Anda di halaman 1dari 14

Pariwisata telah terbukti dapat mendorong pertumbuhan perekonomian melalui peluang investasi,

peluang kerja, peluang berusaha dan pada akhirnya dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Peluang berusaha bukan hanya dalam bentuk pembangunan sarana dan prasarana pariwisata tetapi juga
peluang dalam bidang kerajinan kecil seperti handycrafts.
Namun akhir-akhir ini terjadi paradigma baru dalam bidang kepariwisataan yang kita agung-agungkan
karena dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui peluang kerja di semua lini ternyata
terbukti dapat menyebabkan malapetaka terhadap kehidupan sosial, budaya dan lingkungan.
Kesejahteraan yang kita nikmati secara ekonomi ternyata tidak diikuti oleh peningkatan kehidupan sosial,
budaya, dan pelestarian lingkungan. Masalah-masalah sosial banyak kita temui di masyarakat setelah kita
mengembangkan kepariwisataan. Demikian juga mengenai masalah budaya dan lingkungan. Tragedi
budaya dan lingkungan sering kita lihat melalui berita-berita di Koran-koran dan televisi
lokal.Pembangunan sektor pariwisata diberbagai belahan dunia ini telah berdampak pada berbagai
dimensi kehidupan manusia, tidak hanya berdampak pada dimensi sosial ekonomi semata, tetapi juga
menyetuh dimensi sosial budaya bahkan lingkungan fisik. Dampak terhadap berbagai dimensi tersebut
bukan hanya bersifat positif tetapi juga berdampak negatif.
Perlu juga mendapat perhatian bahwa dalam upaya pengembangan pariwisata di samping dampak positif
bagi masyarakat sekitar objek juga menimbulkan dampak negatif bagi masyarakat sekitar. Sehubungan
dengan hal tersebut dalam upaya pengembangan objek wisataperlu diperhitungkan dampak negatif yang
ditimbulkan demi kelestarian objek wisata tersebut maupun kelestarian fungsi lingkungan sekitar kawasan
wisata. Pelaksanaan pembangunan yang berorientasi pada peningkatan kesejahteraan masyarakat
ternyata mempunyai dampak terhadap lingkungan sekitar baik langsung maupun tidak langsung, baik
dalam jangka pendek maupun dalam jangka panjang. Hal yang sama juga terjadi dalam pengembangan
pariwisata, dimana disamping pengembangan pariwisata itu sendiri menimbulkan dampak negatif
terhadap lingkungan sekitar objek wisata, pengelolaan lingkungan dan pengelolaan objek wisata itu
sangat mempengaruhi kelestarian fungsi lingkungan dan objek wisata itu sendiri. Sehubungan dengan hal
tersebut permasalahan yang utama yang perlu mendapatkan jawaban tuntas adalah bagaimana
pengembangan pariwisata dan pelestarian fungsi lingkungan sekitar kawasan wisata ini dapat
dilaksanakan dengan baik dalam arti berorientasi pada upaya pelestarian objek wisata dan pelestarian
fungsilingkungan sekitar.
Pengertian Pariwisata
Pariwisata adalah suatu perjalanan yang dilakukan untuk sementara waktu, yang diselenggarakan dari
suatu tempat ke tempat lainnya, dengan maksud bukan untuk berusaha atau mencari nafkah di tempat
yang dikunjungi, tetapi semata-mata untuk menikmati perjalanan tersebut guna pertamasyaan dan
rekreasi atau untuk memenuhi keinginan yang beraneka ragam (Yoeti, 1982).
Berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia No.9. Tahun 1990 tentang kepariwisataan yang
dimaksud dengan:
1. Wisata adalah kegiatan perjalanan atau sebagian dari kegiatan tersebut yang dilakukan secara
sukarela serta bersifat sementara untuk menikmati objek dan daya tarik wisata.
2. Wisatawan adalah orang yang melakukan kegiatan wisata.
3. Pariwisata adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan wisata, termasuk pengusahaan objek
dan daya tarik wisata serta usaha-usaha yang terkait di bidang tersebut.
4. Kepariwisataan adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan penyelenggaraan pariwisata.

