Anda di halaman 1dari 27

BAB I

PENDAHULUAN

I.1. Latar Belakang


Metode

geolistrik

merupakan

salah

satu

metode

geofisika

yang

memanfaatkan sifat kelistrikan pada batuan dan bagaimana untuk dapat


mendeteksinya di atas permukaan. Sifat dari metode geolistrik ialah aktif, dimana
memerlukan penginjeksian arus kedalam permukaan bumi yaitu dengan metode
resistivitas dan polarisasi terimbas (Induced Polarization). Pada metode ini, arus
listrik diinjeksikan kedalam permukaan bumi melalui dua buah elektroda arus dan
dilakukan pengukuran beda potensial melalui dua buah elektroda potensial. Dari
hasil pengukuran arus dan beda potensial listrik akan dapat dihitung variasi harga
resistivitas pada lapisan permukaan bumi di bawah titik ukur dengan
menggunakan alat resistivitymeter.
Dalam pengukurannya, metode Geolistrik memiliki beberapa konfigurasi
yang salah satunya adalah konfigurasi

Schlumberger. Dimana Konfigurasi

schlumberger ini dapat mendeteksi adanya sifat ketidak homogenan suatu lapisan
batuan pada permukaan, dan dapat mengukur parameter-parameter seperti jarak
antar stasiun dengan elektroda- elektroda (AB/2 dan MN/2), arus (I), dan beda
potensial (V). Serta parameter yang dihitung : Tahanan jenis (R), Faktor
geometrik (K) dan Tahanan jenis semu ().

I.2. Maksud dan Tujuan


Maksud dari acara praktikum ini adalah untuk dapat memahami proses
pengolahan data konfigurasi schlumberger menggunakan Microsoft Excel maupun
pengolahan dengan menggunakan software IP2Win. Tujuan dari acara praktikum
kali ini untuk mengetahui keadaan bawah permukaan dengan membuat curve
matching dengan menggunakan software IP2Win, dapat membuat profil bawah
permukaan, serta dapat mengorelasikan profil bawah permukaan.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

II.1. Geologi Regional


Berdasarkan sosiografi regional, kondisi geomorfologi daerah penelitian
berada di zona pegunungan selatan Jawa Tengah-Jawa Timur (Van Bemmellen,
1949). Pegunungan ini menurut Van Bemmellan dibagi menjadi tiga sub zona,
yaitu: Zona Utara, disebut Zona Baturagung dengan ketinggian 200-700 m diatas
permukaan laut, meliputi Kecamatan Patuk, Nglipar, Gendangsari, Ngawen,
Semin, dan Pojong bagian utara. Zona Tengah, disebut Zona Ledoksari dengan
ketinggian 150-200 m diatas permukaan laut meliputi Kecamatan Playen,
Wonosari, Karangmojo, Pojong bagian tengah dan Semanu bagian utara. Zona
Selatan, disebut Zona Gunung Seribu dengan ketinggian 100-300 m diatas
permukaan laut, meliputi Kecamatan Pangang, Paliyan, Tepus Saptosari,
Rongkop, Semanu bagian selatan dan Pojong bagian selatan.
Sub zona Gunungsewu merupakan perbukitan karst berporos relatif barattimur, dengan beda ketinggian 10-100 m. Bukit-bukit kapur yang berjajar di
dalamnya berdiameter 50-300 m. Meskipun luas keseluruhannya lebih kurang
1.485 km2, area Gunungkidul yang berada di daerah karst hanya kurang lebih
800 km2 (sisi selatan), terdiri dari kurang lebih 45.000 bukit besar dan kecil
(jumlah ini ditaksir dari foto udara).
Stratigrafi Regional daerah penelitian berada pada daerah pegunungan
selatan yang berumur diperkirakan berumur Tersier. Batuan tertua yang
tersingkap di Kabupaten Gunungkidul yang berumur Eosen akhir hingga miosen
awal. Batuan penyusun dari batuan dasar ini adalah Formasi Gamping Wungkal,
Formasi Kebobutak, Formasi Mandalika, Formasi Semilir, Formasi Nglanggran,
Formasi Sambipitu, Formasi Wuni, Formasi Oyo. Kemudian diatasnya
diendapkan Formasi Wonosari, dan Formasi Kepek.
1. Formasi Wungkal Gamping
Menempati bagian terkecil sebarannya dibagian Timur Laut dan daerah
Inventarisasi. Batuan penyusunnya dibagian bawah napal pasiran dengan lensa

batugamping, sedangkan bagian atasnya perselingan batupasir, batulanau, dan


lensa batugamping.
2. Formasi Mandalika
Dijumpai setempat dengan sebaran terbatas dibagian Timur Laut daerah
Inventerisasi.

Batuan

pembentuknya

umumnya

leleran

piroklastik

yang

diendapkan dilingkungan darat, dicirikan oleh lava andesit dan tuff dasit dengan
retas diorit. Umur batuan tersebut diperkirakan Oligosen Akhir (Sartono, 1964)
atau mungkin hingga Miosen Awal. Formasi Mandalika tersebut tertindih oleh
satuan batuan yang berumur Miosen yang termasuk dalam formasi Wuni, Formasi
Semilir dan Formasi Wonosari. Nama lain satuan ini adalah Old Andesite
Formation (Bemmellen, 1949).
3. Formasi Nglanggran
Terdiri dari breksi gunung api, angglomerat dan lava andesit-basalt dan
tuff. Batuan ini menempati bagian utara daerah Inventarisasi tersingkap di Sungai
Dengkeng, Kecamatan Nglipar. Batuan pembentuk utamanya breksi gunung api,
tidak berlapis, dengan komponen dari batuan andesit hingga basal, berukuran 2
hingga 50 sentimeter. Lensa batugamping koral terdapat di bagian tengah dari
satuan ini. Batupasir

