Anda di halaman 1dari 195

1

KOTA
RUMAH
KITA

PENGANTAR
Buku ini bagi saya menyerupai biografisetidaknya biografi intelektual dan aktivismesaya
selama beberapa tahun terakhir. Karena itu pada beberapa tulisan diberi pengantar singkat
yang menjelaskan konteks dikerjakannya tulisan itu. Karena itu pula, ketiga tulisan tentang
Borobudur disajikan semuanya, meskipun banya kesamaan, karena ditulis pada masa
advokasi melindungi Borobudur dari komersialisasi yang berlebihan untuk tiga media utama
yang berbeda.
Sebagian besar artikel terampai ini ditulis pada masa segera setelah Presiden Suharto
berhenti. Ini menandai era baru bagi saya, yang sejak itu kembali menulis dengan kerap.
Meskipun sejak sekolah menengah saya aktif mengurus dan menulis di majalah sekolah
atau universitas, kemudian di berbagai jurnal profesi, di media umum hanya beberapa kali
saja saya menulis sebelum. Era baru ini juga menandai mulai masuknya arsitektur dan kota
dalam wacana khalayak. Dalam masa yang sama ini berbagai media massa membuka
ruang untuk tulisan-tulisan arsitektur dan studi perkotaan, bahkan secara aktif mengundang
tulisan. Rupa-rupanya arsitektur makin disadari sebagai bagian penting dari seni,
kebudayaan, dan gayahidup. Sedang studi-studi perkotaan makin disadari bersifat politis,
dan menjadi alat kritik yang lumayan terhadap beberapa aspek dan dimensi kebijakan
pembangunan, karena dapat menunjukkan contoh-contoh yang kongkrit dan menelusuri
asal-usul kebijakan secara tajam.
Meskipun mengenai banyak hal, aspek, dan bidang yang berbeda, tulisan-tulisan yang
dirampaikan didalam buku ini hampir semuanya dapat dikatakan telah ditulis dengan
konteks wacana yang satu: budaya berkota dan mengota. Arsitektur, seni, dan lingkungan
ditelaah dalam hubungannya dengan pusat kepedulian akan peradaban perkotaan di
Indonesia.
Hanya satu dua yang mengenai arsitektur tanpa langsung menghubungkannya dengan
kota, misalnya tulisan tentang Borobudur. Akan tetapi Borobudur merupakan khasanah
tentang prinsip-prinsip maha dasar dari arsitektur, yang niscaya diperlukan bagi siapa saja
yang ingin mendalami arsitektur, termasuk arsitektur kota-kota. Sebab, salah satu benang
merah dalam buku ini adalah bahwa sebuah kota adalah sebuah arsitektur, bukan sekedar
kumpulan arsitektur. Borobudur adalah rancangan tata ruang yang bersama-sama dengan
seluruh dataran Kedu mencakup bentang alam yang lebih luas daripada sebuah kota, dan
intricacy-nya serta-merta membuat orang mengingat kota.
Sementara itu tulisan tentang anarkisme, meskipun disajikan sebagai kontribusi bagi
gerakan kemasyarakatan secara umum, dilatar-belakangi dan ditarik dari kepedulian
tentang masyarakat perkotaan.
Berangkat dari arsitektur kota, saya memang mendapatkan diri saya terus menerus belajar
tentang lebih banyak aspek kota makin jauh. Umumnya saya terdorong oleh kepedulian
akan mundur-majunya peradaban perkotaan di Indonesia. Tidak terelakkan, hal itu
membawa saya ke dalam perjalanan yang tiada henti, karena makin banyak cabang yang
saya temukan dan saya teroka dengan senang hati. Catatan-catatan dari perjalanan selama

3
empat tahun itulah, antara tahun 2000-2004, yang menjadi serpihan-serpihan yang
dirampaikan dalam buku ini.
Sudah pasti semua serpihan ini, bilapun terampai menjadi mosaik sempurna, jauh dari
mencukupi untuk memahami kepelikan dan keluasan pokok soal budaya berkota dan
mengota. Semoga saja tiap serpihan akan membawa kita menemukan lebih banyak
serpihan lain. Semoga tiap cabang jalan membawa kepada cabang lainnya. Semoga kita
tidak pernah sampai di ujung jalan, sebab lebih baik lelah daripada putus asa, lebih baik
penasaran daripada jera.

Jakarta, Agustus 2004


Marco Kusumawijaya

TABLE of CONTENT
KOTA, RUMAH KITA______________________________________________________________ 1
PENGANTAR ___________________________________________________________________ 2

BAB 1: ORANG KOTA DAN KOTA ___________________________________________________ 6


Orang Kota. ______________________________________________________________ 7
Urbanisasi_______________________________________________________________ 10
Mari Membangun Monumen dan Mencerdaskan Kota _____________________________ 12
Menuju Persatuan Kota ____________________________________________________ 20
Anarkisme: Satu Utopia Lagi? _______________________________________________ 25
Metropolitansime__________________________________________________________ 28
Konsumtivisme Ruang Kota _________________________________________________ 37
Kota, Rumah Kita _________________________________________________________ 40
Ruang Kota di Waktu Kita___________________________________________________ 43

BAB 2: DI DALAM ALAM__________________________________________________________ 46


The City and the Greenery __________________________________________________ 47
Charting a Sustainable and Greener Future in Bellagio, Italy ________________________ 50
Lets have a piece of nature in our metropolis ___________________________________ 52
Pohon Beton Akan Menjadi Kenyataan _______________________________________ 54

BAB 3: RUANG KHALAYAK_______________________________________________________ 56


10 Menit tentang Ruang Khalayak Kota-kota Indonesia ____________________________ 57
Ruang Publik: Dialog antara Arsitektur dan Senirupa______________________________ 60
Sukarno and the Architecture of the City _______________________________________ 67
Bung Karno dan Kehidupan Publik Jakarta _____________________________________ 70

BAB 4: KOTA DI DALAM SENI, SENI DI DALAM KOTA _________________________________ 73


Metropolis Jakarta Menurut Pramoedya Ananta Toer dalam Tales from Djakarta _______ 97
Seni Instalasi Arsitektur? __________________________________________________ 100
Fragmen-fragmen Metropolis Jakarta dalam Jakart2003 __________________________ 102
Penghapusan Mural Mencekik Prakarsa dan Rasa Memiliki Masyarakat _____________ 105
Mural, Kota, Jogja ________________________________________________________ 107
Patung ________________________________________________________________ 111
Cat Air dan Plastisitas Jakarta ______________________________________________ 113
Seribu Tubuh, Satu Kemanusiaan ___________________________________________ 114
Fotografi Siesta: Dari pameran foto perjalanan para arsitek di Galeri AKSARA_________ 119

5
BAB 5: ARSITEKTUR MEMBANGUN TEMPAT _______________________________________ 121
Rumah di Jalan Wungkal, Candi, Semarang, oleh Sarjono Sani.____________________ 122
Arsitektur Pasar, Dulu... ___________________________________________________ 125
72 Tahun Arsitek Han Awal: Menuakah Modernisme? ____________________________ 128
Arsitektur Analogis: Mengalami Buddhisme pada Borobudur_ Error! Bookmark not defined.
Peringatan Luweng Tikus, Blitar _____________________________________________ 130
Aga Khan Award 2001: Realisme dan Islam Inklusiv? ____________________________ 132
Arsitektur yang Membangun Kota: Pameran Postdamer Platz, Berlin, di Jakarta _______ 134
Etalase Thamrin-Sudirman: Makin Berubah, Makin Sama _________________________ 140

BAB 6: PUSAKA _______________________________________________________________ 143


Borobudur Bukan Monumen? _______________________________________________ 144
Gelora Bung Karno sebagai Pusaka Nasional:Perspektif Arsitektur dan Sejarah Jakarta _ 153
Blitar __________________________________________________________________ 158
Selebar Alam/Sekecil Biji Bayam/Bumi dan Langit ada di dalamnya: Bukittinggi, Desember
2003.__________________________________________________________________ 161
Pelestarian Jakarta Kota: Tidak Berjalan Karena Tidak Libatkan Warga ______________ 175
Siak Sri Indrapura: Arsitektur Kota Sungai _______________ Error! Bookmark not defined.

BAB 1:
ORANG KOTA DAN KOTA

Orang Kota

Ketegori orang kota bisa jadi tidak lagi produktif sebagai bahan perbincangan, bila hanya
digunakan apalagi diguraukan-- untuk membedakannya dari orang desa atau didefinisikan
sebagai bukan orang desa.
Sebab, siapakah yang masih dapat dikatakan bukan orang kota saat ini?
Memang soalnya bukan hanya jumlah 2 dan bukan saja dualitas basis ekonomi pertanian (desa) atau
industri non-pertanian (kota). Secara sosial-kultural, basis ekonomi itu tidak lagi menentukan
seseorang itu orang kota atau orang desa. Ada orang kota bertani (di dalam kota). Ada petani
yang menjadi buruh musiman di kota. Ada orang kota punya rumah peristirahatan di desa. Ada orang
desa punya rumah di desa dan punya gubuk di kota. Ada orang kota yang jadi tukang parkir dan
punya tiga mobil sewaan di desa. Mereka semua menonton televisi yang sama, termasuk menonton
(representasi) dirinya sendiri pada, misalnya, Inul atau kiai yang baru menjadi anggota parlemen,
berlangganan listrik dari PLN yang sama, terhubungkan oleh telepon seluler yang merknya sama. Dan
intensitas pertukaran yang ditimbulkannya terus meningkat. Mudik hanyalah peristiwa simbolik yang
mengukuhkan arus bolak-balik tersebut, setahun sekali, di antara arus pertukaran yang sebenarnya
terjadi setiap hari.
Setidak-tidaknya di Jawa, kontinuum desa-kota hanya berarti geografis atau saujana-alam saja; secara
saujana-budaya dapat dikatakan telah terjadi kontinuum kota-kota saja. Pulau Jawa, dengan
kepadatan sekitar dua kali penduduk kepulauan Inggeris, telah menjadi sebuah kota besar (sekali).
Paradoksnya, kegagalan industrialisasi di masa global pasca-industri ini di pulau Jawa akan
menggagalkan jumlah penduduk yang menggila tersebut untuk hidup layak. Keseimbangan
pembangunan desa-kota, sama seperti semua gagasan tentang keseimbangan pembangunan antarwilayah, seandainya pun benar secara teoritis, secara praktis telah menjadi utopia yang tidak mungkin
diwujudkan sebagai panacea di pulau Jawa. Sudah terlambat. Jawa tidak mungkin lagi hidup dari
pertanian, kecuali ada masukan teknologi yang padat yang belum diketahui harus sepadat apa yang
lagi-lagi berarti industrialisasi.

Ditulis untuk katalog pameran senirupa Enam Manusia Urban, Bentara Budaya, Yogyakarta, 1321 April 2004
2

Orang kota di negara maju, terutama Eropah, telah mencapai 80 hingga 90 persen, kecuali Australia yang
berkisar di antara 60 dan 70 persen. Indonesia telah mendekati 40 % an,dan terus melaju, dengan tingkat
pertumbuhan penduduk perkotaan berkali lipat tingkat pertumbuhan pedesaan.

8
Kontinuum itu bukan hanya dalam arti kemajuan yang baik-baik. Dari sisi sebaliknya, kontinuum
kota-kota bisa juga dilihat sebagai kontinuum desa-desa.
Ketika banjir di Indramayu (yang sebenarnya tidak ndeso benar-benar), banjir juga di Jakarta. Di
metropolis itu, tiba-tiba sebagian penduduknya diingatkan kembali akan keadaan ndeso yang justru
mau ditinggalkannya di kampung halamannya. Maka cara-cara ndeso dalam mempertahankan
diripun harus dibangkitkan kembali dari ingatan; mungkin dengan satu pengecualian: di sini sedikit
sekali yang membantu secara langsung.
Karena kerusakan alam, terjadi arus kontinuum desa-desa yang melawan arus kontinuum kota-kota.
Kesadaran akan kesatuan hulu dan hilir masuk ke dalam benak orang kota secara menegangkan: gila,
semua kepastian teknologi dan management non-alam langsung hancur!
Kesadaran sebaliknya, bahwa kota ternyata tidak berbeda dengan desa, masuk mungkin dengan rasa
geli ke benak orang desa. Kesadaran orang desa tentang ketiadaan perbedaan ini, bahwa kota adalah
ndeso juga, bukan saja karena menonton bencana lingkungan yang sama, tetapi juga kekasarankekasaran para pemimpin atau orang-kaya baru, yang meskipun tidak unik di desa, tetapi telah
membangkitkan citra-citra tentang buto dan begal, mungkin juga para Rangkayo, bangsawan masa
lalu yang tidak dijamin senantiasa beradab, dan bahkan begal dan kasar juga.
Alhasil, semua orang kota adalah ndeso atau semua orang desa adalah nkota.
Desa di hulu, kota di hilir, kembali bersatu. Kota berhulu pasar, pasar berhilir kota, kembali menjadi
milik orang desa. Desa kampung halaman, penyangga pangan kota, sudah selalu milik orang kota
sejak dulu.
Bahkan, juga nglobal. Semua orang desa, semua orang kota, kini sadar betul bahwa mereka
nglobal. Cheng Ho, ketika kembali dari pelayaran di Jawa ke tanah airnya pada tahun 1423 tidak
tahu bahwa telah terjadi pergantian rejim sesaat setelah ia lepas sauh meninggalkan kaisar terdahulu,
dua tahun sebelumnya. Pada tanggal 19 Maret 2004, semua orang tahu presiden Taiwan ditembak,
beberapa menit setelah peristiwa terjadi. Pada tahun 1997, semua orang tahu Lady Di dan Ibu Teresa
meninggal, beberapa menit setelah masing-masing peristiwa terjadi; tetapi baik orang desa maupun
orang kota yang nglobal itu, di Indonesia dan di seluruh negeri lain, memilih lebih memperhatikan
Lady Di, yang mati dalam perselingkuhan yang mengasyikkan. Semua orang dapat berperan serta
menjadi kapitalis sekarang, katanya, dengan membeli saham di pasar bursa; tetapi baik orang kota
maupun orang desa menghadapi hambatan yang sama meskipun jaraknya berbeda: kecanggihan
permainan (atau perhitungan?), para pialang, dan terminologi.
Wacana tentang orang kota panjang. Warga polis Yunani adalah sebuah kategori, dengan
puncaknya Athena, 500-400 tahun sebelum Masehi. Pada jaman aksial yang sama, menurut Karen
Armstrong, ketika umat manusia mencari-cari terobosan spiritual, Siddharta Gautama adalah bagian
dari gerakan yang terdorong oleh awal urbanisasi yang dramatis di India Utara. Ibnu Khaldun
membedakan orang kota dari nomad di abad ke-14. Semuanya bernada positif: kota adalah
pembebasan dan peradaban. Begitu juga nada A. Reid tentang kota-kota pesisir di nusantara di antara
abad ke-14 dan ke-17. Renaissance pada masa yang sama tentu saja adalah pembentukan kategori
sosial baru yang umumnya dilihat sebagai positif melalui teropong yang digenggam masa kini.
Orang metropolitan setelah revolusi industri, sejak pertengahan abad ke 19, adalah awal orang kota
yang busuk, kering-kerontang atau, sebaliknya, gendut-gendorot, tidak-pedulian, papa, kesepian,
bergangguan jiwa, seperti tiang-garam di neraka (Lewis Mumford, 1931), suka jalan-jalan mejeng
dan ngeceng (flnerie), selingkuh, budak mesin, sistem, atau kapitalisme, burjuasi yang membentuk
peradaban serta ruang khalayak sekaligus konsumtif dan menggerogotinya, dan akhirnya revolusioner
atau kontra-revolusioner. Ada kategori baru yang diciptakan, ialah kota metropolitan yang tidak
bisa diterjemahkan menjadi kota besar, sebab ada makna lain (selain besar) pada konsep metro .
Mungkinkah soalnya bukan orang kota atau orang desa, melainkan orang kota metropolitan,
orang kota kecil, dan orang kota lebih kecil ?

9
Namun, pada saat kita, dan bahkan tempat kita ini pun, semua orang pada semua kategori tempat itu,
besar atau kecil, mengalami pertukaran tanpa kendala batas ruang. Intensitas pertukaran itulah, baik
pertukaran ekonomi, ideologi, ilmu-pengetahuan dan kebijakan, serta teknologi, yang menimbulkan
kepadatan ialah faktor pembeda klasik dari urbanitas dalam arti yang bukan saja kedekatan fisik,
tetapi juga makna. Orang kota dengan keadaan mutakhir ini akan tidak terikat pada ruang, baik kota
maupun desa dengan segala jenisnya, melainkan pada dirinya sendiri: seberapa cepat dan pekat ia
mengalami kepadatan arus pertukaran dan menemukan makna atau non-makna di dalam mengarungi
arus itu. Orang kota akan bergeser menjadi kategori yang makin non-spasial, dan mungkin nonsosiologis (dalam arti tidak dapat diwacanakan sebagai kumpulan orang yang memiliki ciri-ciri sama
sebagai kelompok dalam ruang dan waktu tertentu), menjadi kategori personal yang individualistik,
yang bisa berada di tempat dan lingkungan sosial mana saja.

10

Urbanisasi

Kebohongan publik yang selalu didengungkan pemerintah Jakarta menyangkut sebuah kambing
hitam: urbanisasi.
Akar masalah Jakarta, konon menurut mereka, adalah pertumbuhan penduduk yang disebabkan oleh
migrasi dari luar ke dalam kota Jakarta -- sebuah gejala yang secara salah kaprah disebut
urbanisasi. (Urbanisasi dalam arti yang luas --yang benar!-- adalah proses menjadi kota).
Konsekuensinya adalah kebijakan yang salah kaprah pula: pendatang baru, yang dicap miskin dan
marjinal, diusir-usir. Lebih buruk lagi: semua kegagalan lain seperti kekumuhan permukiman,
angkutan umum dan pelayanan air bersih ditimpakan pada mereka jua. Pada saat bersamaan, tak ada
kebijakan nyata untuk meningkatkan kapasitas Jakarta agar justru dapat menampung lebih banyak
penduduk -- yang mestinya wajar mengingat tingkat pertumbuhan ekonominya yang di atas rata-rata
nasional dan kota lain.
Seberapa besar kebohongan publik itu?
Data dari Badan Pusat Statistik DKI Jakarta berdasarkan SUPAS 1995 menunjukkan bahwa selama 5
tahun sebelumnya tingkat migrasi neto metropolis ini minus 7.87 %. Artinya lebih banyak orang
keluar daripada masuk ke Jakarta. Sejumlah 1,222,800 jiwa keluar; hanya 505, 501 yang masuk.
Dalam dasawarsa 1990-2000 penduduk Jakarta jauh lebih banyak bertambah karena kelahiran di
dalam kota Jakarta itu sendiri, bukan karena pendatang. Misalnya, tingkat pertumbuhan Jakarta
Selatan yang 1.13 % per tahun ternyata terdiri dari 1.09 % kelahiran dan 0.04 % pendatang baru.
Sedang BPS Pusat menunjukkan bahwa dalam masa yang sama tingkat pertumbuhan rata-rata per
tahun penduduk Jakarta adalah paling rendah dibandingkan dengan semua provinsi lain, kecuali
Maluku dan Maluku Utara, yaitu hanya 0.17 %. Bahkan bila angka dari BPS Jakarta yang digunakan,
yaitu 1, 14 %, maka ia pun masih lebih rendah daripada rata-rata nasional, yaitu 1, 49 %. Tingkat
pertumbuhan ini telah cenderung menurun sejak tahun 1980 dan diperkirakan akan terus demikian.
Bandingkan juga dengan kota-kota lain dalam periode yang sama: Bandarlampung 1,55 %, Palu 3.12
%, Denpasar 3.01 %, Palembang 2.36 %.
Jadi, tidaklah benar tuduhan bahwa penduduk dari daerah-daerah lain pindah ke Jakarta karena
mereka tidak membangun. Daerah-daerah itu pertumbuhan penduduknya jauh lebih tinggi daripada
Jakarta! Kota-kota lain jauh lebih berat bebannya.
Memang angka absolut akan menunjukkan jumlah pertambahan penduduk yang besar untuk Jakarta.
Tetapi harus pula ada perbandingan dengan tingkat pertumbuhan ekonomi kota-kota dan daerah itu:
Jakarta selalu di atas rata-rata nasional, di atas banyak kota lain, dan jauh di atas tingkat pertumbuhan
penduduknya sendiri. Pada tahun 1996, ekonomi Jakarta tumbuh 9.1 %. Saat ini konon telah pulih
ke tingkat sekitar 4 sampai 5 %.

Direbitkan Majalah TEMPO, 8 Juli 2002

11
Jadi, pertanyaan yang seharusnya diajukan adalah: apakah benar sebuah kota, provinsi yang
pertumbuhan ekonominya jauh di atas pertumbuhan penduduknya tidak dapat memberi makan kepada
lebih banyak penduduk Indonesia yang datang dari daerah-daerah yang tingkat pertumbuhan
ekonominya lebih rendah?
Urbanisasi adalah konsekuensi logis dari perubahan struktural ekonomi: gula bertambah lebih banyak
dan cepat di kota daripada di pedesaan. Sebuah Negara dan bangsa dikategorikan maju kalau
perubahan itu terjadi. Maka penduduk perkotaan negeri-negeri Barat berkisar antara 70 sampai 90 %
urban. Indonesia pada saat ini telah mencapai sekitar 40 %.
Persoalan prinsipilnya bukanlah bagaimana meratakan pertumbuhan ekonomi secara ruang (lebih
banyak pertumbuhan di pedesaan), melainkan bagaimana meratakan pertumbuhan di kalangan
penduduk. Mazab perencanaan yang menekankan pada pemerataan ruang akan menjadi salah kalau
ia menghindari pemerataan lebih mendasar tersebut. Ia akan ilusif dan mengulangi kesalahan selama
ini di kota-kota.
(Jakarta yang tidak meningkatkan kapasitasnya untuk memberi kesempatan kepada lebih banyak
penduduk adalah sama dengan monster yang tidak bertanggungjawab, yang membuat kue makin
besar hanya untuk makin menggemukkan dirinya sendiri, dengan menyedot secara tidak proporsional
sumber daya kolektif seluruh bangsa Indonesia.)

***
Migrasi neto negatif ke Jakarta berarti pindahnya tempat tinggal kelas menengah ke kabupaten
tetangga, yaitu Bogor, Tangerang, Bekasi dan Depok. Sebagian besar mereka tetap bekerja di Jakarta,
dan melaju (commuting) setiap pagi dan sore hari, menyebabkan kemacetan satu arah yang
memperpanjang waktu tersia. Di Jakarta Pusat dan Selatan penduduk malah absolut berkurang
sebesar sekitar 330 ribu jiwa selama lima tahun terakhir, meninggalkan tanah kosong menganggur di
kawasan segitiga emas.
Itulah akibat ketiadaan kebijakan yang berdasarkan data keras dan perspektif masa depan.
Berkurangnya lahan hijau Jakarta ternyata bukan untuk menyediakan lebih banyak rumah untuk lebih
banyak orang, melainkan untuk ruang komersial yang ternyata over-supply yang menghantar ke
krisis.
Pada saat yang sama kawasan suburbia mengonsolidasi diri dengan semua fasilitas konsumsi yang
diperlukan kelas menengah. Artinya basis pajak Jakarta akan terus berkurang, meskipun mereka itu
tetap bekerja di Jakarta. Yang lebih berbahaya sebenarnya adalah berkurangnya basis sosial-budaya
kelas menengah, yang --maaf-- memang tidak bisa digantikan oleh kelas bawah maupun atas dalam
hal daya hidup dan pemeliharaan ruang kota. Penduduk miskin tidak bertambah drastik, tetapi
proporsinya meningkat karena kelas menengah yang berkurang.
Ke masa depan, Jakarta hanya dapat diselamatkan dengan kebijakan yang mau tidak mau sosialistis:
PERDA anti-spekulasi, insentif untuk hemat lahan, pajak bumi dan bangunan yang progresif, serta
penekanan pada fasilitas bersama, bukan individual. Hanya pemerintah yang bersih dan kompeten
(a.l. bekerja berdasarkan data!) akan mendapat dukungan dan punya disiplin yang diperlukan untuk
itu.

12

Mari Membangun Monumen dan


Mencerdaskan Kota4
[]
Semua yang saya mau katakan hari ini dapat diringkas dalam himbauan agar kita -arsitek dan bukanarsitek, seluruh masyarakat bersama-sama- membangun lebih banyak monumen untuk kota-kota kita.
Tentu serta merta Anda bertanya-tanya, pastilah ada arti khusus yang hendak diberikan pada konsep
monumen ini.
Benar! Monumen berarti ketertetapan, yang terjadi karena mengakar pada bumi manusia. Bumi
manusia berarti bumi yang telah dimanusiakan oleh manusia secara kolektif melalui pemberian
makna, pengolahan bentuk, pemanfaatan ruang dan apropriasi dalam cara cara lainnya. Ketertetapan
adalah kelestarian yang tumbuh dari rasa memiliki yang bersifat kolektif. Maka ketertetapan mau
tidak mau bersifat sosial. Ketertetapan arsitektur hanya mungkin kalau ada nilai-nilai bersama yang
dapat dinyatakan dalam wujud ruang-ruang lingkungan binaan. Ketertetapan mengandaikan adanya,
hadirnya yang umum, khalayak, kepentingan umum, serta wujud-wujud sosial kolektif lainnya.
Maka, kawan-kawan semua, ruang terbuka yang berkhalayak merupakan salah satu monumen yang
sangat penting dalam kota-kota kita. Saya terheran oleh reaksi masyarakat awam -non-arsitekterhadap tulisan-tulisan saya yang mengenai ruang terbuka, lebih daripada yang mengenai lainlainnya. Rupanya awam jauh lebih mudah mengerti arsitektur kekosongan, daripada arsitektur wajahwajah. Mudah-mudahan inilah kontribusi budaya Buddhisme yang pernah singgah ke nusantara, dan
menurut kabar telah menyumbangkan konsepsi mengenai angka nol sebagai simbol dari adanya
ketiadaan, eksistensi kekosongan, kepada peradaban dunia.
Kiranya saya tidak perlu mengutip Aldo Rossi lagi mengenai apa yang secara arsitektur dimaksud
sebagai monumen.
Lebih penting untuk menjelaskan mengapa kesimpulan saya ternyata cuma sesederhana itu.
***
Kawan-kawan yang saya hormati,
Sudah bukan hal baru bagi para arsitek dan mahasiswa arsitektur selama dua dekade terakhir, betapa
masih hangatnya persoalan warisan budaya diperdebatkan. Syukurnya ada banyak tindakan nyata
belakangan ini mengenai hal tersebut. Yang lebih nyata bahkan dilakukan oleh kawan-kawan bukan
arsitek. Badan Warisan Sumatera dipimpin secara bersemangat oleh seorang perempuan bukan
arsitek. Warga Peduli Bangunan Tua di Jakarta digerakkan secara bersama utamanya oleh seorang
4

Kutipan dari makalah yang dibacakan di hadapani mahasiswa pasca-sarjana UNPAR dan ITB di kampus UNPAR,
Ciumbuleuit, Bandung, 26 Oktober 2001

13
perancang grafis dan seorang wartawan. Konsepsi mengenai warisan budaya itu sendiri, belakangan
ini, makin meluas, merasuk, merambah kepada dunia benda maupun bukan benda peninggalanpeninggalan yang tidak elit, tetapi yang sehari-hari, yang kelihatannya sepele dan sering terabaikan.
Misalnya sebuah rumah rakit berukuran tidak lebih dari 100 m di tepi Sungai Musi, atau sebuah
kebiasaan (adat) di desa Cicemet di Banten Selatan, atau sebuah kata Bahasa Daerah yang
ditemukan kembali. Bahkan juga sebuah masyarakat yang ingin mempertahankan gaya hidupnya
sendiri di tengah-tengah dunia yang tidak selebar daun kelor ini.
Modernisasi telah mendapatkan penafsiran baru. Interupsi Pascamodernisme sudah usai. Jalannya
sudah tertutup. Buntu. Tetapi sejarah belum berakhir. Globalisasi tidak hanya membuka satu jalan
tunggal yang membawa dunia kepada akhir sejarah yang niscaya, tetapi juga banyak jalan kesadarankesadaran dan penemuan-penemuan baru yang membawa orang kepada kemungkinan dan tujuantujuan lain yang majemuk.
Perubahan-perubahan mendasar tetap bertubi-tubi, bergelombang besar, bergulung dan menggulung.
Tidak semuanya dapat diperkirakan asal, waktu dampak dan akhirnya. Dalam keadaan seperti itulah
terjadi perubahan pula dalam kesadaran mengenai monumen. Kesadaran itu adalah mengenai
kekosongan, kediaman, kepemilikan bersama, pegangan dan tanda waktu dan ruang, kenangan, yang
muncul sebagai perlawanan terhadap akibat-akibat perubahan yang nyeleneh, tidak genah, dan tidak
perlu benar. Secara lebih positif, kesadaran-kesadaran itu sebenarnya membangunkan kesadaran akan
adanya banyak hal yang hampir terlupakan keberadaannya, tetapi terhenyak dari tidurnya ketika
padanya dilekatkan kegunaan ekonomi semata.
***
Kawan-kawan,
sebelum melanjutkan dengan persoalan kota, ijinkanlah saya mengajak kita sejenak melihat ke bagian
belakang sejarah bangsa ini dalam menghadapi perubahan.
Kesimpulannya adalah bahwa ternyata peradaban nusantara telah tidak mudah mengembangkan jati
dirinya dalam berhadapan dengan dunia.
Ketika peradaban Islam sedang akan berkembang setelah mengalahkan peradaban Hindu-Buddha 5 ,
tiba-tiba ia harus berhadapan dengan globalisasi yang pertama, yang dengan senjata ingin
menyatukan pasar dunia, ialah dalam bentuk kolonialisme abad ke-16.
Setelah kemerdekaan, ketika peradaban nasional baru hendak dibangun, nusantara yang kini disebut
Indonesia harus berhadapan dengan globalisasi dalam bentuk baru.
Dulu nusantara menjadi sumber bahan baku. Sekarang Indonesia menjadi pasar konsumsi dan
produksi yang mengandalkan bahan baku, tenaga kerja murah, dan sejumlah OKB yang senang
belanja barang ber-merk.
Ketika rasa-rasanya kemakmuran ekonomi hampir tercapai, ketidak-adilan mencuat ke permukaan.
Tumbangnya hanya Suharto; bukan Orde Baru, menurut sentimen yang banyak beredar di
masyarakat sekarang . Di masa katanya Reformasi, ketika hendak belok arah, bangsa Indonesia
terhalang oleh kebodohan dan keterbelakangannya sendiri, yang terutama tampil pada wajah-wajah
para elitenya: fasisme, fanatisme primordial, egoisme sektarian. Utamanya adalah ketidak
mampuannya mencerahkan massa rakyatnya, melainkan malahan memperbodohnya dengan
mengambangkannya dan memperalatnya sebagai alat penodong dalam sabotase dan kontrasabotase politik.
Tanpa suara, tetapi nyata, para elite sibuk menata kekuasaan, bukannya menjalin kekuatan bersama.
Seorang Abah Anom di Banten Selatan 6 , dengan sederhana membedakan konsep kekuatan dan
kekuasaan. Menurutnya, kekuatan terjadi ketika yang memimpin dan yang dipimpin bersatu oleh visi
dan keinginan bersama, sehingga atas dasar itu dapat membangun apa saja yang untuk kesejahteraan
5

Lihat misalnya: Prof. Dr. Slamet Muljana, Runtuhnya Keradjaan Hindu-Djawa dan Timbulnya Negara2 Islam di
Nusantara, Bhratara, 1968, Jakarta.
6
Dalam suatu pertemuan di kediamannya di desa Gelar Cipta, Cicemet, Banten Selatan, 7 Oktober 2001.

14
bersama. Monumen dengan mudah tercipta dalam sistuasi demikian. Sebab, pada dasarnya apa saja
yang dihasilkan dalam proses demikian dengan sendirinya akan menjadi monumen yang penuh isi.
Masyarakat adat, dalam terminologi modern, pada dasarnya adalah entitas sosial-kultural yang
memperoleh kekuatannya dari integritas internalnya. Kalau kita mengganti kata wangsit dengan
inspirasi, masyarakat adat dengan masyarakat sipil, sembilan tahun bersemedi dengan
sembilan tahun belajar, maka Abah Anom akan kedengaran sangat modern, jauh lebih modern dari
pada para elit di Jakarta, dalam hal pemahaman akan tata-negara dan hubungan antara pemimpin dan
yang dipimpin.
Saya khawatir, mau tidak mau, syarat pertama untuk memungkinkan pembangunan monumen adalah
kekuatan tersebut.
Sedang kekuasaan adalah daya sepihak dari pemimpin dalam memaksakan pola perilaku tertentu
kepada yang dipimpin. Kekuatan mempersatukan, dan terjadi karena kesatuan. Sedangkan kekuasaan
menceraikan pemimpin dan yang dipimpin menjadi dua pihak berbeda. Maka peringatan Abah
Anom, Jangan sampai kekuatan menjadi kekuasaan! seperti yang terjadi ketika para elite
memanipulasi kepercayaan rakyat untuk kepentingan dirinya sendiri dengan cara memaksakan pola
hubungan tertentu di kalangan rakyat yang memenuhi kepentingan elite itu sendiri. Dalam politik
identitas primordial, maka kebudayaan-pun telah menjadi alat kekuasaan, bukan lagi sumber
kekuatan (bersama) seperti pada masyarakat-masyarakat adat. Dalam keadaan ini, bukan monumen
yang mungkin diciptakan, melainkan tugu-tugu yang menunjuk diri sendiri (self-referential).
Sebenarnya masyarakat sipil, LSM, masyarakat miskin, seniman, dan budayawan, tidak tinggal diam,
berusaha sedapatnya membangun kekuatan dalam perspektif waktu yang lebih panjang. Tanpa sadar
mereka menghidupkan kembali cita-cita Syahrir dan Hatta. Dengan kata lain, cita-cita sosial
modernisme. Hanya, mudah-mudahan kali ini tidak utopis.
Arsitektur sebenarnya telah lama menanggap soal membangun kekuatan ini sebagai tantangan
dengan terutama mulai pada bidang perumahan rakyat. Prof. Hasan Purbo almarhum tentulah harus
disebut sebagai salah satu tokoh tonggak sejarahnya.
Namun, bersamaan dengan itu bangsa kita sedang menemukan kenyataan pahit dengan kesedihan
yang mendalam, yaitu bahwa sumber daya alam kita menipis drastis, terkuras ke dalam sejumlah
kecil individu, yang tidak ubahnya dengan para pencuri mangga mentah. Ya, sebenarnya perilaku
mencuri mangga mentah ini bukan hanya monopoli kaum elite, tetapi cukup merata di hampir
semua kalangan pada tingkat dan kesempatan yang berbeda. Tahukah Anda apa yang terjadi pada
pohon mangga yang terlalu sering dipetik buahnya ketika masih mentah? Ia lama-lama malas
berbuah. Demikianlah menurut ahli pertanian.
Bahan bangunan dan tata ruang, jelas sekali, haruslah dilihat dalam perspektif untuk menjawab soal
di atas: keadilan pembagian sumber daya, kehematan dalam segala hal. Kehematan dan keadilan
adalah antara lain bagian terbaik dari cita-cita sosial modernisme yang telah terdapat dalam
pemikiran Hatta dan Syahrir.
Lain dari itu, di tingkat masyarakat luas ada kawan-kawan yang mengingatkan kehilangan yang lebih
besar, yaitu apa yang mereka sebut modal sosial (social capital). Mereka juga pada saat yang sama
menemukan betapa besarnya energi sosial yang sebenarnya terdapat di kalangan masyarakat, yang
telah dialami secara nyata ketika tergerak oleh kekuatan efektif seperti dalam masyarakat Abah
Anom dan banyak kelompok masyarakat lainnya, di desa-desa maupun di kota-kota.
Sementara itu, globalisasi yang makin didominasi oleh sektor keuangan membuat setiap orang dapat
dengan mudah menjadi investor: setiap orang -termasuk buruh- dapat dengan mudah menjadi
kapitalis dengan membeli saham di pasar bursa. Sambil jalan, swastanisasi telah makin meniadakan
apa yang oleh Gunawan Muhammad disebut bebrayan (the commons). 7 Di masa lalu kita memiliki
kenangan bahwa betapa banyaknya monumen yang adalah fasilitas umum. Sekarang, kita resah
karena betapa semua fasilitas umum kita adalah yang paling ringkih dan rapuh dari seluruh
lingkungan binaan kita yang ada, jauh dari ketertetapan dan kualitas yang dapat disebut monumen.
7

Gunawan Muhammad, Layar (Catatan Pinggir), Majalah TEMPO, 19 Agustus 2001

15
Kawan-kawan,
sejumlah percikan-percikan catatan di atas cuma mau menggambarkan betapa Nusantara, Indonesia,
senantiasa tergulung oleh perubahan-perubahan dunia.
Bedanya abad yang lampau dengan abad yang baru mulai ini sederhana: pusat dan sumber perubahan
pindah dari dunia lama, Eropah, ke dunia baru, Amerika. 8
***
Isi perubahan-perubahan itu sendiri di akhir abad yang baru lalu dan diproyeksikan akan mengisi
seluruh abad mendatang, sekedar mengingatkan kita semua, dapatlah serba ringkas disebut sebagi
Genesis of a New World seperti gambaran dari Manuel Castells. 9
Yang nyata baru adalah chips, computer, telekomunikasi bergerak, rekayasa genetika, pasar keuangan
dunia yang terpadu secara elektronik dalam real time, ekonomi kapitalis yang saling kait-mengkait
pada skala seluruh planet, mayoritas penduduk perkotaan dan mayoritas tenaga kerja perkotaan di
bidang pengolahan informasi dan ilmu pengetahuan (di Negara maju), runtuhnya Uni Soviet,
mengaburnya komunisme, berakhirnya Perang Dingin, bangkitnya kawasan Asia Pasifik, tantangan
mendunia atas patriarkalisme, kesadaran universal mengenai pelestarian lingkungan, lahirnya
masyarakat jejaring yang berbasiskan space of flows, timeless time, serta yang barusan ini:
terorisme berskala armagedon.
Semua inovasi itu telah terdorong oleh tiga peristiwa dasar di akhir tahun 60an dan pertengahan 70an:
revolusi teknologi informasi
krisis ekonomi dari baik kapitalisme maupun statisme dan restrukturisasi yang mengikutinya
berkembangnya gerakan-gerakan sosial budaya seperti libertarianisme, HAM, feminisme,
lingkungan, identitas (atas dasar macam-macam: adat, agama, )
Dengan revolusi teknologi informasi, terjadi informasionalisme sebagai fondasi masyarakat baru.
Penciptaan kekayaan, pelangsungan kekuasaan, kelahiran kode-kode budaya menjadi tergantung
kepada kapasitas seseorang atau masyarakat dalam berteknologi, dengan teknologi informasi sebagai
intinya.
Teknologi informasi telah menjadi alat tak tergantikan untuk melaksanakan proses restrukturisasi
sosial-ekonomi secara efektif.
Teknologi informasi memudahkan lahirnya kapitalisme fleksibel dengan cara menyediakan alat
untuk jejaring, komunikasi jarak jauh, penyimpanan dan pengolahan informasi, individualisasi
pekerjaan yang terkoordinasi, sekaligus konsentrasi dan desentralisasi pembuatan-keputusan.
Ekonomi baru demikian melahirkan ekslusivitas baru: terjadi peminggiran baru secaa sosial dan
ekonomi. Segmen masyarakat, kota dan kawasan, bahkan seluruh negara tertentu, terpinggirkan bila
tidak memenuhi relevansi ekonomi baru. Eksploitasi mengambil bentuk dan memilih ruang serta
waktu baru, melahirkan apa yang oleh Castells disebut Dunia ke-Empat (The Fourth World), yaitu
ketidakadilan, kemiskinan, dan penderitaan baru yang tersebar di seluruh planet akibat restrukturisasi
kapitalisme menuju kapitalisme informasional.
Castells meramalkan terjadinya hubungan kelas yang berbeda. Pertama, kecenderungan polarisasi dan
ketidakadilan sosial, antara tenaga kerja self-programmable yang sangat produktif dan tenaga kerja
generik yang dapat terpakai-habis (expendable). Individualisasi tenaga kerja akan menghapuskan
organisisasi kolektif. (Apakah akan terjadi pada organisasi seperti IAI?)
Ekslusi atau peminggiran sosial yang baru akan mengakibatkan massa tenaga kerja generik
bergentayangan dari satu pekerjaan ke pekerjaan lain, termasuk yang paroh-waktu, yang informal,
dan yang bersifat ekonomi kriminal (premanisme, pelacuran, ...). Dengan posisi tawar yang

J.M. Roberts, Twentieth Century, the History of the World, 1901 to the Present, Allen Lane - the Penguin Press, London,
1999.
9
Castells, End of Millenium (The Information Age: Economy, Society, and Culture, Volume III), Blackwell, 1998

16
menurun terus, akan terjadi krisis yang lebih kerap dalam kehidupan masing-masing tenaga kerja,
keluarganya, dan masyarakatnya.
Pengetahuan dan informasi menjadi material hakiki dari proses produksi. Para produsen dalam
kapitalisme informasional adalah para penghasil pengetahuan dan pengolah informasi. Maka
pendidikan sebenarnya akan tetap dan makin menjadi adalah kualifikasi kunci. Hanya saja,
pendidikan dalam hal ini harus dikembalikan dalam artinya yang lebih mendasar: sebagai proses yang
melaluinya, orang, yaitu tenaga kerja, mendapatkan kemampuan secara ajek untuk mendefinisi ulang
keterampilan-keterampilan yang diperlukan untuk tugas tertentu, dan untuk memperoleh sumbersumber untuk mempelajari keterampilan ini.
Castells menunjukkan bahwa daya saing orang perorang dan seluruh bangsa, akan sangat tergantung
pada kapasitas kulturalnnya dalam menggunakan informasi. Karena itulah akan terjadi dua golongan
dasar tenaga kerja: yang dapat mem-program dirinya sendiri dan yang generik.
Siapapun yang terdidik, dalam lingkungan organisasi yang mendukung tentunya, dapat
memprogram ulang dirinya sendiri ke arah tugas-tugas yang terus menerus berubah dalam proses
produksi. Inilah yang disebut para networkers dan flexitimers.
Sedangkan tenaga kerja generik hanya mampu melakukan tugas tertentu tanpa memiliki
kemampuan mem-program ulang dirinya, dan tidak memerlukan penguasaan informasi dan
pengetahuan di luar kemampuan menerima dan menjalankan signal/perintah. Secara kolektif mereka
indispensible, secara individual expendable. Tenaga kerja generik menduduki tempat yang sama
dengan mesin dalam sirkuit sistem produksi.
Hal ini sangat relevan dengan pendidikan para arsitek, yang antara lain baru-baru ini dibicarakan di
dalam milis forumami. Di satu sisi memang perlulah kita kembali kepada kesadaran akan designerly
way of thinking; tetapi untuk mengisi desingerly way of thinking dipelukan kadar intelektualitas
yang mendasar dan berbahankan pemahaman-pemahaman lintas disiplin. Saya melihat kemajuan
Rem Koolhaas bukanlah sekedar pada usulan-usulan designer itu secara arsitektur, tetapi oleh
metoda dan pemikirannya yang sangat didasarkan pada kadar intelektualitas yang tinggi dan
pemahaman yang mendalam akan perubahan-perubahan masyarakat dunia. Karena itu pemikirannya
dapat dibicarakan bersama dengan disiplin sosiologi, ekonomi, senirupa, media, dan lain-lain.
***
Sedangkan negeri ini sendiri masih dirundung malang dan kesedihan, yang dalam pengalaman pahit
saya selama dua tahun terkahir berkeliling Tanah Air, sangat memilukan. Dimana-mana, dalam
semua sektor, pada semua tingkat, kita merasakan pesimisme. Pada lapisan paling bawah bahkan
keputusasaan. Di ujung Barat dan Timur negeri kita ini, orang-orang bicara pemisahan diri atau
kemerdekaan. Kita tidak usah setuju dengan mereka; tetapi setiap kali saya berkomunikasi dengan
mereka, baik ketika ada yang menginap di rumah saya ataupun ketika saya datang ke negeri mereka,
mudahlah untuk paham mengapa mereka berpikir demikian. Bukankah sebenarnya tidak ada ikatan
yang panjang dan mengakar benar antara kita semua? Beda keterikatan kita dengan Timor Timur
hanya 21 tahun (antara 1945 dan 1976). Kalau kita mendasarkan keterikatan kita sebagai sesama
jajahan Belanda, bukankah itu dasar persatuan yang sebenarnya menyedihkan?
Di semua negeri itu, Sulawesi, Irian Jaya, Sumatera, Kalimantan, saya melihat kota-kota yang alam
dan manusianya tersia-sia oleh arsitektur. Saya tidak melihat arsitektur di sana, kecuali peninggalan
alam dan sejarah yang tidak dikembangkan dengan kreativ, melainkan dibiarkan membusuk tanpa
transformasi, dan di sana sini ditumpang tindih secara keras dan kasar dengan yang terlalu
memalukan untuk disebut arsitektur. Melihat teluk Jayapura dari bukit setinggi 300 meter sungguh
berbeda dengan merasakannya pada ketinggian 1,5 meter. Arsitektur yang diberikan alam, sungguh
beda dengan arsitektur yang diciptakan manusianya. Demikian jugalah terjadi kesenjangan yang besar
antara melihat Palembang di tepi Sungai Musi dan Palembang di kawasan baru; atau Pontianak di tepi
Kapuas dan Pontianak lainnya.
Dan Jakarta!
Jakarta adalah sebuah kota tempat seorang jenderal yang tidak pernah mengalami perang sungguhan
kini memerangi orang miskin, bukan kemiskinan; memerangi penjahat, bukan kejahatan; memerangi

17
tukang becak, bukan mafia angkutan umum. Birokratnya sibuk menata median sebagai jalur hijau,
bukannya memikirkan kereta ringan yang dapat dibangun di atasnya.
Terhadap tetangga sendiri bangsa ini menjadi malu. Dan memang ada dasarnya: bahkan dalam
lingkungan ASEAN sendiri kita sudah berada pada urutan yang paling buruk dalam banyak hal:
kualitas hidup, korupsi, ekonomi, dll.
Apakah artinya semua itu bagi arsitektur dan kota Indonesia?
Tentu saja tidak ada yang (akan) berubah dengan esensi arsitektur, seperti misalnya yang ditulis oleh
Purnama Salura dalam bukunya Ber-arsitektur yang cantik itu.
Yang menjadi soal adalah: bagaimanakah yang esensi, yang berarti (diasumsikan) baik itu, dapat
mencul ke permukaan menjadi kenyataan yang senyata-nyata dan seluas-luasnya melayani
masyarakat-bangsa kita?
Monumen seperti apakah yang dapat diciptakan dalam keadaan masyarakat seperti itu?
Bagaimanakah memungkinkan terciptanya monumen?
Monumen, baik dalam wacana Aldo Rossi maupun Lefebvre, saya rasa harus memperoleh
kerinduan baru dari arsitek, perancang kota dan masyarakat luas. Kolonialisasi ruang dan waktu oleh
motif-motif ekonomi sempit, makin menyebabkan percepatan perubahan yang mencengangkan dan
membuat ruang dan waktu menjadi sangat tidak stabil, sehingga prasasti dan candi-candi baru
justru diperlukan, bila memang dapat kembali diciptakan dalam situasi yang serba mengalir dan
melumer ini. Mungkinkah? Setidaknya, apapun yang dibentuk arsitek dan perancang kota akan serta
merta dengan segera terpiuhkan oleh kekuatan-kekuatan yang menambahkan ketidak-sempurnaan
obyek diluar kendali pencipta (arsitek), di samping ketidak sempurnaan oleh arsitek itu sendiri.
Mungkinkah membangun kekhalayakan (publicness) yang memadai untuk menjadi rohnya prasasti
dan candi baru itu? Itulah tantangannya, sebelum soal pemberian bentuk.
Kalau tidak salah, saat-saat ini di suatu ruang yang lain ada orang yang sedang membahas pluralisme
dalam arsitektur. Mudah-mudahan itu tidak menjadi pembenaran atas salah kaprah seolah-olah tidak
perlu membangun suatu tingkat kekhalayakan, atau seolah-olah persoalan dapat selesai dihindari
dengan mengosongkan arsitektur sekosong-kosongnya.
Pemahaman tentang pluralitas dan multikulturalitas di kalangan para arsitek merupakan dasar untuk
perancangan kota. Masyarakat menjadi plural bukan saja karena faktor-faktor primordial, tetapi
sebenarnya justru karena moderninasi, terutama dalam hal makin tersedianya pilihan-pilihan bebas
bagi masyarakat. Persoalan bagi para arsitek, seniman, dan siapa saja yang hendak berkomunikasi
kepada publik sebenarnya cukup rumit. Castells mengutip Youichi Ito mengatakan bahwa jaman
mass society sudah lewat, karena telah beralih menjadi segemented society. Bukan lagi the medium
is the message (Marshall McLuhan, 19..) tetapi the message is the medium, kata Castells.
Francoise Sabah 10 merumuskan bahwa:
In sum, the new media determine a segmented, differentiated audience that, although massive in
terms of numbers, is no longer a mass audience in terms of simultaneity and uniformity of the
message it receives. The new media are no longer mass media in the traditional sense of sending a
limited number of messages to a homogenous mass audience. Because of the multiplicity of messages
and sources, the audience itself becomes more selective. The targeted audience tends to choose its
messages, so deepening its segmentation, enhancing the individual relationship between sender and
receiver.(Sabah 1985:219).
Khalayak (Publik), telah menjadi sekedar pemirsa yang merupakan variable waktu dan ruang dan
makin terpecah belah menurut pesan yang sedang tersedia di dalam daftar menu. Khalayak historis
tentu saja memang tidak pernah utuh, paling tidak setelah apa ayng disebut akal ditemukan secara
sadar. Khalayak telah menjadi fragmen-fragmen baik dalam arti waktu, ruang, maupun sosial.
Mungkin yang ada adalah pemirsa saja, sebagai padanan kata untuk fragmen-fragmen khalayak
itu, baik dalam arti temporal maupun sosial. Meskipun peralihan-peralihan itu, arsitektur tetap saja
10

Dalam Castells, 1996:339.

18
mempunyai dimensi khalayak yang penting, apapun atau bagaimanapun terpecah-belahnya khalayak
itu. Hubungan antara arsitektur dan khalayak menjadi lebih rumit bila dibandingkan dengan pada
senirupa, sebab ia sangat tergantung pada pemesan. Bila senirupa dapat diciptakan tanpa pemesan,
arsitektur hampir selalu baru mulai diangankan ketika telah ada pemesan. Senirupa memiliki kolektor,
bukan pemesan. Seniman berkomunikasi langsung dengan khalayak dapat (teoritis) tanpa melalui
perantaraan pemesan. Dikatakan teoritis karena mungkin saja sekarang seorang seniman ketika
mencipta sudah berpikir untuk menjadi laku di mata kolektor, yang dalam kasus demikian lalu
sebenarnya telah menjadi pemesan implisit yang kooptatif, atau ijon dalam bahasa pertanian.
Arsitektur, mau tidak mau harus terus-menerus mengalami ketegangan antara kepentingan pemesan
dan khalayak. Dalam keadaan khalayak itu sendiri makin kabur dan terpecah-belah, makin
dibutuhkanlah kemampuannya untuk memahaminya, atau sebaliknya terjerumus dalam pengabdian
semata-mata dan satu-satunya kepada pemesan, dengan dalih subyektivisme harus diakui sebagai
sesuatu yang sah.
Itulah sebabnya saya merasa perlu menginginkan jangan sampai hanya designerly way of thinking
yang dikembangkan oelh para arsitek, tetapi juga intelektualitasnya untuk menangkap khalayaknya
secara lebih kompleks dan jitu, tidak naif dan simplistis.
Bukankah tanpa khalayak, maka arsitektur, terutama arsitektur kota, tidak ada, atau setidak-tidaknya
kehilangan alasan hidup (raison detre)nya?
***
Kapitalisme informasional juga berarti penekanan pada produktivitas yang tumbuh dari inovasi dan
daya saing yang tumbuh dari fleksibilitas. Kedua-duanya sangat tergantung kepada kreativitas yang
tridak lagi perlu dijelaskan sebagai dasar penting profesi arsitektur.
Yang akan menjadi produsen baru dalam kapitalisme informasional adalah para penelor pengetahuan
dan pengolah informasi. Bagaimana profesi arsitektur dapat berperan ganda seperti itu? Arsitek(tur)
penelor pengetahuan? Arsitek pengolah informasi?
Pemanfaatan teknologi informasi, dan kesadaran akan perubahan-perubahan sosial-kultural yang
bertumpu padanya, bukanlah hal abstrak yang jauh relevansinya dengan pembangunan perkotaan
Indonesia. Saya mulai melihat bagaimana kecenderungan pada sisi posistifnya, yaitu desentralisasi
sekaligus integrasi dalam pluralitas yang aseli (genuine) dapat dimanfaatkan dalam kebijakan sadar.
Urbanisasi kultural, suatu konsep yang sejak dua tahun terakhir saya suarakan 11 , alhamdullilah, mulai
mendapatkan perhatiannya. Dua minggu yang lalu seorang direktur kota baru yang besar meminta
waktu bertemu, dan mengutarakan keinginannya untuk membawa penduduk kotanya menjadi benarbenar manyarakat urban bukan hanya dalam arti fisik dan ekonomi, tetapi juga dalam dimensi
sosial-kultural. Insyaallah, dalam waktu yang tidak lama kita dapat melihat suatu program
urbanisasi kultural yang multidimensi, yang mencakup mulai dari perancangan fisik fasilitas
perkotaan yang membantu orang menjadi urban, kampanye yang terus-menerus dan konsisten,
pemanfaatan teknologi informasi sebagai unsur integratif, dsb.nya.
Pada saat ini Jakarta adalah sebuah kota yang tercabik-cabik oleh keadaan krisis. Namun, sebelum
krisispun Jakarta telah selama 30 tahun mengalami pembangunan perkotaan tanpa peradaban
perkotaan yang seiring. Orang masih tidak tahu bagaimana menyeberang jalan dengan baik. Orang
masih tidak tahu antri, dan mendahulukan yang keluar dari lift, bukan berebutan masuk. Pelanggaran
tata tertib lalu lintas menjangkiti semua kelas dan segmen masyarakat. Pemakai moda transportasi
berbeda-beda saling mengumpat, tidak tahu bahwa seharusnya mereka bisa mendapatkan yang baik
untuk semua, antara lain dengan menuntut profesionalisme pemerintah kota dalam menata taman dan
jalan kota. Selama 30 tahun urbanisasi di Indonesia memang telah tanpa urbanisasi kultural yang
semestinya menyiapkan manusia Indonesia, yang sebagian besarnya akan segera hidup dalam situasi
perkotaan, menjadi manusia kota melalui upaya sistematis, terprogram dan sadar. Akibatnya
kebudayaan yang kita warisi telah tertekan-terhambat dalam menjalankan fungsinya yang penting:
mengembangkan peradaban. Maka budaya bermain petasan, misalnya, sementara ini gagal
mengembangkan cara-cara yang adab dan artistik seperti budaya Cina. Padahal sebenarnya dalam
tradisi nusantara ada meriam bambu yang artistik dan adab, dengan krama yang jelas. Mengapa kita
11

Antara lain dalam seminar di KIMPRASWIL, tulisan-tulisan dan wawancara di media massa

19
bisa patuh kepada aturan kolonialis Belanda (yang jumlahnya relatif tidak berarti), dan di komunitas
tradisional ada aturan bersama seperti awig-awig, sementara gagal mengembangkan konsensus atas
dasar pluralitas besar di kota-kota?
Jadi budaya kita perlu secara sadar didinamisasikan agar dapat mengembangkan peradaban untuk
setiap situasi baru, kota misalnya. Perlu ada kampanye yang sistematis, seperti yang dilakukan di
negara yang sekarang maju di akhir tahun 60an dan awal 70an. Masyarakat madani sendiri harus
berperan aktif. Kita harus bersikap manusiawi sekaligus positif, dengan menyadari bahwa memang
orang tidak otomatis jadi manusia kota, melainkan memerlukan proses pembelajaran, sosialisasi
atau enkulturasi.
***

Mari Mencerdaskan Kota


Belakangan ini saya makin sering secara terbuka mengkritik kelembagaan dan tatacara kita
membangun kota. Jadi pada prosesnya, bukan pada hasil akhirnya. Namun saya harus dari awal
menegaskan, bahwa, berkat guru saya Prof. Sandi Siregar, saya tidak percaya bahwa proses
mempunyai hubungan langsung yang deterministik dengan produk arsitektur. Proses yang baik tidak
dapat menjamin karya arsitektur yang baik, tetapi merupakan pra-syarat yang harus ada (untuk
kepentingan yang lebih luas). Yang dapat menjamin produk arsitektur yang baik hanyalah arsitek
yang baik, bukan peraturan atau tata caranya.
Ketika memikirkan proses inilah ingatan kembali kepada cita-cita yang dirumuskan oleh para pendiri
Indonesia, yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa, yang selayaknya menjadi inspirasi kita semua
sebagai elit penguasa ilmu dan pengetahuan di tengah-tengah bangsa yang masih jauh dari
kemerataan.
Proses yang selama ini ada, termasuk kelembagaan seperti Tim Penasehat Arsitektur Kota di Jakarta
sangat tidak mencerdaskan bangsa. Alih-alih, mereka bahkan mengabadikan kesenjangan antara
ketidaktahuan umum dan kolusi antara ilmuwan, profesional dan penguasa.
Telah bertahun-tahun saya berusaha menjual gagasan mengenai pentingnya sayembara. Akhirnya
belakangan ini mendapat sambutan yang baik. Sayembara telah menjadi kegandruangan baru di
kalangan kawan-kawan Arsitek Muda Indonesia. IAI telah menugaskan beberapa kawan merumuskan
secara baik panduan sayembara. Bagi saya, pentingnya sayembara bukan hanya sebagai perataan
kesempatan dan pendidikan kebersaingan di antara para arsitek, tetapi lebih-lebih sebagai pendidikan
bagi masyarakat, sebagai suatu cara mencerdaskan bangsa, mencerdaskan kota! Caranya adalah harus
tersedia banyak kesempatan -ruang dan waktu- untuk dialog antara para profesional, cerdik pandai,
elit ilmu pengetahuan, dan masyarakat luas. Ini adalah bagian dari upaya kita membangun khalayak,
yang tanpanya tidak mungkin ada monumen!
Jangan biarkan monumen hilang dari bumi, kota dan ingatan!

Jakarta-Jayapura-Pangkalpinang-Palembang-Bandung,
Oktober 2001.

20

Menuju Persatuan Kota

12

Konflik-konflik di dalam dan menyangkut ruang, yang mencuat selama krisis dua tahun terakhir,
membuat kita sadar akan suatu kekerasan primer di kota-kota dan daerah-daerah di seluruh Indonesia:
super-imposisi paksa ruang Orde-Baru, yang tidak lain adalah suatu rejim modernisasi yang
reduksionis, di atas ruang historis antropologis. Kekerasan-kekerasan selanjutnya hanyalah
merupakan reaksi atau akibat dari yang primer itu.
Modernisasi reduksionis ini tanpa pencerahan: rasionalisasi tanpa komunikasi; politisasi tanpa
partisipasi; identitas tanpa keaslian (authenticity); birokratisasi tanpa tanggung-jawab individual;
mobilisasi tanpa pemberdayaan; ekonomi pertumbuhan tanpa kewira-swastaan; monumentalitas tanpa
permanensi, tanpa identifikasi dan kenangan kolektif.
Ini tidak asing bagi banyak konteks negeri sedang berkembang lain. Bagaimana konsepsi modernisasi
dimonopoli dan direduksi oleh elit demi menyelamatkan bangsa dari pengaruh buruk sudah dibaca
pada saat awal rejim mulai melakukan konsolidasi -ialah pertengahan tahun 1980an - antara lain oleh
Marshall Berman (All that is solid melts into the air: the Experience of Modernity, Verso, 1985),
Richard A. OConnor (A Theory of Indigenous Southeast Asian Urbanism; Institute of Southeast
Asian Studies, 1983) dan Claude Javeau (Le Developpement Entre Tradition et Modernit, La
Cambre, 1987). Belakangan ini muncul juga penjelasan pascakolonial, antara lain oleh Abidin
Kusno (Behind the Postcolonial, Architecture, urban space and political cultures in Indonesia,
Routledge, 2000).
Ruang dari rejim demikian bersifat fungsionalistik, developmentalistik, keras, mengabaikan detail
dan apa yang ada sebelumnya, memaksakan diri, non-antropologis, non-ekologis, dan ekslusiv,
menolak keragaman.
Arsitekturnya memainkan politik identitas tanpa memberikan ruang bagi interpretasi kreativ. Maka
tidak ada keaslian. Arsitektur bangunan pemerintah daerah dan hotel-hotel yang menjamur berturutturut sebagai fungsi birokratisasi dan eksploitasi budaya bagi kepentingan ekonomi pariwisata,
misalnya, tidak lebih daripada penggelembungan tipologi arsitektur tradisional warisan nenek
moyang tanpa nilai tambah otentik.
Budaya berkota dan mengkota direduksi ke dalam sejumlah slogan ringkas dan instant.
Yang kecil, unik dan kaya detail seperti komunitas etnis, warisan kota lama, kampung-kampung kota
dan permukiman masyarakat asli luput dari representasi, dianggap tidak ada, dan tidak terikutkan
dalam perencanaan yang top-down. Kampung kota sebagai ruang bermukim asli yang tersisa makin
lama makin diberi konotasi negatif: tidak modern, tidak maju.
Yang menghilang dari representasi kemudian juga menghilang dari realitas. Masyarakat adat
kehilangan ruang hidupnya karena ditimpa dengan struktur makna lain yang asing: ekonomi

12

Diterbitkan KOMPAS edisi khusus akhir tahun, 20 Desember 2000.

21
eksploitatif HPH (Hak Pengelolaan Hutan), misalnya. Demikian juga kasus masyarakat nelayan yang
daerah penangkapannya dikavling menjadi peternakan mutiara atau eksploitasi tambang timah.
Monumen-monumennya sepi makna. Yang sangat fenomenal adalah patung besar para tokoh dalam
gaya realisme. Begitu juga ruang-ruang terbuka dan kompleks seperti Taman Mini Indonesia, serta
jalan raya yang serba besar hanya skalanya, namun sepi dari permanensi yang lebih mendasar dan
dihidupi sebagaimana diangkat dari sejarah oleh Henri Lefebvre (The Production of Space, 1991),
yaitu permanensi yang berdasarkan identifikasi kolektif masyarakat luas. Megastruktur, yang
komersial seperti mal yang menjadi simbol aspirasi kemajuan di banyak daerah di luar Jakarta ,
maupun yang birokratis seperti kompleks perkantoran pemerintah, bahkan menggusur permanensi
yang seungguhnya, yaitu kampung-kampung yang sudah puluhan tahun mengakar. Monumenmonumen ini lebih besar badan daripada maknanya. Lebih besar tokoh daripada ruang khalayaknya.
Lebih besar lingga daripada yoninya.
Semua kota di Indonesia telah membesar terus menerus, tetapi ruang-ruang yang dapat dimasuki
bebas dan nyaman oleh penghuni serta pemakainya justru makin menyempit sampai ke hanya ruang
privat-nya masing-masing. Akibat frustrasi ini orang memaksimalkan dua pelarian: membuat ruang
pribadinya -rumah, mobil, klub- menjadi istana; atau merambah alam-hijau sejadi-jadinya, sehingga
terjadi sub-urbanisasi dan 'Puncak'-isasi.
Lain dari itu, misalnya taman dan lapangan serta terutama ruang jalan, dianggap dunia liar: boleh
buang sampah seenaknya, boleh berebutan sekuatnya, dianggap urusan orang-lain saja. Hasilnya
adalah kota-kota mengalami de-urbanisasi, bahkan ruralisasi. Masyarakat kota semua kelas dan
segmen- menjadi apatis terhadap kotanya sendiri. Tidak ada tetangga, melainkan saingan
memperebutkan secuil bagian kota. Tidak ada krama dan peradaban, tidak ada kesepakatan. Yang ada
eksklusivitas.
Jalan besar (bukan raya yang kaya konotasi sosial-kultural) baik yang di dalam kota maupun yang
berupa jalan lingkar membelah begitu saja ruang entitas sosial-geografis, dan dibangun sebagai
ruang teknis-fungsional mesin pertumbuhan ekonomi tanpa konsepsi makna, tanpa konsepsi ruang
arsitektur yang jelas di awal.
Dengan cara itu semua, tata ruang Orde-Baru telah memporak-porandakan ruang antropologis,
dimana guna dan makna bersatu, menjadi fragmen-fragmen fungsional yang terpenggal-penggal.
Tidak ada sensitivitas yang merancang ruang untuk digunakan oleh manusia beradab dan manusia
'bermain'.
Infrastruktur umumnya memecah-belah ruang, bukan menyatukan. Perumahan tidak membentuk
kota, melainkan hanya kompleks-kompleks terpisah. Ruang nyaman publik hanya yang pakai bayar.
Ruang terbuka seperti taman menjadi makin tidak aksesibel atau terpenggal dari lingkungan
permukiman, sehingga justru menjadi tidak fungsional: tidak terpakai dan ditinggalkan menjadi
tempat sampah atau tidak terawat. Tidak ada arsitektur.
Jalan menjadi tanpa urbanitas, tanpa krama, menjadi alat fungsional saja untuk bergerak, bukan
untuk kegiatan urban yang lebih luas dan beragam. Kalaupun ada, misalnya perdagangan kaki lima,
maka senantiasa dianggap mengganggu fungsi utama jalan. Maka pelarian berikutnya adalah
urbanitas yang dimasukkan ke dalam interior: lobi hotel dan gedung lain yang berlebihan dalam hal
ukuran maupun kelengkapan kegiatan. Gedung-gedung atau kompleks gedung-gedung berlomba
menjadi kota tersendiri selengkap-lengkapnya. Jalan ditinggalkan dari keseharian urbanitas; tetapi
mencuat penting ketika ada massa dalam aksi sesaat yang sekali-sekali.
Tata ruang juga dianggap sebagai penyelesaian teknis semata, meskipun diam-diam dijadikan alat
kepentingan, seperti semua hal di jaman Orde Baru: negara dan kota diurus bukan hanya oleh politisi
elitis tetapi juga profesional teknisi elitis. Yang KKN sebenarnya bukan hanya politisi dan pengusaha,
tetapi juga birokrat dan teknisi. "Penghianatan" seperti ini menumpulkan kemampuan dan inovasi
para teknisi itu sendiri, karena tidak terbiasa mempertanggung-jawabkan gagasan-gagasan di depan
khalayak. Rencana induk kota dan rancangan bangunan-bangunan umum dilakukan secara tertutup.
Tidak ada sayembara yang di negara maju merupakan instrumen sehari-hari untuk menyaring yang

22
terbaik, menggalang konsensus sekaligus meningkatkan apresiasi masyarakat, menjalin dialog antara
profesional dengan awam yang berkepentingan (stakeholders).
Penghianatan ini makin berlebih dengan penyimpangan-penyimpangan yang umumnya dibenarkan
dalam tata ruang berikutnya dengan argumen manipulatif yang naif: mengakomodasi pertumbuhan
ekonomi.
Tidak disadari, atau memang tidak perduli, bahwa rakyat sebenarnya lebih pintar untuk dapat
mengerti bahwa hampir semua penyimpangan itu sama sekali tidak berhubungan dengan pemenuhan
kebutuhan nyata rakyat banyak, melainkan lebih melayani keserakahan spekulatif para pengusaha
yang bersekongkol dengan keinginan kelas menengah atas untuk menguasai lebih banyak kapital dan
aset. Property crash yang terjadi di awal krisis nasional merupakan buktinya sendiri: sebagian besar
menyangkut pembukaan lahan baru secara berlebihan (misalnya Pantai Indah Kapuk di Jakarta, yang
aslinya adalah hutan lindung bakau, habitat beberapa spesies unggas langka) atau pembangunan
proyek-proyek baru yang sama sekali tidak menyelesaikan masalah yang lebih mendasar seperti
menyediakan rumah pertama bagi rakyat banyak.
Kesimpulan Hoffmann-Axthelm (Die Dritte Stadt, 1993) sangat jelas: bahkan bila harga tanah
menjadi lebih murah sekalipun (kenyataannya tidak) karena penambahan supply tanah yang bergunatunggal (monofungsional), hal ini tidak menolong yang lemah untuk mendapatkan ruang hunian yang
lebih luas, tetapi hanya membantu yang lebih kuat untuk mendapatkan lahan tambahan.
Yang dapat menolong adalah kembali kepada urbanitas yang sejati: penggunaan lahan yang hemat
secara ekologis dan peningkatan fungsi lahan secara kualitatif dan wajar untuk keseluruhan kota,
dengan cara menggabungan kembali berbagai fungsi dan dimensi kehidupan dalam ruang yang
kompak. Penambahan supply dalam bentuk suburbanisasi makin menjadi ruralisasi dan bersifat antiurban, karena sama sekali tidak membangun budaya berkota dan mengkota, karena tidak ada
kepadatan maupun keragaman yang cukup.
***
Akar dari masyarakat ada pada tingkat kota dan daerah. Partisipasi pada entitas masyarakat kota dan
daerah, yang memiliki kepentingan bersama yang nyata dan terbatas dalam ruang yang sama, akan
menentukan keberhasilan dan produktivitas reformasi di tahun mendatang. 'Masyarakat bangsa'
adalah suatu abstraksi dan penghikmatan konsepsional saja, sedangkan 'masyarakat kota' ada tanpa
perlu dikonsepsikan. Pada tingkat ini reformasi mau tidak mau akan menyentuh tataran kultural, akan
menyentuh 'demokrasi' dalam praktek sehari-hari, dan mengenai kepengurusan segi-segi kehidupan
yang nyata.
Kenyataannya memang inovasi dan kreativitas terdapat di dalam organisasi-organisasi masyarakat
warga yang kecil-kecil dan sehari-hari di lokal-lokal yang terbatas: Mangunwijaya dan muridmuridnya, Profesor Hasan Purbo dengan gerakan community-based development, serta banyak sekali
LSM di seluruh Indonesia. Yayasan Toloka di Ampana, 158 km sebelah Timur dari Poso, sekedar
menyebut satu contoh, terdiri dari orang-orang muda yang membantu masyarakat nelayan memetakan
dunia lautnya menurut pemahaman mereka sendiri, yang telah diabaikan ketika pemerintah daerah
mengkapling dunia yang sama seluas 1,537 hektar untuk dikontrakkan kepada perusahaan
peternakan mutiara, dan dengan demikian menutup ruang hidup ini dari mereka. Padahal, dengan
metoda participatory mapping, mereka berhasil menunjuk 72 titik dimana mereka turun temurun
telah
menangkap
ikan
di
dalam
dunia
tersebut.
Pada tingkat daerah, soal partisipasi mengemuka dengan sendirinya dalam arti senyata-nyatanya.
Reformasi mulai di kota-kota. Memang kemudian harus ditegaskan dan dilembagakan di kota-kota.
Secara politik dan sosial-kultural, 'persatuan kota' justru harus mendahului 'persatuan nasional'.
Konsep persatuan kota atau daerah juga penting untuk mengatasi penyeragaman struktural. Dengan
konsep ini sensitivitas antropo-ekologis dapat dipertahankan. Maka Indonesia sebaiknya lebih dilihat
sebagai Nusantara, sebagai kumpulan pulau-pulau (dalam arti literer maupun simbolis) komunitas
kota dan daerah yang masing-masingnya mempunyai persatuan sosial kultural yang nyata dan tidak
abstrak-politis seperti konsep persatuan nasional yang nyatanya represif dan reduksionis.

23
Di Jakarta terbukti bahwa demonstrasi dan wacana demokrasi dalam bentuk lainnya yang menyentuh
soal-soal nasional sama sekali tidak mampu menutupi konflik-konflik di dalam kota: antar
masyarakat, antara pemerintah dan masyarakat, antara buruh dan pemodal, antara kampung dengan
kampung, antara kampung kumuh dengan 'gated community', antara Konsorsium Kaum Miskin Kota
dengan petugas dan birokrat. Dan semua ini terjadi dan berdampak dalam ruang. Di dalam kota,
ruang ini penting, karena sempit-terbatas, padat-sesak dengan berbagai penggunaan dan kepentingan,
formal-legal, ada norma dan krama.
Tetapi ternyata di Jakarta belum sekatapun agenda reformasi diterjemahkan secara nyata. Rencana
Tata Ruang Wilayah Jakarta 2010 mematok keputusan-keputusan dasyat tanpa kehendak kolektif
yang jelas dan sahih; soal-soal yang memerlukan awal jawabannya sekarang (karena harus
diupayakan secara persisten jangka panjang) seperti pengendalian banjir, penanggulangan
pencemaran alam, prasarana dasar, angkutan umum, belum mendapatkan dasar-dasarnya yang
bermutu; ketertiban lalu lintas dan penegakkan krama di ruang umum lainnya belum mendapatkan
motivasi kultural suatu masyarakat warga yang dewasa; kaum terpinggirkan terus menerus masih
harus berteriak tanpa penyaluran yang jelas; bagian-bagian kota, ruang-ruang umumnya, makin
mengalami proses ruralisasi, bukannya urbanisasi, baik dalam arti arsitektur maupun prilaku
manusianya.
Semua itu tidak menyebabkan kekerasan, tetapi mempermudah dan memberi peluang untuk
kekerasan. Dan yang dimaksud dengan kekerasan bukan hanya bentrok fisik, melainkan juga mukamuka yang mengeras karena bosan, tidak perdulian dengan sekitar, mau menang sendiri di jalan dan
di mana saja, serba menelikung memperjuangkan kepentingan sendiri, tidak mau mengalah dengan
akibat kepentingan bersama menjadi 'macet' semua. Perilaku kita di jalan sungguh adalah pars pro
toto dari karakter bangsa kita di seluruh bidang kehidupan. Tidak ada orang sadar bahwa ada hal
jangka panjang yang harus disiapkan sekarang, paling tidak konsensusnya. Kota Bogota, misalnya,
bulan Oktober lalu mengadakan referendum untuk menentukan kota bebas kendaraan pribadi pada
jam puncak yang baru akan diberlakukan Tahun 2015!
Pelembagaan partisipasi sangat sentral sebagai suatu cara untuk merekat persatuan kota, karena
melaluinya warga merasa ikut bertanggungjawab, menentukan dan berdaya, bukan hanya sebagai
penerima. Partisipasi harus dimengerti sebagai keterlibatan langsung agen-agen sosial dalam
kegiatan-kegiatan publik (Cunill, 1977).
Sayangnya di benak banyak para birokrat, partisipasi masih dilihat dalam kerangka mencari lejitimasi
dan pembenaran, padahal yang lebih penting adalah melihatnya sebagai alat pendobrak mentalitet
feodal dan kolonial, sehingga terjadi pemberdayaan masyarakat warga untuk membangun dirinya
sendiri.
Selain soal akuntabilitas dan keterwakilan, perlu wacana rinci mengenai pengetahuan dan cara serta
prosedur keterlibatan langsung. Dalam kurun waktu 20 tahun terakhir di dunia sedang berkembang
sebenarnya konsep dan teknik partisipasi telah bergerak dari melihat masyarakat sebagai penerima
menjadi warga yang berhak dan berdaulat, dari menyangkut proyek-proyek sosial terpisah sampai
kepada keterlibatan dalam perumusan kebijakan, dari yang sifatnya konsultatif ke yang bersifat
pengambilan keputusan, dari hal-hal mikro ke yang makro. Dari perencanaan (termasuk tata-ruang),
program pembangunan daerah, sampai ke penyusunan anggaran partisipatif.
Memang ada beberapa hambatan, tetapi banyak dokumentasi dan studi perbandingan (a.l
Schnwalder, 1997, John Gaventa dan Camilo Valderrama, 1999) menemukan banyak strategi dan
inovasi yang dapat diadaptasi sesuai konteks setempat untuk mengatasi hambatan-hambatan dan maju
terus. Contoh-contoh fantastis tapi ternyata terlaksana misalnya: sejak 1989 Brazil telah menerapkan
anggaran partisipatif di sejumlah 70 kota; di Filipina, proyek Batman menerapkan perencanaan
partisipatif di sejumlah besar kota di seluruh negeri. Filipina, India, dan Bolivia adalah tiga negara
yang secara khusus membuat undang-undang untuk menjamin partisipasi, masing-masing berturutturut: Undang-undang Pemerintah Daerah (1991), Amandemen ke-73 Konstitusi (1993), dan Undangundang Partisipasi Rakyat (1992).

24
Untuk memulai reformasi menuju persatuan kota yang sungguh-sungguh, suatu moratorium perlu
dikenakan terhadap semua produk tata-ruang sehingga ada kesempatan untuk mengulang secara
partisipatif. Ini jelas sangat bermanfaat untuk menggalang kesepakatan baru (new deal) yang sangat
diperlukan bangsa ini untuk melangkah maju dengan mantap bersama-sama, tanpa kekerasan konflik.
Lebih baik menuntaskan di awal, daripada terus menerus digerogoti konflik. Tata ruang adalah alat
yang sangat ampuh untuk merumuskan new deal secara kongkrit. Dan terbukti sangat realistis di
banyak negeri lain.
Moratorium ini jelas harus dilakukan terhadap, misalnya, RTRW Jakarta 2010, karena benar-benar
tidak legitimate dari segi problem statementnya yang tidak jelas dan tidak aspiratif, prosesnya yang
tidak partisipatif, motivasinya yang cenderung membenarkan pelanggaran yang lalu, serta
kekosongan solusi yang inovatif. Tanpa moratorium dan mengulang proses tata ruang, sulit
membayangkan Jakarta akan aman tenteram dan mampu bersaing di masa depan. Harus digalang
aliansi lintas-warga yang luas untuk mendesakkan hal ini. Segera!

25

Anarkisme: Satu Utopia Lagi?

13

Beberapa hari belakangan ini banyak peristiwa dicap anarkis, ialah peristiwa-peristiwa perusakan,
kejahatan, main hakim sendiri dan kekerasan lainnya yang tidak mengindahkan sama sekali kehadiran
pihak yang berwenang maupun sesama warga lain di dekatnya. Seolah-olah tidak ada hukum, tidak
ada yang berwenang. Bahkan, seolah-olah : tidak ada masyarakat. Karenanya anarkisme menjadi cap
berkonotasi sangat negatif.
Pada saat gerakan LSM kini sedang marak-maraknya dan tidak dapat dipungkiri turut berperan dalam
mewujudkan reformasi, ada perlunya meluruskan pemahaman akan konsepsi 'anarkisme'. Mengapa ?
Karena gerakan LSM di Indonesia selama dua puluh tahun terakhir - paling tidak beberapa aliran di
dalamnya - secara sadar ataupun tidak telah didasarkan pada idealisme 'anarkisme ilmiah' dari tokohtokoh abad ke-19 dan awal abad ke-20. Mereka ini antara lain adalah : Pierre-Joseph Proudhon
(Perancis, 1809-1865), Michael Bakunin (1814-1876) dan Peter Kropotkin (1842-1921). Inspirasi lain
dapat juga dikatakan bersumber pada pemberontakan para budak di jaman kuno, pemberontakan para
petani di Eropah abad pertengahan dan revolusi Perancis 1789. Memang, baru di pertengahan abad
ke-19 orang Perancis mengangkat istilah 'anarchisme' untuk menggambarkan secara positif ideologi
sosial dan politik yang memperjuangkan organisasi masyarakat tanpa pemerintah. Membaca kembali
falsafah dasarnya niscaya diperlukan untuk menghindarkan sekaligus prasangka buruk dan kesalahkaprahan yang berbahaya, terutama dalam usaha kita membangun masyarakat warga yang dewasa
dan berkelanjutan. Seberapa besar sebenarnya harapan yang dapat diletakkan di atas pundak mereka
itu? Apa betul ada masa depannya ?
Peter Kropotkin, ketika pertama kali diminta menggambarkannya untuk Encyclopaedia Britannica,
menulis bahwa anarkisme "adalah nama yang diberikan kepada suatu prinsip atau teori kehidupan
dan sikap-perilaku dimana masyarakat dikonsepsikan tanpa pemerintah - harmoni dalam masyarakat
demikian dicapai bukan melalui ketundukan kepada hukum, atau kepatuhan pada otoritas apapun,
melainkan melalui kesepakatan bebas antara berbagai kelompok, baik yang bersifat teritorial
maupun profesional, yang berserikat secara bebas untuk produksi maupun konsumsi, sebagaimana
juga untuk memenuhi keragaman kebutuhan dan aspirasi yang tidak terbatas dari manusia beradab".
Bukunya Conquest of Bread merupakan sebuah manual mengenai swa-organisasi masyarakat pascarevolusi. Di dalam Mutual Aid, dia menentang salah-kaprah dari Darwinisme yang digunakan untuk
membenarkan kapitalisme kompetitif. Ia menunjukkan bahwa, sepanjang sejarah dunia hewan
maupun manusia, kerja-sama lebih penting daripada kompetisi sebagai prasyarat untuk survival.
Karena itu: leadership of the fittest (untuk keselamatan bersama), bukan survival of the fittest. Dalam
Fields, Factories and Workshops, ia menganjurkan memanusiawikan kerja dengan cara integrasi
industri dan pertanian, otak dan tangan, serta pendidikan keterampilan dan intelektual.
13

Diterbitkan KOMPAS, Mei 2000.

26
Proudhon mengajarkan 'anarkisme damai', sikap anti terhadap angkatan bersenjata yang dengan
sendirinya adalah alat ultimat negara untuk menegakkan kekuasaan yang dipaksakan, sebab menurut
keyakinannya masyarakat yang secara moral layak bertahan hanya boleh tergantung kepada niat-baik
yang sukarela dari anggota-anggotanya. Proudhon juga terkenal dengan anjuran tanah tidak dimiliki
secara pribadi. Sementara Bakunin terkenal dengan ucapan bahwa 'kemerdekaan tanpa sosialisme
adalah privilege dan ketidakadilan, tetapi sosialisme tanpa kemerdekaan adalah perbudakan dan
brutalitas'. Bakunin juga terkenal karena perseturuannya dengan Marx di Tahun 1870an, dan
ramalannya akan kemunculan kedictatoran Marxis di abad ke-20.
Penolakan kepada otoritas dari atas -baik negara, patriarkalisme, gereja, ataupun majikanmenyatukan semua aliran dalam anarkisme, dan dalam kadar yang berbeda-beda tercermin dalam
gerakan-gerakan masa kini seperti pembelaan lingkungan, feminisme, serta kebangkitan masyarakat
pribumi. Kropotkin sendiri sangat berpengaruh terhadap para perancang kota, terutama gerakan 'kotabaru' seperti 'garden city', yang sangat mengandalkan ajarannya untuk membangun kemandirian
ekonomi dan sosial sebuah 'kota-baru'. Pada Lewis Mumford, yang memperkenalkan istilah
'megalopolis' dan meramalkannya akan menjadi nekropolis, masih terasa jejak pengaruh Kropotkin
ketika dia meragukan organisasi besar dan sentralistis seperti kota besar, dan menganjurkan
desentralisasi. Di Indonesia, tentu saja sayangnya kota baru tidak banyak lebih daripada 'perumahan
baru' yang tidak sejak awal merupakan penjabaran dari cita-cita kemandirian masyarakat
desentralistis.

Anarki bukan chaos


Jelas ada dua sisi pada koin bernama anarkisme ini. Pada satu sisi, terdapat idealisme mengenai suatu
masyarakat warga yang kuat, yang terdiri dari perserikatan-perserikatan kecil yang mandiri, dan
federalistik secara sukarela, dan -ini penting sekali- mampu mengatur dirinya sendiri. Pada sisi lain,
ada penolakan terhadap 'penguasa', ruler. Anarchy berasal dari kata Yunani 'anarkhia', yang artinya
'tanpa penguasa'. Apakah yang satu merupakan prasyarat bagi yang lain ? Bila sebagai tujuan, yang
kedua (keadaan tanpa penguasa) akan sangat berbahaya tanpa yang pertama. Keadaan tanpa otoritas
tanpa masyarakat warga yang mampu mengatur dirinya sendiri secara sukarela akan sama dengan
chaos, bukan lagi anarki. Mungkin istilah 'chaos' inilah yang lebih tepat untuk diterapkan pada
beberapa keadaan dalam masyarakat kita belakangan ini, supaya tidak terjadi kerancuan dengan
idealisme dalam anarkisme. Apakah masyarakat warga yang baik dapat dicapai tanpa menghancurkan
otoritas terlebih dahulu? Sejumlah 'gerakan' anarkis menganggap penghancuran otoritas sebagai
tujuan yang harus dicapai terlebih dahulu, paling tidak secara bersamaan dengan pembentukan
masyarakat warga. Revolusi Mexico Tahun 1911 mengandung andil dari anarkis di sana. Begitu juga
revolusi Rusia 1917, dan revolusi Spanyol setelah militer menyebabkan perang saudara di Tahun
1936.
Membangun masyarakat warga yang sehat, meskipun tanpa gerakan menghancurkan kekuasaan
negara, tentu saja adalah hal yang 'innocent', tidak ada ruginya, bahkan pasti ada untungnya untuk
banyak tujuan-tujuan lain, meskipun bagi kaum revolusioner hal ini akan berarti 'naif', dan seolaholah tanpa tujuan. Tetapi, dengan pengalaman dari revolusi ke revolusi dalam sejarah modern kita,
yang ternyata hanya menghasilkan rejim baru yang tidak lebih menguatkan masyarakat warga, ada
baiknya mengingat kembali pemikiran Hatta dan Syahrir, bahwa yang penting adalah pendidikan
rakyat. Ini tidak pernah akan merupakan pilihan yang buruk, kecuali bagi mereka yang tidak sabar
dan haus akan kekuasaan itu sendiri. Seorang anarkis Jerman Gustav Landauer (1870-1919)
menawarkan kearifan yang kreatif: 'Negara bukanlah sesuatu yang bisa dihancurkan melalui
revolusi, melainkan suatu kondisi, suatu hubungan tertentu antar manusia, suatu model perilaku
manusia; kita menghancurkannya dengan cara memberlakukan hubungan-hubungan baru, dengan
cara berprilaku lain.' Menuju ke situ, tidak bisa lain kecuali harus membangun pendidikan rakyat
yang multikulturalis. Ini sendiri merupakan keharusan bagi jaman baru masyarakat dan ekonomi yang
berdasarkan informasi dan pengetahuan.
Pilihan lain yang dapat dipikirkan tentu saja yang mengupayakan pencapaian kedua cita-cita
anarkisme itu secara kurang lebih berbarengan: sambil memperkuat masyarakat warga, mengurangi
kekuasaan negara. Ini tentu saja hanya arif bila anarkisme idealistis itu dianggap sebagai 'utopia'

27
pemandu saja, yang hanya bisa didekati. Bahayanya memang kalau terjadi jarak yang terlalu jauh
antara pencapaian yang satu dengan yang lainnya: chaos bila yang kedua (kekuasaan negara
berkurang) terlalu jauh dibandingkan dengan yang pertama (masyarakat warga yang cerdas), atau
apatisme bila yang pertama terlalu jauh dari yang kedua. Kemunculan diktator, demagog, kekerasan
dan golput merupakan gejala yang mudah dibayangkan.

Tantangan mutakhir.

Tantangan yang mutakhir dan lebih besar untuk para anarkis sekarang, tentu saja adalah 'kekuasaan'
yang lebih abstrak berupa bentuk-bentuk baru kapitalisme, termasuk apa yang oleh Manuel Castells
disebut 'informational capitalism' (Informational Age, 1998). Teknologi Informasi sebenarnya
meyumbangkan kemungkinan positif untuk membangun masyarakat warga yang kuat, meskipun
dengan syarat harus terjadinya keterbukaan dan keterjangkauan yang luas dan merata (atau: adil).
Gagasan copyleft, yaitu hak yang diberikan kepada seseorang untuk mengubah suatu program dan
meneruskan (bahkan menjualnya) kepada orang lain dengan syarat bahwa orang tersebut juga
meneruskan hak yang sama itu kepada orang lain, jelas mencerminkan 'konsep anarkis' yang positif
berlawanan dengan copyright yang hanya menguntungkan individu, yang kuat, dan menekankan
kompetisi, bukannya kerja-sama. Teknologi informasi juga memungkinkan organisasi jaringan yang
sangat menguntungkan gerakan anarkisme. Namun, bila kondisi keterbukaan dan keterjangkauan
tidak meluas, maka informasi akan menjadi kekuasaan baru, atau paling tidak menjadi instrumen bagi
bentuk kekuasaan sentralisasi baru. Sentralisasi informasi dapat mengambil bentuk 'hubs' yang bila
dikuasai secara efektif akan merupakan kekuasaan yang sangat besar, dan menguasai bukan saja
piranbti keras kehidupan tetapi juga merasuk sampai ke dalam piranti lunak. Sementara 'komunitas
terpencil' akan makin ketinggalan, atau 'selamat' dengan ketentramannya sendiri terhadap serbuan
kapitalisme.

Gerakan melawan kekuasaan abstrak kapitalisme selama ini efektif antara lain melalui apa yang
disebut 'direct action', suatu manisfestasi mutakhir dari anarkisme idealis yang tidak asing lagi bagi
kita selama dua puluh tahun terakhir. Contohnya adalah koperasi perumahan, credit-unions, bank
perkreditan rakyat, arisan membangun rumah (di kota Metro, Lampung, misalnya), pendidikan
alternatif oleh kelompok-kelompok mandiri, sampai kepada perdagangan barter setempat dimana
barang dan jasa mudah diperoleh tanpa melibatkan uang. Semua ini jelas mengandalkan 'kerja-sama' 'mutual aid', dalam istilah Kropotkin - bukan kompetisi. Semua itu hanya mungkin dan sudah
dilakukan oleh banyak kelompok masyarakat mandiri di Indonesia yang bermunculan sebagai
perserikatan-perserikatan sukarela yang cair, fungsional, temporer dan biasanya berukuran kecil.
Bahkan di kalangan yang secara tradisional tidak biasa demikian, seperti misalnya kalangan profesi
arsitek dan dokter. Kelompok Arsitek Muda Indonesia, misalnya, telah menjadi alternatif yang
signifikan terhadap Ikatan Arsitek Indonesia yang 'resmi dan besar'. Meraka juga tidak tergantung
pada kartu anggota, hak suara, kepemimpinan khusus dan massa pengikut, melainkan pada kelompokkelompok fungsional yang kecil, yang timbul tenggelam sesuai kebutuhan. Mudah-mudahan tidak
lalu muncul peraturan dan pengaturan 'dari atas' yang menghambat fondasi masyarakat warga yang
sehat ini.

