Anda di halaman 1dari 13

DIABETES MELLITUS TIPE 1

I.

PATOFISIOLOGI
Penghancuran autoimmune dari -sel pankreas, menyebabkan defisiensi sekresi insulin
yang menghasilkan gangguan metabolik yang berhubungan dengan IDDM. Selain
hilangnya sekresi insulin, fungsi sel- pankreas juga tidak normal dan ada sekresi
berlebihan dari glucagons pada pasien IDDM. Biasanya, hiperglikemia menyebabkan
berkurangnya sekresi glukagon, namun, pada pasien dengan IDDM, sekresi glukagon
tidak ditekan oleh hiperglikemia (Raju dan Raju, 2010). Resultan peningkatan kadar
glucagons yang tidak tepat dapat memperburuk cacat metabolik akibat insulin defisiensi. Contoh yang paling menonjol dari gangguan metabolik ini adalah bahwa pasien
dengan IDDM yang dengan cepat menaikan ketoasidosis diabetik tanpa adanya
pemberian insulin. Meskipun defisiensi insulin adalah cacat utama dalam IDDM, ada
juga cacat dalam administrasi insulin. Ada beberapa mekanisme biokimia yang
menjelaskan penurunan respon jaringan terhadap insulin. Kekurangan insulin
menyebabkan lipolisis yang tidak terkontrol dan kadar asam lemak bebas dalam plasma,
yang menekan metabolisme glukosa pada jaringan perifer seperti otot skeletal (Raju dan
Raju, 2010). Hal ini mengganggu penggunaan glukosa dan defisiensi insulin dan juga
menurunkan ekspresi dari sejumlah gen yang diperlukan untuk jaringan target untuk
merespon secara normal terhadap insulin seperti glukokinase di hati dan kelas GLUT 4
pada transporter glukosa dalam jaringan adiposa. Raju dan Raju (2010) menjelaskan
bahwa gangguan metabolik utama, yang merupakan hasil dari defisiensi insulin di IDDM
adalah glukosa, lipid dan metabolisme protein yang dijelaskan dalam rincian sebagai
berikut:

Patofisiologi diabetes tipe 1 adalah autoimun dari sel pankreas. Sel berubah menjadi
autoantigen atau merubah dirinya menjadi antigen. APC menangkap sinyal dari antigen
tersebut hingga memberikan kode ke sel T, dan kemudian membuat sel T teraktivasi dan
mengeluarkan antibodi melalui cytotoksik CD8+ dan makrofag yang akan memakan
antigen sel tersebut. Antigen sel mengalami apoptosis dan rusak, sehingga akhirnya
tidak ada insulin yang terbentuk.

Saat makan, tubuh mengalami peningkatan glukosa, asam lemak, dan asam amino pada
plasma. Pada tubuh seseorang yang terkena DM tipe 1 insulin tidak diproduksi, sehingga
menyebabkan glukosa yang masuk ke tubuh tidak dapat masuk ke jaringan, maka tubuh
merespon hal tersebut dengan adanya glycogenolysis, gluconeogenesis, dan keton pada
hati untuk memproduksi glukosa dari glikogen pada tubuh. Hal tersebut menyebabkan
tubuh mengalami hiperglikemi (peningkatan gula darah). Adanya produksi glukosa yang
berlebihan, ginjal akan mendapatkan banyak glukosa untuk diolah, tetapi karena
kemampuan menampung glukosa hanya 180, glukosa yang lainnya akan keluar dari
ginjal dan masuk ke urin (glukosuria). Glukosa memiliki sifat osmotik (menyerap air)
diuretik, sehingga seseorang yang mengalami DM tipe 1 akan sering buang air seni
(poliuria). Karena banyaknya air yang dikeluarkan oleh tubuh, maka tubuh akan
mengalami dehidrasi, sehingga tubuh merasa haus dan menjadi sering minum

