Anda di halaman 1dari 15

PENGATURAN KONDISI FISIK DAN PENCIPTAAN IKLIM BELAJAR

YANG MENUNJANG
Makalah Ini Disusun dalam Rangka Memenuhi Tugas Mata Kuliah
Manajeman Kelas
Dosen Pengampu: Suharno, M. Pd.

Disusun Oleh
1. Aginia Ashari

K7113006

2. Annisa Dewa Maharani

K7113024

3. Ardhianto Cahyo Nugroho K7113027


4. Nurul Annisa Safitri

K7113164

Kelompok: 6

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR


FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
2014

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT karena atas limpahan
rahmat dan hidayah-Nya, penulis dapat menyelesaikan makalah dengan judul
Pengaturan Kondisi Fisik dan Penciptaan Iklim Belajar yang Menunjang.
Makalah disusun dalam rangka memenuhi tugas mata kuliah Manajemen Kelas.
Penulis mengucapkan terima kasih kepada Suharno, M.Pd. selaku dosen
pengampu mata kuliah Manajemen Kelas yang telah membimbing penulis dalam
penyusunan makalah ini. Serta berbagai sumber yang penulis pergunakan sebagai
referensi dalam makalah ini.
Penulis telah berusaha menyelesaikan makalah ini dengan sebaik-baiknya,
namun apabila masih ada kekurangan, kritik dan saran penulis harapkan demi
sempurnanya makalah ini.
Akhir kata, semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi penulis pada
khususnya dan pembaca pada umumnya.

Surakarta,

Oktober 2014

Penulis

ii

DAFTAR ISI

halaman
JUDUL ..................................................................................................................... i
KATA PENGANTAR ............................................................................................ ii
DAFTAR ISI .......................................................................................................... iii
BAB 1 PENDAHULUAN ...................................................................................... 1
A. Latar Belakang................................................................................................ 1
B. Rumusan Masalah ........................................................................................... 1
C. Tujuan ............................................................................................................. 1
BAB II PEMBAHASAN ........................................................................................ 2
A. Kondisi dan Situasi Belajar Mengajar ............................................................ 2
A.1. Kondisi Fisik ............................................................................................ 2
A.2. Kondisi Sosio Emosional ......................................................................... 4
A.3. Kondisi Organisasional ............................................................................ 6
A.4. Kondisi Administrasi Teknik ................................................................... 7
B. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Belajar ................................................... 8
B.1. Faktor Intern ............................................................................................. 8
B.2. Faktor Ekstern .......................................................................................... 8
C. Mengajar yang Efektif .................................................................................... 8
D. Kelas yang Menyenangkan. ............................................................................ 9
BAB III PENUTUP .............................................................................................. 11
A. Kesimpulan ................................................................................................... 11
B. Saran ............................................................................................................. 11
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................... 12

iii

BAB 1
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Dapat dimengerti bahwa kondisi atau suasana belajar berpengaruh terhadap
pembelajaran. Oleh karena itu, salah satu faktor penting untuk pembelajaran
adalah terpenuhinya kondisi dan suasana belajar yang optimal. Tindakan
manajemen kelas adalah tindakan yang dilakukan guru dalam rangka penyediaan
kondisi yang optimal agar pembelajaran berlangsung efektif. Tindakan guru
tersebut dapat berupa tindakan pencegahan yaitu dengan jalan menyediakan
kondisi baik fisik maupun kondisi sosio-emosional sehingga terasa benar oleh
siswa rasa kenyamanan dan keamanan untuk belajar, tindakan lain dapat berupa
tindakan korektif terhadap tingkah laku siswa yang menyimpang dan merusak
kondisi optimal terhadap proses pembelajaran yang berlangsung. Tindakan
pencegahan dapat merupakan tindakan guru dalam mengatur lingkungan belajar,
mengatur siswa, mengatur peralatan dan lingkungan sosio-emosional.
Dalam makalah ini, akan dibahas mengenai kondisi dan situasi belajar
mengajar, faktor-faktor yang mempengaruhi belajar, mengajar yang efektif, dan
kelas yang menyenangkan.

