Anda di halaman 1dari 19

Pendahuluan

Perlindungan konsumen merupakan bagian tak terpisahkan dari kegiatan bisnis yang
sehat. Dalam kegiatan bisnis yang sehat terdapat keseimbangan perlindungan hukum
antara konsumen dengan produsen. Tidak adanya perlindungan yang seimbang
menyebabkan konsumen berada pada posisi lemah yang tentunya akan merugikan
konsumen.
Kerugian yang dialami konsumen tersebut dapat timbul sebagai akibat dari adanya
hubungan hukum perjanjian antara produsen dengan konsumen, maupun adanya
perbuatan melanggar hukum yang dilakukan oleh produsen.1
Terkadang perjanjian-perjanjian yang dilakukan tidak sesuai harapan. Apabila pembeli,
yang dalam hal ini konsumen tidak menerima barang atau jasa sesuai dengan yang
diperjanjikan, maka produsen telah melakukan wanprestasi, sehingga konsumen
mengalami kerugian. Hal ini lebih banyak dialami oleh pihak yang lemah/memiliki
ketergantungan tinggi terhadap pihak lainnya, karena persyaratan tersebtu berat
sebelah/lebih memberatkan pihak yang lemah. Hal ini disebabkan karena persyaratan
tersebut telah dituangan kedalam suatu perjanjian baku atau klausul standar. Perjanjian
yang demikian sudah lazim dipergunakan dan memengang peranan penting dalam
hukum bisnis yang pada umumnya dilandasi oleh nilai-nilai yang berorientasi pada
efisiensi namun keadaan ini meletakkan posisi dan kedudukan konsumen pada kondisi take
it or leave it2.
Disamping wanprestasi, kerugian dapat pula terjadi karena perbuatan melanggar hukum,
yang dapat berupa adanya cacat pada barang atau jasa yang mengakibatkan kerugian
bagi konsumen. Kerugian yang dialami konsumen selama ini juga banyak disebabkan
karena konsumen kurang kritis terhadap barang yang ditawarkan. Kerugian konsumen
akan semakin bertambah jika barang yang beredar dalam masyarakat tidak
menggunakan merek secara teratur, terutama jika terjadi pemalsuan merek tertentu yang
memungkinkan suatu merek yang dipergunakan pada beberapa barang sejenis, namun
dengan kualitas yang berbeda.
Kondisi konsumen yang banyak dirugikan, memerlukan upaya untuk melindunginya,
sehingga hak-hak konsumen dapat ditegakkan. Namun demikian, perlu diperhatikan
bahwa dalam memberikan perlindungan kepada konsumen, tidak boleh justru
mematikan usaha produsen. Oleh karena itu, ketentuan yang memberikan perlindungan
kepada konsumen juga harus diimbangi dengan ketentuan yang memberikan
perlindungan kepada produsen.

Miru,Ahmadi (2011).Prinsip-Prinsip Perlindungan Hukum bagi Konsumen di


Indonesia,Jakarta:Rajawali
2

Istilah take it or leave it ini berarti jika calon konsumen setuju, perjanjian dibuat, kalau tidak, silahkan pergi.
Dengan kata lain, bagi konsumen hanya ada dua pilihan: mau atau tidak mau sama sekali.

Pengertian hukum konsumen dan hukum perlindungan konsumen, sumber


hukum, asas-asas dan tujuan perlindungan konsumen
hukum konsumen adalah Keseluruhan asas-asas dan kaidah-kaidah hukum yang

mengatur hubungan dan masalah antara berbagai pihak satu sama lain3 berkaitan dengan
barang dan/atau jasa di dalam pergaulan hidup4
Sumber Hukum
Hukum perlindungan konsumen yang berlaku di Indonesia memiliki dasar hukum yang
telah ditetapkan oleh pemerintah. Dengan adanya dasar hukum yang pasti, perlindungan
terhadap hak-hak konsumen bisa dilakukan dengan penuh optimisme. Pengaturan tentang
hukum perlindungan konsumen telah diatur dalam Undang-Undang No. 8 Tahun 1999
tentang Perlindungan Konsumen.
Disamping UUPK, terdapat sejumlah peraturan perundang-undangan lainnya yang bisa
dijadikan sebagai sumber atau dasar hukum yaitu sebagai berikut :
1. UUD1945
Hukum konsumen, terutama hukum perlindungan konsumen mendapatkan landasan
hukumnya pada UUD1945, pembukaan, alenia ke-4 berbunyi:
Kemudian daripada itu untuk membentuk suatu Pemerintahan Negara Indonesia yang
melindungi segenap bangsa Indonesia. Kata melindungi terkandung asas perlindungan
pada segenap bangsa tersebut tanpa terkecuali (termasuk konsumen).
Landasan hukum lainnya termuat dalam pasal 27 ayat 2 UUD1945 yang berbunyi,Tiap
warga Negara berhak atas penghidupan yang layak bagi kemanusiaan apabila kehidupan
seseorang teranggu atau diganggu oleh pihak lain, maka alat Negara akan turun tangan, baik
diminta maupun tidak, untuk melindungi dan atau mencegah terjadinya gangguan tersebut.
2. Ketetapan MPR
TAP-MPR tahun 1993 menyebutkan bahwa meningkatkan pendapatan produsen dan
melindungi kepentingan konsumen dengan susunan kalimat demikian, terlihat lebih jelas
arahan MPR tentang kekhususan kepentingan produsen (dan semua pihak yang
dipersamakan dengannya) dan kepentingan konsumen.
3
4

