Anda di halaman 1dari 15

SIZE REDUCTION

I.

TUJUAN
1. Melakukan pengukuran partikel dengan metode sieving
2. Mengukur daya (energi) yang terpakai pada size reduction
3. Menghitung reduction ratio untuk bahan yang berbeda-beda
4. Menerapkan Hukum Kick dan Rittinger dan menghitung indeks kerja
5. Membuat laporan praktikum secara tertulis

II.

DASAR TEORI
Size reduction diaplikasikan dalam semua proses dimana partikel padatan

dipecah atau dihancurkan menjadi bagian lebih kecil (Mc.Cabe, 1985).


Pemecahan bahan-bahan menjadi bagian-bagian yang lebih kecil merupakan suatu
operasi yang penting di dalam industri pangan. Dasar-dasar teori operasi ini relatif
belum banyak dikembamgkan. Kebanyakan operasi didasarkan pada pengalaman
empiris dan sangat sering menyangkut mekanisasi operasi yang mula-mula
dilakukan dengan tangan ( Rostika, 2012).
Size reduction digunakan untuk menambah reaktifitas padatan, hal ini
memudahkan untuk pemisahan bahan yang tidak diinginkan melalui metode
mekanik (Mc.Cabe, 1985).
Pengecilan ukuran dapat dibedakan menjadi pengecilan yang ekstrim
(penggilingan) dan pengecilan ukuran yang relatif masih berukuran besar
misalnya pemotongan menjadi bentuk-bentuk yang khusus. Pengecilan ukuran
dapat dilakukan secara basah dan kering. Keuntungan-keuntungan yang didapat
melalui penggilingan basah antara lain mudah memperoleh bahan sangat lembut,
berlangsung pada suhu yang tidak tinggi dan sedikit kemungkinan terjadi
oksidasi/ledakan. Oleh karena itu sering kali ditambahkan air untuk bahan yang
sedikit mengandung air.
Ada tiga macam gaya yang digunakan untuk mendapatkan efek pengecilan
ukuran gaya yang digunakan untuk mendapatkan efek pengecilan ukuran. Ketiga

macam gaya tersebut adalah penekanan (compressive), pukulan (impact) dan gaya
sobek (shear, attrision). Jenis gaya yang digunakan akan menentukan tipe atau
rancangan peralatan yang tepat. Performansi mesin untuk size reduction
ditentukan oleh: kapasitas, daya yang digunakan per unit bahan, ukuran dan
bentuk produk. Selama pengecilan ukuran bentuk produk mengalami perubahan
dan menghasilkan desakan. Makin lama desakan makin basar hingga dapat
mematahkan gaya kohesi dan terbentuk suatu retakan yang makin meluas. Suatu
energi harus dibersihkan untuk merubah bentuk dan memecah bahan. Energi ini
makin besar untuk kekuatan pemecahan yang lebih besar bila bahan lebih keras.
Setiap alat penggiling akan menghasilkan partikel-partikel dengan ukuran
dan bentuk-bentuk yang berbeda-beda. Salah satu masalah yang cukup mendasar
adalah bagaimana menentukan diameter masing-masing partikel sehingga
diameter rata-rata awal dan akhir dapat diketahui. Cara yang sering digunakan
adalah dengan analisis ayakan.
Hukum yang berbeda untuk nilai yang berbeda dari eksponen yang telah di
perkirakan yaitu (FM306: size reduction and sieving) :
1.

Hukum kick
Kick beranggapan bahwa energi atau power yang dibutuhkan untuk
pemecahan partikel suatu bahan adalah berbanding lurus dengan rasio dari
diameter partikel keluar grinder dan diameter awal bahan, (McCabe, 1958).
Semakin jauh range atau perbedaan ukuran partikel sebelum dan sesudah
masuk size reduction maka power yang dibutuhkan juga akan semakin besar
pula
Berikut adalah rumus hukum Kick

2.