gunung api epiklastika dan tuff berlapis baik terdapat

sebagai sisipan dan sebarannya setempat. Struktur sedimen perairan sejajar,


perlapisan bersusun, dan cetakan beban memberikan indikasi adanya aliran
longsoran (debris flow). Pada lapisan bagian atas permukaannya ererosi yang
menunjukan adanya arus kuat. Hadirnya batugamping koral menunjukkan
lingkungan laut. Lingkungan pengendapan batuan ini adalah laut yang disertai
dengan longsoran bawah laut.
Formasi semilir ditindih selaras oleh satuan batuan gunung api yang
dikenal sebagai Formasi nglanggaran. Satuan ini tidak mengandung fosil, dan
umurnya diduga akhir Miosen Awal hingga permulan Miosen Tengah
(Samosusastro, 1956). Formasi Nglanggaran berlokasi tipa di Gunung
Nglanggran, di Pematnag Baturagung Utara Wonosari. Formasi

Nglanggran

berumur Miosen Awal hingga Miosen Tengah, ketebalannya sekitar 530 meter,
Formasi ini menjemari dengan Formasi semilir, tertindih selaras dengan formasi

Sambipitu, selanjutnya tertindih tidak selaras dengan Formasi Oyo dan Formasi
Wonosari.

4. Formasi Semilir
Tediri dari tuff, breksi batuapung dasitan, batupasir tuffaan dan serpih
batuan ini menempati bagian utara dari bagian daerah inventarisasi. Formasi ini di
bagian bawahnya mempunyai struktur sedimen berlapis baik, perairan, silangsiur
berskala

menengah dan permukaan erosi. Lignit yang berasosiasi dengan

batupasir tufa gampingan dan kepingan koral pada breksi gunung api mewarnai
satuan ini pada bagian tengan. Bagian atas satuan ini terdapat batulempung dan
serpih, ketebalannya sekitar 15 sentimeter, mempunyai struktur longsoran bawah
laut. Secara keseluruhan ketebalan satuan ini diperkirakan 460 meter.
Formasi Semilir menindih selaras Formasi Kebobutak, secara setempat
tidak selaras, kemudian menjemari dengan Formasi Nglanggran dan Formasi Oyo
menindih secara tidak selaras. Formasi Semilir

menindih selaras satuan di

bawahnya. Runtutannya terdiri dari tuff, serpih, tuff batuapung dasitik, breksi
dasitik, breksi batuapung, batupasir, dan batulempung. Bothe (1928) menyebutkan
jika satuan ini jarang mengandung fosil dan beberapa jenis foraminifera yang
ditemukannya menunjukkan lingkungannya adalah laut. Ismoyowati & Sumarno
(1975) menemukan satuan yang berlokasi tipe di gunung semilir (Pematang
Baturagung) ini merupakan endapan turbidit

yang terbentuk

di lingkungan

Bathial (Ismoyowati & Sumarno, 1975 ; Rahardjo 1995).


5. Formasi Sambipitu
Terdiri dari batupasir dan batulempung. Satuan ini menempati bagian
utara. Satuan ini bagian bawahnya disusun oleh batupasir kasar tidak berlapis dan
batupasir halus, secara setempat diselingi serpih, batulanau gampingan, lensa
breksi andesit, klstika lempung dan fragmen karbon. Arus turbidit telah
membentuk struktur sedimen perlapisan bersusun, perairan sejajar, dan gelembur
gelombang. Bagian atas dari satuan ini terdapat struktur sedimen perlapisan
bersusun, perairan sejajar, silang siur dan gelembur gelombang yang memberikan
indikasi adanya endapan longsoran bawah laut kemudian berkembang menjadi
arus turbidit. Runtutan sedimen klasik Formasi Sambipitu

menindih selaras

satuan gunung api di bawahnya. Formasi Sambipitu mempunyai lokasi tipe di


Desa Sambipitu, Utara Wonosari. Umur satuan ini diperkirakan Miosen Tengah
dengan ketebalan sekitar 230 meter.
6. Formasi Wuni
Terdiri dari agglomerat bersisipan batupasir tuffan dan batupasir kasar.
Satuan ini menempati secara terisolasi di bagian selatan. Bagian bawah satuan ini
disusun

oleh breksi

agglomerat, kayu dan bongkah terkersikan. Komponen

agglomerat terdiri dari andesit dan basal berukuran 10 hingga 15 sentimeter,


setempat bisa mencapai 2 meter. Bagian tengah satuan ini terdapat sisipan
batupasir tuffan, batulanau dan konglomerat. Sisipan batugamping koral
menempati bagian atas satuan ini. Ketebalan satuan ini diperkirakan 150 meter.
Satuan ini ke arah barat berubah menjadi formasi Nglanggran,

namun sulit

dibedakan. Formasi ini menjemari dengan Formasi Wonosari.


7. Formasi Oyo
Disusun oleh sedimen klasik gampingan terdiri dari batupasir gampingan,
batugamping

tuffaan,

batugamping berlapis

bersisipan napal

dan tuff.

