Anda di halaman 1dari 19

PERHITUNGAN DAN PEMILIHAN BAHAN

Perhitungan yang dilakukan adalah perhitungan gaya yang bekerja pada


komponen-komponen utama alat roll bender. Dari hasil perhitungan ini maka
dimensi ukuran serta jenis bahan yang akan digunakan dapat ditentukan secara
tepat dan akurat.

4.1 Perhitungan Defleksi Batang


Langkah awal dari proses pengerolan radius ini adalah penekanan batang
pipa oleh roller penekan sebelum selanjutnya pipa akan di gerakan oleh roller
tetap untuk membentuk radius merata pada seluruh bidang bengkok yang di
inginkan. Langkah langkah untuk menentukan gaya defleksi batang pipa di
jelaskan sebagai berikut:

4.1.1 Menentukan Modulus Young Bahan


Pipa yang akan di bengkokan adalah jenis pipa galvanis dimana materialnya
adalah baja karbon rendah 0,3 % C yang dilapisi lapisan seng. Maka spesifikasi
material yang dipakai adalah baja jenis (S30C) dengan spesifikasi menurut (Lim
Poh Seng : 248) adalah sebagai berikut:
E = 200 Gpa ; 1 Gpa = 1000 [N/mm2]
E = 200000 [N/mm2]
(Lim Poh Seng, 2008)

4.1.2 Menentukan momen inersia pipa

Gambar 4.1 Penampang pipa

Diketahui :

D = 1,5 inchi = 38,1 [mm]


d = 36,1 [mm]

Momen inersia dapat dinyatakan dengan :


I=
[

= 20057,50 [mm4]
(Robbet L Mott, 2004)

Diketahui :

D = 2 inchi = 50,8 [mm]


d = 48,8 [mm]

Momen inersia dapat dinyatakan dengan :


I=

= 48495,64 [mm4]
(Robbet L Mott, 2004)

4.1.3 Menghitung Gaya Defleksi Batang (pipa)

Gambar 4.2 Defleksi batang silinder hollow ( pipa )


Diketahui :
y

= 5 [mm]

= 400 [mm]

= 200000 [N/mm2]

I (1,5 Inch)

= 20057,50 [mm4]

I (2 Inch) = 48495,64 [mm4]

Gaya defleksi batang pipa D 1,5 Inch dapat dinyatakan dengan :


y =

Fp =
[

= 15043, 125 [N]


(Robert L Mott, 2004)
Gaya defleksi batang pipa D 2 Inch dapat dinyatakan dengan :
y =

Fp =
[

=
= 36371,73 [N]
(Robert L Mott, 2004)

4.2 Perhitungan Torsi Dan Daya


Dilakukan penghitungan torsi yang di butuhkan untuk menggerakan roller
yang mendapat beban gaya gesek yang ditimbulkan dari pipa yang di tekan atau
didefleksikan. Dalam rancangan mesin ini digunakan 2 roller yang berfungsi
sebagai penggerak dan 1 roller yang hanya berfungsi sebagai penekan.

4.2.1 Menentukan pembebanan pada roller tetap


Di asumsikan pembebanan tepat berada di antara ke dua roller sehingga
beban di bagi 2 sama rata pada masing masing roller sehingga beban pada tiap
roller adalah Fp.

4.2.2 Menghitung Gaya Gesek Antara Permukaan Pipa Dan 2 roller tetap
Diketahui:
s

= Koefisien gesek statik pipa dengan roller (baja dan baja) 0,74

Fp (1,5 Inch) = 15043,125 [N]


Fp (1,5 Inch) = 36371,73 [N]
(Rofarsyam, 2006)
Gaya gesek dapat di nyatakan dengan (notasi disesuaikan):
Fs (1,5 Inch ) = . 2 Fp
= 0,74 . 2( 7521,562 [N] )
= 11131,913 [N]
Fs (2 Inch )

= . 2 Fp
= 0,74 . 2( 18185,865 [N] )
= 26915,08 [N]

(Rofarsyam, 2006)

4.2.3 Menghitung Torsi untuk menggerakan 2 roller tetap


Tr (1,5 Inch) = Fs . r
= 11131,913 [N] . 60 [mm]
= 667914,78 [Nmm]
= 667,91 [Nm]
Tr ( 2 Inch) = Fs . r
= 26915,08 [N] . 60 [mm]
= 1614904,8 [Nmm]
= 1614,9 [Nm]
(Khurmi, 2005)

Proses bengkok pipa dengan alat ini, kami merencanakan putaran roller
yang rendah dengan harapan hasil pembengkokan akan lebih rapi dan halus.
Putaran yang di rencanakan yaitu 1 2 rpm. Sehingga daya yang di butuhkan
memutar roller adalah sebagai berikut :
nroller =1,5 rpm
Pr ( 1,5 Inch)

= Tr .
= Tr .
[

= 667,91 [Nm] .