5. Usaha pariwisata adalah kegiatan yang bertujuan menyelenggarakan jasa pariwisata atau
menyediakan atau mengusahakan objek dan daya tarik wisata, usaha sarana pariwisata dan usaha lain
yang terkait dibidang tersebut.
6. Objek dan daya tarik wisata adalah segala sesuatu yang menjadi sasaran wisata.
7. Kawasan pariwisata adalah kawasan dengan luas tertentu yang dibangun atau disediakan untuk
memenuhi kebutuhan pariwisata.
Pariwisata dalam pengertiannya mengandung tiga unsur yaitu manusia (unsur insani sebagai pelaku
kegiatan pariwisata), tempat (unsur fisik yangsebenarnya tercakup oleh kegiatan itu sendiri), dan waktu
(unsur tempo yang dihabiskan dalam perjalanan itu sendiri selama berdiam di tempat tujuan (Wahab,
1987).
Penyelenggaraan kepariwisataan dalam Undang-Undang Republik Indonesia No. 9 Tahun 1990 dilakukan
dengan tujuan untuk: (a) memperkenalkan, mendayagunakan, melestarikan, dan meningkatkan mutu
objek dan daya tarik wisata; (b) memupuk rasa cinta tanah air dan meningkatkan persahabatan antar
bangsa; (c) memperluas dan memeratakan kesempatan berusaha dan lapangan kerja; (d) meningkatkan
pendapatan nasional dalam rangka meningkatkan kesejahteraan dan kemakmuran rakyat; (e) mendorong
pendayagunaan produksi nasional. Hal ini dilakukan dengan tetap memelihara kelestarian dan juga
sebagai upaya mendorong peningkatan mutu lingkungan hidup, objek dan daya tarik wisata, nilai-nilai
budaya bangsa yang menuju ke arah kemajuan adab, mempertinggi derajat kemanusiaan, kesusilaan,
dan ketertiban umum guna memperkukuh jati diri bangsa dalam rangka perwujudan wawasan nusantara.
Oleh karena itu, pembangunan objek dan daya tarik wisata tersebut tetap harus dilakukan dengan
memperhatikan :
a. Kemampuan untuk mendorong dan meningkatkan perkembangan.
b. Kehidupan ekonomi dan sosial budaya.
c. Nilai-nilai agama, adat-istiadat, serta pandangan dan nilai-nilai yang hidup dalam masyarakat.
d. Kelestarian budaya dan mutu lingkungan hidup.
e. Kelangsungan usaha pariwisata itu sendiri.
Sifat pariwisata yang luas dan menyangkut kepentingan masyarakat secara keseluruhan, mengharuskan
dilaksanakannya penyelenggaraan kepariwisataan secara terpadu oleh pemerintah, badan usaha, dan
masyarakat. Peran serta masyarakat dalam arti yang seluas-luasnya di dalam penyelenggaraan
kepariwisataan ini memegang peranan penting demi terwujudnya pemerataan, pendapatan dan
pemerataan kesempatan berusaha. Terkait dengan peran serta masyarakat tersebut, perlu diberikan
arahan agar pelaksanaan berbagai usaha pariwisata yang dilakukan dapat saling mengisi, saling
berkaitan, dan salingmenunjang satu dengan yang lainnya. Untuk mencapai maksud tersebut, pemerintah
melakukan pembinaan terhadap kegiatan kepariwisataan, yaitu dalam bentuk pengaturan, pemberian
bimbingan, dan pengawasan. Kegiatan-kegiatan kepariwisataan yang menyangkut aspek pembangunan,
pengusahaan, dan kebijakan yang telah dilaksanakan oleh pemerintah serta perkembangan yang begitu
pesat di bidang kepariwisataan perlu diikuti dengan pengaturan yang sesuai dengan aspirasi bangsa
Indonesia (UU RI No.9 Tahun 1990 Tentang Kepariwisataan)
Seperti halnya dengan kegiatan-kegiatan kepariwisataan, pengelolaan kawasan pariwisata yang banyak
dibangun diberbagai wilayah perlu mendapat pengamanan agar tidak terjadi ketimpangan terhadap
masyarakat di sekitarnya, sehingga dapat mewujudkan adanya keserasian dan keseimbangan. Undangundang kepariwisataan yang bersifat nasional dan menyeluruh sangat diperlukan sebagai dasar hukum
dalam rangka pembinaan dan penyelenggaraan kepariwisataan, khususnya yang menyangkut objek dan

daya tarik wisata, usaha pariwisata, peran serta masyarakat, serta pembinaannya. Undang-undang ini
memberikan ketentuan yang bersifat pokok dalam penyelenggaraan kepariwisataan, sedangkan
pelaksanaannya diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah.

Jenis Pariwisata
Untuk Keperluan perencanaan dan pengembangan kepariwisataan, perlu adanya perbedaaan antara
pariwisata, karena dengan demikian akan dapat ditentukan kebijaksanaan apa yang perlu mendukung,
sehingga jenis pariwisata yang dikembangkan akan dapat terwujud seperti yang diharapkan dari
kepariwisataan.
Ditinjau dari segi ekonomi, pemberian klasifikasi tentang jenis pariwisata dianggap penting karena
dengan cara itu dapat ditentukan beberapa penghasilan devisa yang diterima dari suatu pariwisata yang
dikembangkan disuatu tempat atau daerah tertentu.
Adapun jenis wisata yang telah dikenal dimasa ini antara lain:
1. Wisata Budaya
Wisata budaya adalah: perjalanan yang dilakukan atas dasar keingin untuk memperluas pandangan
hidup seseorang dengan jalan mengadakan kunjungan atau peninjauan ketempat lain, mempelajari
keadaan rakyat dan kebiasaan adat istiadat, budaya dan seni mereka (Pendit, N.S, 1994 : 41).
2. Wisata Konvensi
Wisata Konvensi adalah: wisata yang menyediakan fasilitas bangunan dengan ruangan-ruangan tempat
bersidang bagi peserta konverensi, atau pertemuan lainnya yang bersifat nasional maupun internasional.
(Pendit, N.S, 1994 : 43).
3. Wisata Sosial
Wisata Sosial adalah: perorganisasian suatu perjalanan murah serta mudah untuk memberikan
kesempatan kepadda golongan masyarakat ekonomi lemah untuk mengadakan perjalanan seperti
misalnya kaum buruh, pemuda, pelajar atau mahasiswa, petani dan sebagainyqa. (Pendit, N.S, 1994 :
44).
4. Wisata Cagar Alam
Wisata Cagar Alam adalah: wisata yang diselenggarakan agen atau biro perjalanan yang
mengkhususkan usaha-usaha dengan jalan mengatur wisata ketempat atau daerah cagar alam, taman
lindung, hutan daerah pegunungan dan sebagainya yang pelestariaannya dilindungi oleh undang-undang
(Pendit, N.S, 1994 ).
5. Wisata Bulan Madu
Wisata Bulan Madu adalah: suatu penyelenggaraan perjalanan bagi pasangan-pasangan pengantin baru
yang sedang berbulan madu,dengan fasilitas-fasilitas khusus, tersendiri demi kenikmatan perjalanan dan
kunjungan mereka (Pendit, N.S, 1994 : 47).
Manusia ditakdirkan oleh sang pencipta memiliki naluri dan hasrat atau keinginan dalam memenuhi
kelangsungan hidupnya, hasrat ingin tahu dan jiwa petualangan mendorong manusia melakukan
perjalanan. Manusia senatiasi dinamis dan kedinamisannya tercermn dalam keinginan melakukan
perjalanan melintasi dan menikmati objek dan daya tarik yang dikunjungi.hasrat ingin tahu itu menuntut
penyaluran dan bagi banyak oranbg sudah menjadi kebutuhan.