Pengendapan batugamping ini berbarengan dengan aktivitas gunung api sehingga


tuff mewarnai endapan ini. Semakin ke arah atas unsur material gunung api
berkurang. Kemiringan lapisan ke selatan dengan derjat kemiringan 20o 25o.
Lapisan ini mudah dikenali di lapangan sepanjang singkapan di Kali Oyo. Pada
batupasir gampingan, batugamping berlapis dan napal banyak dijumpai
kandungan fosil. Formasi Oyo yang manindih tidak selaras dengan satuan klasik
dibawahnya terdiri dari batupasir tuffaan, napal tuffaan, batugamping dan
konglomerat, bersisipan tuff, konglomerat batugamping dan breksi gampingan.
Satuan ini berlokasi tipe di Sungai Oyo di Gunung Tugu dan Gunung Temas
(perbukitan Bayat), Rahardjo (1995) menjumpai batugamping tuffaan berlapis
bersisipan nepal ; sedang di Gunung kampak ia mengamati adanya perubahan
fasies batugamping menjadi batugamping algae dan batugamping oral, sehingga
lingkungannya berhimpun dengan terumbu.
8. Formasi Wonosari
Disusun oleh batugamping baik batugamping berlapis

maupun

batugamping terumbu, batugamping napalan dan batugamping konglomeratan.

Satuan ini juga terdapat batupasir tuffaan dan lanau. Formasi wonosari di bagian
Selatan menempati perbukitan Karst dominannya disusun oleh
terumbu

yang

bersifat

pejal

(bioherm)

menunjukkan

batugamping
lingkungan

pengerndapannya relatif stabil sehingga terumbu batugamping tumbuh secara


sempurna. Pada bagian lereng-lereng bukit terjal biasanya disusun oleh
batugamping konglomeratan sebagai endapan hancuran berupa talus

yang

mengelilingi bukit tubuh terumbu tersebut.


9. Formasi Kepek
Penyusun utama Formasi Kepek adalah selang-seling antara lempung,
napal pasiran dan batugamping berlapis .Formasi ini diendapkan dalam
lingkungan laut dangkal terisolasi. Pola struktur geologi yang terdapat di daerah
penyelidikan sebagian besar berkaitan dengan gejala-gejala tektonik yang pernah
berlangsung pada Java Trench dan pembentukan sistem pegunungan di selatan
jawa. Bentuk struktur yang terdapat didaerah penyelidikan dan sekitarnya selain
diperkuat oleh kenampakan permukaan juga di dukung oleh karakteristik anomali
geofisika (geomagnet, gaya berat dan head-on). Struktur yang ada didaerah
penyelidikan adalah berupa Sesar, normal ( Bantul, Bambang Lipuro dan Mudal),
sesar medatar ( Parangkusumo, Soka Nambangngan dan Siluk), ketidakselarasan,
kekar dan Kelarasan (fracturing). Pada umumnya orientasi sesar SE-NW berkisar
antara N 275W hingga N 310 W dan NE-SW berkisar antara N20E hingga
50E. Diantara sesar-sesar tsb diatas Sesar Parangkusumo dengan arah

300W, menunjam 80 ke baratdaya, merupakan sesar yang penting karena


mengontrol pemunculan mata air panas Parangtritis. Sudut penunjam sesar
menyebabkan pembukaan zona kekaran (fracturing zones).
Zona Pegunungan Selatan dibatasi oleh Dataran Yogyakarta-Surakarta di
sebelah barat dan utara, sedangkan di sebelah timur oleh Waduk Gajahmungkur,
Wonogiri dan di sebelah selatan oleh Lautan India. Di sebelah barat, antara
Pegunungan Selatan dan Dataran Yogyakarta dibatasi oleh aliran K. Opak,
sedangkan di bagian utara berupa gawir Baturagung. Bentuk Pegunungan Selatan
ini hampir membujur barat-timur sepanjang lk. 50 km dan ke arah utara-selatan
mempunyai lebar lk. 40 km (Bronto dan Hartono, 2001).

Gambar I1.1 Geologi Regional Daerah Yogyakarta

II.2. Geologi Lokal


Daerah Kabupaten Sleman merupakan daerah dataran, perbukitan dan kaki
gunung api. Daerah dataran dengan kemiringan lereng < 5%, terletak pada
ketinggian < 5,00 m di atas permukaan laut, dibentuk oleh endapan alluvial dan
satuan batuan gunung api Merapi (Qvm) yang berupa lempung, lanau dan pasir.
Daerah perbukitan membentuk deretan perbukitan memanjang dari barat ke timur
dengan kemiringan lereng agak terjal hingga terjal (15 - >50%), terletak pada
ketinggian 200 - 400 m di atas permukaan laut, dibentuk oleh satuan batuan dari
Formasi Sentolo (Tmps), Formasi Nanggulan (Teon), Formasi Wonosari (Tmw),
Formasi Oyo (Tmo), Formasi Sambipitu (Tms), Formasi Nglanggran (Tmn), dan
Formasi Semilir (Tmse). Daerah kaki gunung api dengan kemiringan lereng 15 30%, terletak pada ketinggian 500 - 1000 m dpl dan dibentuk oleh endapan
volkanik gunung Merapi (Qvm). Sungai - sungai yang mengalir umumnya bersifat
permanen (mengalir sepanjang tahun), antara lain S. Opak, S. Oyo, S. Bedog, S.
Dengkeng, S. Gondang.

BAB III
DASAR TEORI

III.1. Geolistrik
Geolistrik adalah metode geofisika yang mempelajari sifat aliran listrik
dalam bumi dan bagaimana mendeteksinya dipermukaan bumi. Dalam hal ini
meliputi pengukuran potensial, arus, dan medan elektromagnetik yang terjadi,
baik secara almiah maupun akibat injeksi arus kedalam bumi. Oleh karena itu
metode geolistrik mempunyai banyak macam, termasuk didalamnya potensial diri,
arus telluric, magnetoteluric, elektromagnetik, induksi polarisasi, dan resistivity
(tahanan jenis). Oleh karena itu metode geolistrik sendiri secara garis besar dibagi
menjadi dua macam, yaitu :
1.

