Anda di halaman 1dari 4

Budidaya Kepiting Bakau

A. Deskripsi Pekerjaan Budidaya Kepiting Bakau


Kepiting bakau merupakan salah satu komoditas perikanan pantai yang mempunyai nilai
ekonomis penting. Pada mulanya kepiting bakau hanya dianggap hama oleh petani tambak,
karena sering membuat kebocoran pada pematang tambak. Tetapi setelah mempunyai nilai
ekonomis yang cukup tinggi, maka keberadaannya banyak diburu dan ditangkap oleh nelayan
untuk penghasilan tambahan dan bahkan telah mulai dibudidayakan secara tradisional di
tambak. Mengingat permintaan pasar ekspor akan kepiting bakau yang semakin meningkat
dari tahun ketahun maka usaha ekstensifikasi budidaya kepiting bakau mulai dirintis di
beberapa daerah.
Budidaya kepiting bakau adalah suatu kegiatan mencari atau menangkap kepiting bakau
yang biasanya kepiting tersebut berada di akar-akar hutan mangrove atau di tepi-tepi pantai.
Biasanya nelayan kepiting bakau ini mencarinya dengan menggunakan perahu kecil dengan
cara langsung turun ke perairan. Dimana nelayan biasanya menangkap dengan menggunakan
bubu wadong dan ada juga yang sambilan mencari kepiting bakau dengan menggunakan kail
yang diberi umpan cacing lalu dimasukkan ke dalam lubang kepiting. Biasanya nelayan
meletakkan bubu wadong tersebut pada waktu sore hari.
B. Teknik Budidaya Kepiting Bakau
Dalam membudidayakan kepiting bakau, ada beberapa tahapan yang harus dilakukan,
diantaranya:
1. Teknik Budidaya Pembesaran
Faktor teknik yang perlu diperhatikan untuk menunjang keberhasilan budidaya
pembesaran kepiting bakau, antara lain :
a. Pemilihan Lokasi Budidaya
Pemilihan lokasi budidaya harus tepat secara teknis operasional dengan
mempertimbangkan beberapa aspek sebagai berikut:
a. mutu air cukup baik
salinitas 15-30 ppt
pH air 7-8
suhu 25-30 C
kandungan O >3 ppm
1

b. mudah diawasi
c. substrat dasar tambak adalah lumpur berpasir
d. untuk sistem karamba harus terhindar dari pengaruh banjir dan mudah
terjangkau oleh pasang surut.
e. merupakan wilayah penangkapan kepiting bakau.
b. Tempat Pemeliharaan
Tempat pemeliharaan kepiting bakau bisa berupa kurungan bambu, waring,
maupun bak beton. Untuk tempat pemeliharaan kepiting yang berasal dari kurungan
bambu (karamba) disarankan berukuran 1,5x1x1meter atau 2x1x1meter. Hal ini
bertujuan memperrmudah pengelolaannya terutama pada waktu mengangkat karamba
di waktu panen.
c.

Pemilihan Benih
Kesehatan benih merupakan satu diantara faktor yang menunjang keberhasilan

dalam usaha penggemukan kepiting. Oleh sebab itu pemilihan dan pengelolaan benih
harus benar dan tepat. Kesehatan benih juga bisa dilihat dari kelengkapan kakikakinya. Hilangnya capit akan berpengaruh pada kemampuan untuk memegang
makanan yang dimakan serta kemampuan sensorisnya. Walaupun pada akhirnya
setelah ganti kulit maka kaki yang baru akan tumbuh tetapi hal ini memerlukan waktu,
belum lagi adanya sifat kanibalisme kepiting, sehingga kepiting yang tidak bisa jalan
karena sedang ganti kulit sering menjadi mangsa kepiting lainnya. Untuk itu maka
harus dipilih benih yang mempunyai kaki masih lengkap. Benih kepiting yang kurang
sehat warna karapas akan kemerah-merahan dan pudar serta pergerakannya lamban.
d. Pengangkutan Benih
Walaupun kepiting bakau merupakan hewan yang tahan terhadap perubahan
lingkungan namun cara pengangkutan yang salah bisa menyebabkan kematian dalam
jumlah banyak atau mengurangi sintasan. Pengangkutan benih sebaiknya dilakukan
sewaktu suhu udara rendah dan kurang sinar matahari. Tereksposenya benih kepiting
ke dalam sinar matahari bisa menimbulkan dehidrasi yang pada akhirnya cairan dalam
tubuh kepiting akan keluar semuanya sehingga menyebabkan kematian. Tingginya
kematian benih setelah sampai tempat tujuan biasanya disebabkan karena benih yang
dibeli memang sudah lemah akibat sudah ditampung beberapa hari oleh pedagang
pengumpul. Biasanya kematian kepiting terjadi setelah hari keempat dalam
penampungan tanpa air. Wadah yang dipakai dalam pengangkutan kepiting sebaiknya
tidak menyebabkan panas dan letakkan kepiting dalam posisi hidup. Wadah sterofoam
dengan panjang 1 m dan lebar 60 cm dapat menyimpan benih sebanyak 100-150 ekor
2