Konsumen dan pelaku usaha

3. Hukum Konsumen dan Hukum Perdata.

Pada dasarnya,undang-undang tentang Perlindungan Konsumen bukan merupakan awal


dan akhir dari hukum yang mengatur tentang perlindungan konsumen, sebab sampai
pada terbentuknya undang-undang tentang Perlindungan Konsumen telah ada beberapa
undang-undang yang materinya melindungi kepentingan konsumen, seperti:
a. Undang-undang Nomor 10 Tahun 1961 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah
Pengganti Undang-undang Nomor 1 Tahun 1961 tentang Barang, menjadi Undangundang;
b. Undang-undang Nomor 2 Tahun 1966 tentang Hygiene;
c. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok Pemerintahan di Daerah;
d. Undang-undang Nomor 2 Tahun 1981 tentang Metrologi Legal;
e. Undang-undang Nomor 3 Tahun 1982 tentang Wajib Daftar Perusahaan;
f. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1984 tentang Perindustrian;
g. Undang-undang Nomor 15 Tahun 1985 tentang Ketenagalistrikan;
h. Undang-undang Nomor 1 Tahun 1987 tentang Kamar Dagang dan Industri;
i. Undang-undang Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan;
j. Undang-undang Nomor 7 Tahun 1994 tentang Agreement Establishing The World
Trade Organization (Persetujuan Pembentukan Organisasi Perdagangan Dunia);
k. Undang-undang Nomor 1 Tahun 1995 tentang Perseroan Terbatas;
l. Undang-undang Nomor 9 Tahun 1995 tentang Usaha Kecil;
m. Undang-undang Nomor 7 Tahun 1996 tentang Pangan;
n. Undang-undang Nomor 12 Tahun 1997 tentang perubahan Atas Undang-undang Hak
Cipta
o. Undang-undang Nomor 13 Tahun 1997 tentang Perubahan Atas Undang-undang Hak
Paten

p. Undang-undang Nomor 14 Tahun 1997 tentang Perubahan Atas Undang-undang


Nomor 19 Tahun 1989 tentang Merek;
q. Undang-undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup;
r. Undang-undang Nomor 24 Tahun 1997 tentang Penyiaran;
s. Undang-undang Nomor 25 Tahun 1997 tentang Ketenagakerjaan;
t. Undang-undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perubahan Atas Undang-undang
Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan
Di kemudian hari masih terbuka kemungkinan terbentuknya undang-undang baru yang
pada dasarnya memuat ketentuan-ketentuan yang melindungi konsumen. Dengan
demikian, Undang-undang tentang Perlindungan Konsumen ini merupakan payung yang
mengintegrasikan dan memperkuat penegakan hukum di bidang perlindungan
konsumen.
Beberapa diantaranya Undang-undang dan Peraturan Pemerintah:

a. PP No. 57 Tahun 2001 tanggal 21 Juli 2001 tentang Badan Perlindungan Konsumen
Nasional.
b. PP No. 58 Tahun 2001 tanggal 21 Juli 2001 tentang Pembinaan dan Pengawasan
Penyelenggaraan Perlindungan Konsumen.
c. PP No. 59 Tahun 2001 tanggal 21 Juli 2001 tentang Lembaga Perlindungan
Konsumen Swadaya Masyarakat.
d. Keppres No. 90 Tahun 2001 tanggal 21 Juli 2001 tentang Pembentukan Badan
Penyelesaian Sengketa Konsumen Pemerintah Kota Medan, Kota Palembang, Kota
Jakarta Pusat, Kota Jakarta Barat, Kota Bandung, Kota Semarang. Kota Yogyakarta,
Kota Surabaya, Kota Malang, dan Kota Makassar.
e. Kepmenperindag No. 301/MPP/KEP/10/2001 tentang Pengangkatan, Pemberhentian
Anggota dan Sekretariat Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen.
f. Kepmenperindag No. 302/MPP/KEP/10/2001 tentang Pendaftaran Lembaga
Perlindungan Konsumen Swadaya Masyarakat.

g. Kepmenperindag No. 605/MPP/Kep/8/2002 tentang Pengangkatan Anggota Badan


Penyelesaian Sengketa Konsumen pada Pemerintah Kota Makassar, Kota Palembang,
Kota Surabaya, Kota Bandung, Kota Semarang, Kota Yogyakarta dan Kota Medan.
h. Kepmenperindag No. 480/MPP/Kep/6/2002 tanggal 13 Juni 2002 tentang Perubahan
Atas Kepmenperindag No. 302/MPP/KEP/10/2001 tentang Pendaftaran Lembaga
Perlindungan Konsumen Swadaya Masyarakat.
i. Kepmenperindag No. 418/MPP/Kep/4/2002 tanggal 30 April 2002 tentang
Pembentukan Tim Penyeleksi Calon Anggota Badan Perlindungan Konsumen.

Asas-Asas
Perlindungan konsumen diselenggarakan sebagai usaha bersama berdasarkan 5 (lima)
asas yang relevan dalam pembangunan nasional5 yaitu: manfaat, keadilan,
keseimbangan, keamanan dan keselamatan konsumen, serta kepastian hukum.
1. Asas manfaat dimaksudkan untuk mengamanatkan bahwa segala upaya dalam
penyelenggaraan perlindungan konsumen harus memberikan manfaat sebesar-besarnya
bagi kepentingan konsumen dan pelaku usaha secara keseluruhan.
2. Asas keadilan dimaksudkan agar partisipasi seluruh rakyat dapat diwujudkan secara
maksimal dan memberikan kesempatan kepada konsumen dan pelaku usaha untuk
memperoleh haknya dan melaksanakan kewajibannya secara adil.
3. Asas keseimbangan dimaksudkan untuk memberikan keseimbangan antara
kepentingan konsumen, pelaku usaha dan pemerintah dalam arti materiil ataupun
spiritual.
4. Asas keamanan dan keselamatan konsumen dimaksudkan untuk memberikan jaminan
atas keamanan dan keselamatan kepada konsumen dalam penggunaan, pemakaian dan
pemanfaatan barang dan/atau jasa yang dikonsumsi atau digunakan.
5. Asas kepastian hukum dimaksudkan agar baik pelaku usaha maupun konsumen
menaati hukum dan memperoleh keadilan dalam penyelenggaraan perlindungan
konsumen, serta negara menjamin kepastian hukum.
Tujuan
5

