Anda di halaman 1dari 12

BAB II

ISI
HUBUNGAN STRUKTUR SIFAT KIMIA FISIKA DAN AKTIFITAS
BIOLOGIS OBAT

II.1 Ionisasi dan aktivitas biologis


Ionisasi sangat penting dalam hubungannya dengan proses penembusan obat ke dalam
membrane biologis dan interaksi obat-reseptor. Untuk dapat menimbulkan aktivitas biologis,
pada umamnya obat dalam bentuk tidak terionisasi, tetapi ada pula yang aktif adalah bentuk
ionnya.
1. Obat yang Aktif dalam Bentuk Tidak Terionisasi
Sebagian besar obat yang bersifat asam atau basa lemah, bentuk tidak terionisasi dapat
memberikan efek biologis. Hal ini dimungkinkan bila kerja obat terjadi di membrane sel atau
di dalam sel.
Contoh :
Fenobarbital, turunan asam barbiturate yang bersifat asam lemah, bentuk tidak terionisasi
dapat menembus sawar darah otak dan menimbulkan efek penekan fungsi system saraf pusat
dan pernapasan.
Obat modern sebagaian besar bersifat elektrolit lemah, yaitu asam atau basa lemah,
dan derajat ionisasi atau bentuk ionisasi dan tidak terionisasinya ditentukan oleh nilai pKa
dan suasana pH lingkungan. Hubungan antara pKa dengan fraksi obat terionisasi dan yang
tidak terionisasi dari obat yang bersifat asam dan basa lemah, dinyatakan melalui persamaan
Henderson-Hasselbach sebagai berikut :

Persen perhitungan ionisasi fenobarbital (pKa = 7,4) pada berbagai macam pH dapat dilihat
pada Tabel 20.
Perubahan pH dapat berpengaruh terhadap sifat kelarutan dan koefisien partisi obat.
Garam dari asam atau basa lemah, bentuk tidak terionisasinya mudah diabsorpsi oleh saluran
cerna, dan aktivitas biologis sesuai dengan kadar obat bebas yang terdapat dalam cairan
tubuh.
Pada obat yang bersifat asam lemah, dengan meningkatnya pH, sifat ionisasi
bertambah besar, bentuk tak terionisasi bertambah kecil, sehingga jumlah obat yang
menembus membrane biologis semakin kecil. Akibatnya, kemungkinan obat untuk
berinteraksi dengan reseptor semakin rendah dan aktivitas biologisnya semakin menurun.

Tabel
Persen perhitungan bentuk terionisasi dan tak terionisasi fenobarbital pada berbagai pH

20.

Pada obat yang bersifat basa lemah, dengan meningkatnya pH, sifat ionisasi
bertambah kecil, bentuk tak terionisasinya semakin besar, sehingga jumlah obat yang
menembus membrane biologis bertambah besar pula. Akibatnya, kemungkinan obat untuk
berinteraksi dengan reseptor bertambah besar dan aktivitas biologisnya semakin meningkat.
Hubungan perubahan pH dengan aktivitas biologis senyawa yang bersifat asam dan basa
lemah dapat dilihat pada gambar 37.
Asam aromatic lemah, seperti asam benzoate, asam salisilat dan asam mandelat,
aktivitas antibakterinya bertambah besar bila dalam media asam. Pada pH=3, aktivitas
antibakteri asam benzoate 100 kali lebih besar disbanding aktivitasnya pada suasana netral.
Fenol, suatu asam lemah, memberikan gambaran hubungan perubahanpH dengan
aktivitas biologis yang berbeda.pada pH lebih kecil 4,5 aktivitas antibakterinya akan semakin
meningkat, tetapi bila pH dinaikan lebih besar 4,5 aktivitasnya akan menurun. Hal ini terjadi

sampai pada pH=10. Pada pH lebih besar 10, aktivitasnya akan meningkat lagi karena fenol
teroksidasi menjadi bentuk kuinon, yang juga mempunyai aktivitas antibakteri cukup besar.
Sedikit perubahan struktur dapat menyebabkan perubahan yang bermakna dari sifat
ionisasi asam atau basa, dan hal ini akan mempengaruhi aktivitas biologis obat.

Gambar 37. Hubungan pH dengan aktivitas biologis asam dan basa lemah.

