Anda di halaman 1dari 13

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Jagung merupakan salah satu komuditas utama yang banyak dibudidayakan
oleh masyarakat terutama di Indonesia. Jagung dibudidayakan secara komersial di
lebih dari 100 negara dengan produksi sekitar 705 juta metrik ton. Pada umumnya
jagung dibudidayakan untuk digunakan sebagai pangan, pakan, bahan baku
industri farmasi, makanan ringan, susu jagung, minyak jagung, dan sebagainya.
Di Indonesia jagung merupakan bahan pangan kedua setelah padi. Selain itu
jagung juga digunakan sebagai bahan baku industri pakan dan industri lainnya.
Hal ini mengakibatkan kebutuhan jagung di dalam negeri terus meningkat dari
tahun ke tahun. Untuk memenuhi kebutuhan jagung harus dilakukan impor,
terutama dari Amerika.
Ketergantungan akan

jagung

impor

berdampak

buruk

terhadap

keberlanjutan penyediaan jagung di dalam negeri. Oleh karena itu, produksi


jagung dalam negeri perlu ditingkatkan sehingga volume impor dapat dikurangi
dan bahkan ditiadakan.
Salah satu kendala dalam produksi suatu komoditas tanaman di negara yang
beriklim tropis dan lembab adalah serangan organisme pengganggu tumbuhan
(OPT) seperti serangga hama dan patogen tumbuhan. Kerugian yang disebabkan
oleh hama dan penyakit tanaman di perkirakan mencapai 37% dari total produksi
dan 13% di antaranya karena serangan hama.
Teknologi yang sampai saat ini sering digunakan untuk pengendalian hama
adalah insektisida. Teknologi ini cukup populer karena efeknya dapat dilihat
dalam waktu relatif singkat. Namun, teknologi ini berbahaya bagi manusia,

hewan, spesies bukan sasaran dan lingkungan jika aplikasinya tidak sesuai dengan
prosedur.
Perbaikan sifat tanaman dapat dilakukan melalui modifikasi genetik baik
dengan pemuliaan tanaman secara konvensional maupun dengan bioteknologi
khususnya

teknologi

rekayasa

genetik

(genetic

engeenering).

Dengan

berkembangnya bioteknologi, perbaikan genetik jagung melalui rekayasa genetik


akan jadi andalan dalam pemecahan masalah perjagungan di masa mendatang.
Seperti diketahui, permuliaan secara konvensional mempunyai keterbatasan dalam
mendapatkan sifat unggul dari tanaman. Dalam rekayasa genetik jagung, sifat
unggul tidak hanya didapatkan dari tanaman jagung itu sendiri, tetapi juga dari
spesies lain sehingga dapat dihasilkan tanaman transgenik. Jagung Bt merupakan
tanaman transgenik yang mempunyai ketahanan terhadap hama, di mana sifat
ketahanan tersebut diperoleh dari bakteri Bacillus thurigiensis.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan di atas, maka penulis
dapat merumuskan masalah, yaitu
1. Bagaimana rekayasa genetika bakteri Bacillus thurigiensis dalam merakit
tanaman jagung transgenik tahan hama serangga?

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Tanaman Jagung


Jagung merupakan salah satu contoh tanaman C4 yang berarti lebih banyak
membutuhkan sinar matahari yang cukup dalam setiapp pertumbuhan tanaman
tersebut. Tanaman C4 merupakan tanaman yang memerlukan intensitas cahaya
matahari yang lebih tibggi sehingga tanaman ini dapat membentuk rantai carbon
sebayak 4 buah dalam menambat carbon dioksida (CO 2) dalam melangsungkan
fotosintesis. Untuk tanaman jagung tidak perlu diadakan naungan karena salah
satu tanaman C4 . sehingga jagung lebih cocok dalam suhu antara 20-30C dan
ketinggian antara 50-1800 m dari permukaan laut. Tanaman jagung juga termasuk
tanaman monokotil yang berarti tidak memiliki kayu pada bagian batangnya dan
termasuk dalam famili rumput-rumputan.

