat. Dengan layout yang baru
diharapkan akan bisa meningkatkan kapasitas petikemas yang bisa dilayani serta peningkatan dari
segi keamanan dan pelayanan yang berstandar internasional. Semoga desain terminal petikemas
yang dibuat penulis bisa menjadi bahan acuan atau contoh yang bisa membantu perkembangan
terminal petikemas di Indonesia.

Kata Kunci : Petikemas, Pelabuhan, Terminal, Tanjung Priok,

Laporan Tugas Akhir


Pengembangan Terminal III Tanjung Priok Menjadi Dedicated International Container Terminal

KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT karena atas berkat limpahan rahmat dan
hidayah-Nya penulis dapat menyelesaikan Laporan Tugas Akhir ini
Laporan Tugas Akhir ini dibuat sebagai salah satu syarat menyelesaikan tahap pendidikan sarjana
(strata-1) di Program Studi Teknik Kelautan, Institut Teknologi Bandung.
Tugas akhir ini berjudul Pengembangan Terminal III Tanjung Priok Menjadi Dedicated
International Container Terminal. Analisis dan desain terminal dilakukan dengan AutoCAD 2010
dengan menggunakan dimensi dan kondisi yang sebisa mungkin menyerupai keadaan sebenarnya.
Perhitungan terhadap performa dan kapasitas terminal digunakan dengan mengacu panduan
UNCTAD 1985 dan Port Designers Handbook (Carl Thorensen, 2008) Desain terminal yang
direncanakan diharapkan dapat beroperasi sesuai dengan tujuan terminal itu dibuat.
Penulis menyadari bahwa Laporan Tugas Akhir ini masih jauh dari kesempurnaan, oleh karena itu
penulis memohon maaf atas segala kesalahan dan kekurangan dari laporan ini.
Akhir kata, penulis berharap semoga Laporan Tugas Akhir ini dapat bermanfaat bagi semua pihak.

Bandung, Agustus 2011

Penyusun

Laporan Tugas Akhir


Pengembangan Terminal III Tanjung Priok Menjadi Dedicated International Container Terminal

UCAPAN TERIMA KASIH


Pada kesempatan yang berbahagia ini, penulis ingin mengucapkan terima kasih yang setulustulusnya kepada semua pihak yang telah banyak membantu dan mendukung penulis dalam
menyusun tugas akhir ini.
1. Allah SWT yang selalu ada disaat penulis membutuhkan, dan memaafkan penulis ketika
sedang jauh dari-Nya
2. Andojo Wurjanto, Ph.D., selaku dosen pembimbing, yang telah meluangkan waktunya untuk
membimbing, memberi pengarahan dan nasehat hidup kepada penulis selama pengerjaan
tugas akhir ini. Penulis merasa bahwa dimasa depan ketika penulis telah sukses dan
mencapai hal besar penulis akan mengingat periode dimana penulis melakukan tugas akhir
dibawah beliau merupakan periode yang telah membentuk karakter dan etos kerja penulis.
3. Harman Ajiwibowo, Ph.D, dan Hendra Achiari, ST, MT., atas kesediaannya menjadi dosen
penguji, serta untuk arahan, pertanyaan dan jawaban, selama seminar dan sidang tugas
akhir penulis.
4. Seluruh keluarga tercinta,terutama ayah penulis Sigid Agus Heryanto dan ibu penulis Anna
Ekawati yang senantiasa memberikan dukungan tanpa akhir dan semangat untuk penulis
dalam menyelesaikan Tugas Akhir ini.
5. Vika Rahma, Ma mignonne chat noire poil, Elle est la gravit de ma vie cercles autour
6. Bpk. Saptono Irianto selaku Direktur Komersial dan Pengembangan Usaha PT. Pelindo II
yang telah memberikan segala kemudahan dalam mencari bahan dan akses untuk penulis
dalam pembuatan tugas akhir.
7. Bpk. Santo selaku Asisten Senior Manager Petikemas Pelindo II
8. Deputi GM Operasi Terminal 3 Indra Hidayat Sani, Manager Operasi Terminal 3 Djoko
Santoso dan Manajer Pemasaran & Administrasi Sunu Bekti Pudjotomo
9. Seluruh staff Terminal 3 yang telah banyak sekali membantu penulis baik dalam data
maupun pengalaman dalam pengelolaan Terminal Petikemas, terutama Annisa Dyah
Permata, Yusuf Ferdian Umar serta koordinator Planner Pak Budi Daryono, M. Cholid,
Achlakul Karim, Agus Bancut Hendi Novian, Dwi Yudi, Rahmat Khaerudin.
10. Seluruh dosen KL yang telah memberikan ilmu dan bimbingannya kepada penulis selama
penulis menjalankan kuliah di Teknik Kelautan.
11. Seluruh staf Tata Usaha PST Kelautan ITB, Bu Nunung, Bu Witri, Pak Aep, Pak Isep, Pak
Yatno yang telah banyak direpotkan dan banyak membantu selama penulis berkuliah di
Teknik Kelautan ITB.
12. Seluruh teman-teman di KL ITB 2006, Arif Zain, Yusuf Abdurrahman, Prima Tirto Kusumo,
Saleh Shidqi Jusuf Bazed, Fachdi Ramadhan, Isriyanda Dwiprawira, Arie Indra Masudi, Aditya
Reddia, Ali Rini, dan yang lainnya yang tidak bisa penulis sebutkan satu persatu.
Laporan Tugas Akhir
Pengembangan Terminal III Tanjung Priok Menjadi Dedicated International Container Terminal

13. Teman-teman Teknik Kelautan 2004, 2005, 2007, 2008 yang walaupun berbeda angkatan
tetapi semuanya sudah seperti kakak dan adik penulis sendiri.
14. Teman-Teman Al-Azhar Pusat yang masing-masingnya penulis simpan dekat dengan hati,
terutama yang berjuang bersama-sama penulis di Bandung. Tito, Armand, Ade, John, Medi.
15. Teman-teman main FTSL yang melewatkan malam-malam tanpa tidur yang tak terhitung
bersama dengan penulis.
16. Teman-Teman GSR Al-Azhar Kelapa Gading yang merupakan saudara-saudara penulis sejak
kecil.
17. Terakhir, kepada anda yang saat ini membaca karya penulis. Semoga bisa memberi manfaat
dan ilmu ketika buku ini menunaikan jasanya sebagai penyambung pikiran, lidah dan tangan
penulis.

Laporan Tugas Akhir


Pengembangan Terminal III Tanjung Priok Menjadi Dedicated International Container Terminal

DAFTAR ISI
BAB 1 Pendahuluan.........................................................................................................................1-1
1.1 Latar Belakang.................................................................................................................................. 1-1
1.2 Tujuan Penulisan .............................................................................................................................. 1-4
1.3 Lingkup Pembahasan ....................................................................................................................... 1-5
1.4 Sistematika Laporan ......................................................................................................................... 1-6
BAB 2 Dasar Teori ...........................................................................................................................2-1
2.1 Pelabuhan ........................................................................................................................................ 2-1
2.1.1 Pengertian Pelabuhan ............................................................................................................... 2-1
2.1.2 Klasifikasi Pelabuhan ................................................................................................................. 2-1
2.2 Petikemas ......................................................................................................................................... 2-2
2.2.1 Pengertian Petikemas ............................................................................................................... 2-2
2.2.2 Macam-Macam Petikemas ....................................................................................................... 2-2
2.2.2.1 Klasifikasi Berdasarkan Ukuran .......................................................................................... 2-3
2.2.2.2 Klasifikasi Berdasarkan Bentuk dan Kegunaannya............................................................. 2-4
2.2.3 Kapal Petikemas ...................................................................................................................... 2-10
2.2.3.1 Klasifikasi Berdasarkan Kapasitas Kargo .......................................................................... 2-11
2.3 Terminal Petikemas........................................................................................................................ 2-12
2.3.1 Pengertian Terminal Petikemas .............................................................................................. 2-12
2.3.2 Pembagian Area Terminal ....................................................................................................... 2-13
2.3.2.1 Apron ............................................................................................................................... 2-13
2.3.2.2 Area Lapangan Primer ...................................................................................................... 2-13
2.3.2.3 Area Lapangan Sekunder ................................................................................................. 2-14
2.3.3 Peralatan Bongkarmuat Petikemas......................................................................................... 2-18
2.3.3.1 Peralatan Bongkarmuat Ship to Shore (STS) .................................................................... 2-18
2.3.4.2 Peralatan Bongkarmuat Transfer ke Lapangan ................................................................ 2-21
2.3.3.3 Peralatan Bongkarmuar Penumpukan ............................................................................. 2-23

2.3.4 Sistem Penanganan Petikemas ............................................................................................... 2-26


2.3.4.1 Sistem Forklift dan Reachstacker ..................................................................................... 2-26
2.3.4.2 Sistem Straddle Carrier .................................................................................................... 2-27
2.3.4.3 Sistem Gantry Carrier ....................................................................................................... 2-28
2.3.5 Indikator Performa Terminal .................................................................................................. 2-30
2.3.5.1 Indikator dari Output ....................................................................................................... 2-30
2.3.5.2 Indikator dari Pelayanan .................................................................................................. 2-30
2.3.5.3 Indikator dari Utilisasi ...................................................................................................... 2-31
2.3.5.4 Indikator dari Produktivitas ............................................................................................. 2-32
2.3.6 Penentuan Spesifikasi Terminal .............................................................................................. 2-32
2.3.6.1 Apron ............................................................................................................................... 2-32
2.3.6.2 Yard .................................................................................................................................. 2-33
2.3.6.3 Gate .................................................................................................................................. 2-33
2.3.6.4 Peralatan .......................................................................................................................... 2-33
2.4 Konsep dasar software AutoCAD ................................................................................................... 2-34
2.4.1 Pengenalan software AutoCAD ............................................................................................... 2-34
2.4.2 Versi dari AutoCAD yang digunakan dalam pekerjaan ........................................................... 2-35
BAB 3 Profil dan Lalulintas Pelabuhan Tanjung Priok .......................................................................3-1
3.1 Profil dan Sejarah Singkat ................................................................................................................ 3-1
3.2 Fakta-Fakta Pelabuhan Tanjung Priok.............................................................................................. 3-3
3.2.1 Luas Daratan ............................................................................................................................. 3-3
3.2.2 Panjang Pelabuhan.................................................................................................................... 3-4
3.2.3 Luas Kolam Pelabuhan .............................................................................................................. 3-4
3.2.4 Alur Pelayaran Pelabuhan ......................................................................................................... 3-5
3.2.5 Gudang ...................................................................................................................................... 3-5
3.3 Pembagian Kegiatan Pelabuhan ...................................................................................................... 3-5
3.3.1 Fasilitas Bongkar Muat Konvensional ....................................................................................... 3-6
3.3.2 Fasilitas Bongkar Muat Petikemas Internasional ...................................................................... 3-7
3.3.3 Fasilitas Bongkar Muat Curah Cair ............................................................................................ 3-8
3.3.4 Fasilitas Bongkar Muat Curah Kering ........................................................................................ 3-9
3.3.5 Fasilitas Bongkar Muat Mobil ................................................................................................. 3-10
3.3.6 Fasilitas Transportasi Penumpang .......................................................................................... 3-11

3.4 Lalulintas Pelabuhan...................................................................................................................... 3-11


3.4.1 Lalulintas Kunjungan Kapal ..................................................................................................... 3-11
3.4.2 Lalulintas Kargo Barang ........................................................................................................... 3-12
3.4.2.1 Lalulintas General Cargo .................................................................................................. 3-12
3.4.2.2 Lalulintas Bag Cargo ......................................................................................................... 3-13
3.4.2.3 Lalulintas Petikemas......................................................................................................... 3-14
3.4.2.4 Lalulintas Curah Cair ........................................................................................................ 3-14
3.4.2.5 Lalulintas Curah Kering .................................................................................................... 3-15
3.4.2.6 Lalulintas Mobil ................................................................................................................ 3-15
3.4.3 Lalulintas Penumpang ............................................................................................................. 3-16
3.5 Proyeksi Lalulintas Pelabuhan........................................................................................................ 3-17
3.5.1 Proyeksi Lalulintas Kunjungan Kapal ....................................................................................... 3-17
3.5.2 Proyeksi Lalulintas Kargo Barang ............................................................................................ 3-18
3.5.2.1 Proyeksi Lalulintas General Cargo .................................................................................... 3-18
3.5.2.2 Proyeksi Lalulintas Bag Cargo .......................................................................................... 3-19
3.5.2.3 Proyeksi Lalulintas Curah Cair .......................................................................................... 3-20
3.5.2.4 Proyeksi Lalulintas Curah Kering ...................................................................................... 3-20
3.5.2.5 Proyeksi Lalulintas Bongkar Muat Mobil ......................................................................... 3-21
3.5.3 Proyeksi Lalulintas Penumpang .............................................................................................. 3-22
BAB 4 Pelayanan Petikemas Pelabuhan Tanjung Priok .....................................................................4-1
4.1 Pembagian Pelayanan Petikemas .................................................................................................... 4-1
4.1.1 PT. Pelabuhan Indonesia II (Pelindo II) ..................................................................................... 4-1
4.1.2 PT. Jakarta International Container Terminal ........................................................................... 4-3
4.1.3 TPK KOJA ................................................................................................................................... 4-4
4.1.4 PT. Mustika Alam Lestari (MAL) ................................................................................................ 4-5
4.1.5 PT. Multi Terminal Indonesia (MTI) .......................................................................................... 4-6
4.2 Prosedur Bongkarmuat Petikemas Internasional ............................................................................ 4-7
4.2.1 Prosedur Import Bongkarmuat Petikemas ............................................................................... 4-7
4.2.2 Prosedur Eksport Bongkarmuat Petikemas ............................................................................ 4-12
4.3 Lalulintas Petikemas....................................................................................................................... 4-16
4.3.1 Lalulintas Petikemas Total ...................................................................................................... 4-16
4.3.2 Lalulintas Petikemas Berdasarkan Tempat Pelayanannya ...................................................... 4-17

4.4 Proyeksi Petikemas ........................................................................................................................ 4-19


BAB 5 Profil dan Analisa Terminal 3 Tanjung Priok ...........................................................................5-1
5.1 Profil Terminal 3 ............................................................................................................................... 5-1
5.1.1 Letak Terminal 3........................................................................................................................ 5-1
5.1.2 Hirarki Kepemimpinan .............................................................................................................. 5-2
5.1.3 Demografis Pekerja ................................................................................................................... 5-2
5.2 Fakta-Fakta Terminal 3..................................................................................................................... 5-3
5.2.1 Luas Daratan ............................................................................................................................. 5-4
5.2.2 Kedalaman ................................................................................................................................ 5-4
5.2.3 Dermaga .................................................................................................................................... 5-5
5.2.4 Pembagian Zoning Pelayanan Kargo ......................................................................................... 5-6
5.2.5 Layout Terminal Petikemas Eksisting ........................................................................................ 5-7
5.3 Peralatan Bongkarmuat Petikemas Terminal 3 ............................................................................... 5-8
5.3.1 Peralatan Bongkarmuat Ship to Shore (STS) ............................................................................. 5-9
5.3.2 Peralatan Bongkamuat Transfer ke Lapangan .......................................................................... 5-9
5.3.2 Peralatan Bongkarmuat Penumpukan ...................................................................................... 5-9
5.4 Lalulintas Terminal 3 ...................................................................................................................... 5-10
5.4.1 Lalulintas Kunjungan Kapal ..................................................................................................... 5-10
5.4.2 Lalulintas Kargo Barang ........................................................................................................... 5-10
5.4.2.1. Lalulintas General Cargo ................................................................................................. 5-11
5.4.2.2 Lalulintas Bag Cargo ......................................................................................................... 5-11
5.4.2.3 Lalulintas Petikemas......................................................................................................... 5-12
5.4.2.4 Lalulintas Curah Cair ........................................................................................................ 5-12
5.4.2.5 Lalulintas Curah Kering .................................................................................................... 5-13
5.5 Analisis Performa Terminal ............................................................................................................ 5-13
5.5.1 Indikator dari Output .............................................................................................................. 5-14
5.5.2 Indikator dari Pelayanan ......................................................................................................... 5-15
5.5.3 Indikator dari Utilisasi ............................................................................................................. 5-16
5.5.4 Indikator dari Produktivitas .................................................................................................... 5-19
5.6 Analisis Kapal Terminal 3 ............................................................................................................... 5-19
5.6.1 Jenis Kapal ............................................................................................................................... 5-19
5.6.2 Indikator Pelayanan Kapal Terminal 3 .................................................................................... 5-20

5.7 Proyeksi Lalulintas Petikemas Terminal 3 ...................................................................................... 5-21


BAB 6 Desain Terminal ....................................................................................................................6-1
6.1 Rezoning Terminal 3......................................................................................................................... 6-1
6.2 Desain Terminal ............................................................................................................................... 6-4
6.2.1 Desain Apron ............................................................................................................................ 6-4
6.2.2 Desain Yard ............................................................................................................................... 6-6
6.2.2.1 Desain Stack Petikemas Reguler ........................................................................................ 6-6
6.2.2.2 Desain Stack Reefer ......................................................................................................... 6-11
6.2.2.3 Perhitungan Kapasitas Yard ............................................................................................. 6-12
6.2.3 Desain Gate ............................................................................................................................. 6-13
6.2.4 Desain Bengkel Pemeliharaan................................................................................................. 6-16
6.2.5 Desain Peralatan ..................................................................................................................... 6-18
6.2.6.1 Desain Container Crane ................................................................................................... 6-18
6.2.6.2 Desain Rail Mounted Gantry Crane ................................................................................. 6-21
6.2.6.3 Desain Truk ...................................................................................................................... 6-23
6.2.6 Desain Keseluruhan dan Visualisasi 3D ................................................................................... 6-25
6.4 Perbandingan Kondisi Rencana dengan Kondisi Eksisting ............................................................. 6-31
6.4.1 Pengecekan Kapasitas terhadap Proyeksi Lalulintas .............................................................. 6-31
6.4.2 Perbandingan Storage Capacity .............................................................................................. 6-32
6.4.3 Perbandingan Kapasitas Container Crane............................................................................... 6-33
6.4.3 Perbandingan Peralatan.......................................................................................................... 6-33
6.4.4 Perbandingan Performa .......................................................................................................... 6-34
BAB 7 Penutup ................................................................................................................................7-1
7.1 Kesimpulan....................................................................................................................................... 7-1
7.1.1 Hasil Desain Terminal ................................................................................................................ 7-1
7.1.2 Kesimpulan Tambahan .............................................................................................................. 7-1
7.2 Saran ................................................................................................................................................ 7-1

DAFTAR GAMBAR
Gambar 1.1 Pintu Masuk Pelabuhan Tanjung Priok .................................................................................. 1-1
Gambar 1.2 Perbandingan TEU Pelabuhan petikemas Dunia.................................................................... 1-3
Gambar 1.3 Grafik Kapasitas vs Demand petikemas Tanjung Priok .......................................................... 1-3
Gambar 2.1 1 TEU Petikemas..................................................................................................................... 2-3
Gambar 2.2 Petikemas Dry Freight ............................................................................................................ 2-5
Gambar 2.3 Petikemas Tutup Samping...................................................................................................... 2-5
Gambar 2.4 Petikemas Tutup Atas ............................................................................................................ 2-6
Gambar 2.5 Petikemas Berventilasi ........................................................................................................... 2-6
Gambar 2.6 Petikemas Insulated ............................................................................................................... 2-7
Gambar 2.7 Petikemas Reefer ................................................................................................................... 2-7
Gambar 2.8 Petikemas Pemanas ............................................................................................................... 2-8
Gambar 2.9 Petikemas Tangki ................................................................................................................... 2-8
Gambar 2.10 Petikemas Dry Bulk .............................................................................................................. 2-9
Gambar 2.11 Flatrack Container .............................................................................................................. 2-10
Gambar 2.12 Petikemas Ternak ............................................................................................................... 2-10
Gambar 2.13 Kapal Petikemas Emma Maersk ......................................................................................... 2-11
Gambar 2.14 Terminal Petikemas Singapura........................................................................................... 2-13
Gambar 2.15 Terminal Petikemas Filipina ............................................................................................... 2-13
Gambar 2.16 Lapangan Reefer ................................................................................................................ 2-14
Gambar 2.17 CFS tampak luar ................................................................................................................. 2-15
Gambar 2.18 CFS tampak dalam .............................................................................................................. 2-15
Gambar 2.19 Bengkel Perawatan ............................................................................................................ 2-16
Gambar 2.20 Kantor Operasi Pelabuhan Kobe Jepang ............................................................................ 2-16
Gambar 2.21 Menara pengawas .............................................................................................................. 2-17
Gambar 2.22 Gerbang in/out Pelabuhan Kobe........................................................................................ 2-18
Gambar 2.23 Container Crane ................................................................................................................. 2-19

Gambar 2.24 Level Luffing Crane ............................................................................................................. 2-19


Gambar 2.25 Harbor Mobile Crane ......................................................................................................... 2-20
Gambar 2.26 Tractor Trailer .................................................................................................................... 2-21
Gambar 2.27 Straddle Carrier .................................................................................................................. 2-22
Gambar 2.28 Shuttle Carrier .................................................................................................................... 2-22
Gambar 2.29 Rail Mounted Gantry Crane ............................................................................................... 2-23
Gambar 2.30 Rubber Tyre Gantry Crane ................................................................................................. 2-24
Gambar 2.31 Reachstacker ...................................................................................................................... 2-24
Gambar 2.32 Top Lifter ............................................................................................................................ 2-25
Gambar 2.33 Side Loader ......................................................................................................................... 2-25
Gambar 2.34 Forklift ................................................................................................................................ 2-26
Gambar 2.35 Penanganan petikemas dengan menggunakan sistem Forklift dan Reachstacker ............ 2-27
Gambar 2.36 Penanganan petikemas dengan menggunakan sistem Straddle Carrier ........................... 2-28
Gambar 2.37 Penanganan petikemas dengan menggunakan sistem RTG dan Shuttle Carrier ............... 2-29
Gambar 2.38 Penanganan petikemas dengan menggunakan sistem RTG dan Truk ............................... 2-29
Gambar 2.39 Penentuan Lebar Dermaga ................................................................................................ 2-32
Gambar 2.40 Cover software AutoCAD ................................................................................................... 2-34
Gambar 2.41 Contoh output AutoCAD .................................................................................................... 2-35
Gambar 2.42 Spesifikasi komputer minimum AutoCAD 2010 ................................................................. 2-36
Gambar 3.1 Pelabuhan Tanjung Priok ....................................................................................................... 3-1
Gambar 3.2 Pelabuhan Tanjung Priok tempo dulu.................................................................................... 3-2
Gambar 3.3 Kolam Pelabuhan Tanjung Priok tempo dulu......................................................................... 3-2
Gambar 3.4 Layout eksisting luas daratan Pelabuhan Tanjung Priok ........................................................ 3-3
Gambar 3.5 Layout eksisting luas kolam Pelabuhan Tanjung Priok .......................................................... 3-4
Gambar 3.6 Layout eksisting alur pelayaran Pelabuhan Tanjung Priok..................................................... 3-5
Gambar 3.7 Layout eksisting fasilitas pelayanan kargo konvensional Pelabuhan Tanjung Priok .............. 3-6
Gambar 3.8 Layout eksisting fasilitas pelayanan petikemas internasional Pelabuhan Tanjung Priok ...... 3-7
Gambar 3.9 Layout eksisting fasilitas pelayanan petikemas internasional Pelabuhan Tanjung Priok ...... 3-8
Gambar 3.10 Layout eksisting fasilitas pelayanan curah kering Pelabuhan Tanjung Priok ....................... 3-9
Gambar 3.11 Layout eksisting fasilitas pelayanan bongkar muat mobil Pelabuhan Tanjung Priok ........ 3-10
Gambar 3.12 Layout eksisting fasilitas pelayanan transportasi penumpang Pelabuhan Tanjung Priok . 3-11
Gambar 3.13 Grafik kunjungan kapal Pelabuhan Tanjung Priok periode 2004-2010 (Ton) .................... 3-12

Gambar 3.14 Grafik kunjungan kapal Pelabuhan Tanjung Priok periode 2004-2010 (Unit) ................... 3-12
Gambar 3.15 Grafik Lalulintas general cargo Pelabuhan Tanjung Priok periode 2004-2010 (Ton) ........ 3-13
Gambar 3.16 Grafik Lalulintas bag cargo Pelabuhan Tanjung Priok periode 2004-2010 (Ton) .............. 3-14
Gambar 3.17 Grafik Lalulintas curah cair Pelabuhan Tanjung Priok periode 2004-2010 (Ton) .............. 3-14
Gambar 3.18 Grafik Lalulintas curah kering Pelabuhan Tanjung Priok periode 2004-2010 (Ton) .......... 3-15
Gambar 3.19 Grafik Lalulintas bongkar muat mobil Pelabuhan Tanjung Priok periode 2004-2010
(Ton) ........................................................................................................................................................ 3-16
Gambar 3.20 Grafik Lalulintas embarkasi dan debarkasi Pelabuhan Tanjung Priok periode 2004-2010
(org).......................................................................................................................................................... 3-17
Gambar 3.21 Grafik lalulintas penumpang total Pelabuhan Tanjung Priok periode 2004-2010 (org) .. 3-17
Gambar 3.22 Grafik proyeksi kunjungan kapal Pelabuhan Tanjung Priok (unit) ..................................... 3-18
Gambar 3.23 Grafik proyeksi kunjungan kapal Pelabuhan Tanjung Priok (GT) ....................................... 3-18
Gambar 3.24 Grafik proyeksi lalulintas general cargo Pelabuhan Tanjung Priok (Ton) .......................... 3-19
Gambar 3.25 Grafik proyeksi lalulintas bag cargo Pelabuhan Tanjung Priok (Ton) ................................ 3-20
Gambar 3.26 Grafik proyeksi lalulintas kargo curah cair Pelabuhan Tanjung Priok (Ton) ...................... 3-20
Gambar 3.27 Grafik proyeksi lalulintas kargo curah kering Pelabuhan Tanjung Priok (Ton) .................. 3-21
Gambar 3.28 Grafik proyeksi lalulintas bongkar muat mobil Pelabuhan Tanjung Priok (unit) ............... 3-22
Gambar 3.29 Grafik proyeksi lalulintas embarkasi penumpang Pelabuhan Tanjung Priok (orang) ........ 3-23
Gambar 3.30 Grafik proyeksi lalulintas debarkasi penumpang Pelabuhan Tanjung Priok (orang) ......... 3-23
Gambar 3.31 Grafik proyeksi lalulintasi penumpang total Pelabuhan Tanjung Priok (orang) ................ 3-24
Gambar 4.1 Logo PT. Pelabuhan Indonesia II ............................................................................................ 4-1
Gambar 4.2 Pelabuhan Tanjung Priok (Annual report pelindo) ................................................................ 4-2
Gambar 4.3 Logo Jakarta International Container Terminal (JICT) ............................................................ 4-3
Gambar 4.3 Dermaga Jakarta International Container Terminal (JICT) ..................................................... 4-4
Gambar 4.4 Logo TPK KOJA ........................................................................................................................ 4-4
Gambar 4.5 Dermaga TPK KOJA ................................................................................................................. 4-5
Gambar 4.6 Logo PT. Mustika Alam Lestari (MAL) .................................................................................... 4-5
Gambar 4.7 Dermaga PT. Mustika Alam Lestari (MAL) ............................................................................. 4-6
Gambar 4.8 Logo PT. Multi Terminal Indonesia (MTI) ............................................................................... 4-6
Gambar 4.9 Lapangan Petikemas PT. Multi Terminal Indonesia (MTI) ..................................................... 4-7
Gambar 4.10 Pembongkaran dari kapal .................................................................................................... 4-8
Gambar 4.11 Transfer Ke Truk ................................................................................................................... 4-8