Kebutuhan tersebut adalah ingin besenang-senang, santai , berrekreasi, ingin menambah pengetahuaan,
menguatkan pribadi, sehat ingin menghirup udara yang sejuk, dan segar dan memenuhi kewajiban
agama (naik haji) sampai pada berziarah.
Dorongan untuk melakukan perjalanan wisata adalah dapat pula disebabkan oleh lingkungan seperti:
1. Kondisi Lingkungan, keadaan iklim disekitar tempat, kondisi lingkungan yang kurang baik dan rusak,
begitu pula lingkungan tempat tinggal yang bising dan kotor dengan pemandangan yang membosankan
mendorong penduduk melakukan perjalanan.
2. Kondisi social budaya, kurang tersedianya fasilitas rekreasi, kegiatan rutin dalam masyarakat yang
membosankan kehidupan, kehidupan yang serba teratur, lalu banyak bekerja, fisik dan mental, sifatbebas
para remaja, terdapatnya perbedaan social diantara anggota masyarakat, semuanya seiring menjadi alas
an untuk bepergian ke tempat-tempat jauh, yang kondisinya lebih baik dari sekarang.
3. Kondisi ekonomi , konsumsi dari masyarakat, biaya hidup sehari-hari didaerah tempat tinggal,
meningkatkan waktu luang serta rela rendahnya ongkos angkutan, juga akan mendorong seseorang
untuk melakukan perjalananan wisata.
4. Pengaruh kegiatan pariwisata, kegiatan pariwisata akan banyak mendorong kegiatanyang
berhubungan dengan wisata, seperti meningkatnya publikasi dan penyebaran informasi serta timbulnya
pandangan tentang nilai lebih dari kegiatan berwisata terhadap fungsi sosial masyarakat.

Perkembangan Pariwisata
Memasuki era pembangunan dimilenium ke tiga (pasca tahun 2000), banyak perubahan besar akan
dialami dalam kehidupan masyarakat dan kebudayaan Indonesia. Jumlah penduduk yang membesar dan
makin padat, intensifnya transisi budaya agraris ke budaya industri, globalisasi kehidupan yang meluas
dan kompleknya pluralisme dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, masalah-masalah
kemasyarakatan dan lain-lain. Kompleksitas permasalahan ini akan berdampak pada permasalahan
lingkungan. Pemberdayaan potensi wisata alam selalu terkait erat dengan permasalahan lingkungan,
sehubungan dengan hal tersebut perlu penanganan yang benar-benar berorientasi pada pelestarian
fungsi lingkungan.
Industri pariwisata yang oleh G.ASchmoll dalam bukunya Tourism Promotion menjelaskan bahwa Industri
pariwisata lebih cenderung berorientasi dengan menganalisa cara-cara melakukan pemasaran dan
promosi hasil produk industri pariwisata. Industri pariwisata bukanlah industri yang berdiri sendiri, tetapi
merupakan suatu industri yang terdiri dari serangkaian perusahaan yang menghasilkan jasa-jasa atau
produk yang berbeda satu dengan yang lainnya. Perbedaan itu tidak hanya dalam jasa yang dihasilkan
tetapi juga dalam besarnya perusahaan, lokasi atau tempat kedudukan, letak secara geografis, fungsi,
bentuk organisasi yang mengelola dan metode permasalahannya.
Kompleksitas masalah industri pariwisata juga berhubungan erat dengan upaya pengembangan
pariwisata yang ternyata juga mempunyai dampak terhadap lingkungan. Sehubungan dengan hal itu perlu
upaya pelestarian fungsi lingkungan.Dengan demikian terdapat dua aspek penting yaitu masalah industri
pariwisata yang berorientasi pada lingkungan dan pengembangan pariwisata yang berorientasi pada
pelestarian fungsi lingkungan. Pengembangan pariwisata harus mengacu dan memperhatikan ketentuan
Pasal 12, Pasal13 dan Pasal 14 Undang Undang Nomor32 tahun 2009 tentang Perlindungan dan
Pengelolaan Lingkungan Hidup sebagai berikut :
Pasal 12:

(1) Pemanfaatan sumber daya alam dilakukan berdasarkan Rencana Perlindungan dan Pengelolaan
Lingkungan Hidup (RPPLH).
(2) Dalam hal RPPLH sebagaimana dimaksudpada ayat (1) belum tersusun, pemanfaatan sumber daya
alam dilaksanakan berdasarkan daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup dengan
memperhatikan:
a. keberlanjutan proses dan fungsi lingkungan hidup;
b. keberlanjutan produktivitas lingkungan hidup; dan
c. keselamatan, mutu hidup, dan kesejahteraan masyarakat.
(3) Daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup sebagaimana dimaksud padaayat (2) ditetapkan
oleh:
a. Menteri untuk daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup nasional dan pulau/kepulauan;
b. Gubernur untuk daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup lingkungan hidup provinsi dan
ekoregion lintas kabupaten/kota; atau
c. Bupati/walikota untuk daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup kabupaten/kota dan ekoregion
di wilayah kabupaten/kota.
(4) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara penetapan daya dukung dan dayatampung lingkungan
hidup sebagaimana dimaksud pada ayat (3) diatur dalam peraturan pemerintah.
Pasal 13:
(1) Pengendalian pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan hidup dilaksanakan dalam rangka
pelestarian fungsi lingkungan hidup.
(2) Pengendalian pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan hidup sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) meliputi:
a. pencegahan;
b. penanggulangan; dan
c. pemulihan.
(3) Pengendalian pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan hidup sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) dilaksanakan oleh Pemerintah, pemerintah daerah, dan penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan
sesuai dengan kewenangan, peran, dan tanggung jawab masing-masing.
Pasal 14:
Instrumen pencegahan pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan hidup terdiriatas: KLHS; tata ruang;
baku mutu lingkungan hidup; kriteria baku kerusakan lingkungan hidup; amdal; UKL-UPL; perizinan;
instrumen ekonomi lingkungan hidup; peraturan perundang-undangan berbasis lingkungan hidup;
anggaran berbasis lingkungan hidup; analisis risiko lingkungan hidup; audit lingkungan hidup; dan
instrumen lain sesuai dengan kebutuhan dan/atau perkembangan ilmu pengetahuan
Pengembangan pariwisata pada umumnya bertujuan untuk memperkenalkan, mendayagunakan,
melestarikan dan meningkatkan mutu objek dan daya tarikwisata, dalam pembangunan objek wisata dan
daya tarik wisata dilakukan dengan memperhatikan kelestarian budaya dan mutu lingkungan hidup serta
kelangsungan usaha pariwisata itu sendiri. Dengan demikian antara pariwisata dan masalah lingkungan
mempunyai kedekatan yang tidak dapat dipisahkan.
Pariwisata sebagai suatu kegiatan secara langsung menyentuh dan melibatkan masyarakat, sehingga
membawa dampak terhadap masyarakat setempat. Dampak pariwisata terhadap masyarakat dan daerah

