Anda di halaman 1dari 20

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pembangunan adalah rangkaian usaha pertumbuhan dan perubahan yang
terencana yang dilakukan secara sadar oleh suatu bangsa, Negara, dan pemerintah
menuju moderanitas dalam rangka pembinaan bangsa. Pembangunan nasional ini
mencangkup seluruh aspek kehidupan bangsa misalnya aspek politik, ekonomi, sosial
budaya, pertahanan dan keamanan nasional serta khususnya dalam bidang
administrasi negara1. Pembangunan nasional adalah salah satu bentuk pelaksanaan
Pancasila Sila Kelima, yakni keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, yang pada
umumnya di negara-negara berkembang termasuk Indonesia diprioritaskan pada
pembangunan di bidang ekonomi. Hal ini mendorong terjadinya urbanisasi yang
merupakan perpindahan penduduk dari daerah pedesaan yang agraris ke daerah
masyarakat perkotaan yang kegiatannya ada di bidang manajemen, perdagangan,
manufaktur, atau kegiatan yang sejenis2.
Berbagai penelitian telah membuktikan bahwa banyaknya sektor informal di
berbagai kota besar di dunia termasuk Indonesia tidak terlepas dari adanya urbanisasi
dari desa ke kota. Secara garis besar terjadinya urbanisasi dapat dikategorikan dalam
dua faktor yaitu faktor pendorong dan faktor penarik3. Faktor pendorong timbulnya
urbanisasi yaitu disebabkan oleh berbagai fasilitas untuk hidup dan pendidikan di desa
yang semakin berkurang. Selain itu, lapangan pekerjaan di pedesaan semakin hari
semakin langka. Hal ini dikarenakan akibat kebijakan pembangunan yang selalu
mementingkan pembangunan sarana dan prasarana di kota, tanpa memperhatikan
sarana prasarana di desa. Sedangkan faktor penarik timbulnya urbanisasi adalah faktor
ekonomi karena kota mempunyai daya tarik tersendiri karena kota menyediakan
berbagai fasilitas dan kemudahan untuk mendapatkan uang dan status sosial. Keadaan
1

Sondang P. Siagaan, Administrasi Pembangunan Konsep Dimensi dan Strategi, 1990, Jakarta: Gunung Agung, hlm.
39.
2
R. Bintarto, Urbanisasi dan Permasalahannya, 2000, Jakarta: Graha Indonesia, hlm. 27.
3
Yahya Ismail, Faktor-Faktor Urbanisasi, [www.hukumonline.com], diakses tanggal 11 Oktober 2014 pukul 20.35
WIB.

semacam ini menyebabkan kebutuhan lapangan kerja diperkotaan semakin tinggi.


Seiring dengan hal tersebut ternyata sektor formal tidak mampu menyerap seluruh
pertambahan angkatan kerja. Akibatnya terjadi kelebihan tenaga kerja yang tidak
tertampung, mengalir dan mempercepat tumbuhnya sektor informal. Salah satu bentuk
perdagangan informal yang penting adalah pedagang kaki lima4.
Dewasa ini keberadaan pedagang kaki lima keberadaannya seringkali dapat kita
jumpai diperkotaan yang berjualan di terotoar-terotoar sampai ke badan-badan jalan
maupun lahan parkir. Misalnya saja keberadaan PKL yang berada di sekitaran Unpad
dan ITB. Dari hal ini kita bandingkan keberadaan PKL yang berada di sekitaran kampus
tersebut serta dikaitkan dengan Perda No. 12 Tahun 2002 dan Perwalkot No. 888
Tahun 2012.
Dalam Perwalkot No. 888 Tahun 2012 tentang Petunjuk Pelaksanaan Peraturan
Daerah Kota Bandung Nomor 04 Tahun 2011 Tentang Penataan dan Pembinaan
Pedagang Kaki Lima, Pedagang Kaki Lima merupakan pedagang yang melakukan
usaha perdagangan disektor informal yang menggunakan fasilitas umum baik dilahan
terbuka dan/atau tertutup dengan menggunakan peralatan bergerak maupun tidak
bergerak.
Keberadaan pedagang kaki lima tidak lepas dari peran serta mahasiswa yang butuh
akan jajanan murah dan kebutuhan mahasiswanya itu sendiri. Di lain pihak, keberadaan
PKL saling menguntungkan para pihak penjual dan pembeli. Namun dengan adanya
keberadaan PKL timbulah permasalah baru yaitu adanya masalah perizinan dan
pungutan liar yang timbul dibebankan kepada PKL.

B. Identifikasi Masalah
1. Bagaimanakah kondisi di dalam proses pelaksanaan perizinan pedagang kaki
lima di sekitar kampus Unpad dan ITB?

