Anda di halaman 1dari 16

2.

1 MDGs 2015
Tujuan pembangunan milenium atau Millennium Development Goals (MDGs)
adalah deklarasi milenium hasil kesepakatan kepala negara dan perwakilan 189
negara perserikatan bangsa-bangsa (PBB) yang mulai dijalankan pada september
tahun 2000, berupa delapan butir tujuan untuk dicapai pada tahun 2015.
Delapan tujuan MDGs yang harus dilaksanakan oleh setiap negara yang
mendeklarasikannya yaitu:
1. Menanggulangi kemiskinan dan kelaparan
2. Mencapai pendidikan dasar untuk semua
3. Mendorong kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan
4. Menurunkan angka kematian anak
5. Meningkatkan kesehatan ibu
6. Memerangi HIV/AIDS, malaria dan penyakit menular lainnya
7. Memastikan kelestarian lingkungan hidup, dan
8. Mengembangkan kemitraan global untuk pembangunan

Gambar
Capaian MDGS yang memerlukan kerja keras (2011)
Salah satu dari tujan MDGs yang memerlukan kerja keras dalam
pencapaiannya pada tahun 2015 adalah meningkatkan kesehatan ibu, hal ini
dikarenakan meningkatnya angka kematian ibu ditiap-tiap tahunnya. Target MDGs
dalam meningkatkan kesehatan ibu terbagi menjadi 2 hal pokok, yaitu pada poin 5a
adalah menurunkan angka kematian ibu sebesar tiga per empat jumlahnya, antara
tahun 1991 dan 2015. Target MDGs pada poin 5b yaitu mencapai dan menyediakan
akses kesehatan reproduksi untuk semua pada tahun 2015.
Dua Target tersebut memiliki 6 indikator pencapaian dalam hal meningkatnya
derajat kesehatan ibu, yaitu:

1. AKI (per 100.000 kelahiran hidup)


2. Pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan terlatih
3. CPR pada perempuan menikah usia 15-49 tahun
4. ASFR, usia 15-19 tahun (per 1000 remaja perempuan usia 15-19 tahun
5. Cakupan pelayanan antenatal (1 kali kunjungan dan 4 kali kunjungan)
6. Unmet need
Angka kematian ibu merupakan salah satu target utama yang telah ditentukan
dalam tujuan pembangunan milennium (MDGs 2015), yaitu dengan meningkatkan
derajat kesehatan ibu. Salah satunya adalah dengan menurunkan AKI menjadi tiga
per empat dari tahun 1991, yaitu 390 per 100.000 kelahiran hidup menjadi 102 per
100.000 kelahiran hidup pada tahun 2015.
2.1 Definisi AKI
Angka kematian ibu (AKI) adalah jumlah kematian seorang wanita yang
terjadi selama kehamilan sampai 42 hari setelah berakhirnya kehamilan, tanpa
memperhatikan lama dan tempat terjadinya kehamilan. Penyebab kematian oleh
karena kehamilannya atau penanganan kehamilan, tetapi bukan karena kecelakaan per
100.000 kelahiran hidup.
AKI merupakan salah satu indikator untuk menilai derajat kesehatan serta
derajat kesejahteraan perempuan. Indikator ini dipengaruhi oleh status kesehatan,
pendidikan, pelayanan selama kehamilan dan proses persalinan. Sensitivitas AKI

terhadap perbaikan pelayanan kesehatan menjadi

tolak ukur

keberhasilan

pembangunan sektor kesehatan.


2.2 Data AKI dan Target MDGs-5
Menurut Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI), angka kematian
ibu pada tahun 2012 mencapai 359 per 100.000 kelahiran hidup. Angka kematian ini
mengindikasikan dalam sejam ada tiga hingga empat ibu di Indonesia meninggal
karena melahirkan, dan dalam sehari ada 72 hingga 96 kematian ibu, serta dalam
setahun dapat mencapai 25.000 hingga 34.560 ibu meninggal karena melahirkan.
Angka Kematian Ibu di Indonesia tahun 1991-2012

