Anda di halaman 1dari 15

MAKALAH KONSEP AREA KERJA

DALAM KEPERAWATAN KOMUNITAS


Disusun untuk Memenuhi Tugas Mata Ajar Keperawatan Komunitas
Koordinator Dosen : Ns. Artika Nurrahima, S.Kep., M.Kep

Disusun Oleh :
Cahyo Yuwono

22020111130057

Fadlun Naim

22020111130045

Itha Kartika Ardina

22020111120010

Nur Ali Hidayat

22020111130046

Yesi Melisa W

22020111130038

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


JURUSAN KEPERAWATAN FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
2014

BAB I
PENDAHULUAN

A. Pendahuluan
Kesehatan merupakan bagian penting dalam menjalani kehidupan
sehari-hari. Apabila kita sakit atau mengalami masalah kesehatan maka
rutinitas sehari-hari kita ikut terganggu. Tidak harus sakit fisik, tetapi bisa
juga sakit pikiran (stress). Masalah kesehatan dapat muncul dimana saja, yang
terdapat pencetus masalah kesehatan di tempat tersebut. Misalkan di rumah,
sekolah, kerja, di area bencana, dan lain-lain.
Keperawatan

komunitas

adalah

keperawatan

dimana

fokus

pelayanannya berpusat pada masyarakat atau sebuah komunitas. Misalkan


pada area kerja pembuat kue, maka orang-orang atau anggota atau karyawan
didalam bakery tersebut yang mendapat layanan kesehatan. Asuhan atau
pelayanan yang dapat dilakukan pada praktik komunitas adalah promosi
kesehatan dan pencegahan. Terdapat 3 pencegahan dalam mengatasi masalah
kesehatan. Pertama dari pencegahan primer yaitu pemberian pendidikan
kesehatan untuk mencegah terjadinya penyakit. Kedua pencegahan sekunder
yaitu ketika gejala dari suatu penyakit sudah muncul. Ketiga dan terakhir
pencegahan tersier yaitu ketika penyakit sudah muncul dan tidak
memperparah penyakit.
Dalam kasus ini akan dilihat masalah kesehatan apa saja yang dapat
muncul pada area kerja suatu komunitas. Biasanya masalah kesehatan yang
muncul adalah pusing, demam, batuk, flu, stress karena beban kerja, dll.
Masalah kesehatan yang muncul juga dapat dipengaruhi oleh tempat dimana
klien tersebut bekerja. Tempat kerja yang berat tentunya akan menimbulkan
masalah kesehatan yang lebih kompleks daripada tempat kerja yang ringan.
Contohnya klien yang bekerja di pabrik masalah kesehatan yang muncul akan
lebih banyak dan berat dibandingkan klien yang bekerja di kantoran. Hal
tersebut terjadi karena lingkungan di sekitar kita ikut mempengaruhi atau
mencetuskan timbulnya masalah kesehatan.

B. Tujuan
Tujuan penulisan makalah ini yaitu:
1. Untuk mengetahui tentang pengertian praktik keperawatan komunitas pada
area kerja
2. Untuk mengetahui tujuan praktik keperawatan komunitas pada area kerja
3. Untuk mengetahui konsep praktik keperawatan komunitas pada area kerja
4. Untuk mengetahui masalah kesehatan yang sering muncul pada area kerja
5. Untuk mengetahui cara pencegahan primer, sekunder, tersier yang dapat
dilakukan untuk mengatasi masalah kesehatan yang muncul

BAB II
ISI

A. Konsep Area Kerja


1. Definisi
Brooker (2009) mendefinisikan lingkungan kerja sebagai keadaan
sekitar tempat kerja baik secara fisik maupun non fisik yang dapat
memberikan kesan yang menyenangkan, mengamankan, menentramkan,
dan betah kerja.
Menurut Effendi,dkk (2009) lingkungan kerja adalah segala
sesuatu yang ada di sekitar para pekerja yang dapat mempengaruhi drinya
dalam menjalankan tugas-tugas yang diembankan.
Menurut Harrington (2005) lingkungan kerja adalah keseluruhan
alat perkakas dan bahan yang dihadapi lingkungan sekitarnya dimana
seseorang bekerja, metode kerjanya, serta pengaturan kerjanya, baik
sebagai perseorangan maupun sebagai kelompok.
Dari beberapa pendapat di atas, disimpulkan bahwa lingkungan
kerja merupakan segala sesuatu yang ada di sekitar karyawan pada saat
bekerja, baik yang berbentuk fisik ataupun non fisik, langsung atau tidak
langsung, yang dapat mempengaruhi dirinya dan pekerjaannya saat
bekerja. Lingkungan kerja yang mendukung produktivitas kerja akan
menimbulkan kepuasan kerja bagi pekerja dalam suatu organisasi

