Anda di halaman 1dari 19

Praktikum Kimia Material

Tahun Ajaran 2013/2014

PENENTUAN BAGIAN YANG TIDAK LARUT


DALAM SEMEN PORTLAND
I.

TUJUAN
Menentukan bagian yang tidak larut dalam semen portland

II. TEORI
Menurut SNI 15-2049-2004, semen portland adalah semen hidraulis yang
dihasilkan dengan cara menggiling terak (klinker) yang terdiri atas kalsium
silikat hidrat dan digiling bersama-sama dengan bahan tambahan berupa
kalsium sulfat dan bahan-bahan lainnya. Senyawa kalsium silikat hidrat dalam
semen akan bereaksi dengan air dan dapat mengikat bahan-bahan padat
lainnya untuk membentuk satu kesatuan massa yang kuat, kompak, dan keras.
Adapun bahan baku dalam pembuatan semen adalah :
1. Batu kapur
Batu kapur merupakan sumber CaCO3 dan menyumbang

80% dalam

komposisi campuran semen.


2. Batu silika
Batu silika merupakan sumber SiO2 dan menyumbang

10% dalam

komposisi campuran semen.


3. Tanah liat
Tanah liat merupakan sumber Al2O3 dan menyumbang

9% dalam

komposisi campuran semen.


4. Pasir besi
Pasir besi merupakan sumber Fe2O3 dan menyumbang

1% dalam

komposisi campuran semen. [1]


Pada proses pembuatan semen, keempat bahan baku diatas akan
digiling dan dicampur serta melalui proses pembakaran dalam rotary kiln. Hasil
proses pembakaran dalam rotary kiln ini dsebut dengan klinker. Pembakaran
bahan baku (proses kalsinasi) ini berfungsi untuk mengubah bahan baku
menjadi bentuk oksidanya. Dalam proses kalsinasi ini akan terbentuk
kelompok-kelompok senyawa yang akan menjadi komposisi kimia semen.
Kelompok senyawa tersebut adalah :
1. C3S : 3CaO . SiO2 (trikalsium silikat)

Penentuan Bagian yang tidak Larut dalam Semen Portland

Praktikum Kimia Material


Tahun Ajaran 2013/2014

2. C2S : 2CaO . SiO2 (dikalsium silikat)


3. C3A : 3CaO . Al2O3 (trikalsium aluminat)
4. C4AF : 4CaO . Al2O3 . Fe2O3 (tetrakalsium aluminoferrat)[1]
Sifat-sifat komposisi kimia semen diatas dapat dijabarkan sebagai
berikut :
1. C3S (trikalsium silikat)
Jika ditambahkan dengan air, C3S akan segera kaku setelah beberapa jam.
Kandungan C3S dalam semen

45% (masih bisa divariasikan sekitar 35

55%) dan memberikan panas hidrasi

500 J/g[2].

2. C2S (dikalsium silikat)


Jika ditambahkan dengan air, C2S akan segera kaku setelah beberapa
minggu. Kandungan C2S dalam semen
hidrasi

25% dan memberikan panas

250 J/g[2].

3. C3A (trikalsium aluminat)


Jika ditambahkan dengan air, C3A akan segera kaku setelah beberapa hari.
Kandungan C3A dalam semen

15% dan memberikan panas hidrasi

850

J/g[2].
4. C4AF (tetrakalsium aluminoferrat)
Jika ditambahkan dengan air, C4AF akan segera kaku setelah beberapa
menit. Kandungan C3A dalam semen

85% dan memberikan panas hidrasi

420 J/g[2].
Selain keempat komposisi diatas, ada komposisi lain yang terdapat pada
semen yaitu alkali terlarut (K2O/Na2O). Alkali terlarut ini akan bereaksi dengan
silika dan membentuk produk baru yang disebut alkali silika gel. Kelebihan
alkali silika gel ini akan mengisi ruang pada semen yang bisa menyebabkan
keretakan. Sehingga penambahan alkali terlarut ini tidak boleh lebih dari 0.6%
(masih bisa divariasikan sekitar 1,0 1,5%)[2].
Adapun sifat-sifat semen adalah :
1. Setting time
Setting time atau yang sering disebut sebagai waktu pengikatan adalah
waktu yang dibutuhkan oleh semen setelah ditambahkan dengan air untuk

