Anda di halaman 1dari 9

I.

JUDUL
Simulasi Persilangan Monohibrid

II.

TUJUAN
Kegiatan praktikum ini bertujuan untuk :
1. Mengetahui pola pewarisan menurut Mendel.
2. Mengetahui konsep persilangan monohybrid
3. Membuktikan adanya prinsip segegrasi secara bebas menurut Mendel
4. Membuktikan perbandingan mendel pada F2 persilangan monohibrida yaitu
perbandingan genotif 1:2:1 dan perbandingan fenotip 3:1
5. Dapat ,menggunakan uji Chi-Square (khi-kuadrat) dalam analisis genetika
Mendel

III.

LATAR BELAKANG
Ilmuwan pertama yang membukttikan proses penurunan sifat genetic dengan
percobaan perkawinan silang adalag Gregor Mendel (1882-1884), seorang rahib Austria
yang hidup di kota Brunn. Percobaan-percobaan kawin silang (hibridisasi) yang
dilakukan oleh Mendel merupakan contoh yang baik untuk penelitian ilmiah memilih
tanaman percobaan yang mudah dikendalikan, merancang percobaannya dengan
seksama, menganalisis data secara matematis untuk menguji kebenaran hipotesisnya.
Mendel memilih tanaman ercis (Pisum sativum, L) sebagai tanaman
percobaannya dengan alasan :
Mempunyai daur hidup yang relative pendek (tanaman semusim)
Memiliki sifat-sifat yang bervariasi, yaitu :
a. Bentuk biji : bulat dan kisut
b. Warna biji : kuning dan hijau
c. Warna bunga : ungu dan putih
d. Bentuk polong : gembung dan kempis
e. Warna polong : hijau dan kuning
f. Kedudukan bunga : axial dan terminal
g. Tinggi tanaman : tinggi dan pendek
Memiliki bunga sempurna, artinya pada satu bunga terdapat benang sari dan putik
sehingga mudah terjadi penyerbukan sendiri maupun penyerbukan silang
Mudah dipelihara dan menghasilkan banayak keturunan, meskipun dipelihara
ditempat yang relative sempit
Sebelum Mendel melakukan penyilangan terlebih dahulu varietas-varietas
tersebut dijadikan galur murni, artinya tanaman tersebut dikembangbiakan sampai
beberapa generasi dengan cara penyerbukan silang yangakhirnya diperoleh generasi
yang mempunyai sifat yang sama dengan induknya. Dalam percobaan-percobaannya
selalu menggunakan galur murni.
Mendel menyilang tanaman yang bijinya berwarna kuning dengan tanaman yang
bijinya berwarna hijau. Kedua tanaman ini merupakan induk yang disebut parental (P).
dari persilangan ini menghasilkan turunan atau generasi pertama, yang disebut filial
pertama (F1), yang dalam persilanagan ini semuanya berbiji warna kuning. Sifat yang
Nampak (kuning) disebut sifat dominan, sedang sifat yang tidakk tampak atau ditutupi
(hijau) disebut sifat resesif.
Selanjutnya biji F1 dibiakkan dan melalui penyerbukan sendiri menghasilkan
turunan F2, yang terdiri dari bagian biji berwarna kuning dan bagian biji berwarna
hijau. Apabila biji kuning F2 dibiakkan dengan penyerbukan sendiri maka menghasilkan
1/3 bagian tanaman semuanya berbiji kuning, sedang 2/3 lainnya menghasilkan biji
kuning dan biji hijau dengan perandingan 3:1. Untuk biji hijau F2 semuanya
menghasilkan tanaman yang berbiji hijau. Dengan demikian maka biji kuning pada F2
sebagian bersifat murni (1/3 bagian) dan 2/3 bagian kuning tidak murni. Sedang biji hijau
pada F2 semuanya hijau murni. Dari gambaran ini dapat disimpulkan bahwa

perbandingan pada F2 yang sebenarnya adalah 1:2:1, atau bagian kuning murn, 2/4
bagian kuning tidak murni dan bagian hijau murni.
Persilangan-persilangan dengan sifat beda lainnya senantiasa menunjukkan pola
dan hasil-hasil yang sama seperti table dibawah ini :
NO

