Anda di halaman 1dari 5

Analisis Pengaruh Kegiatan Pemeriksaan Pajak

terhadap Penerimaan Pajak di Indonesia


Adang Mochamad Sugiri 1), Melva Hutagaol 2), Muhammad Taufiq R 3),
Sahat Marulitua Sihombing 4), Tri Haska Hafidzi 5)
1) D4 Akuntansi Khusus, Sekolah Tinggi Akuntansi Negara, Jakarta
Email: adang.m.sugiri@gmail.com
2) D4 Akuntansi Khusus, Sekolah Tinggi Akuntansi Negara, Jakarta
Email: melva.herlinda@gmail.com
3) D4 Akuntansi Khusus, Sekolah Tinggi Akuntansi Negara, Jakarta
Email: m.taufiq.rahmananda@gmail.com
4) D4 Akuntansi Khusus, Sekolah Tinggi Akuntansi Negara, Jakarta
Email: sahat.hombing87@gmail.com
5) D4 Akuntansi Khusus, Sekolah Tinggi Akuntansi Negara, Jakarta
Email: ashakasan@gmail.com

Abstrak Penerimaan pajak merupakan sumber pemasukan utama keuangan negara. Upaya peningkatan
penerimaan dilakukan dengan berbagai cara oleh pemerintah, salah satunya dilakukan dengan pendekatan
pemeriksaan perpajakan. Penelitian ini mencoba untuk mengidentifikasi hubungan antara pelaksanaan
pemeriksaan dengan penerimaan pajak. Penelitian ini dilaksanakan dengan melakukan review atas penelitianpenelitian yang menganalisis hubungan kedua variabel tersebut. Kebanyakan hasil penelitian, baik yang
dilaksanakan di dalam negeri da luar negeri, menunjukkan bahwa kegiatan pemeriksaan pajak memberikan
hasil yang positif bagi peningkatan penerimaa pajak, terutama jika dilakukan bersama dengan kegiatan
penagihan pajak dan dilakukan dengan pendekatan pemeriksaan berbasis risiko.
Kata Kunci : Pemeriksaan Pajak, Penerimaan Pajak, Kepatuhan Wajib Pajak,

1. PENDAHULUAN
Di Indonesia, penerimaan pajak menjadi andalan
sumber pendapatan negara. Pada laman situs pajak
disebutkan bahwa untuk tahun 2014 ini, target
penerimaan pajak dalam APBN 2014 dipatok diatas
seribu triliun atau mencapai Rp1.110,2 triliun. Angka
ini naik sebesar Rp115 triliun atau tumbuh sekitar
11,6% dibandingkan dengan target pajak dalam
APBN-P 2013 sebesar Rp995,2 triliun. Peran
penerimaan pajak ini adalah sebesar 66,6% dari total
pendapatan negara sebesar Rp1.667.1 triliun.
Disebabkan oleh peran sektor pajak yang sangat besar
terhadap negara, pemerintah telah melakukan berbagai
upaya agar target penerimaan tersebut dapat dicapai.
Upaya pemerintah meningkatkan penerimaan
pajak tentu harus terus dimaksimalkan, sebab
penerimaan pajak hingga saat ini belum tergali dengan
optimal. Hal ini diperkuat oleh pernyataan Direktur
Jenderal Pajak, Fuad Rahmani, bahwa Direktorat
Jenderal Pajak mencatat penerimaan pajak hingga 26
September 2014 baru Rp683 triliun. Jumlah
penerimaan pajak ini masih jauh dari target dalam
APBN-Perubahan sebesar Rp1.072,3 triliun. Oleh
karena itu diperlukan upaya yang lebih besar dari