Hukum Rittinger
Rittinger beranggapan bahwa besarnya power yang diperlukan untuk size
reduction berbanding lurus dengan selisih diameter partikel awal dan akhir
2

dari bahan, ( McCabe, Smith and Harriot - Unit Operations of Chemical


Engineering - 5th ed, part of Size Reduction ).

3.

Hukum bond
Hukum bond (1952) sejauh ini merupakan pendekatan yang paling realistik
untuk perkiraan kebutuhan energi untuk crushing dan grinding. Menurut
bond. Kerja yang dihasilkan untuk membentuk partikel ukuran Dp dari
suatu padatan yang sangat besar sebanding dengan akar pangkat dua dan
perbandingan luas muka dan volume.
Bentuk akhir hukum bond yaitu:

Dimana Kb bergantung pada jenis mesin dan bahan yang dipecah. Nilai Kb
terhubung dengan indeks kerja (work indeks).

Wi : work indeks

III. PROSEDUR KERJA


1)

Alat
a. Saringan 150 mesh

b. Cawan porselen

c. Saringan 34 mesh

d. Spatula

e. Blender

f. Baskom

Gambar III.1 Alat-Alat Praktikum Size Reduction

2) Bahan
a. Kacang kedelai
b. Batu bata

3) Skema Kerja

a. Size reduction untuk kacang kedelai


Kacang kedelai
dihancurkan
Bubuk kacang kedelai
Diayak dengan saringan 150 mesh
Bubuk halus kacang kedelai

b. Size reduction untuk Batu bata


Batu bata
dihancurkan
Bubuk batu bata
Diayak dengan saringan 34 mesh
Bubuk halus batu bata

IV.

Hasil dan pembahasan


1. Hasil
Percobaan
1. Mengukur diameter partikel
a. Batu bata
b. Kacang kedelai
2. Mengukur berat partikel
3. Menghaluskan partikel
dengan blender
a. Batu bata
b. Kacang kedelai

Hasil
0,7 cm
0,6 cm
Masing masing 100 gram

1,5 menit
6 menit

4. Menyaring partikel
a. Batu bata
b. Kacang kedelai

Lolos 100 % saringan 34 mesh


Lolos 80 % saringan 150 mesh

5. Mengukur diameter partikel


setelah size reduction
a. Batu bata
b. Kacang kedelai

100 mesh ( 150 mikron = 0,15


mm)
150 mesh (106 mikron = 0,106
mm)
-

2. Pembahasan
Pada praktikum size reduction ini dilakukan proses kominusi atau
pengecilan ukuran pada suatu bahan. Pada praktikum ini kita menggunakan 100
gram biji kedelai kering dan100 gram batu bata dengan ukuran yang sama
sebagai bahan utama yang akan kita kominusi. Sedangakan untuk grindernya kita
memakai blender biji-bijian yang memiliki daya atau power 400 watt. Salah satu
tujuan dari praktikum ini adalah praktikan mampu melakukan pengukuran partikel
dengan metode sieving serta mampu menerapkan hokum Kick dan Rittinger dan
menghitung indeks kerja. Oleh karena itu dalam praktikum ini kami mencatat
beberapa beberapa variabel yang berhubungan dengan persamaan-persamaan di
dalam hukum Rittinger dan hukum Kick, serta persamaan Bond yang
berhubungan dengan Indeks Kerja Size Reduction.

