Anda di halaman 1dari 31

LAPORAN KASUS & TINJAUAN PUSTAKA

KETUBAN PECAH DINI (KPD)

Pembimbing:
dr. Wahyu Jatmika, Sp. OG
Penyusun :
Sukarmi Gani 11.2011.278

Kepaniteraan Ilmu Penyakit Kandungan & Kebidanan


Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
RS. Mardi Rahayu, Kudus
Periode 24 Febuari 2014 3 Mei 2014
KEPANITERAAN KLINIK
1

STATUS OBSTETRI
FAKULTAS KEDOKTERAN UKRIDA
Jl. Arjuna Utara No. 6. Kebon Jeruk- Jakarta Barat
SMF OBSTETRI RS MARDI RAHAYU KUDUS
Nama

: Sukarmi Gani

Tanda tangan

NIM

: 11.2012.278

Dr pembimbing / penguji

: dr. Wahyu Jatmika, Sp.OG

IDENTITAS PASIEN
Nama lengkap
: Ny. F
Umur
: 19 Tahun
Status perkawinan : Kawin (GIP0A0 )
Pekerjaan
: ibu rumah tangga
Alamat
: Ngelo, RT 04/RW 05,

Jenis kelamin : Perempuan


Suku bangsa : Jawa
Agama
: Islam
Pendidikan
: SMA
Masuk Rumah Sakit : 14 Maret 2014

Karangrowo,undaan Kudus
Nama suami

: Tn.R

Pekerjaan

: Buruh

Alamat

: Ngelo, RT 04/RW 05, Karangrowo,undaan Kudus

Pukul 07.50 WIB

A. ANAMNESIS :
Diambil dari : Autoanamnesis Tanggal : 14 Maret 2014 jam 08.30 WIB
Keluhan utama :
Keluar cairan bening dari jalan lahir 16 jam SMRS
Riwayat Penyakit Sekarang :
16 jam SMRS, pasien yang sedang hamil 41 minggu mengatakan perut terasa
kencang kencang lebih sering dari biasanya, kemudian keluar cairan bening dari jalan lahir
secara tiba tiba, saat pasien sedang tidur di kamar rumahnya. Pasien mengatakan cairan
yang keluar sedikit merembes kemudian menjadi banyak, tidak dapat ditahan, berwarna
bening, tidak ada darah, tidak ada rasa nyeri pada perut bawah atau alat kelamin, tidak ada
keluhan pusing, mual dan muntah. Pasien mengaku tidak ada riwayat trauma, tidak ada

riwayat minum obat obatan atau jamu. BAK (+), 4 5 x /hari, warna kuning, nyeri (-).
BAB (-)
Pasien memeriksakan kehamilannya secara teratur di bidan dan tidak ada kelainan
dalam kandungannya. Ini merupakan kehamilan pertama pasien.
Riwayat Haid
Menarche

: 13 tahun

Siklus haid

: 28 hari

Lamanya

: 7 hari

Banyaknya

: 1/2 gelas aqua dan encer

Haid terakhir (HPHT)

: 1 juni 2013

Hari Perkiraan Lahir(HPL)

: 8 Maret 2014

Riwayat Perkawinan
Menikah 1 kali pada usia 19 tahun, selama 10 bulan
Riwayat Kehamilan dan Kelahiran
No
1

Anak

Tahun

Jenis

Umur

Jenis

ke

Persalinan

Kelamin

Kehamilan

Persalinan

Penolo Hidup
ng

/ Mati

Riway

Menete

at

k s/d

Nifas

umur

HAMIL INI
Riwayat Kontrasepsi (Keluarga Berencana)
( ) Pil KB
( ) Susuk KB

( - ) Suntik KB 3 bulanan

( ) IUD

( ) Lain-lain

Lamanya : Penyakit Dahulu


( ) Cacar
( ) Cacar air
( ) Difteri
( - ) Demam Tifoid
( ) Diabetes
( ) Tonsilitis

( ) Malaria
( ) Disentri
( ) Hepatitis
( ) Wasir
( ) Sifilis
( ) Gonore

( ) Batu ginjal/saluran kemih


( ) Burut ( hernia )
( ) Batuk rejan
( ) Campak
( ) Alergi
( ) Tumor
3

( ) Hipertensi
( - ) Ulkus ventrikuli
( ) Ulkus duodeni
( ) Neurosis
( ) Jantung
Lain-lain :
Tidak ada

( ) Penyakit pembuluh
( ) Pendarahan otak
( ) Psikosis
( ) Tuberkulosis
( ) Operasi

( ) Demam rematik akut


( ) Pneumonia
( - ) Gastritis
( ) Batu empedu
( ) Kecelakaan

Riwayat keluarga
Hubungan

Umur

Jenis kelamin

Keadaan

Penyebab
meninggal
-

Ayah

45 tahun

Laki-laki

kesehatan
hidup

Ibu

39 tahun

Perempuan

Hidup

Suami

22 tahun

Laki-laki

Hidup

Anak

Ada kerabat yang menderita :


Penyakit
Alergi
Asma
Tuberkulosis
HIV
Hepatitis B
Hepatitis C
Hipertensi
Cacat bawaan
Lain lain