Contoh :
Golongan 5,5-disubstitusi dari turunan asam barbiturate mempunyai nilai pKa 7-8,5
contoh : asam 5,5-dietilbarbiturat (fenobarbital) mempunyai nilai pKa= 7,4 . pada pH
fisiologis, lebih dari 50% fenobartial terdapat dalam bentuk tidak terionisasi, sehingga
dengan mudah menembus jaringan lemak dan menunjukan aktivitas sebagai penekan system
saraf pusat.
Sifat keasaman turunan barbiturate ditentukan oleh bentuk tautomeri keto-enol dan
laktim-laktam. Golongan 5-substitusi barbiturat, bersifat lebih asam, contoh : asam 5etilbarbiturat, mempunyai nilai pKa = 4,4 , pada pH fisiologis mudah terionisasi (99,9%),
sehingga kurang efektif dalam menembus sawar membrane lipofil system saraf pusat, dan
tidak dapat menimbulkan efek penekan system saraf pusat. Proses ionisasi dari 5-substitusi
dan 5,5-disubstitusi barbiturate dapat dilihat pada gambar 38.
Perubahan pH juga berpengaruh terhadap kereaktifan gugus asam atau basa pada
permukaan sel atau dalam sel mikroorganisme. Pada titik isoelektrik, kation dan anion
potensial molekul protein sel, missal gugus amino dan karboksilat pada alanin, selalu terdapat

dalam bentuk ion Zwitter. Dengan meningkatnya pH atau meningkatkan aktivitas obat yang
bersifat kation aktif. Sebaliknya, dengan menurunkan pH atau bertambah asam media, kadar
kation sel akan menjadi lebih besar, sehingga meningkatkan afinitas obat anion aktif.

Gambar 38. Proses ionisasi dari 5-substitusi dan 5,5-disubstitusi barbiturat.

Contoh :
Alanin

2. Obat yang aktif dalam bentuk ion


Beberapa senyawa obat menunjukkan aktivitas biologis yang makin meningkat bila
derajat ionisasinya meningkat. Seperti diketahui dalam bentuk ion senyawa obat umumnya
sulit menembus membran biologis, sehingga diduga senyawa obat dengan tipe ini
memberikan efekbiologisnya diluar sel.
Bell dan Roblin (1942), memberikan postulat bahwa aktivitas antibakteri
sulfonamide mencapai maksimum bila mempunyai nilai pKa 6-8. Pada pKa tersebut

sulfonamide terionisasi kurang lebih 50%. Pada pKa 3-5, sulfonamide terionisasi sempurna,
dan bentuk ionisasi ini tidak dapat menembus membrane sehingga aktivitas antibakterinya
rendah. Bila kadar bentuk ion kurang lebih sama dengan kadar bentuk molekul (pKa 6-8),
aktivitas antibakterinya akan maksimal. Pada pKa 9-11, penurunan pKa meningkatkan
jumlah sulfonamide yang terionisasi, jumlah senyawa yang menembus membrane kecil,
sehingga aktivitas antibakterinya rendah.

Hubungan antara aktivitas antibakteri turunan sulfonamide dengan nilai pKa dapat dilihat
pada Gambar 10.
Hubungan antara aktivitas antibakteri terhadap ensherichia coli (pada pH = 7) dan
nilai pKa dari turunan sulfonamida. Menurut Cowles (1942) , sulfonamide menembus
membrane sel bakteri dalam bentuk tidak terionisasinya, dan sesudah mencapai reseptor yang
bekerja adalah benyuk ion. Contoh obat yang aktif dalam bentuk ion antara lain adalah
turunan akridin dan turunan ammonium kuarterner.

II. 2 Pembentukan kelat dan aktivitas biologis


Kelat adalah senyawa yang dihasilkan oleh kombinasi senyawa yang mengandung
gugus elektron donor drngan ion logam, membentuk suatu struktur cincin. Gugus-gugus
kimia yang dapat membentuk kelat antara lain adalah gugus amin primer, sekunder dan
tersier, oksim, imin, imin tersubstitusi, tioter, keto, tioketo, hidroksil, tioalkohol, karboksilat,
fosfat dan sulfonat. Sebagai contoh adalah pembentukan kelat antara etilendiamin tetrasetat
(ETDA) dengan ion Ca++ (gambar 39).
Ligan adalah senyawa yang dapat membentuk struktur cincin dengan ion logam
karena mengandung atom yang bersifat elektron donor, seperti N, S, dam O. atruktur cincin
yang umum terdapat dan cukup stabil adalah struktur cincin dengan jumlah atom 5 dan 6.
Dalam system biologis banyak terdapat ligan-ligan yang dapat membentuk kelat dengan ion
logam. Contoh ligan dalam system biologis :
1. asam amino protein, seperti glisin, sistein, histidin, histamine dan asam glutamate

