Anda di halaman 1dari 19

DEMOKRASI DI INDONESIA

Pendahuluan
Demokrasi adalah bentuk atau mekanisme sistem pemerintahan suatu
negara sebagai upaya mewujudkan kedaulatan rakyat (kekuasaan warga negara)
atas negara untuk dijalankan oleh pemerintah negara tersebut.Salah satu pilar
demokrasi adalah prinsip trias politica yang membagi ketiga kekuasaan politik
negara (eksekutif, yudikatif dan legislatif) untuk diwujudkan dalam tiga jenis
lembaga negara yang saling lepas (independen) dan berada dalam peringkat yang
sejajar satu sama lain. Kesejajaran dan independensi ketiga jenis lembaga negara
ini diperlukan agar ketiga lembaga negara ini bisa saling mengawasi dan saling
mengontrol berdasarkan prinsip checks and balances.
Berawal dari kemenangan Negara-negara Sekutu (Eropah Barat dan
Amerika Serikat) terhadap Negara-negara Axis (Jerman, Italia & Jepang) pada
Perang Dunia II (1945), dan disusul kemudian dengan keruntuhan Uni Soviet
yang berlandasan paham Komunisme di akhir Abad XX , maka paham Demokrasi
yang dianut oleh Negara-negara Eropah Barat dan Amerika Utara menjadi paham
yang mendominasi tata kehidupan umat manusia di dunia dewasa ini.
Suatu bangsa atau masyarakat di Abad XXI ini baru mendapat pengakuan
sebagai warga dunia yang beradab (civilized) bilamana menerima dan menerapkan
demokrasi sebagai landasan pengaturan tatanan kehidupan kenegaraannya.
Sementara bangsa atau masyarakat yang menolak demokrasi dinilai sebagai
bangsa/masyarakat yang belum beradab (uncivilized).
Di dalam praktek kehidupan kenegaraan sejak masa awal kemerdekaan
hingga saat ini, ternyata paham demokrasi perwakilan yang dijalankan di
Indonesia terdiri dari beberapa model demokrasi perwakilan yang saling berbeda
satu dengan lainnya.
Indonesia adalah salah satu negara yang menjunjung tinggi demokrasi.
Demokrasi yang dijalankan oleh Indonesia dinilai berhasil, hal tersebut tercermin
dari beberapa kebijakan yang dijalankan oleh pemerintah selama menjalankan
demokrasi. Namun, demokrasi yang dijalankan oleh Indonesia bukan tanpa

halangan, beberapa kebijakan yang diambil oleh pemerintah dapat dinilai sebagai
upaya untuk menciderai demokrasi.

Pengertian Demokrasi
Menurut Abdulkarim (2000), Demokrasi berasal dari kata Yunani, demos
berarti rakyat dan kratein artinya pemerintah. Dengan demikian, demokrasi berarti
adanya kekuasaan tertinggi yang dipegang oleh rakyat.
Demokrasi sebagai sistem pemerintahan sudah digunakan sejak zaman
Yunani kuno. Pada saat itu, semua rakyat turut secara langsung membicarakan
soal-soal pemerintahan. Demokrasi iu disebut demokrasi langsung. Setelah zaman
yunani kuno, demokrasi sudah jarang dipakai sebagai pemerintahan. Barulah
setelah zaman Renaissance, demokrasi bangkit kembali dengan pertimbangan
sebagai berrikut:
1. Perasaan tidak senang dengan oligarki ( pemerintahan yang dijalankan
oleh beberapa orang yang berkuasa dari golongan atau kelompok
tertentu), segolongan kecil rakyat yang senantiasa bertindak menurut
kemaunnya.
2. Pengaruh aliran politik dan sosial yang menghendaki persamaan
3. Perkembangan perlu dan baiknya demokrasi.
Pelopor yang memperjuangkan lahirnya demokrasi diantaranya adalah J.J
Rousseau, Montesque, dan John Locke. Perkembangan selanjutnya,
demokrasi semakin dibutuhkan diseluruh dunia. Abraham lincoln
mengartikan demokrasi sebagai pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat, dan
untuk rakyat. Pengertian demokrasi ini merupakan pengertian demokrasi
modern.

Bentuk-bentuk Demokrasi
a. Demokrasi berdasarkan cara penyampaian pendapat terbagi ke dalam :
1) Demokrasi langsung
Dalam demokrasi langsung rakyat diikutsertakan dalam pengambilan
keputusan untuk menjalankan kebijakan pemerintahan.
2) Demokrasi tidak langsung atau demokrasi perwakilan