Geolistrik yang bersifat pasif


Geolistrik dimana energi yang dibutuhkan telah ada terlebih dahulu sehingga

tidak diperlukan adanya injeksi/pemasukan arus terlebih dahulu. Geolistrik


macam ini disebut Self Potensial (SP). Pengukuran SP dilakukan pada lintasan
tertentu dengan tujuan untuk mengukur beda potensial antara dua titik yang
berbeda sebagai V1 dan V2. cara pengukurannya dengan menggunakan dua buah
porouspot dimana tahanannya selalu diusahakan sekecil mungkin. Kesalahan
dalam pengukuran SP biasanya terjadi karena adanya aliran fluida dibawah
permukaan yang mengakibatkan lompatan-lompatan tiba-tiba terhadap terhadap
nilai beda potensial. Oleh karena itu metode ini sangat baik untuk eksplorasi
geothermal.
2.

Geolistrik yang bersifat aktif


Geolistrik dimana energi yang dibutuhkan ada karena penginjeksian arus ke

dalam bumi terlebih dahulu. Geolistrik macam ini ada dua metode, yaitu metode
Resistivitas (resistivity) dan Polarisasi Terimbas (Induce Polarization). Yang
akan dibahas lebih lanjut adalah geolistrik yang bersifat aktif. Metode yang
diuraikan ini dikenal dengan nama Geolistrik tahanan jenis atau disebut dengan
metode Resistivitas (resistivity).

Tiap-tiap media mempunyai sifat yang berbeda terhadap aliran listrik yang
melaluinya, hal ini tergantung pada tahanan jenisnya. Pada metode ini, arus listrik
diinjeksikan ke dalam bumi melalui dua buah elektrode arus dan beda potensial
yang terjadi diukur melalui dua buah elektrode potensial. Dari hasil pengukuran
arus dan beda potensial untuk setiap jarak elektrode berbeda kemudian dapat
diturunkan variasi harga hambatan jenis masing-masing lapisan bawah permukaan
bumi, dibawah titik ukur (sounding point).
Metode ini lebih efektif bila dipakai untuk eksplorasi yang sifatnya relatif
dangkal. Metode ini jarang memberikan informasi lapisan kedalaman yang lebih
dari 1000 atau 1500 feet. Oleh karena itu metode ini jarang digunakan untuk
eksplorasi hidrokarbon, tetapi lebih banyak digunakan untuk bidang engineering
Geology seperti penentuan kedalaman batuan dasar, pencarian reservoar air,
eksplorasi geothermal, dan juga untuk geofisika lingkungan. Jadi metode
resistivitas ini mempelajari tentang perbedaan resistivitas batuan dengan cara
menentukan perubahan resistivitas terhadap kedalaman. Setiap medium pada
dasarnya memiliki sifat kelistrikan yang dipengaruhi oleh batuan penyusun/
komposisi mineral, homogenitas batuan, kandungan mineral, kandungan air,
permeabilitas, tekstur, suhu, dan umur geologi. Beberapa sifat kelistrikan ini
adalah potensial listrik dan resistivitas listrik. Geolistrik resistivitas memanfaatkan
sifat konduktivitas batuan untuk mendeteksi keadaan bawah permukaan. Sifat dari
resistivitas batuan itu sendiri ada 3 macam, yaitu :
1. Medium konduktif
Medium yang mudah menghantarkan arus listrik. Besar resistivitasnya adalah
10-8 ohm m sampai dengan 1 ohm m.
2. Medium semikonduktif
Medium yang cukup mudah untuk menghantarkan arus listrik. Besar
resistivitasnya adalah 1 ohm m sampai dengan 107 ohm m.
3. Medium resesif
Medium yang sukar untuk menghantarkan arus listrik. Besar resistivitasnya
adalah lebih besar 107 ohm m.

Dalam batuan, atom-atom terikat secara kovalen, sehingga batuan


mempunyai sifat menghantar arus listrik. Aliran arus listrik didalam
batuan/mineral dapat digolongkan menjadi 3, yaitu :

1. Konduksi secara elektronik


Terjadi jika batuan/mineral mempunyai banyak elektron bebas sehingga arus
listrik dapat mengalir karena adanya elektron bebas.
2. Konduksi elektrolitik
Terjadi jika batuan/mineral bersifat porous/pori-pori tersebut terisi oleh
cairan-cairan elektrolit dimana arus listrik dibawa oleh ion-ion elektrolit secara
perlahan-lahan.
3. Konduksi dielektrik
Terjadi jika batuan/mineral bersifat dielektrik terhadap aliran arus listrik, yaitu
terjadi polarisasi saat bahan-bahan dialiri arus listrik.
Batuan yang mempunyai resistivitas (tahanan jenis) tinggi maka konduktivitasnya
(kemampuan mengahantarkan arus listrik) akan semakin kecil, demikian pula
sebaliknya bila batuan dengan resistivitas rendah maka konduktivitasnya akan
semakain besar. Sifat kelistrikan batuan itu sendiri digolongkan menjadi 3, yaitu :
1. Resisitivitas
Batuan dianggap sebagai medium listrik yang mempunyai tahanan listrik.
Suatu arus listrik berjalan pada suatu medium/batuan akan menimbulakn densitas
arus dan intensitas arus.
2. Aktivitas elektro kimia
Aktivitas elektro kimia batuan tergantung dari komposisi mineralnya serta
konsentrasi dan komposisi elektrolit yang terlarut dalam air tanah (ground water)
yang kontak dengan batuan tersebut.
3. Konstanta dielektrik
Konstanta dielektrik pada batuan biasanya berhubungan dengan permeabilitas
dalam material/batuan yang bersifat magnetik.
Kita juga dapat melihat bahwa sifat kelistrikan batuan dapat dipengaruhi oleh
beberapa faktor, antara lain adalah :
1. Kandungan mineral logam