2. vitamin, seperti riboflavin dan asam folat


3. basa purin, seperti hipoxantin dan guanosin
4. asam trikarboksilat, seperti asam laktat dan asam sitrat.
Logam yang berperan dalam system biologis adalah Fe, Mg, Cu, Mn, Co dan Zn.

Contoh kelat dalam system biologis :


1. Kelat yang mengandung logam Fe
Contoh :
a. enzim forfirin, seperti katalase, peroksidase dan sitokrom
b. enzim non forfirin, seperti akonitase, aldolase dan feritin
c. molekul transfer oksigen, seperti hemoglobin dan mioglobin
2. Kelat yang mengandung logam Cu
Contoh : Enzim oksidase, seperti asam askorbat oksidase, tirosinase, polifenol oksidase,
lakase dan sitokrom oksidase
3. Kelat yang mengandung Logam Mg
Contoh : beberapa enzim proteolitik, fosfatase dan karboksilase
4. Kelat yang mengandung Logam Mn
Contoh : oksaloasetat dekarboksilase, arginase dan prolidase
5. Kelat yang mengandung Logam Zn
Contoh : insulin, karbonik anhidrase dan laktat dehidrogenase
6. Kelat yang mengandung Logam Co
Contoh : vitamin B12 dan enzim karboksi peptidase
Ligan mempunyai afinitas yang besar terhadap ion logam, sehingga dapat menurunkan kadar
ion logam yang toksis dalam jaringan dengan membentuk kelat yang mudah larut dan
kemudian diekskresikan melalui ginjal. Penggunaan ligan dalam bidang farmokologi antara
lain adalah :
a. membunuh mikroorganisme parasit, dengan cara membentuk kelat dengan logam esensial
yang diperlukan untuk pertumbuhan sel (aksi bakterisida, fungisida dan virisida).
b. untuk menghilangkan logam yang tidak diinginkan atau yang membahayakan organism
hidup ( antidotum keracunan logam ).
c. untuk studi fungsi logam dan metaloenzim pada media biologis.

Contoh ligan :

1. Dimerkaprol ( British Anti-Lewisite = BAL )


Dimerkaprol mengandung gugus sulfhidril (SH), yang dapat berinteraksi dengan arsen
organic (lewisite), membentuk kelat yang mudah larut. Senyawa ini spesifik untuk antidotum
keracunan arsen organic, logam Sb, Au dan Hg. Reaksi pembentukan kelat dimerkaprol
dengan arsen organic dapat dilihat pada gambar 40.

2. (+) Penisilamin
Penisilamin adalah senyawa hasil hidrolisis penisilin dalam suasana asam, yang
digunakan untuk antidotum keracunan logam Cu, Au dan Pb. Penisilamin juga digunakan
untuk pengobatan penyakit Wilson , suatu penyakit keturunan yang disebabkan oleh
meningkatnya kadar ion Cu membentuk kelat yang mudah larut dan kemudian diekresikan.
Reaksi pembentukan kalet penisilamin dengan iom Co++ dapat dilihat pada Gambar 41.
3. Oksin (8-hidroksikuinolin)
Albert dan kawan-kawan telah meneliti hubungan struktur dan aktivitas antibakteri
dari 7 isomer mono-hidroksikuinolin dan mendapatkan bahwa hanya isomer 8hidroksikuinolin yang aktif sebagai antibakteri. Mula-mula di duga bahwa mekanisme aksi
antibakterinya berhubungan dengan kemampuan membentuk kelat dengan logam-logam
esensial yang diperlukan untuk metabolisme dan pertumbuhan bakteri. Hal ini berdasarkan
hasil penelitian tentang hubungan struktur dan aktivitas turunan oksin, yang dijelaskan
sebagai berikut :
a. 8-Metoksikuinolin dan oksin metoklorida tidak dapat membentuk kelat sehingga tidak
mempunyai efek antibakteri.
b. substitusi gugus 8-OH dengan gugus merkapto (SH memberikan sifat ligan yang aktif
sehingga aktif pula sebagai antibakteri).
c. substitusi gugus metal pada posisi 2 menghasilkan ligan yang aktif secara in vitro tetapi
relative tidak aktif sebagai antibakteri. Hal ini disebabkan gugus metal menimbulkan efek
gangguan sterik dan menurunkan penetrasi senyawa ke dalam sel bakteri, sehingga interaksi
dengan reseptor sel menurun.
d. substitusi pada posisi 5 dengan gugus sangat polar, missal SO3H1, tidak mengubah
kemampuan pembentukan kelat tetapi aktivitas antibakterinya akan hilang karena senyawa
tidak mampu menembus dinding sel bakteri.
Dari data hubungan struktur-aktivitas di atas dapat disimpulkan bahwa terhadap aktivitas
antibakteri turunan oksin. Turunan oksin yang aktif sebagai antibakteri antara lain adalah 7kloroksin,5,7-diiodooksin (iodokuinol), 5-klor-7-iodooksin (vioform), 4-azaoksin, 4hidroksiakridin,5,6-benzooksin dan 6-hidroksi-m-fenantrolin.