Ya
-

Tidak

Hubungan

Riwayat Operasi
Tidak ada
B. PEMERIKSAAN FISIK
Pemeriksaan Umum
Keadaan Umum

:Tampak sakit sedang

Kesadaran

: Compos Mentis

Tekanan Darah

: 110/70 mmHg
4

Nadi

: 84 x/ menit ( kuat angkat, teratur)

Suhu

: 37 0C

Pernafasaan

: 20x/ menit. Abdominal-torakal

Tinggi Badan

: 163 cm

Berat Badan

: 74 kg

Kepala
Normocephali, Rambut hitam, distribusi merata
Mata
Pupil isokor 3mm, reflek cahaya (+/+), Konjungtiva pucat (-/-), Sklera ikterik (-/-),
Udem palpebra (-/-)
Telinga
Selaput pendengaran utuh, Serumen (-), Perdarahan (-)
Hidung
Sekret (-), Deviasi septum (-), Pernapasan cuping hidung

(-), epistaksis (-)

Mulut
Lidah dalam batas normal
Dada
Bentuk : simetris baik statis maupun dinamis, tidak tampak scar, kulit sawo matang, sela iga
tidak tampak
Buah dada : membesar, puting susu menonjol keluar, areola mammae melebar
Paru paru
Depan
Inspeksi
Palpasi
Perkusi
Auskultasi

Belakang

kiri

Bentuk dada normal

tidak ada bekas luka

kanan

Bentuk dada normal

tidak ada bekas luka

kiri

sela iga normal, fremitus normal

fremitus normal

kanan

sela iga normal, fremitus normal

fremitus normal

kiri

Sonor

Sonor

kanan

Sonor

Sonor

kiri

vesikuler

vesikuler
5

kanan

vesikuler

vesikuler

Jantung (Cor)

Inspeksi

: ictus cordis tidak tampak

Palpasi

: ictus cordis teraba pada sela iga V,


2 cm medial dari linea midclavicularis sinistra

Perkusi

Batas atas

Pada sela iga II garis parasternal kiri

Batas kiri

Pada sela iga V, 2 cm medial dari garis

midclavicularis kiri

Batas kanan

Pada sela iga V, pada garis parasternal kiri.

Auskultasi
Bunyi jantung I-II reguler, tidak terdengar murmur dan gallop pada keempat
katup jantung

Perut (Abdomen)
Inspeksi
Bentuk

: membuncit, Simetris

lesi luka post operasi (-)


Palpasi
Nyeri tekan ( - ), massa ( - ), Defans musculer (-)
Hati

: tidak dapat dinilai

Limpa

: tidak dapat dinilai

Perkusi

: Timpani

Auskultasi

: Bising usus normal

Anggota gerak : Edema +/+ (tungkai bawah), sianosis -/-, clubbing finger -/Kulit
6

Warna

: sawo matang

Effloresensi

: tidak ada

Jaringan parut

: tidak ada

Pigmentasi

: tidak ada

Pertumbuhan rambut : normal


Pembuluh darah

: tidak menonjol dan melebar

Suhu raba

: normal, kulit lembab

Keringat

: setempat yaitu di kepala dan leher

Turgor

: baik

Ikterus

: tidak ada

Edema

: ada (kaki kanan dan kiri)

Kelenjar getah bening


Submandibula

: tidak ditemukan pembesaran

Supraklavikula

: tidak ditemukan pembesaran

Lipat paha

: tidak ditemukan pembesaran

Leher

: tidak ditemukan pembesaran

Ketiak

: tidak ditemukan pembesaran

Aspek kejiwaan
Tingkah laku

: gelisah

Alam perasaan

: biasa

Proses pikir

: wajar

I. Pemeriksaan Obsetri
Pemeriksaan Luar
Inspeksi
Wajah

: Chloasma gravidarum (-)

Payudara : pembesaran payudara (+), puting susu menonjol (+), cairan dari mammae (-)
Abdomen : Membesar, letak memanjang,
Linea nigra (+),
strie livide (-),
7

strie albicans (+),


bekas operasi (-)
Palpasi

: nyeri tekan (-)


TFU = 3 jari di bawah proc. Xyphoideus (30 cm)

Leopold I :

Bulat, lunak, tidak melenting (bokong)

Leopold II :

Keras memanjang pada bagian kiri (PUKI)

Leopold III :

Bulat,keras, melenting (Kepala) ,

Leopold IV :

Divergen (Sudah masuk pintu atas panggul)

DJJ : 12-12-12 = 144x/menit


TBJ : (30-11) x 155 = 2945 gram
PPV : (+) air ketuban
Leukorae : (-)
Pemeriksaan Dalam

Vaginal Toucher (jam 09.00)


2 cm, KK (-) , EFF 10%
Bag bawah kepala, Hodge I

VT (jam 13.00 wib)


5 cm, KK (-) , EFF 50 %
Bag bawah kepala, Hodge II

VT (jam 17.00 wib)


8 cm, KK (-) , EFF 75 %
Bag bawah kepala, Hodge III, teraba UUK kiri lintang

B. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan Laboratorium
o Pemeriksaan yang dianjurkan
8