Gambar 4.12 Transfer ke lapangan ............................................................................................................ 4-9


Gambar 4.13 Lift off ................................................................................................................................... 4-9
Gambar 4.14 Loket Bea Cukai .................................................................................................................. 4-10
Gambar 4.15 Loket Terminal ................................................................................................................... 4-10
Gambar 4.16 Lift on ................................................................................................................................. 4-11
Gambar 4.17 Gate in/out ......................................................................................................................... 4-11
Gambar 4.18 Transportasi Truk ............................................................................................................... 4-12
Gambar 4.19 Loket Terminal ................................................................................................................... 4-13
Gambar 4.20 Loket Bea Cukai .................................................................................................................. 4-13
Gambar 4.21 Gate in/out ......................................................................................................................... 4-14
Gambar 4.22 Lift off ................................................................................................................................. 4-14
Gambar 4.23 Lift on ................................................................................................................................. 4-15
Gambar 4.24 Transfer ke Dermaga .......................................................................................................... 4-15
Gambar 4.25 Pemuatan ke kapal ............................................................................................................. 4-16
Gambar 4.26 Grafik Lalulintas petikemas Pelabuhan Tanjung periode 2004-2010 (TEU) ...................... 4-17
Gambar 4.27 Grafik Lalulintas petikemas Pelabuhan Tanjung periode 2004-2010 (Box) ....................... 4-17
Gambar 4.28 Grafik Lalulintas Total petikemas Pelabuhan Tanjung sesuai tempat pelayanannya periode
2004-2010 ................................................................................................................................................ 4-18
Gambar 4.29 Grafik Pie Lalulintas Total petikemas Pelabuhan Tanjung sesuai tempat pelayanannya
periode 2004-2010................................................................................................................................... 4-19
Gambar 4.30 Grafik Proyeksi Lalulintas Petikemas Pelabuhan Tanjung Priok (TEU)............................... 4-20
Gambar 4.31 Grafik proyeksi lalulintasi penumpang total Pelabuhan Tanjung Priok (orang) ................ 4-20
Gambar 5.1 Layout letak Terminal 3.......................................................................................................... 5-2
Gambar 5.2 Hirarki kepemimpinan Terminal 3 (2011) .............................................................................. 5-2
Gambar 5.3 Demografis umur pekerja Terminal 3 .................................................................................... 5-3
Gambar 5.4 Layout eksisting daratan Terminal 3 ...................................................................................... 5-4
Gambar 5.5 Layout eksisting kedalaman kolam Terminal 3 ...................................................................... 5-5
Gambar 5.6 Layout eksisting dermaga Terminal 3 .................................................................................... 5-6
Gambar 5.7 Layout zoning pembagian kargo Terminal 3 (Masterplan) .................................................... 5-7
Gambar 5.8 Layout zoning pembagian kargo Terminal 3 (Eksisting) ......................................................... 5-7
Gambar 5.9 Layout eksisting pelayanan petikemas Terminal 3 ................................................................ 5-8
Gambar 5.10 Grafik lalulintas kunjungan kapal Terminal 3 ..................................................................... 5-10

Gambar 5.11 Grafik lalulintas General Cargo Terminal 3 ........................................................................ 5-11


Gambar 5.12 Grafik lalulintas Bag Cargo Terminal 3 ............................................................................... 5-11
Gambar 5.13 Grafik lalulintas Petikemas Terminal 3 (TEU) ..................................................................... 5-12
Gambar 5.14 Grafik lalulintas Petikemas Terminal 3 (Ton) ..................................................................... 5-12
Gambar 5.15 Grafik lalulintas Curah Cair Terminal 3 .............................................................................. 5-13
Gambar 5.16 Grafik lalulintas Curah Kering Terminal 3 .......................................................................... 5-13
Gambar 5.17 Grafik BOR Terminal 3 ........................................................................................................ 5-16
Gambar 5.18 Grafik proyeksi BOR Terminal 3 ......................................................................................... 5-17
Gambar 5.19 Grafik YOR Terminal 3 ........................................................................................................ 5-17
Gambar 5.20 Grafik proyeksi YOR Terminal 3 ......................................................................................... 5-18
Gambar 5.21 Grafik SOR Terminal 3 ........................................................................................................ 5-18
Gambar 5.22 Grafik proyeksi YOR Terminal 3 ......................................................................................... 5-19
Gambar 5.23 Kapal APL Minneapolis ....................................................................................................... 5-20
Gambar 5.24 Proyeksi lalulintas petikemas Terminal 3 (TEU) ................................................................. 5-22
Gambar 5.25 Proyeksi lalulintas petikemas Terminal 3 (Ton) ................................................................. 5-23
Gambar 6.1 Zoning eksisting Terminal 3.................................................................................................... 6-1
Gambar 6.2 Zoning rencana Terminal 3..................................................................................................... 6-2
Gambar 6.3 Chart zoning Masterplan Terminal 3 (%) ............................................................................... 6-3
Gambar 6.4 Chart zoning eksisting Terminal 3 (%) .................................................................................... 6-3
Gambar 6.5 Chart zoning rencana Terminal 3 (%) ..................................................................................... 6-4
Gambar 6.6 Denah apron eksisting............................................................................................................ 6-5
Gambar 6.7 Denah apron rencana............................................................................................................. 6-5
Gambar 6.8 Peta Singapura ....................................................................................................................... 6-6
Gambar 6.9 Stack penumpukan Terminal Keppel Singapura .................................................................... 6-7
Gambar 6.10 Peta Hongkong ..................................................................................................................... 6-8
Gambar 6.11 Stack penumpukan Terminal 2 Hongkong ........................................................................... 6-9
Gambar 6.12 Sisa Areal untuk Yard ......................................................................................................... 6-10
Gambar 6.13 Denah Yard rencana ........................................................................................................... 6-10
Gambar 6.14 Denah Yard rencana 2 ........................................................................................................ 6-11
Gambar 6.15 Denah Reefer rencana ....................................................................................................... 6-12
Gambar 6.16 Denah Reefer rencana 2..................................................................................................... 6-12
Gambar 6.17 Denah Gate Eksisting ......................................................................................................... 6-14

Gambar 6.18 Denah Gate rencana .......................................................................................................... 6-14


Gambar 6.19 Denah Gate rencana 2 ....................................................................................................... 6-15
Gambar 6.20 Denah loket rencana .......................................................................................................... 6-16
Gambar 6.21 Sisa Area untuk Bengkel ..................................................................................................... 6-16
Gambar 6.22 Denah bengkel dan areal parkir ......................................................................................... 6-17
Gambar 6.23 Denah bengkel dan areal parkir 2 ...................................................................................... 6-17
Gambar 6.24 Penempatan Container Crane ............................................................................................ 6-19
Gambar 6.25 Container Crane Terminal (3D) .......................................................................................... 6-20
Gambar 6.26 Denah Terminal sebelum penempatan Container Crane .................................................. 6-20
Gambar 6.27 Denah Terminal setelah penempatan Container Crane .................................................... 6-21
Gambar 6.28 RMGC Terminal (3D) .......................................................................................................... 6-22
Gambar 6.29 Denah Terminal sebelum penempatan RMGC .................................................................. 6-23
Gambar 6.30 Denah Terminal setelah penempatan RMGC .................................................................... 6-23
Gambar 6.31 Truk Terminal (3D) ............................................................................................................. 6-24
Gambar 6.32 Denah Terminal eksisting ................................................................................................... 6-26
Gambar 6.33 Denah Terminal rencana .................................................................................................... 6-27
Gambar 6.34 Apron Terminal (3D)........................................................................................................... 6-28
Gambar 6.35 Stack petikemas (3D).......................................................................................................... 6-28
Gambar 6.36 Stack Reefer (3D)................................................................................................................ 6-29
Gambar 6.37 Gate-in/out(3D).................................................................................................................. 6-29
Gambar 6.38 Bengkel dan Tempat Parkir(3D) ......................................................................................... 6-30
Gambar 6.39 Terminal 3 Rencana (3D) .................................................................................................... 6-31
Gambar 6.40 Grafik proyeksi petikemas vs kapasitas layout .................................................................. 6-32

DAFTAR TABEL
Tabel 1.1 Daftar peringkat kota dengan TEU terbanyak di dunia .............................................................. 1-2
Tabel 2.1. Ukuran petikemas standar ........................................................................................................ 2-4
Tabel 3.1 Kunjungan Kapal Pelabuhan Tanjung Priok 2004-2010 ........................................................... 3-11
Tabel 3.2 Lalulintas general cargo Pelabuhan Tanjung Priok 2004-2010 ................................................ 3-12
Tabel 3.3 Lalulintas bag cargo Pelabuhan Tanjung Priok 2004-2010 ...................................................... 3-13
Tabel 3.4 Lalulintas kargo curah cair Pelabuhan Tanjung Priok 2004-2010 ............................................ 3-14
Tabel 3.5 Lalulintas kargo curah kering Pelabuhan Tanjung Priok 2004-2010 ........................................ 3-15
Tabel 3.6 Lalulintas bongkar muat mobil Pelabuhan Tanjung Priok 2004-2010 ..................................... 3-15
Tabel 3.7 Lalulintas transportasi penumpang Pelabuhan Tanjung Priok 2004-2010 .............................. 3-16
Tabel 3.8 Proyeksi lalulintas kunjungan kapal Pelabuhan Tanjung Priok ................................................ 3-17
Tabel 3.9 Proyeksi lalulintas general cargo Pelabuhan Tanjung Priok ..................................................... 3-18
Tabel 3.10 Proyeksi lalulintas bag cargo Pelabuhan Tanjung Priok ......................................................... 3-19
Tabel 3.11 Proyeksi lalulintas kargo curah cair Pelabuhan Tanjung Priok 2004-2010 ............................ 3-20
Tabel 3.12 Proyeksi lalulintas kargo curah kering Pelabuhan Tanjung Priok 2004-2010 ........................ 3-21
Tabel 3.13 Proyeksi lalulintas bongkar muat mobil Pelabuhan Tanjung Priok 2004-2010...................... 3-21
Tabel 3.14 Proyeksi lalulintas penumpang Pelabuhan Tanjung Priok 2004-2010 ................................... 3-22
Tabel 4.1 Lalulintas Total Petikemas Pelabuhan Tanjung Priok............................................................... 4-16
Tabel 4.2 Lalulintas Petikemas Pelabuhan Tanjung Priok Sesuai Tempat Pelayanan.............................. 4-18
Tabel 4.3 Lalulintas Total Petikemas Pelabuhan Tanjung Priok Sesuai Tempat Pelayanan periode 20042010 ......................................................................................................................................................... 4-18
Tabel 4.3 Proyeksi Lalulintas Total Petikemas Pelabuhan Tanjung Priok ................................................ 4-19
Tabel 5.1 Pembagian pekerja Terminal 3................................................................................................... 5-3
Tabel 5.2 Kedalaman Terminal 3................................................................................................................ 5-5
Tabel 5.3 Dermaga Terminal 3 ................................................................................................................... 5-6
Tabel 5.4 Daftar peralatan Terminal 3 ....................................................................................................... 5-9
Tabel 5.6 Lalulintas Kargo barang Terminal 3 .......................................................................................... 5-10

Tabel 5.6 Spesifikasi Kapal APL Minneapolis ........................................................................................... 5-20


Tabel 5.7 Perbandingan Pelayanan Kapal dgn Pelabuhan Tetangga ....................................................... 5-21
Tabel 5.6 Proyeksi Petikemas Terminal 3 ................................................................................................ 5-22
Tabel 6.1 Areal Zoning Terminal 3 ............................................................................................................. 6-2
Tabel 6.2 Penambahan Areal Zoning Terminal 3 ....................................................................................... 6-2
Tabel 6.3 Referensi Perancangan Stack Reefer ....................................................................................... 6-11
Tabel 6.4 Perbandingan Storage Capacity Terminal ................................................................................ 6-32
Tabel 6.5 Perbandingan Annual Storage Capacity Terminal .................................................................... 6-33
Tabel 6.6 Perbandingan Throughput Container Crane ............................................................................ 6-33
Tabel 6.7 Perbandingan peralatan layout eksisting dan baru Terminal 3 ............................................... 6-34

BAB 1
Pendahuluan
1.1 Latar Belakang
Belakangan ini perdagangan dunia yang berkembang pesat dan menjadi semakin terbuka antar
negara membuat semakin berkembang pesatnya volume dari lalulintas kargo antar negara. Dalam
transportasi kargo barang yang terjadi antar negara-negara tersebut, pengangkutan kargo antar
negara dengan menggunakan kapal laut merupakan alternatif yang paling banyak dipakai saat ini.
Ini disebabkan oleh banyaknya muatan yang bisa diangkut dalam sekali jalan dan lebih murahnya
biaya dibandingkan dengan transportasi lainnya.
Dalam transportasi suatu kargo salah satu hal yang sangat menentukan dalam biaya pengangkutan
dan lama dalam pengiriman suatu produk barang adalah kemasannya. Karena itu sejak
ditemukannya petikemas (container) sebagai suatu metode pengemasan barang, telah terjadi
evolusi yang sangat drastis di bidang pengiriman suatu kargo. Dimana digunakannya petikemas
dalam pengiriman kargo dapat secara drastis memotong biaya dan waktu yang dibutuhkan dalam
pengepakkan dan proses bongkar muat sehingga terjadi peningkatan yang drastis di efisiensi
handling pelabuhan yang berakibat dapat diturunkannya ongkos, yang pada akhirnya berakibat pada
berkurangnya tarif dan peningkatan flow perdagangan.
Dr. Jean-Paul Rodrigue menyatakan dalam bukunya The Geography of Transport System (2009)
bahwa antara tahun 1990 sampai dengan 2008 lalulintas petikemas telah tumbuh dari 28,7 juta TEU
menjadi 152 juta TEU, dari segi persentase kenaikan berarti lalulintas petikemas telah tumbuh
sebesar 430%. Kenaikan dari angka tersebut menggambarkan betapa pesatnya pertumbuhan
petikemas dalam dunia transportasi kargo barang belakangan ini. Tentu saja Indonesia sebagai
negara berkembang yang berada di posisi strategis dalam posisi geografisnya yang terletak dalam
jalur pelayaran kargo internasional tidak boleh ketinggalan dalam membaca kesempatan ini.

Gambar 1.1 Pintu Masuk Pelabuhan Tanjung Priok


Laporan Tugas Akhir
Pengembangan Terminal III Tanjung Priok Menjadi Dedicated International Container Terminal

1- 1

Pelabuhan Tanjung Priok yang terletak di Jakarta Utara merupakan pelabuhan dan tersibuk di
Indonesia. Pelabuhan ini menangani lebih dari 30% komoditi Non Migas Indonesia, disamping itu
50% dari seluruh arus barang yang keluar/masuk Indonesia melewati pelabuhan ini. Karenanya
Tanjung Priok merupakan barometer perekonomian Indonesia dan merupakan ujung tombak dan
gerbang dalam pelayanan petikemas di sepanjang alur pelayaran yang melintasi Indonesia.
Pada saat ini seperti yang bisa dilihat dari Tabel 1.1 dan Gambar 1.2 Pelabuhan Tanjung Priok
mendapat peringkat 24 dalam TEU petikemas yang ditangani pertahunnya. Apabila kita mengamati
trend kenaikan pertahun dari tabel bisa kita lihat bahwa Jakarta (Tanjung Priok) merupakan salah
satu kota yang mengalami kenaikan terbesar dari tahun ke tahun. Dengan demikian dapat
disimpulkan bahwa Tanjung Priok mempunyai potensi yang sangat besar dalam menarik pasar
petikemas di dunia internasional apabila Pelabuhan Tanjung Priok sendiri bisa mengatasi kapasitas
petikemas diminta dari pasar.
Tabel 1.1 Daftar peringkat kota dengan TEU terbanyak di dunia
(Sumber: http://en.wikipedia.org/wiki/List_of_world%27s_busiest_container_ports)

Laporan Tugas Akhir


Pengembangan Terminal III Tanjung Priok Menjadi Dedicated International Container Terminal

1- 2

Gambar 1.2 Perbandingan TEU Pelabuhan petikemas Dunia


Dalam penanganan petikemas itu sendiri di Pelabuhan Tanjung Priok, terdapat 5 perusahaan yang
terlibat yaitu PT.Pelindo II, PT. Jakarta International Container Terminal, PT. TPK KOJA, PT. Multi
Terminal Indonesia (MTI), dan PT. MAL (Mustika Alam Lestari). Dari 5 penyedia layanan bongkar
muat petikemas tersebut, PT.JICT merupakan layanan jasa bongkar muat petikemas penyumbang
TEU terbesar dalam layanan bongkar muat petikemas. Seperti dilihat di Gambar 1.3 seiring dengan
meningkatnya permintaan pasar dan trend pertumbuhan ekonomi global yang trus meningkat, pihak
Pelindo II harus bisa menambah kapasitas fasilitas pelayanan jasa bongkar muat petikemas yang
dimilikinya agar tidak tertinggal dari kompetitor lainnya.

Gambar 1.3 Grafik Kapasitas vs Demand petikemas Tanjung Priok


Dalam tugas akhir ini penulis atas permintaan dari Direktur Komersial dan Pengembangan Bisnis
Pelindo II Bapak Saptono Irianto, diminta untuk mengembangkan sisi timur dari Terminal 3 Tanjung
Priok untuk dikembangkan menjadi Terminal petikemas internasional. Diharapkan dengan
Laporan Tugas Akhir
Pengembangan Terminal III Tanjung Priok Menjadi Dedicated International Container Terminal

1- 3

pengembangan tersebut Pelabuhan Tanjung Priok bisa menambah kapasitas TEU Petikemas yang
dilayani pertahunnya dan bisa mengimbangi JITC dalam pelayanan petikemas di Pelabuhan Tanjung
Priok.
Dalam pengembangannya, Terminal 3 Tanjung Priok diharapkan akan bisa menyediakan layanan
jasa dan peralatan terbaik yang dibutuhkan untuk bisa melayani kapal petikemas yang berlabuh di
Pelabuhan Tanjung Priok. Diharapkan juga pengembangan Terminal 3 Tanjung Priok ini bisa
menjadi contoh dalam pengembangan Terminal-Terminal lainnya apabila dimasa depan dibutuhkan
perluasan area layanan petikemas ketika permintaan dari pasar semakin meningkat.
1.2 Tujuan Penulisan
Tugas akhir ini bertujuan untuk:
Memenuhi persyaratan kelulusan Sarjana Teknik Kelautan Institut Teknologi Bandung;
Sebagai proyek studi kasus untuk pengembangan Terminal 3 Tanjung Priok yang diminta
secara spesifik oleh Direktur Komersial dan Pengembangan Usaha Pelindo II Bapak Saptono
Irianto;
Mengenal dunia kegiatan pelayanan kargo khususnya petikemas di pelabuhan;
Mempelajari kegiatan operasional pada proyek yang sedang diteliti,
mempelajari
permasalahan di lapangan dan memberikan solusi terhadap permasalahan tersebut
Mendesain layout pelabuhan yang optimal dalam pelayanan kargo petikemas internasional;
Sebagai wahana untuk mengaplikasikan dan mengaplikasikan pelajaran-pelajaran yang
diperoleh dari kegiatan perkuliahan di dunia kerja nyata.

Laporan Tugas Akhir


Pengembangan Terminal III Tanjung Priok Menjadi Dedicated International Container Terminal

1- 4

1.3 Lingkup Pembahasan


Lingkup Pembahasan dari tugas akhir ini akan membahas mengenai pendesainan Terminal
Petikemas Internasional yang akan dilakukan pada lokasi Terminal 3 bagian timur, Pelabuhan
Tanjung Priok.
Dalam pendesainan ini lingkup pekerjaan yang akan dilakukan merupakan penataan kembali zoning
dan penempatan infrastruktur dan peralatan yang terbaik untuk mencapai kondisi optimal. Dalam
perencanaannya akan diperhitungkan kondisi dan peralatan Terminal 3 eksisting yang diolah dengan
kondisi lalulintas beberapa tahun terakhir untuk bisa mendapatkan perkiraan lalulintas dimasa depan
yang kemudian akan menjadi dasar dari pertimbangan pendesainan layout pelabuhan.
Dalam penentuan desain yang dilakukan di tugas akhir ini, Dalam penentuan desain akan digunakan
spesifikasi desain dari panduan United Nations Conference of Trade and Development (UNCTAD),
Port Development, 1985. Hal yang tidak tercantum dalam buku tersebut akan menggunakan
panduan dari Port Designers Handbook, Carl. A Thorensen, 2003 dan buku-buku lain yang berkaitan
dengan sumber pengolahan data lalu lintas yang didapat dari data lalulintas bulanan Pelindo II
Tanjung Priok. Untuk analisa performa terminal digunakan buku PSA courses, Port of Singapore

Authorities.

Proses dari pembuatan layout yang dilakukan di tugas akhir ini akan menggunakan software
AutoCAD, AutoCAD adalah perangkat lunak komputer CAD untuk menggambar 2 dimensi dan 3
dimensi yang dikembangkan oleh Autodesk.

Laporan Tugas Akhir


Pengembangan Terminal III Tanjung Priok Menjadi Dedicated International Container Terminal

1- 5

1.4 Sistematika Laporan


Sistematika pembahasan yang digunakan dalam penyusunan tugas akhir ini adalah
BAB 1 PENDAHULUAN
Berisi membahas mengenai latar belakang, tujuan penulisan, lingkup pembahasan, dan sistematika
penyusunan tugas akhir.
BAB 2 DASAR TEORI
Bab ini memaparkan dasar teori dimana dijelaskan mengenai petikemas, terminal petikemas dan
kapal petikemas. Dalam bab ini juga dibahas ilmu-ilmu dasar yang diperlukan dalam pendesainan
layout terminal petikemas. Selain itu juga akan dijelaskan secara singkat mengenai konsep dasar
program AutoCAD dan berbagai fitur didalamnya.
BAB 3 PROFIL DAN LALULINTAS PELABUHAN TANJUNG PRIOK
Bab ini memaparkan mengenai profil, kondisi dan gambaran umum Pelabuhan Tanjung Priok
ditinjau dari luas daratan, panjang dermaga, luas kolam pelabuhan panjang alur pelayaran, kondisi
lalulintas beberapa tahun terakhir, zoning peruntukan kargo, proyeksi lalulintas kedepan dan
sebagainya.
BAB 4 PELAYANAN PETIKEMAS PELABUHAN TANJUNG PRIOK
Bab ini memaparkan mengenai perusahaan penyedia layanan bongkar muat petikemas di Tanjung
Priok. Bab ini juga membahas mengenai proses satu-persatu dalam kegiatan bongkar muat
petikemas serta lalulintas beberapa tahun terakhir dan proyeksi kedepan kargo petikemas di
Pelabuhan Tanjung Priok.
BAB 5 PROFIL DAN ANALISA TERMINAL 3 TANJUNG PRIOK
Bab ini memaparkan mengenai profil, kondisi dan gambaran umum Pelabuhan Tanjung Priok
ditinjau dari luas daratan, tenaga kerja, peralatan, zoning peruntukan kargo, lalu lintas, analisa
performa terminal dan kapal serta proyeksi lalulintas kedepan
BAB 6 DESAIN TERMINAL
Bab ini berisi tentang proses desain layout Terminal 3 Tanjung Priok dengan sebelumnya
melakukan analisis terhadap perubahan zoning serta perhitungan mengenai ketentuan-ketentuan
dalam pendesainan terminal. Dalam bab ini juga akan dilakukan perhitungan mengenai perubahan
dari kapasitas dan produktifitas setelah terjadinya perubahan layout.
BAB 7 PENUTUP
Berisi kesimpulan dari uraian dan hasil perhitungan yang dilakukan serta saran terhadap hasil yang
didapat.