10

2. Kandungan mineral non logam


3. Kandungan elektrolit padat
4. Kandungan air garam
5. Perbedaan tekstur batuan
6. Perbedaan porositas batuan
7. Perbedaan permeabilitas batuan
8. Perbedaan temperatur
Keuntungan dari metode resistivity (tahanan jenis) ini adalah :
1. Dapat membedakan macam-macam batuan tanpa melakukan pengeboran
2. Biayanya relatif murah
3. Pemakaiannya mudah

Dengan memanfaatkan nilai tahanan jenis ini maka aplikasi metoda geolistrik
telah digunakan pada berbagai bidang ilmu yaitu :
1.

Gelogi Regional untuk mengetahui struktur, stratigrafi dan sedimentasi.

2.

Hidrogeologi/Geohidrologi untuk mengetahui muka air tanah, akuifer,


stratigrafi , intrusi air laut.

3.

Geologi Teknik untuk mengetahui struktur, startigrafi, permeabilitas dan


porositas batuan, batuan dasar, pondasi, kontruksi bangunan teknis.

4.

Pertambangan untuk mengetahui endapan plaser, stratigrafi, struktur,


penyebaran endapan mineral.

5.

Archeology untuk mengetahui dasar candi, candi terpendam, tanah galian


lama.

6.

Panas bumi (geothermal) mengetahui kedalaman, penyebaran, low resistivity


daerah panas bumi.

7.

Minyak untuk mengetahui struktur, minyak, air dan kontak air dan minyak
serta porositas , water content (well logging geophysic).

III.2. Metode Resisitivitas


Metode resistivitas merupakan salah satu metode geofisika yang
mempelajari sifat resistivitas dari lapisan batuan di dalam bumi. Prinsip metode
resistivitas adalah dengan mengalirkan arus listrik ke dalam bumi melalui kontak

11

dua elektroda arus, kemudian diukur distribusi potensial yang dihasilkan.


Resistivitas batuan bawah permukaan dapat dihitung dengan mengetahui besar
arus yang dipancarkan melalui elektroda tersebut dan besar potensial yang
dihasilkan. Untuk mengetahui struktur bawah permukaan yang lebihdalam, maka
jarak

masing-masing

elektroda

arus

dan

elektroda

potensial

ditambah

secara b e r t a h a p . Semakin besar spasi/jarak elektroda arus maka efek


penembusan arus ke bawah makin dalam, sehingga batuan yang lebih dalam akan
dapat diketahui sifat-sifat fisisnya. Pengukuran Resistivitas batuan dipengaruhi
oleh beberapa faktor seperti homogenitas batuan, kandungan air, porositas,
permeabilitas, dan kandungan mineral. Hasil-hasil pengukuran yang sudah diolah
kemudian

dikorelasikan

dengan pengetahuan

geologi

sehingga

akan

memberikan informasi mengenai keadaan geologi bawah permukaan


secara logis pada daerah penelitian. Secara matematis harga tahanan suatu
medium dapat dirumuskan:
Diasumsikan medium homogen, Resistivitas :

k.

V
I

(III.1)

Dimana :

= resistivitas
k = faktor geometri
v = beda potensial
I = kuat arus
Karena dalam medan homogen, maka resistivitas semu adalah resistivitas
yang sebenarnya dan tidak tergantung spasi elektrodanya. Diasumsikan medium
tidak homogen.
Disini resistivitas yang terukur (apparent resistivity) bukan resistivitas
sebenarnya dan tergantung dari spasi elektrodanya. Karena tidak homogen maka
kenyataan di lapangan bahwa bumi berlapis-lapis, lapisan batuan dan masingmasing perlapisan mempunyai harga resistivitas tertentu. Keadaan bumi yang
berlapis-lapis dapat digambarkan sebagai berikut :

12

Gambar III.1 Ilustrasi keadaan bumi yang berlapis-lapis

III.3. Konfigurasi Schlumberger


Pada konfigurasi Schlumberger, elektrode arus dan elektrode potensial

diletakkan seperti pada gambar:


Gambar III.2 Susunan elektroda konfigurasi schlumberger

Dalam hal ini, elektrode arus dan elektrode potensial mempunyai jarak yang
berbeda yaitu

antar elektrode arus adalah maksimal

lima kali jarak antar

elektrode potensial. Perlu diingat bahwa keempat elektrode dengan titik datum
harus membentuk satu garis. Pada resistivitas mapping, jarak spasi elektrode tidak
berubah-ubah untuk setiap titik datum yang diamati (besarnya a tetap), sedang
pada resistivitas sounding, jarak spasi elektrode diperbesar secara bertahap, mulai
dari harga a kecil sampai harga a besar, untuk satu titik sounding. Batas
pembesaran spasi elektrode ini tergantung pada kemampuan alat yang dipakai.
Makin sensitif dan makin besar arus yang dihasilkan alat maka makin leluasa
dalam memperbesar jarak spasi elektrode tersebut, sehingga makin dalam lapisan
yang terdeteksi atau teramati. Dari gambar, dapat diperoleh besarnya Faktor
Geometri untuk Konfigurasi Schlumberger adalah:
(III.2)

13

BAB IV
METODOLOGI PENELITIAN

IV.1. Tempat dan Waktu Pelaksanaan


Penelitian

Metode

Geolistrik

yang

menggunakan

Konfigurasi

Schlumberger dilaksanakan di Lapangan Sepakbola sebelah selatan gedung


Rektorat UPN Veteran Yogyakarta. Dilakukan pada hari Sabtu tanggal 11
Oktober 2014 pukul 13.00 WIB sampai selesai.