Darah rutin
Hemoglobin
Leukosit
Hematokrit
Trombosit
LED
Golongan darah
Waktu perdarahan/BT
Waktu pembekuan/CT
C. RINGKASAN (RESUME)
Pasien seorang wanita, GIP0A0, berumur 19 tahun dengan usia kehamilan 41 minggu,
datang ke RSMR dengan keluhan keluar air ketuban dari jalan lahir serta perut terasa
kencang kencang lebih dari biasanya sejak 16 jam SMRS.
Rasa kencang dirasakan kurang lebih 1 kali tiap 10 menit, dengan durasi 10 detik.
Tidak ada riwayat trauma, atau minum obat obatan sebelumnya. Ini merupakan kehamilan
pertama pasien
Riwayat menarche : 13 tahun, HPHT : 01 juni 2013
Riwayat KB : Pemeriksaan FISIK
KU : Baik, tenang
Tekanan darah : 110/70 mmHg
Nadi : 84x/menit
RR
: 20x/menit
Suhu : 37 oC
Abdomen : membesar, letak memanjang, TFU 3 jari dibawah xiphoideus (30 cm)
Presentasi kepala, PUKI, sudah masuk pintu atas panggul
Extremitas : edem +/+ ( kedua tungkai bawah), sianosis -/-, akral hangat (+)
PPV : (+)
DJJ : 12-12-12 = 144 x/menit
TBJ : 2945 gram
Pemeriksaan Dalam

Vaginal Toucher (jam 09.00)


2 cm, KK (-) , EFF 10 %
9

Bag bawah kepala, Hodge I

VT (jam 13.00 wib)


5 cm, KK (-) , EFF 50 %
Bag bawah kepala, Hodge II

VT (jam 17.00 wib)


8 cm, KK (-) , EFF 75 %
Bag bawah kepala, Hodge III, teraba UUK kiri lintang

Pemeriksaan Laboratorium
o Pemeriksaan yang dianjurkan
Darah rutin
Hemoglobin
Leukosit
Hematokrit
Trombosit
LED
Golongan darah
Waktu perdarahan/BT
Waktu pembekuan/CT
D. DIAGNOSIS
Diagnosis kerja dan dasar diagnosis
Diagnosis kerja

1. GIP0Ao Umur 19 tahun, Hamil 41 minggu


Presentasi kepala, sudah masuk pintu atas panggul, PUKI
Inpartu kala I,fase laten
Ketuban Pecah Dini (KPD)
a. Dasar diagnosis

10

Anamnesis : keluar air ketuban dari jalan lahir 16 jam SMRS, perut terasa
kencang kencang lebih dari biasanya
HPHT : 01 juni 2013, HPL : 8 Maret 2014
Pemeriksaan Obsetri (Luar dan Dalam (VT))
TFU = 3 jari di bawah proc. Xyphoideus (30 cm)
o Leopold I :
Bulat, lunak, tidak melenting (bokong)
o Leopold II :
Keras memanjang pada bagian kiri (PUKI)
o Leopold III :
Bulat,keras, melenting (Kepala) ,
o Leopold IV :
Divergen (Sudah masuk pintu atas panggul)
DJJ : 12-12-12 = 144x/menit
TBJ : (30-11) x 155 = 2945 gram
PPV : (+) air ketuban
b. Pemeriksaan yang dianjurkan
1. Pemeriksaan USG
2. Pemeriksaan Lakmus
c. Rencana Pengelolaan:

IVFD RL 20 tetes permenit

Diit puasa

Posisi miring kanan/kiri

Amoksisilin 3 x 1 gram IV

Oksitosin 5 unit drip

Pengawasan 10

Pro partus spontan

D. Prognosis :
Power

: bonam

Passage

: bonam

Passenger

: dubia ad bonam

Tanggal 14 Mei (jam 19 .25 wib) dilakukan partus spontan


11

Pasien diposisikan litotomi, dipimpim mengejan sesuai dengan datangnya his

Tampak perineum membonjol dan menipis, lubang anus terbuka

Kepala janin turun menurut jalan lahir dan tampak di vulva

Saat kepala janin di dasar panggul dan membuka pintu dengan crowning sebesar 5 6 cm,
dilakukan episiotomy lateral saat timbul his dan ibu mengejan

Tampak suboksiput berada di bawah simfisis, dengan suboksiput sebagai hipomoklion,


kepala janin melakukan defleksi maksimal

Tangan kanan penolong menahan perineum agar tidak terjadi robekan baru sedangkan
tangan kiri penolong menahan kepala janin

Berturut turut lahir UUB, dahi, mulut, dagu dan seluruh kepala

Kepala janin melakukan putaran paksi luar

Kepala janin dipegang dengan kedua tangan, ditarik curam ke arah bawah untuk
melahirkan bahu depan, ditarik ke arah atas untuk melahirkan bahu belakang

Kaitkan jari pada ketiak janin kemudian tarik ke bawah untuk melahirkan panggul depan
dan ke arah atas untuk melahirkan panggul belakang

Setelah seluruh badan janin dilahirkan, jalan nafas dibersihkan dengan menghisap lendir

Bayi menangis nyaring, badan bayi kemerahan

Dilakukan pemotongan tali pusat 5 cm dari badan janin, tali pusat diikat

Bayi diserahkan ke petugas untuk dirawat semestinya

Plasenta dilahirkan 5 menit setelah bayi lahir, kotiledon lengkap, perdarahan 300 cc

Menjahit luka episiotomy, subkutan dengan benang plain catgult no I, dan kulit dengan
benang plain cutgult no I.