B. Rumusan Masalah
1. Bagaimanakah kondisi dan situasi belajar mengajar di kelas?
2. Apasajakah faktor-faktor yang mempengaruhi belajar siswa di kelas?
3. Bagaimanakah mengajar yang efektif?
4. Bagaimanakah kelas yang menyenangkan?

C. Tujuan
1.

Mengetahui kondisi dan situasi belajar mengajar di kelas.

2. Mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi belajar siswa di kelas.


3. Mengetahui cara mengajar yang efektif.
4. Mengetahui cara menciptakan kelas yang menyenangkan.
1

BAB II
PEMBAHASAN

A. Kondisi dan Situasi Belajar Mengajar


A.1. Kondisi Fisik
Lingkungan fisik tempat belajar memberikan pengaruh terhadap hasil
belajar anak. Guru harus dapat menciptakan lingkungan yang membantu
perkembangan pendidikan peserta didik. Kondisi dan lingkungan yang perlu
menjadi perhatian dan kepedulian dalam menunjang terciptanya pembelajaran
seperti berikut ini.
1. Ruang tempat berlangsungnya pembelajaran.
Ruangan pembelajaran harus memungkinkan para peserta didik
dapat bergerak leluasa, tidak berdesak-desakan, sehingga tidak
saling mengganggu satu sama lainnya pada saat terjadi aktivitas
pembelajaran. Besarnya ruangan kelas sangat bergantung kepada
berbagai hal antara lain :
a. Jenis kegiatan (kegiatan pertemuan tatap muka klasikal
dalam kelas atau bekerja di ruang praktikum)
b. Jumlah siswa yang melakukan kegiatan (kegiatan bersama
secara klasikal atau kegiatan dalam kelompok kecil)
Ruang tempat berlangsungnya pembelajaran, meliputi: ruang kelas,
ruang laboraturium, dan ruang serbaguna/aula.
2. Pengaturan tempat duduk.
Pengaturan

tempat

duduk

akan

mempengaruhi

kelancaran

pengaturan proses pembelajaran. Beberapa kemungkinan pengaturan


tempat duduk seperti di bawah ini.
a. Pola Berderet atau Barbaris-Berbanjar. Umumnya tempat
duduk siswa diatur menurut tinggi rendahnya siswa. Siswa
yang tinggi duduk di sebelah belakang, sedangkan siswa
yang rendah duduk di depan. Pada situasi tertentu, misalnya
jika ada siswa yang tidak dapat melihat jarak jauh atau

pendengarannya kurang, atau jika banyak yang berbuat


gaduh, siswa tersebut didudukkan di deretan paling depan
tanpa menghiraukan tinggi badannya. Tipe pengaturan
tempat duduk seperti ini tampaknya sangat cocok untuk
pengajaran formal.
b. Pola susunan Berkelompok. Pola ini mengatur tempat duduk
siswa secara berkelompok. Cara ini memungkinkan siswa
dapat berkomunikasi dengan mudah satu sama lain dan dapat
berpindah dari satu kelompok ke kelompok lainnya secara
bebas. Pola ini memudahkan siswa untuk bekerja sama dan
saling menolong satu sama lain sebagai teman sebaya.
c. Pola Formasi Tapal Kuda. Pola ini menempatkan posisi guru
berada di tengah-tengah para siswanya. Pola semacam ini
dapat dipakai jika pelajaran banyak memerlukan diskusi
antarsiswa atau dengan guru. Posisi guru dalam pengaturan
tempat seperti ini terpisah dari kelompok namun kelompok
tetap dalam pengawasan guru. Pengaturan formasi tapal kuda
memberikan kemudahan kepada para siswa untuk saling
berkomunikasi dan bekonsultasi.
d. Pola Lingkaran atau Persegi. Pola pengaturan tempat duduk
lingkaran atau persegi baik juga untuk mengajar yang
disajikan dengan metode diskusi.
3. Ventilasi dan pengaturan cahaya.
Suhu, ventilasi dan penerangan (kendatipun guru sulit mengaturnya
karena sudah tersedia) adalah asset penting untuk terciptanya
suasana belajar yang nyaman. Oleh karena itu, ventilasi harus cukup
menjamin kesehatan siswa. Jendela harus cukup besar sehingga
memungkinkan cahaya matahari masuk, udara sehat dengan ventilasi
yang baik sehingga semua dalam kelas dapat menghirup udara segar
yang cukup mengandung O2. Siswa harus dapat melihat tulisan
dengan jelas, baik tulisan di papan tulis, pada papan bulletin,