(polidipsia), produksi ADH juga akan meningkat. Dehidrasi yang timbul menyebabkan
volume dan tekanan darah meningkat, sehingga peredaran darah ke seluruh tubuh
menjadi terhambat, dan dapat menyebabkan terjadinya koma dan kematian. Selain itu,
akan menyebabkan terjadinya metabolisme anaerob, dimana dihasilkan reaksi
sampingan berupa asam laktat, dengan adanya asam laktat yang tinggi menyebabkan
kondisi asam di tubuh meningkat (asidosis metabolit). Asidosis metabolit menyebabkan
pernapasan menjadi meningkat, dan hiperkalemia pada urin.
Peningkatan keton diawal juga langsung dapat menimbulkan terjadinya asidosis
metabolit dan kemudian berkembang menjadi hiperkalemia.
Peningkatan asam lemak dan asam amino pada plasma tanpa adanya produksi insulin,
menyebabkan penurunan lemak dan asam amino yang tersimpan di jaringan, sehingga
tubuh merespon untuk memproduksi lemak dan asam amino dengan mengambil lemak
dan asam amino yang ada pada jaringan untuk dipecah. Hal tersebut menyebabkan
tubuh seseorang yang mengalami DM tipe 1 semakin kurus. Peningkatan asam lemak
dan asam amino pada plasma juga dapat menyebabkan adanya produksi substrat untuk
ATP. Peningkatan asam amino pada plasma menyebabkan tubuh memecah glikogen
menjadi glukosa (glukoneogenesis).
Karena adanya peningkatan glukosa pada plasma diawal tanpa adanya produksi insulin,
glukosa yang dimanfaatkan menjadi menurun, sehingga tubuh mengalami glikogenolisis
dan karena jaringan tubuh mengalami kekurangan asupan makanan (glukosa), maka
tubuh memberikan kode ke otak untuk mengeluarkan respon lapar, sehingga orang
yang mengalami DM tipe 1 akan sering makan (polifagi).

Cara pencegahan komplkasi microvascular :


1. Mata

Retinopathy
pasien dengan gangguan retinopati harus memeriksakan diri ke
dokter mata setidaknya setiap 6 sampai 12 bulan.
Pasien dengan retinopathy awal dapat meningkatkan control gula
darah.
photocoagulation laser dapat digunakan untuk meningkatkan
penglihatan pada pasien diabetes.

2. Ginjal

Nephropathy
kontrol tekanan darah dan glukosa adalah yang paling penting
untuk pencegahan nefropati dan kontrol tekanan darah juga
penting untuk memperlambat perkembangan nefropati.

3. Neuropathy

Peripheral
Berhenti merokok, koreksi dislipidemia dan terapi antiplatelet
adalah strategi pengobatan yang penting.

II.

GEJALA KLINIS
Menurut (Annunzio,2010 )manifestasi klinis dari Diabetes Mellitus tipe 1 adanya
gejala hiperglikemia meliputi Polyuria, polydipsi dan ketoasidosis ringan hingga berat
Sebagian besar pasien DM tipe 1 di RS Dr. Saiful anwar antara tahun 2005 - 2009
datang dengan keluhan poliruai, polidipis, polifagi dan adanya penurunan berat badan
progresif . Selain itu juga disertai gangguan kesadaran dan asidosis metabolik, nyeri
perut, muntah sedangkan cepat lelah atau lemah hanya sebagian kecil kasus yang
dialami.

(Aji, 2011)
Dalam Article yang berjudul Ketoacidosis at diagnosis of type 1 diabetes in
children and adolescents : frequency and clinical characteristics : Ketoasidosis dalam
diabetes merupakan manifestasi klinis pertama yang muncul padsa DM tipe 1
(Onyiriuka, 2013). Ketoasidosis sebagian besar merupakan penyebab meningkatnya
angka kematian pada anak. Ketoasidosis dikarakteristikan dengan adanya glukosa yang
tidak terkontrol (hiperglikemia), metabolic asidosis dan peningkatan kadar keton dalam
tubuh . Tanda dan gejala diabetic ketoasidosis (Jemdsa, 2012)

Perbedaan Diabetes Mellitus Tipe 1 dan Tipe 2

Mula muncul
Keadaan klinis
saat diagnosis
Kadar insulin
Berat badan
Autoantibodi

Riwayat
keluarga

III.