untuk benih yang diikat. Lakukan penyiraman sebanyak 2-3 kali penyiraman dengan
air berkadar garam 10-25 ppt, selama pengangkutan 5-6 jam.
2. Penebaran
Penebaran kepiting bakau dilakukan pada pagi atau sore hari pada karamba. Benih
kepiting yang ditebarberukuran berat 200-300 gram per ekor. Untuk ukuran karamba 1,52x1x1 meter kepadatan tebar nya kurang lebih 15-25 kg atau sebanyak 60-70 ekor.
3. Pemeliharaan
Penempatan karamba dalam petak tambak disarankan diletakkan di dekat pintu
masuk/keluar air. Posisi karamba sebaiknya menggantung berjarak 15 cm dari dasar
perairan yang tujuannya agar sisa pakan yang tidak termakan jatuh ke dasar perairan
tidak mengendap di dalam karamba. Diusahakan seminggu 2 kali karamba dipindah dari
posisi semula hal ini bertujuan agar terjadi sirkulasi/pergantian air. Kegiatan dalam
pemeliharaan setelah penebaran dilakukan:
Pemberian pakan rucah lebih diutamakan dalam bentuk segar sebanyak 5-10% dari
berat badan dan diberikan 2 kali sehari yaitu pagi dan sore/malam hari.
Penggantian air dilakukan bila terjadi penurunan kualitas air.
Sampling dilakukan setiap 5 hari untuk mengetahui perkembangan pertumbuhan
dan kesehatan kepiting.
Dengan pengelolaan pakan yang cermat, cocok dan tepat jumlah maka dalam
tempo 10 hari pertumbuhan kepiting bisa diketahui.
4. Pemanenan
Pemeliharaan/penggemukan kepiting di karamba dapat dilakukan selama 15 hari,
tergantung pada ukuran benih dan laju pertumbuhan. Laju pertumbuhan oleh jenis pakan
yang diberikan dan kualitas air tambak. Untuk memanen kepiting digunakan alat berupa
seser baik untuk tujuan pemanenan total maupun selektif. Pelaksanaan panen harus
dilakukan oleh tenaga terampil untuk menangkap dan kemudian mengikatnya. Selain itu
tempat dan waktu penyimpanan sebelum didistribusikan kepada konsumen menentukan
kesegaran dan laju dehidrasi karena kehilangan berat sekitar 3-4% dapat menyebabkan
kematian.
C. Persiapan Alat dan Bahan Menangkap Kepiting Bakau
Salah satu jenis alat tangkap yang dipakai untuk menangkap kepiting di sekitar hutan
bakau adalah alat tangkap yang disebut bubu wadong. Alat tangkap ini sifatnya pasif,
dipasang menetap di tempat yang diperkirakan akan dilewati oleh kepiting bakau dan supaya
3

kepiting bakau mau memasuki wadong di dalamnya diberi umpan, biasanya memakai ikan,
yang ditusuk dengan bambu supaya tidak terbawa arus atau terjatuh dari bubu. Keseluruhan
bagian dari alat tangkap ini terbuat dari bahan bambu termasuk alat pemancang dan alat
penusuk umpan.
Pada saat akan melakukan penangkapan kepiting bakau, nelayan biasanya menggunakan
perahu/sampan ke tempat tujuan penangkapan. Sesampai di sana barulah nelayan memasang
bubu wadong dengan cara turun langsung ke perairan.