Anda di halaman 1dari 21

BAB I

PENDAHULUAN

021 857 72 51

Setelah mendapat kesan mengetahui kesehatan penderita, membuat diagnosis penyakit kulit
dimulai dengan melihat aspek morfologi kelainan kulit.Dalam hal mempelajari kelainan kulit
sebaiknya dicoba untuk menentukan ciri dasarnya.

Dalam praktek sehari-hari pemeriksaan dan penentuan diagnosis sebaiknya dilakukan sebagai
berikut:

Bila penderita dating untuk pertama kali pada dokter dapat ditanyakan kepada penderita
berobat untuk penyakit atau keluhan apa.Sudah selayaknya bila penderita berobat untuk e

Dalam praktek sehari-hari pemerit


Dermatologi dapat dipelajari secara sistematis setelah PLENCK (1776), menulis
bukunya yang berjudul System der Hautkran. Berdasarkan ruam , penyakit kulit mulai
dipelajari secara sistematis. Sampai kini pemikiran PLENCK masih dipakai sebagai dasar
membuat diagnosis penyakit kulit secara klinis, walaupun ditambah dengan kemajuan
teknologi dibidang bakteriologi, mikologi, histopatologi, dan imunologi. Jadi untuk
mempelajari ilmu penyakit kulit mutlak diperlukan pengetahuan tentang ruam kulit atau
morfologi atau ilmu yang mempelajari lesi kulit.1,2,3
Efloresensi kulit dapat berubah pada waktu berlangsungnya penyakit. Proses tersebut
dapat merupakan akibat biasa dalam perjalanan proses patologik. Kadang-kadang perubahan
ini dapat dipengaruhi keadaan dari luar, misalnya trauma garukan dan pengobatan yang
diberikan, sehingga perubahan tersebut tidak biasa lagi. Dalam hal ini, gambaran klinis
morfologik penyakit menyimpang dari biasanya dan sulit dikenali.2,4
Menurut PRAKKEN (1996) Yang disebut efloresensi primer adalah makula, papul,
plak, urtikaria, nodus, nodulus, vesikel, bula, pustul, dan kista. Sedangkan yang dianggap
sebagai efloresensi sekunder adalah skuama, krusta, erosi, ulkus dan sikatriks. 1

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Efloresensi Kulit


Efloresensi adalah kelainan kulit yang dapat dilihat dengan mata telanjang (secara
obyektif), dan bila perlu dapat diperiksa dengan perabaan.1
Efloresensi kulit dapat berubah pada waktu berlangsungnya penyakit. Proses
tersebut dapat merupakan akibat biasa dalam perjalanan proses patologik. Kadang-kadang
perubahan ini dapat dipengaruhi keadaan dari luar, misalnya trauma garukan dan
pengobatan yang diberikan, sehingga perubahan tersebut tidak biasa lagi. Dalam hal ini,
gambaran klinis morfologik penyakit menyimpang dari biasanya dan sulit dikenali. Demi
kepentingan diagnosis penting sekali untuk mencari kelainan yang pertama (efloresensi
primer) yang biasanya khas untuk penyakit tersebut.2,3,4
Menurut PRAKEN (1966) yang disebut efloresensi (ruam) primer adalah macula,
papul, plak, urtika, nodulus, vesikel, bula, pustule dan kista. Sedangkan efloresensi
sekunder adalah skuama, krusta, erosi, ulkus dan sikatriks. 1
Untuk memperlajari macam-macam kelainan kulit lebih sistematis sebaiknya
dibuat pembagian menurut SIEMENS (1958) yang membaginya sebagai berikut :1
1. Setinggi permukaan kulit : makula
2. Bentuk peralihan, tidak berbatas pada permukaan kulit : eritema, telangiektasis
2

3. Diatas permukaan kulit : urtika, vesikel, bula, kista, pustule, abses, papul, nodus,
tumor, vegetasi
4. Bentuk peralihan, tidak berbatas pada suatu lapisan saja : sikatriks (hipertrofi dan
hipotrofi, anetoderma, erosi, ekskoriasi, ulkus, yang melekat diatas kulit (deposit),
skuama, sel-sel asing dan hasil metaboliknya, kotoran.