Laporan Tugas Akhir


Pengembangan Terminal III Tanjung Priok Menjadi Dedicated International Container Terminal

1- 6

BAB 2
Dasar Teori
2.1 Pelabuhan
Untuk bisa lebih dimengerti mengenai pelabuhan dalam sub-bab ini akan dibahas mengenai definisi
pelabuhan itu sendiri dan jenis-jenisnya
2.1.1 Pengertian Pelabuhan
Pelabuhan adalah sebuah fasilitas di ujung samudera, sungai, atau danau untuk menerima kapal
dan memindahkan barang kargo maupun penumpang ke dalamnya. Untuk mendukung kegiatan
tersebut, diperlukan prasarana berupa pelabuhan. Pelabuhan berfungsi sebagai tempat perpindahan
penumpang dan barang dari sarana transportasi laut ke sarana transportasi darat atau sebaliknya.
Pelabuhan harus merupakan sebuah daerah daerah perairan yang terlindung terhadap gelombang,
pelabuhan tersebut harus dilengkapi dengan fasilitas terminal laut yang meliputi dermaga dimana
kapal dapat bertambat untuk bongkar muat barang, crane-crane untuk bongkar muat barang,
gudang dan tempat tempat penyimpanan dimana barang barang dapat disimpan dalam waktu
yang lebih lama selama menunggu pengiriman ke daerah tujuan. Suatu terminal dalam pelabuhan
sebaiknya dilengkapi dengan jalan kereta api, jalan raya atau infrastruktur lainnya agar proses
ekonomi yang berlangsung di pelabuhan bisa lebih tertunjang.
2.1.2 Klasifikasi Pelabuhan
Karena kebutuhan dan kargo sebuah daerah berbeda-beda maka pelabuhan yang dibangun pun
berbeda-beda, baik dari fasilitas yang dimiliki, lokasi pelabuhan, maupun cara pengelolaannya. Maka
merujuk pada Peraturan Pemerintah 61 Tahun 2009 mengenai Kepelabuhanan maka klasifikasi dari
pelabuhan akan dibagi menjadi berikut:
a. Pelabuhan Laut
Pelabuhan Laut adalah Pelabuhan yang dapat digunakan untuk melayani kegiatan angkutan
laut dan/atau kegiatan penyeberangan yang terletak di laut atau di sungai
Pelabuhan Laut secara hirarki dibagi lagi menjadi 3 yaitu:
i.
Pelabuhan Utama
Pelabuhan Utama adalah pelabuhan yang fungsi pokoknya melayani kegiatan
angkutan laut dalam negeri dan internasional, alih muat angkutan laut dalam negeri
dan internasional dalam jumlah besar, dan sebagai tempat asal tujuan penumpang
dan/atau barang serta angkutan penyeberangan dengan jangkauan pelayanan
antarprovinsi.
ii.
Pelabuhan Pengumpul
Pelabuhan Pengumpul adalah pelabuhan yang fungsi pokoknya melayani kegiatan
angkutan laut dalam negeri, alih muat angkutan laut dalam negeri dalam jumlah
menengah, dan sebagai tempat asal tujuan penumpang dan/atau barang serta
angkutan penyeberangan dengan jangkauan pelayanan antarprovinsi.
iii.
Pelabuhan Pengumpan
Laporan Tugas Akhir
Pengembangan Terminal III Tanjung Priok Menjadi Dedicated International Container Terminal

2- 1

Pelabuhan Pengumpul adalah pelabuhan yang fungsi pokoknya melayani kegiatan


angkutan laut dalam negeri, alih muat angkutan laut dalam negeri dalam jumlah
terbatas, merupakan pengumpan bagi pelabuhan utama dan pelabuhan pengumpul
dan sebagai tempat asal tujuan penumpang dan/atau barang serta angkutan
penyeberangan dengan jangkauan pelayanan dalam provinsi.
b. Pelabuhan Sungai dan Danau
Palbuhan Sungai dan Danau adalah pelabuhan yang digunakan untuk melayani angkutan
sungai dan danau yang terletak di sungai dan danau.
2.2 Petikemas
Untuk bisa lebih dimengerti mengenai petikemas dalam sub-bab ini akan dibahas mengenai definisi
petikemas itu sendiri, spesifikasinya dan jenis-jenisnya
2.2.1 Pengertian Petikemas
Peti kemas (ISO container) adalah peti atau kotak yang memenuhi persyaratan teknis sesuai dengan
International Organization for Standardization (ISO) sebagai alat atau perangkat pengangkutan
barang yang bisa digunakan diberbagai moda, mulai dari moda jalan dengan truk peti kemas, kereta
api dan kapal petikemas laut.
Kontainerisasi adalah merupakan sebuah sistem transportasi intermodal yang bertujuan untuk
membuat sebuah sistem yang memudahkan pengangkutan barang secara mudah dan cepat dalam
berbagai moda transportasi. Petikemas bisa diangkut dalam kapal, kereta, pesawat kargo dan
angkutan darat Dengan penggunaan petikemas terjadi peningkatan yang drastis di efisiensi
Penanganan pelabuhan yang berakibat dapat diturunkannya ongkos, berkurangnya tarif dan
akhirnya menstimulus arus perdagangan.
Keuntungan petikemas antara lain:
Kecepatan bongkar/muat tinggi sehingga dapat mengurangi biaya dan waktu kapal di
pelabuhan.
Barang yang dikirim terhindar dari kerusakan maupun kehilangan.
Karena bentuknya sudah standar (persegi panjang), maka peti kemas mudah pengaturan
penempatannya.
Peti kemas tidak memerlukan gudang, cukup areal atau lapangan penempatan, karena peti
kemas tahan terhadap cuaca.
Memperkecil biaya pengapalan perton barang.
Dapat dilakukan door to door dengan intermoda transport.
Penggunaan tenaga kerja hemat.
Dapat dilakukan pengawasan dengan sistem komputerisasi.
Sedangkan kerugian-kerugian dari sistem angkutan peti kemas ini adalah:
Biaya investasi termasuk pembangunan terminal container maupun sarana-sarana lain
didalamnya sangat tinggi.
Rawan terhadap penyelundupan, karena peti kemas tertutup rapat maka untuk mengetahui
isi muatan harus dibongkar seluruhnya.
Dibutuhkan keterampilan yang lebih tinggi bagi para pekerja terutama dalam bidang teknik.
Dengan adanya kontenerisasi dapat mengakibatkan pengangguran (secara sektoral) karena
Perubahan labour insentive ke capital insentive.
2.2.2 Macam-Macam Petikemas
Laporan Tugas Akhir
Pengembangan Terminal III Tanjung Priok Menjadi Dedicated International Container Terminal

2- 2

Petikemas bisa dibedakan berdasarkan 2 klasifikasi yaitu berdasarkan ukuran dan kegunaan
2.2.2.1 Klasifikasi Berdasarkan Ukuran

Gambar 2.1 1 TEU Petikemas

Twenty-foot equivalent unit (TEU atau teu) adalah unit yang menyatakan kapasitas kargo untuk

mengukur kapasitas tertentu dari sebuah kapal petikemas dan terminal petikemas. Nilai ini
didasarkan dari volume dari box metal sepanjang 20 ft yang didesain untuk transport intermodal.
Box ini didesain agar mudah untuk diangkut dengan berbagai macam moda transportasi, seperti
kapal laut, kereta dan truk.
Dalam standard TEU internasional biasanya sebuah unit petikemas didasarkan sebagai 1 TEU
a. Petikemas 20 ft
Petikemas jenis ini mempunyai mempunyai dimensi panjang 20 feet (6.1m) dan lebar 8 feet
(2.4m) dalam dimensi tinggi tidak ada ketentuan yang berlaku secara mengikat namun
tinggi yang sering digunakan adalah sekitar 8.5 feet (2.6m). Berat kotor maksimum yang
bisa dimuat oleh 1 TEU adalah 24.000 kg. Dengan memperhitungkan berat dari kontainer itu
sendiri maka berat muatan maksimum yang bisa dimuat berkurang menjadi 21.800 kg (20
ft).
b. Petikemas 40 ft
Petikemas jenis ini mempunyai mempunyai dimensi panjang 40 feet (12,2m) dan lebar 8
feet (2.4m) dalam dimensi tinggi tidak ada ketentuan yang berlaku secara mengikat namun
tinggi yang sering digunakan adalah sekitar 8.5 feet (2.6m). Berat kotor maksimum yang
bisa dimuat sebesar 30.480 kg. Dengan memperhitungkan berat dari kontainer itu sendiri
maka berat muatan maksimum yang bisa dimuat berkurang 26.680 kg.
c. Petikemas 45 ft
Petikemas jenis ini mempunyai mempunyai dimensi panjang 45 feet (13,7m) dan lebar 8
feet (2.4m) dalam dimensi tinggi tidak ada ketentuan yang berlaku secara mengikat namun
tinggi yang sering digunakan adalah sekitar 9,6 feet (2,8m). Berat kotor maksimum yang
Laporan Tugas Akhir
Pengembangan Terminal III Tanjung Priok Menjadi Dedicated International Container Terminal

2- 3

bisa dimuat sebesar 30.480 kg. Dengan memperhitungkan berat dari kontainer itu sendiri
maka berat muatan maksimum yang bisa dimuat berkurang 26.680 kg.
Tabel 2.1. Ukuran petikemas standar
(Sumber: Standart Equipment Guide, Maersk Line 2009)

2.2.2.2 Klasifikasi Berdasarkan Bentuk dan Kegunaannya


Menurut Bentuk dan Kegunaannya Petikemas dapat dibagi menjadi 6 Kelompok yaitu:
a. Petikemas General Cargo
Petikemas yang dipakai untuk mengangkut muatan umum (general cargo). Petikemas yang
termasuk dalam kelompok ini adalah:
i.

Petikemas Dry Freight.


Atau disebut juga Standart Container yang pintu masuknya berara di depan dan
digunakan untuk mengangkut barang kering. Tipe ini merupakan tipe yang paling
sering digunakan

Laporan Tugas Akhir


Pengembangan Terminal III Tanjung Priok Menjadi Dedicated International Container Terminal

2- 4

Gambar 2.2 Petikemas Dry Freight


(Sumber: http://www.cargo-indo.com/cargo-specification.php)
ii

Petikemas Tutup Samping


Pintu sampingnya dibuka untuk memasukan dan mengeluarkan barang yang ukuran
dan beratnya lebih mudah dimasukan melalui samping petikemas

Gambar 2.3 Petikemas Tutup Samping


(Sumber: http://stscontainers.en.made-in-china.com/product/vMrJQpijqAhf/China-Open-SideContainer.html)
iii

Petikemas Tutup Atas


Bagian atasnya dapat dibuka yang umumnya dipergunakan untuk barang berat yang
hanya dapat dimasukan lewat atas dengan menggunakan derek.

Laporan Tugas Akhir


Pengembangan Terminal III Tanjung Priok Menjadi Dedicated International Container Terminal

2- 5

Gambar 2.4 Petikemas Tutup Atas


(Sumber: http://www.bslcontainers.com/products81.php)
iiii

Petikemas Berventilasi
Memiliki ventilasi agar terjadi sirkulasi udara dalam petikemas yang diperlukan untuk
muatan tertentu, khususnya muatan yang mengandung kadar air tinggi.

Gambar 2.5 Petikemas Berventilasi


(Sumber: http://www.argosinternacional.com/cont6.jpg)
b. PetikemasThermal

Petikemas yang dilengkapi dengan pengatur suhu untuk muatan tertentu. Petikemas yang
termasuk dalam kelompok ini adalah :

Laporan Tugas Akhir


Pengembangan Terminal III Tanjung Priok Menjadi Dedicated International Container Terminal

2- 6

i.

Petikemas Insulated

Petikemas yang dinding bagian dalamnya diberi isolasi agar udara dingin di dalam
petikemas tidak merembes keluar

Gambar 2.6 Petikemas Insulated


(Sumber: http://www.made-in-china.com/showroom/ensi2007/product-detailFbyJgmQHVxpL/ChinaETL-Insulated-Container-Liner.html)

ii

Petikemas Reefer

Petikemas yang dilengkapi dengan mesin pendingin untuk mendinginkan udara


dalam petikemas sesuai dengan suhu yang diperlukan bagi barang yang mudah
busuk

Gambar 2.7 Petikemas Reefer


Laporan Tugas Akhir
Pengembangan Terminal III Tanjung Priok Menjadi Dedicated International Container Terminal

2- 7

(Sumber: http://www.bombayharbor.com/Product/12568/40_Feet_Reefer_Container.html)

iii

Petikemas Pemanas

Petikemas yang dilengkapi dengan mesin pemanas agar udara yang didalam
petikemas dapat diatur pada suhu yang diinginkan.

Gambar 2.8 Petikemas Pemanas


( http://www.matts-place.com/intermodal/part4/canada/cppu760099.jpg)
c. Petikemas Tangki

Tangki yang ditempatkan dalam kerangka petikemas yang dipergunakan untuk muatan baik
muatan cair ( bulk liquid ) maupun muatan gas (bulk gas).

Gambar 2.9 Petikemas Tangki


Laporan Tugas Akhir
Pengembangan Terminal III Tanjung Priok Menjadi Dedicated International Container Terminal

2- 8

(Sumber: http://www.hiwtc.com/products/iso-tank-container-20ft-1575-7575.htm)
d. Petikemas Dry Bulk

Adalah general purpose container yang dipergunakan khusus untuk mengangkut muatan
curah atau bulk cargo. Untuk memasukan atau mengeluarkan muatan tidak melalui pintu
depan seperti biasanya, tetapi melalui lubang dibagian atas untuk memasukan muatan dan
lubang atau pintu dibagian bawah untuk mengeluarkan muatan (gravity discharge). Lubang
atas dapat juga dipergunakan untuk membongkar muatan dengan cara dihisap.

Gambar 2.10 Petikemas Dry Bulk


(Sumber: http://www.jansensanddieperink.com/pages/en/dry_bulk_containers.php)
e. Petikemas Platform

Petikemas yang terdiri dari lantai dasar tanpa dinding di sisi-sisinya . Petikemas yang
termasuk jenis ini adalah petikemas Flatrack yaitu petikemas yang terdiri dari lantai dasar
dengan tiang di ujung-ujungnya agar bisa ditumpuk.

Laporan Tugas Akhir


Pengembangan Terminal III Tanjung Priok Menjadi Dedicated International Container Terminal

2- 9

Gambar 2.11 Flatrack Container


(Sumber: http://www.dimerco.com/dimerco/en/container.asp?1)
f.

Petikemas Khusus.
Petikemas Khusus adalah petikemas yang khusus dibuat untuk muatan tertentu, seperti
petikemas untuk muatan ternak (Cattle Container) .

Gambar 2.12 Petikemas Ternak


(Sumber: http://vrdays.blogspot.com/2010/10/mc-cattle-container.html)
2.2.3 Kapal Petikemas
Kapal peti kemas (container ship) adalah kapal yang khusus digunakan untuk mengangkut peti
kemas yang telah terstandarisasi. Kapal ini memiliki rongga (cells) untuk menyimpan peti kemas
ukuran standar. Peti kemas diangkat ke atas kapal di terminal peti kemas dengan menggunakan
Laporan Tugas Akhir
Pengembangan Terminal III Tanjung Priok Menjadi Dedicated International Container Terminal

2- 10

crane khusus yang dapat dilakukan dengan cepat, crane yang digunakan bisa dari crane yang
berada di dermaga, maupun derek yang berada di kapal itu sendiri.

Sebelum adanya petikemas barang-barang breakbulk dimuat ke kapal dengan cara satu persatu.
Namun setelah adanya kontainerpemindahan kargo dilakukan dengan sekaligus sehingga dilaporkan
penggunaan container mengurangi waktu pengiriman sebesar 84% dan biaya sebesar 35%. Sejak
tahun 2001 sekitar 90% perdagangan dunia untuk barang non-bulk dikemas dengan cara
menggunakan petikemas.
Sampai dengan tahun 2011 kapal petikemas terbesar di dunia adalah kapal Emma Maersk yang
mempunyai kapasitan muatan petikemas sebesar 15.000 TEU. Kapal ini mempunyai panjang
sebesar 397 meter, lebar 56 meter dan draught sebesar 15,5 meter. Kecepatan maksimal kapal ini
sebesar 25,5 knots.

Gambar 2.13 Kapal Petikemas Emma Maersk


(Sumber: http://www.wmshipping.co.uk/testimonials.htm)
2.2.3.1 Klasifikasi Berdasarkan Kapasitas Kargo
Saat ini klasifikasi yang paling umum digunakan untuk mengelompokkan kapal petikemas adalah
dibagi menjadi 5 jenis, yaitu:
a. Kapal Feeder (Feeder ship)
Kapal ini biasanya mempunyai kapasitas TEU sebesar 50 - 300 TEU. Kapal ini mempunyai
ukuran kapal sekitar lebar beam 18 m, panjang LOA 129,1 m, dan kedalaman draft 6,5 m.
b. Kapal Petikemas ukuran Panamax (Panamax-size Container Ship)
Kapal ini biasanya mempunyai kapasitas TEU sebesar 1000-3000 TEU
Kapal ini mempunyai ukuran yang dibatasi oleh kanal Panama sehingga ukuran kapal
maksimal mempunyai lebar beam 32,3 m, panjang LOA 250-290 m dan kedalaman draft
maksimal 12 m.
c. Kapal Petikemas ukuran Post-Panamax (Post Panamax Container Ship)
Laporan Tugas Akhir
Pengembangan Terminal III Tanjung Priok Menjadi Dedicated International Container Terminal

2- 11

Kapal ini biasanya mempunyai kapasitas TEU sebesar 4250-6000 TEU. Kapal ini mempunyai
ukuran kapal lebar beam 40,84 m ,maksimal panjang LOA 275-305 m, dan kedalaman draft
11-13 m.
d. Kapal Petikemas ukuran Post-Panamax-Plus (PPP Container Ship)
Kapal ini biasanya mempunyai kapasitas TEU sebesar 7000-12500 TEU. Kapal ini mempunyai
ukuran kapal maksimal panjang LOA 335 m, dan kedalaman draft 13-14 m.
e. Kapal Petikemas ULCS (Ultra Large Container Ships)
Kapal ini biasanya mempunyai kapasitas TEU sebesar 12500 TEU atau lebih. Panjang LOA
kapal diantara 380-400 m, lebar beam sebesar 60 m dan maksimum kedalaman draft 14,5
m.
2.3 Terminal Petikemas
Untuk bisa lebih dimengerti mengenai Terminal petikemas dalam sub-bab ini akan dibahas
mengenai definisi Terminal petikemas itu sendiri, spesifikasinya, peralatan-peralatannya dan
indikator performanya.
2.3.1 Pengertian Terminal Petikemas
Terminal peti kemas adalah terminal yang dilengkapi perlengkapan yang memadai untuk melakukan
kegiatan bongkarmuat petikemas dimana disitu dilakukan pengumpulan peti kemas dari hinterland
ataupun pelabuhan lainnya untuk selanjutnya diangkut ke tempat tujuan ataupun terminal lain.
Terminal petikemas biasanya menyediakan fasilitas penyimpanan untuk petikemas yang terisi
maupun kosong. Petikemas yang terisi biasanya disimpan untuk waktu yang relative singkat
sedangkan petikemas yang kosong bisa disimpan untuk waktu yang lama untuk menunggu
penggunaan selanjutnya. Biasanya dalam penyimpanannya petikemas disimpan dengan cara
ditumpuk yang biasanya disebut sebagai Container Stack
Biasanya terminal petikemas tidak bisa dibenarkan secara ekonomi bila throughput pertahunnya
kurang dari 50.000 TEU. Karena perkembangan dari teknologi dan ukuran dari kapal petikemas
belakangan ini berkembang dengan sangat pesat pelngelola terminal petikemas dihadapkan pada
persoalan dimana terminal yang dikelolanya bisa digunakan untuk jangka panjang kedepan.

Laporan Tugas Akhir


Pengembangan Terminal III Tanjung Priok Menjadi Dedicated International Container Terminal

2- 12

Gambar 2.14 Terminal Petikemas Singapura


(Sumber: http://en.wikipedia.org/wiki/File:Port_of_Singapore_Keppel_Terminal.jpg)
2.3.2 Pembagian Area Terminal
Pembagian Area Terminal secara garis besar dibagi menjadi 3 bagian besar yaitu:
2.3.2.1 Apron
Apron merupakan area yang terletak tepat dibelakang dermaga. Lebar dari apron di tiap pelabuhan
berbeda-beda dari 15-50m tergantung dari alat bongkarmuat, truk, crane dan faktor-faktor lain.
2.3.2.2 Area Lapangan Primer
Area lapangan primer ini terdiri dari 3 bagian utama yaitu:
a. Lapangan Penumpukan Sementara
Lapangan penumpukan sementara (Marshalling Yard) adalah lapangan yang digunakan
untuk menempatkan secara sementara peti kemas yang akan dimuatkan ke dalam kapal.
Lapangan ini berada di dekat apron.
b. Lapangan Petikemas
Lapangan petikemas (Container Yard) adalah lapangan penumpukkan petikemas yang
akan/telah dikapalkan. Lapangan ini biasanya dibagi 2 antara lapangan yang dikhususkan
untuk petikemas import dan petikemas export. Penumpukan yang dilakukan di lapangan ini
tergantung pada alat penumpukan dan luas area yang digunakan, tetapi harus juga diingat
penumpukan yang terlalu tinggi dapat berakibat bertambahnya waktu penanganan muatan
karena petikemas paling atas harus dipindahkan dahulu apabila petikemas yang berada
dibawah akan dipindahkan.

Gambar 2.15 Terminal Petikemas Filipina


(http://www.cargobestlogistics.net/services/)
c. Lapangan Reefers
Lapangan Reefers (Reefers Yard) adalah lapangan petikemas yang dikhususkan untuk
petikemas yang memakai pendingin. Karena petikemas ini membutuhkan listrik untuk
Laporan Tugas Akhir
Pengembangan Terminal III Tanjung Priok Menjadi Dedicated International Container Terminal

2- 13

mengoperasikan mesin pendinginnya maka disediakan lapangan khusus untuk petikemas


jenis tersebut.

Gambar 2.16 Lapangan Reefer


(http://fr.wikipedia.org/wiki/Fichier:Kuantan_Port_Container_Yard_with_REEFER_Service.JPG)
2.3.2.3 Area Lapangan Sekunder
Area lapangan sekunder ini terdiri dari 9 bagian utama yaitu:
a. Container Freight Station (CFS)
Container Freight Station adalah fasilitas dimana kargo diterima dari pihak pengirim
(eksportir) untuk kemudian dimasukkan kedalam petikemas oleh operator CFS. Setelah
pengepakan selesai petikemas tersebut akan dibawa oleh truk pelabuhan untuk menuju
lapangan penumpukan petikemas sementara. Demikian juga sebaliknya CFS juga berfungsi
sebagai tempat pembongkaran petikemas yang baru masuk untuk kemudian kargonya
dibawa oleh pihak importer dan petikemas kosong ditaruh di lapangan penumpukan
petikemas kosong yang telah disediakan.

Laporan Tugas Akhir


Pengembangan Terminal III Tanjung Priok Menjadi Dedicated International Container Terminal

2- 14

Gambar 2.17 CFS tampak luar


(http://www.wtcfs.com/)

Gambar 2.18 CFS tampak dalam


(http://www.harborusa.com/warehousing.htm)
b. Lapangan Petikemas Kosong
Lapangan petikemas kosong adalah lapangan yang dikhususkan untuk menumpuk petikemas
yang tidak mempunyai muatan/kosong. Lapangan ini sebaiknya ditempatkan didekat CFS
agar kegiatan pembongkaran/pemuatan kargo kedalam petikemas bisa lebih cepat.
c. Bengkel Perbaikan dan Perawatan Peralatan
Bengkel perbaikan dan perawatan ini dibutuhkan sebagai areal dimana dilakukannya
perawatan dan reparasi peralatan yang digunakan dalam kegiatan pembongkaran
Laporan Tugas Akhir
Pengembangan Terminal III Tanjung Priok Menjadi Dedicated International Container Terminal

2- 15

petikemas. Fasilitas ini sangat penting karena kerusakan peralatan dan kelambatan
perbaikan peralatan akan menyebabkan tertundanya kegiatan di terminal.

Gambar 2.19 Bengkel Perawatan


(http://www.kptc.or.jp/ef07.html)
d. Areal Barang Berbahaya
Areal barang berbahaya ini merupakan area dimana barang-barang yang berpotensi untuk
membahayakan keselamatan ditaruh.
e. Kantor Operasi
Kantor operasi ini merupakan kantor dimana proses administrasi dan perencanaan terminal
tersebut dilakukan. Kantor tersebut sebaiknya berada didekat jalan utama terminal sehingga
memudahan akses dari dalam pelabuhan maupun dari luar pelabuhan.

Gambar 2.20 Kantor Operasi Pelabuhan Kobe Jepang


(http://www.kptc.or.jp/ef07.html)
Laporan Tugas Akhir
Pengembangan Terminal III Tanjung Priok Menjadi Dedicated International Container Terminal

2- 16

f.

Kantor Beacukai
Kantor beacukai adalah area dimana petugas bea cukai mengurus perizinan dan surat-surat
yang diperlukan dalam penanganan suatu kargo, baik itu merupakan kargo yang keluar
maupun masuk. Kantor bea cukai ini berada dibawah Direktorat Jendral Bea Cukai,
Kementrian Keuangan Republik Indonesia.

g. Tempat Parkir
Areal ini khusus dibuat untuk sebagai tempat parkir kendaraan bagi klien/otoritas pelabuhan
yang berkepentingan di terminal tersebut. Tempat parker ini sebaiknya diletakkan didekat
kantor operasi.
h. Menara Pengawas
Menara pengawas digunakan untuk melakukan pengawasan di semua tempat dan mengatur
serta mengarahkan semua kegiatan di terminal, seperti pengoperasian peralatan dan
pemberitahuan arah penyimpanan dan penempatan petikemas.

Gambar 2.21 Menara pengawas


(http://www.panoramio.com/photo/20766899)
i.

Gerbang dengan Fasilitas Pemeriksa dan Penimbang


Areal ini merupakan pintu masuk dan keluar (gate in/out) yang disitu sebaiknya diterapkan
fasilitas-fasilitas keamanan sesuai kode ISPS (International Ship and Port Security Code).
Untuk memasuki gerbang ini diharuskan menjalani sejumlah pemeriksaan dan harus
memiliki surat-surat khusus, serta orang yang tidak berkepentingan tidak diperbolehkan
masuk. Apabila dimungkinkan di gerbang ini juga sebaiknya diberi sebuah peralatan
penimbang berat truck untuk dapat mengetahui berat kargo yang dibawa truk yang akan
memasuki pelabuhan.

Laporan Tugas Akhir


Pengembangan Terminal III Tanjung Priok Menjadi Dedicated International Container Terminal

2- 17

Gambar 2.22 Gerbang in/out Pelabuhan Kobe


(Sumber: http://www.kptc.or.jp/ef07.html)
2.3.3 Peralatan Bongkarmuat Petikemas
Secara garis besar peralatan bongkarmuat dibagi menjadi 3 bagian besar yaitu:
2.3.3.1 Peralatan Bongkarmuat Ship to Shore (STS)
Peralatan bongkarmuat Ship to Shore adalah peralatan crane yang mempunyai fungsi untuk
memindahkan kargo petikemas dari kapal ke dermaga atau sebaliknya. Ada 3 jenis yang umum
untuk STS crane yaitu:

1. Container Crane
Container crane (Terkadang disebut juga sebagai Container handling gantry crane) adalah
sebuah crane besar yang ditempatkan disebelah dermaga dalam sebuah terminal petikemas
yang berfungsi untuk bongkarmuat petikemas dari kapal ke dermaga atau sebaliknya.
Biasanya container crane bisa mengangkat 1 petikemas pada satu kali angkatan, tapi
belakangan ini generasi terbaru container crane sanggup mengangkat sampai dengan 4
petikemas sekaligus.

Laporan Tugas Akhir


Pengembangan Terminal III Tanjung Priok Menjadi Dedicated International Container Terminal

2- 18

Gambar 2.23 Container Crane

2. Level Luffing Crane


Level Luffing Crane adalah crane dengan mekanisme pengangkatan kargo dengan
menggunakan kait. Level-luffing crane paling sering digunakan apabila dibutuhkan perlakuan
kargo yang hati-hati dalam peletakannya, seperti dalam pekerjaan konstruksi atau
pembangunan kapal.

Gambar 2.24 Level Luffing Crane


(Sumber: http://www.bbunl.com/materials_electric.html)

3. Harbor Mobile Crane


Harbor Mobile Crane (HMC atau MHC) adalah sebuah crane yang dilengkapi oleh ban agar
bisa dipindahkan ke berbagai area di pelabuhan. Mobile Crane ini mempunyai fungsi yang
bervariasi dan bisa digunakan untuk berbagai macam kargo sesuai kebutuhan.

Laporan Tugas Akhir


Pengembangan Terminal III Tanjung Priok Menjadi Dedicated International Container Terminal

2- 19

Gambar 2.25 Harbor Mobile Crane


(Sumber: http://www.gottwald.com/gottwald/site/gottwald/en/products/harbour-cranes/mobileharbour-cranes.html)

Laporan Tugas Akhir


Pengembangan Terminal III Tanjung Priok Menjadi Dedicated International Container Terminal

2- 20

2.3.4.2 Peralatan Bongkarmuat Transfer ke Lapangan


Peralatan bongkarmuat transportasi ke lapangan adalah peralatan-peralatan yang mempunyai fungsi
memindahkan petikemas yang tekah diangkut oleh STS crane dari kapal untuk dibawa ke lapangan
penumpukan yang telah disediakan. Ada 3 jenis yang umum untuk peralatan transportasi ini yaitu:
1. Truk (Tractor Trailer)
Tractor-Trailer adalah truk yang digunakan untuk membawa petikemas dari dermaga ke
lapangan penumpukan ataupun sebaliknya. Tractor-Trailer juga dapat digunakan untuk
melakukan pergerakan internal dalam terminal.

