Anda di halaman 1dari 30

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Konsep Dasar Perpajakan


Pajak merupakan salah satu hal yang tidak dapat dihindarkan di dunia
ini. Pajak adalah kewajiban dari orang atau badan untuk menyerahkan
sebagian daripada kekayaannya, tapi bukan suatu hukuman melainkan telah
ditetapkan dengan peraturan hukum sehingga pelaksanaannya dapat
dipaksakan dan tidak mendapat imbalan jasa. Pajak sendiri merupakan salah
satu pemasukan tertinggi bagi Negara, dan yang paling penting lagi, pajak
diharapkan dapat menggantikan pinjaman ke luar negeri agar ketergantungan
kita kepada Negara luar dapat dikurangi.

2.1.1

Pengertian Pajak
Ada banyak definisi tentang pajak yang di kemukakan oleh para
ahli pajak, namun maksud dan intinya tetap sama. Untuk lebih jelasnya
berikut ini ada beberapa pengertian pajak yang dikemukakan oleh para
ahlinya :
Pengertian pajak berdasarkan pasal 1 ayat 1 Undang-undang Nomor 28
tahun 2007 (UU KUP) :
Pajak merupakan kontribusi (sumbangan) wajib kepada Negara
yang terutang oleh orang pribadi atau badan yang bersifat memaksa
berdasarkan undang-undang, dengan tidak mendapatkan imbalan
secara langsung dan digunakan untuk keperluan Negara bagi sebesarbesarnya kemakmuran rakyat .
Menurut Prof. Dr. H. Rochmat Soemitro yang dikutip oleh
Mardiasmo dalam bukunya Perpajakan (2008; revisi) :

Pajak merupakan iuran rakyat kepada kas Negara berdasarkan


undang-undang (yang dapat dipaksakan) dengan tiada mendapat jasa
timbal (kontra prestasi) yang langsung dapat ditunjukkan dan yang
digunakan untuk membayar pengeluaran umum .
Menurut Sommerfeld Ray M (2007;3) :
Pajak adalah suatu pengalihan sumber dari sektor swasta ke sektor
pemerintah, bukan akibat pelanggaran hukum, namun wajib
dilaksanakan, berdasarkan ketentuan yang ditetapkan terlebih
dahulu, tanpa mendapat imbalan yang langsung dan proporsional,
agar pemerintah dapat melaksanakan tugas-tugasnya untuk
menjalankan pemerintahan .
Dari pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa unsur yang
melekat pada pajak yaitu :
1. Pajak dipungut berdasarkan undang-undang.
2. Sifatnya dapat dipaksakan.
3. Dalam

pembayaran

pajak

tidak

dapat

ditunjukkan

adanya

kontraprestasi secara langsung oleh pemerintah.


4. Pajak dipungut oleh Negara baik pemerintah pusat maupun pemerintah
daerah.
5. Pajak diperuntukkan bagi pengeluaran-pengeluaran pemerintah.

2.1.2

Asas Pemungutan Pajak


Terdapat beberapa asas yang dipakai oleh Negara sebagai asas
dalam menentukan wewenangnya untuk pengenaan pajak, khususnya
untuk pengenaan pajak penghasilan. Asas utama yang paling sering
digunakan oleh Negara sebagai landasan untuk pengenaan pajak adalah :
1. Asas tempat tinggal (Domisili) :
Berlaku bagi wajib pajak dalam negeri artinya bagi orang pribadi yang
bertempat tinggal di Indonesia atau badan yang berkedudukan di
Indonesia dikenakan pajak atas semua penghasilan yang diterima atau
diperolehnya baik dari Indonesia maupun Luar Indonesia (asas world
wide income).

2. Asas Sumber :
Berlaku bagi wajib pajak yang bertempat tinggal dan berkedudukan di
Indonesia, hanya akan dikenakan pajak atas penghasilan yang di dapat
di Indonesia (asas regional income).
3. Asas Kebangsaan :
Pajak yang dikenakan oleh suatu Negara kepada orang-orang yang
mempunyai kebangsaan bukan berkebangsaan dari Negara tersebut.

2.1.3

Jenis-Jenis Pajak
1) Menurut Sifatnya :
Pajak Subjektif : pajak yang dalam pemungutannya dan
pengurangannya sangat memperhatikan keadaan diri dari wajib
pajaknya, antara lain besar kecil penghasilannya, banyak tidak
tanggungannya. Contoh : PPh
Pajak Objektif :

pajak yang dalam pemungutannya dan

pengenaannya berpangkal pada keadaan objek pajaknya dan tanpa


memperhatikan keadaan diri dari wajib pajak nya. Contoh : PPN
dan PBB
2) Menurut pembebanannya:
Pajak Langsung : jenis pajak yang beban pajaknya oleh subjek
pajak tidak dapat dilimpahkan kepada pihak lain atau dengan kata
lain harus dipikul sendiri. Contoh : PPh
Pajak tidak Langsung : beban pajak dapat dilimpahkan kepada
pihak lain. Contoh : PPN/PPnBM, Bea materai, PBB.
3) Menurut Pihak Pemungutannya:
Pajak Pusat : pajak yang diolah dan dipungut oleh pemerintah
pusat. Contoh : dispeda (dinas pendapatan daerah), DJP (Direktorat
Jendral Pajak)
Pajak Daerah : pajak yang diolah dan dipungut oleh pemerintah
daerah. Contoh : pajak penerangan jalan, pajak reklame, pajak

hiburan, pajak hotel, pajak restoran, pajak bahan penggalian dan


pengolahan.

2.1.4

Fungsi Pajak
Pajak mempunyai peranan yang sangat penting dalam kehidupan
bernegara, khususnya di dalam pelaksanaan pembangunan karena pajak
merupakan sumber pendapatan negara untuk membiayai semua pengeluaran
termasuk pengeluaran pembangunan. Berdasarkan hal diatas maka fungsi
pajak dapat dibedakan menjadi dua fungsi yaitu :
1. Fungsi Budgeter
Fungsinya sebagai alat (sumber) untuk masukan uang sebanyakbanyaknya dalam kas Negara untuk membiayai pengeluaran Negara baik
pengeluaran rutin maupun pembangunan.
2. Fungsi Regulered
Fungsinya sebagai alat (tambahan) untuk mencapai tujuan tertentu
dibidang ekonomi dan sosial.

2.1.5

Pemungutan Hukum Pajak


Hukum pajak mengatur hubungan antara pemerintah (fiskus) selaku
pemungut pajak dengan rakyat sebagai Wajib Pajak. Ada 2 macam hukum
yaitu:
Hukum pajak Materiil, memuat norma-norma yang menerangkan antara
lain keadaan, perbuatan, peristiwa hukum yang dikenakan pajak (objek
pajak), siapa yang dikenakan pajak (subjek), berapa besar pajak yang
dikenakan (tarif), segala sesuatu tentang timbul dan hapusnya utang
pajak, dan hubungan hukum antara pemerintah dan Wajib Pajak.
Contoh: Undang-undang pajak penghasilan.
Hukum pajak Formil, memuat bentuk/tata cara untuk mewujudkan
hukum materiil menjadi kenyataan (cara melaksanakan hukum pajak
materiil). Hukum ini memuat antara lain :

a) Tata cara penyelenggaraan (prosedur) penetapan suatu utang pajak.


b) Hak-hak fiskus untuk mengadakan pengawasan terhadap para wajib
pajak mengenai keadaan, perbuatan dan peristiwa yang menimbulkan
utang pajak.
c) Kewajiban

wajib

pajak

misalnya

menyelenggarakan

pembukuan/pencatatan, dan hak-hak pajak misalnya mengajukan


keberatan dan banding.

