Anda di halaman 1dari 15

STUDI ETNOBOTANI ROTAN SEBAGAI BAHAN KERAJINAN

Oleh:
Ana Diana
Lambang Sari
Prihanto Arif H
Tri Nir Malayanti
Abdul Malik

B1J010200
B1J010203
B1J010212
B1J010214
B1J010238

TUGAS TERSTRUKTUR ETNOBOTANI

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS BIOLOGI
PURWOKERTO
2013

I.

PENDAHULUAN

Indonesia dikenal sebagai negara yang memiliki keanekaragaman tumbuhan


yang tinggi dengan kekayaan sumber daya alam yang sangat melimpah. Beberapa
daerah memiliki beragam jenis tumbuhan etnik yang mencirikan eksistensi suku
bangsa di daerah tersebut. Nurhidayati (2009) menyatakan, pemanfaatan dan
pengelolaan keragaman hayati sangat bervariasi dan dipengaruhi oleh faktor budaya,
nilai sosial, perbedaan lokasi, implementasi pembangunan wilayah dan akses
terhadap informasi dan teknologi.
Manfaat yang diambil dari kekayaan tumbuhan Indonesia antara lain hasil
hutan berupa kayu, tumbuhan pangan, tumbuhan obat, dan juga tumbuhan untuk
pembuatan kerajinan. Salah satu sumber hasil hutan non-kayu yang dimanfaatkan
oleh masyarakat adalah spesies-spesies rotan yang banyak digunakan baik sebagai
bahan kerajinan, anyaman, keperluan tali temali maupun perabot rumah tangga.
Pengetahuan tradisional tentang pemanfaatan tumbuhan banyak yang telah hilang
keberadaannya, berarti hilangnya kearifan tradisional atau banyak tumbuhan yang
belum sempat diketahui atau dikaji informasinya sudah mengalami erosi oleh karena
kondisi perubahan dengan cepat di lingkungan mereka. Sistem pengetahuan yang
berasal dari adanya interaksi dengan lingkungan alam berjalan lama, umumnya
memiliki tatanan yang disepakati bersama (pranata), norma adat, merupakan bukti
fundamental dari kondisi sosial budaya suatu kelompok masyarakat.
Makalah ini membahas mengenai pemanfaatan rotan sebagai bahan kerajinan.
Rotan merupakan kelompok jenis tumbuhan hutan dari suku palmae, yang tumbuh
secara alami disebagian besar di hutan tropika. Rotan merupakan hasil alam yang
potensial untuk dikembangkan sebagai bahan kerajinan. Selain itu, rotan juga
memberikan berbagai manfaat langsung bagi manusia, sebagai contoh masyarakat

pedalaman Siberida tersebut juga memanfaatkan rotan sebagai bahan pengikat dalam
pembuatan rumah. Rotan merupakan salah satu sumber hayati Indonesia, penghasil
devisa negara yang cukup besar. Sebagai negara penghasil rotan terbesar, Indonesia
telah memberikan sumbangan sebesar 80% kebutuhan rotan dunia. Dari jumlah
tersebut 90% rotan dihasilkan dari hutan alam yang terdapat di Sumatra, Kalimantan,
Sulawesi, dan sekitar 10% dihasilkan dari budidaya rotan. Nilai ekspor rotan
Indonesia pada tahun 1992 mencapai US$ 208,183 juta (Kalima, 1996). Menurut
hasil inventarisasi yang dilakukan Direktorat Bina Produksi Kehutanan, dari 143 juta
hektar luas hutan di Indonesia diperkirakan hutan yang ditumbuhi rotan seluas
kurang lebih 13,20 juta hektar, yang tersebar di Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Jawa
dan pulau-pulau lain yang memiliki hutan alam. Di Indonesia terdapat delapan marga
rotan yang terdiri atas kurang lebih 306 jenis, hanya 51 jenis yang sudah
dimanfaatkan. Hal ini berarti pemanfaatan jenis rotan masih rendah dan terbatas pada
jenis-jenis yang sudah diketahui manfaatnya dan laku di pasaran. Rotan merupakan
hasil hutan yang potensial untuk dikembangkan sebagai bahan perdagangan, baik
untuk kebutuhan dalam negeri maupun untuk ekspor.