tujuan wisata mencakup: dampak terhadap sosial-ekonomi, dampak terhadap sosial-budaya, dan dampak
terhadap lingkungan (Pitana dan Gayatri, 2005).
Dampak pariwisata terhadap kondisi sosial ekonomi masyarakat lokal dapat dikategorikan menjadi
delapan kelompok besar (Cohen, 1984), yaitu: dampak terhadap penerimaan devisa, dampak terhadap
pendapatan masyarakat, dampak terhadap kesempatan kerja, dampak terhadap harga-harga, dampak
terhadap distribusi manfaat atau keuntungan, dampak terhadap kepemilikan dan kontrol, dampak
terhadap pembangunan pada umumnya, dampak terhadap pendapatan pemerintah. Pembangunan
pariwisata pada suatu daerah mampu memberikan dampak positif diantaranya: peningkatan pendapatan
masyarakat, peningkatan penerimaan devisa, peningkatan kesempatan kerja dan peluang usaha,
peningkatan pendapatan pemerintah dari pajak dan keuntungan badan usaha milik pemerintah, dan
sebagainya. Selain dampak positif terdapat juga dampak negatif dari pembangunan pariwisata,
diantaranya: semakin memburuknya kesenjangan pendapatan antar kelompok masyarakat,
memburuknya kesenjangan antar daerah, hilangnya kontrol masyarakat lokal terhadap sumber daya
ekonomi, munculnya neo-kolonialisme, dan sebagainya.
Dampak terhadap sosial dan budaya, Pizam dan Milman (1984) mengklasifikasikan dampak pariwisata
terhadap sosial-budaya menjadi enam, yaitu: dampak terhadap aspek demografis (jumlah penduduk,
umur, perubahan piramida kependudukan), dampak terhadap mata pencaharian (perubahan pekerjaan,
distribusi pekerjaan), dampak terhadap aspek budaya (tradisi, keagamaan, bahasa), dampak terhadap
transformasi norma (nilai, norma, peranan seks), dampak terhadap modifikasi pola konsumsi
(infrastruktur, komoditas) dan dampak terhadap lingkungan (polusi, kemacetan lalu lintas). Sifat dan
bentuk dari dampak sosial-budaya dipengaruhi oleh berbagai faktor. Pitana (1999) menyebutkan bahwa
faktor-faktor yang ikut menentukan dampak sosial-budaya tersebut antara lain: jumlah wisatawan (baik
absolut maupun relatif terhadap jumlah penduduk lokal), objek dominan yang menjadi sajian wisata dan
kebutuhan wisatawan terkait dengan sajian tersebut, sifat-sifat atraksi wisata yang disajikan (apakah
alam, situs arkeologi, budaya kemasyarakatan, dan lainnya), struktur dan fungsi dari organisasi
kepariwisataan di daerah tujuan wisata, perbedaan tingkat ekonomi dan perbedaan kebudayaan antara
wisatawan dengan masyarakat lokal dan laju atau kecepatan pertumbuhan pariwisata.
Dampak pengembangan pariwisata menurut Yoeti (2008), antara lain: pembuangan sampah
sembarangan (selain menyebabkan bau tidak sedap, juga membuat tanaman disekitarnya mati);
pembuangan limbah hotel, restoran, dan rumah sakit yang merusak air sungai, danau atau laut;
kerusakan terumbu karang sebagai akibat nelayan tidak lagi memiliki pantai untuk mencari ikan, karena
pantai telah dikaveling untuk membangun hotel dan restoran. Akibatnya para nelayan membom terumbu
karang dan pada akhirnya tidak ada lagi daya tarik pantai; perambahan hutan dan perusakan sumbersumber hayati yang tidak terkendali sehingga menyebabkan hilangnya daya tarik wisata alam.

Dampak Pembangunan Pariwisata terhadap Lingkungan Hidup


Industri pariwisata memiliki hubungan erat dan kuat dengan lingkungan fisik. Lingkungan alam
merupakan aset pariwisata dan mendapatkan dampak karena sifat lingkungan fisik tersebut yang rapuh
(fragile), dan tak terpisahkan (Inseparability). Bersifat rapuh karena lingkungan alam merupakan ciptaan
Tuhan yang jika dirusak belum tentu akan tumbuh atau kembali seperti sediakala. Bersifat tidak
terpisahkan karena manusia harus mendatangi lingkungan alam untuk dapat menikmatinya.