2.2 Klasifikasi Efloresensi


2.2.1. Efloresensi Primer
1) Makula adalah kelainan kulit berbatas tegas berupa perubahan semata-mata, seperti pada
tinea versikolor, morbus Hansen, melanoderma, leukoderma, purpura, petekie, ekimosis.4

2) Papul adalah Penonjolan diatas permukaan kulit, sirkumskip, berukuran diameter lebih kecil
dari cm, dan berisikan zat padat. Bentuk papul dapat bermacam-macam, misalnya
setengah bola contohnya pada eksem atau dermatitis, kerucut pada keratosis folikularis, datar
pada veruka plana juvenilis, datar dan berdasar poligonal pada liken planus, berduri pada
veruka vulgaris, bertangkai pada fibroma pendulans dan pada veruka filiformis. Warna
papul dapat merah akibat peradangan, pucat, hiperkrom, putih atau seperti kulit disekitarnya.
Beberapa infiltrat mempunyai warna sendiri yang biasanya baru terlihat setelah eritema yang
timbul bersamaan ditekan dan hilang (lupus, sifilis). Letak papul dapat epidermal atau
kutan.1,,2,3,

3) Eritema adalah Kemerahan pada kulit disebabkan pelebaran pembuluh darah kapiler yang
reversible.5

4) Nodus adalah massa padat sirkumskrip, terletak di kutan atau subkutan, dapat
menonjol, dengan diameter lebih dari 1 cm. Jika diameternya lebih kecil
daripada 1 cm disebut nodulus.1,2

5) Vesikel adalah gelembung berisi cairan serum, beratap, berukuran dengan


diameter kurang dari 1cm dan mempunyai dasar, vesikel berisi darah disebut
vesikel hemoragik.1,4

6) Bula adalah vesikel yang berukuran lebih besar, misalnya pada pemfigus, luka
bakar. Jika vesikel atau bula berisi darah disebut vesikel atau bula hemoragik.
Jika bula berisi nanah disebut bula purulen.4,5

7) Pustula adalah vesikel yang berisi nanah, bila nanah mengendap dibagian
bawah vesikel disebut vesikel hipopion.1,2

8) Urtikaria adalah penonjolan diatas kulit akibat edema setempat dan dapat
hilang perlahan-lahan, misalnya pada dermatitis medikamentosa, dan gigitan
serangga.1,3,5

9) Plak adalah peninggian di atas permukaan kulit, permukaaannya rata dan


berisi zat padat ( biasanya infiltrat), diameternya 2 cm atau lebih.1,2,4

10) Telangiektasis adalah pelebaran pembuluh darah kecil superficial (kapiler,


arteriol, dan venul) yang menetap pada kulit.6

11) Kista adalah ruangan berdinding dan berisi cairan, sel, maupun sisa sel. Kista
terbentuk bukan akibat peradangan, walaupun kemudian dapat meradang.
Dinding kista merupakan selaput yang terdiri atas jaringan ikat dan biasanya
dilapisi sel epitel atau endotel. Kista terbentuk dari kelenjar yang tertutup dan
melebar. Saluran kelenjar, pembuluh darah, saluran getah bening atau lapisan
epidermis. Isin kista terdiri atas hasil dindingnya, yaitu serum, getah bening,
keringat, sebum,sel-sel epitel, lapisan tanduk dan rambut.1,4,6

12) Tumor adalah penonjolan di atas permukaan kulit berdasarkan pertumbuhan


sel maupun jaringan .1

2.2.2. Efloresensi Sekunder


1) Skuama adalah lapisan stratum korneum yang terlepas dari kulit. Skuama
dapat halus sebagai taburan tepung, maupun lapisan tebal dan luas sebagai
lembaran

kertas.

Dapat

dibedakan,

misalnya

pitiriasiformis

(halus),

psoriasiformis (berlapis-lapis), iktiosiformis (seperti ikan), kutikular (tipis),


lamelar (berlapis), membranosa atau eksfoliativa (lembaran-lembaran), dan
keratolitik (terdiri atas zat tanduk).1,6

2) Krusta adalah cairan badan yang mengering. Dapat bercampur dengan


jaringan nekrotik, maupun benda asing (kotoran, obat dan sebagainya).
Warnanya ada beberapa macam yaitu kuning muda berasal dari serum, kuning
kehijauan berasal dari pus, dan kehitaman berasal dari darah.1,4

3) Ulkus adalah hilangnya jaringan yang lebih dalam dari ekskoriasi. Ulkus
mempunyai tepi, dinding, dasar, dan isi. Termasuk erosi dan ekskoriasi dengan
bentuk liniar ialah fisura, yakni belahan kulit yang terjadi oleh tarikan jaringan
disekitarnya, terutama terlihat pada sendi dan batas kulit dengan selaput
lendir.1,3,5

4) Erosi adalah kelainan kulit yang disebabkan kehilangan jaringan yang tidak
melampaui stratum basal. Contoh bila kulit digaruk sampai stratum spinosum
akan keluar cairan serosa dari bekas garukan, dermatitis kontak.1,2