II.

PEMBAHASAN

Rotan adalah salah satu tumbuhan yang secara alami tumbuh pada hutan
primer maupun hutan sekunder termasuk di kawasan bekas perladangan berpindah
dan semak belukar. Rotan tergolong dalam spesies tumbuhan pemanjat yang
memerlukan pohon inang untuk proses pertumbuhannya. Kata rotan dalam Bahasa
Melayu berasal dari kata raut yang berarti mengupas, menguliti atau menghaluskan
(Dransfield dan Manokaran, 1996).
Tellu (2002) menyatakan bahwa pengelompokan jenis-jenis rotan umumnya
didasarkan atas persamaan ciri-ciri karakteristik morfologi organ tanaman, yaitu:
akar, batang, daun, bunga, buah dan alat-alat tambahan. Dalam ilmu taksonomi
tumbuhan, rotan diklasifikasikan sebagai berikut:
Kingdom

: Plantae

Subkingdom

: Tracheobionta (tumbuhan berpembuluh)

Divisi

: Spermatophyta

Sub Divisi

: Angiospermae

Kelas

: Monocotyledoneae

Ordo

: Arecales

Famili

: Palmae (Arecaceae)

Sub Famili

: Calamoideae

Genus

: Calamus

Spesies

: Calamus caesius (rotan sega) merupakan salah satu contoh spesies

genus Calamus .
Selain genus Calamus, genus lainnya yang termasuk ke dalam Sub Family
Calamoideae adalah Karthalsia dan Daemonorops. Salah satu spesies dari genus

Daemonorops adalah Daemonorops robusta Warb (rotan bulu rusa), sedangkan salah
satu genus Korthalsia adalah Korthalsia schaphigera.
Secara umum rotan dapat tumbuh pada berbagai keadaan, seperti di rawa,
tanah kering, dataran rendah, pegunungan, tanah kering berpasir, tanah liat berpasir
yang secara periodik digenangi air atau sama sekali bebas dari genangan air.
pengelompokan jenis-jenis rotan umumnya didasarkan atas persamaan ciri-ciri
karakteristik morfologi organ tanaman, yaitu: akar, batang, daun, bunga, buah dan
alat-alat tambahan. Diperkirakan lebih dari 516 jenis rotan terdapat di Asia Tenggara,
yang berasal dari 8 genera, yaitu untuk genus Calamus 333 jenis, Daemonorops 122
jenis, Khorthalsia 30 jenis, Plectocomia 10 jenis, Plectocomiopsis 10 jenis,
Calopspatha 2 jenis, Bejaudia 1 jenis dan Ceratolobus 6 jenis (Dransfield dan
Manokaran, 1996). Dari 8 genera tersebut dua genera rotan yang bernilai ekonomi
tinggi adalah Calamus dan Daemonorops.
Pengolahan rotan untuk kerajinan maupun untuk bahan lain yaitu dengan
pemisahan rotan bulat menjadi bagian-bagian rotan seperti kulit dan hati, yang
masing-masing bahan tersebut diolah lagi sesuai tujuan dan pemanfaatannya. Bagian
kulit dan teras rotan dapat dimanfaatkan dalam pembuatan kerajinan tikar, tali dan
keranjang. Batang rotan sebagai bahan baku mebel, misalnya kursi, meja tamu, serta
rak buku. Rotan memiliki beberapa keunggulan daripada kayu, seperti ringan, kuat,
elastis / mudah dibentuk, serta murah.
Salah satu masyarakat yang sampai saat ini masih memanfaatkan rotan adalah
Suku Anak Dalam (SAD) yang bermukim di Dusun III Senami, Desa Jebak,
Kecamatan Muara Tembesi, Kabupaten Batanghari, Propinsi Jambi. Mereka
memanfaatkan rotan terutama untuk membuat kerajinan tradisional seperti anyaman.
Warga SAD ini memiliki keterampilan khusus dalam mengubah dan menambah nilai