2.1.6

Tata Cara Pemungutan Pajak


Pemungutan pajak dapat dilakukan berdasarkan Stelsel :
1. Stelsel nyata (riel stelsel)
Pengenaan pajak didasarkan pada objek (penghasilan yang nyata),
sehingga pemungutannya baru dapat dilakukan pada akhir tahun pajak,
yakni setelah penghasilan yang sesungguhnya diketahui. Stelsel nyata
mempunyai kelebihan atau kebaikan dan kekurangan. Kebaikan stelsel
ini adalah pajak

yang dikenakan

lebih realistis. Sedangkan

kelemahannya adalah pajak baru dapat dikenakan pada akhir periode


(setelah penghasilan riil diketahui).
2. Stelsel anggapan (fictive stelsel)
Pengenaan pajak didasarkan pada suatu anggapan yang diatur oleh
undang-undang. Misalnya penghasilan suatu tahun dianggap sama
dengan tahun sebelumnya, sehingga pada awal tahun pajak sudah
dapat ditetapkan besarnya pajak yang terutang untuk tahun pajak
berjalan. Kebaikan stelsel ini adalah pajak dapat dibayar selama tahun
berjalan, tanpa harus menunggu pajak akhir tahun. Sedangkan
kelemahannya adalah pajak yang dibayar tidak berdasarkan pada
keadaan yang sesungguhnya.

3. Stelsel campuran
Stelsel ini merupakan kombinasi antara stelsel nyata dan stelsel
anggapan (fiktif). Pada awal tahun, besarnya pajak dihitung
berdasarkan suatu anggapan, kemudian pada akhir tahun besarnya
pajak disesuaikan dengan keadaan yang sebenarnya. Bila besarnya
pajak menurut kenyataan lebih besar dari pada pajak menurut
anggapan, maka wajib pajak harus menambah. Sebaliknya, jika lebih
kecil kelebihannya dapat diminta kembali.

2.1.7

Sistem Pemungutan Pajak


System pemungutan pajak dapat dibagi menjadi dua yaitu :
1. Official Assessment System
Adalah suatu sistem pemungutan yang memberi wewenang kepada
pemerintah (fiskus) untuk menentukan besarnya pajak yang terutang
oleh Wajib Pajak.
Ciri-cirinya :
a. Wewenang untuk menentukan besarnya pajak terutang ada pada
fiskus;
b. Wajib pajak bersifat pasif;
c. Utang pajak timbul setelah dikeluarkan surat ketetapan pajak oleh
fiskus.
2. Self Assessment system
Adalah suatu sistem pemungutan pajak yang memberi wewenang
kepada wajib pajak untuk menentukan sendiri besarnya pajak yang
terutang.
Ciri-cirinya :
a. Wewenang untuk menentukan besarnya pajak terutang ada pada
Wajib Pajak sendiri;
b. Wajib Pajak aktif, mulai dari menghitung, menyetor, dan
melaporkan sendiri pajak yang terutang;
c. Fiskus tidak ikut campur dan hanya mengawasi.

3. With Holding System


Adalah suatu sistem pemungutan pajak yang memberi wewenang
kepada pihak ketiga (bukan fiskus dan bukan Wajib Pajak yang
bersangkutan) untuk menentukan besarnya pajak yang terutang oleh
Wajib Pajak.
Ciri-cirinya :
Wewenang menentukan besarnya pajak yang terutang ada pada pihak
ketiga, pihak selain fiskus dan Wajib Pajak.

2.1.8

Timbulnya Utang Pajak


Ada dua ajaran yang mengatur timbulnya utang pajak :
1. Ajaran Formil
Utang pajak timbul karena dikeluarkannya surat ketetapan pajak oleh
fiskus. Ajaran ini diterapkan pada official assessment system.
2. Ajaran Materiil
Utang pajak timbul karena berlakunya Undang-undang. Seseorang
dikenai pajak karena suatu keadaan dan perbuatan. Ajaran ini
ditetapkan pada self assessment system.

2.1.9

Hambatan Pemungutan Pajak


Hambatan terhadap pemungutan pajak dapat dikelompokkan menjadi :
1. Perlawanan Pasif
Masyarakat enggan (pasif) membayar pajak, yang dapat disebabkan
antara lain :
a. Perkembangan intelektual dan moral masyarakat;
b. Sistem perpajakan yang (mungkin) sulit dipahami masyarakat;
c. Sistem kontrol tidak dapat dilakukan atau dilaksanakan dengan
baik.

2. Perlawanan Aktif
Perlawanan aktif meliputi semua usaha dan perbuatan yang secara
langsung ditujukan kepada fiskus dengan tujuan untuk menghindari
pajak. Bentuknya antara lain :
a. Tax avoidance, usaha meringankan beban pajak dengan tidak
melanggar undang-undang.
b. Tax evasion, usaha meringankan beban pajak dengan cara
melanggar undang-undang (menggelapkan pajak).

2.1.10 Syarat Pemungutan Pajak


Agar pemungutan pajak tidak menimbulkan hambatan atau
perlawanan, maka pemungutan pajak harus memenuhi syarat sebagai
berikut :
1. Pemungutan pajak harus adil (Syarat Keadilan)
Sesuai dengan tujuan hukum, yakni mencapai keadilan, undangundang dan pelaksanaan pemungutan harus adil. Adil dalam
perundang-undangan diantaranya mengenakan pajak secara umum dan
merata, serta disesuaikan dengan kemampuan masing-masing. Sedang
adil dalam pelaksanaan yakni dengan memberikan hak bagi wajib
pajak untuk mengajukan keberatan, penundaan dalam pembayaran dan
mengajukan banding kepada Majelis Pertimbangan Pajak.
2. Pemungutan pajak harus berdasarkan undang-undang (syarat yuridis)
Di Indonesia, pajak diatur dalam UUD 1945 pasal 23 ayat 2. Hal ini
memberikan jaminan hukum untuk menyatakan keadilan, bagi Negara
maupun warganya.
3. Tidak mengganggu perekonomian (syarat ekonomis)
Pemungutan tidak boleh mengganggu kelancaran kegiatan produk
maupun

perdagangan,

perekonomian masyarakat.

sehingga

tidak

menimbulkan

kelesuan

4. Pemungutan pajak harus efisien (syarat finansiil)


Sesuai fungsi budgetair, biaya pemungutan pajak harus dapat ditekan
sehingga lebih rendah dari hasil pemungutan.
5. Sistem pemungutan pajak harus sederhana
Sistem

pemungutan

yang

sederhana

akan

memudahkan

dan

mendorong masyarakat dalam memenuhi kewajiban perpajakannya.