FENOTIP INDUK

FENOTIP F1

FENOTIP F2

RATIO F2

Biji bulat x kisut

Semua bulat

5474 bulat :
1850 kisut

2,95 : 1

Biji kuning x hijau

Semua kuning

6022 kuning :
2001 hijau

3,01 : 1

Bunga ungu x putih

Semua ungu

705 ungu : 224


putih

3,15 : 1

Polong gembung x kempis

Semua
gembung

882 gembung :
299 kempis

2,95 : 1

Polong hijau x kuning

Semua hijau

428 hijau : 152


kuning

2,82 : 1

Bunga axial x kuning

Semua axial

851 axial : 207


terminal

3,14 : 1

Tanaman tinggi x pendek

Semua tinggi

787 tinggi : 277


pendek

2,84 : 1

Dalam persilangan dengan sifat beda lainnya senantiasa menunjukkan pola dan
hasil-hasil yang sama seperti percobaan di atas.
Dari hasil-hasil persilangan ini Mendel menarik kesimpulan bahwa :
1. Pada setiap individu terdapat unit sifat yang selalu menurun, yang sekarang ini
disebut gen
2. Tiap sifat dari organisme hidup dikendalikan oleh sepasang factor keturunan (gen)
yang menentukan pernyataan suatu sifat. Tanaman F1 mempunyai satu gen yang
pernyatannya (fenotipnya) dominan sedang gen yang satu pernyataannya resesif
yang akan muncul kembali pada generasi berikut, gen ini disebut gen resesif.
Fenotip adalah sifat Nampak sebagai hasil pernyataan genotip setelah dipengaruhi
oleh lingkungan, seperti sifat biji kuning pada F1 dari contoh di atas, sedang genotip
adalah sifat gen itu sendiri yang tidak tampak, seperti pada F1 tadi yang terdiri dari
satu gen dominan (kuning) dan satu gen resesif (hijau)
3. Dalam pembentukan sel kelamin (gamet) setiap anggota dari sepasang gen
dipisahkan ke gamet-gamet dengan peluang yang sama
4. Sebagai akibat dari pemisahan trsebut maka setiap gamet hanya mengandung satu
anggota dari pasangan gen
5. Persatuan gamet jantan dan betina dalam fertilisasi berlaku secara acak
membentuk zigot yang kemudian membentuk individu baru
Untuk menjelaskan kelima hal tersebut di atas dapat dilukiskan dengan skema seperti di
bawah ini.
P:

YY

><

(Biji kuning)
F1:

yy

Mm
(Biji kuning)

(Biji hijau)

F1>< F1:

Yy
(Biji kuning)

G:

><

Yy
(Biji kuning)

Y,y

Y,y

F2 (F1>< F1) :
Fenotif (genotif)

Kuning (Y)

Hijau (y)

Kuning (Y)

YY

Yy

Hijau (y)