pemerintah agar realisasi penerimaan pajak semakin


mendekati targetnya.
Sejak reformasi perpajakan tahun 1983, sistem
pemungutan pajak di Indonesia mengalami perubahan.
Sejak saat itu Indonesia menganut sistem perpajakan
self assessment. Sistem perpajakan ini sangat berbeda
dari masa sebelumnya. Sejak saat itu wajib pajak
diberi
kepercayaan
untuk
menghitung,
memperhitungkan, menyetor, dan melaporkan
pajaknya sendiri. Pajak yang disetor oleh wajib pajak
tersebut dianggap benar, sampai pemerintah dapat
membuktikannya salah.
Sehubungan dengan hal tersebut maka Direktorat
Jenderal Pajak (DJP) menjalankan fungsi pengawasan
melalui pemeriksaan. Pemeriksaan dilakukan oleh
fiskus dengan maksud untuk menguji kepatuhan wajib
pajak dengan menilai apakah laporan pajak telah
benar secara formal dan material. Setelah
pemeriksaan, wajib pajak diharapkan memenuhi
kewajiban perpajakannya sesuai dengan ketentuan
sehingga dapat memberikan kontribusi optimal
terhadap peningkatan penerimaan pajak. Dari sudut
pandang internal, kegiatan pemeriksaan pajak

berkaitan langsung dengan peningkatan penerimaan


pajak dengan ditetapkannya besaran rencana
penerimaan pajak dari kegiatan pemeriksaan secara
nasional sebagaimana tertuang dalam Rencana dan
Strategi Pemeriksaan pada setiap tahun.
Dari pernyataan tersebut maka dapat disimpulkan
bahwa pemeriksaan pajak memiliki pengaruh terhadap
penerimaan pajak. Dalam paper kali ini, kelompok
kami membahas mengenai pengaruh tersebut, yaitu
apakah pengaruh tersebut bersifat positif, yaitu
pemeriksaan pajak memberikan peningkatan terhadap
penerimaan pajak, atau sebaliknya.
2. LANDASAN TEORI DAN FAKTA
2.1 Metode Penelitian
Kajian untuk paper ini dilakukan melalui metode
mengumpulkan informasi yang berasal dari publikasi
resmi yang berupa journal, skripsi, buku, peraturan,
serta publikasi melalui media elektronik. Metode ini
dipilih dengan mempertimbangkan batas waktu
penelitian yang sangat terbatas. Sehingga, pendekatan
kuantitaitf tidak tidak dapat dilakukan.
Penelitian yang kami review tidak terbatas atas
penelitian-penelitian yang dilakukan di Indonesia.
Kami juga melakukan review atas penelitian terkait
yang dilakukan di luar negeri. Hal ini dilakukan untuk
mengetahui apakah korelasi antara pemeriksaan dan
penerimaan pajak memiliki hasil yang universal di
negara-negara lainnya.
Pada
akhirnya,
kami
juga
mencoba
mengidentifikasi
pengaruh
pemeriksaan
atas
kepatuhan Wajib Pajak. Menurut kami, pembahasan
ini masih relevan dengan penelitian kami. Hal ini
karena kepatuhan secara logika dapat meningkatkan
penerimaan pajak, terutama dalam jangka panjang.
2.2. Dasar Hukum dan Aturan
2.2.1 Pengertian dan Fungsi Pajak
Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1983
sebagaimana telah diubah terakhir dengan UndangUndang Nomor 16 Tahun 2009 tentang Ketentuan
Umum dan Tata Cara Perpajakan mendefinisikan
pajak sebagai kontribusi wajib kepada negara yang
terutang oleh orang pribadi atau badan yang bersifat
memaksa berdasarkan Undang-Undang, dengan tidak
mendapatkan imbalan secara langsung dan digunakan
untuk keperluan negara bagi sebesar-besarnya
kemakmuran rakyat. Definisi lain dikemukakan oleh
Rochmat Soemitro (Mardiasmo, 2009) yaitu bahwa
pajak adalah iuran rakyat kepada negara berdasarkan
undang-undang (yang dapat dipaksakan) dengan tidak
mendapat jasa timbal (kontraprestasi) yang langsung