M. Rosul, Pedagang Kaki Lima, [http://mrosul.wordpress.com/pedagang-kaki-lima], diakses pada tanggal


11 Oktober 2014 pukul 20.30 WIB.

2. Apakah perizinan di kedua kampus tersebut pada prakteknya sesuai dengan


Perda No 12. Tahun 2002 dan Perwalkot No. 888 Tahun 2012?

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Daerah perkotaan yang kini mulai dipadati penduduk dari berbagai daerah
memunculkan berbagai persoalan, salah satu diantaranya adalah terkait maraknya
kegiatan usaha informal dalam hal ini yaitu Pedagang Kaki Lima yang biasa kita sebut
PKL, hal ini tidak terkecuali di Kota Bandung. PKL yang merupakan kegiatan
perekonomian

perkotaan

memang

mempunyai

kompleksitas

tinggi

dalam

pengaturannya, maka untuk menata dan mengontrol pertumbuhan PKL tersebut


dibutuhkan suatu izin.
A. Perizinan
Terkait dengan perizinan, Adrian Sutedi mengartikan izin (vergunning) sebagai
suatu persetujuan dari penguasa berdasarkan undang-undang atau peraturan
pemerintah untuk dalam keadaan tertentu menyimpang dari ketentuan-ketentuan
larangan peraturan perundang-undangan5. Ateng Syafrudin menyatakan bahwa izin
bertujuan dan berarti menghilangkan halangan, hal yang dilarang menjadi boleh atau
sebagai peniadaan ketentuan larangan umum dalam peristiwa konkrit. Sedangkan Spelt
dan ten Berge berpendapat bahwa izin merupakan suatu persetujuan dari penguasa
berdasarkan undang-undang atau peraturan pemerintah untuk dalam keadaan tertentu
menyimpang dari ketentuan-ketentuan larangan peraturan perundang-undangan6.
Perizinan dapat berbentuk pendaftaran, rekomendasi, sertifikasi, penentuan kuota, dan
izin untuk melakukan sesuatu usaha yang biasanya harus dimiliki atau diperoleh suatu
organisasi perusahaan atau seseorang sebelum yang bersangkutan dapat melakukan
suatu kegiatan atau tindakan.
Perizinan mempunyai fungsi sebagai penertib dan pengatur. Sebagai fungsi
penertib, dimaksudkan agar izin atau setiap izin atau tempat-tempat usaha, bangunan

5
6

Adrian Sutedi, Hukum Perizinan Dalam Sektor Pelayanan Publik, 2010, Jakarta: Sinar Grafika, hlm. 167.
Pudyamoko Sri, Perizinan, 2009, Jakarta: Grasindo, hlm. 7.

dan bentuk kegiatan usaha masyarakat lainnya tidak bertentangan satu sama lain.
Berkaitan dengan itu, maka ketertiban dalam setiap segi kehidupan masyarakat dapat
terwujud. Sedangkan izin sebagai fungsi mengatur dimaksudkan agar perizinan yang
ada

dapat

dilaksanakan

sesuai

dengan

peruntukkannya,

sehingga

terdapat

penyalahgunaan izin yang telah diberikan, dengan kata lain fungsi pengaturan ini dapat
disebut juga sebagai fungsi yang dimiliki oleh pemerintah7.
Pemerintah melalui izin terlibat dalam kegiatan warga negara. Menurut Spelt dan
Ten Berge, motif-motif untuk menggunakan sistem izin dapat berupa keinginan untuk
mengarahkan (mengendalikan/sturen) aktivitas-aktivitas tertentu, mencegah bahaya
bagi lingkungan, keinginan melindungi objek-objek tertentu, hendak membagi bendabenda yang sedikit, dan mengarahkan dengan menyeleksi orang-orang dan aktivitasaktivitas8. Tujuan dari perizinan itu dapat dilihat dari dua sisi yaitu dari sisi pemerintah,
dan dari sisi masyarakat.
1. Dilihat dari sisi Pemerintah
a. Guna melaksanakan peraturan
Apakah ketentuan-ketentuan yang termuat dalam peraturan tersebut sesuai
dengan kenyataan dalam pratiknya atau tidak dan sekaligus untuk mengatur
ketertiban.
b. Bermanfaat sebagai sumber pendapatan daerah
Dengan adanya permintaan permohonan izin, maka secara langsung
pendapatan pemerintah akan bertambah karena setiap izin yang dikeluarkan
pemohon harus membayar retribusi terlebih dahulu. Semakin banyak pula
pendapatan di bidang retribusi tujuan akhirnya, yaitu untuk membiayai
pembangunan.
2. Dilihat dari sisi masyarakat
a. Untuk adanya kepastian hokum

7
8

Adrian Sutedi, Op.Cit., hlm. 193.


