Anda di halaman 1dari 37

KEPANITERAAN KLINIK

STATUS OBSTETRI
FAKULTAS KEDOKTERAN UKRIDA
Jl. Arjuna Utara No. 6. Kebon Jeruk- Jakarta Barat
SMF OBSTETRI RS MARDI RAHAYU KUDUS
Nama

: Firdaus Luke Nugraha

NIM

: 11 2013 062

Dr pembimbing / penguji

: dr. Wahyu Jatmika, Sp.OG

Tanda tangan

IDENTITAS PASIEN
Nama lengkap
: Ny. M
Umur
: 34 Tahun
Status perkawinan : Kawin (G0P0A0 )
Pekerjaan
: Buruh Djarum PT
Alamat
: Klaling, RT/RW : 03/03,

Jenis kelamin : Perempuan


Suku bangsa : Jawa
Agama
: Islam
Pendidikan
: SD
Masuk Rumah Sakit : 30 Juli 2014

Kecamatan : JEKULO, Kabupaten :


KUDUS.

Pukul 12.20 WIB


Pulang

: 3 Agustus 2014

Nama suami

: Tn. T

Pekerjaan

: swasta

Alamat

: Klaling, RT/RW : 03/03, Kecamatan : JEKULO, Kabupaten : KUDUS.

A. ANAMNESIS :
Diambil dari : Autoanamnesis Tanggal : 31 Juli 2014
Keluhan utama :
Nyeri perut bawah sejak 5 hari SMRS

Riwayat Penyakit Sekarang :


5 hari SMRS pasien mendadak nyeri pada perut (di bagian suprapubik), nyeri yang
dirasakan hilang timbul. Nyeri dirasakan semakin memberat ketika OS gerak. OS
mengaku tidak melakukan hubungan intim sejak awal puasa. Nafsu makan dan minum
baik. Mual dan muntah tidak ada. BAB/BAK baik.
1

3 hari SMRS, OS mengaku pandangannya kabur. Pandangan matanya dirasakan gelap


semua. OS juga merasakan kepalanya sangat pusing, tetapi tidak sampai jatuh pingsan.
OS mengaku saat mens belakangan ini darah yang dikeluarkan sangat banyak dari
yang biasanya. Sehari yang biasanya hanya ganti pembalut 1 x sehari, sekarang bisa
mengganti pembalutnya sampai 4x. Darah yang keluar berwarna merah hitam,
konsistensinya kenyal dan kental. OS mengaku pernah mengalami infeksi pada
kandungan nya. Terbilang oleh OS bahwa ada cairan dalam kandungannya sekitar 1
tahun yang lalu.
Riwayat Haid
Menarche

: 13 tahun

Siklus haid

: 60 hari

Lamanya

: 5-7 hari

Banyaknya

: banyak dan encer

Haid terakhir (HPHT)

:-

Riwayat Perkawinan
Menikah 1 kali
Riwayat Kehamilan dan Kelahiran
Umur

Jenis

Kehamilan

Persalinan

Penolong

Hidup /

Riwayat

Menetek s/d

Mati

Nifas

umur

Riwayat Kontrasepsi (Keluarga Berencana)


( ) Pil KB, ( - ) Suntikan 3 bulan, ( ) IUD, ( ) Susuk KB ,( ) Lain-lain
Penyakit Dahulu
( ) Cacar
( ) Cacar air
( ) Difteri

( ) Malaria
( ) Disentri
( ) Hepatitis

( ) Batu ginjal/saluran kemih


( ) Burut ( hernia )
( ) Batuk rejan
2

( - ) Tifus abdominalis ( ) Wasir


( ) Diabetes
( ) Sifilis
( ) Tonsilitis
( ) Gonore
( ) Hipertensi
( ) Penyakit pembuluh
( - ) Ulkus ventrikuli
( ) Pendarahan otak
( ) Ulkus duodeni
( ) Psikosis
( ) Neurosis
( ) Tuberkulosis
( ) Jantung
( ) Operasi
Lain-lain :
Riwayat Maag (+)

( ) Campak
( ) Alergi
( ) Tumor
( ) Demam rematik akut
( ) Pneumonia
( - ) Gastritis
( ) Batu empedu
( ) Kecelakaan

Ada kerabat yang menderita :


Penyakit
Alergi
Asma
Tuberkulosis
HIV
Hepatitis B
Hepatitis C
Hipertensi
Cacat bawaan
Lain lain

Ya
-

Tidak

Hubungan

Riwayat Operasi
Tidak ada
B. PEMERIKSAAN FISIK
Pemeriksaan Umum
Tekanan Darah

: 110/70 mmHg

Keadaan Umum

: Sakit sedang

Nadi

: 84 x/ menit ( kuat angkat, teratur)

Suhu

: 36,80C

Pernafasaan

: 20x/ menit. Abdominal-torakal

Kesadaran

: Compos mentis

Tinggi Badan

: 160 cm

Berat Badan

: 50 kg

BMI

: 19.5

Status gizi

: Baik

Kulit
Warna kuning langsat, Turgor kulit baik, Ikterus (-), Edema (-)
Kepala
Normocephali, Rambut hitam, distribusi merata
Mata
Pupil isokor 3mm, reflek cahaya (+/+), Konjungtiva pucat (+/+), Sklera ikterik (-/-),
Udem palpebra (-/-)
Telinga
Selaput pendengaran utuh, Serumen (-), Perdarahan (-)
Hidung
Sekret (-), Deviasi septum (-), Pernapasan cuping hidung

(-), epistaksis (-)

Mulut
Lidah dalam batas normal, Pursed Lips breathing (-)
Leher
Tiroid dan KGB tidak teraba, Deviasi trachea (-), Hipertrofi otot pernapasan tambahan (-)
Retraksi suprasternal(-),
Dada (Thorax)
Inpeksi
Bentuk

: Normal, pernafasan abdominotorakal.

Buah dada

: simetris, tidak ada massa, ASI (-)

Paru-paru (Pulmo)
Kanan
Inspeksi

Anterior

Kiri

BENTUK
-Pectus pectinatum,
-sela iga tidak melebar
-retraksi(-)
PERGERAKAN
-Statis : simetris
-Dinamis : simetri
KULIT
-warna : kuning langsat
PERNAPASAN
-Frekuensi : 20x/menit
4

Posterior

-Sifat : Abdominotorakal
BENTUK
-Vertebra: Normal
KULIT

Palpasi

Anterior

-Tidak ada lesi patologis


-Tidak ada nyeri tekan
-Sela iga paru tidak melebar
PERGERAKAN
-Statis : simetris
-Dinamis : simetri

Posterior

FREMITUS : simetris
-tidak nyeri tekan
-Gerak torax
Paru kanan tertinggal dari kiri

Perkusi

Anterior
Posterior
Auskultasi Anterior
Posterior

FREMITUS : simetris
Sela iga 1-6 sonor
Linea skapularis : Sonor
Vesikuler, Rhonki (-), Whezing (-)
Vesikuler, Rhonki (-), Whezing (-)

Sela iga 1-6 sonor


Linea skapularis : Sonor
Vesikuler, Rhonki (-), Whezing (-)
Vesikuler, Rhonki (-), Whezing (-)

Jantung (Cor)
Inspeksi

: ictus cordis tidak tampak

Palpasi

: ictus cordis teraba pada sela iga V, 2 cm medial dari linea midclavicularis

sinistra
Perkusi

: Batas atas
Batas kiri

: Pada sela iga II garis parasternal kiri


: Pada sela iga V, 2 cm medial dari garis midclavicularis kiri

Batas kanan : Pada sela iga V, pada garis parasternal kiri.