Lingkungan fisik adalah daya tarik utama kegiatan wisata. Lingkungan fisik meliputi lingkungan alam (flora
dan fauna, bentangan alam, dan gejala alam) dan lingkungan buatan (situs kebudayaan, wilayah
perkotaan, wilayah pedesaan, dan peninggalan sejarah).
Secara teori, hubungan lingkungan alam dengan pariwisata harus mutual dan bermanfaat. Wisatawan
menikmati keindahan alam dan pendapatan yang dibayarkan wisatawan digunakan untuk melindungi dan
memelihara alam guna keberlangsungan pariwisata. Hubungan lingkungan dan pariwisata tidak
selamanya simbiosa yang mendukung dan menguntungkan sehingga upaya konservasi, apresiasi, dan
pendidikan dilakukan agar hubungan keduanya berkelanjutan, tetapi kenyataan yang ada hubungan
keduanya justru memunculkan konflik. Pariwisata lebih sering mengeksploitasi lingkungan alam.
Dampak pariwisata terhadap lingkungan fisik merupakan dampak yang mudah diidentifikasi karena nyata.
Pariwisata memberikan keuntungan dan kerugian, sebagai berikut :
1. Air
Air mendapatkan polusi dari pembuangan limbah cair (detergen pencucian linen hotel) dan limbah
padat(sisa makanan tamu). Limbah-limbah itu mencemari laut, danau dan sungai. Air juga mendapatkan
polusidari buangan bahan bakar minyak alat transportasi air seperti dari kapal pesiar.Akibat dari
pembuangan limbah, maka lingkungan terkontaminasi, kesehatan masyarakat terganggu, perubahan dan
kerusakan vegetasi air, nilai estetika perairan berkurang (seperti warna laut berubah dari warnabiru
menjadi warna hitam) dan badan air beracun sehingga makanan laut (seafood) menjadi
berbahaya.Wisatawan menjadi tidak dapat mandi dan berenang karena air di laut, danau dan sungai
tercemar.Masyarakat dan wisatawan saling menjaga kebersihan perairan.Guna mengurangi polusi air,
alat transportasi air yang digunakan, yakni angkutan yang ramah lingkungan, seperti : perahu dayung,
kayak, dan kano.

2. Atmosfir
Perjalanan menggunakan alat transportasi udadra sangat nyaman dan cepat. Namun, angkutan udara
berpotensi merusak atmosfir bumi. Hasil buangan emisinya dilepas di udara yang menyebabkan atmosfir
tercemar dan gemuruh mesin pesawat menyebabkan polusi suara. Selain itu, udara tercemar kibat emisi
kendaraan darat (mobil, bus) dan bunyi deru mesin kendaraan menyebabkan kebisingan. Akibat polusi
udara dan polisi suara, maka nilai wisata berkurang, pengalaman menjadi tidak menyenangkan dan
memberikandampak negatif bagi vegetasi dan hewan.Inovasi kendaraan ramah lingkungan dan angkutan
udara berpenumpang massal (seperti pesawat Airbus380 dengan kapasitas 500 penumpang) dilakukan
guna menekan polusi udara dan suara. Anjuran untukmengurangi kendaraan bermotor juga dilakukan
dan kampanye berwisata sepeda ditingkatkan.
3. Pantai dan pulau
Pantai dan pulau menjadi pilihan destinasi wisata bagi wisatawan. Namun, pantai dan pulau sering
menjaditempat yang mendapatkan dampak negatif dari pariwisata. Pembangunan fasilitas wisata di
pantai dan pulau, pendirian prasarana (jalan, listrik, air), pembangunan infrastruktur (bandara, pelabuhan)
mempengaruhi kapasitas pantai dan pulau.Lingkungan tepian pantai rusak (contoh pembabatan hutan
bakau untuk pendirian akomodasi tepi pantai),kerusakan karang laut, hilangnya peruntukan lahan pantai
tradisional dan erosi pantai menjadi beberapaakibat pembangunan pariwisata.Preservasi dan konservasi
pantai dan laut menjadi pilihan untuk memperpanjang usia pantai dan laut. Pencanangan taman laut dan
kawasan konservasi menjadi pilihan. Wisatawan juga ditawarkan kegiatan ekowisata yang bersifat ramah
lingkungan. Beberapa pengelola pulau (contoh pengelola Taman NasionalKepulauan Seribu)

menawarkan paket perjalanan yang ramah lingkungan yang menawarkan aktivitas menanam lamun dan
menanam bakau di laut.
4. Pegunungan dan area liar
Wisatawan asal daerah bermusim panas memilih berwisata ke pegunungan untuk berganti suasana.
Aktivitas di pegunungan berpotensi merusak gunung dan area liarnya. Pembukaan jalur pendakian,
pendirian hotel di kaki bukit, pembangunan gondola (cable car), dan pembangunan fasilitas lainnya
merupakanbeberapa contoh pembangunan yang berpotensi merusak gunung dan area liar. Akibatnya
terjadi tanahlongsor, erosi tanah, menipisnya vegetasi pegunungan (yang bisa menjadi paru-paru
masyarakat) ,potensi polusi visual dan banjir yang berlebihan karena gunung tidak mampu menyerap air
hujan. Reboisasi (penanaman kembali pepohonan di pegunungan) dan peremajaan pegunungan
dilakukan sebagai upaya pencegahan kerusakan pegunungan dan area liar.
5. Vegetasi
Pembalakan liar, pembabatan pepohonan, bahaya kebakaran hutan (akibat api unggun di
perkemahan),koleksi bunga, tumbuhan dan jamur untuk kebutuhan wisatawan merupakan beberapa
kegiatan yang merusak vegetasi. Akibatnya, terjadi degradasi hutan (berpotensi erosi lahan), perubahan
struktur tanaman(misalnya pohon yang seharusnya berbuah setiap tiga bulan berubah menjadi setiap
enam bulan, bahkanmenjadi tidak berbuah), hilangnya spesies tanaman langka dan kerusakan habitat
tumbuhan. Ekosistemvegetasi menjadi terganggu dan tidak seimbang.
6. Kehidupan satwa liar
Kehidupan satwa liar menjadi daya tarik wisata yang luar biasa. Wisatawan terpesona dengan pola
hiduphewan. namun, kegiatan wisata mengganggu kehidupan satwa-satwa tersebut. Komposisi fauna
berubahakibat:pemburuan hewan sebagai cinderamata, pelecehan satwa liar untuk fotografi, eksploitasi
hewan untuk pertunjukan, gangguan reproduksi hewan (berkembang biak), perubahan insting hewan
(contohhewan komodo yang dahulunya hewan ganas menjadi hewan jinak yang dilindungi), migrasi
hewan (ketempat yang lebih baik). Jumlah hewan liar berkurang, akibatnya ketika wisatawan mengunjungi
daerah wisata, ia tidak lagi mudah menemukan satwa-satwa tersebut
7. Situs sejarah, budaya, dan keagamaan
Penggunaan yang berlebihan untuk kunjungan wisata menyebabkan situs sejarah, budaya dan
keagamaanmudah rusak. Kepadatan di daerah wisata, alterasi fungsi awal situs, komersialisasi daerah
wisasta menjadi beberapa contoh dampak negatif kegiatan wisata terhadap lingkungan fisik. Situs
keagamaan didatangi oleh banyak wisatawan sehingga mengganggu fungsi utama sebagai tempat
ibadah yang suci. Situs budaya digunakan secara komersial sehingga dieksploitasi secara berlebihan
(contoh Candi menampung jumlah wisatawan yang melebihi kapasitas). Kapasitas daya tampung situs
sejarah, budaya dan keagamaan dpat diperkirakan dan dikendalikan melalui manajemen pengunjung
sebagai upaya mengurangi kerusakan pada situs sejarah, budaya dan keagamaan. Upaya konservasi
dan preservasi serta renovasi dapat dilakukan untuk memperpanjang usia situs-situs tersebut.
8. Wilayah perkotaan dan pedesaan
Pendirian hotel, restoran, fasilitas wisata, toko cinderamata dan bangunan lain dibutuhkan di daerah
tujuanwisata. Seiring dengan pembangunan itu, jumlah kunjungan wisatawan, jumlah kendaraan dan
kepadatan lalu lintas jadi meningkat. Hal ini bukan hanya menyebabkan tekanan terhadap lahan,