ekonomi rotan dengan cara mengubahnya menjadi barang kerajinan yang memiliki
nilai lebih tinggi. Hasil kerajinan SAD di Senami ini tidak hanya berbentuk anyaman
pada umumnya, namun lebih bervariasi. Misalnya mereka merangkai rotan tersebut
menjadi hiasan berupa bunga, tempat pena, hiasan dinding, tiruan binatang, dan
sebagainya.
Tabel 1. Jenis-jenis rotan yang ditemukan di Dusun III Senami Desa Jebak
(Jumiati dkk., 2012).

Pada dasarnya, tidak ada pengkhususan rotan tertentu hanya digunakan untuk
membuat satu jenis kerajinan anyaman tertentu saja, atau sebaliknya, suatu anyaman
hanya dapat dibuat dari satu jenis rotan tertentu saja. SAD di Dusun III Senami
memilih rotan yang digunakan sebagai bahan kerajinan anyaman berdasarkan
beberapa hal, yaitu diameter batang, kelenturan, serta kehalusan serat dan warna
alami yang dihasilkan oleh batang rotan itu sendiri. Masing-masing rotan mempunyai
kelebihan masing-masing (Jumiati dkk., 2012).
Produk Kerajinan anyaman dikelompokkan menjadi dua yaitu anyaman hasil
kreasi (asli) dan anyaman hasil modifikasi (pengembangan). Hasil kreasi maksudnya
anyaman tersebut merupakan karya asli dimana bentuk, ukuran, dan fungsinya tidak
mengalami perubahan dari dulu hingga sekarang. Sedangkan hasil modifikasi adalah
anyaman karya asli yang dihasilkan dikembangkan (dimodifikasi) dengan merubah
ukuran, bentuk maupun fungsinya sesuai kebutuhan. Kerajinan anyaman hasil kreasi
antara lain berupa ambung, tanggok, keruntung, tengkalang, lukah, nyiru, bakul,
panepok lalat, lekar, wadah ikan, dan cincin pengikat.
Ambung merupakan anyaman khas SAD yang mereka gunakan sebagai alat untuk
membawa kayu bakar, sayuran, buah-buahan atau piring dan pakaian yang telah
dicuci di sungai, dan sebagai tempat menumbuk Jernang. Ambung bentuknya
menyerupai bakul dengan permukaan atas bulat namun dasarnya tidak bulat, tapi
persegi empat yang sudut-sudutnya menumpul. Alat ini juga dilengkapi kuping,
yaitu bagian yang dibuat pada sisi berlawanan (kanan-kiri) yang digunakan untuk
mengikat

kain

atau

kulit

kayu

yang

berfungsi

sebagai

tali,

untuk

disampirkan/disangkutkan di bagian depan kepala (Ernawati, 2009).


Tanggok merupakan anyaman rotan yang berbentuk silinder yang dibelah
membujur, dengan anyaman tidak terlalu rapat (terdapat celah antar batang

anyaman). Tanggok ini digunakan sebagai alat penangkap ikan atau udang di
sungai.
Keruntung merupakan anyaman yang berbentuk seperti bakul namun berukuran
besar. Bahan utama dari keruntung ini adalah rotan, baik untuk pengapit maupun
batang anyamannya.

Keruntung dibuat dengan anyaman yang sangat rapat.

Anyaman ini biasanya digunakan untuk membawa beras, buah-buahan, atau


bahkan kayu bakar.
Tengkalang merupakan anyaman yang berupa wadah tanpa penutup dengan
anyaman yang jarang/tidak rapat seperti pada ambung, namun bentuknya seperti
mangkuk.