Sebelum bahan kami masukan ke blender kami mengukur diameter kedua


bahan sebagai data diameter partikel feed. Dari pengukuran kami peroleh diameter
kedelai 0,7 cm dan batu bata 0,6 cm. Setelah kita ketahui diameter awal partikel
feed kita masukan 100 gram butir kedelai ke dalam blender. Kedelai kemudian
kita blender selama 2 menit kemudian kita tuang kedalam baskon untuk
selanjutnya kita screening dengan menggunakan ayakan 150 mesh. Dari
pengamatan yang kita peroleh ternyata hanya sedikit partikel kedelai yang lolos
dari ayakan. Dari sini kita simpulkan bahwa bahan belom seluruhnya terkominusi
oleh blender. Hal ini menunjukan bahwa blender dengan power 400 watt
membutuhkan waktu yang lebih lama untuk membuat partikel kedelai secara
homogen memiliki ukuran 150 mesh. Selanjutnya kami blender lagi partikel
kedelai selama 4 menit hingga berwujud butiran yang sangat halus. Partikel halus
ini selanjutnya kami ayak menggunakan ayakan 150 mesh. Dari pengamatan kami
ternyata 80 persen lebih partikel kedelai lolos dari ayakan 150 mesh. Dari situ
dapat kami simpulkan bahwa partikel kedelai setelah melalui proses kominusi
diameternya mengecil menjadi 150 mesh. Data dari pengukuran diameter awal
dan diameter setelah keluar blender selanjutnya akan kita pakai untuk mencari
konstanta Kick dan Rittinger serta mencari indeks kerja pada kominusi kedelai.
Setelah kedelai selesai di ayak, selanjutnya kami lanjutkan proses kominusi
dengan bahan batu bata. Proses pemblenderan batu bata dilakukan selama 1,5
menit saja. Hal ini kami lakukan karena struktur partikel batu bata yang lebih
amorf dibandingkan kedelai. Hasil blender batu bata yang sudah berupa butiran
halus selanjutnya kami screening dengan menggunakan ayakan 150 mesh. Dari
data pengamatan kami ternyata hanya sedikit partikel batu bata yang lolos dari
ayakan. dari sini kami simpulkan bahwa tidak lolosnya partikel batu bata
dikarenakan ukut=ran partikelnya lebih besar dari 150 mesh. Selanjutnya kami
ayak butiran partikel batu bata dengan ayakan 34 mesh. Namun dari pengamatan
kami ternyata partikel mudah sekali lolos dari ayakan 34 mesh. Karena terlalu
mudahnya partikel batu bata lolos dari ayakan, kami menganggap bahwa ukuran
partikel batu bata pastilah dibawah 34 mesh dan diatas 150 mesh. Dengan

memperhatikan bagaimana mudahnya partikellolos dari ayakan kami mengambil


basis bahwa ukuran partikel batu bata setelah di blender 100 mesh.
Dengan diperoleh diameter awal (da) dan diameter akhir kedelai (db),
serta diketahuinya aliran feed dan power blender kita dapat menghitung indeks
kerja dari proses kominusi kedelai dan batu bata.
Rittinger beranggapan bahwa besarnya power yang diperlukan untuk size
reduction berbanding lurus dengan selisih diameter partikel awal dan akhir dari
bahan, ( McCabe, Smith and Harriot - Unit Operations of Chemical Engineering 5th ed, part of Size Reduction ). Penghitungan Konstanta Rittinger dapat
dilakukan dengan memasukan beberapa variable seperti Power Blender, diameter
awal bahan (da) diameter akhir bahan (db) dan aliran feed yang dimasukan
kedalam blender.
1. Kontanta Rittinger kedelai
Dari pengamatan diperoleh untuk kedelai diameter awal (da) 0,7 cm (7
. 10-3 m), diameter akhir (db) 150 mesh (0.106 . 10-3 m) , power
blender 400 watt( 400 N.m/sekon), dan aliran massa feed 100 gram per
6 menit (0,278 gram per sekon). Dengan memasukan variabel-variabel
tersebut kedalam persamaan Rittinger :

= Kr (

sehingga

Kr =

Kr =

Kr = 0,154 gram/N
2. Kontanta Rittinger batu bata
Sedangakan untuk batu bata diameter awal (da) 0,6 cm (6 . 10-3 m),
diameter akhir (db) 100 mesh (150 . 10-6 m) , power blender 400 watt
(400 N.m/sekon), dan aliran massa feed 100 gram per 1,5 menit (1,11

gram per sekon). Dengan memasukan variabel-variabel tersebut


kedalam persamaan Rittinger :