Dalam demokrasi ini, pengambilan keputusan dijalankan oleh rakyat


melalui wakil rakyat yang dipilihnya melalui Pemilu. Rakyat memilih
wakilnya sendiri untuk membuat keputusan politik. Dengan kata lain, dalam
demokrasi tidak langsung, aspirasi rakyat disalurkan melalui wakil-wakil
rakyat duduk di lembaga perwakilan rakyat.
3) Demokrasi perwakilan dengan sistem pengawasan langsung dari rakyat
Demokrasi ini merupakan campuran antara demokrasi langsung dengan
demokrasi perwakilan. Rakyat memilih wakilnya untuk duduk didalam
lembaga perwakilan rakyat, tetapi wakil rakyat dalam menjalankan tugasnya
diawasi rakyat melalui raferendum dan inisiatif rakyat. Demokrasi ini antara
lain dijalankan di Swiss .
Referendum adalah pemungutan suara untuk mengetahui kehendak
rakyat secara langsung. Referendum dibagi menjadi tiga macam yaitu :
a. Referendum wajib
Referendum ini dilakukan ketika ada perubahan atau pembentukan
norma penting dan mendasar dalam UUD (konstitusi) atau UU yang
sangat politis UUD atau UU tersebut yang telah dibuat oleh lembaga
perwakilan rakyat dapat dilaksanakan setelah mendapat persetujuan
rakyat melalui pemungutan suara terbanyak. Jadi, referendum ini
dilaksanakan untuk meminta persetujuan rakyat terhadap hal yang
dianggap sangat penting atau mendasar.
b. Referendum tidak wajib
Referendum ini dilaksanakan jika dalam waktu tertentu setelah
rancangan undang-undang diumumkan, sejumlah rakyat mengsulkan
diadakan referendum. Jika dalam wakyu tertentu tidak ada permintaan
dari rakyat, rancangan undang-undang itu dapat menjadi undangundanmg yang bersifat tetap.
c. Referendum konsultatif
Referendum ini hanya sebatas meminta persetujuan saja karena
rakyat dianggap tidak mengerti permasalahannya. Pemerintah meminta

pertimbangangan pada ahli bidang tertentu yang berkaitan dengan


permasalahan tersebut.
b. Demokrasi berdasarkan titik perhatian atau perioritasnya terdiri dari :
1) Demokrasi formal
Demokrasi ini secara hukum menempatkan semua orang dalam
kedudukan yang sama dalam bidang politik, tanpa mengurangi kesenjangan
ekonomi. Indifidu diberi kebebasan yang luas. sehingga demokrasi ini
disebut juga demokrasi liberal
2) Demokrasi material
Demokrasi material memandang manusia mempunya kesamaan dalam
bidang sosial-ekonomi sehingga persamaan bidang politik tidak menjadi
prioritas. Demokrasi semacam ini dikembangkan di Negara sosialis
komunis.
3) Demokrasi campuran
Demokrasi ini merupakan campuran dari kedua jenis demokrasi
sebelumnya. Demokrasi ini berupa menciptakan kesejahteraan seluruh
rakyat dengan menempatkan persamaan derajat dan hak setiap orang.

c. Demokrasi dibagi berdasarkan prisip ideologi :


1) Demokrasi liberal
Demokrasi ini memberikan kebebasan yang luas pada individu.
Campur tangan pemeritah diminimalkan, bahkan ditolak. Tindakan
sewenang-wenang pemerintah terhadap warganya dihindari. Pemerintah
bertindak atas kostitusi (hukum dasar).
2) Demokrasi rakyat atau demokrasi Proletar
Demokrasi ini bertujuan menyejahterakan rakyat. Negara yang
dibentuk tidak mengenal perbedaan kelas. Semua warga negara mempunyai
persamaan dalam hukum dan politik.

d. Bedasarkan wewenang dan hubungan antara alat kelengkapan negara,


demokrasi dibagi menjadi :
1) Demokrasi sistem parlementer
Ciri-ciri pemerintahan parlementer antara lain :
a) DPR lebih kuat dari pemerintah ;
b) Menteri bertanggung jawab pada DPR;
c) Program kebijaksanaan kabinet disesuaikan dengan tujuan politik
anggota parlemen
d) Kedudukan kepala negara sebagai simbol idak dapat diganggu
gugat.

2) Demokrasi sistem pemisahan/pebagian kekuasaan (Presidensil).


Ciri-ciri pemerintahan yang menggunakan sistem presidensial adalah
sebagai berikut :
a) Negara dikepalai presiden ;
b) Kekuasaan eksekutif presiden dijalankan berdasarkan kedaulatan
yang dipilih dari dan oleh rakyat melalui badan perwakilan ;
c) Presiden mempunya kekuasaan mengangkat dan memberhentikan
menteri
d) Menteri tidak bertanggung jawabkepada DPR, tetapi kepada
presiden; serata
e) Presiden dan DPR mempunya kedudukan yang sama sebagai
lembaga negara, dan tidak dapat saling membubarkan.