Alasnya

lebih

kecil

daripada

permukaan

atas

(mulut

tengkalang).anyaman ini digunakan untuk membawa hasil panen dari kebun atau
hutan seperti buah dan sayuran. Tengkalang dibuat modifikasinya menjadi
berukuran kecil untuk hiasan, vas bunga, dan souvenir khas SAD.
Lukah, adalah nama yang diberikan untuk anyaman rotan yang digunakan untuk
menjerat ikan.
Nyiru merupakan anyaman yang digunakan untuk menampi beras, juga dapat
digunakan untuk alas menjemur kerupuk, nasi sisa, asam hutan, dan sebagainya.
Nyiru berbentuk segi empat tak beraturan, terbuat dari rotan dan bambu. Bakul
adalah anyaman yang terbuat dari rotan (sebagai pengapit) dan bambu (batang
anyaman). Bakul berukuran lebih kecil dibadingkan keruntung, biasa digunakan
sebagai tempat nasi atau tempat mencuci beras.
Panepok lalat merupakan anyaman sederhana yang berbentuk seperti raket,
dengan kepala seperti anyaman dinding rotan. Ukurannya kecil dengan tangkai
yang panjang. Ada juga lekar yang dimodifikasi, berukuran kecil, diberi
gantungan besi untuk gantungan kunci atau tas. Lekar adalah anyaman rotan
berbentuk melingkar untuk alas tempat kuali atau periuk.
Cincin pengikat adalah anyaman sederhana berupa jalinan rotan yang berbentuk
melingkar seperti gelang atau cincin, biasa digunakan sebagai pengikat sapu lidi.

Jenis-jenis anyaman modifikasi antara lain sarang samprong, keladi hutan,


melati rimbo, udang rotan, vas bunga,bunga talipok, dan penutup lampu.
Sarang samprong, merupakan modifikasi dari tutup lukah. Anyaman ini
digunakan untuk hiasan, bila dalam jumlah banyak dan diberi tangkai panjang,
sarang samprong dapat dirangkai seperti bunga, dan dalam bentuk tunggal sarang
samprong digunakan sebagai hiasan berupa pin maupun mainan tas.
Keladi hutan adalah anyaman hasil modifikasi yang berbentuk seperti daun keladi
yang dimodifikasi sebagai bunga yang lengkap dengan tangkai dan daun, maupun
hanya bagian keladi saja yang digunakan sebagai pin.
Melati rimbo, adalah hasil kreasi dan modifikasi berbentuk bunga dengan 4 atau 5
daun mahkota, dimodifikasi sebagai bunga yang memiliki batang, tangkai dan
daun dan digunakan sebagai hiasan.
Udang rotan merupakan anyaman kreasi yang cukup rumit. Udang rotan
dimodifikasi dari segi ukuran, ada yang besar (panjang 30 cm ), sedang 20 cm
dan kecil 12 cm. Udang semua ukuran ini digunakan sebagai hiasan.
Vas bunga merupakan produk anyaman hasil kreasi dan modifikasi. Pengerjaan
untuk membuat vas bunga ini relatif rumit dan sulit. Anyaman jenis ini berbentuk
sebagaimana vas atau guci tembikar pada umumnya, namun vas ini terbuat dari
rotan. Anyaman ini digunakan sebagai vas/tempat bunga atau sebagai
hiasan/pajangan (Jumiati dkk., 2012).