2.2 Bakteri Bacillus thurigiensis

Bacillus thurigiensis adalah bakteri gram-positif, berbentuk batang yang


tersebar secara luas di berbagai negara. Bacillus thurigiensis dibagi menjadi 67
subspesies (hingga tahun 1998) berdasarkan serotipe dari flagela. Bakteri ini
termasuk patogen fakultatif dan dapat hidup di daun tanaman konifer maupun
pada tanah. Apabila kondisi lingkungan tidak mengguntungkan maka bakteri ini
akan membentuk fase sporulasi. Saat sporulasi terjadi, tubuhnya akan terdiri dari
protein Cry yang termasuk ke dalam protein kristal kelas endotoksin delta yang
toksik terhadap sebagian besar makhluk hidup, termasuk manusia dan insekta.
Apabila serangga memakan toksin tersebut maka serangga tersebut dapat mati.
Oleh karena itu, protein atau toksin Cry dapat dimanfaatkan sebagai pestisida
alami.
Klasifikasi Bacillus thurigiensis
Kingdom

: Eubacteria

Filum

: Fimicutes

Kelas

: Bacilli

Ordo

: Bacillales

Famili

: Bacillaceae

Genus

: Bacillus

Spesies

: Bacillus thurigiensis

2.3 Rekayasa Genetika


Rekayasa genetika adalah suatu proses manipulasi gen yang bertujuan untuk
mendapatkan organisme yang unggul. Rekayasa genetika merupakan pokok
bahasan dalam ilmu bioteknologi. Secara ilmiah, rekayasa genetika adalah
manipulasi genetik atau perubahan dalam susunan genetik dari suatu organisme.
Rekayasa genetika merupakan proses buatan/sintesis dengan menggunakan
teknologi DNA rekombinan. Hasil dari rekayasa genetika adalah sebuah
organisme yang memiliki sifat yang diinginkan atau organisme dengan sifat
ungggul, organisme tersebut sering disebut sebagai organisme transgenik.
Rekayasa genetika sangat terkait dengan bidang pertanian khususnya tanaman
perkebunan yang menghasilkan tanaman berkualitas unggul seperti tanaman tahan
hama.
Rekayasa genetik memiliki dampak positif dan negatif. Dampak positif dari
rekayasa genetik tanaman perkebunan, yaitu rekayasa genetik dapat menghasilkan
produk lebih banyak dari sumber yang lebih sedikit, rekayasa tanaman dapat

hidup dalam kondisi lingkungan ekstrem akan memperluas daerah pertanian dan
mengurangi bahaya kelaparan dan makanan dapat direkayasa supaya lebih lezat
dan menyehatkan.
Dampak negatif dari rekayasa genetik tanaman perkebunan, yaitu muncul
bahan kimia baru yang berpotensi menimbulkan pengaruh toksisitas pada tanaman
yang berada di lingkungan perkebunan, menumbulkan gangguan keseimbangan
ekosistem akibat musnahnya plasma nutfah organisme di lingkungan perkebunan
dan menimbulkan penyakit baru ataupun menjadi faktor pemicu bagi penyakit
lain.
2.4 Perakitan Jagung Transgenik tahan hama serangga
Gen ketahanan terhadap serangga hama dan sumbernya disajikan pada Tabel
1. Sebagian dari gen tersebut akan diuraikan dalam makalah ini dengan fokus
uraian ke gen Bt.

Gen Bt adalah hasil isolasi bakteri tanah B. thuringiensis dan telah


digunakan oleh petani di negara maju sebagai pestisida hayati yang aman sejak
puluhan tahun yang lalu. Istilah populer cry merupakan singkatan dari crystal
sebagai representasi gen dari strain Bt yang memproduksi protein kristal yang
bekerja seperti insektisida yang dapat mematikan serangga hama.

Dari penelitian yang ada, umumnya tanaman tahan serangga yang berhasil
ditransformasikan berasal dari gen cryBt yang bersifat meracuni hama serangga
dari kelompok Coleoptera atau Lepidoptera. Racun Bt akan melekat pada
epithelian glycoprotein dalam usus serangga, khususnya pada usus tengah.
Keadaan tersebut akan menyebabkan bocornya usus sehingga cairan yang ada
akan merembes ke luar ke daerah antara usus dan hemocoel dan mengakibatkan
matinya serangga.
Langkah-langkah perakitan tanaman transgenik tahan hama melalui
Bacillus thurigiensis, yaitu
1. Menentukan prioritas jenis atau spesies hama yang akan dikendalikan dengan
tanaman transgenik yang akan dirakit. Untuk keperluan ini umumnya akan
dicari hama yang tidak mempunyai sumber gen tahan dari spesies tanaman
inangnya. Setelah itu ditentukan kandidat gen tahan yang akan dipakai yaitu
Bt-toksin. Bila menggunakan Bt-toksin makan ditentukan gen BT atau gen
Cry yang akan digunakan untuk menghambat pertumbuhan serangga dengan
menggaggu proses pencernaannya.