Keunggulan Demokrasi
Sebagaimana telah diuraikan, ciri-ciri demokrasi antara lain :
a. keputusan diambil berdasarkan suara rakyat atau kehendak rakyat
b. kebebasan individu dibatasi oleh kepentingan bersama, kepentingan
bersama lebih kepentingan daripada kepentingan individu atau
golongan;
c. kekuasaan merupakan amanat rakyat, segala sesuatu yang dijalankan
pemerintah adalah untuk kepentingan rakyat; serta

d. kedaulatan ada di tangan rakyat, dan lembaga perwakilan rakyat


mempunyai kedudukan penting dalam sistem kekuasaan negara.
Macam-macam sistem demokrasi yang didasarkan penguasanya:
Oligarki
adalah sistem pemerintahan yang dijalankan oleh segelintir orang
banyak. Partisipasi rakyat dalam pemerintahan dibatasi atau bahkan
ditoadakan dengan dihapusnya lembaga perwakilan rakyat dan keputusan
hukum tertinggi ada pada tangan segelintir orang tersebut.
Anarki
adalah pemerintahan yang kekuasaannya tidak jelas, tidak ada
peraturan yang benar-benar dapat dipatuhi. Setiap individu bebas
menentukan kehendaknya sendiri-sendiri tanpa aturan yang jelas.
Moboraksi
adalah pemerintahan yang dikuasai olah kelompok orang untuk
kepentingan kelompok yang berkuasa, bukan untuk kepentingan rakyat.
Biasanya mobokrasi dipimpin oleh sekelompok orang yang mempunyai
motivasi yang sama.
Diktator
ialah kekuasaan yang terpusat pada seseorang yang berkuasa mutlak
(otoriter).

Nilai-nilai Demokrasi
Sebenarnya pengertian pokok demokrasi ialah adanya jaminan hak-hak
asasi manusia dan partisipasi rakyat. Akan tetapi, dalam pertumbuhanya,
pengertian pokok itu telah mengalami banyak perubahan, terutama karena faktor
politik, ekonomi, sosial, dan kebudayaan. Suatu negara dapat memberikan isi dan
sifat pada demokrasi yang bebeda dari isi dan sifat demokrasi di negara lain.
Dengan demikian, bentuk demokrasi Negara yang satu akan berbeda dengan
bentuk demokrasi dengan negara yang lain. Disamping itu, bentuk demokrasi itu
pada suatu masa akan berbeda dari bentuk demokrasi masa yang lain. Misalnya,
bentuk demokrasi pada masa sekarang berbeda dari bentuk demokrasi pada masa
UUD RIS tahun 1949 dan masa UUD sementara tahun 1950.

Adapun yang paling utama dalam menetukan berlakunya sistem demokrasi


disuatu negara ialah ada atau tidaknya asas demokrasi pada sistem itu, sebagai
berikut;
a) pengakuan hak-hak asasi manusia sebagai penghargaanterhadap
martabat manusia dengan tidak melupakan kepentingan umum.
b) Adanya partisipasi dan dukungan rakyat pada pemerintah. Jika
dukungan rakyat tidak ada, sulitlah dikatakan bahwa pemerintah itu
adalah suatu pemerintahan demokrasi.
Di dunia Barat, demokrasi berkembang dalam suatu sistem masyarakat
yang liberal (bebas dan merdeka). Oleh karena itu, lahirlah suatu bentuk
demokrasi yang dinamakan demokrasi liberal, yang menjunjung hak-hak asasi
manusia setinggi-tingginya, bahkan kadang-kadang diatas kepetingan umum.
Sebagai akibat demokrasi liberal ini, lahirlah sistem-sistem pemerintahan yang
liberal. Didalam sistem pemerintahan ini, peranan dan campur tangan pemerintah
tidak terlalu banyak didalam kehidupan masyarakat. Karena sistem ini sesuai
dengan aspirasi rakyat didunia Barat, sistem pemerintahan yang liberal ini
mendapat dukungan penuh dari rakyat.
Atas dasar itu, berikut akan dibahas bahwa demokrasi didasari oleh
beberapa nilai (value). Henry B.Mayo telah mencoba untuk memerinci nilai-nilai
ini, dengan catatan tentu saja tidak berarti bahwa setiap masyarakat demokratis
memiliki semua nilai-nilai ini, tetapi bergantung pada perkembangan sejarah,
aspirasi, dan budaya poltik masingmasing. Berikut adalah nilai-nilai yang
diutarakan Henry B.Mayo:
a. menyelesaikan perselisihan dengan damai dan secara melembaga;
b.menjamin terselenggaranya perubahan secara damai dalam suatu
masyarakat yang sedang berubah;
c. menyelenggarakan pergantian pimpinan secara teratur;
d. membatasi pemakaian kekerasan sampai munimum;
e. mengakui dan menganggap wajar adanya keanekaragaman; serta
f. menjamin tegaknya keadilan.