Penelitian lebih lanjut menunjukan bahwa turunan oksin dapat berfungsi sebagai
antibakteri karena mempunyai kemampuan membentuk kelat dengan ion-ion logam Fe dan

Cu. Kelat logam-oksin tersebut mengatalisis oksidasi gugus tiol asam tiositat, suatu koenzim
esensial yang diperlukan oleh bakteri untuk proses oksidatif dekarboksilasi asam piruvat. Bila
tidak ada ion logam, oksin tidak bersifat toksik terhadap mikroorganisme. Oksin (0,01 M)
dapat menghambat pertumbuhan Staphylococcus aureus yang dibiakan pada media daging.
Bila disuspensikan pada air suling tidak menunjukan efek antibakteri. Hal ini disebabkan
media daging mengandung ion Fe, tang dapat membentuk kelat tidak jenuh dengan oksin (1:1
dan 2:1), dan aktif sebagai antibakteri. Bila kadar oksin dinaikan menjadi 0,125 M, efek
antibakterinya akan hilang karena terbentuk kelat jenuh (1:3). Bila ditambahkan ion Fe 0,125
M, keseimbangan akan bergeser, terbentuk kelat tidak jenuh lagi, yang aktif sebagai
antibakteri.
Di duga bahwa tempat kerja turunan oksin terdapat di dalam dinding sel dan pada
membrane sitoplasma bakteri. Bila tempat kerja ada dalam sel, diduga bahwa yang mampu
menembus dinding sel adalah bentuk kelat jenuh (1:3), di dalam sel kelat tersebut akan pecah
menjadi bentuk kelat tidak jenah ( 1:2) dan (1:1),yang aktif sebagai antibakteri.
4. Isoniazid, tiasetazon dan etambutol
Isoniazid, tiasetazon dan etambutol (obat antituberkulosis), dapat berinteraksi dengan
ion Cu++ serum, membentuk kelat yang mudah larut dalam lemak, sehingga mudah
menembus dinding sel Mycobbacterium tuverculosis. Reaksi pembentukan kelat isoniazid
dengan ion logam Cu++.
5. Tetrasiklin
Tetrasiklin, antibiotic dengan spectrum luas, mengandung gugus-gugus hidroksil (C3)
yang bersifat asam dan amin tersier (C4) yang bersifat basa, dapat membentuk kelat dengan
ion Mg++ membrane sel bakteri. Peningkatkan sifat lipofilik dari kelat memudahkan
penembusan kelat ke dalam membrane sel bakteri dan menyebabkan gangguan sintesis
protein di ribosom . Gugus hidroksil fenol, keton dan hidroksil pada atom C10, C11 dan C12
di duga juga ikut terlibat dalam proses pembentukan kelat. Tetrasiklin juga dapat membentuk
kelat dengan logam-logam laim, sehingga aktivitasnya akan menurun bila diberikan bersama
sama dengan dengan susu yang mengandung Ca++, antasida yang mengandung ion Ca, Mg
dan Al , atau sediaan yang mengandung Fe.
Tetrasiklin dapat menyebabkan gigi bewarna kuning terutama pada anak di bawah
usia 8 tahun, karena membentuk kelat dengan ion Ca ++ pada struktur gigi. Beberapa kelat
dapat digunakan untuk pengobatan penyakit tertentu.

