Anda di halaman 1dari 41

Pernyataan pemisahan

Pemisahan sempurna komponen2x dari suatu campuran


Pemisahan sebagian/parsial komponen dari suatu
campuran
Pemisahan pengayaan (enrichment)

Menurut Rony (1972)


Pemurnian : jika fraksi mol yg dipisahkan mencapai >0,9
Pemekatan : jika fraksimol < 0,9
Pengayaan : jika fraksimol komponen yang dikehendaki<
0,1

Tahapan pemisahan
Model dasar : Spesi2x yg akan dipisahkan terdistribusi
diantara dua fasa, lalu akan terpisah secara
fisik/mekanik untuk mencapai pemisahan yg
sempurna
Spesi2x yg dipisahkan dapat (tidak selalu) di bentuk
melalui suatu konversi kimia, dengan demikian tahapn
pemisahan akan mencakup :
Konversi kimia (spesiasi)
Distribusi antara dua fase (kesetimbangan)
Pemishan secara fisik atau mekanik

Pemisahan yg melibatkan dua fase


Fase II

Fase I (cair)

Fase 1 (Padat)

Cair

Ekstraksi Pelarut
Kromatografi partisi
Kromatografi Ekoklusi
Dialisis

Penendapan
Elektrodeposisi
Pertukaran ion
Adsorpsi
Kromatografi adsorpsi

Gas

Volatilisasi
Destilasi
Destilasi fraksinasi
Kromatografi gas-cair
Cold Trapping absorpsi

Sublimasi
Adsorpsi
Kromatografi Gas Padat
Absorpsi

EKSTRAKSI

Ekstraksi
Merupakan salah satu teknik pemisahan
Ekstraksi (penyarian) adalah proses pemisahan
suatu konstituen dari fase satu dengan
membawa fase itu bersentuhan dengan fase ke
dua yang cair dan tidak bercampur
Proses penarikan/melarutkan komponen kimia
yang berada dalam campuran (simplisia) secara
selektif menggunakan pelarut tertentu

Jenis ekstraksi
Ekstraksi Cair cair (ekstraksi pelarut)
Ekstraksi Padat cair
Ekstraksi Super kritik
Proses ekstraksi melibatkan 2 fase dan
dapat dilakukan secara tunggal , atau
beberapa kali ekstraksi

Ekstraksi Pelarut (ECC)


Dalam proses ekstraksi pelarut, solut
dipindahkan dari cairan satu ke cairan lain
yg tak bercampur dengan cara
pengocokan (bersentuhan) yang berulang,
biasanya dilakukan dalam suatu corong
pisah

Koefisien partisi (Distribusi)


Misalkan suatu spesi solut tunggal
terdistribusi diantara antara dua cairan
yang tidak bercampur (dalam corong
pisah). Kesetimbangan yang terjadi dalam
sistem adalah :

SB

SA

SB = Solut dalam fase bawah


SA = Solut dalam fase atas

Secara termodinamika, pada saat


kesetimbangan tercapai rasio antara
aktivitas solut di dalam kedua fase adalah
tetap. Ini disebut hukum distribusi NERST,
biasanya konsentrasi dapat digunakan
untuk mengganti aktivitas
Hukum distribusi dapat di tulis :

Kd

CA
CB

CA = konsentrsi solut dlm lapisan fase atas


CB = Konsentrasi solut dlm lapisan fase bawah
Kd = Koefisien partisi atau distribusi

Biasanya fase yg satu adalah fase berair


(aqueous) dan yang lain adalah fase
organik yang tak bercampur dengan air
Fase berair biasanya :

Air suling
Laruta PH tertentu
Larutan elektrolit dalam air
Laurtn air yg mengandung bahan pembentuk
kompleks
Larutan asam atau basa dalam air
Kombinasi dua atau lebih larutan tersebut
diatas

Fase organik ;
Pelarut organik yg tidak bercampur benzen,
toluen, heksana, xylen
Diklormetan, kloroform, tetra klorometana
Eter seperti dietil eter
Beberapa keton yang tak bercampur (metil iso
butil keton)
Alkohol yang tak bercampur dengan air
Hidrokarbon alifatik

Pelarut organik yang bercampur dengan


air seperti alkohol, keton, aldehid, asam
karboksilat, asetonitril, dimetil sulfoksida
dan dioksan tidak sesuai digunakan
sebagai pelarut untuk ekstraksi solut dari
larutan air. Namun dapat digunakan untuk
ekstraksi dari pelarut organik yang tak
bercampur.