maupun pada buku bacaan. Kapur tulis yang digunakan sebaiknya


kapur yang bebas dari debu dan selalu bersih. Cahaya harus datang
dari sebelah kiri dan cukup terang tetapi tidak menyilaukan.
4. Pengaturan penyimpanan barang-barang.
Barang-barang hendaknya disimpan pada tempat khusus yang
mudah dicapai kalau segera diperlukan dan akan dipergunakan bagi
kepentingan kegiatan belajar. Barangbarang yang karena nilai
praktisnya tinggi dan dapat disimpan di ruang kelas seperti buku
pelajaran, pedoman kurikulum, kartu pribadi, dan sebagainya,
hendaknya ditempatkan sedemikian rupa sehingga barang-barang
tersebut segera dapat dipergunakan. Hal lain yang tidak kalah
pentingnya

adalah

pengamanan

barang-barang

tersebut

dari

pencurian dan pengamanan terhadap barang yang mudah meledak


atau terbakar. Alat pengaman harus selalu tersedia, seperti alat
pemadaman kebakaran, P3K, dan sebagainya.
A.2. Kondisi Sosio Emosional
Kondisi sosio-emosional akan mempunyai pengaruh yang cukup besar
terhadap proses belajar mengajar, kegairahan siswa dan efektivitas tercapainya
tujuan pengajaran. Kondisi sosio-emosional tersebut meliputi hal-hal berikut ini.
1. Tipe kepemimpinan guru, artinya adalah fungsi yang melakat pada
guru ketika berada dalam kelas. Gaya apa yang muncul ketika guru
melaksanakan peran sebagai pemimpin dalam pembelajaran di kelas.
Apakah gaya otoriter segala sesuatunya diatur dan diarahkan oleh
sendiri dan siswa tidak diberikan kesempatan untuk terlibat
didalamnya, atau gaya demokrasi dimana terjadi proses timbal balik
antara guru dan murid sesuai dengan peranannya masing-masing.
2. Sikap guru, sikap yang diperlihatkan oleh guru di depan kelas atau di
luar kelas yang akan mempengaruhi mod anak, apakah anak merasa
tertarik dengan sikap guru atau malah tidak tertarik. Sikap yang baik
sebagai seorang guru, bapak/ibu, kakak, orang dewasa yang
memberikan bimbingan tentunya adalah hal yang paling baik

diperlihatkan. Sikap guru dalam menghadapi siswa yang melanggar


peraturan sekolah hendaknya tetap sabar dan tetap bersahabat
dengan suatu keyakinan bahwa tingkah laku siswa akan dapat
diperbaiki. Kalaupun guru terpaksa membenci, maka bencilah
tingkah laku siswa tersebur dan jangan membenci orangnya. Guru
hendaknya:
a. Menerima siswa dengan hangat, sehingga ia insyaf akan
kesalahannya.
b.

Berlaku adil dalam bertindak.

c. Menciptakan suatu kondisi yang dapat menyebebkan siswa


sadar akan kesalahannya sehingga ada dorongan untuk
memperbaiki kesalahannya.
3. Suara guru, walaupun bukan faktor yang besar, namun turut
mempunyai pengaruh dalam belajar. Suara yang melengking tinggi
atau demikian rendah sehingga tidak terdengar oleh siswa secara
jelas dari jarak yang agak jauh akan mengakibatkan suasana gaduh.
Keadaan yang seperti itu akan membosankan, sehingga pelajaran
cenderung tidak diperhatikan. Suara yang relative rendah tetapi
cukup jelas dengan volume suara yang penuh dan kedengarannya
rileks akan mendorong siswa untuk memperhatikan pelajaran.
Mereka akan berani mengajukan pertanyaan, melakukan percobaan
sendiri, dan sebagainya. Tekanan suara hendaknya bervariasi
sehingga tidak membosankan siswa yang mendengarnya. Hal yang
penting dari itu semua adalah proses pembelajaran akan semakin
terarah.
4. Pembinaan hubungan baik, pembinaan hubungan yang baik antara
guru dan siswa dalam masalah manajemen kelas adalah hal yang
sangat penting. Dengan demikian, diharapkan siswa senantiasa
gembira, penuh gairah dan semangat, bersikap optimistic, realistic
dalam kegiatan belajar yang sedang dilakukannya serta terbuka
terhadap hal-hal yang ada pada dirinya.