UU Perlindungan konsumen

Pasal 3 UUPK menyebutkan Perlindungan konsumen bertujuan:


a. meningkatkan kesadaran,kemampuan dan kemandirian konsumen untuk melindungi
diri;
b. mengangkat harkat dan martabat konsumen dengan cara menghindarkannya dari
ekses negatif pemakaian barang dan/atau jasa;
c. meningkatkan pemberdayaan konsumen dalam memilih, menentukan dan menuntut
hak-haknya sebagai konsumen;
d. menciptakan sistem perlindungan konsumen yang mengandung unsur kepastian
hukum dan keterbukaan informasi serta akses untuk mendapatkan informasi;
e. menumbuhkan kesadaran pelaku usaha mengenai pentingnya perlindungan konsumen
sehingga tumbuh sikap yang jujur dan bertanggung jawab dalam berusaha;
f. meningkatkan kualitas barang dan/atau jasa yang menjamin kelangsungan usaha
produksi barang dan/atau jasa, kesehatan, kenyamanan, keamanan, dan keselamatan
konsumen.
Fungsi UU Perlindungan Konsumen
a. Menyeimbangkan daya tawar konsumen terhadap pelaku usaha; dan
b. Mendorong pelaku usaha untuk bersikap jujur dan bertanggung jawab dalam
menjalankan kegiatannya.6
Hak dan Kewajiban Konsumen dan Pelaku Usaha
Hak Konsumen
Sebagai pemakai barang dan/ atau jasa, konsumen memiliki sejumlah hak dan
kewajiban. Pengetahuan akan hak-hak konsumen adalah hal yang sangat penting agar
masyarakat dapat bertindak sebagai konsumen yang kritis dan mandiri sehingga ia dapat
bertindak lebih jauh untuk memperjuangkan hak-haknya ketika ia menyadari hakhaknya telah dilanggar oleh pelaku usaha.
Hak-hak yang merupakan hak dasar konsumen, untuk pertama kali dikemukakan oleh
Presiden Amerika Serikat, J.F.Kennedy didepan kongres pada 15 maret 1962, yang
terdiri atas 4 (empat) hak dasar, yaitu:
1. Hak untuk mendapatkan keamanan (the right to safety)
6

Ridwan

Konsumen berhak mendapatkan keamanan dan barang dan jasa yang ditawarkan
kepadanya. Produk barang dan jasa itu tidak boleh membahayakan jika dikonsumsi
sehingga konsumen tidak dirugikan baik secara jasmani atau rohani terlebih
terhadap barang dan/ atau jasa yang dihasilkan dan dipasarkan oleh pelaku usaha
yang berisiko sangat tinggi
2. Hak untuk memilih (the right to choose)
Konsumen berhak untuk menentukan pilihannya dalam mengkonsumsi suatu
produk. Ia juga tidak boleh mendapat tekanan dan paksaan dari pihak luar sehingga
ia tidak mempunyai kebebasan untuk membeli atau tidak membeli.
3. Hak untuk mendapatkan informasi (the right tobe informed)
Setiap produk yang diperkenalkan kepada konsumen harus disertai informasi yang
benar baik secara lisan, melalui iklan di berbagai media, atau mencantumkan dalam
kemasan produk (barang). Hal ini bertujuan agar konsumen tidak mendapat
pandangan dan gambaran yang keliru atas produk barang dan jasa
4. Hak untuk didengar (the right to be heard)
Hak ini berkaitan erat dengan hak untuk mendapatkan informasi. Ini disebabkan
informasi yang diberikan oleh pihak yang berkepentingan sering tidak cukup
memuaskan konsumen Untuk itu konsumen harus mendapatkan haknya bahwa
kebutuhan dan klaimya bisa didengarkan, baik oleh pelaku usaha yang bersangkutan
maupun oleh lemabaga-lembaga perlindungan konsumen yang memperjuangkan
hak hak konsumen
Kemudian, oleh organisasi konsumen sedunia (International Organization Of
Consumers Union-IOCU) ditambahkan empat hak dasar konsumen lainnya, yaitu:
1. Hak untuk memperoleh kebutuhan hidup
2. Hak untuk memperoleh ganti rugi
3. Hak untuk memperoleh pendidikan konsumen
4. Hak untuk memperoleh lingkungan hidup yang bersih dan sehat.