Gambar 2.26 Tractor Trailer

2. Straddle Carrier
Straddle Carrier adalah alat penanganan petikemas yang dapat melakukan hampir seluruh
operasi penanganan petikemas, mulai dari memindahkan petikemas dari container crane ke
lapangan penumpukan, melakukan penumpukan itu sendiri sampai memindahkan petikemas
dalam area pelabuhan.

Laporan Tugas Akhir


Pengembangan Terminal III Tanjung Priok Menjadi Dedicated International Container Terminal

2- 21

Gambar 2.27 Straddle Carrier


(Sumber: http://www.mascus.co.uk/Material-handling/Used-Container-handlers/SMV-StraddleCarrier/wfqpygml.html)

3. Shuttle Carrier
Shuttle Carrier adalah sebuah kendaraan yang berfungsi untuk memindahkan sebuah
petikemas dari tepi dermaga/container crane menuju lapangan penumpukan. Berbeda
dengan Straddle Carrier, Shuttle Carrier lebih memfokuskan diri pada proses pemindahan
petikemas dan umumnya tidak digunakan untuk kegiatan penumpukan.

Gambar 2.28 Shuttle Carrier


(Sumber: http://www.kalmarind.com/show.php?id=43679)

Laporan Tugas Akhir


Pengembangan Terminal III Tanjung Priok Menjadi Dedicated International Container Terminal

2- 22

2.3.3.3 Peralatan Bongkarmuar Penumpukan


Peralatan bongkarmuat penumpukan yang berada di pelabuhan merupakan alat yang difokuskan
untuk kegiatan penumpukan, penataan dan pengambilan petikemas di lapangan penumpukan
petikemas. Alat-alat yang umum digunakan untuk kegiatan ini adalah:

1. Rail Mounted Gantry Crane

Alat ini merupakan alat yang digunakan untuk penumpukan di lapangan petikemas. Alat
yang bergerak diatas rel yang telah disediakan ini merupakan salah satu alat yang wajib
dimiliki pelabuhan karena kemampuannya untuk menumpuk petikemas yang mempunyai
produktivitas tinggi dan hemat tempat. Karena alat ini menggunakan metode penumpukan
dari atas makan untuk penumpukannya petikemas tidak membutuhkan gang-gang kecil
untuk dapat beroperasinya stacker, sehingga bisa menghemat banyak tempat.

Gambar 2.29 Rail Mounted Gantry Crane


(Sumber: http://www.flickr.com/photos/3dvia/3045638367/)

2. Rubber Tyre Gantry Crane

Alat ini merupakan alat yang digunakan untuk penumpukan di lapangan petikemas. Berbeda
dengan Rail Mounted Gantry Crane, alat ini tidak membutuhkan rel untuk pergerakannya
karena dilengkapi dengan ban karet yang bisa bergerak 90 derajat. Sehingga alat ini tidak
hanya bisa bergerak ke depan belakang namun juga kanan kiri.

Laporan Tugas Akhir


Pengembangan Terminal III Tanjung Priok Menjadi Dedicated International Container Terminal

2- 23

Gambar 2.30 Rubber Tyre Gantry Crane

3. Reachstacker
Reachstacker adalah salah satu alat penanganan petikemas yang paling fleksibel dalam
sebuah terminal yang kecil/sedang. Dibandingkan loader lainnya Reachstacker mempunyai
keunggulan dalam fleksibilitas dan kemampuannya untuk menumpuk petikemas yang lebih
tinggi.

Gambar 2.31 Reachstacker

4. Top Lifter
Top Lifter adalah sebuah kendaraan khusus yang digunakan untuk penumpukan petikemas.
Alat ini menggunakan pengungkit yang bergerak vertikal dengan pengait petikemas yang
mengangkat bagian atas petikemas.

Laporan Tugas Akhir


Pengembangan Terminal III Tanjung Priok Menjadi Dedicated International Container Terminal

2- 24

Gambar 2.32 Top Lifter


(Sumber: http://www.flickr.com/photos/wamu8/5211042128/)

5. Side Loader
Sideloader adalah kendaraan khusus yang digunakan untuk membawa petikemas dalam

perjalanan yang cukup panjang. Berbeda dengan stacker lainnya, Sideloader membawa
petikemas di samping (sejajar) dengan kendaraan, sehingga pandangan kedepan
pengemudi tidak terhalang.

Gambar 2.33 Side Loader


(Sumber: http://www.industrial-training-services.co.uk/?id=gallery)

6. Forklift

Forklift adalah sebuah kendaraan khusus yang digunakan untuk penumpukan petikemas
kargo dan. Forklift memiliki 2 buah platform yang berada dibawah yang bertujuan untuk
mengangkat kargo barangnya keatas sebelum kemudian ditumpuk ditempat yang dituju.

Laporan Tugas Akhir


Pengembangan Terminal III Tanjung Priok Menjadi Dedicated International Container Terminal

2- 25

Gambar 2.34 Forklift


(Sumber: http://www.cipta-mp.co.cc/2010/11/sekilas-tentang-kami.html)
2.3.4 Sistem Penanganan Petikemas
Sistem penanganan petikemas yang paling umum digunakan untuk penumpukan petikemas di
lapangan penumpukan adalah:
a. Sistem Forklift dan Reachstacker
b. Sistem Straddle Carrier
c. Sistem Gantry Carrier
atau Campuran dari Ketiganya
Yang masing-masing secara singkat akan dijelaskan dibawah ini.
2.3.4.1 Sistem Forklift dan Reachstacker
Pada sistem ini STS (Ship to Shore) Crane akan mengambil petikemas dari kapal dan menaruhnya
diatas truk yang menunggu dibawah crane. Setelah itu trck tersebut akan membawa petikemas ke
lapangan penumpukkan dan dari situ forklift atau reachstacker yang sudah menunggu akan
mengangkat petikemas tersebut dari truk untuk ditumpuk.

Laporan Tugas Akhir


Pengembangan Terminal III Tanjung Priok Menjadi Dedicated International Container Terminal

2- 26

Gambar 2.35 Penanganan petikemas dengan menggunakan sistem Forklift dan Reachstacker
Sistem ini merupakan sistem yang paling sederhana dan paling banyak dipakai di terminal petikemas
karena sistem ini merupakan sistem yang paling ekonomis. Sistem ini bisa menyusun petikemas
dengan kedalaman 2 TEU dan ketinggian 6 TEU. Namun biasanya dibatasi sebanyak kedalaman 2
TEU dan Ketinggian 3-4 TEU untuk menghindari kesulitan dalam pengambilan petikemas tertentu.
Secara umum sistem ini:

Membutuhkan 3-5 Truk dan 2 Reachstacker per STS crane. Juga tergantung dari jarak dari
berth dan lapangan.
Kepadatan penumpukkan rendah yaitu sebesar 500 TEUs/Ha dengan ketinggian 4 tingkat
Produktivitas STS crane yang rata-rata
Tenaga kerja yang dibutuhkan tinggi, tapi modal awal dan biaya operasi rendah
Kontrol rendah, karena truk bisa memasuki area lapangan.

2.3.4.2 Sistem Straddle Carrier


Pada sistem ini STS (Ship to Shore) Crane akan mengambil petikemas dari kapal dan menaruhnya
diatas apron pelabuhan. Dari situ Straddle Carrier akan mengangkatnya, membawanya ke lapangan
penumpukkan dan menumpuknya disitu.

Laporan Tugas Akhir


Pengembangan Terminal III Tanjung Priok Menjadi Dedicated International Container Terminal

2- 27

Gambar 2.36 Penanganan petikemas dengan menggunakan sistem Straddle Carrier


Biasanya sistem ini menumpuk petikemas dengan 2-3 tingkat.
Secara umum sistem ini:

Membutuhkan 3-5 Straddle Carrier per STS crane. Juga tergantung dari jarak dari berth dan
lapangan.
Kapasitas penangannya 10 trip/Jam,
Kepadatan penumpukkan sedang yaitu sebesar 750 TEUs/Ha dengan ketinggian 2-3 tingkat
Produktivitas STS crane tinggi.
Tenaga kerja yang dibutuhkan rendah, tapi modal awal dan biaya operasi tinggi
Kontrol tinggi, karena truk tidak bisa memasuki area lapangan.

2.3.4.3 Sistem Gantry Carrier


Pada sistem ini STS (Ship to Shore) Crane akan mengambil petikemas dari kapal dan menaruhnya
keatas Truk/shuttle carrier kemudian akan membawa petikemas ke lapangan penumpukkan dimana
petikemas tersebut akan ditumpuk oleh Rubber-Tyre Gantry (RTG) atau Rail Mounted Gantry (RMG).
Sistem ini biasanya menumpuk petikemas dengan lebar 5-9 TEU dan ketinggian 4-6 tingkat.
Kecepatan penanganan sebuah petikemas oleh 1 RTG bervariasi dari 15-25 petikemas/jam.

Laporan Tugas Akhir


Pengembangan Terminal III Tanjung Priok Menjadi Dedicated International Container Terminal

2- 28

Gambar 2.37 Penanganan petikemas dengan menggunakan sistem RTG dan Shuttle Carrier
Secara umum sistem RTG dan shuttle carrier:

Membutuhkan 2 RTG crane dan 2-3 Shuttle Carrier per STS crane. Juga tergantung dari
jarak dari berth dan lapangan.
Kepadatan penumpukkan tinggi yaitu sebesar 800 TEUs/Ha dengan ketinggian 4 tingkat
Produktivitas STS crane tinggi.
Tenaga kerja yang dibutuhkan rendah, tapi modal awal tinggi dan biaya operasi sedang.
Kontrol rendah, karena truk bisa memasuki area lapangan.

Gambar 2.38 Penanganan petikemas dengan menggunakan sistem RTG dan Truk
Secara umum sistem RTG dan truk:

Membutuhkan 2 RTG crane dan 3-5 truk per STS crane. Juga tergantung dari jarak dari
berth dan lapangan.

Laporan Tugas Akhir


Pengembangan Terminal III Tanjung Priok Menjadi Dedicated International Container Terminal

2- 29

Kepadatan penumpukkan rata-rata yaitu sebesar 750 TEUs/Ha dengan ketinggian 2-3
tingkat
Produktivitas STS crane sedang.
Tenaga kerja yang dibutuhkan tinggi, tapi modal awal dan biaya operasi sedang.
Kontrol rendah, karena truk bisa memasuki area lapangan.

2.3.5 Indikator Performa Terminal


Untuk menilai performa dari sebuah terminal kita membutuhkan beberapa indikator, mengadopsi
indikator yang dipakai oleh PSA (Port of Singapore Authority) performa sebuah terminal akan dinilai
dari 4 faktor, yaitu:
2.3.5.1 Indikator dari Output
Pada indikator ini kita akan menilai performa dari sebuah terminal dari output yang dihasilkan oleh
terminal tersebut dalam operasinya.

a. Berth Throughput
Indikator Berth throughput menggambarkan sebuah berapa banyak petikemas yang
dltangani oleh berth tersebut dalam setahun. Indikator ini menggambarkan seberapa baik
sebuah berth digunakan.

(2.1)

b. Ship Output
Indikator Ship Output memperlihatkan rata-rata dimana petikemas ditangani dari atau
menuju kapal pada dermaga. Indikator ini memperlihatkan seberapa baik operasi
penanganan petikemas terminal tersebut.

=
=
=

(2.2)
(2.3)
(2.4)

c. Crane Output
Crane output adalah angka rata-rata petikemas yang dilayani oleh 1 crane perjam.

() =

(2.5)

2.3.5.2 Indikator dari Pelayanan


Indikator dari pelayanan merupakan suatu indikator yang digunakan untuk mengukur
kualitas pelayanan sebuah pelabuhan kepada penggunanya.

a. Waiting Time
Laporan Tugas Akhir
Pengembangan Terminal III Tanjung Priok Menjadi Dedicated International Container Terminal

2- 30

Waiting time adalah waktu penundaan yang diukur dari waktu dimana kapal sanpai di
pelabuhan sampai dengan kapal diikat di dermaga. Diukur dalam jam/hari.

(2.6)

b. Ships Time at Berth


Ships time at Berth adalah waktu total sebuah kapal saat merapat di dermaga, termasuk
waktu saat pembongkaran, ataupun tidak (idle). Diukur dalam jam/hari.

(2.7)

c. Ship Turnaround Times

Idealnya ship turnaround harus ditekan sekecil-kecilnya untuk menghasilkan pelayanan


terbaik pada klien. Untuk menghitung Ship Turnaround Times rata-rata sebuah pelabuhan
digunakan formula berikut:

(2.8)

2.3.5.3 Indikator dari Utilisasi


Indikator dari utilisasi adalah sebuah indikator yang menyatakan seberapa intensif sebuah fasilitas
pelabuhan digunakan. Dalam indikator ini yang dibahas adalah 3 faktor, yaitu Berth Occupancy
Ratio, Yard Occupancy Ratio, dan Storage Occupancy Ratio. Indikator ini dinyatakan dalam bentuk
persentase (%). Yang harus diingat adalah Occupancy yang terlalu tinggi bisa menyebabkan
kemacetan (congestion) di areal pelabuhan sedangkan Occupancy yang terlalu rendah menyatakan
bahwa fasilitas tersebut tidak sering digunakan (underused) dan tidak ekonomis.

a. Berth Occupancy Ratio (BOR)


Berth Occupancy Ratio menyatakan tingkat permintaan (demand) pada pelayanan dermaga
pelabuhan. Untuk perhitungannya digunakan formula:

% =

100
365

(2.9)

b. Yard Occupancy Ratio (YOR)


Yard Occupancy Ratio menyatakan tingkat permintaan (demand) pada pelayanan lapangan
penumpukan petikemas. Untuk perhitungannya digunakan formula:

% =

100
365

(2.10)

c. Storage Occupancy Ratio (SOR)


Storage Occupancy Ratio menyatakan tingkat permintaan (demand) pada pelayanan
gudang. Untuk perhitungannya digunakan formula:

% =

100
365

Laporan Tugas Akhir


Pengembangan Terminal III Tanjung Priok Menjadi Dedicated International Container Terminal

(2.11)
2- 31

2.3.5.4 Indikator dari Produktivitas


Dalam indikator-indikator sebelumnya kita bisa mengetahui sejumlah informasi mengenai performa
terminal tersebut, tapi tidak bisa mengukur keefektivitasan sebuah operasi bongkarmmuat. Efisiensi
adalah suatu indikator dimana kita menggunakan sedikit mungkin biaya/usaha dalam satu unit
produksi. Karena itu misalnya dalam pelabuhan kita bisa saja menambahkan banyak alat dan tenaga
kerja di suatu pelabuhan, yang hasilnya akan menambah throughput pelabuhan tersebut, tapi belum
tentu dengan dilakukannya tindakan tersebut keefisiensian dan produktivitas pelabuhan tersebut
akan naik. Malah bisa jadi cost-effectiveness pelabuhan tersebut akan turun. Karena itu sebagai
planner kita harus membandingkan kondisi eksisting dan kondisi rencana untuk memperkirakan
keefektivitasan sebuah kebijakan sebelum kebijakan tersebut dilakukan.
2.3.6 Penentuan Spesifikasi Terminal
Dalam proses desain kita membutuhkan acuan spesifikasi yang akan diterapkan di masing-masing
desain pelabuhan. Acuan yang kita tinjau adalah:
2.3.6.1 Apron
Terminal Petikemas membutuhkan dermaga yang panjang, hal ini disebabkan biasanya kapal
petikemas mempunyai ukuran yang besar dan panjang. Menurut Thorensen (2008) lebar jarak
diantara kapal harus melebihi 0,1 x lebar kapal terbesar terminal tersebut dengan batas minimal
selebar 15 meter. Disarankan panjang dermaga diantara 250m-350m dengan kedalaman 12-15
tergantung pada ukuran kapal.

Gambar 2.39 Penentuan Lebar Dermaga


(Sumber: Thorensen, 2008)
Apron terminal petikemas biasanya lebih lebar dari terminal lain karena pada area ini akan
ditempatkan berbagai peralatan bongkarmuat seperti gantry crane, rel-rel gantry, jalan truk trailer
dan pengoperasian alat bongkar muat lainnya. Menurut Port Designers Handbook (Thorensen,
2008) ketentuan-ketentuan desain Apron adalah sebagai berikut:
Lebar apron diantara 15-50 m
Jarak antara berthline dan rel crane lebih besar dari 2,5 m
Lebar rel crane diantara 10 -35m
Jarak apron dan stack penumpukan diantara 5-15m
Laporan Tugas Akhir
Pengembangan Terminal III Tanjung Priok Menjadi Dedicated International Container Terminal

2- 32

2.3.6.2 Yard
Penentuan luas yard yang dibutuhkan secara umum membutuhkan data lalulintas petikemas yang
masuk, peralatan yang digunakan serta tinggi stack yang dipilih. Luas lapangan ini juga harus
diperhitungkan dengan baik agar luas total terminal petikemas tersebut bisa diutilisasikan dengan
maksimal. Penentuan dari spesifikasi yard mengacu kepada peralatan dan area pelabuhan tersebut
sehingga mempunyai spesifikasi yang berbeda-beda.
Setelah kita mempunyai desain terminal dan menetapkan slot petikemasnya kita bisa memperoleh
Annual Storage Capacity yang akan digunakan untuk desain gate dan peralatan yang dibutuhkan.
Menurut Issue of Dwell Time to Optimize Terminal Capacity, (Filip Merckx ,2005) Annual Storage
Capacity adalah sebagai berikut

(2.12)
Dimana
Storage Capacity
Dwell Time
Peak Factor

= Total slot petikemas di pelabuhan tsb


= Hari petikemas di Terminal (semakin rendah semakin baik, namun idealnya
biasanya adalah diantara 3-4 hari)
= Faktor untuk keadaan puncak, disarankan menggunakan 1,2

2.3.6.3 Gate
Penentuan desain gate yang dibutuhkan secara umum membutuhkan data lalulintas petikemas yang
masuk. Gate ini juga harus diperhitungkan dengan baik agar kegiatan di petikemas tersebut bisa
diutilisasikan dengan maksimal. Dengan menggunakan input kapasitas petikemas pertahun (annual
storage capacity) maka kita bisa memperhitungkan desain gate yang dibutuhkan.
2.3.6.4 Peralatan
Peralatan yang digunakan dalam kegiatan bongkarmuat petikemas di pelabuhan mempunyai syarat
tersendiri agar memenuhi keamanan dan produktivitas di lapangan. Menurut Port Designers
Handbook (Thorensen, 2008) ketentuan-ketentuan tersebut adalah:
a. Container Crane
Minimum jarak spreader ke tanah 30 m
Outreach minimal 35 m dan backreach 15 m
Rel CC diantara 16-35 m
Clearance minimal CC 16 m
Lebar maksimum tidak lebih dari 27,5 m
Untuk menghitung kapasitas Throughput Container Crane digunakan formula sebagai berikut:
Annual CC. Throughput = 24 x 365 x Average output per Crane x no of crane x

working
time ratio
berth

(2.13)
b. Rail Mounted Gantry Crane
Dibutuhkan sekitar 2 Rail Mounted Gantry Crane per Container-Crane
Ketinggian stackingnya 4-6
Lebar stack 5-9 TEU
c. Truk
Laporan Tugas Akhir
Pengembangan Terminal III Tanjung Priok Menjadi Dedicated International Container Terminal

2- 33

Dibutuhkan sekitar 3-5 Truk per Container Crane


Dibutuhkan tes lapangan untuk mengetahui secara pasti jumlah truk yang dibutuhkan oleh
terminal

2.4 Konsep dasar software AutoCAD


Dalam Tugas Akhir ini Program yang digunakan adalah software AutoCAD yang dikeluarkan oleh
Autodesk, Inc. Autodesk, Inc adalah perusahaan multinasional Amerika yang berfokus pada desain
software yang digunakan di arsitektur, engineering dan konstruksi bangunan. Autodesk didirikan di
tahun 1982 oleh John Walker dan mempunyai kantor pusat di San Rafael, California.

Gambar 2.40 Cover software AutoCAD


(Sumber: http://our-daily.com/autocad-back-to-apple/1155/)

2.4.1 Pengenalan software AutoCAD


AutoCAD adalah software keluaran perusahaan Autodesk, Inc yang berfokus pada desain software
yang digunakan di arsitektur, engineering dan konstruksi bangunan. AutoCAD merupakan software
yang bekerja dengan menggunakan teknologi Computer-aided design (CAD), atau kadang disebut
sebagai Computer-aided design and drafting (CADD). Software CAD memberikan penggunanya
keleluasaan untuk memasukan input-input data yang diterjemahkan kedalam software sebagai
gambar dalam proses desain, drafting, atau manufaktur.
AutoCAD itu sendiri bekerja dalam format file yang bernama DWG (.dwg). DWG ini adalah format
yang digunakan untuk menyimpan dan mengolah data menjadi gambar 2 atau 3 dimensi. DWG
merupakan format yang digunakan di berbagai software perencanaan desain, antara lain AutoCAD,
IntelliCAD dan Caddie.

Laporan Tugas Akhir


Pengembangan Terminal III Tanjung Priok Menjadi Dedicated International Container Terminal

2- 34

Gambar 2.41 Contoh output AutoCAD


(Sumber: http://en.wikipedia.org/wiki/File:Schneckengetriebe.png)
Dalam pendesainannya software CAD juga terkadang membutuhkan lebih dari hanya bentuk suatu
objek, melainkan juga material, dimensi, dan informasi lainnya. Hal ini terutama dibutuhkan saat
penggunanya menggunakan software tersebut untuk drafting manual suatu gambar engineering.
CAD adalah sebuah software industru yang sangat penting dan digunakan dimana-mana, termasuk
industry otomotif, pembangunan kapal, pesawat, arsitektur, medis (tangan buatan) dan lainlain.
Karena pentingnya software tersebut bagi ekonomi industri CAD adalah salah satu faktor utama
dalam berkembangnya riset computational geometry dan computer graphics.
2.4.2 Versi dari AutoCAD yang digunakan dalam pekerjaan
Versi dari AutoCAD yang digunakan dalam pengerjaan ini adalah AutoCAD 2010. Fitur-fitur yang
baru di AutoCAD versi ini adalah:
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Parametric Drawing yang dipermudah


Freeform Design tools
Support untuk format PDF

Pengiriman hasil drawing ke printer 3D


Pengeditan Dynamic Blocks yang dpermudah
Support untuk presentasi yang terintegrasi

Adapun spesifikasi minimum komputer yang disarankan untuk penggunaan software tersebut akan
dicantumkan di Gambar 2.53

Laporan Tugas Akhir


Pengembangan Terminal III Tanjung Priok Menjadi Dedicated International Container Terminal

2- 35

Gambar 2.42 Spesifikasi komputer minimum AutoCAD 2010


(Sumber: http://usa.autodesk.com/autocad/system-requirements/)

Laporan Tugas Akhir


Pengembangan Terminal III Tanjung Priok Menjadi Dedicated International Container Terminal

2- 36

BAB 3
Profil dan Lalulintas
Pelabuhan Tanjung Priok
3.1 Profil dan Sejarah Singkat
Pelabuhan Tanjung Priok adalah pelabuhan terbesar dan tersibuk di Indonesia yang terletak
di Tanjung Priok, Jakarta Utara. Pelabuhan ini berfungsi sebagai pintu gerbang arus keluar masuk
barang ekspor-impor maupun barang antar pulau.
Menurut website resmi pelabuhan Tanjung Priok, sesuai dengan Tatanan Keputusan Menteri
Perhubungan No. KM 53 tahun 2002 Pelabuhan Nasional, berdasarkan perannya pelabuhan
Tanjung Priok di Jakarta merupakan Pelabuhan International Hub yang berfungsi sebagai tulang
punggung pembangunan nasional, sehingga diprioritaskan pemerintah untuk terus dikembangkan
agar bisa meningkatkan daya saing industri dan iklim investasi internasional

Gambar 3.1 Pelabuhan Tanjung Priok


Sejarah didirikannya Pelabuhan Tanjung Priok tidak bisa terlepas dari pelabuhan terkenal yang
berada di sebelah baratnya yaitu Pelabuhan Sunda Kelapa. Pelabuhan Tanjung Priok dibangun
karena sejak pertengahan 1630-an lumpur yang mengendap di muara Ciliwung merupakan problem
bagi kapal-kapal untuk berlabuh di Pelabuhan Sunda Kelapa.
Lumpur makin menumpuk ketika terjadi gempa bumi 1699. Saat Terusan Suez dibuka dan
hubungan laut makin ramai, Sunda Kelapa sudah tidak lagi dapat menampung kapal-kapal uap yang
Laporan Tugas Akhir
Pengembangan Terminal III Tanjung Priok Menjadi Dedicated International Container Terminal

3- 1

bobotnya jauh lebih besar untuk sandar. Maka dibangunlah Pelabuhan Tanjung Priok yang lokasinya
9 km dari Sunda Kelapa. Nama Tanjung Priok diambil dari nama salah satu habib penyebar agama
islam pertama di daerah Jakarta Utara yang tewas akibat kapal karam

Gambar 3.2 Pelabuhan Tanjung Priok tempo dulu


Pada periode-periode awal Pemerintahan Republik Indonesia manajemen Pelabuhan Tanjung Priok
dilakukan oleh Perusahaan Negara (PN) Pelabuhan 1s/d VIII, kemudian sempat manajemennya
diganti oleh pemerintah menjadi BPP (Badan Pengusahaan Pelabuhan pada tahun 1969 dan pada
tahun 1983 diganti namanya menjadi Perusahaan Umum (PERUM) Pelabuhan.
Akhirnya dari periode 1992 saat ini Status Perusahaan Umum (PERUM) Pelabuhan I sampai IV
berubah PT. (Persero) Pelabuhan Indonesia I sampai IV sesuai Peraturan Pemerintah Nomor 57
tahun 1991 tanggal 19 Oktober 1991.