Jalan lahir pasien dibersihkan dengan menggunakan betadin

Tindakan selesai

Lama persalinan : 1 jam


Keadaan Bayi :

Bayi laki-laki, BBL : 3.300 gram, PB : 50 cm

APGAR Skor : 1 menit pertama : 10


5 menit pertama : 10
12

10 menit pertama 10
Pemeriksaan Fisik Post partus :

Keadaan Umum

: tampak kelelahan

Tekanan darah

: 110/70 mmHg

Frekuensi Nadi

: 90 x/menit

Frekuensi Nafas

: 24 x/menit

Suhu

: 37 derajat Celcius

Diagnosis Post partus :

PIAO

Post partus normal dengan induksi

Pengobatan post partus :

IVFD RL 20 tpm

Amoksisilin 3 x 500 gram bolus

Ergometrin 2 x 1 ampul ( IV)

Zegavit 1 x 1 tablet

FOLLOW UP
Tanggal 15 Maret 2014, jam 08.00 WIB
S : masih merasa kemeng pada jalan lahir. BAK (+). BAB (-)
pusing (-), demam (-), mual & muntah (-)
O : Keadaan umum

: Baik

Kesadaran

: Compos mentis

Tekanan darah

: 110/80 mmHg

Nadi

: 84 x/menit

Frekuensi nafas

: 22 x/menit

Suhu

: 37 C

Abdomen

: nyeri tekan (-), bekas luka (-)


TFU : 2 jari dibawah umbilikus
13

PPV
Extremitas

: Lokia (+) 1 kotek


: edem (+/+) ekstremitas bawah, sianosis (-)

A : PIA0 Umur 19 tahun,


Post partus spontan hari ke I dengan induksi
KPD
P : IVFD RL 20 tpm
Amoksisilin 3 x 500 gram bolus
Zegavit 1 x 1 tablet
Tanggal 15 Maret 2014, Jam 15.00 WIB Pasien pulang
TINJAUAN PUSTAKA
KETUBAN PECAH DINI (KPD)

1.1

PENDAHULUAN
Pengelolaan Ketuban Pecah Dini (KPD) merupakan masalah yang masih kontroversial

dalam ilmu kebidanan. Pengelolaan yang optimal dan yang baku masih belum ada, selalu
berubah. KPD sering kali menimbulkan konsekuensi yang dapat menimbulkan morbiditas dan
mortalitas pada ibu maupun bayi terutama kematian perinatal yang cukup tinggi. Kematian
perinatal yang cukup tinggi ini antara lain disebabkan karena kematian akibat kurang bulan, dan
kejadian infeksi yang meningkat karena partus tak maju, partus lama, dan partus buatan yang
sering dijumpai pada pengelolaan kasus KPD terutama pada pengelolaan konservatif. 1,2
Dilema sering terjadi pada pengelolaan KPD dimana harus segera bersikap aktif terutama
pada kehamilan yang cukup bulan, atau harus menunggu sampai terjadinya proses persalinan,
sehingga masa tunggu akan memanjang berikutnya akan meningkatkan kemungkinan terjadinya
infeksi. Sedangkan sikap konservatif ini sebaiknya dilakukan pada KPD kehamilan kurang bulan
dengan harapan tercapainya pematangan paru dan berat badan janin yang cukup.1,2

14

Ada 2 komplikasi yang sering terjadi pada KPD, yaitu : pertama, infeksi, karena ketuban
yang utuh merupakan barier atau penghalang terhadap masuknya penyebab infeksi. Dengan tidak
adanya selaput ketuban seperti pada KPD, flora vagina yang normal ada bisa menjadi patogen
yang akan membahayakan baik pada ibu maupun pada janinnya. Oleh karena itu membutuhkan
pengelolaan yang agresif seperti diinduksi untuk mempercepat persalinan dengan maksud untuk
mengurangi kemungkinan resiko terjadinya infeksi ; kedua, adalah kurang bulan atau
prematuritas, karena KPD sering terjadi pada kehamilan kurang bulan. Masalah yang sering
timbul pada bayi yang kurang bulan adalah gejala sesak nafas atau respiratory Distress Syndrom
(RDS) yang disebabkan karena belum masaknya paru. 1

2.1

ANATOMI & FISIOLOGI


A. Selaput Ketuban
Selaput ketuban (selaput janin) terdiri dari amnion dan korion. Amnion adalah membrane

yang paling dalam dan berdampingan dengan cairan amnion. Struktur avascular khusus ini
memiliki peran penting dalam kehamilan pada manusia. Amnion adalah jaringan yang
menentukan hampir semua kekuatan regang membrane janin. Dengan demikian, pembentukan
komponen komponen amnion yang mencegah rupture atau robekan sangatlah penting bagi
keberhasilan persalinan 1,3
Amnion (selaput ketuban) merupakan membrane internal yang membungkus janin dan
cairan ketuban. Selaput ini licin, tipis, ulet, dan transparan. Selaput amnion melekat erat pada
korion (sekalipun dapat dikelupas dengan mudah). Selaput ini menutupi permukaan fetal
plasenta sampai pada insersio tali pusat dan kemudian berlanjut sebagai pembungkus tali pusat
yang tegak lurus hingga umbilicus janin. Sedangkan korion merupakan membrane eksternal
yang berwarna putih dan terbentuk vili vili sel telur yang berhubungan dengan desidua
kapsularis. Selaput ini berlanjut dengan tepi plasenta dan melekat pada lapisan uterus 3