Prosentasi ekstraksi

Jika harga Kd diketahui untuk suatu solut


yang terdistribusi dalam dua pelarut, maka
prosentase ekstraksi (fraksi yang tertarik)
dapat dihitung. Fraksi yang terekstraksi
disebut ekstrak dan yang tertinggal dalam
larutan induk disebut rafinat.

Misalkan p adalah fraksi solut yang berada


dalam fase atas dan q adalah fraksi yang
ada pada fase bawah. Jumlah p dapat
dihitung
Jumlah solut dalam fase atas
p = Jumlah total Solut
CA . VA
CAVA+CBVB

Dimana CA dan CB konsentrasi solut dalam fase


atas dan fase bawah, VA dan VB volume pelarut
fase atas dan fase bawah. U = VA/VB dan Kd =
CA/CB

P=

CA.VA/CB.VB
CA.VA/CB.VB+1
= CA/CB . VA/VB
CA/CB .VA/VB +1
= Kd. VA/VB
Kd.VA/VB +1 atau
p = Kd.U
Kd. U +1 atau % ekstraksi = 100 p

%E = 100. kd .U
Kd.U +1
Dari definisi p + q = 1 maka
q= 1
Kd.U +1 atau

Contoh :
Koefisien distribusi solut dalam air dan eter
adalah 40 jika 15 mL larutan air yang
mengandung solut diekstraksi dngn 20 mL
eter, berapa prosen solut yang dapat
terekstraksi dalam eter?

Jika koefisien distribusi 9dan juga rasio


distribusi suatu solut dalam sistem
diketahui sangat besar (> 1000) maka
ekstraksi cukup dilakukan sekali saj,
karena hasil ekstraksi cukup banayak
Contoh :
jika Kd = 1000, dan U =1 berap a %E ?
Akan tetapi jika nilai Kd tidak terlampau
besar maka perlu dilakukan ekstraksi
berulang kali.

Ekstraksi Berulangkali
Efisiensi ekstraksi sangat bergantung kepada
KD, ratio volume yang dipakai U=VA/VB.
Hasil kali antara KD.U disebut faktor
kapasitas.
Jika kD tidak terlalu besar maka diperlukan
ekstraksi berulangkali

Ekstraksi Berulangkali
Fraksi total solut yang terekstraksi dapat
dihitung sbb:
p: jumlah solut fase atas/jumlah solut total
q: jumlah solut pada fase bawah/ jumlah
solut total
n : jumlah/banyak ekstraksi
Jika n 1, maka fraksi yang terekstraksi p,
fraksi total yang terekstraksi p, fraksi sisa
dalam rafinat 1-p=q

Jika n 2 kali, fraksi tereks. : p.q, fraksi total


yang tereks. :p+p.q, fraksi sisa dalam
rafinat
1-(p+pq)= q.q
Jika n 3 kali, fraksi tereks: p.qq, fraksi total
yang tereks: p+pq+pq.q, fraksi sisa dalam
rafinat
1-(p+pq+pqq)=qqq
Maka fraksi total yang tereks setelah n kali=
1- qn

Contoh :
jika Kd = 4.0 untuk sistem eter air dan
rasio volume U = 1 berapa kali kah fraksi
yang terekstraksi setelah 4 kali ektraksi ?