Dengan demikian, untuk melaksanakan nilai-nilai demokrasi perlu


diselenggarakan beberapa lembaga berikut
a. pemerintahan yang bertanggung jawab.
b. Satu dewan perwakilan rakyat yang mewakil golongan-golongan dan
kepentingankepentingan dalam masyarakat yang diplih melalui
pemilahan umum secara bebas dan rahasia. Dewan ini harus
mempunyai fungsi pengawasn terhadap penerintah. Tentu saja
pengawasan yang konstruktif (titik membangun) dan sesuai normative
(akuran yang berlaku).
c. Suatu organisasi politik yang mencakup satu atau lebih partai politik.
Parpol ini menjaling hubungan yang rutin dan berkesinambungan, juga
menghubungkan antara rakyat dan pemerintah
d. Pers dan media masa yang bebas untuk menyatakan pendapat.
e.Sistem

peradilan

yang

bebas

untuk

mejamin

hak-hak

dan

mempaertahankan keadilan.
Berdasarkan UUD 1945 nagara Indonesia adalah negara demokrasi.
Demokrasi adalah pemerintahan oleh rakyat dimana kekuasaan tertinggi berada
ditangan rakyat dan dijalankan oleh mereka atau wakil-wakil yang mereka pilih
dibawah sistem pemilihan yang bebas. Abraham Lincoln menyebutkan,
demokrasi adalah pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat (is a
government of the people, by the people, and the people).
Hampir semua negara di dunia sekarah ini mengatakan dirinya negara
demokrasi, walaupun pelaksanaan demokrasi di setiap negara sudah beraneka
ragam. Misalnya, ada demokrasi liberal, seperti di Amerika Serikat dan ada
demokrasi Pancasila, seperti di Indonesia. Dalam demokrasi liberal, pemerintah
dipegang oleh partai yang menang dalam pemilihan umum dan partai yang kalah
menjadi pihak oposisi.
Dengan adanya suatu kehidupan yang demokratis, melalui hukum dan
peraturan yang dibuat berdasarkan kehendak rakyat, ketentraman dan ketertiban
diharapkan akan lebih mudah diwujudkan. Tata cara pelaksanaan demokrasi
pacasila dilandaskan atas mekanisme konstitusional karena penyelenggaraan
pemerintahan negara Republik Indonesia berdasarkan konstitusi.

Kegagalan demokrasi Pancasila zaman orde baru, tidak berasal dari


konsep dasar demokrasi Pacasila, tetapi lebih pada praktik atau pelaksanaannya
yang mengingkari keberadaan demokrasi Pancasila itu. Demokrasi Pancasila
hanya akan dapat dilaksanakan dengan baik apabila nilai-nilai yang terkandung di
dalamnya dapat dipahami dan dihayati sependukungnya. Pelaksanaan demokrasi
pancasila harus disertai dengan pembangunan bangsa secara keseluruhan karena
pembangunan adalah proses perubahan ke arah kemajuan dan proses pendidikan
bangsa untuk meningkatkan mutu kehidupan bangsa.
Kegagalan demokrasi pancasila pada zaman orde baru membuat banyak
penafsiran mengenai asas demokrasi. Belajar dari pengalaman tersebut, dalam era
reformasi perlu penataan ulang dan penegasan kembali arah dan tujuan demokrasi
pancasila; menciptakan prasarana dan sarana yang diperlukan bagi pelaksanaan
demokrasi

pancasila;

membuat

dan

menata

kembali

progrm-program

pembangunan di tengahtengah berbagai persoalan yang dialami masyarakat


sekarang ini; serta bagaimana program-program itu dapat menggerakkan
partisipasi seluruh masyarakat.
Partisipasi masyarakat dalam pembangunan sekaligus akan menjadi
kontrol bagi pelaksanaan pembangunan yang lebih efektif, khususnya bagi
pemerintah, baik dipusat maupun daerah. Dengan demikian, dapat dicegah hal-hal
yang negatif dalam pembangunan, seperti korupsi, penyalagunaan wewenang, dan
lain-lain. Dengan telah diletakkannya dasar-dasar pelaksanaan demokrasi
pancasila, persoalan berikutnya adalah bagaimana menggerakkan rakyat untuk
berpartisipasi

secara

penuh

dalam

pelaksanaan

pembangunan

politik.

Keberhasilan pelaksanaan suatu sistem demokrasi dapat ditunjukkan dengan


tingkat partisipasi rakyat pendukungnya. Partisipasi yang dibutuhkan bukan hanya
karena adanya hasil pembangunan yang dapat dinikmati, melainkan karena
adanya pertisispasi yang timbul berdasarkan kesadaran dan pengertian terhadap
hak-hak dan kewajiban masyarakat. Kunci semua pelaksanaan demokrasi tersebut
adalah bagaimana pancasila dan UUD 1945 dapat dilaksanakan secara murni dan
konsekuen. Usaha tersebut telah dilakukan oleh pemerintah orde baru, tetapi
dalam pelaksanaannya banyak yang menginkarinya sehingga menimbulkan KKN
(kolusi, korupsi, dan nepotisme).