Yy

yy

Gen biasanya disimbolkan dengan huruf awal dari sifat yang bersangkutan. Warna
kuning atau yellow yang sifat dominannya disimbolkan dengan huruf Y, sedang pasangannya
yang resesif disimbolkan dengan huruf y, yitu pembawa sifat warna hijau.
Cara menhitung hasil perkawinan dari berbagai gamet digunakan kotak perkawinan
yang disebut Punnet Square atau papan catur. Untuk lebih memperjelas lagi pembuktian
Mendel, maka dilakukan pengujian dengan menyilang F1 kuning dengan induk yang hijau
(resesif) dan mendapat turunan sejumlah 58 niji kuning dan 52 biji hijau, yang mendekati ratio
1:1. Cara pengujian seperti ini disebut uji silang atau test cross. Hasil pengujian ini lebih
mempertegas lagi bahwa pemisah gen Y dan y dari F1 mempunyai peluang yang sama.
Konsep inilah yang disebut hukum pemisahan atau segregation yang kemudian dikenal dengan
Hukum Mendel 1. (Rondonuwu, 1989;11-17)
Pada praktikum ini akan dilakukan persilangan monohybrid yaitu bunga mawar merah
dengan genotip MM dan bunga mawar putih dengan genotip mm.
IV. PERMASALAHAN
Rumusan masalah yang dapat kami ambil dari latar belakang di atas adalah sebagai
berikut:
1. Bagaimana pola pewarisan sifat menurut Hukum Mendel I?
2. Apakah yang dimaksud dengan persilangan monohybrid?
3. Bagaimana cara membuktikan adanya prinsip segegrasi secara bebas menurut
Mendel?
4. Bagaimana cara membuktikan perbandingan mendel pada F2 persilangan
monohibrida yaitu perbandingan genotif 1:2:1 dan perbandingan fenotip 3:1?
5. Bagaimana cara menggunakan uji chi-Square (khi-kuadrat) dalam analisis genetika
Mendel?
V. METODE
a. Alat dan bahan :
50 buah kancing berwarna merah
50 buah kancing berwarna putih
Alat tulis
Buku tulis
b. Cara kerja
Mengambil kancing genetika berwarna merah dan putih masing-masing 50 buah.
Kancing merah mewakili bunga mawar merah sedangkan kancing putih mewakili
bunga mawar putih
Pisahkan 25 buah kancing berwarna merah dan 25 buah kancing berwarna putih.
Memasukkan kencing kedalam 2 kantong masing-masing 25 buah kancing
berwarna merah dan 25 kancing berwarna putih.
Ambil secara bersamaan kancing dari setiap kantong satu persatu.

Menghitung frekuensi keluarnya kancing merah-merah, merah-putih, dan putihputih.


Mengulangi poin 2 s.d. 5 sebanyak dua kali.
Menambahkan hasil percobaan pertama dan kedua.
Menganalisis hasil percobaan menggunakan uji khi-kuadrat
VI.

HASIL DAN PEMBAHASAN


A. HASIL PENGAMATAN
DATA KELOMPOK
KOMBINASI
KANCING
(KOMBINASI GEN)
Merah-Merah (MM)
Merah-Putih (Mm)
Putih-Putih (mm)

FENOTIP
Merah
Merah
Putih

FREKUENSI

JUMLAH

14
22
14

13
24
13

27
46
27

Uji Chi Square data kelompok


Genotip

fo

fh

fo-fh

(fo-fh)2

Homozigot
dominan

27

25

=0,16

Heterozigot

46

50

-4

16

=0,32

Homozigot
resesif

27

25

=0,16

X2=

0,64
= 5,99

2 tabel

Derajat kebebasan = n-1= 3-1=2


Ho = Percobaan sesuai dengan Hukum Mendel I
Ha = Percobaan tidak sesuai dengan Hukum Mendel I
X2 tabel maka Ho diterima dan Ha ditolak.
Kesimpulan : Percobaan sesuai dengan Hukum Mendel I.

DATA KELAS

No

Homozigot (MM)