2. Faktor yang Mempengaruhi Lingkungan Kerja


Faktor yang mempengaruhi kinerja pegawai (Effendi dkk,2009), yaitu:
a. Penerangan di tempat kerja
Cahaya atau penerangan sangat besar manfaatnya bagi karyawan
untuk mendapatkan keselamatan, keefisienan dan kelancaran kerja.
b. Temperatur / suhu udara dan kelembaban di tempat kerja
Suatu keadaan dengan temperatur udara sangat panas dan kelembaban
tinggi akan menimbulkan pengurangan panas dari tubuh secara besarbesaran karena sistem penguapan.

c. Sirkulasi udara di tempat kerja


Rasa sejuk dan segar selama bekerja akan membantu mempercepat
pemulihan tubuh akibat lelah setelah bekerja.
d. Kebisingan di tempat kerja
Karena pekerjaan membutuhkan konsentrasi, maka suara bising
hendaknya dihindarkan agar pelaksanaan pekerjaan dapat dilakukan
dengan efisien sehingga produktivitas kerja meningkat.
e. Getaran mekanis di tempat kerja
Secara umum getaran mekanis dapat mengganggu konsentrasi
bekerja, kelelahan, dan timbulnya beberapa penyakit seperti mata,
syaraf, otot, tulang punggung, dll.
f. Bau-bauan di tempat kerja
Adanya bau-bauan di sekitar tempat kerja dapat mengganggu
konsentrasi bekerja sehingga pemakaian AC yang tepat dapat
meningkatkan produktivitas pegawai.
g. Tata warna di tempat kerja
Sifat dan pengaruh warna dapat memicu perasaan senang, sedih, dan
lain-lain karena warna dapat merangsang perasaan manusia.
h. Dekorasi tempat kerja
Dekorasi tidak hanya berkaitan dengan hasil ruang kerja saja, tapi
berkaitan juga dengan tata letak, tata warna, perlengkapan, dan
lainnya.
i. Musik di tempat kerja
Musik yang nadanya lembut dan sesuai dengan suasana, waktu, dan
tempat dapat membangkitkan dan merangsang karyawan untuk
bekerja lebih produktif.
j. Keamanan di tempat kerja
Salah satu upaya untuk menjaga keamanan di tempat kerja adalah
dengan memanfaatkan tenaga Satuan Petugas Keamanan (SATPAM)

3. Tujuan Praktek Keperawatan Kerja


Secara umum tujuan keperawatan kesehatan kerja adalah menciptakan
tenaga kerja yang sehat dan produktif. Secara khusus, tujuan praktek
keperawatan kerja (Efendi dkk, 2009), yaitu:
1) Agar setiap tenaga kerja yang berada di area kerja selalu dalam
keadaan sehat dan selamat
2) Agar sumber-sumber produksi dapat berjalan secara lancar tanpa
adanya hambatan.