28

Metropolitanisme

14

Metropolis, Megalopolis, Megacity dan Lain-lain


Ibu kota adalah padanan kata yang tepat untuk 'metropolis' 15 , karena salah satu sifat yang penting
adalah 'primacy'. Sebuah metropolis adalah sebuah kota raya yang secara mencolok men-dominasi
wilayah sekitarnya, termasuk kota-kota lain yang ada di dalamnya, sementara menciptakan suatu
saling ketergantungan antara mereka dan metropolis tersebut, seperti seorang ibu dan anakanaknya. Metropolis sebagai primat mengkonsentrasikan yang terbaik dan yang terburuk, dari para
innovator dan kekuasaan. Metropolis adalah pusat dinamisme sosial, ekonomi dan teknologi; pusat
inovasi politik dan budaya; dan merupakan titik hubung dengan jaringan global dari semua jenis. 16
Istilah-istilah baru seperti megacities dan megalopolis justru sangat menekankan karakter primacy,
hubungan fungsional antara yang utama, yang ibu, dengan yang kecil-kecil di sekelilingnya. Di
beberapa kawasan, beberapa primat bahkan telah menjadi aglomerasi (atau disebut juga konurbasi)
primat yang lebih besar lagi, seperti misalnya: kawasan pantai Timur Amerika Serikat bagian Utara
yang disingkat Boswash (Boston, New York, Philadelphia, Baltimore dan Washington), kawasan
Chipitts (Chicago, Detroit dan Pittsburgh), kawasan Tokaido (Tokyo, Yokohama, Nagoya, Kyoto
dan Osaka), kawasan Sansan (dari San Fransisco sampai San Diego), dan kawasan dari Amsterdam
sampai dengan Rotterdam. Semuanya mengandalkan jaringan komunikasi cepat yang linier untuk
saling berhubungan. Kriteria lain untuk sebuah metropolis adalah tentu saja ukuran jumlah penduduk.
Pada era awal industrialisasi, angka 1 juta merupakan konsensus. Tetapi kota-kota yang pada waktu
itu sudah berukuran 1 juta lalu menjadi 3 juta, 5 juta, 10 juta dan lebih.
Istilah megalopolis berasal dari Lewis Mumford 17 yang pandangannya memang sangat negatif
mengenai kota besar, dan bahkan meramalkan kehancuran peradaban kota-kota besar dunia Barat.
Bagi Mumford, megalopolis adalah jalan menuju Nekropolis, kota kematian di mana "daging menjadi
debu dan kehidupan menjadi pilar garam yang tak berarti". Dalam buku puncak karirnya, The City in
History (1961), megalopolis digambarkan di bawah judul-judul negatif yang menggenaskan:
Accretions of Power, The Slavery of Large Numbers, The Tentacular Bureaucracy, The
Removal of Limits, Sprawling Giantism, The Shadow of Success, dan The Bursting Container.
Meskipun pada waktu menulis bukunya, New York-lah yang ada di dalam benaknya, tidak dapat
disangkal bahwa apa yang ditulis Mumford menggambarkan sebagian keadaan Jakarta sekarang,
misalnya :
Pengurasan daya fisik, kekalahan mental, dari lingkungan-lingkungan yang mengekang ini, jalanjalan yang kumuh, ketergesaan dan bising terminal semua ini tidak lain adalah akibat dari

14

Diterbitkan dalam versi lain, dengan judul (Jakarta, Sang Metropolis dalam Jurnal Kebudayaan Kalam, edisi Juni 2002
Metropolis berasal dari kata Yunani meter-polis yang berarti ibu-kota dari sebuah negara atau koloni.
16
Castells, 1996:409-410.
17
The Culture of Cities, Harcourt, Brace, New York, 1938, kemudian The City in History, 1961
15

29
pertumbuhan megalopolitan: banyak darinya telah menghantui mereka yang makmur dan berhasil
maupun kaum proletar yang terbenam. 18
kota-kota melebar tanpa tujuan, memotong urat nadi keberadaan regionalnya, mencemarkan
sarangnya sendiri, berupaya meraih langit sesudah bulan: makin banyak keuntungan di atas kertas,
makin banyak tiruan palsu dalam kehidupan. Di bawah rejim demikian makin besarlah kekuasaan
yang tergenggam oleh sejumlah orang yang makin lama makin sedikit, yang makin lama makin jauh
dari kenyataan. 19
Dunia metropolitan ini, dengan demikian, adalah sebuah dunia yang di dalamnya kertas dan tinta
dan seluloid justru lebih nyata daripada daging dan darah. Ia adalah sebuah dunia yang di
dalamnya sejumlah besar massa rakyat, yang karena tidak mampu berhubungan langsung dengan
cara-cara kehidupan yang lebih memuaskan, menganggap hidup sebagai kepalsuan saja, dan
bersikap sebagai pembaca, penonton, pengamat pasif saja: suatu dunia yang di dalamnya orang
menonton pahlawan- dan pahlawati-bayangan agar dapat melupakan kecanggungan dan
kedinginannya dalam kasih, yang di dalamnya mereka menatapi orang-orang ganas yang memerah
kehidupan dalam pemogokan atau kerusuhan, arena tinju ataupun serangan militer, padahal untuk
menolak tirani kecil yang berupa atasan langsungnyapunpun mereka tidak miliki nyali 20
Jean Gottmann mengalihkan perhatian dari diskusi sosial kultural, bahkan negatif sekalipun seperti
oleh Mumford, ke diskusi planologis fungsional. Mengacu kepada kawasan antara Boston sampai
Washington dia mendefiniskan megalopolis sebagai suatu bentangan urban dan suburban yang
hampir sambung-menyambung, memiliki konsentrasi penduduk yang besar dengan kepadatan ratarata yang relatif tinggi dalam suatu bentang kawasan yang luas dan berhubungan satu sama lain
melalui jalur komunikasi cepat. 21 Megalopolis adalah suatu organisasi ruang permukiman yang
berstruktur jelas, yang menampakkan interdependensi fungsional antara bagian-bagiannya. Namun,
secara morfologis jalinan yang terjadi sangat longgar dengan banyak lahan kosong terselip di antara
fragmen-fragmen lingkungan perkotaan yang biasa.
Istilah megacities dipopulerkan terutama oleh Janice Perlman 22 , dengan merujuk kepada
kecenderungan regionalisasi yang makin menjadi kenyataan dan menyambungnya kota-kota menjadi
kumpulan yang lebih besar (conurbation) yang melibatkan jumlah penduduk yang fantastis (10
sampai 20 juta atau lebih). Dengan sendirinya ini merupakan kesempatan untuk memperluas bidang
kerja perencanaan tata ruang, regional planning, suatu proyek baru bagi para perencana fisik dan
ekonomi. Bagi Castells, ciri khas dari megacities yang membedakannya dari bentuk lama perkotaan
adalah bahwa ia terhubung secara global dan tercerabut secara local, baik secara fisik maupun secara
sosial. Megacity adalah konstelasi terpenggal-penggal yang terdiri dari fragemn-fragmen ruang,
kepingan-kepingan fungsional, dan segmen-segmen sosial. 23
Metropolis juga senantiasa di-asosiasi-kan dengan pencakar-langit (dalam bahasa Inggeris dan
Perancis: skyscrapers dan gratte-ciel) atau pencakar-awan (dalam bahasa Jerman dan Belanda:
Wolkenkratzer dan wolkenkrabber), seperti kota Babilonia di-asosiasi-kan dengan menara Babel.
Tersirat disini perngertian budaya metropolis yang terdiri tidak dari satu, tetapi banyak bangsa-bangsa
berbeda dengan bahasa berbeda yang sebanding banyaknya, yang berkumpul, bahkan tersatukan, oleh
ambisi bersama, yaitu menegakkan firdaus di atas bumi. 24 Mayoritas penduduk Jakarta adalah
pendatang, yang tertarik oleh janji yang diangkat menjadi ambisi itu.

18

The physical drain, the emotional defeat, of these cramped quarters, these dingy streets, the tear and noise of transit
these are but the most obvious results of megalopolitan growth: many of them cast a shadow upon the prosperous and the
successful as well as upon the submerged members of the proletariat (Mumford, 1938: 252).
19
.cities expanding to no purpose, cutting off the very trunk of their regional existence, defiling their own nest, reaching
for the sky after the moon: more paper profits, more vicarious substitutes for life. Under this regime more and more power
gets into hands of fewer and fewer people, ever further and further away from reality (Mumford, 1938:255)
20
This metropolitan world, then, is a wold where flesh and blood are less real than paper and ink and celluloid. It is a
world where the great masses of people, unable to have direct contact with more satisfying means of living, take life
vicariously, as readers, spectators, passive observers: a world where people watch shadow-heroes and heroines in order to
forget their own clumsiness or coldness in love, where they behold brutal men crushing out life in a strike riot, a wrestling
ring or a military assault, while they lack the nerve even to resist the petty tyranny of their immediate
boss(Mumford,1938:258)
21
J. Gottmann, 1961:3.
22
Lihat: Time Magazine, Special issue on Megacities, January 11, 1993.
23
... globally connected and locally disconnected, physically and socially" (1998, vol. I:404)
24
van Leeuwen, 1986:43

30
Modernitas dan Urbanitas
Studi modernitas melalui pengamatan atas kota telah menjadi tradisi yang penting sejak awal abad
lalu. Sebuah metropolis adalah tempat terjadinya proses modernisasi yang relatif paling intensif, baik
dalam arti konsentrasi maupun besaran, dibandingkan lingkungannya. Metropolis bukanlah suatu
tipologi planologis yang harus dihindari maupun dijadikan tujuan, melainkan suatu kondisi
obyektif yang merupakan produk yang niscaya dari modernisasi. Sejauh-jauhnya yang dapat
dilakukan oleh subjek adalah memahami dan menyikapinya dengan cerdas, mengalaminya sebagai
modernitas, dan melahirkan modernisme. Modernisasi disini secara sederhana dipahami sebagai suatu
proses objektif yang mencakup perluasan akal (reason) dalam kehidupan 25 , ilmu pengetahuan,
perluasan dan transformasi kapitalisme terus menerus, perubahan demografis, negara-bangsa dan
urbanisasi. Sedangkan modernisme adalah visi, gagasan, yang bermaksud membuat manusia menjadi
subjek sekaligus objek dari modernisasi 26 yang muncul sebagai tanggapan subjektif atas proses
modernisasi itu. Dalam wacana Habermas 27 , modernisme adalah modernisasi kultural yang
merupakan proses orang mengembangkan respons kultural terhadap proses objektif yang disebut
modernisasi sosietal atau di sebut modernisasi saja. Modernitas adalah pengalaman harian
seseorang mengenai modernisasi. Pemahaman demikian membuka pintu untuk melihat kemajemukan
dalam modernitas dan modernisme, dan dengan sendirinya membuka jalan untuk berkembangnya
berbagai terori mengenai modernisme dan modernitas, sementara modernisasi itu sendiri cukup
mendapat konsensus sebagai suatu proses obyektif, yang lalu menjadi jernij terlihat sebagai mutasi
yang ters menerus.
Hilde Heynen (1988, 1999) berkesimpulan bahwa pada dasarnya ada dua macam konsep mengenai
modernitas : yang bersifat programatik dan yang bersifat transitoris. Dalam yang pertama, gagasan
yang dominan adalah bahwa proyek emansipasi dan kemajuan dianggap inheren dalam modernitas.
Dalam yang kedua, tekanan diberikan pada transformasi terus menerus yang disebabkan oleh
modernisasi, dan dikembangkannya simpati pada efemeralitas, kekinian, dan kesementaraan
(transcient).
Di dalam metropolis, orang mengalami kedua-duanya dalam suatu ketegangan yang terus menerus.
Hilde Heynen, melalui studi yang menjembatani wacana arsitektur modern dengan terori-teori
(kultural) mengenai modernitas, menunjukkan bahwa arsitektur, sebagai produk budaya yang
menstrukturkan kehidupan sehari-hari, mengandung kontradiksi-kontradiksi utama yang inheren
dalam modernitas. Namun, dalam kondisi itu, pada momen-momen tertentu arsitektur telah
membuktikan kapasitasnya untuk bersikap kritis dalam berhadapan dengan modernitas. Studi ini
dengan cermat menunjukkan adanya keragaman kreatif dan visi dari para arsitek dan perancang kota
di awal abad yang lalu, sehingga modernisme dalam arsitektur dan tata kota tidak dapat direduksi
menjadi hanya Le Corbusier, misalnya, atau siapapun lainnya.
Modernisme sedang Berkembang
Pada banyak kasus, ketegangan dan kritik yang salah kaprah muncul karena penafsiran yang berat
sebelah pada hanya salah satu dari konsep modernitas di atas. Mereka yang secara ekstrim
menekankan telos dari emansipasi dan kemajuan cenderung menjadi otoriter dan bentuk keseniannya
kehilangan otonomi dan kualitas internal, karena menjadi budak dari pencapaian tujuan itu.
Sedangkan pada ekstrim yang satunya lagi, hasilnya seringkali adalah kedangkalan, atau kehilangan
relevansinya pada kehidupan. Bila definisi modernisme dari Berman di atas, yaitu visi dan gagasan
yang bertujuan membuat laki-laki dan perempuan menjadi subyek sebagaimana juga obyek dari
modernisasi, diterima maka kita dapat menerima pluralitas modernisme yang berbeda-beda di negeri
sedang berkembang. Berman menunjukkan kualitas tinggi modernisme Rusia, yang di abad ke-19
dapat dikatakan adalah sebuah negara sedang berkembang, terutama dalam hal tingkat
modernisasi, relatif terhadap Eropah pada waktu yang sama, yang berbeda sebagai contoh
modernisme yang lain, yang khas.
Namun ada bahaya penyalah-gunaan konsep pluralitas modernisme ini oleh para elit di dunia sedang
berkembang, dengan menekankan identitas esoterik bangsa, dan karena itu menerapkan semacam
25

Dengan catatan bahwa posisi dan arti dari akal itu sendiri terus menerus di-modifikasi, sehingga tidak lagi sekedar
instrumental reason.
26
Berman, 1982:16
27
Habermas, 1983 :3-15

31
sensor untuk menyelamatkan bangsanya dari kebebasan dan emansipasi kultural, demi
mempertahankan "kebudayaan asli yang sesuai dengan jiwa bangsanya. Argumen dalam jalur ini
umumnya membuat skisma antara modernisasi sosietal dan modernisasi kultural: ideologi yang
percaya bahwa modernisasi sosietal yang dalam hal ini direduksi menjadi rasionalitas dan
industrialisasi barat, dapat dicegah mempengaruhi nilai-nilai sosial-kultural tradisional yang ada.
Charles Correa, arsitek India yang sangat terkenal, menulis misalnya bahwa bangsa-bangsa sedang
berkembang sebagai entitas manusiawi dan sosial umumnya masih tidak ternoda, utuh sepenuhnya,
meskipun proses modernisasi yang dasyat sedang dialami bangsa-bangsa ini. 28 Sikap seperti ini oleh
Habermas disebut neo-conservative, ialah sikap yang menerima perkembangan ilmu pengetahuan
modern, sejauh ini hanya untuk kemajuan teknis, pertumbuhan kapitalistik dan administrasi rasional;
sementara sebagai pengganti modernitas kultural hanya mengacu kepada tradisi yang dianggap tidak
membutuhkan validasi dan pembenaran normatif lagi.
Modernisme negara sedang berkembang umumnya bercirikan perjuangan yang sulit dalam menginternalisasi-kan ataupun menolak apa yang kelihatannya asing (Barat). Beberapa modernisme ini
juga melihat proses modernisasi secara reduksionis. Beberapa termotivasi oleh niat baik untuk
menghindari ekses. Beberapa cukup berbahaya, karena tampil sebagai ideologi pembangunan,
yang tidak kurang berbahayanya dengan bahaya yang mereka lihat di dalam proses modernisasi itu
sendiri. Richard OConnor (1983) bahkan menyimpulkan bahwa latar belakang budaya yang hirarkis
dan elitis serta kepentingan mempertahankan kekuasaan kaum elit tersebut telah dengan sengaja
memiringkan proses modernisasi dengan cara melakukan sensor. Berman mengingatkan agar kita
perlu menelanjangi tujuan dan kepentingan para elit yang seolah-olah mau melindungi bangsanya
dari modernisme (kultural) demi kebaikannya sendiri. 29
Urbanitas adalah Modernitas
Persoalan mendasar budaya berkota di Indonesia adalah bahwa urbanitas pada saat yang sama adalah
modernitas itu sendiri. Tiadanya fakta-fakta historis yang relatif panjang dan akumulatif mengenai
urbanitas di Indonesia dan kecepatan perubahan dalam jumlah besar selama setengah abad terakhir
menyebabkan apa yang sekarang dipersepsikan sebagai fakta kota -urbanitas- adalah hasil dari suatu
proses urbanisasi modern belaka. Suatu pertanyaan bahkan dapat dikemukakan: apakah modernitas di
Indonesia hanya mengejawantah di dalam urbanitas? Secara teoritis dapat dikatakan tidak demikian.
Tetapi realitas yang terpersepsi adalah bahwa paling tidak semua hal yang lebih modern ada di kotakota. Lampu-lampu kota telah menarik jutaan migran setiap tahun dari desa-desa.
Memang ada banyak perdebatan mengenai definisi atau asal usul tradisi urban Indonesia.
Penelitianpun masih tetap berlangsung, merambah pada urbanitas Hindu Majapahit, urbanitas
pesisir Islam, sampai kepada pengaruh urbanitas Cina di kota-kota pesisir Asia Tenggara. Legenda,
mitos dan berbagai pengaruh banyak sekali diketemukan dari masa-masa yang telah lama lalu. Tetapi
fakta kota, yaitu realitas yang turun temurun secara serta-merta merekam, menyimpan, menularkan
dan menurunkan pengetahuan mengenai bagaimana masyarakat sebaiknya hidup di dalam kota,
adalah sangat terbatas dalam jumlah dan kedalaman. Apapun yang ada nampaknya harus dicari
hampir seluruhnya pada sejarah kontemporer. Pada saat yang sama terdapat tantangan-tantangan
menonjol yang harus dijawab secara tergesa-gesa. Masa kini menawarkan segalanya. Segalanya harus
dijawab sekarang. Hampir tidak ada preseden. Karena itu makna ruang kolektif di kota-kota kita,
termasuk Jakarta, sulit sekali untuk memiliki soliditas seperti di negeri-negeri dengan budaya
pembentukan ruang yang historis ribuan tahun. Karena tidak ada preseden, maka semuanya masih
dalam proses negosiasi dan pembentukan yang penuh konflik.
Jakarta sendiri sebenarnya telah disebut metropolitan di awal abad ke-sembilan belas 30 . Maksudnya
jelas menunjuk kepada kedudukan primatnya sebagai pusat perdagangan Asia Timur, keluasan
bentangan dan polisentralitasnya, karena pada waktu itu Jakarta terdiri dari pusat lama Oude
Batavia dan pusat-pusat baru seperti Gambir dan Meester (Senen-Jatinegara). Praha sendiri juga
sudah disebut metropolis pada tahun 1625 untuk alasan yang sama: terdapat pusat-pusat majemuk di
kedua belah Sungai Donau 31 . Demikian juga Athena pada jaman Pericles, ialah abad ke-lima sebelum
28

Correa, 1985:15
1982:125
30
Hanna, 1988
31
Dari sebuah litograf pemandangan kota Praha, 1625, pembuat tidak diketahui.
29

32
Masehi, ketika Acropolis dibangun; mengacu tentu saja, selain kepada sifat primatnya, juga kepada
intensitas perkembangannya, baik secara fisik maupun budaya yang kaya dan inovatif. 32 Sampai
kinipun, memang metropolis Jakarta masih memiliki ciri yang sama: kepadatan sekaligus
ketersebaran, berpusat majemuk. Hal ini menjadi latar belakang sulitnya mencari kualitas pada
intensitas kepadatan tersebut, karena selalu harus bersaing dengan ketersebaran. Ini bukan hanya soal
tata kota yang badaniah, tetapi juga soal budaya yang antara lain tercermin pada imaji, bahwa pusat
kota bukanlah hunian yang layak dan hunian yang sungguhan hanya di pinggir atau bahkan di luar
kota, yang sudah makin meluas di kalangan kelas menengah. Kenyataan bahwa sistem ekonomi yang
ada tidak mampu menyediakan hunian yang terjangkau di dalam kawasan yang relatif pusat kota
hanyalah salah satu sebab; karena sudah ada juga yang jelas-jelas memutuskan tidak mau menghuni
pusat kota sebagai pilihan. Ini pada gilirannya makin memperburuk kondisi pusat kota yang makin
kekurangan perhatian kecuali secara sekali-sekali.
Dalam studinya mengenai puisi Indonesia, Afrizal Malna menyimpulkan bahwa negasi terhadap kota
adalah karena antara lain para penyair yang progresif sekalipun melihat perkembangan kota yang
lebih progresif melakukan modernisasi, terutama yang berlangsung pada masa Orde Baru,
menampakkan ruang kota sebagai ruang kekerasan dari teks-teks modernisasi yang berlangsung.
Karena ada semacam moral yang dipertahankan, yang terancam. 33 Puisi cenderung membangun ruang
kotanya sendiri secara negatif, ketika kota mengalami persoalan pada ruang pemaknaan yang
dilakukannya. Dengan sendirinya, di belakang ini adalah jalan berpikir bahwa ruang kota hanya
bermakna, ketika ia mampu memberi arti keberadaan kepada penghuni yang tinggal di dalamnya 34
Reaksi-rekasi penyair terhadap perkembangan kota juga banyak yang melihat modernisme sastra di
Indonesia sebagai modernisme yang romantik 35 . Masih sedikitnya karya dan analisis atas karya seni
yang berbahan atau terilham oleh kota menunjukkan gejala lemahnya imaji kota di dalam jiwa bangsa
Indonesia. Ini tentu saja bukan salah mereka, sebab ternyata ada puisi-puisi penyair Indonesia yang
ketika menggunakan latar kota-kota asing menjadi lebih berkarakter dibandingkan dengan pusi-pusi
yang ditulis di Indonesia. Kota-kota yang mereka kunjungi di luar (negeri) mengesankan lebih
mampu memberikan satuan-satuan semiotik untuk pemaknaan yang dilakukannya. Karena itu Malna
menyimpulkan bahwa sebenarnya kota itu tidak semata berlaku sebagai tempat bermukim (para
penyair), tetapi adalah juga sebuah ruang nilai yang bisa memberikan wilayah pemaknaan lebih
berarti untuk mereka (para penyair). 36
Budaya Metropolitan
Studi lama yang pertama kali membangun kesadaran metropolitan pada tingkat subyektif, sosial dan
kultural adalah, antara lain, esai Metropolis and Mental Life (1903) oleh Georg Simmel (1858
1918), The Hotel Lobby oleh Siegfried Kracauer (1889-1966) dan Passagenwerk atau The Arcades
Project oleh Walter Benjamin (1892 1940). Rem Koolhaas sejak lima-belas tahun terakhir
mengejutkan dunia arsitektur dan budaya kota serta disain dengan arsitektur (neo-)modern dan
metropolitannya yang sayangnya kini makin menjadi kaidah yang makin meluas tanpa daya kritis.
Meskipun demikian, bukunya Delirious New York(1978) telah menghidupkan kembali kesadaran
metropolitan pada tingkat kultural, bahkan menukik pada tingkat arsitektur, mengisi kekosongan lama
di antara wacana-wacana teknik perencanaan wilayah sebelumnya. Koolhaas melihat Manhattan di
New York sebagai arena dari tahapan yang menentukan dalam peradaban Barat. Melalui ledakan
kepadatan manusia yang bersamaan dengan ledakan invasi teknologi baru serta pertumbuhan
ekonomi, tentu saja - Manhattan sejak 1850 menjadi suatu laboratorium bagi penemuan dan
pengujian gaya hidup yang beda sama sekali, yang disebutnya the Culture of Congestion, budaya
padat-raya. Koolhaas melihat hubungan antara budaya metropolitan yang bermutasi dengan
arsitektur khas yang dimunculkannya, dan sekaligus peran menentukan dari arsitektur dalam
menyokong kelahiran dan berkembangnya budaya padat-raya demikian.
Georg Simmel (1858 1918) dalam The Metropolis and Mental Life (1903) mengupayakan suatu
sketsa manusia metropolitan, dengan memanfaatkan psikologi dan dan ilmu pengetahuan alam yang
32

Gerhard Rempel, The Age of Pericles: Athens as Metropolis, dalam


http://mars.acnet.wnec.edu/grempel/courses/wc1/lectures/08pericles.html, 9 Juni 2000.
33
Malna, 2000:374, 380
34
Ibid:384
35
Ibid:385
36
Ibid.:384

33
tipikal pada jamannya. Dengan demikian Simmel dapat juga dikatakan meletakkan salah satu batu
fondasi sosiologi perkotaan (urban sociology). Yang paling sering dikutip dari Simmel tentu saja
adalah apa yang disebut sikap blas, ialah sikap acuh-tak-acuh, tidak tanggap terhadap rangsangan
baru, ketidakperdulian terhadap perbedaan-perbedaan, mengangap semua hal sama saja, seperti orang
yang sangat bosan. 37 Ini tidak bisa lain karena seorang warga metropolitan harus cenderung
menjaga jarak terhadap sesamanya, karena kepadatan hubungan dan keberadaan bersama yang
dialaminya tidak memungkinkannya dapat bertahan terhadap hubungan lebih dekat seperti di dalam
alam pedesaan yang jumlah manusia dan hubungannya terbatas. Menjaga jarak adalah hasil dari
penggunaan intelek dan akal-budi dalam mengendalikan hubungan. Bagi Simmel, makhluk modern
adalah makhluk yang penuh perhitungan, yang demikian sebagai cara menghindari resiko hubungan
yang terlalu dekat, yaitu kebencian (resiko dari cinta) dan konflik (resiko dari kerjasama). Ekonomi
moneter, sebagai salah satu bawaan modernisasi, mendorong sikap yang dingin, apa adanya. Namun,
dalam hubungan sosial yang banyak namun dangkal ini diketemukan kebebasan gerak yang tidak
terdapat dalam lingkungan sosial tardisional (pedesaan atau kota kecil), karena orang relatif menjadi
anonim. Kosmopolitanisme adalah istilah yang dipakai oleh Simmel untuk mengacu kepada besaran
fungsional yang melebihi batas-batas fisiknya. Seorang metropolit yang kosmopolit adalah seseorang
yang cakrawala kehidupannya meluas, tidak berakhir pada keterbatasan keberadaan badaniahnya
ataupun area yang langsung membatasi kegiatan badaniahnya, melainkan merangkul totalitas efek
makna yang ditimbulkan oleh metropolis dalam waktu dan ruang. Keberadaan metropolis dalam cara
yang sama mencakup totalitas dampak yang melewati batas-batas langsungnya. 38 Ukuran besar
metropolis yang menyebabkannya sangat terbuka terhadap kemajemukan yang sangat beragam,
bersama-sama dengan berkumpulnya individu-individu dalam perjuangan untuk mendapatkan
pelanggan, menciptakan kondisi yang mengharuskan spesialisasi setajam mungkin sebagai cara
bertahan dari kepunahan. Spesialisasi berarti pembedaan berdasarkan kualitas, yang pada titik ekstrim
menghasilkan eksentriksitas sebagai upaya membedakan diri dari sekitarnya. Keunikan pribadi juga
merupakan reaksi yang wajar terhadap segala hal yang cenderung bersifat rasional-objektif di dalam
sebuah metropolis, yang di dalamnya individu menjadi sekedar sebuah skrup dalam organisasi bendabenda dan daya.
Padat
Jakarta dengan luas yang kurang lebih sama dengan negara-pulau Singapura, memiliki jumlah
penduduk hampir tiga kalinya. Secara mendasar, kondisi urban itu memang berarti padat. Makin
padat manusia berada bersama, makin banyak aturan, kontrak, disiplin dan krama atas dasar
kesepakatan bersama yang diperlukannya supaya justru bisa bertahan hidup bersama dalam kepadatan
itu untuk mengelola atau menjembatani konflik yang potensial makin sering. Kehidupan urban juga
berarti makin tergantungnya mereka pada usaha kolektif untuk memenuhi kebutuhan atau
kepentingan kolektif. Kepadatan juga berarti intensitas pengalaman dan pertukaran pengalaman serta
pandangan dalam ruang yang makin sempit dan tempo yang makin tinggi.
Peter Hall dalam buku Cities in Civilisation (Oxford, 1998) mengemukakan argumen historis bahwa
kepadatan adalah factor penentu sukses masa keemasan Berlin dalam periode 1918-1933. Kepadatan
cross-fertilisation, kepadatan dialog dengan memiliki kepadatan media tertinggi di Eropah, dengan
kesenian yang marak dalam segala bentuknya. Berlin adalah metropolis media massa. Misalnya
Berliner Morgenpost memiliki sirkulasi sebesar 600,000. Pada tahun 1927 terdapat lebih dari 4,000
terbitan berkala, dan tercatat 1,200 penerbit. Semua harian dan majalah utama nasional dicetak di
Berlin. 39 Pada waktu itu Berlin juga dipenuhi oleh seniman yang kemudian dikenal luas oleh dunia
modern: seniman grafis dan pelukis George Grosz, sastrawan Bertolt Brecht, pemain biola Fritz
Kreisler (yang penghasilannya 5,000 sampai 8,000 marks per konser), konduktor Berlin Philarmonic
Furtwngler, sineas Fritz Lang, musikus Otto Klemperer dan lain-lain.
Sementara New York dalam periode 1880-1940, masih menurut Peter Hall, adalah metropolis yang
maju karena berhasil mengelola kepaduan antara kepadatan (congestion) dan mobilitas. Dalam
37

The essence of the blas attitude is an indifference toward the distinction between things. (Simmel 1930, dalam Leach,
1997:73)
38
Ini jelas makin diperkuat secara mendasar oleh teknologi informasi sebagai bentuk mutakhir teknologi, akal budi, dan
berhubungan erat dengan instrumen-instrumen kapitalisme seperti sistem keuangan dan investasi dunia.
39
Antara lain: Der Deutsche Allgemeine Zeitung, Der Tag, Der Reichsbote, Volkischer Beobachter, Germania, Vorwrts,
Die Rote Fahne, Die Vossische Zeitung, B.Z. am Mittag, Tempo, Berliner Illustrierter Zeitung, Die grune Post, Berliner
Lokalanzieger, Uhu, Koralle, Die Dame, dan Querschnitt.

34
periode itu lebih dari 90 prosen dari jembatan penyeberangan sungai, seluruh sistem subway, dan
lebih dari separuh hunian di Manhattan, Brooklyn dan Bronx telah dibangun. Sebelum Tahun 1940,
sistem angkutan umum cepat dan ruang terbuka taman telah terbangun, dan sebagian terbesar
lingkungan-lingkungan permukiman telah mengambil bentuk kadang-kadang dengan komposisi
etnik yang menentukan karakternya hingga sekarang.
Manhattan
New York adalah metropolis yang lain daripada yang lain karena kondisi 'kota pulaunya'
(Manhattan), yang terpisah dari sekelilingnya oleh badan air yang sangat lebar (jauh lebih lebar
daripada Sungai Thames di London dan Sungai Seine di Paris), sehingga mendorong konsentrasi
kepadatan yang luar biasa di Manhattan ini, sementara di seberang badan air itu terdapat keluasaan
periferi yang tidak terbatas. Konsentrasi kepadatan yang luar biasa ini yang menimbulkan kekhasan
metropolitan yang oleh Koolhaas disebut Manhattanism. 40 Koolhaas melihat hubungan langsung
antara kondisi tersebut dengan bentuk baru arsitektur, yaitu pencakar langit, secara timbal balik:
Manhattan membutuhkan dan sekaligus mendorong lahirnya pencakar langit, dan pencakar-langit
memungkinkan Manhattanisme yang lebih hebat-kuat dan bahkan menjadi dasarnya. Karena
arsitektur pencakar-langit menemukan cara baru meng-organisasi-kan kepadatan pengalaman per
satuan waktu dan ruang. Pertama, pencakar langit mengkonsentrasikan kepadatan luar biasa (hanya
dibatasi oleh teknologi yang nota-bene makin tidak terbatas) pada bidang lahan yang terbatas. Kedua,
pencakar langit menyediakan ruang universal, lapis demi lapis, yang dapat menampung instabilitas
program pemanfaatan ruang. Artinya, isi ruang itu tidak lagi ditentukan atau menentukan bentuknya.
Di dalam pencakar-langit, setiap lapis bahkan di dalam setiap lapis juga - dapat berisi kegiatan atau
fungsi yang sangat berbeda satu sama lain. Ini dapat disebut kepadatan programatik (ragam kegiatan
karena itu: ragam pengalaman!), bukan hanya kepadatan volumetrik (jumlah manusia permeter
persegi). Di samping itu, kegiatan di dalam setiap lapis atau bagian ruang di dalam pencakar langit
juga dapat saja berganti dari waktu ke waktu, sehingga terjadi juga peningkatan pengalaman per
satuan waktu, karena frekuensi perubahan meninggi. Pencakar-langit adalah Pulau Manhattan itu
sendiri dalam bentuk mini. Mobilitasnya adalah pergerakan vertikal, melalui teknologi lift, yang
menerobos keragaman program lapis demi lapis.
Koolhaas menggunakan istilah congestion (padat-raya) untuk menyebut kepadatan tinggi
metropolitan New York, khususnya Manhattan. Yang dia maksud bukan hanya kepadatan tinggi
kuantitatif penduduk, tetapi juga keragaman pengalaman dan kehadiran bersama pandanganpandangan hidup yang berbeda. Dalam hal ini sebuah metropolis adalah sangat modern, karena di
sinilah orang menemukan kebebasan di tengah-tengah badai peristiwa-peristiwa yang mengental dan
pengalaman tak terbatas. Teknologi memainkan peran mnentukan dalam mendukung kondisi ini.
Ketika kepadatan sangat tinggi menutup pintu bagi lingkungan alamiah, teknologi juga berarti
fabrikasi dunia artifisial sebagai pengganti. Culture of Congestion adalah eksploitasi kepadatan
sintetik. 41 Pencakar langit adalah esensial dan tidak bisa dipisahkan dari budaya kepadatan ini,
karena ia memaksimalkan kepadatan dan fabrikasi realitas dengan memanfaatkan teknologi.
Multiplikasi lantai pada pencakar langit berarti bahwa pada satu lahan yang sempit dapat diciptakan
dunia yang majemuk, terakomodasi secara terpisah di dalam tiap-tiap lantai pencakar langit. Padanya
kepadatan dan artifisialitas berdasarkan teknologi tertinggi bertemu bersama. Karena itu pencakar
langit adalah apoteosis budaya metopolitan. Pencakar langit adalah tipologi revolusioner yang
mencakup modifikasi fundamental baik teknologis maupun psikologis- yang memungkinkan
urbanitas metropolitan terwujud. Dengan artifisialitasnya, pencakar langit juga mengandung ketidakstabilan atau ketidak-tetapan yang inheren, karena setiap saat dunia fabrikasi di dalam setiap lantai
dapat berubah. Pencakar langit adalah suatu volume yang isinya, kombinasi atau superimposisi, dapat
terus-menerus berubah. Hubungan antara bentuk dan fungsi karena itu menjadi tidak mungkin. Bagi
arsitektur, kondisi metropolitan sebagaimana tercermin pada pencakar langit memberikan kesempatan
disain dan penemuan yang paling besar, karena di dalamnya tidak ada yang alamiah maupun
sekenanya (aksidental). Ia memberikan kepada arsitektur modern kesempatan untuk eksploitasi
sistematik yang maksimum atas semua aparatus dan prasarana mutakhir, untuk menggantikan realitas
dengan fantasi.

40
41

Koolhaas 1978, 1994; AA (LArchitecture dAujourdhui) 238 Avril 1985.


val Leeuwen, 1986:86

35
Kepadatan tinggi (congestion) di kota-kota besar Indonesia, juga di banyak kota negara dunia ketiga
lainnya, tidak selalu berwujud dalam arsitektur pencakar langit. Kampung-kampung Jakarta, Bandung
dan Surabaya, serta mohalla di Dacca sangat padat, namun hanya dua lantai tingginya. Kepadatan di
dunia ketiga juga dapat berarti kepadatan tinggi per kamar saja, hilangnya ruang terbuka untuk anakanak, rumah sakit dan prasarana sosial lainnya. Correa menolak arsitektur 'gedung -tinggi' (high-rise)
karena tidak cocok dengan cara hidup orang India, dan karena arsitektur high-rise mensyaratkan
konsentrasi kapital. Gedung tinggi dihubungkan dengan kapitalisme. Sebaliknya juga terjadi: gedung
tinggi (di Jakarta misalnya) tidak selalu berarti kepadatan tinggi seperti yang dipostulasikan
Koolhaas. Kebanyakan dari gedung-gedung itu hanyalah volume-volume yang terisolasi dengan
karakter monofungsional. Jadi kepadatan kuantitatif dan kualitatif tidak selalu bertemu. Dan fragmen
metropolitanisme berupa gedung tinggi tanpa kepadatan tinggi ini harus berdampingan dengan
kampung rendah tapi kepadatan tinggi. Correa juga menunjukkan apa yang terjadi di Jakarta, bahwa
kepadatan di kota-kota besar dunia ketiga, dengan penuh mitos mengenai kesempatan dan keragaman,
kumpulan energi dan massa rakyatnya, sambil meningkatkan kekotaannya (paling tidak dalam
persepsi rakyatnya sendiri), juga sekaligus menghancurkannya sebagai lingkungan hidup, sebagai
permukiman. Apa yang dikatakan oleh Gubernur Jakarta pada Tahun 1977, Ali Sadikin masih dan
malah makin menjadi kenyataan 42 :
Meskipun akan terdapat perluasan kawasan perkotaan dan pertumbuhan penduduk akan sangat
cepat dan segera melewati angka 10 juta, saya harus berhati-hati dalam menggunakan istilah
metropolis ataupun megalopolis. [] Isi kualitatif wilayah Jakarta adalah sangat berbeda dengan
metropolis dan megalopolis (di negara maju) yang segalanya serba teknologi tinggi, hiruk pikuk dan
berskala besar. Mungkin kebesaran Jakarta dalam sepuluh tahun mendatang masih akan berupa
kumpulan kepingan-kepingan kecil dengan hanya beberapa komponen di sana-sini saja yang
sungguh-sungguh membentuk sistem jaringan perkotaan metropolitan. [] Kami masih dalam
tahapan mengejar kuantitas di segala bidang. Tidak banyak yang dapat dilakukan untuk
meningkatkan kualitas dan standar pelayanan perkotaan.
Cerai berai
Saat ini aku tinggal di sebuah desa di Kabupaten Tangerang. Seperti halnya desa-desa lain di
Tangerang, desa tempatku tinggal ini pun merupakan lingkungan pemukiman buruh. Karena di
sekitar desa ini ada 20 perusahaan kecil dan 5 perusahaan besar. Desa ini tidak seberapa luas, maka
cukup padatlah desa tempatku tinggal. Karena sebagian besar buruh-buruh pabrik tersebut para
pendatang, maka mau tidak mau mereka berebut rumah kontrakan untuk tempat berteduh. Ada
beberapa penduduk setempat yang memanfaatkan situasi dengan menjadi pengusaha rumah
kontrakan, mereka memanfaatkan tanah-tanah kosong dan mendirikan rumah kontrakan yang sangat
sederhana, dan disewakan dengan harga yang cukup mahal untuk upah seorang buruh.
Aku dan beberapa teman menyewa sebuah kamar berukuran 4 x 4 dengan harga 30 ribu per bulan.
Karena temanku ada 5 orang, maka kami membayar dengan cara patungan. Kami menempati kamar
beralas lantai tanpa tempat tidur, dengan alas tikar plastik. Setiap malam kami tidur berjejer dengan
alas tikar dan selimut seadanya. Setiap pagi hari kami harus bangun dengan terburu-buru, berebut
ke kamar mandi, karena selain kamar yang kami tempati, masih banyak kamar-kamar lain yang
serupa, padahal kamar mandi dan WC hanya satu, sehingga kami harus antri untuk mendapat giliran
mandi atau mencuci dan buang air. Kalau kami kesiangan bangun, otomatis mendapat jatah mandi
belakangan dan kesiangan untuk mempersiapkan segalanya untuk berangkat kerja. Apabila musim
hujan datang, kami tambah sengsara karena atap selalu bocor walaupun sudah kami laporkan pada
pemilik rumah kontrakan tapi sampai saat ini belum juga diperbaiki, sering kebanjiran, WC penuh
sehingga baunya masuk ke dalam kontrakan. Jalan yang kami lalui berlobang-lobang dan becek
karena truk-truk pabrik yang mengangkut bahan baku dan hasil produksi, karena cukup berat, sering
merusak jalan. 43
Sedangkan, penyair Afrizal Malna menulis, masih mengenai daerah pinggiran Jakarta, sebagai
berikut:
Potongan-potongan kota yang tidak jelas lagi kaitan satu sama lainnya...Perubahan yang
diakibatkan oleh pembangunan telah melepaskan ikatan-ikatan tersebut. Kawasan pinggiran kota ini
terkesan ringkih, kikuk menghadapi dirinya sendiri, kehilangan pusat keberadaannya untuk bisa
merajut pecahan satu dengan pecahan lainnya...Proses rekonstruksi dalam memori saya berlangsung
42

Majalah PRISMA, May 1977:52


Kutipan dari cerita seorang buruh perempuan, janda, satu anak 4 tahun dalam Cerita Kami,
www.geocities.com/edicahy, 7 Februari 1991.
43

36
secara terbuka, patah-patah, dan mencemaskan, yang datang dari kawasan kota yang telah
kehilangan pusat penurunan strukturnya sendiri. Strukturnya kemudian tumbuh secara terbuka
dalam proses bagaimana memori saya memposisikan kembali seluruh fragmentasi pinggiran kota itu.
Siapakah yang akan merajutnya kembali? Perlukah ia dirajut kembali? Dari manakah ....kebutuhan
untuk melakukan perajutan itu? Persoalannya mungkin bukan lagi kebutuhan. Melainkan kehendak
dari setiap manusia untuk membuat hubungan-hubungan yang signifikan dari setiap sentuhan
kehidupan yang berada di sekitarnya. 44
Kenyataannya fragmentasi bukan hanya terjadi di pinggir kota. Pusat kota pun mengalami proses
yang serupa. Di pusat-pusat kota kita bangunan-bangunan tidak lagi saling melengkapi; mereka tidak
saling membutuhkan; mereka bahkan bersaing. Pusat kota terpecah menjadi sejumlah jamak pusat
kota, suatu kumpulan otonomi, berupa bangunan-bangunan yang masing-masingnya lengkap, baik
berupa suatu mall, atau suatu kumpulan multi-guna dalam satu bangunan, atau suatu atrium yang
dipenuhi kegiatan kota (toko kue dan roti, kantor pos, toko buku, caf, ) yang makin besar dan
makin besar. Makin ambisius otonomi ini, makin mereka meniadakan pusat kota dengan segala
kondisinya yang hiruk-pikuk, rumit dan jelimet, padat, semrawut, dan berbau etnis. Karena tidak
tergantung kepada bangunan lain, dengan dirinya sendiri memiliki pusat kota sendiri, bangunan
dapat berada di mana saja, tidak lagi memiliki orientasi kepada pusat di luar dirinya. Ia tidak lagi
bagian dari keharusan untuk bersama-sama menciptakan suatu pusat kota. Ia tidak lagi harus
mempertimbangkan tempatnya, karena ia menciptakan tempat. Secara program, pusat kota dalam
artinya yang tradisional tidak lagi memiliki makna.
Lahan yang luas makin mendorong situasi fragmentasi dan pematian urbanitas pusat kota di atas.
Keleluasaan luas, 'vastness' itu sendiri merupakan keadaan kontemporer tersendiri, sesuatu yang
menjadi bermakna lebih dari sekedar arti geografis, tetapi juga dalam arti sosial dan kultural, setelah
dimungkinkan oleh tersedianya suatu skala prasarana, utilitas, dan peralatan transportasi yang tidak
terbayangkan sebelumnya. Keleluasaan luas merupakan berkah sekaligus kutukan, tergantung dari
sisi mana dipandangnya.
Hilde Heynen 45 menggambarkan fenomenon perkembangan pinggiran kota dalam tiga kata: isotropi,
kekaburan (vagueness) dan fragmentasi. Ruang isotropis artinya ruang tidak mempunyai nilai yang
berbeda pada semua arah. 46 Kekaburan artinya ketiadaan rupa dan batas yang jelas. Daerah
pinggiran itu sendiri dapat dikatakan merupakan hasil/akibat dari mengaburnya batas antara kota dan
desa. Fragmen-fragmen di daerah pingiran tidak berada dalam suatu kerangka struktur morfologis
yang cukup kuat sehingga keseluruhan cenderung kurang dari jumlah bagian-bagiannya. Jikapun
ada struktur, maka struktur ini lebih bersifat fungsional daripada spasial, ialah diperankan oleh jalan
raya, sebagai misal. Juga tentu saja ada prinsip-prinsip struktural yang mempengaruhi pengembangan
spasial di daerah pingiran, tetapi ini berupa imperatif ekonomi, dan bukan artikulasi bentuk spasial.
Bagi orang indonesia, jelas pengembangan daerah pinggiran juga berhubungan dengan kelangsungan
suatu gaya hidup tertentu, ialah berkaitan dengan mobilitas, privacy dan, yang penting sekali,
keterikatan kepada suatu fiksasi rumah dengan halaman (homestead). Sementara itu, perkembangan
pinggiran kota juga mengandung kegiatan-kegiatan yang sifatnya mengimbangi kepadatan
metropolitan, misalnya pusat rekreasi atau mall. Karena itu, pengembangan pinggiran adalah
pertumbuhan metropolitan yang bersifat anti-urban, dimungkinkan oleh modernisasi ekonomi dan
teknologi, tetapi malah mendukung fiksasi primordial. Ketercerai-beraian melambangkan mobilitas
modern yang kawin dengan impian romantik untuk memilki rumah berhalaman. Sementara mall
menawarkan bentuk baru bagi ruang publik. Bersama-sama, mereka mematikan budaya kota karena
membuai kelas menegahnya. Bila budaya padat-raya menyolok, meskipun tanpa kehadiran hunian
kelas menengah yang merupakan tulang punggungnya, di poros Utara Selatan Jakarta, maka
perkembangan di sepanjang Jalan Lingkar Luar Jakarta menunjukkan bentuk dan kehidupan
ketercerai-beraian yang porak poranda, tanpa sejarah, dan tanpa jalinan. 47
44

Hanafi dan Kota dari Endapan Waktu, dalam Pengantar Pameran Lukisan Hanafi, Waktu, di Gedung Deutsche Bank,
1999.
45
Floating Fragments, dalam colloquium Fragmented Space, Leuven, Oktober 26-18, 1989.
46
Reyner Banham menggambarkan Los Angeles sebagai berikut (1971:36): The point about this giant city, which
has grown almost simultaneously all over, is that all its parts are equal and equally accessible from all other parts at once.
Suryono Herlambang, dosen pada jurusan planologi Universitas Tarumanagara (UNTAR), pengurus Masyarakat
Lingkungan Binaan, sedang meneliti lebih jauh karakteristik dan masa depan urbanisasi jalan lingkar ini.
47

37

Konsumtivisme Ruang Kota

48

Warga Jogja baru-baru in membentuk KERUPUK (Kelompok Warga Peduli Ruang Publik), karena
risau antara lain dengan pot raksasa di kaki-lima di depan Istana Negara dan median (taman di
tengah) jalan Suroto yang mau ditata oleh pemerintah kota. Warga Bandung membentuk barisan
perlawanan terhadap rencana pengembangan Babakan Siliwangi yang bukan daerah resapan air,
tetapi justru mata air. Di Jakarta sempat ada perlawanan terhadap perusakan ruang publik, misalnya
kasus Lapangan MONAS, Bundaran HI, Kelapa Gading, dan Pulo Mas. Di Ngawi dua tahun lampau
mantan model tenar Ratih Sanggarwati berhasil menggagalkan pembangunan komersial di dalam
alun-alun kota kelahirannya itu.
Semua itu menandakan bahwa warga kota ternyata peduli terhadap ruang bersamanya. Mungkin
sebenarnya kesadaran akan hal itu sudah selalu ada, hanya sekarang mendapat angin, kesempatan dan
inspirasi untuk dinyatakan dalam berbagai bentuk perlawanan.
Mal tak dapat menandingi ruang terbuka yang hijau. Mal, meskipun kelihatan selalu ramai dikunjungi
banyak orang, sebenarnya bersifat eksklusif, karena dengan sendirinya menyaring hanya kelas
tertentu saja yang lulus dan berani masuk. Sedangkan taman kota bersifat sosial-inklusif.
Motivasi lain yang menjadi dasar perlawanan warga adalah kehendak untuk menghadang
konsumptivisme ruang kota. Masyarakat makin sadar bahwa pembangunan-pembangunan yang
hendak menutupi ruang terbuka itu sebenarnya tidak perlu benar, tak sebanding manfaat dengan
mudharatnya bila harus menghilangkan ruang terbuka. Di sini konsumptivisme bukan hanya berarti
menyediakan ruang bagi kegiatan konsumsi masyarakat, tetapi juga dalam arti pemborosan dan
pelecehan pusaka kolektif. Ruang terbuka memiliki sejarah, tempat warganya mengakar dan
sebaliknya. Itulah sebabnya ia adalah pusaka kolektif. Dalam arti ini ruang terbuka adalah
monumen meskipun kosong tanpa bangunan. Hal ini menjadi sangat menonjol misalnya dalam
kasus alun-alun.
Pusaka-pusaka itu sering kali mau dihilangkan dengan alasan kota yang bersangkutan sudah tidak
punya tempat lain lagi untuk fungsi-fungsi konsumeristik itu. Alasan kekurangan ruang ini
sekarang bahkan juga dijadikan alasan untuk sesuatu yang sangat berbahaya: reklamasi pantai utara
Jakarta. Belum pernah sungguh-sungguh dipaparkan secara gamblang semua resiko yang mungkin
kepada masyarakat, yang terutama sekali masih risau dan trauma oleh gejala banjir yang makin
buruk. Jelas penjelasan ini tidak cukup hanya diberikan kepada DPRD yang dalam banyak kasus telah
menunjukkan dirinya tidak sungguh mewakili masyarakat, dan juga tidak lebih cerdas dari rata-rata
warga masyarakat. Ini sungguh ganjil, mengingat resiko itu besar sekali dan menyangkut hajat hidup
orang sangat banyak, bahkan dapat dikatakan seluruh penduduk Jakarta. Dasar pegangan yang
48

Ditulis dalam rangka kampanye anti-konsumptivisme, terbit dalam Suara Pembaharauan,

38
dianggap kuat dari mereka yang antusias semata-mata bersifat legalistik, yaitu adanya KEPPRES
yang kini sudah diakomodasi dalam PERDA 6/1999 tentang tata ruang Jakarta 2010. Padahal
KEPPRES itu sejarahnya cacat hukum: ia dilahirkan sebagai penyimpangan terhadap PERDA No.
5/1984 tentang tata ruang sebelumnya (1985-2005). Sementara UU jelas lebih tinggi daripada
PERDA, KEPPRES tidak dapat dianggap demikian, karena seharusnya tidak mengatur substansi
hubungan atau rumah tangga di dalam daerah, apalagi yang menyangkut kontrak antara sesama
anggota masyarakat dan antara mereka dengan pemerintahnya. Sedangkan PERDA baru itu sendiri
secara substantif dan prosedural sangat cacat hukum karena tidak secara sungguh dan jelas
melibatkan masyarakat dalam penyusunannya sebagaimana telah diamanatkan dalam banyak
peraturan yang ada.
Masyarakat semua tahu: ruang bukan soal ada atau tidak, tetapi soal terjangkau atau tidak.
Masyarakat tahu: di kawasan segitiga emas di belakang bangunan-bangunan tinggi itu dan di seluruh
Jakarta, terdapat ratusan Ha tanah menganggur karena spekulasi berlebihan. Spekulasi terjadi karena
pemerintah tidak pernah benar-benar menggunakan instrumen tata ruang dan tata guna lahan untuk
membagi tanah secara adil dan membuatnya terjangkau bagi perumahan rakyat, dan cenderung probisnis karena menghasilkan lebih banyak Pajak Bumi dan Bangunan yang meningkatkan PAD
(Pendapatan Asli Daerah). Tetapi hal itu hanya memperbesar keleluasaan pemerintah dengan lebih
banyak uang, dan tidak tentu meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Padahal dalam jangka panjang penyediaan perumahan yang terjangkau bagi kelompok masyarakat
yang berpenghasilan rendah sampai menengah sangat penting. Selama 10 tahun terakhir telah terjadi
migrasi negatif di Jakarta. Singapura, negara yang jauh lebih kapitalis, mengendalikan tanahnya
sangat ketat (harus, karena sempit), sehingga tak ada warga yang tak berpapan. Perbandingan di
seluruh dunia menunjukkan bahwa keterjangkauan tak tergantung kepada penghasilan keseluruhan
bangsa, sebab pada setiap tingkat penghasilan atau kemampuan yang ada selalu bisa diupayakan
harga yang terjangkau. Sebaliknya juga terjadi, ada negara-negara sangat kaya dimana banyak orang
tak memperoleh rumah. Jadi soalnya adalah kebijakan dan kemampuan menata. Selama ini telah
terjadi pembagian penggunaan ruang yang salah, sehingga yang lebih banyak tertampung adalah
konsumptivisme kelas atas, termasuk rumah kedua dan ketiganya. Bagaimana mungkin kita dapat
mempercayai pemerintah yang telah gagal menata yang ada untuk membangun ruang baru dengan
reklamasi yang penuh resiko lingkungan? Bagaimana kita bisa membiarkan terjadinya
konsumptivisme ruang yang baru, di tengah-tengah keperluan mendesak untuk memenuhi kebutuhan
dasar yang nyata seperti papan bagi rakyat banyak?
Konsumsi ruang yang tak sehat dan tak adil dalam kasus lain misalnya adalah transportasi. Di Jakarta
dan sekitarnya, 7.7 % perjalanan diangkut oleh mobil pribadi yang memakai 83 % ruang jalan.
Sedang 48% perjalanan diangkut oleh bus yang memakai ruang jalan hanya 3 %; dan modus
kendaraan tak bermotor (termasuk becak, sepeda dan jalan kaki) yang mengangkut 38 % perjalanan
memakai hanya 5 % ruang jalan. Berlainan dengan angkutan barang yang secara ekonomis
menggunakan mesin secara efisien untuk mengangkut jumlah barang yang tak mungkin dilakukan
dengan cara lain, mobil pribadi merupakan pemborosan yang luar biasa dan mengarah kepada
konsumptivisme individualistik. Mobil lebih sering mengangkut hanya seperempat dari kapasitasnya,
memakai sekitar 15% sampai 30% dari total ruang kota (untuk jalan, parkir, garasi, bengkel, pompa
bensin, dan lain-lain), mengeluarkan emisi CO2 sampai 50% hingga 70% dari total emisi CO2 di
kota-kota. Mobil juga mengasingkan orang dari lingkungan sosial dan fisik sampai pada tingkat tak
mampu mengembangkan kebiasaan-kebiasaan baru yang diperlukan bagi peradaban atas basis
material yang baru. Dengan kata lain: reproduksi sosial-budaya tak terjadi.
Pemakai ruang di bantaran sungai, yang di seluruh Jakarta mungkin hanya beberapa puluh HA,
digusur, padahal keberadaan mereka di hilir tak mungkin menjadi kontributor besar terhadap banjir.
Sedang penyimpangan tata ruang yang berukuran ribuan HA, beberapa di kawasan hulu, malah
mendapatkan pembelaan dan pembenaran legalistik. Padahal semua itu sama sekali tak mencapai
sasaran yang seharusnya (!), yaitu menyediakan perumahan terjangkau bagi mayoritas masyarakat,
dan hanya menjadi saluran konsumptivisme individualistik yang akibatnya ditanggung secara
kolektif.
Jadi soalnnya bukan hukum pasar yang tak (mungkin) terkendali, melainkan ketiadaan kebijakan
yang sehat, jernih berpihak dan rasional.

39
Konsumptivisme individualistik terjadi karena tidak ada kemampuan birokratis maupun politik untuk
mengorganisasikan kebijakan bersama (kolektif) yang bermutu. Secara individual anggota kelas
menengah Indonesia mampu membeli kursus atau bentuk pendidikan tambahan lainnya, tetapi
pemerintahnya tak mampu mengorganisasikan sistem pendidikan yang baik. Mereka juga
terdorong menggunakan kendaraan pribadi yang baik (karena kebijakan harga dan pajak di muka
yang tinggi, sedang pajak penggunaan rendah), tapi tidak memperoleh sistem transportasi yang baik.
Kesalahan yang paling mendasar adalah karena pembangunan kota telah semata-mata berorientasi
pada produktivitas ekonomi, dan melupakan sama sekali reproduktivitas sosial-budaya.
Membangun produktivitas tanpa menyemai kreativitas. Padahal kreativitas mendahului produktivitas.
Dan produktivitas tak akan berkelanjutan, kecuali pengulangan, tanpa kreativitas. Dan reproduksi
sosial-budaya merupakan syarat bagi pembentukan peradaban yang sesuai bagi jamannya. Maka kita
mengalami material budaya baru tanpa membangun kebiasaan dan sikap yang sesuai. Kalau berjalan
kaki kita sangat sopan dan saling mengalah, tetapi kalau di dalam mobil semua mau saling duluan.
Kita membangun bangunan tinggi dengan lift, tetapi tidak membangun kebiasaan keluar masuk yang
jelas. Kita membangun loket, tetapi tidak membangun kebiasaan antri.
Seperti sering dikatakan, Membangun kota adalah membangun manusianya, berarti membina
reproduktivitas sosial budaya. Sebagai misal, sistem transportasi yang bertulang-punggung angkutan
umum bukan saja baik dari perspektif ekonomi dan lingkungan hidup, tetapi juga memberi ruang
interaksi sosial yang jauh lebih besar dan kerap, yang sangat esensial untuk membangun masyarakat
yang berperadaban baru sesuai jaman dan material baru. Hal itu hanya terjadi ketika -- dalam hal
pembangunan sarana-prasarana kota yang sesuai-- kolektivitas menjadi paradigma, menggantikan
apa yang mengumbar konsumptivisme individualistik. Susahnya, itu sama artinya dengan mengikis
peluang KKN dan membangunkan para pembuat kebijakan dari kemalasan.

40

Kota, Rumah Kita

49

Sebuah patung besar Bung Hatta (tinggi 5 meter, di atas pedestal 3 meter) tanggal 21 Desember lalu
diresmikan Presiden Megawati di Bukittinggi, kota tempat beliau dibesarkan. Tiga pokok mahoni
besar ditebang agar patung itu nampak lebih jelas dari jalan. Satu pokok lagi ditebang untuk tempat
jenjang menuju ke kakinya. Padahal jarak pokok-pokok itu tak kurang dari 6 meter, yang berarti
sebenarnya cukup lebar untuk jenjang itu, tanpa harus menebas satupun. Pokok-pokok itu berusia
mungkin setua beliau, dalam keadaan sehat, dan terpenting adalah bahwa mereka itu bagian tak
terpisah dari ruang jalan di sekeliling Jam Gadang yang masyhur itu. Mereka adalah bagian dari
watak Kota Bukittinggi.
Belanda pandai menanam pohon, kita pandai menebang saja. Inilah simbol dari kedunguan
pembangunan kota-kota kita selama ini. Kerusakan yang tak perlu telah ditimbul-timbulkan hanya
karena kemalasan berpikir rinci dan mendalam. Soalnya bukan hanya apatah pohon itu boleh
ditebang, melainkan apatah perlu ditebang, mengingat selalu ada solusi lain tanpa meniadakan
pohon, bila orang mau menimbang-nimbang lebih tenang.
Pohon di masa kolonial adalah bagian integral dari jalan. Tiap kali membangun jalan, pohon dengan
biomassa besar ditanam. Sekarang hampir selalu sebaliknya: kalau ada pembangunan (apa saja),
pohonlah yang ditebang. Di Jakarta, pohon-pohon rimbun dan tambun ditebang juga untuk tempat
Patung Sudirman, dan di tempat lain digantikan dengan bunga-bungaan. Setiap pohon rimbun-tambun
memiliki fungsi ekologis yang jelas: menyerap maksimum CO2, meneduhkan, menunda jatuhnya air
hujan ke tanah, dan menahan sedikitnya 20 liter/pohon air di wilayah akarnya.
Mudah-mudahan di Bukittinggi mereka ingat menanam sedikitnya 5 pohon untuk mengganti tiap
pohon yang ditebang, sebab demikianlah petuah Bung Hatta -- bukan hanya tentang pohon, tetapi
sebenarnya tentang kearifan konsumsi-investasi, tentang keseluruhan konsep pembangunan
berkelanjutan.
Hanya saja, yang lima itu perlu menanti sedikitnya 50 tahun untuk mencapai ukuran yang digantikan,
lagipula bila tempatnya berbeda, maka maknanya tak sama dengan yang digantikan itu.
Sementara itu kerusakan arkeologis terjadi di Kota Baubau di Pulau Buton, juga oleh sebab
kedunguan yang serupa. Uang dari pemerintah pusat telah digunakan membangun lapangan parkir
(!) dengan menimbuni situs di sekitar mesjid dari abad ke-18, di samping hal-hal mubazir lainnya
(jalan setapak, pagar sekeliling kuburan, dll.).
Kedunguan lain adalah penggusuran, yang tidak mungkin dihapuskan dari renungan akhir tahun
tentang kota di Indonesia. Kedunguan ini berlanjut, karena pokok soal yang sesungguhnya tak
mendapatkan perhatian yang cukup sekali lagi, maaf, karena kedunguan itu sendiri. Keberatan para
cerdik-pandai seperti Franz Magnis-Suseno, jelas-jelas dikatakan bukanlah soal penegakan hukum itu
49

Koran TEMPO, 31 Desember 2003.

41
sendiri, tetapi perlakuan negara terhadap kaum miskin, ialah tidak adanya kebijakan yang menjamin
akses yang adil bagi mereka kepada sumber daya (untuk mengadakan tempat tinggal). Sejak tahun
1998, program perumahan NKRI memang ambruk, dan baru akan dibangun kembali dengan sebuah
slogan membangun sejuta rumah.
Hak atas tempat tinggal dimuat Pasal 40 UU No. 39/Tahun 1999 tentang HAM. Hak ini bukanlah
Barat, melainkan berakar dalam tradisi Nusantara. Dalam masa sebelum negara-bangsa Republik
Indonesia, di dalam masyarakat suku-suku bangsa kita, tidak ada orang yang tak beratap. Soalnya
sederhana tapi mendasar: perumahan dianggap sebagai tanggung-jawab bersama. Keberhasilan
pembangunan perumahan sama sekali tak tergantung kepada tingkat kekayaan negara tersebut,
melainkan kepada sistem yang dibangunnya, terutama menyangkut keadilan akses atas tanah, dana
dan ruang kota sebagai kesempatan ekonomi, sosial dan budaya. Nyatanya sekarang ada negara kaya
yang gagal (Amerika Serikat) dan ada yang berhasil (Belanda, Swedia, Singapura) memenuhi hak
atas tempat tinggal tersebut. Ada juga negara sedang berkembang yang gagal (Indonesia!) dan ada
juga yang berhasil (Srilangka di tahun 1980an, dan Venezuela sekarang sedang menuju keberhasilan;
Singapura sudah berhasil ketika belum sekaya sekarang, begitu juga Malaysia). Syukurlah Menteri
Dorodjatun Kuntjorojakti baru-baru ini menegaskan, Tanpa perumahan yang layak untuk seluruh
rakyat Indonesia, produktivitas bangsa ini tidak mungkin ditingkatkan, dalam sebuah seminar World
Bank di Hotel Mandarin, tanggal 2 desember 2003. Selanjutnya juga dikatakan bahwa prasarana
adalah hak setiap warga.
Jakarta tidak bisa menyatakan dirinya overcapacity ketika ternyata ada begitu luas lahan terlantar di
Kawasan Segitiga Emas dan Kebon Sirih, dan ada begitu banyak orang memiliki lahan luas secara tak
perlu dan tak wajar. Jakarta tak pantas menolak kehadiran kaum miskin, ketika seluruh negeri
memang harus berbagi dengan mereka. Justru Jakarta harus direncanakan untuk menampung lebih
banyak penduduk, oleh sebab tingkat pertumbuhan ekonominya paling tinggi (di atas rata-rata
nasional), dan tingkat pertumbuhan penduduk yang paling rendah dibandingkan semua kota besar lain
di Indonesia (Surabaya, Bandung, Medan, Makassar), sementara migrasi nettonya adalah negatif
(lebih banyak penduduk keluar daripada masuk).
Mengurangi laju pertumbuhan penduduk di kota-kota dengan menutup diri bertentangan dengan
kepentingan nasional, dan hanya mencerminkan birokrasi yang malas atau bodoh, atau kedua-duanya.
Fakta di seluruh Indonesia memperkuat kebenaran lama: pembangunan selalu berarti kota-kota
mencapai tingkat pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi, dan sekaligus menjadi pusat peradaban.
Maka urbanisasi adalah sebuah hak, baik dalam arti ekonomi (kesempatan kerja), sosial (mobilitas)
dan kultural (kekayaan kehidupan). Mandat negara adalah memenuhi hak tersebut, bukan mencari
jalan pintas menghindarinya. Dari pengalaman tahun 2003 jelaslah rendahnya kesadaran akan hal itu
dan banyaknya kebijakan yang salah karena berusaha mengingkari hal tersebut. Dalam tahun-tahun
mendatang, kesadaran ini masih akan menjadi pertaruhan yang besar untuk memberhasilkan
pembangunan nasional, bukan hanya pembangunan perkotaan.
Kota-kota Indonesia sebenarnya telah lama tidak pernah direncanakan, melainkan hanya
diproyeksikan secara ekstrapolatif yang spekulatif. Perencanaan kota tidak pernah sungguh-sungguh
membangun korelasi antara berbagai faktor perkembangan kota dan mengendalikannya. Misalnya
antara tingkat pertumbuhan ekonomi dan lapangan pekerjaan serta kebutuhan akan perumahan.
Banyak perencana kota sendiri merasa bahwa selama ini produk perencanaan kota memang cuma
main-main, cut-and-paste, dan sudah biasa ada lelucon bahwa laporan tebal perencanaan kota hanya
menjadi hiasan lemari atau ganjalan kaki meja. Anggaran yang sesungguhnya sebenarnya cukup
untuk melakukan perencanaan yang benar, tetapi seringkali menjadi tidak cukup karena korupsi 25-30
%, yang tidak bisa dibuktikan tetapi hanya dikeluhkan bisik-bisik di antara sesama konsultan. Entah
sampai kapan kita mau begini terus, dengan akibat yang menderita akhirnya adalah yang paling papa
dan paling tak punya daya tawar, kaum miskin kota.
Maka menyongsong tahun 2004, sangat dihimbau agar para profesional yang menjadi penasehat
birokrasi dan penguasa -- serta para pendidiknya-- sungguh-sungguh menjadi profesional: bekerja
berdasarkan fakta dan paradigma yang benar; selesaikan soal pada akarnya, membangun konstruksi
epistemologi yang tepat guna; tekun terapkan teknik-teknik yang dapat dipertanggung-jawabkan
untuk mencapai sasaran yang terukur. Kabarnya, dengan otonomi dan desentralisasi, minat terhadap

42
produk perencanaan yang sungguh-sungguh aplikatif meningkat, sebab para kepala daerah sadar
harus miliki dasar yang benar dalam melakukan tindakan eksekutif. Agar kota kembali menjadi
rumah kita.

43

Ruang Kota di Waktu Kita


Akhir-akhir ini pengalaman akan ruang di metropolis Jakarta makin tergantung pada jadwal, pada
struktur pemanfaatan waktu oleh orang per orang. Ruang-pun dijadwalkan. Satuan waktu dalam
jadwal kegiatan harian kita telah menentukan satuan ruang yang (mau/akan) dialami. Sementara
satuan-satuan waktu itu relatif menyambung dalam suatu kontinum, satuan ruang tidaklah demikian,
tetapi terpatah-patah, terpenggal-penggal, diduduki secara mendadak dan ditingalkan secara tiba-tiba
saja. Bahkan kadang-kadang ruang didatangkan ke dalam suatu waktu. Dengan ini tidak dimaksudkan
ruang virtual melalui dunia cyber, tetapi terutama praktek-praktek menyerahkan pembentukan (ruang)
arsitektur kepada interior design, yang pada dasarnya berarti memasang suasana tertentu untuk
suatu saat tertentu dengan perlengkapan-perlengkapan yang dapat dicopot, diganti, atau disusun
kembali menjadi berbagai kemungkinan acak. Bukannya waktu yang mengisi ruang, tetapi ruanglah
yang mengisi waktu. Arsitektur menjadi instalasi. Ketergantungan satuan ruang kepada satuan waktu
juga membawanya kepada konsekuensi peng-uang-an (monetisation) satuan ruang; karena satuan
waktu sudah terlanjur lebih dulu mengalami monetisation tersebut (time is money!). Monetisation
(artinya: kuantifikasi!) ruang mendorong pemenggalan superfisial atas ruang, karena sesuatu yang
kontinum saja tidak dapat di-uang-kan. Sesuatu yang harus diberi nilai harus bisa dibatasi, dibagibagi, dan kemudian di kemas sesuai dengan porsi yang dikehendaki atau yang mampu dikonsumsi.
Demikianlah sifat banyak ruang kolektif kontemporer kita. Orang harus membayar untuk menikmati
kolektivitas yang.
Teknologi informasi menyamaratakan kesempatan bagi semua kota untuk menjadi pusat produksi. 50
Ini berarti kota-kota tidak akan menghilang sama sekali, namun mengalami relokasi dan reposisi.
Kota yang tidak memberikan lingkungan inovatif akan kalah bersaing, menghilang dari peta arus
informasi, sedang yang sebaliknya akan tumbuh. Bisa juga terjadi kota-kota baru, yang bisa tumbuh
penting atau buntung genting tergantung kemampuannya memberikan lingkungan inovatif itu.
Inilah paradoks yang diakui baik oleh Hall maupun Castells, bahwa para pekerja teknologi informasi
akan tetap mencari tempat dalam arti yang tradisional, yang memberikan lingkungan inovatif,
dengan prasyarat tersedianya prasarana (tele)komunikasi yang sangat baik. Mereka juga akan makin
tergantung kepada fasilitas tempatan, karena tidak perlu dan tidak ingin pergi jauh-jauh secara
fisik.Pergi jauhnya telah dialihkan menjadi virtual saja. Karena itu suatu metropolis yang berhasil
menjadi lingkungan yang menarik akan menjadi makin polisentrik seperti sudah terjadi di London,
New York, San Francisco, Tokyo, Berlin.
Teknologi Informasi memberikan kemungkinan positif untuk membangun masyarakat warga yang
kuat dan ini berarti tingkat otonomi kota yang kuat pula- , meskipun dengan syarat harus terjadinya
keterbukaan dan keterjangkauan yang luas dan merata (atau adil?). Gagasan copyleft, yaitu hak yang
diberikan kepada seseorang untuk merubah suatu program dan meneruskan (bahkan menjualnya)
kepada orang lain, dengan syarat bahwa orang tersebut juga meneruskan hak yang sama itu kepada
orang lain, jelas mencerminkan konsep anarkis yang positif berlawanan dengan copyright yang
hanya menguntungkan individu, yang kuat, menekankan kompetisi, bukannya kerjasama. Namun,
50

Castells(Castells, 1989, 17, 19):..equalize the locational advantages of all places in the world, allowing almost infinite
decentralisation from higher-cost or less-efficient locations to lower-cost, more efficient ones, and thus transfering activity
to whatever people happen to be.

44
bila kondisi keterbukaan dan keterjangkauan tidak meluas, maka informasi akan menjadi kekuasaan
baru, atau paling tidak menjadi instrumen bagi bentuk kekuasaan dan sentralisasi baru. Inspirasi
anarkisme juga muncul selama ini secara efektif meskipun terbatas - dalam gerakan melawan
kekuasaan abstrak kapitalisme di dalam penciptaan ruang, melalui apa yang disebut direct action,
misalnya koperasi perumahan, credit-unions, bank perkreditan rakyat, arisan membangun rumah (di
kota Metro, Lampung, misalnya), sampai kepada perdagangan barter setempat dimana barang dan
jasa mudah diperoleh tanpa melibatkan uang. Semua ini jelas mengandalkan kerjasama (mutual aid,
dalam istilah Kropotkin), bukan kompetisi.
Kembalinya kesadaran kita akan tempat di waktu sekarang jelas sudah sangat berbeda dengan
kesadaran-kesadaran sebelumnya, paling tidak pada sebab-musababnya. Kesadaran tempat waktukita muncul sebagai reaksi atas globalisasi, atas suatu modalitas mutakhir dari operasi kapital. Tempat
menunjukkan, dengan mudah kepada mata telanjang orang awam sekalipun, bagaimana kapital
beroperasi dan berakibat nyata terhadap kehidupan sehari-hari (yang mengambil tempat dan waktu
tertentu secara nyata dan dekat) dan karena itu sekaligus merupakan alat yang ampuh untuk
membangkitkan kesadaran populer dan akar-rumput dalam bersikap kritis terhadap kapitalisme
global. Tempat pada waktu kita ini, bersama-sama dengan layar televisi, adalah benteng pertahanan
terakhir antara kapitalisme global dan rumah kita. Bedanya hanyalah tempat berada di luar ruang
keluarga, sedangkan televisi di dalam ruang keluarga. Fenomena kesadaran mutakhir akan tempat
karenanya merupakan bahan yang menarik untuk mempelajari (dan mengendalikan?) kapitalisme. 51
Batas-batas antara ruang-ruang telah mengambil bentuk baru seperti interface berupa layar kaca,
jendela mobil, dan waktu itu sendiri (ruang ini jam berapa, dan di sana jam berapa, pada saat orang
berada dalam satu ruang ruang cyber yang sama, misalnya). Dalam keadaan semua itu, dengan mudah
kita lalu dapat memahami bahwa ruang kolektif kita waktu kita tidak akan pernah memiliki soliditas
seperti negeri-negeri dengan budaya pembentukan ruang yang historis, yang telah mewariskan
palimpsest 52 turun temurun untuk ditulis ulang, namun setiap kali atau setidaknya beberapa kali dalam
sejarah ratusan atau ribuan tahun pernah 'solid' dan memiliki struktur yang karena mampu bertahan
cukup lama telah tertanam dalam kenangan kolektif.
Kesadaran akan kekinian akhirnya adalah bahwa yang esensial dalam penciptaan arsitektur dan ruang
kota adalah keinginan untuk secara bersemangat mengembangkan renungan atas perubahanperubahan yang ada dalam WAKTU KITA sebagai bahan dasar bagi penciptaan yang kreativ. Waktu
kita adalah pintu ke masa depan. Inilah inti permasalahan kontemporer yang sesungguhnya.
Metropolis terus berubah-ubah tidak pernah selesai. Fenomenon yang digambarkan sekarang dapat
berubah lagi besok atau lusa, sehingga kesimpulan, yang tidak lain adalah suatu struktur makna, pun
tidak dapat bertahan lama. Yang sudah lebih pasti adalah kita tertuntut untuk menerima sifat dinamis
struktur, bahwa struktur itu tidak dapat dibuat secara apriori, dan terus-menerus harus disikapi saja
(bukan dibuat) secara aposterori.

51

Kesadaran mutakhir akan tempat menghadapi masalah-masalah (kontrakdiksi-kontradiksi!) yang berkaitan dengan
kapitalisme mutakhir (ialah globalisme yang sungguh-sungguh dan sukarela, setelah tidak ada perlawanan ideologis
maupun kosmologis) yang menurut Arif Dirlik pada dasarnya dapat dikelompokkan di bawah dua judul: marjinalisasi
tempat (marginalisation of places), dan pencaplokan tempat ke dalam kapitalisme (incorporation of places into
capitalisme). Yang pertama digambarkan demikian: Globalisasi terus maju dengan me-marjinal-kan kawasan-kawasan yang
tidak relevan dengan operasi kapital. Kawasan-kawasan demikian ini bukan saja benua seperti Afrika, tetapi juga tempattempat awal industri di Eropah maupun Amerika Serikat. Ketika rejim produksi fleksibel mulai galak, rasa tidak aman yang
tercipta di kalangan masyarakat-masyarakat lokal telah menimbulkan gerakan untuk meminta perhatian lebih besar terhadap
kedaan-keadaan setempat dan terhadap nasib tidak menentu terhadap tempat-tempat itu. Gerak berpindah-pindah kapital
jelas telah juga menimbulkan kembali kesadaran kita di Indonesia akan tempat. Kesadaran mutakhir akan tempat juga
diperkuat dengan argumen-argumen ekologis yang sudah lama bersikap kritis terhadap kemampuan destruktif kapitalisme
global. Yang kedua: perusahan-perusahaan trans-national juga mempunyai kepentingan untuk membuat dirinya
familiar/domestik demi kepentingan pemasaran, tetapi tidak mesti dalam hal tanggung-jawabnya terhadap masyarakat.
Mereka berkepentingan untuk mempromosikan tempat sebagai ideologi (Disneyland, Kota Wisata, Kota Lengkap berTuhan Lippo Karawaci, Kota Legenda, Lingkungan Venesia, Lingkungan Taman Sari Bali, ...) Masyarakat-pun
membahasakan dirinya sedemikian rupa supaya dapat dianggap sejalan dengan kapital. Tempat tidak lagi dimana orang
hidup saja, melainkan juga suatu komoditi untuk dipasarkan. (Arif Dirlik, Globalism and the politics of place, dalam Kris
Olds, et.al., eds.s, Globalisation and the Asia-Pacific, Routledge, 1999, London, pp. 50-52)
52
Palimpsest: n. a written document, typically on vellum or parchment, that has been written upon several times, often with
remnants of earlier, imperfectly erased writing still visible. Remnants of this kind are a major source for recovery of lost
literary works of classical antiquity. (Lat. Palimpsestus < Gk. Palimpsstos, scraped again: palin, again + psn, to scrape)
(The American Heritage Dictionary, Second College Edition, 1987).

45
This means to say that scarcely
have we landed into life
than we comes as if new-born;

(Pablo Neruda, fragment of Too Many Names, Estravagario)

46

BAB 2: DI DALAM ALAM

47

Kota dan Kehijauan53


Batavia lebih merupakan park city daripada garden city, tulis H.P. Berlage, arsitek besar dari Belanda yang
merancang perluasan kota Amsterdam Selatan, setelah kunjungannya pada tahun 1923. Dengan istilah garden
city ia mengacu kepada gerakan perencanaan kota yang diilhami oleh buku Garden Cities of To-Morrow (1898)
tulisan Ebenezer Howard (1898). Di Eropa, gerakan ini melahirkan serangkaian bentuk-bentuk arsitektur baru,
terdiri dari ruang-ruang terbuka (hijau) yang dibentuk secara teliti sebgai bagian-bagian kota yang saling
terkaityang tak kalah pentingnya daripada bangunandan kota-kota serta lingkungan permukiman baru. Di
Bandung, lingkungan yang mengelilingi Kantor Gubernur sering disebut sebagai contoh terbaik penerapan
prinsip tersebut di Indonesia. Lewis Mumford, penulis urbanisme yang paling produktif yang pernah ada, menulis
bahwa Pada awal abad ke-20, dua penemuan terhebat terjadi di depan mata kita: pesawat terbang dan Garden
City ... yang pertama menjadi sayap bagi manusia dan yang kedua menjanjikannya tempat tinggal yang lebih
baik ketika ia turun ke bumi.

Maka demikianlah Jakarta adalah park city, bukan sekedar garden city: Ruang-ruang terbuka yang luas dengan
pohon-pohon besar dan rimbun terdapat banyak sekali di mana-mana hingga Perang Dunia Ke-2. Pada tahun
1946, sebuah survei menemukan 256 spesies burung. Tetapi pada bulan Maret 1997, sayangnya hanya tinggal
105 spesies. Ini hanya salah satu dari sekian banyak kisah sedih yang disebabkan oleh berkurangnya kehijauan
di kota ini. Masalah yang lebih besar lagi adalah fakta bahwa kehijauan yang tersisa sangat terputus-putus dan
terpencar sehingga burung-burung tidak dapat lagi terbang dengan aman dan nyaman untuk mencari makanan
dan membangun sarang. Kebanyakan spesies yang kecil tidak bisa terbang jauh. Mereka membutuhkan
kawasan hijau untuk transit. Demikianlah menurut penelitian oleh perkumpulan pecinta-burung Symbiosis dan
Program Perbaikan Lingkungan Metropolitan pada tahun 1998.

Pasti ada banyak alasan bagi penduduk Jakarta untuk, bersama-sama penduduk kota -kota lain di seluruh
Indonesia, secara mendalam khawatir akan status ruang terbuka kota mereka yang tersisa. Berita tentang Bumi
Perkemahan Cibubur yang dijual dengan prospek dibangun hipermal di atasnya, misalnya, serupa dengan berita
yang diterima penduduk Surabaya tentang kebun binatang mereka di pusat kota, dan yang diterima Ratih
Sanggarwati, mantan peragawati dari Ngawi, Jawa Timur, tentang kabar terakhir mengenai alun-alun kotanya,
yang di dalamnya akan dibangun kolam renang. Pada rencana kota Jakarta sebelumnya (1985-2005), yang
digantikan secara prematur oleh sebuah rencana baru, Bumi Perkemahan Cibubur masih diperuntukkan sebagai
ruang hijau untuk rekreasi. Pada rencana yang baru, yang ditetapkan pada tahun 1999, peruntukannya berubah
menjadi bangunan publik berkepadatan rendah. Warnanya sudah berubah, jika bisa dikatakan demikian.
Sekarang kita tahu mengapa berubah: ada pihak yang ingin membangun hipermal di sana! Mungkin ia sudah
berstatus proyek jadi, yang telah diputuskan tanpa diketahui umum sampai kabarnya bocor tanpa sengaja.

53

Diterjemahkan dari artikel yang diterbitkan harian the Jakarta Post dengan judul .....

48
Lebih dari sekedar masalah meter persegi
Pada sebuah seminar baru-baru ini (diberitakan di harian Jakarta Post, 14 February 2001) mengenai rencana
tata ruang Jakarta, para pejabat kota dengan bangga berargumen bahwa kota ini masih memiliki lebih banyak
ruang terbuka (publik) dibandingkan Tokyo dalam hitungan meter persegi. Tetapi arsitek-fotografer Yori Antar,
yang baru saja kembali dari Tokyo, memberitahu saya mengenai betapa berbedanya di sana: orang Jepang
tidak membutuhkan rumah yang besar, karena seluruh kota itu menjadi rumah mereka, dengan ruang-ruang
publik yang ramah dan secara menyambung dapat dimasukisesuatu yang tidak sungguh dimiliki Jakarta!
Gerakan Garden City mengajarkan bahwa adalah naif dan menyesatkan untuk membicarakan ruang terbuka
kota hanya dalam ukuran meter persegi saja. Bentuk, kebersambungan, aksesibilitas dan kenyamanan adalah
jauh lebih penting. Cara mengukur keberhasilannya sangat sederhana: berapa banyak dan kerap masyarakat
menggunakannya. Anak-anak adalah kelompok yang khusus paling sering menggunakanannya. Mereka harus
dapat dengan aman mencapai taman-taman di dekat, atau di dalam lingkungan permukiman mereka. Mereka
seharusnya tidak perlu melintasi jalur lalu-lintas yang berbahaya, atau terpajan terhadap hiruk-pikuk bagian kota
tertentu, yang penuh orang asing.
Gerakan Park and City Beautiful di Amerika Srerikat pada paroh kedua, terutama mendekati akhir, abad ke-19
tidak hanya mengkhawatirkan rancangan bangunan-bangunan dan taman publik penting secara terpisah.
Rancangan Frederick Law Olmsted untuk Central Park dan proyek-proyek berikutnya merupakan contoh upaya
untuk mengorganisasi kawasan hijau kota menjadi suatu sistem, di tengah-tengah struktur sebuah metropolis
sedang berkembang yang sangat beragam, membingungkan, dan sulit diuga. Suatu sistem ruang hijau
seharusnya saling menghubungkan bagian-bagian kota sebagai suatu kesatuan, dan harus dapat menjadikan
ruang terbuka yang berkesinambungan tersebut mudah dicapai khalayak. Dengan demikian taman-taman dan
ruang-ruang terbuka menjadi metoda dan alat bagi perencanaan kota. Prinsip ini telah mempengaruhidengan
kedalaman yang berbedaperencanaan kota-kota seperti Washington D.C., Chicago, dan Singapura.
Menghadapi persaingan historis dengan wilayah sub-kota di sekelilingnya yang semakin makmur, dengan
berkurangnya penduduk pada sepuluh tahun terakhir di Jakarta Pusat dan Jakarta Selatan menjadi hanya
314.688 jiwa, Jakarta mungkin memang memerlukan sejenis City Beautiful Movement yang serius sebagai
obat yang perlu tapi tidak mencukupi untuk sembuhkan sakitnya.
Taman-taman dan ruang-ruang terbuka juga membutuhkan lebih dari sekedar pohon-pohonmeskipun
memang pohon adalah yang paling mendasar, kalau mempertimbangkan iklimtetapi juga fasilitas yang
berguna, bersih, dan nyaman seperti kaki-lima yang lebar, jalur sepeda, bangku, WC umum dan, tak boleh
dilupakan, seni. Tetapi ...semua patung di Jakarta pada dasarnya salah tempat, menurut Dolorosa Sinaga,
pematung dan dekan Fakultas Seni Rupa di Institut Kesenian Jakarta, minggu lalu, karena belum pernah ada
masterplan tentang tata letak patung di kota ini.... Karena itu sangat sulit untuk untuk menikmati patung-patung
yang sudah adabeberapa di antaranya dibuat oleh seniman-seniman terkemuka Indonesiadi ruang-ruang
terbuka Jakarta. Pentingnya berjalan kaki di kota tidak boleh disepelekan. Salah satu Cerita dari Djakarta
1
(2002, 1957 ) oleh Pramoedya Ananta Toer, ke-28 halaman dari Ikan-ikan yang Terdampar, adalah cerita
tentang percakapan antara dua teman sambil berjalan kaki berkeliling dan di dalam lokasi Taman Monas kini.
Afrizal Malna, penulis puisi urban, mengatakan bahwa tulisan-tulisan seperti itu hanya dapat terlahir dalam
situasi orang-orang memang mengalami berjalan kaki. Berjalan kaki di kota membuat orang menjadi ramah dan
dapat mennyerap lebih banyak realitas lingkungannya.

Yang tersisa
Di banyak kota, kebun-kebun binatang dan taman-taman kota masih merupakan bagian utama ruang hijaunya,
yang merupakan produk dari kemajuan ilmu alam serta imperialisme kolonial pada abad ke-19 dan awal abad
ke-20. Ketika itu ruang-ruang hijau tersebut berada pada batas perluasan kota yang baru dari Bandung,
Surabaya, Bogor, Jakarta atau Antwerpen, misalnya. Tetapi jika dilihat dari jarak sebenarnya, mereka sangat
dekat dengan pusat kota. Bahkan kini mereka secara alami telah menjadi pusat kota itu sendiri. Begitu juga
halnya denga pemakaman-pemakaman rua. Dengan semakin padatnya pusat kota, kekosongan di dalamnya
menjadi semakin penting. Ruang-ruang terbuka dan area berkepadatan tinggi saling meningkatkan nilai masingmasing. Suatu kota yang sepenuhnya padat secara harafiah maupun psikologis memang menyesakkan.
Ruang-kosong dan ruang-berisi itu berhubungan seperti harmoni yin-yang dari saling ketergantungan. Maka
pemikiran apapun untuk mengisi ruang-ruang terbuka tersebut menjadi tidak masuk akal.
Kalau memang hanya demi kepentingan tumbuhan, binatang dan jiwa-jiwa yang sedang beristirahat, mungkin
mereka lebih baik pindah, tetapi ruang-ruang terbuka itu sendiri harus tetap tinggal. Terlebih lagi, kita tidak
terlalu naif untuk mengetahui, bahwa pada umumnya lobi untuk memindahkan mereka tidaklah didasarkan pada
rasa kasihan terhadap mereka, tetapi lebih pada ketamakan untuk mewujudkan nilai komersial tanah tersebut
untuk mengembangkan hal yang lain. Tetapi mengisi ruang terbuka justru akan meniadakan faktor yang semula
meningkatkan nilainya bagi seluruh kota, bukan semata bagi kolom pendapatan pada anggaran kota.
Jakarta sudah kehilangan banyak. Jangan sampai ada kehilangan lagi. Taman Pemakanan Umum Karet di
Jakarta Pusat telah berkurang karena pelebaran jalan. TPU Blok P di Jalan Wijaya di Kebayoran Baru, menjadi
Balai Kota Jakarta Selatan. Kawasan cagar alam burung di Muara Angke hanya tinggal seperempat dari luas
peruntukan awalnya. Banyak bangunan telah mengisi bagian-bagian dari area-area yang semula, pada master

49
plan kota sebelumnya, dikategorikan sebagai ruang terbuka hijau. Contoh-contoh yang cukup menyolok adalah
Hotel Mulia di Senayan dan Mal Taman Anggrek di Tomang. Jakarta akan kehilangan lebih banyak ruang
terbuka lagi jika master plan yang baru mulai berlaku.