Auskultasi

: Bunyi jantung I-II reguler, tidak terdengar murmur dan gallop pada ke 4
katup jantung

Perut (Abdomen)
Inspeksi
Bentuk

: datar, simetris

lesi luka post operasi (-)


Palpasi
5

Nyeri tekan ( + ), massa ( - ), defans musculer lokalis di regio hipogastrik, inguinal D/S
(+)
Hati

: tidak dapat dinilai

Limpa

: tidak dapat dinilai

Ginjal

: ballotement ( - ), CVA (-)

Perkusi

: Timpani

Auskultasi

: Bising usus normal

Anggota gerak : Edema -/-, sianosis -/-, clubbing finger -/Kelenjar getah bening
Submandibula

: tidak ditemukan pembesaran

Supraklavikula

: tidak ditemukan pembesaran

Lipat paha

: tidak ditemukan pembesaran

Leher

: tidak ditemukan pembesaran

Ketiak

: tidak ditemukan pembesaran

Aspek kejiwaan
Tingkah laku

: tenang

Alam perasaan

: biasa

Proses pikir

: wajar

I. Pemeriksaan Ginekologi
Pemeriksaan Luar
Inspeksi
Wajah

: Chloasma gravidarum (-)

Payudara : pembesaran payudara (-), puting susu menonjol, cairan dari mammae (-)
Abdomen : TFU = tidak teraba
Linea nigra (-), strie livide (-), strie albicans (-), bekas operasi (-)
Vulva
Palpasi

: Cadwick (-), bekas jahitan (-), PPV (-)


: tidak teraba pembesaran uterus
Terdapat nyeri tekan pada regio hipogastrik dan inguinal D/S (+)

Pemeriksaan Dalam
6

Vaginal Toucher
Fluxus (-), Fluor (-)
v/u/v = tak ada kelainan
portio sesuai jempol tangan, lunak, nyeri tekan (+)
OUE tertutup, tidak teraba jaringan
Corpus Uteri sebesar telur ayam
Adnexa : teraba massa pada parametrium kanan
Cavum douglasi : menonjol

B. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan Laboratorium
o 30 Juni 2014
Darah rutin
Hemoglobin

8.2 g/dL L

(N: 11,7 15,5)

Leukosit

10.040

(N: 3.600 11.000)

Eosinofil%

1.9 %

(N: 1-3)

Basofil%

0,2 %

(N: 0-1)

Neutrofil%

74.8 % H

(N: 50-70)

Limfosit%

14.9 % L

(N: 25-40)

Monosit%

8.2 H

(N: 2-8)

MCV

88.5 mikro m3

(N: 80-100)

MCH

30.4 pg

(N: 26-34)

MCHC

34.3 g/dL

(N: 32-36)

Hematokrit

23.9 % L

(N: 30-43)

Trombosit

263.000

(N: 150.000-440.000)

Eritrosit

2.70 juta L

(N: 3,8 5,2)


7

RDW

13.0 %

(N: 11,5 - 14,5)

PDW

8.5 %

(N: 10-18)

MPV

9.0 mikro m3

(N: 6,8 10)

Golongan darah

B/+

Waktu perdarahan/BT 1.30 menit

(N: 1 3)

Waktu pembekuan/CT 4.30 menit

(N: 2 6)

URINE
Plano Test

Positif

Pemeriksaan USG (30 Juni2014)

Tak tampak gambaran bendungan pada kedua ginjal

Gambaran cystitis

Gambaran lesi hipoekoik inhomogen di regio abdomen bawah pelvis disertai


penebalan lumen appendiks serta fluid collection di regio Mcburney s/d kavum
douglass kemungkinan pelvic inflamatory disease dengan perluasan sampai ke
abdomen kanan bawah

C. RINGKASAN (RESUME)
Pasien wanita, G0P0A0 berumur 34 tahun, datang dengan keluhan nyeri perut 5 hari
SMRS. Nyeri yang dirasakan semakin lama semakin bertambah. Nyeri hilang timbul.
Nyeri semakin dirasakan saat bergerak sedikit saja. OS merasa pandangannya kabur dan
gelap serta pusing tetapi tidak sampai pingsan. Riwayat infeksi kandungan pada 1 tahun
yang lalu.
Pemeriksaan FISIK
KU : Sakit sedang
Tekanan darah : 110/70
Nadi : 84x/menit
RR
: 20x/menit
Suhu : 36,8oC
Abdomen : membesar, BU (+), nyeri tekan regio hipogastrik, inguinal dextra sinistra (+)
defans musculer lokalis di regio hipogastrik, inguinal D/S (+),
TFU = tidak teraba
PPV : Leukorae (-)
Pemeriksaan Dalam
VT : flx (-), fl (-)
v/u/v = t.a.k
por ~ jempol tangan, lembut lunak, nyeri tekan (+)
OUE tertutup, tidak teraba jaringan
CUT ~ telur ayam
8

AP : teraba massa pada parametrium kanan


c.d = menonjol
Pemeriksaan Penunjang
Hematologi:
Hemoglobin

10.5 g/dL L

(N: 11,7 15,5)

Neutrofil%

74.8 % H

(N: 50-70)

Limfosit%

14.9 % L

(N: 25-40)

Monosit%

8.2 H

(N: 2-8)

Hematokrit

23.9 % L

(N: 30-43)

Eritrosit

2.70 juta L

(N: 3,8 5,2)

Plano Test

Positif

USG
KESAN:

Tak tampak gambaran bendungan pada kedua ginjal

Gambaran cystitis

Gambaran lesi hipoekoik inhomogen di regio abdomen bawah pelvis disertai


penebalan lumen appendiks serta fluid collection di regio Mcburney s/d kavum
douglass kemungkinan pelvic inflamatory disease dengan perluasan sampai ke
abdomen kanan bawah

DIAGNOSIS
Diagnosis kerja dan dasar diagnosis
Diagnosis kerja

G0P0A0, umur 34 tahun, nyeri tekan regio hipogastrik, defans muscular (+)
Dengan Kehamilan Ektopik Terganggu (KET)
a. Dasar diagnosis

Hb dan Ht rendah
Nyeri perut bawah, nyeri tekan hipogastrik D&S (+)
Defans muscular (+)
Riwayat infeksi kandungan (+)
Penglihatan kabur, mata terasa gelap, pusing
b. Diagnosis diferensial dan dasar diagnosis diferensial
Diagnosis diferensial :
9

1. Abortus iminens
2. Appendicitis
c. Pemeriksaan yang dianjurkan
1. Pemeriksaan EKG dan foto thorax untuk persiapan operasi
2. Pemeriksan Laboratorium CT/BT untuk persiaan operasi
3. Pemeriksaan urin dan Hb post operasi.

D. PENATALAKSANAAN
Medika Mentosa:

IVFD D5%/ RL 20 tetes permenit

Kaltrofen sup 2 x 1

Cefotaxime 2 x 1 gr

Non Medica Mentosa :


Bed rest
Observasi TTV setiap 6 jam
Melakukan tindakan operasi laparotomi
E. Prognosis :
Vitam

: ad bonam

Fungsionam

: ad bonam

Sanationam

: ad bonam

Tanggal 31 Juni 2013, Jam 22.15 WIB


Dilakukan operasi Salpingotomi kanan
Laporan Operasi :
-

Insisi linea mediana diperdalam sampai peritoneum terbuka

Tampak cairan darah merah kehitaman di rongga peritoneum dektra, kemudian di


bersihkan dan di angkat

Uterus tampak bentuk dan besar dalam batas normal

Terdapat pembesaran tuba pars fimbriae sebesar telur bebek

Dilakukan tindakan Salpingektomi kanan atas indikasi KET tuba pars fimbriae
10

Rawat perdarahan 500cc

Jahit abdomen lapis demi lapis

Tindakan selesai

Pengobatan post Operasi Laparatomi :

Tramadol 2 x 1

Cefotaxim 2 x 1 amp iv

Alinamin ( Vit B1 dan B2) 2 x 1 amp IV

Vitamin C 1 x 1

Infus D5/RL/NaCl 30 tpm

Tranfusi darah 2 kantong WB

Cek Hb !

Asam Tranexamat 2 x 1

FOLLOW UP
Tanggal 01 Agustus 2014, Jam 07.00 WIB
S : Nyeri perut di bekas operasi. Pusing (-), mual/muntah (-), kentut (-)
O : Keadaan umum

: Baik

Kesadaran

: Compos mentis

Tekanan darah

: 110/70 mmHg

Nadi

: 110 x/menit

Frekuensi nafas

: 20 x/menit

Suhu

: 36,8 C

Mata

: CA +/+, SI -/-

Thorax

: Vesikuler, Rh -/-, Wh -/BJ I/II reguler, murmur (-), gallop (-)

Abdomen

: datar, nyeri tekan (-), bekas luka (+) tertutup kassa, Rembesan (-)
TFU : tidak teraba

PPV

:-

Leukorae

:-

Extremitas

: edem (-/-) sianosis (-)

A : P0A0 Umur 34 tahun

11

Post Laparotomi (Salpingektomi dextra) atas indikasi Kehamilan Ektopik Terganggu


(KET) hari ke 1
P : Lanjutkan terapi dan Cek Hb !