B. Masalah Kesehatan
1. Konsep Kesehatan Kerja
Upaya

kesehatan

kerja

merupakan

suatu

upaya

untuk

menyerasikan antara kapasitas, beban, lingkungan kerja, agar setiap


pekerja dapat bekerja secara sehat tanpa membahayakan dirinya sendiri
maupun masyarakat di sekitarnya agar dapat menciptakan produktivitas
kerja yang optimal (Mubarak, 2006).
Kapasitas kerja yang baik seperti status kesehatan kerja dan gizi
kesehatan kerja yang baik, serta kemampuan fisik yang prima diperlukan
agar seorang pekerja dapat melakukan pekerjaan dengan baik dan
optimal. Beban kerja meliputi beban kerja fisik maupun mental. Beban
kerja yang terlalu berat atau kemampuan fisik yang lemah dapat
mengakibatkan seorang pekerja menderita gangguan atau penyakit akibat
kerja. Kondisi lingkungan kerja (misal: panas, bising debu, zat kimia, dll)
dapat menjadi beban tambahan terhadap pekerja. Status kesehatan
masyarakat pekerja dipengaruhi tidak hanya oleh bahaya kesehatan
ditempat kerja dan lingkungan kerja tetapi juga oleh faktor-faktor
pelayanan kesehatan kerja, perilaku kerja dan faktor lain (Mubarak,
2006).
Kesehatan kerja meliputi berbagai upaya penyerasian antara
pekerja dan pekerjaan dan lingkungan kerjanya baik fisik maupun sikis
yang bertujuan (Mubarak, 2006), yaitu:

1) Memelihara dan meningkatkan derajat kesehatan kerja masyarakat


pekerja di semua lapangan kerja
2) Mencegah timbulnya gangguan kesehatan
3) Memberikan pekerjaaan dan perlindungan bagi pekerja didalam
pekerjaannya dari kemungkinan bahaya kesehatan
4) Menempatkan dan memelihara pekerja disuatu lingkungan kerja yang
sesuai dengan kemampuan fisik dan sikis pekerja
Keperawatan kesehatan kerja merupakan cabang khusus dalam
keperawatan yang bergerak pada suatu perusahaan atau industry. Dan
merupakan aplikasi darin keperawatan dan kesehatan masyarakat serta
ketrampilan yang berhubungan dengan para pekerja untuk pencegahan
suatu penyakit dan kecelakaan serta peningkatan kesehatan secara
optimal, produktif, dan dapat diterima secara social (Mubarak, 2006).

2. Masalah Kesehatan
Penyakit akibat kerja adalah setiap penyakit yang disebabkan oleh
pekerjaan atau lingkungan kerja. Beberapa ciri penyakit akibat kerja
adalah dipengaruhi oleh populasi pekerja; disebabkan oleh penyebab yang
spesifik; ditentukan oleh pemajanan ditempat kerja; ada tidaknya
kompesasi (Effendi dkk, 2009).
Dalam peraturan Mentri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Nomor:
PER-01/MEN/1981 dicantumkan 30 jenis penyakit, sedangkan pada
keputusan Presiden RI Nomor 22/1993 tentang penyakit yang timbul
karena hubungan kerja memuat jenis penyakit yang sama dengan
tambahan penyakit yang disebabkan bahan kimia lainya termasuk bahan
obat (Effendi dkk, 2009).
Jenis-jenis penyakit sebagai berikut (Effendi dkk, 2009), yaitu:
1) Pneumoconiosis disebabkan oleh debu mineral pembentuk jaringan
parut (silikosis, antrakosilikosis, asbestosis) dan silikotuberkolosis
yang silikosisnya merupakan factor utama penyebab cacat atau
kematian

2) Penyakit paru dan saluran pernafasan (broncopulmoner) yang


disebabkan debu logam keras.
3) Penyakit paru dan saluran pernafasan (broncopulmoner) atau
byssinosis yang disebabkan oleh debu kapas, vlas, henep (serat yang
diperoleh dari batang tanaman cannabis sativa ) dan sisal (serat yang
diperoleh dari tumbuhan agave sisalana, biasanya dibuat tali).
4) Asma akibat kerja yang disebabkan oleh penyebab sensitisasi dan zat
perangsang yang dikenal yang berada dalam proses pekerjaan.
5) Alveolitis allergika yang disebabkan oleh factor dari luar sebagai
akibat penghirupan debu organic.
6) Penyakit yang disebabkan oleh belirubin (Be), cadmium (Cd),
fosforus (P), Kromium (Cr), mangan (Mn), arsenic (As), raksa atau
mekurium (Hg), timbel atau plumbum (Pb), florium (F) atau
persenyawaannya yang beracun.
7) Penyakit yang disebabakan oleh karbon disulfide.
8) Penyakit yang disebabakan oleh derivate halogen dari persenyawaan
hidro karbon alifatik atau aromatic yang beracun.
9) Penyakit yang disebabakan oleh benzena atau hemolognya yang
beracun.
10) Penyakit yang disebabakan oleh delivat nitro dan amina dari benzene
atau homolognya yang beracun.
11) Penyakit yang disebabakan oleh nitro gliserin atau aster asam nitrat
lainya.
12) Penyakit yang disebabakan oleh alcohol, glikol, atau keton
13) Penyakit yang disebabakan oleh gas atau uap penyebab asfiksia atau
keracunaan seperti karbon monoksida , hydrogen sianida, hydrogen
sulfide, atau derivate yang beracun, amoniak, seng, braso dan nikel
14) Kelainan pendengaran yang disebabkan kebisingan
15) Penyakit yang disebabakan oleh getaran mekanik (kelainn kelainan
otot, urat, tulang persendian dan pembuluh darah tepi / saraf tepi)
16) Penyakit yang disebabakan oleh pekerjaan dalam udara yang
bertekanan tinggi