Seharusnya tidak ada kehilangan lagi. Bagaimana caranya? Penghuni kota, dan tentunya para pemakai fasilitas
kota, perlu menunjukkan bahwa mereka menginginkan ruang-ruang terbuka kota, dan memanfaatkannya
dengan baik, secara berbondong-bondong ! Tuntut (kembali) ruang-ruang terbuka kota tersebut ! Tuntut akses
yang nyaman dan aman, serta fasilitas berkualitas. Kembangkan secara konstruktif budaya merawat DIY (Do It
Yourselves), libatkanlah diri dalam gerakan perkotaan. Sudah waktunya kita tunjukkan bahwa kehendak kita
harus diperhitungkan. Kita ini penting. Kota adalah manusianya, tulis Sophocles.
***

Surat kepada Redaksi


Dalam berita pada harian Anda mengenai Bumi Perkemahan Cibubur (Minggu, 25 Februari 2001) tertulis bahwa
salah satu direktur PT Sarana Jaya, Bapak Kemal Basha, mengatakan bahwa mereka tidak membutuhkan
persetujuan pemerintah untuk menjalankan bisnis mereka.

Saya pikir pentinglah untuk dijelaskan bahwa ada perbedaan tegas antara bisnis suatu pihak untuk menjual-beli
lahan dan urusan pemanfaatan lahan tersebut. Benar, bahwa hak milik atas suatu tanah merupakan hak individu
yang tidak dapat dicampurtangani dengan cara apapun oleh pemerintah ataupun negara. Tetapi pemanfaatan
lahan jelas merupakan kepentingan umum, dan pemerintah/negara di seluruh dunia dipercaya untuk
mengaturnya atas nama masyarakat. Itulah sebenarnya guna rencana tata ruang, rencana tata guna-lahan,
dan berbagai bentuk alat pengaturan pemanfaatan lahan. Sulit dibayangkan bagaimana suatu kota dapat
berkembang sebagai lingkungan yang sehat jika fungsi pemerintah yang satu ini tidak ada.
Kita semua tahu bahwa pemilik tanah berukuran besar seringkali berusaha mempengaruhi pemerintah untuk
mengubah rencana tata-guna lahan yang sudah ada agar tanah mereka dapat digunakan untuk fungsi yang
berbeda dari yang sudah tertera di rencana tersebut. Kadang kala perubahan ini juga disertai permintaan lain
untuk menambah KLB (Koefisien Luas Bangunan) yang memperbolehkan kepadatan yang lebih tinggi, dan luas
bangunan yang lebih besar. Jika terjadi, hal ini akan menaikkan harga lahan. Banyak perubahan peruntukan
lahan di rencana tata kota Jakarta yang dilakukan dengan cara seperti ini. Tidak perlu seorang jenius untuk
melihat bahwa kasus seperti ini merupakan sumber utama untuk korupsi, kolusi dan nepotisme. Sudah saatnya
masyarakat umum mengetahui masalah yang seolah-olah teknis ini, seperti sering dikatakan oleh para pejabat
kota.
Perubahan peruntukan lahan di Cibubur dari Rencana Umum Tata Ruang Kota Jakarta 1985-2005
(rekreasi/olah raga pada hal.25, area yang harus dibatasi pembangunannya untuk meminimalkan genangan air
permukaan (run-off)) di hal.54 dan hutan lindung & hutan wisata pada hal. 60) menjadi Rencana Tata Ruang
Wilayah Jakarta 2010 (fasilitas publik berkepadatan rendah pada gambar 23) harus diperhatikan dengan teliti,
karena dapat atau tidak dapat digunakan sebagai alasan untuk mengembangkan sebuah mal di sana.
Untungnya, pada rencana tahun 2010 ini, pada gambar 04, Bumi Perkemahan Cibubur masih masuk kategori
area rekreasi hijau, olahraga, taman kota. Tentunya tidak logis jika dikatakan bahwa sebuah hipermal bisa
masuk dalam kategori tersebut.

Di masa lalu, permohonan untuk mengubah peruntukan lahan untuk melegalisasi pembangunan suatu proyek
selalu dilakukan di bawah meja, dan di belakang pintu tertutup, tanpa diketahui umum. Di semua negara yang
beradab, cara seperti ini dianggap salah dan dinyatakan kriminal. Permohonan untuk mengubah peruntukan
lahan harus melalui dengar pendapat dengan khalayak sebelum suatu keputusan ditetapkan, kadangkala oleh
panel yang terdiri dari penduduk kota yang independen.

Dengan demikian saya sangat berharap agar penjelasan ini, pengetahuan ini, diumumkan kepada khalayak dan
diterbitkan dalam surat pembaca pada harian Anda yang terhormat, meskipun jika dianggap teknis. Sudah
waktunya bagi masyarakat untuk memiliki pengetahuan teknis untuk berargumentasi dengan pejabat kota.

Terima kasih banyak.


Marco Kusumawijaya

50

Memetakan Masa Depan yang Berkelanjutan


dan Lebih Hijau di Bellagio, Italia54
Bellagio, dua jam berkendaraan ke arah bukit dari Milano, Italia, adalah tempat yang sempurna untuk membuat
peta hijau. Tetapi ke-22 orang pembuat peta hijau dari 14 negara (6 dari negara berkembang, termasuk penulis
sendiri dari Indonesia) berada di sana tidak persis untuk melakukan hal itu. Mereka berada di sana, tinggal di
tepi danau, di tanah berbukit seluas 23 hektar milik Rockefeller Foundation, pada tanggal 2-6 Desember 2002,
untuk menemukan jalan untuk mempengaruhi dunia ke arah kehidupan berkelanjutan dengan suatu cara kuno:
membuat peta.

Membuat peta hijau adalah suatu proses yang melibatkan orang-orang biasa dalam memetakan salingketerkaitan antara alam, budaya, dan masyarakat dalam lingkungan binaan. Mereka melakukan ini dengan
menemukan tempat-tempat yang bermakna lingkungan dan budaya, dan menandainya dengan menggunakan
125 ikon universal yang yang telah mendapatkan penghargaan dan dikembangkan sejauh ini oleh Green Map
55
System (www.greenmap.org). Dalam proses menghasilkan 119
peta hijau yang diterbitkan selama ini,
beberapa ikon lokal diciptakan, atau disesuaikan untuk tempat-tempat yang berbeda. Peta ke-119 yang terakhir
kebetulan adalah peta hijau Jakarta yang kedua, misalnya, menggunakan ikon lokal untuk warung makanan
tradisional/etnik dan tempat pemantauan ketinggian permukaan air, selain ikon bengkel sepeda yang
disesuaikan dari peta hijau jalur-sepeda Kyoto. Peta ini juga mendapat kehormatan diluncurkan pada pertemuan
global pertama dari para pembuat peta hijau itu. Ibu Erna Witoelar adalah salah satu dari pembeli pertama peta
ke 119 sebelum diluncurkan.
Pendiri gerakan ini, Wendy Brawer, mengungkapkan bahwa ia tergerak menjadi hijau ketika seekor orang utan
di kebun binatang Jogjakarta melemparinya dengan batu pada tahun 1989. Ia berkata bahwa tiba-tiba ia
merasakan misi dalam hidupnya dan memutuskan untuk hanya melakukan hal-hal ekologis setelah itu. Gaya
hidupnya berubah. Sekarang ia mengendarai sepedanya ke manapun di kota New York, dan membuang
sampahnya hanya ke unit pembuat kompos di sebuah taman lingkungan dekat apartemennya.
Meskipun berperan sebagai sumber inspirasi, kota bersejarah Jogjakarta baru menerbitkan peta hijaunya pada
bulan Juli 2002. Peta ini mencantumkan tempat-tempat unik di Jero Beteng, area di Istana Sultan yang dikelilingi
56
benteng.
Ke-21 orang pembuat peta hijau lain yang berkumpul di Bellagio adalah orang-orang mandiri yang bergerak atas
kemauan sendiri, yang beralih profesi menjadi kartografer amatir karena mereka semua percaya bahwa
masalah-masalah berskala global tidak harus mengurangi kemampuan kita untuk bertindak dan mencari
jawaban pada skala lokal. Latar belakang dan mata pencaharian mereka sebenarnya sangat bervariasi: filsafat,
arsitektur, pekerja komunitas, perancang produk, pertanian, pemasaran pariwisata, perencanaan kota,
perancangan ramah-lingkungan, dan lain-lain. Sepertinya, untuk menjadi optimis, kita semua harus menjadi
aktivis.

54

55

Jakarta Post, 20 December 2002

Pada bulan Agustus 2005 jumlah peta hijau yang sedang dibuat di seluruh dunia telah lebih dari 200, di lebih dari 50
negara.
56
Sekarang di Yogyakarta telah terdapat edisi peta hijau, berurutan menurut waktu: Peta Hijau.(200..),Pada tanggal
3-7 Januari 2006 di kota ini diselenggarakan pertemuan nasional para pemeta-hijau Indonesia pertama.

51
Diperlukan waktu 13 tahun dari Jogjakarta sampai Bellagio, ketika akhirnya peta hijau telah digunakan orang di
seluruh dunia untuk menjadi pnduan menuju kualitas kehidupan yang lebih baik, dan masa depan yang
berkelanjutan dari kota-kota yang mereka petakan. Peta-peta ini memandu masyarakat ke tempat-tempat untuk
melakukan tindakan sosial yang bertanggung jawab, menjalankan hidup sehari-hari yang lebih berkelanjutan,
kaya budaya, kehidupan yang sadar lingkungan, dan hubungan yang lebih kuat dengan komunitas-komunitas
masing-masing yang berbeda di seluruh dunia. Di Kyoto, hotel-hotel bersedia menjadi bagian dari sistem
penyewaan sepeda agar dapat masuk dalam peta hijau jalur-sepeda. Di Toronto, peta hijau telah berhasil
menjadi usaha yang berkelanjutan karena sangat digemari oleh wisatawan yang menginginkan tujuan wisata
yang tidak konvensional. Limaratus ribu peta hijau Tamagawa diedarkan sebagai halaman-tengah suatu majalah
lifestyle. Peta hijau Jakarta edisi pertama sebenarnya merupakan peta pertama yang diterbitkan sebagai
halaman-tengah majalah, yang ketika itu bernama majalah AIKON. Tetapi bagaimana cara memperkirakan
dampaknya? Inilah salah satu pertanyaan yang dibahas pada pertemuan global yang pertama tersebut, yang
bertujuan menantang upaya-upaya dan jaringan yang telah terbentuk ke tahap selanjutnya: bagaimana sungguh
bekerja sama sebagai sebuah kelompok yang terdiri dari ratusan pembuat peta hijau di seluruh dunia untuk
membawa dampak lebih bagi planet ini dengan kehidupan yang berkelanjutan. Tugas-tugas ambisius yang
harus dilakukan pada tahun-tahun selanjutnya meliputi, di antaranya, Atlas Hijau Global yang pertama, sistem
ikon peta hijau yang diperbaharui, dan sistem penilaian dampak.
Tugas-tugas itu memberi alasan bagi para pembuat peta hijau untuk menjadi tamu kehormatan Rockefeller
Foundations Study and Conference Center di Bellagio. Nama mereka telah dicatat dalam buku-tamu puat studi
dan konferensi tersebut bersama para ilmuwan terhormat seperti Peter L. Berger dan Samuel Huntington, yang
keduanya merupakan tamu pusat studi ini pada tahun 1999.

Tidak ada tempat yang lebih cocok daripada Bellagio untuk menjadi tuan rumah bagi para orang hijau ini
demikianlah mereka disebut oleh salah satu anggota dewan kehormatan Rockefeller Foundation. Bellagio boleh
dianggap sebuah desa khas Italia: danau yang luas, gunung-gunung batu dengan puncak berselimut salju, vilavila dengan dinding berwarna terang, dan banyak sekali tumbuhan yang selalu hijau. Tanah milik Rockefeller
Foundation merupakan bintang di kawasan ini. Sebuah gerbang sempit yang secara mengejutkan membuka ke
arah jalan desa yang sempit, yang sepenuhnya diapit deretan bangunan, membawa kita ke tanjung berbukit
yang menjorok ke danau Como. Pada tanah hijau seluas 23 hektar tersebut hanya terdapat delapan bangunan
utama, yang dihubungkan oleh jalan berkelok dan jalan setapak curam memintas. Beberapa bangunan didirikan
pada abad ke-17. Sisa reruntuhan gereja yang dibangun pada tahun 1080 sekarang menjadi bagian dari
bangunan utama Villa Serbelloni. Seluruh tanah ini disumbangkan kepada yayasan ini oleh Ella Walker, ahli
waris dari Hiram Walker, pembuat whisky terkenal. Ia membelinya pada tahun 1928, tinggal di sana, dan
meninggal di kamar yang sekarang berfungsi sebagai perpustakaan.

Orang-orang Romawi sudah tinggal di daerah ini sejak abad pertama Masehi, dengan vila-vila yang bertebaran
57
di tepi danau. Plini Yang Muda menulis tentang kedua villa miliknya di tanjung Bellagio. Yang satu terletak
tinggi di atas tebing...dan melihat ke arah danau...Karena didukung oleh bebatuan, seolah-olah oleh sepatu
tinggi para aktor dalam sebuah sandiwara tragedi, Saya menyebutnya Tragedia. Ia ber pemandangan luas ke
arah danau yang dibelah dua oleh tebing pada tempat vila itu berdiri...Dari terasnya yang luas, jalan landai
menurun ke arah danaui...
***

Teks untuk Gambar (secara berurutan):

Peta Hijau Jakarta edisi kedua, terdiri atas lingkungan Kemang dan Kebayoran Baru dan ruang terbuka
hijau tematik Jakarta secara keseluruhan.

Pemandangan Bellagio dari ruang konferensi Rockefeller Foundation. Orang Romawi telah mendirikan
vila-vila bertebaran di tepi danau yang berbukit sejak abad pertama Masehi.

Sfondarata, Menara, dan Rumah Perahu di tanah milik Rockefeller Foundation di Bellagio, dengan latar
belakang Danau Como dan pegunungan.

Jalan sempit yang menuruni bukit di desa Bellagio, dari jalan utama ke arah tepi danau.

Rumah-rumah dan toko-toko berwarna-warni di sepanjang jalan utama Bellagio, yang dihias
menyambut Natal.

Villa Maranese untuk para tamu tetap Rockefeller Centre, Bellagio, dengan pemandangan indah ke
arah danau dan gunung.

57

Rumah Perahu berwarna putih di Pusat Rockefeller. Bukit di latar belakangnya telah dipenuhi vila-vila
sejak abad pertama Masehi.

Gaius Plinius Caecilius Secundus; Pliny the Younger ( c. 61 c. 112), senator dan penulis Romawi; keponakan Plini
yang Tua; Ia dikenal karena buku-buku sastranya tentang kehidupan pribadi dan umum yang antara lain mengandung
gambaran tentang letusan gunung Vesuvius pada tahun 79.

52

Mari miliki sepotong alam di dalam


metropolis kita
58

Kita sungguh harus menuntut agar reklamasi kawasan pantai Jakarta jadi kenyataan. Saya
bersungguh-sungguh. Saya maksud kita para khalayak, bukan keempat pengembang besar yang
akan membantu Gubernur menunut Menteri Lingkungan Hidup karena keputusannya yang
menyatakan proyek reklamasi merusak lingkungan. Tidak satupun dari keempat pengembang ituPT
Pembangunan Jaya Ancol, PT Kapuk Naga Indah, PT Manggala Krida Yudha, PT Jala Kartika Eka
Paksiyang merupakan contoh good corporate governance. Anda akan mengerti maksud saya bila
membaca koran dalam setidaknya dua tahun terakhir. Ingat Ancol Gate? Ingat banjir? Ingat dua yang
pertama. Yang lainnya, sebagaimana dapat dengan mudah ditebak dari namanya, adalah perusahaan
yang didukung angkatan darat, yang Anda tahu siapa bos yang sesungguhnya.

Dan yang saya maksud sama sekali bukan reklamasi dalam arti menimbunkan tanah dari empat
provinsi lain di Indonesia ke dalam laut di utara Jakarta untuk menciptakan 2700 Ha kavling baru
sebagai obyek spekulasi, yang membentang sejauh dua kilometer ke arah laut. Yang saya maksud
adalah reklamasi dalam arti mendaulat kembali kawasan pantai secara sosial dan budaya dengan
nyata. Kita harus memiliki kehidupan khalayak di pantai sana!
Jakarta memiliki pantai sepanjang 30 kilometer, tapi tidak sejengkalpun yang dapat dimasuki
khalayak untuk sejenak menikmati saat yang menyenangkan tanpa harus repot-repot membayar atau
berkendaraan berjam-jam melewati kemacetan. Dan seberapa sering kita melihat laut sepanjang harihari kerja biasa kita? Jangan katakan saya minta terlalu banyak. Pergilah ke Makasar, tempat pada
suatu hari kerja biasa seseorang dapat menikmati pemandangan laut dua kali. Dia dapat membaca
koran pagi di pantai di tengah kota sebelum mulai bekerja, dan sesudahnya menikmati makan malam
yang menggoyang lidah pada tempat yang sama sambil menikmati matahari terbenam. Tidak ada
karcis masuk. Saya juga dapat menyebut kota-kota lain, tentu saja, seperti Menado di Sulawesi Utara
dan Baubau di pulau Buton, Sulawesi Tenggara. Yang penting saya tidak harus menyebut kota-kota
di luar negeri yang sudah begitu sering dikunjungi oleh banyak pejabat pemerintah dalam study tour
mereka tanpa bahkan sempat mempertimbangkan kota-kota yang lebih dekat atau memanfaatkan
cyber tour yang lebih murah melalui internet. (Jika Anda memberitahu hal kecil terakhir ini, mereka
mungkin sekali akan menambah anggaran baru untuk membeli lebih banyak komputer).

Pada hari lahirnya, saya pikir waktunya tepat untuk membayangkan kembali Jakarta sebagai kota
pantai, karena demikianlah ia adanya selama lebih dari 800 tahun. Ya, usianya lebih daripada 567
tahun, yaitu perhitungan resmi yang didasarkan pada tahun 1527 sebagai hari-lahirnya, yaitu ketika
58

Jakarta Post,

53
Pangeran Fatahillah mengambil alih. Permukiman sudah ada pada abad ke 12 di kawasan pantai
tempat Sunda Kelapa sekarang. Banyak kota lain menghitung hari lahirnya sejak mereka ketika
pertama kali dihuni di masa Hindu atau Buddha. Usia Palembang, misalnya, secara resmi dihitung
sejak tahun 682, sementara Surabaya sejak 1250. Saya tidak tahu mengapa justru Jakarta yang
dinyatakan lahir atas dasar suatu kemenangan Islam, meskipun sebenarnya sejarahnya lebih tua.
Lagipula, Jakarta sebagaimana yang kita ketahui sekarang benar-benar mulai dibangun dengan batu
ketika J.P. Coen membangun Jakarta Kota pada 1619. Tindakan Coen adalah campur tangan pertama
yang sungguh mewariskan pola fisik yang masih hidup hingga sekarang dan menentukan bentuk masa
depan Jakarta. Ia Belanda, tentu saja, dan karena itu bukanlah figur yang dapat diterima sebagai
bapak pendiri kota ini.
Jadi, para pengembang itu tidaklah salah total ketika membayangkan suatu garis pantai yang indah
sebagai suatu gerbang Jakarta. Mimpi burung kencana ini telah dipercikkan oleh Sukarno sedini tahun
60an, meskipun dalam arti reklamasi yang lebih mirip punya saya daripada punya mereka.
Pokok soalnya adalah bahwa kita masih perlu merasakan kehadiran alam, kosmos, dan makhluk liar
dalam metropolis tropis yang tak berprasangka ini. Maka saya akan mendukung lebih banyak
kehadiran hewan. Saya akan membawa monyet-monyet dari hutan bakau Kapuk ke lapangan
MONAS agar bermain dengan rusa-rusa. 59 (Apakah mereka akan berteman?) Setidaknya monyetmonyet ini, yang telah tinggal di sana selama berabad-abad, lebih biasa dengan panasnya kota ini,
tidak seperti rusa-rusa yang mengalami stres itu. Mereka malah mungkin akan menceriakan rusa-rusa
itu! Ini juga akan menyelamatkan monyet-monyet ituyang merupakan pribumi Betawi, kalau yang
seperti itu memang adadari kepunahan, karena hutan bakau itu sendiri makin berkurang sejengkal
demi sejengkal karena rusak atau direklamasi baik oleh para pengembang sekitarnya atau para
nelayan. Namun, saya tahu bahwa kehadirannya di Lapangan MONAS akan sulit diterangkan kepada
Presiden, karena mereka tidak ada di halaman istananya yang lain di Bogor. Anda tahu kan, kalau
mau menyenangkan saudara perempuan Anda, Anda perlu mulai dengan hal-hal yang ia sudah akrab
sejak kecil. Dan/Tapi tentu saja monyet nampak terlalu mirip dengan yang ada di dalam cermin untuk
dapat dihargai sebagai sesuatu yang baru.
Sedangkan sehubungan dengan 13 aliran air yang melalui Jakarta, kita dapat membersihkan tepiannya
dari pemukiman kumuh, menanam pohon dan menarik burung-burung. Aliran-aliran air ini akan
membawa khayalan kita ke sumbernya, yaitu gunung-gunung di selatan. Tetapi ada satu atau dua
masalah: Kita tidak mungkin lagi melihat gunung-gunung itu dari Jakarta, karena polusi begitu pekat
bagi pandangan kita untuk menembusnya, karena mobil-mobil di Jakarta masih akan menyemburkan
70 hingga 80 prosen dari gas-gas polutan selama sepuluh atau lebih tahun ke depan.
Hal itu sebenarnya akan menguntungkan saya, karena foto-foto yang saya ambil pada 18 Februari
2003 dari Gedung Bursa Efek Jakarta 2 akan menjadi yang terakhir yang menunjukkan gununggunung di selatan secara jelas. Bahkan sekarang, dari semua orang yang kepadanya saya tunjukkan
foto tersebut, tidak satu pun yang percaya bahwa itu nyata. Mereka pikir itu kolase yang dibuat
dengan komputer.
Dan pohon-pohon sepanjang tepian sungai tidak akan punya cukup waktu untuk tumbuh kuat karena
mereka akan diterjang banjir berikut, karena gunung-gunung yang tidak nampak itu akan menjadi
berwarna coklat ketimbang hijau, mengirimkan lebih banyak air mengalir cepat ke arah hilir, ke
Jakarta. Atau lebih buruk lagi, tepian-tepian sungai ini akan diduduki kembali oleh kaum miskin kota
setelah mereka kembali dari liburan lebaran, karena tidak ada kepastian kepemilikan tanah dan
program perumahan sosial yang realistis.
Apa? Menghijaukan metropolis ini tidak akan menyelesaikan masalah kita? Ya, namun
bagaimanapun juga Anda tidak akan membenci lebih banyak pohon bukan? Jika Anda tidak bisa
mencintai alam, apa lagi yang Anda bisa cintai? Setidaknya kota ini sebuah ibukota. Ia perlu
senangkan hati Presiden, yang suka pohon dan bunga.

59

Sebelum ini Gubernur Sutyoso telah memindahkan beberapa rusa dari Kebun Raya Bogor ke Lapangan Monas.

54

Pohon Beton Akan Menjadi Kenyataan

60

(bersumber pada: New Scientist 13 Juli 2002)


Pohon beton, idiom yang sering digunakan secara negativ untuk menyindir realitas kota-kota, kini
akan terwujud dalam arti sebaliknya yang positif: beton akan berfungsi sebagai penyerap CO2 seperti
pohon sungguhan.
New Scientist 13 Juli 2002 melaprkan bahwa John Harrison, seorang teknolog dari Hobart, Tasmania,
menemukan semen yang berbasis magnesium karbonat yang akan menyerap CO2 pada saat proses
pengerasan semen berlangsung. Satu ton beton dari eco-cement Harrison ini akan menyerap 0.4 ton
CO2.
Mengganti semen biasa (semen Portland yang berbasis kalsium karbonat) dengan semen yang dapat
menyerap CO2 sungguh besar artinya bagi lingkungan. Sebab proses produksi semen Portland itu
sendiri menghasilkan rata-rata 7 % dari total CO2 buatan manusia di dunia. Di negara sedang
berkembang seperti Cina yang memproduksi 30 % semen dunia, angka ini melonjak menjadi 10 %.
Indonesia sebelum krisis mungkin juga mencapai angka demikian. Produksi setiap ton semen
Portland melepaskan pula sekitar 1 ton gas CO2. Masalahnya tak berhenti di situ. Seperti disindir oleh
pameo pohon beton itu, bangunan-bangunan juga menyingkirkan pohon dan tanaman sunggguhan
lainnya dari muka bumi, berarti mengurangi kemampuan alamiah menyerap gas-gas rumah kaca.
Semen Portland ditemukan sekitar 180 tahun lalu oleh tukang batu Joseph Aspdin di Yorkshire.
Paten-nya didaftarkan pada tahun 1824. Semen ini diberi nama Portland karena batu buatan yang
dihasilkannya sangat mirip dengan batu alam yang paling populer waktu itu berasal dari Portland di
Dorset.
Kini setiap tahun diproduksi 1.7 milyar ton semen Portland, atau rata-rata 250 kg per orang di bumi.
Semen berbasis magnesium tidaklah baru. Seorang Perancis bernama Stanislas Sorel pada tahun 1867
telah mencoba kombinasi oksida magnesium dan klorida magnesium. Namun produknya gagal karena
tak tahan lama terkena air. Eco-cement temuan Harrison jauh lebih kuat. Keuntungannya lainnya:
cukup dibuat pada suhu 6500 C, tak seperti semen Portland yang dibuat pada 14500 Celcius. Ini berarti
lepasan CO2 dari bahan bakar yang digunakan juga berkurang separoh. Memang akan dihasilkan
lebih banyak CO2 dalam proses pemanggangan eco-cements, tetapi proses pengerasannya (karbonasi)
akan menyerap hampir semua CO2 yang dilepaskan tersebut. Proses karbonasi ini lebih cepat
daripada yang terjadi pada semen Portland. Selain itu kristal magnesium karbonat pada eco-cements
juga lebih kuat daripada kristal kalsium karbonat pada semen Portland.
Semen Harrison ini juga dapat menerima lebih banyak bahan tambahan dicampur bersamanya tanpa
mengurangi kekuatannya. Sudah lama lajim mencampurkan bahan-bahan sampah ke dalam beton
untuk menambah volumenya. Tetapi pada semen Portland hal ini ada batasanya, karena banyak bahan
60

Diterbitkan di dalam Buletin IAI Jakarta, .

55
dapat bereaksi dengan agregat, dan dapat menyebabkan beton menjadi getas. Ini terjadi karena sifat
basa (alkalin) dari semen Portland. Sedang eco-cement bakan dapat dicampur dengan sampah organik
yang mengandung karbon, yang bila membusuk atau dibakar akan melepaskan CO2 ke udara.
Menurut perhitungan Harrison, pada eco-cement dapat ditambahkan sampah 3 sampai 4 kali lebih
banyak dibandingkan dengan pada semen portland.
Tentu saja tidak semua semen portland dapat digantikan oleh semen magnesum ini. Masih tersisa 20
% semen Portland yang tak dapat diganti karena sifat-sifat kekuatan tertentunya, misalnya untuk
balok jembatan. Soal lain: menambang magnesit dan dolomit, dua sumber magnesium karbonat, juga
lebih mahal. Lagipula ada sifat konservatif industri dikarenakan pasar semen Portland begitu cepat
berkembang; sementara para insinyur sudah terbiasa berhitung dengannya. Menggunakan eco-cement
akan berarti menghitung dalam parameter-parameter baru dengan faktor-faktor baru.
Tetapi, mengingat dua keuntungani eco-cement, yaitu emisi CO2 yang lebih sedikit dalam proses
pembuatannya serta kemampuan mennyerap sendiri lepasan CO2-nya, bukankah menjadikan
bangunan sebagai pohon beton adalah alternatif yang baik?

56

BAB 3:
RUANG KHALAYAK

57

10 Menit tentang Ruang Khalayak Kotakota Indonesia


61

Hakekat Ruang Khalayak Kota


Dari perspektif arsitektur kota, yang menjadi obyek ruang khalayak adalah kehadiran fisiknya serta
segala hal dan proses yang berkaitan dengan kehadiran fisik itu. Ruang khalayak di kota berhubungan
erat dengan kultur demokrasi karena merupakan ekspresi dan wadah bagi kekhalayakan (dalam dua
makna terkait: publicness dan civicness) yang mengandaikan dan sekaligus memungkinkan adanya
masyarakat praja (civil society). Ruang khalayak kota mensyaratkan adanya civicness yang
terlembaga dalam tata-krama (social codes) atas dasar susila yang jelas dan dianut bersama, yang
sangat penting untuk menjamin tidak runtuhnya kehidupan perkotaan yang hakekatnya adalah
keragaman dalam kedekatan/kepadatan. Sebaliknya, tanpa ruang khalayak yang sejati, masyarakat
praja (perkotaan) kehilangan ruang kesempatan untuk interaksi yang sekongrit-kongkritnya, yang
merupakan berkah sekaligus fitrah dari keragaman-dalam-kepadatan tersebut.
Ruang khayalak yang sejati adalah yang merupakan public domain, yang menjamin penguasaan
bersama oleh khalayak, terbuka untuk interaksi dengan orang asing (atau yang lain) secara damai,
aman, dan majemuk (plural).
Ruang khalayak, sama dengan kota itu sendiri, memberi kesempatan bagi, dan sekaligus menuntut,
pemuncakan kapasitas sosial manusia, yang kemudian menjadi dasar bagi pencapaiannya dalam
segala bidang peradaban.
***
Kepelikan Ruang Khalayak Kota Indonesia
Ruang-ruang khalayak kota-kota Indonesia belum memiliki fondasi yang kokoh. Pada saat bersama ia
sedang mengalami penciutan dan pemiuhan yang menuju tingkat berbahaya. Penciutan dan
pemiuhan ini terjadi pada berbagai dimensi: penggunaan, aksesibilitas, pemaknaan, dan arsitektur.
Ruang khalayak yang paling banyak dan potensial, yaitu jalan, menunjukkan paling jelas tingkat
berbahaya yang telah dicapai oleh pemiuhan dan penciutan itu. Ruang lain yang mendapat ancaman
besar adalah pasar (dalam arti seluas-luasnya), ruang terbuka hijau, dan sarana umum lain seperti
sekolah.

61

Ditulis untuk Panel Ahli Setengah Hari Menyelamatkan Ruang Publik Sebagai Sarana Kultur Demokrasi, Yayasan
SET, 21 Juli 2004, Goethe Institut

58
Pilihan-pilihan yang tersedia makin berkurang: Misalnya jalan makin tidak mungkin digunakan oleh
pejalan kaki dan kendaraan alamiah (tak bermotor), dan makin menciut ke arah satu pilihan, mobil.
Pasar makin menghilang, bentuk tunggal mall makin menjadi satu-satunya pilihan.
Sebagian dari perubahan-perubahan ini mungkin hanyalah akibat dari perubahan-perubahan structural
ekonomi. Tetapi faktor-faktor persepsi pribadi penguasa yang tak malu-malu membawa tafsir
pribadinya ke ruang khalayak juga menjadi sebab yang menonjol, dikarenakan tidak adanya
pewacanaan dan artikulasi persepsi kolektif yang memadai. Inilah salah satu latar belakang terjadinya
banyak keluhan, oleh banyak kalangan warga yang merasa memiliki tafsir dan ingin memberi makna
berbeda pada ruang khalayak, tetapi tidak terakomodasi.
Perubahan struktural, selain membawa akibat melalui perubahan gaya hidup, juga mendorong
perubahan melalui tata ruang yang didasarkan pada ideologi para perencana dan penguasa yang
seringkali tidak otonom/independen bukan karena tidak berdaya saja, tetapi juga karena pemahaman
yang sempit, bahkan sebenarnya ketidak-tahuan sama sekali (ignorance).
Oleh karenanya (pemahaman penguasa yang terbatas, mudah menjadi boneka kepentingan tanpa
sadar), yang paling membahayakan adalah kenyataan bahwa ruang khalayak sering diubah dan diolah
tanpa proses dan konsensus yang luas, tetapi hanya mengikuti rumusan pihak-pihak terbatas tanpa
pemwacanaan yang mendalam.
Banyak civic centre (istilah ini mengandaikan pengertian civic yang inkulisf) berubah menjadi
komersial saja (CBD), menjadi sektarian (alun-alun menjadi halaman mesjid di Bandung), dan
menjadi perkantoran pemerintah (pernah digariskan untuk lingkungan Lapangan MONAS).
Usia peradaban berkota dan mengota di indonesia, sama dengan usia masyarakat praja (civil
society) relatif sangat muda. Karena itu ruang khalayak masih memiliki defisit dalam hal:
Tradisi yang tipis.
Konvensi-konvensi susila (etika) dan krama (social codes) yang cukup jelas dan mapan.
Pelembagaan kesadaran dan proses pembentukan ruang khalayak sebagai infrastruktur dan wahana
utama masyarakat praja (perkotaan).
Budaya visual dan estetik lainnya.
Dalam situasi yang serva defisit dan lemah di atas, ruang khalayak di kota-kota Indonesia
menghadapi tantangan (atau ancaman?) dari:
Dominasi mobil (yang meniadakan opsi ruang jalan sebagai ruang interaksi, dan menghalangi
pengembangan moda transportasi khalayak yang lebih mungkin sebagai ruang pawongan)
Mall (yang memberikan alternatif ruang khalayak yang meng-isolasi kelas menengah
konsumtiv dan memalaskan orang menikmati ruang-ruang kota yang lain)
Developmentalisme (yang memperlakukan ruang kota semata sebagai komoditi ekonomiproduktifitas tanpa menyadari perannya sebagai wahana kreativitas sosial-budaya, dan
membanjiri bahkan menguasairuang khalayak dengan pesan-pesan konsumptiv3000
pesan perhari per kepala di Jakarta)
Politicisme (yang memperlakukan ruang khalayak semata sebagai alat ekspresi politik yang
keras, sehingga menanamkan citra ruang khalayak sebagai ruang konflik ketimbang ruang
sosialisasi masyarakat praja )
Kekerasan sayap kanan
Ignorance dan kepentingan ideologis penguasa (politik dan ekonomi) yang men-steril-kan
serta me-reduksi ruang khalayak menjadi eksklusif, tertutup, berfungsi terbatas hanya untuk
spektrum masyarakat yang terbatas.
***
Strategi Pembentukan (penyelamatkan?) Ruang Khalayak Kota Indonesia.
Ruang khalayak memerlukan strategi dan kebijakan yang sadar dan terencana dalam pembentukannya
sebagai ruang sosial-budaya. Strategi dan kebijakan yang sadar dan terencana, yang diketahui
dan disepakati sebagai kebijakan publik yang terang terbuka, belum nampak disadari sebagai
sesuatu yang wajar/seharusnya ada oleh berbagai pihak.

59
Nampaknya kebijakan dan strategi yang perlu disusun sedikitnya perlu memperhatikan hal-hal
berikut:
Konsep ruang khalayak harus diperluas mencakup ruang sehari-hari perkotaan seperti angkutanumum, halte, jalan, pasar, halaman sekolah dan gedung umum lainnya, yang semuanya harus
direhabilitasi menjadi wadah interaksi sosial-budaya sebagai tujuan utama, bukan sebagai pelengkap
bagi tujuan-tujuan ekonomi dalam arti sempit (fungsi produktivitas).
Proses pengembangan/pembentukan ruang khalayak sama penting dengan bentuk akhirnya, karena
proses itu perlu dimanfaatkan sekaligus sebagai sarana pemwacanaan, pembelajaran dan
pembentukan pemahaman dan konvensi. Proses menetapkan kebijakan tentang dan membangun
ruang khalayak itu sendiri adalah kesempatan paling penting untuk membangun rasa memiliki, sambil
membangun krama yang diperlukan. Karena itu proses ini sendiri harus secara sadar digunakan untuk
tujuan tersebut, yaitu dengan melibatkan masyarakat luas dalam setiap tahap keputusan. Proses ini
bukan hanya soal teknis arsitekur, melainkan harus melibatkan makin banyak warga masyarakat,
sehingga semua pihak dengan latar belakang berbeda dapat merasa memiliki ruang khalayak sebagai
suatu hak atas kota yang wajar (bukan tuntutan yang mewah atau berlebihan, tetapi asasi dan
mendasar/minimal).
Interaksi khalayak yang beragam mensyaratkan adanya kesejahteraan-minimal yang sama bagi
semua orang; kalau tidak maka eksklusivitas akan sulit dihindari di dalam ruang-ruang khalayak, dan
menyulitkan terjadinya ia sebagai public domain yang sungguh majemuk, kaya, dengan keterbukaan
yang damai dan nyaman.
Adanya sebaran ruang khayalak, terutama ruang terbuka, yang mencukupi pada berbagai tingkatan
lingkungan perkotaan, dan adanya saling-keterhubungan dan kemudahan menjangkau (dan berarti:
memanfaatkan) ruang-ruang khalayak. Ini berarti diperlukan keterpaduan dengan sistem angkutanumum, tata-guna tanah, tata guna ruang secara umum, dan keseluruhan tata kota.
Ruang-ruang yang diciptakan harus inklusiv sambil prosesnya membangun kesepakatan-kesepakatn
yang jelas dan rasa-memiliki.
Pertimbangan ekologi bukan hanya bermakna bagi keberlanjutan/kenyamanan fisik, tetapi
merupakan wahana memperkaya pemahaman masyarakat akan masalah kolektif yang bekaitan
dengan alam-lingkungan (banjir dll.)
Perhatian khusus harus diberikan kepada jalan, karena ia adalah ruang khalayak yang paling penting
di kota, bukan hanya karena luas keseluruhannya, tetapi juga karena dominannya dalam kehidupan
sehari-hari, bukan hanya sebagai sarana angkutan, tetapi sebagai ruang sosial-budaya. Jalan harus
direhabilitasi dengan standar yang baik untuk memperluas opsi bagi pemanfaatannya sebagai ruang
sosial-budaya. Ini mencakup a.l. kenyamanan dan keamanan berjalan kaki, bersepeda dan moda
angkutan lainnya yang lambat (yang justru baik untuk interaksi sosial).
Memanfaatkan instrumen demokratis dalam proses pembentukan ruang khalayak, misalnya
sayembara arsitektur, sehingga proses itu sendiri menjadi kesempatan pemwacanaan dan
pembelajaran yang pada akhirnya dapat mengarah kepada pembentukan konsensus-konsensus.
Struktur/tata cara keterlibatan masyarakat perlu dipertegas, dijamin, dan dilaksanakan dengan
fasilitasi yang sungguh-sungguh, dengan kesadaran bahwa hal itu penting untuk masa depan, bukan
hanya karena mau memenuhi formalitas demokrasi.

Jakarta, 21 Juli 2004.

60

Ruang Publik: Dialog antara Arsitektur


dan Senirupa
62

Beberapa seniman tertarik mencipta karya di tempat umum, di ruang kota yang terbuka. Beberapa
lainnya mewacanakan soal-soal publik termasuk ruang publik di dalam karya-karyanya. Mereka
sadar bahwa mereka memasuki wilayah publik, dan juga wilayah penciptaan disiplin lain. Mereka
merasakan suatu perjumpaan dengan wilayah yang ada penggarapnya juga, dan mungkin ingin tahu
apakah melalui pertemuan dapat saling belajar untuk meningkatkan intensitasnya sendiri. Arsitek
tertarik karena merasa ada masalah dalam ruang kota, dan berharap ada kolaborasi yang dapat
dilakukan dengan senirupa untuk meningkatkan pemahaman khalayak akan ruang kota, arsitektur,
dan memberikan baik makna maupun nilai lebih padanya. Selain itu, tentu saja, inspirasi untuk tujuan
egoistiknya sendiri. Ruang publik secara umum tentu saja adalah tempat pertemuan semua orang.
Secara khusus ruang publik adalah dialog antara arsitektur dan senirupa dalam proses penciptaannya,
dalam menafsirkan masyarakat dan meminta perhatiannya atas kualitas urbanitas dan senibudaya.
Ruang Publik
Pada pintu rumah siapa yang datang mengetuk ?
Sebuah pintu terbuka, orang masuk
Sebuah pintu tertutup sebuah kamar
Dunia bergetar di luar pintuku. 63
Ruang publik dan privat, sebagaimana tersirat halus dalam kutipan di atas, secara fenomenologis
tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Seorang subyek merasakan kehadirannya secara bersamaan,
sama dengan fenomenon ketika ia merasakan dualitas batas dan ruang serta isi dan kosong
sekaligus. Makna yang satu senantiasa tergantung kepada yang lain. Demikianlah hubungan antara
ruang pribadi dan ruang publik. Ruang publik dan ruang privat bukan dua hal yang terpisah secara
mutlak, meskipun jelas berbeda (distinct), karena masing-masing memiliki struktur, baik fisik
maupun makna, serta krama-nya tersendiri. Pada saat membawa ruang privatnya ke dalam ruang
publik, orang senantiasa sadar bahwa dia harus membatasi atau menyesuaikannya dengan sifat ruang
publik yang dimasukinya. Ruang publik dalam arti yang sunguh-sungguh murni adalah ruang yang
memang tidak boleh dikuasai oleh pihak atau kelompok tertentu siapapun. Karena itu dengan
sendirinya bersifat terbuka, sekuler dan non-partisan. Pentingnya idealisasi ini nampak bila dilihat
dalam perbandingan dengan kenyataan ruang-ruang publik di Jakarta yang senantiasa menghadapi
dua macam jenis teror: menjadi obyek perebutan antar kelompok, atau dilecehkan sama sekali sebagai
ruang sisa, bukan milik siapapun. Sepertinya konsep milik bersama tidak dikenal; yang ada
hanyalah milik seseorang atau kelompok tertentu, sedang dalam erebutan, atau bukan milik
siapapun, jadi sisa atau tidak dikehendaki. Ketiadaan konsep milik bersama telah menyebabkan
kesulitan untuk menghargai ruang-ruang publik untuk digunakan bersama dan karena itu dirawat
bersama, baik dalam arti pasif sekalipun, ialah misalnya tidak mengotori. Justru karena itu perhatian
62

Ditulis untuk diskusi Yayasan Ruang Rupa dengan Apotik Komik dan Taring Padi, di Studio Hanafi, Depok, 14 Juni
2000.
63
A la porte de la maison qui viendra frapper ?/Une porte ouverte on entre/Une porte ferme un antre/
Le monde bat de lautre ct de ma porte. (Pierre Albert Birot, Les Amusements Naturels, p.217, Dikutip oleh Gaston
Bachelard, dalam Poetics of Space).

61
harus diarahkan pada ruang-ruang dan sarana bersama yang sebenarnya telah atau perlu digunakan
bersama sehingga benar-benar muncul rasa memiliki bersama. Misalnya: ruang-ruang publik yang
menempel sebagai halaman pada bangunan-bangunan kelembagaan seperti halaman mesjid dan
halaman gereja; taman di lingkungan perumahan ; jarak-jarak di antara gedung-gedung perkantoran
dan kantin serta juga mall dan pasar! Ini saja memerlukan usaha-usaha perombakan terpadu yang
luarbiasa, baik menyangkut proses/prosedur publik, keahlian yang tersedia di kalangan profesional,
maupun pendidikan penyadaran di kalangan masyarakat luas.
Kualitas ruang-ruang publik di Jakarta, semata sebagai obyek arsitektur sekalipun, tidaklah
menggembirakan, karena justru peran arsitektur dan arsitek sungguhan sangat tipis terlibat dalam
proses pembentukan (konstruksi)nya. Dinamika masyarakat (kondisi dan kebutuhannya) serta
dinamika tempatnya yang sesuai dengan waktunya juga tidak benar-benar menjadi masukan dalam
proses tersebut. Inilah yang jelas nampak dalam banyak keluhan dan konflik yang terjadi mengenai
ruang-ruang publik. Selama berlimpahnya volume pembangunan kota dalam dua puluh tahun
terakhir, kuantitas dan tindakan lebih mendapat perhatian daripada kualitas dan pikiran. Banyak ruang
publik terbangun tanpa memikirkan benar kebutuhan dan penggunaannya, tanpa menerapkan standarstandar yang sesuai, dan bahkan kadang-kadang terjadi tanpa sengaja sebagai ruang sisa atau marjinal
dan ruang utiliter semata.
Ruang publik seperti jalan dan kendaraan umum, misalnya, lebih sering digunakan bersama saja,
karena orang-orang tidak bertemu di dalamnya, dalam arti tidak ada interaksi atau reproduksi sosial
di dalamnya. Di beberapa kota, misalnya Bangkok dan Amsterdam, tidaklah aneh bagi seseorang
untuk berbicara dengan orang asing di kendaraan umum secara cukup akrab. Justru adalah suatu
prestasi bila suatu kota dapat memperbanyak ruang publik yang tadinya hanyalah digunakan
bersama menjadi tempat bertemu bersama. Sarana umum semestinya demikian. Karena itu adalah
salah bila memperjuangkan transportasi umum yang baik karena memihak rakyat kecil, sebab
transportasi umum semestinya untuk semua orang, dan fungsional sebagai ruang terbuka umum
dimana orang bisa bertemu bersama. Dalam skala-skala metropolitan, dimana pertemuan bersama
tidak lagi tergantung kepada lingkungan ketetanggaan, sarana umum yang mempertemukan pluralitas
merupakan perekat yang fungsional.
Ruang publik sebagai tempat pertemuan, sebagai wadah dari tingkat tertentu kebersamaan suatu
masyarakat, merupakan karakteristik utama untuk menggambarkan hakekat ruang publik di dalam
kota. Misalnya oleh Kostof (1992) berikut ini:
...kota-kota dari segala jaman telah menganggap tepat menyediakan ruang terbuka yang
dapat meningkatkan pertemuan-pertemuan sosial dan mewadahi penyelenggaraan
perhelatan publik.
...adalah suatu tujuan; suatu panggung yang dibangun khusus untuk tujuannya, untuk ritual
dan interaksi.
...tempat yang kita semua bebas menggunakannya, sebagai lawan terhadap ruang-ruang
yang dimiliki pribadi seperti rumah dan toko.
Ruang-ruang publik mewadahi kegiatan-kegiatan komunal yang terstruktur festival,
pemberontakan, perayaan, pengadilan umum - ...
Tetapi bahkan sekarang, tempat umum adalah kanvas yang di atasnya perubahanperubahan sosial dan politik dilukiskan. 64
Pluralisme, faham kemajemukan, yang demokratis dalam ruang publik merupakan prasyarat yang
wajar untuk memungkinkan penikmatan kebersamaan terjadi di dalamnya. 65 Karena itu yang

64

cities of every age have seen fit to make provision for open spaces that would promote social encounters and serve the
conduct of public affairs.
is a destination; a purpose-built stage for ritual and interaction.
places we are all free to use, as against the privately owned realm of houses and shops.
Public spaces host structured or communal activities festivals, riots, celebrations, public executions
But even now, the public place is the canvas on which political and social change is painted

62
memerlukan perhatian adalah seberapa besar perbedaan bisa diterima, seberapa jauh toleransi akan
diberikan untuk penikmatan kebersamaan, atau - secara positif - seberapa jauh orang ingin menikmati
perbedaan itu sendiri sebagai berkah. Seberapapun semua perbedaan yang ada, kemungkinan
diperlukan suatu tingkat kesetaraan dalam hal kesejahteraan minimal untuk memungkinkan
kebersamaan yang jujur dan pluralis di dalam ruang publik. Bukankah orang pergi ke mall, misalnya,
untuk bertemu dengan orang-orang yang sama (bukan yang berbeda !) dalam hal kesejahteraan sosialekonomi ini? Bukankah kenyamanan di situ karena tidak terlihat anak dan ibu jalanan mengemis atau
pemuda tanggung mengamen? Bukankah kenyamanan di situ dijamin oleh isolasi demikian rupa
sehingga di dalam mall orang tidak perlu melihat dan tidak perlu menyadari sama sekali apa yang ada
di luar? Mall adalah pembalikan luar-dalam dari ruang publik lazim, memberikan punggungnya
terhadap ruang publik lain, yaitu lapangan parkir dan jalan yang mengelilinginya. Kebersamaan
dengan kesetaraan tingkat kesejahteraan minimal adalah raison detre dan pemberi nilai monumental
dan permanensi ruang publik, serta penjamin keberlangsungannya. Tanpa ini, dan dengan penekanan
imaji di atas segalanya, telah terjadi pemiskinan makna ruang, dan merubah ruang sosial menjadi
reduksi yang fetishistik. Ruang yang tidak memiliki kebersamaan yang mencukupi, tidak memiliki
permanensi, senantiasa terancam kepunahan, dan menimbulkan konflik. Kepadatan penghuni kota,
atau bagian kota di mana ruang publik itu berada, berhubungan penting dengan pluralitas. Kepadatan
penghuni menentukan pemeliharaan keberlanjutan- fisik dan menentukan kepadatan kultural. Ia
adalah jembatan bertemunya kegunaan (fisik) dan makna (sosial kultural).
Ruang publik bersifat hirarkis, baik dalam hal struktur morfologis maupun maknanya. Ruang terbuka
bisa mulai dari halaman rumah (publik secara visual), taman lingkungan, sampai kepada alun-alun
yang monumental dan simbolik pada tingkat seluruh wilayah kota. Kegunaan secara fisik ruang
karena itu tergantung pada aksesibilitas dan keseluruhan posisi morfologisnya di dalam keseluruhan
kota, di dalam bagian kota, dan di dalam lingkungan (perumahan, misalnya). Fragmentasi adalah hal
lain yang berbeda. Fragmentasi adalah situasi di mana potongan-potongan ruang tidak lagi memiliki
hubungan morfologis ataupun makna satu sama lainnya. Bilapun ada prinsip-prinsip struktural di
belakang fragmentasi ini, maka ini bukanlah logika ruang dan makna itu sendiri, melainkan premispremis ekonomi.
Khusus untuk Jakarta dan banyak kota yang memiliki pantai, sebenarnya penting sekali membiarkan
paling tidak sebagian cukup signifikan dari pantai sebagai ruang publik yang terbuka (tidak
membayar, frekuensi dilewati tinggi, dapat laut kelihatan), sehingga ada hubungan yang nyata-nyata
kuat dan sehari-hari antara (kehidupan) kota dan pantainya, sebab pantai adalah tempat dimana ruang
arsitektur publik yang manusiawi berhubungan dengan ruang kosmos yang supra-manusia. Sebuah
kota, yang merupakan produk peradaban yang ultimat, perlu mengingat hubungan dengan kosmos.
Pada banyak kota-kota imperial, seperti Beijing dan Jogjakarta, misalnya, hubungan dengan kosmos
sengaja ditampilkan pada tata letak keseluruhan kota. Pada pantai, hubungan ini dengan serta-merta
hadir dengan sendirinya. Laut dan pesisir adalah juga tempat dan bahkan alsan historis keberadaan
banyak kota-kota.
Ruang publik menjadi suatu lembaga ketika terjadi pengakuan dan konsensus bersama yang cukup
luas mengenai makna dan fungsinya dalam keseluruhan kehidupan masyarakatnya, dan bahkan
merupakan bagian tidak terpisah dari rangkaian atau siklus proses sosial politiknya, dan karenanya
merupakan unsur pembangun struktur kebudayaannya. Dalam keadaan demikian, krama yang
65

Pluralisme harus dibedakan dari populisme secara tegas. Lihat, misalnya gambaran oleh David Marquand, Pluralism v.
Populism, dalam Prospect, June 1999: Pluralism is not a doctrine. It is a disposition, a mentality, an approach. Like most
approaches to politics, it is a matter of feeling as well as of belief. Pluralists rejoice in variety. They are skeptical about
theories Marxism, economic liberalism, globalisation- that presuppose uniformity. Pluralists like the clash and clang of
argument; the monochrome sameness of the big battalions horrifies them; so does the sugary conformism of the politically
correct. Instinctively, they are for the little platoons that Edmund Burke saw as the nurseries of public affections, and
they want to protect them from the homogenizing pressures of state, market and opinion. For them, a good society is a
mosaic of vibrant smaller collectivities trade unions, universities, business associations, local authorities, miners
welfares, churches, mosques, Womens Institutes, NGOs each with its own identity, tradition, values and rituals.
Pluralists know that the disciplines of democracy do not come naturally. They have to be learned; and it is in the little
platoons, in the intermediate institutions which stand between the state and the individual, that we learn them. But the little
platoons are vulnerable as well as precious. Totalitarian states colonise or cripple them, but even well-intentioned
democratic sates, acting in the supposed interests of their peoples, and responding to what they see as the imperatives of
social justice or the free market or efficiency, have a propensity to encroach on them, to curb their freedom of action and to
impose alien norms on them. Dalam arti ini, pluralisme mengandaikan masyarakat warga/madani yang kuat, dengan unitunit kecil sebagai basis organisasi yang memberikan peran besar kepada manusia.

63
dikembangkan untuk ruang publik dapat sangat sophisticated, seperti agora atau forum Yunani,
misalnya. Ruang publik yang melembaga sering telah dibungkus di dalam bangunan, meskipun tidak
selalu demikian. Di sini muncul kesadaran untuk membedakan ruang publik terbuka, yang umumnya
diartikan outdoor dan spesifik-fisik karena itu arsitektural - , yang juga lebih publik sifatnya, dari
ruang publik dalam arti yang lebih generic atau abstrak. Dalam pengertian yang tearkhir ini, ruang
publik dapat dikatakan terbentuk ketika terjadi wacana mengenai mengenai hal-hal atau urusanurusan publik. Ruang ini, meskipun abstrak, telah memiliki struktur pemaknaan dan krama tersendiri.
Seberapa luas dan mendalam struktur dan krama itu tergantung kepada peradaban yang
membentuknya. Ruang publik arsitektural, yang merupakan realitas fisik, senantiasa merupakan hasil
kerja kolektif baik dalam arti sinkronik tipologis maupun diakronik morfologis, meskipun pada
momen-momen tertentu juga selalu terjadi kontribusi individual yang menentukan, misalnya dari
arsitek.
Tidak semua ruang terbuka publik adalah benar-benar publik dalam sejarahnya. Di Itali, misalnya,
dalam keadaan dimana kekuasaan keluarga pedagang dominan (misalnya Doria di Genoa dengan
Piazza S. Mateo), lapangan keluarga itulah yang menjadi ruang terbuka kota tersebut, paling tidak
sebagian besar kota tersebut. Sementara dalam sejarah kolonialisme, orang Spanyol menetapkan
secara hukum (Laws of the Indies) bahwa kota-kota koloninya harus dimulai dengan alun-alun, dan
di dalamnya harus ada suatu tugu yang mencerminkan kekuasaan kolonial Spanyol. Disini juga
tempat pelaksanaan hukuman yang menunjukkan kekuasaan itu. Jadi pembentukan ruang publik dan
kehidupan publik senantiasa terbatas oleh, dan bertingkat-tingkat tergantung pada struktur politik dan
kekuasaan setiap jaman
Ruang-ruang publik berskala raksasa seperti Lapangan Monas tidak pernah benar-benar dipakai
habis-menyeluruh untuk suatu ritual publik apapun. Yang paling sering adalah: ada beberapa ritual
sekaligus mengambil sector-sektor yang berbeda di dalam park yang besar itu. Ini mengingatkan kita
pada rancangan Thomas Karsten untuk Lapangan Monas pada Tahun 1937 yang dengan sadar
melakukan segregasi (tetapi dengan keterampilan yang tinggi, bukan asal-asalan) lapangan itu
menjadi: stasiun, kumpulan lapangan tennis dengan club-house, stadion (mini), kompleks museum
(yang menyerupai yang ada di Yogyakarta, di sebelah sudut Utara-Barat alun-alun), balai pertemuan
dewan kota, lapangan upacara, kantor telepon, tempat kediaman resmi Asisten Residen, dan stasiun
(dengan rel yang diturunkan ke bawah level tanah asli). Yang menarik pada rancangan Karsten ini
tentu saja karena ia mencerminkan liberalisme dan otonomi pada pemerintahan kolonial waktu itu:
semua fungsi-fungsi itu adalah fungsi kota dan kebutuhan warga kota, bukan simbol pemerintah pusat
kolonial. Karsten mengembalikan Koningsplein menjadi milik Kota Batavia, bukan milik pemerintah
pusat kolonial. Karsten memecah-belah monumentalitas represif ruang kekuasaan kolonial menjadi
kumpulan perayaan ruang-ruang sosial yang lebih rileks, madani. Ini tidak banyak disadari - adalah
wajah humanis seorang Karsten yang sosialis. Monumentalitas Karsten, seperti juga kita lihat di Jalan
Ijen di Malang misalnya, bukanlah monumentalitas yang represif baroque, melainkan
monumentalitas yang mengingat(kan) alam, yang dipatah-patahkan menjadi berskala menengah,
dan yang sekaligus mengandung lapisan intim (jalur kaki lima yang tersembunyi di belakang
monumentalitas pohon palm besar). Monumentalitas Karsten adalah suatu simpul dalam tekstur sosial
yang dipercayainya harus ada bagi ruang kota agar memperoleh maknanya. Ruang adalah ruang.
Ruang bukan latar bagi obyek (seperti yoni bagi falus). Ruang adalah subyek itu sendiri: sosialitas
adalah subyek itu sendiri, bukan latar bagi kekuasaan penyetir lain.
Kalau kita melihat lapangan Monas sekarang, seketika terasa keganjilan antara monumentalitas obyek
falus di tengah (sentral!) dengan fragmentasi (bukannya yoni yang serba terbuka dan menyatukan) di
sekelilingnya, yang tidak dapat mencegah kita berpikir adanya mediasi yang hilang antara keduanya.
Nyatanya monumentalitas sentralistis Lapangan Monas (waktu itu Koningsplein), meskipun tanpa
obyek falus, telah diusulkan pertama kali sebenarnya pada Tahun 1892, yaitu pada saat puncak
kekuasaan sentralistis kolonial, sebelum menuju politik liberal dan desentralis (Politik Etik). Usulan
inipun sebenarnya hanya memperkuat kenyataan di lapangan. Apakah disain Lapangan Monas
sekarang merupakan realisme sosial-politik kita, dimana falus sentral diberi latar sekadarnya di
sekeliling/lingkaran dalamnya, sementara sekeliling luarnya seolah-olah mau akomodatif terhadap
realitas sosial yang porak poranda?
Khalayak dan Pemirsa, Pemesan (client) dan Kolektor: Arsitektur dan Seni

64
Seniman ingin menampilkan karya di ruang publik, atau memwacanakan ruang publik, karena
terdapat kerinduan mendasar dari seniman untuk berinteraksi dengan khalayak. Karena ada hasrat
dari seorang pencipta, yang esensial untuk kelangsungan pilihan hidupnya, untuk menghadapi
tantangan, menghadapi kecermatan khalayak paling tidak pemirsa- yang lebih luas. Ia ingin
berkomunikasi luas. Ini memerlukan ruang. Semua aspek kehidupan mengambil tempat terjadi - di
dalam ruang, atau meng-ekspresi-kan dirinya di dalam ruang. Seni adalah aspek kehidupan yang
sangat fundamental, karena hanya mungkin dikembangkan oleh manusia untuk memenuhi rasa
keindahannya, renungannya, sikap kritisnya, memwacanakan kebersamaannya. Meletakkan seni di
dalam ruang publik berarti juga memperluas keterjangkauan manusia terhadap keindahan. Usaha
seniman memperluas pemirsanya selalu dalam arti keinginan mencapai khalayak, yang harus
dianggap sebagai horizon yang utopis, yang nun-jauh di sana, yang bila didekati selalu menjauh, tidak
pernah tercapai. Hal ini telah dilakukan misalnya dengan membuat seni etsa yang dapat diperbanyak
secara mudah, mengeluarkan musik kamar menjadi musik gedung dan kemudian musik stadion (sejak
generasi 60an), musik tv, novel menjadi cerpen, patung kecil menjadi patung besar di dalam ruang
umum, dan seterusnya.
Khalayak historis tentu saja tidak pernah utuh, paling tidak setelah apa ayng disebut akal ditemukan
secara sadar. Khalayak telah menjadi fragmen-fragmen baik dalam arti waktu, ruang, maupun sosial.
Mungkin yang ada adalah pemirsa saja, sebagai padanan kata untuk fragmen-fragmen khalayak
itu, baik dalam arti temporal maupun sosial.
Berlainan dengan seni kriya (craft) dan arsitektur, senirupa tidak perlu memiliki atau tergantung
kepada klien yang memesan. Ini adalah hal yang sangat berharga dari senirupa. Sedangkan makin
murah proses penciptaan karya seni, makin bebas pula dia dari ketergantungan pada pemesan/klien.
Senirupa memiliki kolektor, bukan pemesan. Ketegangan selalu terjadi antara pemesan dan pemirsa
(yang selalu mau diperluas atau dianggap menjadi khalayak).
Arsitektur hampir tidak mungkin diciptakan tanpa pemesan. Pengabdiannya kepada pemesan sulit
disalahkan. Yang menjadi tantangan adalah keseimbangan antara pegabdian itu dengan komunikasi
dengan pemirsa atau khalayak yang sebenarnya selalu merupakan sesuatu yang lebih dikehendaki
oleh si arsitek itu sendiri. Seringkali memang arsitek itu lebih memecah-belah masyarakat,
meskipun mengandung komunikasi keindahan yang menurut Schiller sebetulnya senantiasa
mempersatukan manusia. Sebab arsitektur selalu mengandung kontradiksi-kontradiksi yang
menyebabkannya tidak dapat berkomunikasi murni mengenai esensi keseniaannya, ialah ruang
berbentuk. Karena itu arsitektur minimalis pun sulit mencapai tingkat semurni seni rupa, karena
ternyata proses konstruksi yang dituntutnya memerlukan keterlibatan kapitalistik yang luar biasa.
Sedangkan arsitektur yang makin meluas atau kolektif obyeknya misalnya perumahan rakyat atau
perancangan kota- pada dasarnya memperbesar tumpang-tindih pemesan dan khalayak. Pada
hakekatnya, memang arsitektur adalah seni yang sangat publik secara tidak terhindarkan: mulai dari
bangunan tunggal sampai kompleks perumahan, ruang-ruang di antara semuanya, dan kesatuan kota
itu sendiri. Ini tetap saja perlu diingatkan lagi, bukan untuk memenuhi ego para arsitek, tetapi untuk
menyadarkan kita kembali, bahwa sehari-hari kita sebenarnya (sudah) bergelimang dengan budaya
material yang POTENSIAL memberikan kita kepuasan batin dan fisik melalui estetika dan artistika.
Dan budaya material yang namanya arsitektur itu tidak perlu diada-ada-kan lagi, tidak perlu
diprogramkan lagi, karena dengan sendirinya harus ada sehubungan dengan NILAI GUNANYA.
Tetapi setelah jaman pembangunan, semua itu belum terpenuhi. Setiap hari terbentuk bangunan
yang buruk rupa. Ruang terbuka kota kita seperti barang sisa yang tidak tersentuh budaya. Jalan dan
kakilima kita menyebalkan kita setiap hari rata-rata selama 3 jam. Halte bus, lampu jalan, lampu lalu
lintas dan perlengkapan lainnya membuat gatal mata. Arsitektur sebagai seni yang paling publik
bukannya tanpa masalah. Dan ini makin membuatnya mendesak untuk dikemukakan lagi statusnya
sebagai seni publik.
Dalam jaman serba terbatas sumber daya ini, hasrat kita akan senirupa dapatlah pertama-tama berupa
suatu RASA kesenirupaan dan keindahan, yang dapat dan seharusnya diterapkan atau mewujud
pada dunia benda-benda yang lebih profan sekalipun, yang bernilai praktis dan publik sekalipun,
seperti arsitektur (kota) misalnya. Public arts harus merupakan suatu spirit yang merasuki semua
budaya material kita, terutama yang publik (arsitektur !) Arsitektur memiliki peran khusus karena ia
memberikan ruang untuk seni lainnya. Arsitektur kota memberikan ruang untuk seni umum kota.
Sementara itu ke-publik-an juga bukan monopoli genre kesenian tertentu. Ke-publik-an adalah

65
sikap kesenian yang menginginkan keterjangkauan yang merakyat. 66 Sementara itu, Ruang terbuka
kota sendiri secara kategoris menjadi suatu genre senirupa dalam kasus Kota Barcelona ketika merevitalisasi diri dalam urban projects menyambut Olimpiade 1992.
Pencapaian tertinggi bagi arsitektur adalah pada saat ia mencapai tingkat seni murni, atau ekspresi
murni, dibebaskan dari guna. Ini hanya tercapai, idealnya, pada monumen atau kuburan (Aldo
Rossi). Tetapi apakah senirupa (murni) sendiri dapat juga mencapai pembebasan seperti itu? Ideal
yang bisa dicapai adalah bila karya seni dikerjakan tanpa pesanan. Dapatkah senirupa publik dibuat
tanpa pesanan ? Pertanyaan ini membawa arsitektur dan senirupa publik lebih dekat satu dengan
lainnya, lebih daripada yang dapat dibayangkan sebelumnya. Para arsitek sebenarnya adalah seniman
yang paling menderita, karena paling kecil otonominya dibandingkan dengan seni(rupa)wan yang
lain. Senirupawan mestinya tidak demikian. Tetapi meletakkan senirupa ke dalam ruang publik,
menyebabkannya harus berhadapan dengan selera publik, dengan misi dan visi birokrat dan
politisi, dengan pihak sponsor, dengan proses produksi ekonomi pasar, dan dengan ruang
arsitektur yang dirinya sendiri telah menderita di bawah tekanan yang sama. Perlu dipikirkan cara,
instrumen, lembaga, untuk melindungi senirupa publik dari imperatif sistem itu semua secara
maksimal, sehingga senirupa tetap dapat (murni) memberikan kita kebahagiaan batin yang sublim,
yang menyatukan kita semua karena keterharuan estetik, bukan memecah-belah kita seperti yang
dilakukan oleh arsitektur. Saya belum yakin kita sudah mempunyai kesadaran, sikap, dan instrumen
yang siap dan memuaskan mengenai masalah perlindungan otonomi senirupa ini.
Bagian signifikan senirupa publik adalah senirupa urban. Sedangkan urbanitas di Indonesia serta
merta adalah modernitas, karena bagian terbesar pengalaman bangsa kita akan urbanitas terbentuk
intensif oleh gelombang modernitas dalam limapuluh tahun terakhir. Realitas yang dipersepsi adalah
bahwa paling tidak segala sesuatu yang lebih modern ada di kota-kota. Cahaya kota telah menarik
jutaan migran ke kota setiap tahun. Jadi harapan agar senirupa publik kita merenungkan urbanitas dan
modernitas adalah suatu kewajaran saja. Yang tidak wajar adalah bila terasa kurangnya apresiasi
kesenirupaan kita mengenai dua fenomena dan pengalaman yang dasyat dan saling terkait itu.
Kualitas karena itu dapat juga dilihat pada sejauh dan sedalam apa karya senirupa mengembangkan
refleksi kritis atas keduanya. 67 Hubungan antara seni publik dan (arsitektur) kota bukan hanya
hubungan geografis-tempat, tetapi juga hubungan kultural-inspirasional. Ini kurang digali, dan sejauh
dapat diamati, sangat mengecewakan. Kalau boleh membandingkan: misalnya seni rupa modern di
Eropah seratus persen urban, kecuali Inggeris, yang barangkali terlalu sibuk dengan pemandangan
alam. 68 Yang urban adalah sekaligus modern. Karena pengalaman urban adalah pengalaman modern.
Namun, senirupawan Indonesia baik karena keterpaksaan sistem (ekonomi) maupun karena mencari
kualitas hidup yang mendukung penciptaan, telah tanpa sengaja menjadi pendukung suburbanisasi
atau de-urbanisasi.
Ada banyak perdebatan mengenai definisi dan asal-usul tradisi perkotaan Indonesia, kalau ada.
Legenda, mitos, pengaruh banyak ditemukan dari masa yang jauh lampau. Tetapi fakta kota, realitas
fisik yang mencatat dan merekam, dan meneruskan secara serta merta dari generasi ke generasi
pengetahuan mengenai bagaimana cara-cara yang baik bagi masyarakat hidup di kota-kota, sangat
erbatas dalam arti jumnlah maupun kedalaman historis. Apa yang ada nampaknya harus dicari hampir
seluruhnya di masa kini. Pada saat yang sama, ada tantangan-tantangan mendasar yang harus dijawab
terghesa-gesa. Masa kini menawarkan segalanya. Segalanya harus dijawab kini. Hampir tidak ada
yang namanya preseden.
66

Seni sastra menjadi public ketika kaum modernis awal Rusia mengarang cerpen yang mudah diperbanyak dan
terjangkau oleh masyrakat luas. Seni lukis menjadi public ketika dijadikan cetakan (etsa, tukilan, dlsbnya) sehingga dapat
diperbanyak dan dinikmati orang banyak dengan murah. Seni patung menjadi public ketika dipindahkan keluar gallery.
Henry Moore dan Barbara Hepworth, dua pematung utama Inggeris, menjadikan seni patung bagian tidak terpisahkan dari
public space ketika memulai patung modern yang memang untuk maksud demikian. Seni instalasi, seni peristiwa,
merayakan publicness itu sendiri sebagai bentuk kesenian. Seni teater dan tari menjadi umum ketika diperagakan secara
merakyat di tempat umum. Seni musik menjadi public ketika keluar dari kamar, melalui gedung pertunjukan, sampai ke
panggung terbuka. Landscape design adalah seni yang sangat public, bahkan yang di halaman rumah orang per-orang
sekalipun, apalagi yang ditengah-tengah ruang terbuka kota.
67
Ini tentu saja tanpa mengabaikan apa tidak perlu diungkit lagi, tentu saja, yaitu kualitas dalam arti teknis: kesempurnaan
proses, integrasi antar berbagai benda budaya material yang hadir bersama pad ruang yang sama, dan sebagainya.
68
Peter Hall dalam Cities in Civilization (Oxford, 1998) mencontohkan Berlin yang mencapai periode emas (1920-1935,
kurang lebih) ketika ia bercirikan antara lain terjadinya cross-fertilisation dari berbagai bentuk kesenian yang urban dan
modern.

66
Karena dunia makin menjadi tidak berbatas, maka dialog nampak sekali akan mengambil modus dan
bentuk baru. Ekuasi lama bahwa yang modern adalah yang Barat telah lama usang, baik di mata Barat
maupun Timur. Tradisi sudah tidak lagi secara sederhana di-asosiasikan dengan Timur yang mistik
dan eksotik. Modernitas dan modernism tidak lagi tunggal. Dunia makin sadar akan keberadaan
modernitas dan modernisme yang majemuk sebagai pengalaman dan tanggapan kontekstual. Pada
saat bersamaan, modernisasi menampakkan diri sebagai proses yang membawa masalah/tantangan
secara terus menerus baik kepada Barat maupun Timur, negeri maju maupun negeri terbelakang, yang
urban maupun yang kampung,yang Islam maupun yang kristen, kepada semua orang singkat kata.
Tantangan itu hadir dalam konteks tempat dan sejarah yang berbeda-beda; dan pasti tidak ada
keraguan bahwa persepsi kepadanya, sebagiamana juga tanggapan terhadapnya, akan berneda-beda.
Ini saja bukan lah alasan untuk saling memalingkan muka, tetapi justru merupakan alasan untuk
bertukar pandangan. Dan ada kesamaan untuk memulai secara konkrit dan produktif : kotalah tempat
dimana semua itu terjadi paling intensif. Pengalaman akan urbanitas adalah serta-merta modern,
sementara pengalaman akan modernitas tidak mungkin lengkap tanpa mengalami yang urban.

67

Sukarno and the Architecture of the City

69

The most physical of all Sukarnos legacy is the architecture of the city of Jakarta.
This year, on his 100th birthday, the most mental of all current artistic challenge in the city is how to
physically represent him in a memorial plaza within the premise of Gelora Bung Karno sport complex
in Senayan, which was only recently renamed after him. Seven groups of sculptors, landscape
designers and architects have participated in a limited competition. The available choice for the jurors
seems to be yet limited to somewhere between uninspiring realism and unfulfilling expressionism.
The sport complex itself is but one of many Sukarno inspired projects that shaped the architecture of
the city of post colonial Jakarta. Architecture must here be understood as the form not of buildings
but the city itself. In 1960s he laid down the coup de matre (master stroke) of present-day Jakarta by
introducing a set of structuring elements of buildings and monuments on strategic locations and, most
importantly, the Thamrin-Sudirman avenue that ties most of them together into a coherent new image
of modern Jakarta. The avenue developed into the most well-known axis of identity of the whole
metropolis Jakarta today. Running North-South, it continues the pre-existing colonial growth
direction from the Old Batavia, through Gajah-Mada/Hayam-Wuruk high streets to the Independence
Park (MONAS Square), and together summarise 400 years of urban history.
The avenue links the old, inherited centre of Independence Park to the new satellite town Kebayoran
Baru (c.1950). When built, it was a completely new type of urban space: a string of modernity of
comparably vast scale and fast mobility.
With the National Monument (MONAS, 1962-1966) Sukarno, once and forever, fixed the centrality
of the Independence Park. Bank Indonesia building by Sukarnos favourite architect Silaban, who
also designed Istiglal Mosque, flanks the northern tip of the avenue. Further south is the Sarinah
building (1963), the first department store in the country. A roundabout breaks the avenue midway to
the Semanggi clover-leave interchange. Surrounding it one finds Hotel Indonesia (1962) that gives
the roundabout its name, Hotel Asoka where Plaza Indonesia now stands, and Wisma Nusantara
(designed approved on 1 April 1964).
Hotel Indonesia is saved from being another example of the International Style, as it faintly shows
whatever left of early 20th century Art-Deco sensitivity. Moreover, Sukarno, as he did also to
69

The Jakarta Post, June 2001

68
Ambarukmo Hotel in Yogyakarta, Bali Beach Hotel, Samudra Beach Hotel in Pelabuhan Ratu and
presidential palaces in Bogor, Cipanas, and Tampak Siring, made a difference: he adorned them with
many commissioned paintings, mural paintings, sculptures, relieves and mosaics. He was also
directly consulted for approval on the master plan of Atmajaya Catholic University by the Semanggi
interchange, as its senior architect, Han Awal, recalls.
Not quite along the axis, Sukarno also commissioned other buildings such as Gedung Pola on the
place where his own residence once stood and he and Vice President Hatta proclaimed independence.
A water front development of Ancol was already envisioned in 1962.
Sukarno was indeed trained as an architect. He did design a few houses in Bandung. But his career in
this field was short-lived.
With Jakarta becoming the permanent seat of national government, he had the opportunity to play
architect again this time with authority and on much larger scale- and subject architecture to a
function of nation and character building. He was to build a capital city for the leader of the new
emerging forces. Not merely functional, but beautiful as well.
His involvement was intense, ranging from scrutinising proposals, approving some, engaging in
active discussions, judging competition entries, to suggesting concrete forms with sketches.
His instruction on city planning to Henk Ngantung, the then artist governor of Jakarta, in 1959, was:
happiness is achieved when basic needs are fulfilled in an environ of beauty; therefore a
development plan must include also a plan of beauty. His instruction to another governor, Ali
Sadikin, in April 1966, was more mundane; but nevertheless indicates an understanding of the
modern concept of urban management: .. a mayor should as well, first and foremost, know about
how to make a city clean, more than just about governing..
The monumental statues which he studded Jakarta with - on strategic locations - create landmarks
that, together with the avenue and a framing inner ring-road (1960-1964), make intelligible what
would otherwise be an unperceivable, chaotic metropolis. The inner ring road itself was selected out
of a more comprehensive Outline Plan prepared by a UN-sponsored team in 1957, putting aside
many other programmes in it unrealised. The Semanggi interchange connects the avenue and the ring
road that leads to the sport and parliamentary sites in Senayan.
The sites were originally planned as a unified whole of 270 hectares. They were to initially host Asian
Games IV and Games of the Emerging Forces (GANEFO) and the Conferences of the New Emerging
Forces (CONEFO) in the present-day parliament buildings. They are the most ambitious and
perhaps the most useful as well- of all Sukarnos architectural projects. They also made many others
necessary to support them. Therefore, we wonder why the name Gelora Bung Karno does not cover
the totality of both sites, instead of just the sport complex. The whole 270 hectares would sound good
and functionally work well as the Sukarno Peoples Park. A connecting axis between the two across
Jalan Pemuda should perhaps be built. It was indeed suggested in the original plan.
As a Bung Karno memorial plaza is being designed for the park we may reflect whether or not
projecting his (historical) values and spirit are more important than his persona. In 1962 Asian Games
IV, Indonesia secured the second place after Japan. This is no small historical footnote, if you
consider that a currently proposed project to elevate Indonesia to the sixth rank in Asia would require
an annual budget of 100 billions rupiahs for six consecutive years. In 1962 Indonesian athletes had
only the Sukarnos spirit and rhetoric to drive their adrenaline.
We need also to restate our commitment. We have moved statues in the past. We have vandalised
some. We have also demanded destruction of some. Can we guarantee that a representation of
Sukarno will not be moved by the next regimes, or by the next commercial interests of any sort? We
know one fundamental answer to that question: Indonesians should see the great Bung (Brother) first
and foremost not as a symbol of a certain political ideology, but as a spirit of a leaders total and
devoted love for his people and country, of the struggle for independence, the creation of a united
nation that we comfortably inherited and should now, perhaps, work harder to maintain.

69
Architecturally, as a minimum assurance, we need to see a master plan adopted that shows a clear
logic of how the memorial plaza, and each of everything else, belongs to a permanent location and
occupies a respectable space and environs.

70

Bung Karno dan Kehidupan Publik


Jakarta70
Tentu saja warisan Bung Karno untuk Jakarta bukan hanya Gelora Bung Karno. Di dalam kawasan
Senayan sendiri, banyak unsur selain Gelora Bung Karno yang merupakan warisan beliau --langsung
atupun tidak langsung, tergantung dari sisi mana kita memandang. Di seluruh Jakarta, banyak warisan
beliau dari Utara sampai Selatan. Terdapat juga ide-ide yang belum terwujud atau terwujud akhirnya
dalam bentuk lain, misalnya pengembangan Ancol.
Yang lebih penting lagi adalah fakta bahwa warisan-warisan terbangun itu sebagian besar secara
menyolok menyumbang pada pembentukan struktur Jakarta, membentuk dan memperkuat untaian
yang disebut primary element kota Jakarta: poros Utara Selatan metropolis tersebut. Poros ini
penting secara historis karena merupakan kenangan kolektif, penting secara morfologis karena
membuat bentangan metropolis Jakarta terbaca dan dapat dipahami dengan logis, dan penting secara
fungsional karena membuat metropolis Jakarta berdenyut. Inilah monumen sesungguhnya kota
Jakarta, karena bukan saja terdiri dari bentuk yang yang monumental, tetapi karena berisi dan mengisi
kenangan kolektif warga Jakarta dan bangsa Indonesia. Setiap unsur dalam untaian ini, uniknya, juga
merupakan primary element tersendiri, karena ukuran, karakter dan sejarahnya.
Primary elements itu sampai sekarang tidak tertandingi, meskipun Jakarta membangun lebih dari dua
kali lipat dalam kurun tiga dasawarsa lebih setelah warisan Bung Karno itu dibangun. Nampaknya
akan demikian sampai kapanpun. Hal ini bukan saja disebabkan oleh tidak produktifnya empat
dasawarsa terakhir dalam membangun monumen; karena monumen yang seolah-olah terbangun
umumnya kosong tak berisi dan tak mengisi kenangan kolektif secara kuat.
Monumen hanya dapat berperan (bukan berfungsi) sebagai monumen sungguh-sungguh bila
merupakan bebrayan (atau commons). Dan bebrayan adalah syarat bagi adanya kehidupan
bersama. Tetapi bebrayan yang dibangun begitu saja tidak serta merta akan membangun kehidupan
bersama. Sebab ada syarat lain: rasa memiliki (sense of belonging). Karena itu pertanyaan tentang apa
yang dibangun selalu penting: apakah itu memang sesuai dengan keperluan dan kehendak warga
kota? Selain itu, belakangan ini orang menemukan bahwa rasa memiliki dapat dibangun melalui
proses pengambilan keputusan yang melibatkan stakeholders, yaitu yang disebut proses partisipasi.
Dalam hal ini maka disadari bahwa proses partisipasi bukanlah terutama sebuah tujuan politis,
melainkan suatu proses atau alat untuk membangun kehidupan bersama. Dalam bahasa Undangundang Dasar kita, ia adalah alat untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Maka pengingkaran
terhadap proses partisipasi adalah pengingkaran terhadap tujuan kehidupan berbangsa dan bernegara
kita. Proses partisipasi adalah alat membangun simetri pengetahuan antara masyarakat awam dan elit,
baik elit politik, elit keilmuan, maupun elit ekonomi.
70

Catatan ditulis sebagai penyerta pada seminar Gelora Bung Karno dalam persektif Nation And Character Building
di masa kini dan Masa datang, 18 Desember 2002 di Wisma Serba Guna Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta,
diselenggarakan oleh Yayasan Bung Karno dan Badan Pengelola Gelora Bung Karno. Menyertai catatan ini adalah sebuah
presentasi powerpoint yang dapat diperoleh melalui permintaan langsung kepada Yayasan Bung Karno.

71
Ruang terbuka hijau adalah salah satu bebrayan yang penting bagi kota mana saja, apalagi kota
metropolitan Jakarta. Sebabnya ada banyak: ekologis, estetik, dll. Tetapi yang sekarang menjadi
masalah besar dan mendasar di Jakarta dan --dari kesan mengunjungi kota-kota lain di Indonesia dari
Solo sampai Kendari, dari Palembang sampai Baubau-- juga di banyak kota lain di Indonesia, adalah
degradasi kehidupan bersama di dalamnya. Isinya. Apakah isinya berhubungan dengan bentuknya?
Alih-alih GBK, saya ijinkan saya menggunakan Sejarah Lapangan Merdeka atau MONAS sebagai
contoh untuk memberikan beberapa kunci pemahaman.
Lapangan ini, setidaknya beberapa tempat di dalamnya menjadi pasar rakyat ketika masih merupakan
milik partikelir. Tanpa pusat. Usaha memusatkannya di abad ke 19 dengan pola jalan radial
rancangan Dr. Treub dari Kebun Raya Bogor waktu itu gagal.
Di awal abad ke-20 Pasar Gambir merupakan kegiatan yang popular di sudut Selatan menghadap ke
Jalan Agus Salim sekarang. Pasar ini malah menjadi lokus eksperimen arsitektur indische oleh para
arsitek Belanda ketika itu,yang sebagiannya mengajar di sekolah tinggi teknik di Bandung (sekarang
ITB) . Memang ada stratifikasi yang tajam di antara para pengunjung, yaitu antara warga eropa dan
pribumi pada waktu itu. Tetapi mereka berada bersama di Pasar Gambir dengan cara mereka masingmasing menikmatinya. Dalam masa itu Pasar Gambir adalah peristiwa yang popular dan penting
dalam kalender kota Jakarta.
Jakarta Fair di jaman Pak Ali Sadikin dapat dikatakan mengulangi sukses menjadikan Lapangan
MONAS sebagai ruang sosial bersama yang utama bagi orang Jakarta. Orang-orang dari berbagai
kelas dan latar belakang datang; dan ia menempati posisi penting dalam kalender dan peta mental
orang Jakarta. Ia bukan terutama peristiwa ekonomi, melainkan peristiwa civic.
Di akhir tahun 80an Jakarta Fair menjadi atau dijadikan besar, internasional. Berakhirnya masa Ali
Sadikin dilanjuti dengan mulainya masa developmentalisme yang ekspansif, yang memuncak ke
tahun-tahun sebelum krisis, ketika balon yang sudah ditiup terlalu kencang itu pecah.
Dan atas dasar itu, Jakarta Fair dianggap tak lagi dapat ditampung di Lapangan MONAS, serta
mengganggu keadaan di sekitar MONAS itu sendiri. Asumsi ini didasarkan pada dua hal: 1)ideologi
ekonomi pembangunan kota pada waktu itu yang selalu ingin membuka (supply) lahan baru (di
Kemayoran), dan 2) paradigma perencanaan kota yang tidak mampu mengelola kepadatan dan
cenderung menipiskan kepadatan karena tidak mempunyai imajinasi spasial-arsitektur, dan merasa
lebih mudah menari dengan irama genderang ekonomi. 71
Akibat dari pemindahan itu: Jakarta International Trade Fair (?) di Kemayoran tak lebih dari suatu
pertemuan para pedagang semata, tak menjadi ruang sosial sama sekali.

71

Richard Rogers (arsitek, mantan ketua Urban Task Force Inggeris, sekarang anggota Komisi Dunia untuk
Agenda 21) menggambarkannya demikian: .low density layoutsare the result of limited vision and poor
spatial skillsThey represent the cheapest and least challenging response to the potential of planners,
architects and politician. (FOYER, Journal for Urban Development, June 2000)
Sisa-sisa kedua episode itu masih berlanjut hingga sekarang. (Inilah yang mengkhawatirkan!
Kritikus seperti saya hanya bisa berharap bahwa reformasi hendaknya membawa angin baru juga kepada
episode historis Jakarta). Pada yang pertama, misalnya, sementara ruang-ruang kosong nyata sekali di pusat
kota Jakarta (akibat spekulasi yang didorong oleh korupsi birokrasi), tetap saja ada ambisi yang tak masuk akal
untuk memproduksi supply baru (pantai utara), tanpa disiapkan perangkat tata-ruang/tata-guna-lahan yang lebih
baik, yang mampu mengendalikan harga tanah dan kualitas lingkungan serta reformasi yang lebih fundamental
untuk menyediakan hunian terjangkau bagi kelas menengah dan menengah bawah. Pada saat yang sama, ruang
hijau diubah menjadi fasilitas komersial (Pacuan Kuda Pulo Mas), yang bila dijadikan perumahan bisa lebih
dapat diterima karena demand yang jelas.
Pada yang kedua, misalnya dalih urbanisasi (maksudnya: migrasi penduduk dari luar ke dalam
Jakarta) masih dianggap sebagai sumber segala masalah. Padahal semua sejarah dan fakta di seluruh dunia
sudah membuat pembalikan paradigma menjadi sustainable urbanisation. 71 Yang harus direncanakan adalah
upaya terciptanya keseimbangan antara tingkat pertumbuhan ekonomi sebuah kota dengan tingkat pertumbuhan
penduduknya, sehingga atas dasar itu tercapai keberlanjutan bukan saja ekonomi, tetapi juga SOSIAL dan
LINGKUNGAN. Jakarta sejak dulu selalu memiliki tingkat pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi dari tingkat
pertumbuhan penduduknya, juga lebih tinggi daripada tingkat pertumbuhan ekonomi nasional dan banyak
daerah lainnya.

72
Sedang Lapangan Merdeka ditinggalkan sebagai sebuah lobang kosong yang besar. Lobang
Kosong ini menjadi no mans land yang lalu menjadi lahan perebutan oleh antara lain parkir Balai
Kota dan pedagang kaki lima, entah mana yang lebih baik. 72
Sedangkan jawaban pemerintah kota hanyalah sterilisasi yang simplistis, sama sekali tidak kreatif
dan berwawasan sempit.
Sekarang PK5 akan dibatasi, sedang kendaraan parkir tidak dikurangi, malah mungkin akan
bertambah karena digusurnya PK5, dan keharusan untuk memasuki Lapangan ini hanya dari satu
pintu, yaitu lapangan parkir Medan Merdeka Selatan. Saya tidak tahu ideologi apa ini. Mestinya
bukan nasionalisme, sebab saya mengertikan nasionalisme mengandung maksud mencerdaskan
bangsa untuk bersaing secara bersama-sama dalam suatu kehidupan yang berkelanjutan. PK5 yang
menghidupi keluarga digusur; sedang mobil yang mempolusi udara yang dihirup bersama malah
makin diakomodasi. Ini bukan saja tidak adil, tetapi tidak berkelanjutan secara ilmu lingkungan.
Penolakan becak adalah juga sesuatu yang konyol, ketika seluruh dunia berusaha keras
mengembangkan kendaraan tak bermotor, termasuk yang bertenaga pedal. Lihat misalnya website
dari manca negara, Denmark (Copenhagen), misalnya: cykeltaxa (www.cykeltaxa.dk;
kbh@cykeltaxa.dk), Quickshaw (www.quickshaw.biz; bestil@quickshaw.biz) dan Copenhagen
Rickshaw (www.rickshaw.dk; info@rickshaw.dk)
Lebih buruk lagi: sampai sekarang kita tak tahu macam kehidupan bersama yang akan dibentuk di
situ. Tak ada konsep yang dinyatakan kepada khalayak. Tak ada pembicaraan luas. Satu-satunya
rencana yang ada telah dituangkan dalam Keputusan Presiden pada tanggal 9 Januari 1993. KEPRES
ini belum pernah dicabut, dan terwujud melalui proses panjang yang antara lain mencakup konsensus
berbagai pihak, termasuk Prof. Muh. Danisworo dan Prof. Slamet Wirasonjaya, pakar yang mewakili
lembaga terhormat Institut Teknologi Bandung, tempat dulu Bung Karno pernah belajar.
Pada saat ini berbagai tindakan dilakukan terhadap Lapangan Merdeka tanpa ada masterplan yang
komprehensif, konseptual, dan berdasarkan due process, melainkan berdasarkan potonganpotongan ide yang tidak seluruhnya cerdas dan otoriter.
Sejauh menyangkut Lapangan Merdeka, kita melihat praktek yang sangat buruk dari bad
governance, bahkan lebih buruk dibandingkan dengan jaman Orde Baru, yang justru pada penataan
Lapangan Merdeka ini telah berupaya melakukan praktek good governance, meskipun belum
sepenuhnya memuaskan. Bagi saya, yang memuaskan adalah sayembara yang melibatkan pameran
terbuka kepada masyarakat, dengan didasarkan suatu Terms of Reference yang matang dan
komprehensif.
Lapangan Merdeka bukan satu-satunya ruang terbuka hijau atau ruang publik lainnya yang
mengalami nasib degradasi menjadi nomans land, tetapi tidak semuanya harus dijawab dengan
sterilisasi sebagai akibat keterbatasan imajinasi dan profesionalisme dalam manajemen perkotaan.
Ketika terjadi perubahan struktur ekonomi dan sosial, maka dimana saja akan terjadi perubahan
dengan kehidupan publik yang berdampak, antara lain pada penggunaan ruang publik. Eropah
Barat, setelah Perang Dunia kedua mengalami hal yang sama, dan menjawabnya dengan suatu
kebijakan yang serius dan konseptual, disebut animasi. Banyak ahli 73 pada saat ini merasa bahwa
diperlukan lagi pemikiran ulang terhadap ruang-ruang terbuka di Eropah, yang beberapa inovasi telah
antara lain diterapkan pada penataan Barcelona yang justru masih banyak belajar dari kebijakan
animasi itu.
Selain sterilisasi, Maarten Hajer misalnya khawatir akan tiga bahaya kebijakan tak-sadar yang
salah, yaitu: parokialisasi, fungsionalisasi, dan estetikasi.
Mudah-mudahan Gelora Bung Karno, dan kawasan Senayan seluruhnya tidak mengalami nasib yang
sama. Mudah-mudahan SEMUA ruang publik di Jakarta tidak mengalami nasib yang sama!
Yang diperlukan adalah keinginan politik untuk berwawasan luas dan menangani sesuatu secara
mendalam, bukan asal-asalan, dan kemampuan untuk mengorganisasikan kemampuan terbaik yang
ada di bangsa ini, melalui praktek good governance.