= 104,86 [Watt]
Jadi daya yang di butuhkan untuk memutar roller ( 1,5 Inch) adalah
sebesar 104,86 [Watt].
Pr ( 2 Inch) = Tr .
= Tr .
[

= 1614,9 [Nm] .

= 253,53 [Watt]
Jadi daya yang di butuhkan untuk memutar roller ( 2 Inch) adalah sebesar
253,53 [Watt].
(Khurmi, 2005)

4.3 Pendekatan Perhitungan power input ( engkolan manusia )


Karena mesin ini di operasikan dengan tangan manusia atau model engkol
manual, maka besar sumber tenaga penggerak menyesuaikan tenaga rata rata
lengan manusia.
4.3.1 Menghitung daya output penggerak ( lengan manusia )
Gaya gaya yang bekerja pada reducer ada pada Gambar 3.4 di gunakan
untuk menghitung daya penggerak / power output dari engkolan manusia. Berikut
perhitungan daya output penggerak:
Diketahui :
Fm = 140 [N] / setara membawa beban seberat 14 kg.
l

= 300 [mm]

Maka, :
Tm = Fm . l
= 140 [N] . 300 [mm]
= 42000 [Nmm] = 42 [Nm]
(Khurmi, 2005 :10)
Sehingga bila dalam 1 menit rata rata manusia dapat memutar engkol
sebanyak 60 kali putaran maka :

= 6,28 rad/s

= 42 [Nm] . 6,28 [rad/s]


= 263,76 watt
= 0,35 hp

Jadi, diketahui saat engkol diputar dengan tenaga manusia diprediksikan


menghasilkan daya setara 0,2 hp pada 60 rpm.

Pada saat handel di putar oleh operator dengan putaran rata- rata 60 rpm
dengan gaya sebesar 140 N maka akan menghasilkan power input sebesar Pm
= 263,76 [Watt], sedangkan power yang di butuhkan untuk memutar roller Pr =
104, 86[Watt], 253,53 [Watt] , maka Pm > Pr atau power input lebih besar dari
power yang di butuhkan untuk melawan beban, maka power yang di butuhkan
alat ini untuk bekerja sudah cukup.

4.3.2 Menghitung rasio Speed reducer


Karena putaran roller yang direncanakan (n2) adalah 1,5 rpm, maka
putaran daya penggerak engkolan manusia (n1) 60 rpm harus direduksi oleh
speed reducer. Sehingga rasio dapat dihitung sebagai berikut :

Ratio reducer = n1 / n2
= 60 [rpm] / 1,5 [rpm]
= 40
Jadi rasio reducer yang di pakai adalah 1 : 40, namun karena alasan ketersediaan
barang di pasaran dan harga, kami memakai reducer dengan rasio 1:50
n2 dapat di hitung :
n2 = rasio reducer . n1
= 1/50 . 60 [rpm]
= 1,2 [rpm]

(Robert L Mott, 2004)

4.4 Perhitungan Rantai Sproket


Perancangan alat ini menggunakan transmisi daya rantai sproket, karena
konstruksi mesin hanya beroperasi pada rpm rendah berkisar 1 2 rpm dan tidak
memerlukan tegangan awal saat transmisi daya berlangsung. Sehingga berikut
perhitungan rantai sproket:

4.4.1 Menentukan nomor rantai


Berdasarkan pertimbangan biaya dan ketersediaan dipasaran sebelum
menghitung rantai sproket, dan survei, rantai yang mudah dicari dipasaran dan
harga terjangkau adalah rantai sproket dengan nomor rantai 40.