Contoh :
1. sisplatin
Sispatin, cis-dikloroetilendiaminplatimum (II), adalah senyawa kompleks turunan Pt
yang digunakan sebagai obat antikanker. Isomer trans tidak menunjukan aktivitas.
Mekanisme kerjanya dengan membentuk ligan reaktif, kemudian Pt membentuk crosslink
diantara atom N dari dua guanosin AND, sehingga terjadi hambatan sintesis ADN sel kanker.
Sisplatin mempunyai kelarutan dalam air sangat kecil, sehingga tramsportasi ke jaringan
tumor relative, oleh karena itu kemudian dikembangakan turunanannya karboplatin (cis -1,1dikarboksisiklobutan-diaminplatinum) yang menunjukan keefektifan sama dengan sisplatin,
dengan distribusi ke jaringan tumor yang lebih baik.
2. kompleks Tembaga
Kompleks tembaga dengan massa molekul yang rendah banyak diganukan untuk
pengobatan penyakit rematik artitis dan antiradang. Contoh : Kupralen, alkuprin dan
dikuprin. Kompleks Cu di atas sebagai antiradang mempunyai efek yang menguntungkan
yaitu tidak menyebabkan iritasi saluran cerna, seperti yang ditimbulakan oleh obat-obat

antiradang turunan asam pada umumnya, seperti turunan salisilat, N-arilantranilat, arilasetat
dan turunan oksikam.
Mekanisme kerja antiradang dan anti rematik arthritis dari kompleks Cu belum
diketahui secara jelas, tetapi hasil penelitian menunjukan bahwa obat-obat tersebut dapat
mengganggu keseimbangan prostaglandin, mempengaruhi aktivitas lisil oksidase dan
mekanisme radikal bebas yang melibatkan dismutase superoksida.
Ligan-ligan yang digunakan untuk antidotum keracunan logam berat atau untuk
pengobatan yang lain, dapat menimbulakan toksisitas cukup besar, karena mengikat logam
lain yang justru diperlukan untuk fungsi fisiologis normal. Oleh karena itu penggunaan ligan
harus dipilih dipilih seselektif mungkin.
Contoh :
1. Tiasetazon, difenilditiokarbazon, oksin dan aloksan, dapat menimbulkan awal penyakit
diabetes mellitus, karena obat-obat tersebut membentuk kelat dengan Zn pada sel pakreas
sehingga menghambat produksi insulin.
2. Hidralazin (apresolin), obat penurun tekanan darah, menimbulkan efek samping anemia
karena dapat membentuk kelat dengan Fe darah.
3. Dimerkaprol dan Isoniazid , cenderung menimbulkan efek seperti histamine, diduga karena
membentuk kelat dengan logam Cu yang berfungsi sebagai katalisator enzim perusak
histamine (histaminase).

II.3 Potensial Redoks dan Aktifitas Biologis


Potensial redoks adalah ukuran kuantitatif kecenderungan senyawa untuk memberi
dan menerima elektron. Hubungan kadar aksidator dan reduktor ditujukkan oleh persamaan
Nernst sebgai berikut :
Eh = Eo 0,06/n x log (oksidator)/(reduktor)
Keterangan :
Eh = potensial redoks yang diukur
Eo = potensial redoks baku
n = jumlah elektron yang berpindah.
0,06 = tetapan termodinamika pemindahan 1 elektron (300c)
Reaksi redoks adalah pemindahan elektron dari satu atom ke atom molekul yang lain.
Tiap reaksi pada pada organisme hidup terjadi pada potensial redoks optimum, dengan
kisaran yang bervariasi, sehingga diperkirakan bahwa potensianredoks senyawa tertentu
berhubungan dengan aktivitas biologisnya.
Pengaruh potensial redoks tidak dapat diamati secara langsung karena hanya berlaku
untuk sistem keseimbangan ion tunggal yang bersifat reversibel, sedang reaksi pada sel hidup
merupakan reaksi yang serentak, termasuk oksidasi ion dan non ion, ada yang bersifat
ireversibel. Hubungan potensial redoks dengan aktivitas biologis secara umumhanya terjadi
pada senywa dengan struktur dan sifat yang hampir sama. Pada sistem interaksi obat secara
redoks, pengaruh sistem distrubusi dan faktor sterik sangat kecil.
Contoh:
Turunan kuinon, menunjukkan aktivitas antibakteri terhadap staphylococcus aureus pada E0
antara (-) 0,10 sampai (+) 0,15 V, dan aktivitas maksimum dicapai pada Eo =(+) 0,03 V.
Ribovlafin, riboflavin adalah koenzim faktor vitamin; aktivitas biologisnya berdasar pada
kemampuan untuk menerima elektron sehingga tereduksi menjadi bentuk dihidronya. Reaksi
ini terjadi pada Eo = (-) 0,185 V.