72
73

Tidak dipungkiri bahwa ada kegiatan warga rekreasi di pagi dan sore hari, terutama di hari Sabtu dan Minggu.
Antara lain: Maarten Hajer, In Search of New Public Realm(2001) dan Colin Rowe, Civic Realism (1999).

73

BAB 4:
KOTA DI DALAM SENI, SENI DI
DALAM KOTA

74

Urbanitas Indonesia: Sebuah Proyek


Berjalan Tanpa Cetak Biru.74
Begitu banyak perubahan nampak terjadi di kota kontemporer Indonesia dalam dasawarsa
terakhir, namun begitu samar apa yang akan dihasilkannya, atau ke mana mereka akan bawa
masyarakat Indonesia ini. Sementara itu, bencana tsunami di Banda Aceh dapat menjadi
sebuah pelajaran yang membekas lama mengenai alam dan budaya bermukim, yang
menghentak, membawa kesadaran kita kepada awal mula kelahiran suatu tempat sebagai
permukiman manusia, atau ia dapat menjadi sebuah rekonstruksi yang amat singkat dan
terburu-buru, dan hanya jadi dongeng yang seru dikisahkan, tergantung bagaimana kita
merenungkannya. Lepas dari itu, sekedar melaporkan kemunculan arus-arus baru, yang
punya aspek umum dan khusus pada saat bersamaan, merupakan hal yang menyenangkan.

1. Kami Ingin Perubahan: Kebangkitan Masyarakat Sipil Perkotaan


Karena akar-kata untuk kata civil (civilis dalam bahasa Latin) dan kata city, (civitas
dalam bahasa Latin) adalah sama, yaitu civis (masyarakat), maka penyebutan masyarakat
sipil perkotaan sebetulnya bisa jadi berlebihan kecuali bila kita menanggalkan impian
bahwa apapun yang sipil adalah bersifat kota dan, sebaliknya, apapun yang terkait kota
mestilah bersifat sipil. Tapi memang asal usul kata kota berlainan dengan asal usul kata city.

74

Ditulis sebagai salah satu pengantar kuratorial untuk CP Biennale 2005 Urban/Culture, Jakarta 5 September-5 Oktober
2005. Penulis adalah ko-kurator untuk arsitektur. Di tengah jalan persiapan pameran ini, penulis bekerja di Aceh karena
bencana tsunami 26 Desember 2005.

75
Kota berarti juga benteng atau pagar, atau suatu permukiman yang berpagar. 75
Bagaimanapun, ada satu syarat yang sama: warga yang aktif.
Dan itulah yang telah terjadi menyusul kejatuhan rezim represif di Indonesia tahun 1998.
Tahun-tahun berikutnya menyaksikan kemunculan dan perkembangan berbagai ragam
organisasi masyarakat sipil (CSO, civil society organisations) di kota-kota Indonesia, yang
terutama mengurusi isu-isu kota. Paling tidak ada satu organisasi untuk masing-masing
masalah kehidupan kota: pelestarian pusaka budaya, ruang-khalayak hijau, kebebasan di
ruang-khalayak, kebebasan beragama, kebersihan udara, hak tempat tinggal, hak tanah,
angkutan umum, air, listrik, dana masyarakat, dan lain lain. Makin meningkat pula kekerapan
dan intensitas kelompok-kelompok masyarakat sipil mengadakan protes tentang masalah
kota, paling tidak di kota-kota yang cukup besar.
Ada kelompok-kelompok yang bekerja secara mandiri, sama banyaknya dengan
kelompok-kelompok yang bekerja dalam koalisi-koalisi ad-hoc yang berbasis-isu. Jejaring di
antara organisasi masyarakat sipil semakin menasional dan menginternasional. Bahkan
gerakan perkotaan terkecil pun, seperti Peta Hijau, punya komunitas globalnya sendiri.
Yang menarik, dalam proses ini mereka menciptakan atau menemukan ruang-ruang kota
dan media baru. Di Jakarta, Bunderan HI menggeliat hidup. Di Yogya, tiang-tiang jalan
layang menjadi media khalayak temuan baru untuk ekspresi, ketika seniman-seniman
melukis mural di permukaannya, mengubahnya dari interupsi majal dan keras dalam ruang
khalayak menjadi media komunikasi antar pemukim kota yang begitu kesepian dan saling
lepas. Yang terakhir ini cuma permulaan dari rentetan kesadaran baru tentang begitu banyak
prasarana kota yang diciptakan dengan tidak sengaja oleh para insiyur, tanpa sadar bahwa
perangkat keras ini akan menciptakan bermacam-macam ruang-kota baru, menggeser apa
yang pernah ada, melingkari mereka, dan mengubah cara orang menggunakan dan hidup di
dalam kota dengan konsekuensi budaya yang signifikan. Namun sayangnya, ruang-ruang dan
media ini, seperti kebanyakan temuan-temuan yang dimiliki umum, sekarang dikooptasi oleh
kepentingan komersial swasta yang tanpa rasa malu mencuri gagasan-gagasan dari seniman
pencipta.
Ada juga peningkatan minat atas isu kota di kalangan cendekiawan dan profesional yang
tidak biasa dianggap terhubung langsung dengan masalah perkotaan 76 . Semakin banyak
jumlah mereka yang menulis dan serta dalam perdebatan masalah perkotaan. Beberapa dari
mereka bahkan dengan jelas memihak atau menentang kelompok-kelompok tertentu.
Kekerapan dan kedalaman minat mereka merupakan sesuatu yang sama sekali baru.
Tidak diragukan lagi bahwa masalah dan konflik di ruang kota, antara lain penggusuran
paksa, kemiskinan masyarakat kota, pengubahan-pengubahan guna-lahan yang korup,
kelalaian pengaturan polusi udara dan bobroknya manajemen pembuangan limbah pada taraf
yang tak terbandingkan, dan kelakuan tidak senonoh dari politisi dan birokratlah yang
menajamkan kesadaran masyarakat sipil akan kota sebagai lokus modernisasi, yang berarti
perubahan kacau-balau dan sebuah masa penuh kebingungan. Kota-kota Indonesia pasca1998 sudah sangat gatal dengan masalah itu. Media juga meningkatkan ulasan isu kota secara
signifikan. Makin banyak opini-opini dari teknisi pembentuk kotaarsitek arsitek dan
perencana kotayang dicari, didengar dan diterbitkan bersama dengan spesialis dari
latarbelakang yang beragam seperti sosiologi, ekonomi, kriminologi dan ilmu politik. Sebuah
bola salju telah ditendang turun.
Dalam dunia seni, beberapa peristiwa penting dengan tema urbanitas dapat dicatat barubaru ini, di antaranya: Enam Manusia Urban (2004, pameran patung) dan Di sini Akan
Dibangun Mal (2005, performance/life arts) di Yogyakarta; Urban Horizon (2004,
75

Kata kota digunakan di Belu, Timor, misalnya, untuk juga menunjuk permukiman sekecil apapun, misalnya sebuah
kampung.
76
Contohnya, pada tahun 2004, ada sebuah kelompok yang menamai diri mereka Forum Kepedulian Akademisi Anti
Penggusuran terdiri dari filsuf, ekonom, pengacara, sosiolog, arsitek, pengamat kota, dan pemimpin agama. Saya telah
sering diundang dalam diskusi-diskusi tentang isu urban dengan beragam kelompok seniman, profesional dan peneliti muda,
para pemikir partai politik, penulis, pemimpin dan kader agama, dll.

76
fotografi) dan Imagining Jakarta (2004, kerjasama arsitek, disainer grafis, fotografer,
pematung, penulis dan musisi) di Jakarta. Ada juga konferensi-konferensi tentang sastra
kota, yaitu misalnya Sastra Kota, 2004, diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta.
Sejauh ini, CP Biennale 2005 (Urban/Kultur) adalah yang terbesar dalam skala dan keluasan
mengusung karya seniman dan arsitek tentang urbanitas. Kerjasama multidisipliner ini
merupakan perayaan solidaritas sipil dan kerinduan akan kualitas hidup yang lebih baik
secara bersama-sama, dan sebuah kejaran profesional untuk pengalaman yang saling
memperkaya dalam hubungannya dengan karir. Apapun motivasinya, mereka telah bekerjasama dalam ikut mendefinisikan urbanitas yang sedang muncul dari kota masing-masing.
Masalahnya adalah bagaimana kontribusi berharga ini dapat dijangkau oleh khalayak yang
lebih luas, dan dihargai oleh para pembuat keputusan. Peran para seniman dan cendekiawan
tentunya bukan untuk memberi penyelesaian praktis yang serta-merta pada masalah-masalah
kota, melainkan untuk menggugah dan mengingatkan kita akan dimensi budaya dari
masalah-masalah kota.
Performance arts, lepas dari kecurigaan akan adanya ambisi tertentu, seperti mencuri
lebih banyak perhatian dari khalayak, dalam beberapa sisi punya kegunaan untuk
keberlanjutan penciptaan batas baru urbanitas: Mereka mencipta dan mencipta- ulang ruangkhalayak melalui apropriasi fisik dan eksperimentasi hubungan-hubungan baru antara sang
seniman dan hadirin sebagai bagian atau bentuk dari khalayak, yang seharusnya lebih
daripada sekedar hadirin.
Setelah menyaksikan itu semua, makin jelas bahwa masa depan kebangkitan gerakan
perkotaan dan organisasi masyarakat sipil ini tidak selalu tampak jelas dan lurus. Karena
masih sedikitnya keberhasilan yang bisa dikumpulkan sebagai kekuatan, maka keyakinan
kuat akan pentingnya tujuan, dan keterampilan dalam manajemen merupakan asupan penting.
Kalau tidak ada pemimpin yang cukup mampu dari dalam untuk terus mendorong ke depan,
dan dari luar untuk terus menghargai sumbangan mereka sebagai kekuatan sah dalam
kelanjutan pembentukan ulang urbanitas, sulit untuk membayangkan kelanjutan mereka.
Sumbangan mereka harus diterima sebagai sesuatu yang sah karena hal itu merupakan
hak. Keterdesakan hal ini dalam konteks Indonesia disebabkan oleh kesalahan paradigma
dalam pembangunan kota, saat hanya ekonomi jangka pendek dan masalah teknis yang
memegang peranan utama dalam proses pengambilan keputusan. Kesalahan ini sekarang kita
bayar mahal dalam bentuk kemerosotan kualitas hidup, hilangnya pilihan-pilihan, pelayanan
dan prasarana yang usang dan tidak bisa dipertahankan lagi, pertukaran sosial budaya yang
terintangi (jika tidak penuh beban konflik), kehidupan khalayak yang tak terarah dan
rendahnya kualitas ruang khalayak sebagai wadahnya.
Kelompok-kelompok masyarakat sipil, termasuk seniman dan pencipta budaya lainnya
bisa dan harus didorong untuk menyumbang secara aktif pada pembentukan kembali
urbanitas sebagai sebuah proyek yang belum selesai, bahkan jika tanpa cetak biru, karena
memang merekalah yang jadi pemilik dan merekalah yang memiliki kekuatan dan kreativitas
terbesar.
Untuk memahami pentingnya sumbangan mereka, kita harus melihat urbanitas sebagai
sebuah proyek yang terus berjalan. Pertama, sebuah batu sandungan harus dicongkel dan
disingkirkan. Batu sandungan ini adalah kebiasaan untuk hanya melihat dua pilihan bipolar
yang sepenuhnya terpisah: modernisasi vs. tradisi, kuno vs. baru, barat vs. timur. Urbanitas
terjadi dalam konteks, baik dalam ruang maupun waktu, dan selalu dalam proses
pembentukan. Pilihan tidak muncul siap saji, tapi terjadi tiap saat. Pilihan tidak berada di
antara apa yang sudah ada, tapi lebih merupakan antisipasi, adaptasi dan penggabungan atas
apa yang terus ditawarkan dunia dan masa depan dari dalam dan dari luar. Pilihan tidak
diberikan tapi diciptakan dan terus dibentuk. Pilihan-pilihan macam ini, untuk menghasilkan,
mengolah dan memilihnya, memerlukan etika dan estetika, arahan, perspektif yang luas dan
kreativitas yang lebih daripada sekedar pemecahan masalah teknis.
Namun sumbangan seniman, sang pencipta budaya, harus dapat melampaui batas
estetika. Kekuatan mereka dalam perenungan intuitif dan kritis harus digunakan untuk
menembus tembok bebal stereotip, kepentingan terselubung dan prasangka bahkan jika

77
tidak sesuatupun yang hidup lebih lama daripada prasangka. Seniman selalu merupakan
penghancur prasangka yang baik dalam tradisi, dan pemimpi yang baik dalam ambisi. Setiap
peradaban kota masa depan dapat menggunakan sifat-sifat itu dalam pembentukannya.
Adalah benar bahwa pilihan-pilihan kita senantiasa bertambah, dan bahwa dunia semakin
memusingkan sembari ia makin dipenuhi pilihan dan kemungkinan pertukaran. Konflik juga
makin mungkin terjadi dan makin sering. Agama kembali menjadi penting, bahkan jika ia
hanya menjadi isu sosial-politik dan bukan spiritual. Dalam konteks ini, globalisasi, yang
disokong oleh ilmu pengetahuan dan teknologi, adalah sebuah meriam yang mengancam bila
dipegang oleh kapital raksasa super, sebagaimana ia adalah sebuah kesempatan rakyat untuk
berjejaring dan mengubah perimbangan kekuatan. Adalah benar bahwa semakin banyak
ruang kota yang telah terjajah oleh kapital, tersobek-sobek, dan utopia ideal nampak tidak
mungkin lagi. Namun, kehidupan (dan budaya) nyata selalu tercipta ulang oleh permainan
dalam prosesnya. Untuk itu, kita memerlukan kepekaan dan renungan kritis dalam tiap
langkah proses tersebut. Kita memerlukan orang yang ikut serta dalam proses penciptaan,
bukan tukang makan barang jadi.
Sayangnya, energi dan antusiasme kelompok-kelompok masyarakat sipil ini jarang
dihargai secara aktif. Kita memang sering mendengar kekecewaan tentang jarak antara
dinamika masyarakat bersama realitas ruang di kota kita di sisi tuntutan dan kelembaman
sosial-politik usang di sisi penyedia.
Ambil kasus seni di kota, program patung di ruang terbuka Jakarta. Kelompok-kelompok
masyarakat sipil, dalam kasus ini komunitas seniman dan cendekiawan, punya wacana dan
kemampuan yang jauh lebih canggih daripada pendekatan simplistik pemerintah 77 .
Sementara itu, perbaikan kaki-lima di sepanjang Jalan Thamrin, sebagaimana kebanyakan
proyek penataan kota di ibukota, menunjukkan bahwa para profesional tersebut (arsitek,
perancang kota dan lanskap) juga tertinggal jauh dari kebutuhan, aspirasi dan prioritas
kelompok-kelompok masyarakat sipil 78 . Masalahnya mungkin bukan pada tingkatan
kemampuan para profesional teknis tersebut, tapi lebih pada bagaiamana kota dapat
mendebatkannya dengan sehat, memancing yang terbaik dari warganya, dan mencapai
keputusan berkualitas tinggi yang digunakan sebagai kerangka acuan untuk mencari solusi
teknis. Baik masyarakat sipil secara umum maupun para profesional teknis, dan para birokrat
kota, dapat dan perlu saling belajar. Adalah inti kehendak kita untuk mengetahui adanya
peran dan pemeran-pemeran yang beragam, yang dapat mengisi kekosongan-kkosongan dan
memudahkan proses tersebut.

2. Membuat Kepadatan Berfungsi: Perangkat-keras Kota

Kamis, 14 Juli, 2005, urbanitas menjadi sebuah mimpi buruk jam sepuluh malam untuk
Jakarta: arus lalu lintas bergeming dari jam lima sampai jam sepuluh malam. Sejumlah
kegiatan budaya dibatalkan. Hanya 60 tamu yang muncul dalam pembukaan Festival
Fotojurnalisme di pusat kota Jakarta. Beberapa dari mereka muncul basah kuyup dari jalan.
Ada hujan lebat di tengah Juli itu, yang sebetulnya bukan merupakan hujan terlebat di
sepanjang tahun ini. Betul bahwa dalam lima tahun terakhir atau lebih, Jakarta telah
mengalami kemacetan absurd yang diakibatkan hujan deras dua atau tiga kali setahun, tapi
itu di bulan Januari atau Februari, puncaknya musim penghujan. Hal ini tidak pernah terjadi
di bulan Juli sebelumnya.
Karena itu, mimpi buruk tengah Juli jam sepuluh malam ini punya banyak cerita.
Pertama, ia bercerita tentang fakta bahwa terlalu padatnya mobil akan mengalahkan nilai
77

Pihak kota, didorong oleh gubernurnya, ingin mendirikan, pada tiap ujung jalan besar, patung tokoh yang digunakan
untuk nama jalan tersebut.
78
Trotoar ditutup dengan batu beton kedap air, yang dituang dan dipatenkan di tempat, dengan menutup kemungkinan
untuk penyerapan air hujan langsung ke tanah. Banyak pemerhati lingkungan, dengan menimbang masalah akut tentang
banjir dan air tanah di Jakarta, menyarankan agar trotoar dibuat berpori sehingga memudahkan penyerapan air hujan. Pada
prinsipnya, setiap kesempatan harus diambil untuk tujuan ini, menimbang begitu buruknya lingkungan Jakarta.

78
kepadatan hal-hal lain yang membuat kota sebuah kota, karena kepadatan tanpa mobilitas
adalah seperti krisis paroh-baya: Sangat sulit untuk tidak panik, tapi begitu anda panik,
segalanya makin runyam.
Ia juga bercerita tentang patologi konsumerisme massa kota. Dengan semua orang
bermobil di Kamis petang bergerak ke arah sejumlah kecil titik-titik yang salah tempat (di
antaranya: mall yang besar berlebihan) di kota inisemua pada saat yang bersamaanuntuk
pesta jajan dan belanja, hujan kecil bisa menghasilkan bencana, karena jaringan parit kota
yang buruk mungkin sedang dalam proses perbaikan di sana-sini oleh ledakan proyek
konstruksi sepanjang sepuluh tahun terakhir.
Kepadatan konsumsi, dan juga pertukaran lain, makin gagal menjadi kebebasan khusus
yang seharusnya ditawarkan kota dan diharapkan semua orang, saat dia pergi ke kota seperti
ngengat tertarik cahaya, kalau nilai sebenarnya dari urbanitas, yaitu kepadatan dalam
maknanya yang paling penuh dan mobilitas dalam artinya yang paling sederhana, tidak bisa
dijaga dengan baik melawan tekanan yang diakibatkan tuntutan yang makin meningkat atas
kepadatan itu sendiri.
Prasarana fisiksekarang seharusnya jelas bagi kitabukan hanya sebuah kebutuhan
ekonomis, apalagi jangka pendek. Karena itu, ia juga bukan sebuah keputusan ekonomis saja.
Ia adalah sebuah pilihan yang betul-betul kultural sifatnya. Ia memengaruhi seluruh ide
mengapa kota adalah bentuk ultimat dari pemukiman yang terpilih oleh evolusi manusia.
Prasarana fisik selalu menjadi bagian dan kekuatan utama yang ikut membentuk kota dan
kehidupannya. Karenanya, sangat dapat dimaklumi mengapa pastor dan filsuf seperti Franz
Magnis-Suseno merasa berkewajiban menuliskan kritiknya tentang kenapa suatu konferensi
tingkat tinggi infrastruktur tahun 2005 hanya menghasilkan 14 proyek jalan tol. Ini bukan
saja tidak cukup, ini juga keblinger (salah langkah). Kita butuh lebih banyak rel kereta api,
tulisnya. Dan itu memunculkan ke depan konfrontasi bukan hanya antara dua bentuk
prasarana-keras yang benar-benar berbeda, namun juga antara dua perangkat proses
kemasyarakatan dan pengaturan bahkan antara bentuk-bentuk masyarakat yang kita
idamkan untuk masa depan kita.
Dalam tahun-tahun mendatang, kota-kota di Indonesia akan menghadapi perombakan
besar-besaran atas prasarananya. Banyak yang baru akan dibangun. Keadaan mungkin tidak
akan sebaik seperti pada tahun-tahun membangun penuh suka cita sepanjang tahun 80-an
dan di awal 90-an, namun prasarana perkotaan adalah hal yang dituntut oleh kota-kota
Indonesia, jadi mereka akan mendapatkannya, cepat atau lambat pasti dapat. Pertumbuhan
penduduk kota, perpindahan penduduk ke dalam dan ke luar kota , pertumbuhan ekonomi,
dan seluruh proses modernisasi, akan menuntut itu. Mari kita melakukan sesuatu sehingga
keputusan yang begitu penting akan dibuat melibatkan seluruh unsur masyarakat, dan mereka
akan melalui proses perdebatan yang serius dan layak, dengan nurani bersih yang penting
untuk menoreh bentuk peradaban kota masa depan secara keseluruhan.
Prasarana memunculkan aturan dan menuntut tingkah laku dan kedisiplinan tertentu.
Prasarana juga menciptakan ruang-ruang kota jenis baru beserta penggunaannya, dan
kemungkinan-kemungkinan baru untuk berhubungan dengan ruang yang telah ada. Jalan
lingkar Jakarta menciptakan sebuah bentang-alam sosio-geografis baru. Daerah-daerah
pinggiran yang melingkari kota jadi lebih terhubung dengan daerah pinggiran lainnya
daripada dengan pusat kota. Jalan layang memotong Bandung dalam skala dan kedalaman
yang belum pernah terjadi sebelumnya. Ia mengubah kota bukan hanya dalam arti geografis,
namun juga dalam membuka jalan untuk perkembangan masa depan dengan cara-cara baru
yang tak terduga, setelah, tentunya, membayar begitu besar biaya lingkungan dan emosional.
Di Yogyakarta, jalan lingkar dan jalan layang terutama berfungsi untuk membujuk orang
agar tidak usah melintasi pusat kota, saat mereka hanya perlu melewati kota ini, dan untuk
menambah persediaan tanah untuk pengembangan baru. Sekarang ini, perkembangan jenis
baru sedang menghasilkan ruang-ruang (eksterior dan interior) jenis baru, baik bangunan
maupun ruang terbuka, dan hubungan di antara mereka, dalam pengertian skala dan
formalitas. Ruang-ruang, gedung dan ruang terbuka besar yang individual, menjadi dominan.
Begitu juga mobil. Ada banyak negosiasi di antara pengguna ruang. Pendekatan dan

79
prosesinya resmi. Jalan-kaki tak-terencana dan santai tidak dimungkinkan. Premis tentang
perlunya menambah persediaan tanah malah menyimpang dari pemecahan masalah
sebenarnya. Menciptakan sediaan tanah baru menghilangkan kemungkinan optimasi ruang
kota yang sudah ada. Keterampilan inibaik secara budaya maupun teknisuntuk
mengoptimalkan ruang kota yang ada merupakan suatu hal yang amat penting bagi negara
yang akan melintasi ambang batas 50% laju urbanisasi. Kota tidak bisa terus tumbuh
melebar. Kemampuan untuk tumbuh makin padat, alih-alih makin lebar, merupakan hal yang
ekonomis, secara teknis dan budaya. Ini menyangkut cara-cara hidup bersama, cara-cara
mengatur interaksi dan keseimbangan antara ruang khalayak dan ruang pribadi, dan cara-cara
menggunakan ruang, prasarana dan fasilitas milik bersama.
Kota harus mulaimakin dini makin baikmenyiapkan dirin dengan melakukan apa
yang penting untuk keberlangsungan jangka panjang yang mantap, alih alih mengambil
pilihan yang paling mudah. Kota perlu melatih dirinyawarganya, birokrasinya, sistem
sosio-politiknyauntuk menangani kepadatan yang makin meningkat. Ada begitu banyak
perubahan yang perlu dirundingkan. Hanya dengan latihanlah sebuah kota dapat
meningkatkan kapasitas sosial-politisnya 79 sampai ke tingkat yang memadai untuk
menjawab tuntutan masa depan.

3. Derita Pertumbuhan: Kemunculan Metropolis-Metropolis.

Dalam sejarah kota Indonesia, Jakarta baru menjadi dominan dalam berbagai aspek
setelah Perang Dunia II. Sebelum perang, penduduknya lebih sedikit daripada yang di
Surabaya. Namun kedudukan pentingnya punya sejarah yang lebih panjang, ialah sejak abad
ke-17 saat Belanda menetapkannya sebagai pusat perdagangan, bukan hanya di Hindia
Belanda, tapi juga di seluruh Asia timur.
Namun sekarang Jakarta telah kehilangan ketunggalan pamornya, bahkan saat ia masih
merupakan kota terbesar di Indonesia. Ia bukan lagi ibukota kancah seni negara ini.
Yogyakarta, Bandung, dan Denpasar paling tidak merupakan pesaing dalam kategori yang
sama. Surabaya, anehnya, lepas dari kejayaan sebelum perang dan kualitas pertumbuhan
masa kini dan kemakmuran relatifnya, belum muncul sebagai kota penting dalam kancah
seni. Pada tahun-tahun terakhir, Jakarta jelas bukan kota paling menarik karena kualitas
hidupnya. Untuk tiap-tiap aspeknya, Jakarta menghadapi persaingan dari kota-kota lain.
Metropolis-metropolis lain bermunculan tak terbendung.
Banyak kota-kota di Indonesia seperti Surabaya, Bandung, Makassar, Semarang,
Palembang, Medan, Yogyakarta, Padang, Samarinda, Balikpapan, Denpasar, dan bahkan
Banda Aceh sebelum tsunami sedang memasuki sebuah fase baru saat mereka bersiap
menjadi metropolitan. Mereka menjadi makin saling bergantung dengan lingkungan di
sekeliling mereka, dan bersama-sama makin menjadi kompleks-kompleks industri yang
mendominasi kawasan sekitarnya, dengan pertumbuhan penduduk yang pesat pula.
Perkembangan menarik ini nampaknya juga diikuti oleh kemunculan patologi. Mereka semua
mengalami masalah mobilitas, kemunculan kelas menengah dengan cara dan gelombang
konsumsi (dan sampah sebagai konsekuensinya) baru, bertambahnya kemiskinan, usangnya
kapasitas prasarana dan sosial politik, pengubahan-pengubahan guna-lahan yang korup,
konflik-konflik internal, konflik-konflik antar generasi, serta hilangnya warisan dan
sumberdaya lingkungan. Mereka juga dibingungkan baik oleh globalisasi maupun
desentralisasi, dan di ditambah lagi penyesatan oleh Jakarta, baik sebagai kekuasaan maupun
sebagai ikon yang salah tentang modernitas metropolitan. Mereka sangat membutuhkan suatu
keseimbangan antara masa lalu dan masa depan di masa kini, antara manis dan pahitnya
modernisasi, antara otonomi dan kebutuhan untuk bekerjasama. Hidup di kota-kota yang
sedemikian, kita dapat bayangkan, dipenuhi oleh kekerasan yang muncul dari usaha individu
79

Istilah ini mengacu pada kekuatan komunitas-komunitas urban dalam menggabungkan visi bersama dan bekerjasama
menuju satu tujuan yang terpikirkan dengan matang.

80
dan kelompok untuk bertahan hidup, bukan hanya dalam arti ekonomis sebagaimana sering
dipikirkan sebagai isu utama, namun juga dalam arti sosi-budaya. Ruang khalayak
termasuk di dalamnya ruang khalayak fisikkehilangan adab dan kramanya. Ruang
khalayak menjadi anonim dan membingungkan, permukaannya semakin sulit dibaca seiring
dengan menjamaknya pesan-pesan yang nampaknya tidak saling berkaitan, yang ditumpuk
dan ditempel bertubi-tubi. Lebih dari masa-masa sebelumnya, sekarang kota-kota ini
membutuhkan penduduk yang terilhami secara budaya dan intelektual untuk memahami
proses, dan untuk menghasilkan adab dan krama sosio-kultural baru yang penting untuk
melayari bentangan kehidupan kota yang baru.
Salah satu tantangan bagi metropolis-metropolis yang bermunculan ini adalah bahwa
mereka harus memutuskan bagaimana menangani permukaan ruang (khalayak) mereka.
Permukaan-permukaan ini sendiri merupakan kancah pertarungan dominasi dalam
penyampaian pesan. Sang ambisi bernama branding. Sementara kelompok-kelompok
masyarakat sipil sering menggunakan permukaan-permukaan ini untuk mengirimkan pesan
terbuka atas isu bersama, ada kepentingan-kepentingan komersial yang ingin
menggunakannya untuk mengirim pesan-pesan konsumtif yang mencap ruang khalayak.
Sebuah contoh yang baik untuk perang ini adalah saat sebuah LSM menutup sebuah papan
iklan besar milik Citibank di salah satu sudut Bundaran HI dengan sebuah spanduk hitam
yang ditulisi angka-angka anggaran belanja tahunan Jakarta. Kasus ini menyentil isu
kepemilikan ruang khalayak dan keabsahan pesan-pesan terbuka.
Di Yogyakarta, sebuah merek rokok sedang merayu pihak kota untuk menaruh merek
mereka di seluruh tiang jalan layang dan banyak permukaan ruang khalayak lainnya. Ini
adalah usaha tidak tahu malu untuk mencuri ruang khalayak yang justru telah diciptakan
seniman mural sebagai media.
Globalisasi dan Jakarta seharusnya tidak menyesatkan metropolis-metropolis yang
sedang muncul, yang perlu yakin bahwa ada bentuk-bentuk lain urbanitas yang mungkin, dan
bahwa urbanitas adalah sebuah proyek yang sedang berjalan, seringkali tanpa cetak biru.
Mereka perlu memahami pusaka budaya dan kekuatan internal dan energi potensial mereka
sendiri, dan pada saat yang bersamaan juga memahami kekuatan global dalam konteks
mereka. Saat kita menyebut sebuah kota, hal itu seharusnya berarti keseluruhan penduduk
dan jejaring relasi yang menyalurkan dan mempertukarkan informasi secara cerdas.
Memang globalisasi kini ada di laju, skala dan kedalaman yang berbeda, dan mencakup
penduduk yang lebih besar dari sekedar kaum elit. Namun jurang pemisah tetap ada: orang
yang berbeda, apalagi kelas masyarakat yang berbeda, mengalami globalisasi dengan cara
yang berbeda karena perbedaan jangkauan informasi dan jejaring global di antara mereka.
Beberapa memikirkan untuk menyesuaikan zona waktu mereka terus-menerus karena mereka
hidup melompat-lompat dari satu benua ke benua lain, mengalami bentukan universal lobi
dan kamar hotel, dan sebentuk kode-kode yang tidak spesifik secara budaya, sementara
beberapa orang di gampong-gampong yang terhantam tsunami di Banda Aceh masih merasa
susah untuk berganti keanggotaan dari satu dusun ke dusun lain dalam gampong yang sama,
lepas dari fakta bahwa Banda Aceh telah mengalami masa-masa globalisasi, dalam intensitas
dan skala yang berbeda, tentunya, di abad 17, saat Sultan Aceh mengirim utusan ke Belanda
dan menerima utusan dari Inggris. Saat Inggris datang, pada lukisan-lukisan lama, kota itu
digambarkan penuh dengan gajah. Ada kesan penerimaan dan kemakluman (akan kedatangan
orang-orang asing), di tengah riuhnya pakaian dan orang dari segala kalangan yang beragam
dari seluruh dunia. Laksmana Cina Cheng He singgah di Banda Aceh sekitar awal abad 15,
dan menghadiahkan sebuah loncengCakra Donyayang terselamatkan dari tsunami di
musium daerah. Sebelumnya, Marco Polo berkunjung di abad 13. Jejak arsitektur Moghul
nampak di berbagai fasad masjid-masjid kota.
Tsunami 26 Desember 2005 juga telah membawa model baru globalisasi di Banda Aceh.
Kebanyakan rapat koordinasi bantuan dan rekonstruksi dilakukan dalam bahasa Inggris
dengan aksen Amerika, Aceh, Jepang, Jawa, Prancis, Itali, Turki, Irlandia, Skotlandia,
Austria, Australia, Korea, Cina, Melayu, Jerman, dan lainnya. Di jalan orang selalu melihat
mobil dan truk dengan stiker beragam logo dan akronim atau singkatan berbagai organisasi

81
internasional. Sementara itu, Bank Dunia dan bank-bank lain sedang menyiapkan sebuah
peta untuk masuk dan tumbuhnya kapital internsional di daerah, melalui kota.
Kedai kopi dipenuhi orang, terutama sekitar 17:00-18:30, antara jam tutup kantor dan
adzan maghrib. Saya mendengar seorang teman mengatakan bahwa masalah urbanitas di
Jawa adalah bahwa mereka tidak punya kedai kopi seperti di Sumatera. Restoran yang lebih
mahal dipenuhi oleh awak internasional proyek rekonstruksi raksasa yang mampu membayar
makanan dengan mudah meskipun tidak selalu dengan bir atau minuman beralkohol lainnya.
Bandara tiap hari melihat kedatangan orang-orang dengan komputer pangku, yang
menandakan kemungkinan di masa depan untuk memecahkan masalah fisik yang keras
hanya dengan perangkat lunak. Sesungguhnya keadaan memang sudah seperti itu. Komputerkomputer pangku orang-orang ini sudah berisi kecerdasan yang menentukan bentuk kota
untuk puluhan tahun ke depan, dengan transfer sejumlah besar uang-gampang tsunamidollar. Secara tidak terelakkan, ini juga menandakan sebuah kemunculan hirarki: perangkat
lunak di puncak rantai makanan, dan tubuh nyata hitam keras yang akan mengangkat koporkopor yang lebih berat dari para pembantu internasional di dasar rantai makanan.
Sedihnya, kurang ada perenungan kritis tentang urbanitas macam apa yang diinginkan
oleh masyarakat Aceh untuk kota mereka., yang sempat jaya di masa sebelumnya, dan
seharusnya kembali jaya. Orang-orang begitu sibuk menata aksi alih-alih pemikiran, dan
sibuk menyesuaikan kepentingan, alih-alih tujuan dan maksud. Ya, memang sulit untuk
bertanya pada orang-orang di tanah yang penuh puing, kuburan massal, dan tenda mengenai
masa depan yang lebih jauh dari sekedar enam bulan ke depan. Lebih sulit lagi untuk
bertanya kepada para profesional, akademisi, dan intelektual untuk merenungkan dasar-dasar
dari ilmu mereka yang sudah terlalu lama terlupakan entah dengan sengaja atau terpaksa.
Sementara itu, ada ketergesaan untuk membangun atap untuk tiap orang yang selamat.
Sementara itu, baik orang yang selamat dari tsunami maupun para penolongnya harus juga
bertahan hidup dalam keadaan antropologis baru yang mendahului urbanitas di tanah ini.
Tapi bukan hanya Banda Aceh yang telah kehilangan banyak pusaka fisik karena tsunami. Banyak hantaman emosional
yang memakan korban di Medan, Solo, Yogyakarta, Semarang, Jakarta, bahkan Baubau (sebuah kota berisi 100.000 orang
di Sulawesi Tenggara). Mereka telah mengalami kehilangan atau kerusakan traumatis dari pusaka fisik yang secara
mendalam terkait dengan rasa bertempat dan bercitra-diri mereka.

Sebuah metropolis yang sedang muncul memiliki sebuah program yang sangat menggoda
untuk menyingkirkan hal-hal yang dianggap tidak relevan untuk masa kini (terlebih lagi:
masa depan), dan memberikan makin banyak ruang bagi hal-hal dari masa depan. Tentu saja
jelas ada kepentingan ekonomis dan politis. Sekali lagi kita memasuki sebuah daerah tempat
logika instrumental ekonomi dan politik ikut campur dalam dunia budaya yang dalam hal ini
tertanam dalam ruang dan waktu.
Isu ini tidak sesederhana kelihatannya. Ini menyangkut posisi kenangan dalam kota
sebagai ruang kolektif kita secara mendasar. Bagaimana kita menempatkan kenangan (yang
sementara dan abstrak) dalam ruang kota (yang konkrit dan tertentu)? Bagaimana kita
menetapkan kenangan mana yang harus dipertahankan, dan yang mana yang harus diganti?
Berapa banyak yang ingin kita simpan? Bagaimana kita menambahkannya dalam gudang
kita, dan apa yang harus dibuang? Kuantitas tentunya bukan satu-satunya dan seharusnya
tidak menjadi isu yang paling penting, namun isu kualitas juga terdengar klise. Dalam suatu
situasi saat ada tekanan yang sama sahnya akan perlunya ruang untuk hal-hal lain, yang bisa
jadi mencakup kenangan untuk masa depan, sebuah filosofi dan metodologi untuk memilih,
karenanya, menjadi satu keharusan. Karena arsitektur adalah arkeologi masa depan,
pertanyaan mengenai posisi kenangan di kota-kota kita terhubung melingkar dengan
pertanyaan tentang posisi arsitektur dalam masa (depan).
Adalah sangat mudah untuk terperangkap dalam sikap konservatif romantik saat
mengurusi pusaka kota, khususnya saat ia menguntungkan kepentingan tertentu seperti yang
dipromosikan oleh turisme dan pengemasan budaya, yang menghargai budaya selama ia bisa
dicap dan dikemas dalam potongan-potongan lepas untuk dijual sebagai suvenir, yang hanya
merupakan ketipan kenangan. Sikap ini kadang menjadi alasan yang cukup saat yang
ditimbang adalah kepentingan ekonomi jangka-pendek, tapi akan dengan mudah runtuh saat
menghadapi pengubahan-pengubahan guna-lahan yang dituntut usah-usaha lain yang lebih

82
besar dan lebih menguntungkan. Satu-satunya dimensi yang diperhitungkan hanyalah besar
keuntungan. Pendekatan yang berpusat pada komunitas menjadi efektif sejauh ia melayani
kepentingan komunitas-komunitas lokal, dan untuk memperkuat rasa memiliki yang
mendasar untuk pertahanan dan pemeliharaan pusaka budaya. Tapi jelas bahwa nilai dan
makna pusaka budaya jauh melampaui komunitas tempatnya berada, baik secara geografis
maupun budaya.
Satu lagi karakter metropolis-metropolis yang sedang muncul adalah ekspansi horisontal
dengan konsekuensi pengaburan batas-batas desa-kota.
Garis batas antara daerah perkotaan dan pedesaan tidak terpampang jelas, bahkan saat
kondisi mereka masing-masing bisa dibedakan. Apa yang kota sulit dan semakin sulit
dijelaskan, saat kepadatan informasi, ideologi (dan pertukaran lainnya) tidak lagi merupakan
hak istimewa penghuni kota. Dalam konteks Indonesia, hal yang sebaliknya juga benar:
Dominasi alam atas peradaban, sebagaimana kasus begitu banyak bencana alam seperti di
Jakarta, membuat penghuni kota lebih merasakan keberadaan alam daripada peradaban.
Semakin banyak kota dan desa yang memiliki kedua kondisiperkotaan dan pedesaan
yang mengalir dari satu ke dalam yang lainnya. Kita sekarang bahkan bisa bicara tentang
urbanitas pedesaan, yaitu kondisi-kondisi perkotaan yang ada di desa-desa (daerah-daerah
rural), dan ruralitas perkotaan, yaitu kondisi pedasaan di kota-kota (daerah-daerah
perkotaan). Metropolis-metropolis horisontal, yang mulai bangkit, makin membawa
urbanitas ke dalam bentang-alam pedesaan dan pada saat yang bersamaan juga menyerap dan
menyesuaikan informalitas dan horisontalitas pedesaan.
Sebagai hasilnya, hilanglah batas atau ruang di antara kota dan bukan-kota atau desa di
dunia yang meng-global ini. Semua yang kota dapat dan telah terjadi di daerah pedesaan.
Kebalikannya juga terjadi: apa yang desa, atau pra-kota seperti sistem pembuangan air yang
buruk, terjadi juga di tempat yang nampak seolah-olah metropolis besar, seperti Jakarta
misalnya. Mudah untuk berkata bahwa ini cuma kesalahan teknis. Namun sebuah kesalahan
teknis dengan skala dan kedalaman raksasa adalah sebuah masalah budaya.
Desa-desa sedang dikotakan oleh teknologi media dan komunikasi (termasuk angkutan).
Kota-kota sedang didesakan oleh kebodohan manajemen kota yang menyebabkan, antara
lain, hujan yang biasa-biasa saja menjadi sebuah bencana alam. Dengan kata lain, dasar
peradaban modern kita, yaitu ilmu pengetahuan dan teknologi, memiliki kemampuan untuk
menjadi nir-ruang dalam kekuatan mereka untuk mengubah, dan dengan kekuatan itu
menyedot desa-desa ke dalam alam masa depan yang paling canggih dari dunia kota;
sementara organisasi masyarakat kita yang lumpuh melepaskan hal yang seharusnya paling
kultural dalam keseluruhan ciptaan manusiasang kotakembali kembali kepada belas
kasihan alam, tapi tanpa kesadaran akan agenda hijau apapun.
Sekarang menjadi semakin mudah bagi setiap orang untuk melintasi batas antara kota dan
desa, antara budaya dan alam, antara kota besar dan kota kecil. Posisi alam di kota memang
sedang diangkat untuk dipikirkan lagi dalam perkembangan-perkembangan mutakhir seni,
arsitektur, dan perancangan kota, bahkan juga dalam perencanaan pembangunan secara
umum. Hubungan antara budaya dan alam dipertanyakan.80 Haruskah kota, sebagai budaya,
berada di dalam, dilingkari oleh, atau menyatu dengan alam? Apakah ia harus merawat alam
atau membiarkan dirinya dirawat alam? Ide-ide Kota Taman (Garden City), sebagaimana
gubuk sebagai naungan dasar, dalam aspirasi baru untuk kota yang berkelanjutan, mendapat
makna dan urgensi baru. Hubungan di antara mereka menjadi lebih daripada sekadar isu
penghijauan. Sekarang, hubungan itu juga menyangkut keseluruhan piranti gaya hidup
perkotaan hijau, yang dipromosikan sebagai alternatif oleh para pecinta lingkungan.

80

Lihat misalnya karya Adi Purnomo dari Indonesia dan West 8 dari Belanda dalam CP Biennale Urban/Culture, 2005.

83
Ekspansi horisontal darimetropolis membawa serta sebuah patologi ketergantungan pada mobil. Sayangnya, semua
orang menolak untuk melihat bahwa mobil sebetulnya anti-kota. Mereka hanya memindahkan orang-orang, dari satu tujuan
ke tujuan lain, dan pada saat yang bersamaan merenggut dari mereka kesempatan untuk menikmati perjalanan dari dan ke
tujuan-tujuan itu. Dengan kata lain, mereka membuat orang melihat ruang kota secara tergesa-gesa hanya sebagai jarak
fungsional untuk diseberangi. Kota menjadi sebuah perluasan ruang anonim, saat pertemuan dengan orang lain hanya
mungkin kalau sudah ada janji, tidak ada dorongan untuk melakukan pertukaran spontan dengan orang asing. Mobil juga
bersifat anti-sosial, mereka mengkunkungkan orang dari orang lain, dengan permukaan pelindung yang keras, dan mencegah
tubuh-tubuh bersentuhan langsung. Satu bagian besar dari ruang kota, yaitu jalan, karenanya terasa semakin keras dan
kejam. Saat orang memasuki alirannya langsung terpiculah rasa takut dan agresi. Saat memasuki fase pertumbuhan,
kepadatan dan ekspansi baru, mobilitas menjadi masalah sangat kritis dan penting untuk kota-kota seperti Yogya dan
Bandung. Bergantung pada mobil adalah solusi gampangan, baik dalam tingkatan epistemologis maupun sistemik. Mobilmobil menawarkan kebebasaan hanya pada yang mampu membelinya, itu pun hanya sampai derajat tertentu. Sebagaimana
jelas sekarang, khususnya di Jakarta dan Bandung, derajat itu sebetulnya sangat terbatas. Baik secara epistemologis maupun
politis, ada sebuah godaan nyata untuk menyediakan lebih banyak mobil dan jalan tol bagi masyarakat demand-driven.
Melawan monster primitif berbasis-minyak ini, yang sudah membenamkan dirinya begitu lama dalam sistem masyarakat
dan ambisi individu kita, para pendukung pembangunan berkelanjutan perlu lebih banyak mencabut akar dan membentukulang berlapis-lapis kesadaran, kepentingan politis dan komersial, dan untuk melakukan intervensi dalam pelatihan
profesional dan pendidikan. Pencabutan akar dan proses membentuk-ulang ini semakin sulit dilakukan semakin lama ia
ditunda.

4. Kepercayaan pada Ruang Khalayak: Masuknya Kaum Miskin.

Dasawarsa terakhir dalam sejarah kota Indonesia ditandai secara signifikan oleh
masuknya kaum miskin dalam ruang khalayak kehidupan perkotaan. Mereka bukan hanya
tidak dapat dihentikanmereka juga melembagakan diri secara nasional dan globaltetapi
memang tidak ada gunanya mencoba menghentikan mereka. Pemerintahan-pemerintahan
pasca-Suharto, bahkan meskipun mereka berhasil melakukan penggusuran paksa berdarah,
bukan hanya tidak punya kekuatan yang cukup untuk menghentikan gerakan mereka
sepenuhnya, tetapi juga tidak memiliki alasan untuk melakukan itu, apalagi aura dan karisma.
Di kotalah pertama kalinya kesadaran tentang kemiskinanbukan hanya tentang kaum
miskindibawa ke jalan, ke dalam ruang khalayak dengan kekuatan yang begitu besar
setelah begitu lama.
Dengan signifikansi sosio-politisnya diakui, keberadaan kaum miskin di ruang kota
membutuhkan lebih banyak perhatian, karena mereka juga menyumbang banyak untuk
semua orang: Tampaknya cuma mereka yang punya kepercayaan pada ruang khalayak.
Mungkin motivasi mereka tidak semulia itu, sebagaimana dikatakan Wardah Hafidz, sebab
mereka melakukan itu karena tidak ada ruang lain yang secara informal terbuka untuk
mereka. Dengan kata lain, mereka membawa masalah ke jalan karena mereka tidak bisa pergi
ke tempat lain. Lepas dari itu, sumbangan paling penting mereka adalah bahwa mereka terus
mencobai lapangan, jadi paling tidak kita tahu bahwa ruang khalayak masih terbuka, bahkan
jika dari waktu ke waktu selalu ada orang yang mencoba menciutkannya. Sebetulnya
memalukan, betapa yang paling miskin dari kotalah yang menyumbang hal paling penting
untuk seluruh kota.
Kaum miskin di tahuntahun terakhir telah menduduki dan menciptakan ruang khalayak
dan media secara agresif. Dalam prosesnya mereka secara pekat membawa ke ruang umum
perkara-perkara yang tulen menyangkut kepentingan umum, jauh melebihi kepentingan
mereka sendiri, bahkan bila pertama-tamanya mereka terdorong oleh yang terakhir ini.
Mereka juga, sebagai konsekuensinya, mendirikan ulang dan membentuk ulang keberadaan
ruang khalayak tulen, yang telah lama hilang di bawah Suharto, dan masih, seperti biasa,
terancam oleh sejarah panjang budaya kekuasaan non-kota dan fasis Indonesia.
Kaum miskin juga menawarkan gaya hidup informal mereka ke dalam dunia baru
multikulturalisme aktif. Sementara kelas lain memformalkan gaya hidup Indonesia mengikuti
bentukan Barat, kaum miskin bersikap jujur dan asli tentang gaya hidup mereka. Dalam
dunia dan kota-kota yang mengglobal, ini bukan sekedar sumbangan kecil kalau saja kita siap
untuk menimbangnya bagi keuntungan semua. Mereka tidak menciptakan benteng-benteng
defensif, tapi sebuah alternatif ofensif. Lingkungan kampung, gampong, muncul kembali,
sebagai kekuatan memberagamkan, melawan kekuatan menyeragamkan dari globalisasi yang

84
membawa kultur konsumtif massal yang menembus dan menemukan agen-agennya di kotakota.
Sementara itu, kelas menengah juga terus menghasilkan ruang khalayak baru: interior
rumah mereka sendiri dengan boks TV, dan mall-mall, klab-klab, lobi-lobi hotel. Mereka
juga mengubah isi ruang-ruang khalayak itu, sembari mereka terus dan terus membuang
sampah serpah-serpih urusan pribadi mereka ke dalam ruang-ruang khalayak, membuka jalan
untuk kejatuhan manusia berkhalayak 81 .
Kaum miskin berani menaroh saham pada ruang khalayak tulen, menunjukkan bahwa
mereka masih percaya padanya, lepas dari fakta bahwa mereka sering diabaikan dan
dianggap anarkis. Kaum miskin tidak punya pilihan lain selain mengajukan kasus ini kepada
pengadilan paling tak berbentuk, yaitu pandangan umum dalam forum ruang khalayak. Kelas
menengah, di sisi lain, mengungsi ke ruang-ruang khalayak yang aman, terisolasi,
terinteriorkan, dan ke dalam persekongkolan-persengkokolan pribadi dengan otoritas
penyelenggara kota dan negara, karena mereka percaya bahwa mereka punya lebih banyak
akses ke ruang-ruang semacam itu dan di dalamnya mereka punya kendali lebih besar.
Di Jakarta, dan saya percaya segera di kota-kota besar lainnya, kaum miskin juga akan
memasuki daerah pusat kota kembali, mengisi kekosongan yang terjadi karena kelas
menengah dan menengah atas menyingkir ke luar. Untuk pertama kali dalam sejarahnya,
Jakarta selama beberapa tahun terakhir mengalami migrasi bersih negatif ada lebih banyak
orang yang keluar daripada yang masuk. Sembari guna-lahan berubah drastis di daerahdaerah pusat kota (tepatnya, Jakarta Pusat dan Selatan), penduduk di kawasan ini menurun.
Jumlah kaum miskin meningkat di area yang sama untuk mengisi kekosongan, karena
pengubahan guna tanah juga berarti makin banyak kesempatan kerja di sektor ekonomi,
sementara Jakarta Timur, Utara, dan Barat sudah jenuh.
Pemecahan masalah tanah akan punya dampak besar pada proses urbanisasi dalam arti
paling luas (yang bersifat kultural dan sosial sebagaimana juga ekonomis). Solusi yang adil
dalam memberdayakan orang miskin untuk membangun pemukiman sendiri juga akan berarti
sebuah jalan damai untuk modernisai kehidupan sosial perkotaan dan kohesi untuk semua
orang. Yang sangat berkaitan dengan hal ini adalah keterjangkauan tanah oleh kaum miskin.
Kota-kota Indonesia tidak akan berkembang dengan adil dan mencapai keadaan beradab
sampai saatnya penggunaan, alih-alih kepemilikan, yang menjadi prioritas atas tanah. Kotakota tidak akan pernah memenuhi tugas mereka untuk menaungi semua orang dengan adil,
dan dengannya menciptakan sebuah lingkungan mantap berdasarkan keadilan sosial, kalau
masalah tanah tidak dipecahkan.
Tapi, setelah begitu banyak yang terkatakan, siapa yang bisa menjamin adanya
ketertetapan dalam bentuk apapun? Tidak seorangpun, di masa manapun, yang pernah
berharap untuk menemukan kehidupan kota sebagai sebuah wahana kehidupan yang stabil.
Tidak seorangpun, di masa kita, yang tidak mengharapkan perubahan yang lebih besar terjadi
di kota-kota masa depan. Hal ini nyata di masa lalu, sebagaimana di masa kini, dan mungkin
di masa depan. Perubahan yang terjadi begitu banyak, namun mereka perlu ditata dengan
keadilan yang kokoh mengenai sumber daya dasar seperti tanah.
Banda Aceh, Juni-Juli 2005
Marco Kusumawijaya

81

Sebuah frase yang dipinjam dari buku Richard Sennett, The Fall of Public Man (1974, 1976)

85

Membayangkan Jakarta (Imagining jakarta) memulai upaya baru, yaitu kolaborasi


seniman berbagai bidang mengambil kota sebagai obyek kolaborasi. Kegiatan ini
berlangsung pada tahun 2004, antara bulan April hingga September. Melalui berbagai
lokakarya, hasilnya dipamerkan sebulan di bulan September.

MEMBAYANGKAN JAKARTA 82
(Kolaborasi arsitek, penulis, fotografer, perancang grafis, pematung dan komposer)

Apakah Jakarta sebuah metropolis yang gagal?

Membayangkan Jakarta merasa menemukan bahwa Jakarta belum pernah diberi kesempatan untuk
berhasil. Potensi-potensinya, bahkan dari masalahnya sendiri, bila dimengerti dengan benar, belum
pernah diberi ruang dan momentum yang cukup oleh cara membangun yang miskin wacana, miskin
perspektif, miskin imajinasi, miskin partisipasi. Rencana dan proyek yang ada cenderung
menghindari pokok dan skala masalah yang sesungguhnya.
Jakarta bukan gagal, melainkan belum pernah diberi kesempatan untuk berhasil.
Meskipun telah membuat banyak orang frustrasi, metropolis Jakarta tetap menawarkan kesempatan
kosmopolitan yang menjadi sumber harapan bagi makin banyak orang, yang niscaya tetap tergantung
kepadanya dalam banyak aspek kehidupannya: pekerjaan, pasar, khalayak, kekuasaan, kekasih,
sorotan lampu dan persembunyian, eksistensi dan anonimitas, edu- dan infortainement, ilusi dan
disilusi, kemenangan dan penyesalan. Orang tidak pernah berhenti berharap. Justru masalah dan
sekaligus potensinya ada pada energi dari makin besarnya harapan yang ditumpangkan kepadanya.
Harapan-harapan ini didasarkan pada imajinasi-imajinasi, baik yang individual maupun yang kolektif.
Barangkali imajinasi pula yang diperlukan untuk mewujudkannya.

Membayangkan Jakarta percaya bahwa imajinasi adalah papan-loncat untuk sekaligus


terbang lebih tinggi guna memperoleh perspektif yang lebih luas, dan menukik menyelam
lebih dalam guna melihat di bawah permukaan. Imajinasi adalah paspor untuk mengijinkan
kesempatan kepada kemungkinan-kemungkinan, potensi-potensi. Membayangkan Jakarta
mengelola bayangan-bayangan kemungkinan: bagaimana kalau semua itu sungguh diberi
kesempatan?
Membayangkan Jakarta mencoba menayangkan imajinasi pribadi tentang harapan kolektif
atas Jakarta ke dalam ruang khalayak. Membayangkan Jakarta menawarkan metoda
alternatif untuk menyelami Jakarta, bukan hanya sebagai sumber ilham, tetapi juga ruang
dialog antar-disiplin antara para penulis, perupa yang terdiri dari perancang grafis, fotografer
maupun pematung dengan para arsitek, yang seluruhya dari generasi muda. Sebulan dua kali,
dari pagi hingga petang, mulai bulan Juni hingga Agustus, mereka bertemu dalam
serangkaian lokakarya. Mereka menggaruk-garuk permukaan, membeberkan gagasangagasan awal, memberikan kritik, hingga acuan-acuan, baik berupa contoh proyek, karya
orang lain maupun hasil pengumpulan data, baik yang didapatkan dari lembaga lain maupun
yang khusus dikumpulkan untuk Membayangkan Jakarta.

82

Intoductory text of Imagining Jakarta, a collaborative workshops and exhibition, September 2004, Jakarta.

86
Sebagai pijakan awal, Membayangkan Jakarta percaya kepada kepadatan programatik (dan
menentang pemadatan volumetrik semata yang menafikkan keragaman), menginginkan
Jakarta sebagai kota kehidupan (dan menentang daya negatif yang menjadikannya kota
kerja semata), mengharapkan ruangnya sebagai lingkungan kreatif, menganggap mobilitas
sebagai hak sosial, budaya dan ekonomi, dan mencita-citakan kelestarian lingkungan sebagai
tujuan.
Membayangkan Jakarta mengajak kita semua membayangkan Jakarta-Jakarta lainnya.
Dengan demikian ia juga mengisyaratkan bahwa setiap proyek tentang Jakarta seharusnyalah
dibuka di hadapan khalayak agar dapat memasuki proses imajinasi kolektif dan dapat dicapai
oleh partisipasi khalayak. Membayangkan Jakarta berharap memunculkan dialog nilai-nilai
menyertai proses produksi artefak kota.

87

Membayangkan Jakarta:
Tiba-tiba Malam, Tiba-tiba Pagi
Membayangkan Jakarta dimulai ketika Rifky Goro Effendy mencegat saya yang sedang bergegas
keluar Galeri Cemara ketika jelang malam. Ia bertanya, Bagaimana kalau kita buat suatu pameran
arsitektur?
Sebagai suatu kegiatan pribadi, tentu saja membayangkan Jakarta di dalam benak saya sudah
berlangsung terus setidaknya sejak tahun 1988, ialah ketika saya menulis tesis S2 tentangnya 83 . Pada
tahun 1993-1995 pernah saya menggugah Arsitek Muda Indonesia untuk menyalurkan energinya bagi
khalayak, bukan hanya pameran mempromosikan diri atau suatu aliran atupun gaya arsitektur, yang
tokh di Indonesia selalu kesiangan itu. Suatu istilah Kotak-Katik-Kota-Kita ketika itu muncul.
Persiapan-persiapan dilakukan. Tetapi tak pernah jelas mengapa akirnya terhenti. Hanya dugaan saya:
Tidak cukup percaya diri karena keraguan teknis, dan tidak cukup motivasi, karena pada usia 20an
dan awal 30an siapapun lebih ingin mempromosikan diri menapak awal karir.
Menggarap kota bagi para arsitek memang merupakan suatu jenjang senior. Setelah masa diam yang
lama, pada tahun 1980an, ironis-nya, para arsitek Indonesia mulai belajar lagi merancang kota justru
di luar-kota, yaitu di kota-baru, suatu istilah pasar untuk mengacu sebenarnya kepada sub-kota
(sub-urb) 84 . Kata baru memang dianggap punya tuah tersendiri, setelah pembangunan nyatanya
membentuk citra distopia pada kota lama.
Kota-baru itu tidak ada hubungannya dengan New Urbanisme yang menyemai di Amerika Serikat
dalam masa yang kurang lebih sama, baik secara semantik maupun (apalagi) ideologis. Kota-baru
adalah suatu tahapan logis dari ekspansi kapital untuk memproduksi nilai tambah pada ruang melalui
penguasaan lebih besar dan dalam atas struktur ruang, ialah dengan kemampuan menata sendiri tataguna lahan dan infrastrukturnya, sehingga sebenarnya harga tidak lagi ditentukan oleh pasar bebas
yang kompetitif, melainkan oleh pemilik lahan-besar sendiri. Kota-baru adalah juga suatu
pencapaian tersendiri dari kerjasama antara modal dan negara. 85
Sedangkan kota (lama) dikerjakan negara, oleh pejabat dan staf Dinas Pekerjaan Umum serta dinasdinas lain terkait lainnya, sampai terutama awal 1990an, ketika ekspansi modal pun memperbesar dan
memperdalam penguasaannya atas struktur ruang di dalam jantung kota, biasanya dengan
pembenaran bahwa pengembangan berskala besar (superblock) akan memungkinkan integrasi dan
83

Marco Kusumawijaya, Thamrin Sudirman Avenue, Jakarta: A Case Study in the Problem of Modernisation in
a Developing Metropolis, Departement of Architecture, Urban & Regional Planning, University of Leuven,
Belgium, September 1990, belum diterbitkan.
84
Sub-kota merupakan kata pengganti yang lebih baik bagi sub-urb, karena bunyi -rb tidak lazim di dalam
bahasa Indonesia, sementara arti kedua kata itu sama saja.
85
Empat tahun bekerja sebagai profesional pada pihak modal, ialah sebagai direktur perusahaan pengembang,
soal kerjasama modal dan negara ini merupaka pengalaman tersendiri untuk diceritakan dalam kesempatan lain.

88
efisiensi infrastrutur. Tentu saja yang tidak disuratkan adalah kemudahan modal mengendalikan
operating margins oleh dan hanya oleh dirinya sendiri tanpa campur tangan berarti dari pihak luar,
kecuali oleh negara yang telah diyakinkannya untuk menyerahkan segala sesuatu kepadanya secara
lebih bertanggung-jawab dan profesional.
Ekspansi modal dan negara, yang telah menjadi bonekanya, atas ruang kota jauh lebih luas (dan
dalam) daripada yang dapat kita bayangkan. Menyerahkan kepada pasar, makin lama makin kita
sadari, ternyata merupakan pilihan penguasa yang tidak benar-benar disandarkan ideologi sadar
dengan penguasaan ilmu tentang pasar, tetapi lebih karena profitable ignorance, ketidak-tahuan, yang
entah disengaja atau tidak, menguntungkan pribadi-pribadi pemegang ijin.86
Tersingkirnya perumahan, bukan saja untuk kaum paling miskin, tetapi juga untuk kelas menengah,
adalah akibat yang jangka panjang paling merugikan. Hanya pemilik modal dan kelas paling atas
yang menikmatinya karena, sebagaimana modal mereka, merekapun kini bersifat nir-ruang, tak
tergantung tempat, bagai dapat terbang kemana saja untuk hinggap dengan pilihan bebas menetap
atau sementara.
Distorsi harga tanah dan rumah, yang membuatnya menjadi makin tak terjangkau oleh mayoritas
penduduk, adalah salah satu akibat saja. Polusi, kerusakan lingkungan dan kemacetan lalu lintas,
adalah contoh-contoh lain tentang keuntungan modal individual yang menumpahkan mudharat
kepada khalayak ramai. Bunderan HI, yang berpotensi menjadi ruang khalayak, malah distop untuk
kepentingan lalu lintas mobil pribadi dan menyingkirkan rasa ragu modal. Pesan-pesan konsumptiv
begitu gencar menguasai ruang kota 87
Merebut ruang khalayak adalah kesadaran warga negara yang memerlukan kecanggihan berbagai
displin. Selain itu diperlukan pengaburan antara kegiatan berpikir dan berproduksi secara material.
Seorang kurator dari Singapura mengatakan, bahwa apa yang Membayangkan Jakarta lakukan adalah
antara lain mengaburkan batas antara wacana kritik yang lepas, dengan kegiatan berproduksi, ikut
bermain di dalam pasar.
Pada kegiatan Membayangkan Jakarta, merebut ruang khalayak berarti dua: 1) benar-benar merebut
ruang fisik kota untuk dibayangkan bagi kepentingan masyarakat jangka panjang, dan 2) merebut
perhatian khalayak atas alternatif yang ditayangkan. Merebut ruang khayalak berarti juga merebut
sekerat ruang pasar gagasan. Entahlah akan berhasil atau tidak; tetapi ini adalah sebuah petualangan
yang dirasakan niscaya perlu, dengan penuh rasa keprihatinan dan tanggung-jawab.
***
Jakarta memang dibangun selalu terlambat dibandingkan dengan aspirasi masyarakatnya. Orang
hanya mengingat satu momen ketika pembangunannya cukup sigap memenuhi kebutuhan warganya,
ialah momen Ali Sadikin. Tetapi sejujurnya, beliaupun terlambat bila dibandingkan dengan apa yang
seharusnya, namun tidak dirasakan demikian karena orang paham akan tiadanya contoh di masa lalu
dan keadaan sejaman ketika itu yang sulit sekali. Masalah Jakarta sekarang menumpuk karena,
86

Belakangan ini kembali gubernur Jakarta mengulang argumen yang seolah-olah pro pasar
tersebut,Pengembang yang mau membangun mall itu kan pasti sudah punya perhitungan, bahwa ada pasar
besar untuk mall
87
Sejarah gerakan reformasi adalah juga mencakup sejarah upaya menguasai ruang kota untuk menyampaikan
pesan khalayak. Billboard milik swasta di sudut timur-laut Bunderan HI beberapa kali ditempeli baliho raksasa
oleh koalisi LSM untuk menyampaikan pesan publik, antara lain tentang kebobrokan anggaran Jakarta.
Beberapa dinding bangunan, misalnya dinding samping Hotel Indonesia juga sempat dikuasai. Juga kaki patung
Selamat datang. Suatu dialog menarik terjadi di sekretariat Urban Poor Consortium, ketika membahas apakah
mereka akan meminta ijin untuk menutupi billboard dengan baliho. Penyair Afrizal Malna berujar,Waktu bikin
billboard di situ mereka tidak minta ijin kita, kenapa kita sekarang mesti minta ijin mereka! Meskipun
kedengarannya (sengaja) dinaifkan, ujaran itu menunjukkan ketidakpuasan fundamental yang sah, ialah tentang
bagaimana seharusnya suatu ruang khalayak dikelola. Nyatanya, baliho yang dipasang di situ besar sekali
manfaatnya untuk khalayak: Untuk pertama kalinya kelas menengah dan bawah Jakarta menyatu dalam
kesadaran tentang busuknya APBD Jakarta dan isu-isu lainnya. Di tempat lain, di dekat Borobudur, dalam suatu
dialog, ketika moderator pertemuan mempersilakan hadirin untuk bertanya kepada Gubernur Jawa Tengah,
pemusik Tanto Mendut menukas, Loh, kok kita terus yang disuruh tanya ke Gubernur, mbok sekali-sekali
Gubernur yang dipersilakan tanya ke saya!

89
setelah momen Ali sadikin kadaluwarsa, tidak ada lagi momen prakarsa yang berarti, punya cukup
waktu sebelum senja berikut tiba.
Tiba-tiba malam tiba, ketika pekerjaan tiap kali baru mau dimulai. Tiba-tiba pagi menjelang, sinar
matahari membangunkan, ketika rencana sedang mau direnungkan, karena perubahan yang cepat dan
menekan, termasuk menekan integritas para pengambil keputusan.
Ketergesaan, yang sering membawa serta kesembronoan, telah menjadi ciri pengelolaan Jakarta
selama empat dasawarsa. Begitu pula ciri kehidupan di dalamnya. Ketika melihat ke dalam petacermin Jakarta (karya Dewi Susanti di dalam pameran), saya melihat wajah saya sendiri, sebesar satu
kotamadya. Kata salah satu pengunjung pameran.
Proses lokakarya dan produksi pameran inipun terasa demikian. Antara Juni sampai dengan
September diperkirakan cukup lama. Tiga lokakarya, masing-masing dua hari, diadakan di antara Juni
dan Agustus. Maksudnya untuk proses memahami, bertukar pikiran, membayangkan Jakarta. Tibatiba pagi tiba, kami harus bangun, berproduksi untuk sebuah pameran. Memang, renungannya saat
ini adalah: Apakah di dalam metropolis yang senantiasa berbegas ini orang pun harus bekerja juga di
malam hari? Tiadakah waktu yang pantas untuk berhenti barang sejenak, memikirkan apa yang benar
atau salah, mengendapkan pengalaman, sebelum produksi keesokan hari?
Membayangkan Jakarta, melalui waktu empat bulan bersama, berharap memberikan cukup waktu
kepada sekelompok arsitek, pematung, penulis, fotografer, grafikus, dan komposer untuk menyelami
masalahnya. Tetapi kami masih bangun dengan perasaan tiba-tiba pagi. Dan ketika kami mulai
bekerja untuk mewujudkan imajinasi kami, kembali kami berhadapan dengan kenyataan bahwa tibatiba malam. Malam maupun siang adalah singkat di kota ini. Terutama karena tiga jam dihabiskan di
jalan, dan tiga jam lainnya di depan layar televisi.
Kota ini tak pernah cukup waktu menyelesaikan masalahnya dengan tindakan nyata, sebab tiba-tiba
muncul soal baru, atau gubernur baru. Kota ini tak pernah cukup waktu dilamunkan masa depannya,
disublimasikan pengalamannya, sebab harus bergegas lagi sejak pagi tiba.
Maka Membayangkan Jakarta dalam situasi demikian menjadi semacam meditasi di tengah
keramaian.
Para peserta Membayangkan Jakarta menyadari, bahwa bayangan mereka harus bersaing dengan
bayangan-bayangan lainnya. Suasana lokakarya tidak jarang terbawa kepada suasana sesak ketika
menyadari dominasi pembayangan oleh kekuasaan modal dan politik yang tidak memberi ruang
napas kepada pembayangan oleh khalayak dan warga biasa, bahkan yang ahli sekalipun. Iklan,
sebagai misal, tidak lain adalah sebuah kampanye pembentukan opini khalayak. Lihatlah rumahrumah bergaya litte spain, litte italy, dan seterusnya. Iklan-iklannya membentuk bayanganbayangan yang perlahan-lahan menjadi norma.
Karena itu sebagian peserta merasa harus merenungkan kenyataan-kenyataan metropolis ini hingga ke
bawah permukaan, tanpa berpretensi menawarkan konstruksi apapun. Yang lain menatap Jakarta
sebagai suatu kesatuan jaringan total. Memang imajinasi adalah seperti papan loncat yang
memungkinkan kita mencapai titik lebih tinggi untuk memperoleh perspektif lebih luas, bila belum
menyeluruh, dan kemudian menukik menyelam ke bawah permukaan.
Membayangkan Jakarta dimulai tidak dengan keyakinan yang sangat tinggi akan apa yang akan
dicapainya. Yang kami yakin hanyalah bahwa ini layak dicoba sebagai sebuah eksperimen. Arsitek di
Jakarta (di Indonesia) belum pernah sungguh-sungguh terlibat dalam suatu kolaborasi dengan
seniman, apalagi dengan mengambil sebuah kota semacam Jakarta pula, sebuah ambisi yang
nampaknya agak berlebihan. Tetapi Jakarta telah meluapkan begitu besar emosi yang nampaknya sah
disalurkan menjadi energi kreatif. Yang menghibur akhirnya adalah komentar dari salah satu
pengunjung, Sebagian besar dari apa yang dibayangkan disini pada waktunya pasti akan terjadi;
karena memang demikian arah sejarah dan fitrah sebuah kota metropolis yang tak mungkin
dihindarkan. Masalahnya adalah mau diantisipasi dan direncanakan pro-aktif atau tidak, untuk
mendapatkan memaslahatan sebesar-besarnya dan keberlanjutan, atau dibiarkan bagaimana nanti
saja kepada pasar, yang berakibat melemahnya posisi tawar publik dan generasi mendatang?

90
Tiba-tiba pagi menjelang dan didepan mata kita melihat contoh mutakhir busway dan monorail yang
tidak benar-benar direncanakan sebagai kebijakan publik yang cukup dini, antisipatif, dan proaktif,
tetapi lebih karena tekanan publik dan swasta, setelah sangat terlambat. Busway justru hasil lobi
sejumlah LSM, dan Monorail hasil perhitungan swasta. Untung masih juga bisa dilaksanakan, meski
dengan ketergesaan dan kesembronoan juga.
Lalu kolaborasi bermakna kerjasama pada berbagai lapisan dan tingkatan: mulai dari sekedar
menerima dan memberi masukan kepada peserta lainnya, meminta reaksi dan sumbangan gagasan,
kata-kata, dan bahan dari sesama peserta, kerjasama dalam eksekusi, sampai kepada sungguhsungguh mengembangkan konsep bersama hingga eksekusinya. Kolaborasi juga ditemukan selama
proses, di antara peserta yang merasa gagasannya dapat dikerjasamakan, atau yang merasa saling
membutuhkan disiplin masing-masing. Sangat kerap terjadi perubahan dan perkembangan dari
rencana awal masing-masing peserta karena terpengaruh oleh sesama peserta lain. Seringnya terjadi
keraguan dan perubahan ini justru menunjukkan berhasilnya proses kolaborasi untuk saling
menggugah oleh sesama peserta.
Memang tidak semua yang dibayangkan oleh saya dan Rifky terwujudkan. Tetapi juga muncul
banyak bayangan-bayangan baru yang tidak dibayangkan sebelumnya. Bahkan komposisi peserta
berubah. Ada yang batal serta, dan ada juga peserta baru. Kami merasa kehilangan peserta yang batal;
dan berterima kasih kepada peserta yang memajukan diri.
Saya pribadi, telah mencapai salah satu tujuan egoistis saya dari awal merancang program ini, ialah
ingin belajar sebanyak mungkin dari disiplin dan perspektif kreatif setiap peserta lain:
Cecil menolong saya (dan saya kira juga teman-teman lain juga) memahami nasib dan
probabilitas yang tak terduga dan tak terbatas di metropolis Jakarta, kepadatan keragaman
isinya dan kekayaan kosa-kata visual kota ini.
Dewi menolong saya (dan saya kira teman-teman lain juga) memahami Jakarta sebagai
jaringan --adakah femme fatale di tengahnya? Memang demikianlah seharusnya fitrah kota:
kepadatan komunikasi dan mobilitas.
David menolong saya (dan saya kira teman-teman lain juga) mengakui keputus-asaan gerakan
pelestarian kota tua, dan kesia-siaan rencana yang ada karena berpura-pura tak menyadari
persoalan sesungguhnya.
Joko menolong saya (dan saya yakin teman-teman lain juga) memahami kesemmrawutan
metropolitan akibat kesendirian pulau-pulau individu manusia atau anasir kota lainnya, yang
sekaligus merupakan kekayaan khasanahnya, dengan rasa humor dan ironis yang tinggi.
Individu di metropolis ini manusia atau bukan sama sajaadalah sekaligus terpajan berlebih
(overexposed) dan terkungkung sebagai fragmen-fragmen yang sepi.
Yuka menciptakan folder baru dalam benak saya (dan mudah-mudahan juga di dalam benak
teman-teman lain) untuk program penelitian baru: sejarah dan jejak suara yang sering tak
dianggap sebagai "rupa" dalam kehidupan sehari-hari metropolis, dan sejarah serta jejak seni
musik tentang Jakarta, sebagai ekspresi benci tapi sayang atas ibu tiri ini.
Supie senantiasa menyadarkan saya (dan teman-teman lain juga) tentang bedanya pendekatan
arsitektural dan senirupa, dan mengapa arsitektur itu harus mencari solusi.
Mamo menolong saya (dan teman-teman lain juga) melihat kemungkinan memperlakukan kota
sebagai subyek kasih yang menantang keikhlasan otonom kita masing-masing untuk memberi,
tanpa tergantung kepada struktur dan pemerintah, untuk melihat yang mengisi kota, bukan
kota itu sendiri. Mudah-mudahan tidak harus menjadi vegetarian untuk memiliki kemampuan
gelombang 40 Hz dalam Spiritual Intelligence Mamo. Kenapa ya ide ini tidak datang dari saya

91
yang katanya anarkis ini? 88
Apep menolong saya (dan pasti teman-teman lain juga) melihat secara tegas sebenarnya
masalah Jakarta itu biasa dan klasik saja dalam sejarah kota-kota, sama sekali tidak out-ofcontrol, hanya kemampuan kita yang out-of-date, dan jalan keluar yang sekarang ini dibiarkan
(kepada pasar, katanya) makin menjauhkan kita dari fitrah kota, bersifat banal dan dangkal.
Erik dengan santainya menunjukkan kepada saya (dan teman-teman lain) banyaknya peristiwa
serta perasaan yang memadat di dalam setiap bingkai momen 1/30 detik (atau kurang?).
Menatap karya-karya fotonya kita serta-merta merasa turut terbekukan di dalam saat. Semangat
aktivisme saya yang sering sok meluap-luap menghadapi pertanyaan, Bukankah tidak semua
hal harus diubah, melainkan dihayati tanpa menghakimi?
Paul yang pendiam dengan subtil menunjukkan perasaan-perasaannya yang galau dan sinis
tentang kota ini. Dari sebuah seni yang sangat obyektif seperti fotografi, karya Paul adalah
yang paling subyektif dari semua karya di dalam pameran ini. Kita bukan hanya melihat,
melainkan juga mendengar Paul pada foto-fotonya. Ia menciptakan ujarannya sendiri yang
personal dan subyektif tanpa mengeluarkan kata-kata baru sama sekali, melainkan dengan
memungut dan menyusun kata-kata visual yang ditemukannya di dalam realitas. Fotografi
menjadi medium yang senyaring-nyaringnya bagi pribadi Paul yang diamdiam.menggelisahkan kurator!
Hedi (yang juara dua dalam hal kependiaman) menolong saya (dan teman-teman lain juga)
serta-merta, pada saat-saat kritis, mengingat dimensi nyata untuk menunda keputusan yang
terlalu kongrit, menyeragamkan, dan mengancam kebebasan. Dengan kata lain ia mencegah
kita menjadi fascist , mengingatkan fitrah seni sebagai pelaku utama dan penuntut utama akan
spontanitas. Tapi pada saat yang sama ia juga seorang realis. Maka, Hati-hati kalau makan!
Rico mengingatkan selalu ada tantangan untuk lebih ideal (dan mengapa tidak?); yang berarti
juga masih banyak pekerjaan rumah yang masih harus dilakukan dan diperjuangkan. Tak boleh
ada kata lelah dan puas diri.
Iwang menolong saya (dan teman-teman lain juga?) menyiagakan mata untuk siap-siap melihat
sesuatu yang....(tanpa kata) dan merelakan benak untuk diaduk-aduk oleh cara pandang dan
cara pikir yang menuntut terpasangnya sistem-operasi lain di dalam otak. Logo Membayangkan
Jakarta yang diciptakannya punya riwayat menarik: Setelah membuat kurang lebih 300
buah alternatif logo (gw pusing sendiri bikin lingkarannya. Ada yang menarik ketika membuat
logo ini, tangan kanan saya tiba-tiba terus menurus membuat putaran yang artistik, dan sangat
mempertimbangkan komposisi, padahal seharusnya bisa lebih spontan. Saya mencobanya
dengan menggunakkan tangan kiri, ternyata hasilnya lumayan 'ngaco' tapi masih ada kesan
estetis. Hmmm....jalan terakhir saya membuat lingkaran dengan mata terpejam...hasilnya
'lumayanlah' dan selalu mengejutkan ketika mata saya dibuka. Seperti halnya setiap hari saya
terkejut melihat Jakarta. Oh ya untuk alternatif 1 dan 4 dibagian tengahnya secara tidak
sengaja membentuk bola mata sedang mengintip, itu merefleksikan kita sekarang sebagai
'tukang intip' Jakarta. Semoga berguna bagi bangsa dan negara.
Budi menyadarkan saya (dan teman-teman juga) tentang metafisika data. Bersama Iwang, dia
juga memberikan inspirasi akan terbentuknya Pojok Kota dalam tempo yang sesingkatsingkatnya, yang akan menerbitkan data kota dalam seri Buku Warga yang akan
menggabungkan grafik dan teks yang semoga membuka mata warga Jakarta.
Amy menolong saya (dan semua teman-teman lain tak mungkin membantah) melihat
kenyataan bahwa manusia metropolis itu ternyata suka dilayani dengan data.
***

88

Untuk pengertian anarkisme, saya mengacu kepada Marco Kusumawijaya, Anarkisme: Sebuah Utopia
Lagi? dalam KOMPAS (halaman opini), Mei 2000.

92
Beberapa tahun belakangan ini nyata ada peningkatan pemwacanaan tentang kota di luar bidangbidang yang selama ini cenderung dianggap memiliki kompetensi memwacanakannya, yaitu antara
lain arsitektur 89 . Beberapa kegiatan bertema urban akhir-akhir ini terjadi dalam kalangan seni dan
intelektual. Pameran fotografi Urban Horizon pada 11 Mei 12 Juni 2004 di Jakarta yang sungguh
memberikan perspektif serta pendekatan alternatif yang sangat dibutuhkan untuk terus memahami
realitas metropolis yang tak henti bermetamorfosa dan mengandung ini. Ada pameran para pematung
bertajuk Enam Manusia Urban pada 13-21 April 2004 di Yogyakarta yang meneropong gejala-gejala
urbanisasi dan bawaannya, termasuk patologinya, yang sering tak kelihatan senyata yang diperlukan
untuk membuat kita mau dan mampu melakukan evaluasi kritis. 20 intelektual berbagai bidang pada
21 Juli 2004 diundang Yayasan Sains, Estetika dan Teknologi (SET) yang dalam rangka ulang
tahunnya ke-17 menyelenggarakan diskusi panel bertajuk Menyelamatkan Ruang Publik sebagai
sarana Kultur Demokrasi. Meskipun tentu saja ruang publik tidak selalu berarti di kota dan berupa
ruang material, ada berbagai dimensi perkotaan yang terlibat. Lebih awal lagi, 19-21 desember 2003,
Sastra Kota adalah tema pertemuan sastra di TIM Jakarta. Yang dibahas antara lain isu-isu sejarah
kota, konflik, dan gejala sub-kota.

Disamping yang disebutkan di atas, mungkin saja ada yang lain-lain yang saya tidak tahu.
Sedangkan untuk tahun 2005 sudah terdengar kabar akan adanya kegiatan seni-rupa bertema
kota.
Contoh-contoh di atas, serta makin genjarnya pemberitaan masalah-masalah perkotaan dalam media
massa karena makin kerapnya timbul peristiwa perkotaan (dari bom sampai gossip kawin-cerai para
artis, dari bencana alam sampai kepada proyek-proyek pembangunan kota yang salah urus) dalam
ruang kebebasan yag makin besar, menunjukkan telah meningkatnya kepedulian dan pengujaran
tentang kota. Inilah suatu kemajuan yang sangat berarti dibandingkan, katakanlah, sepuluh tahun
yang lalu. Inilah modal untuk mempertebal peradaban berkota dan mengota kita. Suatu pencapaian
yang harus digulirkan terus dengan segala bentuk, dengan pencerdasan melalui pertukaran informasi,
negosiasi dan pemwacanaan.

Justru sebenarnya aneh, sejauh pengetahuan saya, belum pernah ada pameran tentang
perancangan atau perencanaan kota Indonesia yang terbuka kepada khalayak ramai, kecuali
yang bersifat menjual oleh para perusahaan pengembang.
Mungkin persoalannya adalah pada tataran apa suatu disiplin harus mengolah isu. Kota, bagi
arsitektur selama ini adalah suatu praktek, suatu proyek yang problem-solving, yang
harus dipesan dulu, baik oleh negara maupun oleh swasta, baik oleh lembaga maupun oleh
individu. Tanpa pesanan seolah-olah tak ada atau tak perlu ada pengolahan. Maka
demikianlah Bunderan Hi diolah setelah ada pesanan. Begitu juga perancangan kaki-lima
Thamrin-Sudirman. Tanpa pesanan, tak ada prakarsa untuk memwacanakannya secara
alternatif, apalagi secara partisipatif dan imajinatif. Masalahnya ada di berbagai tingkatan.
Untuk bisa berbincang dengan khalayak multi-stakeholders dan multi-disiplin, arsitektur dan
praktek perancangan kota harus menaikkan atau menurunkan diri (tergantung dari arah mana
memandang) pada tingkat konsep, bahkan brief 90 , yang perumusannya memang harus
dimengerti dan melibatkan khalayak ramai. Dalam proyek-proyek publik, ketika pemakai dan
pemilik proyek sesungguhnya adalah masyarakat, meskipun pemberi tugas formal adalah
pemerintah, memang peran arsitek lalu menjadi lebih besar dan lebih ke hulu, ialah berperan
dalam menggodok buram dari brief itu. Pada tingkat metodologis arsitek harus menemukan
cara dan bahasa untuk berkomunikasi dengan masyarakat dan disiplin lain. Pada tingkat
paling dasar, sebuah masyarakat (kota) itu sendiri harus memiliki keinginan untuk tidak
menyerahkan brief dan konsep hanya kepada arsitektur, tetapi tetap menghargai arsitek
sebagai profesional yang kompeten untuk memimpin dan mewujudkannya.
89

Saya tidak menganggap perencanaan kota atau planologi sebagai suatu disiplin ilmu, melainkan adalah
suatu praktek atau keahlian yang memanfaatkan berbagai disiplin ilmu seperti arsitektur, sosiologi, ekonomi,
matematika, statistika, dan lain-lain.
90
Brief, atau bisa juga disebut TOR (terms of reference) adalah keterangan dasar dari pemberi-tugas (client)
kepada arsitek tentang program, tujuan, dan arahan baginya untuk mulai bekerja merancang.

93

Bukittinggi di Lapangan Monas.


Lapangan Monas sedang berganti tiang lampu lagi. Begitu juga tanamannya sedang diganti
atau ditambah di beberapa tempat. Sedang patung Chairil Anwar dipindahkan, dijauhkan dari
patung Doponegoro. Suara lalu lintas merasuk sampai ke tengah-tengah lapangan. Jalan
silangnya panas terik, tidak untuk manusia berjalan kaki memintas. Di seluruh dunia, sebuah
taman kota memang selalu punya jalan silang sebagai jalan-pintas dari satu sudut kota ke
sudut lainnya. Pada Lapangan Monas, jalan silang bukanlah ruang fungsional maupun
bermakna lain kecuali untuk mendukung keberadaan obyek falik yang sentralistik, yaitu
Tugu Monas. Sesungguhnya, sangat sedikit peran dan makna seluruh ruang Lapangan Monas
itu sendiri, kecuali sebagai subordinat terhadap Tugu Monas. Sebagian besar ruang ini, ialah
bagian tengah yang mengelilingi Tugu, berlapis batu gersang, kosong dan terik tak berpohon,
diberi makna oleh perancangnya selama ini sebagai zona sakral untuk memanjakan
monumentalitas falik si tugu. Tugu Monas itu sendiri selama lebih dari 3 dekade telah
mengalami over-mistifikasi, tanpa sungguh ada kritik yang serius tentang estetikanya.
Sejak Tugu Monas dibangun, memang susah memaknai ruang lapangan itu sendiri sebagai
subyek otonom, yang justru lebih penting bagi kota ini, ketimbang tugu itu; kira-kira sama
dengan sulitnya memaknai perempuan sebagai subyek otonom karena lebih banyak
berkampung di dalam PKK dan Dharmawanita.
Kelas menengah tidak puas-puasnya membangun opini bahwa Jakarta kekurangan ruang
khalayak yang hijau. Tetapi memang mereka terpaksa lebih banyak pergi ke mall daripada ke
ruang terbuka hijau, karena katanya tidak nyaman, disamping terlalu dikuasai oleh kelas yang
bagi mereka lebih rendah dan mengganggu gaya hidup mereka.
Penggiat lingkungan juga mengeritik kurangnya daya serap air Jakarta. Sebanyak-banyaknya
tanah Jakarta harus terbuka sebagai penyerap air. Tanah Jakarta, dari sononya, lebih bersifat
lempung daripada pasir, maka tidak menyerap air kalau tidak diperbaiki. Maka diperlukan
sumur resapan, waduk resapan, dan danau buatan penahan air.
Permukaan hijau terus tergerus, oleh pengembang rakus, dengan ijin pejabat tikus, maupun
oleh kebutuhan penduduk yang memang tulus. Maka melindungi permukaan hijau yang
sudah terlembaga merupakan suatu perjuangan tersendiri. Luas permukaannya yang kini
datar dapat bertambah bila dibuat ber-bukit-bukit.
Bayangkan Lapangan Monas (dan sebaiknya seluruh Jakarta) belajar dari Kota Bukittinggi:
tentang ukuran metropolitannya dibandingkan kota-pasar Bukittinggi, tentang keragaman
dalam kedekatan, tentang setiap orang adalah pejalan kaki, ekologi, bukit-bukit berjanjang
dan tentang skala manusia, bahkan pada gunung dan keajabiban alam seperti ngarai. 91
Bukittinggi akan membuat Lapangan Monas menjadi tiga dimensi. Bukititnggi akan
memberikan pengalaman tiga dimensi kepada kehidupan sehari-hari warga Jakarta. Pucuk
pohon dan atap Istana Presiden, sebagaimana juga atap bus-kota, terlihat dari atas. Sosok
pohon akan dirasakan perlahan, mulai dari cengkraman akar, tekstur batang, ringkih ranting,
hingga lembut tunas. Arsitektur harus lebih bertanggung jawab karena akan nampak dari
berbagai sisi, termasuk dari bawah dan atas.
91

Tentang Bukitinggi, saya ceritakan lebih jauh dalam Bukittinggi, Desember 2003: Selebar
Alam/Sekecil Biji Bayam/Bumi dan Langit ada di dalamnya di halaman.Selain itu pada
tahun 2004 saya juga telah menerbitkan Bukittinggi Green Map.

94
Hampir seluruh inti-kota Bukittinggi, yang berpenduduk sekitar 15,000 jiwa, muat di dalam
Lapangan Monas. Dimensi Lapangan Monas yang sangat besar menjadi disadari; begitu
pulalah seluruh metropolis ini. Mudah-mudahan terbersit keinginan untuk mendapatkan
pengalaman sekaya luasnya, seribu pengalaman dalam luas semeter persegi, bukan
sebaliknya, satu pengalaman dalam satu kilometer persegi.
Dengan topografi Bukittinggi, Lapangan Monas (dan Jakarta) akan memiliki permukaan
hijau yang lebih luas. Bukit akan juga menciptakan oase yang hening di lembah dan lereng
dalamnya, melindunginya dari bising jalan di sekitar. Waduk raksasa berbentuk Ngarai
Sianok akan menyimpan air. Topografi akan memberikan rentang probabilitas pengalaman
yang tak terbatas. Dengan peningkatan kapasitas ekologis ini, maka ke dalam Lapangan
Monas dapat dimasukkan stasiun kereta api khusus dalam-kota yang sangat dibutuhkan oleh
warga Jakarta. Ia akan membuat Lapangan Monas dapat dijangkau secara murah dan mudah
oleh seluruh lapisan masyarakat. Kereta Api harus mendapatkan kembali kesempatannya
sebagai pelayan masyarakat yang penting, dan sebagai ruang khalayak untuk bercakap-cakap
sambl bergerak. Stasiun Gambir mempunyai sejarah panjang. Meskipun tidak harus tetap
stasiun paling besar, ia tidak perlu dikecilkan.
Tanah yang digali untuk membuat Ngarai Sianok cukup untuk membuat bukit-bukit di
sekelilingnya, sehingga tidak perlu ada pergerakan tanah dari dan keluar lapangan. Ruang
khalayak memang harus dikriya, dalam arti fisik maupun sosial-budaya, bukan dibuat asalasalan, apalagi tempel-tempelan.
Dengan kata lain: ruang lapangan menjadi kehadiran yang sepenuhnya, sehingga tugu
menjadi tak lagi relevan.
Bayangkan Tugu Monas dipindahkan ke Bukittinggi?