2. Setelah gen yang diinginkan didapat maka dilakukan perbanyakan gen yang
disebut dengan istilah kloning gen. Pada tahapan kloning gen, DNA yang
mengkode protein Cry akan dimasukkan ke dalam vektor kloning (agen
pembawa DNA), contohnya plasmid Bacillus thurigiensis. Kemudian, vektor
kloning akan dimasukkan ke dalam bakteri sehingga DNA tersebut dapat
diperbanyak seiring dengan perkembangbiakan bakteri.

3. Apabila gen yang diinginkan telah diperbanyak dalam jumlah yang cukup
maka akan dilakukan transfer gen tersebut ke dalam sel tumbuhan yang
berasal dari bagian tertentu, salah satu bagian daun.
4. Setelah transfer DNA selesai, dilakukan seleksi sel daun untuk mendapatkan
sel yang berhasil disisipi gen asing. Hasil seleksi ditumbuhkan menjadi kalus
(sekumpulan sel yang belum terdiferensasi) hingga nantinya terbentuk akar
dan tunas. Apabila telah terbentuk tanaman muda (plantlet), maka dapat
dilakukan pemindahan ke tanah dan sifat baru tanaman dapat diamati.

Salah satu hambatan yang paling besar dalam upaya peningkatan produksi
jagung adalah serangan organisme pengganggu tanaman (OPT), seperti hama dan
penyakit tanaman. Serangan OPT pada tanaman jagung selain menurunkan
produksi juga mengurangi pendapatan petani dan adanya residu pestisida dalam
jumlah besar yang menyebabkan polusi lingkungan.
Tersedianya bioaktif dari kristal protein yang dikode oleh gen Bt,
memungkinkan modifikasi genetik tanaman jagung yang disisipi dengan gen Bt
untuk menghasilkan jagung transgenik Bt (Bt corn). Bt protein yang dihasilkan

oleh gen Bt dapat meracuni hama yang menyerang tanaman jagung. Setelah
dimakan oleh corn borer, Bt protein dipecah oleh suatu pemecah dalam
pencernaan yang bersifat alkalin dari larva serangga dan mengasilkan protein
pendek yang mengikat dinding pencernaan. Pengikatan dapat menyebabkan
kerusakan membran sel sehingga larva berhenti beraktivitas.
Gen BT diisolasi dari bakteri tanah Bacillus thurigiensis yang telah
digunakan petani di negara maju sebagai pestisida hayati sejak puluhan tahun
yang lalu. B. thurigiensis menghasilkan protein kristal Bt, atau Crystal protein
(Cry) yang merupakan protein endotoksin yang bersifat racun bagi serangga.
Namun protein endotoksin yang dihasilkan oleh B. thurigiensis tidak melakukan
pengikatan pada permukaan pencernaan mamalia, karena hewan ternak dan
manusia tidak tahan terhadap protein tersebut.
Pertanaman jagung Bt mempunyai dampak positif terhadap lingkungan
karena dapat menekan penggunaan pestisida. Pengurangan pestisida berarti
menurunkan biaya produksi.
Di negara bagian Iowa, Amerika Serikat, yang mempunyai 80% areal
jagung Bt terjadi pengurangan penggunaan pestisida hingga 600 ton. Dampak
positif lain dari pertanaman jagung Bt adalah ketahanan tanaman terhadap jamur
toksin dari Fusarium penyebab busuk tongkol, dibandingkan dengan jagung nonBt yang mengalami kerusakan berat. Penelitian menunjukkan bahwa penanaman
jagung Bt tidak berpengaruh terhadap serangga berguna seperti laba-laba,
coccinecllid, chtysopid, nabid, dan aman terhadap burung puyuh.