Sebagaimana telah dijelaskan, meski orde baru jatuh, demokrasi pancasila


tidak ikut jatuh. Hal ini karena pemerintahan orde reformasi tetap menjalankan
pemerintahannya dengan demokrasi pancasila. Penegakan kehidupan yang lebih
demokratis pada orde reformasi telah banyak diupayakan, antara lain sebagai
berikut.
a. Diselenggarakannya pemilu tahun 1999 dengan berasaskan langsung, umum,
bebas, rahasia, jujur, serta adil dan beradab.
b. Diberikannya kebebasan bagi warga negara untuk mendirikan partai politik
pemilu 1999 diikuti oleh 48 partai politik.
c. Pers diberi kebebasan sehingga banyak sekali bermunculan media massa (cetak
dan elektronik) baru.
d. Kedudukan ketua MPR terpisah dari ketuaDPR.
e. Amandemen UUD 1945 yang banyak membatasi kekuatan Presiden.
f. Refungsional lembaga-lembaga tinggi negara.
g. Diselenggarakannya pemilu 2004, dengan pemilihan lagsung anggota DPR,
DPRD, dan Presiden/Wakil Presiden.
Dengan demikian, dalam tahap awal reformasi ini, pemerintah baru
menata bidang politik dan hukum (konstitusi), sedangkan bidang lainnya masih
terus dalam tahap penataan. Pelaksanaan demokrasi Pancasila pada Orde
Reformasi ini tetap harus bersumberkan pada hukum yang berlaku di Indonesia.

Pelaksanaan Demokrasi di Indonesia


Pelaksanaan demokrasi di Indonesia terbagi menjadi beberapa periode, yaitu:
1. Pelaksanaan demokrasi pada masa revolusi (1945-1950)
Tahun 1945-1950 Indonesia masih berjuang menghadapi Belanda
yang ingin kembali ke Indonesia. Pada masa itu penyelenggaraan
pemerintahan dan demokrasi Indonesia belum berjalan baik. Hal itu
disebabkan masih adanya revolusi fisik. Berdasarkan pada konstitusi
negara, yaitu UUD 1945, Indonesia adalah negara demokrasi yang
berkedaulatan

rakyat.

Masa

pemerintahan

tahun

1945-1950

10

mengindikasikan keinginan kuat dari para pemimpin negara untuk


membentuk pemerintahan demokrasi.
Pada awalnya, pemerintahan Indonesia menunjukkan adanya
sentralisasi kekuasaan pada divi presiden sehubungan belum terbentuknya
lembaga-lembaga politik demokrasi, misalnya belum terbentuknya MPR
dan DPR. Hal ini termuat dalam pasal 4 Aturan Peralihan UUD 1945 yang
berbunyi Sebelum MPR, DPR, dan DPA dibentuk menurut UUD ini,
segala kekuasaannya dijalankan oleh presiden dengan bantuan sebuah
komite nasional.
Untuk menghindari kesan bahwa negara Indonesia adalah negara
absolut, pemerintah melakukan serangkaian kebijakan untuk menciptakan
pemerintahan demokratis. Kebijakan tersebut adalah sebagai berikut:
1. Maklumat Pemerintah No. X Tanggal 16 Oktober 1945 tentang
Perubahan Fungsi KNIP menjadi Fungsi Parlemen.
2. Maklumat Pemerintah Tanggal 03 November 1945 mengenai
pembentukan Partai Politik.
3. Maklumat Pemerintah Tanggal 14 November 1945 mengenai
Perubahan dari Kabinet Presidensial ke Kabinet Parlementer.
Demikian kebijakan tersebut, terjadi perubahan dalam sistem
pemerintahan di Indonesia. Sistem pemerintahan berubah menjadi sistem
pemerintahan parlementer. Cita-cita dan proses demokrasi masa itu
terhambat oleh revolusi fisik menghadapi Belanda dan pemberontakan
PKI Madiun Tahun 1948. pada masa-masa kritis tersebut, kepemimpinan
dwitunggal Soekarno-Hatta berperan kembali dalam pemerintahan
nasional. Pada akhir tahun 1949, pemerintahan kembali ke sistem
Presidensial.
2. Pelaksanaan demokrasi pada masa orde lama
a. Masa demokrasi liberal
Masa antara tahun 1950-1959 ditandai dengan suasana dan
semangat yang ultra-demokratis. Kabinet berubah ke sistem
parlementer, sedangkan dwitunggal Soekarno-Hatta dijadikan
simbol dengan kedudukan sebagai kepala negara. Demokrasi yang

11

dipakai adalah demokrasi parlementer atau demokrasi liberal. Masa


demokrasi parlementer dapat dikatakan sebagai masa kejayaan
demokrasi karena hampir semua unsur-unsur demokrasi dapat
ditemukan dalam perwujudannya. Unsur-unsur tersebut meliputi
peranan yang sangat tinggi pada parlemen, akuntibilitas politis
yang tinggi, berkembangnya partai politik, pemilu yang bebas, dan
terjaminnya hak politik rakyat.
Namun proses demokrasi masa itu telah dinilai gagal dalam
menjamin stabilitas politik, kelangsungan pemerintahan, dan
penciptaan kesejahteraan rakyat. Kegagalan praktik demokrasi
liberal tersebut disebabkan karena:
1.

Dominannya politik aliran, artinya berbagai golongan politik


dan partai politik sangat mementingkan kelompok atau
alirannya sendiri daripada mengutamakan

kepentingan

bangsa.
2.

Landasan sosial ekonomi rakyat yang masih rendah.

3.