* * *
Thamrin-Sudirman: dari Highway menuju Highstreet
Satu-satunya cara memperbaiki Jalan Thamrin Sudirman (dan sesungguhnya: seluruh
Jakarta) adalah meniadakan penggunaan mobil pribadi di jalan tersebut dengan membangun
sistem angkutan umum yang baik, dan menyediakan hunian berbagai kelas sosial ekonomi
sesuai dengan komposisi pekerja di sepanjang jalan itu, dalam jarak jangkauan berjalan kaki
dari gedung-gedung perkantoran yang sekarang ada.
Umumnya perusahaan yang berkantor di jalan ini mempunyai komposisi kurang lebih
demikian: 2.9 % eksekutif (penghasilan perbulan di atas 20 juta), 8.8 % manager
(penghasilan perbulan di atas 6 juta), 29.4 % penyelia (supervisor, penghasilan per bulan
berkisar 3 hingga 6 juta), dan 58.8 % staf dan pegawai rendahan, penghasilan perbulan
berkisar 1 hingga 3 juta). Satu contoh perusahaan di salah satu gedung menunjukkan, dari 91
karyawannya, hanya satu yang tinggal di Jalan Sudirman, nampaknya di salah satu gedung
apartemen.
Pada saat ini sekitar 16.000 mobil pribadi digunakan oleh sekitar 20 % pekerja tingkat
teratas, ialah pada tingkatan eksekutif, manager dan sebagian supervisor, yang lebih dari 90
%nya tinggal di luar kawasan Thamrin-Sudirman. Meniadakan 16.000 mobil pribadi akan
membebaskan lebih dari 500.000 m2 lantai parkir yang setara dengan 10.000 unit hunian
kelas menengah kebawah, atau fasilitas pengasuhan balita berkapasitas 41.000 anak, atau
perpustakaan kota dengan kapasitas 10.000.000 buku, atau ruang terbuka hijau seluas 10 ha.

95
Selain itu jalur lambat untuk kendaraan dapat seluruhnya, yaitu selebar 6 meter pada masingmasing arah, dijadkan kaki-lima. Empat lantai bawah bangunan sepanjang seluruh jalan
dapat diperluas hingga ke perbatasan kaki-lima, dan diisi dengan kegiatan-kegiatan sosialbudaya dan kehidupan malam yang akan diperlukan oleh fungsi hunian di sekitarnya, dan
menjadi mungkin dengan pembebasan dari mobil pribadi tersebut.
Thamrin-Sudirman dengan demikian akan menjadi highstreet, bukan highway seperti
hampir-hampir sekarang ini.

Bunderan HI
Evolusi progresif Bunderan HI mempunyai kelayakan untuk diteruskan, bukannya distop
secara sewenang-wenang karena keterbatasan perspektif penguasa yang tidak mengerti
kebudayaan dan peradaban perkotaan.
Bunderan HI telah secara progresif berevolusi dari sekedar cantik dipandang hingga menjadi
hidup sejak 1997. Adalah pencapaian masyarakat praja menemukan Bundaran HI sebagai
ruang khalayak yang terbuka untuk ekspresi, yang sayangnya tidak dihargai oleh penguasa
karena keterbatasan acuannya.
Evolusi Bunderan HI itu perlu dilanjutkan, bukan malah dihentikan dengan paksaan oleh
bentuknya sekarang ini, yang sengaja dibuat anti-demokrasi oleh kekuasaan dan profesional
yang tercerai dari masyarakatnya. Menurunkan permukaan Bunderan HI menjadi suatu
sunken plaza, dan membuatnya dapat dimasuki oleh pejalan kaki melalui terowongan di
bawah jalan lingkarnya dari keempat sudutnya, akan menghilangkan konflik antara lalu lintas
dan kehidupannya sebagai ruang khalayak. Keadaan ini akan makin meningkatkan intensitas
dan keragaman kegiatan warga yang dapat terjadi di dalamnya, tanpa mengganggu lalu lintas
sekitarnya. Di suatu ketika yang pasti tiba, Jakarta akan memiliki stasiun bawah-tanah tepat
di bawah Bunderan HI, sehingga ia akan lebih-lebih lagi hidupnya sebagai ruang khalayak
yang fungsional maupun simbolik, penuh kegiatan dan penuh makna.
Billboard dapatlah sekali-kali dikuasai oleh khalayak untuk menyampaikan pesan-pesan
khalayak, bukan hanya pesan-pesan konsumtivisme. Layar lebar di depan Kedutaan Besar
Kerajaan Inggeris dapat menyiarkan peristiwa apapun yang terjadi di dalam Bunderan HI.
Begitu juga neon-sign di sekujur tepian Bunderan HI setingga 90 cm dapat berselang-seling
antara pesan konsumtiv dan pesan khalayak.
Tetapi yang lebih penting lagi: apapun upaya mengubah ruang khayalak yang merupakan
ikon Jakarta dan gerakan reformasi ini haruslah terlebih dahulu menjalani pemwacanaan
yang interaktif melibatkan khalayak ramai.

96

97

Metropolis Jakarta Menurut Pramoedya


Ananta Toer dalam Tales from Djakarta

92

Cerita-cerita pendek dalam Tales from Djakarta bertanda tahun 1948 sampai 1956. Inilah awal bangsa
Indonesia mewarisi dan lalu mengelola metropolis, ibukotanya, sendiri. Soal-soal yang tadinya tidak nampak
menjadi nampak: kampung yang jorok, ilusi modernitas, disilusi dengan migrasi dari desa ke kota, pelacuran,
ketergusuran, pengangguran, mimpi, harapan dan kekecewaan pasca-kolonial. Pram menampakkannya melalui
sejumlah tokoh dan karakter yang tidak biasa, yang melaluinya ia memaparkan lapisan-lapisan realitas dengan
kekayaan konteks partikular dan sekaligus mempertajam soal-soal universal manusia.
Keragaman karakter yang dipilihnya sungguh membuat sesak: mulai dari pelacur jalanan, kuli, burjuasi, jongos
dan babu, seniman, Arab, petualang perempuan dan laki-laki, penemu-pengusaha boneka yang sukses, preman
(debt collector) sampai politikus pahlawan revolusi. Kepadatan karakter, kisah, persoalan, perspektif,
pandangan dan pengalaman hidup dalam ruang kota yang terbatas ini sendirilah yang membuat buku ini
menjadi metropolitan, mengikuti definisi dari Arsitek Rem Koolhaas. Buku ini pada dirinya sendiri adalah
Jakarta di atas meja portable!
Lima dari kumpulan tigabelas cerpen ini mengambil tempat dalam ruang yang relatif sangat sempit, yaitu hanya
sebagian Jakarta Pusat sekarang: seputar Lapangan Monumen Nasional, Menteng, Gambir, dan Tanah Abang.
Itu saja! Tokoh-tokohnya adalah Aminah pelacur di Frombergpark (bagian utara Lapangan Monas sekarang, di
muka Gedung Departemen Dalam Negeri) dalam News from Kebayoran; dua penganggur yang mengelilingi
Lapangan Monas dalam Stranded Fish; Pram sendiri dan Sang Djibiril di kampung Kebun Djah Kober
dalam My Kampung; kuli pengangkut bernama Hasan di seputar Stasiun Gambir dalam Gambir; dan Dokter
Hewan Suharko di Menteng dalam Mrs. Veterinary Doctor Suharko. Apakah ruang-ruang Jakarta telah
memberikan inspirasi kepada Pram dan mempengaruhi karakter para tokoh?
Ironi Urbanisasi
Dalam News from Kebayoran, tergambarkan apa yang kini berulang: pembebasan lahan oleh pemerintah yang
mengakibatkan Aminah tersingkirkan dari keluarga dan kampung Kebayoran ke Jakarta menjadi pelacur. Pada
bulan Januari 1950 Kebayoran Baru memang sedang dibebaskan oleh pemerintah. Sebagian besar adalah
kampung, kebun dan sawah, belum terhubungkan oleh jalan aspal ke Jakarta, apalagi oleh Jalan ThamrinSudirman! Yang ada baru hubungan melalui Tanah Abang/Slipi. Kebayoran Baru dirancang antara lain oleh M.
Soesilo, perancang kota pertama Bangsa Indonesia, hanya berbekal foto udara, tanpa peta teresterial yang
lengkap. Ironi urbanisasi digambarkan getir di akhir cerita. Ketika Aminah dalam keadaan sekarat dibawa
pulang melewati deru buldoser, traktor dan truk pengangkut kayu, batu, pasir dan semen ke kampung yang
selalu diinginkannya kembali sebagai surga, para kerabatnya justru sedang menuju Jakarta. Kami pergi ke
kota. Kamu ke Kebayoran, kan?
Penerangan jalan dan taman dengan listrik masih mewah, sehingga hanya bagian Decapark yang dekat Istana
yang diberi lampu. Di seberangnya, pada tempat Gedung Makamah Agung sekarang, berdiri Restoran Yen Pin
yang mewah dan terang benderang. Maka, menghindari terang, Aminah hanya perlu pindah sedikit ke Timur,
tidak lebih dari dua ratus limapuluh meter dari pagar istana, ke Frombergpark, kira-kira mulai di depan Jalan
Veteran 2 sampai persimpangan ke Medan Merdeka Timur dan Veteran 1 sekarang.
92

Equinox Publishing, Desember 2000. Diterbitkan Jurnal Cultural Studies KUNCI, Edisi 9, Maret 2001, Politik Ruang.

98
Tempat Aminah mandi kemungkinan besar adalah kanal di sepanjang Jalan Pos, setelah ia melewati Jalan
Veteran 1. Air di kanal ini meskipun disebut berwarna kekuningan, belumlah kotor berbahaya seperti
sekarang, karena partikel lumpur dalam air bukanlah sesuatu yang mesti menimbulkan penyakit. Dalam fotofoto dari masa yang sama, kanal tersebut dan juga Molenvliet (di Jalan HayamWuruk/Gajah Mada) masih
dipergunakan secara massal sebagai tempat cucian umum. Padahal, Jalan Hayam Wuruk dan Gajah Mada
sendiri sudah mulai macet dengan kendaraan bermotor.
My Kampung adalah Kampung Kebon Jahe Kober di seberang Kantor Walikotamadya Jakarta Pusat Sekarang,
di belakang Jalan Abdul Muis, bersebelahan dengan kompleks Paspampres. Masih ada, meskipun tinggal
separoh. Hanya limaratus meter dari istana, lokasinya begitu dekat dengan tampak muka kota yang modern,
namun tidak tersentuh bahkan oleh politik etik Belanda sebelumnya, atau telah kembali rusak oleh arus
urbanisasi yang mendadak sontak setelah revolusi 1945. Kepadatannya sebenarnya tidak tinggi. Menurut
perkiraan Pram ada 900 orang di dalam 4 Ha, jadi 225 jiwa per ha. Perumahan dan pepohonan yang sangat
rapat mencegah tembusnya sinar matahari ke dalam rumah. Sekarang tidak lagi ada pohon besar, tetapi pohon
perdu masih rimbun. Jlan setapakpun telah dikeraskan dengan semen, mungkin oleh program perbaikan
kampung di tahun 80an. Kondisi yang sama dapat juga dirasakan di kampung Kebon Sirih (sisa pembebasan
lahan oleh grup Bimantara) atau Kali Pasir di Cikini, misalnya. Kematian karena penyakit menular merupakan
gambaran yang akurat bukan hanya mengenai kampung-kampung Jakarta, tetapi juga kota-kota besar lainnya
seperti Surabaya dan Bandung, dulu maupun sekarang. Penyair Wiji Thukul, misalnya, menggambarkan
kampung di Solo (atau Surabaya?) di akhir 80an dalam kumpulan Aku Ingin Jadi Peluru (penerbit Indonesia
Tera, 2000), teristimewa sajak Suara dari Rumah-rumah Miring dan Kampung.
Flnerie seputar Taman Kota dan Jalur Khusus Sepeda
Dalam Stranded Fish tokoh-tokohnya menghabiskan seluruh cerita 29 halaman dengan berdialog sambil jalanjalan tanpa tujuan mengelilingi Lapangan Monas sekarang. Suatu bentuk flnerie yang mengingatkan kita akan
Walter Benjamin. Tetapi bukan sendirian, melainkan berduaan suatu keakraban kelamin sejenis khas
Indonesia!
Mula-mula salah satu dari mereka keluar dari sebuah paviliun, ialah sebuah bentuk hunian sewa berupa
bangunan kecil yang menempel di samping rumah induk. Bentuk ini muncul di Gambir sejak awal abad ke-19
untuk memenuhi kebutuhan para pekerja atau pemilik perkebunan (planters) yang beberapa kali setahun harus
mengunjungi Jakarta setiap kali selama beberapa minggu untuk mengurus ekspor-impor. Letak paviliun itu di
Secretariat Street atau Secretarieweg, yaitu Jalan Veteran 3 sekarang. Darinya orang dapat melihat dinding
istana, karena belum terhalang oleh gedung Dewan Pertimbangan Agung sekarang. Mereka kemudian menuju
Decapark di seberangnya, di sebelah Barat Frombergpark, tempat Aminah dari Kebayoran berpraktik,
menyusuri Jalan Medan Merdeka Barat, dan kemudian Medan Merdeka Selatan menuju Gambir Square. Yang
terakhir ini tidak jelas apakah tempat bekas Pasar Gambir di muka Jalan Sabang/Wisma Antara, belakang
Stasiun Gambir, atau kawasan di sebelah Selatan Decapark yang pernah di sebut Gambirpark. Dari cerita ini
kita mengetahui ramainya Lapangan Gambir maupun Decapark dan Frombergpark sebagai tempat pelacuran.
Juga terdapatnya jalur khusus sepeda dengan bangku-bangku beton ditepinya sepanjang setidaknya Jalan Medan
Merdeka Selatan; serta masih adanya rel trem! Adanya jalur khusus sepeda, yang dipakai baik oleh sepeda
maupun becak, terpisah dari jalan utama untuk kendaraan bermotor, juga disebut dalam Gambir.
Orang-orang biasa tiduran di bangku beton. Foto-foto masa yang sama juga menunjukkan orang cukur di bawah
pohon mahoni yang besar. Sedang penjual makanan keliling, seperti tukang sate, merupakann hiasan siang
maupun malam. Jalan-jalan di dalam dan sekitar Gambir digunakan untuk ujian SIM.
Semua itulah latar belakang Stranded Fish, suatu karya dengan bentuk luar biasa, yang melalui dialog terus
menerus dan intensif antara dua orang flaneur menjelajah begitu banyak masalah dari mereka yang hidup dalam
suatu masa transisi yang membingungkan serta ilusif. Orang-orang yang berjuang tetap menjadi subyek dalam
arus modernisasi, di dalam ruang lapangan (waktu itu belum ada Monumen Nasional) yang begitu besar,
melewati istana presiden, departemen pertahanan, radio republik Indonesia dan unsur-unsur negara baru
lainnya.
Datangnya International Style
Mrs Veterinary Doctor Suharko memberi kita kesempatan mengintip isi rumah seorang bourgeois, seorang
dokter hewan yang kemudian menjadi politikus, mungkin seorang menteri (kepala departemen). Sebuah Morris
adalah mobilnya. Perabotannya dari kayu bermutu bergaya antik, mungkin dengan pengaruh gaya art and
craft movement, terdiri dari dresser (lemari terdiri dari deretan/susunan laci dengan cermin), sitje (set ruang
duduk waktu itu: meja, sofa, dan tiga kursi, menurut keterangan penerbit), jam berdiri yang besar (grandfather
clock), meja makan, radio besar dan pemutar plat musik merk Philips di ruang tamu, meja kerja, lemari, barang
keramik dan porselin dari Itali dan Cekoslovakia, kain tirai dari Mesir, bangku berlapis kulit dari Maroko,
tulisan hias gulungan (scroll) dari Jepang dan bordiran dari Cina. Lebih dari itu, cerita Doctor Suharko juga
adalah mengenai datangnya International Style di paroh kedua tahun 1950an. Isteri keduanya, Kiki, adalah

99
generasi International Style, yang mereduksi modernisme menjadi replikasi gaya garis dan bentuk. Ia
menggantikan satu demi satu perabotan kolonial yang dipilih isteri pertamanya Cory, dengan barang-barang
pseudo-modern, mengiktui trend majalah wanita terbaru. Grandfahter clock diganti dengan jam meja
rancangan mutakhir, hiasan-hiasan dari kawat, patung kecil (maquette) dari tanah liat, beludru dan jerami
semuanya lebih praktis, modern dan murah lagi, kata Kiki. Lemari kayu bergaris dan bentuk klasik diganti
dengan lemari dengan pipa baja dan krom. Radio Philips diganti dengan stereo-set Grundig. Piano juga
menghilang, diganti oleh sepeda motor 150 cc. Sedangkan kandang kalkun di halaman belakang telah dibongkar
untuk membangun lapangan badminton. Dinding rendah di veranda depan, yang tadinya berhiaskan bungabunga plastik, kini diganti dengan akuarium berisi segala macam ikan hias.
Beberapa cerpen lain memberikan gambaran tidak langsung mengenai tata kota Jakarta. Pasar Baru masih
merupakan pusat perbelanjaan terpenting. Dalam House digambarkan persoalan sewa-menyewa rumah di
Jakarta. Tokohnya tipikal: Arab, yang memang menguasai bisnis persewaan tanah dan rumah di Jakarta. Tidak
disebutkan lokasi persisnya, tetapi dapat diduga Tanah Abang, Senin, Kramat, atau Jatinegara. Cilincing masih
merupakan pantai hiburan pilihan (dalam Houseboy + Maid). Gedung Societeit Concordia (sudah tidak ada,
dulu di Lapangan Banteng) adalah panti perwira yang pernah dipergunakana Jepang, yang memiliki ruang
bawah tanah yang dipergunakan sebagai kamar-kamar pribadi untuk kencan. Ada jendela sedikit di atas tanah,
yang menampilkan cahaya dan suara genit ataupun terpaksa dari kamar-kamar itu. Akhirnya, disilusi atas
migrasi dari desa ke Jakarta dalam cerita Ketjapi. Djakarta! Djakarta! Djakarta, tempatnya semua orang
pelarian, lamun Lelaki Kecapi, dimana orang dicangkokkan ke wilayah barudari Negeri Lembah dan
Gunung, tulis Pram.

100

Seni Instalasi Arsitektur?

93

Setidaknya ada tujuh karya seni instalasi yang dibangun oleh para arsitek dalam rangka Jakart@2001 di
Jakarta dalam tiga minggu belakangan ini. Apakah ini menandai lahirnya genre baru dalam senirupa kita: Seni
Instalasi Arsitektur?
Yang paling kolosal, yaitu layar putih setinggi empat meter mengelilingi Bundaran HI, sayangnya hanya
bertahan dua hari, setelah dibangun, rubuh, dibangun, dan rubuh lagi oleh arsitek muda Cika dan kawankawannya yang gigih. Bagi warga Jakarta yang beruntung menyaksikannya utuh terpasang, yaitu pada hari
Rabu (27 Juni) pagi dan kemudian malam sampai Kamis (28 Juni) siang, tersaji bundaran HI yang lain sama
sekali: hening, dengan dimensi dan bentuk melingkarnya dibuat jelas oleh tirai vertikal tersebut, yang juga
berperan sebagai latar yang menetralisasikan kekacauan visual di kawasan tersebut. Warna putih adalah pesan
damai tersendiri pada ruang yang sangat sering menyaksikan demonstrasi itu.
Di Jalan Sudirman, di seberang gedung S. Widjojo, sebuah pintu masuk ke Gelora Senayan menjadi disadari
keberadaannnya oleh instalasi yang bermaksud menggiring orang masuk ke dalam. Yang disebut sebagai
Gerbang Tenggara Gelora Bung Karno ini oleh dewan juri Sayembara Plaza Bung Karno yang lalu disebut
sebagai gerbang paling terkemuka karena dua hal. Pertama karena menghadap ke Jalan Sudirman yang
merupakan aksis utama Jakarta serta sangat ditentukan oleh Sukarno. Kedua, karena padanya terdapat
perhentian kendaraan umum yang membuatnya menjadi pintu masuk pejalan kaki yang paling potensial,
langsung dari jalan utama kota. Selama ini pintu tersebut tertutup pintu gerbang besi, dengan hanya menyisakan
dua celah selebar 60 sentimeter untuk orang lewat secara terseok-seok. Inilah yang digugat oleh arsitek Rini dan
kawan-kawannya yang membangun instalasi itu. Sayangnya, kegiatan pertunjukan yang dijadwalkan di situ,
termasuk Teater Topeng Setiap Warga oleh Bokir dan kawan-kawan konon tidak mendapat cukup penonton.
Empat instalasi terdapat di Jalan Pintu Besar Selatan, Jakarta Kota, sebuah kawasan yang penuh stikmatisasi
sosial: pecinan yang serba materialis, hiburan malam, kumuh, jahat. Di sini juga terjadi peristiwa laknat Mei
1998 yang sama sekali belum jelas perkaranya itu. Empat arsitek membangun seni instalasi pada empat wajah
bangunan yang bopeng blontang, korban dari peristiwa tersebut. Memang tidak ada yang lebih tepat: arsitektur
adalah korban-saksi, sekaligus menyimpan kesedihan korban dan kejadian yang lebih mengerikan di dalamnya.
Arsitek Isandra Matin Achmad menutupi sebuah fasade bangunan dengan dua bidang susunan bambu. Satu
bidang susunan vertikal, satu lagi horizontal. Ia menyerupai dua telapak tangan yang menutupi wajah yang
takut. Tirai Bambu adalah lambang universal etnis Cina. Tetapi barangkali ia juga lambang dari setiap
kelompok minoritas manapun: hidup harus lentur, atau patah!
Arsitek Sarjono Sani menutupi sebagian wajah bangunan dengan sejumlah kuntum mawar yang merah sekali,
yang pada waktunya akan luntur perlahan-lahan meleleh menjadi air mata darah. Sedangkan bagian lainnya
terdiri dari kepingan-kepingan yang berbeda-beda - menutup dan membuka - melambangkan arsitektur yang
terpaksa reaktif terhadap kondisi dan kejadian sosial yang kadang-kadang mengerikan bagi yang marjinal,
termasuk kaum minoritas.
Instalasi lain lebih arsitektural: menyambungkan fasade jalan yang terputus oleh sebuah bangunan yang mundur
(setback) dari garis sempadan jalan. Ini sebenarnya soal penting untuk kota tua bersejarah Jakarta Kota. Sebab
khasnya kota ini adalah bangunan-bangunan dan blok-blok yang menempel langsung pada garis sempadan
jalan, sehingga menciptakan ruang jalan yang akrab dan teduh, sekaligus bangunan-bangunan yang ramah
93

Diterbitkan Koran TEMPO,...

101
karena dapat disentuh oleh orang yang berjalan-jalan. Ini pula yang memungkinkan terjadinya arkade.
Penerapan aturan setback yang membabi buta perlahan-lahan sedang menghancurkan tipologi kota yang khas
tersebut.
Arsitek Andrew Tirta dan Daniel Dick mengembangkan pendekatan yang lebih grafis: potret besar etnis Cina
yang terobek. Inilah kekejaman yang terbesar, bukan hanya oleh peristiwa Mei 1998, tetapi oleh seluruh
kebijakan Orde Baru (yang belum seluruhnya diperbaiki): suku bangsa yang dipaksa lepas dari akar
kebudayaannya, dirobek identitas kolektifnya. Inilah korban fasisme Orde Baru yang tidak mau menghargai
budaya sebagai lapisan-dalam psikis, sebagai dasar identitas pribadi manusia, yang tidak boleh dipolitisasi atas
dalih apapun.
Keempat arsitek itu boleh dikatakan mempunyai kepekaan yang patut dihargai, ketika perjuangan
memerdekakan kaum minoritas, termasuk mengingat kembali peristiwa terlaknat sejarah bangsa ini, sedang
memasuki pasang surut yang tidak semestinya dan malah memalukan. Keberanian? Mungkin tidak seberapa
dibanding yang melakukannya di masa lalu, seperti para perupa senior FX Harsono dan lain-lain, serta pejuang
hak-hak minoritas seperti Esther Jusuf.
Instalasi ketujuh dari para arsitek itu tidak kalah kolosalnya: pengecatan sebuah kampung di bantaran sungai
di Muara Angke. Setelah beberapa kritik, jelaslah bahwa inipun adalah sebuah instalasi ketimbang sebuah
arsitektur, karena lebih banyak berfungsi simbolik daripada nyata. Yang paling penting: kegiatan itu
mengangkat kembali ke permukaan persoalan perumahan kumuh sebagai persoalan publik-kolektif kita semua,
bukan hanya persoalan mereka yang di dalamnya. Pentingnya: karena bukankah soal itu belakangan ini makin
surut ke latar belakang, makin kabur dan tidak nyata, ketika para elite kita sibuk dengan hal-hal kolosal lainnya
yang terpaksa ditonton lewat layar tv saja oleh penghuni kampung itu, ketika penayangan teletubbies dan film
India dan sinetron Amerika Latin sudah selesai dan tidak ada pilihan lain?
Para arsitek membuat seni instalasi: apakah sudah dapat dibaca sebagai kelahiran genre baru? Mungkin belum,
sebab tidak ada kekhususan mendasar kecuali bahwa ia menggunakan arsitektur sebagai bahannya, dan
sekaligus mengkomentari arsitektur itu sebagai subject-matter-nya. Sedangkan secara teknis dan detail garapan
ekspresif belum mencapai tingkat seni instalasi dari para perupa professional.
Faedahnya? Bagaimanapun juga, kepekaan para arsitek itu mengenai ruang dan lokasi menyadarkan warga
Jakarta mengenai keberadaan ruang publik yang ternyata tidak sedikit, melainkan hanya tidak semuanya dapat
dimasuki dengan enak. Seni instalasi mereka setidaknya memberikan indikasi, bahwa rasanya banyak alternatif
dan perbaikan menjadi mungkin. Bukankah kita memerlukan itu, menuju kehidupan yang makin demokratis
dan plural? Selain itu, mereka menunjukkan bahwa bidang garapannya, arsitektur, adalah hajat hidup orang
banyak yang penting. Arsitektur kota adalah saksi dan museum sejarah terbesar dan terpatuh. Semua ironi,
tragedy, dam komedi- direkam, tanpa kecuali.

102

Fragmen-fragmen Metropolis Jakarta


dalam Jakart2003
94

Memang tidak semua karya arsitek atau calon arsitek adalah arsitektur atau punya hubungan langsung
dengan arsitektur. Tetapi karena ruang kota adalah arsitektur, maka semua karya di ruang terbuka
kota Jakarta dalam rangka JAKART2003 harus menyikapi arsitektur.
(Salah satu) Acara pembukaan JAKART2003 diselenggarakan di ruang terbuka di pinggir sungai
Ciliwung di pinggiran Selatan Jakarta, pada malam hari, di antara pohon-pohon dan rumpun bambu.
Diperlukan JAKART2003 ini untuk orang mengingat kembali kenyataan Sungai Ciliwung dan alam
biotik lainnya, yang sebetulnya hadir di seluruh kawasan Jakarta, membelahnya dari Selatan sampai
Utara. Diperlukan untuk pergi sejauh sampai pinggiran itu untuk mengetahui masih hadirnya alam di
metropolis Jakarta. Mungkin pula, maksudnya adalah menyadarkan orang akan kenyataan pinggiran
kota atau suburban itu sendiri dengan segala gejala rumitnya: keterpingiran orang kampung, makin
jauhnya alam dari manusia metropolitan, makin terpisahnya adab, seni dan alam, serta terancamnya
hubungan romantik antara kota dan desa.
JAKART2003 juga membandel ingin memberitahu Jakarta, bahwa hadir suatu lapangan, di sebelah
utara pusat perbelanjaan Senayan, dengan menjadikannya salah satu tempat utama penyelenggaraan
acara-acara JAKART2003. Sayangnya lapangan ini tinggal lapangan, gagal menjadi plaza atau
piazetta (plaza kecil) sekalipun, karena tak berdaya hidup sama sekali, meskipun dirancang dengan
permukaan yang mapan, anak tangga yang memberikan ketegangan garis horisontal, diberi air
mancur yang menari dan empat pohon beringin (ficus benjamina javanica) di ke-empat sudutnya.
Kegagalan ini karena ia terasing, jauh dari kehidupan kota majemuk yang nyata, bahkan terasing dari
kehidupan fetish di sebelahnya --pusat perbelanjaan Senayan itu. Keterasingan itu dirayakan lagi
dengan meninggikannya 1.5 meter di atas permukaan jalan, sehingga sama sekali tak nampak dari
jalan-jalan disekitarnya. Lapangan ini panas terik di siang hingga sore hari, karena menghadap ke
Barat. Entah apa maunya arsitek. Di lapangan ini, dan di seluruh kompleks perbelanjaan ini, sudah
sejak dua tahun terakhir diwacanakan suatu idelogi baru, yaitu seni dan komoditi hadir bersama
atau upaya mendidik konsumen dengan keadaban seni. Maka Teguh Ostenrik, Dolorosa dan lainlain telah berpameran di sini. Tujuan marketting menjadi basis saling-memperalat (kerjasama?) yang
ganjil. Entah siapa yang menang: seniman-seniman itukah, atau pengusaha pusat perbelanjaan itu?
Katanya sama-sama.
Sedang para arsitek dan calon arsitek rupanya bekerja dengan dorongan pesan yang kuat: ingin
mengingatkan orang akan isu-isu serius metropolis Jakarta.

94

Diterbitkan KOMPAS,

103
Konsentrasi upaya mereka dalam rangka JAKART2003 ini ada di Jakarta Kota, cikal bakal Jakarta
sebagai kota pantai, perdagangan, dan kolonial. Beberapa bangunan tua dicat. Alangkah mudahnya
menyadarkan orang akan indahnya bangunan dan kawasan tua yang merana ini. Di cat saja, seperti
orang berbedak sehabis mandi: setidaknya kebersihan yang segar mengisyaratkan perawatan minimal
yang seharusnya. Tapi cat ini dibuat serius, bukan sembarang cat, melainkan cat non-akrilik, agar
pori-pori dinding bangunan tetap bernafas. Maka pertama kalinya di Jakarta kini ada industri kecilkecilan cat non-akrilik. Ini pula sebuah pesan: pekerjaan konservasi bangunan tua adalah pekerjaan
yang penuh kecintaan yang peka, dan perlu didukung dengan ketekunan keahlian dan industri yang
spesialis.
Setiap minggu ada pertunjukan di jalan Kali Besar Timur. Juga di dalam sebuah bangunan abad ke-18
(dengan perubahan di abad ke-19) di Jalan Kali Besar Timur 4. Heidi Awuy memainkan Adieu to the
Native Land dua minggu yang lalu. Ratna Riantiarno membaca puisi. Gedung Kota Bawah ini hendak
menawarkan sensasi baru dengan tidak memugarnya (karena sudah terlalu parah dijarah dan rusak),
melainkan dengan mempertontonkan kereruntuhan yang romantis. Bangunan baru, dengan gaya yang
sekarang sedang latah di kalangan kelas menengah atas --struktur baja dan dinding transparan-semata-mata akan diselipkan ke dalamnya. Sensasi ini mungkin akan menarik minat orang ke tempat
ini; tetapi apakah sikap non-pemugaran akan menyumbang sesuatu yang berarti kepada upaya
pelestarian pusaka budaya, yang pada saat-saat ini memerlukan ofensif yang sekuat-kuatnya, bukan
sekedar sikap romantis yang pasrah, bahkan cengeng?
Di Kali Besar mengapung instalasi sejumlah rakit yang mengusung ruang kubus di atasnya, yang
berdinding plastik-plastik yang sengaja dicorat-coret dengan cat beberapa warna. Maksudnya
mengingatkan orang akan sampah, akan perlunya Kali Besar ini dibersihkan. Kenyataan ini
sebenarnya sama sekali tak perlu diingatkan secara visual, sebab baunya yang menyengat tak
mungkin terlewatkan siapa saja yang berjalan kaki di sepanjangnya. Maksudnya mau
mengingingatkan akan sampah, tetapi instalasi ini sama sekali tidak dibuat dari sampah, apalagi yang
dijaring dari Kali Besar, melainkan dengan bahan-bahan yang seratus persen baru. Sesudah itu
mereka akan menjadi sampah baru --alangkah ironisnya.

Di kaki-lima tepi Jalan Gajah Mada di depan Duta Merlin, ada Malu-malu Mau yang mengutip
Immanuel Kant: Manusia adalah makhluk sosial yang asosial. Instalasi ini adalah suatu intervensi:
pejalan kaki tiba-tiba disongsong dengan sesuatu yang tidak biasa, sebuah lorong yang dindingnya
robek, berlobang dan celah, yang tiba-tiba memisahkan pejalan kaki dari kesibukan jalan raya di
sebelahnya, sesuatu yang sebelumnya diterima sebagai kesatuan dengan kaki-lima itu sendiri. Hak
pejalan kaki untuk diselamatkan dari rasa takut, dari ancaman ruang kota yang kejam, muncul
sebagai sentakan yang mengagetkan. Singkat, hanya selusin langkah, ketiadaan perlindungan
disadarkan oleh kehadiran batas sementara. Dalam selusin langkah, orang mendapatkan privacy yang
gamang, bersebelahan dengan ruang publik yang hingar.
Malu-malu Mau, oleh Dana Surya (22 thn)

Di Bundaran Bank Indonesia, dibangun layar-layar Jakarta-Jakartaku, yang dimaksudkan dapat


berputar pada poros tegaknya, menangkap angin. Ini mengingatkan instalasi memagar Bundaran
Hotel Indonesia tahun lalu dengan kain putih, yang runtuh oleh angin hanya semalam setelah
dibangun. Rupanya instalasi tahun ini ingin belajar memanfaatkan angin, bukan melawannya, sambil
mengingatkan orang akan kehidupan maritim. Sayang instalasi yang cukup mahal ini (kakinya dari
besi yang diberi pemberat) tetap saja tumbang sebagian oleh angin. Layarnya tidak berputar, dan
lebih menyerupai umbul-umbul iklan. Ini lebih menyerupai suatu dummy karya patung kinetik pop
yang bisa menjadi penghias Jakarta yang pantas bila dibangun sebagai konstruksi permanen.
Layarnya, meski berwarna atau bergambar, dapat saja transparan.
Angin, layar, dan Jakarta --mengapa tidak!
Di sisi timur Patung Pak Tani, Menteng, susunan bidang-bidang multipleks diam-diam
mengisyaratkan Jakarta Makin Kacau . Patung Pak Tani, yang terkenal memiliki hubungan
proporsional yang terbaik terhadap ruang (taman) di sekelilingnya, rupanya mendapatkan teman yang

104
menghargai hubungan itu. Lagi-lagi ini lebih dapat dianggap dummy dari sebuah patung permanen,
ketimbang sebuah karya instalasi.
Kita disadarkan, bahwa tempat-tempat seperti ini, sama seperti banyak tempat lain di Jakarta,
memang perlu dihidupkan kembali secara segar, tidak disepelekan atau taken-for-granted. Mungkin
inilah makna JAKART2003: ia membawa kita, atau setidaknya perhatian kita, ke tempat-tempat yang
asing dan yang tidak asing namun terlupakan. Metropolis Jakarta sebagai sebuah tempat telah
menjadi kenangan. Membatinnya sebagai terdiri dari fragmen-fragmen yang dihubungkan oleh
kemacetan lalu lintas tokh bisa nikmat juga...

Jakarta Makin Kacau, oleh Rafael.

Marco KusuMarco

105

Penghapusan Mural Mencekik Prakarsa


dan Rasa Memiliki Masyarakat
95

Tercengang, bingung, tidak mengerti. Demikianlah reaksi kita ketika mengetahui bahwa Pemda DKI sedang
melabur habis semua lukisan mural di tiang jembatan layang dan tempat-tempat lain hasil festival kesenian
Jakart@2001 bulan Juni lalu. (Lihat berita di KOMPAS kemarin, 6 Agustus 2001)
Kalau saja publikasi lebih baik, maka lebih banyak lagi warga Jakarta akan terhenyak, karena seharusnya
mengetahui bahwa banyak dari lukisan-lukisan dinding itu adalah karya perupa muda Indonesia yang telah
mendapatkan reputasi internasional. Beberapa dari mereka bahkan baru saja kembali berkeliling manca negara.
Karya-karya tidak ketinggalan dibandingkan reputasi perupanya: hampir semuanya mengandung pesan yang
mendalam serta dikerjakan dengan teknik tinggi.
Secara isi, karya-karya itu hendak menyentak perhatian warga kota metropolitan Jakarta kepada soal-soal publik
yang mendesak: kekerasan, budaya media-massa-tv, kebancian, aspirasi akan pendidikan, kesulitan hidup
sehari-hari warga kota kebanyakan, hegemoni budaya pop impor dari Amerika, dan sebagainya.
Secara teknik, karya-karya itu dikerjakan dengan keringat, perasaan dan perhitungan matang. Sebab melukis
pada tembok besar tidaklah sama dengan melukis pada kanvas kecil. Sebab dinding itu tidak dapat dibolak-balik
atau diputar-putar untuk memperkirakan dampaknya terhadap pemirsanya yang bergerak dalam keramaian. Para
perupa juga harus memberdayakan segenap kepekaannya mengenai bagaimana masyarakat akan mencerap
pesan mereka. Sebab itu, yang disebut porno sekalipun sebenarnya telah digarap secara cukup halus dengan
efek yang diperhitungkan terhadap penonton, sehingga jauh dari rasa vulgar.
Semuanya dikerjakan tanpa pamrih karena satu eksperimen idealistis: ruang-ruang kota, seperti kolong-kolong
jembatan layang itu, tidak selayaknya terbengkalai seragam begitu saja di tengah kota metropolitan yang langka
ruang ini, di mana manusia berhimpitan. Intinya, sambil isinya mengingatkan kita kepada soal-soal kolektif
yang hampir terlupakan oleh keasyikan kita menonton ulah para elit dan kesulitan kehidupan individual, mereka
menyadarkan warga kota akan kontribusi senirupa sebagai renungan budaya yang kritis, serta akan pentingnya
ruang terbuka dan umum - terutama ruang-ruang yang lokasinya selama ini terlupakan dan tidak menyenangkan
untuk dimasuki, bahkan terlupakan karena terbiasa.
Semua itu dalam rangka perayaan ulang tahun Jakarta yang untuk pertama kalinya diselenggarakan secara
swadaya oleh masyarakat, tanpa sepeserpun uang rakyat! Bagaimana mungkin sekarang malah uang rakyat
digunakan untuk memusnahkannya?
Melalui Jakart@2001 masyarakat Jakarta untuk pertama kalinya merayakan ulang tahun kotanya secara
swadaya dan bottom-up. Puluhan seniman dan arsitek berkualitas tinggi tergerak secara sukarela, tanpa dibayar.
Masyarakat secara luas baru mulai menyadari dan merasakan nikmatnya karya swakelola sesama mereka.
Hasilnya, secara obyektif terang dapat dikatakan jauh lebih bermutu daripada apa yang dihasilkan oleh
anggaran APBD itu, yakni antara lain lampu-lampu pohon artifisial serta pot-pot tanaman yang layu setelah dua
minggu.
Maka tepatlah bila dikatakan, bahwa keputusan Pemda DKI untuk melabur seragam semua karya itu, hanya
karena ada satu dua yang dianggap porno, merupakan bukan saja tindakan melecehkan senirupa, tetapi juga
95

Diterbitkan KOMPAS,

106
mencekik prakarsa dan rasa memiliki masyarakat yang demikian besar dan bernilai historis! Keputusan itu
dapat dikatakan anti-seni dan sekaligus anti-produktivitas masyarakat mandiri. Sebab berkesenian memberikan
dasar dari dasar produktivitas: inspirasi, yang adalah cikal bakal pengerak (prime-mover) semua proses lain.
Tidak ada yang salah dengan tiang beton yang seragam. Tetapi jelas tidak masuk akal menganggapnya lebih
baik daripada karya seni para perupa seperti Hanafi, Apotik Komik, Kekev Marloy dan lain-lain.
Jakarta metropolitan juga terlalu besar untuk menerima keseragaman sebagaimana yang dijadikan alasan dalam
penjelasan HUMAS Pemda DKI Jakarta.
Memang ada pro dan kontra. Tetapi itulah senirupa. Mana mungkin ada senirupa bermutu yang tidak
mendorong munculnya pro dan kontra? Karena itu, hal tersebut bukan alasan untuk meniadakan sama sekali
semuanya, apalagi atas dasar keputusan sepihak yang mengatas-namakan masyarakat.
Memang bukan sekali ini kebebalan birokrasi telah melecehkan seni. Sebelum ini, beberapa patung karya
seniman besar kita dipindah-pindahkan tanpa sepengetahuan senimannya, hanya karena alasan teknis atau agar
mengalah untuk penataan yang lebih besar. Sikap yang melihat karya senirupa hanya sebagai produk akhir,
tanpa mengerti latar belakang perjuangan para penciptanya, saya sebut sebagai fetishisme negativ. Karya seni
diputus-lepaskan dari penciptanya bukan karena nilai komoditasnya, tapi karena tidak dilihat nilainya sama
sekali dan dihancurkan begitu saja. Mungkin kita harus belajar dari perupa Agus Suwage yang selalu
menampilkan persona dirinya dalam karyanya, seolah hendak berkata: Aku tidak dapat dipisahkan dari
karyaku, sebab Aku ada di dalamnya!
Pelajaran terpenting: rupanya ada kesenjangan begitu besar antara kita semua mengenai bagaimana senirupa
dan ruang publik harus dipahami dan dimaknai. Ini bukan alasan untuk saling berpaling, melainkan justru untuk
duduk berbincang bersama. Mungkin kita semua perlu saling belajar. Yang ketinggalan, menambah. Yang
keterusan, mengurangi. Kita bisa mulai, untuk tahun depan, dengan membentuk badan perijinan dan penilaian
bersama, terdiri dari wakil birokrat, perupa dan masyarakat awam. Yang terakhir ini misalnya oleh wartawan
atau kritikus seni yang di negara maju mudah dianggap sebagai salah satu wakil kepentingan umum. Yang
jelas salah adalah kalau otoritas itu diserahkan begitu saja sepenuhnya kepada birokrasi. Sebab kalau begitu kita
kehilangan proses rekonsiliasi dan saling-belajar bersama.
Sementara itu: masih ada mural yang, ketika tulisan ini dibuat, belum dilabur, misalnya pada dinding terminal
Blok M. Mari kita lindungi bersama!

107

Mural, Kota, Jogja


Mural di Jogja menyadarkan kita akan banyaknya sampah-sampah, percah-percah ruang dan benda di
kota-kota kita --bukan hanya di Jogja-- yang tak pernah dipikirkan sebagai unsur adab sebuah kota.
Inilah hakekatnya mural yang diciptakan para seniman di Jogja: karya-karya itu bukanlah disediakan
tempatnya, melainkan mereka sendirilah yang menemukan tempatnya. Lebih jauh lagi: mereka
mengajak publik kota menemukan percah-percah ruang dan benda sampah kota itu.
Itu dilakukannya dengan menarik perhatian dengan mengupayakan makna melalui warna, humor,
ilusi perspektif, dan gambar-gambar yang tidak biasa berada pada dinding dan benda yang
sebelumnya hanya abu-abu, hambar, sisa-sisa atau akibat kecelakaan pembangunan yang tak beradab
dan tanpa makna sama sekali.
Makna adalah suatu lompatan nilai: dari sesuatu yang tak berarti kecuali untuk mendukung eksistensi
yang lain, menjadi sesuatu yang memiliki kehadirannya sendiri. Maka mural-mural ini sebenarnya
adalah karya kolase yang melibatkan benda-benda dan ruang temuan raksasa berupa sampah-sampah
kota itu, karena yang terakhir ini bukan hanya berfungsi menjadi kanvas yang menghilang dibalik
cat, melainkan justru bersama-sama dengan cat ia membangun kehadiran baru dengan makna baru,
melebihi eksistensi terdahulunya yang hanya berkisar dari tak berarti apa-apa sampai sekedar
fungsional terhadap eksistensi lain (sebuah jalan layang yang didukungnya; sebuah rumah yang
terpotong; sebuah bagian kota yang tak berarsitektur).
Mural renaissance selalu menghias arsitektur, disediakan tempatnya oleh Michelangelo Buonarroti
dan lain-lain. Pada candi-candi Indonesia, hiasan dinding seperti ini terdapat secara kolosal dalam
bentuk relief dalam yang membungkus seluruh objek. Renaissance memberinya tempat di dalam
ruangan. Candi-candi Indonesia memberinya tempat di sekujur tubuh obyek 96 . Mereka tidak
menemukan arsitektur. Arsitektur yang mengundang mereka, atau setidaknya bekerjasama dengan
mereka. 97
Sedang mural di Jogja menemukan sampah-sampah arsitektur kota, dan melibatkannya ke dalam
suatu penciptaan kolase, yang berarti suatu kerangka-makna baru. Dapat dikatakan mereka sekaligus
mempermalukan arsitektur dan mengangkatnya dari nestapa yang dalam. Yang pertama dikarenakan
mereka membuat khalayak menyadari betapa arsitektur telah menghasilkan begitu banyak sampah di
kotanya. Yang kedua karena melibatkan arsitektur itu --tanpa menghilangkannya-- ke dalam suatu
kehadiran baru yang lebih bermakna. Arsitektur tidak menemukan mereka, apalagi mengundangnya.
Merekalah yang merangkul arsitektur, yang sebelumnya bahkan tak disadari sebagai arsitektur oleh
para penata kota dan khalayak kota. Mural-mural ini membuat eksistensi arsitektur kota berada di
antara batas ada dan tiada. Persis di hadapannya, ilusi yang diciptakannya seolah meniadakan
96

Candi Bhumisambharabudara (Gunung dari Akumulasi Kebajikan dalam Sepuluh Tingkatan Bodhisatwa, atau Candi
Borobudur) berisi 1,460 panel bergambar serta 1,212 panel dekoratif, semuanya mencakup permukaan seluas 1,742 meter
persegi. (Dikutip dari N.J. Krom dan Th. Van Erp, Beschrijving van Barabudur, The Hague, 1920-1931, dalam Claire Holt,
Seni di Indonesia, Masyarakat Seni Pertunjukan Indonesia, Bandung, 2000.
97
Dalam The Architecture of Manasa (sebuah risalat India kuno) dikatakan bahwa: Arsitek utama (sthapati) adalah
pencipta (prakriti) dan ahli patung (sthapaka) hidup dari patung-patung; maka dari itu mereka harus bekerja bersama dan
berkonsultasi satu dengan yang lain sejak awal dari pekerjaan. (Dikutip dari terjemahan dari bahasa Sanskrit karya P.K.
Archarya, London, 1933, dalam Claire Holt, ibid)

108
dinding-dinding itu, sedangkan dari jarak yang cukup eksistensi tembok-tembok itu menjadi makin
nyata, terutama aura negatifnya. Dari renaissance ke bakal metropolis Jogja: arsitektur berubah dari
ibu segala seni menjadi anak jalanan yang dipungut kembali oleh seni. Meskipun tak diundang, seni
rupa menawarkan sesuatu kepada tempat-tempat yang tak dihargai arsitektur kota. Para seniman
mengembangkan sensitivitas tentang ruang kota, melakukan intervensi yang telah gagal dilakukan
oleh para arsitek.
Akan mengherankan bila arsitektur dan para arsitek tidak belajar apa-apa dari peristiwa muralisasi
Jogja ini. Akan mengherankan bila kota Jogja tidak belajar apa-apa.
***
Soal kedua yang mencuat dari intervensi para seniman ke dalam ruang publik kota ini adalah tentang
hubungan antara kota dan kehidupan publik dengan kesenian. Bagaimana kota --ruang publiknya-harus mengakomodasi seni?
Pada kota, arsitektur sebenarnya punya kesempatan kedua sebagai ibu segala seni, karena
semestinya kota itu sendiri adalah arsitektur ruang publik, adalah kehidupan publik. Dapatkah ia
sungguh merupakan karya seni atau setidaknya berperan sebagai pengayom seni?
Suatu peristiwa sejarah serta merta tampil untuk diingat. 2,439 tahun yang lalu Pericles (490-428
BC), raja Athena, menunjuk Pheidias (lahir tahun 500 BC), seorang pematung, untuk mengawasi
pembangunan kota Athena pada masa keemasannya. Ia menciptakan, antara lain, Parthenon dan
Gerbang Akbar yang menandai jalan ke Acropolis, tempat Parthenon berdiri. Apakah Parthenon
sebuah karya arsitektur atau karya patung? Apakah Borobudur sebuah karya arsitektur atau karya
patung? Apakah Pheidias bukan seorang arsitek, sebagaimana Gunadharma (pembangun Borobudur)
bukan seorang pematung sendiri, selain ia memang jelas bekerja sama dengan pematung? 98
Kasus Athena bisa mendorong kita untuk mengharapkan adanya tokoh, penguasa patron di kota-kota
kita. Bukankah sejarah kita mengenal Sukarno dan Ali Sadikin. Bahkan Suharto pun, bagi yang
seselera, boleh juga dipandang sebagai patron yang telah menghasilkan Taman Mini Indonesia Indah,
Patung Arjuna Wijaya di Ujung Jalan Thamrin, Jakarta, dan lain-lain.
Tapi hubungan antara patron-seniman tidaklah selalu menghasilkan yang terbaik bagi hidup dan kota.
Ingat saja kasus Hitler dan arsitek Alberts Speer, misalnya.
Jadi tokoh patron bukanlah pilihan bijak bagi setiap masa. Lagipula, sebenarnya bukan tokoh benar
yang menjadi patron. Di balik tokoh ada kondisi, ada kehidupan, ada kota yang menjadi rahim bagi
tersemainya tokoh. Kota seperti Athena lah yang melahirkan orang-orang seperti Pericles, bukan
sebaliknya. Kota yang sama pada masa yang sama ini juga melahirkan filsuf Socrates dan Plato,
dramawan Sophocles dan Aeschylus, sejarahwan Herodotus dan Thucydides, serta dokter pertama
Hippocrates.
Rahim kotalah yang menjadi pengayom sesungguhnya bagi seni, bukan penguasa tertentu. Jadi
soalnya adalah bagaimana membuat kota menjadi rahim pengayom demikian?
Orang-orang di Athena itu, di jaman Pericles, senang mendebatkan hal dalam suasana persahabatan
yang kritis, sambil minum-minum 99 , mempertukarkan gagasan dari berbagai sudut pandang dan
disiplin berbeda. 100 Kafe memainkan peran yang sama di Paris akhir abad ke-19, dan di Berlin awal
abad ke-20. Kedai kopi di Banda Aceh merupakan ruang khalayak yang sangat intense, sayangnya
hampir tanpa perempuan. Kota memang bukan milik penguasa seorang, tetapi masyarakat yang
memiliki kehidupan publik, yang di dalamnya terjadi pertukaran gagasan. Hidupnya kehidupan publik
adalah kunci yang penting dalam vitalitas kota yang dapat berperan sebagai rahim bagi kreativitas
yang terpercik dari kawin-silang ide-ide.
98

Meskipun tak memiliki ruang dalam, kecuali satu lubang di dalam stupa besar di puncaknya, Candi Borobudur secara
sangat indah memanipulasi pengalaman ruang dari lorong-lorong yang diapit oleh dinding-dinding yang hiruk pikuk dengan
panel gambar yang berdesakan sampai kepada ruang lapang yang hening di puncaknya.
99
Symposium berakar kata simpodere, yang berarti minum bersama.
100
Peserta Symposium karya Plato terdiri dari Agathon, penulis tragedi, Socrates, eksentrik pecinta-kebenaran, Phaedrus
seorang idealis, Pausanias seorang realis (kekasih Agathon), Aristophanes, penulis komedi, Eryximachus, seorang dokter,
dan Alcibiades, seorang politikus dan playboy

109
Jadi, bukan saja tokoh-patron tidak tentu baik bagi jaman ini, melainkan juga tidak diperlukan benar.
Para seniman sendiri, pekerja kreativ lainnya, cendekiawan dan kelompok masyarakat sipil yang
harus mengambil prakarsa menciptakan kedai-kopi yang intensif dan padat di antara mereka untuk
memercikkan kawin-silang ide-ide di dalam ruang kota.
Tetapi kota-kota, termasuk Jogja, menghadapi bahaya. Pengamatan perupa Tisna Sanjaya di Harian
Media Indonesia (Ruang Publik, Ruang Tubuh) beberapa waktu yang lalu tentang kota Bandung
berlaku bukan hanya untuk Bandung:
Ruang-ruang terbuka di Bandung berkarakter machoistic, hanya diperuntukkan
bagi monumen heroik tubuh-tubuh lelaki. Lihatlah, di tiap sudut 'Kota
Priangan' diisi oleh monumen-monumen tubuh tentara dan kekerasan
ideologis, tubuh pemain sepak bola, obor api, bambu runcing, dan puncaknya
di depan pusat pemerintahan, Gedung Sate, berdiri dengan angkuhnya monumen
Perjuangan Rakyat Jawa Barat yang berukuran raksasa, di puncak monumen
simbol burung Garuda Pancasila seperti mau menerkam manusia-manusia yang
kecil di bawahnya.
Dan ia mengemukakan inspirasi dari gerakan-gerakan subkultur:
Tapi, ada gerakan-gerakan anak muda dari subkultur yang cukup inspiratif.
Juga terdapat advokasi kebudayaan yang dilakukan oleh komunitas-komunitas
kecil, yang menyelenggarakan acara-acara kegiatan langsung di ruang publik
berupa performance art di gang yang sempit, di kebun rumah, di kandang
kambing, di belakang terminal, di ruang-ruang bekas pabrik, di Sungai
Cikapundung, di kendaraan angkot (angkutan kota), di halaman masjid,
gereja, di tempat prostitusi, di ruang-ruang publik yang sebetulnya berada
dalam tubuh kita sendiri, yang telah diisi oleh berbagai paradoks.
Bukankah mural di Jogja membayangi baris-baris tulisan Tisna Sanjaya di atas? Advokasi
kebudayaan para seniman mural Jogja terjadi pada ruang-ruang yang paling tak beradab di kota Jogja.
Pemilihan tempat ini teranglah bukan suatu ironi keputusasaan (seolah-olah tak tersedia tempat lain
bagi para seniman berekspresi), melainkan suatu advokasi dengan keyakinan diri yang besar: para
seniman itu memilih apa yang nampaknya paling tak layak, paling tak mungkin. Bagi mereka, itulah
tantangannya. Mereka ingin mengubah apa yang nampaknya paling tak mungkin dan paling tak layak
menjadi bagian keseharian ruang publik yang beradab. Di kesimpulan tulisannya, Tisna Sanjaya
menulis: Kita harus menciptakan ruang-ruang kebudayaan yang menempel di tubuh kita, bagian
dari keseharian napas kita.
Seni sebagai bagian dari keseharian napas kita, itulah semestinya tugas rahim sebuah kota sebagai
tempat bermukim peradaban. Bagaimana mencapai cita-cita yang menggunakan metafor perempuan
(rahim) melalui suatu ruang yang kenyataannya sangat masochis? Itulah tantangan bagi para
perancang
kota
kita.
Sedang Jogja sejatinya adalah sebuah kota yang dicetak di atas bumi oleh seorang penguasa. Gunung
dan laut adalah tepi, tapi bukan batasnya. Sebuah axis mundi digaris melewati sebuah tugu mungil dibandingkan Segara Kidul dan Gunung Merapi-- yang sekilas nampak seperti orang biasa di
perempatan jalan. Tetapi tak ada yang mengalahkan monumentalitas tugu ini, karena ia hidup
sehidup-hidupnya di dalam alam kolektif para kawula.
Jogja adalah sebuah kota yang paradoksal. Ia satu-satunya bagian Indonesia yang formal feodal
dengan raja yang efektif, meskipun dengan sebutan modern gubernur. Tetapi ia adalah sebuah kota
yang paling bahagia dan kreativ dengan sebuah universitas yang merupakan Indonesia mini.
Setidaknya sebelum ia, kita semua, memasuki jaman dengan ancaman baru bernama terorisme.
Sebelumnya kita pikir kapitalisme yang kita harus awasi.
Diskusi-diskusi tentang seni dan kebudayaan di Jogja tahun-tahun terakhir ini telah menciptakan
ruang pertukaran pikiran antara para seniman dengan berbagai latar belakang dan aliran. Kondisi
urbanitas Jogja bukan tidak menyumbang pada menyeruaknya wacana dan pergaulan itu. Di Jogja ada

110
kepadatan yang tidak menyesakkan, kedekatan yang tidak menghimpit, kemudahan yang tidak
memanjakan, keleluasaan dan kesantaian yang tidak mengabaikan krama, serta perhitungan akal yang
makin memuliakan rasa. Produktivitas tidak mematikan kreativitas, yang memang mendahuluinya.
Ruang-ruang yang mati, benda-benda yang tak bermakna, yang dengan muralisasi ini diketemukan
serta dikemukakan ke hamparan khalayak oleh para seniman, adalah persis ancaman atas karakteristik
urbanitas Jogja itu. Mengapa jalan layang yang dibangun, bila sebenarnya jiwa kolektif Jogja
seharusnya bisa menghasilkan yang lebih kreativ seperti angkutan umum yang baik, seandainya ada
pemimpin yang tahu mengajak? Mengapa ada ruang dan tembok tak bertuan dan terbengkalai, bila
ada rasa memiliki keseluruhan kota ini yang begitu besar di antara semua warganya? Mengapa harus
bergerak cepat tak menikmati, seperti tak melihat, bagian-bagian kota yang dilewati -- yang memiliki
iramanya sendiri, yaitu irama Jogja yang sama sekali tak berkesalahan itu?
Hubungan antara bentuk kota dan isinya memang tak deterministik; tetapi kota yang nyaman
dimukimi jelas akan menghasilkan warga yang lebih bahagia, yang semestinya berarti pula vitalitas
yang tinggi.
Awal November 2002,
Marco Kusumawijaya

111

Patung
Seni patung tentu saja harus diterima di ruang-ruang kota. Ia bukan saja merubah ruang kota menjadi adab dan
sosial, tetapi juga membuatnya menjadi berkarakter. Keberadaan karya seni di ruang-ruang kota dapat membuat
kota menjadi lebih terbaca secara keseluruhannya, menjadi lebih akrab bagi pengunjungnya. Ini tentu saja bila
patung-patung itu diatur tata letaknya secara baik sesuai sejarah perkembangan struktur kota tersebut, dan serasi
dengan unsur-unsur lain yang turut membentuk ruang-ruang kota dimana patung-patung itu didirikan. Dalam
periode 1955-1966, Sukarno berupaya demikian, dan memang telah berhasil menanamkan beberapa patung di
dalam struktur Kota Jakarta.
Contoh terbaik tentu saja adalah Athena pada abad ke-5 Sebelum Masehi. Ketika itu seluruh kota Athena
diawasi pembangunannya oleh Pheidias, seorang pematung yang ditugaskan oleh Raja Pericles. Karyanya yang
menjadi puncak peradaban Yunani kuno, yaitu Parthenon, memenuhi syarat untuk disebut sebagai karya
arsitektur maupun karya seni patung yang bermutu tinggi. Bersama dengan beberapa karya arsitektur lainnya
seperti Pintu Gerbang Agung yang menandai jalan masuk ke Acropolis, tempat Parthenon berdiri, Athena juga
dihiasi dengan karya-karya seni patung bermutu tinggi pada tempat-tempat yang direncanakan dengan baik.
Maka bila Jakarta hendak menambah patung di dalamnya, tentu saja syarat keduanya adalah kualitas patungpatung itu. Hal ini membuat kita was-was. Sebab, pemerintah daerah ini baru saja melabur mural bermutu tinggi
karya seniman-seniman muda Indonesia yang ber-reputasi internasional dengan cat putih, yang bahkan ratapun
tidak. Karya-karya itu dibuat dalam rangka festival seni Jakart@2001 bulan Juni yang lalu. Ini terjadi,
misalnya, pada tiang-tiang jembatan layang di perempatan Jalan Rasuna Said dan Gatot Subroto. Bagaimana
mungkin suatu pemerintah yang menganggap cat putih (yang tidak rata) lebih indah daripada mural itu dapat
menghasilkan patung-patung yang indah untuk Jakarta?
Kita tidak-bisa-tidak lantas berpikir bahwa, kalaupun hendak dibangun patung-patung bermutu untuk Jakarta,
maka wewenang dan hak mengelola program tersebut hendaklah dipindahkan ke tangan masyarakat warga
sendiri. Masyarakat warga Jakarta hendaknya dapat mengerahkan para pematung terbaiknya, para arsitek
terbaiknya, serta seluruh kemampuan manajemennya untuk mewujudkan ini. Inilah kesempatan bagi warga
Jakarta untuk bekerjasama memperindah kotanya. Prakarsa inilah yang sebenarnya harus dihargai dari peristiwa
festival Jakart@2001 tersebut
Sebabnya begini: apapun yang ditampilkan di dalam ruang publik itu sebanding dengan apa yang ibaratnya mau
ditampilkan oleh sebuah keluarga di dalam ruang keluarganya. Maka sebaiknya semua pihak menghargai hak

112
dan kebutuhan (ya, kebutuhan, bukan hanya hak) publik untuk mengekspresikan kebersamaannya dalam
menampilkan sesuatu di ruang publik. Bagaimana caranya? Yang jelas bukan dengan cara seseorang dengan
semena-mena menentukan apa yang sebaiknya ditampilkan secara sepihak, pun bila dia seorang Gubernur. Di
kota ini ada para pematung yang hebat-hebat. Begitu juga para arsitek. Tetapi lebih dari itu, di kota ini ada
masyarakat warga yang memiliki perasaan, harapan, keinginan-keinginan. Maka apa yang bersifat publik
hendaklah diproses secara publik, bukan oleh orang per orang secara otoriter.
Memang di masa lampau kita memiliki patron seperti Sukarno, yang memperoleh hak istimewa untuk
menyambung lidah rakyatnya, merumuskan sendiri apa yang kiranya dirasakan secara kolektif oleh masyarakat.
Tetapi hak tersebut diperoleh karena kompetensinya. Sukarno, lepas dari aliran senirupa yang ia sukai,
mempunyai selera yang baik dan mendalam. Pada saat ini kita harus mengakui tidak ada seorangpun di balai
kota yang dapat menyamai Sukarno, tidak ada yang memiliki selera dan latar belakang yang cukup dalam hal
senirupa. Sukarno pun sebenarnya gemar menyelenggarakan sayembara, meskipun sering dia sendiri yang
memilih pemenangnya. Tetapi ini berarti setidaknya ia membuat prosesnya menjadi terbuka.
Pada masa Orde Lama telah dibangun memang hanya sejumlah 8 patung di tempat publik, sementara pada
masa Orde Baru dibangun sekitar 20. Namun yang oleh Sukarno tersebut semuanya berskala besar, pada tingkat
struktur kota; sedang yang pada masa Orde Baru semuanya bersukuran kecil, bersifat menghias ruang pada
tingkat lingkungan.
Kini jaman patron sudah lampau. Sedang masyarakat maupun dunia senirupa sudah demikian berkembang,
yang ternyata tidak diketahui oleh balai kota, sebagaimana terbukti dari insiden mural yang memalukan
tersebut. Jadi harus dicari mekanisme dan forum untuk masyarakat sendiri menentukan maunya apa, sekalgus
mengurangi kesenjangan pemahaman antara penguasa dan masyarakatnya.
Lagipula, ada seniman dan kelompok masyarakat yang telah menyiapkan gagasan sendiri untuk membuat
patung di ruang publik. Bukankah lebih bijak bila pemerintah menyalurkan prakarsa seperti ini, daripada
memaksakan gagasannya sendiri?
Tapi, sebelumnya: sebenarnya masyarakat rela tidak uangnya digunakan untuk keperluan estetika ini, di tengahtengah begitu banyak kebutuhan lainnya?

113

Cat Air dan Plastisitas Jakarta

101

Sejauh saya tahu, hampir selalu hanya bangunan tua atau yang berlanggam tua, bukan yang baru atau
berlanggam modern, yang menjadi obyek karya cipta para perupa. Sebenarnya para calon arsitek,
bahkan pada tahun pertama masa pendidikannya, selalu diinstruksikan oleh para gurunya untuk
mengambil bangunan yang seperti itu juga sebagai obyek latihan dalam mata-kuliah Menggambar
Bentuk. Dengan obyek demikian, di dalam koridor perspektif mereka menemukan hadangan ilusi
yang tiada habisnya, yang satu demi satu harus dihadapi dengan penuh perhitungan untuk dapat
disajikan kembali memenuhi aturan-aturan ilusi optik yang telah dipakemkan. Para perupa, tentu saja
bebas dari pakem itu, dan memiliki motivasi serta tujuan yang berbeda.
Plastisitas dari bentuk-bentuk bangunan tua tersebut lah yang pertama-tama membuat mereka menjadi
obyek yang merangsang. Bangunan-bangunan berlanggam tua memiliki bentuk-bentuk yang penuh
rincian yang menarik pemusatan perhatian, memadukan geometri yang kompleks, yang menggiring
pandangan menyusuri permukaan-permukaan yang eksotik, beralih dari satu bidang nada warna ke
bidang nada warna lainnya, berpindah-pindah dari wujud padat ke wujud ruang dan bayangan, dan
meniti satu garis ke garis berikutnya, masing-masing dengan arah, kelokan serta kekuatannya sendiri.
Selain itu, rupanya ketuaan mengguratkan watak yang makin menguat, yang menjadi daya tarik,
pesona dan sekaligus tantangan bagi para perupa untuk menangkap, menafsir, dan mengembangkan
empatinya untuk kemudian diekspresikan ke dalam karyanya.
Pada pameran ini, ketika kita memandang satu demi satu lukisan Odji Lirungan, Sangapangihoetan
Simanjuntak, dan Martiana, kita rasakan betul pergulatan dari semua itu keterpesonaan, upaya
menafsir, empati, dan pencarian cara-cara ekspresidalam wujudnya yang sangat spontan dan
seketika. Cat air bukan saja medium yang unggul sepadan untuk menangkap dan menyajikan
plastisitas obyek mereka, tetapi juga sebuah metoda untuk secara simultan mengolah dan
mengekspresikan perasaan-perasaan mereka tentang obyek tersebut. Berhadap-hadapan langsung
dengan obyek, dengan kecepatan yang dituntut medium cat air, melahirkan spontanitas yang sangat
jujur. Melihat langsung mereka melukis di depan obyeknya (saya secara tidak sengaja memergoki
mereka ketika sedang menyusuri Jakarta Kota untuk membuat Peta Hijau), jelas spontanitas itupun
berproses, tidak selesai ketika baru dimulai, melainkan terus-menerus berubah bersama dengan gerak
medium dan suasana di sekitar mereka, sampai akhirnya mereka harus berhenti, buka karena selesai,
tetapi karena cukup. Setiap lukisan, karena itu, adalah sekejap momentum bukan saja dari obyek yang
bersangkutan, tetapi juga dari perasaan pelukis dan proses pemanunggalannya dengan medium.
***
Tetapi bangunan-bangunan yang berwatak dan plastis ini, dari detik ke detik, sebagian besar terancam
punah. Kedaaan mereka sungguh menyedihkan, dibiarkan membusuk, divandalisasi dan
dikanibalisasi, atau dirombak disana-sini mencorengi watak dan semangat tulennya. Beberapa darinya
ditambahi macam-macam, tetapi tidak bertambah, malah berkurang nilai dan pesonanya, kalau tidak
hilang sama sekali. Karya-karya Odji, Sangapangihoetan, dan Martiana dengan caranya sendiri
memasukkan kembali mereka ke dalam kesadaran kita. Apakah kita akan bertindak atas dasar itu?

101

Jakarta, awal Mai 2004

114

Seribu Tubuh, Satu Kemanusiaan

102

Seribu tubuh, satu kemanusiaan: lihatlah apa yang dapat dikatakannya, dengarkan apa yang mau
ditunjukkannya!
Demikianlah ringkasan saya mengenai karya-karya Dolorosa Sinaga.
Sebenarnya memang cukup aneh bahwa di masa (seni) kontemporer tanpa pusat, dengan semua
bentuk mutasinya, ketika sangat sedikit orang terpelajar pernah merasakan dan benar-benar
memahami (apalagi menyetujui) universalisme dari humanisme renaissance, karya-karya Dolorosa
justru memancarkan pertanyaan-pertanyaan yang berpusat pada manusia, baik yang bersifat estetis
maupun etis, baik yang bersifat individual maupun kolektif, personal maupun sosial.
Apakah artinya ini, bagi suatu masyarakat dan suatu waktu di mana Dolorosa berada?
***
Sebabnya pertanyaan di atas pantas mengemuka, adalah karena nyatanya karya-karya Dolorosa itu
kontekstual setidaknya secara inspirasional, tidak semata-mata kristen, dan tidak bersifat perayaan,
kecuali barangkali The Dancer dan Sister, take me dance with you (2001), yang di tengah-tengah
perayaannya akan kegembiraan dari kebebasan bergerak, tokh serta-merta mengingatkan kita akan
betapa malangnya bila orang tidak jadi diajak bebas menari.
Pemirsa the Grief (Tahun 2001), sejauh ia telah menginap di negeri ini selama setidaknya dasawarsa
terakhir, serta merta menangkap bukan saja pesan, tetapi juga latar di balik semuanya. Dalam
caranya, tubuh-tubuh itu berlaku teatrikal: ia tidak sedang merayakan keindahan tubuh manusia,
melainkan mengekspresikan pengalaman universal kemanusiaan oleh sejumlah partikular manusia
Indonesia. Dolorosa hampir sepenuhnya berbicara mengenai negerinya yang sedih, dimana manusia
dipinggirkan dari pusat, kehilangan pusat, tercabik-cabik oleh daya-daya yang tidak ia mengerti,
terkoyak oleh duka yang tidak berani ia tegaskan penyebabnya, ketiadaan kepercayaan akan para
pemimpinnya, terbagi-bagi oleh keinginan-keinginan yang saling bertentangan, tidak perdulian dan
tanpa kendali. Persisnya: semua hal yang sebenarnya anti-manusia, setidaknya bila dihadapkan pada
apa yang dirayakan oleh humanisme renaissance. The Grief adalah karya tonggak Dolorosa yang
akan kita pakai untuk mengukur perjalanan dia berikutnya.
Dolo memiuh (mendistorsikan) tubuh bukan untuk tujuan gaya formalistik. Ia hendak mencoba batasbatas kelenturan dan daya tahan manusia, secara fisik maupun secara spiritual. Ia juga habis-habisan
mengguratkan emosinya pada hampir semua permukaan, sehingga mereka permukaan-permukaan
itu - menjadi relief historis tersendiri mengenai gundah-gulana dan kegemasan emosinya dalam
proses. Ya, ekspresi permukaan pada patung-patung Dolorosa harus mendapatkan sebutan tersendiri
untuk sementara ini: relief. Karena ia dalam, baik material maupun emosional, karena ia
mempunyai cerita sendiri, karena ia mempunyai sejarah.
Ada relief yang enteng, bergerak
perlahan-lahan hampir tanpa tekanan seperti pada Dua Perempuan dan Anaknya (Tahun 2001). Ada
relief yang berlari cepat, bergurat dalam, dengan tekanan gemas. Ada yang terbentuk dari lipatan
dan tempelan berlapis-lapis. Bersama semua itu, dengan begitu banyak postur, gestur dan sedikit
102

Dari Katalog Pameran Tunggal Dolorosa Sinaga, 10 Oktober - 2001.

115
mimik, maka tubuh manusia perempuan, disamping nilai simbolisnya, telah menjadi wahana yang
mencukupi bagi Dolo untuk membahasakan semua yang mau dikatakannya, semua yang mau
ditunjukkannya, mengenai semua hal yang anti-manusia yang menimpa manusia.
Namun, tunggu! Ada yang sangat manusia yang dirayakan, bahkan diteriakkan dan dihimbaukan. Ini
terletak pada aura dari patung-patung itu: aura heroisme perjuangan yang tidak mungkin tidak
manusia. Mulut menganga, membuka komunikasi. Solidaritas. Ibu menerima kejatuhan tubuh anak.
Rangkulan. Semua keharuan yang ingin mengukuhkan bahwa keadaan dapat diubah atas dasar
kekuatan kolektif-sosial manusia.
Lagipula, bukankah hampir semua patung-patung ini ditampilkan bersikap frontal, langsung, berterusterang dan menantang?
Tubuh perempuan telah dipilih, karena ia memiliki kemungkinan plastis maupun ekspresif yang lebih
dibandingkan yang laki-laki. Tubuh perempuan mengalami lebih banyak daripada yang dialami tubuh
laki-laki. Yang paling penting adalah bahwa tubuh perempuan mengalami life cycle (salah satu
judul patung yang dipamerkan) bukan saja secara penuh (dalam arti semua tahapan rutin manusia)
tetapi kaya (banyak pengalaman kemanusiaan luar biasa, yang tidak standar, yang terjadi padanya).
Disamping itu, tubuh perempuan mengalami dunia secara empatik. Tubuh perempuan adalah pusat
dari kehidupan, peristiwa dan pengalaman. Dengan tubuh perempuan, dunia, kehidupan dan
kemanusiaan dapat ditampilkan lengkap.
Jadi untuk apa mencoba-coba media, bahan atau metoda lain? Pemirsa karya Dolorosa karena itu
memang tidak usah terlibat dalam perdebatan teoritis dan pusing tentang yang kontemporer, yang
rupanya sedang terpesona oleh ilusi yang hendak dipunahkannya sendiri ketika keluar rumah:
keharusan untuk terus menerus menjadi inovatif dan lain.
Karya-karya Dolorosa tidak berambisi menjadi lain, apalagi inovatif pada tingkat teoritis dan
konseptual. Ia hanya berusaha bermutu pada tingkat penggarapan tema dan kemampuan
mengekspresikan emosinya kepada pemirsa. Kesadaran bahwa karyanya mengandaikan kehadiran
pemirsa sangat tinggi, tetapi tanpa maksud menyihirnya ke dalam ilusi. Sebab itu banyak karyanya
tampil frontal bersahaja, cukup dilihat dari muka, berhadap-hadapan seperti orang berbicara satu
sama lain.
Sikap frontalnya juga meminta pengamatan dari satu titik diam, tidak perlu bergerak berputar atau
bergeser ke kiri-kanan. Ini berarti meminta sikap kontemplatif. Sebab memang tema-tema yang
diangkat Dolorosa belakangan ini makin banyak yang bersifat sosial dan politis memerlukan
kontemplasi, bukan merangsang sensasi. Patung-patungnya mempunyai kepercayaan diri yang tinggi
untuk minta diamati secara tekun, karena ia sendiri memancarkan pesona dan menciptakan medan
ruang di sekitarnya. Memang ini bukan ruang yang dapat berinteraksi secara fisik: ia tidak dapat
dimasuki. Ruang ini adalah halo yang bergoyang-goyang mempengaruhi pemirsanya dengan cerita
dan emosinya. Pemirsa tidak perlu memasuki ruang itu, melainkan cukup diminta turut merasakan
pesan dan emosi dari penciptanya.
Ini adalah patung yang patung, yang bahkan ukurannya memudahkannya akrab dengan pemirsanya.
Karena itu karya-karya Dolorosa adalah seni patung yang paling mudah dimengerti oleh para arsitek.
Patung-patungnya adalah massa bentukan yang padat hampir semuanya berbahan perunggu - dan
serta merta terasa sebagai antitesis ruang, yang adalah garapan para arsitek. Patung-patung Dolorosa
menciptakan halo pesona di sekelilingnya. Ia menggetarkan ruang, memberi isi dan hidup kepada
ruang. Ia serta merta mengingatkan arsitek kepada hakekat seni patung yang klasik: obyek yang
berpendar dalam ruang. Ia adalah seni patung yang berpasangan abadi dengan arsitektur, setidaknya
dalam definisinya sebagai seni ruang. Ia tidak berupaya menyainginya seperti seni instalasi. Ia
tidak menjadikan ruang sebagai bahannya, tetapi cukup mempertimbangkannya sebagai kehadiran
bersama yang niscaya, dan dalam beberapa kesempatan memanfaatkannya untuk memperkuat
dirinya. Pada The Grief, misalnya, digarap dinamis interaksi ruang-ruang yang dalam terminologi
arsitektur akan disebut mikro. Beberapa tubuh di sisi kanan yang dibetot ke atas-belakang dan
samping telah menciptakan ruang-ruang lapang menggelembung pada dada-dada datar yang pilu tapi
marah menantang itu. Tubuh-tubuh di sisi lain yang ditekuk dalam-dalam mencipta ruang-ruang

116
merongga dan kelam, yang mengingatkan akan relung-relung dalam hati kecil kita, yang mungkin
masih ada. Interaksi, tepatnya magnetisme antara kiri dan kanan, antara kekelaman yang dendam dan
kelapangan marah yang telanjang, menarik pemirsanya lekat-lekat pada dirinya. Sementara sikap
figur dan gestur bagian-bagian tubuh yang pasif dan aktif memendarkan seluruh The Grief ke ruang
di sekitarnya, ruang makro. Kepiluan yang menghunjam berbaur kemarahan yang galau dan
kepedihan yang menggila tak mengerti.
Patung-patung Dolorosa yang menghadap satu arah mengingatkan kita pada bas-relief ataupun
patung-patung dalam tradisi Hindu dan Buddhisme yang bermaksud menyampaikan pesan-ajaran
yang otoritatif dan memang menuntut kontemplasi. Tetapi ia juga sangat modern dengan kehematan
dan kesahajaan. Tubuh di-abstraksi-kan menjadi minimalis, menjadi sekedar alat ekspresi dan simbol.
Proses ini juga menghasilkan rasionalitas dalam arti keterkendalian, yang hanya mungkin dihasilkan
oleh penguasaan teknik yang matang.
Proses abstraksi tubuh menjadi ekspresi ini juga makin memberi makna kepada tubuh perempuan itu
sendiri, karena adalah suatu perjuangan penting untuk membebaskannya dari kemungkinan penafsiran
oleh laki-laki sebagai obyek sensasi.
Pieta, tampil sebagai bas-relief yang inovatif. Kita melihat komposisi tonjolan-tonjolan kepala dan
tangan yang keluar dari tubuh-tubuh yang menyatu menjadi sebuah latar. Namun iramanya bukanlah
gerakan horisontal maupun vertikal. Iramanya adalah hubungan timbul-tenggelam antara bagianbagian dan tubuh-tubuh itu.
Bersama Pieta (Tahun 2001)dan the Grief (Tahun 2001), kita memang melihat suatu generasi karyakarya Dolorosa yang mengolah hubungan bentuk yang kompleks antara banyak-tubuh, sekompleks
hubungan sosial antara manusia-manusia itu dalam kehidupan nyata. Lahirnya karya-karya generasi
ini nampaknya berhubungan erat dengan tema-tema sosial yang belakangan mulai digarap Dolorosa.
Pada saat yang sama, ini merupakan tantangan yang sebanding, konsekuensial dan logis bagi
perjalanan karirnya sebagai pematung. Pada karya-karya bertubuh-banyak, dituntut penguasaan
substantiv dan teknis yang tegas melebihi tingkat sebelumnya. Karya-karya lain dalam periode
mutakhir ini adalah: Cerita Perempuan (Tahun 2000); Solidarity (Tahun 2000).
Tentu saja kesibukan dengan tema sosial dan hubungan banyak-tubuh yang kompleks tidak
menghentikan Dolorosa dalam menjelajah kemungkinan-kemungkinan baru dalam karya-karya tubuh
tunggal dua, atau tiga tubuh. Dua Perempuan dan Anaknya (2001) terdiri dari tiga tubuh yang hampirhampir datar menyatu menjadi latar bagi tonjolan-tonjolan minimal dari organ tertentu saja,
secukupnya untuk menyatakan identitas. Ia juga menyempurnakan penjelajahannya dengan gerak
berputar dan konsekuensinya pada keseimbangan serta reaksi benda lentur kain pada Sister, take me
dance with you (2001). Menariknya yang terakhir ini adalah ia menunjukkan bahwa gerak
menegaskan ruang di sekitarnya, dan menciptakan ruang yang baru, yang selanjutnya menopang
gerak tersebut. Ini mengingatkan apa yang pernah dikatakan mengenai arsitektur oleh Derrida: yang
menegaskan adanya ruang itu tidak bisa benda semata, tetapi benda yang berpindah (bergerak) di
dalamnya. Mobilitas benda menegaskan imobilitas kehampaan.
Bila pada karya-karya banyak-tubuh ia mengggarap tema sosial dan kompleksitas hubungan atar
tubuh, karya-karya satu-tubuh Dolorosa habis-habisan menjelajahi hakekat postur dan gestur sebagai
alat ekspresi dan batas terjauh plastisitas yang ditawarkannya. Puncak dari ini adalah Resistante
(1996) dan Life Cycle (?). Beberapa karya melengkapi satu-tubuh dengan tubuh lain yang jauh lebih
kecil. Puncak dari kelompok ini adalah Mother and Child (1998). Pada karya-karya dengan dua-tubuh
dasar, Dolorosa menjelajahi hubungan emosional dan manusiawi antara dua-manusia, yang
merupakan basis dari hubungan yang membedakan manusia dari bukan-manusia. Rupa-rupanya ini
menjadi dasar yang penting ketika ia menggarap tema-tema sosial dengan banyak tubuh sebagai
bahannya.
***
Akhirul kalam: jadi, apakah artinya karya-karya Dolorosa Sinaga, bagi suatu masyarakat dan suatu
waktu di mana ia berada?

117
Patung-patung Dolorosa, meskipun berskala akrab dan personal, makin menyentuh soal-soal publik,
baik yang sosial, kolektif, maupun politis. Di satu sisi, emosi-emosi yang diprovokasinya bersifat
sangat personal, meskipun temanya besar, publik, bahkan universal. The Grief, misalnya, membuat
orang ingin menangis di kamar sendiri. Tetapi pastilah ia bukan menyangkut kematian yang bersifat
pribadi, melainkan menyangkut kejadian-kejadian mutakhir dalam konteks kolektif bangsa Indonesia
belakangan ini.
Barangkali inilah pesan Dolorosa yang paling penting: yang publik itu, pada tingkat empati, akhirnya
terjadi, berdampak dan terasa, pada yang personal. Soal-soal publik itu menjadi sangat penting
tanggung-jawabnya dan berat maknanya, justru ketika disadari bahwa bagaimanapun juga ia akhirnya
mengena pada tiap orang per orang, individu manusia yang nyata, yang tidak abstrak dalam bentuk
statistik dan direduksi dalam sebutan konstituen, warga, konsumen, rakyat, anggota, masyarakat,
pendukung, pengagum, pemilih, hak suara, massa, demo, dan lain-lain. Publik itu, rasakanlah sebagai
jumlah empati tiap-tiap orang, kalau mampu...
Sebaliknya, yang paling terasa berat secara personal itu - tanggung jawab, kepedihan, pun
kegembiraan, yang terasa oleh tiap-tiap manusia bukankah semestinya yang kolektif, yang
menyangkut hidup bersama? Meskipun dalam kenyataan kita sering mengetahui terjadinya
pengaburan ke dalam kebersamaan semu justru untuk menghindari tanggung jawab pribadi...
Terutama melalui beberapa karya mutakhirnya, Dolorosa telah berupaya membuat soal-soal publik
terasa menggetarkan ruang-ruang pribadi tiap-tiap pemirsa patung-patungnya. Mungkinkah kini
waktunya membalikkan proses tersebut: membawa perasaan-perasaan pribadi akan persoalanpersoalan kolektif ke ruang publik?
Ruang-ruang publik di kota-kota di negeri yang sedih ini sebenarnya telah lama kehilangan
kepublikannya dalam arti kebersamaan masyarakat sipil. Telah terlalu lama ruang-ruang itu
didominasi oleh pernyataan-pernyataan sepihak penguasa dan kepentingan partisan. Sedangkan ketika
ada kehadiran masyarakat sipil di dalamnya, tidak jarang hanya merupakan representasi konflik
semata. Sebabnya? Sebabnya adalah bahwa yang ditampilkan itu adalah soal-soal publik menurut
perspektif emosi kelompok, yang sudah tidak lagi manusiawi, karena penuh dengan kedengkian,
kepentingan memangsa, menolak dan bahkan ingin meniadakan yang lain. Berkelompok dalam cara
demikian bukanlah hakekat manusia, melainkan insting hewani. Itu bukanlah ciri masyarakat
manusia, melainkan kawanan hewan.
Karena itu, perspektif yang ditawarkan Dolorosa sungguh harus dibawa ke ruang publik. Sebenarnya
memang ada rasa tidak proporsional antara tema-tema publik yang digarapnya, dengan ukuran
patung-patungnya, dan kemudian membayangkannya berada di dalam ruang-ruang keluarga para
kolektor. Bukankah patung-patung yang bertema publik itu selayaknya berada di ruang publik, untuk
khalayak ramai, dengan ukuran yang sesuai, tentunya?
Setidak-tidaknya patung-patung Dolorosa itu di ruang publik akan merupakan saingan dari bawah
terhadap program pematungan Jakarta yang sedang gencar-gencaranya dicanangkan Pemda DKI dari
atas. Persaingan ini patut, sebab menampilkan apapun di ruang publik adalah urusan publik, adalah
terutama urusan masyarakat warga kota yang bersangkutan, bukan sekehendak penguasanya.
Kesenian di ruang publik bukan sekedar untuk menghibur, melainkan juga untuk mengenang dan
menegaskan sentimen publik. Maka keputusan mengenai apa yang mau dikenang dan ditegaskan itu
di dalam ruang publik, yang dapat diibaratkan sebagai ruang keluarga masyarakat kota itu, tentulah
pula harus merupakan keputusan bersama yang cukup bulat, mendalam, dan bermutu. Soal mutu itu
pantas diingatkan. Sebab kita masih belum habis pikir mengenai kelakuan pemerintahan ini yang
terus menerus menciptakan antagonisme dengan masyarakatnya. Kita belum tidak akan - selesai
prihatin dengan rendahnya tingkat pengetahuan dan keterampilan mereka mengenai kepemerintahan
modern, apalagi good governance. Kita makin menyadari rendahnya pemahaman mereka mengenai
ruang publik sebagai bukan saja konsepsi fisik, tetapi juga konsepsi psikis kolektif bangsa, yang
tidak boleh sembarangan ditafsirkan sepihak. Inilah pemerintahan yang, misalnya, telah menganggap
cat putih yang tidak rata lebih baik daripada lukisan dinding para pelukis muda kita. Bagaimana kita
bisa percaya dengan kemampuan dan selera mereka mengenai patung yang baik? Satu dua
pemimpin memang pernah mendapat hak istimewa merumuskan semangat kolektif bangsanya,
seperti Sukarno misalnya, secara sepihak, bahkan otoriter. Tetapi itupun terjadi dalam kondisi lampau

118
yang tidak memungkinkan lain. Lagipula, mereka itu, dengan standar apapun, kualitasnya jauh diatas
pemimpin-pemimpin yang ada sekarang. Pemimpin-pemimpin yang ada sekarang inipun sepatutnya
tahu diri, bisa merasakan bahwa di mata rakyat integritas dan kompetensinya sama sekali tidak
memungkinkan mereka mengambil keputusan yang penting mengenai masyarakatnya sendiri.
Lagipula, apa salahnya bila kita menangis bersama di ruang publik, di hadapan the Grief itu?
Bukankah seharusnya demikian, mengingat kejadian akhir-akhir ini, di sebuah negeri dan kota yang
menyedihkan ini? Siapa tahu, menangis bersama akan mengawali kebersamaan dalam banyak hal lain
yang sudah lama menuntut hal demikian, di sebuah negeri dan kota yang menyedihkan ini...