Syarat ini telah dipenuhi oleh undang-undang perpajakan yang baru.

2.2

Administrasi Perpajakan
Tuntutan pelayanan yang cepat, mudah, murah dan akurat
merupakan harapan masyarakat, demikian pula dengan perpajakan. Untuk
mendukung ini, kondisi sistem administrasi perpajakan yang baik
merupakan suatu syarat.
Administrasi perpajakan memegang peranan yang sangat penting,
karena seharusnya bukan saja sebagai perangkat kekuatan hukum, tetapi
lebih penting daripada sebagai pelayanan yang memberikan pelayanan prima
kepada masyarakat, sekaligus pusat informasi perpajakan. Pada dasarnya,
administrasi perpajakan harus dilakukan dengan baik dan benar tidak asalasalan, karena dengan tidak diberlakukan secara benar maka itu akan
merugikan pemerintah sendiri, masyarakat akan kurang percaya lagi akan
administrasi perpajakan yang ada.
Jika telah terjadi hal tersebut maka sudah menjadi tugas pemerintah
pula

untuk

mencari

tahu

penyebab

utama

yang

mengakibatkan

ketidakpuasan dari masyarakat, dan pemerintah harus memperbaiki sistem


administrasi perpajakan yang ada.

Pemberdayaan administrasi pajak

seharusnya juga dilakukan dengan adanya penelitian terlebih dahulu, untuk


mengetahui hal-hal apa saja yang sebenarnya menjadi inti dari permasalahan
dan apa saja yang akan dilakukan perbaikan serta peningkatan yang
signifikan dan berlangsung lama. Oleh karena itu, reformasi perpajakan
yang hanya terfokus pada penggunaan teknologi yang canggih dengan biaya

yang besar tidak akan berarti apa-apa jika perbaikan mental sumber daya
manusianya tidak diperbaiki juga.

2.3

Modernisasi Perpajakan Indonesia


Hal yang mendasari modernisasi pajak dikarenakan adanya
perubahan paradigma perpajakan. Dari semula yang berbasis jenis pajak
menjadi berbasis fungsi, yang lebih mengedepankan aspek pelayanan
kepada masyarakat.
Proses modernisasi Kantor Pelayanan Pajak (KPP) berlangsung sejak
tahun 2006 dulu. Ditandai dengan didirikannya KPP Madya untuk beberapa
wilayah. Sejak 2007, KPP pratamapun didirikan untuk menggantikan KPP
PBB dan Karikpa. Dahulunya KPP mengurusi PPN,PPh potput, PPh badan,
sekarang struktur organisasinya lebih dirampingkan menjadi Seksi
Pengawasan dan Konsultasi (Waskon) dengan petugasnya yang dinamai
Account Representative (AR) yang bertugas untuk memberikan advise dan
melakukan pengawasan terhadap WP dan Seksi Fungsional yang tugasnya
memeriksa/mengaudit WP (www.pajak.go.id).
Modernisasi perpajakan ini secara nasional dilaksanakan untuk
mencapai 4 sasaran utama yang ditargetkan oleh Ditjen Pajak yaitu:
Optimalisasi penerimaan yang berkeadilan yaitu perluasan tax base,
minimalisasi tax gap, dan stimulus fiskal.
Meningkatkan kepatuhan sukarela wajib pajak melalui pemberian
pelayanan prima dan penegakkan hukum yang konsisten.
Efisiensi administrasi yaitu penerapan sistem dan administrasi yang
handal dan pemanfaatan teknologi tepat guna.
Membentuk citra yang baik dan kepercayaan masyarakat yang tinggi
melalui kapasitas SDM yang profesional, budaya organisasi yang
kondusif dan pelaksanaan good governance.

2.3.1

Reformasi Modernisasi
Modernisasi meliputi 3 hal, yakni reformasi kebijakan, administrasi
dan pengawasan.
1. Reformasi kebijakan ditempuh melalui amandemen UU Perpajakan.
Yakni UU Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan (UU No. 28
Tahun 2007), UU Pajak Penghasilan (dalam proses) dan UU Pajak
Pertambahan Nilai dan Pajak Tidak Langsung Lainnya (dalam proses).
2. Reformasi administrasi terkait organisasi, teknologi informasi dan
sumber daya manusia. Dalam bidang organisasi, kini telah dilakukan
perubahan struktur organisasi dari berdasarkan per jenis pelayanan
menjadi organisasi dengan struktur berdasarkan fungsi dengan
menggabungkan ketiga kantor (KPP, KPPBB dan Karikpa) menjadi
KPP Pratama. Selain KPP Pratama juga terdapat KPP Madya di setiap
kantor wilayah dan 2 KPP WP Besar yang hanya ada di Jakarta. Selain
itu akan terdapat petugas khusus yang disebut AR (account
representative) yang bertugas mengawasi dan melayani wajib pajak.
Kemudian Reformasi teknologi informasi. Konsepnya menuju full
automation, menuju administrasi internal yang paperless, efisiensi,
customer oriented dan fungsi built-in control. Adapun tujuannya untuk
mengurangi kontak langsung dengan WP, mudah, hemat dan cepat.
Selain itu, akurat, efektif dan efisien dan pengawasan internal melalui
built-in control system. Dalam bidang SDM dilaksanakan melalui
program mapping pegawai, yakni penempatan pegawai sesuai bidang,
minat dan keahliannya. Sistem grading, yaitu penggolongan jenis
pekerjaan per tingkat risiko. Sistem grading ini juga dijadikan tolok
ukur dalam menentukan jumlah tunjangan yang diterima.
3. Terakhir, reformasi pengawasan yang dilakukan melalui:
a. Komisi Kode Etik. Kode Etik secara tegas mencantumkan
kewajiban dan larangan bagi pegawai, termasuk penerapan sanksi-

sanksinya yang tegas. Selain itu dibentuk dua Sub-Direktorat yang


menangani pengawasan internal terhadap pelaksanaan kode etik.
b. Bank Data Nasional. Rencananya ini berfungsi sebagai pusat
penyimpanan arsip yang berisi data wajib pajak seluruh Indonesia.
c. Saluran Pengaduan yang berfungsi sebagai salah satu sarana
mempermudah

WP

dalam

menyampaikan

masalah

dan

keluhannya.