Penentuan Bagian yang tidak Larut dalam Semen Portland

Praktikum Kimia Material


Tahun Ajaran 2013/2014

mencapai kekakuan. Faktor-faktor yang mempengaruhi setting time ini


adalah :
a) Kandungan C3A
Jika kandungan C3A terlalu banyak dalam semen, maka setting time
akan menjadi lebih pendek[3].
b) Kandungan gipsum
Jika kandungan gipsum dalam semen terlalu banyak, maka setting time
akan menjadi lebih lama[3].
c) Kehalusan semen
Makin halus partikel semen, maka luas permukaan semakin besar dan
reaksi akan lebih cepat sehingga setting time akan lebih pendek[3].
2. Panas hidrasi
Panas hidrasi adalah panas yang dihasilkan dari reaksi semen ketika
dicampurkan dengan air. Berikut ini adalah reaksi hidrasi semen :
C3S .... 3CaO . SiO2

+ H2O

3CaO . 2SiO2 . 3H2O + Ca(OH)2

C2S .... 2CaO . SiO2


C3A .... 3CaO . Al2O3

3CaO . Al2O3 . 3H2O


+
CaSO4 . 5H2O

3CaO . Al2O3 . 3 CaSO4 . 3H2O

C4AF .... 4CaO . Al2O3 . Fe2O3

3CaO . (AlFe)2O3 . 3 CaSO4 . 3H2O[3]

3. Kuat tekan
Kuat tekan adalah kemampuan semen (beton) untuk menahan beban
setelah dibiarkan selama 28 hari. Faktor yang mempengaruhi kuat tekan
semen adalah komposisi kimia semen. Hal ini dapat dijabarkan sebagai
berikut :
- C3S

: memberikan kontribusi kuat tekan pada 28 hari

- C2S

: memberikan kontribusi kuat tekan pada 180 hari

- C3A

: memberikan kontribusi kuat tekan pada 1 tahun

Penentuan Bagian yang tidak Larut dalam Semen Portland

Praktikum Kimia Material


Tahun Ajaran 2013/2014

- C4AF : tidak begitu mempengaruhi kuat tekan[3]


Berdasarkan standar nasional indonesia (SNI), SNI 1520491994, yang
juga sesuai dengan standar ASTM 15095 a, semen portland dibagi menjadi 5
tipe, antara lain :
1. Semen Portland Tipe I
Semen Portland Tipe I memiliki komposisi kimia yang terdiri dari C3S 49%,
C2S 25%, C3A 12%, dan C4AF 8%. Semen ini digunakan secara luas untuk
konstruksi umum dan tidak memerlukan persyaratan khusus seperti
perumahan, gedung bertingkat, jembatan, landasan pacu, dan jalan raya[4].
2. Semen Portland Tipe II
Semen Portland Tipe II memiliki komposisi kimia yang terdiri dari C 3S 46%,
C2S 29%, C3A 6%, dan C4AF 12%. Semen Portland Tipe II dikenal sebagai
semen yang mempunyai ketahanan terhadap sulfat dan panas hidrasi
sedang. Misalnya untuk bangunan di pinggir laut, tanah rawa, dermaga,
saluran irigasi, beton massa dan bendungan[4].
3. Semen Portland Tipe III
Semen Portland Tipe III memiliki komposisi kimia yang terdiri dari C3S 56%,
C2S 15%, C3A 12%, dan C4AF 8%. Semen tipe ini merupakan semen yang
dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan bangunan yang memerlukan
kekuatan tekan awal tinggi, misalnya digunakan untuk pembuatan jalan
raya, bangunan tingkat tinggi dan bandar udara[4].
4. Semen Portland Tipe IV
Semen Portland Tipe IV memiliki komposisi kimia yang terdiri dari C3S 26%,
C2S 49%, C3A 5%, dan C4AF 18%. Semen tipe ini merupakan semen yang
digunaka untuk pembuatan dam-dam besar dan tebal yang memerlukan
panas hidrasi yang rendah[4].
5. Semen Portland Tipe V
Semen Portland Tipe V memiliki komposisi kimia yang terdiri dari C 3S 38%,
C2S 49%, C3A 4%, dan C4AF 15%. Semen tipe ini dipakai untuk konstruksi
bangunan pada tanah atau air yang mengandung sulfat tinggi dan sangat
cocok untuk instalasi pengolahan limbang pabrik, konstruksi dalam air,
jembatan, terowongan, pelabuhan dan pembangkit tenaga nuklir[4].