1
2
3
4
5
6

28
26
24
28
27
27

Heterozigot
(Mm)
44
48
52
46
47
46

Resesif
(mm)
28
26
24
26
26
27

Perbandingan
Genotip
1:1,57:1
1:1,8:1
1:2,17:1
1,07:1,64:1
1,03:1,8:1
1:1,7;1

Perbandingan
Fenotip
2,57:1
2,8:1
3,17:1
2,84:1
2,83:1
2,7:1

7
8
9
10

19
27
25
22

67
46
50
56

19
27
25
22

1:3,5:1
1:1,7:1
1:2:1
1:2,54:1

4,5:1
2,7:1
3:1
3,54:1

Uji Chi Square data kelas


Genotip

fo

fh

fo-fh

(fo-fh)2

Homozigot
dominan

253

250

Heterozigot

497

500

-3

Homozigot
resesif

250

250

X2=
0,036
0,018
0

0,054
= 5,99

2 tabel

Derajat kebebasan = n-1= 3-1=2


Ho = Percobaan sesuai dengan Hukum Mendel I
Ha = Percobaan tidak sesuai dengan Hukum Mendel I
X2 tabel maka Ho diterima dan Ha ditolak.
Kesimpulan : Percobaan sesuai dengan Hukum Mendel I.
B. PEMBAHASAN
Persilangan monohibrid adalah persilangan antara dua individu sejenis yang
hanya memperhatikan satu sifat beda.
Hukum Mendel I dikenal juga dengan Hukum Segregasi menyatakan: pada
pembentukan gamet kedua gen yang merupakan pasangan akan dipisahkan dalam
dua sel anak. Hukum ini berlaku untuk persilangan monohibrid (persilangan dengan
satu sifat beda).
Hukum Mendel I diperoleh dari hasil perkawinan monohibrid, yaitu persilangan
dengan satu sifat beda. Contoh dari terapan Hukum Mendel I adalah persilangan
monohibrid dengan dominansi. Persilangan dengan dominansi adalah persilangan
suatu sifat beda dimana satu sifat lebih kuat daripada sifat yang lain. Sifat yang kuat
disebut sifat dominan dan bersifat menutupi, sedangkan yang lemah/tertutup disebut
sifat resesif.
Dalam praktikum ini, kami mensimulasikan persilangan antara mawar merah
menggunakan kancing merah dengan mawar putih menggunakan kancing putih.
Hasilnya pada percobaan pertama dan kedua setelah dirata-rata didapatkan
perbandingan genotipe 1:1,7:1 dan perbandingan fenotipe 2,7:1.
P (Parental = induk)

Genotip:
Fenotip:
Gamet:

MM
(Merah)
M dan M

F1 (Filial = Keturunan 1)

Genotip:
Fenotip:

Mm
Merah

><

mm
(Putih)
m dan m

F1>< F1:

Genotip:
Fenotip:
Gamet:

Mm
(Merah)
M dan m

><

Mm
(Merah)
M dan m

F2

MM
(Merah)

Mm
(Merah)

Mm
(Biji bulat)

mm
(Putih)

Perbandingan fenotip:
Perbandingan genotip:

Mawar merah : Mawar putih


MM : Mm : mm

=3:1
=1:2:1

Penjelasan:
Pada F1 dihasilkan individu yang seluruhnya berwarna merah dan bergenotip Mm karena
adanya dominasi penuh dari sifat Merah terhadap putih.
Pada F2 dihasilkan individu-individu yang terdiri atas 3 macam genotip, yaitu MM, Mm, dan mm
dengan perbandingan 1 : 2 : 1 dan dihasilkan dua macam fenotip, yaitu bunga berwarna merah
dan bunga mawar berwarna putih dengan perbandingan 3 : 1. Namun hasil simulasi percobaan
yang telah kami lakukan didapatkan perbandingan genotip 1:1,7:1 dan perbandingan fenotipe
2,7:1. Untuk mengetahui apakah data dapat dipercaya kebenarannya atau terdapat
penyimpangan maka digunakan uji chi-Square. Setelah melakukan uji chi-square, hasil
percobaan yang telah kami lakukan sesuai dengan hukum mendel karena Ho diterima.
Berdasarkan hasil perkawinan yang diperoleh dalam percobaann, dapat disimpulkan
bahwa pada waktu pembentukan gamet-gamet akan mengalami segregasi (memisah) secara
bebas (disimulasikan dengan kancing genetika putih dan merah sehingga setiap gamet hanya
akan menerima sebuah gen saja. Kesimpulan itu dirumuskan sebagai hukum Mendel I.
Selain data kelompok, kami juga menguji data kelas menggunakan uji Chi-Square. Uji ini
menyimpulkan bahwa data kelas yang kami peroleh sesuai dengan Hukum Mendel 1.
VII. SIMPULAN
Dari pembahasan di atas, maka dapat ditarik kesimpulan sebgai berikut :
1. Pada waktu proses pembentukan gamet, pasangan gen induk mengalami pemisahan
secara bebas, dimana dalam setiap gamet berisi satu gen dari pasangan gen tersebut.
Proses ini dikenal dengan Hukum pemisahan/segregasi gen yang sealel atau Hukum
Mendel I
2. Jika sepasang gen terdapat secara bersama-sama, maka sifat yang muncul sangat
dipengaruhi oleh gen dominan.