2.3.1.1

Kode Etik Pegawai


Pelaksanaan Kode Etik Pegawai diawasi berbagai badan
independen. Seperti, Komite Kode Etik Pegawai yang diketuai oleh
Sekjen Departemen Keuangan, Komisi Ombudsman Nasional dengan
desk pajak, maupun Tim Khusus Inspektorat Jenderal. Sehingga, KKN
dapat dihilangkan. Kode Etik Pegawai secara tegas mencantumkan
mengenai kewajiban serta lalarang pegawai.
Adapun Kewajiban pegawai yaitu :
1. Menghormati agama, kepercayaan, budaya, dan adat-istiadat orang
lain;
2. Bekerja profesional, transparan, dan akuntabel;
3. Mengamankan data/informasi milik DJP;
4. Memberikan pelayanan yang sebaik-baiknya kepada Wajib Pajak,
sesama pegawai, atau pihak lain;
5. Mentaati perintah kedinasan;
6. Bertanggung jawab atas penggunaan barang inventaris milik DJP;
7. Mentaati ketentuan jam kerja dan tata tertib kantor;
8. Menjadi panutan bagi masyarakat dlm memenuhi kewajiban
perpajakan;
9. Bersikap, berpenampilan, dan bertutur kata sopan.

Adapun Larangan Pegawai yaitu :


1. Bersikap diskriminatif dlm melaksanakan tugas;
2. Menjadi anggota atau simpatisan aktif partai politik;
3. Menyalahgunakan kewenangan jabatan baik langsung maupun tidak
langsung;
4. Menyalahgunakan fasilitas kantor;
5. Menerima segala pemberian dalam bentuk apapun baik langsung
maupun tidak langsung, dari Wajib Pajak, sesama pegawai atau
pihak lain, yang patut diduga berkaitan dengan

pekerjaan atau

jabatannya;
6. Menyalahgunakan data/informasi perpajaan;
7. Melakukan perbuatan yang mengakibatkan gangguan, kerusakan,
atau perubahan pada sistem informasi milik DJP;
8. Melakukan perbuatan tidak terpuji yang bertentangan dengan norma
kesusilaan dan dapat merusak citra dan martabat DJP.

2.3.2

Tujuan Modernisasi pajak


Adapun tujuan modernisasi sistem administrasi perpajakan adalah
untuk menjawab latar belakang dilakukannya modernisasi perpajakan,
yaitu :
1. Tercapainya tingkat kepatuhan pajak (tax compliance) yang tinggi;
2. Tercapainya

tingkat

kepercayaan

(trust)

terhadap

administrasi

perpajakan yang tinggi; dan


3. Tercapainya tingkat produktifitas pegawai pajak yang tinggi.
Guna melaksanakan serta mewujudkan tujuan modernisasi sistem
administrasi perpajakan tersebut, dengan keputusan Mentri Keuangan
Nomor 85/KMK.03/2003 dibentuk

Tim Jangka Menengah . Tugas atau

kegiatan pokok Tim ini adalah :


a. Memodernisasi kelembagaan termasuk struktur organisasi, sistem dan
prosedur, dan kebijakan di bidang sumber daya manusia.

b. Memodernisasi peraturan yang terdiri dari penyederhanaan prosedur


administratif dan ketentuan perpajakan lainnya.
c. Memodernisasi teknologi informasi termasuk pemanfaatan teknologi
informasi untuk mempermudah Wajib Pajak dan administrasi
perpajakan. Yakni, sesuai dengan konsep modernisasi sistem
administrasi perpajakan yang telah disusun dan ditetapkan. Namun
dalam perjalanannya, konsep yang ada masih terus dikembangkan
dengan masukan dari berbagai pihak yang dipandang dapat
memperbaiki dan menyempurnakan konsep yang ada. Sehingga
konsep modernisasi perpajakan adalah konsep yang dinamis.

2.3.3

Sarana-sarana Modernisasi Perpajakan


Modernisasi yang dilakukan melakukan Direktorat Jendral Pajak
memberikan pelayanan yang prima dengan disediakannya sarana-sarana
sebagai berikut :
1. Tempat Pelayanan Terpadu (TPT)
Tempat pelayanan terpadu (TPT) merupakan tempat pelayanan
terintegrasi dengan menggunakan sistem komputer. Dengan adanya
TPT memudahkan pengawasan terhadap proses pelayanan yang
diberikan kepada wajib pajak.
2. Account Representative (AR)
Account Representative (AR) merupakan pegawai Direktorat Jendral
Pajak yang diberikan wewenang khusus untuk memberikan pelayanan
dan mengawasi wajib pajak secara langsung. Dengan adanya Account
Representative, juga diharapkan dapat memberikan pelayanan yang
lebih efisien dan akurat.
3. Help Desk
Help Desk diharapkan mampu menghilangkan kebingungan dan
kesulitan wajib pajak secara khusus, fasilitas help desk dengan
teknologi tax knowledge base, menyangkut :

Peraturan pajak yang komprehensif;


Dikompilasi sesuai standar Q dan A, flowchart dan penjelasan
singkat;
Tersedia dalam komputer sehingga mudah diakses;
Diharapkan mampu menjawab berbagai permasalahan mengenai
pajak.
4. Complian Center
Complian Center berfungsi untuk menampung berbagai kebutuhan
wajib pajak. Ini merupakan bentuk keterbukaan DJP untuk perbaikan
dan pelaksanaan tugas.
5. Call center.
Adapun alasan dan keuntungan dengan adanya call center ini adalah :
Masyarakat saat ini sangat mementingkan kepraktisan dan efisiensi
penggunaan telepon semakin meningkat untuk urusan bisnis.
Tanpa adanya call center, petugas pajak di kantor operasional
banyak disibukan menjawab telpon.
Dengan sentralisasi penerimaan telepon, pekerjaan yang sama akan
dikerjakan oleh satu unit, sehingga akan lebih efektif dan efisien.
Akurasi dan konsistensi dapat ditingkatkan.
Pelayanan secara keseluruhan dapat ditingkatkan.
KPP bisa lebih fokus pada pekerjaan melayani dan mengawasi
Wajib Pajak (secara langsung) dan
Good Governance dalam penanganan complaints.
6. Media Informasi Pajak.
Wajib Pajak dapat mengakses segala sesuatu hal yang berhubungan
dengan pajak yang dibutuhkan secara gratis di Media Informasi Pajak.
7. Website
Dalam rangka mempermudah akses informasi perpajakan kepada
masyarakat, terlebih lagi dengan iklim yang mengglobal, telah dibuat
website perpajakan yang dikelola oleh DJP. Demikian pula Kantor

Wilayah dan KPP, telah banyak membuat website masing-masing,


dalam rangka memberikan informasi dan pelayanan bagi Wajib Pajak.
8. Pojok Pajak
Pokok Pajak merupakan sarana penyuluhan dan pelayanan perpajakakn
bagi masyarakat maupun Wajib Pajak dalam melaksanakan kewajiban
perpajakannya., yang ditempatkan di pusat-pusat perbelanjaan, pusatpusat bisnis atau tempat-tempat tertentu lainnya. Pelayanan yang
diberikan Pokok Pajak meliputi :
Penyediaan materi dan sasaran penyuluhan.
Konsultasi Perpajakan.
Pendaftaran NPWP
Penyampaian SPT Masa dan SPT Tahunan.
Pengaduan masyarakat tentang perpajakan.
9. e-Sistem Perpajakan
Merupakan serangkaian alat yang digunakan untuk peningkatan
pelayanan kepada masyarakat maupun Wajib Pajak.
10. e-SPT
Adalah penyampaian SPT dalam bentuk digital ke KPP secara
elektronik atau dengan menggunakan media komputer. Yang dapat
diaplikasikan adalah laporan SPT Masa PPh, SPT Tahunan PPh, dan
SPT Masa PPN.
11. e.-Registration
Adalah sistem pendaftaran, perubahan data wajib pajak dan atau
pengukuhan maupun pencabutan pengukuhan Pngusaha Kena Pajak
melalui sistem yang terhubung langsung secara online dengan DJP.
12. e-Filling
Adalah suatu cara penyampaian SPT yang dilakukan melalui sistem
online dan real time.