Gambar 1. Beberapa contoh anyaman rotan kreasi khas SAD di Dusun III
Senami
Rotan juga dimanfaatkan oleh masyarakat Kecamatan Bunut Hulu Kabupaten
Kapuas Hulu Kalimantan. Berdasarkan Kabupaten Kapuas Hulu Dalam angka (2010)
produksi 165 rotan dari berbagai jenis di kabupaten Kapuas Hulu pada tahun 2009
mencapai 563,8 ton turun dibanding dengan produksi tahun sebelumnya sebesar
1.351 ton. Indikasi penurunan ini diduga akibat adannya deforestrasi kawasan hutan
dan eksploitasi tanaman rotan melebihi kemampuan tanaman tersebut untuk
berproduksi secara lestari. Pemungutan hasil rotan yang diperoleh dari hutan,
merupakan suatu pekerjaan yang dilakukan masyarakat sekitar, dalam hal
pemenuhan kebutuhan sehari-hari saja, sebagai contoh untuk keperluan dalam
pembuatan alat-alat rumah tangga atau kerajinan. Pemungutan rotan oleh masyarakat
setempat dilakukan dengan cara yang sangat sederhana, yaitu dengan cara memilih
rotan yang akan diambil kemudian digosok hingga bersih. Cara ini memang
memerlukan waktu yang cukup lama tetapi cara ini menghasilkan rotan yang bersih.
Pengolahan pertama yang dilakukan di hutan merupakan langkah awal yang sangat
penting dalam hal penentuan kualitasnya karena bila rotan sudah dalam keadaan
kering maka sukar untuk diulangi lagi (Sujoko, 2009).
Rotan yang baik untuk di ambil adalah rotan yang tua atau masak tebang.
Tetapi umumnya rotan yang berdiameter kecil dengan umur 7 10 tahun sudah
cukup memadai untuk kualitas perdagangan. Untuk rotan yang berbatang tunggal
umumnya pemungutan dilakukan hanya satu kali, lalu dilakukan peremajaan dengan
daurnya sekitar 25 - 30 tahun. Pemanfaatan rotan oleh masyarakat sekitar hanya
sebagai bahan baku untuk kerajinan tangan, hasilnya digunakan untuk keperluan
pribadi. Sebagian besar rotan yang dimanfaatkan masyarakat sekitar adalah rotan

yang berdiameter kecil, sedangkan rotan yang berdiameter besar masih tersedia
dalam jumlah besar dan jarang sekali dimanfaatkan (Sujoko, 2009).
Pemanfaatan rotan di Sungai Tenungun utuk kerajinan maupun perabot
kebutuhan sehari-hari yaitu, rotan petit untuk bahan pengikat dengan cara dibelah
dalam kondisi masih segar, rotan sega untuk bahan, rotan sega untuk
bahanpembuatan keranjang, tikar dan kerajinan anyaman, rotan marau untuk
pembuatan kursi, rotan dahan untuk pembuatan alat penangkap ikan, dan rotan lowa
untuk bahan pembuatan keranjang dan tali (Sujoko, 2009).
Usaha kerajinan rotan juga terdapat di Desa Palampitan Hilir. Usaha ini sudah
berlangsung lama sejak tahun 2003 sampai sekarang dan dilaksanakan secara turuntemurun. Produk yang banyak diusahakan antara lain Lampit Lupu dengan bahan
baku berupa rotan dan kulit kayu (talimbaran). Rotan yang digunakan ada dua
macam, yaitu rotan merah dan rotan biasa. Lampit lupu yang dibuat dengan
menggunakan bahan baku rotan merah dan kulit kayu (talimbaran) kemudian
dianyam sesuai ukuran yang dikehendaki dimana ukuran 3 x 4 m dan 1 x 2 m paling
banyak diproduksi.Lampit lupu yang lainnya antara lain : lupu jarang, yaitu kulit
kayu, lupu tali rotan adalah campuran antara rotan biasa dengan kulit kayu secara
bersama dianyam, lupu tali lupu yaitu cara pembuatannya sama-sama rotan merah
dianyam, dan lupu rapat yaitu anyamannya lebih rapat dari pada lupu biasa yang
diteliti tersebut (Gunawansyah, 2008).
Permasalahan yang dihadapi oleh para pengrajin adalah penyediaan bahan
baku yang sering mengalami hambatan, baik dalam hal cuaca ataupun perubahan
harga, mengingat pengambilan bahan baku yang jauh dari lokasi pengrajin. Oleh
karena, itu pengrajin banyak yang bekerja setiap hari karena menunggu bahan baku
yang datang. Maka dikatakan pekerjaan tersebut sambilan. Permasalahan dalam