Gambar 1.1
AKI di Indonesia tahun 1990-2012

Gambar diatas menunjukkan pada tahun 2007 angka kematian ibu mengalami
penurunan yang signifikan dari tahun ke tahun yaitu sebesar 228 per 100.000

kelahiran hidup. Pada tahun 2010 angka kematian ibu meningkat kembali menjadi
259 per 100.000 kelahiran hidup, dan di tahun 2012 meningkat secara drastis hingga
mencapai 359 per 100.000. Angka kematian ibu ditahun 2012 tidak berbeda jauh
dengan kondisi 22 tahun yang lampau mencapai 390 per 100.000 kelahiran hidup
Selain angka kematian banyak target yang belum dicapai dalam meningkatkan
derajat kesehatan ibu hingga tahun 2012. 5 target lainnya berupa:

Gambar
Target dan pencapaian pembangunan bidang kesehatan ibu di indonesia

Pertolongan persalinan di fasilitas kesehatan terus meningkat secara bertahap.


Pada tahun 2007 pertolongan persalinan mencapai 46,1 % dan meningkat menjadi 59,

dari total persalinan di tahun 2010 dari total persalinan. Pada tahun 2012

pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan meningkat cukup signifikan hingga


83,1 % dari total persalinan, tetapi belum memenuhi target MDGs yaitu sebesar 90 %
dari total persalinan.
Berdasarakan SDKI 2012, cakupan kesertaan KB aktif atau Contraceptive
Prevalence Rate (CPR) meningkat 0,5 % dari 57,4% menjadi 57,9% (SDKI 2012),
angka kelahiran pada remaja 15-19 tahun atau Age Spesific Fertility Rate (ASFR)
masih tinggi yaitu 48 per 1000 perempuan usia 15-19 tahun. Indikator- indikator ini
merupakan tujuan MDGs 2015 yang belum optimal pencapaiannya, sehingga ikut
berkontribusi dalam stagnannya Total Fertility Rate (TFR) dan berdampak pada
tingginya angka kematian ibu di Indonesia.
2.3 Penyebab Kematian Maternal
Penyebab kematian maternal sangat kompleks. Penyebab kematian tersebut
dapat di golongkan dalam tiga kelompok besar, yaitu:
1. Penyebab kematian langsung
Penyebab kematian berkaitan langsung dengan perjalanan kehamilan,
persalinan, post partum, dan masa peurperium. Bentuk penyebab kematian adalah
trias klasik berupa: perdarahan, hipertensi / eklampsi, dan infeksi. Penyebab
lainnya berupa abortus, partus lama, emboli obstetric, komplikasi masa peurpurium,
dan lain-lain.

Grafik ini menunjukkan distribusi persentase penyebab kematian ibu


melahirkan, berdasarkan data tersebut tiga faktor utama penyebab kematian ibu
melahirkan yakni perdarahan, hipertensi atau eklampsia dan infeksi.
a. Perdarahan
Perdarahan menempati persentase tertinggi penyebab kematian ibu (28 %).
Perdarahan yang menyebabkan kematian maternal selama kehamilan, dapat terjadi
pada usia kehamilan muda/trimester pertama, yaitu perdarahan karena abortus
(termasuk didalamnya abortus provokatus dan kehamilan yang tidak diinginkan) serta
kehamilan ektopik terganggu (KET).
Kemudian perdarahan yang terjadi pada kehamilan lanjut atau antepartum.
Menurut WHO perdarahan antepartum adalah perdarahan yang terjad pada kehamilan
berumur di atas 22 minggu atau berat janin 500 gr. Penyebab perdarahan antepartum

dapat berupa persalinan immaturus, persalinan premature, pecahnya sinus marginalis,


plasenta previa, solusio plasenta, pecahnya vasa previa.
Penyebab perdarahan selanjutnya adalah perdarahan post partum. Perdarahan
post partum adalah hilangnya 500 ml atau lebih darah setelah kala tiga persalinan
selesai. Perdarahan ini paling tinggi menyebabkan kematian maternal karena
kejadiannya sebagian besar mendadak dan sering terlambat dirujuk, sehinga dapat
terjadi kematian dalam perjalanan. Di negara berkembang, keadaan akan lebih berat
karena sebagian ibu hamil dalam kondisi anemia sehingga dapat memperberat kondisi
akibat perdarahan.
Atonia uteri menjadi penyebab lebih dari 90 % perdarahan pascapersalinan
yang terjadi dalam 24 jam setelah kelahiran bayi. Menurut Kemenkes RI tahun 2008
Dua pertiga dari semua kasus perdarahan pascapersalinan terjadi pada ibu tanpa
faktor resiko yang diketahui sebelumnya dan tidak mungkin memperkirakan ibu
mana yang akan mengalami atonia uteri atau perdarahan pascapersalinan. Atonia
uteri menyumbang 63 % dari total kematian karena perdarahan dan kondisi ini
diperberat oleh tiga terlambat dan empat terlalu. Keterlambatan mengambil keputusan
menyebakan kondisi perdarahan yang terjadi semakin berat karena tidak
mendapatkan pertolongan yang segera dan sesuai dengan prosedur yang berujung
pada kematian ibu. Resiko lain apabila wanita yang bersangkutan pernah mengalami
perdarahan postpartum dan kesalahan penatalaksanaan pada kala III.