13. e-payment
Adalah suatu cara pembayaran yang dapat dilakukan dengan
menggunakan media elektronika online seperti internet, sehingga
memudahkan Wajib Pajak dalam pembayaran pajak.

2.3.4

Keunggulan Sistem Administrasi Di Kantor Pajak Modern


Sistem administrasi yang diterapkan di kantor-kantor pelayanan
pajak memiliki beberapa keunggulan, yaitu :
1. Adanya pemisahan fungsi yang lebih jelas antara fungsi pelayanan,
pengawasan, pemeriksaan, keberatan dan pembinaan.
2. Fungsi pelayanan pengawasan wajib pajak menjadi lebih efektif karena
dilakukan oleh Account Representatif.
3. Efisien dan meminimalisasi birokrasi dalam proses pelaksanaan
pekerjaan baik untuk pelayanan, pengawasan maupun pemeriksaan
sehingga cost of compliant relative lebih cepat.
4. Menejemen pemeriksaan menjadi lebih efisien dan efektif karena
berada dalam satu unit dan sumber daya manusia juga telah
dispesialisasikan pada sektor-sektor.

2.4

Perlunya Reformasi Perpajakan


Semenjak tahun 2002, Direktorat Jenderal Pajak (DJP) telah
meluncurkan program perubahan (change program) atau reformasi
administrasi perpajakan yang secara singkat biasa disebut Modernisasi.
Adapun jiwa dari program modernisasi ini adalah pelaksanaan good
governance, yaitu penerapan sistem administrasi perpajakan yang transparan
dan akuntabel, dengan memanfaatkan sistem informasi teknologi yang
handal dan terkini. Strategi yang ditempuh adalah pemberian pelayanan
prima sekaligus pengawasan intensif kepada para wajib pajak. Jika program
modernisasi ini ditelaah secara mendalam, termasuk perubahan-perubahan

yang telah, sedang, dan akan dilakukan, maka dapat dilihat bahwa konsep
modernisasi ini merupakan suatu terobosan yang akan membawa perubahan
yang cukup mendasar dan revolusioner.
Untuk mewujudkan itu semua, maka program reformasi adminsitrasi
perpajakan perlu dirancang dan dilaksanakan secara menyeluruh dan
komprehensif. Perubahan-perubahan yang dilakukan meliputi bidang-bidang
berikut :
Struktur organisasi
Business process dan teknologi informasi dan komunikasi
Manajemen sumber daya manusia
Pelaksanaan good governance

1. Struktur Organisasi
Untuk melaksanakan perubahan secara lebih efektif dan efisien,
sekaligus mencapai tujuan organisasi yang diinginkan, penyesuaian
struktur organisasi DJP merupakan suatu langkah yang harus dilakukan
dan sifatnya cukup strategis. Lebih jauh lagi, struktur organisasi harus
juga diberi fleksibilitas yang cukup untuk dapat selalu menyesuaikan
dengan

lingkungan

eksternal

yang

sangat

dinamis,

termasuk

perkembangan dunia bisnis dan teknologi.


Untuk mengimplementasikan konsep administrasi perpajakan
modern yang berorientasi pada pelayanan dan pengawasan, maka
struktur organisasi DJP perlu diubah, baik di level kantor pusat sebagai
pembuat kebijakan maupun di level kantor operasional sebagai
pelaksana implementasi kebijakan. Sebagai langkah pertama, untuk
memudahkan Wajib Pajak, ketiga jenis kantor pajak yang ada, yaitu
Kantor Pelayanan Pajak (KPP), Kantor Pelayanan Pajak Bumi dan
Bangunan (KPPBB), serta Kantor Pemeriksaan dan Penyidikan Pajak
(Karikpa), dilebur menjadi Kantor Pelayanan Pajak (KPP). Dengan
demikian Wajib Pajak cukup datang ke satu kantor saja untuk

menyelesaikan seluruh masalah perpajakannya. Struktur berbasis fungsi


diterapkan pada KPP dengan system administrasi modern untuk dapat
merealisasikan

debirokratisasi

pelayanan

sekaligus

melaksanakan

pengawasan terhadap Wajib Pajak secara lebih sistematis berdasarkan


analisis resiko.
Unit vertikal DJP dibedakan berdasarkan segmentasi Wajib
Pajak, yaitu KPP Wajib Pajak Besar (LTO - Large Taxpayers Office),
KPP Madya (MTO - Medium Taxpayers Office), dan KPP Pratama (STO
-Small Taxpayers Office). Dengan pembagian seperti ini, diharapkan
strategi dan pendekatan terhadap wajib pajakpun dapat disesuaikan
dengan karakteristik Wajib Pajak yang ditangani, sehingga hasil yang
diperoleh dapat lebih optimal. Khusus di kantor operasional, terdapat
posisi baru yang disebut Account Representative, yang mempunyai tugas
antara lain memberikan bantuan konsultasi perpajakan kepada Wajib
Pajak, memberitahukan peraturan perpajakan yang baru, dan mengawasi
kepatuhan wajib pajak. Untuk lebih memberikan rasa keadilan bagi
Wajib Pajak, seluruh penanganan keberatan dilakukan oleh Kantor
Wilayah yang merupakan unit vertikal di atas KPP yang menerbitkan
surat ketetapan pajak sebagai hasil dari pemeriksaan pajak.
2. Business Proces dan Teknologi Informasi dan Komunikasi
Kunci perbaikan birokrasi yang berbeli-belit adalah perbaikan
business process, yang mencakup metode, sistem, dan prosedur kerja.
Untuk itu, perbaikan business process merupakan pilar penting program
modernisasi DJP, yang diarahkan pada penerapan full automation
dengan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi, terutama
untuk pekerjaan yang sifatnya klerikal. Diharapkan dengan full
automation, akan tercipta suatu business process yang efisien dan efektif
karena administrasi menjadi cepat, mudah, akurat, dan paperless,
sehingga dapat meningkatkan pelayanan terhadap Wajib Pajak, baik dari
segi kualitas maupun waktu. Business process dirancang sedemikian