5) Ekskoriasi adalah kerusakan kulit yang disebabkan oleh hilangnya jaringan


sampai dengan stratum papilare sehingga kulit tampak merah disertai bintikbintik perdarahan. Ditemukan pada dermatitis kontak.1

6) Fisura adalah hilangnya kontinuitas permukaan kulit atau mukosa secara


linier yang dihasilkan dari tegangan yang berlebihan atau turunnya elastisitas
jaringan. Fisura sering terjadi pada telapak tangan dan kaki dimana tebal
stratum korneum paling luas. 4

10

7) Parut (sikatriks) adalah pembentukan jaringan baru yang sifatnya lebih


banyak mengandung jaringan ikat untuk menganti jaringan yang rusak akibat
penyakit atau trauma dermis yang lebih dalam. Jaringan ikat ini dapat lebih
cekung dari kulit sekitar ( sikatrik atrofi ), dapat lebih menonjol ( sikatrik
hipertrofi ) dan dapat normal ( eutrofi)1,2

8) Atrofi adalah berkurangnya ukuran sel, jaringan, organ atau bagian tubuh.
Berkurangnya sel epidermal menyebabkan penipisan epidermis. Atrofi
epidermis tampak mengkilap, hampir transparan, seperti kertas tipis dan
keriput, dan mungkin tidak mempertahankan garis kulit normal. 4

9) Likenifikasi adalah penebalan kulit sehingga garis-garis lipatan atau relief


kulit tampak lebih jelas seperti pada neurodermatitis.1

11

10) Striae (Stretch mark) adalah depresi linear kulit yang biasanya berukuran
panjang beberapa sentimeter dan hasil dari perubahan ke colagen reticular
yang terjadi dengan peregangan kulit cepat. permukaan striae mungkin tipis
dan keriput. beberapa striae dan simetris didistribusikan sepanjang garis
belahan dada di dtermasuk daerah yang terlibat.3

12

11) Abses adalah kumpulan nanah dalam jaringan, bila mengenai kulit berarti
didalam kutis atas subkutis. Batas antara ruangan yang berisikan nanah dan
jaringan disekitarnya tidak jelas. Abses biasanya terbentuk dari infiltrat
radang. Sel dan jaringan hancur membentuk nanah. Dinding abses terdiri atas
jaringan sakit, yang belum menjadi nanah.1,4

12) Hiperpigmentasi adalah penimbunan pigmen berlebihan sehingga kulit


tampak lebih hitam dari sekitarnya. Misal, pada melasma dan pasca inflamasi.2
13) Hipopigmentasi adalah kelainan yang menyebabkan kulit menjadi lebih putih
dari sekitarnya, misal pada scleroderma dan vitiligo.2

13

2.2.3. Efloresensi Lainnya


1) Kanalikuli adalah ruam kulit berupa saluran-saluran pada stratum korneum,
yang timbul sejajar dengan permukaan kulit, seperti terdapat pada scabies.2
2) Milia (white head) adalah penonjolan diatas permukaan kulit yang berwarna
putih yang ditimbulkan oleh penyumbatan saluran kelenjar sebasea, seperti
pada akne sistika.5
3) Eksantema adalah ruam permukaan kulit yang timbul serentak dalam waktu
singkat dan tidak berlangsung lama, biasanya didahului demam.1
4) Fagedenikum adalah proses yang menjurus kedalam dan meluas (ulkus
tropikum, ulkus mole).1
5) Terebrans adalah proses yang menjurus kedalam.1
6) Monomorf adalah kelainan kulit yang pada satu ketika terdiri atas hanya satu
macam ruam kulit.4
7) Polimorf adalah kelainan kulit yang sedang berkembang, terdiri atas
bermacam-macam efloresensi.3
8) Eksantema Skarlatiniformis adalah erupsi yang difus dapat generalisata atau
lokalisata, berbentuk eritema numular.1
9) Eksantema morbiliformis adalah erupsi berbentuk eritema yang lentikuler.1
10) Galopans adalah proses yang sangat cepat meluas (Ulkus diabetikum
galopans).2,3
11) Roseola adalah eksantema lentikular berwarna merah tembaga seperti pada
sifilis dan frambusia.1,3,6
12) Guma adalah infiltrat sirkumskrip, menahun, destruktif dan menahun.1
13) Vegetasi adalah pertumbuhan berupa penonjolan-penonjolan bulat atau
runcing menjadi satu. Vegetasi dapat di bawah permukaan kulit, misalnya
pada tubuh. Dalam hal ini disebut granulasi, sperti pada tukak.1,4,5
14) Purpura adalah perdarahan didalam kulit berupa kemerahan yang tidak hilang
bila ditekan. Erupsi purpura dapat terjadi sebagai ekspresi tunggal alergi obat.
Biasanya simetris serta muncul didaerah sekitar kaki, termasuk pergelangan kaki
atau tungkai bawah. Erupsi berupa bercak sirkumskrip berwarna merah
kecoklatan dan disertai rasa gatal.1,2,6

14

2.3 Morfologi Kulit


Berbagai istilah ukuran, susunan kelainan/bentuk serta penyebaran dan lokalisasi
dijelaskan berikut ini.1,4
I.