Ekstraksi Cair-cair Bertahap


KP=Craf/Cekst
U=Vraf/Veks
%terekstraksi=%P=100/(KP.U+1).
Contoh: koef. Partisi solut dalam airnheksan adalah 4. 20 ml air yang mengalir
yang mengandung solut dieks. Dgn 80 ml
heksan. Berapa %terekstraksi?
%P=100/(KP.U+1)= 100/(4.1/4+1)=50 %

Ekstraksi Padat Cair


Faktor yang mempengaruhi ekstrasibilitas
analit:
1. Kelarutan analit dalam berbagai pelarut
2. Kesetimbangan kimia yang melibatkan
analit dalam proses ekstraksi

Faktor pemisahan
Jika dlam suatu sampel terdapat dua solut
yang akan dipisahkan, maka untuk melihat
kemudahan dalam pemishan kedua nya
digunakan parameter yang disebut faktor
pemisahan ()

= Kd1/Kd2 atau = D1/D2

Contoh ;
jika senyawa A terekstraksi 99.9% dengan
pelarut organik sedangkan senyawa B
hanya terekstraksi 0,1% saja, berapa faktor
pemisah kedua senyawa tersebut. Jika
rasio volume U= 1?
%E = 100.Kd/Kd+1

Kelarutan Analit Dalam Berbagai


Pelarut
Prinsip: Like Dissolve Like
Senyawa polar akan melarut dalam pelarut
polar
Senyawa nonpolar akan melarut dalam
pelarut nonpolar

Syarat Pelarut

Pelarut ekstraktan hendaknya melarutkan solut


dengan sangat mudah (kelarutan solut dalam
pelarut sangat besar)
Pelarut hendaknya tidak atau hanya sedikit saja
melarutkan senyawa lainya (selain solut)
Pelarut betul-betul tidak bercampur dg pelarut
air (pelarut lainnya)
Pelarut mudah diuapkan dan dapat dimurnikan
kembali
Tidak tokdik dan murah

Tujuan Ekstraksi
Standarisasi ekstrak
Mendapatkan ekstrak untuk tujuan isolasi
Sebagai bahan untuk sediaan jamu, OHT
atau fitofarmaka
Mendapatkan ekstrak untuk pengujian
aktivitas
Mendapatkan ekstrak untuk mencari
marker atau senyawa identitas

Penggolongan Metode Ekstraksi


Berdasarkan waktu kontak
Bersarkan bentuk
Berdasarkan energi

Berdasarkan waktu kontak


Ekstraksi bertahap: maserasi, refluks
Ekstraksi sinambung: ekstraksi cair-cair
dengan alat Craig, ekstraksi dengan
Soxhlet

Berdasarkan bentuk
Ekstraksi cair-padat : maserasi, perkolasi
Ekstraksi cair-cair : ecc dengan sep. funnel,
sinambung dengan Craig

Berdasarkan energi
Ekstraksi dingin : maserasi, perkolasi
Ekstraksi panas: refluks, ekstraksi dengan
Soxhlet

Alasan pemilihan metode ekstraksi

Didasarkan pada sifat dan bentuk rafinat


atau senyawa yang terkandung didalam
rafinat yang akan diekstraksi. Rafinat
adalah material (padat ataupun cair) yang
akan diekstraksi. Jika rafinat berupa zat
padat (misal simplisia tertentu), maka
ekstraksi yang dilakukan ekstraksi cair
padat. Jika rafinat berbentuk cairan, maka
ekstraksi yang dilakukan adalah ekstraksi
cair-cair.

Alasan pemilihan metode ekstraksi

Sifat komponen (solut) yang akan


diekstraksi, terutama kestabilannya
terhadap panas. Komponen-komponen
yang termostabil dapat diekstraksi dengan
cara panas, sedangkan komponen yang
termolabil atau belum diketahui sifat dan
komponen dari suatu simplisia, maka
hendaknya dilakukan ekstraksi cara dingin

Kesetimbangan Kimia yang melibatkan analit


Antara lain:
Senyawa garam dari asam organik diasamkan akan
terbentuk asam organik yang akan melarut
melarut baik dalam pelarut organik
Garam dari basa organik dibasakan akan
terbentuk basa organik yang melarut baik dalam
pelarut organik
Senyawa ionik umumnya larut mudah dalam air.
Dengan penambahan ion lawan maka akan
terbentuk pasangan ion netral yang lebih mudah
larut dalam pelarut organik

Skema Ekstraksi Untuk Telaah


Fitokimia
Dari polar-semi polar-nonpolar
Dari nonpolar-semipolar-polar

Ekstraksi dengan
Soxhlet

Craig Counter Current Extraction

Fr,n = n!/((n-r)!r!) pr q(n-r)


F= fraksi terlarut
n= jumlah transfer
r= tube ke