Tidak mempunyai para anggota konstituante bersidang dalam


menetapkan dasar negara sehingga keadaan menjadi berlarutlarut.
Hal

ini

menjadikan

Presiden

Soekarno

segera

mengeluarkan Dekrit Presiden tanggal 05 Juli 1959 yang isinya:


1.

Menetapkan pembubaran konstituante

2.

Menetapkan UUD 1945 berlaku kembali sebagai konstitusi


negara dan tidak berlakunya UUDS 1950

3.

Pembentukan MPRS dan DPAS

b. Masa demokrasi terpimpin


Masa antara tahun 1959-1965 adalah masa demokrasi
terpimpin. Demokrasi terpimpin berawal dari ketidaksenangan
Presiden Soekarno terhadap partai-partai politik yang dinilai lebih
mengedepankan kepentingan partai dan ideologinya masingmasing, serta kurang memperhatikan kepentingan yang lebih luas.

12

Pengertian dasar demokrasi terpimpin menurut ketetapan


MPRS No. VIII/MPRS/1965 adalah kerakyatan yang dipimpin
oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan / perwakilan
yang berintikan musyawarah untuk mufakat secara gotong royong
diantara semua kekuatan nasional yang progresif revolusioner
dengan berporoskan nasakom dengan ciri-ciri sebagai berikut:
1. Dominasi presiden
2. Terbatasnya peran partai politik
3. Berkembangnya pengaruh PKI dan militer sebagai
kekuatan sosial politik di Indonesia.
Demokrasi terpimpin yang dijalankan oleh Presiden
Soekarno ternyata menyimpang dari prinsip-prinsip negara
demokrasi. Penyimpangan-penyimpangan tersebut antara lain:
1. Mengaburnya sistem kepartaian dan lemahnya peranan
partai politik
2. Peranan parlemen yang lemah
3. Jaminan hak-hak dasar warga negara masih lemah
4. Terjadinya sentralisasi kekuasaan pada hubungan antara
pusat dan daerah
5. Terbatasnya kebebasan pers
Akhir dari demokrasi terpimpin memuncak dengan adanya
pemberontakan G30-S/PKI pada tanggal 30 September 1965.
Demokrasi terpimpin berakhir karena kegagalan Presiden Soekarno
dalam mempertahankan keseimbangan antara kekuatan yang ada
disisinya, yaitu PKI dan militer yang sama-sama berpengaruh. Saat
itu PKI ingin membentuk angkatan kelima, sedangkan militer tidak
menyetujui pembentukan tersebut. Akhir dari demokrasi terpimpin
ditandai dengan keluarnya Surat Perintah tanggal 11 Maret 1966
dari Presiden Soekarno kepada Jendral Soeharto untuk mengatasi
keadaan.
3. Pelaksanaan demokrasi pada masa orde baru

13

Masa orde baru dimulai tahun 1966. Pemerintahan Orde Baru


mengawali jalannya pemerintahan dengan tekad melaksanakan Pancasila
dan UUD 1945 secara murni dan konsekuen. Orde Baru menganggap
bahwa penyimpangan terhadap Pancasila dan UUD 1945 adalah sebab
utama kegagalan dari pemerintahan sebelumnya. Orde Baru adalah tatanan
peri kehidupan masyarakat, bangsa, dan negara Indonesia atas dasar
pelaksanaan Pancasila dan UUD 1945 secara murni dan konsekuen.
Demokrasi yang dijalankan dinamakan demokrasi yang didasarkan atas
nilai-nilai dari sila-sila pada pancasila.
Pemerintahan orde baru diawali dengan keluarnya Surat Perintah
11 Maret sampai tahun 1968 dengan pengangkatan Jendral Soeharto
sebagai Presiden RI. Orde baru melanjutkan pembangunan demokrasi
berdasarkan pada ketentuan-ketentuan dalam UUD 1945. Semua lembaga
negara, seperti MPR dan DPR dibentuk. Orde baru juga berhasil
menyelenggarakan pemilihan umum secara periodik, yaitu pada tahun
1971, 1977, 1982, 1987, 1992, dan 1997. Untuk berjalannya demokrasi,
pemerintah Orde Baru menyusun mekanisme kepemimpinan nasional lima
tahun yang merupakan serangkaian garis besar kegiatan kenegaraan yang
dirancang secara periodik selama masa lima tahun.
Dengan berjalannya mekanisme kepemimpinan nasional lima
tahun, pemerintahan orde baru berhasil menciptakan stabilitas politik dan
menyelenggarakan pembangunan nasional yang dimulai dengan adanya
pembangunan lima tahun (Pelita), yaitu Pelita I tahun 1973-1978 sampai
Pelita VI tahun 1993-1998. Keberhasilan tersabut ditandai dengan
meningkatnya pertumbuhan ekonomi, meningkatnya tingkat pendidikan
warga negara, pembangunan infrastruktur, berhasil menekan laju
pertumbuhan penduduk.
Namun, dalam perkembangan selanjutnya pemerintahan Orde Baru
mengarah pada pemerintahan yang sentralistis. Demokrasi masa Orde
Baru bercirikan pada kuatnya kekuasaan Presiden dalam menopang dan
mengatur seluruh proses politik yang terjadi. Lembaga kepresidenan telah
menjadi pusat dari seluruh proses politik dan menjadi pembentuk dan

14

penentu agenda nasional, mengontrol kegitan politik dan pemberi legacies


bagi seluruh lembaga pemerintah dan negara. Akibatnya, secara subtantif
tidak ada perkembangan demokrasi justru penurunan derajat demokrasi.
Sejumlah indikator yang menyebabkan demokrasi tidak terjadi pada masa
Orde Baru yaitu:
1.