15

B. Cairan Amnion
Volume cairan amnion
Cairan yang normalnya jernih dan menumpuk di dalam rongga amnion ini akan meningkat
jumlahnya seiring dengan perkembangan kehamilan sampai menjelang aterm, saat terjadi
penurunan volume cairan amnion pada banyak kehamilan normal.1,3
Volume cairan amnion pada hamil aterm sekitar 1000 1500 ml, warna putih, agak keruh
serta mempunyai bau yang khas, agak amis dan manis. Cairan ini mempunyai berat jenis 1.098
terdiri atas 98% air. Sisanya terdiri atas garam anorganik serta bahan organic dan bila diteliti
dengan benar terdapat rambut lanugo, sel sel epitel dan verniks kaseosa. Protein ditemukan rata
rata 2.6% g per liter, sebagian besar sebagai albumin.1,3

Tabel 1 volume cairan amnion yang lazim (Cunningham, 2006)


Minggu gestasi Janin (g)

Plasenta (g)

Cairan amnion (ml) Persen cairan

16

16

100

100

200

50

28

1000

200

1000

45

36

2500

400

900

24

40

3300

500

800

17

Fungsi cairan amnion.


Beberapa fungsi dari cairan amnion :
1. Proteksi : melindungi janin terhadap trauma dari luar
2. Mobilisasi : memungkinan ruang gerak bagi janin
3. Homeostasis : menjaga keseimbangan suhu dan lingkungan asam basa dalam
rongga amnion untuk suasana yang optimal bagi janin
4. Mekanik : menjaga keseimbangan tekanan dalam seluruh ruangan intrauterine
5. Pada persalinan : membersihkan atau melicinkan jalan lahir dengan cairan steril
sehingga melindungi bayi dari kemungkinan infeksi jalan lahir.

2.2

DEFINISI

Ketuban pecah dini (KPD) adalah pecahnya ketuban sebelum terdapat tanda persalinan mulai
dan ditunggu satu jam sebelum terjadi inpartu. Sebagian besar ketuban pecah dini terjadi pada
hamil aterm di atas 37 minggu, sedangkan di bawah 36 minggu, kejadiannya tidak terlalu
banyak. 3,4

1. Pecahnya ketuban sebelum inpartu atau sebelum timbulnya persalinan minimal lebih dari
1 jam sebelum inpartu.

17

2. Pecahnya ketuban sebelum inpartu yaitu bila diameter serviks pada primigravida < 3 cm
dan multi gravida <5 cm.
3. Pecahnya selaput ketuban secara spontan pada umur kehamilan > 28 minggu sebelum
waktu persalinan, dan dibagi menjadi dua :
-

PROM (prelabour rupturs of the membranes) Pecahnya selaput ketuban pada usia
kehamilan > 37 minggu sebelum waktu persalinan.

PPROM (Preterm Prelabour rupturs of the membranes) pecahnya selaput ketuban


pada usia kehamilan < 37 minggu.

Arti klinis ketuban pecah dini adalah : 3,4,6


Bila bagian terendah janin masih belum masuk pintu atas panggul maka kemungkinan
terjadinya prolapses tali pusat atau kompresi tali pusat menjadi besar.
Peristiwa KPD yang terjadi pada primigravida hamil aterm dengan bagian terendah yang
masih belum masuk pintu atas panggul seringkali merupakan tanda adanya gangguan
keseimbangan feto pelvik.
KPD seringkali diikuti dengan adanya tanda tanda persalinan sehingga dapat memicu
terjadinya persalinan preterm dengan segala akibatnya.
Peristiwa KPD yang berlangsung lebih dari 24 jam (prolonged rupture of membrane)
seringkali disertai dengan infeksi intrauterine dengan segala akibatnya
Peristiwa KPD dapat menyebabkan oligohidramnion dan dalam jangka panjang,
kejadian ini akan mengakibatkan hilangnya fungsi amnion bagi pertumbuhan dan
perkembangan janin.

2.3

INSIDENSI
Ketuban pecah dini dapat terjadi pada kehamilan aterm (8%), preterm (1-3%), dan pada

midsemester kehamilan (<1%). Secara umum, insidensi dari KPD terjadi sekitar 7 12 % dari
semua kehamilan. 3,4

18

Sekitar 8-10% pasien ketuban pecah dini memiliki risiko tinggi infeksi intrauterine akibat
interval antara ketuban pecah dan persalinan yang memanjang. Ketuban pecah dini berhubungan
dengan 30 hingga 40% persalinan preterm dimana sekitar 75% pasien akan mengalami
persalinan satu minggu lebih dini dari jadwal.3

2.4

ETIOLOGI
Etiologi dari KPD masih belum jelas, bisa dikarenakan faktor selaput ketuban itu sendiri (

berkurangnya kekuatan ketuban ) atau faktor infeksi yang menyebabkan peningkatan tekanan
intrauterin. 1,3
Karena etiologinya yang belum jelas maka tindakan preventif tdk dapat dilakukan,
kecuali dalam upaya untuk menekan terjadinya infeksi.

Faktor predisposisi Terjadinya KPD 3,4,7


1.