DM 1
Kanak-kanak /
remaja
Berat
Rendah
Umumnya
kurus
80-90% +
(ICCA, ICSA,anti
GAD)
Jarang

DM 2
Usia tua > 40
tahun
ringan
Cukup /
normal
Gemuk atau normal

Umumnya ada

TERAPI NON FARMAKOLOGI


1. Pengaturan diet
Diet yang baik merupakan kunci keberhasilan penatalaksanaan diabetes. Diet yang
dianjurkan adalah makanan dengan komposisi yang seimbang dalam hal karbohidrat,
protein dan lemak , sesuai dengan kecukupan gizi baik sebagai berikut:
Karbohidrat : 60-70%
Protein : 10-15%

Lemak : 20-25%

Jumlah kalori disesuaikan dengan pertumbuhan, status gizi, umur, stres akut dan
kegiatan fisik, yang pada dasarnya ditujukan untuk mencapai dan mempertahankan
berat badan ideal. Penurunan berat badan telah dibuktikan dapat mengurangi resistensi
insulin dan memperbaiki respons sel-sel terhadap stimulus glukosa. Dalam salah satu
penelitian dilaporkan bahwa penurunan 5% berat badan dapat mengurangi kadar HbA1c
sebanyak 0,6% (HbA1c adalah salah satu parameter status DM), dan setiap kilogram
penurunan berat badan dihubungkan dengan 3-4 bulan tambahan waktu harapan hidup.
Selain jumlah kalori, pilihan jenis bahan makanan juga sebaiknya diperhatikan. Masukan
kolesterol tetap diperlukan, namun jangan melebihi 300 mg per hari. Sumber lemak
diupayakan yang berasal dari bahan nabati, yang mengandung lebih banyak asam lemak
tak jenuh dibandingkan asam lemak jenuh. Sebagai sumber protein sebaiknya diperoleh
dari ikan, ayam (terutama daging dada), tahu dan tempe, karena tidak banyak
mengandung lemak. Masukan serat sangat penting bagi penderita diabetes, diusahakan
paling tidak 25 g per hari. Disamping akan menolong menghambat penyerapan lemak,
makanan berserat yang tidak dapat dicerna oleh tubuh juga dapat membantu mengatasi
rasa lapar yang kerap dirasakan penderita DM tanpa risiko masukan kalori yang
berlebih. Disamping itu makanan sumber serat seperti sayur dan buah-buahan segar
umumnya kaya akan vitamin dan mineral.

Tujuan pengobatan diet pada diabetes adalah:


a. Mencapai dan kemudian mempertahankan kadar glukosa darah mendekati kadar
normal.
b. Mencapai dan mempertahankan lipid mendekati kadar yang optimal.
c. Mencegah komplikasi akut dan kronik.
d. Meningkatkan kualitas hidup

Terapi nutrisi direkomendasikan untuk semua pasien diabetes mellitus, yang


terpenting dari semua terapi nutrisi adalah pencapian hasil metabolis yang optimal
dan pencegahan serta perawatan komplikasi. Untuk pasien DM tipe 1, perhatian
utamanya pada regulasi administrasi insulin dengan diet seimbang untuk mencapai
dan memelihara berat badan yang sehat. Penurunan berat badan telah dibuktikan
dapat mengurangi resistensi insulin dan memperbaiki respon sel-sel terhadap
stimulus glukosa.
2. Olahraga
Berolah secara teratur dapat menurunkan dan menjaga kadar gula darah tetap normal.
Prinsipya, tidak perlu olah raga berat, olah raga ringan asal dilakukan secara teratur
akan sangat bagus pengaruhnya bagi kesehatan. Beberapa contoh olah raga yang
disarankan, antara lain jalan atau lari pagi, bersepeda, berenang, dan lain sebagainya.
Olah raga akan memperbanyak jumlah dan juga meningkatkan penggunaan glukosa.

IV.

TERAPI FARMAKOLOGI
Tujuan /outcome utama dari management DM adalah mengurangi resiko
komplikasi mikrovascular dan makrovaskular, mengurangi mortalitas, dan meningkatkan
kualitas hidup dengan mempertahankan/maintain kadar gula darah dalam range
normal. Glukosa plasma dan tingkat glikosilasi hemoglobin (A1C) yang diharapkan
terdapat pada tabel dibawah ini :
Terapi tujuan glikemik (glycemic goals of therapy)
Indeks biokimia

ADA (American Diabetes ACE (American College of


Association)

Endocrinology

&

AACE

(American Association of
Clinical Endocrinologist)
Hemoglobin A1C
Preprandial
glucose

< 7%
plasma 90-130 mg/dL
(5.0-7.2 mmol/L)

6.5%
< 110 mg/Dl
(6.1 mmol/L)

Postprandial
glucose

plasma < 180 mg/Dl


( < 10 mmol/L)