Penelitian rekayasa genetik untuk merakit tanaman transgenik tidak


semudah yang dibayangkan oleh sementara orang, karena di samping memerlukan
biaya besar, peralatan laboratorium yang modern, juga sumber daya manusia yang
tangguh dan handal. Disamping itu, ada keterbatasan lain, yaitu jumlah gen yang
diisolasi dan yang sifat agronominya menarik masih sangat terbatas dan
pengetahuan kita tentang regulasi dari ekspresi fen masih terbatas, serta metode
kultur jaringan untuk regenerasi tanaman masih belum mencukupi.
Di samping itu, ada kendala lain, yaitu peneliti kita masih belum memiliki
kemampuan dalam mengisolasi gen dan mensintesisnya secara kmia. Oleh karena
itu, perlu adanya peningkatan sumber daya manusia, khususnya pembinaan tenaga
usia muda dalam bidang kultur jaringan dengan penekanan pada efisiensi
regenerasi tanaman dan biologi molekuler khususnya teknik isolasi, kloning, dan
karakterisasi gen.

10

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
1. Jagung merupakan salah satu komuditas utama yang banyak dibudidayakan
2.

oleh masyarakat terutama di Indonesia.


Perbaikan sifat tanaman dapat dilakukan melalui modifikasi genetik baik
dengan pemuliaan tanaman secara konvensional maupun dengan bioteknologi

3.

khususnya teknologi rekayasa genetik (genetic engeenering).


Bacillus thurigiensis adalah bakteri gram-positif, berbentuk batang yang akan
tersebar secara luas di berbagai negara. Bakteri ini termasuk patogen

4.

fakultatif dan dapat hidup di daun tanaman konifer maupun pada tanah.
Rekayasa genetika adalah suatu proses manipulasi gen yang mana bertujuan

5.
6.

untuk mendapatkan organisme yang unggul.


Perakitan Jagung Transgenik tahan hama serangga adalah gen Bt.
Gen Bt adalah hasil isolasi bakteri tanah B. thuringiensis dan telah digunakan

7.

oleh petani di negara maju sebagai pestisida hayati.


Salah satu hambatan yang paling besar dalam upaya peningkatan produksi
jagung adalah serangan organisme pengganggu tanaman (OPT), seperti hama

8.

dan penyakit tanaman.


Serangan OPT pada tanaman jagung selain menurunkan produksi juga
mengurangi pendapatan petani dan adanya residu pestisida dalam jumlah
besar yang menyebabkan polusi lingkungan.

3.2 Saran
Penelitian mengenai mikroba dalam rekayasa genetika di Indonesia masih
terbatas, oleh karena itu diperlukan penelitian lebih lanjut dan mendalam baik

11

tentang mikroba- mikroba dan rekayasa genetika untuk bermanfaat dalam bidang
pertanian agar meningkatnya kesejahteraan masyarakat.

12

DAFTAR PUSTAKA

Anonim.

2013.

Makalah

Budidaya

Jagung.

(Online).

(http://semuatentangpertanian.blogspot.com/, diakses 29 April 2014).


Amirhusin, Bahagiawati. 2004. Perakitan Tanaman Transgenik Tahan Hama.
Jurnal

Litbang

Pertanian,

(Online),

Vol

23,

No

1,

(http://pustaka.litbang.deptan.go.id/, diakses 29 April 2014).


Herman, Muhammad. 2012. Perakitan Tanaman Tahan Serangga Hama melalui
Teknik Rekayasa Genetik. Buletin AgroBio, (Online), Vol 5, No. 1,
(http://biogen.litbang.deptan.go.id/, diakses 29 April 2014).
Jivi, Ivan. 2014. Makalah Rekayasa Genetik Di Bidang Pertanian. (Online).
(http://ivanjivi.blogspot.com/, diakses 28 April 2014).
Krisno, Agus. 2012. Rekayasa Genetika Bakteri Bacillus thurigiensis Dalam
Perakitan

Tanaman Transgenik

Tahan Hama Serangga. (Online).

(http://aguskrisnoblog.wordpress.com/, diakses 29 April 2014).


Sustiprijatno. Tanpa Tahun. Jagung Transgenik dan Perkembangan Penelitian di
Indonesia. (Online). (http://balitsereal.litbang.deptan.go.id/, diakses 29 April
2014).

13