4.4.2 Menentukan faktor layanan dan menghitung daya rancangan


Perancangan transmisi rantai yang kami buat, yaitu dengan penggerak
manual tangan manusia maka kriteria yang paling mendekati yang ada didalam
tabel faktor layanan rantai adalah transmisi dengan kejutan sedang dan
berpenggerak motor lisrik dengan Sf = 1,3.
4.4.3 Menghitung daya rancangan
Daya rancangan = Sf . Pm
= 1,3 . 0,35 hp
= 0,45 hp
4.4.4 Menghitung rasio yang di inginkan
Rasio = noutput reducer / nroller
= 1,2 [rpm] / 1,5 [rpm]
= 0,8

(Robert L Mott, 2004)

4.4.5 Menghitung Jumlah gigi sproket besar (Z2)


Diketahui jumlah gigi sproket kecil Z1 = 16
Z2 = Z1 . rasio
= 16 . 0,8
= 12,8 dibulatkan 13 gigi

(Robert L Mott, 2004)

4.4.6 Menghitung putaran output aktual


Bila : n2 = putaran output reducer ; n3 = putaran poros roller maka:
n3 = n2 ( Z1 / Z2 )
= 1,2 [rpm] ( 16 / 13 )
= 1,47 [rpm] dibulatkan 1,5 [rpm]
Dengan rasio 1 jumlah gigi sproket kecil 13, dan sproket besar 16 maka
putaran akhir sudah sesuai rencana yaitu 1,5 [rpm].

4.4.7 Menghitung diameter sproket


Jika sproket kecil : Ds1 , sproket besar : Ds2 , maka:
Ds1 =

= 65,09 [mm] di bulatkan 65 [mm]


Ds2 =

= 105,362 [mm] di bulatkan 105 [mm]


(Robert L Mott, 2004 : 264)
4.4.8 Menentukan jarak sumbu poros minimal
Merujuk pada reverensi rentang nilai tengah (C) yang dianjurkan adalah 40.
(Robert L Mott, 2004 : 264)
4.4.9 Spesifikasi rantai yang di pakai
Berdasarkan perhitungan transmisi rantai sproket diatas, untuk sebagai acuan
saat membeli komponen rantai sproket di pasaran sebagai komponen standar
alat ini di gunakan acuan sebagai berikut dan dengan spesifikasi detil ada pada
lampiran 5 mengenai spesifikasi rantai roll.
* Nomor rantai : 40 , pitch 0,5 [in] / 12,70 [mm]
* Sproket : Baris tunggal, no 40, pitch 0,5 [in]
* Sproket Kecil : 16 gigi, diameter 65 [mm]
* Sproket Besar : 26 gigi, diameter 105 [mm]

4.5 Poros dengan Beban Puntir dan Lentur

Bahan poros yang kami pilih untuk konstruksi adalah bahan baja jenis S30C
karena mudah didapat dipasaran dan bernilai ekonomis cukup tinggi.

4.5.1 Menghitung daya rencana poros


Merujuk pada perhitungan 4.2.3, yaiu mengenai daya yang dibutuhkan
menggerakan 2 roller tetap (Pr) dan tabel faktor koreksi pada lampiran 6,
maka dapat dihitung:
Diketahui :
Pr = 104,86 [Watt]

Pr = 253,53 [Watt]

fc = 1,2

(Sularso, 2008)

Maka daya rencana :


Pd = Pr . fc
= 104,86 . 1,2
= 125,832 [Watt]

(Sularso, 2008)

Pd = Pr . fc
= 253,53 . 1,2
= 304,236 [Watt]

(Sularso, 2008)

4.5.2 Menghitung tegangan geser ijin bahan poros


Poros alat ini menggunakan material batang pejal S30C penampang
bulat, maka diketahui :
= 480 (N/mm2)
Sf1 = Sf2 = 2

(Sularso, 2008)

Maka tegangan geser ijin dapat dihitung sebagai berikut :

g ijin

= 40 [N/mm]
(Sularso, 2008 : 8)
10

4.5.3 Menghitung momen bengkok poros

Ft

Fb

Rh
Rv

Fb

Rv

Gambar 4.3 Skema Momen Bengkok


Bila Ft = gaya tarik rantai terhadap 1 sproket ; W = berat sproket itu
sendiri; l = jarak sproket dengan tumpuan (bearing), maka dapat dihitung:
Diketahui :
Ft = 11131,913 = 5565,95 [N]
Ft = 26915,08 = 13457,525 [N]
W = 1 kg = 10 [N]
l = 50 [mm]

Maka Fb dapat dihitung :


Ft

Fb

11

Fb =
=

= 566 [N]
Momen bengkok dapat dihitung :
Mb = Fb . l
= 566 [N] . 50 [mm]
= 28300 [Nmm]