transportasi adalah perjalanannya yang jauh sekitar 2 sampai

3 jam pengambilan

bahan baku tersebut. Sedangkan masalah harga bahan baku tergantung musim, pada
musim hujan bahan baku sangat sulit dicari dan mahal sekali. Sedangkan pada
musim panas bahan baku mudah dicari dan harganya lebih murah dibandingkan pada
musim hujan, bahkan ada yang mengantarkan bahan baku tersebut ke tempat
pengrajin atau menawarkannya (Gunawansyah, 2008).

III.

PENUTUP

Rotan merupakan produk hasil hutan bukan kayu yang berperan penting dalam
meningkatkan pendapatan masyarakat sekitar hutan. Laju pemanenan yang begitu
cepat perlu diimbangi dengan upaya pelestarian berupa pemanenan dan efisiensi
pemanfaatan. Hal tersebut sangat diperlukan agar kesinambungan pasokan bahan
baku terjamin. Selain itu, perlu dilakukan pemahaman potensi hutan yang tersedia
melalui pengenalan dan pemanfaatan jenis-jenis rotan yang terdapat di Indonesia.

Dari 306 jenis rotan yang terdapat di Indonesia baru 51 jenis saja yang dimanfaatkan
secara komersial.

DAFTAR REFERENSI
Dransfield, J. dan Manokaran, N. 1996. Rotan Sumber Daya Nabati Asia Tenggara 6
PROSEA. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.
Ernawati, E. 2009. Etnobotani Masyarakat Suku Melayu Daratan (Studi Kasus di
Desa Aur Kuning, Kecamatan Kampar Kiri Hulu, Kabupaten Kampar,
Provinsi Riau). Skripsi. Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan
dan Ekowisata Fakultas Kehutanan IPB, Bogor.
Gunawansyah. 2008. Analisis Usaha Pembuatan Lampit Lupu di Desa Palampitan
Hilir Kecamatan Amuntai Tengah Kabupaten Hulu Sungai Utara
Kalimantan Selatan. Program Studi Manajemen Hutan Fakultas
Kehutanan Universitas Lambung Mangkurat Banjarbaru.
Jumiati dkk. 2012. Studi Etnobotani Rotan Sebagai Bahan Kerajinan Anyaman Pada
Suku Anak Dalam (SAD) di Dusun III Senami, Desa Jebak,
Kabupaten Batanghari, Jambi. Biospecies, vol 5 (1). 33-41.
Nurhidayati, Tutik. 2009. Ethnobotanical and Plant Profile Studies at Karimunjawa
Village of Jepara Regency, Central Java. IPTEK, The Journal for
Technology and Science, vol 20. (1).
Sujoko Siswo. 2009. Pendugaan Potensi Rotan Di Kawasan Hutan Produksi Terbatas
(HPT) Kelompok Hutan Sungai Tenungun Kecamatan Bunut Hulu
Kabupaten Kapuas Hulu Kalimantan Barat. Biospecies, vol 3. (1).
164-173.
Tellu, A.T. 2002. Kunci Identifikasi Rotan Berdasarkan Struktur Anatomi Batang,
Biodiversitas, 6(2).

TUGAS KELOMPOK
Ana Diana
Mencari Jurnal+Daftar Referensi
Lambang Sari
Pendahuluan
Prihanto Arif H
Membahas Jurnal 1
Tri Nir MalayantiMembahas Jurnal 2+ppt
Abdul Malik
Membahas jurnal 3