< 140 mg/Dl


( 7.8 mmol/L)

Jenis dan lama kerja insulin (Berdasar lama kerja, insulin terbagi menjadi empat
jenis,), yakni:
Insulin kerja cepat (rapid acting insulin)
Insulin kerja pendek (short acting insulin)
Insulin kerja menengah (intermediate actinginsulin)
Insulin kerja panjang (long acting insulin)
Insulin campuran tetap, kerja pendek dan menengah (premixed insulin).
Cara Penyuntikan Insulin
Insulin umumnya diberikan dengan suntikan di bawah kulit (subkutan),
dengan arah alat suntik tegak lurus terhadap cubitan permukaan kulit.
Pada keadaan khusus diberikan intramuskular atau intravena secara
bolus atau drip.
Terdapat sediaan insulin campuran (mixed insulin) antara insulin kerja
pendek dan kerja menengah, dengan perbandingan dosis yang tertentu.
Apabila tidak terdapat sediaan insulin campuran tersebut atau diperlukan
perbandingan dosis yang lain, dapat dilakukan pencampuran sendiri
antara kedua jenis insulin tersebut. Teknik pencampuran dapat dilihat
dalam buku panduan tentang insulin.
Lokasi penyuntikan, cara penyuntikan maupun cara insulin harus
dilakukan dengan benar, demikian pula mengenai rotasi tempat suntik.
Apabila diperlukan, sejauh sterilitas penyimpanan terjamin, semprit
insulin dan jarumnya dapat dipakai lebih dari satu kali oleh penyandang
diabetes yang sama.
Harus diperhatikan kesesuaian konsentrasi insulin dalam kemasan
(jumlah unit/mL) dengan semprit yang dipakai (jumlah unit/mL dari
semprit). Dianjurkan memakai konsentrasi yang tetap. Saat ini yang
tersedia hanya U100 (artinya 100 unit/mL).

V.

GUIDELINE TERAPI
Penatalaksanaan diabetes mempunyai tujuan akhir untuk menurunkan morbiditas dan
mortalitas DM, yang secara spesifik ditujukan untuk mencapai 2 target utama, yaitu:
1. Menjaga agar kadar glukosa plasma berada dalam kisaran normal
2. Mencegah atau meminimalkan kemungkinan terjadinya komplikasi diabetes.
Pada dasarnya ada dua pendekatan dalam penatalaksanaan diabetes, yang pertama
pendekatan tanpa obat dan yang kedua adalah pendekatan dengan obat. Dalam
penatalaksanaan DM, langkah pertama yang harus dilakukan adalah penatalaksanaan
tanpa obat berupa pengaturan diet dan olah raga. Apabila dengan langkah pertama ini
tujuan penatalaksanaan belum tercapai, dapat dikombinasikan dengan langkah

farmakologis berupa terapi insulin atau terapi obat hipoglikemik oral, atau kombinasi
keduanya.

TERAPI OBAT
Apabila penatalaksanaan terapi tanpa obat (pengaturan diet dan olah raga) belum
berhasil mengendalikan kadar glukosa darah penderita, makaperlu dilakukan langkah
berikutnya berupa penatalaksanaan terapi obat, baik dalam bentuk terapi obat
hipoglikemik oral, terapi insulin, atau kombinasi keduanya

A. PENGENDALIAN SEKRESI INSULIN


Pada prinsipnya, sekresi insulin dikendalikan oleh tubuh untuk menstabilkan kadar gula
darah. Apabila kadar gula di dalam darah tinggi, sekresi insulin akan meningkat.
Sebaliknya, apabila kadar gula darah rendah, maka sekresi insulin juga akan menurun.
Dalam keadaan normal, kadar gula darah di bawah 80 mg/dl akan menyebabkan sekresi
insulin menjadi sangat rendah.

DAFTAR PUSTAKA
Sukandar dkk, 2009, ISO FARMAKOTERAPI, PT. ISFI PENERBITAN : Jakarta, pp. 26.
Ozougwu, 2013, Journal of Physiology and Pathophysiology : The Pathogenesis and
pathophyisiology of type 1 and type 2 Diabetes mellitus,.
Aji, 2011, Jurnal Kedokteran Brawijaya : Gambaran kliniis dan Laboratoris Diabetes
Melitus Tipe 1 pada Anak, Vol26.