Pudyamoko Sri, Op.Cit., hlm. 11.

b. Untuk adanya kepastian hak


c. Untuk memudahkan mendapatkan fasilitas
B. Sektor Usaha Informal
Penggunaan istilah informal pada dasarnya untuk menggambarkan sifat dualistik
sistem ekonomi perkotaan. Sektor informal oleh Biro Pusat Statistik (BPS) diartikan
sebagai unit usaha berskala kecil yang menghasilkan dan mendistribusikan barang dan
jasa dengan tujuan utama menciptakan kesempatan kerja dan penghasilan bagi dirinya
sendiri meskipun mereka menghadapi kendala baik modal maupun sumberdaya fisik
dan manusia. Istilah sektor informal pertama kali muncul oleh Keith Hart (1971) dengan
menggambarkan sektor informal sebagai bagian angkatan kerja kota yang berada diluar
pasar tenaga terorganisasi. Pendekatan teori yang relevan dengan munculnya para
pelaku usaha informal ini adalah teori migrasi dan urbanisasi. Migrasi merupakan
perpindahan penduduk dari satu tempat ke tempat yang lain, sementara itu urbanisasi
merupakan perpindahan penduduk dari desa ke kota dengan maksud dan tujuan-tujuan
tertentu, salah satunya adalah faktor ekonomi. Menurut Todaro dan Smith (2006),
dalam tulisannya yang berjudul Dilema Migrasi dan Urbanisasi, menyatakan dilema
yang paling kompleks dari proses pembangunan adalah perpindahan penduduk
(migrasi) secara besar-besaran dari berbagai daerah pedesaan ke daerah perkotaan.
Migrasi ini memperburuk ketidakseimbangan struktural antara desa dan kota secara
langsung dalam dua hal, yang pertama, sisi penawaran, migrasi internal secara
berlebihan akan meningkatkan jumlah pencari kerja di perkotaan yang melampaui
tingkat atau batasan pertumbuhan penduduk, yang sedianya masih dapat didukung
oleh segenap kegiatan ekonomi dan jasa-jasa pelayanan yang ada di daerah
perkotaan, sehingga dengan datangnya penduduk yang tidak terkontrol ke daerah
perkotaan menyebabkan ketimpangan antara tenaga kerja dengan lapangan pekerjaan,
hal tersebutlah yang menyebabkan timbulnya pelaku-pelaku usaha informal di daerah
perkotaan.
Karakteristik sektor informal antara lain kegiatan usaha tidak terorganisir dengan
baik, pada umumnya tidak memiliki izin usaha, aktivitas usahanya tidak teratur dengan
baik dalam arti tempat dan waktunya, kebijakan pemerintah tidak menyentuh sektor ini,
6

pola usahanya dapat berubah dari sub-sektor satu ke sub-sektor yang lain,
menggunakan teknologi sederhana, operasi usahanya dalam skala kecil karena
modalnya relatif kecil, pendidikan formal bukan syarat utama untuk menjalankan sektor
ini, tetapi lebih mendasarkan pada pengalaman, aktivitas kerjanya dilakukan sendiri dan
dibantu anggota keluarga yang tidak diupah, modal diperoleh dari tabungan pribadi atau
institusi keuangan yang bukan formal, sebagian besar barang dan jasa yang diproduksi
untuk kelompok masyarakat berpendapatan menengah9.
Berdasarkan Undang-Undang RI Nomor 20 Tahun 2008 tentang Usaha Mikro, Kecil
Dan Menengah, PKL masuk dalam kelompok usaha mikro. Usaha mikro sesuai Pasal 6
ayat (1) mempunyai pengertian usaha produktif milik orang perorangan dan/atau badan
usaha perorangan yang memenuhi kriteria sebagai berikut:
a. memiliki kekayaan bersih paling banyak Rp. 50.000.000,- (lima puluh juta rupiah)
tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha; atau
b. memiliki hasil penjualan tahunan paling banyak Rp. 300.000.000,- (tiga ratus juta
rupiah).
Konsep sektor informal lebih difokuskan pada aspek-aspek ekonomi, aspek sosial
dan budaya. Aspek ekonomi diantaranya meliputi penggunaan modal yang rendah,
pendapatan rendah, skala usaha relatif kecil. Aspek sosial diantaranya meliputi tingkat
pendidikan formal rendah berasal dari kalangan ekonomi lemah, umumnya berasal dari
migran. Sedangkan dari aspek budaya diantaranya kecenderungan untuk beroperasi
diluar sistem regulasi, penggunaan teknologi sederhana, tidak terikat oleh curahan
waktu kerja. Sektor informal sebagai identitas problematika perkotaan berkembang
diberbagai bidang meliputi bidang industri, perdagangan, jasa dan sebagainya.
Keberadaan sektor ekonomi informal di perkotaan sangat mudah dijumpai dan dikenali
di trotoar-trotoar, alun-alun kota, dan dekat pusat keramaian kota serta ruang-ruang
publik di perkotaan, keberadaan pedagang sektor informal ini muncul dan berkembang
karena memang kehadiran mereka merupakan sebuah respon atas segala kondisi yang
ada.
9

