Anda di halaman 1dari 6

LAPORAN PENDAHULUAN di UGD

TINDAKAN SUCTION
Nama

: Tn. S

Diagnose

: gangguan pemenuhan nutrisi b.d kelemahan menelan

Tanggal

: 28-10-2014

A. Definisi
NGT adalah kependekan dari Nasogastric tube. alat ini adalah alat yang digunakan
untuk memasukkan nutsrisi cair dengan selang plasitic yang dipasang melalui hidung
sampailambung. Ukuran NGT diantaranya di bagi menjadi 3 kategori yaitu:
1. Dewasa ukurannya 16-18 Fr
2. Anak-anak ukurannya 12-14 Fr
3. Bayi ukuran 6 Fr

B. Tujuan
1. Memasukkan makanan cair atau obat-obatan cair atau padat yang dicairkan
2. Mengeluarkan cairan atau isi lambung dan gas yang ada dalam lambung
3. Mengirigasi karena perdarahan/keracunan dalam lambung
4. Mencegah atau mengurangi mual dan muntah setelah pembedahan atau trauma
5. Mengambil specimen pada lambung untuk studi laboratorium.

C. Peralatan
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.

NGT No.14 atau 16 (untuk lebih kecil)


Jeli
Klem
Stetoskop
Pinset
Handuk, tissue, dan bengkok
Segelas air putih dan sedotan
Plester
Spuit 20 cc atau 50 cc
Stetoscope

11. Spatel lidah


12. Senter
13. Sepasang sarung tangan

D. Persiapan pasien
1. Dekatkan alat disamping klien
2. Jelaskan tindakan yang akan dilakukan dan tujuannya
3. Cuci tangan
4. Bantu klien pada posisi high fowler, meningkatkan klien untuk menelan
5. Pasang handuk pada dada klien, dekatkan tisu wajah. Agar tidak mengotori pakaian klien.
Pemasangan selang dapat menyebabkan keluarga air mata.
6. Memakai sarung tangan
7. Untuk menentukan insersi NGT, minta klien untuk rileks dan bernafas normal dengan
menutup satu hidung kemudiann mengulanginya dengan menutup hidung yang lain ( bila
klien sadar), selang mudah masuk melalui selang hidung yang lebih paten
8. Mengukur panjang selang yang akan masuk dengan menggunakan :
Metode tradisional
Ukur jarak dari puncak hidung kedaun telinga bawah dan ke prosesus xifoideus
disternum
Metode Hanson
Mula-mula tandai 50 cm pada selang kemudian lakukan pengukuran dengan metoode
tradisional. Selang yang akan dimasukkan pertengahan antara 50 cm dan tanda
tradisional
9. Beri tanda pada panjang selang yang sudah diukur dengan menggunakan plester
10. Oleskan jeli pada NGT sepanjang 10-20 cm. Pelumasan menurunkan friksi anatar membrane
mukosa dan selang.
11. Ingatkan klien bahwa selang akan segera dimasukkan dan instruksikan klien untuk mengatur
posisi kepala ekstensi, masukkan selang melalui hidung dan memelihara agar jalan nafas
tetap terbuka
12. Lanjutkan memasukkan selang sepanjang rongga hidung. Jika terasa agak tertahan, putarlah
selang dan jangan dipaksakan untuk dimasukkan selang dengan cara memutar dan sedikit
menaruk ujung selang akan mudah masuk kefaring.

13. Lanjutkan memasang selang sampai melewati nasofaring. Setelah melewati nasofaring (3-4
cm) anjurkan klien untuk menekuk leher dan menelan
14. Dorong klien untuk menelan dengan memberikan sedikit air minum (jika perlu tekankan
pentingnya bernnafas lewat mulut) menelan memudahakn lewatnya selang melalui orofaring
15. Jangan memasakkan selang untuk masak. Jika ada hambatan atau klien tersedak, sianosis,
hentikan mendorong selang. Periksa posisi selang dibelakang tenggorok dengan
menggunakan sudip lidah/spatel dan senter. Selang mungkin terlipat, menggulung diofaring
atau masuk ke trakea
16. Jika telah selesai memasang NGT sampai ujung yang telah di tentukan, anjurkan klien rileks
dan bernafas normal. Memberi kenyamanan dan mengurangi kesemasan.
17. Periksa letak selang dengan :
Memasang spuit pada ujung NGT, memasang bagian diafragma stetoskop pada perut
di kuadran kiri atas klien (lambung) kemudian suntikkan 10-20 cc udara bersamaan
auskultasi abdomen.
Mengaspirasi pelan-pelan untuk mendapatkan isi lambung
Memasukkan ujung bagian luar selang NGT kedalam mangkuk yang berisi air
Jika terdapat gelembung udara. Selang masuk ke dalam paru-paru. Jika tidak ada
gelembung udara selang masuk kedalam lambung
18. Oleskan alkohol pada ujung hidung klien dan biarkan sampai kering. Membantu merekatkan
plester lebih baik
19. Fiksasi selang dengan plester dan hindari penekankan pada hidung :
Potong plester 10 cm, belah menjadi dua sepanjang 5 cm pada salah satu ujungnya.
Pasang ujung yang tidak dibelah pada batang hidung klien dan silangkan pada selang
yang keluar dari hidung
Tempelkan ujung NGT pada klien dengan memasang plester pada ujungnya dan
peniti pada baju
20. Evaluasi klien setelah terpasang NGT
21. Rapikan alat-alat
22. Cuci tangan
23. Dokumentasikan hasil tindakan pada catatan keperawatan

E. Komplikasi / bahaya yang mungkin terjadi dari prosedur


Komplikasi-komplikasi dapat terjadi akibat trauma mekanik selama proses pemasangan awal
NGT maupun penempatan NGT yang tidak tepat antara lain:

1. Distres nafas pada pemasangan awal NGT terjadi akibat penempatan posisi pasien serta
teknik pemasangan NGT yang tidak tepat. Ini dapat dicegah dengan memposisikan pasien
pada posisi fowler atau sniffing serta melakukan setiap tahapan prosedur pemasangan
NGT dengan berurutan, serta yang paling penting adalah konfirmasi letak pipa. Penangan
awal bila muncul tanda-tanda distres nafas adalah dengan segera menarik keluar NGT.
2. Malposisi NGT Jangan melakukan pemasangan NGT misalnya malposisi NGT misalnya
pada pasien trauma maksilofasial yang dicurigai mengalami fraktur pada cribiformis
plate.
3. Pasien merasa tidak nyaman dapat diatasi dengan pemberian nasal dekongestan dan
anastesi topikal dengan menggunakan lidokain 4 persen ke dalam mukosa hidung serta
sprai lidokain 4 persen atau benzocaine langsung ke posterior orofaring. Alternatif lain
dengan menggunakan nebulizer yang mengandung lidocain 4 persen, sehingga baik
mukosa hidung dan mulut teranastesi baik.
4. Epistaksis masif dapat menyebabkan gangguan pada jalan nafas, sehingga memerlukan
pemasangan tampon. Risiko komplikasi ini dapat dikurangi dengan melakukan teknik
pemasangan NGT yang tepat yaitu dengan menelusuri dasar hidung menuju ke arah
telinga saat mendorong masuk NGT untuk mengurangi terjadinya turbinasi dan nyeri
serta

epistaksis.

Memberikan

nasal

dekongestan

seperti

oxymethazoline

atau

phenylephrine untuk vasokonstriksi pembuluh darah mukosa hidung juga dapat dilakukan
sebelum pemasangan NGT.
5. Trauma pada mukosa terjadi akibat terlalu memaksakan mendorong pipa saat terdapat
tahanan. Risiko ini meningkat pada pasien dengan perforasi saluran cerna atas.
6. Pneumonia aspirasi terjadi akibat aspirasi isi lambung saat pasien muntah ini dapat
dicegah dengan memposisikan pasien dengan baik, bila perlu lakukan intubasi bila
saluran napas tidak lapang terutama pada pasien yang tidak sadar. Menelan yang gentle
dan cepat saat pemasangan NGT juga akan mengurangi sensasi ingin muntah.
7. Pneumonitis dapat terjadi akibat pemberian makanan atau obat melalui pipa yang posisi
atau letaknya setinggi trakea.2 Selain itu cara mencegah terjadinya pneumonitis yaitu
dengan pemakaian lubrikan yang larut dalam air, karena akan diserap dengan baik bila
saat pemasangan NGT, pipa masuk ke dalam saluran pernapasan dibandingkan dengan
menggunakan lubrikan yang larut dalam minyak.

8. Hipoksemia terjadi akibat obstruksi saluran napas karena penempatan NGT yang kurang
tepat.
9. Pneumothorak dapat terjadi akibat injuri pulmoner setelah pemasangan NGT. Pada
pasien yang sebelumnya memiliki riwayat menelan bahan-bahan kimia kuat yang bersifat
iritatif curigai adanya abnormalitas pada esofagus, karena bila dipaksakan melakukan
pemasangan NGT akan beresiko penempatan NGT yang salah berupa perforasi
hipofaring atau perforasi esofagus. Sedangkan komplikasi pemasangan pipa nasogastik
jangka panjang dapat terjadi berupa erosi mukosa hidung, sinusitis, esofagitis,
esofagotrakeal fistula, ulkus lambung, infeksi paru dan infeksi mulut.

F. Daftar pustaka
Kozier Barbara, Erb Glenora, Berman Audrey and Snyder SJ. Fundamental of Nursing :
Concepts, Process and Practice Seventh ed. Pearson Prentice Hall New Jersey
2004;45:1204-13
Blok Barbara and Nelson Bret. Nasogastric Tube. http://www.npinstitute.com
Lippincott Williams & Wilkins. Nasogastric Tube Insertion and Removal. Nursing
Prosedures Fourth ed. A Wolters Kluwer Company 2004;10:544-64.
Wong Donna L and Hockenberry Marilyn J. Nursing Care of Infant and Children.
Wongs Seventh ed. Mosby Elsevier 2003;27:1162-64.
Moore Mary Cortney. Terapi Diet dan Nutrisi. Edisi Kedua. Hipokrates 1994;5:112-21.
Thomsen Todd W, Shaffer Robert W and Setnik Gary S. Nasogastric Intubation. The
New England Journal of Medicine 2006;354:e16.
Hockenberry Marilyn J and Wilson David. Essentials of Pediatric Nursing. Wongs
Eighth ed. Mosby Elsevier 2009;22:745-53.
Perry Anne Griffin, Peterson Veronica dan Potter Patricia A. Buku Saku Ketrampilan &
Prosedur Dasar. Edisi 5. EGC 2004;8:277-97.
Sweeney Judy. How Do I Verify NG Tube Placement?. Source Nursing 2005;35:25.
Rushing Jill. Inserting A Nasogastric Tube. Nursing 2005;35:22. Baum Eric D, Elden
Lisa M, Handler Steven D, Tom Lawrence WC. Management of Hypopharyngeal
and Esophageal Perforations in Children:Three case reports and a review of the
literature. ENT-Ear, Nose & Throat Journal 2008;87:44-7.

Farrington M, Cullen L, Lang S, Stewart S. Nasogastric Tube Placement Verification In


Pediatric and Neonatal Patients. Pediatric Nursing
2009;35:17-24.

Anda mungkin juga menyukai