Tanggal 02 Agustus 2014, Jam 07.15 WIB


S : Nyeri perut di bekas operasi, pusing
O : Keadaan umum

: Baik

Kesadaran

: Compos mentis

Tekanan darah

: 110/60 mmHg

Nadi

: 84 x/menit

Frekuensi nafas

: 20 x/menit

Suhu

: 37 C

Mata

: CA +/+, SI -/-

Thorax

: Vesikuler, Rh -/-, Wh -/BJ I/II reguler, murmur (-), gallop (-)

Abdomen

: datar, nyeri tekan (-), bekas luka (+) tertutup kassa, rembesan (-)
TFU : tidak teraba

PPV

:-

Leukorae

:-

Extremitas

: edem (-/-) sianosis (-)

A : P0A0 Umur 34 tahun,


Post Salpingektomi dextra atas indikasi Kehamilan Ektopik Terganggu (KET) hari ke 2
P : Lanjutkan terapi + Transfusi darah
Hasil Lab ( 01 Agustus 2014 )
Hemoglobin 7.9 g/dL
12

Tanggal 03 Agustus 2014, Pasien pulang

Tinjauan Pustaka
Kehamilan Ektopik Terganggu
A. Definisi
Kehamilan ektopik adalah kehamilan di mana sel telur yang dibuahi berimplantasi dan
tumbuh di luar endometrium kavum uterus. Kehamilan ektopik dapat terjadi di luar rahim
misalnya dalam tuba, ovarium atau rongga perut, tetapi dapat juga terjadi di dalam rahim di
tempat yang luar biasa misalnya dalam cervik, pars intertistialis atau dalam tanduk rudimeter
rahim.
Kehamilan ektopik merupakan kehamilan yang berbahaya karena tempat implantasinya tidak
memberikan kesempatan untuk tumbuh kembang mencapai aterm. Kehamilan ektopik
terganggu (KET) adalah keadaan di mana timbul gangguan pada kehamilan tersebut sehingga
terjadi abortus maupun ruptur yang menyebabkan penurunan keadaan umum pasien.

Gambar 1. Macam-macam KET

13

B. Klasifikasi KET

1. Kehamilan tuba adalah kehamilan ektopik pada setiap bagian dari tuba fallopi.
Sebagian besar kehamilan ektopik berlokasi di tuba (95%). Konseptus dapat
berimplantasi pada ampulla (55%), isthmus (25%), fimbrial (17%), atau pun pada
interstisial (2%) dari tuba. Tuba fallopi mempunyai kemampuan untuk berkembang
yang terbatas, sehingga sebagian besar akan pecah (ruptura) pada umur kehamilan
35-40 hari.
2. Kehamilan ovarial merupakan bentuk yang jarang (0,5%) dari seluruh kehamilan
ektopik dimana sel telur yang dibuahi bernidasi di ovarium. Meskipun daya
akomodasi ovarium terhadap kehamilan lebih besar daripada daya akomodasi tuba,
kehamilan ovarium umumnya mengalami ruptur pada tahap awal. Kriteria diagnosis
termasuk tuba ipsilateral utuh, jelas terpisah dari ovarium, kantong gestasi berada di
ovarium, kantong kehamilan berhubungan dengan uterus melalui ligamentum
ovarium, jaringan ovarium di dinding kantong gestasi.
14

3. Kehamilan servikal adalah bentuk dari kehamilan ektopik yang jarang sekali terjadi.
Nidasi terjadi dalam selaput lendir serviks. Dengan tumbuhnya telur, serviks
mengembang. Kehamilan serviks jarang melewati usia gestasi 20 minggu sehingga
umumnya hasil konsepsi masih kecil dan dievakuasi dengan kuretase. Gejala yang
umum ditemukan adalah perdarahan pervaginam tanpa disertai nyeri. Pada umumnya
serviks membesar, hiperemis atau sianosis. Seringkali diagnosis ditegakkan hanya
secara kebetulan saat melakukan pemeriksaan USG rutin atau saat kuret karena
dugaan abortus inkomplit. Diagnosis awal ditegakkan dengan observasi kantong
kehamilan di sekitar serviks saat melakukan pemeriksaan USG. Bila kondisi
hemodinamik

stabil,

penanganan

koservatif

untuk

mempertahankan

uterus

merupakan pilihan. Pemberian metroteksat dengan cara lokal dan atau sistemik
menunjukkan keberhasilan sekitar 80%. Histerektomi dianjurkan jika kehamilan
telah memasuki trimester kedua akhir ataupun ketiga.
4. Kehamilan abdominal. Kehamilan ini terjadi satu dalam 15.000 kehamilan, atau
kurang dari 0,1% dari seluruh kehamilan ektopik. Kehamilan Abdominal ada 2
macam :
-

Primer , dimana telur dari awal mengadakan implantasi dalam rongga perut.

Sekunder, yaitu pembentukan zigot terjadi ditempat yang lain misalnya di dalam
saluran telur atau ovarium yang selanjutnya berpindah ke dalam rongga abdomen
oleh karena terlepas dari tempat asalnya. Hampir semua kasus kehamilan
abdominal merupakan kehamilan ektopik sekunder akibat rupture atau aborsi
kehamilan tuba atau ovarium ke dalam rongga abdomen.

Walaupun ada kalanya kehamilan abdominal mencapai umur cukup bulan, hal ini
jarang terjadi, yang lazim ialah bahwa janin mati sebelum tercapai maturitas (bulan
ke 5 atau ke 6) karena pengambilan makanan kurang sempurna.
5. Kehamilan Heterotopik, adalah kehamilan ektopik yang dapat terjadi bersama dengan
kehamilan intrauterin. Kehamilan heterotipik ini sangat langka, terjadi satu dalam
17.000-30.000 kehamilan ektopik. Kehamilan heterotopik dapat di bedakan atas :
-

Kehamilan kombinasi (Combined Ectopik Pregnancy) yaitu kehamilan yang dapat


berlangsung dalam waktu yang sama dengan kehamilan intrautrin normal.
15

Kehamilan ektopik rangkap (Compound Ectopic Pregnancy) yaitu terjadinya


kehamilan intrauterin setelah lebih dahulu terjadi kehmilan ektopik yang telah
mati atau pun ruptur dan kehmilan intrauterin yang terjadi kemudian berkembang
seperti biasa.

6. Kehamilan interstisial yaitu implantasi telur terjadi dalam pars interstitialis tuba.
Kehamilan ini juga disebut sebagai kehamilan kornual (kahamilan intrauteri, tetapi
implantasi plasentanya di daerah kornu, yang kaya akan pembuluh darah). Karena
lapisan myometrium di sini lebih tebal maka ruptur terjadi lebih lambat kira-kira
pada bulan ke 3 atau ke 4. Kehamilan interstisial merupakan penyebab kematian
utama dari kehamilan ektopik yang pecah.
7. Kehamilan intraligamenter. Kehamilan intraligamenter berasal dari kehamilan
ektopik dalam tuba yang pecah. Konseptus yang terjatuh ke dalam ruangan ekstra
peritoneal ini apabila lapisan korionnya melekat dengan baik dan memperoleh
vaskularisasi di situ fetusnya dapat hidup dan berkembang dan tumbuh membesar.
Dengan demikian proses kehamilan ini serupa dengan kehamilan abdominal
sekunder karena keduanya berasal dari kehamilan ektopik dalam tuba yang pecah.
8. Kehamilan tubouteina merupakan kehamilan yang semula mengadakan implantasi
pada tuba pars interstitialis, kemudian mengadakan ekstensi secara perlahan-lahan ke
dalam kavum uteri.
9. Kehamilan tuboabdominal berasal dari tuba, dimana zigot yang semula megadakan
implantasi di sekitar bagian fimbriae tuba, secara berangsur mengadakan ekstensi ke
kavum peritoneal.
10. Kehamilan tuboovarial digunakan bila kantung janin sebagian melekat pada tuba dan
sebagian pada jaringan ovarium.
C. Epidemiologi
Telah terjadi peningkatan nyata jumlah absolut dan angka kematian ektopik di
Amerika Serikat selama dua dekade belakangan. Jumlah sebenarnya telah meningkat
melampaui proporsi pertumbuhan penduduk. 1
16