rupa sehingga dapat mengurangi kontak langsung pegawai DJP dengan


Wajib Pajak untuk meminimalisir kemungkinan terjadinya KKN. Di
samping itu, fungsi pengawasan internal akan lebih efektif dengan
adanya built-in control system, karena siapapun dapat mengawasi
bergulirnya proses administrasi melalui sistem yang ada.
Manajemen Sumber Daya Manusia
Departemen Keuangan secara keseluruhan telah meluncurkan
program Reformasi Birokrasi sejak akhir tahun 2006. Fokus program
reformasi ini adalah perbaikan sistem dan manajemen SDM, dan
direncanakan perubahan yang dilakukan sifatnya lebih menyeluruh. Hal ini
perlu dan mendesak untuk dilakukan, karena disadari bahwa elemen yang
terpenting dari suatu sistem organisasi adalah manusianya. Secanggih
apapun struktur, sistem, teknologi informasi, metode dan alur kerja suatu
organisasi, semua itu tidak akan dapat berjalan dengan optimal tanpa
didukung SDM yang capable dan berintegritas. Harus disadari bahwa yang
perlu dan harus diperbaiki sebenarnya adalah sistem dan manajemen SDM,
bukan semata-mata melakukan rasionalisasi pegawai, karena sistem yang
baik dan terbuka dipercaya akan bisa menghasilkan SDM yang berkualitas.
Diharapkan ke depannya DJP dengan sistem administrasi perpajakan
modern akan dapat didukung oleh sistem SDM yang berbasis kompetensi
dan kinerja.
Pelaksanaan Good Governance
Elemen terakhir adalah pelaksanaan good governance, yang
seringkali dihubungkan dengan integritas pegawai dan institusi. Suatu
organisasi berikut sistemnya akan berjalan dengan baik manakala terdapat
rambu-rambu yang jelas untuk

memandu pelaksanaan

tugas

dan

pekerjaannya, serta yang lebih penting lagi, konsistensi implementasi


rambu-rambu tersebut. Dalam praktek berorganisasi, good governance
biasanya dikaitkan dengan mekanisme pengawasan internal (internal
control) yang bertujuan untuk meminimalkan terjadinya penyimpangan

ataupun penyelewengan dalam organisasi, baik itu dilakukan oleh pegawai


maupun pihak lainnya, baik disengaja maupun tidak.

2.4.1

Jenis KPP Modern


Unit vertikal DJP dibedakan berdasarkan segmentasi Wajib Pajak, yaitu :
1. KPP Wajib Pajak Besar (LTO - Large Taxpayers Office)
2. KPP Madya (MTO - Medium Taxpayers Office)
3. KPP Pratama (STO - Small Taxpayers Office).
Perbedaan mendasardari ketiga model KPP ini adalah menyangkut
level dan jenis Wajib Pajak, jenis pajak yang dikelola, kegiatan dan
organisasinya, wilayah kerjanya, serta kontribusinya bagi penerimaan di
tingkat Kantor Wilayah dan Nasional.
A.

KPP Wajib Pajak Besar


KPP Wajib Pajak Besar mengelola Wajib Pajak skala besar secara
nasional dengan jenis beban dan terbatas jumlahnya. Di KPP ini tidak
ada kegiatan ekstensifikasi, karena jumlah Wajib Pajaknya sudah
tetap, yaitu sekitar 200-300 yang ditetapkan dengan Keputusan
Direktur Jendral Pajak. Jika dilakukan penambahan Wajib Pajak,
sumbernya berasal dari seluruh KPP di Tanah Air. Tidak semua jenis
pajak yang dikelola, melainkan hanya PPh, PPN, PPnBM, dan bea
materai. Kedudukannya hanya berada di Jakarta dan hingga kini ada
3 kantor saja.

B.

KPP Madya
KPP madya mengelola Wajib Pajak besar jenis badan dalam skala
regional (lingkup Kantor Wilayah) dan juga terbatas jumlahnya. Di
KPP madya juga tidak ada kegiatan ekstensifikasi, jumlah Wajib
Pajaknya sudah tetap sekitar 200-500 yang telah ditetapkan oleh
Direktur Jendral Pajak. Jika suatu saat ditambah, wajib pajaknya
berasal dari seluruh KPP Pratama di wilayah Kantor Wilayah. Sama
seperti KPP wajib Pajak Besar, jenis pajak yang dikelola juga hanya

PPh, PPN, PPnBM, dan bea materai. Kedudukan berada di beberapa


Kantor Wilayah DJP di Tanah Air, yang hingga saat ini keberadaan
KPP Madya ini ada di Medan, Pekanbaru, Batam, Palembang,
Jakarta, Tanggerang, Bekasi, Bandung, Semarang, Surabaya,
sidoarjo, Malang, Balikpapan, dan Makasar. Di Jakarta, selain di
wilayah Jakarta pusat, Jakarta Barat, Jakarta Selatan, Jakarta Timur,
Jakarta Utara, termasuk KPP Khusus yang melayani Wajib Pajak
penanaman modal asing, badan dan orang asing, serta perusahaan
masuk bursa. Wilayah kerjanya sama dengan Kantor Wilayah DJP
atasannya.
C.

KPP Pratama
Sedangkan KPP Pratama mengelola Wajib Pajak menengah ke bawah
yakni jenis badan di luat yang telah dikelola di KPP Wajib Pajak
besar dan KPP Madya serta orang pribadi. Di KPP Pratama ada
kegiatan ekstensifikasi Wajib Pajak, sehingga jumlah Wajib Pajaknya
dapat selalu bertambah seirama dengan pertambahan orang pribadi
yang memperoleh penghasilan di atas Penghasilan Tidak Kena Pajak
(PTKP) atau melakukan kegiatan usaha di wilayah kerjanya. Dengan
demikian, jenis Wajib pajak yang dikelola terdiri atas orang pribadi,
badan,

maupun

pemotong

atau

pemungut

pajak

(seperti

bendaharawan instansi pemerintah). Jenis pajak yang dikelola


semuanya, yakni PPh, PPN, PPnBM, bea materai, PBB, dan BPHTB.
Kedudukannya berada disemua Kantor Wilayah di Tanah Air, kecuali
di Kantor Wilayah Wajib Pajak Besar dan Kantor Wilayah Jakarta
Khusus.
Berdasarkan kegiatan diatas, karakter KPP Pratama adalah :
1. Merupakan penggabungan dari tiga unit kantor pajak sebelumnya,
yaitu KPP, KPPBB, dan Kantor Pemeriksaan dan Penyidikan
Pajak.

2. Struktur organisasi umumnya sama dengan KPP WP Besar dan


KPP Madya, hanya dengan penambahan satu seksi yaitu seksi
Ekstensifikasi Perpajakan.
3. Sistem Administrasi perpajakan yang digunakan merupakan
gabungan Sistem Informasi DJP ( SIDJP) dan Sistem Manajemen
Informasi Objek Pajak (SMIOP).
4. Mengadministrasikan seluruh jenis pajak yang dikelola DJP (PPh,
PPN, PPnBM, bea materai, PBB, BPHTB).
5. Account Representatif (AR) ditugaskan untuk mengawasi wilayah
tertentu atau Wajib Pajak tertentu yang berada dalam wilayah
kerja KPP yang bersangkutan.
Adapun keunggulan dari KPP Pratama yaitu :
Pelayanan satu atap (peningkatan pelayanan kepada wajib
Pajak).
Program Intensifikasi dan Ekstensifikasi bias lebih maksimal
(adanya AR yang mengawasi seluruh kegiatan Wajib Pajak
di daerah wilayah tertentu).
Penggalian potensi Wajib Pajak Orang Pribadi bisa
ditingkatkan (strategi DJP ke depan adalah focus ke Wajib
Pajak Orang Pribadi).