Penyebab perdarahan postpartum yang lain adalah perdarahan akibat retensi


sisa plasenta, inversio uteri, laserasi traktus genitalia, hematoma puerperium dan
ruptur uteri. Kematian ibu oleh karena ruptur uteri masih terjadi yang dilaporkan oleh
Ripley dalam Cunningham 2005. Bahkan, 20 persen kematian ibu karena perdarahan
disebabkan oleh ruptur uteri.
Perdarahan pasca persalinan

b. Eklampsia
Penyebab tertinggi kedua kematian ibu adalah eklampsia (24%). eklampsia
adalah apabila ditemukan kejang-kejang pada penderita preeklampsia, yang juga
dapat disertai koma. Pre-eklampsia dalam kehamilan adalah apabila dijumpai tekanan

darah 140/90 mmHg setelah kehamilan 20 minggu (akhir triwulan kedua sampai
triwulan ketiga). Kelainan ini terjadi selama masa kelamilan, persalinan, dan masa
nifas.
Kejang bisa terjadi pada pasien dengan tekanan darah tinggi (hipertensi) yang
tidak terkontrol saat persalinan. Hipertensi dapat terjadi karena kehamilan, dan akan
kembali normal bila kehamilan sudah berakhir. Namun ada juga yang tidak kembali
normal setelah bayi lahir. Kondisi ini akan menjadi lebih berat bila hipertensi sudah
diderita ibu sebelum hamil.
c. Infeksi
Infeksi langsung yang paling banyak mengakibatkan kematian adalah infeksi
post partum atau selama masa nifas. Infeksi nifas terjadi melalui traktus genitalis
setelah persalinan. Suhu 38 C atau lebih yang tejadia antara hari ke 2 sampai 10 post
partum dan di ukur peroral sediktinya 4 kali sehari disebut sebagai morbiding
puepuralis. Kenaikan suhu tubuh yang terjadi didalam amsa nifas dianggap sebagai
infeksi nifas jika tidak ditemukan sebab-sebab ekstragenital.
Beberapa faktor predisposisi infeksi pada kehamilan dan nifas adalah:

Kurang gizi atau malnutrisi

Anemia

Higienis

Kelelahan

Proses persalinan bermasalah: partus lama atau macet, korioamnionitis,


persalinan traumatic, kurang baiknya proses pencegahan infeksi, periksa
dalam yang berlebihan.

Infeksi tidak langsung yang menyebabkan kematian ibu, paling umum adalah
malaria, tuberkulosis, dan hepatitis. Ibu hamil yang terinfeksi penyakit-penyakit
tersebut biasanya memiliki gejala yang lebih parah dan memiliki tingkat risiko
keguguran, kematian janin, persalinan premature, berat badan lahir rendah, kematian
bayi dan atau ibu.
2. Penyebab kematian antara
Faktor penyebab kematian bersumber dari individu yang bersangkutan,
seperti: grandemultipara serta penyakit yang menyertai kehamilan, seperti : penyakit
jantung, paru, ginjal, asma, dan infeksi pada kehamilan, persalinan, serta nipas.
Kehamilan yang disertai penyakit ini dapat dimasukkan ke dalam kehamilan beresiko
tinggi.
3. Penyebab kematian secara tidak langsung
Penyebab kematian ibu secara tidak langsung berupa kasus 3 TERLAMBAT
dan 4 TERLALU. 3 TERLAMBAT dan 4 TERLALU ini berupa:

Gambar
Kasus tiga terlambat 4 terlalu
2.4 Upaya penanggulangan AKI
Penanggulangan tingginya angka kematian ibu dapat dilakukan dengan
penguatan pelayanan keluarga berencana. Program keluarga berencana merupakan
salah satu upaya penting yang mendukung percepatan penurunan AKI dengan
mencegah kehamilan yang tidak diinginkan dan kehamilan dengan 4 terlalu.
Dalam upaya percepatan penurunan angka kematian ibu berbagai kegiatan yang telah
dan harus terus dilakukan, meliputi:
A. Upaya peningkatan pelayanan antenatal berkualitas
1. Penggunaan buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) pada ibu hamil
2. Pelayan antenatal terpadu di fasilitas pelayanan kesehatan tinkat dasar dan
rujukan
3. Pencegahan dan penanganan malaria pada kehamilan
4. Pencegahan dan penanganan anemia pada kehamilan
5. Pencegahan dan penanganan Kurang Energi Kronis (KEK) pada kehamilan
6. Pelaksanaan edukasi pada ibu hamil

7. Prevention of Mother to Child Transmission of HIV (PMTCT)


B. Upaya peningkatan persalinan di tolong tenaga kesehatan di fasilitas pelayanan
kesehatan
1. Pelaksanaan Jaminan Persalinan (Jampersal)
2. Penguatan kemitraan bidan dan dukun
3. Pengembangan rumah tugu kelahiran
4. Pemantapan supervisi fasilitatif
C. Upaya pencegahan dan penanganan komplikasi maternal
1. Pemberdayaan masyarakat melalui program perencanaan persalinan dan
pencegahan komplikasi (P4K)
2. Optimalisasi fungsi puskesmas mampu PONED 24 jam
3. Optimalisasi fungsi rumah sakit mampu PONEK 24 jam
D. Upaya peningkatan kualitas fasilitas pelayanan kesehatan dalam pelayanan
keluarga berencana
1. Peningkatan pelayanan KB pasca persalinan
2. Clinical technology update (CTU)
3. Penguatan sistem pencatatan dan pelaporan pelayanan KB
4. Pemantapan penggunaan Alat Bantu Pengambilan Keputusan (ABPK) berKB
5. Jampersal untuk pelayanan KB pasca persalinan

6. Peningkatan kemampuan tenaga kesehatan puskesmas dan jaringannya dalam


pelayanan KB
7. Penguatan metode kontrasepsi jangka panjang (MKJP)
E. Upaya peningktan kualitas pelayanan kesehatan reproduksi
1. Perencanaan terpadu kesehatan ibu yang responsive gender berbasis data
(district team problem solving - DPTS)
2. Peningkatan kapasitas tenaga kesehatan dalam pelayanan kesehatan
reproduksi pada situasi darurat bencana
3. Upaya peningkatan dukungan manajemen program kesehatan ibu dan
reproduksi
4. Optimalisasi pemantauan wilayah setempat (PWS) kesehatan ibu dan KB
untuk monitoring kegiatan (bulanan, tribulanan, semester, tahun)
5. Pelaksanaan audit maternal perinatal (AMP)
6. Penguatan kapasitas Badan Koordinator dalam pelaksanaan supervise
fasilitatif
7. Fasilitasi pengembangan inovasi dan lesson learnt kesehatan reproduksi
Menurut Direktorat Bina Kesehatan Ibu Kementrian Kesehatan Republik
Indonesia, percepatan penurunan angka kematian ibu dapat tercapai sesuai MDGs
2015 apabila 50% kematian ibu di tingkat provinsi dapat di cegah, dengan cara:
a. Memastikan setiap komplikasi maternal mendapatkan penanganan secara adekuat
dan tepat waktu melalui pemantapan jejaring rujukan.

b. Memastikan setiap ibu hamil mendapatkan pelayanan antenatal sesuai standar.


c. Mengupayakan setiap persaliann ditolong oleh tenaga kesehatan di fasilitas
pelayanan kesehatan.
d. Memberikan pelayanan KB sesuai standar untuk mencegah kehamilan 4 Terlalu.
e. Meningkatkan pemberdayaan suami, keluarga dan masyarakat dalam kesehatan
reproduksi responsive gender
f. Mengoptimalkan manajemen kesehatan ibu di setiap tingkatan.
g. Memastikan dukungan pembiayaan program kesehatan ibu.

BAB 3
KESIMPULAN