17) Penyakit yang disebabakan oleh radiasi elektro magnetic dan radiasi
yang mengion
18) Penyakit kulit (dermatosis) yang disebabkan oleh penyebab fisik,
kimiawi atau biologis
19) Kanker kulit epitelioma primer yang disebabkan oleh ter, pic,
bitumen, minyak mineral, antasena, atau persenyawaan , produk dan
residu dari zat zat tersebut
20) Kanker paru atau mesotelioma yang disebabkan oleh asbes
21) Penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus bakteri atau perasit yang
didapat dalam suatu pekerjaan yang memiliki resiko kontaminasi
khusus
22) Penyakit yang disebabkan oleh suhu tinggi atau rendah , panas radiasi
atau kelembaban udara yang tinggi
23) Penyakit yang disebabkan oleh bahan kimia lainnya termasuk bahan
obat .

C. Tingkat Pencegahan
Tingkat encegahan bedasarkan proses penyakit
Menurut leavel dan clark(2013), tingkat pencegahan dalam keperawatan
komunitas dapat dilakukan pada tahap sebelum terjadinya penyakit (tahap
prepatogenesis) dan pada tahap terjadinya penyakit(tahap patogenesis).
1. Tahap prepatogenesis
Pada tahap ini dapat dilakukan pencegahan primer. Pencegahan
primer ini dapat dilaksanakan selama masa prepatogenesis suatu kejadian
penyakit atau masalahkesehatan. Pencegahan primer dilakukan melalui
dua kelompok
a. Peningkatan kesehatan
b. Perlindungan umum dan khusus
2. Tahap patogenesis
Pada tahap patogenesis dapat dilakukan dua kegiatan pencegahan, yaitu :
a. Pencegahan sekunder, yaitu pencegahan terhadap masyarakat yang
masih sedang sakit dengan dua kelompok kegiatan berikut ini.

1) Diagnosis dini dan pengobatan segera


2) Pembatasan kecacatan
b. Pencegahan tersier, yaitu usaha pencegahan terhadap masyarakat yang
telah sembuh dari sakit serta mengalami kecacatan

Tingkat Pencegahan berdasarkan akibat kerja


Berikut ini adalah penerapan konsep lima tingkatan pencegahan penyakit
(five level prevention disease) pada pasien akibat kerja (Effendi dkk, 2009),
yaitu:
1. Peningkatan Kesehatan
Dalam tingkat ini dilakukan pendidikan kesehatan, misalnya dalam
peningkatan gizi, kebiasaan hidup, perbaikan sanitasi lingkungan seperti
penyediaan air rumah tagga yang baik, perbaikan cara pembangunan
sampah, kotoran, air limbah, hygiene perorangan, rekreasi, pendidikan
seks, persiapan memasuki kehidupan pra nikah dan persiapan menopause.
Usaha ini merupakan pelayanan terhadap pemeliharaan kesehatan
pada umumnya, bebrpa usaha diantaranya:
a. Penyediaan makanan sehat cukup kualitas maupun kualitasnya
b. Perbaikan hygien dan sanitasi lingkungan seperti: penyediaan air
rumah tangga yang baik, perbaikan cara pembuangan sampah, kotoran
dan air limbah dan sebagainya
c. Pendidikan kesehatan kepada masyarakat
d. Usaha kesehatan jiwa agar tercapai perkembangan kepribadian yang
baik