melainkan juga perubahan fungsi lahan tempat tinggal menjadi lahan komersil, kemacetan lalu lintas,
polusi udara dan polusi estetika (terutama ketika bangunan didirikan tanpa aturan penataan yang benar).
Dampak buruk itu dapatdiatasi dengan melakukan manajemen pengunjung dan penataan wilayah kota
atau desa serta membedayakan masyarakat untuk mengambil andil yang besar dalam pembangunan.

Kesimpulan
Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki keanekagaraman hayati yang sangat tinggi yang
berupa sumber daya alam yang berlimpah, baik di daratan, udara maupun di perairan. Semua potensi
tersebut mempunyai peranan yang sangat penting bagi pengembangan kepariwisataan, khususnya
wisata alam.
Sasaran tersebut di atas dapat tercapai melalui pengelolaan dan pengusahaan yang benar dan
terkoordinasi, baik lintas sektoral maupun swasta yang berkaitan dengan pengembangan kegiatan
pariwisata berkelanjutan, misalnya kepariwisataan, pemerintah daerah, lingkungan hidup, dan lembaga
swadaya masyarakat. Dalam pengembangan kegiatan pariwisata berkelanjutan terdapat dampak positif
dan dampak negatif, baik dalam masalah ekonomi, sosial, dan lingkungan alami.
Oleh karena itu dalam pembangunan sektor kepariwisataan harus memperhatian kaidah-kaidah
pengelolaan lingkungan hidup mengingat salah satu unsur wisata adalah sumber daya alam yang
merupakan bagian dari lingkungan hidup. Pengembangan sektor pariwisata yang tidak memperhatikan
aspek lingkungan hidup dapat berdampak negatif pada perkembangan pariwisata itu sendiri pada masa
yang akan datang.
Daftar Pustaka
Cohen, F. 1984. Computer Virus-Theory and Experiments. http://all.net/books/virus/index.html, diakses
tanggal 9 Oktober 2013.
Pendit, N.S. 1994. Ilmu Pariwisata Sebuah Pengantar Perdana. PT Pradnya Paramita. Jakarta.
Pitana, I.G. 1999. Pelangi Pariwisata Bali. Kajian Aspek Sosial Budaya KepariwisataanBali di Penghujung
Abad, BP, Denpasar.
Pizam, A.and A. Milman. 1984. The Social Impacts of Tourism. Industry and Environment.
Presiden RI. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 1990 tentang Kepariwisataan.
Sekretariat Negara RI. Jakarta.
Presiden RI. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 32 tahun 2009 tentang Perlindungan
danPengelolaan Lingkungan Hidup. Sekretariat Negara RI. Jakarta.
Schmoll, G.A. 1977. Tourism Promotion. Tourism InternationalPress. London.
Wahab, Salah. 1992. Manajemen Kepariwisataan. Penerjemah, Frans Gromang. Jakarta: Pradnya
Paramita.
Widyastuti, A.R. 2010. Pengembangan Pariwisata yang Berorientasi pada Pelestarian Fungsi Lingkungan.
Jurnal EKOSAINS Vol. II Nomor 3, Oktober 2010 : 69-81. Medan.
Yoeti, O. A. 1982. Pengantar Ilmu Pariwisata. Jakarta: Angkasa.
Yoeti, O. A. 2008. Ekonomi Pariwisata: Introduksi, Informasi Dan Aplikasi. Jakarta: PT Kompas Media
Nusantara.