Hidayat, Peranan Sektor Informal Dalam Struktur Perekonomian Daerah Yogyakarta, 1978, Pusat Penelitian
Sumberdaya Manusia dan Lingkungan, Universitas Padjadjaran, Bandung, hlm. 11.

C. Penataan PKL
Masalah PKL merupakan masalah kehidupan masyarakat banyak yang tidak pernah
selesai dari waktu ke waktu. Untuk mengatasi dampak negatif yang ditimbulkan dari
keberadaan PKL, maka diperlukan kesatuan pemahaman antara pihak pemerintah
(selaku regulator) dengan pihak PKL itu sendiri. Artinya, sikap pemerintah sudah
seharusnya tidak anti PKL dan lebih bertindak persuasif, begitupun juga sebaliknya,
para pedagang harus memiliki kesadaran dalam menentukan lokasi usaha dengan tidak
mengesampingkan

kepentingan

masyarakat

banyak

terhadap

fasilitas

umum.

Disamping itu, peranan pengusaha/perusahaan besar untuk memberikan dukungan


modal ataupun kemitraan, juga sangat diperlukan guna pengembangan usaha. Proses
pemahaman inilah yang perlu dirumuskan dalam suatu strategi kebijakan penanganan
PKL, sehingga dapat memenuhi tujuan/keinginan berbagai pihak.
Pertumbuhan di sektor informal meningkatkan pendapatan golongan ekonomi
lemah, mengurangi setengah pengangguran, bahkan bekerja di sektor informal
merupakan pilihan kedua yang harus dijalani bagi pekerja golongan ekonomi lemah di
sektor formal. Kemajuan di sektor ini sekaligus dapat meningkatkan pendapatan
nasional dan memperbaiki distribusi pendapatan. Namun demikian perlindungan
ekonomi bagi para pekerja di sektor informal ini tidak mendapat perlindungan hukum
sebagaimana mestinya. Pedagang Kaki Lima (PKL) seringkali bertolak belakang
dengan pemerintah daerah karena dianggap mengganggu ketertiban umum. Landasan
yuridis yang mengacu kepada keadilan sosial sebagaimana tercantum dalam UUD
1945 perlu dipikirkan.
Menurut Pena (1999), terdapat tiga pilihan mengatasi PKL, pertama, negara harus
menjadi kunci dalam mengatur PKL, karena keberadaan negara sangat penting dalam
proses pembangunan, kedua, organisasi PKL dibiarkan untuk terus mengatur kegiatan
mereka sendiri, ketiga, menyarankan pemerintah dan PKL untuk menegosiasikan
ruang-ruang aksinya (lokasi usaha).

Kebijakan penataan dan pembinaan pelaku usaha informal atau yang biasa disebut
sebagai pedagang kaki lima merupakan suatu cara untuk mengatasi masalah-masalah
yang ditimbulkan oleh pelaku usaha tersebut. Kota Bandung membuat kebijakan yang
tercantum dalam Perda No. 12 Tahun 2002 tentang Ketentuan dan Tata Cara
Pemberian Izin Usaha Industri, Izin Usaha Perdagangan, Wajib Daftar Perusahaan dan
Tanda Daftar Gudang dan Perwalkot No. 888 Tahun 2012 tentang Petunjuk
Pelaksanaan Peraturan Daerah Kota Bandung Nomor 04 Tahun 2011 Tentang
Penataan dan Pembinaan Pedagang Kaki Lima, karena relokasi dengan pemberian
tempat pengganti juga dapat mengeliminir pandangan stereotif terhadap PKL.
Pandangan bahwa PKL sebagai bagian dari sektor informal seolah-olah haram dan
harus dihilangkan ternyata sudah kurang relevan10. Hal ini karena baik sektor informal
maupun formal ternyata sama-sama dapat menopang perekonomian nasional, terutama
dalam menyerap tenaga kerja dan meningkatkan taraf kehidupan yang lebih baik.
Sudah semestinya untuk tidak lagi mempersoalkan mana yang menjadi anak emas dan
mana yang menjadi anak tiri dalam sektor usaha. Karena pembedaan semacam itu
dapat berimplikasi bagi kelangsungan usaha. Tindakan yang semestinya diambil adalah
dengan menerapkan adanya asas kesejajaran dan keadilan antara usaha sektor formal
dan sektor informal termasuk usaha kaki lima. Dengan adanya Perda tersebut
diharapkan dapat menciptakan suasana yang tertib tanpa menimbulkan konflik dari
berbagai pihak baik dari pemerintahan maupun pedagang itu sendiri.