(Khurmi, 2005)

4.5.4 Menghitung momen puntir poros


Diketahui :
Pr = 104,86 [Watt] = 52,43 [Watt]
n2 = 1,5 [rpm]
Maka:
T=

]
[

= 333,949 [Nmm]
(Khurmi, 2005 :10)
4.5.5 Menghitung diameter poros
Diketahui :
g ijin

Km

= 40 (N/mm2)
= 1,5 (karena poros berputar dengan pembebanan momen lentur
tetap)

Mb

= 28300 (Nmm)

Kt

= 1,0 (beban dikenakan secara halus)

= 333,949 (Nmm)
Maka :

ds = ( (5,1 /
= ( (5,1/
=

g ijin )

(N/mm2)

) 1/3
[

[mm],

12

[Nmm])2) 1/3

Karena pertimbangan pengembangan mesin kedepan dengan jenis material


bengkok yang berbeda dan beban yang lebih besar serta ketersediaan bantalan di
pasaran maka kami membuat poros dengan ds = 30 [mm]

4.6 Perhitungan Pasak


Karena bahan poros dan pasak sama maka panjang pasak ( l ) dapat dihitung
sebagai berikut:
Diketahui :
ds = 30 [mm]
Maka l dapat di hitung :
l = 1,571 . ds
= 1,571 . 30 [mm]
= 47,13 [mm] di bulatkan 50 [mm] untuk memudahkan pembuatan.
(Khurmi, 2005)
Selanjutnya kita mencari dimensi lebar dan tebal pasak berdasarkan
diameter poros yang di ketahui yaitu 30 [mm] dengan merujuk pada
lampiran 7 spesifikasi pasak, dan di dapat lebar pasak = 10 mm , tebal pasak
8 mm. Maka sebagai acuan ukuran untuk membuat pasak adalah sebagai
berikut :
* Bahan pasak S30C (sama dengan bahan poros)
* Panjang pasak l = 47,13 [mm]
* Lebar pasak w = 10 [mm]
* Tebal pasak t = 8 [mm]

4.7 Pemilihan Bantalan


Untuk pemilihan bantalan, kami menyesuaikan dengan konstruksi mesin
yang kami buat di mana pemasangan bantalan ada pada rangka atas dimana
posisinya menempel pada dinding yang menopang poros tetap dan pada alur
sliding yang menopang poros penekan. Dengan pertimbangan kemudahan dalam
perakitan maka kami memilih bantalan bercangkang yaitu bantalan flens (UCF)
sebagai penopang poros tetap dan bantalan geser (UCT) sebagai penopang poros
penekan. Konstruksi mesin dapat di lihat pada gambar 4.7 berikut:

13

a. Bantalan Flens (UCF)

b. Bantalan Geser (UCT)

Gambar 4.4 Pemasangan bantalan a.UCF dan b.UCT

Selanjutnya adalah memilih jenis bantalan tersebut yang tersedia di


pasaran berdasarkan diameter poros yang telah di hitung sebelumnya (ds = 30
[mm] ) dengan mengacu pada tabel katalog bantalan berikut

4.7.1 Menentukan jenis bantalan


Merujuk lampiran 8 dan 9 spesifikasi katalog bantalan (UCF) dan (UCT)
dengan poros berdiameter 30 mm maka di pilih bantalan dengan nomor seri
sebagai berikut:
* Bantalan Flens (UCF) = UCF 206
* Bantalan Geser (UCT) = UCT 206

14

4.8 Perhitungan Poros Ulir Penekan


Poros ulir ini di gunakan untuk mengubah gaya rotasi (putaran tangan
operator) menjadi gaya translasi (roller menekan pipa) sehingga pipa dapat
terdefleksi. Perhitungan ulir daya ini kami lakukan di akhir perhitungan karena
diameter ulir daya ini menyesuaikan bagian mesin lainya yang berpasangan
langsung yaitu lubang poros geser pada bantalan geser (UCT). Diameter mayor
ulir menyesuaikan diameter lubang untuk poros yang ada pada UCT yaitu 24
[mm] di mana spesifikasi ulir dapat di lihat pada tabel 4.4 berikut:

Tabel 4.1 Basic dimensi ulir trapesium

(Sumber : R.S Khurmi, 2005)