embangunan sektor pariwisata diberbagai belahan dunia ini telah berdampak pada
berbagai dimensi kehidupan manusia, tidak hanya berdampak pada dimensi sosial
ekonomi semata, tetapi juga menyetuh dimensi sosial budaya bahkan lingkungan fisik.
Dampak terhadap berbagai dimensi tersebut bukan hanya bersifat positif tetapi juga
berdampak negatif.
Menurut Spillane (hal 33, 1994), dampak positif pariwisata terhadap pembangunan
ekonomi antara lain; dampak terhadap penciptaan lapangan kerja, sumber devisa
negara dan distribusi pembangunan secara spritual. Sedangkan dampak negatif
pariwisata terhadap pembangunan ekonomi antara lain; vulnerability ekonomi,
kebocoran pendapatan, polarisasi spasial, sifat pekerjaan yang musiman, dan terhadap
alokasi sumber daya ekonomi.Terhadap lingkungan fisik Spillane (1996) berpendapat
bahwa pariwisata dapat menimbulkan problemproblem besar seperti polusi air dan
udara, kekurangan air, keramaian lalu lintas dan kerusakan dari pemandangan alam
tradisional.
Sementara itu sejalan dengan pendapat diatas, Cohen (1984, dalam Pitana, 2006)
menyebutkan dampak pariwisata terhadap kondisi sosial ekonomi masyarakat lokal
dapat dikategorikan menjadi delapan kelompok besar, yaitu dampak terhadap
penerimaan devisa, dampak terhadap pendapatan masyarakat, dampak terhadap
kesempatan peluang kerja, dampak terhadap harga-harga, dampak terhadap
kepemilikan dan kontrol, dampak terhadap pembangunan pada umumnya dan dampak
terhadap pendapatan pemerintah. Lebih lanjut Cohen menyebutkan dampak pariwisata
terhadap sosial-budaya masyarakat antara lain;
1) dampak terhadap keterkaitan dan keterlibatan masyarakat dengan masyarakat yang
lebih luas.
2) dampak terhadap impersonal antara anggota masyarakat.
3) dampak terhadap dasar-dasar organisasi sosial.
4) dampak terhadap migrasi dari dan kedaerah pariwisata.
5) dampak terhadap ritme kehidupan sosial masyarakat.
6) dampak terhadap pola pembagian kerja.
7) dampak terhadap stratifikasi dan mobilisasi sosial.
8) dampak terhadap distribusi pengaruh kekuasaan.
9) dampak tehadap penyimpangan-penyimpangan sosial dan
10) dampak terhadap bidang kesenian dan adat istiadat.
11) dampak terhadap budaya, yaitu dampak pariwisata yang paling banyak mendapat
perhatian dan perbincangan berbagai kalangan adalah komodikasi yang mengarah pada
komersialisasi budaya.

Kajian dan penelitian lain tentang industri pariwisata telah banyak sekali dilakukan oleh
berbagai kalangan dari berbagai disiplin ilmu. Berikut beberapa hasil penelitian
mengenai dampak pembagunan pariwisata di indonesia:

N. Erawan pada tahun 1987 telah melakukan studi tentang Efek Pengganda
Pengeluaran Wisatawan Di Bali. Studi ini antara lain berkesimpulan bahwa tiga
bidang pokok yang sangat terpengaruh oleh industri pariwisata di Bali adalah bidang
ekonomi, sosial, dan lingkungan. Dibidang ekonomi industri pariwisata telah
menciptakan kesempatan-kesempatan kerja baru, meningkatkan tingkat pendapatan
dan kesejahteraan hidup masyarakat Bali, dan meningkatkan devisa negara. Sementara
dibidang sosial, fenomena pariwisata yang meningkatkan interaksi sosial antara
masyarakat setempat dengan wisatawan yang multikultural telah memberikan
pengaruh pada gaya hidup serta norma-norma sosial tertentu masyarakat Bali.

Syukriah HG (1991), telah melakukan studi tentang Pengaruh Pariwisata terhadap


Kehidupan Sosial dan Keagamaan Masyarakat (Studi Kasus Danau Maninjau
Sumatera Barat). Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa, dampak yang ditimbulkan
oleh pembangunan pariwisata tersebut adalah meningkatnya wawasan berpikir
masyarakat, meningkatnya pendapatan karena terciptanya peluang usaha baru dan
juga mulai melonggarnya nilai-nilai budaya yang selama ini hidup mapan dimasyarakat.
Sementara dari sisi keagamaan pembangunan pariwisata telah memunculkan paham
sekularisme dalam masyarakat.

Ni Made Suyastiri Yani Permai pada tahun 1996 melakukan studi tentangPergeseran
Tenaga Kerja Dari Sektor Pertanian Ke Sektor Pariwisata Di Kawasan Wisata
Ubud, Bali. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pergeseran tenaga kerja dari sektor
pertanian ke sektor pariwisata telah melibatkan tenaga kerja kepala keluarga, isteri, dan
beberapa anggota keluarga lainnya. Oleh karena itu pergeseran yang terjadi pada
rumah tangga petani cukup banyak (37,5%) yang bersifat total, sekalipun mayoritas
(44,2%) pergeseran itu bersifat sebagian, dan hanya (18,3%) yang tidak mengalami
pergeseran dari sektor pertanian. Pergeseran yang besar dari tenaga kerja antar sektor
ini terjadi karena masyarakat Ubud banyak berjiwa seni, mempunyai keterampilan lain
untuk terlibat dalam sektor pariwisata dengan tingkat pendapatan yang jauh lebih
tinggi.

Puji Puryani (2004), dalam penelitiannya yang berjudul Dampak Sosial Budaya
Pembangunan Obyek Wisata Bandungan Indah di Bandungan Ambarawa.
Menyimpulkan bahwa pembangunan pariwisata tersebut ternyata telah menimbulkan
perubahan pada pola perilaku masyarakat terhadap pendidikan kearah lebih baik,
kehidupan ekonomi yang membaik dengan terciptanya peluang kerja baru tetapi sisi
lain juga menimbulkan dampak yang tidak menguntungkan yaitu, munculnya pelacuran
dan meningkatnya tindak kriminal disekitar daerah obyek wisata tersebut.

Aryan Torrido (2005), dalam penelitiannya untuk penyusunan tesis yang berjudul
Dampak Sosial, Ekonomi dan Budaya Industri Pariwisata Parangtritis,
menyimpulkan bahwa perkembangan industri pariwisata telah menimbulkan pergeseran
pada struktur perekonomian rakyat (okupasi) dari struktur pertanian ke struktur jasa

dan perdagangan sekaligus membuka peluang kerja baru di sektor-sektor jasa dan
perdagangaan. Sementara pada kehidupun sosial masyarakat nilai-nilai kegotong
royongan masih tetap hidup dan mewarnai keseharian masyarakat.