dapat ditujukan dan digunakan untuk membayar


pengeluaran umum.
Secara umum, pajak memiliki dua fungsi utama,
yaitu fungsi penganggaran (budgetair) dan fungsi
pengaturan (regulerend). Pajak memiliki fungsi
penganggaran karena pajak merupakan sumber utama
penerimaan negara sebagaimana tertuang dalam
Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Di samping itu, pajak juga memiliki fungsi pengaturan
karena pajak dapat dijadikan sebagai instrumen untuk
mencapai tujuan tertentu. Sebagai contoh, ketika
pemerintah
berkeinginan
untuk
melindungi
kepentingan petani dalam negeri, pemerintah dapat
menetapkan pajak tambahan seperti pajak impor atau
bea masuk, atas kegiatan impor komoditas tertentu.
2.2.2 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Penerimaan
Pajak
Sebagai sumber utama penerimaan negara,
jumlah penerimaan pajak tentunya sangat penting
untuk mendukung jalannya pemerintahan. Para ahli
telah mengemukakan hal-hal apa saja yang dapat
mempengaruhi besarnya penerimaan pajak. Beberapa
di antaranya adalah sebagai berikut:
a. Ghura (1998,4) menyatakan bahwa Tax revenue
can also be influenced by the implementation of
structural reform.
b. George T. Abed (1998) menyatakan bahwa A
number of countries that have made progress in
structural reforms have benefited from technical
assistance aimed at increasing voluntary
compliance and self-assessment, expanding the
use of final withholding, improving collection
procedures, developing audit plans and
procedures, and reorganizing tax administration
along functional lines.
c. Purwiyanto dan Tity (2002) menyatakan bahwa
Penerimaan pajak di Indonesia dipengaruhi baik
oleh faktor eksternal seperti faktor ekonomi
makro, maupun oleh faktor internal seperti
kebijakan-kebijakan dan usaha-usaha yang
dilakukan Direktorat Jenderal Pajak. Faktor
ekonomi makro antara lain seperti pertumbuhan
ekonomi, tingkat inflasi, nilai tukar rupiah, harga
dan produksi minyak mentah internasional, dan
tingkat suku bunga. Sedangkan faktor internal
terkait kebijakan dan usaha Direktorat Jenderal
Pajak seperti kebijakan dasar pengenaan pajak
dan tarif pajak.
Beberapa ahli tersebut sepakat bahwa selain
faktor eksternal, faktor internal yaitu kebijakan dan
usaha yang dilakukan oleh otoritas pajak memiliki
pengaruh terhadap penerimaan pajak. Kebijakan dan

usaha tersebut salah


pemeriksaan pajak.

satunya

terkait

dengan

2.2.3 Pemeriksaan Pajak


Pelaksanaan pemeriksaan pajak didasari oleh
ketentuan dalam Pasal 29 dan 44 Undang-Undang
Nomor 6 Tahun 1983 sebagaimana telah diubah
terakhir dengan Undang-Undang Nomor 16 Tahun
2009 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara
Perpajakan, sedangkan ketentuan mengenai tata cara
pelaksanaannya diatur dalam Keputusan Menteri
Keuangan Nomor 545/KMK.04/2000 tentang Tata
Cara Pemeriksaan di Bidang Perpajakan.
Dalam aturan-aturan tersebut dijelaskan bahwa
Pemeriksaan
adalah
serangkaian
kegiatan
menghimpun dan mengolah data, keterangan, dan/atau
bukti yang dilaksanakan secara objektif dan
profesional berdasarkan suatu standar pemeriksaan
untuk menguji kepatuhan pemenuhan kewajiban
perpajakan dan/atau untuk tujuan lain dalam rangka
melaksanakan ketentuan peraturan perundangundangan perpajakan.
Adapun tujuan dilakukannya pemeriksaan adalah
sebagai berikut:
a. Menguji kepatuhan pemenuhan kewajiban
perpajakan:
SPT lebih bayar termasuk yang telah
diberikan pengembalian pendahuluan pajak;
SPT rugi;
SPT tidak atau terlambat (melampaui jangka
waktu yang ditetapkan dalam Surat Teguran)
disampaikan;
Melakukan
penggabungan,
peleburan,
pemekaran, likuidasi, pembubaran, atau akan
meninggalkan Indonesia untuk selamalamanya; atau
Menyampaikan SPT yang memenuhi kriteria
seleksi berdasarkan hasil analisis (risk based
selection)
mengindikasikan
adanya
kewajiban perpajakan WP yang tidak
dipenuhi
sesuai
ketentuan
peraturan
perundang-undangan perpajakan.
b.

Tujuan lain, yaitu:


Pemberian NPWP secara jabatan;
Penghapusan NPWP;
Pengukuhan Pengusaha Kena Pajak (PKP)
dan pencabutan PKP;
Wajib Pajak mengajukan keberatan;
Pengumpulan bahan untuk penyusunan
Norma Penghitungan Penghasilan Neto.
Pencocokan data dan/atau alat keterangan.
Penentuan Wajib Pajak berlokasi di daerah
terpencil.