Gambar 3.3 Kolam Pelabuhan Tanjung Priok tempo dulu


Laporan Tugas Akhir
Pengembangan Terminal III Tanjung Priok Menjadi Dedicated International Container Terminal

3- 2

PT. (Persero) Pelabuhan Indonesia II berkedudukan di Jakarta, memiliki wilayah operasi 10 propinsi
dan mengelola 12 pelabuhan yang diusahakan, yaitu : Pelabuhan Tanjung Priok di Propinsi DKI
Jakarta, Pelabuhan Teluk bayur di Propinsi Sumatera Barat, Pelabuhan Jambi di Propinsi Jambi,
Pelabuhan Pelembang di Propinsi Sumatera Selatan, Pelabuhan Bengkulu di Propinsi Bengkulu,
Pelabuhan Panjang di Propinsi Lampung, Pelabuhan Tanjung Pandan dan Pelabuhan Pangkal Balam
di Propinsi Bangka Belitung, Pelabuhan Banten di Propinsi Banten, Pelabuhan Sunda Kelapa di
Propnsi DKI Jakarta, Pelabuhan Cirebon di Propinsi Jawa Barat dan Pelabuhan Pontianak di Propinsi
Kalimantan Barat.
3.2 Fakta-Fakta Pelabuhan Tanjung Priok
Dalam pembahasan Pelabuhan Tanjung Priok kita akan membahas fakta-fakta yang tersedia di
pelabuhan berdasarkan luas daratan, panjang pelabuhan, kolam pelabuhan, alur pelayaran, dan
gudang-gudang. Dalam hal ini dilakukan konfirmasi perbandingan fakta pelabuhan yang tersedia di
website pelabuhan tanjung priok dengan plot AutoCAD yang dibuat oleh penulis.
3.2.1 Luas Daratan
Seperti yang terlihat di gambar 3.4 didapat luas daratan yang digambarkan dengan warna hijau.
Luas daratan sesuai website priokport:
604 Ha
Luas daratan sesuai AutoCAD:
600 Ha

Gambar 3.4 Layout eksisting luas daratan Pelabuhan Tanjung Priok

Laporan Tugas Akhir


Pengembangan Terminal III Tanjung Priok Menjadi Dedicated International Container Terminal

3- 3

3.2.2 Panjang Pelabuhan


Dermaga yang terdapat di pelabuhan Tanjung Priok terdiri dari 2 macam, yaitu dermaga yang
dikelola sendiri oleh Pelindo II dan dermaga yang dikelola oleh pihak selain pelindo. Dermaga yang
tidak dikelola sendiri oleh pihak Pelindo II disebut dengan Dermaga Untuk Kepentingan Sendiri
(DUKS). Dalam pengoperasiannya sendiri dermaga-dermaga di Pelabuhan Tanjung Priok dikelola
(untuk dermaga yang dikelola Pelindo) dan berada dibaah pengawasan (untuk DUKS) oleh 3
Terminal Operator. Terminal Operator tersebut merupakan Terminal Operator 1 (TO1) di dermaga
Pelabuhan Tanjung Priok sebelah Barat, Terminal Operator 2 (TO2) untuk dermaga Pelabuhan
Tanjung Priok bagian tengah, dan Terminal Operator 3 (TO3) dermaga Pelabuhan Tanjung Priok
sebelah Timur. Panjang Dermaga yang diusahakan di Pelabuhan Tanjung Priok sesuai website
priokport sepanjang 17507.15 m
3.2.3 Luas Kolam Pelabuhan
Seperti yang terlihat di gambar 3.5 didapat luas kolam pelabuhan yang digambarkan dengan warna
biru tua.
Luas daratan sesuai website priokport:
Luas Kolam sesuai website priokport:
424 Ha
Luas Kolam sesuai AutoCAD:
496,434 Ha

Gambar 3.5 Layout eksisting luas kolam Pelabuhan Tanjung Priok

Laporan Tugas Akhir


Pengembangan Terminal III Tanjung Priok Menjadi Dedicated International Container Terminal

3- 4

3.2.4 Alur Pelayaran Pelabuhan


Seperti yang terlihat di gambar 3.6 didapat alur pelayaran pelabuhan yang digambarkan dengan
warna biru muda.
Alur pelayaran sesuai website priokport:
16,853 km
Alur pelayaran sesuai AutoCAD:
17,055 km

Gambar 3.6 Layout eksisting alur pelayaran Pelabuhan Tanjung Priok


3.2.5 Gudang
Gudang dan fasilitas penyimpanan di Pelabuhan Tanjung Priok dikelompokkan sebagai gudang
umum, gudang barang berbahaya, lapangan umum, gudang CFS, lapangan petikemas dan lapangan
penumpukan mobil dengan rincian sebagai berikut:
Gudang Umum
: 101972,27 m2 (21 unit)
Barang berbahaya
: 10260 m2 (6 unit)
Lapangan Umum
: 361627,2 m2 (62 unit)
Gudang CFS
: 16447,14 (2 unit)
Lapangan Petikemas : 156,7 Ha (3 unit)
Penumpukan Mobil
: 5 Ha (1 unit)
3.3 Pembagian Kegiatan Pelabuhan
Kegiatan di Pelabuhan Tanjung Priok secara garis besar dapat dibedakan menjadi 5 kegiatan, yaitu
fasilitas bongkar muat konvensional, petikemas internasional, curah cair, curah kering, dan
transportasi penumpang.
Laporan Tugas Akhir
Pengembangan Terminal III Tanjung Priok Menjadi Dedicated International Container Terminal

3- 5

3.3.1 Fasilitas Bongkar Muat Konvensional


Fasilitas ini melayani bongkar muat general cargo, curah cair/kering dan petikemas antar pulau.
Pengelolaannya dilakukan oleh PT.Pelindo II. Luas areal pelayanan kargo konvensional yang berada
di Pelabuhan Tanjung Priok sesuai plot AutoCAD seluas 1.289.558 m2 atau 128,95 Ha

Gambar 3.7 Layout eksisting fasilitas pelayanan kargo konvensional Pelabuhan Tanjung Priok

Laporan Tugas Akhir


Pengembangan Terminal III Tanjung Priok Menjadi Dedicated International Container Terminal

3- 6

3.3.2 Fasilitas Bongkar Muat Petikemas Internasional


Fasilitas ini khusus melayani kegiatan bongkar muat petikemas internasional. Pengelolaan fasilitas ini
berada dibawah PT.Jakarta International Container Terminal (JITC,) Terminal Petikemas Koja, PT
Multi Terminal Indonesia (MTI) dan PT Mustika Alam Lestari (MAL). Luas areal pelayanan petikemas
internasional yang berada di Pelabuhan Tanjung Priok sesuai plot AutoCAD seluas 1.437.516 m2
atau 143,75 Ha

Gambar 3.8 Layout eksisting fasilitas pelayanan petikemas internasional Pelabuhan Tanjung Priok

Laporan Tugas Akhir


Pengembangan Terminal III Tanjung Priok Menjadi Dedicated International Container Terminal

3- 7

3.3.3 Fasilitas Bongkar Muat Curah Cair


Fasilitas ini khusus melayani kegiatan bongkar muat curah cair. Pengelolaan dibawah manajemen
cabang Pelabuhan Tanjung Priok bekerjasama dengan Pt. Dharma Karya Perdana (DKP) dan
dermaga PT.Pertamina dikelola sendiri oleh PT.Pertamina. Luas areal pelayanan curah cair yang
berada di Pelabuhan Tanjung Priok sesuai plot AutoCAD seluas 562.339 m2 atau 56,23 Ha

Gambar 3.9 Layout eksisting fasilitas pelayanan petikemas internasional Pelabuhan Tanjung Priok

Laporan Tugas Akhir


Pengembangan Terminal III Tanjung Priok Menjadi Dedicated International Container Terminal

3- 8

3.3.4 Fasilitas Bongkar Muat Curah Kering


Fasilitas ini khusus melayani kegiatan bongkar muat curah kering. Pengelolaan dibawah Manajemen
Pelindo II bekerja sama dengan PT.MTI dan PT.Semen Padang (untuk curah semen dan batubara).
Bekerjasama dengan PT.Bogasari dan PT.Sarpindo (untuk curah kering pangan). Luas areal
pelayanan curah kering yang berada di Pelabuhan Tanjung Priok sesuai plot AutoCAD seluas
756.212 m2 atau 75,62 Ha

Gambar 3.10 Layout eksisting fasilitas pelayanan curah kering Pelabuhan Tanjung Priok

Laporan Tugas Akhir


Pengembangan Terminal III Tanjung Priok Menjadi Dedicated International Container Terminal

3- 9

3.3.5 Fasilitas Bongkar Muat Mobil


Fasilitas ini khusus melayani kegiatan bongkar muat mobil. Pengelolaan dari fasilitas pelayanan
bongkar muat mobil ini berada dibawah Manajemen Pelindo II. Luas areal pelayanan bongkar muat
yang berada di Pelabuhan Tanjung Priok sesuai plot AutoCAD seluas 78.031 m2 atau 78,03 Ha

Gambar 3.11 Layout eksisting fasilitas pelayanan bongkar muat mobil Pelabuhan Tanjung Priok

Laporan Tugas Akhir


Pengembangan Terminal III Tanjung Priok Menjadi Dedicated International Container Terminal

3- 10

3.3.6 Fasilitas Transportasi Penumpang


Fasilitas ini khusus melayani kegiatan transportasi penumpang. Pengelolaan dibawah manajemen
cabang Pelabuhan Tanjung Priok. Luas areal pelayanan transportasi penumpang yang berada di
Pelabuhan Tanjung Priok sesuai plot AutoCAD seluas 51.115 m2 atau 51,11 Ha

Gambar 3.12 Layout eksisting fasilitas pelayanan transportasi penumpang Pelabuhan Tanjung Priok
3.4 Lalulintas Pelabuhan
Lalulintas di Pelabuhan Tanjung Priok akan dibedakan menjadi 3 yaitu lalulintas kunjungan kapal,
kargo, dan penumpang. Lalulintas kargo akan dibedakan menjadi 6 yaitu lalulintas general cargo,
bag cargo, petikemas, curah cair, curah kering dan mobil. Lalulintas dari kargo petikemas tidak
akan dibahas disini karena akan dibahas secara lebih spesifik pada bab 4.
3.4.1 Lalulintas Kunjungan Kapal
Dari gambar 3.13 dan gambar 3.14 dapat dilihat bahwa walaupun dari segi lalulintas kapal
berdasarkan unit terlihat relatif tetap dari tahun ke tahun namun dari segi Ton kargo terdapat
kenaikan yang cukup konstan.
Tabel 3.1 Kunjungan Kapal Pelabuhan Tanjung Priok 2004-2010

Laporan Tugas Akhir


Pengembangan Terminal III Tanjung Priok Menjadi Dedicated International Container Terminal

3- 11

Gambar 3.13 Grafik kunjungan kapal Pelabuhan Tanjung Priok periode 2004-2010 (Ton)

Gambar 3.14 Grafik kunjungan kapal Pelabuhan Tanjung Priok periode 2004-2010 (Unit)
3.4.2 Lalulintas Kargo Barang
Lalulintas kargo akan dibedakan menjadi 6 yaitu lalulintas general cargo, bag cargo, petikemas,
curah cair, curah kering dan mobil. Lalulintas dari kargo petikemas tidak akan dibahas disini karena
akan dibahas secara lebih spesifik pada bab 4
3.4.2.1 Lalulintas General Cargo
Dari gambar 3.15 dapat dilihat bahwa dari tahun ke tahun lalulintas dari general cargo selalu
meningkat dengan kenaikan yang cukup konstan.
Tabel 3.2 Lalulintas general cargo Pelabuhan Tanjung Priok 2004-2010

Laporan Tugas Akhir


Pengembangan Terminal III Tanjung Priok Menjadi Dedicated International Container Terminal

3- 12

Gambar 3.15 Grafik Lalulintas general cargo Pelabuhan Tanjung Priok periode 2004-2010 (Ton)
3.4.2.2 Lalulintas Bag Cargo
Dari gambar dan gambar 3.16 dapat dilihat bahwa dari tahun ke tahun lalulintas dari bag cargo
cenderung tetap, bahkan mengalami kecenderungan untuk turun. Salah satu penyebab penurunan
ini adalah sebagian pengguna jasa bag cargo mulai mengalihkan kemasan barangnya menjadi
menggunakan petikemas, karena petikemas mempermudah dan mempercepat proses bongkarmuat
di lapangan.
Tabel 3.3 Lalulintas bag cargo Pelabuhan Tanjung Priok 2004-2010

Laporan Tugas Akhir


Pengembangan Terminal III Tanjung Priok Menjadi Dedicated International Container Terminal

3- 13

Gambar 3.16 Grafik Lalulintas bag cargo Pelabuhan Tanjung Priok periode 2004-2010 (Ton)
3.4.2.3 Lalulintas Petikemas
Lalulintas dari kargo petikemas tidak akan dibahas di bab ini karena akan dibahas secara lebih
spesifik di bab 4.
3.4.2.4 Lalulintas Curah Cair
Dari gambar dan gambar 3.17 dapat dilihat bahwa dari tahun ke tahun lalulintas dari curah cair
mengalami kecenderungan untuk turun.
Tabel 3.4 Lalulintas kargo curah cair Pelabuhan Tanjung Priok 2004-2010

Gambar 3.17 Grafik Lalulintas curah cair Pelabuhan Tanjung Priok periode 2004-2010 (Ton)
Laporan Tugas Akhir
Pengembangan Terminal III Tanjung Priok Menjadi Dedicated International Container Terminal

3- 14

3.4.2.5 Lalulintas Curah Kering


Dari gambar dan gambar 3.18 dapat dilihat bahwa dari tahun ke tahun lalulintas dari curah kering
mengalami kecenderungan tetap. Bahkan dalam 3 tahun terakhir ini cenderung mengalami
penurunan.
Tabel 3.5 Lalulintas kargo curah kering Pelabuhan Tanjung Priok 2004-2010

Gambar 3.18 Grafik Lalulintas curah kering Pelabuhan Tanjung Priok periode 2004-2010 (Ton)
3.4.2.6 Lalulintas Mobil
Dari gambar dan gambar 3.19 dapat dilihat bahwa dari tahun ke tahun lalulintas dari bongkarmuat
mobil mengalami kecenderungan untuk naik dengan cukup signifikan.
Tabel 3.6 Lalulintas bongkar muat mobil Pelabuhan Tanjung Priok 2004-2010

Laporan Tugas Akhir


Pengembangan Terminal III Tanjung Priok Menjadi Dedicated International Container Terminal

3- 15

Gambar 3.19 Grafik Lalulintas bongkar muat mobil Pelabuhan Tanjung Priok periode 2004-2010
(Ton)

3.4.3 Lalulintas Penumpang


Dari gambar dan gambar 3.20 dan gambar 3.21 dapat dilihat bahwa dari tahun ke tahun lalulintas
dari transportasi penumpang mengalami kecenderungan untuk terus turun dengan cukup signifikan.
Tabel 3.7 Lalulintas transportasi penumpang Pelabuhan Tanjung Priok 2004-2010

Laporan Tugas Akhir


Pengembangan Terminal III Tanjung Priok Menjadi Dedicated International Container Terminal

3- 16

Gambar 3.20 Grafik Lalulintas embarkasi dan debarkasi Pelabuhan Tanjung Priok periode 2004-2010
(org)

Gambar 3.21 Grafik lalulintas penumpang total Pelabuhan Tanjung Priok periode 2004-2010 (org)
3.5 Proyeksi Lalulintas Pelabuhan
Proyeksi lalulintas di Pelabuhan Tanjung Priok akan dibedakan menjadi 3 yaitu lalulintas kunjungan
kapal, kargo, dan penumpang. Lalulintas kargo akan dibedakan menjadi 6 yaitu lalulintas general
cargo, bag cargo, petikemas, curah cair, curah kering dan mobil. Dalam proyeksi ini dengan
memperhitungkan trend beberapa tahun terakhir penulis menggunakan metoda regresi linier untuk
memperkirakan lalulintas dimasa depan. Proyeksi lalulintas dari kargo petikemas tidak akan dibahas
disini karena akan dibahas secara lebih spesifik pada bab 4.
3.5.1 Proyeksi Lalulintas Kunjungan Kapal
Berdasarkan trend lalu lintas beberapa tahun terakhir diperkirakan lalulintas kunjungan kapal
akan terus meningkat selama 10 tahun kedepan dan mencapai angka sekitar 19.154 unit kapal
dalam setahun di akhir tahun 2020.
Tabel 3.8 Proyeksi lalulintas kunjungan kapal Pelabuhan Tanjung Priok

Laporan Tugas Akhir


Pengembangan Terminal III Tanjung Priok Menjadi Dedicated International Container Terminal

3- 17

Gambar 3.22 Grafik proyeksi kunjungan kapal Pelabuhan Tanjung Priok (unit)

Gambar 3.23 Grafik proyeksi kunjungan kapal Pelabuhan Tanjung Priok (GT)
3.5.2 Proyeksi Lalulintas Kargo Barang
Lalulintas kargo akan dibedakan menjadi 6 yaitu lalulintas general cargo, bag cargo, petikemas,
curah cair, curah kering dan mobil. Proyeksi alulintas dari kargo petikemas tidak akan dibahas disini
karena akan dibahas secara lebih spesifik pada bab 4.
3.5.2.1 Proyeksi Lalulintas General Cargo
Berdasarkan trend lalu lintas beberapa tahun terakhir diperkirakan lalulintas general cargo akan
terus meningkat selama 10 tahun kedepan dan mencapai angka sekitar 20.333.029 ton dalam
setahun di akhir tahun 2020.
Tabel 3.9 Proyeksi lalulintas general cargo Pelabuhan Tanjung Priok
Laporan Tugas Akhir
Pengembangan Terminal III Tanjung Priok Menjadi Dedicated International Container Terminal

3- 18

Gambar 3.24 Grafik proyeksi lalulintas general cargo Pelabuhan Tanjung Priok (Ton)
3.5.2.2 Proyeksi Lalulintas Bag Cargo
Berdasarkan trend lalu lintas beberapa tahun terakhir diperkirakan lalulintas bag cargo akan
cenderung stabil selama 10 tahun kedepan dan mencapai angka sekitar 1.196.751 ton dalam
setahun di akhir tahun 2020.
Tabel 3.10 Proyeksi lalulintas bag cargo Pelabuhan Tanjung Priok

Laporan Tugas Akhir


Pengembangan Terminal III Tanjung Priok Menjadi Dedicated International Container Terminal

3- 19

Gambar 3.25 Grafik proyeksi lalulintas bag cargo Pelabuhan Tanjung Priok (Ton)
3.5.2.3 Proyeksi Lalulintas Curah Cair
Berdasarkan trend lalu lintas beberapa tahun terakhir diperkirakan lalulintas curah cair akan terus
menurun selama 10 tahun kedepan dan mencapai angka sekitar 3.505.212 ton dalam setahun di
akhir tahun 2020.
Tabel 3.11 Proyeksi lalulintas kargo curah cair Pelabuhan Tanjung Priok 2004-2010

Gambar 3.26 Grafik proyeksi lalulintas kargo curah cair Pelabuhan Tanjung Priok (Ton)
3.5.2.4 Proyeksi Lalulintas Curah Kering
Laporan Tugas Akhir
Pengembangan Terminal III Tanjung Priok Menjadi Dedicated International Container Terminal

3- 20

Berdasarkan trend lalu lintas beberapa tahun terakhir diperkirakan lalulintas curah kering akan terus
meningkat selama 10 tahun kedepan dan mencapai angka sekitar 13.964.007 ton dalam setahun di
akhir tahun 2020.
Tabel 3.12 Proyeksi lalulintas kargo curah kering Pelabuhan Tanjung Priok 2004-2010

Gambar 3.27 Grafik proyeksi lalulintas kargo curah kering Pelabuhan Tanjung Priok (Ton)
3.5.2.5 Proyeksi Lalulintas Bongkar Muat Mobil
Berdasarkan trend lalu lintas beberapa tahun terakhir diperkirakan lalulintas bongkar muat mobil
akan terus meningkat selama 10 tahun kedepan dan mencapai angka sekitar 336.452 unit dalam
setahun di akhir tahun 2020.
Tabel 3.13 Proyeksi lalulintas bongkar muat mobil Pelabuhan Tanjung Priok 2004-2010

Laporan Tugas Akhir


Pengembangan Terminal III Tanjung Priok Menjadi Dedicated International Container Terminal

3- 21

Gambar 3.28 Grafik proyeksi lalulintas bongkar muat mobil Pelabuhan Tanjung Priok (unit)
3.5.3 Proyeksi Lalulintas Penumpang
Berdasarkan trend lalu lintas beberapa tahun terakhir diperkirakan lalulintas penumpang akan terus
menurun selama 10 tahun kedepan dan mencapai angka sekitar 211.124 orang dalam setahun di
akhir tahun 2020.
Tabel 3.14 Proyeksi lalulintas penumpang Pelabuhan Tanjung Priok 2004-2010

Laporan Tugas Akhir


Pengembangan Terminal III Tanjung Priok Menjadi Dedicated International Container Terminal

3- 22

Gambar 3.29 Grafik proyeksi lalulintas embarkasi penumpang Pelabuhan Tanjung Priok (orang)

Gambar 3.30 Grafik proyeksi lalulintas debarkasi penumpang Pelabuhan Tanjung Priok (orang)

Laporan Tugas Akhir


Pengembangan Terminal III Tanjung Priok Menjadi Dedicated International Container Terminal

3- 23

Gambar 3.31 Grafik proyeksi lalulintasi penumpang total Pelabuhan Tanjung Priok (orang)

Laporan Tugas Akhir


Pengembangan Terminal III Tanjung Priok Menjadi Dedicated International Container Terminal

3- 24

BAB 4
Pelayanan Petikemas
Pelabuhan Tanjung Priok
4.1 Pembagian Pelayanan Petikemas
Pelayanan bongkarmuat petikemas di Pelabuhan Tanjung Priok merupakan salah satu jasa
pelayanan kargo yang lalulintasnya selalu bertambah dengan pesat dari tahun ke tahun. Seiring
berjalannya waktu pelayanan jasa petikemas di Tanjung Priok semakin diutamakan dan areal untuk
pelayanan jasanya selalu ditingkatkan untuk mengimbangi kebutuhan pasar.
Fasilitas pelayanan bongkar muat Petikemas di Tanjung Priok dilayani oleh 5 perusahaan, yaitu:
PT. Pelabuhan Indonesia II (Pelindo II)
PT. Jakarta International Container Terminal
TPK Koja
PT. Mustika Alam Lestari (MAL)
PT. Multi Terminal Indonesia (MTI)
Selama ini JICT dan TPK KOJA merupakan pemain terdepan dalam pelayanan jasa bongkar muat
petikemas di Pelabuhan Tanjung Priok, hal ini bisa dilihat dari lalulintas pelayanan petikemas yang
didominasi oleh 2 perusahaan tersebut. Seiring berjalannya waktu pihak Pelindo II berusaha
perlahan-lahan untuk masuk ke bidang jasa petikemas untuk mengimbangi permintaan pasar untuk
pelayanan jasa petikemas yang selalu naik dari tahun ke tahun.
Kelima perusahaan yang bergerak dalam pelayanan jasa bongkar muat petikemas di Pelabuhan
Tanjung Priok selanjutnya akan dijelaskan secara singkat satu-persatu.
4.1.1 PT. Pelabuhan Indonesia II (Pelindo II)

Gambar 4.1 Logo PT. Pelabuhan Indonesia II


(Sumber: http://www.priokport.co.id/index.php)
PT. Pelindo II adalah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang bergerak di bidang jasa
kepelabuhanan. Sejak tahun 1960 pengelolaan pelabuhan di Indonesia dilaksanakan oleh
pemerintah melalui Perusahaan Negara (PN) sampai dengan VIII. Kemudian dalam
perkembangannya, pada tahun 1964 aspek operasional Pelabuhan dikoordinasikan oleh lembaga

Laporan Tugas Akhir


Pengembangan Terminal III Tanjung Priok Menjadi Dedicated International Container Terminal

4- 1

pemerintah yang disebut Otoritas Pelabuhan (Port Authority) , sedangkan aspek komersial tetap
dibawah pengelolaan PN Pelabuhan I sampai dengan VIII.
Selanjutnya berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 1 tahun 1969, pengelolaan pelabuhan umum
dilakukan oleh Badan Pengusahaan Pelabuhan (BPP). Pada tahun 1983, BPP diubah lagi menjadi
Perusahaan Umum (PERUM) Pelabuhan yang hanya mengelola pelabuhan umum yang diusahakan,
sedangkan pengelolaan pelabuhan umum yang tidak diusahakan dilakukan oleh Unit Pelaksana
Teknis Direktorat Jenderal Perhubungan Laut. PERUM Pelabuhan dibagi menjadi 4 wilayah operasi
yang dibentuk berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 15 tahun 1983. Status PERUM ini
kemudian dirubah lagi menjadi PT (Persero) Pelabuhan Indonesia I sampai IV pada tahun 1992
sampai saat ini.
PT (Persero) Pelabuhan Indonesia II, sebagian salah satu Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang
mengelola jasa kepelabuhanan di Indonesia, didirikan pada tanggal 1 Desember 1992 sesuai Akta
Pndirian Perusahaan Nomor 3 oleh Notaris Imas Fatimah, serta akta perubahannya Nomor tanggal 5
Mei 1998 oleh Notaris Imas Fatimah Sarjana Hukum. Kantor Pusat PT (Persero) Pelabuhan
Indonesia II berkedudukan di Jakarta, memiliki wilayah operasi di 10 propinsi dan mengelola 12
pelabuhan yang diusahakan, yaitu : Pelabuhan Teluk Bayur di Propinsi Sumatera Barat, Pelabuhan
Jambi di Propinsi Jambi, Pelabuhan Palembang di Propinsi Sumatera Selatan, Pelabuhan Bengkulu di
Propinsi Bengkulu, Pelabuhan Panjang di propinsi Lampung, Pelabuhan Tanjung Pandan dan
Pelabuhan Pangkal Balam di Propinsi Bangka Belitung, Pelabuhan Banten di Propinsi Banten,
Pelabuhan Tanjung Priok dan Sunda Kelapa di Propinsi DKI Jakarta, Pelabuhan Cirebon di Propinsi
Jawa Barat dan Pelabuhan Pontianak di Propinsi Kalimantan Barat.
Dalam pengoperasiannya di Pelabuhan Tanjung Priok, Pelindo II membagi wilayah pengoperasian
terminalnya menjadi 3 bagian, yaitu Terminal Operator 1, 2 dan 3 yang masing masing memiliki
wilayah operasinya sendiri beserta DUKS (Dermaga Untuk Kepentingan Sendiri) yang berada
dibawah pengawasan Terminal Operator masing-masing.