Titik 6
2

Gambar IV.1 Design Survey

IV.2. Peralatan dan Perlengkapan


14

Gambar IV.2 Peralatan dan perlengkapan akusisi data lapangan

Alat-alat yang digunakan pada acara lapangan yaitu :

Resistivitymeter Oyo McOhm 2115 A,


Berfungsi untuk membaca nilai arus dan beda potensial.

4 buah elektroda (2 elektroda arus dan 2 elektroda potensial).


Elektroda arus, berfungsi untuk menghantarkan arus listrik ke bawah
permukaan bumi. Elektroda potensial berfungsi untuk mengukur
perbedaan potensial.

Kabel konektor
Berfungsi untuk menghubungkan dari accu ke resistivitymeter.

Palu
Berfungsi untuk memudahkan menancapkan elektroda arus dan
elektroda potensial ke tanah.

Tabel data,
Berfungsi untuk mencatat nilai-nilai yang diperoleh pada saat
akuisisi.

Meteran
Berfungsi untuk mengukur bentangan lintasan yang diinginkan
dalam akuisisi.

Kompas
Berfungsi untuk mengetahui sudut azimuth pada lintasan.

GPS
Berfungsi untuk mengetahui nilai koordinat pada lintasan
pengambilan data.

15

IV.3. Diagram Alir Pengambilan Data

Mulai

Menyiapkan Alat
Merangkai alat

Setting Alat

Memasang Elektroda

Menge-run Alat

Mencatat nilai V dan I

Selesai
Gambar IV.3 Diagram Alir Pengambilan Data

Dari diagram diatas, dapat dijelaskan langkah-langkah pengambilan data


sebagai berikut :
1. Menyiapkan alat untuk akusisi geolistrik
2. Membentangkan meteran sepanjang 100 m untuk lintasan, ukur azimuth
lintasan dengan kompas dan koordinat dengan GPS
3. Merangkai resistivitymeter dengan Accu menggunakan kabel konektor,
hubungkan elektroda pada resisitivitymeter dengan kabel konektor
4. Menyusun elektroda sesuai konfigurasi schlumberger
5. Men-setting resistivitimeter :

Mengaktifkan alat dengan memilih tombol ON

16

Menekan tombol MODE , lalu pilih mode Rho Mode kemudian tekan
ENTER.

Memilih stack yang diinginkan dengan menekan tombol STACK


kemudian pilih 1 lalu tekan ENTER.

Memilih besarnya arus yang diinjeksikan dengan menekan tombol


CURRENT lalu pilih 2 kemudian tekan ENTER.

Memulai pengukuran dengan menekan tombol MEASURE

Mencatat nilai arus (I) dan beda potensial (V) pada monitor alat.

Menekan tombol RESET untuk mengulangi pengambilan data.

17

Mulai
Data Lapangan
Perhitungan Data
Editing Data
Software IP2WIN
Pemodelan
Profil Kedalaman
Korelasi
Interpretas
i
Kesimpulan
Selesai
IV.4. Diagram Alir Pengolahan Data
Gambar IV.4 Diagram Alir Pengolahan Data

Tahapan pengolahan data geolistrik Konfigurasi Schlumberger berdasarkan


diagram alir diatas:

Mendapatkan data lapangan yang berupa susunan elektroda AB/2, MN/2, Arus (I),
dan Beda potensial (V), dan faktor geometri (K).

Melakukan pengolahan data untuk mencari resistivitas (R), dan Rho apparent,
dengan menggunakan Microsoft Excel.

Mengedit data yang sama menggunakan kurva scatter pada Microsoft Excel, agar
didapatkan data yang smooth.

18

Membuat Curve Matching dengan menggunakan software IP2Win, dengan langkahlangkah:


1. Membuka software IP2Win
2. Meng-klik File, lalu pilih New VES point.
3. Memasukkan nilai AB/2, MN dan Rhoapparent yang telah dipilih terlebih
dahulu, kemudain klik paste. Klik simbol , kemudian klik OK dan
Save.
4. Kemudian muncul kurva dengan garis warna hitam yang merupakan kurva
berdasarkan data yang dimasukkan, garis warna merah merupakan curve
matching, dan garis yang berwarna biru merupakan garis yang menunjukkan nilai
, ketebalan dan kedalaman lapisan.
5. Mencocokkan kurva yang berwarna hitam dengan kurva yang merah dengan
mempertimbangkan nilai

dan tingkat keerrorannya. Untuk menambah lapisan,

klik kanan lalu pilih Split. Untuk mengurangi lapisan, klik kanan lalu pilih Joint.

Membuat profil bawah permukaan secara manual dengan memasukkan nilai yang
didapatkan dari kurva yang dibuat dengan menggunakan software IP2Win yang
berupa kedalaman lapisan, ketebalan lapisan, nilai resistivitas.

Membuat korelasi profil bawah permukaan antara titik 6, titik 1, titik 2, dan titik 3
dengan menggunakan software CorelDraw.

Menginterpretasikan profil bawah permukaan.