Penentuan satu atau lebih tempat terutang


PPN.
Pemeriksaan dalam rangka penagihan pajak;
Penentuan
saat
mulai
berproduksi
sehubungan dengan fasilitas perpajakan dan/
atau;
Pemenuhan permintaan informasi dari negara
mitra Perjanjian Penghindaran Pajak
Berganda

Berdasarkan hasil pemeriksaan yang dilakukan


oleh Direktorat Jenderal Pajak, maka akan diterbitkan
suatu
surat
ketetapan
pajak,
yang
dapat
mengakibatkan pajak terutang menjadi kurang bayar,
lebih bayar, atau nihil. Berdasarkan pemeriksaan,
jenis-jenis ketetapan yang dikeluarkan adalah: Surat
Ketetapan Pajak Lebih Bayar (SKPLB), Surat
Ketetapan Pajak Kurang Bayar (SKPKB), Surat
Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan (SKPKBT),
dan Surat Ketetapan Pajak Nihil (SKPN). Di samping
itu dapat diterbitkan pula Surat Tagihan Pajak (STP)
dalam hal dikenakannya sanksi administrasi dapat
berupa denda, bunga, dan kenaikan.
3. PEMBAHASAN
3.1. Penelitian di Dalam Negeri
Berdasarkan hasil
review atas beberapa
penelitian yang relevan dengan penelitian terkait
pengaruh pemeriksaan pajak atas penerimaan pajak,
berikut ini merupakan simpulan dari beberapa
penelitian tersebut.
a. Aulian dan Pamungkas (2013) dalam jurnalnya
mengetahui pengaruh pemeriksaan pajak
terhadap kepatuhan pajak di Kantor Pelayanan
Pajak Pratama Jakarta Setiabudi Satu.
Kesimpulan dari penelitian tersebut adalah
walaupun pemeriksaan pajak yang dilaksanakan
sudah baik akan tetapi tidak berdampak baik
pada kepatuhan Wajib Pajaknya.
b. Juhara (2012) dalam skripsinya meneliti
pengaruh kegiatan pemeriksaan pajak dan
penagihan aktif terhadap penerimaan pajak pada
Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak Jawa
Tengah I. Hasil penelitian ini menunjukan
bahwa pemeriksaan pajak mempengaruhi
penerimaan pajak secara positif namun tidak
signifikan. Sedangkan penagihan aktif secara
signifikan mempengaruhi penerimaan pajak.
Kemudian pemeriksaan pajak dan penagihan
aktif secara bersama-sama memiliki pengaruh
signifikan yaitu sebesar 98% terhadap
penerimaan pajak.

c.

d.

e.

f.

g.

Sansari (2013) dalam skripsinya melakukan


penelitian atas pengaruh pemeriksaan pajak,
tindakan penagihan dan penyuluhan pajak atas
penerimaan pajak di Indonenesia. Dari penelitian
ini didapatkan kesimpulan bahwa kegiatan
pemeriksaan pajak di Indonesia memiliki
pengaruh yang tidak signifikan terhadap
penerimaan pajak. Namun, pemeriksaan pajak
bersama dengan tindakan penagihan dan
penyuluhan pajak dapat memberikan hasil yang
signifikan.
Prambudi (2007) dalam tesisnya meneliti
pengaruh pemeriksaan pajak, penagihan pajak
dengan surat paksa dan kepatuhan pelaporan
Surat Pemberitahuan Masa wajib pajak pada
penerimaan pajak di KPP Wajib Pajak Besar
Satu. Hasilnya diketahui bahwa pemeriksaan
pajak, penagihan pajak dengan surat paksa dan
kepatuhan pelaporan Surat Pemberitahuan
berpengaruh
secara
signifikan
terhadap
penerimaan pajak baik secara simultan maupun
parsial.
Syahab & Gisijanto (2008) dalam jurnal
ekonomi bisnis meneliti pengaruh penagihan
pajak dan surat paksa pajak terhadap penerimaan
Pajak Penghasilan badan. Hasil penelitian
menunjukan bahwa penagihan pajak dan surat
paksa secara simultan maupun parsial
berpengaruh
secara
signifikan
terhadap
penerimaan Pajak Pengahasilan badan.
Kamila (2010) dalam skripsinya melakukan
penelitian mengenai pengaruh tingkat kepatuhan,
pemeriksaan pajak serta perubahan penghasilan
pajak terhadap peningkatan penerimaan pajak
penghasilan Wajib Pajak orang pribadi di KPP
Pratama Surakarta. Dari penelitian ini
dedapatkan kesimpulan bahwa kepatuhan Wajib
Pajak, pemeriksaan dan perubahan Penghasilan
Kena Pajak berpengaruh positif terhadap
peningkatan penerimaan Pajak Penghasilan
orang pribadi secara signifikan.
Putri Handayani (2012) dalam skripsinya
melakukan penelitian atas Pengaruh Pemeriksaan
Pajak
terhadap
Kepatuhan
Pajak
dan
Implikasinya terhadap Self Assessment System.
Kesimpulan dari penelitian ini. Dalam penelitian
ini pemeriksaaan pajak yang baik akan diikuti
dengan kepatuhan pajak yang baik juga dan
kepatuhan pajak yang baik akan diikuti denga
penerapan self assessment yang baik juga. Hasil
dari penelitian ini adalah pemeriksaan pajak
berpengaruh signifikan terhadap kepatuhan pajak