Faktor selaput ketuban itu sendiri Selaput ketuban yang kurang elastis dan tipis

2. Adanya infeksi yang terjadi secara langsung mengenai selaput ketuban maupun ascenden
dari vagina atau infeksi pada cairan ketuban seperti:
-

Chorioamnionitis

Phyelonefritis

Sistitis

Cervisitis

Vaginitis

3. Kelainan kehamilan :
-

cervix incompeten menyebabkan dinding ketuban paling bawah mendapat tekanan


paling tinggi

cephalo-pelvic disproportion

Peduncular abdomen (perut gantung)


19

kelainan letak janin (letak sungsang), sehingga tidak ada bagian terendah yang
menutupi pintu atas panggul (PAP) yang dapat menghalangi tekanan terhadap
membran bagian bawah

hidramnion, kehamilan ganda


Overdistensi uterus mengakibatkan selaput ketuban menjadi lebih tipis

4. Trauma dan tekanan intra abdominal


5. Faktor lain ;
-

Umur, usia ibu yang lebih tua mungkin menyebabkan ketuban kurang kuat daripada
ibu muda

Paritas (multipara, grandemultipara). Pada kehamilan yang terlalu sering akan


mempengaruhi proses embryogenesis sehingga selaput ketuban yang terbentuk akan
lebih tipis yang akan menyebabkan selaput ketuban pecah sebelum tanda tanda
inpartu.

2.5

Merokok selama kehamilan

Defisiensi gizi dari tembaga dan vitamin C

Riwayat KPD sebelumnya

PATOFISIOLOGI
Patofisiologi KPD berkaitan dengan adanya faktor predisposisi.:
1.

Faktor selaput ketuban Membran ketuban memiliki karakteristik kemampuan suatu


material viscoelastis. Dimana jika ada tekanan internal saat persalinan dan juga adanya
infeksi membuat membran menjadi lemah dan rentan. membran pecah.1,3

2.

Faktor infeksi Pada infeksi dan inflamasi terjadi peningkatan aktifitas IL-1 dan
prostaglandin menghasilkan kolagenase jaringan sehingga terjadi depolimerase
kolagen pada selaput korion/ amnion menyebabkan selaput ketuban tipis, lemah dan
mudah pecah spontan. 3,4

20

3.

Faktor trauma dan tekanan intra abdominal adanya stress material dan fetal
menyebabkan peningkatan pelepasan plasental cortikotropin releasing hormon (CRH),
sehingga terjadi pembentukan enzym matriks metalloproteinase (MMP) ketuban
pecah. 3,6,7

2.6

DIAGNOSA

Data subyektif:

Anamnesa:

Penderita merasa basah pada vagina, atau mengeluarkan cairan yang banyak
secara tiba-tiba dari jalan lahir,tidak dapat ditahan, terus menerus. Cairan berbau
khas, dan perlu juga diperhatikan warna keluanya cairan tersebut, his belum
teratur atau belum ada, dan belum ada pengeluaran lendir darah. Dari anamnesis
90% sudah dapat mendiagnosa KPD secara benar.1,3

Jika sudah terjadi infeksi intra partum ( misalnya amniontis) didapat keluhan
demam tinggi, nyeri abdomen dan keluar cairan pervaginam berbau.3

Riwayat haid
Ketuban pecah sebelum taksiran kelahiran. Umur kehamilan diperkirakan dari
hari haid terakhir3,4

Data objektif :

Pemeriksaan fisik.
Pemeriksaan umum:
o

Periksa tanda-tanda vital pasien yaitu kesadaran, tekanan darah, nadi, pernafasan
dan suhu badan. Apakah ada tanda infeksi, seperti suhu badan meningkat dan nadi
cepat.4,5

21

Pemeriksaan abdomen :
o

Uterus lunak dan tidak nyeri tekan. Tinggi fundus uteri ( TFU) harus diukur dan
dibandingkan dengan tinggi yang diharapkan menurut haid terakhir:

Denyut jantung janin normal yaitu 120-160x/ menit 3,4

Pemeriksaan obstetric 3-5


Memeriksa adanya cairan yang keluar pervaginam yang berisi meconium, vernik

kaseosa, rambut lanugo, dan tidak berbau.


Dengan inspekulo ;

lihat dan perhatikan apakah air ketuban memang keluar dari kanalis servikalis dan
apakah ada bagian yang pecah

Keadaan umum dari serviks, juga dinilai dilatasi dan pendataran dari serviks,
adanya prolapse tali pusat atau tidak, ekstremitas bayi

Pooling pada cairan amnion dari forniks posterior


Pemeriksaan dalam ; (tidak dianjurkan)

Didapat cairan di dalam vagina dan selaput ketuban sudah tidak ada lagi.
Mengenai pemeriksaan dalam vagina dengan tocher perlu dipertimbangkan, pada
kehamilan yang kurang bulan yang belum dalam persalinan tidak perlu diadakan
pemeriksaan dalam karena pada waktu pemeriksaan dalam, jari pemeriksa akan
mengakumulasi segmen bawah rahim dengan flora vagina yang normal.
Mikroorganisme tersebut bisa dengan cepat menjadi patogen. Pemeriksaan dalam
vagina hanya dilakukan kalau KPD yang sudah dalam persalinan atau yang
dilakukan induksi persalinan,

dan bila akan dilakukan penanganan aktif

(terminasi kehamilan), dan dibatasi sedikit mungkin.

Pemeriksaan laboratorium
Cairan yang keluar dari vagina perlu diperiksa : warna, konsentrasi, bau dan pH nya.
Cairan yang keluar dari vagina ini kecuali air ketuban mungkin juga urine atau sekret
vagina.
1.