Rotasi kekuasan eksekutif hamper dapat dikatakan tidak ada.

2.

Rekvutmen politik yang tertutup

3.

Pemilu yang jauh dari semangat Demokrasi

4.

Pengakuan terhadap hak-hak dasar yang terbatas.


Orde Baru sesungguhnya telah mampu membangun stabilitas

pemerintahan dan kemajuan ekonomi. Namun, makin lama jauh dari


semangat demokrasi dan kontrol rakyat. Akibatnya, pemerintahan menjadi
korup, sewenang-wenang, dan akhirnya jatuh. Sebab-sebab kejatuhan
Orde Baru adalah:
1.

Hancurnya ekonomi nasional (krisis ekonomi)

2.

Terjadinya krisis politik

3.

Tidak bersatunya lagi pilar-pilar pendukung Orde Baru (Menteri dan


TNI)

4.

Gelombang demonstrasi

yang menghebat

menuntut

Presiden

Soeharto untuk mundur dari jabatannya.


Dengan demikian, maka berakhirlah pemerintaha masa Orde Baru
dengan diumumkannya pengunduran diri Presiden Soeharto dari
kekuasaannya pada tanggal 21 Mei 1998.

4. Pelaksanaan demokrasi pada masa reformasi (1998-sekarang)


Masa reformasi berusaha membangun kembali kehidupan yang demokratis
antara lain:
1.

Keluarnya ketetapan MPR RI No. X/MPR/1998 tentang pokok


pokok reformasi

2.

Ketetapan No. VII/MPR/1998 tentang pencabutan tap MPR tentang


Referendum.

15

3.

Tap MPR RI No. XI/MPR/1998 tentang penyelenggaraan negara


yang bebas dari KKN

4.

Tap MPR RI No. XIII/MPR/1998 tentang pembatasan masa jabatan


Presiden dan Wakil Presiden RI.

5.

Amandemen UUD 1945 sudah sampai aman demen I, II, III


Pelaksanaan demokrasi pada masa reformasi terdiri dari beberapa

periodisasi pemerintaham, antara lain:


1.

B.J. Habiebie
Kebijakan-kebijakan yang dilakukan Habiebie pada masa
pemerintahanya antara lain:
a) Membentuk kabinet reformasi pembangunan
Dibentuk pada tanggal 22 Mei 1998, dengan jumlah menteri 16
orang yang merupakan perwakilan dari GOLKAR, PPP, PDI
b) Mengadakan reformasi pada bidang politik.
Habiebie berusaha menciptakan politik yang transparan,
mengadakan pemilu yang bebas, jujur, dan adil, membebaskan
tahanan politik, dan mencabut larangan berdirinya Serikat Buruh
Independen
c) Kebebasan menyampaikan pendapat
Kebebasan menyampaikan pendapat diberikan asal tetap
berpedoman pada aturan yang ada yaitu UU No. 9 Tahun 1998
tentang kemerdekaan menyampaikan pendapat di muka umum.
d) Reformasi dalam bidang hukum
Target reformasinya yaitu subtansi hukum, aparator
penegak hukum, yang bersih dan berwibawa, dan instansi peradilan
yang independen.
e) Mengatasi masalah dwifungsi ABRI
Keanggotaan ABRI dalam DPR/ MPR dikurangi bahkan
pada akhirnya ditiadakan.
f) Mengadakan sidang istimewa pada tanggal 10-13 November 1998
oleh MPR
g) Mengadakan pemilu tahun 1999

16

Pelaksanaan pemilu dilakukan dengan asas LUBER


(langsung, umum, bersih) dan JURDIL (jujur dan adil)
2. Abdurrahman Wahid
Kebijakan-kebijakan yang ditempuh Abdurrahman Wahid antara lain :
a) Meneruskan

kehidupan

demokrasi

seperti

pemerintahan

sebelumnya (memberikan kebebasan berpendapat di kalangan


masyarakat minoritas, kebebasan beragama, memperbolehkan
kembali penyelenggaraan budaya Tionghoa).
b) Merestrukturisasi