Disamping itu, Masyarakat Ekonomi Eropa (Europese Ekonomische Gemeenschap ~


EEG) juga menyepakati lima hak dasar konsumen sebagai berikut:
1. Hak perlindungan kesehatan dan keamanan
2. Hak perlindungan kepentingan ekonomi
3. Hak mendapat ganti rugi

4. Hak atas penerangan


5. Hak untuk didengar.

Hak-hak Konsumen juga diatur dalam Pasal 4 Undang-Undang Perlindungan


Konsumen,
Hak konsumen adalah:
1. hak atas kenyamanan, keamanan, dan keselamatan dalam mengkonsumsi barang
dan/atau jasa;
2. hak untuk memilih barang dan/atau jasa serta mendapatkan barang dan/atau jasa
tersebut sesuai dengan nilai tukar dan kondisi serta jaminan yang dijanjikan;
3. hak atas informasi yang benar, jelas, dan jujur mengenai kondisi dan jaminan barang
dan/atau jasa;
4. hak untuk didengar pendapat dan keluhannya atas barang dan/atau jasa yang
digunakan;
5. hak untuk mendapatkan advokasi, perlindungan, dan upaya penyelesaian sengketa
perlindungan konsumen secara patut;
6. hak untuk mendapat pembinaan dan pendidikan konsumen;
7. hak untuk diperlakukan atau dilayani secara benar dan jujur serta tidak diskriminatif;
(berdasarkan suku, agama, budaya, daerah, pendidikan, kaya, miskin dan status social
lainnya)
8. hak untuk mendapatkan kompensasi, ganti rugi dan/atau penggantian, apabila barang
dan/atau jasa yang diterima tidak sesuai dengan perjanjian atau tidak sebagaimana
mestinya;
9. hak-hak yang diatur dalam ketentuan peraturan perundang-undangan lainnya.
Hak-hak konsumen yang telah disebutkan diatas dapat diuraikan sebagai berikut:
1. Hak atas keamanan dan keselamatan
Hak ini dimaksudkan untuk menjamin keamanan dan keselamatan dalam penggunaan
barang atau jasa yang diperolehnya, sehingga konsumen dapat terhindar dari kerugian
(fisik maupun psikis) apabila memakai suatu produk.
2. Hak untuk memilih

Hak ini dimaksudkan untuk memberikann kebebasan kepada konsumen untuk memilih
produk-produk tertentu sesuai dengan kebutuhannya tanpa ada tekanan dari pihak luar.
Berdasarkan hak ini, konsumen berhak memutuskan untuk membeli atau tidak suatu
produk termasuk jugas untuk memilih baik kualitas maupun kuantitas jenis produk yang
dipilihnya.
Hak ini dimiliki oleh konsumenn hanya jika ada alternatif pilihan dari jenis produk
tertentu, karena jika suatu produk dikuasai secara monopoli oleh suatu produsen/ pelaku
usaha atau dengan kata lain tidak ada pilihan lain (barang maupun jasa), maka dengan
sendirinya hak untuk memilih tidak berfungsi.
Berdasarkan hal tersebut, maka ketentuan yang dapat membantu penegakan hak tersebut
dapat dilihat dalam UU no. 5 tahun 1999 tentang larangan praktik monopoli dan
persaingan usaha tidak sehat, baik dalam pasal 19 maupun pasal 25.
3. Hak untuk memperoleh informasi
Hak atas informasi yang benar dan jelas dimaksudkan agar konsumen dapat
memperoleh gambaran yang benar tentang suatu produk karena dengan informasi
tersebut, konsumen dapat memilih produk yang diinginkan sesuai dengan kebutuhannya
serta terhindar dari kerugian akibat kesalahan dalam penggunaan produk. Informasi
tersebut diantaranya adalah mengenai manfaat kegunaan produk, efek samping atas
penggunaan produk, tanggal kadaluwarsa, serta identitas produsen dari produk tersebut.
Informasi tersebut dapat disampaikan secara lisan maupun secara tertulis, baik yang
dilakukan dengan mencantumkan pada label yang melekat pada produk maupun melalui
iklan-iklan yang disampaikan oleh produsen/ pelaku usaha, baik melalui media cetak
maupun media elektronik.
Informasi ini dapat memberikan dampak signifikan untuk meningkatkan efisiensi dari
konsumen dalam memilih produkk serta meningkatkan kesetiannya terhadap produk
tertentu, sehingga akan memberikan keuntungan bagi pelaku usaha yang memenuhi
kebutuhannya. Dengan demikian, pemenuhan hak ini akan menguntungkan konsumen
dan pelaku usaha
4. Hak untuk didengar

Hak ini adalah hak untuk menghindarkan diri dari kerugian. Hak ni dapat berupa
pertanyaan tentang berbagai hal yang berkaitan dengan produk-produk tertentu apabila
informasi yang diperoleh tentang produk tersebut kurang memadai, atau berupa
pengaduan atas kerugian yang telah dialami akibat penggunaan suatu produk atau
berupa pernyataan/ pendapat tentang suatu kebijakan pemerintah yang berkaitan dengan
kepentingan konsumen. Hak ini disampaikan baik secara perorangan maupun kolektif,
baik yang disampaikan secara langsung maupun diwakili oleh suatu lembaga tertentu,
misalnya YLKI.
5. Hak untuk mendapatkan upaya penyelesaian hukum yang patut
Hak ini dimaksudkan untuk memulihkan keadaan konsumen yang telah dirugikan akibat
penggunaan suatu produk melalui jalur hukum.
6. Hak untuk memperoleh pendidikan konsumen
Hak ini dimaksudkan agar konsumen memperoleh pengetahuan maupun keterampilan
yang diperlukan agar dapat terhindar dari kerugian akibat penggunaan produk. Dengan
adanya pendidikan bagi konsumen diharapkan konsumen dapat lebih kritis dan teliti
dalam memilih suatu produk yang dibutuhkan.
7. Hak untuk diperlakukan secara benar dan jujur serta tidak diskriminatif
Maksud hak ini adalah hak untuk diperlakukan atau dilayani secara benar dan
jujur serta tidak diskriminatif berdasarkan suku, agama, budaya, daerah,
pendidikan, kaya, miskin, dan status sosial lainnya.
8. Hak untuk memperoleh ganti kerugian
Hak ini dimaksudkan untuk memulihkan keadaan yang telah menjadi rusak (tidak
seimbang) akibat adanya penggunaan barang atau jasa yang tidak memenuhi harapan
konsumen. Hak ini terkait dengan penggunaan produk yang telah merugikan konsumen
baik yang berupa kerugian materi maupun kerugian yang menyangkut diri konsumen.
Hak ini dapat diselesaikan secara damai (di luar pengadilan) maupun yang diselesaikan
melalui pengadilan.