dan kepatuhan pajak berpengaruh signifikan


terhadap self assessment system
3.2. Penelitian di Luar Negeri
Berikut ini merupakan simpulan dari beberapa
penelitian di luar negeri yang relevan dengan
penelitian terkait pengaruh pemeriksaan pajak atas
penerimaan pajak.
a. Ho dan Peter (1999) dalam jurnalnya melakukan
penelitian atas pengaruh pemeriksaan lapangan
kepatuhan wajib pajak dan penerimaan pajak di
Hongkong. Kesimpulan dari penelitian tersebut
adalah
pemeriksaan
memang
dapat
meningkatkan penerimaan pajak, namun tidak
dapat meningkatkan tingkat kepatuhan bagi
Wajib Pajak.
b. Adediran (2007) melakukan penelitian terhadap
pengaruh pemeriksaan dan investigasi terhadap
penerimaan pajak di Nigeria. Dari penelitian ini
diketahui bahwa permasalahan perjapakan paling
utama di Nigeria yaitu tax evasion dapat
dikurangi dengan signifikan dengan diadakannya
pemeriksaan, yang pada akhirnya dapat
meningkatkan pendapatan Negara dari pajak.
c. Yongzhi Niu (2010) dalam jurnalnya melakukan
penelitian atas pengaruh pemeriksaan dengan
kepatuhan wajib pajak dan penerimaan pajak di
Negara Bagian New York. Penelitian ini
menemukan hubungan positif antara audit dan
kepatuhan Wajib Pajak. Perusahaan yang diaudit
cemnderung melaporkan penghasilannya lebih
tinggi dari sebelumnya. Hal ini tentu akan
berdampak pada peningkatan penerimaan pajak
di tahun-tahun berikutnya.
d. Gemmel dan Ratto (2012) dalam jurnalnya
melakukan penelitian atas pengaruh pemeriksaan
yang dilakukan secara cak atas kepatuhan wajib
pajak di negara Inggris. Kesimpulan dari
penelitian tersebut adalah pemeriksaan yang
dilaksanakan secara acak atas WP yang patuh
justru akan menurunkan tingkat kepatuhan, dan
sebaliknya atas WP yang masuk kategori tidak
patuh.
4. KESIMPULAN
Terdapat banyak variasi kesimpulan dari
penelitian-penelitian yang mencoba mengidentifikasi
hubungan antara pengaruh pemeriksaan pajak atas
penerimaan pajak ataupun kepatuhan Wajib Pajak.
Namun, secara garis besar pelaksanaan pemeriksaan
pajak memberikan efek yang positif bagi penerimaan
pajak.