10

Pariaman Sinaga, Masalah Pasar Modern VS Pasar Tradisional. Kementerian Koperasi dan UKM, 2004, Jakarta,
hlm. 136.

BAB III
PEMBAHASAN
A. Pelaksanaan Perizinan Pedagang Kaki Lima di Sekitar Kampus Unpad dan
ITB Pada Prakteknya
1. Pelaksanaan Perizinan Pedagang Kaki Lima di Sekitar Kampus Unpad
Kami melakukan wawancara dengan Bapak Nana, Ketua PKL Teuku Umar
untuk mengetahui seluk-beluk perizinan PKL di sekitar kampus Unpad.
Berdasarkan hasil wawancara yang kami lakukan, kami mendapatkan beberapa
keterangan, yakni sebagai berikut.
a. PKL di Unpad, sekitar jalan Teuku Umar, dikelola oleh RW sekitar dengan
bantuan Ketua PKL dan adanya kerjasama dengan pihak Unpad.
b. Unpad tidak keberatan dengan adanya para PKL di sekitar Jalan Teuku
Umar asalkan para PKL tersebut dapat menjaga kebersihan, ketertiban,
dan keamanan.
c. Para PKL tersebut tidak mempunyai surat izin resmi untuk berjualan,
tetapi selama berjualan di Jalan Teuku Umar tersebut tidak ada masalah
terkait izinnya.
d. Adapun pengarahan dari lurah bukan pengarahan mengenai perizinan,
melainkan pengarahan terkait menjaga ketertiban, kebersihan, dan
keamanan, yang dikoordinasikan dengan RW.
e. Setiap pedagang diminta data untuk pendataan para pedagang yang
berjualan di Teuku Umar untuk keanggotaan, karena tiap bulan ada iuran
dari setiap pedagang sebesar Rp 20.000 (untuk iuran sampah, dll).
f. Mayoritas pedagang adalah warga sekitar Jalan Teuku Umar. Adapun
pedagang dari luar daerah diperbolehkan untuk berdagang, asalkan ada
KTP untuk data keanggotaan.
g. Data para PKL pernah diminta oleh Lurah untuk diberi kartu PKL, tetapi
sampai sekarang tidak ada.
10

h. Ukuran tempat berdagang tidak ditentukan.


i.

Satu tempat bisa dipakai oleh dua penjual (malam dan siang).

j.

Jika ada keberatan dari Unpad, maka Unpad akan menyampaikannya


langsung pada pemerintahan, lalu dari pemerintah ke lurah, ke RW,
sampai

seterusnya.

Kemudian,

diadakan

musyawarah

untuk

menyelesaikan keberatan tersebut.


k. Karena tidak adanya surat izin yang resmi, maka bila suatu saat Unpad
ingin membongkar lapak para PKL tersebut, mereka tidak dapat berbuat
apa-apa dan harus menerima pembongkaran tersebut.

2. Pelaksanaan Perizinan Pedagang Kaki Lima di Sekitar Kampus ITB


Kami melakukan wawancara dengan Bapak Deddy, Ketua RW 04 Gelap
Nyawang dan Ketua Forum PKL ITB untuk mengetahui seluk-beluk perizinan
PKL di sekitar kampus ITB. Berdasarkan hasil wawancara yang kami lakukan,
kami mendapatkan beberapa keterangan, yakni sebagai berikut.
a. Terdapat tiga zona berdagang di ITB, yakni zona merah, zona kuning, dan
zona hijau. Zona hijau adalah Jalan Gelap Nyawang, zona kuning adalah
Jalan Tamansari, sedangkan zona merah adalah Jalan Ganesha dan
jalan-jalan lainnya. Walaupun begitu, masih banyak adanya pedagang
nakal di zona-zona tertentu.
b. Semula, Jalan Tamansari adalah termasuk zona merah, namun kemudian
menjadi zona kuning dikarenakan adanya negosiasi antara penduduk
setempat

dan

Pemerintah

Kota

Bandung.