Insiden kehamilan ektopik pada wanita bukan kulit putih lebih tinggi pada setiap
kategori usia dibanding pada wanita kulit putih, dan perbedaan ini meningkat sejalan
dengan pertambahan usia. Secara keseluruhan, pada tahun 1989 seorang wanita bukan
kulit putih memiliki peningkatan resiko kehamilan ektopik sebesar 1,4 kali dibanding
dengan seorang wanita kulit putih. Gabungan faktor ras dan peningkatan usia sekurangkurangnya merupakan faktor tambahan. Sebagai contoh, wanita bukan kulit putih berusia
35 sampai 44 tahun lima kali lebih mungkin mengalami kehamilan ektopik daripada
wanita kulit putih berusia 15 sampai 24 tahun.1
Angka kehamilan ektopik per 1000 kehamilan yang dilaporkan meningkat empat
kali lipat dari tahun 1970 sampai 1992. Peningkatan ini lebih besar pada wanita bukan
kulit putih dibanding pada wanita kulit hitam dan untuk keduanya, insiden meningkat
seiring dengan pertambahan usia. Dengan kata lain, pada tahun 1992 hampir 2 persen
dari seluruh kehamilan adalah kehamilan ektopik. Yang penting, kehamilan ektopik
bertanggung jawab terhadap 10 persen dari semua kematian yang disebabkan oleh
kehamilan.1
Peningkatan angka KET adalah disebabkan oleh :
1. Meningkatnya prevalensi infeksi tuba akibat penularan seksual
2. Diagnosis lebih dini dengan pemeriksaan gonadotropin korionik yang sensitif dan
ultrasonografi transvaginal pada beberapa kasus terjadi resorpsi sebelum dilakukan
diagnosis pada masa lalu.
3. Popularitas kontrasepsi yang mencegah kehamilan intrauterine tetapi tidak untuk
kehamilan ekstrauterine.
4. Sterilisasi tuba yang gagal
5. Induksi aborsi yang diikuti dengan infeksi
6. Meningkatnya penggunaan teknik reproduksi dengan bantuan.
7. Bedah tuba, termasuk riwayat salpingotomi serta tuboplasti untuk kehamilan tuba
D. Etiologi
Sebagian besar penyebab kehamilan ektopik tidak diketahui. Tiap kehamilan
dimulai dengan pembuahan telur di bagian ampula tuba, dan dalam perjalanan ke uterus
telur mengalami hambatan sehingga pada saat nidasi masih di tuba, atau nidasinya di
tuba dipermudah. 1-6 Faktor faktor yang memegang peranan dalam hal ini ialah sebagai
berikut :
1.

Faktor dalam lumen tuba 2-3 :


17

endosalpingitis dapat menyebabkan perlengketan endosalping, sehingga lumen


tuba menyempit atau membentuk kantong buntu
pada hipoplasia uteri lumen tuba sempit dan berlekuk lekuk dan hal ini
sering disertai gangguan fungsi silia endosalping
operasi plastik tuba dan sterilisasi yang tak sempurna dapat menjadi sebab
lumen tuba menyempit
2.

Faktor pada dinding tuba 2-3 :


endometriosis tuba dapat memudahkan implantasi telur yang dibuahi dalam
tuba
divertikel tuba kongenital atau ostium assesorius tubae dapat menahan telur
yang dibuahi di tempat itu

3.

Faktor di luar dinding tuba 2-3


perlekatan peritubal dengan distorsi atau lekukan tuba dapat menghambat
perjalanan telur
tumor yang menekan dinding tuba dapat menyempitkan lumen tuba

4.

Faktor lain 2-3 :


migrasi luar ovum, yaitu perjalanan dari ovarium kanan ke tuba kiri atau
sebaliknya dapat memperpanjang perjalanan telur yang dibuahi ke uterus ;
pertumbuhan telur yang terlalu cepat dapat menyebabkan implantasi prematur
fertilisasi in vitro

Bedasarkan tingkat resikonya, faktor resiko KET dapat dibagi menjadi 2-3 :
Resiko tinggi
o Rekonstruksi tuba
o Sterilisasi tuba
o Riwayat kehamilan ektopik sebelumnya
o Paparan Dietilstilbestrol (DES) intrauterine
o Alat kehamilan dalam rahim (AKDR)
o Patologi tuba
Resiko sedang
o Infertil
o Riwayat Infeksi genital
o Sering berganti pasangan
Resiko ringan
18

o Riwayat operasi pelvik atau abdominal sebelumnya


o Merokok
o Douching
o Koitus sebelum umur 18 tahun
E. Patofisiologi KET
Beberapa hal dibawah ini ada hubungannya dengan terjadinya kehamilan ektopik:
1. Pengaruh faktor mekanik. Faktor-faktor mekanis yang menyebabkan kehamilan
ektopik antara lain: riwayat operasi tuba, salpingitis, perlekatan tuba akibat operasi
non-ginekologis seperti apendektomi, pajanan terhadap diethylstilbestrol, salpingitis
isthmica nodosum (penonjolan-penonjolan kecil ke dalam lumen tuba yang
menyerupai divertikula), dan alat kontrasepsi dalam rahim (AKDR). Hal-hal tersebut
secara umum menyebabkan perlengketan intra- maupun ekstraluminal pada tuba,
sehingga menghambat perjalanan zigot menuju kavum uteri. Faktor mekanik lain
adalah pernah menderita kehamilan ektopik, pernah mengalami operasi pada saluran
telur seperti rekanalisasi atau tubektomi parsial, induksi abortus berulang, tumor yang
mengganggu keutuhan saluran telur.
2. Pengaruh faktor fungsional. Faktor fungsional yaitu perubahan motilitas tuba yang
berhubungan dengan faktor hormonal. Dalam hal ini gerakan peristalsis tuba menjadi
lamban, sehingga implantasi zigot terjadi sebelum zigot mencapai kavum uteri.
Gangguan motilitas tuba dapat disebabkan oleh perubahan keseimbangan kadar
estrogen dan progesteron serum. Dalam hal ini terjadi perubahan jumlah dan afinitas
reseptor adrenergik yang terdapat dalam utrus dan otot polos dari saluran telur. Ini
berlaku untuk kehamilan ektopik yang terjadi pada akseptor kontrasepsi oral yang
mengandung hanya progestagen saja, setelah memakai estrogen dosis tinggi
pascaovulasi untuk mencegah kehamilan. Merokok pada waktu terjadi konsepsi
dilaporkan meningkatkan insiden kehamilan ektopik yang diperkirakan sebagai
akibat perubahan jumlah dan afinitas reseptor adrenergik dalam tuba.
3. Kegagalan kontrasepsi. Sebenarnya insiden sesungguhnya kehamilan ektopik
berkurang karena kontrasepsi sendiri mengurangi insidensi kehamilan. Akan tetapi
dikalangan para akseptor bisa terjadi kenaikan insiden kehamilan ektopik apabila
19

terjadi kegagalan pada teknik sterilisasi. Alat kontrasepsi dalam rahim selama ini
dianggap sebagai penyebab kehamilan ektopik. Namun ternyata hanya AKDR yang
mengandung progesteron yang meningkatkan frekuensi kehamilan ektopik. AKDR
tanpa progesteron tidak meningkatkan risiko kehamilan ektopik, tetapi bila terjadi
kehamilan pada wanita yang menggunakan AKDR, besar kemungkinan kehamilan
tersebut adalah kehamilan ektopik.
4. Peningkatan afinitas mukosa tuba. Dalam hal ini terdapat elemen endometrium
ektopik yang berdaya meningkatkan implantasi pada tuba.
5. Pengaruh proses bayi tabung. Beberapa kejadian kehamilan ektopik dilaporkan
terjadi pada proses kehamilan yang terjadi dengan bantuan teknik-teknik reproduksi
(assisted reproduction). Kehamilan tuba dilaporkan terjadi pada GIFT (gamete
intrafallopian transfer), IVF (in vitro fertilization), ovum transfer, dan induksi
ovulasi. Induksi ovulasi dengan human pituitary hormone dan hCG dapat
menyebabkan kehamilan ektopik bila pada waktu ovulasi terjadi peningkatan
pengeluaran estrogen urin melebihi 200 mg sehari.
F. Patologi pada kehamilan tuba
1. Kehamilan Tuba
Fertilisasi dapat terjadi di bagian mana saja di tuba falopi, sekitar 55% terjadi
di ampula, 25% di ismus, 17% di fimbria. Oleh karena lapisan submukosa di tuba
falopii tipis, memungkinkan ovum yang telah dibuahi dapat segera menembus sampai
ke epitel, zigot akan segera tertanam di lapisan muskuler. Trofoblas berproliferasi
dengan cepat dan menginvasi daerah sekitarnya. Secara bersamaan, pembuluh darah
ibu terbuka menyebabkan terjadi perdarahan di ruang antara trofoblas, atau antara
trofoblas dan jaringan di bawahnya. Dinding tuba yang menjadi tempat implantasi
zigot mempunyai ketahanan yang rendah terhadap invasi trofoblas. Embrio atau janin
pada kehamilan ektopik seringkali tidak ditemukan atau tidak berkembang.1-6