A.3. Kondisi Organisasional


Kegiatan rutin secara organisasional dilakukan baik tingkat kelas maupun
tingkat sekolah akan mencegah timbulnya masalah dalam pengelolaan kelas.
Kondisi organisasional tersebut meliputi hal-hal sebagi berikut.
1. Pergantian pelajaran, ketika terjadi penggantian dalam pelajaran
harus disikapi oleh guru karena dalam proses ini ada jeda
(kekosongan) yang memungkinkan terjadinya interaksi yang tidak
diharapkan dari siswa dengan siswa lainnya. Perlu disikapi dengan
arif bahwa ketika mengahiri pelajaran guru tidak terlalu cepat karena
guru selanjutnya apakah sudah tiba dan apabila belum maka masa
jeda itu terlalu lama.
2. Guru berhalangan hadir, guru yang berhalangan hadir akan
menyebabkan terjadinya kekosongan dalam proses belajar mengajar.
Untuk menghindari terjadinya keributan atau perilaku-perilaku yang
tidak diharapkan dari siswa seperti berlarian kesanaha kemari
menggangu kelas lain, dan menimbulkan kerusakan pada fasilitas
kelas, maka guru piket harus paham apa yang terjadi dan
mempersiapkan diri untuk menutup ketidakhadiran tersebut.
3. Masalah antar siswa, masalah antar siswa biasanya terjadi karena
kondisi emosional yang tidak terkendali dan tidak terorganisasikan
oleh guru. Guru harus memahami karakteristik dan potensi guru
sehingga dapat dipahami keseluruhan perilaku masing-masing dan
menekan munculnya konflik diantaranya.
4. Upacara bendera, pada saat upacara bendera siswa harus
diorganisasikan berdasarkan tingkatan kelas sehingga mereka dapat
tertib mengikuti kegiatan upacara bendera.
5. Kegiatan lain; kesehatan dan kehadiran siswa, penyampaian
informasi dari sekolah kepada guru dan siswa, peraturan sekolah
yang baru, kegiatan rekreasi dan social.

A.4. Kondisi Administrasi Teknik


Kondisi administrasi teknik akan turut mempengaruhi manajemen
pembelajaran di dalam kelas. Kondisi administrasi teknik meliputi hal-hal berikut.
1. Daftar presensi. Kerapihan, kebersihan dan keteraturan daftar
presensi akan memberikan dukungan terhadap proses pembelajaran
yang dilakukan. Keterdukungan dari sisi keteraturan dalam presensi
akan memberikan efek psikologis terhadap siswa karena terjadi
keadilan dalam perlakuan.
2. Ruang bimbingan siswa. Ruang bimbingan siswa diarahkan untuk
memberikan bantuan pada siswa yang secara emosional memiliki
masalah. Hal terpenting dari ruang bimbingan adalah bagaimana
ruang

tersebut

tidak

menimbulkan

ketakutan

ketika

harus

berhubungan dengan guru di sana.


3. Tempat baca. Tempat baca merupakan bagian dari fasilitas yang
memberikan kesempatan bagi siswa untuk berinteraksi dengan
kawan-kawannya dengan fasilitas dan guru.
4. Tempat sampah. Tempat sampah yang bersih ditempatkan di tempat
yang tepat dan tidak menggangu kegiatan belajar maupun bermain
siswa, akan memberikan dukungan terhadap pencapaian tujuan
pembelajaran di kelas. Bau sampah, berserakan dimana-mana, siswa
tidak mengetahui tempat penyimpanan sampah atau karena tidak ada
tempat sampah akan berakibat buruk pada kondisi sosio-emosional
dan fisik siswa.
5. Catatan pribadi siswa. Catatan pribadi adalah alat berinteraksi guru
dengan siswanya. Perlakuan-perlakuan khusus yang dibutuhkan
untuk masing-masing siswa dapat dilihat dari catatan-catatan tentang
siswa.

B. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Belajar


B.1. Faktor Intern
Faktor intern yang dimaksudkan adalah kondisi internal dari siswa itu
sendiri seperti di bawah ini.
1. Kondisi jasmaniah siswa. Faktor-faktor kesehatan atau kelainan
fungsi pada tubuh jasmaniah siswa akan memberikan pengaruh
terhadap kegiatan belajar yang diikutinya.
2. Kondisi Psikologis. Kondisi psikologis meliputi intelegensi,
perhatian, minat bakat, motif, kematangan, dan kesiapan.
3. Kondisi kelelahan. Kelelahan baik jasmaniah maupun rohanian akan
memberikan pengaruh buruk terhadap proses dan hasil belajar anak.
B.2. Faktor Ekstern
Faktor ekstern adalah unsur lingkungan luar diri dari siswa itu sendiri,
seperti berikut ini.
1. Kondisi keluarganya di rumah.
2. Kondisi sekolah.
3. Kondisi masyarakat.

C. Mengajar yang Efektif


Mengajar adalah membimbing siswa agar mereka mengalami proses belajar.
Mengajar yang efektif adalah mengajar yang dapat membawa belajar yang efektif.
Prinsip mengajar yang efektif adalah sebagi berikut.
1. Konteks. Konteks yang baik meliputi: (1) dapat membuat pelajar
menjadi lawan berionteraksi secara dinamis dan kuat, (2) terdiri dari
pengalaman actual dan konkret, (3) pengalaman konkret yang
dinamis merupakan alat untuk menyusun pengertian, bersifat
sederhana, dan pengalaman itu dapat ditiru untuk diulangi.
2. Fokus. Untuk mencapai pembelajaran yang efektif, harus dipilih
focus yang memiliki cirri-ciri: (1) Memobilisasi tujuan, (2) memberi
bentuk dan uniformitas pada belajar, (3) Mengorganisasi belajar
sebagai suatu proses eksplorasi dan penemuan.

3. Sosialisasi. Kondisi social pada suatu kelas banyak sekali


pengaruhnya terhadap proses belajar yang sedang berlangsung di
kelas tersebut.
4. Individualisasi.

Dalam

mengorganisasikan

kelas

guru

harus

memperhatikan taraf kesanggupan siswa dan merangsangnya untuk


menentukan bagi dirinya sendiri apa yang dapat dilakukan dengan
baik.
5. Urutan. Bila hendak mencapai belajar yang otentik, organisasi
rangkaian atau urutan dari belajar dengan penuh makna harus
dengan sendirinya bermakna pula.
6. Evaluasi. Evaluasi sebagai suatu alat untuk mendapatkan cara-cara
melaporkan hasil-hasil pelajaran yang dapat dicapai dan dapat
memberi laporan tentang siswa kepada siswa itu sendiri serta kepada
orang tuannya dan kita pelaku pembelajaran.

D. Kelas yang Menyenangkan.


Kelas adalah lingkungan sosial bagi anak/siswa karena di dalam kelas
terjadi proses interaksi baik siswa dengan siswa maupun siswa dengan guru. Di
dalam kelas juga terjadi kontak secara fisik dimana siswapun akan berhubungan
dengan segala fasilitas yang ada di dalam kelas. Oleh karena itu kelas harus di
disain sedemikian rupa oleh guru sehingga kelas merupakan lingkungan yang
menyenagkan bagi siswa dalam tugas dan peranannya di dalam kelas sebagai
peserta didik dan tugas serta peranannya dalam perkembangan disik maupun
emosionalnya. Oleh karena itu kelas harus memenuhi syarat-syarat yang
menggambarkan sebagai kelas yang baik dan menyenangkan:
1. Kelas itu harus rapi, bersih, sehat, dan tidak lembab.
2. Kelas harus memperoleh cukup cahaya yang meneranginya.
3. Sirkulasi udara dari dalam dan luar kelas harus cukup.
4. Perabot dalam keadaan baik, cukup jumlahnya dan ditata dengan
rapi.
5. Jumlah siswa tidak melibihi dari 40 orang.