Penduduk

setempat

berpendapat bahwa Jalan Tamansari sebaiknya diganti setidaknya


menjadi zona kuning, dikarenakan banyaknya kebutuhan masyarakat
sekitar, mahasiswa ITB, maupun para PKL ITB. Hal tersebut kemudian
diatur di dalam Peraturan Walikota.
c. Walaupun Jalan Gelap Nyawang merupakan zona hijau untuk berdagang,
berdasarkan kebijakan RW setempat dan Forum PKL ITB, untuk
berdagang di Jalan Gelap Nyawang harus mendapatkan rekomendasi
11

terlebih dahulu dari masing-masing RW. Pembatasan jumlah pedagang ini


dimaksudkan untuk menjaga ketertiban dan persaingan usaha yang
sehat, serta mendahulukan pedagang lokal. Hal ini dikarenakan banyak
sekali pedagang pendatang yang ingin berdagang di lingkungan ITB,
khususnya

di

Jalan

Gelap

Nyawang.

Bahkan,

kondisi

saat

ini

menunjukkan bahwa Jalan Gelap Nyawang didominasi oleh pedagang


pendatang. Bukan hanya itu, varian komoditas dagang pun diperhatikan.
d. Melalui Forum PKL ITB, para PKL dibina dengan koordinasi bersama RW
sekitar dan Salman ITB, baik dalam segi agama dan motivasi. Sedangkan
mengenai perizinan, PKL dibina oleh Koperasi Makmur Jaya.
e. Bapak Deddy menolak menjelaskan prosedur lebih lanjut mengenai
perizinan

di

sekitar

ITB,

lalu

menyarankan

untuk

langsung

menkonfirmasikannya ke Koperasi Makmur Jaya. Sayangnya, Koperasi


Makmur Jaya hanya buka pada hari dan jam tertentu saja.
f. Menurut Bapak Deddy, lingkungan sekitar Unpad merupakan zona merah.
g. Pihak ITB sama sekali tidak terlibat dalam pengelolaan ataupun
pembinaan PKL. Namun, sempat terlibat pada periode jabatan seorang
Rektor.

B. Perizinan di Sekitar Kampus Unpad dan ITB Dikaitkan dengan Perda No. 12
Tahun 2002 dan Perwalkot No. 888 Tahun 2012
Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, PKL termasuk ke dalam usaha mikro.
Pengaturan izin usaha mikro di Kota Bandung diatur di dalam Perda No. 12 Tahun
2002. Pada Pasal 42, tercantum bahwa:
Perusahaan yang dibebaskan dari kewajiban memperoleh SIUP (Surat Izin Usaha
Perdagangan) adalah:
a. Cabang/Perwakilan perusahaan yang dalam menjalankan kegiatan Usaha
Perdagangan mempergunakan SIUP Perusahaan Pusat yang telah dilegalisir
oleh Walikota atau pejabat yang ditunjuk;

12

b. Perusahaan Kecil Perorangan yang dengan memenuhi ketentuan sebagai


berikut:
1) Tidak berbentuk badan hukum atau persekutuan;
2) Diurus, dijalankan atau dikelola sendiri oleh pemiliknya atau dengan
mempekerjakan anggota keluarga/kerabat terdekat.
3) Pedagang keliling, pedagang asongan, pedagang pinggir jalan atau
pedagang kaki lima.
Berdasarkan pasal tersebut, dapat dianalisis bahwa di Kota Bandung, PKL sebagai
bagian dari usaha mikro tidak membutuhkan SIUP ataupun bentuk perizinan
perdagangan lainnya. Sementara itu, perlu juga diamati kesesuaian antara pemahaman
PKL dengan hukum yang seharusnya. Hal-hal tersebut yakni sebagai berikut.
1. Adanya pengelolaan ataupun pembinaan PKL di sekitar Unpad maupun ITB,
baik melalui RW, forum, koperasi, dan lain sebagainya, bukanlah berkenaan
mengenai perizinan, melainkan mengenai ketertiban dan keharmonisan antara
PKL dan lingkungan sekitar.
2. Eksistensi PKL ditentukan melalui bagaimana hubungan mereka dengan
lingkungan sekitar, bukan dengan jangka waktu tertentu berdasarkan SIUP.
Maka dari itu, penting bagi PKL untuk menjaga hubungan baik dengan
lingkungannya.
Berdasarkan Perwalkot No. 888 Tahun 2012 Pasal 7, lokasi PKL dibagi ke dalam 3
zona meliputi:
a. Zona Merah yaitu lokasi yang tidak boleh terdapat PKL
b. Zona Kuning yaitu lokasi yang bisa tutup buka berdasarkan waktu dan tempat
c. Zona Hijau yaitu lokasi yang diperbolehkan berdagang bagi PKL