20

Pada yang pertama telur berimplantasi pada sisi atau ujung jonjot endosalping.
Perkembangan telur selanjutnya dibatasi oleh kurangnya vaskularisasi dan biasanya
telur mati secara dini kemudian diresorbsi. Pada nidasi secara interkolumner telur
bernidasi antara 2 jonjot endosalping. Setelah tempat nidasi tertutup, maka telur
dipisahkan dari lumen tuba oleh lapisan jaringan yang menyerupai desidua dan
dinamakan pseudokapsularis. Karena pembentukan desidua di tuba tidak sempurna
malahan kadang

- kadang tidak tampak, dengan mudah vili korialis menembus

endosalping dan masuk ke dalam lapisan otot otot tuba dengan merusak jaringan
dan pembuluh darah. Perkembangan janin selanjutnya bergantung pada beberapa
faktor, seperti tempat implantasi, tebalnya dinding tuba, dan banyaknya perdarahan
yang terjadi oleh invasi trofoblas. 1-6
Di bawah pengaruh hormon estrogen dan progesteron dari korpus luteum
graviditatis dan trofoblas, uterus menjadi besar dan lembek ; endometrium dapat
berubah pula menjadi desidua. Dapat ditemukan pula perubahan perubahan pada
endometrium yang disebut fenomena Arias Stella. Sel epitel membesar dengan
intinya hipertrofik, hiperkromatik, lobuler dan berbentuk tak teratur. Sitoplasma sel
dapat berlubang lubang atau berbusa, dan kadang kadang ditemukan mitosis.
Perubahan tersebut hanya ditemukan pada sebagian kehamilan ektopik. 1-6

2. Abortus Tuba
21

Terjadinya abortus tuba bergantung pada lokasi implantasi. Umumnya terjadi


bila implantasi di ampulla, sebaliknya ruptur tuba terutama bila implantasi di daerah
ismus. Adanya perdarahan menyebabkan plasenta dan membran terlepas dari dinding
tuba. Jika plasenta terlepas seluruhnya, semua produk konsepsi dapat keluar melalui
fimbria ke rongga abdomen. Saat itu perdarahan dapat berhenti dan gejala umumnya
menghilang. Perdarahan akan tetap terjadi selama produk konsepsi tetap berada di
tuba. Darah akan menetes sedikit-sedikit melalui tuba dan berkumpul di kavum
Douglasi. Jika fimbria mengalami oklusi, darah akan terkumpul di tuba membentuk
hidrosalfing. 1-6
3. Ruptur Tuba
Produk konsepsi yang melakukan invasi dapat menyebabkan tuba pecah pada
beberapa tempat. Jika tuba ruptur pada minggu-minggu pertama kehamilan, biasanya
implantasi terjadi di ismus, jika implantasi terjadi di pars intertitial, ruptur terjadi agak
lebih lambat. Ruptur umumnya terjadi spontan, tetapi dapat pula disebabkan oleh
trauma akibat koitus dan pemeriksaan bimanual. 1-6
Saat ruptur semua hasil konsepsi keluar dari tuba, atau jika robekan tuba kecil,
perdarahan hebat dapat terjadi tanpa disertai keluarnya hasil konsepsi dari tuba. Jika
hasil konsepsi keluar ke rongga abdomen pada awal kehamilan, implantasi dapat
terjadi di daerah mana saja rongga abdomen, asal terdapat sirkulasi darah yang cukup
sehingga dapat bertahan dan berkembang. Namun hal tersebut jarang terjadi. Sebagian
besar hasil konsepsi berukuran besar dapat tertahan di kavum Douglasi membentuk
massa yang berkapsul atau mengalami kalsifikasi membentuk lithopedon. 1-6

22

G. Gejala klinik dan Pemeriksaan


ANAMNESIS
Amenorea
Amenore yaitu haid terlambat mulai beberapa hari sampai beberapa bulan
atau hanya haid yang tidak teratur. Kadang kadang dijumpai keluhan hamil muda
dan gejala hamil lainnya. Sekitar seperempat wanita tidak melaporkan amenore,
mereka menyalahkan perdarahan uterus yang sering terjadi pada kehamilan tuba
sebagai menstruasi yang sebenarnya. Ketika dukungan endokrin untuk endometrium
menurun, perdarahan biasanya sedikit, bewarna coklat tua, dan dapat intermiten atau
kontinu. Meskipun perdarahan per vaginam yang banyak lebih sugestif untuk
abortus inkomplet daripada kehamilan ektopik, perdarahan semacam itu kadang kala
ditemukan pada kehamilan tuba. 1-6
Nyeri Tekan Abdomen dan Pelvis 97%
Pada abortus tuba keluhan dan gejala kemungkinan tidak begitu berat, hanya
rasa sakit di perut dan perdarahan pervaginam. Hal ini dapat dikacaukan dengan
abortus biasa. Bila tejadi ruptur tuba, maka gejala akan lebih hebat dan dapat
membahayakan jiwa si ibu. Perasaan nyeri dan sakit yang tiba tiba di perut, seperti
diiris dengan pisau dan disertai muntah dan bisa jatuh pingsan. 1-6
23

Perdarahan pervaginam 79%


Tanda - tanda akut abdomen
Nyeri tekan yang hebat (defiance musculer), muntah, gelisah, pucat, anemis,
nadi kecil dan halus, tensi rendah atau tidak terukur (syok). 1-6
Nyeri bahu
Karena perangsangan subdiafragma karena adanya darah pada cavum
abdominale.1-6
PEMERIKSAAN FISIK
1. Pada pemeriksaan fisik
Tekanan darah dan Denyut Nadi
Sebelum ruptur, tanda-tanda vital umumnya normal. Respon dini terhadap
perdarahan sedang dapat berkisar dari tanpa perubahan tanda vital hingga
sedikit peningkatan tekanan darah, atau respon vasovagal disertai bradikardia
dan hipotensi. Tekanan darah akan turun dan denyut nadi meningkat hanya
jika perdarahan berlanjut dan hipovolemianya menjadi nyata. 1-6
Suhu
Setelah perdarahan akut, suhu dapat normal atau bahkan rendah. Suhu dapat
mencapai 38oC, tetapi suhu yang lebih tinggi jarang bila tidak ada infeksi.
Demam penting untuk membedakan kehamilan tuba yang mengalami ruptur
dengan beberapa kasus salpingitis akut. 1-6
Palpasi dan Perkusi abdomen
Ada tanda tanda perdarahan intra abdominal (shifting dullness). 1-6
2. Pemeriksaan ginekologik (periksa dalam) terdapat :
Adanya nyeri goyang porsio : dengan menggerakkan porsio dan serviks ibu
akan merasa sakit yang sangat.1-6
Douglas crise : rasa nyeri hebat pada penekanan cavum douglasi.1-6
Kavum Douglasi teraba menonjol karena terkumpulnya darah, begitu pula
teraba masa retrouterin (masa pevis).1-6
Massa Pelvis
Massa pelvis dapat diraba pada sekitar 20% wanita. Ukuranya berkisar antara
5 sampai 15 cm, dan massa seperti ini sering kali lunak dan elastis. Bila
infiltrasi darah ke dalam dinding tuba luas, massanya mungkin keras. Massa
ini hampir selalu terletak di posterior atau lateral dari uterus. Nyeri dan nyeri
tekan sering menghalangi identifikasi massa tersebut melalui palpasi. 1-6
24