Tes Lakmus (tes Nitrazin).


22

yaitu dengan memeriksa kadar keasaman cairan vagina. Kertas mustard emas
yang sensitive, pH ini akan berubah menjadi biru tua pada keberadaan bahan
basa. pH normal vagina selama kehamilan adalah 4,5-5,5, pH cairan amniotik
adalah 7-7,5. Tempatkan sepotong kertas nitrazin pada mata pisau spekulum
setelah menarik spekulum dari vagina, jika kertas lakmus merah berubah
menjadi biru menunjukkan adanya air ketuban (alkalis). Darah dan infeksi
vagina dapat menghasilkan tes yang positif palsu. 1,3,6

2.

Mikroskopik (tes pakis), dengan meneteskan air ketuban pada gelas objek dan
dibiarkan kering. Pemeriksaan mikroskopik menunjukkan gambaran daun pakis.
1,3

Pemeriksaan penunjang
o

USG: untuk menilai jumlah air ketuban (Amniotic Fluid Index), menentukan umur
kehamilan, letak plasenta, letak janin dan berat janin. 3

Amniosenteses: Cairan amnion dapat dikirim ke laboratorium untuk evaluasi


kematangan paru janin {(rasio L/S: Fosfatidilgliserol, fosfatidi(kolin jenuh)}.
Pewarnaan gram dan hitung koloni kuantitatif membuktikan adanya infeksi
intrauterine. 4,6

Protein C-reaktif: peningkatan protein C-reaktif serum menunjukan peringatan


awal koriomnionitis.7

2.7

KOMPLIKASI

Pengaruh KPD pada kehamilan :

1.

timbulnya persalinan Masa laten merupakan waktu dari ketuban pecah sampai
mulainya persalinan. Makin tua kehamilan maka masa latennya makin pendek. Dan
makin muda umur kehamilan maka makin panjang pula masa latennya. Persalinan

23

spontan dapat terjadi < 24 jam pada 80%-85% kehamilan aterm dan 50% kehamilan
prematur.3
2.

lamanya persalinan lamanya persalinan menjadi lebih pendek yaitu ; pada


primigravida 9 jam dan pada multigravida 6 jam.1,3

Pengaruh KPD pada janin :

1. Prematuritas, pada prematuritas dapat terjadi komplikasi pada bayi yaitu :


-

Prolaps tali pusat, asfiksia neonatorum

respiratory distress sindrom (RDS)

Sindroma deformitas fetal growth retardation, hipoplasia paru-paru, deformitas


muka dan tubuh karena kompresi. 1,3

2. Infeksi intra uterin.


Pada infeksi intra partum janin terinfeksi lebih dulu dibandingkan ibu, infeksi ini
terjadi karena adanya infeksi asendens dari vagina ke intra uterin (Khorioamniositis).
Infeksi yang dapat terjadi pada janin yaitu : pnemonia, septikemia, infeksi saluran kemih,
konjungtivitis. Bila terjadi infeksi pada janin didapatkan suhu tubuh ibu meningkat dan
DJJ meningkat (Fetal distress). 1,3,4

3. Peningkatan morbiditas dan mortilitas janin.


Prematuritas, intra uterin fetal disstres, infeksi dan masa laten yang meningkat
dapat meningkatkan angka morbiditas dan mortalitas janin.3,4

24

Pada masa laten yang lama terjadi peningkatan angka kematian janin. Dimana bila
masa laten > 12jam maka terjadi peningkatan 4-6% angka kematian janin. Bila > 24 jam
meningkat 2 x lipat dan > 48 jam meningkat 4x lipat. 3,6

Pengaruh KPD pada ibu : 2,3,5

1. infeksi partial
2. infeksi nifas (puerpuralis)
3. Peritonitis, septikemia
4. Dry labor
5. Prolonged labor (partus lama)
6. atonia uteri
7. chorioamnionitis, endometritis
8. kematian ibu karena septikemia

2.8

PENATALAKSANAAN
Dalam penatalaksanaan ketuban pecah dini ada beberapa hal dasar yang harus dilakukan

sebelum melakukan tindakan yaitu:

Memastikan diagnosis
Menentukan usia kehamilan
Evaluasi ada tidaknya infeksi maternal ataupun infeksi janin
Tanda-tanda inpartu dan gawat janin

Penderita dengan kemungkinan ketuban pecah dini harus masuk rumah sakit untuk dilakukan
pemeriksaan lebih lanjut. Jika pada perawatan air ketuban berhenti keluar maka pasien dapat
pulang untuk rawat jalan. Bila terdapat persalinan dalam kala aktif, korioamnionitis dan gawat
25