1. Zona Merah
Zona Merah merupakan wilayah sekitar tempat ibadah, rumah sakit, komplek
militer, jalan nasional, jalan provinsi dan tempat-tempat lain yang telah
ditentukan dalam peraturan perundang-undangan kecuali ditentukan lain
13

berdasarkan Perda dan Perwalkot terkait. Pada Pasal 11, disebutkan bahwa
yang dimaksud tempat-tempat lain antara lain:
a. lokasi 7 titik;
b. sekitar rumah dinas para pejabat Pemerintah Provinsi dan Pemerintah
Daerah;
c. lokasi sekolah;
d. lokasi dan jalan tertentu;
e. setiap persimpangan jalan dengan jarak 100 meter dari titik
persimpangan;
f. lokasi jalan yang ditetapkan sebagai car free day (CFD); dan
g. kawasan lindung
Sementara itu, Pasal 15 menyebutkan beberapa lokasi dan jalan yang dimaksud
Pasal 11 huruf e, yakni antara lain:
a. Jalan Ganesha (Depan Masjid Salman Institut Teknologi Bandung)
Kecamatan Coblong;
b. Jalan Dayang Sumbi (Samping kampus Institut Teknologi Bandung)
Kecamatan Coblong;
c. Jalan Taman Sari samping Kantor Badan Perencanaan Pembangunan
Daerah Kelurahan Lebak Siliwangi Kecamatan Coblong;
d. Jalan

Sultan

Hasanudin

(Samping

Rumah

Sakit

Borromeus)

Kecamatan Coblong;
e. Dll.
2. Zona Kuning
Zona kuning terdiri dari tiga jenis, yakni:
a. Berdasarkan waktu. Menurut Pasal 17 ayat (1), yang berdasarkan
waktu adalah seluruh pasar tumpah di Daerah hanya boleh berdagang
pada jam tertentu yaitu mulai pukul 22.00 WIB sampai dengan pukul
06.00 WIB. Sedangkan, menurut Pasal 17 ayat (4), Zona kuning yang

14

berdasarkan waktu dari jam 17.00 WIB sampai 04.00 WIB adalah
pedagang kuliner.
b. Berdasarkan tempat. Menurut Pasal 17 ayat (5), zona kuning yang
berdasarkan tempat yaitu kantor-kantor Pemda yang sudah tidak
digunakan, depan mall, dan sekitar lapangan olahraga yang ditetapkan
sebagai Ruang Terbuka Non Hijau.
c. Berdasarkan waktu dan tempat. Pada zona kuning berdasarkan waktu
dan tempat PKL diperbolehkan berdagang dengan ketentuan:
1) khusus pada hari minggu waktu berdagang dibatasi mulai jam
04.00 WIB sampai dengan jam 10.00 WIB;
2) khusus untuk aneka komoditi waktu berdagang dibatasi mulai jam
10.00 WIB sampai dengan jam 18.00 WIB.
Menurut Pasal 21, lokasi khusus untuk hari minggu sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 20 huruf a, hanya diperbolehkan pada lokasi
antara lain Lapangan Gasibu, Jalan Cibaduyut, Jalan Sukajadi (sebelah
selatan PVJ), dll. Sedangkan, menurut Pasal 22, lokasi khusus untuk
aneka komoditi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 20 huruf b, hanya
diperbolehkan pada lokasi antara lain sebagai berikut.
a. Jalan Teuku Umar (samping Kampus UNPAD) Kecamatan Coblong;
b. Jalan Sultan Hasanudin (samping Kampus UNPAD) Kecamatan
Coblong;
c. Jalan Dipati Ukur (depan Pasca Sarjana UNPAD) Kecamatan
Coblong;
d. Jalan Bagusrangin (samping Pasca Sarjana UNPAD) Kecamatan
Coblong;
e. Dll.
3. Zona Hijau
Menurut Pasal 23 ayat (1), zona hijau adalah wilayah tertentu berdasarkan
hasil relokasi, revitalisasi pasar, konsep belanja tematik, konsep festival dan

15

konsep Pujasera sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.