19

BAB V
HASIL DAN PEMBAHASAN

V.1. Kurva Matching Software IP2Win Titik 6

Gambar V.1. Kurva window line 6

Tabel III.1. Tabel error line 6

20

Pada gambar V.1 diatas merupakan kurva matching line 6 yang didapatkan
dari olahan menggunakan software IP2Win yang telah dimasukkan dengan nilai
AB/2, MN dan Rhoapparent. Dan pada Tabel III.1. diatas merupakan tabel
tingkat keerroran nilai Rhoapparent, kedalaman dan ketebalan lapisan pada kurva.
Pada tabel terlihat tingkat keerroran kurva diatas sebesar 6,08%. Dari tabel
kerroran diatas, terlihat nilai resistivitas terbesar 3866 m yang merupakan nilai
resistivitas lapisan pertama, dan nilai resistivitas terendah 20,3 m yang
merupakan nilai resistivitas lapisan keenam.
Terlihat pada kurva window dan tabel error, terdapat 6 lapisan yang
ditunjukkan oleh perubahan pada garis warna biru pada kurva. Dimana pada
lapisan pertama, lapisan memiliki nilai resistivitas sebesar 3866 m dengan
ketebalan 0,923m dan kedalaman lapisan setebal 0,923 m. Pada lapisan kedua,
lapisan memiliki nilai resistivitas sebesar 2587 m dengan ketabalan lapisan
4,27m dan kedalaman lapisan 5,19 meter. Pada lapisan ketiga memiliki nilai
resistivitas sebesar 1014 m dengan ketebalan lapisan 3,56 meter dan kedalaman
8,75 meter. Pada lapisan keempat memiliki nilai resistivitas sebesar 1014 m
dengan ketebalan lapisan 3 meter dan kedalaman 11,7 meter. Pada lapisan kelima
memiliki nilai resistivitas sebesar 87,5 m dengan ketebalan lapisan 6,04 meter
dan kedalaman 17,8 meter. Dan terakhir pada lapisan keenam, memiliki nilai
resistivitas sebesar 20,3 m dengan ketebalan lapisan dan kedalaman lapisan
yang tak terhingga.

21

V.2. Profil Kedalaman Kelompok 6

Gambar V.2. Profil Kedalaman Kelompok 6

22

Pada gambar V.2 diatas merupakan kurva matching line 6 yang dibuat
secara manual dengan data yang didapatkan dari olahan menggunakan software
IP2Win yang telah dimasukkan dengan nilai AB/2, MN dan Rhoapparent. Dan
pada Tabel III.1. diatas merupakan tabel tingkat keerroran nilai Rhoapparent,
kedalaman dan ketebalan lapisan pada kurva. Dimana pada lapisan pertama,
lapisan memiliki nilai resistivitas sebesar 3866 m dengan ketebalan 0,923m dan
kedalaman lapisan setebal 0,923 m. Pada lapisan kedua, lapisan memiliki nilai
resistivitas sebesar 2587 m dengan ketabalan lapisan 4,27m dan kedalaman
lapisan 5,19 meter. Pada lapisan ketiga memiliki nilai resistivitas sebesar 1014
m dengan ketebalan lapisan 3,56 meter dan kedalaman 8,75 meter. Pada lapisan
keempat memiliki nilai resistivitas sebesar 1014 m dengan ketebalan lapisan 3
meter dan kedalaman 11,7 meter. Pada lapisan kelima memiliki nilai resistivitas
sebesar 87,5 m dengan ketebalan lapisan 6,04 meter dan kedalaman 17,8 meter.
Dan terakhir pada lapisan keenam, memiliki nilai resistivitas sebesar 20,3 m
dengan ketebalan lapisan dan kedalaman lapisan yang tak terhingga. Dari data
diatas, dapat diinterpretasikan pada lapisan pertama yaitu endapan fluvial
vulkanik, pada lapisan ke 2 dapat diinterpretasikan dengan endapan pasir, lapisan
ketiga sampai ke enam diinterpretasikan dengan batu pasir.