Ukuran1

Miliar

: sebesar kepala jarum pentul

Lentikular

: sebesar biji jagung

Numular

: sebesar uang logam 5 rupiah atau 100 rupiah

Plakat

: lebih besar dari uang logam 100 rupiah/numular

II. Gambaran1,4
Linear: seperti garis lurus

Sirsinar atau anular: seperti lingkaran

15

Arsinar: seperti bulan sabit

Polisiklik: seperti pinggriran yang sambung menyambung

Korimbiformis

: susunan seperti induk ayam yang dikelilingi anak-

anaknya.

16

III. Bentuk1,2,3,4

Teratur

: bulat, lonjong, seperti ginjal dan sebagainya

Tidak teratur

: tidak mempunyai bentuk teratur

IV. Penyebaran dan lokasi1,2,4,5

Sirkumskrip

: berbatas tegas

Difus

: tidak berbatas tegas

Generalisata

: tersebar pada sebagian besar bagian tubuh

Regional

: mengenai daerah tertentu pada tubuh.

Universalis

: seluruh atau hampir seluruh tubuh ( 90%-100%).

Solitar

: hanya satu lesi.

Herpetiformis : vesikel berkelompok seperti pada herpes zoster.

Konfluens : dua atau lebih lesi yang menjadi satu.

Diskret : terpisah satu dengan yang lain.

Serpingiosa : proses yang menjalar ke satu jurusan diikuti oleh penyembuhan pada
bagian yang di tinggalkan.

Irisformis : eritema berbentuk bulat lonjong dengan vesikel warna yang lebih gelap
ditengahnya.

17

Simetrik : mengenai kedua belah tubuh yang sama.

Bilateral : mengenai kedua belah tubuh.

Unilateral : mengenai sebelah tubuh.

Menonjol : Papul, plak, nodul, kista, bentol, bekas luka, horn, komedo, kalsinosis

Tertekan : Erosi, ulkus, atrofi, poikiloderma, sinus, striae,burrow, sklerosis

Datar : Makula, patch, eritema, eritoderma,

Perubahan Permukaan : scale, krusta, ekskoriasi, fisura, likenifikasi, keratoderma,


eschar

Dipenuhi cairan : Vesikel, Bulla, Pustula, Furunkel, Abses

Vaskuler : Purpura, telangiektasis, infark

18

BAB IV
PENUTUP
Demikian isi dari Morfologi Kelainan Kulit yang dipaparkan dalam Refreshing ini.
Penulis mengakui masih banyak kekurangan dalam Laporan Refreshing ini.
Penulis mengucapkan terima kasih kepada pembimbing dr. Bowo Wahyudi, Sp. KK
yang telah memberikan masukan dalam pembuatan laporan Refreshing ini.
Semoga laporan ilmu yang didapat dari laporan refreshing ini dapat bermanfaat bagi
pembaca pada umumnya dan penulis

19

DAFTAR PUSTAKA

1. Budimulja, Unandar. Morfologi dan Cara Membuat Diagnosis : Ilmu Kulit Kelamin.
Ed. 5.Balai penervitan FKUI. Jakarta: Universitas Indonesia 2009. halaman 34-42
2. Siregar, R.S. 2005. Cara Menegakkan Diagnosis Penyakit Kulit : Atlas Berwarna
Saripati Penyakit Kulit Edisi Kedua. EGC : Jakarta 2004. hal1-9
3. Hunter, John, John Savin,et al.Clinical Dermatology 3rd Edition. Blackwell Science :
Australia 2002. Hal 37-48
4. Wolff Klaus, Lowell A Goldsmith, et al . Fitzpatricks Dermatology in General
Medicine. Edisi 6. McGraw-Hill Company : USA 2008. halaman 12-26
5. Wolff Klaus, Johnson Allen Richard . fitzpatricks color atlas and synopsis of clinical
dermatology. Ed 6. Salemba medika. : Jakarta 2009. Hal 15-35
6. Arnold HL, Odom RB, James WD. 1990. Andrews Disease of the Skin, Clinical
Dermatology, 8th edition. WB Saunders Company : Philadelphia 1996. Hal 37-46

20

21