Gambar 4.2 Pelabuhan Tanjung Priok (Annual report pelindo)


(Sumber: Annual Report 2008, Pelindo II)
Laporan Tugas Akhir
Pengembangan Terminal III Tanjung Priok Menjadi Dedicated International Container Terminal

4- 2

4.1.2 PT. Jakarta International Container Terminal

Gambar 4.3 Logo Jakarta International Container Terminal (JICT)


(Sumber: http://www.jict.co.id/)
PT Jakarta International Container Terminal (PT JICT) yang didirikan pada 1 April 1999 merupakan
perusahaan yang melaksanakan kegiatan pelayanan bongkar muat petikemas ekspor/impor maupun
petikemas transhipment di Pelabuhan Tanjung Priok.
Perusahaan ini merupakan afiliasi PT (Persero) Pelabuhan Indonesia II dengan kepemilikan saham
48,9%, HPH Hutchinson Port Holdings memiliki saham sebesar 51%, dan Koperasi Pegawai Maritim
sebesar 0,1%.
Pada saat berdirinya tahun 1999, PT JICT mampu menangani 1,8 juta TEUs. Kapasitas ini kemudian
ditingkatkan secara bertahap menjadi 2,1 juta TEUs dan saat ini mencapai 2,4 Juta TEUs. Dengan
demikian PT JICT merupakan terminal petikemas terbesar dan tersibuk di Indonesia. Untuk
menunjang kinerja pelayanan bongkar muat PT JICT dilengkapi sarana dan prasaranya yang cukup
memadai.
Fasilitas Utama
Lokasi : DKI Jakarta
Letak : 06 06/ 00 LS, 106 53/ 00 BT
Fasilitas Pelayanan Kapal
Panjang Dermaga : 2.220 m
Kedalaman Alur : -14 mLWS
Kedalaman Kolam : -8,5 sampai -12 mLWS
Fasilitas Pelayanan Barang
Lapangan Petikemas : 46.140 m2
Alat Mekanis
Container Crane
Transtainer
Spreader
Top Loader
Diesel Forklift
Chasis
Head Truck

:
:
:
:
:
:
:

18 Unit
51 Unit
76 unit
3 Unit
26 Unit
145 Unit
116 Unit

Laporan Tugas Akhir


Pengembangan Terminal III Tanjung Priok Menjadi Dedicated International Container Terminal

4- 3

Gambar 4.3 Dermaga Jakarta International Container Terminal (JICT)


(Sumber: Annual Report 2008, Pelindo II)

4.1.3 TPK KOJA

Gambar 4.4 Logo TPK KOJA


(Sumber: http://www.tpkkoja.co.id/)
Terminal Petikemas (TPK) Koja merupakan manajemen kerjasama operasi antara PT (Persero)
Pelabuhan Indonesia II (52,12%) dengan PT Ocean Terminal Petikemas (47,88%), yang beroperasi
sejak tahun 1998. Dalam operasinya TPK KOJA merupakan salah satu ujung tombak pelayanan jasa
bongkarmuat petikeas di Pelabuhan Tanjung Priok. Hal ini bisa dilihat dari persentasi pelayannya
yang mencapai 19% dari seluruh lalulintas petikemas di Pelabuhan Tanjung Priok.
Fasilitas Utama
Lokasi : DKI Jakarta
Letak : 06 06 00 LS, 106 53 00 BT
Fasilitas Pelayanan Kapal
Panjang Dermaga : 650 m
Kedalaman Alur : -14 mLWS
Kedalaman Kolam : -14 mLWS
Fasilitas Pelayanan Barang
Lapangan Petikemas : 21.800 m2

Laporan Tugas Akhir


Pengembangan Terminal III Tanjung Priok Menjadi Dedicated International Container Terminal

4- 4

Alat Mekanis
Container Crane
Transtainer
Super Stacker
Spreader
Chasis
Head Truck

:
:
:
:
:
:

6 Unit
21 unit
1 Unit
28 unit
49 Unit
40 Unit

Gambar 4.5 Dermaga TPK KOJA


(Sumber: Annual Report 2008, Pelindo II)

4.1.4 PT. Mustika Alam Lestari (MAL)

Gambar 4.6 Logo PT. Mustika Alam Lestari (MAL)


(Sumber: http://www.malt300.com/index2.php)
PT Mustika Alam Lestari (MAL) adalah perusahaan yang terpilih menjadi mitra PT Multi Terminal
Indonesia (MTI) dalam pengoperasian Dermaga dan Lapangan Penumpukan 214 dan 300 sebagai
terminal "multipurpose" di pelabuhan Tanjung Priok. Kepemilikan saham PT MAL dikuasai oleh
Pelindo II (99%) dan Koperasi Pegawai Maritim sebesar (1%)

Laporan Tugas Akhir


Pengembangan Terminal III Tanjung Priok Menjadi Dedicated International Container Terminal

4- 5

Gambar 4.7 Dermaga PT. Mustika Alam Lestari (MAL)


(Sumber: http://www.facebook.com/pages/PT-Mustika-Alam-Lestari/122612981145664)
4.1.5 PT. Multi Terminal Indonesia (MTI)

Gambar 4.8 Logo PT. Multi Terminal Indonesia (MTI)


(Sumber: http://www.multiterminal.co.id/mti/media.php?module=home)
PT Multi Terminal Indonesia (PT MTI) merupakan anak perusahaan PT (Persero) Pelabuhan
Indonesia II yang bergerak di bidang pelayanan jasa bongkar muat barang, petikemas, dan
pergudangan.
Perusahaan yang didirikan pada tanggal 15 Februari 2002 ini dimiliki oleh PT (Persero) Pelabuhan
Indonesia II dengan saham sebesar 99,17% dan Koperasi Pegawai Maritim sebesar 0,83%. Dalam
mendukung kinerja pelayanannya PT MTI dilengkapi sarana dan prasarana modern untuk
mengantisipasi perkembangan bisnis logistic modern dewasa ini.
Fasilitas Utama
Lokasi : DKI Jakarta
Letak : 06 06/ 00 LS, 106 53/ 00 BT
Fasilitas Pelayanan Kapal
Panjang Dermaga : 1.178 m
Kedalaman Alur : -14 mLWS
Kedalaman Kolam : -7 sampai -12 mLWS
Fasilitas Pelayanan Barang
Lapangan Petikemas : 40.637 m2
Lapangan Penumpukan : 90.519 m2
Gudang : 30.390 m2
Laporan Tugas Akhir
Pengembangan Terminal III Tanjung Priok Menjadi Dedicated International Container Terminal

4- 6

Alat Mekanis
Container Crane
Transtainer
Top Loader
Spreader
Chasis
Side Loader
Head Truck

:
:
:
:
:
:
:

2 Unit
9 Unit
4 Unit
2 Unit
18 unit
1 Unit
16 Unit

Gambar 4.9 Lapangan Petikemas PT. Multi Terminal Indonesia (MTI)


(Sumber: http://www.multiterminal.co.id/mti/media.php?module=home)
4.2 Prosedur Bongkarmuat Petikemas Internasional
Dalam kegiatan bongkarmuat petikemas di Pelabuhan Tanjung Priok, terdapat beberapa prosedur
yang harus dijalani sebelum barang tersebut bisa dimuat/dibongkar dari kapal.
4.2.1 Prosedur Import Bongkarmuat Petikemas
Prosedur yang dilakukan pada kegiatan bongkarmuat Import petikemas Internasional di Pelabuhan
Tanjung Priok terdiri dari langkah-langkah sebagai berikut:
1. Pembongkaran dari kapal
Pada tahap ini petikemas yang ada di kapal akan diangkut dengan menggunakan crane yang
berada di dermaga untuk langsung dipindahkan keatas truk yang sudah menunggu. Dalam
tahap ini pihak dari kapal akan menunjukkan Kartu Impor (K.I) kepada pihak pelabuhan.

Laporan Tugas Akhir


Pengembangan Terminal III Tanjung Priok Menjadi Dedicated International Container Terminal

4- 7

Gambar 4.10 Pembongkaran dari kapal


(Sumber: Dokumentasi Sendiri)

Gambar 4.11 Transfer Ke Truk


(Sumber: Dokumentasi Sendiri)
2. Transfer ke lapangan (Trucking)
Pada tahap ini truk yang sudah dimuati oleh petikemas akan menuju lapangan petikemas
menggunakan rute yang sudah disediakan.

Laporan Tugas Akhir


Pengembangan Terminal III Tanjung Priok Menjadi Dedicated International Container Terminal

4- 8

Gambar 4.12 Transfer ke lapangan


(Sumber: Dokumentasi Sendiri)
3. Lift off di lapangan petikemas (Container Yard)
Pada tahap ini truk milik terminal yang membawa petikemas akan membawa petikemas
tersebut menuju slot tumpukan petikemas yang sudah ditentukan oleh pihak Terminal 3
untuk kemudian petikemas tersebut akan diangkat dengan crane/stacker yang tersedia di
lapangan tersebut untuk ditumpuk.

Gambar 4.13 Lift off


(Sumber: Dokumentasi Sendiri)
4. Penerbitan SPPB
Pada tahap ini pihak importir akan mengurus penerbitan Surat Persetujuan Penyerahan
Barang (SPPB) di loket Bea Cukai. Sebelum SPPB dikeluarkan pihak importir harus
Laporan Tugas Akhir
Pengembangan Terminal III Tanjung Priok Menjadi Dedicated International Container Terminal

4- 9

menyerahkan bukti pembayaran dan manifest Pemberitahuan Impor Barang (PIB) terlebih
dahulu.

Gambar 4.14 Loket Bea Cukai


(Sumber: Dokumentasi Sendiri)
5. Penerbitan SP2
Pada tahap ini pihak importir akan mengurus penerbitan Surat Penyerahan Petikemas (SP2)
di loket Terminal. Sebelum SP2 dikeluarkan pihak importir harus menyerahkan bukti
pembayaran dan manifest Pemberitahuan Impor Barang (PIB) terlebih dahulu.

Gambar 4.15 Loket Terminal


(Sumber: Dokumentasi Sendiri)
6. Lift on di lapangan petikemas (Container Yard)
Laporan Tugas Akhir
Pengembangan Terminal III Tanjung Priok Menjadi Dedicated International Container Terminal

4- 10

Pada tahap ini truk kosong dari pihak importir akan menuju lapangan petikemas kemudian
menuju slot tumpukan petikemas yang sudah ditentukan oleh pihak Terminal 3 untuk
kemudian petikemas tersebut akan diangkat dengan crane/stacker yang tersedia di lapangan
tersebut untuk ditaruh diatas truk tersebut.

Gambar 4.16 Lift on


(Sumber: Dokumentasi Sendiri)
7. Pemeriksaan Gate Out
Pada tahap ini truk yang sudah dimuat oleh petikemas akan berjalan menuju gate out untuk
kemudian dicek kelengkapan suratnya oleh pihak pelabuhan. Dalam tahap ini pihak importir
akan diminta menunjukkan surat SPPB dan SP2 sebelum dibolehkan untuk keluar.

Gambar 4.17 Gate in/out


(Sumber: Dokumentasi Sendiri)
Laporan Tugas Akhir
Pengembangan Terminal III Tanjung Priok Menjadi Dedicated International Container Terminal

4- 11

4.2.2 Prosedur Eksport Bongkarmuat Petikemas


Prosedur yang dilakukan pada kegiatan bongkarmuat Eksport petikemas Internasional di Pelabuhan
Tanjung Priok terdiri dari langkah-langkah sebagai berikut:
1. Transportasi Dengan Truk
Pada tahap ini pihak eksportir akan membawa petikemas yang ingin dimuat kedalam kapal
dengan menggunakan truk miliknya/jasa pelayanan pengantaran petikemas menuju
terminal.

Gambar 4.18 Transportasi Truk


(Sumber: http://www.bappenasnews.com/index.php/365-pembatasan-truk-dipermanenkan)
2. Penerbitan Kartu Stack (KS)
Pada tahap ini pihak eksportir akan mengurus penerbitan Kartu Stack (KS) di loket Terminal.
Sebelum SP2 dikeluarkan pihak importir harus terlebih dahulu menyerahkan bukti
pembayaran, surat Pemberitahuan Ekspor Barang (PEB) dan Nomor Pemberitahuan Ekspor
(NPE) terlebih dahulu.

Laporan Tugas Akhir


Pengembangan Terminal III Tanjung Priok Menjadi Dedicated International Container Terminal

4- 12

Gambar 4.19 Loket Terminal


(Sumber: Dokumentasi Sendiri)

Gambar 4.20 Loket Bea Cukai


(Sumber: Dokumentasi Sendiri)
3. Pemeriksaan oleh Pelabuhan
Pada tahap ini truk milik pihak eksportir akan melalui Gate untuk kemudian dicek
kelengkapan surat dan kargo bawaannya. Surat yang akan diperiksa disini adalah Kartu
Stack, surat Pemberitahuan Ekspor Barang (PEB) dan Nomor Pemberitahuan Ekspor (NPE).

Laporan Tugas Akhir


Pengembangan Terminal III Tanjung Priok Menjadi Dedicated International Container Terminal

4- 13

Gambar 4.21 Gate in/out


(Sumber: Dokumentasi Sendiri)
4. Lift off di lapangan petikemas
Pada tahap ini truk milik eksportir yang membawa petikemas akan membawa petikemas
tersebut menuju slot tumpukan petikemas yang sudah ditentukan oleh pihak Terminal 3
untuk kemudian petikemas tersebut akan diangkat dengan crane/stacker yang tersedia di
lapangan tersebut untuk ditumpuk.

Gambar 4.22 Lift off


(Sumber: Dokumentasi Sendiri)
5. Lift on dari lapangan petikemas
Pada tahap ini truk kosong dari pihak terminal akan menuju ke lapangan petikemas
kemudian menuju slot tumpukan petikemas yang sudah ditentukan oleh pihak Terminal 3
Laporan Tugas Akhir
Pengembangan Terminal III Tanjung Priok Menjadi Dedicated International Container Terminal

4- 14

untuk kemudian petikemas tersebut akan diangkat dengan crane/stacker yang tersedia di
lapangan tersebut untuk ditaruh diatas truk tersebut.

Gambar 4.23 Lift on


(Sumber: Dokumentasi Sendiri)
6. Transfer ke dermaga (Trucking)
Pada tahap ini truk yang sudah dimuati oleh petikemas akan menuju dermaga menggunakan
rute yang sudah disediakan.

Gambar 4.24 Transfer ke Dermaga


(Sumber: Dokumentasi Sendiri)
7. Pemuatan ke kapal
Laporan Tugas Akhir
Pengembangan Terminal III Tanjung Priok Menjadi Dedicated International Container Terminal

4- 15

Pada tahap ini truk yang membawa petikemas dari lapangan petikemas akan menuju
dermaga untuk kemudian petikemas tersebut diangkat dengan menggunakan crane keatas
kapal di slot yang sudah ditentukan. Pada tahap ini akan dicek kelengkapan surat ekspor
kargo tsb.

Gambar 4.25 Pemuatan ke kapal


(Sumber: Dokumentasi Sendiri)

4.3 Lalulintas Petikemas


Lalu lintas petikemas di Pelabuhan Tanjung Priok terdiri dari total antara 5 perusahaan bongkar
muat petikemas yang telah disebutkan diatas yaitu PT.Pelindo II, PT. JICT, TPK Koja, PT.MTI dan
PT.MAL.
4.3.1 Lalulintas Petikemas Total
Dalam perhitungan lalulintas petikemas yang disajikan PT. Mustika Alam Lestari dan PT. Multi
Terminal Indonesia (MTI) akan tergabung dalam lalulintas PT.Pelindo. Dari gambar 4.25 dan gambar
4.26 dapat dilihat bahwa walaupun dari segi lalulintas petikemas berdasarkan Ton terlihat turun dari
tahun ke tahun namun dari segi TEU terdapat kenaikan yang cukup konstan.
Tabel 4.1 Lalulintas Total Petikemas Pelabuhan Tanjung Priok

Laporan Tugas Akhir


Pengembangan Terminal III Tanjung Priok Menjadi Dedicated International Container Terminal

4- 16

Gambar 4.26 Grafik Lalulintas petikemas Pelabuhan Tanjung periode 2004-2010 (TEU)

Gambar 4.27 Grafik Lalulintas petikemas Pelabuhan Tanjung periode 2004-2010 (Box)
4.3.2 Lalulintas Petikemas Berdasarkan Tempat Pelayanannya
Lalulintas petikemas di Pelabuhan Tanjung Priok dapat dapat dipilah berdasarkan tempat
pelayanannya. Dari Tabel 4.2 bisa dilihat TEU dan BOX petikemas yang dilayani pihak penyedia jasa
tersebut dari tahun ke tahun. Dari gambar 4.26 dapat kita lihat bahwa petikemas yang dilayani oleh
JICT dan TPK KOJA dari tahun ke tahun walaupun merupakan yang paling besar namun tidak
mengalami kenaikan yang signifikan. Hal ini terjadi akibat kapasitas yang dimiliki hampir mencapai
Laporan Tugas Akhir
Pengembangan Terminal III Tanjung Priok Menjadi Dedicated International Container Terminal

4- 17

titik maksimal. Sebaliknya bila dilihat dari lalulintas 6 tahun terakhir ini terlihat lalulintas petikemas
yang dilayani oleh Pelindo II mengalami kenaikan yang cukup tinggi jika dibandingkan tempat
pelayanan jasa lainnya. Dalam tabel 4.2 lalulintas JICT tahun 2007 sampai 2010 didapatkan dengan
proyeksi karena penulis kesulitan mendapat data tersebut.
Tabel 4.2 Lalulintas Petikemas Pelabuhan Tanjung Priok Sesuai Tempat Pelayanan

Gambar 4.28 Grafik Lalulintas Total petikemas Pelabuhan Tanjung sesuai tempat pelayanannya
periode 2004-2010
Apabila kita tinjau dari total TEU yang telah dilayani oleh penyedia jasa bongkar muat tersebut
selama 6 tahun terakhir, seperti kita lihat pada gambar 4.27 JICT merupakan pihak penyedia jasa
yang paling banyak mendapat bagian lalulintas petikemas di Pelabuhan Tanjung Priok dengan 44%
dari seluruh total lalulintas. Di peringkat kedua dan ketiga masing-masing adalah Pelindo II dan TPK
KOJA dengan 37% dan 19%.
Tabel 4.3 Lalulintas Total Petikemas Pelabuhan Tanjung Priok Sesuai Tempat Pelayanan periode
2004-2010

Laporan Tugas Akhir


Pengembangan Terminal III Tanjung Priok Menjadi Dedicated International Container Terminal

4- 18

Gambar 4.29 Grafik Pie Lalulintas Total petikemas Pelabuhan Tanjung sesuai tempat pelayanannya
periode 2004-2010

4.4 Proyeksi Petikemas


Untuk memperkirakan berapa kira-kira lalulintas petikemas yang akan terjadi di Pelabuhan Tanjung
Priok dimasa depan dilakukan proyeksi selama 10 tahun kedepan dengan menggunakan metoda
regresi linier. Dengan memperkirakan berapa kira-kira proyeksi petikemas dimasa depan maka kita
akan bisa menentukan spesifikasi desain yang dibutuhkan untuk bisa mengakomodasi lalulintas
tersebut. Dari gambar 4.28 dan gambar 4.29 bisa dilihat bahwa dengan mempertimbangkan trend
lalu lintas belakangan ini maka diperkirakan lalulintas dimasa depan akan terus naik dengan
signifikan, baik dari TEU maupun Ton.
Tabel 4.3 Proyeksi Lalulintas Total Petikemas Pelabuhan Tanjung Priok

Laporan Tugas Akhir


Pengembangan Terminal III Tanjung Priok Menjadi Dedicated International Container Terminal

4- 19

Gambar 4.30 Grafik Proyeksi Lalulintas Petikemas Pelabuhan Tanjung Priok (TEU)

Gambar 4.31 Grafik proyeksi lalulintasi penumpang total Pelabuhan Tanjung Priok (orang)

Laporan Tugas Akhir


Pengembangan Terminal III Tanjung Priok Menjadi Dedicated International Container Terminal

4- 20

BAB 5
Profil dan Analisa Terminal 3
Tanjung Priok
5.1 Profil Terminal 3
Terminal 3 yang mempunyai nama lengkap Terminal Operasi TO3 sebelumnya lebih sering disebut
sebagai Terminal OJA dan merupakan terminal yang beroperasi dibawah Pelindo II yang bertugas
untuk menangani kegiatan petikemas (internasional dan domestik), general kargo, dan penyewaan
lapangan dan gudang di kawasan terminal 3 Tanjung Priok.
Sebelumnya wilayah di tempat Terminal 3 sekarang berdiri terdiri dari dermaga-dermaga yang
dimiliki oleh perusahaan-perusahaan swasta yang bekerja sama dengan pihak pelindo sebagai
pelaksana kegiatan bongkarmuat kargo di wilayah tersebut, namun dengan terbitnya UndangUndang 17 Tahun 2008 mengenai pelayaran yang mengharuskan pelabuhan milik negara untuk
dioperasikan langsung oleh negara maka Pelindo II selaku pihak yang mengelola Pelabuhan Tanjung
Priok mendirikan 3 terminal untuk mengoperasikan wilayahnya. 3 Terminal yang didirikan terdiri dari
Terminal Operator 1, Terminal Operator 2 dan Terminal Operator 3.
Terminal
Operasi
Terminal
3
berdiri
berdasarkan
Surat
Keputusan
Direksi
PT Pelabuhan Indonesia II (Persero) Nomor: HK.56/1/14/PI.II-10 dan Surat Keputusan General
Manager Cabang Pelabuhan Tanjung Priok No: Hk.55/3/14/C.Tpk-10. Terminal 3 menguasai
wilayah sepanjang bagian timur Kolam Pelabuhan II sampai dengan Medco Sarana Kalibaru. Wilayah
tersebut terdiri dari wilayah yang secara langsung dioperasikan oleh Terminal 3 dan wilayah yang
hanya berada dibawah pengawasan Terminal 3 (Dermaga Untuk Kepentingan Sendiri).
5.1.1 Letak Terminal 3
Letak dari Terminal 3 berada didalam Pelabuhan Tanjung Priok dengan batas-batas sebagai berikut:
Sebelah Utara dibatasi oleh Laut
Sebelah Timur dibatasi oleh Medco Sarana Kalibaru
Sebelah Barat dibatasi oleh Kolam Pelabuhan II
Sebelah Selatan dibatasi oleh Jalan Raya Pelabuhan

Laporan Tugas Akhir


Pengembangan Terminal III Tanjung Priok Menjadi Dedicated International Container Terminal

5- 1

Gambar 5.1 Layout letak Terminal 3


5.1.2 Hirarki Kepemimpinan
Dalam pengoperasiannya Terminal 3 dikepalai oleh Deputy General Manager Terminal 3. Deputy GM
membawahi Operation Manager dan Marketing & Administration Manager. Operation Manager
membawahi Planning & Controlling Supervisor, Discharging & Loading Supervisor dan Yard &
Storage Supervisor. Marketing & Administration Manager membawahi Marketing Supervisor,
Administration & finance Supervisor dan Discharging & Loading Equipment Supervisor.

Gambar 5.2 Hirarki kepemimpinan Terminal 3 (2011)


(Sumber: Terminal 3 Profile Pelindo II, 2010)
5.1.3 Demografis Pekerja

Laporan Tugas Akhir


Pengembangan Terminal III Tanjung Priok Menjadi Dedicated International Container Terminal

5- 2

Jumlah pekerja yang bekerja di Terminal 3 ada sebanyak 138 orang dengan jam kerja tergantung
dari shift yang dijadwalkan. Dalam pengoperasiannya Terminal 3 beroperasi selama 24 Jam 7 hari
seminggu, sehingga dilakukan shift agar pekerja selalu sedia setiap saat untuk melayani kegiatan di
Terminal 3. Jumlah dan rincian bagian dari pekerja dapat dilihadi Tabel 5.1. Rentang umur pekerja
yang berada di Terminal 3 dapat dilihat di Gambar 5.3
Tabel 5.1 Pembagian pekerja Terminal 3
(Sumber: Terminal 3 Profile Pelindo II, 2010)

Gambar 5.3 Demografis umur pekerja Terminal 3


(Sumber: Terminal 3 Profile Pelindo II, 2010)
5.2 Fakta-Fakta Terminal 3
Untuk lebih memahami Terminal 3 secara lebih mendalam kita akan menganalisa fakta-fakta
yang berada di terminal 3 menjadi 4 bagian yaitu:
Luas Daratan
Laporan Tugas Akhir
Pengembangan Terminal III Tanjung Priok Menjadi Dedicated International Container Terminal

5- 3

Kedalaman kolam
Dermaga
Pembagian Zoning kargo
Yang masing-masing akan dibahas satu persatu.
5.2.1 Luas Daratan
Luas daratan yang dimaksud disini adalah luas daratan wilayah yang langsung dioperasikan oleh
Terminal 3. Dari plot AutoCAD didapatkan bahwa total wilayah Terminal 3 seluas 299.122 m
dengan tidak termasuk jalanan.

Gambar 5.4 Layout eksisting daratan Terminal 3


5.2.2 Kedalaman
Kedalaman kolam yang berada di Terminal 3 mempunyai kedalaman yang bervariasi karena tanah
yang terus bergerak, namun secara rata-rata bisa dilihat bahwa rentang kedalaman Terminal 3
terdiri menjadi 3 zona kedalaman yaitu zona dengan kedalaman -9 meter yang berada di sebelah
barat terminal, zona kedalaman -10 meter yang berada di sebelah timur terminal dan terakhir zona
kedalaman -12 meter yang berada di sebelah utara terminal.

Laporan Tugas Akhir


Pengembangan Terminal III Tanjung Priok Menjadi Dedicated International Container Terminal

5- 4

Tabel 5.2 Kedalaman Terminal 3


(Sumber: Terminal 3 Profile Pelindo II, 2010)

Gambar 5.5 Layout eksisting kedalaman kolam Terminal 3


5.2.3 Dermaga
Dermaga yang ada di Teminal 3 berjumlah sebanyak 13 dermaga termasuk dengan 1 dermaga yang
dikelola oleh PT. Mustika Alam Lestari (MAL). Panjang dermaga yang berada di Terminal 3
mempunyai panjang yang tidak teratur dan berbeda-beda satu sama lain. Panjang total dermaga
yang ada di Terminal 3 sepanjang 2020 meter.

Laporan Tugas Akhir


Pengembangan Terminal III Tanjung Priok Menjadi Dedicated International Container Terminal

5- 5

Tabel 5.3 Dermaga Terminal 3


(Sumber: Terminal 3 Profile Pelindo II, 2010)

Gambar 5.6 Layout eksisting dermaga Terminal 3


5.2.4 Pembagian Zoning Pelayanan Kargo
Pembagian zoning yang dimaksud disini adalah penetapan wilayah di Terminal 3 yang ditetapkan
khusus untuk menangani kargo jenis tertentu. Pembagian zoning yang ditampilkan merujuk pada
layout yang dipublikasikan melalui Masterplan Tanjung Priok 2006 dan satu lagi layout pada kondisi
eksisting. Dari Gambar 5.7 bisa dilihat bahwa pada Masterplan 2006 Terminal 3 secara mayoritas
ditetapkan untuk menangani kargo curah kering dan sebagian kecilnya digunakan untuk menangani

Laporan Tugas Akhir


Pengembangan Terminal III Tanjung Priok Menjadi Dedicated International Container Terminal

5- 6

kargo terminal konvensional. Sedangkan pada Gambar 5.8 diperlihatkan layout pada kondisi
eksisting.