10

Bagaimanapun rumusan hak-hak konsumen, secara garis besar dapat dibagi dalam tiga
prinsip, yaitu:7
1. Hak yang dimaksudkan untuk mencegah konsumen dari kerugian, baik kerugian
personal, maupun kerugian harta kekayaan
2. Hak untuk memperoleh barang dengan harga yang wajar
3. Ha untuk memperoleh penyelesaian yang patut terhadap permasalahan yang
dihadapi.
Kewajiban Konsumen
Selain memperoleh hak tersebut, konsumen juga mempunyai kewajiban yang dapat kita
lihat dalam Pasal 5 UUPK, Kewajiban konsumen adalah:
1. membaca atau mengikuti petunjuk informasi dan prosedur pemakaian atau
pemanfaatan barang dan/atau jasa, demi keamanan dan keselamatan;
2. beritikad baik dalam melakukan transaksi pembelian barang dan/atau jasa;
3. membayar sesuai dengan nilai tukar yang disepakati;
4. mengikuti upaya penyelesaian hukum sengketa perlindungan konsumen secara patut.
Hak Pelaku Usaha
Undang-undang Perlindungan Konsumen tidak hanya mengatur tentang hak-hak dan
kewajiban-kewajiban konsumen, melainkan juga hak-hak dan kewajiban-kewajiban
pelaku usaha (perusahaan, korporasi, BUMN, koperasi, importir, pedagang, distributor,
dan lain-lain)
Untuk menciptakan kenyamanan berusaha bagi para pelaku usaha dan sebagai
keseimbangan atas hak-hak yang diberikan kepada konsumen, kepada pelaku usaha
diberikan hak sebagaimana yang diatur dalam Pasal 6 UUPK.
Hak Pelaku Usaha adalah :
1. hak untuk menerima pembayaran yang sesuai dengan kesepakatan mengenai kondisi
dan nilai tukar barang dan/atau jasa yang diperdagangkan;
2. hak untuk mendapat perlindungan hukum dari tindakan konsumen yang beritikad
tidak baik;
7

miru

11

3. hak untuk melakukan pembelaan diri sepatunya di dalam penyelesaian hukum


sengketa konsumen;
4. hak untuk rehabilitasi nama baik apabila terbukti secara hukum bahwa kerugian
konsumen tidak diakibatkan oleh barang dan/atau jasa yang diperdagangkan;
5. hak-hak yang diatur dalam ketentuan peraturan perundang-undangan lainnya.
Kewajiban Pelaku Usaha
Sebagai konsekuensi dari hak konsumen, maka kepada pelaku usaha dibebankan pula
kewajiban-kewajiban sebagaimana diatur dalam Pasal 7 UUPK.
Kewajiban pelaku usaha adalah:
1. beritikad baik dalam melakukan kegiatan usahanya;
2. memberikan informasi yang benar, jelas dan jujur mengenai kondisi dan jaminan
barang dan/atau jasa serta memberi penjelasan penggunaan, perbaikan dan
pemeliharaan;
3. memperlakukan atau melayani konsumen secara benar dan jujur serta tidak
diskriminatif;
4. menjamin mutu barang dan/atau jasa yang diproduksi dan/atau diperdagangkan
berdasarkan ketentuan standar mutu barang dan/atau jasa yang berlaku;
5. memberi kesempatan kepada konsumen untuk menguji, dan/atau mencoba barang
dan/atau jasa tertentu serta memberi jaminan dan/atau garansi atas barang yang dibuat
dan/atau yang diperdagangkan;
6. memberi kompensasi, ganti rugi dan/atau penggantian atas kerugian akibat
penggunaan, pemakaian dan pemanfaatan barang dan/atau jasa yang diperdagangkan;
7. memberi kompensasi, ganti rugi dan/atau penggantian apabila barang dan/atau jasa
yang diterima atau dimanfaatkan tidak sesuai dengan perjanjian.

Lembaga/instansi dan peranannya dalam Perlindungan Konsumen


Badan Perlindungan Konsumen Nasional (pasal 31)
Dalam Undang-Undang tentang perlindungan konsumen, disebutkan adanya badan yang
dibentuk untuk membantu upaya pengembangan perlindungan konsumen yaitu Badan Perlindungan Konsumen
Nasional (BPKN). Badan ini terdiri atas 15 sampai 25 orang anggota yang mewakili unsur: (1) Pemerintah,

12

pelaku usaha, Lembaga perlindungan konsumen swadaya masyarakat akademisi, dan tenaga ahli. Masa jabatan
mereka adalah tiga tahun dan dapat diangkat kembali untuk satu kali masa jabatan berikutnya. 8
Keanggotaan Badan Perlindungan Konsumen Nasional (BPKN) ini diangkat oleh Presiden atas usul mentri
(bidang perdagangan) setelah dikonsultasikan kepada Dewan Perwakilan Rakyat. Syarat-Syarat
keanggotaannya menurut UUPK adalah:

a. warga negara Republik Indonesia;


b. berbadan sehat;
c. berkelakuan baik;
d. tidak pernah dihukum karena kejahatan;
e. memiliki pengetahuan dan pengalaman di bidang perlindungan konsumen; dan
f. berusia sekurangkurangnya
30 (tiga puluh) tahun.