Penentuan Bagian yang tidak Larut dalam Semen Portland

Praktikum Kimia Material


Tahun Ajaran 2013/2014

III. PROSEDUR PERCOBAAN


3.1 Alat dan Bahan
3.1.1 Alat dan Fungsi
No

Alat

Fungsi

Gelas piala

Wadah larutan

Gelas ukur

Mengukur volume larutan

Kaca arloji

Penutup wadah larutan

Batang pengaduk

Mengaduk campuran

Corong

Menyaring endapan

Neraca analitik

Menimbang zat

3.1.2 Bahan dan Fungsi


No

Bahan

Fungsi

Semen

Sampel

HCl 1 : 1

Melarutkan oksida logam

NaOH 2%

Melarutkan bagian yang tidak larut dalam HCl

HCl p.a

Memberi suasana asam

Penentuan Bagian yang tidak Larut dalam Semen Portland

Praktikum Kimia Material


Tahun Ajaran 2013/2014

3.2 Cara Kerja


Sebanyak 1 g sampel dimasukkan ke dalam gelas piala 250 mL dan
ditambahkan akuades secukupnya kemudian ditambahkan 10 mL HCl (1 : 1)
dan dipanaskan selama 20 menit. Setelah itu larutan diencerkan sampai
volume 50 mL dan pemanasan dilanjutkan selama 10 menit. Endapan yang
terbentuk disaring dan dicuci dengan akuades panas sebanyak 10 kali. Kertas
saring yang berisi endapan dimasukkan ke dalam gelas piala yang berisi 100
mL NaOH 2%, kemudian dipanaskan kembali selama 15 menit. Larutan
ditambahkan 2 tetes indikator metil merah dan diteteskan HCl p.a sampai
larutan berwarna merah. Endapan yang terbentuk disaring dan dicuci dengan
akuades panas sebanyak 10 kali kemudian dikeringkan pada suhu kamar dan
dihitung rendemennya.

Penentuan Bagian yang tidak Larut dalam Semen Portland

Praktikum Kimia Material


Tahun Ajaran 2013/2014

3.3 Skema Kerja


Semen portland
- diambil sebanyak 1 g
- dimasukkan ke dalam gelas piala 250 mL dan ditambahkan
akuades secukupnya
- ditambahkan 10 mL HCl 1 : 1
- dipanaskan selama 20 menit
- diencerkan sampai 50 mL
- dipanaskan kembali selama 10 menit
- disaring
Endapan
- dicuci dengan akuades panas sebayak 10 kali
- dimasukkan ke dalam gelas piala yang berisi 100 mL NaOH 2%
Campuran
- dipanaskan selama 15 menit
- ditambahkan 2 tetes indikator metil merah
- diteteskan HCl p.a sampai terbentuk larutan berwarna merah
- disaring
Endapan
- dicuci dengan akuades panas sebanyak 10 kali
- dikeringkan pada suhu kamar
- ditimbang dan dihitung rendemennya
Hasil

Penentuan Bagian yang tidak Larut dalam Semen Portland

Praktikum Kimia Material


Tahun Ajaran 2013/2014

3.4 Skema Alat


1

Keterangan :