2.5 Asas Good Governance


Setiap perusahaan harus memastikan bahwa asas Good Governance
diterapkan pada setiap aspek bisnis dan di semua jajaran perusahaan. Asas
Good Governance yaitu :
1.

Transparansi : peningkatan keterbukaan atas informasi yang akurat dan


tepat waktu atas kinerja perusahaan.

2.

Akuntabilitas : akuntabilitas manajemen melalui pengawasan efektif


berdasarkan kesetaraan dan keseimbangan kekuasaan

3.

Tanggung Jawab : tanggung jawab perusahaan sebagai anggota


masyarakat untuk mematuhi ketentuan yang berlaku suatu negara atau
lingkungan masyarakat.

4.

Independensi : perusahaan harus dikelola secara independen sehingga


masing-masing organ perusahaan tidak saling mendominasi dan tidak
dapat diintervensi oleh pihak lain.

5.

Kewajaran/ Keadilan : Keadilan bagi semua pihak yang berada dalam


perusahaan dan pendukung-pendukung perusahaan.

Diperlukan asas ini untuk mencapai kesinambungan usaha perusahaan


dengan memperhatikan pemangku kepentingan.

2.6 Transparansi dan Akuntabilitas


Pada masa ini, dimana saja dinegeri ini, ketika berbicara tentang
transparasi dan akuntabilitas, maka itu merupakan bagian dari wacana
mengenai asas pemerintahan yang baik, atau good governance.
Tidak berlebihan bila dikatakan bahwa transparasi dan akuntabilitas
mempunyai efek ekonomi yang sangat berarti dalam kehidupan masa kini .
Tidak bisa disangkal bahwa secara langsung atau tidak langsung, penyebab
dari krisis finansial Indonesia pada tahun 1997-1998 dan krisis global yang
tengah kita alami saat ini adalah karena gagalnya transparasi dan
akuntabilitas dijalankan dengan cara semestinya, baik dalam dunia usaha
maupun pemerintahan. Dampak kerusakan ekonomi yang parah dan
merugikan bisa timbul akibat pelaku usaha tidak transparan dan tidak
akuntabel. Jika ketidak transparanan dan tiadanya akuntabilitas terjadi pada
regulator dan penegak hukum yang seyogyanya berfungsi menjadi
pengawas, maka akibatnya akan jauh lebih parah lagi karena merusak dan
melumpuhkan sendi-sendi dasar bernegara, bahkan eksistensi dan harga diri
(dignity) suatu negara dapat runtuh sehingga negara tersebut disebut sebagai
negara gagal (fail state).

Transparansi dan akuntabilitas punya arah, yaitu ditetapkan oleh letak


sumber hak dan kekuasaan dari mana asal mandat kepada aparatur
pemerintah itu diperoleh. Pada sistem otoriter atau kekuasaan absolut,
akuntabilitas hanyalah kepada atasan, yang dianggap sebagai sumber
kekuasaan.
Terdapat 3 (tiga) mekanisme yang dapat dilaksanakan agar lebih
transparan dan akuntabel serta selanjutnya dapat mewujudkan good
governance yaitu:
1. Mendengarkan suara atau aspirasi masyarakat serta membangun
kerjasama pemberdayaan masyarakat.
2. Memperbaiki internal rules dan mekanisme pengendalian.
3. Membangun iklim kompetisi dalam memberikan layanan terhadap
masyarakat serta marketisasi layanan.
Ketiga mekanisme tersebut saling berkaitan dan saling menunjang untuk
memperbaiki efektivitas pengelolaan pemerintahan daerah.

2.6.1

Transparansi
Definisi transparansi berdasarkan KK, SAP, 2005 :
Transparansi adalah memberikan informasi keuangan yang terbuka
dan jujur kepada masyarakat berdasarkan pertimbangan bahwa
masyarakat memiliki hak untuk mengetahui secara terbuka dan
menyeluruh atas pertanggungjawaban pemerintah dalam pengelolaan
sumber daya yang dipercayakan kepadanya dan ketaatannya pada
peraturan perundang- undangan.
Transparansi adalah prinsip yang menjamin akses atau kebebasan
bagi setiap orang untuk memperoleh informasi tentang penyelenggaraan
pemerintahan,yakni informasi tentang kebijakan, proses pembuatan dan
pelaksanaanya, serta hasil-hasil yang dicapai atau transparansi yakni
adanya kebijakan terbuka bagi pengawasan, sedangkan yang dimaksud
dengan informasi adalah mengenai setiap aspek kebijakan pemerintah
yang dapat dijangkau oleh publik. Pemerintah mengungkapkan hal-hal
yang sifatnya material secara berkala terhadap pihak-pihak yang

berkepentingan, dalam hal ini adalah masyarakat. Variabel ini sangat


dibutuhkan dalam menciptakan good governance dan clean government
dengan tujuan mengurangi atau bahkan menghapuskan KKN. Transparansi
dibangun atas dasar arus informasi yang bebas. Seluruh proses
pemerintahan, lembaga-lembaga dan informasi perlu dapat diakses oleh
pihak-pihak yang berkepentingan, dan informasi yang tersedia harus
memadai agar dapat dimengerti dan dipantau.
Adapun informasi tersebut berupa: hak dan kewajiban pelaku
bisnis, informasi peraturan, informasi tarif pelayanan, penyebarluasan
informasi yang aktif, adanya media untuk menyebarluaskan informasi,
jaminan transparansi oleh pemerintah, kesesuaian antara informasi dan
fakta.
Prinsip Transparansi ini memiliki 2 aspek, yaitu :
(1) Komunikasi publik oleh pemerintah.
(2) Hak masyarakat terhadap akses informasi.
Keduanya akan sangat sulit dilakukan jika pemerintah tidak
menangani dengan baik kinerjanya. Manajemen kinerja yang baik adalah
titik awal dari transparansi. Komunikasi publik menuntut usaha alternatif
dari pemerintah untuk membuka dan mendiseminasi informasi maupun
aktivitasnya yang relevan. Transparansi harus seimbang, juga, dengan
kebutuhan akan kerahasiaan lembaga maupun informasi-informasi yang
mempengaruhi hak privasi individu. Karena pemerintahan menghasilkan
data dalam jumlah besar, maka dibutuhkan petugas informasi professional,
bukan untuk membuat dalih atas keputusan pemerintah, tetapi untuk
menyebarluaskan keputusan-keputusan yang penting kepada masyarakat
serta menjelaskan alasan dari setiap kebijakan tersebut.
Keterbukaan membawa konsekuensi adanya kontrol yang berlebihlebihan dari masyarakat dan bahkan oleh media massa. Karena itu,
kewajiban akan keterbukaan harus diimbangi dengan nilai pembatasan,
yang mencakup kriteria yang jelas dari para aparat publik tentang jenis

informasi apa saja yang mereka berikan dan pada siapa informasi tersebut
diberikan.
Menurut