119

Fotografi Siesta:
Dari pameran foto perjalanan para arsitek
di Galeri AKSARA
Laut dan langit biru, kota-kota warna putih di atas bukit. Bangunan-bangunan tua bersejarah dan
terkenal, reruntuhan, jejak awal peradaban bagi seluruh umat manusia. Tiang-tiang menyangga
sejarah dan usia. Bentuk-bentuk bulat berpadu dengan sudut-sudut tajam dan naik turun. Kapal dan
perahu. Kincir angin. Hening. Waktu siesta. Inilah gambar-gambar dari negeri yang indah; yang
karena itu sebenarnya tidak memerlukan fotografer yang hebat benar untuk merekamnya dan
menggoda orang lain untuk mengunjungi tempat-tempat itu. Satu lagi keniscayaan: di negeri-negeri
itu, arsitektur adalah obyek paling indah dan menguasai sukma, yang tak mungkin terlewatkan oleh
siapa saja. Tak sungguh diperlukan mata seorang arsitek untuk mengenalinya.
Atau, ketika mata arsitek telah terlanjur berada di sana, apakah ada yang lebih yang dilihatnya?
Bagaimana para arsitek dapat memotret lebih dari bukan-arsitek, di tempat-tempat yang dengan
sendirinya siapa saja akan mengagumi arsitektur itu?
Memang Yori Antar menampilkan semua keindahan itu tanpa pengkhiatan sama sekali, karena
sensitivitas dan kemampuan teknik yang makin matang. Tetapi tentulah Turki, Itali, Mykonos,
Akropolis, Santorini dan tempat-tempat mempesona itu mengandung lebih banyak daripada arsitektur
saja. Maka Imelda Akmal dan Wendy Juhara memotret keramik mungil, detail-detail prenak-prenik
yang dijual di pasar, selain benda-benda sepele arsitektur seperti teralis jendela, daun pintu, teras
dengan pot bunga dan kincir angin. Imelda memotret satu-satunya interior yang tidak monumental:
sebuah ruang tidur rumah biasa, yang perlengkapan domestik seadanya di dalamnya justru
menggambarkan dengan sejuju-jujur dan sedalam-dalamnya kebudayaan setempat. Sayang, cara
mengelompokkan dan membingkai gambar-gambar sangat dangkal dan sesak. Mengapa warna biru
yang menjadi dasar pengelompokan? Jacqueline Manangsang Antar memotret sudut-sudut kota yang
terjepit dan picturesque dengan komposisi yang tergolong berani membuat kontras dan perspektif,
memanfaatkan sebaik-baiknya keunikan format panorama (expanded). Selain kesempatan yang
ditawarkan objek dan kamera, terang ada penjelajahan dan kesengajaan.
Daliana dengan obyek yang tidak biasa justru menampilkan emosi sebuah perjalanan. Ilalang
bergerak gelisah bersama tembok di latar depan laut biru; burung-burung beterbangan (atau sekedar
bergeleparan?) tak tentu arah. Ia begitu saja terpesona dan spontan memotret yang tidak dipotret oleh
teman perjalanannya yang sibuk mencari arsitektur: objet trouv dan suasana hati kegalauan dalam
sebuah perjalanan. Isandra (Aang) Matin memotret objet trouv lain yang sarat bermakna: kaki lima
dengan genangan air yang memantulkan jendela lantai atas dari bangunan di sebelahnya. Inilah
simbol urbanitas kota-kota Eropah: kaki lima, jalan, bangunan blok, jendela yang menonton ke
bawah.
Idris Sarmad mengasingkan diri dengan presentasi yang grafis. Beberapa karya tak lagi menunjukkan
apa-apa yang berhubungan dengan tempat dan perjalanan, sebab telah menjadi karya komposisi
hitam-putih yang abstrak. Sensasi psychedelic justru ditampilkannya melalui efek cahaya dari puncak

120
Pantheon (tahun 27 sebelum masehi) yang dipotret dengan tiga gambar yang disusun dalam satu
bingkai. Puisi yang intens sebenarnya cukup terjadi pada foto berlatar depan obyek berbentuk eksotik
dengan latar belakang laut. Format presentasi yang memotong gambar ke dalam beberapa bingkai
malah merusak puisi ini. Sayang, kurang ada penahanan diri dalam bereksperimen.
Secara keseluruhan, perasaan heran tak kuasa dihindarkan ketika melihat pameran ini: mengapa
hanya sebegini obyek dan suasana yang ditampilan dari perjalanan yang hebat ke negeri-negeri yang
hebat itu? Mengapa hanya tampak luar (sebagian besar) bentuk-bentuk arsitektur yang sepi? Di mana
kehidupan? Mengapa tak ada catatan-catatan, sketsa-sketsa tentang kehidupan yang begitu kaya di
negeri-negeri, tempat-tempat itu, tentang interaksi para pelancong dan orang asing? Sebagian
gambar memang diambil ketika penghuni negeri sedang siesta. Maka ini lebih menyerupai sebuah
dokumentasi study tour yang sangat disiplin menjaga sterilisasi arsitektur. Memang arsitektur sendiri
layak menjadi simbol yang kuat dari seluruh kebudayaan dan peradaban. Tapi bahkan kalau ini adalah
sebuah study tour arsitektur, bagaimana mungkin mempelajari arsitektur hanya dengan lensa yang
sangat tinggi penyaringannya ini, mengabaikan kehidupan lebih luas yang menghasilkan arsitektur
itu?

121

BAB 5:
ARSITEKTUR MEMBANGUN TEMPAT

122

Rumah di Jalan Wungkal, Candi,


Semarang, oleh Sarjono Sani.
Tiga jenis benda-benda bersanding padu (atau bersanding-adu, tergantung sudut pandang) di rumah
ini. Benda-benda seni rupa, benda-benda kemewahan kontemporer (elektronik dan perabotan
kemudahan dan bersenang-senang lainnya) dan benda-benda arsitektur tidak mungkin lebih banyak
lagi di rumah ini, kecuali barangkali dalam imajinasi Sarjono Sani. Semuanya dalam keadaan terpoles
habis-habisan, mengkilap, dengan setiap rincian mendapatkan perhatian dan penyelesaian penuh
semangat. Tidak ada bahan yang dibiarkan setengah mentah, pun yang alamiah seperti kulit dan kayu
lapis, yang dipoles sebanding dengan logam, kaca, dan bahan industri terpoles lainnya. Bandingan
yang mendekati adalah interior sebuah mobil mewah, seperti BMW atau Jaguar, yang memang
merupakan kegemaran sekaligus bisnis pemilik rumah ini. Sarjono tidak menolak perbandingan ini.
Hanya saja, berlainan dengan rancangan interior sebuah mobil mewah, ada jauh lebih banyak bentuk
dan rupa, warna dan tekstur, yang harus dikoordinasikan pada arsitektur. Memadukan begitu banyak
kilap dan pantulan cahaya adalah tantangan yang unik, sebab hampir tidak ada sekepingpun
permukaan yang tidak mengkilap, kecuali lukisan-lukisan dan karya-karya seni lainnya yang dengan
sendirinya memikul beban berat dalam menepis pantulan-pantulan dan kilauan cahaya dari seluruh
lingkungannya agar dapat hadir selayaknya. Mungkin mereka berhasil, sebab masing-masing
merupakan karya yang memiliki identitas dengan karakter kuat tersendiri. Tetapi adalah masalah
sendiri bagi para pemirsanya untuk menikmati kehadiran mereka dalam lingkungan serba kilap
demikian.
Lingkungan di luar rumah ini sendiri, Candi, dikenal sebagai kawasan perumahan elit yang dirancang
Thomas Karsten di awal abad ke-20. Seperti Menteng di Jakarta. Berbukit-bukit, di kawasan ini
banyak terdapat rumah-rumah peninggalan masa kolonial dalam bentuk villa yang dikelilingi halaman
luas. Tapak rumah ini adalah sebuah bukit di sudut jalan, yang terlindung dari jalan raya (SemarangYogyakarta) oleh sebuah bukit buatan yang menutupi sebuah reservoir air. Bukit ini efektif menepis
gangguan suara jalan raya yang, seperti Jalan Diponegoro di Menteng, telah berubah dari jalan
lingkungan menjadi jalan arterial yang ramai melebihi perkiraan perancangnya di masa lalu.
Di atas tapak seluas 1,600 m2 ini, volume utama rumah, setotal 1,100 m2, menyilang seperti salib. Ini
mengikuti intuisi yang serupa pada gaya prairie, dan mungkin merupakan cara paling langsung dan
mudah dalam menguasai tapak. Tiap-tiap lengan salib dengan sendirinya menjulur, menggerayangi,
mengisi ruang. Seketika tipologi villa Candi, yang umumnya membiarkan massa sederhana berbentuk
kota dikuasai oleh ruang luar mengelilinginya, mendapat tantangan yang bertolak belakang. Poros
yang paling menonjol adalah berarah baratdaya-timurlaut. Terutama sekali ia terasa di lantai atas,
karena langit-langit yang terbuat dari kayu lapis membentuk permukaan yang menerus, memanjang di
keseluruhan poros ini. Tangga di lantai dasar terletak sebagai penghujung poros ini. Dengan ukuran
besarnya yang tidak biasa dibandingkan dengan luasan ruang makan tempat ia bermuara, tangga ini,
yang terletak pada salah satu ujung poros, sungguh-sungguh menegaskan poros tersebut yang di
ujung lainnya meneruskan dorongannya pada sebuah kolam renang sempit memanjang. Tempat
terbaik menikmati tarikan poros ini adalah ranjang di kamar tidur anak, yang terletak tepat di
belakang tangga di lantai atas.

123
Sayangnya, layout dengan prinsip menjulurkan ruang-ruang ke ruang-luar ini, tidak dapat
diekspresikan sebebas seperti dalam konteks, misalnya, prairie Frank L. Wright. Meski seluas 1,600
m2, tapak ini adalah hanyalah sebuah kavling, yang kedua sisi dalamnya berbatasan dengan kavlingkavling lain. Maka, alih-alih merupakan sebuah tipologi salib yang menjulur bebas ke semua arah,
rumah ini adalah sebuah salib yang menempel pada kedua sisi dalam lahannya. Mencerminkan
tanggapan pragmatis terhadap sikap para tetangga itu, maka rumah inipun harus menjejalkan ruanganruangan pelayanan sepanjang kedua sisi tersebut.
Ketegangan seperti itu terjadi juga di kavling-kavling di Menteng, misalnya, yang meskipun besar,
rupanya tetap kesempitan menghadapi pemilik masa kini yang memiliki keinginan-keinginan yang
tidak dapat ditampung oleh tipologi villa kolonial yang telah dirancang sesuai dengan ukuran
kavlingnya, sehingga harus memenuhi tapak dengan caranya sendiri. Pada tipologi kolonial, misalnya,
garasi dan ruang-ruang pelayanan akan membentuk paviliun di belakang, tidak nampak dari depan.
Pada tipologi masa kini banyak kita lihat garasi menjadi bagian dominan dari faade. Pada rumah
karya Sarjono Sani ini tercapai suatu kompromi baru. Garasi memang di depan, tetapi merupakan
sebuah paviliun terpisah seperti pada tipologi kolonial.
Dari dalam, pusat dari komposisi rumah ini adalah ruang makan, dengan ruang-ruang lain berpencar
darinya ke segala arah. Dominasi ruangan ini tidak berkompromi karena beberapa hal, selain karena
letaknya yang ditengah-tengah. Pertama tentu saja karena volumenya, ialah dengan tinggi ruangan 5.2
meter. Penekanan selanjutnya diperoleh dari sebuah cungkup surealis di atas meja makan, di tengahtengah ruangan, yang mengingatkan kita akan karya-karya pelukis Ivan Sagito, yang merupakan
pembicaraan favorit Sarjono Sani dalam beberapa tahun terakhir. Ia memiliki beberapa karya Ivan
Sagito di rumahnya sendiri di Jakarta, dan memperkenalkan beberapa karya Ivan Sagito lainnya ke
dalam rumah di Candi ini. Pemiuhan surealistik lainnya adalah pada bentuk ruang oval di depan, yang
atapnya melengkung ke bawah sehingga menyambung sebagai dinding lantai atas pada salah satu
sisinya. Dengan demikian bentuk oval hanya terbaca pada denah; sementara pada dinding lengkung
oval menjadi terpiuhkan. Di lantai bawah sendiri, kelengkungan oval dindingnya terpapas oleh
dinding dan pintu datar di kedua ujungnya. Efek perspektif yang menarik justru terjadi pada halaman
di luar ruang oval ini, yang seolah meriakkan ilusi ruang oval tersebut membesar ke luar, ke halaman,
bila dipandang dari dalamnya.
Bila dari dalam, pusat dominan dari komposisi ruang adalah ruang makan di tengah-tengah, maka
dari luar, pusat komposisi adalah volume berbentuk drum oval tersebut di sudut depan, yang
menguasai seluruh tampilan faade dan aura ruang luar yang mengelilingi massa bangunan di kedua
sisi luar tapak.
Adalah menarik merasakan terjadinya titik berat komposisi yang berbeda, antara ketika ia hadir
sebagai massa (ialah dilihat dari luar) dan ketika ia dimasuki (ialah dirasakan dari dalam).
Kompleksitas yang mungkin sedikit kacau menimbulkan rasa gamang surealistik lainnya di ruang
makan ini terjadi karena banyaknya pintu, kepingan dinding, ceruk, jendela, di dan ke segala arah.
Karya-karya seni berkualitas tinggi di ruangan ini terpaksa harus bersaing berat dengan bidangbidang jendela, pintu, ceruk, kayu lapis, dan lantai marmer dengan pola yang sangat kuat.
Posisi ruang makan ini sebagai pusat komposisi, karena fungsinya yang hanya ruang makan, juga
menampilkan dimensi monumentalitas yang surealistik pula: mengapa ruang makan harus
sepenting ini, yaitu di tengah-tengah, dengan cungkup di atas meja makan, besar dan tinggi,
disandingi pula oleh sebuah tangga yang luar biasa, berlantai kaca, berlebar tak biasa, melengkung
tidak begitu jelas. Tetapi ini memang ada presedennya dalam sejarah arsitektur modern. Adolf Loos
seringkali meletakkan ruang makan lebih tinggi daripada ruang-ruang lainnya, bahkan ruang duduk
(living room) yang kerapkali merupakan pusat dari rumah-rumah Eropa, sehingga menjadi seperti
sebuah panggung. Sarjono Sani dan saya mencoba hal serupa pada rumah saya sendiri (tahun 1995),
ialah sebuah ruang makan yang ditengah-tengah, serta lebih tinggi dari sekitarnya. Tetapi, rumah saya
adalah karya Sarjono Sani yang paling sederhana, sekaligus karya saya yang paling tidak-sederhana.
Sampai sekarang masih menjadi misteri bagaimana kerjasama kami bisa menghasilkan perpaduan
yang demikian.

124
Sedangkan bentuk oval bukanlah hal baru bagi Sarjono Sani. Pada sebuah rumah di Kebayoran Baru,
bentuk oval sudah dicobanya beberapa tahun lampau. Pada rumah ini bentuk oval bahkan merupakan
volume utama satu-satunya yang dominan, dengan ruangan-ruangan lain hanya menempel sebagai
appendices pada volume ini. Begitu juga volume-volume yang berketinggian 5 hingga 6 meter, sudah
dimulai dengan rumah saya sendiri, dan kemudian pada rumah di Bintaro dan rumah di Kebayoran
Baru yang telah disebutkan di atas. Pada rumah saya, ruang besar ini lebih berkarakter horisontal,
karena meskipun tinggi tetap dominan berbentuk memanjang, dengan ruang(an)-ruang(an) terbentuk
di dalamnya melalui perbedaan ketinggian, pemanggungan, dan batas-batas nominal yang terbentuk
oleh tekstur, tiang dan dinding transparan. Pada rumah di Bintaro ruang besar ini merupakan sebuah
volume tunggal berbentuk kubus, yang menjadi pemandangan spektakuler setelah orang masuk
melalui entrance-hall yang relatif kecil. Di Kebayoran Baru, ruang besar itu hampir terasa sebagai
seluruh rumah itu sendiri, baik dari dalam maupun dari luar.
Persentuhan Sarjono Sani dengan senirupa makin menuntut perhatian, bila orang ingin memahami
karya-karya arsitekturnya. Sejarah persentuhan ini cukup panjang, karena sudah dimulai ketika ia
belajar di AS. Di kantornya ada sebuah lukisan kubistik besar dari charcoal yang dibawanya dari
masa itu, karya salah satu dosennya. Ia sendiri kadang-kadang melukis, dan sketsa-sketsanya
menampilkan tarikan garis-garis yang tebal dan penuh tekanan. Pada keluarga besar isterinya ia
bertemu para kolektor besar yang serius. Keluarga besar ini secara bersama-sama, misalnya, memiliki
koleksi terbesar dari karya-karya Srihadi. Tahun lalu koleksi ini diterbitkan oleh Yayasan Lontar.
Dalam lima tahun terakhir, Sarjono Sani terutama aktif sekali bergaul dengan para seniman dan
mengoleksi karya-karya mereka. Rumah di Candi penuh dengan karya-karya seni, baik lukisan
maupun patung, yang tiap-tiapnya telah direncanakan letaknya dari dini. Tidak ada keraguan, bahwa
setidak-tidaknya imajinasi bila bukan metodaSarjono Sani terpicu dan terilham oleh pergaulan
dengan senirupa. Penegasan-penegasannya bahwa karya-karya arsitektur haruslah merupakan
masalah makna dan bentuk yang tidak boleh terhalangi, dan harus melampaui, teknik dan fungsi,
adalah pernyataan kesenian yang ingin mengatasi arsitektur sebagai seni terapan sejauh mungkin.
Pemiuhan-pemiuhan bentuk yang dilakukannya, yang kelihatan sekali ini berusaha melampaui
bentuk-bentuk cartesian, terang sekali berambisi kesenirupaan. Pada pemiuhan-pemiuhan ini
terkadang nampak ketegangan yang tidak selesai dengan baik, bahwa bagaimanapun juga arsitektur
adalah sebuah seni bentuk yang banyak dibatasi teknik. Namun ia sendiri merasa penjelajahan terus
menerus layak dilakukan untuk mengatasi itu. Seperti katanya, Semua disiplin senirupa memiliki
masalah teknisnya sendiri, yang harus diatasi oleh pencipta. Karena itu arsitektur dalam hal ini
tidaklah istimewa atau lain, sehingga imajinasi-nya juga tidak boleh kalah dengan senirupa. Saya
hanya dapat menukas, bahwa arsitektur, bagaimanapun juga, tak dapat dibingkai seperti lukisan, dan
karenanya kemungkinan-kemungkinan perspektif pilihan pemirsanya tidak dapat seluruhnya
dibayangkan sebelumnya. Inilah barangkali sebabnya sekur-sekur baja yang menopang tepian kolam
renang, berhadapan dengan lengkungan dinding ruang oval, tidak selalu nampak bermakna benar, bila
dilihat dari perspektif visual. Tetapi secara konseptual mereka bisa saja dimaksudkan sebagai dcor
khusus.
Overall, kita menjadi sadar bahwa anggaran yang besar tidak membuat segala hal menjadi lebih
mudah. Merancang rumah senilai belasan milyar, di atas tanah beberapa milyar, dengan isinya yang
entah berapa milyar, merupakan tantangan yang luar biasa bagi siapa saja, untuk memadukan banyak
sekali alam benda yang masing-masingnya memiliki ego dan identitas yang kuat, sekalipun efisiensi
dan rasionalitas tidak lagi menjadi faktor, dan imajinasi dapat menumbuhkan sayapnya. Adalah suatu
tugas berat membuktikan bahwa adagium money cannot by taste adalah salah. Setidaknya biarkan
cita-rasa yang menilai uang, bukan sebaliknya. Tetapi Sarjono Sani memiliki lebih daripada sekedar
cita-rasa. Ia miliki konsep-konsep dan imajinasi terilham senirupa yang kompleks dan bersayap.

125

Arsitektur Pasar, Dulu...


Pengantar: Pemerintah DKI Jakarta dikabarkan akan menutup tujuh pasar tradisional (suatu kategori
yang patut dipertanyakan karena berkonotasi merendahkan) sebagai bagian dari suatu rencana besar
memodernisasi pasar di Jakarta. Lepas dari motivasi ekonomi-politiknya (menutup tujuh pasar berarti
membebaskan tujuh lahan baru untuk pembangunan sesuatu yang lain), tulisan ini memaparkan
arsitektur pasar yang berkualitas tinggi di kota lain, yang dibangun pada awal abad ke-20. Tulisan ini
merupakan bagian dari studi lebih luas tentang transformasi ruang khalayak dalam hubungannya
dengan kehidupan khalayak di Indonesia.
Kota memang berhulu pasar, dan pasar berhilir kota. Artinya kota memang dibentuk atas dasar
adanya cikal-bakal pasar, dan pasar akhirnya mendorong terbentuknya kota. Begitulah misalnya
Bukittinggi dan Surakarta.
Pasar-pasar yang dibangun di awal abad ke-20 di kota-kota besar Hindia-Belanda dirancang oleh
arsitek terkemuka dengan penuh rasa hormat akan fungsinya sebagai ruang khalayak dan empati pada
ekonomi rakyat. Pasar-pasar ini menggunakan teknologi termaju pada masanya, dan arsitektunya
bukan sekedar bergaya kontemporer seperti art-deco, tetapi juga menunjukkan adanya upaya
penerokaan bentuk yang kemudian menjadi bagian dari proses memajukan arsitektur di Indonesia ke
masa depan. Ditilik dari jenis barang yang diperdagangkan, dan cara-cara berdagangnya, semua ini
dapat disebut pasar tradisional, tetapi kualitas intrinsik arsitekturalnya, yaitu bentuk ruang dan
bentuk luar, serta rancangan unsur-unsurnya, sungguh maju dan modern, bahkan lebih terolah dengan
baik dibandingkan banyak mall masa kini. Letak pasar-pasar ini di dalam kota pun menunjukkan
penghormatan yang tinggi terhadap pasar sebagai pusat kehidupan khalayak ramai.
Pasar Gede Hardjonagoro, 1930, yang dirancang Thomas Karsten, seorang arsitek cendekiawan
terkemuka pada jamannya dan hingga sekarang, peletak dasar-dasar tata kota Indonesia, terletak
berhadapan dengan Gubernuran (sekarang Balai Kota Surakarta). Keduanya dihubungkan oleh sebuah
jembatan di atas Kali Pepe. Setelah kebakaran habis pada tanggal 28 April 2000, para pedagang
meminta pasar ini dibangun kembali sesuai aslinya, sebagai yang sekarang kita lihat.
Pasar Gede sebenarnya terdiri dari beberapa toko-blokken, selain blok utama yang langsung
menghadap ke balaikota. Blok di sebelah kiri menarik karena memiliki selasar dan sudut-sudut lantai
atas yang terbuka sehingga menjadi tempat warung kopi yang ideal untuk menonton kehidupan pasar
di bawahnya, ke berbagai arah. Pada bangunan utama, lapisan terluar pada lantai bawah terdiri dari
kiosk-kiosk yang bersikap positif terhadap kota, menghadap ke jalan, tidak seperti mall sekarang yang
bersifat introvert, anti-urban, membelakangi jalan. Di atasnya terdapat pasar daging, tidak seperti
umumnya pasar sekarang yang meletakkan pasar daging di bawah dengan alasan becek. Bau daging
naik ke atas bersama pergerakan udara. Dinding lantai atas ini sebagian besar terbuka, terdiri dari
anyaman kawat, sehingga terjadi arus silang udara (cross-ventilation) yang mengurangi bau dan
mendinginkan udara di dalam. Sebuah halaman terbuka di dalamnya menyambut pengunjung setelah
melewati pintu masuk utama yang menghadap ke balaikota. Di atas pintu masuk ini adalah sebuah
balai besar dengan langit-langit yang tinggi, tempat berkantor pengelola pasar, yang dari ruangan ini
dengan leluasa dapat melihat ke berbagai arah ke luar maupun ke dalam pasar.

126
Petak-petak para pedagang diberi ketinggian, sehingga mempermudah cara-cara berpasar pribumi:
penjual duduk bersila di atas petak, dan pembeli berhadapan dengannya sambil berdiri. Petak yang
berketinggian juga memudahkan pemikul menurunkan barang dagangan langsung dari punggungnya.
Dengan rancangan morfologis demikian, Karsten berhasil menciptakan suatu pasar kota yang bersih
dan modern, meskipun kegiatannya tradisional. Pada tingkat artistik, Karsten meneroka penggunaan
atap vernakular nusantara, meskipun bentuk akhirnya, termasuk badan utama bangunan, tidaklah seeksotik karya-karya arsitek Hindia-Belanda lain yang sejaman dengannya. Karsten memang dikenal
lebih rasional ketimbang romantik, mencoba-coba bentuk-bentuk nusantara secara lebih dingin dan
rasional.

Thomas Karsten juga merancang Pasar Johar (1933) di Semarang. Pasar ini memajukan penggunaan
teknologi beton bertulang sampai ke batas terjauh yang mungkin pada jaman itu. Kolom-kolom bebas
yang berbentuk jamur melebar di puncaknya, membentuk atap yang menyisakan lubang-lubang
cahaya yang menegaskan bentuk ruang tinggi di bawahnya. Konstruksi kolom jamur ini bahkan
mendahului bangunan lain yang menggunakan bentuk dan teknologi serupa yang jauh lebih terkenal
dalam sejarah arsitektur dunia, yaitu Johnson Wax Administration Center, di Racine, Wisconsin,
karya Frank Lloyd Wright pada tahun 1936, tiga tahun setelah Pasar Johar. Sedang pada bentuk ruang
dengan atap melengkung di bagian tengah, ekspresi bahan beton telanjang, garis-garis dan tekstur
industrial yang lebih tegas, serta pencahayaan yang menerawang menembus dinding, kita dapat
merasakan inspirasi dari karya August Perret, Le Raincy Church, dekat Paris, 1922-1923.
Progresivitas seperti di atas tidak hanya kita temukan pada bangunan pasar, tetatpi juga di hampir
semua bangunan khalayak lainnya pada masa itu. Penerokaan teknologi struktur maju untuk
membentuk ruang arsitektur yang mengesankan terjadi juga misalnya pada aula kampus ITB oleh
McClaine Pont. Contoh lain, yang kini mendesak untuk diperhatikan karena terancam oleh mall,
adalah Stasiun Jakarta Kota, yang menggunakan pelengkung baja tiga sendi, yang nenek moyangnya
dapat kita telusuri hingga karya C.-L.-F Dutert, yaitu Galerie des Machines, Paris, 1889. Komponenkomponen struktur demikian harus difabrikasi secara khusus hanya untuk bangunan tersebut. Ide
tentang menyatunya struktur yang dimungkinkan oleh teknologi termaju dengan ruang arsitektur
yang sebanding kualitasnya, adalah sekaligus modern dan arkitipal, yang tidak kita temukan lagi
dalam banyak bangunan baru sekarang.
Di Medan, proyek pasar yang terbesar adalah Pasar Sentral seluas total 10 ha lebih. Dirancang oleh
J.H. Valk, kompleks ini terdiri dari toko-blokken bergaya strakke nieuw-zakelijkeheid yang
kontemporer pada masa itu di lapisan terluar, dan empat los pasar, yang masing-masingnya sebesar
katedral dengan atap susunan genteng, bergaya Amsterdamse School. Oleh penulis Beeld van een
Stad, Medan, M.A. Loderichs, pasar ini disebut sebuah pesona seni bangunan yang bergaya dan
berani. Letaknya pun di tengah kota, hanya dua blok dari Esplanade, Lapangan Merdeka sekarang,
yang pada masanya adalah sebuah pusat kehidupan khalayak yang ramai. Pada Esplanade ini
menempel stasiun, dalam situasi serupa Stasiun Gambir yang menempel Koningsplein (Lapangan
MONAS sekarang) di Nieuw Batavia. Di seberangnya terdapat balai kota dan hotel terbaik. Pada sisi
utara terdapat kantor pos besar. Jalan Kesawan yang terkenal itu, dengan rumah Tjong A Fie padanya,
bermuara ke lapangan ini. Situasi serupa ini terdapat di hampir semua pusat kota awal abad ke-20:
suatu pusat kota yang jelas dengan ruang terbuka, simpul angkutan umum, pelayanan perdagangan
dan administrasi, serta kemajuan-kemajuan mutakhir dari jamannya. Akan halnya pasar, jelas ia
dianggap layak berada dekat dengan kegiatan lain di pusat khalayak yang modern, meski isinya, baik
barang maupun tata-caranya, jelas tradisional.
Pasar Beringharjo yang dari masa yang sama di Malioboro, Yogyakarta, memang tidak spektakuler
seperti Pasar Sentral atau Pasar Gede dari segi ukuran. Tetapi rancangannya menunjukkan
kesungguhan dan keterampilan yang bernilai tinggi pula. Kualitas konstruksi struktur yang baik
memungkinkannya untuk telanjang ditunjukkan apa adanya sebagai pembentuk ruang. Pencahayaan
alami sangat memadai dan bahkan artistik. Rancangan penyekat kiosk pada barisan terluar yang
menghadap jalan Maliboro disesuaikan dengan barang yang diperdagangkan, yaitu perhiasan.
Yang perlu dicatat adalah bahwa bukan hanya pasar yang dirancang dengan baik, progresif,
menggunakan teknologi termaju pada jamannya, oleh arsitek terkemuka, tetapi juga hampir semua

127
bangunan fasilitas umum seperti stasiun, sekolah, balaikota dan lain-lain. Sekarang seringkali kita
tidak tahu siapa arsitek bangunan penting seperti balai kota, stasiun dan mall, yang satu sama lain
tidaklah menunjukkan keistimewaaan apapun kecuali kilap cahaya dan bahan pelapis sintetiknya.
Sebuah kota baru di Kabupaten Tangerang menjual habis los pasar seluas lebih dari satu hektar tanpa
gambar rancangan, melainkan hanya atas dasar sketsa pembagian kiosk saja, tanpa arsitek.
Pembedaan kategori pasar tradisional dan pasar modern (yang mana?) juga menunjukkan
stigmatisasi diskriminatif. Kelihatannya kemerosotan arsitektur bangunan dan ruang khalayak sejalan
dengan kemerosotan kehidupan kekhalayakan itu sendiri, ketika warga sibuk menjejali ruang
pribadinya dengan segala rupa konsumsi sehingga rumah-rumah menjadi introvert, dan pengelola
kota menjejali menjarah ruang khalayak untuk keperluan komersial semata.
Daftar dan keterangan ilustrasi:

Pasar Sentral Medan: salah satu sudut kompleks ketika masih asli. Bangunan bundar
di sudut kanan masih ada. Los pasar di tengah sudah terbakar habis. ((foto: reproduksi
dari M.A. Loderichs, Beeld van Een Stad, Medan, Asia Maior).

Sisa toko-blokken asli di Pasar Sentral Medan (foto Marco Kusumawijaya, 2003).

Pasar Sentral Medan tempo dulu: los pasar di sebelah kanan, hidup harmonis dengan
tokoblokken di sebelah kiri, dengan pot bunga di balkon yang menunjukkan adanya
penghunian. (foto: reproduksi dari M.A. Loderichs, Beeld van Een Stad, Medan, Asia
Maior)

Pasar Gede Harjonegoro, Solo: bangunan gerbang masuk dengan kantor pengelola pasar
berlangit-langit tinggi di lantai atas, menghadap ke jembatan Kali Pepe dan Balai Kota. (Foto:
Marco Kusumawijaya, 2002).

Pasar Gede Harjonegoro, Solo: los pasar daging dilihat dari kantor pengelola pasar. (Foto:
Marco Kusumawijaya, 2003)
Pasar Johar, Semarang, dengan kolom jamur beton telanjang, dengan cahaya dari atas dan
samping yang memberikan watak ruang. (Foto: reproduksi dari B. Bromer et.al., Beeld van
een Stadt, Semarang, Asia Maior)

Pasar Sentral Medan: los pasar panjang dengan atap tinggi berventilasi di bagian atas, sudah
terbakar habis beberapa tahun lampau. (foto: reproduksi dari M.A. Loderichs, Beeld van Een
Stad, Medan, Asia Maior)

Pusat kota Medan, awal abad ke-20: Esplanade dan stasiun di sebelah kiri dan Pasar Sentral
di sebelah kanan. (foto: reproduksi dari M.A. Loderichs, Beeld van Een Stad, Medan, Asia
Maior)

Pasar Beringharjo, Yogyakarta: penyekat panel kayu engan cermin dan terawang dari
anyaman kawat mencerminkan kria perhiasan yang dijajakan. Perhatikan juga kerapihan
konstruksi yang dibiarkan telanjang, serta terawang cahaya di bagian atas dinding luar pada
samping kanan atas gambar. (Foto: Marco Kusumawijaya, 2003)

Pasar Beringharjo, Yogyakarta: tampak depan. (Foto: Marco Kusumawijaya, 2004)

128

72 Tahun Arsitek Han Awal:

Menuakah Modernisme?
Han Awal membuat pertanyaan di atas menjadi tidak relevan. Sebab ia sendiri terus
relevan.
Han Awal merupakan produk pendidikan modern dengan dasar klasik, yang membuatnya
mampu secara tepat memberi nilai pada kebaikan-kebaikan yang berbeda dalam banyak
lingkungan dan masa, diluar gaya dan keterampilannya sendiri. Keseluruhan praktek
profesional Han Awal menunjukkan dirinya seorang modernis yang sangat menghargai dan
mencintai warisan masa lampau. Ia bahkan telah menunjukkan prestasi dalam melestarikan
Gereja Katedral Jakarta di Lapangan Banteng dan Gedung Arsip Nasional di Jalan Gajah
Mada.
Memang kasus Kampus Universitas Katolik Atmajaya bukan saja tragis di akhir tahun
1980an -- ketika menara baru dibangun dengan balutan postmodernist yang dangkal; tetapi
juga tragis beberapa tahun belakangan ini, ketika Han Awal sudah tidak dipakai lagi untuk
bangunan terbarunya. Bukan hanya estetika dari bangunan terakhir ini yang mencerminkan
jaman baru, tetapi juga cara pengadaannya. Kampus Atmajaya mulai dibangun dengan
modus ekonomi mutakhir: kerjasama dengan pihak swasta.
Namun ada paradoks yang menghibur modernisme belakangan ini. Anehnya, pada saatsaat ini, ketika Han Awal makin menjadi the last modernist yang masih aktif dalam
profesinya, justru modernisme dibicarakan lagi, menjadi relevan lagi. Ini mengherankan
bukan karena modernisme telah gagal, tetapi karena memang tidak banyak modernis yang
lebih berhasil dari Han Awal di Indonesia. Namun mungkin tidak pula mengherankan,
mengingat tidak juga ada non-modernis yang sungguh berhasil. Kenyataannya adalah justru
post-modernisme telah memproduksi apa yang dicurigai dihasilkan oleh modernisme dan
oleh Paul Ricoeur dikhawatirkan akan dihasilkan oleh universalisation, yaitu mediocre
civilisation. Maka pada titik ini, mudah-mudahan pencarian kembali modernisme akan
membawa kita menemukan nucleus kreativitas yang sesungguhnya dari peradaban, yaitu
etika -- hal yang telah ditemukan oleh Han Awal dalam karya dan prakteknya.
Saya meragukan di Indonesia ada karya arsitektur yang cemerlang --modern atau bukan-belakangan ini, terutama bila membandingkannya dengan pencapaian-pencapaian di negeri
lain dan dengan apa yang seharusnya dapat dicapai. Saya juga makin percaya, bahwa
salah satu letak masalah (dan karena itu: harapan) adalah pada pendidikan arsitektur itu
sendiri.
Ketika rumah Han Awal di Jalan Tulodong sedang ditinggalkan, suatu pertemuan terakhir di
rumah itu diadakan oleh generasi berikutnya. Seisi rumah telah dikosongkan, demikian
maksudnya. Tetapi saya menemukan sebuah buku oleh J. Huizinga, yaitu Homo Ludens
(Manusia Bermain). Pada halaman judulnya yang di dalam, tertanda Han Ho Tjwan, Delft,
Oct. 52, yaitu tahun terbit cetakan ke empat buku tersebut, ketika Han Awal berusia 22
tahun. Han Awal memang tidak berkembang menjadi intelektual seperti beberapa sejawat
seangkatan --misalnya Prof. Suwondo dan Prof. Bianpoen--, tetapi teranglah ia cukup
intelektual sebagai seorang arsitek, jauh di atas rata-rata para arsitek sekarang. Bukankah

129
ini ada urusannya dengan pendidikan? Mungkin menarik untuk mengetahui apa yang
dibaca oleh mahasiswa arsitektur kita sekarang pada usianya yang ke-22.
Memang modernisme Han Awal bukanlah modernisme spektakular atau maha bintang.
Secara umum tidak dapat ditunjukkan ciri-ciri yang membedakannya secara dramatis dari
kaum modernis pada umumnya, kecuali adaptasi terhadap alam tropis dan kehematan
negeri miskin. Modernisme Han Awal pada dasarnya adalah modernisme rata-rata yang
dipraktekkan dengan baik, dengan keterampilan yang terlatih lengkap dengan perangkat
etika-profesionalnya yang mendarah daging. Dapat dikatakan sikap esensial modernisme -yang justru utama dan relevan untuk keadaan negara-bangsa sedang berkembang -menonjol dengan kuatnya: kejujuran dan kesederhanaan. Kedua ciri semangat modernisme
tersebut mendapat kesempatan besar dalam ortodoksi lembaga-lembaga katolik yang
menjadi klien utama Han Awal di masa lalu. Di masa kini, rupa-rupanya Han Awal mulai
tergeser oleh cara-cara yang lebih protestan atau katolikisme yang telah mengambil jalan
neo-konservativ sebagaimana terlihat dalam pembangunan gedung terbaru Universitas
Katolik Atmajaya. Ataukah tergesernya Han Awal ini karena perubahan kantornya -meskipun bukan Han Awal sendiri-- yang memang telah terlebih dahulu meninggalkan
modernisme?
Karya-karya Han Awal sebenarnya cukup menunjukkan humanisme modernisme -meskipun tidak secara spektakuler-- dan jauh dari citra buruk modernisme yang secara
tidak seimbang telah digambarkan oleh para penyerangnya. Rancangannya untuk
revitalisasi Kota Inti di Jl.Perniagaan-Petongkangan pada tahun 62-63, misalnya
memberitahukan kita pemahaman mengenai mixed use yang sepuluh tahun terakhir
ditawarkan sebagai obat mujarab untuk penyakit monofungsionalisasi yang dituduh
diakibatkan oleh modernisme-fungsionalis. Cara Han Awal melapis-lapiskan fungsi
komersial dan hunian sepenuhnya kontekstual. Ia menunjukkan bukan modernisme
arsitektur yang mengingkari kebenaran mixed use, melainkan kooptasi kapitalisme atas
perencanaan kota yang tidak memiliki imajinasi tiga-dimensi. Sedangkan komposisi Han
Awal dengan blok perimeter dan menara-menera berketinggian sedang menciptakan variasi
ruang-ruang yang kaya beragam, termasuk perspektif yang berbeda-beda terhadap bentuk
detail dari berbagai arah. Ini suatu skala komunitas yang menawarkan kemungkinan
interaksi sosial demokratis. Ini suatu bahasa yang dapat dilacak pada sisa-sisa idealisme
modernisme di Eropah sesudah PD II, misalnya pada Bakema dan Van den Broek yang
bekerja di Belanda, sebuah negeri yang paling segera dengan mudah menyerap
kecenderungan modern ke dalam praktek-praktek lembaga-lembaga publik, serta
mengembangkan kecenderungan-kecenderungan ini dengan tingkat kesinambungan
terbesar, dengan segala konsekuensi teknisnya, tulis Leonardo Benevolo dalam A History
of Modern Architecture.
Han Awal adalah kesempatan dalam bentuk darah dan daging bagi para arsitek dari generasi
berikut untuk belajar mengenai modernisme yang benar -- termasuki inti etikanya, bukan hanya
prinsip estetikanya -- ketika modernisme sedang ditilik kembali dan disadari relevansi kekal dan
universalnya. Mereka perlu bergegas. Sebab hari makin senja. Sebab kearifan dari pengalaman tidak
menanti dan tidak menjual dirinya. Ia juga tidak mengakui keturunan ragawi, yang terkadang
mengkhianatinya.

130

Peringatan Luweng Tikus, Blitar


Membuat monumen hampir selalu adalah suatu tindakan heroik, karena menyatakan sesuatu di ruang
khalayak, menegakkan sesuatu dari permukaan bumi menjulang ke atas, dan berupaya menggalang
sentimen kolektif. Hampir selalu pula, monumen dibuat oleh para pemenang, atau yang ingin
menegaskan maupun membenar-benarkan kemenangannya. Bahkan kuburan yang dimonumenkan
pun bermaksud mengenangkan kejayaan sang marhum semasa hidupnya, bukan kejayaan kematian
itu sendiri sebagai pembebasan. Bagi arsitektur, monumen dan kuburan adalah obyek arsitektur yang
paling murni, karena sama sekali dibebaskan dari guna praktis, dan mendekati seni rupa murni karena
sepenuhnya berperan sebagai alat menyatakan atau menyampaikan sesuatu pesan.
Maka demikianlah godaan awal yang senantiasa dihadapi orang yang sedang merancang monumen:
bentuk-bentuk heroik, menyatakan diri penting, ingin memusatkan perhatian yang tak terbagi,
menjadi tengaran bagi lingkungannya seluas-luasnya, menuntut rasa hormat atau menimbulkan rasa
terpesona, bahkan rasa takut. Bentuk lingga yang tegak di atas bumi lebih umum dipilih ketimbang
yoni yang menyatu dengan bumi.
Tetapi Luweng Tikus adalah sebuah lubang yang masuk tegak lurus ke dalam tanah, tanpa tanda
apapun di atas permukaan, yang kiranya dapat nampak dari kejauhan. Sedangkan yang paling
berkepentingan secara langsung tidak lagi dapat menyatakan apa-apa --apalagi suatu kemenangan-ke ruang khalayak, karena mereka kini hanyalah tulang belulang yang diam. Pada saat wafatnya yang
menyedihkan, mereka mungkin bahkan tidak tahu peristiwa apa yang sesungguhnya menimpa
mereka, yang ternyata menggurat merasuk dalam, menebar menyeruak luas, dan mennggaung
menggantung lama dalam kehidupan bersama bangsa Indonesia. Jelas mereka tidak akan merasa
pahlawan, apalagi menang dan berjaya. Namun mereka tidak juga dapat dikatakan kalah, sebab
mereka tidak berkesempatan memilih secara sadar melibatkan diri ke dalam pertempuran apapun,
termasuk yang menyebabkan kematian mereka.
Kediaman tulang belulang mereka melambangkan kesunyian saat-saat terakhir kehidupan mereka,
pada malam yang kelam membelakangi hati yang beku para pembunuh mereka, di tempat yang sunyi
pula: di antara bukit-bukit kapur yang gersang, dengan horison dan Segara Kidul di kejauhan;
mungkin ada suara angin mendesir lamat-lamat mendekat dan menjauh, mendekat dan menjauh.
Pada momen demikian, yang menguasai kita adalah misteri tentang kemampuan manusia yang paling
mendasar: otonomi membuat keputusan-keputusan yang meriakkan rangkaian tragedi yang panjang
tak berujung ke alam semesta, ke dalam waktu.
Kita merasakan peristiwa 65-68 sebagai suatu tragedi yang salah, yang harus dipertanggungjawabkan
oleh manusia otonom yang tidak boleh bersembunyi dibalik sistem ataupun keadaan, yang juga
ciptaannya sendiri, sadar atau tidak sadar, yang meskipun mempengaruhi tetapi tidak mungkin
mengambil alih otonomi manusia. Lamat-lamat kita juga mendengar suara hati kecil, bahwa lebih
penting mencegah kesalahan itu agar tidak terulang, daripada mengadili siapa yang salah. Dan itu
adalah tugas kita melawan kita sendiri, sedemikan rupa agar otonomi kita masing-masing sebagai

131
manusia tidak lagi membuat keputusan yang menyebabkan tragedi yang sungguh sulit diterima akal
dan hati kecil.
Itulah sebabnya peristiwa Luweng Tikus harus diperingati. Kesalahan itu diakui dan tidak dilupakan,
sekalipun dimaafkan, sebab ia terlalu mahal, penting dan mudah-mudahan langka, untuk dilupakan
sebagai suatu pelajaran dan peringatan agar tidak terulang. Bukan berhenti pada mengenang para
korban, peristiwa itu sendiri lah yang kita peringati sebagai tragedi. Dari para korban dan keluarganya
kita memang tidak berhak meminta sesuatu, baik itu maaf maupun keikhlasan. Kita hanya dapat
menawarkan, bahwa dengan memperingati peristiwa itu sebagai tragedi yang tidak boleh terulang,
maka penderitaan mereka akan menjadi salah satu batu kunci yang maha penting bagi bangunan
bangsa Indonesia dan keseluruhan kemanusiaan di masa depan.
Sebab itu Peringatan Luweng Tikus tidak bermaksud merayakan korban, melainkan memperingati
peristiwa. Rekonsiliasi bukan tujuan tersurat dari monumen ini, sebab proses membuat monumen ini
sendiri menjadi ruang rekonsiliasi, dan keberadaan monumen itu sendiri di lokasi hanya mungkin
bertahan kalau ada rekonsiliasi. Rekonsiliasi bukan tujuan, melainkan prasyarat bagi terjadinya
monumen peringatan ini.
Nama-nama mereka, para korban, dicantumkan dengan hormat, karena nama adalah pengakuan
bahwa tiap-tiap manusia berharga. Masing-masing mereka adalah singular partikularis. Mereka bukan
sekedar massa. Singular-partikularitas inilah yang telah dikhianati, dilecehkan ketika mereka
diperlakukan sebagai massa, ketika dipaksa menjalani seluruh rangkaian proses tragedi yang juga
dipicu oleh keputusan otonom manusia lain yang juga singular-partikularis. Hanya manusia yang
mampu memberi nama kepada semua ciptaanNya. Nama secara unik berhulu manusia. Manusia
secara unik mencipta, menghilirkan nama.
Peringatan Luweng Tikus bukan monumen kemenangan maupun kekalahan, bukan balas-dendam
ataupun nostalgia, melainkan peringatan Hak Asasi Manusia yang paling semata-mata: Hak hidup,
yang tidak boleh dicabut dengan semena-mena. Pada cerminannya kita juga merasakan ini sebagai
peringatan tentang tidak berhaknya orang membuat keputusan membunuh secara semena-mena. Ini
adalah hal yang paling dasar dalam peradaban, yang lagi-lagi merupakan khas manusia. Ini hanya
dapat diperingati dengan sikap merunduk khusuk, bukan tegak garang.
Karena itu dipilih wujud yang merangkul, bahkan masuk berpadu dengan bumi. Bumi, saujana alam
tempat peristiwa dan monumen peringatan ini sendiri, bila dirawat dengan baik oleh masyarakat
sekitar, merupakan sarana pengenangan yang tidak dapat diganti oleh wujud apapun lainnya.
Perawatan sendiri adalah suatu ritual yang meruwatkan tempat tersebut dan penanda bahwa ia
dilupakan jangan. Siapa saja yang mendatangi tempat ini dengan sengaja akan merasakan gerakan
mendekatinya sebagai suatu ziarah, karena dengan sendirinya akan menyusuri perjalanan para korban
pada saat-saat terakhir mereka.
Peringatan ini berupaya menempuh pendekatan afektif-artistik. Bukan pengetahuan akan peristiwa itu yang
sungguh menjadi tujuannya, melainkan penggugahan agar pengunjung mau menghayatinya sebagai sebuah
tragedi yang sesat dan tak boleh terulang. Fakta dan pengetahuan dipaparkan secukupnya untuk memungkinkan
penggugahan tersebut.

132

Aga Khan Award 2001: Realisme dan


Islam Inklusiv?
Aga Khan Award 2001 akan sempurna mengkhazanah arsitektur realisme dari negara sedang
berkembang dengan penduduk mayoritas muslim, jika saja Hotel Datai dan Geoffrey Bawa tidak
termasuk dalam daftar pemenang. Sebab, delapan pemenang lain penghargaan itu merupakan karya
yang sungguh mengutak-atik kenyataan sehari-hari mayoritas masyarakat muslim dengan kepedulian
mendalam, dan diwujudkan dengan teknik arsitektur yang berusaha semaju-majunya. Karya-karya itu
menawarkan penyelesaian bagi soal-soal yang berulang di dunia sedang berkembang, dan
memancarkan daya cipta yang mencerahkan.
New Life for Old Structures adalah sebuah program membangunkan kembali sekitar 30an pusat kota
tua di Iran dari mimpi buruk keterbengkalaian dan keterpurukan dengan memperbaiki bangunanbangunan tua di dalamnya, serta memberinya kegunaan baru. Ini adalah obat penawar bagi
komplikasi akibat pembangunan kota yang menyebar tak efisien makin ke pinggiran, makin menjauhi
pusat kota. Ini hal yang umum terjadi di kota-kota tua bersejarah di semua negara sedang berkembang
yang sedang tumbuh pesat. Di Iran, realisme itu bertemu di pintu yang sama dengan idealisme
merawat warisan budaya material peradaban Islam yang tak terhingga nilainya.
Keterbengkalaian lain di dunia ketiga adalah desa-desa yang ditinggalkan para migran ke kota-kota
besar. Desa Ait Iktel di Abadou, Maroko, pemenang penghargaan berikutnya, membangun kembali
lingkungan pedesaan yang ditinggalkan sebagian penghuninya. Mereka yang masih tinggal di desa
memadu kerja dengan para migran, melengkapi Ait Iktel dengan prasarana air bersih serta fasilitas
umum, seraya meninggikan derajat pengetahuan setempat dalam membangun. Proyek ini
mengingatkan semua negara sedang berkembang akan sisi lain masalah migrasi desa-ke-kota, yaitu
masalah ketimpangan pembangunan yang diderita desa-desa. Pentingnya lagi, ia menyinarkan
optimisme, bahwa ada kemungkinan menggalang kerjasama antara para migran dan yang masih
tinggal di desa untuk memperbaiki desanya sendiri. Semacam gerakan Seribu Minang? Masih
dalam tema pembangunan perdesaan, program Barefoot Architects di India membangun kampus
pelatihan pembangunan pedesaan yang dalam prosesnya menemukan kembali serta meningkatkan
keterampilan dan pengetahuan setempat.
Sekolah peternakan unggas Kahre Eila di Guinea, selain masih menambah khasanah pembangunan
pedesaan, memiliki keistimewaan dalam hal arsitektur serta tata letaknya yang rasional-modern serta
elegan khas karya arsitek Finlandia Heikkinen-Komonen, dalam paduan serasi dengan bahan
bangunan setempat.
Pertumbuhan kota yang pesat merebak ke pinggiran kota -- urban sprawl -- adalah juga masalah
berulang kota-kota besar negara sedang berkembang. Bagh-E-Ferdowsi adalah sebuah taman pada
lereng gunung Alborz di sebelah utara Teheran. Ini adalah sebuah cara kreatif dan inovatif dalam

133
membentuk zona hijau penyangga. Sebab ia tidak semata-mata melarang orang membangun pada
zona ini. Ia juga tidak semata-mata membiarkan zona tersebut sekedar hijau liar. Ia mengubah zona
menjadi ruang terbuka rekreatif untuk khalayak, sehingga termulaikan suatu rasa memiliki dan
pendidikan masyarakat akan nilai ruang terbuka hijau dan alam pada umumnya, terutama dalam
berhadapan dengan peradaban perkotaan.
Olbia Social Centre di Turki mencoba menawarkan solusi bagi fragmentasi lingkungan binaan yang
umum terdapat di pinggiran kota (suburbs). Konteksnya memang sebuah kompleks universitas besar.
Seperti halnya di Indonesia, kampus-kampus baru nan besar seperti UI di Depok atau kampuskampus di Jatinangor, misalnya, sering kali lupa bahwa mereka akan menjadi cikal bakal sebuah kota
baru. Mereka umumnya direncanakan sebagai lingkungan tersendiri yang tidak selip-menyelip
terpadu dengan lingkungannya. Maka lingkungan di sekitarnya lalu menjadi semacam suburbs yang
porak poranda, terpecah belah, tanpa intensitas perkotaan yang jelas pusatnya. Karena itu,
menyediakan sebuah rangkaian ruang dan fasilitas yang menghubungkan berbagai fragmen pra-kota
yang sudah ada dapat menjadi pusat yang berarti. Tetapi lalu yang menentukan adalah bagaimana
fragmen-fragmen itu dapat berhubungan dengan erat dengan pusat baru tersebut dalam hal jarak
ruang dan tata kegiatan. Dalam konteks ini dapat dikatakan masih terlalu pagi untuk menilai
keberhasilan proyek ini.
Dua pemenang lain, yaitu perkampungan anak yatim-piatu SOS di Aqaba, Jordania, serta Museum
Nubian, tanpa perlu dijelaskan langsung menunjukkan realisme sosial dan budaya negara sedang
berkembang dengan warisan peradaban Islam yang bukannya tidak dapat diuniversalkan.
Tetapi Hotel Datai di Pulau Langkawi, dan pemenang Chairmans Award, yaitu Geoffrey Bawa,
adalah dua pemenang yang serta-merta menimbulkan tanda tanya.
Kecuali bentuknya yang secara teknik dan estetik harmonis dengan alam, dan beberapa hal dalam tata
letak dan cara membangunnya, Hotel Datai ini tetaplah menciderai lingkungan dengan membuka
lahan luas secara dramatis di tengah hutan tropis, termasuk membangun jalan sepanjang sekitar 30 km
untuk mencapai bagian utara pulau tempat hotel tersebut berada. Di samping itu, sulitlah untuk
mengatakan arsitektur hotel mewah ini melayani sejumlah signifikan masyarakat muslim (salah
satu kriteria tersurat Aga Khan Award).
Sedangkan Geoffrey Bawa menghasilkan umumnya karya-karya rumah tinggal -- besar dan kaya-serta hotel yang mewah di atas lahan dalam lingkungan spektakuler. Arsitek senior, sang jenius dari
Sri Langka ini memang sangat dihormati karena kemampuannya melahirkan jiwa tempat dengan
antara lain memadu-kawinkan tata lahan dan ruang arsitektur. Kreativitasnya yang ringan serta murah
hati melayang-layang merasuki semua sudut karyanya. Maka setiap langkah dan pandangan
membawa kepada pengalaman yang menyegarkan dan kejutan yang memukau, namun tanpa
membebani. Karya-karya Bawa mengagungkan alam ciptaan Sang Khalik dengan wujud arsitektur
yang diletakkan didalamnya atau memeluknya dengan sangat hati-hati, sambil juga meningkatkan
keindahannya sendiri. Bawa memang adalah seorang pecinta landscape sebelum belajar arsitektur.
Bagi para arsitek yang gelisah mengenai arsitektur alternatif terhadap dominasi bentuk-bentuk dari
Amerika dan Eropah, Bawa adalah seorang pahlawan, seorang Asia non-Jepang yang diakui dunia,
termasuk Barat.
Karena itu, bukannya hendak dikatakan bahwa beliau tidak pantas menerima sebuah penghargaan.
Dia seharusnya mendapatkan penghargaan yang lebih umum daripada Aga Khan Chairmans Award
sekalipun. Ada kesan, Aga Khan Award lebih membutuhkan Geoffrey Bawa, daripada sebaliknya.
Karena Bawa dan Hotel Datai, muncul keraguan: apakah ambisi meng-universal-kan Islam serta
membuatnya inklusif dan tampil modern tidak kebablasan?

134

Arsitektur yang Membangun Kota:


Pameran Postdamer Platz, Berlin, di
Jakarta
103

Berlin adalah sebuah kota yang syarat dengan kenangan buruk mengenai sejarah modern Bangsa
Jerman. Tetapi juga akhirnya suatu tempat kemenangan dirayakan. Potsdamer Platz adalah titik
spesifik dalam semuanya itu. Di Potsdamer Platz pada Tahun 1961 orang-orang Jerman Timur
mulai membangun Tembok Berlin. Di Potsdamer Platz juga orang merayakan penumbangan
Tembok Berlin pada Tanggal 12 November 1989, tiga hari setelah Tembok Berlin dinyatakan dibuka
pada tanggal 9 November 1989. Sebelumnya, selama dekade 60-an di Potsdamer Platz-lah terjadi
perang propaganda yang ironis tetapi komik kalau dipikirkan sekarang, dengan mobil berpengeras
suara dan plakat-plakat yang ditempelkan di tembok tersebut. Para turis diberi panggung khusus di
sisi Barat untuk melongok Potsdamer Platz sebagai jendela ke dunia Timur, di belakang Tirai
Besi. Yang dipandang tentu saja lahan kosong saja tanpa tumbuhan, karena memang dibuat tumbuhan
tidak dapat tumbuh dengan zat herbicides.
Di awal abad ke-20, sampai ketika Nazi berkuasa pada tahun 1933, Potsdamer Platz adalah
persimpangan jalan paling sibuk di seluruh Eropah di tengah Kota Berlin yang juga paling sibuk
dengan kegiatan dan perkembangan seni budaya yang luar biasa. Sampai-sampai disinilah lahir
menara lalu lintas yang pertama di Eropah yang menjadi cikal-bakal lampu lalu lintas. Peter Hall
dalam buku Cities in Civilisation (Oxford, 1998) merekam bahwa dalam masa keemasannya itu
(1918-1933), Berlin memiliki kepadatan media tertinggi di Eropah, dengan kesenian yang marak
dalam segala bentuknya. Berlin adalah metropolis media massa. Misalnya Berliner Morgenpost
memiliki sirkulasi sebesar 600,000. Pada tahun 1927 terdapat lebih dari 4,000 terbitan berkala, dan
tercatat 1,200 penerbit. Semua harian dan majalah utama nasional dicetak di Berlin. 104 Pada waktu itu
Berlin juga dipenuhi oleh seniman yang kemudian dikenal luas oleh dunia modern: seniman grafis
dan pelukis George Grosz, sastrawan Bertolt Brecht, pemain biola Fritz Kreisler (yang
penghasilannya 5,000 sampai 8,000 marks per konser), konduktor Berlin Philarmonic Furtwngler,
sineas Fritz Lang, musikus Otto Klemperer dan lain-lain. Sebagian besar para seniman ini
kemudian hengkang ke Amerika serikat, dan sebagian cukup besar Kota Berlin dihancurkan oleh
bom. Potsdamer Platz adalah salah satu tempat di pusat kota Berlin yang hancur itu, bersama dengan
sekitarnya.
***
Penyatuan Jerman pada Tahun 1989 mengembalikan Potsdamer Platz sebagai salah satu pusat kota
dalam arti geografis yang senyata-nyatanya. Tapi bagaimana suatu pusat kota bisa berupa suatu
lapangan kosong ? Pertanyaan ini menghantui bukan saja orang Berlin, tetapi juga seluruh Jerman,
103

Ditulis untuk diskusi Membangun di atas Reruntuhan Kasus Pusat Kota Berlin, 23 September 2000, dalam rangka
Pameran An Urban Experiment in Central Berlin; Planning Potsdamer Platz, 22 29 September 2000, di Jakarta.
104
Antara lain: Der Deutsche Allgemeine Zeitung, Der Tag, Der Reichsbote, Volkischer Beobachter, Germania, Vorwrts,
Die Rote Fahne, Die Vossische Zeitung, B.Z. am Mittag, Tempo, Berliner Illustrierter Zeitung, Die grune Post, Berliner
Lokalanzieger, Uhu, Koralle, Die Dame, dan Querschnitt.

135
Eropah dan dunia, paling tidak di dunia arsitektur dan tata-kota. Pembangunan kembali Kota Berlin
pasca reunifikasi juga tentu saja memberikan dorongan untuk membangun apa saja yang kosong.
Pada saat ini Berlin telah kembali menjadi salah satu kota utama Jerman dan Eropah, dan sekali lagi
menjadi tempat dimana nampaknya semua orang ingin berada, termasuk kantor-kantor pusat
perusahan besar dan media massa. Namun beban sejarah dan budaya Jerman tidak memperkenankan
pembangunan itu tergesa-gesa dan sembarangan. Berlin juga terkenal dengan tradisi sayembara dan
pameran arsitektur dengan skala 1:1 (bangunan sungguh-sungguh dibangun). Misalnya International
Building Exhibition pada Tahun 1987 yang telah dipersiapkan cukup lama. Ini adalah peristiwa dan
forum penting bagi dunia arsitektur dan tata-kota, karena terjadi pada saat puncak perdebatan
mengenai post-modernisme dan modernisme.
Beberapa karya bersejarah dari arsitek modern Jerman juga terdapat di dekat (di sisi Berlin Barat)
Potsdamer Platz, yaitu Berlin Philharmonie (1956-63) dan Staatsbibliothek (1961?) karya Hans
Scharoun serta Neue Nationalgalerie (1962-68) karya Mies van der Rohe.
Karena semua beban dan makna itu, Tahun 1991 dimulai proses sayembara untuk sebuah kawasan
seluas 48 Ha di sekitar Potsdamer dan Leipziger Platz. Yang terpenting, tentu saja, Potsdamer Platz
memberikan kesempatan menyatukan Berlin Barat dan Timur dalam arti nyata sebagai satu kota.
***
Sayembara pertama dimulai pada tanggal 28 Juni 1991. Bagian Pengembangan Perkotaan dan
Perlindungan Lingkungan dari Senat Kota Berlin mengumumkan sayembara internasional terbatas
untuk mendapatkan gagasan koseptual. 16 kantor arsitek yang turut serta datang dari London,
Hamburg, Rostock, Zurich, Berlin, Milano, Munich,Stutgart dan Wina. Tujuan sayembara
dirumuskan sebagai mengintegrasikan kawasan ini ke dalam struktur polisentrik Berlin, mendobrak
monofungsionalitas, menciptakan hubungan langsung antara Staatsbibliothek karya Hans Scharoun
dengan Potsdamer Platz, mencari definisi yang jelas atas Potsdamer Platz dan menghubungkannya
dengan Leipziger Platz, merangkul beberapa bangunan bersejarah dalam kesatuan baru dengan
lingkungannya sebagai tempat kenangan (places of memory) 105 . Campur-sari fungsi pun dengan
tegas digariskan: perbelanjaan, rekreasi, lembaga sosial dan umum serta kantor. Semuanya ditujukan
untuk menciptakan pusat dari metropolis Berlin dan menolak monostruktur.
Pada tanggal 2 Oktober 1991 lima hadiah dianugerahkan. Pemenang hadiah pertama adalah konsep
dari Heinz Hilmer dan Christoph Sattler dari Munich. Di antara pemenang lainnya terdapat nama
besar antara lain: O.M. Ungers dari Koln (hadiah kedua), dan William Alsop dari London (hadiah
keempat) yang merupakan satu-satunya usulan radikal yang tidak me-rekonstruksi tipologi blok
tradisional Berlin.
Masterplan Hilmer dan Sattler akhirnya diputuskan menjadi dasar untuk sayembara berikut untuk
lahan yang dimiliki oleh Daimler-Benz, meskipun sebelumnya para investor sempat menunjuk
Richard Rogers untuk membuat masterplan tandingan di bulai Mei 1992. Inipun setelah Hilmer dan
Sattler menerima perubahan atas karya mereka menjadi lebih flesibel, terutama dalam hal ketinggian
bangunan yang lebih bervariasi. Bagaimanapun juga ini mencerminkan kewibawaan sayembara yang
mengatasi kepentingan para pemodal.
Sayembara kedua, yaitu di atas lahan milik Daimler-Benz (75,000 m2) ditujukan untuk mendirikan
bangunan diatas lahan 68,000m2 dan membangun ruang terbuka, baik jalan maupun lapangan, seluas
8000 m2. Kerangka acuannya tetap: mengembalikan kehidupan kota dengan campur sari fungsi yang
intensif, menghindari bangunan besar dan monolitik, harus terdiri dari bukan hanya kantor-kantor,
tetapi juga toko, cafe, restoran, hotel, hunian, teater musikal dan ruang pamer. Penggunaan kendaraan
pribadi pun hendak ditekan sampai 200 % saja. Karena itu sarana transportasi umumpun harus
menjadi perhatian, sehingga diputuskan untuk menghidupkan kembali S-Bahn dan U-Bahn bawah
tanah.
14 kantor arsitek internasional mengikuti sayembara tahap dua ini. Pemenangnya yang diumumkan
padat tanggal 4 September 1992 adalah Renzo Piano (Hadiah Pertama), Ungers (kedua), Arata
Isozaki (ketiga), Richard Rogers (ke-empat), dan Kollhoff (kelima), dengan hadiah khusus kepada
105

Lihat katalog An Urban Experiment in Central Berlin; Planning Potsdamer Platz, p.69

136
Ulrike Lauber dan Wolfram Wohr. Karya Renzo memiliki kelebihan yang sangat jelas: menciptakan
suatu plaza dan fasilitas teater dan ruang pamer yang menghubungkan Potsdamer Platz dengan
Staatsbibliothek melalui Potsdamerstrasse. Ini akan sangat menghidupkan kawasan ini. Namun
kehidupan hunian dan fungsi-fungsi lain di blok-blok lain tetap terjaga privacynya karena dipisahkan
dari kompleks Staatsbibliothek dan plaza ini oleh badan air, sehingga tercipta fokus ruang kota pada
Jalan Potsdamerstrasse dan plaza berupa jembatan yang menghubungkan fasilitas ruang pamer dan
teater itu dengan Jalan Potsdamerstrasse. Yang terakhir ini terbayangkan akan menjadi mall terbuka
yang sangat hidup. Ungers seperti biasa sangat disiplin dengan blok-blok. Demikian juga Hans
Kollhoff. Arata Isozaki bermasalah dengan bangunan-bangunan besar dan monolitiknya yang
sebetulnya melanggar pola blok-blok lebih kecil dari masterplan menyeluruh oleh Hilmer dan
Sattler yang ingin mengacu kepada blok-blok tradisional Berlin.
Karya pemenang pertama, Renzo Piano dan Christoph Kohlbecker, kemudian diperbaiki antara Tahun
1993 1994 sehingga dihasilkan yang lebih matang di bulan April 1993. Ini kemudian dikembangkan
dan dimantapkan sebagai Optimised Masterplan bulan Juni 1994, dengan telah memasukkan
rancangan awal dari bangunan-bangunan individual oleh 6 arsitek berbeda, yaitu Kollhoff dari Belin
(gedung kantor di depan Potsdamer Pltaz), Lauber + Wohr dari Munich (pusat bioskop dan hunian,
serta gedung hunian), Jose Rafael Moneo dari Madrid (hotel dan blok kantor), Renzo Piano dari Paris
(kantor pusat DB, menara kantor di depan Potsdamer Platz, gedung kantor lain, dan hunian, casin,
teater musikal), Richard Rogers dari London (gedung kantor dan hunian), dan Arata Isozaki dari
Jepang ( dua gedung perkantoran).
***
Apakah renungan yang dapat ditarik dari Potsdamer Platz untuk Jakarta?
Dari kejauhan Jakarta, apa yang terjadi di Potsdamer Platz nampak sebagai suatu usaha dan
pencapaian yang kompleks luar biasa. Setidaknya dalam hal-hal berikut: organisasi sayembara,
mengisi ruang kosong yang penuh makna dengan beban sejarah yang sangat berat, menciptakan
kembali untuk pertama kalinya pusat baru yang menyatukan Berlin barat dan timur, melawan
ortodoksi modernitas monofungsional dan menegosiasikan aspirasi serta kepetingan begitu banyak
komponen masyarakat warga.
Untuk ukuran Jakarta, hal itu terasa begitu luar biasa karena Jakarta telah kehilangan hampir seluruh
kesempatan yang ada untuk hal-hal di atas. Kesempatan-kesempatan Jakarta yang saya maksud,
misalnya antara lain adalah: Proyek bekas Bandara Kemayoran, Proyek Penataan kembali Lapangan
Monas, Stasiun Besar Gambir, Taman ismail Marzuki, perluasan Museum Nasional dan proyekproyek besar di dalam dan sekitar segitiga emas.
Yang terakhir di atas tetap harus disebutkan, karena meskipun dikuasai swasta, tetap merupakan
proyek dengan kepentingan dan kesempatan publik. Bukankah sebagian lahan yang sangat berarti di
Potsdamer Platz juga sebenarnya milik swasta, yaitu bagian yang dimiliki Daimler Benz? Tetapi
bagian ini tunduk pada suatu proses dan pengaturan publik, pada kepentingan bersama membangun
pusat kota di atas reruntuhan.
Yang sangat memerihkan hati memang proyek-proyek lain yang publik maupun kuasi-publik diatas.
Tidak satukan yang direncanakan dengan partisipasi yang berarti dari masyarakat luas. Tentu saja kita
bersedih hati bukan hanya karena proses yang tidak transparan, tetapi kenyataan hasilnya pun
tidaklah dapat dibanggakan.
Bekas Bandara Kemayoran sebenarnya dilakukan melalui sayembara. Rancangan yang mendapat
hadiah juara dua memiliki potensi membangun pusat kota di dalam struktur metropolis Jakarta yang
sebenarnya haus pusat. Tetapi, seperti kita tahu, pola yang sekarang diterapkan tidak ada kaitan apaapa dengan hasil sayembara di Tahun 1988/1989 itu. Malah katanya mau diubah lagi tanpa ada
keterlibatan publik sama sekali, semata-mata karena ada usul investasi untuk membuat cyber city.
Sedangkan penataan Lapangan Monas yang dimulai tahun 1995 (?) itu sampai sekarang belum
nampak jelas konsepsi, apalagi geregetnya. Memang sejak awal kita tidak tahu prosesnya, karena
tidak terbuka. Sekarang setelah melihat sedikit-sedikit perubahan yang dilakukan, baru kita bertanyatanya: sebenarnya maunya apa? Lapangan Monas mempunyai makna yang cukup penting untuk
sayembara internasional, karena tidak di setiap negari ada lapangan seluas 80 ha, dan karena ia

137
adalah lapangan terpenting di Indonesia. Dari Potsdamer Platz, kita dapat mempelajari bagaimana
sayembara internasional bermanfaat atau tidak, seberapa luas dan kaya gagasan yang dapat terjaring,
seberapa besar perhatian dunia hendak ditarik dan seberapa besar peran arsitek sebagai pemberi
bentuk.
Kita mengetahui pernah ada aturan yang menghendaki hanya kegiatan-kegiatan kepemerintahan yang
mengambil tempat di sekeliling Lapangan Monas. Katanya dengan demikian kawasan Monas menjadi
civic centre. Ini tidak lain adalah puncak dari kejayaan negara di atas segalanya. Pada waktu itu
saja sudah ganjil pengertian civic centre yang hanya terdiri dari kegiatan-kegiatn kepemerintahan
itu. Sekarang waktunya hal ini ditinjau ulang, bahkan diubah dengan tegas. Bukankah Stasiun Gambir
dan Museum dengan Cafe lebih civic, daripada Mabes TNI-AD?
Stasiun Besar Gambir memperoleh maknanya antara lain karena merupakan bagian dari Lapangan
Monas. Tetapi sampai sekarang hubungannya tidak jelas, kecuali bahwa halaman belakanganya
adalah lapangan parkir berbatasan dengan bagian inti Lapangan Monas. Bangunan stasiun itu sendiri
tidak dapat dibanggakan. Bahkan tidak tersedia tempat yag baik bagi orang untuk sholat. Baru-baru
ini saya saksikan, orang sholat maghrib di bagian yang sekedar dibatasi dengan rantai di tengahtengah keramaian.
Museum Nasional melakukan sayembara, tetapi setelah ada arsitek yang ditunjuk yang telah
menyiapkan alternatif. Sekarang, meskipun belum benar-benar selesai karena terhambat krisis
ekonomi, sungguh merupakan pemaluan yang luar biasa bagi arsitektur Indonesia: seolah-olah arsitek
Indonesia tidak mempunyai kemampuan lebih daripada sekedar meniru bangunan tua (kolonial) di
sebelahnya yang juga tidak terlalu istimewa, dan seolah-olah arsitektur Indonesia tidak mempunyai
wacana lebih daripada peniruan nominal bangunan tua yang bahkan disebut post-modernpun tidak
pantas.
Semua arsitek, tokoh-tokoh arsitek di lembaga-lembaga resmi selalu mengangguk-ngangguk bila saya
mengusulkan agar semua proyek publik harus melalui sayembara, dan prosesnya dibuka secara luas.
Dalam anggaran proyek, harus ada bagian untuk berkomunikasi dengan masyarakat, baik melalui
pameran ataupun bentuk ekspose lainnya. Tetapi saya belum pernah mendengar adanya arsitek yang
menolak proyek pemerintah/publik yang tidak melalui sayembara.
Sayembara ini pentingnya bukan hanya untuk transparansi dan mendapatkan/menjaring yang terbaik
bagi masyarakat, tetapi sebenarnya adalah suatu mekanisme untuk menciptakan suasana kompetitif di
dalam kita sendiri. Kalau kita sendiri di dalam tidak memiliki mental berkompetisi, bagaimana kita
dapat menhadapi kompetisi yang nanti akan dipaksakan oleh globalisasi dan pasar bebas?
Karena itu, saya sangat menghimbau, bukan saja untuk kepentingan masyarakat awam seperti saya
ini, tetapi untuk kepentingan para arsitek itu sendiri, untuk secara pro-aktif mendesak sayembara
untuk proyek-proyek publik. Artinya pro-aktif, ya, harus secara kompak berani menolak proyek yang
ditunjuk! Tidak lagi cukup dengan menghimbau birokrasi dan pemerintah. Tidak efektif untuk
tergantung kepada mereka. Lebih baik mulai dari diri arsitek sendiri.
IAI seharusnya mulai dengan melakukan himbauan, lalu disusul dengan pelarangan, dan akhirnya
penghukuman bagi anggotanya yang menerima proyek publik tanpa melalui proses sayembara.
Inilah permintaan saya kepada para senior saya, yang memang akan menghadapi resiko kehilangan
proyek paling besar melalui sayembara meskipun sebenarnya tidak mesti demikian- dan kepada
rekan-rekan saya Arsitek Muda Indonesia, yang kini telah menjadi pengurus teras Ikatan Arsitek
Indonesia dan celebrities (?) yang dihormati oleh media massa dan oleh generasi yang lebih muda
lagi, meskipun lebih banyak mereka tergantung kepada klien-klien swasta/pribadi.
Ortodoksi Baru
Pengalaman Potsdamer Platz juag menunjukkan kemungkinan melawan ortodoksi modernisme dan
kemungkinan dengan sadar menciptakan kehidupan kota yang kaya melalui campur sari (mix-use)
berbagai fungsi/kegiatan kota yang vital. Hanya saja, saya melihat munculnya ortodoksi baru yang
memang tidak mudah ditandingi sampai tuntas: rekonstruksi-isme bentuk (blok) kota lama dan
dominannya kelas menengah (dan atas) di dalam pusat kota. Masalah dengan ortodoksi pertama ini
bukanlah bahwa ia kurang baik, melainkan karena ia menutup pintu terhadap hal baik lain yang

138
baru. Akhirnya ia nampak sebagai ketakutan akan resiko yang bisa saja muncul dari yang baru,
yang alternatif, yang seolah-olah akan menjadi kotak Pandora. Namun harus diakui, hanya orang
Berlin atau orang Jerman sendirilah yang dapat menilai, dan akhirnya menentukan, seberapa jauh
sejarah mau di-rekonstruksi, dan seberapa jauh resiko mau dihindari. Saya juga tidak menyangkal,
bahwa rancangan Renzo Piano sebenarnya merupakan kompromi yang baik antara ortodoksi dan
inovasi terbatas. Sikap ini sangat menonjol pada penciptaan plasa di dekat Staatsbibliothek karya
Sharoun, penambahan bangunan baru yang berdampingan dengannya, pemisahan yang efektif
dengan kawasan lain dengan air, focus pada Potsdamerstarsse, dan seterusnya.
Jakarta, manakala dihadapkan pada masalah pilihan seperti, itu biasanya menjadi lebih sulit, justru
karena sejarahnya tidaklah menampilkan jejak-jejak yang sekuat Berlin. Sementara itu pengalaman
kita akan urbanitas yang adalah sekaligus modernitas (yang cenderung di-identik-kan sebagai sumber
perubahan yang tidak jarang membawa bencana) juga masih berumur pendek, terkeping-keping, dan
kurang wacana. Itulah sebabnya banyak proyek-proyek arsitektur yang bersentuhan dengan sejarah
menjadi ragu-ragu dan serba canggung, bahkan konyol, karena ketidak-jelasan sikap baik terhadap
sejarah maupun terhadap modernitas. Perluasan Museum Nasional serta penataan Lapangan Monas
merupakan contoh kasusnya.
Ortodoksi yang kedua barangkali hanya terasa demikian bagi Jakarta, sebuah kota metropolitan yang
sekaligus kampungan. Sebuah pusat kapital yang berdampingan dengan pusat keringat. Kecil dan
besar, kaya dan miskin, modern dan tradisional, makin berdesakan atau didesak untuk berdekatan
secara ruang, tetapi makin menjauh secara jarak skala. Persoalan ini tidak habis-habisnya dibicarakan.
Makin mendesak juga perlunya eksperimen kongrit oleh para pemberi bentuk, bukan hanya retorika
dari perancang ekonomi, sosial, dan politik. Kapan ada kesempatan ? Menurut saya kesempatan ini
harus dicari oleh para arsitek sendiri, tidak menunggu. Dialektika antara Kampung dan Metropolis,
misalnya, memerlukan pemberian bentuk yang dapat menjadi kesempatan besar memberikan
identitas kepada Jakarta.
Sementara itu satu lagi bahaya ortodoksi bagi Jakarta adalah : keasyikan melindungi bangunan tua
(tidak semuanya bersejarah !), sehingga lupa melindungi generasi mendatang dari bangunanbangunan masa depan yang buruk-buruk. Ini lagi-lagi argumen untuk makin menggalakkan
sayembara terbuka sebagai instrumen melawan ortodoksi.
Bangunan yang Membangun Kota
Salah satu hal krusial dari wacana mengenai hal di atas di Jakarta adalah karena ia sangat menentukan
hubungan atara bangunan dengan lingkungannya, antara arsitektur dan kota, dan menentukan apakah
arsitektur dapat MEMBANGUN kota. Ini adalah pelajaran berikutnya dari pengalaman Potsdamer
Platz : ternyata mungkinlah bangunan-bangunan individual membentuk ensemble yang berarti lebih
besar daripada sekedar jumlah gedung-gedung itu, dan bahkan membangun ruang-ruang kota yang
baru di antaranya, yang tidak ada sebelumnya, dan kini, selain mempunyai bentuk dan kehidupannya
sendiri, juga menjadi perekat bangunan-bangunan itu. Ini memang telah secara sadar dinyatakan
dalam konsep pemenang sayembara Hilmer dan Sattler, bahwa urbanitas sebaiknya terjadi di ruang
luar, bukan di ruang dalam.
Bagaimana Jakarta dapat belajar dari hal itu (bangunan dan bangunan serta bagian kota dan bagian
kota saling menyambung) kalau tidak memikirkan dengan serius bentuk hubungan antara
modernisasi dan hunian tradisional, antara infrastruktur (ini masalah tersendiri) dan ruang arsitektur,
antara berbagai macam kegiatan di dalam kota ? Infrastruktur telah cenderung menjadi pemecah
kesatuan kota, hanya melayani kota secara fungsional, bukan secara sosial kultural. Arsitektur
bangunan telah cenderung menjadi pemecah belah masyarakat menjadi berbagai kelas, berbagai
cita rasa, berbagai mimpi, berbagai lingkungan berpagar, dan bukannya menyatukan masyarakat
sebagai mana layaknya suatu kesenian, karena seharusnya keindahan, seperti pernah dikatakan
Schiller (seorang Jerman yang lain), menyatukan kemanusiaan. Sementara Berlin berusaha mengatasi
Tembok Berlin, Jakarta sedang membangun tembok berlin dalam bentuk nyata maupun metaforik di
mana-mana.
Arsitektur yang membangun kota tidak bisa lain adalah arsitektur yang seharusnya menyatukan
kota.

139
Tetapi soal di atas bukan semata masalah wacana dan konsep yang mengawang-ngawang, melainkan
tergantung bagaimana masalah-masalah profan dan teknis seperti transportasi umum dan disain
lingkungan serta bangunan mix-use dapat benar-benar bekerja mendukung konsep. Hal ini,
sebagaimana kita lihat pada disain bangunan-bangunan dan lingkungan Potsdamer Platz, tetap
merupakan tantangan terpenting. Lebih dari masalah sektoral, masalah-masalah itu adalah masalah
pemberian bentuk, masalah disain yang memadukan berbagai prasarana dan kegiatan dalam suatu
kepadatan perkotaan yang layak.
Kerusuhan demi kerusuhan di Jakarta dalam dua tahun terakhir ini telah menciptakan banyak
kekosongan-kekosongan juga di kota kita ini. Mudah-mudahan dalam membangun di atas
reruntuhan baru ini kita tidak makin kehilangan kesempatan sejarah.

140

Etalase Thamrin-Sudirman: Makin


Berubah, Makin Sama
Yang sama: pohon beringin jawa (ficus benjamina javanica) besar di sudut Hotel Sahid masih berdiri
kokoh meski tak mendapat ruang yang cukup untuk mendukung keindahan maupun perawatannya.
Yang baru adalah gedung da Vinci, di utara Sahid, yang menunjukkan pepatah lama: Money cannot
buy taste. Langgam greko roman + gotik yang mau dihadirkan disini ini buruk rupa bukan saja
karena mengkhianati masa, anakronistik, tetapi juga karena merupakan tiruan murah dan murahan
dari langgam itu sendiri. Murahan, jelas. Murah? Ya. Jangan dikira membuat bangunan seperti itu
mahal, sebab teknik casting komponen bangunan sekarang menyebabkan justru bangunan
bertampang demikian itu dapat dibuat dengan murah. Jangan-jangan justru karena itu langgam ini
dipakai. Tentu saja tidak tertutup bangunan ini tetap mewah dalam arti mahal, karena bagian
dalamnya menggunakan bahan-bahan pelapis yang mahal. Tetapi ini tidak menjamin keindahan.
Yang jelas, bangunan ini pasti hemat pada biaya murah yang dibayarkan kepada arsiteknya, sebab
biasanya memang arsitek murah dan murahan saja sudah cukup untuk merancang bangunan seperti
ini.
Yang hilang adalah sepokok pohon beringin karet (ficus elastica) yang dulu berada di kaki-lima di
depan Keduataan Besar Australia, yang juga telah lenyap, pindah ke Jl. Rasuna Said, karena tunduk
pada himbauan pemilik Plasa Indonesia yang ingin memiliki tanahnya. Penggantinya adalah sebuah
gedung warna-warni, dinamai secara modist eX Gedung ini dari luar kelihatan miring-miring
dinding dan lantainya, tapi dari dalam rata-rata saja. Lagipula umurnya hanya direncanakan lima
tahun saja. Maka perancangnya telah berubah menjadi seorang decorator, ketimbang seorang
arsitek, sebab bangunannya telah berubah menjadi semacam property panggung untuk menampung
kegiatan sementara, bukan lagi arsitektur seperti yang dulu yang, di suatu masa yang gemilang,
senantiasa diciptakan dengan cita-cita berdiri abadi. Tetapi siapa bilang kota bukan panggung, dan
masyarakat kota bukan pemirsa atau pemain sandiwara? Dan arsitek tidak boleh menjadi perancang
set panggung?
Inovasi pada proyek ini ada dua: memperkenalkan arsitektur pinggir-kota (suburban) ke tengahtengah jantung Jakarta, dengan lapangan parkirnya yang luas di muka. Kedua, ia, memperkenalkan
arsitektur kardus, arsitektur temporer yang mengaurkan semangat kesementaraan metropolitan,
sekaligus tanpa malu-malu memberikan ruang ekspresi kepada kapitalisme pendanaan (financial
capitalism) yang menentukan umur arsitektur.
Kedutaan Besar Jepang di sebelahnya tetap tegak bertahan terhadap intimidasi, meskipun dulu ada
peluru nyasar ke arahnya. Hanya saja bangunannya baru, mengkilap, meskipun sama sekali tidak
dapat dikatakan cantik. Gedungnya yang lama kaya dengan bermacam-macam tekstur yang
dikomposisikan dengan sadar pada permukaan, sedangkan rancangan jendela-jendelanya menjawab
iklim tropis dengan bayangan dan aling-aling sinar matahari. Gedung baru ini, dibandingkan dengan

141
gedung lama itu, nampak hanyalah sebuah bongkahan batu granit besar, masif, berusaha tidak
menarik perhatian, tanpa ekspresi, dan bersikap dingin terhadap jalan dan iklim, seperti tidak disini.
Memang mungkin akan demikianlah semua hal yang dirancang atas dasar pertimbangan keamanan.
Yang paut dipuji dari gedung ini tentu saja adalah serahan sebagian halamannya untuk digunakan
oleh umum sebagai pelebaran kaki-lima. Tapi nampak keraguan pada ketulusannya, sebab ada
halangan berupa pot tanaman di kedua ujungnya. Boleh digunakan, tetapi kalau bisa jangan.
Serahan ini kini dipuji-puji karena dianggap mendukung program pelebaran kaki-lima Jalan ThamrinSudirman, yang ternyata menimbulkan perkara mendasar tentang hak tanah. Kalau pemerintah mau
menggunakan tanah swasta untuk kepentingan umum, kenapa tidak dibeli saja? Karena dengan
dinyatakan sebagai digunakan untuk khalayak saja berarti nilai tanah itu diragukan untuk dapat
diperdagangkan. Menghadapi kealotan negosiasi bilateral antara PEMDA DKI dan masing-masing
pemilik tanah-gedung, sungguh mengherankan mengapa misalnya tidak dimulai dulu dengan Jalan
Sudirman yang lebih mudah, karena umumnya sudah memiliki lahan kaki-lima selebar empat sampai
enam meter. Mungkin Thamrin lebih bergengsi daripada Sudirman.
Di Jalan Sudirman ini, di Senayan, Gelora Bung Karno membangun pagar dan gerbang baru
menghadap jalan Sudirman, sebab demikianlah rekomendasi yang pernah diberikan, bahwa kompleks
yang digagas Sukarno ini memang lebih layak bila pintu utamanya menghadap ke Sudirman, sebagai
sebuah jalan utama Jakarta, yang juga tidak lepas dari gagasan beliau. (Mudah-mudahan penataan
Kompleks Gelora Bung Karno ini tidak terhenti hanya karena PDIP kalah dalam PEMILU 2004.
Apalagi bila GOLKAR yang menang, yang sudah terkenal suka ruilslag dan misalnya telah
membangun Hotel Mulia yang melanggar tata ruang kawasan itu).
Satu lagi pusaka dari Bung Karno akan segera berubah, ialah Hotel Indonesia. Mulai tanggal 30
April, hotel ini akan tutup untuk masa renovasi dan pembangunan kembali yang cukup panjang,
mungkin satu setengah tahun
Pusaka yang terkandung di dalamnya sungguh beragam: mulai dari bubur ayam HI, lukisan Lee Man
Fong dan mosaik Gregorius Sidharta di restoran Ramayana, hingga proyektor film yang terbaik pada
jamannya di Bali Room. Menurut kabar terakhir, tiga bangunan utama kompleks hotel ini, yaitu dua
blok kamar-kamar yang menghadap bundaran HI, serta Bali Room yang oval itu, tidak akan
dibongkar, tetapi malah dikembalikan ke rancangan awalnya, yang berarti termasuk membongkar
tambahan lobi beratap susun yang dibuat tahun 1983 itu. Sebenarnya tambahan lobi ini sendiri adalah
sebuah monumen, ialah tentang suatu momen ketika para arsitek Indonesia tergila-gila pada identitas
nasionl dan melampiaskannya dengan menyangkal dan merusak arsitektur modern. Contoh lain dari
pelampiasan ini adalah Gedung Sarinah.
Yang juga berubah adalah Bundaran HI. Ia menjadi makin buruk dan bahkan tega-teganya orang
menghentikan evolusinya menjadi ruang khalayak yang hidup setelah ditemukan oleh masyarakat
pada masa penguliran reformasi, dan bahkan diberi tanda awas, listrik tegangan tinggi. Sedang
Hotel Nikko di dekatnya dengan terang menyikapi jalan dengan sangat optimis dan bersahabat: lobi
besar dan tinggi memanjang sepanjang mukanya, seolah mengundang orang (tidak termasuk
demonstran) dan menawarkan kehidupan leha-leha yang santai dan terbuka bagi sebuah jalan yang
sungguh bercorak adab kota. Lalu patung Arjuna Wijaya di ujung Jalan Thamrin, berganti rupa dari
semuanya masif berbahan resin menjadi berongga-rongga dengan tembaga. Ini juga gejala
kesementaraan. Baru kali ini saya tahu ada karya seni publik yang dibongkar dan diubah sendiri oleh
senimannya. Perubahan terbesar adalah hilangnya kampung-kampung di Setiabudi dan segitiga emas.
Umumnya, setelah mereka digusur, di sini masih tersisa ruang kosong saja hingga sekarang, menjadi
kenangan bagi merosotnya penduduk Jakarta Pusat dan Selatan sebanyak 330.000 jiwa lebih dalam
sepuluh tahun terkahir.
Busway menjadi alasan untuk memperlebar kaki-lima. Tetapi kebingungan dasar menhantui, yaitu
karena tidak adanya visi yang jelas dan tidak pernah dipaparkan secara utuh kepada khalayak.
Katanya hasilnya akan tergantung pada negosiasi bilateral dengan para pemilik tanah-bangunan.
Dengan menghilangnya hunian di sepanjang (belakang) kawasan Thamrin-Sudirman, status jalan ini
tidak jelas. Ini jalan raya dalam arti highstreet atau highway? Istilah Jalan Protokol tidak
membentuk konsep perkotaan yang memadai, sebab hanya mengandung satu dimensi ritual saja, tidak
memberikan gambaran tentang bagaimana masyarakat kota hidup dan mengakrabkan diri dengannya,
kecuali cuma untuk menunggu angkutan umum. Tanpa konsep dan visi yang jelas yang

142
membangkitkan sense of belonging, penataannya tetap akan sepotong-sepotong, ad-hoc, tambal
sulam, berantakan seperti busway.
Nasib Thamrin Sudirman selama ini rupanya hanya menjadi etalase elit, yang hanya bersentuhan
dengan kehidupan nyata melalui dinding kaca. Maka tidak mengherankan kalau rancangan etalase ini
tidak akan mencerminkan kemampuan 4,000 arsitek yang ada di kota ini, tetapi hanya mencerminkan
selera rendah elite dan tukang-tukangnya.
Wajah-wajah di Jalan Thamrin-Sudirman makin berubah, seperti topeng. Tetapi di baliknya adalah
semangat penguasaan oleh struktur ekonomi dan selera rendah, yang makin sama di seluruh kota
Jakarta.

143

BAB 6: PUSAKA

144

Pada bulan Desember 2002 tersiar kabar bahwa akan dibangun suatu pusat perbelanjaan di dekat
Borobudur. Penulis terlibat dalam advokasi menentang rencana tersebut, termasuk
menyelenggarakan suatu petisi melalui internet yang berhasil mengumpulkan pendukung dari
seluruh dunia. Dalam satu bulan penulis juga menulis tiga artikel tentang Borobudur, yang masingmasing dimuat di harian Kompas (tanggal.), harian Tempo (tanggal) dan harian the Jakarta Post
(tanggal.). Pada bulan April 2005 ditulis lagi sebuah kolom untuk majalah Tempo, mencerminkan
belum adanya konsensus jelas tentang bagaimana melestarikan mahakarya bangsa Jawa itu.
Penyair Sitor Situmorang menyumbang dua sajak untuk upaya ini.

Borobudur Bukan Monumen?