3. Jika dominanasi tampak penuh maka F1 disilangkan dengan F1 menghasilkan


keturunan F2 yang memperlihatkan perbandingan genotip 1:2:1 dan perbandingan
fenotip 3 : 1
4. Dengan menggunakan uji Chi-Square (khi-kuadrat), percobaan yang kami lakukan
sesuai dengan Hukum Mendel 1
VIII. JAWABAN PERTANYAAN
1. Berapa perbandingan genotip dan fenotip yang saudara peroleh?
Jawaban : Perbandingan genotip = 1:1,7:1 dan perbandingan fenotipnya yaitu 2,7:1
2. Bagaimana hasil saudara dibandingkan dengan hasil kelompok lain?
Jawaban : Hasil simulasi persilangan yang kami dapatkan yaitu perbandingan
genotipnya 1:1,7:1 dan perbandingan fenotipnya 2,7:1, dibandingkan dengan hasil
perbandingan kelompok lain, perbandingan yang kami dapat lebih mendekati dengan
perbandingan yang diperoleh Mendel
3. Apakah hasil perbandingan yang saudara peroleh dapat dipercaya kebenarannya atau
menyimpang dari yang diharapkan?
Jawaban : hasil perbandingan yang kami peroleh dapat dipercaya kebenarannya
karena uji Chi Square menunjukkan bahwa Ho diterima. Hal ini berarti percobaan
sesuai dengan Hukum Mendel.
4. Buat diagram persilangannya.
Jawaban :
P (Parental = induk)

Genotip:
Fenotip:
Gamet:

MM
(Merah)
M dan M

F1 (Filial = Keturunan 1)

Genotip:
Fenotip:

Mm
Merah

F1>< F1:

Genotip:
Fenotip:
Gamet:

Mm
(Merah)
M dan m

><

mm
(Putih)
m dan m

><

Mm
(Merah)
M dan m

F2

MM
(Merah)

Mm
(Merah)

Mm
(Biji bulat)

mm
(Putih)

Perbandingan fenotip:
Perbandingan genotip:

Mawar merah : Mawar putih


MM : Mm : mm

=3:1
=1:2:1

5. Kesimpulan apa yang dapat saudara tarik dari kegiatan ini?


1) Pada waktu proses pembentukan gamet, pasangan gen induk mengalami
pemisahan secara bebas, dimana dalam setiap gamet berisi satu gen dari
pasangan gen tersebut. Proses ini dikenal dengan Hukum pemisahan/segregasi
gen yang sealel atau Hukum Mendel I
2) Jika sepasang gen terdapat secara bersama-sama, maka sifat yang muncul
sangat dipengaruhi oleh gen dominan.

3) Jika dominanasi tampak penuh maka F1 disilangkan dengan F1 menghasilkan


keturunan F2 yang memperlihatkan perbandingan genotip 1:2:1 dan
perbandingan fenotip 3 : 1
4) Dengan menggunakan uji Chi-Square (khi-kuadrat), percobaan yang kami
lakukan sesuai dengan Hukum Mendel 1

DAFTAR PUSTAKA
Rondonuwu, Suleman. 1989. Dasar-Dasar Genetika. Jakarta : Dirjen Pendidikan Tinggi
Widianti, Tuti., Noor Aini Habibah. 2014. Buku Ajar Genetika. Semarang : FMIPA UNNES
Widianti, Tuti., Noor Aini Habibah. 2014. Petunjuk Praktikum Genetika. Semarang :
FMIPA UNNES

LAMPIRAN

Beri Nilai