Beberapa penelitian terbaru yang dilaksanakan


oleh Juhara dan Sansari pada tahun 2012 dan 2013
menunjukkan adanya pengaruh yang positif, tapi tidak
signifikan. Namun, kedua penelitian tersebut
menyimpulkan bahwa bersama dengan kegiatan
penagihan, pemeriksaan dapat memberikan dapak
yang signifikan.
Terkait pengaruh pemeriksaan pajak atas
kepatuhan Wajib Pajak, penelitian-penelitian tersebut
juga memberikan kesimpulan yang berfariasi. Namun,
kebanyakan dari penelitian-penelitian tersebut
menunjukkan hasil yang positif dari hubungan
keduanya.
Terdapat penelitian yang menarik terkait topik
terakhir. Penelitian Gemmel dan Ratto (2012)
memiliki kesmipulan bahwa pemeriksaan yang
dilaksanakan secara acak atas WP yang patuh justru
akan menurunkan tingkat kepatuhan, dan sebaliknya
atas WP yang masuk kategori tidak patuh. Penelitian
tersebut menyarankan agar kegiatan pemeriksaan
pajak perlu dilaksanakan dengan berbasis risiko.
Sehingga, pemeriksaan diharapkan dapat dilaksanakan
atas Wajib Pajak yang tidak patuh saja.

DAFTAR REFERENSI
[1] Abed, George T. "Trade Liberalization and Tax
Reform in The Southern Mediterranean Region.
IMF. 1998
[2] Aulia, Rahma, dan Pmungkas, Hanggoro,
Analisis Pengaruh Pemeriksaan Pajak terhadap
Tingkat Kepatuhan Wajib untuk Memenuhi
Kewajiban Perpajakan di Kantor Pelayanan Pajak
Pratama Jakarta Setiabudi Satu. Universitas Bina
Nusantara. Jakarta. 2013.
[3] Direktorat Jenderal Pajak, Mari Pahami Fungsi
Pajak. 2013 Tersedia di:
http://www.pajak.go.id/content/mari-pahamifungsi-pajak
[4] Direktorat Jenderal Pajak, Target Pajak 2014
Tembus Diatas Seribu Triliun, Ini Strategi
Pencapaiannya. 2014 Tersedia di:
[5] Juhara, Citra, "Analisis Pengaruh Pemeriksaan
Pajak dan Penagihan Pajak terhadap Penerimaan
Pajak". STAN. 2012
[6] Gemmell,
Norman
dan
Ratto,
Marisa,
"Behavioral
Responses
To
Taxpayer
Audits:Evidence From Random Taxpayer
Inquiries". National Tax Journal. 2012
[7] Ghura, Daneshwar, "Tax Revenue in Sub-Saharan
African: Effect of Economic Policies and
Corruption. IMF. 1998

[8] Handayani, Putri, "Pengaruh Pemeriksaan Pajak


terhadap Keptuhan Pajak yang Berimplikasi
terhdap Self Assessment". Universitas Unikom
Bandung. Bandung: 2012
[9] Ho, Daniel dan Lau, Peter, "Tax audits in Hong
Kong". The International Tax Journal. 1999
[10] Kamila, Ichwanul , "Pengaruh Tingkat
Kepatuhan, Pemeriksaan Pajak serta Perubahan
PPh terhadap Peningkatan Penerimaan PPh Wajib
Pajak Orang Pribadi pada KPP Pratama
Surakarta". Universitas Sebelas Maret. 2010
[11] Keputusan
Menteri
Keuangan
Nomor
545/KMK.04/2000
tentang
Tata
Cara
Pemeriksaan di Bidang Perpajakan
[12] Niu, Yongzhi, "Tax audit impact on voluntary
compliance". New York State Department of
Taxation and Finance. 2010
[13] Prambudi, " Pengaruh Pemeriksaan Pajak,
Penagihan
Pajak
dengan
Surat
Paksa,
Kepatatuhan Pelaporan Surat Pemberitahuan
Masa Wajib Pajak pada Penerimaan Pajak di KPP
WP Besar Satu." Universitas Indonesia. 2007
[14] Purwiyanto dan Hernawati, Tity, Bunga Rampai
Kebijakan Fiskal. Departemen Keuangan. 2002
[15] Sansari, Arik. "Analisis pengaruh pemeriksaan
pajak, tindakan penagihan dan penyuluhan pajak
atas penerimaan pajak di Indonenesia". STAN.
2013
[16] S. A., Adediran dkk, "The Impact of Tax Audit
and Investigation on Revenue Generation in
Nigeria".European Journal of Business and
Management. 2013
[17] Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1983
sebagaimana telah diubah terakhir dengan
Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2009 tentang
Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan
http://www.pajak.go.id/node/8849?lang=en