= Kr (

sehingga Kr =

Kr =

Kr = 5,5 10-2 gram/N


Dari perhitungan nilai Konstanta Rittinger diatas diperoleh bahwa nilai Kr
untuk Batu Bata lebih besar dibandingkan nilai Kr untuk kedelai. Hal ini
membuktikan bahwa nilai Konstanta Rittinger berbanding terbalik dengan
besarnya selisih ukuran partikel sebelum dan sesudah melalui size reduction.
Kick beranggapan bahwa energi atau power yang dibutuhkan untuk
pemecahan partikel suatu bahan adalah berbanding lurus dengan rasio dari
diameter partikel keluar grinder dan diameter awal bahan, (McCabe, Smith and
Harriot - Unit Operations of Chemical Engineering - 5th ed, part of Size
Reduction). Semakin jauh range atau perbedaan ukuran partikel sebelum dan
sesudah masuk size reduction maka power yang dibutuhkan juga akan semakin
besar pula. Sama halnya dengan penghitungan konstanta Rittinger, penghitungan
konstanta Kick juga dapat dilakukan dengan memasukan beberapa variable
kedalam persamaan pada hokum Kick seperti Power Blender, diameter awal
bahan (da) diameter akhir bahan (db) dan aliran feed yang dimasukan kedalam
blender.
Nilai Konstanta Kick untuk Kedelai dapat dicari dari persamaan berikut :

= Kk In (

) sehingga Kk =

Kk =

Kk =

Kk = 349,68 gram/N =
Sedangkan nilai Konstanta Kick untuk Batu Bata dengan penghitungan
yang sama diperoleh Kk = 97,92 gram/N
Dari perhitungan nilai Konstanta Kick diatas diperoleh bahwa nilai Kk
untuk Batu Bata lebih besar dibandingkan nilai Kk untuk kedelai. Hal ini
membuktikan bahwa nilai Konstanta Kick berbanding terbalik dengan besarnya
rasio diameter partikel sebelum dan sesudah melalui size reduction.
Tujuan praktikum yang terakhir adalah mengetahui Indeks kerja dari size
reduction kedua bahan. Nilai indeks kerja dapat dicari melalui persamaan pada
hokum Bond. Bond beranggapan bahwa energi yang dibutuhkan untuk
membentuk pertikel dengan ukuran db dari padatan yang sangat besar adalah
sebanding dengan akar pangkat dua perbandingan luas muka dan volume produk,
(Pengecilan Ukuran Partikel/Kominusi (Size Reduction) Dan Alat-alatnya,
Universitas Gajah Mada). Bentuk hukum Bond :

Dari persamaan diatas dapat kami ketahui bahwa nilai Kb tergantung dari
jenis grinder dan bahan yang di size reduction, termasuk diameter partikel yang
dihasilkan. Nilai Kb dapat dihubungkan dengan Work indeks ( Indeks kerja )
dimana Indeks Kerja didefinisikan sebagai total energi kotor yang diperlukan (
dalam KWh/ton umpan) untuk mereduksi ukuran suatu padatan yang sangat besar
menjadi produk yang 80 %-nya berukuran lolos ayakan, (McCabe, Smith and

10

Harriot - Unit Operations of Chemical Engineering - 5th ed, part of Size


Reduction).
Dengan basis 80 % partikel kedelai lolos ayakan , maka kita dapat mencari
nilai Indeks kerja size reduction kedelai menggunakan blender dengan power 400
watt (0,4 KWh) , aliran massa kedelai masuk blender 100 gram per 6 menit (0,001
ton/h), diameter partikel feed (da) 7 mm dan diameter partikel lolos ayakan 150
mesh (0,106 mm), maka nilai Indeks Kerja dapat dicari melalui persamaan bond
berikut :
Kb=

Kb= 0,3621Wi

Wi =

.(

.(

Wi =

Wi =

Wi = 400

.(

sehingga

.(

)
)
)

Wi = 410,04
Dengan cara yang sama tetapi variable yang berbeda , kita dapat mencari
nilai indeks kerja untuk size reduction Batu Bata, dimana diameter partikel awal
batu bata (da) 6 mm, dan diameter partikel keluaran blender (db) 0,150mm. Dan
m= 4 ton/ hour diperoleh nilai indeks kerja size reduction partikel batu bata Wi =
127,14