Gambar 5.7 Layout zoning pembagian kargo Terminal 3 (Masterplan)

Gambar 5.8 Layout zoning pembagian kargo Terminal 3 (Eksisting)

Laporan Tugas Akhir


Pengembangan Terminal III Tanjung Priok Menjadi Dedicated International Container Terminal

5- 7

5.2.5 Layout Terminal Petikemas Eksisting


Pada sebagian wilayah timur Terminal 3 saat ini sudah terdapat kegiatan bongkarmuat petikemas
yang dilakukan di dermaga TBB, dermaga 301 dan 302. Walaup demikian denah penumpukan
petikemas didaerah tersebut masih belum tetap dan masih dilakukan perubahan penempatan stack
yang terus menerus. Daridesign plans yang didapatkan dari Terminal 3 didapatkan bahwa kapasitas
stacking petikemas di Terminal 3 saat ini mempunyai slot penumpukan petikemas sebesar 3560 TEU
dan reefer sebanyak 80 TEU. Pada Terminal 3 juga saat ini mempunyai 4 buah unit Container Crane
yang dimiliki oleh PT.OJA.

Gambar 5.9 Layout eksisting pelayanan petikemas Terminal 3


5.3 Peralatan Bongkarmuat Petikemas Terminal 3
Peralatan bongkarmuat petikemas di Terminal 3 terdiri dari:
Peralatas Bongkarmuat Ship to Shore (STS)
Peralatan Bongkamuat Transfer ke Lapangan
Peralatan Bongkarmuat Penumpukan
Daftar lengkap peralatan di Terminal 3 dapat dilihat di Tabel 5.4

Laporan Tugas Akhir


Pengembangan Terminal III Tanjung Priok Menjadi Dedicated International Container Terminal

5- 8

Tabel 5.4 Daftar peralatan Terminal 3


(Sumber: Terminal 3 Profile Pelindo II, 2010)

5.3.1 Peralatan Bongkarmuat Ship to Shore (STS)


Peralatan bongkarmuat STS yang terdapat di Terminal 3 adalah sebagai berikut:
Container Crane sebanyak 4 unit
Level Luffing Crane sebanyak 2 unit
Harbor Mobile Crane sebanyak 3 unit
5.3.2 Peralatan Bongkamuat Transfer ke Lapangan
Peralatan Bongkamuat Transfer ke Lapangan yang dimiliki terminal 3 adalah sebagai berikut:
Tractor Trailer (Truk) sebanyak 10 unit
5.3.2 Peralatan Bongkarmuat Penumpukan
Peralatan bongkarmuat penumpukan yang terdapat di Terminal 3 adalah sebagai berikut:
Rubber Tyred Gantry Cranes sebanyak 2 unit
Rail Mounted Gantry Cranes sebanyak 13 unit
Reach Stacker sebanyak 16 unit
Side Loader sebanyak 1 unit
Top Lifter sebanyak 2 unit
Forklift sebanyak 28 unit
Laporan Tugas Akhir
Pengembangan Terminal III Tanjung Priok Menjadi Dedicated International Container Terminal

5- 9

5.4 Lalulintas Terminal 3


Lalulintas di Pelabuhan Tanjung Priok akan dibedakan menjadi 2 yaitu lalulintas kunjungan kapal,
dan kargo barang. Lalulintas kargo akan dibedakan menjadi 5 yaitu lalulintas general cargo, bag
cargo, petikemas, curah cair dan curah kering
5.4.1 Lalulintas Kunjungan Kapal
Dari lalulintas kunjungan kapal beberapa bulan terakhir bisa dilihat bahwa terjadi kecenderungan
kenaikan yang cukup tinggi di Terminal 3.

Gambar 5.10 Grafik lalulintas kunjungan kapal Terminal 3


(Sumber: Data Operasional Terminal 3, 2010)
5.4.2 Lalulintas Kargo Barang
Lalulintas kargo barang yang akan dibahas terdiri dari lalulintas general cargo, bag cargo,
petikemas, curah cair dan curah kering yang masing-masing akan dibahas satu persatu. Lalulintas
yang lengkap dari periode April 2010 sampai dengan Maret 2011 (1 Tahun) dapat dilihat di Tabel
5.6
Tabel 5.6 Lalulintas Kargo barang Terminal 3
(Sumber: Data Operasional Terminal 3, 2010)

Laporan Tugas Akhir


Pengembangan Terminal III Tanjung Priok Menjadi Dedicated International Container Terminal

5- 10

5.4.2.1. Lalulintas General Cargo


Dari Gambar 5.11 bisa dilihat bahwa dalam beberapa waktu terakhir lalulintas General Cargo di
Terminal 3 cenderung mengalami kenaikan.

Gambar 5.11 Grafik lalulintas General Cargo Terminal 3


(Sumber: Data Operasional Terminal 3, 2010)
5.4.2.2 Lalulintas Bag Cargo
Dari Gambar 5.12 bisa dilihat bahwa dalam beberapa waktu terakhir lalulintas Bag Cargo di
Terminal 3 cenderung mengalami kenaikan.

Gambar 5.12 Grafik lalulintas Bag Cargo Terminal 3


(Sumber: Data Operasional Terminal 3, 2010)

Laporan Tugas Akhir


Pengembangan Terminal III Tanjung Priok Menjadi Dedicated International Container Terminal

5- 11

5.4.2.3 Lalulintas Petikemas


Dari Gambar 5.13 dan Gambar 5.14 bisa dilihat bahwa dalam beberapa waktu terakhir lalulintas
petikemas di Terminal 3 cenderung mengalami kenaikan walaupun sedikit, hal ini bisa disebabkan
oleh kapasitas pelayanan petikemas yang masih belum cukup.

Gambar 5.13 Grafik lalulintas Petikemas Terminal 3 (TEU)


(Sumber: Data Operasional Terminal 3, 2010)

Gambar 5.14 Grafik lalulintas Petikemas Terminal 3 (Ton)


(Sumber: Data Operasional Terminal 3, 2010)
5.4.2.4 Lalulintas Curah Cair
Dari Gambar 5.15 bisa dilihat bahwa dalam beberapa waktu terakhir lalulintas Curah Cair di
Terminal 3 cenderung mengalami penurunan.

Laporan Tugas Akhir


Pengembangan Terminal III Tanjung Priok Menjadi Dedicated International Container Terminal

5- 12

Gambar 5.15 Grafik lalulintas Curah Cair Terminal 3


(Sumber: Data Operasional Terminal 3, 2010)
5.4.2.5 Lalulintas Curah Kering
Dari Gambar 5.16 bisa dilihat bahwa dalam beberapa waktu terakhir lalulintas Curah Kering di
Terminal 3 cenderung mengalami penurunan.

Gambar 5.16 Grafik lalulintas Curah Kering Terminal 3


(Sumber: Data Operasional Terminal 3, 2010)
5.5 Analisis Performa Terminal
Pada bagian ini kita akan menganalisa performa sebuah Terminal petikemas. Untuk analisa ini akan
digunakan standar pelayanan dari PSA (Port of Singapore Authority) seperti yang dicantumkan di
Bab 2. Dikarenakan pendataan di Terminal 3 tidak menggunakan acuan yang sama dari PSA maka
yang akan dianalisa hanya indikator-indikator yang tersedia datanya.

Laporan Tugas Akhir


Pengembangan Terminal III Tanjung Priok Menjadi Dedicated International Container Terminal

5- 13

5.5.1 Indikator dari Output


Pada indikator ini kita akan menilai performa dari sebuah terminal dari output yang
dihasilkan oleh terminal tersebut dalam operasinya.
a. Berth Throughput
Indikator Berth throughput menggambarkan sebuah berapa banyak petikemas yang
dltangani oleh berth tersebut dalam setahun. Indikator ini menggambarkan seberapa baik
sebuah berth digunakan.

(2.1)

Dari data yang didapatkan dengan asumsi dermaga yaang digunakan adalah 1 maka Berth
Throughput yang didapat adalah sebesar 401.552 dalam periode 1 tahun (April 2010- Maret
2011)
b. Ship Output
Indikator Ship Output memperlihatkan rata-rata dimana petikemas ditangani dari atau
menuju kapal pada dermaga. Indikator ini memperlihatkan seberapa baik operasi
penanganan petikemas terminal tersebut. Indikator Ship Output ini dilakukan perbulan.
Dari pengolahan data yang dilakukan pada data lalulintas kapal Terminal 3 pada bulan Maret
2011 didapat data sebagai berikut:
Jumlah kapal yang merapat : 70 Kapal
Jumlah petikemas yang dilayani : 47.142 TEU
Jam total kapal menunggu sebelum merapat (Ikat-Tiba): 4392 jam
Jam total kapal merapat di Berth (Lepas-Ikat): 3814 jam
Jam total kapal berada di pelabuhan (Lepas-Tiba): 7664 jam
Dalam analisis ini kita akan menggunakan bulan Maret 2011 karena bulan Maret 2011
memiliki lalulintas paling besar dalam 1 tahun terakhir. Sayangnya dalam pengoperasian
Terminal 3 tidak didapatkan data jam kerja dalam pembongkaran petikemas perkapal.
Sehingga nilai Petikemas per Kapal (Jam kerja) tidak bisa didapatkan. Namun dengan
menggunakan data lainnya kita bisa menghitung 2 indikator lainnya yaitu Petikemas per
Kapal (Jam merapat di berth) dan Petikemas per Kapal (Kapal berada di pelabuhan).

(2.2)

Kita bisa menghitung indikator ship output yaitu:

=
=

(2.3)

47.142
3814

Didapat Output Container per Ship Hour at Berth Terminal 3 di bulan Maret 2011 sebesar
12,36 Petikemas perjam
Laporan Tugas Akhir
Pengembangan Terminal III Tanjung Priok Menjadi Dedicated International Container Terminal

5- 14

=
=
=

(2.4)

47.142
7664

Didapat Output Container per Ship Hour in Port Terminal 3 di bulan Maret 2011 sebesar 6,15
Petikemas perjam
5.5.2 Indikator dari Pelayanan
Indikator dari pelayanan merupakan suatu indikator yang digunakan untuk mengukur kualitas
pelayanan sebuah pelabuhan kepada penggunanya. Indikator ini dilakukan perbulan untuk
mengetahui pelayanan terminal tersebut.

a. Waiting Time
Waiting time adalah waktu penundaan yang diukur dari waktu dimana kapal sampai di

pelabuhan sampai dengan kapal diikat di dermaga. Diukur dalam jam/hari. Evaluasi Waiting
Time dilakukan perbulan.

=
=

(2.6)

4392
70

Didapat nilai Waiting Time Terminal 3 di bulan Maret 2011 sebesar 62,74 jam perkapal

b. Ships Time at Berth


Ships time at Berth adalah waktu total sebuah kapal saat merapat di dermaga, termasuk
waktu saat pembongkaran, ataupun tidak (idle). Diukur dalam jam/hari.

=
=

(2.7)

3814
70

Didapat nilai Ships Time at Berth Terminal 3 di bulan Maret 2011 sebesar 54,48 jam
perkapal

c. Ship Turnaround Times

Laporan Tugas Akhir


Pengembangan Terminal III Tanjung Priok Menjadi Dedicated International Container Terminal

(2.8)

5- 15

7664
70

Didapat nilai Ship Turnaround Times Terminal 3 di bulan Maret 2011 sebesar 109,485 jam
perkapal
5.5.3 Indikator dari Utilisasi
Indikator dari utilisasi adalah sebuah indikator yang menyatakan seberapa intensif sebuah fasilitas
pelabuhan digunakan.
a. Berth Occupancy Ratio (BOR)
Berth Occupancy Ratio menyatakan tingkat permintaan (demand) pada pelayanan dermaga
pelabuhan. Dapat dilihat di Gambar 5.17 dan Gambar 5.18 BOR di Terminal 3 mempunyai
kecenderungan untuk meningkat dan diperkirakan mengalami kepenuhan di bsekitar bulan
April 2012. Untuk perhitungannya digunakan formula:

% =

100
365

(2.9)

Gambar 5.17 Grafik BOR Terminal 3

Laporan Tugas Akhir


Pengembangan Terminal III Tanjung Priok Menjadi Dedicated International Container Terminal

5- 16

Gambar 5.18 Grafik proyeksi BOR Terminal 3

b. Yard Occupancy Ratio (YOR)


Yard Occupancy Ratio menyatakan tingkat permintaan (demand) pada pelayanan lapangan
penumpukan petikemas. Dapat dilihat di Gambar 5.19 dan Gambar 5.20 YOR di Terminal 3
mempunyai kecenderungan untuk menurun. April 2012Untuk perhitungannya digunakan
formula:

% =

100
365

(2.10)

Gambar 5.19 Grafik YOR Terminal 3

Laporan Tugas Akhir


Pengembangan Terminal III Tanjung Priok Menjadi Dedicated International Container Terminal

5- 17

Gambar 5.20 Grafik proyeksi YOR Terminal 3

c. Storage Occupancy Ratio (SOR)


Storage Occupancy Ratio menyatakan tingkat permintaan (demand) pada pelayanan

gudang. Dapat dilihat di Gambar 5.21 dan Gambar 5.22 SOR di Terminal 3 mempunyai
kecenderungan untuk menurun Untuk perhitungannya digunakan formula:

% =

100
365

(2.11)

Gambar 5.21 Grafik SOR Terminal 3

Laporan Tugas Akhir


Pengembangan Terminal III Tanjung Priok Menjadi Dedicated International Container Terminal

5- 18

Gambar 5.22 Grafik proyeksi YOR Terminal 3


5.5.4 Indikator dari Produktivitas
Indikator dari produktivitas merupakan sesuatu yang tidak bisa dibandingkan dalam kondisi Terminal
3 yang sekarang. Indikator ini akan diperhitungkan saat perbandingan Terminal 3 dengan desain
yang baru.
5.6 Analisis Kapal Terminal 3
Dalam bagian ini kita akan menganalisa kapal-kapal petikemas yang berlabuh di Terminal 3.
5.6.1 Jenis Kapal
Menurut data lalulintas petikemas Terminal 3 kapal petikemas paling besar yang pernah merapat di
Terminal 3 adalah Kapal Minneapolis MV. Kapal ini merupakan kapal dengan bendera Liberia yang
berada dibawah perusahaan American President Lines, Ltd. Spesifikasi dari Kapal Minnneapolis MV
tersebut dapat dilihat di Tabel 5.6 sebagai berikut:

Laporan Tugas Akhir


Pengembangan Terminal III Tanjung Priok Menjadi Dedicated International Container Terminal

5- 19

Tabel 5.6 Spesifikasi Kapal APL Minneapolis


(http://en.shippingbao.com/resource/?todo=ShowVessel&vslid=4535)

Dari data seperti diatas bisa dilihat bahwa Kapal Minneapolis ini dapat digolongkan sebagai kapal
Panamax dan bisa dibilang cukup besar untuk ukuran sebuah kapal petikemas.

Gambar 5.23 Kapal APL Minneapolis


(Sumber: http://www.vesseltracker.com/en/ShipPhotos/304881-.html)

5.6.2 Indikator Pelayanan Kapal Terminal 3


Seperti yang sudah dilakukan di bagian sebelumnya kita bisa mendapatkan analisa dari pelayanan
sebuah kapal yang melakukan kegiatan bongkarmuat petikemas di Terminal 3. Untuk
membandingkan performa dari terminal 3 akan kita lakukan perbandingan dengan beberapa
pelabuhan tetangga. Nilai indikator performa Terminal 3 yang diambil adalah hasil pengolahan
lalulintas 3 bulan yaitu Januari, Februari dan Maret.
Laporan Tugas Akhir
Pengembangan Terminal III Tanjung Priok Menjadi Dedicated International Container Terminal

5- 20

Rata-Rata TEU/Kapal
Rata-Rata LOA Kapal
Rata-Rata Draught Kapal

: 682,1 TEU/Kapal
: 126,5 meter
: 7,666 meter

Waiting Time Terminal 3


Ships Time at Berth Terminal 3
Ship Turnaround Times Terminal 3

: 42,3 jam perkapal


: 39,98 jam perkapal
: 82,28 jam perkapal

Sebagai perbandingan dengan beberapa pelabuhan tetangga dapat dilihat di Tabel 5.7
Tabel 5.7 Perbandingan Pelayanan Kapal dgn Pelabuhan Tetangga
Kota/Terminal
Ship
Ship
Ship
Waiting
Time at
Time
Berth
Turnaround Times
Banjarmasin
14 Hari
Balikpapan
10 Hari
Palembang
7 Hari
Pontianak
4 Hari
Terminal 3, Jakarta
42,3 Jam
39,98 Jam
82,28 Jam
JNPT, India
10 Jam
38 Jam
2 Hari
Colombo, India
2 Jam
13 Jam
15 Jam
Singapore
0 Jam
12 Jam
12 Jam
Dari Tabel 5.6 bisa dilihat betapa sangat tertinggalnya kualitas pelayanan petikemas di negara kita.
Terminal 3 sendiri dari analisa parameter-parameter tersebut terbukti masih jauh kualitasnya jika
dibandingkan dengan pelabuhan negara tetangga.
5.7 Proyeksi Lalulintas Petikemas Terminal 3
Dengan menggunakan regresi linier kita melakukan proyeksi lalulintas petikemas Terminal 3 dimasa
depan. Hasil dari proyeksi tersebut bisa dilihat di Tabel 5.6. Untuk melihat trend kenaikan lalulintas
petikemas dalam proyeksi bisa dilihat di Gambar 5.22 dan Gambar 5.23

Laporan Tugas Akhir


Pengembangan Terminal III Tanjung Priok Menjadi Dedicated International Container Terminal

5- 21

Tabel 5.6 Proyeksi Petikemas Terminal 3

Gambar 5.24 Proyeksi lalulintas petikemas Terminal 3 (TEU)

Laporan Tugas Akhir


Pengembangan Terminal III Tanjung Priok Menjadi Dedicated International Container Terminal

5- 22

Gambar 5.25 Proyeksi lalulintas petikemas Terminal 3 (Ton)

Laporan Tugas Akhir


Pengembangan Terminal III Tanjung Priok Menjadi Dedicated International Container Terminal

5- 23

BAB 6
Desain Terminal
6.1 Rezoning Terminal 3
Dalam subbab ini akan dilakukan perhitungan rezoning dari wilayah Terminal 3 yang akan dilakukan
kegiatan desain. Rezoning itu sendiri merupakan proses perubahan penetapan wilayah yang akan
digunakan untuk melayani kegiatan bongkarmuat kargo tertentu.
Perbandingan zoning yang dimaksud disini adalah perbandingan antara zona eksisting yang terdapat
di Terminal 3 dengan zoning rencana. Dari Gambar 6.1 bisa dilihat areal dalam terminal 3 yang
ditetapkan untuk kargo tertentu pada kondisi eksisting dan demikian juga dengan zoning kondisi
rencana yang terdapat di Gambar 6.2
Pada Tabel 6.1 kita bisa melihat luas area dari masing-masing kargo yang didapat dari plot
AutoCAD. Pada Tabel 6.2 kita bisa melihat perbandingan luas area dari layout rencana terhadap
kondisi masterplan dan eksisting.
Pada Gambar 6.3 kita bisa melihat perbandingan dari zoning kargo masterplan dalam bentuk
persentase (%). Pada Gambar 6.4 kita bisa melihat perbandingan dari zoning kondisi eksisting
dalam bentuk persentase (%) dan pada gambar 6.5 kita bisa melihat perbandingan dari zoning
kondisi rencana dalam bentuk persentase (%)

Gambar 6.1 Zoning eksisting Terminal 3


Laporan Tugas Akhir
Pengembangan Terminal III Tanjung Priok Menjadi Dedicated International Container Terminal

6- 1

Gambar 6.2 Zoning rencana Terminal 3


Tabel 6.1 Areal Zoning Terminal 3

Tabel 6.2 Penambahan Areal Zoning Terminal 3

Laporan Tugas Akhir


Pengembangan Terminal III Tanjung Priok Menjadi Dedicated International Container Terminal

6- 2

Gambar 6.3 Chart zoning Masterplan Terminal 3 (%)

Gambar 6.4 Chart zoning eksisting Terminal 3 (%)

Laporan Tugas Akhir


Pengembangan Terminal III Tanjung Priok Menjadi Dedicated International Container Terminal

6- 3

Gambar 6.5 Chart zoning rencana Terminal 3 (%)


6.2 Desain Terminal
Pada sub-bab ini akan dipaparkan secara kronologis proses desain yang dilakukan oleh penulis
dalam desain terminal petikemas di Terminal 3. Urutan dari desain temrinal yang dilakukan adalah:
1. Desain Apron
2. Desain Yard
3. Desain Gate
4. Desain Bengkel dan Tempat Parkir
5. Desain Peralatan
6.2.1 Desain Apron
Pertama-tama akan dilakukan desain terhadap apron yang ada di Terminal 3. Seperti dapat dilihat di
Gambar 6.6 kondisi apron Terminal 3 area proyek saat ini mempunyai lebar 30m dan lebar rel 24m
serta mempunyai Container Crane sebanyak 4 buah. Dalam proses desain ini kita akan
menggunakan ketentuan sebagai berikut:
Ketentuan Desain Apron:
Thorensen, Carl (2008) Port Designer Handbook
Lebar apron diantara 15-50 m
Jarak antara berthline dan rel crane lebih besar dari 2,5 m
Lebar rel crane diantara 10 -35m
Jarak apron dan stack penumpukan diantara 5-15m
Keadaan Eksisting (Given)
Panjang Total Sisi Pelabuhan
Panjang Apron
Lebar Dermaga
Lebar Rel Container Crane
Container Crane

:1050 m
: 574,5 m
: 30 m
: 24 m
: 4 unit

Laporan Tugas Akhir


Pengembangan Terminal III Tanjung Priok Menjadi Dedicated International Container Terminal

6- 4

Gambar 6.6 Denah apron eksisting


Karena kondisi eksisting dari apron di terminal 3 sudah memenuhi ketentuan yang diharuskan maka
yang dilakukan di apron adalah dilakukan pemanjangan apron menjadi sepanjang 1023,52 m.
Container crane belum akan dipasang karena akan disesuaikan dengan kapasitas storage yang
dimiliki oleh desain. Hasil dari desain apron bisa dilihat di Gambar 6.7
Desain

Apron:
Panjang Total Sisi Pelabuhan
Panjang Apron
Lebar Dermaga
Lebar Rel Container Crane

:
:
:
:

1050 m
1023,52 m
30 m
24 m

Gambar 6.7 Denah apron rencana

Laporan Tugas Akhir


Pengembangan Terminal III Tanjung Priok Menjadi Dedicated International Container Terminal

6- 5

6.2.2 Desain Yard


Setelah didapatkan apron maka kita akan melakukan proses desain Yard. Yard yang dilakukan di
desain ini terdiri dari:
1. Stack petikemas reguler
2. Stack reefer
6.2.2.1 Desain Stack Petikemas Reguler
Untuk proses desain stack petikemas akan dilakukan dengan mengikuti ketentuan dari Port

Designers Handbook.

Ketentuan Desain Yard:


Thorensen, Carl (2008) Port Designer Handbook
Jarak minimum apron ke stack petikemas minimal 5 m
Kira-kira 2 Gantry Crane per Container Crane
3-5 Truk per Container Crane
Penempatan stack disesuaikan dengan layout area
Karena tidak ada ketentuan khusus yang mengatur mengenai panjang, lebar dan jarak antar stack
maka digunakan referensi 2 terminal petikemas yang sudah ada, yaitu Terminal Petikemas Keppel di
Pelabuhan Singapura dan Terminal Petikemas 2 di Pelabuhan Hongkong.
1. Referensi Terminal Keppel Pelabuhan Singapura
Fakta-fakta Pelabuhan Singapura:
Pelabuhan petikemas tersibuk di dunia
Melayani 26.866.000 TEU pd tahun 2009
Mempunyai total 5 terminal yg melayani kargo petikemas

Gambar 6.8 Peta Singapura


Laporan Tugas Akhir
Pengembangan Terminal III Tanjung Priok Menjadi Dedicated International Container Terminal

6- 6

Spesifikasi Terminal Keppel:


Jarak antar stack menyamping
Jarak antar stack memanjang
Lebar Stack
Panjang Stack
Lebar stack ke apron

:
:
:
:
:

10 m
20 m
18 m
250 m
15 m

Gambar 6.9 Stack penumpukan Terminal Keppel Singapura


2.Referensi Terminal Container 2, Pelabuhan Hongkong
Fakta-fakta Pelabuhan Hongkong:
Pelabuhan petikemas tersibuk ke-3 di dunia
Melayani 20.983.000 TEU pd tahun 2009
Mempunyai total 9 terminal yg melayani petikemas

Laporan Tugas Akhir


Pengembangan Terminal III Tanjung Priok Menjadi Dedicated International Container Terminal

6- 7

Gambar 6.10 Peta Hongkong


Spesifikasi Terminal 2:
Jarak antar stack menyamping
: 10 m
Jarak antar stack memanjang
: 20 m
Lebar Stack
: 18 m
Panjang Stack
: 270 m
Lebar stack ke apron
: 20 m

Laporan Tugas Akhir


Pengembangan Terminal III Tanjung Priok Menjadi Dedicated International Container Terminal

6- 8

Gambar 6.11 Stack penumpukan Terminal 2 Hongkong


Setelah mempelajadi dari ketentuan dan referensi maka dilakukan proses desain stack petikemas
reguler di Terminal 3. Gambar 6.12 menunjukan sisa areal yang bisa digunakan dalam proses desain
yard yaitu sebesar 119.883 m

Laporan Tugas Akhir


Pengembangan Terminal III Tanjung Priok Menjadi Dedicated International Container Terminal

6- 9

Gambar 6.12 Sisa Areal untuk Yard


Dari areal tersebut maka didapatkan desain yard rencana seperti bisa dilihat di Gambar 6.13.
Sedangkan pada Gambar 6.14 dapat dilihat desain yard secara lebih dekat. Spesifikasi lengkap dari
yard rencana tersebut adalah:
Desain Yard:
Jumlah Stack
: 12 stack
Panjang Stack Tipe A
: 245 m (40 TEU/stack)
Panjang Stack Tipe B
: 122,5 m (20 TEU/stack)
Lebar Stack
: 20 m (7 TEU/stack)
Tinggi
: 6 TEU/stack
Jarak antar stack menyamping
: 10 m
Jarak antar stack memanjang
: 20 m
Ground Slots
: 2.940 TEU
Total TEU
: 17.640 TEU

Gambar 6.13 Denah Yard rencana

Laporan Tugas Akhir


Pengembangan Terminal III Tanjung Priok Menjadi Dedicated International Container Terminal

6- 10

Gambar 6.14 Denah Yard rencana 2


6.2.2.2 Desain Stack Reefer
Setelah dilakukan desain stack petikemas reguler maka akan dilakukan desain stack petikemas
reefer. Karena tidak ada ketentuan yang mengatur mengenai desain reefer maka seperti bisa dilihat
di Tabel 6.3 dilakukan referensi dari beberapa Terminal petikemas yang sudah ada dengan
membandingkan persentase dari jumlah TEU petikemas regulernya dengan stack petikemas
reefernya.
Tabel 6.3 Referensi Perancangan Stack Reefer