2. Perlindungan Khusus
Program imunisasi sebagai bentuk pelayanan perlindungan khusus,
pendidikan kesehatan sangat dierlukan terutama di negara-negara
berkembang. Hal ini karena kesadaran masyarakat tentang pentingnya
imunisasi sebagai perlindungan terhadap penyakit pada dirinya maupun
anak-anaknya masih rendah. Selain itu, pendidikan kesehatan diperlukan
sebagai pencegahan terjadinya kecelakaan baik di tempat-tempat umum

maupun tempat kerja. Penggunaan kondom untuk mencegah penularan


HIV/AIDS , penggunaan sarung tangan dan masker saat bekerja sebagai
tenaga kesehatan.
Beberapa usaha lain di antaranya:
a. Vaksinasi untuk mencegah penyakit-penyakit tertentu
b. Isolasi penderitaan penyakit menular
c. Pencegahan terjadinya kecelakaan baik di tempat-tempat umum
maupun di tempat kerja

3. Diagnosis (Deteksi) dini dan pengobatan tepat


Karena rendahnya pengetahuan dan kesadaran masyarakat terhadap
kesehatan dan penyakit, maka sering sulit mendeteksi penyakit-penyakit
yang terjadi di masyarakat. Bahkan kadang-kadang masyarakat sulit atau
tidak mau diperiksa dan diobati penyakitnya. Hal ini dapat menyebabkan
masyarakat tidka memperoleh pelayanan kesehatan yang ayak.oleh sebab
itu, pendidikan kesehatan sangat diperlukan daam tahap ini.
Pemeriksaan pap smear, pemeriksaan IVA, sadari sebagai cara
mendeteksi dini penyakit kanker. Bila dengan deteksi ini ditemui kelainan
maka segera dilakukan pemeriksaan diagnosik untuk memastikan
diagnosa seperti pemeriksaan biopsy, USG atau mamografi atau
kolposcopy.

Tujuan dari usaha ini adalah:


a. Pengobatan yang setepat-tepatnya dan secepat-cepatnya dari setiap
jenis penyakit sehingga tercapai penyembuhan yang sempurna dan
segera
b. Pencegahan penularan kepada orang lain, bila penyakitnya menular
c. Mencegahnya terjadinya kecacatan yang diakibatkan sesuatu penyakit
Beberapa usaha deketsi dini diantaranya, yaitu:
1) Mencari penderita di dalam masyarakat dengan jalan pemeriksaan,
misalnya pemeriksaan darah, ronentgent paru-paru dan sebaginya serta
segera memberikan pengobatan

2) Mencari semua orang yang telah berhubungan dengan penderita


penyakit yang telah berhubungan dengan penderita penyakit menular
(contact person) untuk di awasi agar derita penyakitnya timbul dapat
segera diberikan pengobatan dan tindakan-tindakan lain yang perlu
misalnya isolasi, desinfeksi dan sebagainya
3) Pendidikan kesehatan kepada masyarakat agar mereka dapat mengenal
gejala penyakit pada tingkat awal dan segera mencari pengobatan .
masyarakat perlu menyadari bahwa berhasil atau tidaknya usaha
pengobatan, tidak hanya tergantung pada baiknya jenis obat serta
keahlian tenaga kesehatannya, melainkan juga tergantung pada kapan
pengobatan itu diberikan.

4. Membatasi kemungkinan cacat


Oleh karena kurangnya pengertian dan kesadaran masyarakat
tentang kesehatan dan penyakit, maka sering masyarakat tidak
melanjutkan pengobatannya sampai tuntas. Dengan kata lain mereka tidak
melakukan pemeriksaan dan pengobatan yang komplit terhadap
penyakitnya. Pengobatan yang tidak layak dan sempurna dapat
mengakibatkan orang yang bersangkutan cacat atau ketidakmampuan.
Oleh karea itu, pendidikan kesehatan juga diperlukan pada tahap ini.
Pengangan secara tuntas pada kasus-kasus infeksi organ reproduksi
mencegah terjadinya infertilisasi