11

Dari perhitungan diatas kami dapatkan ternyata nilai Indeks kerjanya


sangat kecil. Jika dibandingkan dengan beberapa nilai indeks kerja pada proses
size reduction batuan dalam sekala industry, nilainya tampak berbeda jauh. Hal ini
dikarenakan proses size reduction pada kedelai ini dilakukan dengan blender yang
memliki power yang besar, sedangkan feed yang kita masukan sangat kecil. Selain
itu berbedaan ukuran partikel sebelum dan sesudah di size reduction sangatlah
jauh. Dengan diperolehnya nilai indeks kerja yang sangat kecil ini kami dapat
simpulkan bahwa nilai indeks kerja size resuction suatu bahan berbanding lurus
dengan massa alir feed bahan dan berbanding terbalik dengan besarnya power alat
size reduction yang di gunakan. Semakin besar power pada grinder yang
digunakan maka nilai indeks kerja kominusi suatu bahan akan semakin kecil.
Penggunaan konstanta Rittinger, Kick dan Indeks kerja dalam kasus size
reduction pada industri. Jika dalam industri proses size reduction kacang kedelai
dan batu bata dimana kapasitas crusher adalah 200 ton per jam (80% bahan
berhasil melewati screen ukuran 150 mesh). Hitunglah power yang dibutuhkan
untuk menghaluskan bahan tersebut?
Jawaban
m= 200 ton/jam = 200.000.000 gram/3600 s = 55.555,5 gram/s
1. Dengan hokum Rittinger untuk kacang kedelai
= Kr (

= 0,154(

= 0,154 (

= 0,154 (9433,96 142,85)


= 1,54 . 9291,1

12

= 1430,82
P =79.490,5 watt

Dengan hokum Rittinger untuk batu bata

= Kr (

= 5,5 . 10-2 (

= 5,5 . 10-2 (

= 5,5 . 10-2 (6666,67 166,67)


= 5,5 . 10-2 . 6500
= 357,5
P =19.861,11 watt

2. Hokum kick untuk kacang kedelai


= Kk In (

)
)

= Kk . In (
= 4,19 (349,6)
= 81399974,16 watt

Hokum kick untuk batu bata


= Kk In (

= Kk . In (

13

= 3,68 (97,92)
= 20019979,98 watt
3. Dengan Hokum bond untuk kacang kedelai

400,84
80168 kwh

Hukum bond untuk batu bata

99,99
19998 kwh

14

V.

Kesimpulan dan saran


1.
Kesimpulan
a. Diameter rata-rata kacang kedelai sebelum size reduction yaitu 0,6 cm
dan diameter rata-rata setelah size reduction selama 6 menit yaitu
0,106 mm. Sedangkan diameter rata-rata batu bata sebelum proses
yaitu 0,7 cm dan diameter rata-rata sesudah size reduction yaitu 0,15
mm.
b. Konstanta Rittinger (Kr) dan Konstanta Kick (Kk) pada kacang kedelai
yaitu 0,154 gram/N. sedangkan pada batu bata yaitu Kr = 5,5 10-2
gram/N , dan Kk kacang kedelai 349,68gram /N , sedangkan batu bata
97,92 gram/N
c. working index dengan persamaan Bond untuk kedelai yaitu 410
sedangkan untuk batu bata yaitu 127,14
2.

Saran
a. jangan menggunakan bahan yang mengandung banyak air untuk
memudahkan proses pengayakan.
b. penggunakan alat sesuai karakteristik bahan untuk mempermudah
proses size reduction.

DAFTAR PUSTAKA
Mc.Cabe,W.L.1985.Unit Operation of Chemical Engineering.Tioon Weel
Finishing Co.Ltd.Singapura.
Tim Dosen Teknik Kimia Unnes.2013 .Buku Petunjuk Praktikum Operasi Teknik
Kimia I.
Rostika, Apr2012,Size Reduction. Scribd. Volume 12,
https://www.scribd.com/doc/90064238/Size-Reduction, 10noktober 2014.

15