Pervaginam keluar desidual cast


Kuldosentesis (Douglas pungsi)
Untuk mengetahui adakah darah dalam kavum Douglasi
Bila keluar darah tua berwarna coklat sampai hitam yang tidak membeku
atau hanya berupa bekuan bekuan kecil di atas kain kasa maka hal ini
dikatakan positif (fibrinasi) dan menunjukkan adanya hematoma
retrouterina
Bila darah segar berwarna merah dan dalam beberapa menit membeku ;
hasil negatif karena darah ini berasal dari arteri atau vena yang kena tusuk
PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Pemeriksaan lab
Hemoglobin, Hematokrit dan Hitung Leukosit
Setelah terjadi perdarahan, volume darah yang berkurang dipulihkan
menjadi normal dengan hemodilusi dalam waktu satu hari atau lebih. Oleh
karena itu, setelah perdarahan banyak sekalipun, pembacaan nilai
hemoglobin atau hemotokrit pada awalnya mungkin hanya menunjukkan
sedikit penurunan.
Untuk beberapa jam pertama setelah perdarahan akut, penurunan kadar
hemoglobin atau hematokrit saat wanita tersebut sedang diobservasi
merupakan petunjuk kekurangan darah observasi merupakan petunjuk
kekurangan darah yang lebih bermanfaat daripada pembacaan awal. 1-6
Derajat leukositosis sangat bervariasi pada kehamilan ektopik yang
mengalami ruptur. Pada sekitar setengah dari para wanita ini, leukosit
normal, tetapi sisanya dapat ditemukan leukosit dengan berbagai derajat
sampai 30.000/l. 1-6
Pemeriksaan Gonadotropin korionik
Kehamilan ektopik tidak dapat didiagnosis hanya dengan uji kehamilan
positif saja. Namun, masalah kuncinya adalah apakah wanita tersebut hamil
atau tidak. Hampir pada semua kasus kehamilan ektopik, gonadotropin
korionik manusia (hCG) dapat terdeteksi di dalam serum, tetapi biasanya
konsentrasinya jauh lebih kecil dibandingkan dengan kehamilan normal. 1-6
Tes Urin untuk kehamilan
25

Tes urin paling sering menggunakan tes slide inhibisi aglutinasi dengan
sensitivitas untuk gonadotropin korionik dalam kisaran 500 sampai 800
mlU/ml. Kesederhanaan tes ini diimbangi oleh kemungkinan untuk positif
pada kehamilan ektopik hanya 50 sampai 60 persen. Kalaupun digunakan
tes jenis tabung, deteksi gonadotropin korionik berkisar antara 150 sampai
250 mlU/ml, dan tes ini hanya positif pada 80 sampai 85 persen kehamilan
ektopik. Tes yang menggunakan ELISA (Enzyme-linked immunosorbent
assays) sensitif untuk kadar 10 sampai 50 mIU/ml, dan positif pada 95 %
kehamilan ektopik. 1-6
Pemeriksaan -hCG serum
Radioimmunoassay adalah metode yang paling tepat, dan hampir
semua kehamilan dapat terdeteksi. Bahkan, karena sensitivitas pemeriksaan
ini, suatu kehamilan dapat dipastikan sebelum terjadi perubahan yang dapat
terlihat pada tuba Fallopii. Tidak adanya kehamilan dapat ditegakkan hanya
jika terdapat hasil negatif pada pemeriksaan gonadotropin serum yang
mempunyai sensitivitas 5 sampai 10 mIU/ml.1-6
Karena pemeriksaan serum tunggal yang positif tidak menyingkirkan
kehamilan ektopik, beberapa metode yang berbeda telah dirancang untuk
menggunakan nilai serum kuantitatif serial dalam menegakkan diagosis.
Metode ini dapat digunakan tersendiri, tetapi lebih sering digunakan
bersamaan dengan sonografi. 1-6
Progesteron Serum
Pengukuran progesteron tunggal sering dapat digunakan untuk
memastikan bahwa terdapat kehamilan yang berkembang normal. Nilai di
atas 25ng/ml menyingkirkan kehamilan ektopik dengan sensitivitas 97,5%.
Nilai kurang dari 5ng/ml menunjukkan bahwa janin-embrio sudah mati,
tetapi tidak menunjukkan lokasinya. Kadar progesteron antara 5 sampai 25
ng/ml, sayangnya sering tidak konklusif. 1-6
Menurut DeCherney, 10 persen wanita yang mengalami kehamilan
normal mempunyai nilai progesteron serum kurang dari 25 ng/ml. Hahlin
melaporkan bahwa bahwa tidak ada wanita dengan kehamilan intrauterine
yang mempunyai kadar progesteron di bawah 10 ng/ml, sedangkan 88
persen diantara mereka yang hemil ektopik dan 83 persen yang mengalami
abortus spontan mempunyai nilai yang lebih rendah. 1-6
26

Pencitraan Ultrasonografi
-

Sonografi abdomen
Identifikasi produk kehamilan tuba falopii sulit dilakukan dengan
menggunakan sonografi abdomen. Jika kantong gestasi teridentifikasi
dengan jelas di dalam rongga uterus, kecil kemungkinan adanya
kehamilan ektopik yang terjadi bersamaan. Lebih lanjut, bila tidak
ditemukan kehamilan uterus dengan sonografi, hasil tes kehamilan
yang positif, adanya kehamilan ektopik hampir dapat dipastikan.
Sayangnya,

temuan-temuan ultrasonografi yang sugestif untuk

kehamilan uteri dini dapat tampak pada beberapa kasus kehamilan


ektopik. 2-7

Gambaran ultrasonografi sebuah kantong kecil atau kantong yang


kolaps sebenarnya mungkin adalah bekuan darah atau massa desidua.
Kehamilan uterus biasanya belum terlihat dengan menggunakan
ultrasonografi abdomen sampai 5 sampai 6 minggu setelah haid
berakhir atau 28 hari setelah saat ovulasi. Sebaliknya, terlihatnya massa
di adnexa atau cul-de-sac dengan sonografi tidak begitu membantu.
Kista korpus luteum dan usus yang kusut kadangkala terlihat seperti
kehamilan tuba secara sonografi yang jelas-jelas berada di luar uterus
adalah bukti yang kuat akan adanya kehamilan ektopik. 2-7
-

Sonografi vagina
Sonografi dengan transduser di vagina dapat digunakan untuk
mendeteksi kehamilan uteri sejak 1 minggu setelah terlambat
menstruasi bila -hCG serum lebih dari 1500mIU/ml. Dalam penelitian
27

oleh Banhard, uterus yang kosong dengan konsentrasi -hCG serum


1500mIU/ml atau lebih, 100 persen akurat untuk mengidentifikasi
kehamilan ektopik. 2-7
Sonografi vagina juga digunakan untuk mendeteksi massa
adnexa. Namun, cara ini dapat menyesatkan dan kehamilan ektopik
dapat terlewatkan kalau massa tubanya kecil atau tertutup oleh usus.
/sensitivitas dan spesifisitas ultrasonografi vagina untuk kehamilan
ektopikmasing-masing adalah 96 dan 99 persen, jika teridentifikasi
cairan bebas di peritoneum. Dengan terlihatnya massa tuba,
sensitivitasnya 81 persen dan spesifisitasnya 99 persen. 2-7

Sonografi vagina menghasilkan diagnosis kehamilan uterus yang


lebih dini dan lebih spesifik. Bila kadar -hCG serum 1000 mIU/ml, 50
persen kantong gestasi dapat ditemukan. Kriterianya antara lain adalah
identifikasi kantong gestasi berukuran 1 sampai 3 mm ataulebih besar,
terletak eksentrik di uterus dan dikelilingi oleh reaksi desidua-korion.
Kutub janin di dalam kantong bersifat diagnostik, terutama bila disertai
dengan kerja jantung janin. 2-7
Sonografi vagina, dapat digunakan secara tersendiri

untuk

mendiagnosis kehamilan ektopik pada lebih dari 90 persen kasus.