Bagi John Miksic (Borobudur: Golden Tales of the Buddhas, 1990) Borobudur bukan monumen,
melainkan alat peraga visual bagi sebuah filsafat hidup yang kompleks. Monumen biasanya terbatas
pada fungsi simbolik dan menyampaikan pesan tunggal kepada massa, dengan penampilan bentuk
silhuet vertikal yang sederhana sehingga dapat dilihat dari jarak jauh dan seketika membangkitkan
emosi. Sedangkan para pembangun Borobudur bermaksud melibatkan akal. Pesan yang ingin
disampaikannya terlalu kompleks untuk dinyatakan hanya dengan bentuk luar yang mencengangkan
saja. Borobudur tidak menyanjungkan dirinya dengan bentuk vertikal yang nyaring, ia berbaring
dengan diam, menelingkupi bumi (seperti telapak tangan kanan Buddha pada posisi bhumisaparsa
mudra), mengisyaratkan ada sesuatu yang jauh lebih penting di dalamnya, ketimbang bentuk
luarnya.
Besarnya sumber daya yang dikerahkan untuk membangun Borobudur bukan hanya untuk tujuan
monumental, melainkan terutama untuk mengajarkan suatu falsafah hidup yang luhur, menunjukkan
bahwa orang Jawa di abad ke-8 adalah salah satu bangsa yang paling humanis dalam sejarah.
Bagi Claire Holt, penari yang menulis sejarah seni Indonesia, Borobudur adalah artifak penting untuk
mempelajari evolusi seni tari di Jawa. Panel-panel bas-relief nya banyak yang menggambarkan gerak
tari rakyat. Bagi Restu Imansari, penari yang juga penata landscape, Borobudur adalah bagian dari
suatu cultural landcape wilayah yang agung dengan dirinya sebagai sebuah pusat Mandala yang
bersudut timur-laut berupa pasangan Gunung Merapi-Merbabu dan bersudut barat-laut berupa
pasangan Gunung Sindoro-Sumbing. Keempatnya bagai dua pasang dewa yang berhadap-hadapan
menjaga Candi Borobudur. Di selatan, terlena perbukitan Menoreh. Ruang di antara mereka semua
itulah yang disebut Dataran Kedu yang sangat subur, karena mengalirnya beberapa sungai yang
turun dari gunung-gunung itu menuju ke Segara Kidul melalui celah di sebelah tenggara Borobudur.
Melalui celah ini pulalah Borobudur dapat dicapai setelah melewati candi Mendut dan Pawon.
Borobudur adalah sekaligus karya arsitektur dan senipatung yang maha agung. Itulah sebabnya ia
tertakdirkan menjadi artifak arkeologis yang abadi, bahkan sebelum menjadi reruntuhan.
Meletakkan Candi Borobudur dalam bentang alam di atas adalah suatu tindakan arsitektural yang
luar biasa, karena bekerja pada skala supramanusia, mewacanakan benda alam raksasa --gunung,
pasangan gunung, sungai -- sebagai unsur tata ruang dan sekaligus memberanikan benda arsitektur
menjadi sesanding dengan ukuran alam yang maha besar. Tak heran kalau arsiteknya,
Gunadharma, lalu dimitoskan memiliki kesaktian dewa.
Candi Borobudur adalah sebuah arsitektur karena di dalamnya terbangun secara murni pengalamanpengalaman ruang yang mendasar. Borobudur adalah sebuah bangunan labirin tiga dimensi. Di
dalamnya orang bergerak spiral. Pada bidang horizontal, orang bergerak di dalam lorong-lorongnya
yang mengandung 1460 panel bas-relief seluas 1900 m2 yang didasarkan pada kitab kuno
Buddhisme. Di dalam lorong ini orang sepenuhnya terlindungi oleh dinding di sebelah kanan dan
balustrade di sebelah kiri. Dunia luar seketika terlupakan, kecuali langit yang menjadi atapnya.

145
Konsentrasi penuh diarahkan pada panel-panel yang dirancang pada ketinggian dan ukuran yang
memudahkan penghitmatan sambil berdiri. Hal ini tidaklah demikian, misalnya, pada panel-panel
Candi Panataran. Gerak di dalam lorong ini tidak lurus, tetapi berkelok kiri-kanan sebanyak 8 kali
pada tiap sisi Candi, sebelum akhirnya sampai kembali ke titik awal untuk kemudian bergerak vertikal
ke tingkat berikutnya. Pada belokan tertentu, tiba-tiba Buddha hadir di ujung lorong, sebelum kelokan
berikut, pada ketinggian yang menimbulkan rasa gentar, bukan takut yang mengancam, tetapi
kehadiran yang mengingatkan dan menjaga. Gerakan yang terus menerus berubah arah kiri-kanan
ini dipercaya memiliki kekuatan meditatif dan terapetik bagi jiwa. Hal ini dipercaya dalam banyak
peradaban berumur panjang. Yunani misalnya telah mengenal labirin sejak lima ribu tahun yang lalu.
Sementara itu, cahaya berubah-ubah, menyeruak dari celah-celah, menjatuhkan terang atau
bayangan stupa pada panel-panel itu, yang dipenuhi dengan wajah-wajah yang tenang dengan
tubuh-tubuh yang molek. Hanya pada panel-panel di kaki Borobudur --hanya pada sudut tenggara
yang dibuka-- pada seri panel yang disebut Mahakarmawibhangga, nampak wajah-wajah dengan
emosi, termasuk yang cekikikan dengan isyarat sedang bergosip.
Pada tingkat pertama terdapat empat seri panel. Sedang pada tingkat-tingkat berikutnya --kedua, tiga
dan empat-- masing-masing terdapat dua seri panel. Karena itu lorong di tingkat pertama harus
dikelilingi empat kali, dan lorong lainnya masing-masing dua kali. Bila ini dilakukan, maka panjang
seluruh perjalanan horizontal adalah sekitar 5 kilometer. Sedang perjalanan vertikal adalah 26 meter.
Hadiah setelah menjalani semua lorong yang menutup diri dari alam luar itu adalah sebuah puncak
yang tiba-tiba menampakkan seluruh ruang mandala Dataran Kedu, dengan segenap gunungpegunungan yang menandainya. Di puncak ini: sebuah kesenyapan yang hening. Sebuah siraman
spiritual. Sedang ketika melihat kebawah, Borobudur hadir sebagai sebuah wujud peradaban yang
dihidupkan dan menghidupi segenap isi seluruh bentang alam Dataran Kedu.
Itulah sebabnya peserta simposium internasional Managing Heritage Environment in Asia, 8-12
Januari 2003, melihat pusaka (heritage) bukan hanya benda-benda individual buatan manusia, tetapi
juga bentang alam. Sebab bentang alam dalam keutuhannya pada dasarnya adalah suatu alam
budaya. Suatu bentang alam merupakan suatu wadah, pendukung bagi dan sekaligus dibentuk oleh
sebuah peradaban. Maka diperkenalkanlah konsep cultural landscape pada skala wilayah.
Borobudur terletak dalam sebuah ruang besar Dataran Kedu yang subur karena tempat bertemu
beberapa sungai yang turun dari gunung berapi Merapi-Merbabu dan Sumbing-Sindoro, yang berkalikali telah menyiraminya dengan abu volkanik yang menyuburkan. Demikian pula dengan candi
Prambanan, Plaosan, Dewu, Sari, Kalasan, dan Ratu Boko yang terletak di tengah Dataran
Prambanan. Borobudur hanya mungkin dihasilkan oleh seluruh bentang alam Dataran Kedu, yang
memberinya bahan batu, serta surplus yang menghasilkan keinginan, kreativitas, dan keterampilan
mewujudkannya. Ia pada gilirannya membentuk peradaban yang menghasilkannya, dengan memberi
makna spiritual pada bentang alam Dataran Kedu. Bayangkan hubungan yang serupa antara
bentang alam Danau Toba, pulau samosir dan sekitarnya dengan peradaban Batak.
Sayangnya, hal di atas telah luput ketika UNESCO menyatakan Candi Borobudur sebagai Warisan
Dunia (World Heritage) pada tahun 1991, yang membatasi perlindungan hanya pada zona satu (inti)
dan zona dua (penyangga) yang hanya sejauh beberapa ratus meter dari Candi Borobudur.
Sedangkan di dalam zona penyangga itupun, yang mestinya tidak boleh ada fasilitas komersial, telah
terdapat hotel yang di dalam brosurnya disebut dengan bangga sebagai satu-satunya hotel di dalam
kawasan Taman Arkeologi Bodobudur. Sedang sapu dan ember diletakkan di dalam relung
bersama dengan patung Buddha.
Borobudur direstorasi secara sangat massif dari 1971 sampai 1983 dengan biaya 25 juta dolar.
Sebagian besar uang rakyat Indonesia sendiri. Hanya 6.5 juta dolar yang berasal dari donor, mungkin
sebagian besar untuk sewa tenaga ahli yang mahal. Lebih dari satu juta keping batu yang masingmasingnya seberat 100 kg harus dilepas, dibersihkan satu persatu, dan disusun ulang setelah sistem
fondasi dan saluran yang kompleks dipasang. Setelah semua itu, tidakkah kita pantas menikmatinya
maksimal dengan segala keutuhannya, termasuk untuk kebutuhan spiritual kita? Tidakkah kita pantas
menunjukkan bahwa kita bangsa yang beradab dengan menjaga apa yang dipercayakan kepada kita
sebagai salah satu pusaka peradaban dunia terbesar dengan sebaik-baiknya, setidaknya untuk
seribu tahun mendatang?

146

ARSITEKTUR ANALOGIS: MENGALAMI


BUDHISME PADA BOROBUDUR
Inilah yang saya telah dengar. Pada suatu waktu ketika Yang Agung arsitek Gunadharma mencipta di
benaknya, dan untuk selamanya, Bhumisambharabudhara atau Gunung dari Akumulasi Kebajikan
dalam Sepuluh Tingkatan akan senantiasa hidup sebagai arsitektur analogis, sebab kami dapat
mengalami Buddhisme pada dan di dalamnya, sekalipun tak mengerti yang tersuratnya. Hanya jiwa
yang mati yang menyebutnya monumen mati. Suatu sistem simbolik boleh mati ketika tandatandanya tak lagi dikenali atau digunakan, tetapi suatu sistem analogis tak memerlukan pemahaman
akan tanda, melainkan dirasakan melalui peristiwa mengalaminya. Ruang, sari pati dan bahan cipta
arsitektur, memang tak dapat diajarkan kecuali dengan mengalaminya. Di Borobudur, pengalaman itu
sangat murni dan mendasarnya, sehingga merupakan pusaka didaktik yang wajib bagi calon arsitek.
***
Suatu malam yang kelam Sidharta Gautama, 29 tahun, meninggalkan isteri dan bayinya untuk
mencari pencerahan. Enam tahun kemudian ia mendapatkannya. Setelah 49 hari menikmati
kedamaian dari kesadarannya, diputuskannya untuk mulai memutar roda Dharma tertinggi, memulai
proses penyelamatan makhluk yang bersedia. Ia menyampaikan khotbah pertamanya, Dhamma
Cakka Pavattana Sutta, ialah surat tentang memutar Roda Dharma. Maka seketika Dewa Bumi
menyenandungkan pengumuman, Di dekat Varanasi di Isipatana di dalam Taman Rusa, Roda
Dharma tertinggi telah digerakkan. Ini tak dapat diputar-balikkan oleh pertapa, Brahman, dewa, mara,
atau siapapun di dunia ini. Maka ke-empat raja mengulang senandung itu. Maka para dewa
menyerukan itu. Cahaya yang maha berlebih dan tak terukur menyinari dunia, mengalahkan cahaya
semua dewa.
Itulah yang antara lain gambaran yang dapat terbayangkan dari Lalitavistara, kitab tentang kehidupan
Sidharta Gautama, Buddha historis. Inilah yang telah saya dengar. Suatu ketika arsitek Gunadharma
dihadapkan pada raja Wangsa Syailendra, yang berarti penguasa gunung, untuk menerima kitab
tersebut bersama dengan kitab-kitab lainnya, yaitu Mahakarmavibhangga tentang neraka dan surga,
Jataka tentang inkarnasi Buddha-Buddha masa lalu, Jatakamala, Manohara, Avadanas, Gandavyuha
tentang perjalanan pangeran Sudhana menjadi bodhisattva dan Saddharmapundarika tentang
kehadiran kembali Buddha Gautama dan Buddha-Buddha lainnya. Tugas Gunadharma adalah
menyediakan ruang untuk menghayati kebajikan di dalam kitab-kitab tersebut. Ia tidak hanya
membangun perpustakaan untuk orang membaca kitab tersebut. Selain menyediakan dinding untuk
memajang panel cerita dan wacana bersumber kitab-kitab tersebut, ia membangun ruang untuk
orang mengalami secara analogis pencerahan dan pradaksina (prosesi dan pentahapan) yang harus
dilalui sebelum mencapainya.
Pradaksina dalam Buddhisme jauh lebih penting daripada sekedar prosesi ritual seperti misalnya
Jalan Salib dalam Gereja Katolik. Pradaksina bukan hanya ritual, melainkan adalah jalan yang
harus dilalui boddhisatva. Integrasi antara pemahaman konseptual dan latihan yang bertahap adalah
jalan menuju pencerahan. Maka pradaksina adalah juga sebuah prosedur, suatu disiplin. Maka
demikianlah yang saya telah dengar diciptakan arsitek Gunadharma: sebuah kompleks dan sistem

147
ruang yang pertama-tama terdiri dari lorong-lorong yang menuntun kami melakukan konsentrasi
yang benar (samyak samadhi) ketika menghayati 1460 panel relief di dinding-dindingnya yang
selayak halaman-halaman dari seluruh kitab itu, sekaligus mengalaminya sebagai analogi ruang fisik
dari pradaksina spiritual. Delapan kali berkelok kiri dan kanan pada setiap sisi Borobudur
mengingatkan kami untuk selalu sadar (samyak smriti) akan segala gerak dan laku keberadaan kami
dalam ruang dan waktu. Dinding candi di sebelah kanan, dinding balustrade di sebelah kiri.
Demikianlah lorong-lorong ini mengasingkan kami dari dunia luar, kecuali langit yang menjadi atap
yang jauh, selayaknya sebuah disiplin pradaksina. Empat gerbang, masing-masing satu di
pertengahan setiap sisi, adalah godaan untuk melihat dunia luar, serta sekaligus persimpangan jalan
yang bertangga: untuk naik ke tingkat berikut, atau untuk membatalkan diri. 5,000 meter panjang
langkah kami, setelah sepuluh kali mengitari deretan panel relief, yaitu empat pada tingkat pertama,
dan masing-masing dua pada tingkat dua, tiga dan empat. Maka demikianlah nama
Bhumisambharabudhara telah dengan tepat diberikan kepadanya.
Pada akhir putaran di setiap tingkat, kami naik ke tingkat berikut, sampai akhirnya mencapai ruang
terbuka di puncak, tempat 72 Buddha dan Sakyamuni hadir kembali ketika Saddharmapundarika
dilafalkan.
Dari puncak keheningan itu kami melihat baik ( samyak drishti) seluruh Dataran Kedu berbatasan
gunung-gunung Merapi-Merbabu di timur-laut, Sindoro-Sumbing di barat-laut, perbukitan Ungaran di
utara, dan Menoreh di selatan, selayak sebuah kiasan realita yang nampak dari atas, utuhmenyeluruh (kushala), selayak sebuah Mandala yang membuat terang semua posisi dan hubungan,
yang tak tercemarkan rinci-rinci yang hingar. Pencerahan! Demikianlah puncak Borobudur adalah
ruang terbuka yang diciptakan Gunadharma sebagai analogi arsitektur terhadap rasa pencerahan,
ialah melalui pengalaman akan ruang. Arsitektur tidak diperalat menjadi simbol bagi yang lain;
melainkan berbicara dalam bahasanya sendiri, menawarkan makna yang sejalan dengan bahasa
lainnya. Dari puncak ini gunung-gunung itu nampak jelas dengan masing-masing rupa dan wataknya
yang berbeda, memunculkan pemahaman yang jernih akan garis besar bentukan alam. Dari puncak
ini nampak jernih suatu bentang peradaban, yaitu hubungan antara alam -- gunung, air, tanah-dengan manusia yang bercocok-tanam, di bawah matahari, di dalam kala. Setelah kelelahan
mengitari lorong yang mengasingkan, puncak inilah kelapangan yang membebaskan dan begitu saja
siap dimasuki dan dirasakan sebagai berkah di penghujung perjalananan, tanpa memerlukan upaya
lagi.
Membentangkan 1460 panel relief seluas total 1900 m2, dan sepanjang 5,000 meter bila jejer dalam
satu deret, adalah suatu program yang merupakan tantangan besar segala jaman bagi seorang
arsitek di mana pun. Melakukannya dalam suatu sistem ruang analogis dalam kompleksitas yang
berlapis-lapis adalah sebuah lompatan kreativitas dan imajinasi. Ini menuntut penghargaan yang
secara kategoris berbeda dengan, misalnya, yang dituntut oleh sebuah piramida yang dibangun
dengan rekayasa teknik tinggi untuk mewujudkan suatu sistem massa dengan bentuk yang abstrak.
Tanpa bagian yang tak perlu, Borobudur adalah sebuah sistem yang kompak berkepadatan tinggi,
yang menyatukan berbagai program dan pesan yang rumit dalam satu bentuk yang simetris
sempurna. Termasuk di dalamnya memang sesuatu yang simbolik, ialah dalam hal bentuknya yang
menggunung, yang boleh jadi melambangkan Wangsa Syailendra, yang berarti Penguasa Gunung.
Dalam hal kepadatan rancangan bentuk dan makna ini, maka keseluruhan Borobudur adalah sebuah
karya patung yang tiada duanya.
Tapi borobudur bukan hanya sang adikarya arsitektur itu sendiri. Ia mengandung pula gambaran
arsitektrur-arsitektur lain pada jamannya. Inilah yang telah saya dengar. Prof. Parmono Atmadi,
doktor arsitektur pribumi pertama Indonesia, menemukan prinsip-prinsip perancangan candi HinduBuddhis di Jawa pada panel-panel Borobudur, dan merumuskannya dalam disertasinya yang
diterbitkan sebagai kitab Some Architectural Design Principles of Temples in Java (1988). Ditemukan
olehnya angka-perbandingan yang tetap antara berbagai komponen bangunan, dan pola-pola
tertentu dalam penempatan bangunan di dalam lahan. Dia menemukan sejumlah gambaran
bangunan dari susunan batu yang dapat di kelompokkan berdasarkan jumlah ruangannya, di
samping sejumlah bangunan dari kayu dan logam serta jembatan. Sebagian dari bangunan
bangunan ini dapat ditelusuri jejaknya dalam tradisi membangun yang masih berlaku hingga kini di
Jawa. Hal sebanding dapat dilakukan oleh banyak ahli di bidang lain, misalnya Claire Holt yang
menelusuri evolusi gerak tari Jawa. Dari 1460 panel relief, Profesor Atmadi menemukan 696 panel
yang menggambarkan sejumlah total 902 bangunan, terdiri dari 147 bangunan bersusun batu, 254
bangunan kayu, 6 bangunan logam, 1 jembatan, 463 bangunan penghias, dan 31 stupa.
Maka kehilangan Borobudur dapat berarti kehilangan perpustakaan tentang Jawa yang humanis dan
berada pada puncak peradabannya di abad ke-8 sampai 11, ialah pengetahuan yang juga menerangi
pemahaman tentang Jawa masa kini. Kehilangan Borobudur dapat juga berarti kehilangan pusaka

148
arsitektur, yang dapat terjadi ketika tak ada perawatan yang menjamin pengalaman kembali ruangruang analogis tersebut, ketika lereng-lereng batas Mandala Kedu makin gundul dan di sana sini
hingar-bingar, pradaksina tersendat-sendat, sampah memustahilkan samyak samadhi, puncak tak
hening dan ke-72 Buddha berebut ruang terbuka dengan makhluk manusia yang mencapai puncak
ini tanpa upaya yang layak. Kehilangan Borobudur terjadi bukan hanya kalau seluruhnya runtuh, atau
tertimbun kembali oleh debu volkanik, tetapi juga ketika kesempatan (bagi yang bersedia) untuk
mengalaminya secara utuh dan murni terhalang. Dia belum mati meskipun umat Buddha berhenti
melakukan ritual di sana. Tapi dia dapat sungguh mati ketika kemampuannya untuk menafaskan
pengalaman spiritual yang universal disumpal. Ancaman yang dihadapinya bukan hanya otonomi
daerah yang semata-mata berorientasi meningkatkan Pendapatan Asli Daerah melalui sentralisasi
komersial dan kanalisasi yang menggiring paksa pengunjung melewatinya, dan akan menambah
pencemaran fisik, suara dan visual. Ancaman juga datang dari anggapan bahwa Borobudur adalah
monumen mati dan karena itu lalu seolah dapat dikemas dalam bentuk apa saja --antara lain:
Borobudur International Festival-- kecuali makna aselinya. Mengapa Borobudur yang harus diubah
melalui pengemasan yang disesuaikan kepada selera pasar, bukannya pembeli yang ditawari untuk
mengalami Borobudur dengan nilai utuh aselinya? Tidak ada kemampuan, atau tidak ada kemauan?

149

Experiencing Borobudur
There are many ways to experience Borobudur and paths to enlightenment, as there are many ways
to destroy this experience, if current course of events are not mindfully considering the wholesome
value of the temple.
For scholars of many fields Borobudur is a depository of knowledge about Javanese men and women
and their life in the 8th and 9th centuries, of which a lot of patterns are traceable to Javanese culture of
today. Scholars said that there are more that Borobudurs bas-relief panels can tell us about the
Javanese than what the Javanese can tell us about it. Claire Holt, for example, in her classic Art in
Indonesia: Continuities and Change (1967) traced evolution of Javanese dance movement and other
artistic expressions in relief panels of Borobudur (and other temples).
The late Prof. Parmono Atmadi, the first Indonesian with a Ph.D. in architecture documented types of
buildings appearing in Borobudurs panels. His book Some Architectural Design Principles of
Temples in Java (1988), the only one of its kind, registered 902 buildings crafted in 696 of the 1460
panels in the temple. Most buildings were of wood, 254 of the total. The rest consists of 147 stone
structures, 6 of iron, 1 bamboo bridge, 463 decorative/temporary structures and 31 stupas.
As a designed object Borobudur is the most exquisite among the largest sculptures on earth for its
splendidly integrated million parts --all fitting to each other-- into one perfect symmetrical form without
any unnecessary accessory. Its overall form has been explained as a stupa symbolising the presence
of Buddha, or as a mountain symbolising the dynasty that built it, whose name Syailendra literally
means Lords of the Mountains. But Gunadharma, its divine architect, might have intended it as a
Mandala itself, or just the centre of even a larger Mandala represented by the whole Kedu Plain
where Borobudur is situated. A Mandala is a scheme that shows positions of different Gods and other
deities in the universe, used for tantric initiation rituals. Kedu Plain is an area surrounded by two pairs
of mountains of Merapi Merbabu on the East and Sindoro-Sumbing on the West, and two hilly ranges
of Menoreh on the South and Ungaran on the North. Each of them has a distinct form that makes
them perfect markers of the Mandala. Their size, as well as that of the whole Kedu Plain, is
commensurate to the task of symbolising deities and the universe.
The main task of the Gunadharma is of course to persent the panels illustrating the pages of seven
ancient texts of Buddhism: Mahakarmavibhangga about hell and heaven, Lalitavistara about the life
of historical Budha Sidharta Gautama, Jataka about the incarnation of previous Buddhas,
Gandavyuha about the journey of prince Sudhana in becoming boddhisattva , Jatakamala, Manohara,
and Avadanas. The text of Saddharmapundarika is literally recreated in the design of the temples
top. It is about the re-appearance of all previous Buddhas together in an open space of Buddha
field.
Displaying the 1460 story panels, which totals 5,000 meter long when laid in a row, is breath-taking
task for any architect in all time. But the real achievement of Gunadharma is not just simply hanging
the panels on the walls as long as required. The message and challenging programme for
Gunadharmas creativity is much more subtle and sublime than that. As many travellers have
confessed, one experiences spirituality in Borobudur without even knowing Buddhism, by simply
enjoying the spatial quality that it offers in its galleries and top. The galleries and the top of Borobudur
offer physical experience that is analogical to spiritual journey and enlightenment that can be felt
without understanding Buddhist symbols or texts.

150
Gunadharma created a system of space that, when a pilgrim is reading the panels, he is facilitated to
concentrate rightly, or samyak samadhi, and to experience the physical analogy of pradaksina, the
Budhists concept of mindful, phased understanding and exercise that leads to enlightenment.
Pradaksina is more that just a ritual procession. It is analogical to the path that one has to take to
achieve Buddhahood. One ancient text of Buddhism is called Lamp on the Path, which is the basis of
Tibetan Buddhism for more than one millennium. It was written by the venerable Atisha in the the
eleventh century after studying under Serlingpa in the vicinity of Borobudur.
A mindful --neither leisurely nor hasty-- circumambulatory walk along these galleries is experiencing
seclusion from outside world as one is confined by the walls at the right side and the balustrades on
the left side. Only the sky is to be visible as the roof for this purist gallery rooms. The movement is
not straight. There are 8 right and left turns along each side of the temple. Having to physically turn
left and right every several minutes reminds us to be fully conscious of our being in the now of time
and space, a concept known as samyak smriti in Buddhism. An analogy of experiencing imperfection
and temptation is given by the obscure openings at the middle of each of the four sides of the temple.
These are also where the steps to go up (or to go down, if you wish) are located to reach the next
levels. It is after the exhaustive movements around and up the galleries, totalling 5 kilometers
horizontal distance plus 26 meters vertical one, a pilgrim is offered an analogical experience of
enlightenment at the temples top. Here one finds a complete quietness in an open space among the
72 Buddhas, feeling freed from the confining galleries, and at the same time having an expansive
right view, or samyak drishti, of the reality of Kedu Plain with all its contents in its wholeness as
seen from above, surrounded by the mountains that might or might not symbolise the borders of an
imagined Mandala.
For all that richness, Borobudur is indeed a very dense and compact design, architecture of space by
excellence, and as if sculpted rather than built. But to experience that, one might need to hurry, as
things may become worse soon. A feeling of seclusion and mindfulness along the galleries cannot be
possible with brooms, buckets and litters next to Buddha statues, and an enlightening right view of
reality from the top is difficult to have when huge traffic flow is distracting along the northern side, and
hotels spring up along the mountain slopes.
_____
Picture: Buddha with buckets and broom.
(credit: Marco Kusumawijaya, 10 January 2003)

151

Borobudur
Pada 13 Maret 2005 koran terkemuka Jogjakarta Bernas dan Kedaulatan Rakyat memasang
gambar utama dengan isi yang sama pada halaman muka: para miss Asean di puncak
Borobudur. Beberapa darinya jelas sekali mendaki dan duduk pada stupa, melanggar aturan
yang jelas tertera pada beberapa pengumuman di sekitarnya. Beberapa dari mereka samarsamar nampak bersepatu hak tinggi dengan ujung runcing, yang jelas tidak bersahabat
dengan sejuta batu Borobudur. Skandal! Keterangan gambar dan berita pada dua harian
tersebut sama sekali tidak menyebut kelakuan yang sangat tercela dan memalukan ini.
Barangkali yang biadab bukan terutama para miss itu, melainkan panitianya, yang telah tidak
mendidik para miss itu dengan benar, dan tidak punya rasa malu memperagakan kelakuan
buruk ini pada simbol kecantikan Asean --yang tentu saja tidak memerlukan persetujuan
semua orang. Mereka seharusnya dituntut meminta maaf kepada umat Buddha dan segenap
pecinta Borobudur di seluruh dunia.
Borobudur memang harus dibela seluruh dunia. Suara umat Buddha di Indonesia sendiri tak
cukup. Jumlahnya hanya sekitar 2 % dari seluruh penduduk Indonesia. Mereka tidak
terhimpun dalam satu organisasi hirarkis, melainkan terbagi dalam 12 komunitas. Sebagian
darinya bernaung di bawah KASI (Konferensi Agung Sangha Indonesia), sebagian lainnya di
bawah WALUBI (Perwalian Umat Buddha Indonesia). Mereka tidak selalu satu suara,
kalaupun bersuara. Selain itu terdapat HIKMABUDDHI (Himpunan Mahasiswa Buddhis
Indonesia), yang mengumpulkan orang-orang muda dari berbagai mazhab dan sekte agar
peka terhadap masalah-masalah bangsa Indonesia.
Lagipula Borobudur telah dinyatakan sebagai monumen mati ketika masuk daftar Pusaka
Dunia oleh UNESCO pada tahun 80an. Maksudnya baik: membatasi penggunaan agar
terawat baik, dan mencegah tuntutan kepemilikan sepihak oleh kelompok tertentu. Tapi ini
lantas berarti Borobudur dikuasai pemerintah nasional. Apakah ini lebih baik daripada kalau
candi itu dinyatakan sebagai milik penganut Buddhisme yang dapat aktif merawatnya?
Nyatanya kita mengalami serba salah-urus hingga saat ini. Bagaimana kompromi yang baik?
Yang jelas Borobudur tak sama dengan monumen mati dunia lain seperti Acropolis di
Yunani, sebab de facto agama Buddha dan pengikutnya masih hidup! Minimal pengelolaan
Borobudur harus menghormati mereka. Harus ada suatu badan-pengarah multipihak yang
menyertakan wakil dari tiap-tiap 13 organisasi Buddhisme di atas. Dalam praktek pelestarian
pusaka mutakhir, peran komunitas kembali ditonjolkan, karena padanya ada empati besar,
tanpa harus menyebabkan ketertutupan. Tentu saja, karena nilai Borobudur memang
mendunia, berbagai pihak lain seperti masyarakat tempatan dan dunia internasional harus
juga terwakili.

152
Memang bukan hanya sekali Borobudur dizalimi. Pada 20 Januari 1985 dunia terkejut karena
bom meledak di puncaknya. Beberapa tahun lampau kita lihat di tv iklan mobil mewah yang
diperagakan di pelataran zona 1, yang menurut aturan yang ada diharamkan bagi kegiatan
komersial, dan harus mendapatkan perawatan serta penghormatan sangat ketat. Akhir tahun
2002, dunia heboh oleh rencana Jagad Jawa, sebuah pusat perbelanjaan tiga lantai di dekat
Borobudur. Sejumlah komunitas dan penulis sempat mengorganisasikan petisi internasional,
dan dengan bantuan media massa nasional dan internasional membawa masalah ini ke ruang
khalayak dunia. UNESCO berhasil diminta mengirimkan reactive mission pada tanggal 1620 April 2003. Laporannya menghentikan sementara rencana tersebut. Lebih penting lagi,
laporan itu juga meneropong serta merangkum berbagai masalah kronis Borobudur.
Apa sebenarnya masalah kronis Borobudur? Manajemen yang buruk, konsep pelestarian
pusaka yang sempit, tak lagi memadai, dan kepariwisataan yang tak berarah.
Semua orang yang pernah mengunjungi Angkor Wat bersemangat membuat perbandingan
tentang buruknya pengelolaan Borobudur: Pengunjung berjubel, tak diatur besar arusnya,
sampah berserakan, tak dibina suasana yang mendukung sebuah pusaka spiritual kelas dunia,
pembiaran hiruk pikuk, pedagang asongan yang agresif berlebihan menghadang dimanamana. Untuk keluar orang harus melewati lorong-lorong pedagang yang menjajakan barang
tak bermutu yang hampir tak ada hubungannya dengan Borobudur, tidak spesifik, sama
dengan yang dijual di seluruh Jogja atau tempat lain. Sebaliknya, tak satupun buku tentang
Borobudur ditemukan. Eksploitasi ekonomi atas Borobudur bukannya tidak boleh, tetapi,
mbok jangan murahan. Sebaliknya lah yang orang rasakan tentang Angkor Wat.
Perawatan Borobudur memerlukan biasa besar. Tetapi baru sebagian kecil dari keuntungan
yang diperoleh darinya dikembalikan bagi keperluan itu. Sebabnya adalah manajemen yang
terbelah. Perawatan dilakukan salah satu direktorat Kementerian Kebudayaan dan
Pariwisata. Sedang pemetikan keuntungan dilakukan oleh sebuah BUMN, PT Taman Wisata
Borobudur, Prambanan dan Ratu Boko, yang menguasai penjualan karcis masuk dan
penyelenggaraan kegiatan komersial.
Konsep pelestarian Borobudur sudah waktunya diperluas. Makin banyak temuan yang
menunjukkan bahwa lingkungan sekitarnya juga merupakan pusaka arkeologi dan ekologis
yang tak terpisah dan menawarkan kekayaan yang tak kalah menariknya. Memelihara
lingkungan ini, dan mengajak penduduk di dalamnya terlibat dalam pelestarian lingkungan
dan ekonomi kepariwisataan, justru akan meningkatkan jumlah hari kunjungan orang, serta
memeratakan beban serta keuntungan, yang merupakan syarat pelestarian berkeberlanjutan.
Para pembuat peta hijau Jakarta dan Jogja, bersama dengan penduduk setempat, sudah mulai
proses membuat Peta Hijau Mandala Borobudur dan sekitarnya yang mencakup seluruh
kawasan watershed Dataran Kedu yang dikelilingi Gunung Merapi-Merbabu di timur,
Sumbing-Sindoro di barat, Telomoyo di utara, dan perbukitan Menoreh di selatan. Pada
beberapa desa ditemukan adanya spesialisasi produksi, misalnya desa pembuat tahu dan desa
pembuat gerabah. Ada juga mata air panas dan mata air asin, disamping puluhan aliran air
besar dan kecil, selain yang besar seperti Kulon Progo. Sebaran candi-candi di wilayah
Dataran Kedu, hingga ke puncak Menoreh dan lereng Merapi, sudah lama diduga memiliki
hubungan makna dengan Borobudur. Terang saja: Borobudur, suatu produk budaya yang
mengumpulkan energi sangat besar, hanya dapat dihasilkan kalau ada surplus ekonomi dan
dukungan logistik dari saujana alam yang menunjang. Makna kemudian diciptakan melalui,
antara lain, analogi pengalaman pencerahan di puncak Borobudur yang tak dapat dilepaskan
dari analogi samyag drishti (pandangan benar) atas saujana seluruh Dataran Kedu di
sekelilingnya. Dengan kata lain, pusaka yang harus dilestarikan untuk mendapatkan pelajaran
sejarah, spiritual dan ekologi yang optimal, tidak cukup hanya Borobudur, tetapi seluruh
kawasan watershed itu sendiri. Di Jepang, yang dilestarikan bukan hanya Gunung Fuji per
se, tetapi juga beberapa koridor visual ke arahnya. Konsep pelestarian mutakhir ini disebut

153
cultural landscape (saujana budaya), yang ingin menekankan kesatuan antara pusaka alam
dan budaya.
Mengenali bahwa ada lebih banyak dan lebih dalam yang ditawarkan lingkungan Borobudur
seharusnya menjadi haluan untuk mengarahkan konsep kepariwisataan yang sesuai dengan
nilai-nilai dan pelestariannya. Dia lah yang seharusnya menjadi ukuran bagi kegiatan yang
pantas di sana, yang hanya dapat dialami disana. Sekedar konser musik pop, yang tak beda
dengan yang di tv, sama nilainya dengan souvenir yang dijual pedagang asongan yang dapat
dibeli dimana saja, tidak harus di Borobudur. Turisme, dikaitkan dengan pelestarian artifak
yang maha besar dan agung begitu, tidak semestinya jatuh menjadi sekedar meningkatkan
jumlah pengunjung. Ada informasi dan pendidikan pengunjung yang harus dikelola. Perlu
orkestrasi semua kegiatan sedemikian rupa sehingga menjadi khas, hanya dapat dialami di
Borobudur, dan tidak murahan.
Untuk memungkinkan semua perubahan itu, suatu rencana menyeluruh yang sangat baik -tidak boleh setengah-setengah-- harus dirumuskan. Kementerian BUDPAR harus fokus:
masterplan dan Keppres yang mengatur manajemen harus dirombak habis-habisan, di bawah
pengawasan suatu badan pengarah yang sungguh multi-pihak.

Gelora Bung Karno sebagai Pusaka


Nasional:Perspektif Arsitektur dan Sejarah
Jakarta106
Merupakan kegembiraan tersendiri bahwa kontroversi perebutan kekuasaan atas kawasan Gelora
Bung Karno antara Sekretariat Negara dan PEMDA Jakarta berakhir. DPR-RI, melalui prakarsa
Panitia Kerja Komisi I, telah menunjukkan wawasan yang luas dan meneropong pokok soal,
substansi, dengan kesimpulannya bahwa kita harus melihat dan menempatkan Gelora Bung Karno
sebagai bagian dari Pusaka Bangsa (National Heritage). Sebab memanglah sangat memalukan
106

Ditulis untuk DISKUSI PANEL TERBATAS GELORA BUNG KARNO SEBAGAI PUSAKA
BANGSA, 18 September 2003, di Gedung Kantor Pengelola Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta,
diselenggarakan oleh Yayasan Bung Karno dan Pengelola Gelora Bung Karno.

154
mewacanakan kontroversi menyangkut siapa yang berwenang, dan bukannya membahas nilai dan
masa depan obyek itu sendiri. Lebih penting mengutamakan menegaskan dulu tentang nilai dan apa
yang hendak dilakukan atas obyek itu, bukan tentang siapa yang berhak.
Sesungguhnya Kawasan Gelora Bung Karno tidak memerlukan alasan tambahan, termasuk nilainya
bagi ketata-kotaan dan arsitektur Jakarta, untuk dijadikan Pusaka Nasional. Fakta bahwa beliau
adalah salah satu pendiri negara, presiden pertama, dan salah satu proklamator sudah cukup bagi
bangsa Indonesia untuk melindungi segala sesuatu yang mempunyai hubungan langsung dengan daya
cipta dan perkembangan (karier) beliau. Segala sesuatu itu penting bagi kita untuk memahami (dalam
arti interpretasi dan re-interpretasi dinamis, bukan statis dan mensakralkan) salah satu putra terbaik
yang pernah dihasilkan oleh bangsa yang sedang membentuk dirinya ini.
Sebab itu, penjelasan dari segi arsitektur dan ketatakotaan Jakarta sama sekali bukan tambahan alasan
untuk mendudukkan Kawasan Bung Karno sebagai Pusaka Nasional. (Penjelasan ini tidak diperlukan
untuk keperluan tersebut!). Penjelasan ini hanya menunjukkan salah satu interpretasi yang mungkin
untuk meningkatkan apresiasi.
Delineasi Kawasan Pusaka Nasional Gelora Bung Karno
Karena diskusi ini bertujuan menghimpun masukan untuk mungkin menetapkan suatu kawasan
sebagai Pusaka Nasional, maka batas-batas yang jelas perlu ditetapkan, dan dibayangkan sebelumnya.
Untuk sementara, dengan alasan-alasan yang kiranya akan jelas di dalam paparan ini dan seluruh
pembahasan hari ini, yang saya maksud dengan Kawasan GBK adalah seluruh kawasan dalam batasbatasnya yang asli seluas 279 Ha: selain fasilitas olahraga (sport venue) ia mencakup juga kompleks
MPR/DPR-RI, kompleks Manggala Wana Bhakti, laporan golf, perumahan atlit, kawasan komersial
Plasa Senayan, dan lain-lain.
Saya rasa para ahli sejarah kita akan menerangkan bahwa kedua Political Venues (dulu untuk
CONEFO, sekarang MPR/DPR-RI) dan Sport Venues (dulu GANEFO, kini GBK) di dalam kawasan
ini tak terpisahkan dari sudut pandang konsep perjuangan dunia ketiga menurut Sukarno. Memang
tentu saja tidaklah baik bila politik dipisahkan dari sportivitas.
Makna Kawasan GBK bagi Sejarah Arsitektur Indonesia
Sejarah pembangunan sport venues Gelora Bung Karno telah merupakan kebanggaan tersendiri
bagi bangsa Indonesia karena: kecepatan pembangunannya; integrasi antara berbagai fasilitas
olahraga, hunian atlit dan fasilitas lainnya termasuk Stasiun Televisi Republik Indonesia, dalam satu
kesatuan; dan kualitas rancangan serta konstruksinya. Peristiwa yang terjadi di dalamnya pertama
kali, Asian Games ke-4, juga merupakan sejarah tersendiri bagi dunia olahraga (dan dengan
sendirinya identitas nasional Indonesia di dunia internasional). Stadion Utama sampai kini
merupakan pencapaian tersendiri: atap Temu Gelang berbentuk oval yang pertama di dunia,
kapasitasnya (110.000 penonton) terbesar ketiga di bangun dan kini salah satu yang terbesar di Asia.
Bangunan-bangunan political venues di dalam Kawasan GBK adalah karya para arsitek pribumi
Indonesia generasi pertama (a.l. Dipl. Ing. Soejoedi Wirjoatmodjo, 1927-1980 107 ; Dipl.Ing. Han Hoo
Tjwan 108 , Ir. Nurpontjo, Ir. Slamet Wirasondjaja, MLA., Ir. Adhi Moersid, Ir. Juswadi Salija, dll),
bersama para insinyur lainnya seperti Ir. Sutami 109 (kepala proyek). Dirancang dengan maksud awal
107

Dipl.Ing. Soejoedi Wirjoatmodjo, 1927-1980, Kepala Staf Tentara Pelajar Brigade 17 Detasemen II Rayon
V, Solo, belajar arsitektur di Fakultas Teknik bagian Arsitektur Universitas Indonesia (sekarang ITB) di bawah
Ketua Jurusan Prof. V.R. van Romondt; di Ecole Superieure National des Beaux Arts di Paris (1954-?), di
Technische Hooge School di Delft, dan di Technische Universitt di Berlin (lulus tahun 1960); Ketua Jurusan
Arsitktur ITB yang pertama setelah van Romondt, hingga tahun 1967.
108
Dikenal sekarang sebagai Han Awal, lahir tahun 1930.
109
Prof. Dr. Ir. Sutami (1928- 13 November 1980): lahir di Solo, sekolah dasar hingga menengah di Solo, lulus
ITB sebagai insinyur Sipil tahun 1956, pemimpin proyek Jembatan AMPERA (sungai Musi) Palembang,
Komandan Proyek Conefo Jakarta, Menteri Negara Kabunet Dwikora untuk Urusa Penilaian Konstruksi (1965?), Menteri Pekerjaan Umum dan Tenaga Listrik Kabinet Pembangunan II (1973-1978), anggota MPR-RI
(tahun?), perancang Jembatan Semangi,

155
sebagai sarana CONEFO (Conference of the New Emerging Forces) yang tak jadi diselenggarakan,
akhirnya sarana ini menjadi kompleks MPR/DPR-RI yang dengan demikian dengan sendirinya
merupakan tempat sejarah Negara Indonesia berlangsung. Nilainya sangat tinggi tak tergantikan,
karena biografi itu, dan karena rancangannya yang progresif untuk jamannya, dan sebagian sampai
sekarang, sebagai salah satu contoh terbaik dari modernisme la Indonesia yang tinggi dan crafty,
bukan International Style yang steril semata. Sampai sekarangpun gerenerasi arsitek pertama itu
masih termasuk yang terbaik dan dikagumi karena kehalusannya. Beberapa, seperti Soeyoedi, telah
almarhum. Banyak lainnya masih hidup dan mulai menyiapkan masa pensiun. Beberapa karya
mereka yang lain bahkan mulai terbengkalai atau terkenal vandalisme. Yang terbengkalai misalnya
adalah Pusat Grafika (197?) karya Soejoedi di pojok Jalan Rasuna Said-Gatot Subroto. Sedang yang
terkena vandalisme oleh sesama arsitek adalah kampus Universitas Atmajaya oleh Han Awal.
Kompleks MPR/DPR-RI merupakan karya terbesar Soeyoedi, seseorang yang dapat dianggap sebagai
arsitek terbaik dari generasinya, dan seorang contoh modernist yang sejati dengan teguhnya --tentu
saja pada masa-nya belum ada kritik post-modern, yang mungkin saja memang tidak relevandan
menentukan sejarah pendidikan arsitek Indonesia generasi berikut. Sedangkan Sutami sendiri adalah
sebuah legenda dalam bidangnya dan karena kepribadiannya yang sangat sederhana.
Secara organisasi, kompleks ini maha penting bagi sejarah arsitektur dan industri konstruksi di
Indonesia, karena pertama kalinya dilibatkan begitu banyak arsitek (generasi pertama) di bawah
kepemimpinan Soejoedi bersama para insinyur lainnya, semua di bawah kepemimpinan Sutami,
dalam suatu proyek yang terbesar (yang sangat besar!) pada masanya. Harus diingat bahwa pada masa
itu, ukuran proyek-proyek lainnya sama sekali tak tersanding dengan ukuran proyek MPR/DPR ini.
Yang teruji di sini adalah kemampuan organisasi yang luar biasa, yang digerakkan oleh motivasi yang
dibakar oleh Sukarno.
Di dalam kompleks ini terdapat juga karya-karya seni juga dari para seniman Indonesia terbaik pada
jamanya, dan mungkin masih sekarang: But Mochtar (patung di tengah kolam di depan Ruang Sidang
Umum, patung dinding Semangat Gotong Royong di Ruang Sidang Komisi V/Wacanasabha V);
Srihadi (pahatan kayu Irama sebuah Kebun Bunga; A. Sadali (mural Kesaksian di Ruang Sidang
Komisi III/Wacanasabha III, lukisan dindingKebun Keadilan di ruang sekretariat); dan sejumlah
perupa/pengajar dari ITB (Awan, lantai dasar lobi gedung persidangan, dan Batu-batu
Pembangunan di dinding Pustakaloka ).
Kesertaan seni rupa dalam bangunan-bangunan ini tak dapat dilepaskan dari pribadi Bung Karno
yang akrab dan mesra dengan seni rupa 110 , dengan dirinya sendiri merupakan seorang patron dan
kolektor pelopor pada masa ketika orang belum mengenal istilah kolektor di Indonesia. 111 Hal ini juga
nyata dalam banyak bangunan lain yang disponsorinya seperti Hotel Indonesia, serta tentu saja
beberapa ruang kota Jakarta itu sendiri.
Kawasan Gelora Bung Karno dan Coup de Matre Sukarno atas Tata Kota Jakarta
Kawasan Gelora Bung Karno hanyalah salah satu dari masterstrokes dari Bung Karno atas Jakarta,
yang pembangunannya digencarkan setelah pernyataan Bung Karno pada Tahun 1960 bahwa Jakarta
tetap Ibukota Negara Republik Indonesia. Pada Tahun 1961 dikeluarkan Penetapan Presiden
No.2.1961 yang mengubah Jakarta dari Daerah Tingkat Satu menjadi daerah Khusus Ibukota. Pada
tahun 1962 berlangsung Asian Games IV. UU 10/1964 kemudian mengukuhkan kedudukan Jakarta
sebagai Ibukota.
Daftar kawasan, infrastruktur, bangunan dan monumen, yang mendapat perhatian (sering berarti
acc)
langsung
dari
Presiden
Sukarno:

110

Gelora Senayan,
Pasar Senen,

Lihat Soedarmadji J.H. Damais, Bung Karno dan Seni, 1979.


Sebuah museum atau perpustakaan Bung Karno hendaknya mampu menampung dan memamerkan koleksi beliau untuk
dapat dinikmati secara terbuka oleh bangsanya.
111

156

Jakarta By-pass (Gatot Subroto, S.Parman, Latumeten, Panjaitan, A. Yani, Yos Sudarso,
1960-1964, yang kemudian disebut Jakarta Inner Ring Roads)
Jalan Raya Thamrin (1962)
Jembatan Semanggi (1962, menghubungkan Thamrin-Sudirman dan by-pass)
Hotel Indonesia (1960-1962)
Sarinah (1963)
Mesjid Istiqlal
Wisma Nusantara (1964): Sayapnya diundurkan sedikit. (Kira2 30%).
Gedung Pola
Tugu Selamat dating
Tugu Pembebasan Irian barat
Tugu Dirgantara
Manumen Nasional (1962-1966)

Jakarta yang kita warisi sekarang sebagian besarnya dibentuk oleh By-pass (1960-1964; kini
disebut Jalan Lingkar Dalam dengan adanya Jalan Toll di tengahnya) dan kemudian didasarkan pada
Rencana Induk Jakarta 1965-1985 (diberlakukan mundur pada tanggal 3 May 1967) Sementara para
insinyur infrastruktur membuat perencanaan teknis, Sukarno sangat menentukan bentuk yang
mencitrai Jakarta hingga kini. Berkat Sukarno prasarana itu tidak hanya menjadi teknis fungsional
tetapi menjadi coup de matre yang menentukan citra abadi yang tegas bagi Jakarta sebagai
metropolis modern. Sebagian besar dari prasarana, bangunan, kawasan, dan tugu yang diacc Bung
Karno hingga kini masih merupakan compelling monuments, membuat metropolis terbaca atau
memiliki citra yang kurang lebih jelas dan mudah dibayangkan oleh rata-rata warga Jakarta ataupun
pemakainya secara umum.

Makna Ekologis Kawasan GBK


Keseluruhan kawasan GBK (279 Ha) adalah satuan ruang terbuka paling luas yang ada di Jakarta.
Letaknya di pusat Jakarta memberinya makna sendiri karena benar-benar memudahkan bagi warga
Jakarta dalam arti sesungguhnya (Fasilitas artinya kemudahan). Disamping itu lokasinya ditengahtengah kesibukan bisnis metropolitan memberinya nilai simbolis yang tinggi sebagai ruang
pawongan (Bahasa Bali: tempat manusia bertemu manusia) yang terbuka dan egaliter.
Pentingnya fungsi ruang terbuka hijau di Jakarta terasa menekan ketika kita mengalami kekeringan
yang sedang dilalui, dan banjir yang berulang. Sayangnya, umumnya kita tidak belajar dari kejadiankejadian itu untuk sungguh-sungguh membuat perubahan.
Dari tahun ke tahun, ruang terbuka di Jakarta bukan saja makin berkurang, tetapi memang sengaja
dikurangi sebagai target di dalam rencana tata ruang:
Rencana Induk 1965-1985
: 37.2 %
RUTR 1985-2005
: 25.85 %
RTRW 2000-2010
: 13.94 %
Alsan yang dikemukakan adalah kebutuhan pembangunan. Namun tidak pernah ada perencanaan
yang rasional. Asumsi paling dasar saja sudah salah: seluruh kebutuhan pembangunan diterjemahkan
menjadi lahan, padahal sudah 30 puluh tahun kesalahan ini dikritik. Ruang kota harus ditingkatkan
kapasitasnya, bukan serta-merta ditambah dengan supply lahan. Yang terakhir ini memang senantiasa
lebih mudah bagi birokrat dan para perencana kota yang tidak mempunyai visi yang mandiri.
Perluasan lahan terus menerus hanya menguntungkan yang kaya dan tidak membantu pemenuhan
kebutuhan dasar akan perumahan, terutama kaum miskin kota. Ilmu perencanaan kota yang telah
dipelajari untuk mengendalikan kapasitas ruang telah sengaja tak digunakan oleh para ahli, karena
lebih suka menikmati keuntungan pasar. Ketiadaan perencanaan rasional mencakup ketiadaan
perencanaan kependudukan, sebab yang ada hanya proyeksi kependudukan. Oversupply yang

157
gawat di Jakarta telah menjadi salah satu kontributor krisis tahun 1998, dan ternyata sekarang masih
banyak lahan menganggur di tengah-tengah Jakarta.
Pengurangan-pengurangan sasaran ruang terbuka itu sebenarnya merupakan keputusan sangat
mendasar yang telah membahayakan hajat hidup orang banyak, sebagaimana terbukti dari banjirbanjir yang lalu. Meski demikian, semuanya telah ditetapkan tanpa KONSENSUS yang luas,
melainkan merupakan keputusan kolutif antara AHLI dan BIROKRAT, seringkali atas
permohonan para pengusaha.
Kawasan GBK sendiri, yang sebagai keseluruhan tergolong ruang terbuka hijau seharusnya
menargetkan di dalam dirinya sendiri prosentase ruang terbuka hijau sebesar minimal 6 kali target
rata-rata Jakarta, menjadi 6 X 13.94 %, atau sama dengan 83,7 untuk memperhitungkan kompensasi
terhadap ruang-ruang lain di kota Jakarta yang tak mungkin mencapai 13.94 % kosong hijau.
Setiap pohon dewasa dapat menyimpan 20 liter air. Yang belum ada hitungannya adalah berapa
banyak pohon diperlukan untuk menyerap CO2 dari setiap mobil. Namun demikian, secara kualitatif
kita sudah dapat merasakan kerusakan lingkungan yang sudah begini hebat di Jakarta (kekeringan dan
banjir). Meskipun harus juga menyertakan perbaikan di kawasan hulu, secara bertanggung jawab kota
hilir seperti Jakarta tetap harus menghijaukan dirinya semaksimal mungkin. Mungkin tidak ada cukup
alasan kuantitatif untuk menetapkan berapa banyak ruang terbuka hijau yang diperlukan per-kapita;
tetapi ada cukup alas an kualitatif untuk melindungi yang ada untuk tidak berkurang, sambil
mendesak agar perencana kota (para ahli maupun birokratnya) lebih efisien dan kerja lebih keras
untuk meningkatkan kapasitas ruang-terbangun yang sudah ada, dan mengendalikan spekulasi sebatas
diperlukan bagi kesehatan ekonomi kota, sebelum seenaknya mengubah ruang terbuka hijau yang ada
untuk fungsi lain (terbangun).
***

Daftar Pustka:
Soedarmadji J.H. DAMAIS, Bung Karno dan Seni (katalog Pameran Seni Rupa Bung Karno dan
Seni), Yayasan Bung Karno, 1979.
Hilmi SYATRIA, ed., Gedung MPR/DPR-RI, Sejarah dan Perkembangannya, Badan Sistem
Informasi Arsitektur IKATAN ARSITEK INDONESIA, Jakarta, 29 Agustus1995.
Badan Pengelola Gelora Bung Karno, leaflet 46 tahun Gelora Bung Karno, 2002.
Marco KUSUMAWIJAYA, Sukarno and the Architecture of the City , The Jakarta Post, June
2001.
112

Marco KUSUMAWIJAYA, Poros Sejarah dan Identitas Jakarta, KOMPAS, 2000.


Marco KUSUMAWIJAYA, Arsitektur Lapangan Merdeka: Fragementasi dan Sentralitas ,
KOMPAS, 2001.
113

Marco KUSUMAWIJAYA, Senayan, KOMPAS, 2001.

158

Blitar

114

Mana yang lebih dulu, candi Panataran atau Kota Blitar? Sebagian orang akan menjawab: Bung
Karno!
Karena Kota Blitar belum pernah menjadi reruntuhan, maka belum ada penyajian sejarah evolusinya.
Lebih banyak angka diketahui mengenai sejarah Candi Penataran, mungkin karena ia telah menjadi
reruntuhan.
Memang data sejarah cenderung disusun atas dasar tarikh resmi saja. Maka seolah-olah Kota Blitar
pun baru dimulai ketika statusnya sebagai Gemeente Blitar ditetapkan pada tahun 1928. Begitu pula
Kabupaten Blitar, seolah baru lahir pada Hari Senin-Wage tanggal 21 Januari 1929 ataoe 9 Roewah
1347,jaitoe hari moelainya pendoedoek di Blitar bisa dapet kesempatan toeroet mengoeroes
sebagian hal negrinya.
Sedang dari reruntuhannya diketahui bahwa Candi Panataran dibangun selama lebih dari dua
setengah abad, sejak 1197 hingga 1454. Tentu saja sebagian besar oleh kaum Majapahit, terutama di
masa Maharaja Hayam Wuruk, yang dalam Negerakertagama disebutkan kerap mengunjunginya.
Bila candi tersebut berperan begitu penting, maka tidak mungkin tiada suatu permukiman
berkembang di dekatnya. Mungkinkah Blitar, yang hanya berjarak 10 kilometer ke selatan dari
Panataran, setidaknya setua ia?
Panataran
Candi adalah tanda baca peradaban; yang dibangun kemanusiaan untuk mengucapkan kepada Sang
Misteri mengenai keberadaan mereka yang berkembang baik dan berdaya cipta. Sedang isi peradaban
adalah rangkai gambar di dinding candi, segala hasil upaya kemanusiaan mencari dan sekaligus
menyatakan dirinya, menemui dan menemukan dirinya.
Bas-relief Candi Panataran memberikan keterangan penting mengenai peradaban Majapahit.
Ditampilkannya bagiamana mereka melakukan domestikasi pisang, nanas dan durian di pekarangan
atau kebun berpagar. Digambarkannya bagaimana musik menjadi bagian dari hidup. Genderang,
gong, gambang, dan kecer (sejenis simbal) adalah sebagian ungkapan Panataran tentang keindahan
bunyi.
Gambar-gambar. Itulah sejarah mereka yang berupaya menyitir alam semesta, menyusun hikayat dan
pemahaman, menata kehidupan bersama, mencari kabar tentang hakekat Sang Misteri. Dalam upaya
itu, tampillah kegagalan, kesedihan, kemarahan, kebodohan, kekalahan, dan kekuasaan. Tampil pula
perjuangan mengingat dasar hati, mengingat hakekat kesamaan nasib, yang adalah sesama jiwa pada
sebuah bhwana.
114

Diterbitkan dalam AIKON,

159
Makam Bung
Paula Aminem, Anna Soekartinem dan Maria Moedjinah adalah jiwa-jiwa yang beruntung
beristirahat dalam sebuah permakaman umum bersebelahan dengan Bung. Hanya sayangnya mereka
dipisahkan oleh tembok susunan batu setinggi 3,5 meter yang begitu panjang dan pekat. Gelap,
tembok-tembok ini menyempitkan ruang Bung sendiri. Rasanya akan juga menyesakkan nafas Bung,
yang dilahirkan, hiduap dari dan dibesarkan oleh massa rakyat.
Tapi Bung mungkin akan merasa lega bahwa pelabuhannya yang terakhir masih mampu menghidupi
rakyat. Mungkin juga ia akan tersenyum melihat bagaimana mereka berkarya. Mungkin juga Bung
bersedih melihat rendahnya nilai yang diberikan kepada karya mereka.
Atau mungkinkah Bung terganggu oleh tingkah mereka?
Rakyat yang menuai rejeki dari kehadiran Bung di Blitar adalah para pedagang mainan anak. Mereka
menjual ikan lele kertas, yang menggelepar ketika roda berputaran pegas karet gelang di perutnya
dilepas, Rp. 1.000. meraka menjajakan kupu-kupu plastik selebar daun jati, yang sayapnya mengepak,
Rp. 2.500. Di tangan mereka, semua yang sisa karet ban, kertas koran, karet gelang, plastik,
potongan kayu, dan kawatberganti rupa menjadi mainan lucu. Bersahaja tapi penuh
imajinasisesuatu yang disenangi Bung.
Menginap?
Hotel Tugu Sri Lestari menawarkan yang terbaik.
Ia adalah sebuah kompleks yang berpusat pada sebuah bangunan utama buatan 1850 dan telah
sempurna direnovasi. Kamar-kamar suite berpintu besar, berjejer di kiri dan kanan ruang tengah yang
lebar, tinggi dan membuat orang merasa kecil di dalamnya. Gerbang masuknya adalah sebuah
pelengkung selebar ruangan. Di hadapannya sebuah veranda menghadang angin dari jalan masuk.
Puluhan foto Bung Karno bertebaran di semua dinding. Semerbak sedap malam rata di setiap penjuru.
Rasanya ada juga wangi kantil dari pokok di halaman. Sedangkan resepsionis, restoran dan ruang
duduk, yang menjajari kiri kanan jalan masuk, membentuk kolonade. Warna merah darah banteng
muncul di taplak, dinidng dan tirai seakan membangkitkan semangat dan gelora Bung. Sebuah atraksi
penyambutan.
Kalau bernai dan diperbolehkan, silakan coba suite Putra Sang Fajar. Ranjang besar dan tinggi
harus dinaiki dengan dinklik, burung garuda di atas kepala ranjang, dan tebaran foto-foto Bung di
beberapa sisi. Sebuah ruang yang penuh kenangan akannya. Di ruangan duduk terdapat deretan empat
lukisan besar Putra Sang fajar. Di situ Bung terlihat tengah mengangkat kawula yang bersimpuh di
kakinya. Meja dan kursi kerja, lemari serta kursi tamu serta juga meja kopi, dibuat mendekati selera
Bung, seandainya masih hidup. Bermalam di suite Putra Sang Fajar agaknya memerlukan niat dan
nyali khusus.
Sore hari di hotel ini, jangan lupa mencicpi jajan pasar di warung pojok yang bersahaja dan tenteram
di bawah naungan pohon beringin tua. Atapnya genteng biasa, yang sebagian besar telah menghitam
berlumut. Meja-meja tt-a-tt serta kursi kayu tua, adalah tempat yang nyaman untuk menikmati
hangatnya the dan kpi. Bangku panjang di depan deretan jajan pasar adalah kesempatan untuk
memanjakan lidah dengan uthuk-uthuk, lapis, geronthol, tiwul, pisang goreng, dan bubur sumsum.
Perlu ruang lebih besar?
Pergilah ke alun-alun, beberapa ratus meter di kanan hotel. Mesjid, pendopo kabupaten, penjara serta
balai kota mengelilingi empat sisinya. Deretan pohon beringin raksasa mengalahkan kehadiran segala
hal lain yang ada di sana. Merekalah penguasa pusat kota yang sesungguhnya. Penguasa yang
memberikan keteduhan bagi siapa saja, termasuk yang hendak menikmati Cendol Jempol khas Blitar
di bawah naungannya.

160
Bila alun-alun tak cukup melegakan, berkendaraanlah ke Pantai Tambak Rejo. Hanya perlu 45 menit
untuk mencapai pantai berjarak 35 kilometer di desa Tambak Rejo, Kecamatan Bakung, di tepi
Segara Kidul. Bila beruntung datang pada bulan Syura, saksikanlah upacara Labuhan oleh nelayan
setempat. Kesempatan baik untuk mengingat kekuatan alam.
Blitar hanya 80 kilometer ke barat dari Malang. Ia menawarkan pengalaman bergam dari rentang
waktu yang begitu panjang.

161

Bukittinggi, Desember 2003: Selebar


Alam/Sekecil Biji Bayam/Bumi dan Langit
ada di dalamnya
Bagaimana menggambarkan Bukittinggi bagi orang Jakarta yang terbiasa dengan skala serba besar?
Kalau digelar selebar alam, kalau digumpal sebiji bayam, langit dan bumi ada di dalamnya. Begitu
saja sih, ringkasnya.
Kok dikambang saleba alam
Kok dipulun sagadang biji bayam
Bumi jo langit ado di dalamnyo.
Pepatah di atas sebenarnya menggambarkan sifat dari adat yang sebenarnya adat, ialah tingkatan
paling dasar dari falsafah Minangkabau yang tak lain adalah hakekat alam itu sendiri. Tapi begitu
jugalah kota Bukittinggi: isinya padat, lengkap beragam dan berlapis-lapis dalam ruang yang sangat
terbatas.
Bagian utama kota itu, bersama Ngarai Sianok dan Kotagadang di seberangnya, muat di dalam
Medan Merdeka, atau Lapangan MONAS, di pusat Jakarta. Bayangkan Ngarai Sianok membujur
meliuk-liuk di tengah-tengah lapangan itu, membelahnya menjadi dua bagian, barat dan timur.
Kotagadang ada di bagian barat. Di bagian timur, terbentang bagian utama Kota Bukittinggi, terdiri
dari Atas yang berbukit-bukit di sekitar Jam Gadang, dan Bawah yang datar di sekitar Lapangan
Olahraga KODIM Wirabraja. Atas dan Bawah berhubungan melalui suatu lereng sempit di antara rel
kereta api di timur dan Ngarai Sianok di barat. Luas Medan Merdeka adalah 80 Ha. Sedang luas
kedua bagian itu tak lebih dari 50 Ha. Medan Merdeka kosong tak berpenghuni, sedang kedua bagian
utama Bukittinggi itu berpenghuni lebih dari 5.000 jiwa. Meskipun merupakan kota kedua terbesar di
Sumatera barat, Bukittinggi yang luas seluruhnya 2.500 Ha dan berpenduduk 93.000 jiwa memang
hanya sebiji bayam bila dibandingkan dengan Padang yang luasnya 62.700 Ha dan penduduknya
lebih dari 800.000 jiwa. Yang membuatnya istimewa adalah kepadatannya, yang rata-rata tiga kali
kepadatan Padang. Kepadatan ini meninggi di kedua bagian utama tersebut, bukan hanya dalam arti
jumlah, tetapi juga dalam arti keragaman dalam segala hal kegiatan, bentukan alam, suku-bangsa,
makanan, dan interaksi antara semuanya.
Di dalam Atas terdapat setidaknya empat bukit yang mudah dikenali. Bukit Kubangan Kabau adalah
cikal-bakal Kota Bukititnggi, tempat pasar tertua ditegakkan, yaitu Pasar Serikat atau Pasar Kurai
atau Pasar Atas. Perlengkapan pokok kota lainnya terdapat di sekitar pasar ini. Mesjid Raya terletak
di ujung utaranya, sebelah barat. Lapangan Jam Gadang di ujung selatan. Kampung Cina terletak di
lereng baratnya. Di seberang Jam Gadang berdiri terawat baik Istana Bung Hatta, yang dulu
merupakan kedudukan pemerintah RI di Sumatera c.1947, bersebelahan dengan Hotel Novotel. Lebih
ke utara terdapat dua bukit yang hampir kembar bentuknya, mengapit jalan raya kota sebagai poros
utara-selatan, ialah Jalan A. Yani. Sungguh aneh mengapa jalan sepenting ini mendapatkan nama
yang tidak begitu penting. Kedua bukit ini adalah Bukit Jirek di barat dan Bukit Sarang Gagak di

162
timur. Keduanya dihubungkan oleh Jembatan Limpapeh, sebuah jembatan gantung dengan kabel baja
untuk pejalan kaki, melintas pada ketinggian 20 meter di atas Jalan A. Yani.
Di Bukit Jirek dulu terdapat Fort de Kock yang dibangun Belanda pada tahun 1835 untuk menghadapi
Perang Paderi (1821-1837). Kini ia sebuah taman kota yang rindang dengan pohon pinus. Di kakinya,
sebelah barat, terdapat Rumah Sakit Achmad Mochtar, bersebelahan dengan unit transfusi darah
Palang Merah Indonesia dan Perpustakaan Umum Bung Hatta. Bukit Sarang Gagak di sebelah timur
adalah sebuah taman bunga di masa kolonial. Kini ia sebuah taman margasatwa mini dengan sebuah
museum etnografi Minang. Pada lereng utaranya, sepanjang Jalan Pemuda, berderet kediaman
keturunan Keling, sehingga disebut Kampung Keling. Nama-nama tokonya terbaca antara lain Fariz,
Ravi, Shaan dan Rahman.
Bukit ke-empat, yaitu Bukit Cangang adalah sebuah kawasan hunian di tepi Ngarai Sianok, pada sisi
barat perbatasan antara Atas dan Bawah. Namanya mungkin menunjukkn bahwa disini adalah tempat
orang tercengang melihat panorama Ngarai Sianok dengan Gunung Singgalang di belakangnya dan
Gunung Merapi di sebelah kiri. Menyusuri ngarai dari kampung ini ke arah barat orang akan sampai
ke Taman Panorama, sebuah ruang terbuka kota hijau terpenting selain Bukit Jirek dan Bukit Sarang
Gagak.
Di Atas ini, atau menempel pada lerengnya, terdapat lagi lima pasar dari seluruh tujuh pasar di Kota
Bukittinggi, yaitu Pasar Bawah, Pasar Banto, Pasar Aur Tajungkang, Pasar Lereng dan Pasar Ateh
Ngarai. Hanya Pasar Aur Kuning yang terletak agak jauh di sebelah tenggara kota. Di dekat Pasar
Ateh Ngarai terdapat Stadion Ateh Ngarai. Kalau ada grup musik dari Jakarta, manggungnya disini.
Mesjid Raya, Mesjid Agung, dan beberapa mesjid besar lainnya berada di antara pasar-pasar dan
bukit-bukit tersebut. Sebuah Vihara Buddhis mengambil tempat di Kampung Cina, Jalan A. Yani
bagian selatan sekarang.
Sedang tetenger paling terkenal di Bawah adalah bekas Sekolah Raja, sekolah guru atau Kweekschool
kedua (tahun 1873-1908) di Hindia Belanda setelah yang di Surakarta (1852). Gedung-gedung di
sebelah barat Jalan Sudirman sekarang dipakai oleh SMA Negeri 2, sedang yang di sebelah timur
oleh kepolisian resor Bukittinggi. Selain itu terdapat perlengkapan kota lainnya seperti Balai Kota,
lapangan olahraga KODIM Wirabraja, gereja katolik St. Petrus Clavert dengan sekolah dan tempat
penitipan anak (day-care centre) St. Fransiskus, sebuah gereja protestan, sebuah rumah sakit TNI,
Rumah Sakit Islam Ibnu Sina yang diresmikan Hatta pada tahun 1977, bersama-sama dengan
sejumlah kantor pemerintah kota, berbagai hotel, kantor perwakilan Garuda Indonesia yang baru
dibuka beberapa bulan terakhir, serta reservoir dan pusat distribusi Perusahaan Daerah Air Minum
(PDAM). Di salah satu bekas rumah dinas perusahaan kereta api di Jalan Melati, baru saja dibuka
sebuah tempat kursus dan terapi khusus untuk anak-anak autis. Ini adalah suatu sarana yang sangat
langka di Indonesia. Kota ini memang punya tradisi pelopor dalam hal pendidikan. Disini Roehana
Koeddoes membuka sekolah kepandaian putri pertama c.1917.
Semua itu muat di dalam luasan Medan Merdeka di Jakarta, bahkan cukup separohnya saja.
Lagi pula, di antara semua itu terselip fragmen-fragmen yang masing-masing memiliki cerita sendiri,
antara lain: pohon-pohon kayu manis (Cinnamon dalam Inggeris, atau Cinnamomum zeylanicum
dalam latin), Museum Bung Hatta, Pandai Sepatu Yak Yek yang berusia 75 tahun, jenjang-jenjang
dan rumah makan Monalisa yang menyajikan 25 jenis buah tropis.

Ngarai
Agus Salim dulu biasa lewat sini, kata Pak Akang menunjuk pada jalan pasir itu.
Djaharuddin Tamin St. Rangkayo Sati, nama lengkap Pak Akang, menjaga jalan setapak yang menuju
ke Jembatan Babuai di atas Ngarai Sianok. Ia memasang penghalang di tengah jalan setapak itu, dan
meletakkan sebuah kotak dengan tulisan sumbangan untuk merawat jalan di salah satu ujungnya.
Biasanya orang memberikan seribu rupiah.

163
Rumah Pak Sati hanyalah gubuk berdinding papan-papan bekas pakai dengan atap seng dan lantai
tanah pasir, sebagaimana semua tanah di kawasan ini. Itulah miliknya setelah puluhan tahun
merantau, antara lain ke Jakarta, dan kembali lagi ke kampung halaman. Meski namanya pakai
rangkayo, begini saja kami ini, kata isterinya sambil terkekeh kecut.
Jembatan Babuai adalah jembatan susunan papan selebar 1.5 meter, sepanjang 25 meter, yang
menggantung pada kabel baja, yang dijangkar oleh kaki-kaki beton di kedua ujungnya. Kaki-kaki ini
dicat warna merah jambu. Jembatan ini babuai, berayun ke kiri-kanan bila dilewati. Makin ke
tengah, makin hebat buaian ini, bisa membuat mual bagi yang tak biasa, mengingat pula tingginya
sekitar 20 meter di atas dasar ngarai.
"Baru empat tahun jembatan ini dibikin, menggantikan jembatan kayu lama dari jaman Belanda, tapi
sudah rusak lagi. Beberapa papannya lepas. Tepi-tepinya keropos. Maklumlah, kontraktor jaman
sekarang lain sindir pak Sati, yang masih saja mengagumi Belanda.
Dulu, menurut pengalaman masa kecil Pak Sati, Ngarai Sianok tak sedalam ini. Bila duduk di
jembatan yang dulu, kaki dapat bermain air Batang Sianok, nama sungai yang mengalir di dasar
ngarai. Boleh jadi ingatan Pak Sati cenderung melebih-lebihkan, atau letak jembatan yang dahulu
memang lebih rendah daripada yang sekarang; tetapi memang fakta bahwa dasar ngarai makin dalam.
Ngarai Sianok memang bukan patahan tektonis yang tiba-tiba dalam, tetapi terbentuk oleh
penggerusan terus menerus oleh air Batang Sianok dan oleh ulah manusia. Baru tahun 2001 orang
dilarang menambang pasir di ngarai. Tapi sifat pasirnya itu akan tetap saja menyebabkan ia tergerus
selama-lamanya oleh air di masa mendatang. Selain makin dalam, ia juga makin lebar, karena longsor
terus berulang. Belum delapan bulan saya tinggal di sini, tetapi sudah beberapa kali dengar gemuruh
longsor, cerita seorang ibu dari Jawa yang tinggal di sebuah kampung di tepi ngarai.
Kerusakan ngarai tak berhenti pada dinding dan dasarnya. Isinya juga. Sampah kota dibuang secara
resmi di batas paling utara kota dengan Ngarai Sianok. Tanpa pemisahan atau pengolahan apapun,
open dumping saja, langsung ke lereng ngarai, yang tentu saja perlahan-lahan akan turun ke dasarnya.
Untuk mencapai Tempat Pembuangan Akhir (TPA) ini, memang harus melewati kawasan berhutan
lebat. Hanya saja jaraknya sebenarnya hanya 4.5 kilometer dari pusat kota. Kalau Jam Gadang
dibayangkan di dalam Medan Merdeka, Jakarta, maka TPA itu kira-kira terletak di Jembatan
Semanggi. Itu yang resmi, yang tidak resmi terjadi di sepanjang Ngarai yang berbatasan dengan kota.
Begitu juga air kotor kota ada yang langsung dibuang ke Ngarai, misalnya di daerah Belakang Balok.
Sampah ini memang perkara yang bandel. Hampir semua pihak masih melihatnya dengan cara yang
sangat primitif: dibuang saja. Nama Tempat Pembuangan Akhir mencerminkan persis mentalitet
demikian. Prinsip-prinsip reuse, recycle, reduce (3R) hanya dibicarakan, tak sampai jadi kenyataan,
karena tak ada kemauan dan kemampuan membangun institusi yang berkelanjutan, karena
keengganan untuk berubah. Dengan desentralisasi/otonomi, timbul pula soal lintas-batas. Semua
orang mengatakan not-in-my-backyard (NIMBY). Bukittinggi membuang sampahnya di halamanbelakangnya yang paling jauh, sejauh masih dalam batas administratifnya. Tetapi dampaknya akan
mengikuti aliran Batang Sianok sepajang puluhan kilometer ke hilir.
Penambang pasir memang pindah, tapi malah ke dalam wilayah kota Bukititnggi sendiri, misalnya di
Guguk Bulek dan Gulai Bancah. Lereng di Gulai Bancah memang ditanami rumput sehabis bukit
pasir di papas, karena di atasnya sedang dibangun kantor walikota yang baru. Susahnya, membangun
memang memerlukan pasir. Semua itu, dari jaman Belanda sampai sekarang, dibangun bahan dari
sini, kata Pak Sati sambil menunjuk ke Bukitinggi yang beberapa lampunya mulai dinyalakan
menjelang magrib.
Ngarai Sianok memang sunyi-senyap, sebagaimana arti dari namanya, kecuali suara gemericik air,
kicau burung dan derit serangga, misalnya kumbang kayu (Scolytidae) yang besar hitam itu. Maka
tak heran ada dongeng bahwa ia dibentuk untuk melerai pertikaian antara Urang Kurai, penduduk asli
Bukittinggi, dengan penduduk di seberangnya.
Dibandingkan Grand Canyon di Amerika, memang Ngarai Sianok milik awak ini jauh lebih kerdil,
banding H. Marthias Dusky Panoe, wartawan senior KOMPAS, dalam Memoar Seorang Wartawan:
A Nan Takana (Apa yang Teringat), 2001. Panjang Sianok hanya 30 km, paling dalam 120 m, paling

164
lebar 300 m, sedang pada bagian paling sempit lebar dasarnya hanya empat meter saja. Grand Canyon
berpanjang 380 km, lebar 6 hingga 30 km, kedalaman 800-1500 meter.
Milik awak ini bagaimanapun juga menjadi ruang terbuka yang menjadi hiburan banyak orang.
Dari tepi kota Bukittinggi, ada setidaknya tiga tempat untuk mencapainya. Yang paling mudah adalah
menuruninya dari jembatan kendaraan yang meneruskan jalan raya dari Bukittinggi ke Kotagadang
melalui Pasar Ateh Ngarai. Dari utara kota, ada Janjang Seribu jumlah anak tangganya sih
sebenarnya hanya 343 yang dapat dicapai melalui kampung Jambak Dalam. Yang lainnya adalah
Jenjang PDAM, karena dibuat oleh PDAM sebenarnya untuk mencapai Water Intake Plant dan
menarik pipa darinya ke Water Treatment Plant di daerah Belakang Balok, diujung Jalan Perwira.
Jumlah anak tangganya adalah 488, dan jarak vertikal 120 meter. Dari Taman Panorama ada jalan
setapak ke arah utara, menuruni Jenjang Panorama sampai ke Jalan Ateh Ngarai, lalu belok kiri ke
jalan setapak yang menuju ke Jembatan Babuai, melalui palang tol Pak sati.
Hujan melimpah di kota ini, tetapi tak demikian halnya dengan air minum ke rumah-rumah, yang
umumnya berhenti mengalir mulai sore sampai pagi hari. PDAM hanya sanggup sediakan sekitar 95
l/detik untuk 12,000 rumah tangga pelanggan terdaftar. Ini berarti baru separoh saja dari seluruh
penduduk kota yang terlayani. Tiap rumah yang sudah berlangganan itupun hanya kebagian rata-rata
300 l/hari. Suatu keluarga dengan empat anggota seharusnya memerlukan sekitar 400 ampai 600
l/hari. Belum terhitung keperluan hotel dan industri.
Yang lain yang melimpah di kota ini adalah pohon Kayu Manis, yang tumbuh di mana saja baik
secara liar maupun sengaja ditanam karena bernilai ekonomis. Ke arah manapun mata memandang ia
nampak, dengan daun-daun mudanya yang berwarna merah muda yang manis dipandang.
Kotagadang
Setelah Jembatan Babuai, jalan setapak yang mendaki menghantar ke Kotagadang dalam waktu tak
lebih dari setengah jam, melewati kebun-kebun jeruk Limau, Kayu Manis dan Gada Munggu, salah
satu rempah utama untuk masakan Minang. Memasuki Kotagadang, jalan ini bertemu Jalan St.
Sjahrir. Ujungnya, pusat Kotagadang, adalah sebuah persimpangan yang ditandai sebuah mesjid
besar, sekolah, kantor penghulu nagari, balai adat, dan sebuah lapau yang merangkap toko perhiasan
perak.
Meskipun kecil, kota ini disebut big, gadang, apalagi sejak seorang kelahiran sini menjadi terkenal
dan dikagumi karena pandai banyak bahasa, kata seseorang di lapau itu sambil mengajak minum
kopi. Orang yang dia maksud adalah H. Agus Salim.
Mungkin gadang maksudnya great, pak, bukan big, kata saya, yang paham bahwa saya sedang
dikira orang asing. Great seperti akbar, sebab kota ini banyak lahirkan orang great, bukan orang
big, tambah saya.
Dari persimpangan ini memencar empat jalan. Dua jalan lagi mengabadikan pribadi penting
kelahirian nagari ini. Jalan Agus Salim menuju ke tenggara, ke rumah keluarga Salim yang terawat
baik. Jalan Amai Setia yang menuju ke utara mengabadikan nama sekolah kerajinan perempuan
pertama di Sumatera Barat. Nama Rangkayo Siti Roehana Koeddoes, pendiri sekolah itu, diabadikan
pada sebuah jalan yang menghubungkan Jalan St. Sjahrir dan Jalan Amai Setia. Jalan keempat yang
memancar dari pusat kotagadang bernama Gantiang-Kotagadang, menuju ke Selatan. Deretan pohon
pinus membentuk perspektif ke Gunung Singgalang.
Alangkah lapang hati terasa berada di sebuah tempat yang jalan-jalannya penuh kenangan tentang
tempat dan orang setempat itu sendiri. Setidaknya, tidak ada nama jenderal korban 1 Okober 1965
yang selama Orde Baru telah menjadi dominan di seluruh kota di Indonesia, menghapus nama-nama
setempat yang dilahirkan oleh masyarakatnya sendiri dari dalam kandungan sejarahnya sendiri. Di
Jogja nama Jalan Dr. Yap, dokter mata pertama Indonesia dan pendiri rumah sakit mata pertama yang
terletak pada jalan itu, diganti. Tidak diketahui apatah ada nama jalan Dr. Yap di tempat lain sebagai
penggantinya.

165
Nama-nama jalan di kota-kota Indonesia memang kehilangan logika toponim sejak Orde Baru, sebab
redefinisi pahlawan untuk menunjuang Orde Baru telah melahirkan daftar nama wajib, yang
utamanya adalah nama sejumlah jenderal ataupun pejuang bersenjata lainnya. Nama-nama sipil
diganti, seolah-olah tak ada sipil yang berhak menjadi pahlawan yang pantas menjadi nama jalan.
Yang keterlaluan, mungkin malah kualat, adalah digunakannya pada tahun 1980an nama seoarang
jenderal yang masih hidup sebagai nama salah satu jalan utama di Kota Kupang, ialah Suharto, yang
menyambung dengan Jalan Jenderal Sudirman. Permainan kekuasaan atas nama jalan memang
melahirkan ironi yang kadang-kadang lucu. Misalnya Jalan Teuku Umar di Jakarta dulu bernama Van
Heutz, ialah jenderal Belanda yang berhadapan dengan Teuku Umar, dan di masa Jepang diberi nama
seoarang admiral Jepang. Memang Jepanglah yang pertama kali secara besar-besaran mengganti
semua nama jalan yang kebelanda-belandaan. Jepang juga mengganti nama Batavia menjadi Jakarta,
dari nama Pangeran Jayakarta. Namun, seperti di Kotagadang, di banyak kota kecil lain di Indonesia,
ada banyak nama Jalan Haji X dan legenda lokal lainnya. Semoga bertahan! Siapa tahu, semangat
yang menolak cerita besar dari atas dapat menjadi ilham untuk bertahan. Setidaknya di sebuah
jaman otonomi dan desentralisasi.
Yang menjadi pemandangan umum di Kotagadang bukanlah rumah bergonjong, melainkan rumahrumah bergaya Eropah, dengan beberapa motif ukiran setempat yang sudah disesuaikan.
masyarakatnya pun lambat laun, mulai meniru kehidupan gaya Belanda, termasuk tata ruang
perkampungan hunian. Rumah-rumah penduduk dibangun dengan ukuran cukup luas sesuai dengan
kemampuan ekonominya dan ruangan dalam rumah ditata sebagaimana halnya rumah orang
Belanda, demikian juga dengan halaman yang luas serta ditanam aneka bunga-bunga berwarna
cerah.
Gambaran tentang Kotagadang di masa awal abad 20 ini diberikan oleh Fitriyanti, penulis Roehana
Koeddoes, Perempuan Sumatera Barat (Yayasan Jurnal Perempuan, 2001).
Dinding rumah umumnya terdiri dari susunan papan yang rapat dan dicat tebal sehingga celah-celah
sambungan semuanya tersumpal, menjadikannya tak lekang kena panas tak lapuk kena hujan.
Beberapa dinding samping terbuat dari anyaman bambu. Warna-warna terang kuning, hijau muda,
merah jambubanyak terpilih. Ada juga yang menggunakan warna-warna pastel yang lembut dan
sedikit pucat. Bagian depan rumah dikuasai deretan jendela yang umumnya selalu membuka. Tirai
terawang selalu menghiasi setidaknya bagian bawah semua jendela, dari sebelah dalam. Tirai
terawang yang penuh, dari atas sampai bawah jendela besar , diikat ditengah, sehingga memberikan
irama pada wajah rumah. Di sebelah luarnya kadang-kadang masih ditambah tirai yang tak tembus
pandang. Jendela-jendela masih umum terdiri dari dua lapis daun jendela: yang di sisi dalam berkaca,
yang di luar ber-jalousie. Yang pertama menahan angin, memasukkan cahaya; yang lain menahan
cahaya, memasukkan udara. Dua-duanya memberikan kemudahan pengaturan, mengingat cuaca yang
berubah-ubah di dataran tinggi ranah Minang ini, pada kira-kira 950 meter di atas permukaan air laut.
Tokoh dalam buku Fitriyanti, Siti Roehana Koeddoes yang lahir pada 20 Desember 1884, mendirikan
Sekolah Kerajinan Amai Setia pada tahun 1911. Sekarang sekolahnya sudah tidak ada. Tinggal lah
sebuah toko kerajinan. Yang dahulu diajarkan sudah menjadi kepandaian turun temurun di dalam
setiap rumah di Kotagadang, jadi tak perlu lagi ada sekolah yang mengajarkan, kata pengurus toko
kerajinan terbesar di Kotagadang ini. Belakangan ditambahkan sebuah museum di belakang toko
Roehana Koeddoes dikenal luas sebagai wartawati pertama asal Sumatera Barat. Senang menulis, di
buku hariannya pada hari Jumat tanggal 5 Maret 1909 ia menulis: Siti Robiah melahirkan seoang
anak laki-laki diberi nama Sutan Sjahrir. Roehana adalah saudara se-ayah St. Sjahrir.
Sebelum menjadi wartawati, penulis dan penerbit, sebenarnya karir beliau yang paling penting adalah
dalam memelopori pendidikan perempuan, dimulai dengan pendidikan ketrampilan yang bernilai
ekonomis. Sulam Terawang dari Kotagadang memang sudah terkenal sebelum Roehana mendirikan
Amai Setia. Hanya perempuan di Kotagadang saja yang pintar membuat Sulam Terawang, tulis
Fitriyanti. Tapi jasa Roehana adalah melembagakan home-industry di Kotagadang, menjadikan
sulaman dan keterampilan lain sebagai basis ekonomi Kotagadang hingga sekarang. Ini dapat
dibandingkan dengan jasa Sapto Hudoyo di Kasongan, Yogyakarta, pada tahun 1970an.