Komite

Nasional

Kebijakan

Governance,

prinsip

transparasi dapat diukur melalui sejumlah indikator seperti :


1. Perusahaan harus menyediakan informasi secara tepat waktu,
memadai, jelas, akurat dan dapat diperbandingkan serta mudah diakses
oleh pemangku kepentingan sesuai dengan haknya.
2. Informasi yang harus diungkapkan meliputi, tetapi tidak terbatas pada,
visi, misi, sasaran usaha dan strategi perusahaan, kondisi keuangan,
susunan dan kompensasi pengurus, pemegang saham pengendali,
kepemilikan saham oleh anggota Direksi dan anggota Dewan
Komisaris beserta anggota keluarganya dalam perusahaan dan
perusahaan lainnya, sistem manajemen risiko, sistem pengawasan dan
pengendalian internal, sistem dan pelaksanaan GCG serta tingkat
kepatuhannya, dan kejadian penting yang dapat mempengaruhi kondisi
perusahaan.
3. Prinsip keterbukaan yang dianut oleh perusahaan tidak mengurangi
kewajiban untuk memenuhi ketentuan kerahasiaan perusahaan sesuai
dengan peraturan perundang-undangan, rahasia jabatan, dan hak-hak
pribadi.
4. Kebijakan

perusahaan

harus

tertulis

dan

secara

proporsional

dikomunikasikan kepada pemangku kepentingan.

2.6.2

Akuntabilitas
Definisi akuntabilitas berdasarkan KK, SAP, 2005 :
Akuntabilitas adalah mempertanggungjawabkan pengelolaan sumber
daya serta pelaksanaan kebijakan yang dipercayakan kepada entitas
pelaporan dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan secara
periodik.
Akuntabel berarti bahwa setiap tindakan dan kebijakan yang
ditempuh selalu bisa dijelaskan dasarnya dan dipertanggung jawabkan

sepenuhnya. Artinya, tindakan yang diambil adalah sah sepanjang


memenuhi asas-asas:
(1) Selalu punya dasar hukum dan dengan tata cara yang sesuai peraturan
yang berlaku;
(2) Tindakan dilakukan dan keputusan diambil hanya oleh pejabat yang
berhak dan diberi wewenang untuk itu;
(3) Tindakan harus bertujuan baik, jelas maksud dan manfaatnya.
Akuntabilitas

juga

mencakup

segi

kepantasan,

etika,

dan

mempertimbangkan rasa keadilan. Yang penting untuk tidak dilupakan


ialah bahwa setiap tindakan yang tidak memenuhi syarat-syarat
akuntabilitas tersebut akan mengakibatkan pejabat yang melakukannya
dijatuhi sanksi yang sepadan dengan kelalaian dan kesalahannya.
Variabel akuntabilitas ini digunakan untuk menilai kinerja
pemerintah yang bertugas dalam pengambilan keputusan dengan
bertanggungjawab

kepada

masyarakat

dan

pihak-pihak

yang

berkepentingan. Bentuk pertanggungjawaban tersebut berbeda satu dengan


yang lainnya tergantung dari jenis organisasi yang bersangkutan. Selain itu
pemerintah

juga

berusaha

untuk

memprioritaskan

kepentingan-

kepentingan umum dan berusaha menentukan visi stategi untuk


pembangunan wilayah kedepannya. Akuntabilitas merupakan prasyarat
yang diperlukan untuk mencapai kinerja yang berkesinambungan.
Menurut Komite Nasional Kebijakan Governance, prinsip akuntabilitas
dapat diukur melalui sejumlah indikator seperti berikut ini:
1. Perusahaan harus menetapkan rincian tugas dan tanggung jawab
masing-masing organ perusahaan dan semua karyawan secara jelas
dan selaras dengan visi, misi, nilai-nilai perusahaan (corporate
values), dan strategi perusahaan.
2. Perusahaan harus memiliki ukuran kinerja untuk semua jajaran
perusahaan yang konsisten dengan sasaran usaha perusahaan, serta
memiliki sistem penghargaan dan sanksi (reward and punishment
system).

3. Perusahaan harus memastikan adanya sistem pengendalian internal


yang efektif dalam pengelolaan perusahaan.
4. Dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya, setiap organ
perusahaan dan semua karyawan harus berpegang pada etika bisnis
dan pedoman perilaku (code of conduct) yang telah disepakati.
Pada dasarnya, akuntabilitas adalah pemberian informasi dan
pengungkapan (disclosure) atas aktivitas dan kinerja finansial kepada
pihak-pihak yang berkepentingan (Schiavo-Campo and Tomasi, 1999).
Prinsip akuntabilitas ini menuntut dua hal,yaitu :
(1) Kemampuan menjawab (answerability).
(2) Konsekuensi (consequences).
Komponen pertama (istilah yang bermula dari responsibilitas)
adalah berhubungan dengan tuntutan bagi para aparat untuk menjawab
secara periodik setiap pertanyaan-pertanyaan yang berhubungan dengan
bagaimana mereka menggunakan wewenang mereka, kemana sumber daya
telah dipergunakan, dan apa yang telah dicapai dengan menggunakan
sumber daya tersebut.
Akuntabilitas diperoleh melalui :
a. Usaha imperatif untuk membuat para aparat pemerintahan mampu
bertanggung jawab untuk setiap perilaku pemerintahan dan responsif
kepada entitas darimana mereka memperoleh kewenangan.
b. Penetapan criteria untuk mengukur performansi aparat pemerintahan
serta penetapan mekanisme untuk menjamin bahwa standar telah
terpenuhi.

2.6.2.1 Bentuk-Bentuk Akuntabilitas :


a. Akuntabilitas Keuangan
Akuntabilitas keuangan adalah merupakan pertanggungjawaban
integritas keuangan, pengungkapan, dan ketaatan terhadap peraturan
perundang-undangan.
b. Akuntabilitas Manfaat

Akuntabilitas manfaat (efektifitas) pada dasarnya memberi perhatian


perhatian kepada hasil dari kegiatan-kegiatan perusahaan. Efektifitas
yang harus dicapai bukan hanya berupa output akan tetapi yang lebih
penting adalah efektifitas dari sudut pandang outcame.

c. Akuntabilitas Prosedur
Akuntabilitas Prosedur merupakan pertanggungjawaban mengenai
apakah prosedur penetapan dan palaksanaan suatu kebijakan telah
mempertimbangkan moralitas, etika dan kepastian hukum untuk
mendukung pencapaian tujuan akhir yang ingin dicapai.
d. Akuntabilitas Publik
Akuntabilitas publik merupakan kewajiban pemegang amanah untuk
memberikan pertanggungjawaban, menyajikan, melaporkan dan
mengungkap

segala

aktifitas

dan

kegiatan

yang

menjadi

tanggungjawabnya kepada pihak pemberi amanah yang memiliki hak


dan kewenangan untuk meminta pertanggungjawaban tersebut.