23

V.3. Korelasi Profil Kedalaman Lintasan

Gambar V.3. Korelasi Profil Kedalaman


24

Pada gambar diatas merupakan korelasi profil kedalaman antara titik 6, 1, 2,


dan 3 yang didapatkan dari pengolahan data menggunakan software IP2Win.
Korelasi profil kedalaman diatas Korelasi profil kedalaman dibuat dengan
menggunakan skala 1:125. Pada profil kedalaman titik 6, dimana pada lapisan
pertama, lapisan memiliki nilai resistivitas sebesar 3866 m dengan ketebalan
0,923m. Pada lapisan kedua memiliki nilai resistivitas sebesar 2587 m dengan
ketabalan lapisan 4,27m. Pada lapisan ketiga memiliki nilai resistivitas sebesar
1014 m dengan ketebalan lapisan 3,56 meter. Pada lapisan keempat memiliki
nilai resistivitas sebesar 1014 m dengan ketebalan lapisan 3 meter. Pada lapisan
kelima memiliki nilai resistivitas sebesar 87,5 m dengan ketebalan lapisan 6,04
meter. Dan terakhir pada lapisan keenam memiliki nilai resistivitas sebesar 20,3
m dengan ketebalan lapisan yang tak terhingga.
Pada profil kedalaman titik 1, dimana pada lapisan pertama memiliki nilai
resistivitas sebesar 3906 m dengan ketebalan 0,52m. Pada lapisan kedua
memiliki nilai resistivitas sebesar 4577 m dengan ketabalan lapisan 4,27m. Pada
lapisan ketiga memiliki nilai resistivitas sebesar 2876 m dengan ketebalan
lapisan 1,1 meter. Pada lapisan keempat memiliki nilai resistivitas sebesar 1222
m dengan ketebalan lapisan 6,24meter. Pada lapisan kelima memiliki nilai
resistivitas sebesar 430 m dengan ketebalan lapisan 7,35. Dan terakhir pada
lapisan keenam, memiliki nilai resistivitas sebesar 20,3 m dengan ketebalan
lapisan yang tak terhingga.
Pada profil kedalaman titik 2, dimana pada lapisan pertama memiliki nilai
resistivitas sebesar 6641 m dengan ketebalan 0,52m. Pada lapisan kedua
memiliki nilai resistivitas sebesar 7984 m dengan ketabalan lapisan 1,38m. Pada
lapisan ketiga memiliki nilai resistivitas sebesar 1810m dengan ketebalan
lapisan 2,47 meter. Pada lapisan keempat memiliki nilai resistivitas sebesar 980
m dengan ketebalan lapisan 6,24meter. Pada lapisan kelima memiliki nilai
resistivitas sebesar 455 m dengan ketebalan lapisan 7,35 meter. Dan terakhir
pada lapisan keenam,memiliki nilai resistivitas sebesar 199 m dengan ketebalan
lapisan yang tak terhingga.
Pada profil kedalaman titik 3, dimana pada lapisan pertama memiliki nilai
resistivitas sebesar 2653 m dengan ketebalan 0,52m. Pada lapisan kedua

25

memiliki nilai resistivitas sebesar 3852m dengan ketabalan lapisan 4,27m. Pada
lapisan ketiga memiliki nilai resistivitas sebesar 1848 m dengan ketebalan
lapisan 1,1 meter. Pada lapisan keempat memiliki nilai resistivitas sebesar 769
m dengan ketebalan lapisan 6,24meter. Pada lapisan kelima memiliki nilai
resistivitas sebesar 338 m dengan ketebalan lapisan 7,35 meter. Dan terakhir
pada lapisan keenam memiliki nilai resistivitas sebesar 197 m dengan ketebalan
yang tak terhingga.
Pada korelasi profil kedalaman diatas diinterpretasikan menjadi 3 lapisan
litologi. Dimana pada lapisan pertama diinterpretasikan dengan endapan fluvial
vulkanik yang ditandai dengan warna merah muda dengan nilai resistivitas pada
titik 6 yaitu 2587 m 3866 m, pada titik satu dengan nilai resistivitas 2876
m- 4577 m, pada titik kedua dengan nilai resistivitas 6641 m 7984 m,
dan pada titik ketiga dengan nilai resistivitas 2653 m 3852 m. Pada lapisan
kedua diinterpretasikan dengan pasir yang ditandai dengan warna abu-abu, pada
titik 6 yaitu 1014 m, pada titik satu dengan nilai resistivitas 1220 m, pada titik
kedua dengan nilai resistivitas 980 m 1810 m, dan pada titik ketiga dengan
nilai resistivitas 769 m 1848 m. Dan pada lapisan ketiga diinterpretasikan
dengan batupasir yang ditandai dengan warna kuning, pada titik 6 yaitu 20,3 m
486 m, pada titik satu dengan nilai resistivitas 66,2 m- 4300 m, pada titik
kedua dengan nilai resistivitas 455 m 199 m, dan pada titik ketiga dengan
nilai resistivitas 197 m 338 m. Berdasarkan dari interpretasi tersebut,
korelasi diatas memiliki kemenerusan antar titik.

26

BAB VI
PENUTUP

VI.1. Kesimpulan
Dari hasil pengolahan data lapangan menggunakan metode geolistrik
dengan konfigurasi schlumberger, maka dibuatlah penampang resistivitas secara
manual dan menggunakan software IP2Win.

Pada kurva window kelompok enam, dimana pada lapisan pertama


memiliki nilai resistivitas sebesar 3866 m dengan ketebalan 0,923m.
Pada lapisan kedua memiliki nilai resistivitas sebesar 2587 m dengan
ketabalan lapisan 4,27m. Pada lapisan ketiga memiliki nilai resistivitas
sebesar 1014 m dengan ketebalan lapisan 3,56 meter. Pada lapisan
keempat memiliki nilai resistivitas sebesar 1014 m dengan ketebalan
lapisan 3 meter. Pada lapisan kelima memiliki nilai resistivitas sebesar
87,5 m dengan ketebalan lapisan 6,04 meter. Dan terakhir pada lapisan
keenam memiliki nilai resistivitas sebesar 20,3 m dengan ketebalan
lapisan dan kedalaman lapisan yang tak terhingga.

Pada korelasi profil kedalaman diatas diinterpretasikan menjadi 3 lapisan


litologi. Dimana pada lapisan pertama diinterpretasikan dengan endapan
fluvial vulkanik yang ditandai dengan warna merah muda. Pada lapisan
kedua diinterpretasikan dengan pasir yang ditandai dengan warna abu-abu.
Dana pada lapisan ketiga diinterpretasikan dengan batupasir yang ditandai
dengan warna kuning. Berdasarkan dari interpretasi tersebut, korelasi
diatas memiliki kemenerusan antar titik.

VI.2. Saran
Pada saat melakukan akusisi sebaiknya dilakukan dengan teliti dan cermat
agar data yang didapat menunjukkan keadaan bawah permukaan sesungguhnya.
Dalam melakukan pengolahan data juga sebaiknya dilakukan dengan teliti dan
sesuai parameter lapangan.

27