10

Selain itu, kelas juga harus memenuhi syarat-syarat yang menggambarkan


sebagai kelas yang nyaman, yang meliputi:
1. Penataan ruang kelas, kelas menjadi terasa nyaman sebagai tempat
untuk belajar dan bermain bagi siswa bila ruangan kelas tertata
dengan rapi. Penempatan setiap fasilitas dalam kelas mengiuti asas
estetis (keindahan) dan asas safety (keamanan)
2. Penataan perabot kelas, kelas yang nyaman dimana perabot kelas
yang dimiliki tidak harus mahal akan tetapi perabot tersebut
ditempatkan pada tempat yang tepat sehingga tidak menggangu
kegiatan belajar dan dari sisi kebersihan terjaga dengan baik, serta
tidak menimbulkan rasa tidak aman bagi siswa.
Dalam mengembangkan perancangan sarana fisik dan perlengkapan kelas
tergantung pada empat faktor yaitu :
1. Aspek fungsional. Dilihat dari kesesuaian dengan kebutuhan akan
ruang, memperhatikan norma kenyamanan dari pandangan arsitektur
dan kaidah internasional, serta terhindar dari kebisingan dan
kegiatan yang membutuhkan ketenangan di sekitar kelas.
2. Aspek Konstruksi. Memiliki keterpenuhan dan pemanfaatkan bahan
lokal yang berkualitas yang dapat ditangani oleh pekerja lokal,
memenuhi tuntutan kekhasan bangunan lokal, dapat dipadukan
dengan bahan modern dalm upaya memenuhi kebutuhan jangka
panjang dan pemeliharaan yang murah serta pemilihan metode
konstruksi dan bahan yang tahan terhadap gangguan dan kerusakan
alam.
3. Estetika. Memiliki kesesuaian dengan kebutuahan ruang yang layak
untuk

kemanusiaan,

terintegrasi

secara

visual

dengan

masyarakatnya, menarik bagi peserta belajar dan masyarakat untuk


mengambil manfaat keberadaannya serta mempertimbangkan secara
sempurna tuntutan arsitektur.
4. Pembiayaan. Masih dalam batas pertimbangan kebutuhan arsitektur
baik dilihat dari biaya per unit, biaya per satuan peserta belajar.

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Salah satu faktor penting untuk pembelajaran adalah terpenuhinya kondisi
dan suasana belajar yang optimal. Tindakan manajemen kelas adalah tindakan
yang dilakukan guru dalam rangka penyediaan kondisi yang optimal agar
pembelajaran berlangsung efektif. Tidakan yang dilakukan meliputi tindakan
dalam mengelola kondisi fisik, kondisi sosio emosional, kondisi organisasional,
dan kondisi administrasi teknik.

B. Saran
1. Memperhatikan kondisi fisik dari sebuah tempat belajar merupakan hal
yang harus diperhatikan oleh seorang guru.
2. Guru harus memikirkan kondisi fisik yang sesuai dengan situasi atau
kondisi peserta didik dan kelengkapan peralatan karena kondisi fisik yang
baik akan meningkatkan minat belajar siswa.

11

DAFTAR PUSTAKA

Depdikbud. 1983. Pengelolaan Kelas. Jakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan


Tinggi.
Dirjen PUOD dan Dirjen Dikdasmen. 1996. Pengelolaan Kelas di Sekolah Dasar.
Seri Peningkatan Mutu 2. Jakarta: Depdagri dan Depdikbud.
Dirjen PUOD dan Dirjen Dikdasmen. 1996. Pengelolaan Kelas di Sekolah Dasar.
Jakarta: Depdagri dan Depdikbud.
Entang, M dan T. Raka Joni. 1983. Pengelolaan Kelas. Jakarta: Proyek
Pengembangan Penddikan Tenaga Kependidikan.

12