Kemudian menurut Pasal 23 ayat (2), zona hijau terdiri dari antara lain:
a. Jalan Gelap Nyawang Kelurahan Lebak Siliwangi Kecamatan Coblong;
b. Jalan Teuku Umar (samping outlet Grande) Kelurahan Dago Kecamatan
Coblong;
c. Jalan Kindang Pananjung Kecamatan Coblong;
d. Dll.
Berdasarkan kepada Perwalkot tersebut, dapat dianalisis ada atau tidaknya
kesesuaian antara pemahaman PKL dengan hukum yang seharusnya, yang tentunya
mempengaruhi keberadaan PKL di Kota Bandung di dalam prakteknya. Hal-hal yang
perlu diperhatikan adalah sebagai berikut.
1. Pendapat yang mengatakan bahwa daerah sekitar Unpad adalah merupakan
zona merah salah, karena menurut Perwalkot tersebut adalah zona kuning.
Bahkan, Jalan Sultan Hasanudin pun termasuk ke dalam zona kuning, walaupun
hanya sebatas di sekitar Unpad, bukan di sekitar RS Borromeus.
2. Benar bahwa Jalan Gelap Nyawang adalah satu-satunya zona hijau di sekitar ITB
dan beberapa daerah sekitar ITB seperti Jalan Ganesha dan Jalan Dayang
Sumbi adalah zona merah. Jalan Tamansari diragukan merupakan zona kuning,
sebab berdasarkan Perwalkot tersebut merupakan zona merah.

16

BAB IV
PENUTUP

A. Kesimpulan
1. Adanya pengelolaan ataupun pembinaan PKL di sekitar Unpad maupun ITB,
baik melalui RW, forum, koperasi, dan lain sebagainya, bukanlah berkenaan
mengenai perizinan, melainkan mengenai ketertiban dan keharmonisan antara
PKL dan lingkungan sekitar.
2. Eksistensi PKL ditentukan melalui bagaimana hubungan mereka dengan
lingkungan sekitar, bukan dengan jangka waktu tertentu berdasarkan SIUP.
Maka dari itu, penting bagi PKL untuk menjaga hubungan baik dengan
lingkungannya.
3. Pendapat yang mengatakan bahwa daerah sekitar Unpad adalah merupakan
zona merah salah, karena menurut Perwalkot tersebut adalah zona kuning.
Bahkan, Jalan Sultan Hasanudin pun termasuk ke dalam zona kuning,
walaupun hanya sebatas di sekitar Unpad, bukan di sekitar RS Borromeus.
4. Benar bahwa Jalan Gelap Nyawang adalah satu-satunya zona hijau di sekitar
ITB dan beberapa daerah sekitar ITB seperti Jalan Ganesha dan Jalan
Dayang Sumbi adalah zona merah. Jalan Tamansari diragukan merupakan
zona kuning, sebab berdasarkan Perwalkot tersebut merupakan zona merah.
B. Saran
1. Adanya beberapa ketidaksesuaian pemahaman antara PKL dan hukum yang
seharusnya menunjukkan bahwa sosialisasi Pemda Kota Bandung mengenai

17

PKL masih kurang efektif, baik yang berkenaan dengan perlu atau tidaknya
perizinan maupun zona-zona berdagang.
2. Walaupun dibebaskan dari perizinan, seharusnya PKL dapat mengikuti
pendataan dengan baik sehingga tercipta ketertiban yang seutuhnya. Selain
itu, PKL diharapkan dapat menjaga hubungan baik dengan lingkungan
masyarakat sekitar melalui silaturahmi ataupun membersihkan lingkungan
sehabis berdagang agar tercipta keharmonisan.
3. Seharusnya, pihak-pihak terkait seperti ITB tidak boleh bersikap acuh tak
acuh terhadap keberadaan PKL di sekitarnya. Hal ini dikarenakan secara
tidak langsung, PKL dan pihak-pihak tersebut memiliki kebutuhan satu sama
lain yang apabila dibina dengan baik dapat memberikan manfaat yang lebih,
khususnya sebagai institusi pendidikan yang seharusnya mengabdi untuk
masyarakat.

18

DAFTAR PUSTAKA

A. Perundang-undangan
Perda Kota Bandung No. 12 Tahun 2002.
Perwalkot Bandung No. 888 Tahun 2012.
B. Literatur
Bintarto, R., Urbanisasi dan Permasalahannya, 2000, Jakarta: Graha Indonesia.
Hidayat, Peranan Sektor Informal Dalam Struktur Perekonomian Daerah
Yogyakarta, 1978, Pusat Penelitian Sumberdaya Manusia dan Lingkungan,
Universitas Padjadjaran, Bandung.
P. Siagaan, Sondang, Administrasi Pembangunan Konsep Dimensi dan Strategi,
1990, Jakarta: Gunung Agung.
Sinaga, Pariaman, Masalah Pasar Modern VS Pasar Tradisional. Kementerian
Koperasi dan UKM, 2004, Jakarta.
Sri, Pudyamoko, Perizinan, 2009, Jakarta: Grasindo.
Sutedi, Adrian, Hukum Perizinan Dalam Sektor Pelayanan Publik, 2010, Jakarta:
Sinar Grafika.
C. Internet
http://mrosul.wordpress.com/pedagang-kaki-lima
19

www.hukumonline.com

20