1. Gelas piala
2. Hot plate

Penentuan Bagian yang tidak Larut dalam Semen Portland

Praktikum Kimia Material


Tahun Ajaran 2013/2014

IV. DATA DAN PERHITUNGAN


4.1 Data
Massa sampel (semen)

= 1,05 g

Massa kertas saring

= 0,90 g

Massa kertas saring + bagian tidak larut = 0,947 g


Massa bagian tidak larut

= 0,047 g

4.2 Perhitungan
Rendemen =
=
=

Penentuan Bagian yang tidak Larut dalam Semen Portland

Praktikum Kimia Material


Tahun Ajaran 2013/2014

V. HASIL DAN PEMBAHASAN


5.1 Pengamatan Setiap Langkah Kerja
No

Langkah Kerja

Foto

Pengamatan

Analisis

dan Reaksi
1

Sebanyak 1 g sampel semen

Penambahan

portland

dilakukan sampai semen penambahan akuades pada semen ini

dimasukkan

ke

dalam gelas piala 250 mL

akuades Akuades berperan sebagai pelarut dan

berbentuk pasta

dan ditambahkan akuades

menyebabkan terbentuknya senyawa


alumina silikat hidrat

secukupnya
2

Tambahkan 10 mL HCl 1 : 1

Larutan berubah warna Penambahan

ke dalam sampel

menjadi kekuningan

HCl

bertujuan

untuk

melarutkan oksida-oksida logam yang


terdapat pada semen

Larutan dipanaskan selama

Larutan menjadi kental Pemanasan akan mempercepat proses

20 menit

karena pemanasan

pelarutan oksida-oksida logam yang ada


pada semen

Penentuan Bagian yang tidak Larut dalam Semen Portland

Praktikum Kimia Material


Tahun Ajaran 2013/2014

Larutan diencerkan dengan

Terbentuk larutan yang Penambahan akuades akan menambah

akuades sampai volume 50

lebih encer

mL

kemudian

kelarutan bagian yang belum larut dalam

pemanasan

semen pada penambahan HCl 1:1 dan

dilanjutkan selama 10 menit

proses

pelarutan

bagian

tersebut

dipercepat dengan pemanasan


5

Endapan

yang

terbentuk

Filtrat

yang

terbentuk Pencucian dengan akuades panas akan

disaring dan dicuci dengan

berwarna

kekuningan menghilangkan

pengotor-pengotor

akuades panas sebanyak 10

dan endapan berwarna berupa sisa asam dan sisa garam dan

kali

putih

endapan yang terbentuk mengandung


logam alkali dan alkali tanah serta SiO2

Kertas saring yang berisi

Terbentuk

endapan

berwarna putih

dimasukkan

ke

suspensi NaOH

berfungsi

untuk

melarutkan

bagian yang harusnya larut tetapi tidak

dalam gelas piala yang berisi

larut dalam asam (HCl). Suspensi yang

100 mL NaOH 2%

terbentuk merupakan endapan senyawa


hidroksida

hasil

reaksi

antara

OH-

dengan logam alkali dan alkali tanah

Penentuan Bagian yang tidak Larut dalam Semen Portland

Praktikum Kimia Material


Tahun Ajaran 2013/2014

Larutan dipanaskan kembali

Suspensi larut

Pemanasan

selama 15 menit

bertujuan

mempercepat

proses pelarutan suspensi (endapan


hidroksida)

Larutan ditambahkan 2 tetes

Terbentuk

larutan Metil merah berperan sebagai indikator

indikator metil merah

berwarna kuning

dimana range pH metil merah ini adalah


4,8 6

Larutan

ditambahkan

HCl

Terbentuk

larutan HCl p.a berfungsi untuk memberikan

p.a setetes demi setetes

berwarna

sampai

endapan juga terbentuk

larutan

berubah

merah

dan suasana asam dan pH larutan sesuai


dengan indikator yang digunakan

warna menjadi merah


10

Endapan

yang

terbentuk

disaring dan dicuci dengan

Terbentuk

endapan Pencucian endapan

berwarna kecoklatan

dengan akuades

panas bertujuan untuk menghilangkan

akuades panas sebanyak 10

pengotor-pengotor berupa sisa asam

kali,

endapan

dan sisa basa dan endapan yang

dihitung

terbentuk merupakan bagian yang tidak

kemudian

dikeringkan
rendemennya

dan

larut dalam semen berupa SiO2

Penentuan Bagian yang tidak Larut dalam Semen Portland

Praktikum Kimia Material


Tahun Ajaran 2013/2014

5.2 Pengamatan Sifat Fisik dan Hasil Akhir


No

Senyawa dan

Sifat Fisik

Rendemen

Analisis

Endapan berwarna kecoklatan

4,476%

Endapan yang didapat merupakan

Struktur Produk
1

SiO2

bagian yang tidak larut dalam semen


portland.