Dengan menimbang referensi tersebut maka dilakukan desain terhadap reefer Terminal 3. Pada
Gambar 6.15 bisa dilihat denah reefer rencana dan pada Gambar 6.16 bisa dilihat denah reefer
secara lebih dekat. Spesifikasi lengkap dari lapangan reefer ini adalah sebagai berikut:
Desain:
Panjang Reefer
: 100 m (2 TEU/stack)
Lebar Reefer
: 20 m (7 TEU/stack)
Tinggi
: 6 TEU/stack
Jumlah Stack
: 4 stack
Ground Slots
: 56 TEU
Total TEU
: 336 TEU
Laporan Tugas Akhir
Pengembangan Terminal III Tanjung Priok Menjadi Dedicated International Container Terminal

6- 11

Gambar 6.15 Denah Reefer rencana

Gambar 6.16 Denah Reefer rencana 2


6.2.2.3 Perhitungan Kapasitas Yard
Setelah proses desain stack petikemas reguler dan reefer selesai maka kita akan melakukan
perhitungan kapasitas penyimpanan dari desain terminal petikemas kita mengacu pada formula
Annual Storage Capacity (Filip Merckx, 2005)

(6.1)

Slot Petikemas

Ground Slots
Total TEU

: 2.940 TEU
: 17.640 TEU

Slot Reefer
Ground Slots

: 56 TEU

Laporan Tugas Akhir


Pengembangan Terminal III Tanjung Priok Menjadi Dedicated International Container Terminal

6- 12


Input

Total TEU

: 336 TEU

Storage Capacity (TEU)


Dwell Time
Peak Factor

: 17.976 TEU
: 3 Hari
: 1,2

Didapatkan Output:
Annual Storage Capacity

: 1.822.567 TEU/tahun

6.2.3 Desain Gate


Untuk melakukan desain gate maka kita menggunakan ketentuan yang dipakai oleh Jasa Marga
yaitu PP no 44 Tahun 1993 Pasal 116. Kondisi gate eksisting bisa dilihat pada Gambar 6.17
sedangkan gate rencana bisa dilihat di Gambar 6.18 dan Gambar 6.19.
Ketentuan:
PP no 44 Tahun 1993 Pasal 115
Ukuran utama kendaraan bermotor:
Lebar maksimum 2.500 mm
Tinggi maksimum 4.200 mm dan tidak lebih dari 1,7 kali lebar kendaraan
Panjang maksimum kendaraan bermotor tunggal 12 m dan kendaraan bermotor gandeng 18
m
Perhitungan Kapasitas Gate
Annual Storage Capacity Terminal Bagian Timur
Annual Storage Capacity Terminal Bagian Barat
Dengan Asumsi 1 TEU/truk
Maka minimal dibutuhkan kapasitas Gate
Input

Jam kerja
Waktu pelayanan
Jumlah loket yg diambil

Kapasitas Gate Desain


Kapasitas Gate (harian)
Kapasitas Gate (bulanan)
Kapasitas Gate (tahunan)

:1.822.567 TEU/tahun
:1.822.567 TEU/tahun (asumsi)
: 3.646.134 truk/tahun

:24 Jam, 7 hari seminggu


:1 menit/truk (asumsi)
: 8 loket (4 Gate in dan 4 Gate out)
: 11.520 truk/hari
: 346.600 truk/bulan
: 4.204.800 truk/tahun (dilebihkan utk
pengembangan masa depan)

Kondisi Eksisting (Given):


Lebar Gate 12 m
Panjang Gate 16 m
1 Gate in
1 Gate Out

Laporan Tugas Akhir


Pengembangan Terminal III Tanjung Priok Menjadi Dedicated International Container Terminal

6- 13

Gambar 6.17 Denah Gate Eksisting


Setelah meninjau ketentuan-ketentuan yang ada maka dilakukan desain terhadap gate terminal.
Untuk bisa mengatasi lalulintas yang akan dihasilkan oleh desain yard rencana maka perlu dilakukan
pelebaran dari gate yang ada. Juga untuk meningkatkan keamanan dan mempersingkat waktu
pelayanan yang dibutuhkan di gate maka akan digunakan peralatan X-Ray yang diiletakkan di
dinding Gate.
Desain

Gate Rencana:
Lebar Gate
Panjang Gate
Tinggi Clearance
Lebar lajur
2 lajur Gate In
4 loket Gate in
2 lajur Gate Out
4 loket Gate Out

:
:
:
:

26 m
45 m
5m
4m

Gambar 6.18 Denah Gate rencana

Laporan Tugas Akhir


Pengembangan Terminal III Tanjung Priok Menjadi Dedicated International Container Terminal

6- 14

Gambar 6.19 Denah Gate rencana 2


Setelah dilakukan desain terhadap gate yang ada maka dilakukan desain loket untuk
mengoperasikan tiap lajurnya. Dalam desain seperti yang bisa dilihat di Gambar 6.20 akan
diperlukan 2 orang tiap loketnya dengan rincian 1 orang mengoperasikan mesin X-Ray dan 1 orang
mengoperasikan keperluan logistik seperti surat-srat dan lainnya.
Desain

Loket Rencana:
Lebar loket : 2m
Panjang loket : 4m
Jumlah operator perloket: 2 orang

Laporan Tugas Akhir


Pengembangan Terminal III Tanjung Priok Menjadi Dedicated International Container Terminal

6- 15

Gambar 6.20 Denah loket rencana


6.2.4 Desain Bengkel Pemeliharaan
Kita akan menggunakan sisa area yang ada untuk membuat bengkel pemeliharaan dan tempat
parkir untuk truk pelabuhan. Pada Gambar 6.21 bisa dilihat sisa area untuk bengkel dan pada
Gambar 6.22 denah bengkel dan area parkir rencana.

Gambar 6.21 Sisa Area untuk Bengkel

Laporan Tugas Akhir


Pengembangan Terminal III Tanjung Priok Menjadi Dedicated International Container Terminal

6- 16

Gambar 6.22 Denah bengkel dan areal parkir


Setelah mengetahui area yang ada maka seperti bisa dilihat di Gambar 6.23 dilakukan desain
bengkel pemeliharaan dan areal parkir truk terminal.
Desain Bengkel Rencana:
Luas total bengkel
: 1922 m
Luas bangunan bengkel
: 1022 m
Luas lapangan Bengkel
: 900 m
Slot parkir
: 22 Slot (lebar 4m perslot)

Gambar 6.23 Denah bengkel dan areal parkir 2


Laporan Tugas Akhir
Pengembangan Terminal III Tanjung Priok Menjadi Dedicated International Container Terminal

6- 17

6.2.5 Desain Peralatan


Pada langkah terakhir dalam desain terminal, kita melakukan desain perlengkapan yang digunakan
agar terminal petikemas rencana dapat berfungsi secara maksimal. Desain peralatan yang
digunakan terdiri dari 3 yaitu:
1. Desain Container Crane
2. Desain Rail Mounted Gantry Crane
3. Desain Truk
6.2.6.1 Desain Container Crane
Pertama-tama dalam desain peralatan kita akan melakukan desain C.C terlebih dahulu, untuk
melakukan desain ini kita menggunakan ketentuan dalam Port Designers Handbook. Dalam input
yang digunakan kita akan memakai Annual Storage Capacity dari yard desain kita.
Ketentuan:
Thorensen, Carl (2008) Port Designer Handbook
Spesifikasi Container Crane
Minimum jarak spreader ke tanah 30 m
Outreach minimal 35 m dan backreach 15 m
Rel CC diantara 16-35 m
Clearance minimal CC 16 m
Lebar maksimum tidak lebih dari 27,5 m

(6.2)

(6.3)
(6.4)
Perhitungan Kapasitas Penumpukan Container Crane
Annual Storage Capacity
: 1.822.567 TEU/tahun
Jam kerja
: 24 Jam, 7 hari seminggu
Rata-rata output/crane
: 30 TEU/Jam
Rasio Working /Berth Time
: 0,8
Diambil 10 Container Crane
Output

Container Crane Rencana


Daily CC. Throughput
Monthly CC. Throughput
Annual CC. Throughput

: 6.760 TEU/hari
: 172.800 TEU/bulan
: 2.102.400 TEU/tahun

Setelah didapatkan jumlah CC dan output yang dihasilkan maka kita melakukan desain CC seperti
bisa dilihat di Gambar 6.24. Pada Gambar 6.25 diperlihatkan visualisasi 3 dimensi terhadap crane
dan pada Gambar 6.26 dan Gambar 6.27 diperlihatkan denah pelabuhan sebelum dan sesudah
pemasangan CC. Kapal yang diperlihatkan di gambar dibawah adalah menggunakan kapal model
yang didapat dari analisis lalulintas Terminal 3.
Laporan Tugas Akhir
Pengembangan Terminal III Tanjung Priok Menjadi Dedicated International Container Terminal

6- 18

Desain

CC Rencana
Container Crane
Rata-Rata Output/crane
Lebar Apron
Lebar Rel CC
Outreach
Backreach
Tinggi Clearance
Tinggi Spreader
Tinggi Crane

Kapal Model
TEU perkapal
LOA Kapal
Draught Kapal

:
:
:
:
:
:
:
:
:

10
30
30
24
40
15
15
35
45

unit
TEU/jam
m
m
m
m
m
m
m

: 682,1 TEU/Kapal
: 126,5 meter (Dibulatkan menjadi 130 m)
: 7,666 meter

Gambar 6.24 Penempatan Container Crane

Laporan Tugas Akhir


Pengembangan Terminal III Tanjung Priok Menjadi Dedicated International Container Terminal

6- 19

Gambar 6.25 Container Crane Terminal (3D)

Gambar 6.26 Denah Terminal sebelum penempatan Container Crane

Laporan Tugas Akhir


Pengembangan Terminal III Tanjung Priok Menjadi Dedicated International Container Terminal

6- 20

Gambar 6.27 Denah Terminal setelah penempatan Container Crane


6.2.6.2 Desain Rail Mounted Gantry Crane
Kemudian setelah dilakukan desain CC kita akan melakukan desain RMGC, untuk melakukan desain
ini kita menggunakan ketentuan dalam Port Designers Handbook.
Ketentuan:
Thorensen, Carl (2008) Port Designer Handbook
Spesifikasi RMGC
Dibutuhkan sekitar 2 Rail Mounted Gantry Crane per Container-Crane
Ketinggian stackingnya 4-6
Lebar stack 5-9 TEU
Perhitungan Kapasitas Penumpukan RMGC
Lalulintas Gate-Yard
Lalulintas Apron-Yard

:1.822.567 TEU/tahun
:1.822.567 TEU/tahun

Maka minimal dibutuhkan kapasitas penumpukan RMGC:


3.646.134 TEU/tahun
Input

Jam kerja
Rata-rata output/RMGC
Diambil 22 RMGC

Output

Kapasitas RMGC
Kapasitas RMGC (harian)
Kapasitas RMGC (bulanan)
Kapasitas RMGC (tahunan)

:24 Jam, 7 hari seminggu


: 20 TEU/Jam

: 10.560 TEU/ hari


: 316.800 TEU/ bulan
: 3.854.400 TEU/ tahun

Setelah didapatkan jumlah RMGC dan output yang dihasilkan maka kita melakukan desain RMGC.
Pada Gambar 6.28 diperlihatkan visualisasi 3 dimensi terhadap stack yang sudah memakai RMGC
dan pada Gambar 6.29 dan Gambar 6.30 diperlihatkan denah pelabuhan sebelum dan sesudah
pemasangan RMGC.

Laporan Tugas Akhir


Pengembangan Terminal III Tanjung Priok Menjadi Dedicated International Container Terminal

6- 21

Spesifikasi RMGC Rencana:


Rail Mounted Gantry Crane
Rata-Rata output
Lebar Rel
Tinggi Clearance
Outreach
Tinggi Stacking

:
:
:
:
:
:

22 unit
20 TEU/jam
20 m
20 m
3m
6 tingkat

Gambar 6.28 RMGC Terminal (3D)

Laporan Tugas Akhir


Pengembangan Terminal III Tanjung Priok Menjadi Dedicated International Container Terminal

6- 22

Gambar 6.29 Denah Terminal sebelum penempatan RMGC

Gambar 6.30 Denah Terminal setelah penempatan RMGC


6.2.6.3 Desain Truk
Dengan sudah didapatkannya CC dan RMGC yang diperlukan oleh Terminal maka kita akan
melakukan perhitungan jumlah teruk yang diperlukan untuk melayani kapasitas tersebut. Untuk
melakukan desain ini kita menggunakan ketentuan dalam Port Designers Handbook.
Ketentuan:
Thorensen, Carl (2008) Port Designer Handbook
Dibutuhkan sekitar 3-5 Truk per Container Crane
Dibutuhkan tes lapangan untuk mengetahui secara pasti jumlah truk yang dibutuhkan oleh
terminal
Perhitungan Truk
Input:
10 Container Crane
Rata-rata output/crane : 30 TEU/Jam
Diambil 3 Truk per Container Crane (asumsi)
Laporan Tugas Akhir
Pengembangan Terminal III Tanjung Priok Menjadi Dedicated International Container Terminal

6- 23

Output

Total Truk :
Total Truk
Trip/truk
Estimasi Waktu Trip

: 30 unit
: 10 Trip/jam
: 6 menit/trip

Untuk menentukan truk model yang dipakai di terminal kita kita akan menggunakan truk 40 ft yang
sudah tersedia di pasar. Truk model ini dilakukan mengacu pada Container Truck Semi-Trailer 40ft
model LAT9350TJZG (Qingdao Juyuan Lt.D). Pada Gambar 6.31 bisa dilihat visualisasi 3 dimensi
terhadap truk model.
Spesifikasi Truk
Brand
Total Length
Width
Height
Total Mass

:
:
:
:
:

Aotong
1600 mm
2480 mm
1580 mm
38000 kg

Gambar 6.31 Truk Terminal (3D)

Laporan Tugas Akhir


Pengembangan Terminal III Tanjung Priok Menjadi Dedicated International Container Terminal

6- 24

6.2.6 Desain Keseluruhan dan Visualisasi 3D


Setelah dilakukannya desain terhadap peralatan maka proses desain Terminal telah selesai, pada
bagian ini kita akan melihat desain secara keseluruhan serta visualisasi 3 dimensi terhadap bagianbagian terminal yang terlah didesain. Visualisasi 3 dimensi yang dimaksud disini sebetulnya
merupakan dalam bentuk video, namun karena dalam laporan tidak dimungkinkan untuk
dimasukkan maka akan digunakan Gambar 3 dimensi dalam keadaan diam. Pada Gambar 6.32 akan
diperlihatkan denah terminal eksisting dan pada Gambar 6.33 dapat dilihat denah dari terminal
rencana hasil desain. Selanjutnya dari Gambar 6.34 sampai dengan Gambar 6.39 dapat dilihat
visualisasi 3 dimensi terhadap potongan-potongan desain Terminal.
Kapasitas Terminal Eksisting
Petikemas reguler
Petikemas Reefer

: 3.560 TEU
: 80 TEU

Kapasitas Terminal Rencana


Petikemas reguler
Petikemas Reefer

: 17.640 TEU
: 336 TEU

Laporan Tugas Akhir


Pengembangan Terminal III Tanjung Priok Menjadi Dedicated International Container Terminal

6- 25

Gambar 6.32 Denah Terminal eksisting


Laporan Tugas Akhir
Pengembangan Terminal III Tanjung Priok Menjadi Dedicated International Container Terminal

6- 26

Gambar 6.33 Denah Terminal rencana


Laporan Tugas Akhir
Pengembangan Terminal III Tanjung Priok Menjadi Dedicated International Container Terminal

6- 27

Gambar 6.34 Apron Terminal (3D)

Gambar 6.35 Stack petikemas (3D)

Laporan Tugas Akhir


Pengembangan Terminal III Tanjung Priok Menjadi Dedicated International Container Terminal

6- 28

Gambar 6.36 Stack Reefer (3D)

Gambar 6.37 Gate-in/out(3D)

Laporan Tugas Akhir


Pengembangan Terminal III Tanjung Priok Menjadi Dedicated International Container Terminal

6- 29

Gambar 6.38 Bengkel dan Tempat Parkir(3D)

Laporan Tugas Akhir


Pengembangan Terminal III Tanjung Priok Menjadi Dedicated International Container Terminal

6- 30

Gambar 6.39 Terminal 3 Rencana (3D)


6.4 Perbandingan Kondisi Rencana dengan Kondisi Eksisting
Dalam subbab ini akan dibahas satu persatu perbandingan dari hasil desain dengan kondisi eksting
yang ada.
6.4.1 Pengecekan Kapasitas terhadap Proyeksi Lalulintas
Dengan menggunakan proyeksi petikemas yang sudah kita lakukan di Bab 5 kita akan membuat plot
proyeksi lalulintas Terminal 3 terhadap kapasitas dari terminal yang sudah kita desain (bulanan).
Dari plot didapat bahwa layout rencana diperkirakan bisa melayani lalulintas petikemas Terminal 3
kedepan sampai dengan bulan Agustus 2017
Kapasitas Rencana
Kapasitas tahunan: 1.822.567 TEU
Kapasitas bulanan:151.880 TEU

Laporan Tugas Akhir


Pengembangan Terminal III Tanjung Priok Menjadi Dedicated International Container Terminal

6- 31

Gambar 6.40 Grafik proyeksi petikemas vs kapasitas layout


6.4.2 Perbandingan Storage Capacity
Untuk menentukan peningkatan dari layout rencana terhadap layout eksisting maka akan dilakukan
perbandingan dari kapasitas petikemas di Terminal 3. Untuk perbandingan kapasitas Storage
Capacity tersebut bisa dilihat di Tabel 6.4 dan 6.5
Tabel 6.4 Perbandingan Storage Capacity Terminal

Laporan Tugas Akhir


Pengembangan Terminal III Tanjung Priok Menjadi Dedicated International Container Terminal

6- 32

Tabel 6.5 Perbandingan Annual Storage Capacity Terminal

6.4.3 Perbandingan Kapasitas Container Crane


Untuk menentukan peningkatan dari layout rencana terhadap layout eksisting maka akan dilakukan
perbandingan dari kapasitas throughput CC di Terminal 3. Untuk perbandingan kapasitas tersebut
bisa dilihat di Tabel 6.6
Tabel 6.6 Perbandingan Throughput Container Crane

6.4.3 Perbandingan Peralatan


Untuk menentukan peningkatan dari layout rencana terhadap layout eksisting maka akan dilakukan
perbandingan dari peralatan pelayanan petikemas di Terminal 3. Untuk perbandingan peralatan
tersebut bisa dilihat di Tabel 6.7. Sebagai catatan, peralatan yang ada di Terminal 3 saat ini
semuanya bukan merupakan peralatan yang dimiliki Pelindo, sehingga dalam Terminal 3 rencana ini
diproyeksikan akan dilakukan investasi untuk pembelian peralatan petikemas yang diperlukan.

Laporan Tugas Akhir


Pengembangan Terminal III Tanjung Priok Menjadi Dedicated International Container Terminal

6- 33

Tabel 6.7 Perbandingan peralatan layout eksisting dan baru Terminal 3

6.4.4 Perbandingan Performa


Untuk menentukan peningkatan dari layout rencana terhadap layout eksisting maka akan dilakukan
perbandingan dari performa pelayanan petikemas di Terminal 3. Dari performa yang bisa
diperkirakan dengan data yang ada maka bisa diperkirakan Berthing Time dari Terminal baru.
Dilakukan simulasi pelayanan kapal dengan layout baru dengan spesifikasi:
TEU kapal
: 682 TEU
LOA kapal
: 126,517 meter
Container Crane/Kapal
: 2 unit
Kapasitas Petikemas/jam CC : 30 petikemas/jam
Faktor berth/work hours:
: 0,8
Hasil:
Berthing Time layout lama
: 39,986 Jam
Berthing Time layout baru
: 13,6 Jam
Penghematan Waktu
: 26,386 Jam
Dengan hasil tersebut bisa dilihat bahwa terjadi peningkatan waktu layanan yang sangat drastis jika
dibandingkan dengan pelayanan Berthing Time sebelumnya. Dengan menurunnya waktu yang
diperlukan oleh sebuah kapal untuk membongkar dan memuat kargonya di Terminal 3 maka secara
langsung akan turut juga membuat kapal tersebut lebih cepat meninggalkan pelabuhan, sehingga
dengan demikian pelayanan petikemas bisa dialihkan ke kapal berikutnya secara lebih cepat.
Hal ini sangat vital karena dengan demikian secara otomatis Waiting Time dan Turnaround Time
Terminal akan turun drastis dan menguntungkan pihak exportir/importir (penghematan di biaya
merapat dan menunggu giliran) dan pihak pelabuhan (penambahan pemasukan dari meningkatnya
petikemas yang bisa dilayani pertahunnya)

Laporan Tugas Akhir


Pengembangan Terminal III Tanjung Priok Menjadi Dedicated International Container Terminal

6- 34

BAB 7
Penutup
7.1 Kesimpulan
7.1.1 Hasil Desain Terminal
Dari proses desain yang telah dilakukan oleh penulis maka didapatkan layout Terminal Petikemas
Internasional dengan spesifikasi berikut:
Spesifikasi Terminal:
Panjang Dermaga
Jumlah Berth
Kedalaman Kolam

: 1023 meter
: 5 berth
: 10 meter

Peralatan:
Container Crane
RMGC
Truk

: 10 unit
: 22 unit
: 30 unit

Kapasitas Terminal:
Storage Capacity
Reefer Storage Capacity
Annual Storage Capacity
Kapasitas Throughput C.C Terminal
Kapasitas Penumpukan RMGC Terminal
Kapasitas Gate Terminal

:
:
:
:
:
:

17.640 TEU
336 TEU
1.822.567 TEU/tahun
2.102.400 TEU/tahun
3.854.400 TEU/ tahun
4.204.800 truk/tahun

7.1.2 Kesimpulan Tambahan


Kapasitas petikemas (Annual Storage) Terminal 3 Tanjung Priok bertambah dari 369.055
TEU menjadi 1.822.567 TEU/tahun
Kapasitas petikemas (Annual Storage) Pelabuhan Tanjung Priok bertambah dari 4,2 juta TEU
menjadi 5.653.512 TEU pertahun
Pelabuhan Tanjung Priok bisa menyaingi pelabuhan Singapura bila dilakukan perencanaan
dan pengelolaan yang baik
Terminal 3 bisa menjadi proyek percontohan terminal2 lain di Tanjung Priok yang berpotensi
sebagai terminal petikemas
7.2 Saran
Dilakukan investasi serius dalam pengembangan fasilitas Petikemas di Pelabuhan Tanjung
Priok
Sebaiknya pelabuhan Tanjung Priok sebagai aset negara dikelola sendiri secara profesional
dan tidak diserahkan ke pihak swasta
Dipermudahnya birokrasi perizinan untuk kegiatan akademis di pelabuhan

Laporan Tugas Akhir


Pengembangan Terminal III Tanjung Priok Menjadi Dedicated International Container Terminal

7- 1

DAFTAR PUSTAKA
Thorensen, Carl (2008) Port Designers Handbook,Thomas Telford Publishing,, London
United Nation Conference on Trade and Development (1985) Port Development, United Nations
United Nation Conference on Trade and Development (1984) Port Performance Indicator, United
Nations
Jean Paul Rodrigue (2009) Geography of Transport System, Claude Comtois and Brian Slack, New
York
Filip Merckx (2005) Issue of Dwell Time to Optimize Terminal Capacity, IAEME Annual Conference,
Cyprus
Mark Levinson, (2006) The Box, Princeton University press
Vishaka Zadoo,2010, Wanted: A Sea Change, Business World
Maersk Line (2009) Standart Equipment Guide,
Port of Singapore Authority (2003) Port of Singapore Courses, PSA, Singapore
Pelabuhan Indonesia II (2010) Terminal 3 Profile, Pelindo II, Jakarta
Pelabuhan Indonesia II (2010) Annual Report 2010, Pelindo II, Jakarta
Pelabuhan Indonesia II (2008) SISPRO 2008, Pelindo II, Jakarta
Pelabuhan Indonesia II (2006) Masterplan Pelabuhan Tanjung Priok, Pelindo II, Jakarta
Surat Keputusan Direksi PT Pelabuhan Indonesia II (Persero) Nomor: K.56/1/14/PI.II-10
Surat Keputusan General Manager Cabang Pelabuhan Tanjung Priok No: Hk.55/3/14/C.Tpk-10
PP no 44 tahun 1993 pasal 115 (Panduan Gate Jasamarga)
PP no 61 Tahun 2009 Kepelabuhanan
http://www.mccaughrinmaritime.com/Typeofcontainers.html (diunduh Juni 2011)
http://www.priokport.co.id/ (diunduh Juni 2011)
http://id.wikipedia.org/wiki/Pelabuhan_Tanjung_Priok (diunduh Juni 2011)

http://www.priokport.co.id/index.php?mod=fasilitas&smod=pokok (diunduh Juni 2011)


http://aapa.files.cms-plus.com/PDFs/WORLD%20PORT%20RANKINGS%202009.pdf (diunduh Juni
2011)
http://en.wikipedia.org/wiki/List_of_world's_busiest_container_ports (diunduh Juni 2011)
http://www.jansensanddieperink.com/pages/en/dry_bulk_containers.php (diunduh Juni 2011)
http://www.dimerco.com/dimerco/en/container.asp?1 (diunduh Juni 2011)
http://kentinternational.en.made-in-china.com/custom-etail/xJxQmEEVynfYJQJEnxmyGxLE/PlatformBased-Container.html (diunduh Juni 2011)
http://vrdays.blogspot.com/2010/10/mc-cattle-container.html(diunduh Juli 2011)
http://www.savadesign.com/staging/websites/79er-auto-sales/loading.html (diunduh Juli 2011)
http://www.bbunl.com/materials_electric.html (diunduh Juli 2011)
http://www.gottwald.com/gottwald/site/gottwald/en/products/harbour-cranes/mobile-harbourcranes.html (diunduh Juli 2011)
http://www.mascus.co.uk/Material-handling/Used-Container-handlers/SMV-StraddleCarrier/wfqpygml.html (diunduh Juli 2011)
http://www.industrial-training-services.co.uk/?id=gallery (diunduh Juli 2011)
(http://www.cipta-mp.co.cc/2010/11/sekilas-tentang-kami.html (diunduh Juli 2011)
http://www.uwterminals.com/unitedterminal/operational-details(diunduh Juli 2011)
http://maps.google.co.id/maps?hl=id&q=hongkong+port&gs_sm=e&gs_upl=3545l6598l0l6714l17l9l
0l0l0l0l0l0ll0l0&biw=788&bih=462&um=1&ie=UTF-8&sa=N&tab=wl (diunduh Agustus 2011)
http://maps.google.co.id/maps?q=singapore+port&um=1&ie=UTF-8&sa=N&hl=id&tab=wl diunduh
Agustus 2011)
http://www.jict.co.id/en/content/terminal-facilities (diunduh Agustus 2011)
http://www.jp.com.sg/JurongPort/facilitiesequipment/ (diunduh Agustus 2011)
http://www.modernterminals.com/eng/operations/equipment.html (diunduh Agustus 2011)
http://juyuanguoji.en.made-in-china.com/product/jbNxeyfXlqrD/China-Container-Truck-Semi-TrailerLAT9350TJZG-40-feet-.html (diunduh Agustus 2011)