166
Upaya pemasaran Roehana nampak pada salah satu koleksi di museumnya, ialah sejumlah piagam
penghargaan karena kesertaan pada berbagai pasar malam di Jawa dan Sumatera: Pakan Malam Fort
de Kock: 3e Pasar Malam: 2 t/m 8 Juni 1926; Tjoeroep: 2e Tentoonstelling Redjang-Lebong, JuliAugustus 1928; Pasar Malam Gambir: 18 Augustus 9 September 1928; Pasar Malam Padang: 27
tot en met 10 Augustus 1929; Pasar Malam en tentoonstelling Mandailing: 1929; Pasar Keramaian
Padang-Pandjang: 4 t/m 8 Juli 1935; Pasar Malam Fort v/d Capellen (Batusangkar): 1935; Pasar
Keramaian Pajakoemboeh: 30 April t/m 6 Mei 1941; dan 24 t/m 30 Maart 1937; dan Pasar
Keramaian Loehak L Kota: 13-19 April 1938.
Koleksi ini memberikan sebuah gambaran tentang seni grafis pada masa itu. Piagam dari Pasar
Malam Gambir (1928) dan Pakan Malam Fort de Kock (1926) merupakan puncak yang menarik.
Yang pertama berukuran besar, di antara A3 dan A4, berbingkai lebar terdiri dari motif-motif
nusantara --mungkin Sumatera Utara-- yang dirancang dalam gaya art-deco, dengan warna-warna
blok hitam, hijau tosca, kuning dan merah. Sedang yang kedua menggunakan teknik etsa dengan
warna tunggal hijau pucat. Ruang tulisan di tengah-tengah hanyalah 20 % dari seluruh bidang
piagam. Selebihnya adalah bingkai yang terbentuk dari gambar-gambar eksotis alam Minangkabau
dalam gaya Raden Saleh Bustaman (1814-1880). Di atas sekali, di tengah-tengah, terdapat sebuah
kepala kerbau yang tanduknya panjang belebih. Dikiri kanan nama Pakan Malam Fort de Kock
mengaum dua harimau Sumatera. Di kiri kanan tulisan utama, ialah nama penerima piagam, tegak
gambar Jam Gadang yang tak serupa benar dengan aslinya. Sedang di kedua sudut bawah mekarlah
bunga bangkai Rafflesia arnoldii, mengapit sawah ladang berlatar belakang gunung berasap.
Pasar Malam merupakan ajang promosi yang sekaligus menyediakan hiburan rakyat yang penting
dalam kehidupan kota-kota Hindia Belanda di masa sebelum Perang Dunia II. Ini adalah peristiwa
sosial untuk penduduk pribumi dan Eropah bertemu secara terbuka, sama-sama sebagai khalayak
kota, meskipun tentu terdapat kesenjangan di sana sini. Tradisi ini berhasil dihidupkan kembali oleh
Ali Sadikin dalam bentuk Jakarta Fair di tempat dulu Pasar Gambir diadakan, di bagian selatan
Medan Merdeka. Ketika menjadi Jakarta International Trade Fair, ia mulai surut sebagai ruang
pertukaran sosial, dan makin menjadi sekedar ruang komoditi. Ia akhirnya sama sekali kehilangan
status dalam kenangan kolektif khalayak Jakarta ketika dipindah ke bekas bandara Kemayoran.
Pasar Malam Gambir penting bagi arsitektur Indonesia, karena merupakan kesempatan menampilkan
eksperimen para arsitek kelahiran Belanda yang mendirikan jurusan arsitektur di Bandung. Mereka
untuk pertama kalinya dalam sejarah Indonesia menghidupkan bentuk-bentuk arsitetur tradisional
suku-suku bangsa Nusantara, dan menyesuaikannya dengan kebutuhan serta teknologi modern.
Arsitektur indische, demikian secara popular periode dan gaya ini disebut, misalnya menghasilkan
puncak-puncak yang mengagumkan seperti Aula Barat kampus Institut Teknologi Bandung (c. 1915),
karya Maclaine Pont, salah satu tokoh utama gerakan ini. Ia juga membuat Gereja Pohsarang di dekat
Blitar pada tahun 1936, sepuluh tahun setelah arsitek pribumi Yazid dan St. Gigi Ameh merancang
Menara Jam Gadang yang beratap kubah runcing bergaya renaissance. Maclaine Pont menggunakan
bentuk-bentuk yang sangat diilhami bentuk arsitektur dan seni kriya tradisional. Atapnya dominan,
mencuat ke atas. Tiap bidangnya melendut melengkung seperti pada atap bagonjong. Untuk mencapai
bentuk ini genteng-gentengnya tidak dipasang pada kayu reng yang kaku, melainkan dicantolkan pada
kabel-kabel baja yang melendut.
Sako dan Bako
Kedudukan Siti Roehana Koeddoes dalam sejarah perjuangan perempuan menjadi penting karena
konteks kebudayaan matrilineal yang ternyata sama sekali tidak memudahkannya. Pendukung
terpentingnya adalah justru ayahnya. Perempuan memang pemilik pusaka, tetapi sama sekali tidak
berkuasa. Entah kalau ini sejak dulu demikian, atau sudah terkikis oleh kecenderungan patriarkat
agama-agama semawi.
Sedangkan ekses dari matrilinealisme, misalnya nenek yang lebih
menyayangi cucu dari anak perempuan, diingatkan juga oleh Roehana Koeddoes.
(matrilinealisme) dalam hal warisan, mungkin baik, tapi dari segi kasih sayang hendaklah jangan
dibedakan cucu dari anak lelaki dan dari anak perempuan, ucap beliau menurut buku Fitiyanti.
Darman Moenir, penulis kelahiran Sawahtangah, Batusangkar, 27 Juli 1952, dalam novelnya Bako
(Balai Pustaka, 1983) yang sangat indah, yang memenangkan Hadiah Utama Sayembara Roman DKI
1980, menggambarkan konsekuensi-konsekuensi getir dari keluarga yang tidak tinggal di rumah sako
(keluarga ibu), melainkan di tumah bako (keluarga ayah). Ia juga memprotes ketidakadilan,

167
mengingatkan bahwa nilai-nialai kemanusiaan yang lebih dasar tak boleh terperangkap adat, dan
bahwa watak serta perilaku orang per orang lah yang menentukan nilainya, bukan keturunan, sistem
adat, atau bawaan alamnya. Meskipun berada dalam kungkungan adat, pilihan-pilihan pada akhirnya
tetap merupakan tanggung-jawab otonom setiap orang. Indahnya novel ini terletak pada dibangunnya
pemahaman secara bertahap dan berlapis, melalui lima tokoh eksplisit di luar si pencerita, dan secara
implisit juga melalui tokoh keenam, ialah si pencerita sendiri.
Islam memperkenalkan warisan melalui garis laki-laki, sehingga akhirnya terjadi perumusan baru:
pusaka yang turun temurun sebenarnya bukan warisan, karena tak dapat dibagi-bagi, melainkan milik
bersama; sedang warisan adalah hasil keringat sendiri (ayah dan ibu), yang karena itu boleh
diwariskan melalui garis laki-laki. Kata warisan sendiri berasal bahasa Arab. Sedang kata pusaka
adalah asli dari khasanah budaya Melayu pra-Islam.
Seperti di banyak kebudayaan lainnya, ibu Minang juga mendapat julukan yang indah-indah:
limpapeh rumah nan gadang, tunggak tuo, dan amban puruak (pegangan kunci bilik dalam).
Limpapeh adalah nama sejenis kupu-kupu yang sangat indah, setia menunggui rumah bergonjong.
Tetapi apakah ini tidak sama dengan domestikasi, karena semuanya merujuk rumah sebagai
tempatnya? Dengan kecurigaan yang sama, muncul pertanyaan: bukankah matrilinealisme dalam
penurunan pusaka itu sendiri sebenarnya fungsional untuk memaku perempuan di rumah dan
darek (darat)-nya demi menjaga pusakanya, sementara para lelaki menikmati pergi ke rantau,
menjadi kolonialis meskipun tidak imperialis? Jangan-jangan matrilinealisme itu sendiri adalah
produk dominasi wacana laki-laki pula, sama sekali tidak dimaksudkan untuk memperkuat posisi
perempuan --dan kenyataannya memang tidak, selama kekuasaan yang nyata tidak dimilikinya.
Posisi perempuan sebagai penjaga pusaka terdapat juga dalam masyarakat Belu Selatan, di Timor
Barat, pada perbatasan dengan Timor Leste. Pusaka klan berupa benda bergerak (bukan tanah)
bahkan dikumpulkan dalam sebuah rumah pamali yang dibedakan dari lainnya dalam hal letak
dan/atau tingginya. Perempuan tertua dalam klan bertugas menjaga rumah ini beserta segenap isinya.
Sedang pusaka keluarga disimpan di atas langit-langit rumah di atas beranda depan yang tak
berdinding, tempat para laki-laki tidur. Namun pusaka ini hanya dapat dicapai melalui bagian dalam
rumah yang tertutup dinding, tempat para perempuan. Para laki-laki, ketika berbaring di beranda,
tetap mengawasi langit-langit di atasnya, tetapi tak dapat menggapainya.
Roehana Koeddoes sendiri, dalam memperjuangkan pendidikan perempuan, menghadapi tentangan
yang besar, termasuk dari kaum perempuan sendiri. Ia pernah memutuskan pindah ke Bukittinggi,
dan kemudian Medan, karena kerasnya tentangan tersebut, termasuk adanya fitnah yang tidak pantas
dibicarakan. Roehana yang meninggal 17 Agustus 1972 pada usia 88 tahun dimakamkan di Tempat
Pemakaman Umum Karet, Jakarta. Pada 17 Agustus 1974 ia menerima penghargaan sebagai
Wartawati Pertama dari Pemerintah Daerah Sumatera Barat. Pada 9 Februari 1987 ia menerima gelar
penghargaan sebagai Perintis Pers Indonesia dari Pemerintah Republik Indonesia. Beliau belum
menerima penghargaan yang menunjukkan beliau sebagai perintis pendidikan atau kemajuan
perempuan Indonesia.
Di bidang jurnalisme dia mendirikan dan memimpin Soenting Melajoe, Koran khusus perempuan,
yang diterbitkan tiga kali seminggu oleh harian umum Oetoesan Melajoe sejak 10 Juli 1912 hingga
1921. Inilah media perempuan ketiga yang terbit di Hindia-Belanda. Menurut Pia Alisyahbana dalam
tulisan berjudul Media Perempuan Indonesia, majalah perempuan pertama di Hindia Belanda adalah
Tiong Hwa Wi Sien Po, yang terbit pada tahun 1906, diasuh oleh seorang wanita peranakan bernama
Lien Titie Nio. Sesudah itu terdapat Poetri Hindia yang terbit 1908. Setelah Soenting Melajoe, terbit
pula Poetri Mardika (1915) yang "memperhatikan keadaannya pihak perempoean boemi poetra di
Insulinde" dan "Hesti Oetama" (1918), dwimingguan dalam bahasa Jawa.
Sulaman Terawang bukan satu-satunya kriya orang Minang. Kepandaian orang Minang dalam hal
mengukir telah dicatat oleh penulis-penulis barat di abad ke-16. Manuel Ghodino e Eredia dalam
Description of Malacca and Meridonial India and Cathai menulis: rakyatnya.memanfaatkan
waktu untuk keterampilan teknik yang memperoleh penghasilan. Mereka umumnya menjadi pengrajin
atau pengukir ulung (Dikutip oleh M. Nur dalam Sastri Yunizarti Bakry dan Media Sandra kasih,
eds., Menelusuri Jejak Melayu-Minangkabau, 2002). Rumah bergonjong pada dasarnya berlapis
panel-panel kayu berukir berwarna di sekujur tubuhnya. Kebiasaan ini masih berlaku kadang-kadang

168
pada rumah yang tidak bergonjong. Maka dengan sendirinya tersedia pasar untuk keterampilan ukiran
hingga kini. Pandesikek, sebuah tempat hanya belasan kilometer di selatan Bukittinggi dikenal
sebagai pusat kerajinan tenun. Sikek, atau sikat, adalah gerakan dalam menenun. Sebenarnya ia juga
pusat kerajinan ukir yang sangat menentukan keberlanjutan arsitektur tradisional Minang.

Pasar Berhilir Kota; Kota Berhulu Pasar


Produk dan jasa memerlukan pasar. Bukittinggi adalah kota pasar terbesar di dataran tinggi Minang.
Kota pasar terbesar di pantai adalah Padang. Dari genesisnya, kota ada dua macam saja: yang
terbentuk secara egaliter dari proses perdagangan, dan yang terbentuk karena keinginan sepihak
seorang penguasa. Yang pertama biasanya di pantai; yang kedua biasanya di pedalaman, terutama di
Jawa. Bukittinggi adalah kota pasar di pedalaman, yang kabarnya dibentuk sebagai pasar sarikat
milik bersama nagari-nagari di sekitarnya. Tradisi federalis Minang memang tercermin dari tidak
adanya kota sebagai pusat imperium yang besar. Besar kecilnya kota benar-benar tergantung kepada
kemampuannya sebagai pasar.
Enam dari tujuh pasar di Bukittinggi berada didalam dan dekat kawasan Atas. Di dalam Pasar Atas
terdapat bangunan pasar tertua yang masih berdiri tegak, bertanda tahun 1917. Bentuknya
monumental, terdiri dari dua blok lurus sepanjang lebih dari 60 meter, berlantai dua dengan arkade
pada lantai bawah. Banyak jendela di lantai atas terbuka dan lagi-lagi berlapis tirai terawang, pertanda
ada yang tinggal di dalamnya, di tengah-tengah pasar yang ramai dan rapat ini. Di kedua ujung Pasar
Atas terdapat lapangan. Di selatan terhampar Lapangan Jam Gadang yang masyhur itu. Yang di utara
memberikan jarak dengan Mesjid Raya, yang berbeda dengan Mesjid Agung. Mesjid Raya bersifat
kosmopolitan, tidak dimiliki oleh suatu komunitas teritorial seperti mesjid jamik. Ia dikunjungi para
pedagang dan pengunjung. Di depannya ada papan pengumuman menerangkan tentang siapa yang
akan memberikan ceramah pada tiap hari Jumat, dan darimana ia berasal, yang bisa sejauh Jakarta
atau Medan. Mesjid Agung Bukittinggi terletak di dekat Pasar Bawah. Inilah mesjid resmi untuk
seluruh kota. Disinilah kedudukan Majelis Ulama Indonesia dan hadir para pejabat daerah dalam
upacara-upacara resmi. Hanya ada satu Mesjid Raya dan satu Mesjid Agung, tapi Mesjid Jamik ada
banyak. Mesjid Jamik ada pada pusat-pusat komunitas teritorial.
Lapangan di antara Mesjid Raya dan Pasar Atas dikelilingi oleh antara lain bioskop dan barbershop,
yang masih menggunakan kursi besar yang dapat disetel turun-naik, dibaringkan atau ditegakkan
untuk kenyamanan sang pencukur (bukan yang dicukur!) Pelapis kursi memang tak lagi kulit asli,
melainkan tiruan berwarna merah maroon tua, seperti darah kerbau yang mengental. Tepi-tepinya
masih berlapis stainless steel. Ada sepuluh kursi demikian berderet. Cermin berderet pula di depan
setiap kursi. Selebihnya dinding berwarna coklat tua. Yang bukan laki-laki memang susah merasa
nyaman disini. Tokh ada beberapa ibu yang mengantar anaknya dicukur.
Di lapangan ini, yang kini menjadi tempat parkir mobil dan bendi, berhulu Jenjang Empatpuluh.
Jenjang ini terpenting dan terbesar di Bukittinggi. Lebarnya rata-rata 8 meter, anak jenjangnya 100.
Namanya empat puluh karena kabarnya dibentuk oleh empat puluh nagari yang bersepakat.
Seluruh lantainya berwara merah darah. Ujung hilirnya bertemu dengan Jalan Sukarno-Hatta yang
berarah ke timur. Pada nomor 34 jalan ini terdapat rekonstruksi Rumah Bung Hatta yang dijadikan
museum. Pasar Bento dan Pasar Bawah mengapit jalan tersebut pada hilir Jenjang Empatpuluh. Bento
adalah sejenis rumput makanan kuda.
Di Pasar Atas juga berhulu beberapa jenjang lain. Jenjang Gudang, terdiri dari 80 anak jenjang
selebar rata-rata 3 meter, menghilir ke selatan. Ke arah timur, terdapat jenjang gantung yang
sebenarnya berbentuk jembatan menyeberangi jalan, menurun ke Pasar Aur Tajungkang yang berarti
bambu terjungkit. Masih pada lereng timur ini terdapat Jenjang Lereng, yang disebut juga Jenjang
Sek(s) dengan 43 anak jenjang selebar 3 meter. Disebut demikian karena sangat curam, sehingga
sering sesuatu yang tak dikehendaki nampak dari bawah ketika ada yang mendaki. Nama itu disebut
orang dengan air muka biasa saja.
Pada lereng timur ini terdapat juga sebuah lerengan yang menyusurinya dari bawah ke atas, dari utara
ke selatan, hingga ke Lapangan Jam Gadang. Sepanjang lerengan inilah Pasar Lereng mengambil
tempat. Di tengah-tengahnya terdapat dataran yang ramai oleh lapau-lapau yang menjual nasi kapau.

169
Biasanya ditunggui oleh seorang perempuan yang duduk di ketinggian, dengan berbagai macam
makanan berjejer di depannnya berjenjang-jenjang menurun ke arah meja makan para tamu. Dia
memegang sendok besar yang tungkainya panjang sekali, sehingga bisa menjangkau semua wadah
lauk yang mengelilinginya.
Di atas lereng berderet rumah-rumah tua dari awal abad ke-20, yang merupakan vila merangkap
kantor dagang tempat tinggal para penghulu dari nagari sekitar bila datang membawa urusan ke
Bukittinggi. Pada dinding di bawah atap dari salah satu rumah tertera huruf timbul Villa Sianok
dalam gaya art-deco. Empat abad sebelumnya, pada tahun 1518, Duarte Barbossa, sebagaimana
dikutip oleh M. Nur (2002), menulis Orang Melayu menjalankan kehidupan yang menyenangkan,
tinggal di dalam rumah yang besar di luar kota dengan pekarangan yang luas, mempunyai kebun
buah-buahan, taman dan tangki air, memiliki kantor dagang di kota
Ke arah barat terdapat dua jenjang. Jenjang Minang menghubungkan Pasar Atas dengan Kampung
Cina , ialah Jalan A. Yani sekarang. Lebarnya enam meter. Anak jenjangnya berjumlah 21. Jenjang
Pesanggerahan yang beranak jenjang 72 dan lebar tiga meter, menghubungkan Kampung Cina pada
ujung utara dengan Bukit Sarang Gagak, tempat museum dan kebun binatang berada. Dari jumlah
anak jenjangnya, jenjang-jenjang ini nampak seolah melelahkan. Tetapi ia justru telah menjadi suatu
sistem dan institusi yang merupakan surga bagi para pejalan kaki. Sebab ia memberikan jalan pintas
terpendek yang strategis, dari satu pusat ke pusat kegiatan lain yang sangat beragam satu sama
lainnya. Paling penting: tidak ada kendaraan bermotor yang mengganggu. Pemisahan antara pejalan
kaki dan kendaraan bermotor, yang kini cita-cita semua perancang kota yang progresif, terjadi
alamiah.
Dengan sendirinya seluruh tempat di Atas terjangkau dengan mudah, melalui perspektif yang sangat
berbeda dengan yang diberikan oleh jalan-jalan biasa. Jalan biasa senantiasa menyusur, sementara
jenjang memintas. Maka ruang kota dialami secara lebih penuh, melalui keragaman perspektif yang
dramatis. Ada perbedaan kecepatan dan momen-momen perhentian. Menyusur berarti melihat kirikanan. Memintas berarti melihat juga atas-bawah. Bangunan-bangunan kelihatan bukan hanya dari
depan, tetapi juga dari samping, bawah dan atas. Demikianlah atap bergonjong dan kubah mesjid
menjadi lebih bermakna. Pohon-pohon terlihat bukan hanya dari bawah dengan mendongak, tetapi
juga dari atas dengan menunduk. Demikianlah struktur batang, dahan dan daun menjadi komposisi.
Kota menjadi obyek tiga dimensi bukan hanya karena dipandang dari luar, melainkan karena
dimasuki dan dialami demikian dari dalam dan dari luar berganti-ganti. Teristimewa karena jenjangjenjang bukan hanya terdapat sebagai ruang ruang khalayak yang ramai, tetapi juga di dalam
lingkungan-lingkungan perumahan yang tersebar. Topografi ditegaskan. Ruang hadir terus menerus,
karena kesadaran akannya tak terelakkan ketika orang terus menerus merasakan sensasi ketinggian
dan perspektif yang berbeda.
Jembatan Limpapeh adalah suatu tanda bahwa hal-hal baru dapat dibuat dengan benar, sejati
menambah kepada genius loci yang ada. Sebab ia menambah lagi satu perspektif dalam mengalami
ruang kota, dari atas jalan utama kota yang sibuk yang dilintasinya. Ia juga makin melengkapi
jaringan jalan khusus pejalan kaki yang bebas gangguan kendaraan bermotor, dengan
menghubungkan kedua belahan utama kota di bagian utara, yaitu Bukit Jirek dan Bukit Sarang
Gagak. Di bawah jembatan ini, pada Jalan A. Yani terdapat sebuah toko buku bekas Tilas,dengan
koleksi dalam bahasa Jepang, Inggeris, Belanda, Perancis, Jerman, Swedia, dan lain-lain. Boleh tukar
tambah buku bekas di sini. Cabangnya ada satu, di Jalan Teuku Umar, 150 meter saja darinya.
Di Bukit Cangang, salah satu permukiman tertua, jenjang dan lerengan bekerjasama membentuk
pengalaman tersebut pada skala yang lebih kecil. Pada salah satu titik tertinggi, sebuah rumah putih
menghadap ke selatan, menyapa Gunung Marapi dan Gunung Singgalang tanpa terhalang. Di
sekitarnya lerengan-lerengan melewati halaman-halaman rumah penuh warna-warni bunga. Di sana
sini ruang terbuka dikelilingi beberapa rumah. Masing-masing pada ketinggian berbeda, dan dapat
dilihat dari ketinggian berbeda. Ada juga kuburan keluarga yang terawat rapih. Gunung dan ngarai
mengintip pada ujung-ujung aneka ragam perspektif. Sebagian rumah kosong, sebagian lagi disewa
dari pemilik yang pergi merantau:
Ke rantau madang ke hulu
Berbunga berbuah belum

170
Merantau bujang dahulu
Di kampung berguna belum.
(Dari Norhalim Ibrahim, Negeri yang Sembilan, 1995).
Meski merantau, orang Minang tak menjadi kolonial yang imperialis, sebab dimana bumi dipijak
disitu langit dijunjung. Perantau menyesuaikan diri dengan rantaunya, bukan memaksakan
kehendaknya.
Hari pasar di Bukittinggi adalah Rabu dan Sabtu. Pada hari-hari itu, para petani langsung membawa
hasilnya ke pasar-pasar, sehingga keramaian berlipat ganda, dan meluap ke jalan-jalan yang kalau
hari biasa bukan pasar. Terjadi transaksi langsung antara para pengumpul dan petani. Hari-hari lain,
bukan berarti pasar tutup, melainkan lebih banyak dihidupi oleh pedagang-pedagang tetap. Pada hari
pasar, jenjang-jenjang penting seperti Janjang Empatpuluh menjadi hidup sebagai pasar sementara.
Janjang Empatpuluh berlebar delapan meter atau lebih pada tempat-tempat tertentu. Hanya empat
puluh anak jenjang pertama dari atas yang berlebar biasa (25-30 cm), sedang lainnya cukup lebar
untuk digelari lapak pedagang. Dan demikianlah keramaian kita saksikan, dengan lapak-lapak yang
menjual berbagai barang yang tak ditemukan di hari biasa. Cobalah VCD celoteh lapau, ialah
obrolan humoris dari kelompok-kelompok humoris setempat, misalnya Andre Ajo (HP. 08126701716
dan 08158039400), yang juga bermain sinetron Cintaku di Rumah Susun (Indosiar) dan Tuyul
Milenium (SCTV), One Ida (HP 08153516242 atau 0751-55393) dan Mak Uniang Yuharmi (Hp.
0811668429).
Seperti pada umumnya jalan, di sepanjang janjang-jenjang besar berderet juga bangunan-bangunan
yang membuka ke arahnya, baik rumah biasa maupun berbagai toko, penjahit dan salon kecantikan, di
samping mesjid dan mushola. Pada Jenjang Minang no. 4-6 terdapat pandai sepatu Yap Yek, yang
telah menghasilkan sepatu buatan tangan dengan merk Yap Yek sejak tahun 1928, tiga perempat abad
lampau. Sepatu produksi Yap Yek ini solnya tebal, baik yang dari kulit maupun dari karet, jahitannya
kuat dan rapi, lemnya dijamin seumur-pakai. Rancangannya mengikuti jaman. Ada yang minimalis
dengan garis kuat dan warna tegas. Tapi toko dan bengkel kerja yang sekarang diurus generasi ketiga
in juga penunjang amat penting bagi berlanjutnya adat-istiadat Minang, sebab ia juga membuat
terompah tradisional Minang. Katanya ia termasuk salah satu produsen terbaik di Sumatera barat.
Semua nomor ada. Kalau kebetulan tak tersedia nomor yang dikehendaki, kaki akan diukur saja, lalu
dibuatkan mengikuti contoh rancangan yang disetujui, lalu dikirim sampai ketempat, maksimal dalam
tiga minggu. Tak dibungkus kotak yang mewah, sepatu hanya dibungkus kertas koran saja. Tapi
dipastikan ada merk Yap Yek yang tegas terbenam di alas sebelah atas dan bawah. Telponnya: 075231834, hubungi Arief Samalo (A Yauw) atau isterinya.
Menuruni Jenjang Minang, lalu menyusuri Jalan A Yani beberapa langkah ke bawah, akan ditemui
rumah makan Monalisa. Dalam musim buah yang baik, April hinga September, ia terkenal dengan
sajian buah-buahan yang terdiri dari dua puluh jenis atau lebih. Beberapa darinya dicari di hutan.
Sirup kental buah markisa disiramkan di atasnya. Ketika dimulai pada tahun 1966 namanya
Mailing. Tahun 1967/1968 harus ganti nama karena nama Cina dilarang Orde Baru.
Di pasar, carilah juga Galamai, ialah semacam dodol yang dibungkus daun pisang kering. Kata orang
Payakumbuh, ini berasal dari Payakumbuh. Kue ini mungkin punya sejarah yang menarik, sebab kue
yang sama dengan nama yang sama juga populer di Thailand. Di sana dikatakan berasal dari Koh
Samui, tetapi lazim di seluruh negeri. Teori tentang asal-usul orang Minang memang tak selesai. Pada
pokoknya ada dua penjelasan. Yang pertama mengatakan orang Minang berasal dari Melayu Tua
yang turun dari Semenanjung Malaka ke Riau, lalu menyusuri sungai-sungai ke tanah Minang.
Penjelasan lain mengatakan justru sebaliknya: orang Minang berasal dari India Selatan yang mendarat
di pantai barat, lalu naik ke dataran tinggi, dan kemudian turun ke pantai timur, Riau, terus
menyeberang ke Semenanjung Malaka. Orang Minang sendiri punya tambo yang mengatakan lain:
nenek moyangnya turun di Gunung Merapi, lalu bermukim pertama kali di Pariangan, sebuah nagari
tertua dalam sejarah Minang. Seorang antropolog dari Madras University, Hussain Nainar,
mengatakan bahwa Melayu bisa jadi berasal dari kata malai, dari Bahasa Tamil yang artinya
gunung.

171
Kota memang berhulu pasar. Dan pasar berhilir kota. Demikianlah secara fisik dan institusional asalusul Bukittinggi. Kota pasar lah yang merupakan kota masyarakat praja/sipil. Ada masanya kota-kota
ini, seperti gambaran Anthony Reid, dominan sebagai pusat perkembangan peradaban di Nusantara,
ialah dalam abad-abad niaga, abad ke-15 sampai ke-17. Kalaupun beberapa kota akhirnya menjadi
pusat-pusat monopolistis dan imperium baru, itu merupakan perkembangan lebih lanjut, yang
merupakan akibat dari globalisasi di bawah todongan meriam, yaitu kolonialisme. Sebelum itu terjadi,
kota-kota pantai di Nusantara sangat egaliter dan merupakan pusat-pusat pertukaran yang bebas dan
pragmatis. Yang sangat berlainan adalah kota-kota pedalaman seperti ibukota Mataram dan
Majapahit, yang dibangun karena penguasa menghendakinya di situ. Sultan Agung malah sengaja
menutup diri terhadap perdagangan dengan dunia luar, sehingga memperkukuh feodalisme introvert.
Bukittinggi memang kota pedalaman pada dataran tinggi, dalam wilayah pusat kebudayaan
Minangkabau, tetapi genesisnya jelas karena pasar.
Nagari juga tidak memandang wilayah dalam dikotomi desa dan kota. Sebuah nagari adalah kesatuan
teritorial sekaligus ekologis, terdiri dari kawasan permukiman yang padat dan pertanian di
sekelilingnya. Menurut Rudi Irawan dari Forum Warga Agam Bukittinggi, Pasar Atas dulu bernama
Pasar Sarikat, karena dibentuk sebagai milik bersama oleh 40 nagari di Luhak Agam. Konsepsi
kota sebagai pasar milik bersama sejumlah nagari tidak sepenuhnya sejalan dengan konsepsi kota
otonom. Permintaan pelebaran batas administrasi Kota Bukittinggi karena itu mendapat tentangan
dari warga Agam, karena dapat mengacaukan integritas sistem nagari. Kota dan Luhaknya (yang
menjadi kabupaten) berhubungan seperti anak dan induknya, bukan otonom satu terhadap lainnya.
Dualisme kota dan kabupaten di dalam sistem administrasi negara Indonesia masih akan terus
berlanjut dengan semua keganjilannya. Kabupaten merasa harus punya pusat pemerintahan sendiri
di luar kota otonom yang biasanya berada di tengah-tengahnya. Kota-kota merasa tidak punya ruang
gerak untuk tumbuh. Padahal yang sebenarnya terjadi adalah mereka tidak mengenal konsep landmanagement yang terpadu dengan tata-ruang secara efektif. Kabupaten Agam mengambil kesempatan
memberi ijin pembangunan deretan rumah-toko (ruko) di perbatasan dengan kota Bukittinggi, sambil
memboikot perluasan kota itu sendiri. Kota besar Jakarta malah merasa harus memperluas diri ke
laut, untuk menciptakan daratan sendiri, karena tak mampu melihat dan merencana bersama seluruh
JABODETABEK sebagai satu kesatuan ekonomi, kependudukan dan ekologis. Seluruh Kabupaten
Tangerang sudah merupakan kawasan urban yang sangat besar, sebuah kota horisontal yang sangat
tidak efisien.
Kota mengembangkan suburbanisasi di wilayah pinggirannya --dengan kantor walikota baru, terminal
bus yang terus menerus dijauhkan dari pusat kota, dan lain-lain-- karena tidak mampu meningkatkan
kapasitas kawasan perkotaan yang sudah ada, yang sebenarnya masih sangat kosong. Sedangkan
kabupaten ingin menciptakan pusat kota baru, di luar kota yang dianggap saingannya. Alhasil terjadi
suburbanisasi yang tak terpecah belah, kacau dari segi transportasi, rusak dari segi lingkungan,
tercerai berai secara sosial. Entah kapan dualisme ini akan dihentikan, demi pembentukan kota yang
ramah lingkungan, memudahkan penduduk dan mendukung pembentukan masyarakt yang cukup
kohesif. Mungkinkah konsep nagari akan menyumbangkan sesuatu dalam hal pengelolaan
lingkungan yang berkelanjutan yang berarti di masa depan?
Jam
Duduak surang basampik-sampik, duduak basamo balapang-lapang.
Ada dua tafsir untuk pepatah di atas. Pertama memetuahkan toleransi. Kedua mengingatkan
bahayanya orang yang penyendiri, nanti berpandangan sempit; dan menganjurkan pergaulan, berada
bersama dan berinteraksi dengan banyak orang, supaya berpandangan luas dan lapang. Dua-duanya
memberi inspirasi kalau direnungkan sambil duduk di Lapangan Jam Gadang. Lapangan ini memiliki
ukuran yang mungil, seperti sebuah kebun di halaman rumah orang yang sangat kaya. Hanya 40 x 60
m2. Ukuran ini menyebabkan semua orang bisa melihat yang lain, dari sudut manapun, kecuali kalau
sengaja bersembunyi di balik pohon atau di bawah tangga alas Jam Gadang. Jadi justru ada kebebasan
yang rileks, santun, tak khawatir bakalan salah memandang ke yang tak dikehendaki, sambil juga tak
akan terdorong untuk berbuat sesuatu yang tak pantas. Harap jangan salah duga. Justru di sini banyak
pasangan muda duduk berduaan, tetapi juga anak-anak bermain dan orang tua menjaganya. Yang

172
pacaran tidak malu-malu, yang lainnya tidak curiga, sebab semuanya dalam kewajaran. Karena
ukuran.
Sisi tenggara lapangan ini membuka ke dataran rendah, ke arah Gunung Marapi. Atap-atap rumah,
sebagian bergonjong, mengisi dataran ini, makin jauh makin renggang hingga bertemu sawah ladang
yang terhampar hingga kaki Gunung Merapi. Dalam masa bulan Oktober hingga April, matahari
terbit mengintip dari sisi kiri gunung ini, sebab Bukittinggi hanya kurang dari setengah derajat di
selatan khatulistiwa. Jam Gadang ada pada 001818.4 Lintang Selatan. Jadi matahari pagi dibulanbulan itu nampak agak di tenggara.
Lapangan ini membuka hubungan dengan alam untuk warga Bukitinggi, serta membentangkannya
seluas-luasnya. Bukan saja karena dirinya sendiri adalah alam, tetapi ia merujuk ke alam yang
terkembang lebih lapang, sampai ke Gunung Merapi, matahari terbit dan langit biru. Hubungan ini
tanpa terasa makin menghilang dari keangkuhan kota-kota besar. Ketika terasa, seringkali hanya pada
saat hubungan itu bersifat negatif, ialah misalnya ketika banjir dan tanah longsor. Di Jakarta, yang
sebenarnya ada 30 kilometer garis pantai, orang hampir tak pernah lagi melihat laut tanpa upaya yang
besar. Laut juga berarti horison dan kosmos, yang penting untuk mengingatkan asal muasalnya dari
perdagangan dan sekaligus sifat kosmopolitannya. Ada tiga belas aliran sungai, tetapi bahkan orang
tak sadar ketika menyeberanginya. Ciliwung hanya disadari kehadirannya ketika meluap. Sedangkan
ketergantungan manusia kepada alam sebenarnya tidak pernah berkurang, di manapun dia berada,
dalam lingkungan teknologi semaju apapun. Hanya jaraknya yang menjadi makin jauh. Maka
alangkah puitisnya ketika hubungan itu diingatkan kembali dalam suatu ruang dimana terjadi pula
hubungan dengan sesama warga sebagai homo homini socius. Seorang kenalan, Maarten Hajer
menulis sebuah buku, In Search of Public Realm. Katanya, intisari dari ruang khalayak yang berhasil
adalah ketika ia menjadi public domain, ialah ketika ia bukan saja bebas di masuki, tetapi juga
sungguh-sungguh memungkinkan terjadinya pertukaran bukan hanya pertemuanantara berbagai
kelompok sosial. Ruang khalayak yang demikian dinikmati sekaligus sebagai tempat yang akrab dan
asing. Akrab karena batas-batas yang jelas sudah diketahui. Asing karena senantiasa menemukan
pertukaran baru. Nilai strategis ruang demikian, seperti dicontohkan oleh Lapangan Jam Gadang,
bukan karena sentralitasnya, melainkan karena aksesibilitasnya. Jam Gadang dikelilingi oleh
penduduk yang berjarak dekat serta mudah mencapainya cukup dengan berjalan kaki. Tanpa ruang
seperti ini, dapat dikatakan tidak ada masyarakat.
Sebenarnya jam dan menara adalah sesuatu yang cukup ganjil bagi sebuah kota di Indonesia,
meskipun di dalam Bukittinggi ia sangat pada tempatnya untuk mendapatkan pandangan
menyeluruh kota ini. Menara jam tentu saja adalah seratus persen aikon kota Eropah. Ketika jam itu
dihadiahkan oleh Ratu Belanda pada tahun 1926, memang ada suatu perubahan sangat besar sedang
terjadi: kesadaran baru tentang waktu dan takdir yang menghancurkan kolonialisme. Pada Januari
tahun itu Hatta mulai memimpin Perhimpoenan Indonesia (PI), dan makin menegaskannya sebagai
partai politik untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Jam Gadang memang tidak berlonceng
untuk dengan nyaring menandai jaman baru. Tetapi mesjid di Bukitinggi pun tak mengeluarkan azan
yang nyaring. Jam itu sendiri, waktu, adalah simbol kesadaran jaman yang tegas. Setelah
pemberontakan PKI yang gagal pada bulan November 1926, konvensi Hatta-Semaoen di awal
Desember 1926 mendorong gagasan untuk mendirikan partai baru yang bersifat nasional. Pada tahun
1927 Sukarno muncul sebagai pemimpin melalui PNI dan kemudian PPPKI (Permoefakatan
Perhimpoenan-perhimpoenan Politik Kebangsaan Indonesia). Pendek kata, sejak 1926 perjuangan
kemerdekaan menjadi pergerakan politik nasional yang makin terorganisasi dan bersatu, dengan rasa
kebangsaan yang makin kuat dan menyebar di kalangan rakyat.
Sebagai simbol, Jam Gadang tak henti-henti dijadikan alat propaganda rejim. Atapnya dua kali
berubah bentuk. Aslinya, sebagaimana dirancang oleh arsitek Yazid and Sutan Gigi Ameh, ia berupa
kubah yang lancip. Tentara pendudukan Jepang menggantinya dengan atap lengkung Jepang.
Sekarang, tentu saja ia beratap gonjong. Entah mengapa batang menara itu sendiri tak mengalami
perubahan berarti. Mungkin karena dirasakan netral, tak menyampaikan pesan apa-apa, seolah-olah
hanya cara untuk mencapai puncaknya, yang khusus menyampaikan pesan.
Ukuran Menara Jam Gadang sebenarnya kecil saja, sesuai dengan lapangannya. Tetapi pada masa itu
tingginya yang 26 meter telah menguasai seluruh kawasan, paling tinggi di antara semua, termasuk
pohon-pohon yang ada. Apalagi letaknya di atas sebuah bukit.

173
Lima Pohon Bung Hatta
Pohon-pohon tertinggi di Bukittinggi adalah enam pohon pinus yang berjejer di median tengah jalan
yang menghubungkan Atas dan Bawah. Bawah ini adalah bagian kota yang dikembangkan di selatan
sebagai perluasan kota kolonial. Karena datar, jalannya lurus-lurus, membentuk blok-blok persegi.
Di antara pohon-pohon pinus tersebut dan Lapangan Jam Gadang berdiri Istana Bung Hatta. Di
sudutnya, menghadap ke jalan, sebuah patung Bung Hatta baru saja diresmikan pada tanggal 21
Desember 2003 oleh Presiden Megawati. Tingginya lima meter di atas pedestal tiga meter. Di
sekilingnya terdapat janjang-janjang dan pelataran untuk duduk-duduk. Semua dinding berlapis
keramik hitam. Sama dengan wibawa Bung, tetapi tak sekokoh watak Bung, yang lebih tepat
dilambangkan dengan batu, misalnya granit hitam atau abu-abu. Patung ini sungguh besar dan tinggi
bagi Bung yang suka merendah dan sederhana. Lalu bagaimana dengan patung dada Bung yang
menghadap ke Jam Gadang, yang dimewahkan dengan warna emas itu?
Tiga pokok mahoni besar ditebang pada sudut jalan untuk lebih menampakkan Bung tegak berdiri di
atas lereng. Satu lagi pokok ditebang di tepi, untuk memberi ruang bagi jenjang menuju ke kaki Bung.
Padahal pokok-pokok itu berjarak 6 meter satu dari lainnya, yang sebenarnya cukuplah untuk tempat
jenjang tanpa harus menyingkirkan satu pokok pun.
Mudah-mudahan, yang menebang itu tak lupa petuah Bung, Tanamlah sedikitnya lima pohon untuk
setiap pohon yang ditebang. Tentu saja ketika Bung mengujarkan itu, tak ada soal besar dengan
lingkungan. Belum ada industri kayu lapis. Banjir tak sehebat dan sekerap sekarang. Maka Bung tak
langsung bicara tentang lingkungan, melainkan lebih tentang soal kearifan dan kehematan, tentang
investasi setelah konsumsi, tentang ekonomi yang berkelanjutan, kata putri bungsu Bung, Halida
Nuria, pada tanggal 28 desember 2003 di hadapan anak-anak yang mengunjungi rumah Bung di Jalan
Diponegoro 54, dalam rangka menyusuri Peta Hijau Menteng. Biarlah kami meminjam petuah Bung
untuk kepedulian kami sekarang: pohon-pohon di kota-kota. Masalahnya bukan saja apatah pokok
boleh ditebang, tetapi juga apatah perlu ditebang, mengingat selalu ada solusi tanpa menebang.
Pohon berbiomassa besar penting untuk menyerap CO2, merindangi, menunda jatuhnya air hujan ke
tanah, dan akarnya menahan air di tanah. Pohon adalah bagian dari watak kota yang dijalani dengan
kaki, yang mengandaikan transportasi umum yang baik serta tata kota yang memberikan banyak
kemungkinan dalam jarak yang terjangkau kaki. Maka pohon bukan saja berarti sayang alam, tetapi
kehadirannya di dalam kota akan dengan sendirinya menandai apatah kota itu layak dihuni secara
sehat. Belanda-lah yang pandai menanam pohon. Setiap kali membangun jalan, maka pohon
merupakan bagian tak terpisahkan, otomatis menjadi bagian dari proyek jalan. Sekarang pohonlah
yang selalu ditebang bila ada pembangunan apa saja, termasuk jalan.
Air yang jernih
Tempurung yang ceper
Seperti pohon di tengah padang
Uratnya tempat bersila
Batangnya tempat bersandar
Dahannya tempat bergantung
Buahnya untuk dimakan
Daunnya untuk berlindung
(Mohd. Yusof Md. Nor, 1994).
Dalam perjalanan ke Museum Bung Hatta, seorang sahabat menampak buku Anne and John
Summerfield, eds. Walk in Splendor, Ceremonial Dress and and the Minangkabau, UCLA Fowler
Museum of Cultural History, Los Angeles, Textiles Series No. 4, di pangkuan seorang pedagang kaki
lima di Jalan Sukarno-Hatta. Kontan sahabat saya membujuknya untuk menjual buku tersebut.
Pedagang itu menjawab bahwa ia baru bisa mempertimbangkan tawaran itu kalau anaknya sudah
tamat dari Universitas Gajah Mada, Jogja. Ia menjual buku-buku kecil dalam bahasa Minang tentang
adat-istiadat berpakaian dengan bersumber pada buku itu, untuk hidup dan membiayai sekolah
anaknya. Ia adalah salah satu nara sumber utama untuk buku tersebut.

174
Rumah abu-abu di Jalan Sukarno-Hatta No. 34 itu hasil rekonstruksi pada tahun 1994-1995. Inilah
tempat lahir dan kediaman Bung Hatta hingga remaja. Susunan ruangnya, serta tampak mukanya
persis simetris, seperti kepribadian Bung Hatta yang selalu seimbang. Di rumah ini ada istal kuda,
sebab paman Bung Hatta mempunyai usaha jasa kurir dan dipercayai oleh pemerintah kolonial untuk
mengelola jasa pos.
Mengapatah kita berdebat begitu rumit, sementara Bung Hatta merupakan contoh yang begitu terang,
dari kebenaran yang begitu sederhana, bahwa negeri baik karena pemimpinnya:
Elok nagari dek penghulu
Elok Musajiek dek tuangku
Elok tapian dek nan mudo
Elok kampuang dek nan tuo
(dari H. Idrus Hakimy Dt. Rajo Penghulu, 1984).
Ketika berlangsung Kongres Kebudayaan di bulan Oktober yang lalu, orang menggelar beberapa
spanduk yang bertuliskan ucapan Bung Hatta Berikanlah bola kepada yang berpeluang mencetak
gol. Alangkah tepatnya ucapan itu untuk suatu bangsa yang kini banyak pemimpinnya selalu merasa
lebih pemimpin daripada yang lain.

175

Pelestarian Jakarta Kota:


Tidak Berjalan Karena Tidak Libatkan
Warga
115

Sejak dikeluarkannya SK Gubernur DKI Jakarta 11/1972, tentang penetapan Jakarta Kota sebagai
kawasan cagar budaya, sampai dengan hari ini aneka-ragam proyek pelestarian kawasan tersebut
tidak ada yang mengentas seperti diharapkan. Studi demi studi dilakukan dan berbagai rekomendasi
serta anggaran diusulkan, terkadang beberapa proyek dicanangkan, tetapi tidak satupun yang
menjelma menjadi kenyataan yang berarti.
Sementara itu keadaan makin memburuk. Kali Besar sama sekali tidak lagi bisa disebut kali, karena
airnya telah berhenti mengalir, berwarna hitam, dengan sampah menumpuk. Baunya menyengat.
Orang normal tidak mungkin berjalan di kakilima di sepanjangnya, karena tidak akan tahan baunya.
Makin banyak bangunan yang rusak, dibiarkan rusak, dijarah, atau dijadikan tempat kegiatan maksiat
seperti judi dan pelacuran, dan makin banyak pula yang sekedar menjadi tempat nginap para tunawisma. Ada preman yang memungut bayaran untuk ini. Kaca jendela yang berumur lebih dari dua
ratus tahun dipecahkan hanya untuk memasukkan selang ac. Begitu juga tembok yang berumur tiga
abad. Kawasan ini juga merupakan konsentrasi kemacetan akibat ngawurnya traffic management.
Praktis kawasan semakin tidak memiliki value dan kualitas lingkungannya menurun drastis.
Sedangkan peperintah tidak berbuat apa-apa yang nyata, seolah sudah puas hanya dengan
mengeluarkan SK tersebut. Tanpa melakukan tindakan nyata mewujudkan SK tersebut, bukankah
pemerintah malah kehilangan kredibilitasnya, karena membuktikan dirinya sebagai macan kertas
yang tidak bertanggung jawab dan tidak mampu (impoten)?
Sebenarnya apa yang terjadi? Mengapa tidak ada perubahan? Apakah kita kurang menghargai salah
satu peninggalan sejarah Jakarta yang paling penting, karena merupakan cikal-bakalnya hingga
menjadi metropolis sekarang? Jakarta Kota adalah juga bagian yang paling berkarakter dibandingkan
dengan seluruh bagian kota Jakarta lainnya. Sampai beberapa waktu yang lalu, ia adalah juga salah
satu peninggalan kota kolonial yang paling utuh sebagai suatu kumpulan di dunia. Sekarang agak
meragukan. Padahal Jakarta Kota sebenarnya bahkan memberikan gambaran tentang beberapa prinsip
tata kota renaissance, dan kabarnya (masih harus lebih dibuktikan) sempat menjadi ilham bagi
perluasan Amsterdam di abad ke-17. Jakarta Kota adalah peninggalan cagar budaya yang
membuktikan bahwa sejarah berkembangnya kota Jakarta bukan hanya sekedar dongeng, tapi fakta
keras.
Ketika mengajak warga setempat (pemilik dan pengguna/penyewa gedung) untuk aktif, kami sejauh
ini banyak menghadapi keengganan. Terdapat sikap apatis karena merasa selama ini ditelantarkan,
tidak pernah diajak bicara sama sekali oleh begitu banyak pakar yang membuat aneka-ragam rencana
115

Ditulis bersama Ela Ubaidi, pemilik sebuah bangunan bersejarah di Jakarta Kota

176
dan rekomendasi (yang akhirnya tak satupun yang sungguh mengentas). Bahkan ada kesan sengaja
ditinggalkan. Ada juga pengalaman kami malah didorong, bukannya untuk melestarikan bangunan
tua yang kami miliki, tetapi malah dianjurkan oleh pejabat tertentu agar membongkarnya dan
membangun bangunan baru yang lebih besar dan tinggi. Banyak juga warga yang merasa percuma,
tidak mungkin berbuat sesuatu yang berarti karena pemerintah tidak peduli, atau/dan karena keadaan
sudah terlalu rusak sehingga merasa tidak mungkin diperbaiki lagi.
Dari banyak kemungkinan yang menjadi sebab ketiadaan perubahan, yang sangat menyolok pertamatama adalah rendahnya pemahaman yang sama akan pentingnya Kawasan Cagar Budaya Kota Tua
Jakarta dilestarikan sebagai kawasan yang memiliki morfologi khusus, yang tidak ada duanya dan
tidak akan terulang lagi, dengan segenap potensi arsitektur, ekonomi, sosial dan budaya.
Karena rendahnya pemahaman itu, sebagian warga menganggap peraturan-peraturan cagar budaya
menjadi beban yang merepotkan dan beranggapan kawasan lebih pantas menjadi museum yang
membosankan, sehingga komunitas menjadi sangat berkurang karena meninggalkan kawasan ini.
Berbarengan dengan itu konsentrasi pembangunan lebih diarahkan ke kawasan lain, atau ketika ada
yang diarahkan ke Jakarta Kota malah merusaknya dengan bentuk dan fungsi yang tidak sesuai.
Secara sadar atau tidak sadar kawasan yang ditinggalkan berubah menjadi kota mati. Banyak
bangunan bernilai arsitektur tinggi tidak berfungsi dan terpelihara, sehingga akhirnya menjadi hunian
para tuna wisma. Spontanitas dalam menyelenggarakan kegiatan sosial masyarakat nyaris hilang
karena kawasan ini telah menjadi rawan kriminalitas yang menimbulkan rasa tidak aman.
Banyak warga tidak mengerti apa-apa, dan karenanya menjadi apatis, karena tidak pernah dilibatkan
dalam berbagai studi dan perencanaan yang pernah dilakukan tetapi tidak pernah dilaksanakan.
Timbul kesan program pelestarian lebih merupakan agenda aparat instansi tertentu dan para pakarnya
yang bertindak sebagai konsultannya, bersama-sama menjadikannya obyek untuk membenarkan
proyek dan mendapatkan anggaran. Tidak nampak ada dukungan kolaboratif antara berbagai instansi.
Masing-masing kelompok, instansi dan konsultannya, membuat rencananya sendiri. Semuanya
berlalu, sementara warga, jangankan jadi penonton, tahu sedikitpun tidak pernah tentang rencana
satupun dari instansi-instansi itu, seolah-olah mereka ditakdirkan hanya untuk menjadi penerima saja
tanpa tahu apa yang direncanakan dan yang akan dilakukan.
Ada banyak potensi dan kemungkinan yang dapat dikembangkan di Jakarta Kota. Kami yakin.
Karena itu kami bukan sekedar menerima warisan, tetapi memang dengan aktif membeli bangunan
tua di Jakarta Kota, dan ingin melestarikan serta me-revitalisasi-nya. Ada banyak juga yang dapat
kami lakukan sendiri-sendiri. Tetapi masalahnya apapun yang kami lakukan akan berpeluang
menjadi rusak dan tidak berarti kalau pemerintah 1) tidak dengan tegas mengambil tindakan
melindungi kawasan ini dari perusakan oleh pihak tertentu, 2)tidak bekerjasama dengan kami
membuat perencanaan yang matang yang memadukan kemampuan kita semua, dan 3) tidak
menunjukkan keinginan untuk melakukan investasi pada sarana dan prasarana yang ada di situ.
Menurut kami, meminta pemerintah melakukan itu semua bukanlah tuntutan yang berlebihan,
sebab yang kami tawarkan adalah role-sharing. Kami berbuat sesuatu, pemerintah pun harus berbuat
sesuatu. Demikian juga masyarakat luas harus diajak berperan dalam tindakan dan peran yang sesuai.
Dasar dari semuanya: Jakarta Kota adalah mutiara milik bersama, yang hanya ada sekali dan satusatunya. Ia adalah cikal bakal kota, bukti tak tergantikan bagi sejarah dan identitas kota ini.
Secara kongkrit, secara terus menerus harus dilakukan upaya menciptakan pemahaman masyarakat
bahwa lingkungan cagar budaya merupakan lingkungan yang memiliki sumber
daya dengan nilai potensi ekonomi, sosial dan budaya yang tinggi, dan ini harus dipahami sebagai
milik bersama masyarakat Indonesia. Ini dapat dilakukan dengan terus menerus menerbitkan
informasi dan mengajak masyarakat terlibat secara interaktif dalam setiap perkembangan tentang
Jakarta Kota. Keterlibatan ini kemudian secara bertahap ditingkatkan menjadi makin dalam hingga
turut menentukan visi, rencana dan program apa yang akan dilaksanakan pada Jakarta Kota. Hal ini
dapat dilakukan misalnya dengan suatu forum stakeholders.
Selain itu jelas lingkungan cagar budaya harus dikelola secara terpadu dengan kerjasama berbagai
sektor, dan antara kapasitas swasta serta pemerintah. Tetapi perlu ditekankan bahwa semuanya harus

177
berdasarkan visi dan program bersama yang telah dikoordinasikan sejak perencanaannya.
Pengelolaan yang dimaksud sebaiknya dimulai dengan penataan lingkungan, tetapi bukan dengan
tujuan untuk sekedar mempercantik ruang, tetapi lebih untuk meningkatkan kualitas lingkungan
dalam rangka menumbuhkan kembali vitalitasnya dengan infrastruktur dan sarana yang memenuhi
kebutuhan sebuah kawasan yang dapat dihidupi dengan layak dan mudah. Atas dasar ini dengan
sendirinya akan terpicu kredibilitas dan kemudian rangkaian kegiatan ekonomi, sosial dan budaya
oleh masyarakat luas. Peningkatan kualitas lingkungan ini harus menjadi perhatian utama karena
hanya dengan itulah dapat timbul kepercayaan dan minat bersama masyarakat untuk secara kongkrit
terlibat lebih jauh dengan sense of belonging yang kuat.
Kami khawatir, semua itu sudah harus dilakukan sejak kemarin dulu, sebab bila melewati masa
kritisnya (yang sudah mengintai di balik tikungan), Jakarta Kota yang merupakan pusaka nasional
tidak akan dapat kembali lagi

178

Siak Sri Indrapura:


Sungai ke dalam Kota, Kota ke Atas Sungai
Tiap rumah, bahkan tiap bangunan, di tepi sungai Siak berpelantar menjulur ke atasnya.
Pelantar kecil selebar titian sepapan disusun memanjang. Yang besar selebar dua meter,
dengan papan disusun melintang. Papan-papan yang menjadi abu-abu setelah terpajan cuaca
ini dibuat dari kayu meranti, kempas, dan lain-lain dari hutan-hutan dataran rendah khas
Riau. Sepanjang sungai, pelantar-pelantar ini tempat orang mencuci, memancing, mandi,
bermain, serta menambat perahu. Dalam peradaban bertaut sungai, memang segala rumah,
mesjid, pasar, balai kerapatan, istana, kedai, dibangun bertepi sungai. Masing-masing boleh
membina pelantarnya sendiri, mengungkapkan hak setara memanfaatkan sungai.

Menyusuri Sungai Siak, jumlah pelantar pada suatu tepianlah yang memberitahu kita
seberapa padat dan jumlah penduduk sebuah kampung atau kota. Makin besar kota atau
kampung, makin banyak dan rapat pelantar dibuat orang. Di Siak Sri Indrapura terjumpa
kerapatan yang sangat menyolok berbeda dengan tepian lain, yang tak disamai kecuali ketika
kita sampai di Pekanbaru. Letak Sri Indrapura sendiri memiliki logika yang jelas, ialah pada
kelokan Sungai Siak dari arah hulu di barat, ke arah muara di utara. Kelokan ini dengan
sendirinya memperlambat arus air baik dari arah hulu, yaitu ketika pasang surut atau musim
hujan, maupun dari arah hilir, yaitu ketika pasang naik. Melambatnya arus memudahkan
kapal merapat. (Air sungai Siak naik dan turun dengan perbedaan maksimum hingga 3 meter,

179
mekipun laporan terakhir dari pemantauan yang dilakukan untuk keperluan pembuatan
jembatan mencatat pasang tertinggi hanya 2.6 meter saja.)

Rumah Melayu

Rumah rakyat Melayu berdiri di atas tungkat atau umpak setinggi umumnya sekitar 90 cm,
tidak membentuk ruang positif yang bermakna di bawahnya, kecuali untuk menyimpan
barang dan alat. Ini sangat berbeda dengan arsitektur panggung suku-suku bangsa yang lain
di Nusantara seperti Batak, Nias, Toraja, Timor, atau Sumatera Selatan, yang umumnya
bertungkat sangat tinggi, dengan ruang di antara tungkat-tungkat ini mempunyai guna serta
makna budaya yang luas. Di Siak, rupanya tujuannya lebih untuk mudah membangun sehat
di atas tanah gambut yang gembur lembab. Ungkapan naik-ke-rumah membawa makna
tersendiri, yang berbeda dengan sekedar masuk ke rumah.

Rumah bertungkat sangat sesuai dengan keadaan tanah gambut yang gembur, yang sulit
menerima beban besar menyeluruh, selain sangat lembab. Pengangkatan di atas tungkat
menganginkan ruang di bawah lantai sehingga menepiskan kelembaban. Pada dapur dan
tempat cucian lantai kayu dibuat bercelah-celah sehingga air dan kotoran tinggal dibiarkan
jatuh ke bawah. Selama hanya berupa air dan buangan organik, ini ramah-lingkungan.

Teknik membangun dengan bahan kayu yang bersifat dasar merakit-rangkai memang hanya
memerlukan titik-titik tertentu saja, bukan seluruh tanah di bawah lantai bangunan, sebagai
tumpuannya.

Dalam perkembangannya, banyak bangunan diangkat lebih tinggi di atas tungkat, sehingga
ruang di bawahnya dimanfaatkan untuk berbagai keperluan, seperti tempat kerja, garasi, toko
dan lain-lain. Pada bentuknya yang lebih dahulu di kampung-kampung, rumah-rumah juga
bertungkat lebih tinggi untuk menepis hewan liar maupun kunjungan yang tidak dikehendaki.

180
Orang Sakai misalnya menggunakan tangga yang diangkat ke dalam rumah pada malam hari,
atau ketika tidak terdapat laki-laki di dalam atau sekitar rumah. Laki-laki yang bukan
keluarga tak boleh naik ke rumah bila hanya ada perempuan empunya rumah.

Jendela pada ruang depan biasanya berderet mengelilingi seluruh tiga sisinya. Pada sebuah
rumah di Jalan Kampung Rempak, menghadap ke sungai Siak, jendelanya berdaun kaca es
warna hijau botol. Sedang pamelas (lisplang)nya dibuat dari logam. Ukiran bercorak flora
digunakan sedikit saja, sangat terbatas pada bagian tertentu yang tepat, misalnya singap
(segitiga pada puncak atap), pamelas dan kaki dinding luar, tidak memenuhi sekujur tubuh
rumah, sehingga keseluruhan rumah mencerminkan sikap estetik yang sublim dan sani. Sikap
estetik yang unik initidak di seluruh Riau demikiansangat mungkin tercapai setelah
terbina dekat pusat kerajaan, yang berarti pusat kebudayaan, yang berkesinambungan selama
beberapa abad.

Bentuk dasar atap rumah Siak, sebagaimana nampak pada rumah tertua di Mempura yang
masih berdiri, adalah perisai, yang berbidang miring empat, bukan pelana yang berbidang
miring dua. Karena itu singapnya kecil, ialah bidang segitiga di bagian tas dari kedua ujung
atap, masing-masing terbentuk oleh pertemuan bidang-bidang samping dengan bidang depan
atau belakang. Dengan demikian maka pamelas dari singap ini memang tidak menerus
hingga ke cucuran atap paling bawah, karena ia berhenti pada jurai luar pertemuan bidang
miring samping dengan bidang miring depan atau belakang. Dengan singap yang kecil dan
tak menerus hingga ke cucuran demikian, memang wajar tidak terdapat selembayung (terusan
pamelas yang bersilangan di puncak singap) dan pasangannya sayap-layangan (terusan
pamelas pada kaki-kaki singap). Bila dipaksakan, selembayung dan sayap-layangan pada
singap kecil akan menjadi terlalu berdekatan, tidak berbanding serasi. Lagi pula sayaplayangan tidak mendapatkan tempat yang leluasa melonjor bebas seperti pada singap dari
bentuk atap pelana. Selembayung bersama dengan sayap-layangan secara wajar nampak

181
serasi pada atap dengan bentuk dasar pelana yang pelamasnya cukup panjang dan menerus
dari puncak atap hingga ke ujung cucuran atap.

Rumah Melayu dikelilingi oleh kebun tanaman tahunan di sepanjang sungai atau anak sungai
serta di sekitar lubuk atau danau. Tanaman-tanaman yang biasanya terdapat di kebun ini
adalah: Pohon aro, jeruk kasturi, jeruk biasa, beringin, ciku/duku, bacang, durian, pinang,
jambu air (Euginia aquatica), rambutan (Nepheleum lapacheum), kelapa sawit, belimbing
sayur atau belimbing asam, belimbing besar, jengkol, pisang, sawo (Zapodila, Manikara
zapota), kelapa, kedondong (Spondias dulcis), manggis (mangostine), buah mentega, sirih,
pelam (sejenis mangga yang asam), kweni, macang (buah berukuran besar dengan bunganya
warna merah di pucuk daun), papaya, pohon binjai dan pohon pulai. Yang terakhir ini adalah
pohon rindang, untuk meneduhkan dan digantungi ayunan anak-anak. Pohon ini disebut di
dalam Syair Ikan Terubuk, sebagai pohon yang dinaiki Puteri Puyuh-puyuh dan kaumnya ke
pucuknya untuk menghindari serangan Ikan Terubuk. Kweni, bacang serta binjai adalah
bahan untuk membuat Laksamana Mengamuk, semacam cocktail tanpa alkohol yang berasa
asam-manis. Banyak buah-buahan lain dibuatkan halua, yaitu manisan yang berperan baik
sebagai pembuka maupun penutup selera. Jeruk kasturi adalah sejenis jeruk kecil yang asam
dan sangat harum. Di belakang rumah, setelah melewati kebun akan ditemui ladang yang
ditanami jagung, sayuran, padi, cabai, dan beragam tanaman bumbu.

Di seluruh Riau terdapat berbagai kembangan bentuk atap maupun bentuk denah, tangga,
serta corak dan ragam hias yang diterapkan pada bagian-bagian bangunan. Dalam hal atap
misalnya ada Atap Lipat Pandan, Atap Lipat Kajang, Atap Layar atau Ampar Labu. Singap
atap dapat menghadap ke depan, ialah ke jalan atau sungai, atau ke samping. Yang pertama
disebut Rumah Perabung Melintang, karena perabung (bubungan)nya melintang terhadap
jalan atau sungai, sedang yang kedua disebut Rumah Perabung Panjang, karena perabungnya
sejajar jalan atau sungai. Tinggi tungkat pun berkembang menjadi hingga dua meter lebih,

182
terutama pada rumah-rumah masa kini yang memanfaatkan ruang di bawahnya untuk
berbagai keperluan.

Kembangan-kembangan ini mencerminkan perbedaan-perbedaan keadaan alam, terutama


dalam hubungannya dengan cuaca kawasan pantai, dan kebiasaan-kebiasaan tempatan di
seluruh Riau.

Tidak dapat dinafikkan juga pengaruh dari daerah-daerah lain di Nusantara, seperti misalnya
Bugis, serta negeri asing Eropa, Arab, Persia dan India, yang antara lain di bawa oleh Islam,
yang nampak sangat berperan pada arsitektur bangunan-bangunan di Siak. Atap-layar, yang
memiliki beberapa lapisan atap di muka singap, misalnya, sangat mirip dengan yang terdapat
di Sulawesi Selatan dan Tenggara. Mudahlah membayangkan, dan memang arif demikian,
bahwa pasti dunia Melayu banyak saling pengaruh-mempengaruhi dengan dunia lain karena
sifat terbukanya yang yang mencapai puncak antara lain pada abad ke-16 hingga ke-18.
Mengingkari kekayaan yang terbina dari saling pengaruh-mempengaruh ini justru akan
mengingkari hakekat dunia Melayu itu sendiri. 116

Yang belum lagi ditelusuri adalah pengaruh bawaan dari masa sebelum-Islam.

Muara Takus menunjukkan penggunaan batu bata dan batu gunung. Yang kedua, batu
gunung, sulit ditelusuri mengingat keadaan bumi Riau yang umumnya hutan dataran rendah
116

Sebenarnya sangat penting menilai arsitektur Riau pada pencapaian tiap-tiap wujud nyata, yang
kemungkinan besar sudah merupakan perpaduan berbagai unsur dan pengaruh, dari berbagai tempat
dan waktu. Melihat perpaduan ini apa adanya sebagai pusaka budaya Riau yang sah, dengan
perenungan dan analisa yang mendalam, akan menghasilkan banyak pengetahuan, kearifan, serta
kedalaman pada budaya material Riau. Sementara upaya rekonstruksi tipe ideal tradisional asli atau
murni yang sangat sulit dilacak, dan cenderung menimbulkan perbedaan tafsir, mengandung bahaya
menjadi kitsch juga bila tidak disertai kearifan estetika setelah kebenaran etika dirasa tercapai.
Mempelajari sejauh apa tiap-tiap karya berhasil memadukan pengaruh-pengaruh dari berbagai sumber
luar dengan berbagai corak dari bumi melayu sendiri akan menjadi masukan yang berarti kepada
ciptaan baru, yang kini cenderung dangkal karena tidak berilham keadaan setempat dan telah meniru
tanpa keterampilan menyesuaikannya. Ada paduan yang serasi, ada yang tidak, baik di masa lalu,
sekarang, maupun nanti. Mencari paduan yang baik lebih produktif daripada mencari yang asli.

183
tanpa gunung yang mengandung batuan keras dalam jumlah berarti. Karena itu memang
digunakan sangat terbatas, misalnya pada makam raja-raja. Sedangkan batu bata boleh jadi
merupakan bahan yang lazim di masa lampau, mengingat banyak tempat di Riau memiliki
kandungan tanah-liat yang baik untuk membuat batu-bata bermutu. Di kawasan sepanjang
Sungai Siak Kecil sekarang ini dapat dilihat tempat-tempat pembuatan batu-bata. Ada banyak
tempat-tempat tanah liat berwarna kuning dan merah yang baik di daerah sepanjang Sungai
Siak Kecil. Kualitas tanah liat ini nampaknya cukup baik karena halus dan sangat sedikit
mengandung pasir.

**

Ke dalam Kota

Pada tepi sungai Siak di kota Siak Sri Indrapura, salah satu pelantar tertua adalah yang naik
ke jalan yang diapit pasar ikan sekarang. Di ujung jalan ini bertempat pasar sayur, buah dan
kebutuhan sehari-hari lainnya. Ia memuara pada sebuah jalan-raya, yaitu Jalan Pasar atau
Jalan Sultan Ismail, yang membujur searah sungai. Pada jalan raya ini, berseberangan dengan
ujung jalan pelantar, nampak warna-warni sebuah kelenteng, dikelilingi pelataran luas yang
ditinggikan dari jalan. Dibangun pada 1898, beberapa tahun setelah istana selesai dibangun,
ia salah satu bangunan tertua di kota Siak Sri Indrapura.

Kelenteng yang ramai bercat warna-warni terang, serta berhalaman luas, merupakan jedah
yang sedap bagi deretan rapat rumah-rumah toko berwarna redup di sekitarnya. Halaman luas
mengelilingi bangunan Klenteng, dari muka hingga ke belakang, hingga bertemu jalan lagi.
Halaman muka ditinggikan sekitar 50 cm di atas jalan di depan. Halaman ini sedalam 20
meter sebelum bertemu dinding muka Klenteng. Pada halaman kiri dan kananya (yang kiri
lebih lebar) terdapat dua anak tangga yang menaikkan lagi halaman samping dan belakang
sehingga datar dengan jalan di belakangnya. Luas seluruh tapak Klenteng ini sekitar 1500

184
m2, sedang bangunannya hanya 160 m2; maka halamannya memang luas sekali. Halaman
luas ini seluruhnya merupakan hard-landscape, suatu ruang yang dibentuk sebagai positif,
menunjukkan budaya kota Cina yang berbeda sama sekali dengan budaya kebun Melayu
yang sebagian tampil dalam kemasan Eropah pada tatanan sekitar istana yang penuh
lapangan rumput dan pepohonanan, sebagaimana terurai di bagian selanjutnya.

Halaman luas di sekitar Klenteng, terutama yang di depan (600 m2, 20 X 30 meter) dan di
samping kiri atau barat (625 m2, 25 X 25), juga merupakan satu-satunya ruang terbuka di
tengah-tengah pecinan yang padat ini. Maka dengan sendirinya ia pasti menjadi tempat
kegiatan khalayak masyarakat tionghoa di Siak ini.

Gerbang masuk ke halaman depan Klenteng sudah lah merupakan penghangat sendiri pada
jalan ini, dengan warna merah sekujur tiang dan atapnya, disamping menonjol karena
bentuknya yang beda tak seasuh/segaya dengan sekitarnya, ialah atap yang melengkung pada
ujung-ujungnya, relief berwarna-warni serta huruf China besar-besar pada dinding samping.

Jalan Pasar, dan beberapa jalan yang memuara kepadanya, adalah pusat kehidupan khalayak
Siak Sri Indrapura. Deretan bangunan, sebagian seluruhnya dari kayu, sebagian lagi dari
susunan batu-bata berplester di bagian bawah, dan kayu di atas, rapat mengapit jalan-jalan
ini. Deretan rumah-rumah toko di sebelah berat Kelenteng umumnya dibangun pada 1920an
dan 1954. Lantai bawahnya ber-arkade langsung berbatasan dengan jalan, yang hanya selebar
5,5 meter. Di lantai atas, banyak pintu bulak (pintu bohong, ialah sebenarnya jendela
setinggi pintu) yang berpagar jerajak (kisi-kisi). Selepas rembang siang hingga jauh ke
remang malam, umumnya mereka terbuka, melewatkan angin dan mencurahkan keramahan.
Corak ukiran cina dapat dilihat pada daun pintu toko Bintang Jaya, Jalan Pasar 93, yang
bertuliskan huruf Cina yang pada masing-masing pintu berbunyi cuk-pao-phing-an (Bambu
menghaturkan ucapan selamat ) dan hua-khai-fu-kwei (Bunga mekar, kekayaan agung).

185
Lihat juga ukiran pada sekat kedai di nomor 41.

Bangunan lain yang arsitekturnya menarik untuk dilirik di kawasan yang dapat disebut
pecinan ini adalah bekas sebuah sekolah tionghoa. Bahannya kayu. Dahulu terdapat beberapa
deret bangunan yang lantai bawahnya dari tembok, dan lantai atasnya dari kayu. Tapi kini
banyak yang telah diganti dengan bangunan baru yang seluruhnya tembok dan tidak memiliki
watak sama sekali.

Ke arah barat, Jalan Pasar menghantar ke kawasan kesultanan, yang ditandai batasnya dari
kawasan ramai niaga dengan sebuah kali kecil berjembatan putih. Jembatan yang bertanda
tahun 1899 ini masih asli dari masa ia dibangun. Istana dan kota, kebangsawanan dan
keniagaan, terpisah secara tatanan dan terlambang. Tatanan kota padat rapat, sedang tatanan
kebangsawanan lapang padang, dengan bangunan-bangunan besar dikelilingi hamparan luas
ruang terbuka. Di hadapan istana dan halaman luasnya dengan pola taman bergaya Eropah,
terdapat sebuah lapangan khalayak berbentuk persegi empat, 50 X 50 meter, membuka ke
tepi sungai Siak. Dua jalan sejajar sungai, satu di utara, di antara lapangan ini dan halaman
istana, satu lagi di selatan, di antara lapangan ini dan tepian sungai Siak, menghubungkan
lapangan ini ke pasar di sebelah timur, dan mesjid, balai kerapatan tinggi dan rumah-rumah
berhalaman luas di sebelah barat. Di hadapan lapangan ini, dekat bibir sungai, terpajang
Perahu Koto, ialah perahu motor yang dulu digunakan oleh Sultan terakhir, dalam tahuntahun sebelum Perang Dunia ke-2. Di sebelahnya terdapat Gedung Serba Guna Tengku
Maharatu. Di antara perahu dan gedung serbaguna, di tepi jalan, sebuah papan mengutip satu
bait dari Hikayat Hang Tuah: Tuan Sakti hamba negeri/Esa hilang dua terbilang/Patah
tumbuh hilang berganti/Tak kan Melayu hilang di bumi.

186
Menyusur sungai ke barat setelah istana, terjumpa Mesjid Raya Syahabuddin dan Balai
Kerapatan Tinggi. Di Siak ini bukan hanya mesjid yang berkubah, tetapi juga balai dan
istana; hanya saja yang di istana telah dibongkar cukup lama.

Mesjid dan istana tegak dengan ciri arsitektur Islam. Interior mesjid dan istana tampil lebih
diragi dengan garis-garis penghias. Sedang tampilan luarnya bersahaja. Ada kesengajaan
menegakkan perbedaan antara tampilan luar yang khalayak dan tampilan dalam yang pribadi.

Astanah Asserayah Hasyimiah

Disebut juga Istana Matahari Timur meskipun tidak sempurna menghadap ke Timur, Astanah
Asserayah Hasyimiah dibangun mulai 1889 dan selesai pada tahun 1893. Seluruh
arsitekturnya sangat dikuasai oleh tiga macam pelengkung Arab: Dua yang sederhana,
yaitu pelengkung tapal-kuda yang berasal Spanyol, dan pelengkung lancip yang banyak di
Kairo dan Sisilia, tampil sebagai jendela dan pintu luar; sedang pelengkung lambung-perahu
yang lebih bergaya, berasal Persia dan India, tampil hanya di dalam. Mesjid sendiri hanya
menggunakan dua jenis pelengkung pertama untuk pintu dan jendela utama, disamping
tambahan jendela kecil berbentuk bundar dam ujung tombak, yang tidak serta merta dapat
ditelusuri jejaknya pada arsitektur Islam Arab. Ada ditemukan corak yang serupa pada
tenunan Siak. Memang lazim ada kembangan corak yang serupa digunakan pada bangunan
dan tenunan. Diperkirakan arsitek yang sama telah merancang mesjid dan istana.

Istana ini dalam bentuknya sekarang dari luar nampak sangat sederhana, karena telah
dilepaskan dari banyak sekali unsur yang dulu ada: kubah bawang di atas setiap ruangan
utama (tengah, sayap kiri dan kanan), patung burung elang di ujung-ujung tiang sudut
(beberapa telah diganti dengan replika), serta tudung-jendela (kanopi) di atas semua jendela
di lantai atas. Ada foto lama menunjukkan adanya kubah bawang di atas ruang tengah dan

187
sayap kiri kanan bangunan. Tetapi rupanya kubah-kubah ini tidak bertahan lama dan
dibongkar tidak lama setelah dibangun. Tidak ada saksi atau kesaksian yang sempat
mengingat kapan kubah-kubah ini terakhir masih ada.

Luas lantai atas hanya kira-kira 25 % dari lantai bawah; hanya di atas bagian tengah,
ditambah pelataran -- tempat peranginan-- di depan, di atas ruang tunggu dan portiko.
Pelataran ini menghadap ke Taman Bunga Panca Wisada, ialah halaman depan istana yang
bertata-taman eropa berupa tanaman-tanaman perdu yang dibentuk geometris. Sungai Siak
tentu saja terlihat jelas dari pelataran tinggi ini. Seluruhnya terdapat empat bilik yang
mengapit selasar di tengah. Selain membuka ke selasar tengah ini, kamar-kamar juga
dihubungkan dengan pintu penghubung di dalam, sehingga orang dapat menuju ke kamarkamar di sebelahnya tanpa harus melalui selasar tengah. Selain di Eropah, penghubungan
demikian terdapat juga dalam arsitektur rumah Melayu, disebut pintu malim atau pintu curi

Denah lantai bawah istana berbentuk salib. Lantai ini terdiri dari lima ruangan utama. Empat
ruangan membujur, berturut-turut dari depan ke belakang: ruang tunggu tamu; ruang duduk
laki-laki yang disebut Ruangan Kursi Gading karena warna rangka kursinya yang kuning
gading, dengan permukaan tempat duduk dan sandaran berwarna hijau pupus sebagaimana
warna tirai bludru di dinding; ruang duduk untuk perempuan yang disebut Ruangan Kursi
Kristal, karena rangka kursi yang terbuat dari kristal, dengan warna permukaan tempat duduk
dan sandaran berwarna merah sebagaimana kain-kain tirai bludru di dinding; dan ruang
persiapan jamuan makan, dengan dua tangga melingkar dari besi-cor di kiri kanannya
menghantar ke lantai atas. Di sebelah-menyebelah Ruang Kursi Gading dan Ruangan Kursi
Kristal terdapat masing-masing Ruang Sidang Kerajaan di sebelah kanan, dan Ruang
Upacara Adat Kerajaan Melayu di sebelah kiri, yang digunakan untuk upacara pelantikan,
perkawinan, upacara menjunjung duli dan upacara hari-hari besar keagamaan. Ruang Sidang
Kerajaan juga sekaligus merangkap ruang pesta. Di sini terdapat Lemari Musik Komet

188
buatan Jerman, bertanda tahun 1896 dan nomor paten 95132. Masing-masing dari kedua
ruangan ini dikelilingi selasar selebar 3 meter pada ketiga sisi luarnya yang membuka ke
halaman samping istana. Ke sisi samping membuka jendela-jendela, sedang ke sisi depan dan
belakang membuka juga pintu-pintu besar yang melalui lima anak tangga meghantar ke
halaman bertaburkan kerikil dan rumput. Foto-foto lama menunjukkan kegiatan tari-tarian di
halaman-halaman ini, dengan orang-orang berdiri di anak tangga sebagai penonton.

Ketiga macam pelengkung digunakan untuk membentuk seluruh dinding-dinding istana.


Pelengkung tapal-kuda membatasi ruang-ruang yang membujur dari depan ke belakang.
Pelengkung lancip membentuk jendela dan pintu luar Ruang Sidang Kerajaan dan Ruang
Upacara Adat Kerajaan Melayu). Pelengkung lambung-perahu membatasi bagian utama
kedua ruangan di atas dari selasar yang mengelilingi tiga sisinya masing-masing, tanpa daun
pintu.

Selasar ini mungkin digunakan untuk hadirin yang lebih rendah derajatnya daripada yang
menggunakan ruang utama ketika ada upacara resmi sepert Junjung Duli. Junjung Duli
adalah upacara menghadap Sultan pada tanggal 1 Syawal oleh pejabat dan keluarga laki-laki,
tanggal 2 Syawal oleh keluarga perempuan, dan tanggal 3 Syawal oleh rakyat umum.

Di bagian tengah selasar ini terdapat pintu dan anak tangga untuk keluar ke halaman samping
di depan dan belakang kedua sayap barat dan timur. Foto-foto tua menunjukkan ada kegiatan
tari-tarian atau pertunjukan lainnya di halaman-halaman ini, dengan penonton berdiri di
anak-aanak tangga. Istana ini sangat terbuka ke halaman, praktis ke segala arah. Ia memang
dikelilingi halaman yang luas, tetapi tidak terlalu luas.

Sangatlah tepat menggunakan pelengkung bawang yang mempunyai watak lebih riang
melenggok hanya untuk di dalam ruangan, tak nampak dari luar; sementara dua rupa

189
pelengkung lainnya yang lebih berwibawa dan anggun pada dinding luar. Ini menegaskan
adanya kesadaran dalam-luar pada perancang(an) istana ini, sekaligus mencerminkan nilainilai yang membedakan apa yang patut untuk tampilan luar bagi khalayak dan apa yang
boleh bagi tampilan di dalam rumah.

Rancangan istana yang sengaja tidak berlebihan terasa pada pintu utama, depan maupun
belakang, yang tidak diistimewakan dari segi ukuran maupun bentuknya terhadap pintu-pintu
lainnya.

Pembedaan tampilan publik dan private masih lagi hadir pada bagaimana permukaan dinding
luar digurat garis-haris lurus dan dinding dalam ditempel garis-garis lengkung dan bundar.
Dinding luar digurat garis-garis lurus membentuk kotak-kotak persegi besar sehingga
menyerupai susunan batu-batu-batu besar (padahal dinding dibentuk dari sususnan batu bata
berukuran lebih kecil dan diplester). Dinding dalam dilapis garis-garis lengkung atau
membulat, atau ditempel bidang-bidang yang membentuk gurat lengkung. Banyaknya cermin
yang dipasang sedikit miring menghadap ke bawah pada bagian atas dinding-dinding di
dalam ruangan mencerminkan banyak bayangan semua hadirin, sehingga membuat ruangan
seolah terisi lebih ramai orang. Cermin-cermin ini juga memudahkan hadirin mencari atau
mengenal satu sama lainnya yang letaknya berjauhan karena dapat mencarinya pada cermincermin itu lebih leluasa ketika pandangan ke depan terhalang oleh orang ramai.

Pada dinding-dalam bagian bawah, di antara pelengkung-pelengkung, tertempel panel-panel


susunan ubin porselen 20 X 20 cm dengan ragam hias warna emas di atas latar biru keunguan
di bagian tengah dan putih di tepi. 117

117 Corak ragam hias ini nampak seperti kembangan dari corak Muhammad Bertangkup yang merupakan corak khusus istana.

190
Kedua tangga lingkar yang terbuat dari besi-cor berukir kini bercat warna-warni. Masingmasing melingkar 2 kali untuk sampai ke lantai atas yang tingginya mencapai lebih dari 6
meter. Akan menarik untuk meneliti lapisan-lapisan warna cat pada tangga ini, serta gaya
ukirannya. Tangga lingkar yang serupa dalam hal gaya dan ragam hias juga terdapat di Balai
Kerapatan Tinggi sebagai tangga turun untuk yang menang perkara. Tangga di Balai ini
hanya lebih sempit dan pendek, ialah satu kali melingkar.

Mesjid Raya Syahabuddin

Ruang utama mesjid hampir kubus, dengan lebar dan panjang masing-masing 12 meter, dan
tinggi 7,5 meter. Di bagian tengah, langit-langit berbentuk segi delapan diangkat lagi setinggi
2,5 meter, ditopang 8 tiang yang mengelilingi pusat ruang. Cahaya berlimpah masuk lewat
deretan jendela pada bagian paling atas dinding. Menurut foto tua, kubah yang dulu
berbentuk lancip, bukan lambung-perahu seperti sekarang, bersegi delapan, mengikuti alas di
bawahnya, bukan bulat mulus. Dengan bahan dari kayu, memang membentuk bidang bersegi
banyak lebih mudah dan wajar daripada membentuk bidang lengkung. Tiang-tiang itu kini
berbalut lempengan kuningan di kaki dan lehernya. Selempang kuningan berhias kaligrafi,
sumbangan tahun 2004, menyusur segala pelengkung di atas jendela dan pintu besar,
menutupi kaligrafi cat warna biru, hijau dan hitam yang dibuat tahun 1980an. Sayangnya
mesjid tak lagi tampil leluasa, karena bangunan kuburan raja yang baru dibuat di sampingnya
terlalu besar berlebihan hingga menyesakkannya, dengan gaya arsitektur yang meniru-niru
pelengkung dan bentuk lain yang terdapat pada istana Hasyimiah.

Makam-makam yang dinaungi bangunan baru ini adalah:

Syarifah Fadlun, isteri ke-4 Sultan Syarif Kasim II, yang mangkat di Jakarta pada tahun
1987.

191
Tengku Syarifah Latifah gelar Tengku Agung, permaisuri pertama Sultan Syarif Kasyim II,
yang mangkat di Siak Sri Indrapura pada tahun 1912.
Tengku Sulung Sayed Kasyim gelar Sultan Assyaidis Kasyim Abdul Jalil Syaifuddin atau
dikenal sebagai Sultan Syarif Kasyim II, Sultan Siak terakhir atau ke-12 (1915-1949),
mangkat di rumah sakit Rumbai, Pekanbaru, 23 April 1968.
Pangeran Tengku Embong Sayed Muhammad, ayah Tengku Agung, ayah mertua Sultan
Syarif Kasyim II, yang mangkat di Siak Sri Indrapura.
Tengku Temenggung, paman Sultan Syarif Kasyim II, yang mangkat di Siak Sri Indrapura.

Balai Kerapatan Tinggi

Balai Kerapatan Tinggi dibangun 1886, dan telah pernah diperbaiki pada 1978, ialah
terutama atapnya. Sampai pertengahan tahun 2004 ia sempat digunakan oleh DPRD
Kabupaten Siak. Ungkapan naik ke rumah diujarkan maksimum disini. Undak-undak
sangat lebar, hingga enam meter pada bagian alas, menguasai hampir seluruh tampaknya
dari arah sungai, menghantar pendatang langsung ke ruang sidang di lantai atas, yang berdiri
di atas tungkat-tungkat batu yang besar, rapat dam tinggi melebihi tiga meter, sehingga ruang
di antara tungkat-tungkat ini dapat dimanfaatkan untuk ruang kerja.

Meskipun berdirinya yang di atas tungkat terang menunjukkan ciri arsitektur kawasan ini,
banyak hal lain yang merupakan pembaruan yang luar biasa. Tungkatnya sendiri adalah
tiang-tiang susunan batu yang besar-besar, tinggi dan rapat, dan ruang-ruang diantaranya
dimanfaatkan, tidak seperti umumnya rumah Melayu yang tidak memanfaatkan ruang
kolongnya secara berarti kecuali hanya untuk menumpuk kayu atau barang lainnya, karena
hanya setinggi maksimum 90 cm.

192
Dulu Balai ini digunakan untuk sidang kerajaan dan Mahkamah Kerapatan Tinggi, sidangsidang perkara masalah kejahatan, hutang, sengketa tanah, ahli waris dan pelanggaran adatistiadat, penyalahgunaan jabatan dll.

Baginda sultan menghadap ke sungai Siak ketika memimpin sidang dari singgasana. Bentuk
ruang yang memanjang 21 meter panjang ke arah sungai, dengan lebar 6 meter, membentuk
perspektif yang menitik-api ke pintu yang membuka ke sungai. Sungai yang sama, air yang
berbeda tiap saat. Inilah lambang kehidupan. Di atas pintu terdapat simbol kerajaan, ialah
stilisasi huruf arab yang disebut Muhammad Bertangkup. Ruang terang oleh cahaya dari
jendela pada bagian teratas dinding sekeliling. Di tengah-tengahnya langit-langit bersegi
delapan diangkat pula setinggi 3 meter, menambah limpah cahaya lewat jendela keliling di
bawahnya.

Datangnya Sultan menyusuri sungai dengan perahu, lalu menaiki pelantar dan mendaki
tangga agung sejumlah.anak-tangga, hingga memasuki ruang sidang di lantai atas. Bilapun
dengan mobil datangnya, sebagaimana ditunjukkan oleh foto yang tua, Sultan juga tibanya di
kaki anak tangga besar. Sultan akan melewati ruangan sepanjang 21 meter selebar 6 meter
sebelum sampai ke tempat duduknya di ujung ruangan, berbalik menghadap ke sungai.
Dalam waktu beliau menapaki 21 meter panjang ruangan itu hadirin berkesempatan
memberikan hormat dalam keheningan selama kurang lebih 10 detik.

Ke sebelah kanan dan kiri singgasana Sultan, di luar ruangan utama, terdapat masing-masing
tangga lingkar dari besi-cor, yang raginya serupa dengan yang di istana, untuk yang menang
perkara dan bebas menuju ke jalan, dan tangga kayu untuk yang kalah dan menuju penjara.

193
Papan-papan dinding ruang-dalam Balai bercat warna kuning gading, serupa dengan warna
kursi ruang duduk laki-laki di Istana Asserayah Hasyimiah, dengan garis-garis hiasan
berwarna coklat keemasan.

***
Meskipun berselisih beberapa tahun, Astanah Asserayah Hasyimiah, Mesjid Raya
Syahabuddin, Balai Kerapatan Tinggi, dan Kelenteng merupakan hasil dari suatu jaman yang
sama, ialah sejak paruh kedua abad ke-19 hingga memasuki awal abad ke-20. Inilah masa
yang di seluruh Nusantara, atau Hindia Belanda pada waktu itu, terjadi modernisasi atas
dasar ekonomi perkebunan. Produk perkebunan merupakan produk andalan Hindia Belanda
yang memenuhi pasar dunia yang permintaannya sangat tinggi. Modernisasi ini memasuki
juga gaya hidup istana-istana, serta membawa gagasan-gagasan tentang pendidikan dan
kesejahteraan dengan tingkat kesehatan, tata-krama, dan kemakmuran tertentu.

Banyak kota di Hindia-Belanda mengalami pembangunan prasarana dan sarana khalayak


besar-besaran di dalam tiga dasawarsa pertama abad ke-20: pasar-pasar di Solo, Jogja,
Medan, Semarang, dan lain-lain, setelah sebelumnya suatu gelombang modernisasi dimulai
di akhir abad sebelumnya.

Di akhir abad ke-19, memasuki abad ke-20, sebagaimana di banyak bagian dunia kolonial
lainnya, terjadi peningkatan pembangunan juga dengan teknik-teknik barumisalnya di
Indonesia: batu atau batu-bata dan semendan modernisasi prasarana dan sarana perkotaan.
Ini adalah masa konsolidasi kekuasaan kolonial sekaligus pembaharuan di kalangan kerajaankerajaan tradisional. Di Jawa kita mengetahui, misalnya Paku Buwono X adalah Sunan yang
paling banyak membangun prasarana kota.

***

194

Kini, selain rumah-rumah, tiap pabrik bubur-kertas dan kayu-lapis pun berpelantar, dermaga
besar. Kapal-tinggi merapat mengambil hasil keluar, sedang limbah tertinggal sebabkan
kematian-massal ikan tahunan. Terubuk (Tenualosa toli), ikan laut yang berenang ke hulu
sungai untuk bertelur di air tawar, hampir punah. Padahal ia lambang Kabupaten Bengkalis
(dulu bagian dari Kerajaan Siak).

Terdalam di Indonesia, Siak paling banyak dilayari hingga jauh ke hulu. Kapal-tinggi
mencapai 35 meter. Tiap kali ia lewat, timbul ombak menggerus tepian sungai, merobohkan
pohon bakau, bintaro dan nipah. Pemerintah Kabupaten Siak, yang sedang membangun
jembatan setinggi hanya 25 meter untuk mengubah sistem dari kapal-tinggi ke kapal
tongkang, malah diadukan oleh perusahaan pelayaran ke Mabes Polri.

Sungai, muara, lubuk dan danau di daratan Riau merupakan basis peradaban yang tak
terbanding. Setidaknya 30 jenis ikan air tawar pernah dikenali, misalnya dalam Syair Ikan
Terubuk, dan penelitian Parsudi Suparlan tentang orang Sakai (1993). Berbagai jenis
tanaman di hutan bakau bermanfaat sebagai obat, bahan penyamak kulit dan sumber
makanan. Sungai di bumi Melayu terjabat erat dengan kebudayaan Melayu. Pencapaian
peradaban Melayu yang tinggi-tinggi seperti syair, pantun, seni masak, seni corak dan ragi
hias pada tenunan dan bangunan, banyak yang tentang atau terilham ekosistem sungai. Tanpa
hutan bakau, yang makin berkurang bangat, tak akan ada udang pepai untuk membuat
belacan, salah satu bahan penting seni masak Melayu.

Memang, Tak kan Melayu hilang di bumi, 118 tetapi bila sungai tak dikelola secara
berkelanjutan, akan hanyut bumi tempat bangsa berpijak.

118

Dari Hikayat Hang Tuah, sebagaimana dikutip pada papan peringatan di depan Wisma Serbaguna Tengku Maharatu di
Siak Sri Indrapura: Tuan Sakti hamba negeri/Esa hilang dua terbilang/Patah tumbuh hilang berganti/Tak kan Melayu
hilang di bumi.

195

Foto-foto:
1. Sebuah pelantar untuk mandi dan menambat perahu.
2. Rumah Melayu di Mempura, Siak, dengan singap (kepala atap) berukir dan berlubang untuk
lewat angin, dikelilingi kebun pohon durian, kelapa, mangga, jengkol, jeruk dan lain-lain.
3. Jendela hijau pada sebuah rumah Melayu, dengan lobang angin beragam hias, dan pamelas
dari logam. (Foto: Marco Kusumawijaya)
4. Jendela hijau sepanjang dinding ruang depan pada sebuah rumah Melayu di Jalan Kampung
Rempak (Foto: Marco Kusumawijaya)
5. Kelenteng di kota Siak, di depan pasar.
6. Pintu bulak di atas toko di Jalan Pasar, Siak Sri Indrapura, berjarak hanya 5,5 meter dari
jendela di seberang jalan.
7. Istana Sultan Siak (dibangun mulai 1889): Pernah berkubah beberapa. (Foto: Marco
Kusumawijaya)

8. Di dalam istana Sultan Siak: Gramofon berpelat logam, di antara panel porselen, di ruangan
berpelengkung lambung-perahu. (Foto: Marco Kusumawijaya)
9. Tampak Mesjid Raya Syahabuddin dari arah sungai; mihrab di sebelah kiri. (Foto: Marco
Kusumawijaya)
10. Di bawah kubah Mesjid Raya Syahabuddin. (Foto: Marco Kusumawijaya)
11. Balai Kerapatan Tinggi: Di bawah kubah, dikuasai warna kuning gading dengan garis-garis
coklat-emas, bermandikan cahaya dari atas. (Foto: Marco Kusumawijaya)
12. Jembatan Siak senilai 170 milyar lebih sedang dibangun: Nanti tongkang dapat lewat di
bawahnya, tapi kapal-tinggi tidak. (Foto: Marco Kusumawijaya)