Bagian

tidak

larut

ini

merupakan SiO2 yang tidak larut


seperti oksida-oksida logam lain yang
larut dalam asam (HCl) dan logam
alkali dan alkali tanah yang larut
dalam basa (NaOH). Rendemen yang
didapatkan adalah 4,476%. Hasil ini
menunjukkan

bahwa

semen

yang

digunakan sebagai sampel meiliki


kandungan bagian yang tidak larut
yang sesuai standar yaitu 2 5%

Penentuan Bagian yang tidak Larut dalam Semen Portland

Praktikum Kimia Material


Tahun Ajaran 2013/2014

5.3 Pembahasan
Percobaan mengenai penentuan bagian yang tidak larut dalam semen portland
diawali dengan mencampurkan semen dengan akuades secukupnya untuk
membentuk pasta agar reaksi natinya berlangsung lebih cepat dan sempurna
dan pasta yang terbentuk merupakan senyawa alumina silikat hidrat
Selanjutnya pasta semen tadi ditambahkan HCl (1 : 1) untuk melarutkan oksidaoksida logam yang ada didalam semen dan proses pelarutan okida-oksida
logam ini dipercepat dengan bantuan pemanasan.
Setelah dipanaskan selama 20 menit, larutan diencekan sampai volume
50 mL untuk menambahkan kelarutan dari larutan, sehingga bagian yang belum
larut dalam semen akan larut. Endapan yang terbentuk setelah pemanasan
dilanjutkan disaring dan dicuci dengan akuades panas sebanyak 10 kali.
Endapan yang terbentuk mengandung logam alkali dan alkali tanah serta SiO 2
dan pencucian dengan akuades panas bertujuan untuk menghilangkan
pengotor-pengotor berupa sisa-sisa asam dan sisa-sisa garam yang terbentuk
selama reaksi.
Endapan yang telah disaring dan dicuci, dimasukkan ke dalam gelas piala
yang berisi 100 mL NaOH 2%. Tujuan perlakuan ini adalah untuk melarutkan
bagian yang harusnya larut tetapi tidak larut dalam asam (HCl). Pada saat
penambahan NaOH ini terbentuk suspensi berwarna putih yang merupakan
hasil reaksi antara OH- dengan logam alkali dan alkali tanah
Proses ini dilanjutkan dengan memanaskan larutan untuk melarutkan
suspensi (endapan hidroksida) yang terbentuk dari penambahan NaOH tadi.
Setelah itu, larutan ditambahkan metil merah dan diteteskan HCl p.a sampai
terbentuk larutan yang berwarna merah. Metil merah befungsi sebagai indikator
dimana range pH dari metil merah yaitu 4,8 6,0 dan HCl p.a berfungsi untuk
memberikan suasana dan hal ini sesuai dengan indikator yang digunakan.
Endapan yang didapat merupakan bagian tidak larut dalam semen (SiO 2).
Massa bagian yang tidak larut yang didapat adalah 0,047 g dengan rendemen
sebesar 4,476%. Hasil ini menunjukkan bahwa semen ini memiliki kualitas yang
baik karena memiliki persentase bagian yang tidak larut yang sesuai dengan
standar yaitu 2 - 5%.

Penentuan Bagian yang tidak Larut dalam Semen Portland

Praktikum Kimia Material


Tahun Ajaran 2013/2014

VI. KESIMPULAN DAN SARAN


5.1 Kesimpulan
Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa :
1. Prinsip dari penentuan bagian yang tidak larut dalam semen adalah
kelarutan.
2. Bagian yang larut dalam semen merupakan oksida-oksida logam,
dimana bagian ini ada yang larut dalam asam dan ada yang larut dalam
basa.
3. Bagian yang tidak larut dalam semen adalah SiO2.
4. Bagian yang tidak larut dalam semen yang didapat sebesar 0,047 g
dengan rendemen 4,476%.
5. Semen yang digunakan sebagai sampel memilki kualitas yang baik
karena memilki kadar bagian yang tidak larut sesuai dengan standar
yaitu 2 5%.
5.2 Saran
Agar percobaan selanjutnya lebih baik, maka disarankan :
1. Memahami prinsip dan prosedur kerja.
2. Teliti dalam pengambilan dan penambahan zat.
3. Hati-hati dalam melakukan penambahan HCl p.a.

Penentuan Bagian yang tidak Larut dalam Semen Portland

Praktikum Kimia Material


Tahun Ajaran 2013/2014

Lampiran 1.1 TUGAS PRAKTIKUM


1. Fungsi penambahan HCl pada tahap awal adalah melarutkan bahan-bahan
(oksida-oksida logam) yang terkandung dalam semen portland.
2. Pencucian dengan air panas bertujuan untuk melarutkan (menghilangkan)
sisa-sisa asam dan sisa-sisa garam dan sisa-sisa basa yang terbentuk dari
reaksi antara semen dan NaOH.

