Anda di halaman 1dari 2

Contoh Afirmasi Positif

Pembelajaran Kolaborasi
Positif Penelitian menunjukkan bahwa ketika lingkungan itu mengizinkan atau membiarkan mereka untuk
bekerja sama secara bersifat kooperatif, anak-anak lebih memiliki pandangan yang positif tentang sekolah,
pelajaran dan para guru mereka. Lebih lanjut, dengan mengabaikan perbedaan-perbedaan di dalam
kemampuan atau latar belakang etnik, anak-anak lebih positif setelah bekerja bersama secara bersifat
kooperatif dibanding setelah kerja di dalam struktur-struktur pelajaran bersifat perseorangan ...
Kita semuanya terbiasa dengan berprilaku berbeda dengan orang lain saat belajar. Ada saat-saat ketika kita
mengingikann sesuatu dengan sendirian. Keinginan untuk berprilaku sendirian mungkin pada saat kita ingingin
meneliti , membaca buku dll. Namun di saat lain kita memerlukan waktu ketika kita bisa ditantang melalui
kompetisi, seperti permainan membutuhkan kinerja regu atau kelompok Seperti para guru, kita dapat
merencanakan program-program kegiatan individu di dalam kelas sehingga setiap anak bekerja sendirian
dengan tenang. Atau dapat merencanakan program-program bersifat kooperatif di mana anak-anak belajar
untuk bekerja sama, seperti anggota regu tergantung satu sama lain dan yang dihargai.Beberapa penelitian
menunjukkan kegiatan belajar mengajar yang bersifat kooperatif mempunyai keuntungan-keuntungan penting
dalam membentuk pengetahuan secara bersama dan pembangunan jiwa sosial.Manfaat dari Pelajaran
Kooperatif Berupa Prestasi yang Lebih TinggiPiagetian dan pendekatan behaviourist memandang akal sebagai
suatu karakteristik dari setiap individu. Teori-teori berikutnya menempatkan penekanan jauh lebih besar di
pembangunan sosial daripada akal. Pengamatan atas kecerdasan perorangan yang dilihat sebagai suatu proses
di mana individu membangun dan mengorganisir tindakan-tindakan mereka bersama-sama atas lingkungan.
Doise dan Mugny (1984) dalam penelitiannya mengemukakan bahwa konflik yang terjadi antara individu dalam
kerangka interaksi sosial pengembangan unsur kognitif yang lebih baik. Johnson dalam penelitian kegiatan yang
bersifat kooperatif memberikan dukungan terhadap peningkatan ...
Read Article
Pendekatan Penilaian
positif yang lebih objektif dan rasional. Pendekatan Berorientasi pada Pemakai ( The User Oriented Approach)
Sering pemanfaatan hasil penilaian kurang maksimal. Oleh karena itu perlu mengumpulkan bukti empiris untuk
membatasi pemakaian hasil penilaian. Faktor-faktor yang mempengaruhi pemanfaatan hasil penilaian adalah:
keterlibatan langsung para pemegang kunci keputusan, ketepatan waktu informasi, dan kepekaan terhadap
konteks organisasi. Dalam konteks organisasi ini termasuk cara pende ...
Pendekatan dalam penilaian dapat bermacam-macam. Pendekatan-pendekatan dalam penilaian itu adalah
sebagai berikut.Pendekatan EksperimentalPendekatan eksperimental adalah penilaian yang berorientasi pada
penggunaan experimental science dalam program evaluasi. Ini berarti menggunakan kontrol eksperimen yang
biasanya dilakukan dalam penelitian akademik. Penilai menciptakan situasi yang dikontrol, dengan beberapa
subjek penerima perlakuan dan yang lainnya tidak menerima perlakuan, membandingkan kedua kelompok
tersebut untuk melihat dampak program.Keuntungan pendekatan ini adalah kemampuannya menarik simpulan
yang relatif objektif, dan generalisasi jawaban terhadap pertanyaan program yang bersangkutan. Dengan
demikian lebih popular, tepercaya, dan disukai oleh pemakai serta pembuat keputusan. Kelemahannya adalah
bahwa penilai sering menggunakan prinsip-prinsip desain penelitian, pentingnya acak, konsistensi dan lainnya
yang sering tidak dimengerti oleh klien. Akibatnya hubungan penilai dan klien renggang yang dapat
menggagalkan pekerjaan penilai.Pendekatan Berorientasi pada Tujuan (Goal Oriented Approach) Pendekatan
ini menggunakan tujuan program sebagai kriteria untuk menentukan keberhasilan. Penilai mencoba mengukur
sampai di mana pencapaian tujuan telah tercapai. Model pendekatan ini memberikan petunjuk kepada
pengembangan program, menjelaskan hubungan antara kegiatan khusus yang ditawarkan dengan hasil yang
akan dicapai. Dengan begitu ada hubungan yang logis antara kegiatan, hasil, dan prosedur pengukuran hasil.
Jika program belum merumuskan tujuan secara jelas maka penilai membantu klien merumuskan tujuannya dan

1/2

menjelaskan hubungan antara tujuan dengan kegiatan. Jadi ...


Read Article

2/2