lembaga

pemerintahan

seperti

menghapus

departemen yang dianggapnya tidak efisien (menghilangkan


departemen penerangan dan sosial untuk mengurangi pengeluaran
anggaran, membentuk Dewan Keamanan Ekonomi Nasional).
c) Ingin memanfaatkan jabatan sebagai Panglima tertinggi dalam
militer dengan mencopot Kapolri yang tidak sejalan dengan
keinginan Gusdur.
3. Megawati Soekarno Putri
Kebijakan-kebijakan yang ditempuhnya antara lain:
a) Meningkatkan kerukunan antar elemen bangsa dan menjaga
persatuan dan kesatuan.
b) Membangun tatanan politik yang baru, diwujudkan dengan
dikeluarkannya UU tentang pemilu, susunan dan kedudukan
MPR/DPR, dan pemilihan Presiden dan Wakil Presiden.
c) Menjaga keutuhan NKRI, setiap usaha yang mengancam keutuhan
NKRI ditindak tegas seperti kasus Aceh, Ambon, Papua, Poso.
d) Melanjutkan amandemen UU 1945, keluarnya UU tentang otonomi
daerah menimbulkan penafsiran yang berbeda tentang pelaksanaan
otonomi daerah. Oleh karena itu, pelurusan dilakukan dengan
pembinaan terhadap daerah.
4. Susilo Bambang Yudhoyono
Kebijakan-kebijakan yang ditempuh SBY antara lain:

17

a) Anggaran pendidikan ditingkatkan menjadi 20% dari keseluruhan


APBN.
b) Konversi minyak tanah ke gas.
c) Pembayaran utang secara bertahap kepada PBB.
d) Buy-back saham BUMN.
e) Pelayanan UKM (Usaha Kecil Menengah) bagi rakyat kecil.
f) Subsidi BBM.
g) Memudahkan investor asing untuk berinvestasi di Indonesia.
h) Sektor pariwisata Visit Indonesia 2008.
i) Pemberian bibit unggul pada petani.
j) Pemberantasan korupsi melalui dengan dibentuknya KPK (Komisi
Pemberantasan Korupsi).

Kesimpulan
Dari pembahasan diatas, dapat ditarik kesimpulan bahwa demokrasi
adalah bentuk pemerintahan yang berasal dari rakyat, dilakukan oleh rakyat, dan
dipergunakan untuk kepentingan rakyat. Demokrasi ada banyak macamnya,
diantaranya demokrasi yang ditainjau dari cara penyampaiannya diagi menjadi
tiga yaitu demokrasi langsung, demokrasi tak langsung dan demokrasi
perwakilan. Berdasarkan titik perhatian atau prioritasnya terdiri dari demokrasi
formal, demokrasi material, dan demokrasi campuran. Berdasarkan prinsip
ideologinya demokrasi terdiri dari demokrasi leberal dan demokrasi rakyat.
Demokrasi dapat memberi manfaat dalam kehidupan masyarakat yang
demokratis, yaitu Kesetaraan sebagai warga Negara, memenuhi kebutuhankebutuhan umum, pluralisme dan kompromi, menjamin hak-hak dasar, dan
pembaruan kehidupan social. Untuk menumbuhkan keyakinan akan baiknya
sistem demokrasi, maka harus ada pola perilaku yang menjadi tuntunan atau
norma nilai-nilai demokrasi yang diyakini masyarakat. Nilai-nilai dan demokrasi
membutuhkan hal-hal diantaranya kesadaran akan puralisme, sikap yang jujur dan
pikiran yang sehat. demokrasi membutuhkan kerjasama antarwarga masyarakat
dan sikap serta itikad baik, demokrasi membutuhkan sikap kedewasaan.
demokrasi membutuhkan pertimbangan moral. Pelaksanaan demokrasi di

18

Indonesia yang meliputi: pada masa orde lama, orde baru, masa reformasi yang
terdiri dari: Reformasi pada masa B.J. Habiebie, Megawati Soekarno Putri,
Abdurrahman Wahid/Gusdur, hingga presiden yang sekarang Susilo Bambang
Yudhoyono.

Daftar Pustaka
Abdulkarim, aim. 2000. Pendidikan Kewarnageraan. Grafindo: Jakarta

Betham, David. 2000. Demokrasi. Kanisius: Yogyakarta.


Budiardjo, Miriam. 1986. Dasar-dasar Ilmu Politik. Jakarta.
Burns, James McGregor. 1966. Goverment By the People. University of
california: USA.
Daji darmodihardjo. 1995. Santiaji Pancasila, Suatu tinjauan Filosofis, Historis,
Yudiris konstitusional. Gramedia Pustaka Utama: Jakarta.
Harris soche. 1985. Supremasi Hukum dan Prinsip Demokrasi di Indonesia. PT
Hanindita: Yogyakarta.
Kanil, CST. 1989. Tata Negara Edisi Kedua. Penerbit Erlangga: Jakarta.
Rahmat A, dkk.2000. Panduan Menguasai Tata Negara. Ganesha Exact:
Bandung.
Setiadi, Elly M. 2003. Pendidikan Pancasila untuk Perguruan Tinggi. Penerbit PT
Gramedia Pustaka Utama: Jakarta.
Suny Ismail. 1968. Mekanisme Demokrasi Pancasila. Lembaga Pembinaan
Hukum nasional: Jakarta.
Winataputra, Udin S. 2005. Demokrasi dan pendidikan Demokrasi, disampaikan
Pada Suscadorwas 2005. Dikti: Jakarta.

19