II.4 aktivitas permukaan dan aktivitas biologis

1.

2.

3.

4.

a.
b.

Surfaktan adalah suatu senyawa yang karena orientasinya dan pengaturan molekul
pada permukaaan larutan, dapat menurunkan tegangan permukaan. Struktur surfaktan terdiri
dari dua bagian yang berbeda, yaitu bagian yang bersifat hidrofilik atau polar dan bagian
lipofilik atau non polar, segingga dikatakan surfaktan bersifat ampifilik.
Bila surfaktan dimasukkan ke air maka pada permukaan akan teratur sedemikian rupa
sehingga bagian non polar, misal rantai hidrokarbon, berorientasi ke fasa uap, sedang bagian
polar, misal gugus-gugus COOH, OH, NH2 dan NO2 berorientasi ke fsa air.
Contoh :
Asam oleat (C18H36COOH), bila dimasukan ke air dapat membentuk lapisan monomolekul.
Rantai ranti hidrokarbon cenderung tegaklurus dalam permukaan, sedang gugus COOH
mengarah ke fase air. Bila kemugkinan ditambahkan minyak, rantai hidrokarbon akan
berorientasi ke fasa minyak sedang gugus COOH tetap kontak dengan air.
Asam oleat cenderung membentuk perubahan dari fasa non polar ke fasa polar secara
perlahan-lahan sehingga energi bebas pada permukaan menjadi lebih kecil. Aktivitas
permukaan surfaktan ditentukan oleh keseimbangan gugus hidrofil dan lipofil Berdasarkan
sifat gugus yang dikandungnya, surfaktan dibagi menjadi empat kelopok :
Surfaktan anionik
Surfaktan anionik mengandung gugus hidrofil yang bermuatan negatif, dan dapat berupa
gugus karboksil, sulfat, sulfonat atau fosfat.
Contoh : sabun K, sabun Na, natrium stearat, natrium laurisulfat dan natrium laurisulfoasetat.
Surfaktan kationik
Surfaktan kationik mengandung gugus hidrofil yang bermuatan positif, dan dapat berupa
gugus amonium kuarterner, biguanidin, sulfonium, fosfonium dan iodonium.
Contoh : turunan amonium kuarterner, seperti setilpiridinium klorida, benzoonium klorida,
benzalkonium klorida dan setavlon, serta turunan biguanidin, seperti heksaklorofen.
Surfaktan non ionik
Surfaktan ini tidak terionisasi dan mengandung gugus-gugus hidrofil dan lipofil yang lemah
sehingga larut atau dapat terdispersi dalam air, biasanya adalah gugus polioksietilen eter dan
poliester alkohol.
contoh : polisorbat 80, span 80 dan gliserilmonostearat,
Surfaktan omfoterik
Surfaktan amfoterik mengandung dua gugs hidrofil yang bermuatan positif (kationik) dan
negatif (anionik).
Contoh : N-lauril--aminopropionat dan miranol.
Surfaktan juga mempengaruhi absorpsi obat. Aktivitas surfaktan terhadap absorpsi obat
tergantung pada :
Kadar surfaktan
Struktur kimia surfaktan

c. Efek surfaktan terhadap membran biologis


d. Efek farmakologis surfaktan
e. Adanya interaksi surfaktan dengan bahan-bahan pembawa atau bahan obat.
Surfaktan pada umumnya tidsk berguna secar invivo karena mudah diabsorpsi oleh protein
dan menyebabkan ketidakteraturan membran sel serta hemolisis sel darah merah. Syrfaktan
hanya terbatas untuk pemakaian setempat yaitu untuk disinfektan kulit dan sterilitsasi alatalat.