Maka diketahui :
d major = 24 [mm]
dminor = 18,5 [N]
pitch (p) = 5
s = 0,74

15

4.8.1 Menghitung dan

Gambar 4.5 Ulir trapesium


Untuk menghitung torsi yang di butuhkan untuk memutar poros ulir,
maka kita terlebih dahulu menghitung sudut helix () dan sudut geser ulir (),
maka dan dapat di hitung :
d = d major ( p/2)
= 24 [mm] (5/2)
= 21,5 [mm]
tan = p / . d
= 5 / 3,14 . 21,5 [mm]
= 0,074
= arc tan 0,074
= 4,23

= tan

0,74 = tan

= arc tan 0,74


= 36,50

(R.S Khurmi, 2005)

4.8.2 Menghitung torsi poros ulir


Bila pada perhitungan 4.1.3 di ketahui gaya yang di perlukan untuk
menekan pipa sehingga terdefleksi sebesar Fp = 15043,125 [N], maka gaya yang
di perlukan untuk memutarporos ulir dapat di hitung sebagai berikut:

16

Diketahui :
Fp = 15043, 125 [N]
= 4,23
= 36,50

Maka torsi poros :


Tp = Fp . tan ( + ) d/2
= 15043, 125 [N] . tan (36,50

+ 4,23) . (21,5 / 2)

= 141014,25 [N/mm]
F
=

60
F = Tp / 60
= 141014,25 [N/mm] / 60 [mm]
= 2350,24 [N] = 2,35 [kN]
Jika tangan manusia mampu mengeluarkan
daya 14,5 [kN] maka F< daya tangan
manusia. Sehingga rancangan dapat di
terima karena poros dapat di putar manual
oleh tangan manusia.
4.8.3 Menghitung kekuatan poros ulir terhadap beban puntir
Poros ulir yang di putar akan mengalami beban geser pada ulirnya,
sehingga di perlukan analisa kekuatan geser untuk menghindari ulir rusak. Pada
perhitungan 4.1.3 di dapatkan gaya yang di butuhkan mendefleksikan pipa sebesar
5 mm adalah Fp = 15043,125 [N], sementara material yang di pakai adalah batang
baja S30C dengan tegangan tarik maksimal menurut tabel 3.5 pada bab III
sebelumnya di dapat

= 48 (kg/mm2) = 480 (N/mm2) asumsi gravitasi = 10 m/s2

dan angka keamanan / sf = 2. Maka kekuatan ulir dapat di hitung sebagai berikut:

17

Diketahui:
F = 15043,125 [N]
= 48 (kg/mm2) = 480 (N/mm2)
sf = 2
-Menghitung tegangan geser ijin bahan S30C
g ijin

= 240 [N/mm]
- Menghitung tegangan geser yang bekerja pada poros, luas penampang yang
mengalami beban geser digambarkan pada Gambar 4.6 berikut:

Gambar 4.6 Penampang ulir trapesium


Merujuk pada Tabel 4.1mengenai spesifikasi ulir trapesium, maka luas
penampang ulir yang mengalami beban geser dapat di hitung sebagai berikut:

Diketahui:
p = 5 mm; 0,37 p = 1,85 mm
h = major diameter minor diameter = 24 mm 18,5 mm = 5,5 mm

Maka luas permukaan ulir trapesium yang mengalami beban gesek:


Luas = . 2 (0,37p) . h
= . 2 (1,85 [mm]) . 5,5 [mm]
= 10,175 mm2

18

Sehingga tegangan geser yang bekerja pada penampang ulir dapat di


hitung sebagai berikut:
g

= Fp / luas permukaan ulir


= 15043,125 [N] / 10,715 [mm2]
= 1403,931 [N/mm2]

Namun saat poros bekerja menekan pipa, terdapat lebih dari 1 ulir yang
meneruskan daya pada tiap rotasi putaran poros ulir tersebut, bila kita asumsikan
ada 10 ulir maka beban geser tiap ulir akan terbagi 10 sama rata sehingga
perhitungan sebagai berikut:
g tiap ulir =

g / 10

= 1403,931 [N/mm2] / 10
= 140,393 [N/mm2]
Dari perhitungan tersebut di dapatkan g tiap ulir = 140,393 [N/mm2] < g ijin =
240 [N/mm] sehingga dapat di simpulkan tegangan geser yang bekerja pada ulir
lebih kecil dari tegangan geser ijin bahan poros ulir yang di gunakan, sehingga
poros ulir aman di gunakan.

19