Syarat diatas persis seperti yang juga berlaku untuk menjadi anggota Badan Penyelesaian Konsumen (pasal 49
UUPK). Perbedaannya adalah dalam UUPK, keanggotaan yaitu Badan Perlindungan Konsumen Nasional
(BPKN) dicantumkan secara tegas batas masa jabatannya dan kapan yang bersangkutan dapat berhenti sebagai
anggota. aturan demikian tidak disebutkan untuk kenaggotaan BPSK.
Menurut Pasal 38 UUPK, keanggotaan BPKN berhenti karena:

a. meninggal dunia;
b. mengundurkan diri atas permintaan sendiri;
c. bertempat tinggal di luar wilayah Republik Indonesia;
d. sakit secara terus menerus;
e. berakhir masa jabatan sebagai anggota; atau
f. diberhentikan.
Untuk melaksanakan tugasnya, BPKN dibantu oleh sekertaris yang diangkat oleh Ketua BPKN. Sekertariat ini
paling tidak terdiri atas lima bidang, yaitu: (1) Administrasi dan keuangan, (2) penelitian, pengkajian, dan
pengembangan (3) Pengaduan (4) Pelayanan informasi (5) Kerja sama internasional
BPKN berkedudukan di Jakarta dan bertanggung jawab langsung kepada presiden. Jika diperlukan, BPKN ini
hanya memberikan saran dan pertimbangan kepada pemerintah dalam upaya pengembangan perlindungan
konsumen di Indonesia. Untuk menjalankan fungsi tersebut, badan ini mempunyai tugas (pasal 34 UUPK):

1. memberikan saran dan rekomendasi kepada pemerintah dalam rangka


penyusunan kebijaksanaan di bidang perlindungan konsumen;
2. melakukan penelitian dan pengkajian terhadap peraturan perundangundangan
yang berlaku di bidang perlindungan konsumen;
3. melakukan penelitian terhadap barang dan/atau jasa yang menyangkut
keselamatan konsumen;
4. mendorong berkembangnya lembaga perlindungan konsumen swadaya
masyarakat;
5. menyebarluaskan informasi melalui media mengenai perlindungan konsumen
dan
memasyarakatkan sikap keberpihakan kepada konsumen;
8

Celina

13

6. menerima pengaduan tentang perlindungan konsumen dari masyarakat, lembaga


perlindungan konsumen swadaya masyarakat, atau pelaku usaha;
7. melakukan survei yang menyangkut kebutuhan konsumen.
Diluar BPKN yang independen, dalam pasal 29 dan 30 UUPK diamanatkan, Pemerintah c.q. Mentri yang
membidangi perdagangan ditugasi juga untuk mengkoordinasikan pembinaan dan pengawasan perlindungan
konsumen secara nasional. Mentri yang membidangi perdanganan itu juga berwenang membentuk Tim
koordinasi pengawasan barang dan/atau jasa yang beredar di pasar. Tim ini terdiri atas wakil instansi terkait,
masyarakat dan Lembaga Perlindungan Konsumen Swadaya Masyarakat (LPKSM). Fungsi tim pun hanya
sebatas memberikan rekomendasi kepada mentri untuk melakukan tindakan konkret, seperti penghentian
produksi atau peredaran barang/jasa yang dinilai melanggar peraturan yang berlaku.
Dengan demikian, terdapat perbedaan antara BPKN dan tim diatas. BPKN berfungsi memberikan rekomendasi
kepada pemerintah dalam rangka penyusunan kebijakan dibidang perlindungan konsumen, sementara Tim
Koordinasi yang dibentuk oleh mentri berfungsi memberikan rekomendasi berupa tindakan konkret atas setiap
permasalah yang timbul di masyarakat.

Lembaga Perlindungan Konsumen Swadaya Masyarakat (pasal 44)


Kian ketatnya persaingan dalam merebut mangsa pasar melalui bermacam-macam produk barang, maka perlu
keseriusan Lembaga

Perlindungan Konsumen Swadaya Masyarakat (LPKSM) dalam

memantau pelaku usaha yang hanya mengejar profit semata dengan mengabaikan
kualitas produk barang.
Lembaga Perlindungan Konsumen Swadaya Masyarakat adalah lembaga non-pemerintah yang terdaftar dan
diakui oleh pemerintah yang mempunyai kegiatan menangani perlindungan konsumen. Lembaga ini dibentuk
untuk meningkatkan partisipasi masyarakat dalam upaya perlindungan konsumen serta menunjukkan bahwa
perlindungan konsumen menjadi tanggung jawab bersama antara pemerintah dan masyarakat
LPKSM diperlukan untuk memberikan jaminan accountability pelaku usaha, hal ini disebabkan oleh masih
banyak produk tidak bermutu dan palsu yang beredar bebas di masyarakat. Ketidaktahuan masyarakat dapat
memberi peluang pelaku usaha untuk membodohi masyarakat dengan produk yang tidak memenuhi standart.
LPKSM diharapkan sering melakukan advokasi melalui media massa agar masyarakat selektif serta hat-hati
dalam membeli produk barang yang muncul deras dipasaran.
Berkaitan dengan implementasi perlindungan konsumen, tugas dan wewenang LKPSM sebagaimana tertuang
dalam pasal 44 sebagai berikut:

(2) Lembaga perlindungan konsumen swadaya masyarakat memiliki kesempatan


untuk
berperan aktif dalam mewujudkan perlindungan konsumen.
(3) Tugas lembaga perlindungan konsumen swadaya masyarakat meliputi kegiatan:
a. menyebarkan informasi dalam rangka meningkatkan kesadaran atas hak dan
kewajiban dan kehatihatian konsumen dalam mengkonsumsi barang dan/atau jasa;
b. memberikan nasihat kepada konsumen yang memerlukannya;
c. bekerja sama dengan instansi terkait dalam upaya mewujudkan perlindungan
konsumen;

14

d. membantu konsumen dalam memperjuangkan haknya, termasuk menerima


keluhan atau pengaduan konsumen;
e. melakukan pengawasan bersama pemerintah dan masyarakat terhadap
pelaksanaan perlindungan konsumen.

Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia


The UN Guidelines for customer protection yang diterima dengan suara bulat oleh
Majelis Umum PBB melalui Resolusi PBB No.A/RES/39/248 tanggal 16 April 1985
tentang perlindungan konsumen, mengandung pemahaman umum mengenai perangkat
perlindungan konsumen yang asasi dan adil. Satu hal yang diperjuangkan Guidelines
(petunjuk) itu adalah sturktur kelompok-kelompok konsumen yang independen, dimana
dinyatakan dalam paragraph pertama bahwa pemerintah-pemerintah berbagai Negara
sepakat untuk memfasilitasi/mendukung pengembangan kelompok-kelompok konsumen
(guidelines1e) hal ini merupakan kemajuan yang berarti di bidang perlindungan
konsumen.
Keberadaan kelompok konsumen tentu saja berbeda dengan organisasi konsumen. Pada
hakikatnya kelompok konsymen lebih merupakan pengelompokan konsumen pada
berbagai sector, bisalnya kelompok konsumen pemegang kartu kredit, kelompok
konsumen barang elektronik, dan lain sebagainya. Kelompok konsumen bertindak
dalam kapasitasnya sebagai konsumen. Adapun organisasi konsumen merupakan
lembaga swadaya masyarakat yang bergerak dibidang perlindungan konsumen. Didalam
segala aktivitasnya, tentu saja organisasi konsumen seperti Yayasan Lembaga
Konsumen Indonesia (YLKI) bertindak dalam kapasitasnya selaku perwakilan
konsumen (Consumer Representation). Walaupun demikian, keduanya memiliki tujuan
yang sama, yaitu melayain dan meningkatkan martabat dan kepentingan konsumen.
Prinsip kebebasan merupakan karakteristik penting, baik bagi organisasi konsumen
maupun kelompok konsumen. Mengenai karakteristik ini, terdapat 6 kualifikasi
kebebasan yang harus dimiliki organisasi konsumen dan kelompok konsumen:
1. Harus secara eksklusif mewakili kepentingan konsumen
2. Kemajuan perdagangan tidak ada artinya jika diperoleh dengan cara-cara yang
merugikan konsumen
3. Harus nonprofit making dalam profil aktivitasnya
4. Tidak boleh menerima iklan untuk alasan komersial apapun dalam publikasi
5. Tidak boleh mengizinkan eksploitasi atas informasi dan advis yang mereka
berikan kepada konsumen untuk kepentingan perdagangan.
6. Mereka Tidak boleh mengizinkan kebebasan tindakan dan tindakan mereka
dipengaruhi atau dibatasi pesan-pesan sponsor/pesan-pesan tambahan.
Badan Penyelesaian sengketa Konsumen (pasal 49)
Hubungan hukum antara pelaku usaha dengan konsumen tidak tertutup kemungkinan timbulnya
perselisihan/sengketa konsumen. Selam ini sengketa konsumen diselesaikan melalui gugatan di pengadilan,
namun pada kenyataannya lembaga pengadilan tidak akomodatif untuk menampung sengketa konsumen karena
proses perkara yang terlalu lama dan sangat birokratis. Berdasarkan pasal 45 UUPK setiap konsumen yang

15

dirugikan dapat menggugat pelaku usaha melalui lembaga yang bertugas menyelesaikan sengketa antara
konsumen dan pelaku usaha atau melalui peradilan yang berada di lingkungan peradilan umum. 9
Di luar peradilan umum, UUPK membuat trobosan dengan memfasilitsi para konsumen yang merasa dirugikan
dengan mengajukaan guguatan ke pelaku usaha di luar peradilan, yaitu Badan Penyelesaian Sengketa
Konsumen (BPSK). Hal ini berlaku untuk gugatan secara perorangan, sedangkan gugatan secara kelompok
(Class action) dilakukan melalui peradilan umum.
Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen adalah badan yang bertugas menangani dan menyelesaikan sengketa
antara pelaku usaha dan konsumen. Badan ini dibentuk untuk menangani penyelesaian sengketa konsumen
yang efisien, cepat, murah dan profesional. BPSK hanya menerima perkara yang nilai kerugiannya kecil.
Pemeriksaan dilakukan oleh hakim tunggal dan tidak diperkenankan kehadiran penuh pihak ketiga (pengacara)
sebagai wakil pihak yang bersengketa. Putusan dari BPSK tidak dapat dibanding, kecuali bertentangan dengan
hukum yang berlaku.
Badan ini dibentuk disetiap daerah tingkat II (pasal 49), BPSK dibentuk untuk menyelesaikan sengketa
konsumen diluar pengadilan (pasal 49 ayat 1) dan badan ini mempunyai anggota dari unsur pemerintah,
konsumen, dan pelaku usaha. Setiap unsur tersebut berjumlah 3 (tiga) orang atau sebanyak-banyaknya 5 (lima)
orang, yang kesemuanya diangkat dan diberhentikan oleh Mentri (perindustrian dan perdaganan). Keanggotaan
badan terdiri atas ketua merangkap anggota, wakil ketua merangkap anggota, dan anggota dengan dibantu
sebuah sekertariat. (pasal 50 jo. 51)
Tugas dan wewenang BPSK (pasal 52) meliputi:

a. melaksanakan penanganan dan penyelesaian sengketa konsumen, dengan cara


melalui mediasi atau arbitrase atau konsiliasi;
b. memberikan konsultasi perlindungan konsumen;
c. melakukan pengawasan terhadap pencantuman klausula baku;
d. melaporkan kepada penyidik umum apabila terjadi pelanggaran ketentuan dalam
Undangundang ini;
e. menerima pengaduan baik tertulis maupun tidak tertulis, dari konsumen tentang
terjadinya pelanggaran terhadap perlindungan konsumen;
f. melakukan penelitian dan pemeriksaan sengketa perlindungan konsumen;
g. memanggil pelaku usaha yang diduga telah melakukan pelanggaran terhadap
perlindungan konsumen;
h. memanggil dan menghadirkan saksi, saksi ahli dan/atau setiap orang yang
dianggap mengetahui pelanggaran terhadap Undang-undang ini;
i. meminta bantuan penyidik untuk menghadirkan pelaku usaha, saksi, saksi ahli,
atau
setiap orang sebagaimana dimaksud pada huruf g dan huruf h, yang tidak bersedia
memenuhi panggilan badan penyelesaian sengketa konsumen;
j. mendapatkan, meneliti dan/atau menilai surat, dokumen, atau alat bukti lain guna
penyelidikan dan/atau pemeriksaan;
k. memutuskan dan menetapkan ada atau tidak adanya kerugian di pihak
konsumen;
l. memberitahukan putusan kepada pelaku usaha yang melakukan pelanggaran
terhadap perlindungan konsumen;
m. menjatuhkan sanksi administratif kepada pelaku usaha yang melanggar
ketentuan
Undang-undang ini.

celina

16

Dalam menyelesaikan sengketa konsumen, dibentuk majelis yang terdiri aras sedikitnya 3 anggota dibantu oleh
seorang panitera. Putusan yang dijatuhkan Majelis BPSK bersifat final dan mengikat. BPSK wajib
menjatuhkan putusan selama-lamanya 21 (dua puluh satu) sejak gugatan diterima. Keputusan BPSK wajib
dilaksanakan pelaku usaha dalam jangka waktu 7 hari setelah diterimanya, atau apabila ia keberatan, dapat
mengajukan ke Pengadilan Negeri dalam jangka waktu 14 hari. Pengadilan Negeri yang menerima keberatan
pelaku usaha memutus perkara tersebut dalam jangka waktu 21 hari sejak diterimanya keberatan tersebut.
Selanjutnya kasasi pada putusan pengadilan negeri ini diberi luang waktu 14 hari untuk diajukan ke Mahkamah
Agung. Keputusan MA wajib dikeluarkan dalam jangka waktu 30 (tiga puluh) hari sejak permohonan kasasi.
Dari keseluruhan proses peresidangan berdasarkan ketentuan UUPK terlihat setidak-tidaknya dari sudut biaya
dan waktu penyelenggaraan keadilan itu dipihak konsumen dan pelaku usaha yang jujur dan bertanggung jawab
dimudahkan dan dipercepat (putusan yang mempuyai kekuatan hukum pasti dapat dijatuhkan dalam jangka
waktu relative pendek, maksimum 100 (seratus) hari (total dari proses pertama sampai akhir)

Perlindungan Konsumen perspektif Hukum Islam (himayah al-Mustahlik);


Konsumen dan teori kepemilikan, hak konsumen dalam islam.
Islam telah mangajarkan bahwa setiap perbuatan yang merugikan pihak lain itu
dilarang, terutama dalam pemakaian barang atau jasa. Sebagaimana tercantum dalam alQuran Surat An-nisa :29
Pembeli atau konsumen seharusnya menerima barang dalam kondisi baik dan dengan
harga yang wajar. Mereka juga harus diberitahu apabila terdapat kekurangankekurangan pada suatu barang
Islam melarang produk-produk di bawah ini ketika berhubungan dengan konsumen atau
pembeli :
1. Penggunaan alat ukur atau timbangan yang tidak tepat.
2. Penimbunan dan pemanipulasian harga.
3. Penjualan barang palsu atau rusak
4. Bersumpah untuk mendukung sebuah penjualan.
5. Membeli barang-barang curian
6. Larangan mengambil bunga atau riba.

17

consumerism, consumer protection, promotion of the consumer's interests

10


::




:

: : : :

: ": :
".11

) (
) (
) (

12.

Kesimpulan
Dalam menghadapi abad XXI, konsumen mengharapkan pelayanan birokrasi
menjadi lebih baik, paling tidak beberapa indicator atau kriteria yang ditawarkan di
atas semaksimal mungkin dipenuhi. Abdi Negara sudah seharusnya melayani
kepentingan masyarakat dan bukan dilayani oleh masyarakat. Mengingat salah
satu tolak ukur dari majunya suatu Negara adalah nilai dari pelayanan terhadap
masyarakat oleh aparatur Negara

) (
, : :

10

11

_ http://ar.wikipedia.org/wiki/

18

12

Relevansi Undang-undang perlindungan konsumen terhadap jaminan kehalalan


produk bagi konsumen muslim, masih sangat minim. Karena begitu sedikitnya point
yang membahas kawajiban pelaku usaha untuk berproduksi secara
halal.Sedangkan dalam Islam masalah kehalalan merupakan suatu hal yang
bersifat dharuri (primer).

19