Diagnosis klinis yang akurat didasarkan pada dua kemungkinan :
o Diagnosis klinis yang akurat didasarkan pada dua kemungkinan :

Kehamilan uteri teridentifikasi seperti yang telah diuraikan

Uterus kosong dan kehamilan ektopik terlihat bedasarkan dari


dua ovarium yang teridentifikasi secara jelas
Massa tersebut harus kompleks atau mengandung cincin adnexa
yang menyerupai kantong gestasi dengan atau tanpa kutub janin
(bayangan janian atau yolk sac). 2-7
28

Tanpa kriteria tersebut, pemeriksaan tersebut mungkin tidak


bersifat diagnostik. Kehamilan heterotipik merupakan pengecualian.
Bila pemeriksaan tidak bersifat diagnostik, sebagian besar klinisi lebih
menyukai sonografi serial bersama dengan pengukuran -hCG serial
karena perubahan konsentrasi penting artinya. 2-7
-

Ultrasonografi Doopler bewarna dan berdenyut pada vagina


Teknik ini terdiri dari identifikasi lokasi warna vaskular di uterus
atau ekstrauterus dengan bentuk plasenta yang khas, yang disebut pola
cincin-api, dan pola aliran impedansi rendah berkecepatan tinggi yang
menggambarkan perfusi plasenta. Bila pola ini ditemukan di luar
rongga uterus, yang juga dianggap dingin dalam hal aliran darahnya,
diagnosis kehamilan sudah jelas. 2-7
Teknik ini secara signifikan memperbaiki diagnosis kehamilan
uteri hidup serta kehamilan ektopik atau abortus inkompletus yang
benar. Teknik ini telah berhasil digunakan untuk mendiagnosis
kehamilan serviks untuk memonitor regresinya setelah pemberian
terapi metrotreksat. 2-7

H. Diagnosis
Dalam hal ini pemeriksaan prenatal dini dalam trimester pertama sangat penting bagi
pasien-pasien yang beresiko tinggi terhadap kejadian kehamilan ektopik. Mereka yang
dianggap beresiko tinggi terhadap kehamilan ektopik antara lain adalah wanita yang
pernah menjalani bedah mikro saluran telur, pernah menderita peradangan dalam rongga
panggul, menderita penyakit pada tuba, pernah menderita kehamilan ektopik
sebelumnya, akseptor AKDR atau pil bila terjadi kehamilan tidak sengaja, dan pada
kehamilan yang terjadi dengan teknik-teknik reproduksi.

1. Anamnesa
Terjadi amenorea, yaitu haid terlambat mulai beberapa hari sampai beberapa bulan atau
hanya haid yang tidak teratur. Kadang-kadang dijumpai keluhan hamil muda dan gejala
hamil lainnya. Nyeri perut bagian bawah, nyeri bahu, tenesmus dan perdarahan
pervaginam terjadi setelah nyeri perut bagian bawah.
2. Pemeriksaan umum
29

Penderita tampak kesakitan dan pucat, pada perdarahan dalam rongga perut dapat
ditemukan tanda-tanda syok.
3. Pemeriksaan ginekologi
Tanda-tanda kehmilan muda mungkin ditemukan. Pergerakan serviks menyebabkan rasa
nyeri. Bila uterus dapat diraba maka akan terasa sedikit membesar dan kadang-kadang
teraba tumor di samping uterus dengan batas yang sukar ditentukan. Cavum douglasi
yang menonjol dan nyeri raba menunjukkan adanya hematocele retrouterina. Suhu
kadang-kadang bisa naik sehingga menyukarkan perbedaan dengan infeksi pelvik.
I.

Diagnosis Banding
Walaupun pada umumnya jika dipikirkan diagnosis kehamilan ektopik terganggu
dapat dibuat, beberapa keadaan patogik, seperti infeksi pelvic, abortus imminens, kista
folikel, atau korpus luteum yang pecah, kista ovarium dengan putaran tangkai, dan
appendicitis dapat memberikan gambaran klinik yang hampir sama.
-

Infeksi pelvic. Gejala yang menyertai infeksi pelvic biasanya timbul waktu haid dan
jarang setelah mengalami amenora. Nyeri perut bagian bawah dan tahanan yang
dapat diraba pada pemeriksaan vaginal pada umumnya bilateral. Pada infeksi pelvic
perbedaan suhu rectal dan ketiak melebihi 0,5 derajat Celcius; selain itu, leukositosis
lebih tinggi daripada kehamilan ektopik dan tes kehamilan negatif.

Abortus imminens atau insipiens. Perdarahan lebih banyak dan lebih merah sesudah
amenora, rasa nyeri yang lebih kurang berlokasi di daerah median dan bersifat mules
lebih menunjukkan kea rah abortus imminiens atau permulaan abortus insipiens.
Pada abortus tidak dapat diraba tahanan di samping atau dibelakang uterus, dan
gerakan serviks uteri tidak menimbulkan rasa nyeri.

Ruptur korpus lutenum. Peristiwa ini biasanya terjadi pada pertengahan siklus haid.
Perdarahan per vaginam tidak ada dan tes kehamilan negatif.

Torsi kista ovarium dan appendicitis. Gejala dan tanda kehamilan muda, amenorea,
dan perdarahan per vaginam biasanya tidak ada. Tumor pada kista ovarium lebih
besar dan lebih bulat daripada kehamilan ektopik. Pada appendicitis tidak ditemukan
30

tumor dan nyeri pada gerakan serviks tidak seberapa nyata seperti pada kehamilan
ektopik. Nyeri perut bagian bawah pada appendicitis terletak pada titik McBurney.
Kesalahan diagnosis pada kedua keadaan itu tidak menjadi soal karena keduanya
memerlukan operasi juga.
J.

Penatalaksanaan
1. Penderita yang disangka KET harus dirawat inap di rumah sakit untuk
penanggulangannya
2. Bila ibu dalam keadaan syok, perbaiki keadaan umumnya dengan pemberian
cairan secukupnya dan tranfusi darah
3. Setelah diagnosa jelas

atau sangat disangka KET, dan keadaan umum baik atau

lumayan, segera lakukan laparotomi untuk menghilangkan sumber perdarahan :


dicari, diklem, dan dieksisi sebersih mungkin (salpingektomi), kemudian diikat
sebaik baiknya
4. Sisa sisa darah dikeluarkan dan dibersihkan sedapat mungkin supaya
penyembuhan lebih cepat
5. Berikan antibiotika yang cukup dan obat anti inflamasi

Pembedahan

31

1. Pembedahan konservatif
Dimana integritas tuba dipertahankan. Pembedahan konservatif mencakup 2
teknik yang kita kenal sebagai salpingostomi dan salpingotomi. Salpingostomi
adalah suatu prosedur untuk mengangkat hasil konsepsi yang berdiameter kurang
dari 2 cm dan berlokasi di sepertiga distal tuba fallopii. Pada prosedur ini dibuat
insisi linear sepanjang 10-15 mm pada tuba tepat di atas hasil konsepsi, di
perbatasan antimesenterik. Setelah insisi hasil konsepsi segera terekspos dan
kemudian dikeluarkan dengan hati-hati. Perdarahan yang terjadi umumnya sedikit
dan dapat dikendalikan dengan elektrokauter. Insisi kemudian dibiarkan terbuka
(tidak dijahit kembali) untuk sembuh per sekundam. Prosedur ini dapat dilakukan
dengan laparotomi maupun laparoskopi.
Pada dasarnya prosedur salpingotomi sama dengan salpingostomi, kecuali bahwa
pada salpingotomi insisi dijahit kembali. Beberapa literatur menyebutkan bahwa
tidak ada perbedaan bermakna dalam hal prognosis, patensi dan perlekatan tuba
pascaoperatif antara salpingostomi dan salpingotomi.
2. Pembedahan radikal.
Dimana salpingektomi dilakukan, Salpingektomi diindikasikan pada keadaan
keadaan berikut ini:
1) kehamilan ektopik mengalami ruptur (terganggu),
2) pasien tidak menginginkan fertilitas pascaoperatif,
3) terjadi kegagalan sterilisasi,
4) telah dilakukan rekonstruksi atau manipulasi tuba sebelumnya,
32

5) pasien meminta dilakukan sterilisasi,


6) perdarahan berlanjut pasca salpingotomi,
7) kehamilan tuba berulang,
8) kehamilan heterotopik,
9) massa gestasi berdiameter lebih dari 5 cm.
Metode ini lebih dipilih daripada salpingostomi, sebab salpingostomi dapat
menyebabkan jaringan parut dan penyempitan lumen pars ismika yang sebenarnya
sudah sempit.
Penanganan kehamilan ektopik pada umunya adalah laparotomi. Dalam tindakan
demikian, beberapa hal harus diperhatikan dan dipertimbangkan yaitu kondisi
penderita pada saat itu, keinginan penderita akan fungsi reproduksinya. Lokasi
kehamilan ektopik, kondisi anatomic organ pelvis, kemampuan teknik bedah mikro
dokter operator, dan kemampuan teknologi fertilisasi invitro setempat. Untuk
menghentikan perdarahan dilakukan ligasi pada ramus tubarius a.Uterina dan ramus
tubarius a.Ovarica, lalu dilakukan tindakan Salphingektomi (pengangkatan tuba),
Salphingostomi (membuat lubang pada tuba, lalu membuang hasil konsepsi dan
darah), Salphingografi (pengikatan tuba).
Medikamentosa
Terapi

medikamentosa

untuk

kehamilan

ektopik

dengan

pemberian

metrotreksat, baik secara sistemik maupun dengan injeksi ke kehamilan ektopik


melalui laparoskopi atau dengan bantuan USG. 1-7
Pada penatalaksanaan medis digunakan zat-zat yang dapat merusak integritas
jaringan dan sel hasil konsepsi. Kandidat-kandidat penerima tatalaksana medis harus
memiliki syarat-syarat berikut ini: keadaan hemodinamik yang stabil, bebas nyeri
perut bawah, tidak ada aktivitas jantung janin, tidak ada cairan bebas dalam rongga
abdomen dan kavum Douglas, harus teratur menjalani terapi, harus menggunakan
kontrasepsi yang efektif selama 3-4 bulan pascaterapi, tidak memiliki penyakitpenyakit penyerta, sedang tidak menyusui, tidak ada kehamilan intrauterin yang
koeksis, memiliki fungsi ginjal, hepar dan profil darah yang normal, serta tidak
memiliki kontraindikasi terhadap pemberian methotrexate. Berikut ini akan dibahas
beberapa metode terminasi kehamilan ektopik secara medis. 1-7
33