5. Pemulihan Kesehatan
Setelah sembuh dari suatu penyakit tertentu, kadang-kadang orang
menjadi cacat, untuk memelihara catatnya tersebut kadang-kadang
diperlukan latihan tertentu. Oleh

karena kurangnya pengertian dan

kesdaran orang tersebut, ia tidak akan segera melakukan latihan-latihan


yang dianjurkan. Disamping itu, orang yang cacat setelah sembuh dari
penyakit kadang-kadang malu untuk kembali ke masyarakat. Sering
terjadi pula masyarakat tidak mau menerima mereka sebagai anggota
masyarakat yang normal. Oleh sebab itu, jelas pendidikan kesehatan

diperlukan bukan saja untuk orang yang cacat tersebut, tetapi juga perlu
pendidikan kesehatan pada masyarakat.
Pusat-pusat rehabilitasi bagi korban kekerasan, rehabilitasi PSK,
dan karbon narkoba. Rehabilitasi ini terdiri atas, yaitu:
1) Rehabilitasi fisik
Yaitu agar bekas penderita memperoleh perbaikan fisik semaksimalmaksimalnya. Misalnya, seseorang yang karena kecelakaan,patah
kakinya perlu mendapatkan rehabilitasi dari kaki yang patah ini sama
dengan kaki yang sesungguhnya.
2) Rehabilitasi mental
Yaitu agar bekas penderita dapat menyesuaikan diri dalam hubungan
perorangan dan social secara memuaskan. Seringkali bersamaan
dengan terjadinya cacat badaniah muncul pula kelainan-kelainan atau
gangguan mental. Untuk hal ini bekas penderita perlu mendapatkan
bimbingan kejiwaan sebelumm kembali ke dalam masyarakat.
3) Rehabilitasi sosial vokasional
Yaitu agar bekas penderita menempati suatu pekerjaan/jabatn dalam
masyarakat dengan kapasitas kerja yang semaksimal-maksimalnya
sesuai dengan kemampuan dan ketidak mampuannya.
4) Rehabilitasi aesthesis
Usaha rehabilitasi aesthetis perlu dilakukan untuk mengembalikan
rasa keindahan,walaupun kadang-kadang fungsi dari alat tubuhnya itu
sendiri tidak dapat dikembalikan misalnya : penggunaan mata palsu

BAB III
PENUTUP

Area kerja yaitu segala sesuatu yang ada di sekitar karyawan pada saat
bekerja, baik yang berbentuk fisik ataupun non fisik, langsung atau tidak
langsung, yang dapat mempengaruhi dirinya dan pekerjaannya saat bekerja.
Secara umum tujuan keperawatan kesehatan kerja adalah menciptakan tenaga
kerja yang sehat dan produktif.
Dalam area kerja perlu adanya upaya untuk menyelaraskan antara kapasitas
dan lingkungan kerja agar terciptanya produktivitas kerja yang maksimal. Upaya
kesehatan kerja harus ditunjang dengan kapasitas kerja yang baik seperti status
kesehatan kerja dan gizi kesehatan kerja yang baik, serta kemampuan fisik yang
prima. Selain itu, lingkungan kerja juga harus dalam kondisi yang sehat dan bebas
dari polusi. Apabila hal tersebut tidak saling menyeimbangi satu sama lain, dapat
menyebabkan masalah kesehatan seperti penyakit paru dan saluran pernapasan,
penyakit infeksi, dan lain-lain. Oleh karena itu, perlu adanya tindakan pencegahan
yang perlu dilakukan agar masalah kesehatan dapat terselesaikan.

DAFTAR PUSATAKA

Brooker,Chris. 2009. Ensiklopedia Keperawatan. Jakarta : EGC


Efendi, Ferry dan Makhfudli. 2009. Keperawatan Kesehatan Komunitas : Teori
dan Praktik dalam Keperawatan. Jakarta : Salemba Medika
Harrington. J.M. 2005. Buku Saku Kesehatan Kerja. Jakarta : EGC
Leavel dan clark dalam hernilawati. 2013. pengantar ilmu keperawatan
komunitas. jakarta : pustaka as salam
Mubarak, dkk. 2006. Buku Ajar Ilmu Keperawatan Komunitas 2 : Teori &
Aplikasi Dalam Praktik Dengan Pendekatan Asuhan Keperawatan
Komunitas, Gerontik dan Keluarga . Jakarta : Sagung Seto