Penentuan Bagian yang tidak Larut dalam Semen Portland

Praktikum Kimia Material


Tahun Ajaran 2013/2014

Lampiran 1. 2 JURNAL
Judul Jurnal
Pengaruh Penambahan Abu Sekam Padi terhadap Kuat Tekan Mortar Semen
PCC dengan Perendaman dalam Asam Sulfat dan Analisis Larutan Rendaman
Mortar
Skema Kerja
500 g semen

1325 g pasir Ottawa

276 mL air

dicampurkan
di dalam mixer

Adonan yang terbentuk dimasukkan ke


dalam 6 buah cetakan mortar 5x5x5
kemudian dimasukkan ke dalam lemari
penyimpanan selama 24 jam

mortar dibuka dari cetakan dan diberi


merek dengan menggunakan spidol

mortar dimasukkan kedalam kotak


yang telah diisi dengan larutan asam
sulfat pH 4.5 dan akuades dan
direndam selama 3, 7, dan 28 Hari

permukaan mortar dibersihkan dengan


kuas

kuat tekan mortar diuji dengan dengan


alat compressive strength dengan
variasi ASP berbeda-beda

Penentuan Bagian yang tidak Larut dalam Semen Portland

Praktikum Kimia Material


Tahun Ajaran 2013/2014

Analisis Metode yang dipakai


Penelitian mengenai pengaruh penambahan abu sekam padi terhadap kuat
tekan mortar semen PCC dengan perendaman dalam larutan asam sulfat dan
analisis larutan rendaman mortar dengan variasi waktu rendaman mortar 3, 7,
dan 28 hari. Setelah itu kuat tekan mortar diuji dengan alat compressive
strength.

Analisis Hasil yang didapatkan


Dari hasil pengukuran kuat tekan pada mortar yang direndam dalam larutan
H2SO4 dan akuades tampak bahwa semakin lama hari perendaman maka nilai
kuat tekannya semakin besar. Hal ini disebabkan karena sifat semen yang
hidrolik yang mempunyai kemampuan untuk mengikat dan berikatan dengan air
atau yang disebut proses hidrasi yang tetap berlangsung sampai hari ke 100.
Peningkatan persentase abu sekam padi menyebabkan berkurangnya nilai kuat
tekan mortar. Hal tersebut disebabkan karena yang berperan aktif untuk
memberikan kuat tekan yang tinggi adalah C3S dan C2S. Dan dalam
pembuatan semen PCC berat klinker dikurangi sebanyak persentase abu
sekam padi yang ditambahkan, Sehingga persentase dari C 3S dan C2S
berkurang dan nilai kuat tekan mortar berkurang. Dan berdasarkan pengukuran,
batas maksimum penambahan abu sekam padi sebagai bahan aditif dalam
pembuatan semen PCC adalah 4%.

Kelebihan jurnal dibandingkan praktikum


Penelitian di jurnal meliputi pembuatan semen, penenentuan bagian tak larut,
dan pengujian kuat tekan mortar semen PCC dengan perendaman dalam
larutan asam sulfat dan analisis larutan rendaman mortar dengan variasi waktu
rendaman mortar 3, 7, dan 28 hari sedangkan pada praktikum ini hanya
dilakukan pengujian bagian tak larut dalam semen portland.

Penentuan Bagian yang tidak Larut dalam Semen Portland

Praktikum Kimia Material


Tahun Ajaran 2013/2014

DAFTAR PUSTAKA
1. Alizar, TEKNOLOGI BAHAN KONSTRUKSI. Universitas Mercu Buana
2. Jackson, N. 1978. CIVIL ENGINEERING MATERIALS. Hongkong : English
Language Book Society
3. Mercalfe, H C. 1976. MODERN CHEMISTRY: TEACHER EDITION. New
York: Rinehart and Winston Publisher
4. Tjokrodimulyo, K. 1996. TEKNOLOGI BETON. Yogyakarta : Nafiri

Penentuan Bagian yang tidak Larut dalam Semen Portland