Methotrexate
Methotrexate adalah obat sitotoksik yang sering digunakan untuk terapi
keganasan, termasuk penyakit trofoblastik ganas. Pada penyakit trofoblastik,
methotrexate akan merusak sel-sel trofoblas, dan bila diberikan pada pasien dengan
kehamilan ektopik, methotrexate diharapkan dapat merusak sel-sel trofoblas sehingga
menyebabkan terminasi kehamilan tersebut. Seperti halnya dengan penatalaksanaan
medis untuk kehamilan ektopik pada umumnya, kandidat-kandidat untuk terapi
methotrexate harus stabil secara hemodinamis dengan fungsi ginjal, hepar dan profil
darah yang normal. Harus diketahui pula bahwa terapi methotrexate maupun medis
secara umum mempunyai angka kegagalan sebesar 5-10%, dan angka kegagalan
meningkat pada usia gestasi di atas 6 minggu atau bila massa hasil konsepsi
berdiameter lebih dari 4 cm. Pasien harus diinformasikan bahwa bila terjadi kegagalan
terapi medis, pengulangan terapi diperlukan, dan pasien harus dipersiapkan untuk
kemungkinan menjalani pembedahan. Selain itu, tanda-tanda kehamilan ektopik
terganggu harus selalu diwaspadai. Bila hal tersebut terjadi, pasien harus sesegera
mungkin menjalani pembedahan. Senggama dan konsumsi asam folat juga dilarang.7
Tentunya methotrexate menyebabkan beberapa efek samping yang harus
diantisipasi, antara lain gangguan fungsi hepar, stomatitis, gastroenteritis dan depresi
sumsum tulang. Beberapa prediktor keberhasilan terapi dengan methotrexate yang
disebutkan dalam literatur antara lain kadar -hCG, progesterone, aktivitas jantung
janin, ukuran massa hasil konsepsi dan ada/tidaknya cairan bebas dalam rongga
peritoneum. Namun disebutkan dalam sumber lain bahwa hanya kadar -hCG-lah
yang bermakna secara statistik. Untuk memantau keberhasilan terapi, pemeriksaan hCG serial dibutuhkan. Pada hari-hari pertama setelah dimulainya pemberian
methotrexate, 65-75% pasien akan mengalami nyeri abdomen yang diakibatkan
pemisahan hasil konsepsi dari tempat implantasinya (separation pain), dan hematoma
yang meregangkan dinding tuba. Nyeri ini dapat diatasi dengan analgetik
nonsteroidal. -hCG umumnya tidak terdeteksi lagidalam 14-21 hari setelah
pemberian methotrexate. Pada hari-hari pertama pula massa hasil konsepsi akan
tampak membesar pada pencitraan ultrasonografi akibat edema dan hematoma,
sehingga jangan dianggap sebagai kegagalan terapi. Setelah terapi berhasil, kadar hCG masih perlu diawasi setiap minggunya hingga kadarnya di bawah 5 mIU/mL.7
34

Methotrexate dapat diberikan dalam dosis tunggal maupun dosis multipel.


Dosis tunggal yang diberikan adalah 50 mg/m2 (intramuskular), sedangkan dosis
multipel yang diberikan adalah sebesar 1 mg/kg (intramuskular) pada hari pertama,
ke-3, 5, dan hari ke-7. Pada terapi dengan dosis multipel leukovorin ditambahkan ke
dalam regimen pengobatan dengan dosis 0.1 mg/kg (intramuskular), dan diberikan
pada hari ke-2, 4, 6 dan 8. Terapi methotrexate dosis multipel tampaknya memberikan
efek negatif pada patensi tuba dibandingkan dengan terapi methotrexate dosis tunggal
9. Methotrexate dapat pula diberikan melalui injeksi per laparoskopi tepat ke dalam
massa hasil konsepsi. Terapi methotrexate dosis tunggal adalah modalitas terapeutik
paling ekonomis untuk kehamilan ektopik yang belum terganggu. 7
Actinomycin
Neary dan Rose melaporkan bahwa pemberian actinomycin intravena selama 5
hari berhasil menterminasi kehamilan ektopik pada pasien-pasien dengan kegagalan
terapi methotrexate sebelumnya. 7
Larutan Glukosa Hiperosmolar
Injeksi larutan glukosa hiperosmolar per laparoskopi juga merupakan alternatif
terapi medis kehamilan tuba yang belum terganggu. Yeko dan kawan-kawan
melaporkan keberhasilan injeksi larutan glukosa hiperosmolar dalam menterminasi
kehamilan tuba. Namun pada umumnya injeksi methotrexate tetap lebih unggul.
Selain itu, angka kegagalan dengan terapi injeksi larutan glukosa tersebut cukup
tinggi, sehingga alternatif ini jarang digunakan. 7
K. PROGNOSIS
Angka kematian ibu yang disebabkan oleh kehamilan ektopik terganggu turun sejalan
dengan ditegakkannya diagnosis dini dan persediaan arah yang cukup. Kehamilan ektopik
terganggu yang berlokasi di tuba pada umumnya bersifat bilateral. Sebagian ibu menjadi
steril (tidak dapat mempunyai keturunan) setelah mengalami keadaan tersebut diatas, namun
dapat juga mengalami kehamilan ektopik terganggu lagi pada tuba yang lain.
Ibu yang pernah mengalami kehamilan ektopik terganggu, mempunyai resiko 10% untuk
terjadinya kehamilan ektopik terganggu berulang. Ibu yang sudah mengalami kehamilan
ektopik terganggu sebanyak dua kali terdapat kemungkinan 50% mengalami kehamilan
ektopik terganggu berulang.
35

Rupture dengan perdarahan intraabdominal dapat mempengaruhi fertilitas wanita. Dalam


kasus kasus kehamilan ektopik terganggu terdapat 50 60 % kemungkinan wanita steril.
Dari sebanyak itu yang menjadi hamil kurang lebih 10 % mengalami kehamilan ektopik
berulang.

DAFTAR PUSTAKA
1.

Hauth. C. John, dkk. Kehamilan ektopik - Obstetri Williams. Edisi 21. vol 2.
2006.h.982 1013.

2.

Wiknosastro H. Kehamilan ektopik. Editor Wiknjosastro H, Saifuddin AB,


Rachmihadhi T, dalam Ilmu Kebidanan edisi kedua, cetakan keempat, Yayasan Bina
Pustaka Sarwono Prawirohardjo, Jakarta.2005.h.323-8

3.

Manuaba I.B.G, Manuaba I.B. Chandranita. Kehamilan ektopik : Pengantar Kuliah


Obstetri.2007.h.106-20

4.

Mochtar. R, Lutan. D. Kelainan letak kehamilan (kehamilan ektopik) : Sinopsis


Obstetri edisi kedua.1998.h.226-37

5.

Sepllan

VP.

Ectopic

Pregnancy.

Edisi

2012.

Diunduh

dari

http://emedicine.medscape.com/article/2041923-overview, 27 maret 2014


36

6.

Dept. Of Health and Human Sevices office on Womens health. Ectopic pregnancy.
Edisi 2012. Diunduh dari http://www.nlm.nih.gov/medlineplus/ectopicpregnancy.html,
2 Juni 2013

7.

Murray H, Bakdah H, Bardell T, Tullandi T. Diagnosis & Treatment of Ectopic


pregnancy.

Edisi

2011.

Diunduh

dari

http://www.canadianmedicaljournal.ca/content/173/8/905.full, 28 maret 2014

37