janin maka kehamilan diterminasi. Bila ketuban pecah pada kehamilan premature maka
dibutuhkan penatalaksanaan yang lebih komprehensif. Secara umum, penatalaksanaan pasien
ketuban pecah dini yang tidak dalam persalinan serta tidak ada infeksi dan gawat janin,
penatalaksanaanya bergantung pada usia kehamilan. 3,,6,7
Secara umum, terdapat 2 jenis penanganan dan penatalaksanaan pada kasus ketuban
pecah dini yaitu:
A. Konservatif 1,3,5
Rawat di Rumah Sakit, berikan antibiotic ( ampicilin atau eritromisin 4x500mg dan
metronidazol 2x500mg selama 7 hari.
Jika usia kehamilan < 32 34 minggu maka pasien dirawat selama air ketuban
masih keluar atau sampai air ketuban tidak lagi keluar.
Jika usia kehamilan 32 37 minggu, belum inpartu, tidak ada infeksi dan tes busa
negative maka diberikan dexametason IM 5mg setiap 6 jam sebanyak 4x,
observasi tanda-tanda infeksi dan kesejahteraan janin. Terminasi kehamilan pada
usia kehamilan 37 minggu
Jika usia kehamilan 32 37 minggu, sudah inpartu, tidak ada infeksi maka
berikan tokolitik (salbutamol), dexametason IM 5mg setiap 6 jam sebanyak 4x
dan induksi persalinan setelah 24 jam
Jika usia kehamilan 32 37 minggu dan ada infeksi maka beri antibiotic dan
lakukan induksi, nilai tanda-tanda infeksi (suhu, leukosit, tanda-tanda infeksi intra
uterin).
Pada usia kehamilan 32 37 minggu berikan steroid untuk memacu kematangan paru
janin dan bila memungkinkan periksa kadar lesitin dan spingomielin tiap minggu.

B. Aktif 1,3,5
Pada kehamilan 37 minggu dan taksiran berat janin (TBJ) 2500gram, keadaan
ibu dan janin baik, skor pelvic 5 dan ICA > 5 maka dilakukan induksi dengan
oksitosin. Dapat pula diberikan misoprostol 25g - 50g intravaginal tiap 6 jam
maksimal 4 kali. Bila gagal maka dilakukan seksio sesarea.
Pada kehamilan 37 minggu dan taksiran berat jangin (TBJ) 2500gram, skor
pelvic < 5, ICA 5, keadaan ibu dan janin kurang baik ( terdapat tanda-tanda
26

infeksi intra partum, NST non-reaktif atau CST positif, terdapat indikasi obstetric)
dan ketuban pecah 12 jam maka berikan antibiotic dosis tinggi dan kehamilan
diakhiri dengan seksio sesarea.

KETUBAN PECAH

- Anamnesis
- Faktor risiko

- USG
- Laboratorium
- Kardiotokografi

< 37 minggu

37minggu

< 2500 gram

2500 gram

KONSERVATIF

AKTIF

Nilai pelvik
27

RAWAT :
Antibiotika
Kortikosteroid
Nilai tanda infeksi

Tabel. 2.2

<5

>5

Seksio Sesarea

Pervaginam

Tatalaksana Ketuban Pecah Dini

28

1.8

PROGNOSIS
Prognosis KPD tergantung dari cara penatalaksanaannya dan komplikasi-komplikasinya

yang timbul serta umur dari kehamilan.3

3.1

PENUTUP

3.1.1 Kesimpulan
Ketuban pecah dini (KPD) merupakan masalah penting dalam obstetrik berkaitan
dengan penyulit kelahiran prematur dan terjadinya infeksi korioamnionitis sampai sepsis,
yang meningkatkan morbiditas dan mortalitas perinatal dan menyebabkan infeksi ibu.
Beberapa peneliti melaporkan insidensi KPD berkisar antara 8 10 % dari semua
kehamilan. Hal ini menunjukkan, KPD lebih banyak terjadi pada kehamilan yang cukup
bulan dari pada yang kurang bulan, yaitu sekitar 95 %, sedangkan pada kehamilan tidak
cukup bulan atau KPD pada kehamilan preterm terjadi sekitar 34 % semua kelahiran
prematur.
Pengelolaan Ketuban Pecah Dini (KPD) merupakan masalah yang masih
kontroversial dalam kebidanan. Pengelolaan yang optimal dan yang baku masih belum ada,
selalu berubah. Protokol pengelolaan yang optimal harus mempertimbangkan adanya infeksi
dan usia gestasi serta faktor-faktor lain seperti fasilitas serta kemampuan untuk merawat bayi
yang kurang bulan. Meskipun tidak ada satu protokol pengelolaan yang dapat untuk semua
kasus KPD, tetapi harus ada panduan pengelolaan yang strategis, yang dapat mengurangi

29

mortalitas perinatal dan dapat menghilangkan komplikasi yang berat baik pada anak maupun
pada ibu.

DAFTAR PUSTAKA

1. Anonym, 2004. High Risk Pregnancy-Premature Rupture of Membrane


(PROM)/Preterm Premature Rupture of Membrane (PPROM). Univercity of
Virginia. USA.
2. Prawirohardjo. S. Ilmu Kebidanan. Ed. III, Jakarta : Yayasan Bina Pustaka
Sarwono Prawirohardjo. 2008.
3. Prawirohardjo. S. Buku Panduan Praktis Pelayanan Kesehatan Maternal Dan
Neonatal. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo. 2002.
4. Marjono, Anthonius. 1992. Ketuban Pecah Dini dan Infeksi Intrapartum. FKUI.
Jakarta.
5. Medina, Tanya M and Hill D. Ashley. 2006. Preterm Premature Rupture of
Membrane: Diagnosis and Management. American Familiy Physician. Orlando
Florida.
6. Premature Rupture of The Membranes. http//www.eMedicine.com.
30

7. Premature Rupture of The Membranes with Intrauterine Spread. http//lpig.doe


report.com.

31