Noor Aneka Lindawati (2008), dalam penelitian tesisnya yang berjudul Dampak
Pengembangan Pariwisata Dan Proses Marginalisasi Masyarakat Lokal : Studi
Pengembangan Obyek Wisata Pantai Gedambaan di Desa Gedambaan, Kecamatan
Pulau Laut Utara, Kabupaten Kotabaru Kalimantan Selatan, menyimpulkan bahwa
Persoalan yang paling mencolok dalam pengembangan obyek wisata Pantai Gedambaan
selama ini adalah terjadinya proses marginalisasi yang dialami oleh masyarakat
setempat. Proses marginalisasi penduduk lokal ini bermula sejak pengambil alihan lahan
oleh pemerintah daerah atas persetujuan DPRD. Sejak dilakukannya pembebasan lahan
tersebut persoalan sosialpun lambat laun satu persatu mulai menyeruak dan dialami
oleh masyarakat lokal. Sebagai akibat dari pembebasan lahan pada tahun 2002
terjadilah penyempitan lahan pertanian milik penduduk lokal. Sektor pertanianpun
menjadi termarginalisai, padahal sebagaian besar penduduk desa Geambaan
menggantungkan hidupnya dari sektor pertanian. Sebagian dari masyarakat menjadi
kehilangan mata pencaharian terutama para pemilik lahan dan mereka yang
diperkerjakan sebagai penjaga perkebunan kelapa yang menggantungkan hidupnya dari
hasil perkebunan kelapa yang mereka miliki. Realitas ini menunjukkan bahwa
pembangunan pariwisata di desa Gedambaan telah menciptakan kondisi ketertinggalan
masyarakat lokal, dimana masyarakat desa Gedambaan yang masyarakat agraris
dengan mata pencaharian utama sebagai petani terpaksa harus berpindah profesi
(okupasi) diluar tipe keagrarisannya. Dalam hal ini sektor pertanian menjadi
termarginalkan. Masyarakatpun terjebak dalam keadaan yang kian tertinggal. Proses
marginalisasi yang di alami oleh penduduk desa Gedambaan ini membuktikan bahwa
pengembangan obyek wisata pantai Gedambaan oleh pemerintah daerah selama ini
menyebabkan masyarakat lokal menjadi terasing dari lingkungan mereka sekaligus juga
membuktikan bahwa dalam hal ini pembangunan pariwisata belum mampu
memperbaiki kehidupan masyarakat desa Gedambaan dari kondisi kemiskinan yang
mereka alami.

Pariwisata, Pembangunan Yang Meminggirkan Masyarakat


Sejalan dengan proses pembangunan diberbagai sektor inclued sektor pariwisata
adalah sebuah realitas sosial yang tidak bisa dipungkiri bahwasanya dibalik
gemerlapnya berbagai proyek pembangunan telah menyebabkan proses peminggiran
terhadap sekelompok orang/ masyarakat. Pembangunan yang sejatinya memberikan
kesejahteraan bagi masyarakat justru yang terjadi sebaliknya, masyarakat seringkali
dalam konteks ini menjadi pihak yang dirugikan sekaligus menjadi korban. Begitupun
yang terjadi dengan pembangunan sektor pariwisata, proses peminggiran sekelompok
komunitaspun atau yang sering dikenal dengan istilah marginalisasi seringkali terjadi.
Proses peminggiran masyarakat pada sektor pariwisata terjadi diawali dari pembebasan

lahan. Seperti yang dikemukakan oleh George Young (dalam K.Khodyat, 1996, hal 104),
bahwa dampak negatif yang ditimbulkan oleh pariwisata adalah terjadinya perubahan
tata guna lahan, dimana tanah yang tadinya dipergunakan sebagai lahan pertanian,
dijadikan hotel. Lebih parah lagi, kebutuhan tanah untuk pembangunan sarana dan
fasilitas-fasilitas kepariwisataan seringkali mengakibatkan terjadinya pergusuruan
penduduk secara paksa dan tidak adil.
Maginalisasi dalam pemahaman yang sangat sederhana dimaknai sebagai sebuah
proses peminggiran terhadap sekelompok orang. Lebih jauh menurut pendapat Pablo
Gonzales Casanova ( Bjorn Hettne, 2001) marginalisasi adalah fenomena pedesaan
yang menimbulkan kemelaratan dan ciri kebudayaan pribumi tertentu yang biasanya
tertahan yang menunjukkan fenomena integral dalam masyarakat.

Daftar Pustaka:
Aneka , Noor Lindawati, 2008, Dampak Pengembangan Pariwisata Dan Proses Marginalisasi
Masyarakat Lokal : Studi Pengembangan Obyek Wisata Pantai Gedambaan di Desa
Gedambaan, Kecamatan Pulau Laut Utara, Kabupaten Kotabaru Kalimantan Selatan,
Tesis S2, Fakultas Ilmu Sosial UGM, Yogyakarta
Aryan Torrido, 2005, Dampak Sosial, Ekonomi dan Budaya Industri Pariwisata Parangtritis,
Tesis S2 , Fakultas Pasca Sarjana UGM, Yogyakarta
Bjorn Hettne, 2001, Teori Pembangunan Dan Tiga Dunia, Penerbit Gramedia Pusaka Utama,
Jakarta
Erawan, N, 1987, Effek Pengganda Pengeluaran Wisatawan Di Bali, Desrtasi S3, Fakultas
Pasca Sarjana, UGM, Yogayakarta
H. Kodhyat, 1996, Sejarah Pariwisata Dan Perkembangannya Di Indonesia, Penerbit Grasindo,
Jakarta
Ni Made, Suyastiri Yani Permai, 1996, Pergesean Tenaga Kerja Dari sektor pertanian Ke Sektor
Pariwisata : Di Kawasan Wisata Ubud, Kabupaten Gianyar, Proponsi Bali, Tesis S2 ,
Fakultas Pasca Sarjana UGM, Yogyakarta.
Pitana, I Gde, 1999, Pelangi Pariwisata Bali, Penerbit Bali Post, Denpasar
Pitana, I Gde, 2005, Sosiologi Pariwisata, Penerbit Andi, Yogyakarta
Spillane, J J, 1994, Pariwisata Indonesia Siasat Ekonomi dan Rekayasa Kebudayaan, Penerbit
Kanisius, yogyakarta

Syukriah HG, 1991, Pengaruh Pariwisata terhadap Kehidupan Sosial dan Keagamaan
Masyarakat (Studi Kasus Danau Maninjau Sematera Barat), Tesis S2, Fakultas Pasca
Sarjana UGM, Yograkarta

Anda mungkin juga menyukai