Anda di halaman 1dari 37

1

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Radikal bebas merupakan molekul yang memiliki satu atau lebih elektron
yang tidak berpasangan. Elektron-elektron yang tidak berpasangan ini
menyebabkan radikal bebas menjadi senyawa yang sangat reaktif terhadap selsel tubuh dengan cara mengikat elektron molekul sel1. Dalam keadaan normal
radikal bebas yang diproduksi didalam tubuh akan dinetralisir oleh
antioksidan yang ada didalam tubuh. Bila kadar radikal bebas terlalu tinggi
seperti saat melakukan aktivitas fisik berat, maka kemampuan dari antioksidan
endogen tidak memadai untuk menetralisir radikal bebas sehingga terjadi
keadaan yang tidak seimbang antara radikal bebas dengan antioksidan2.
Tingginya kadar radikal bebas dalam tubuh dapat memicu munculnya
berbagai penyakit degeneratif seperti penyakit jantung, arteriosclerosis,
kanker, serta gejala penuaan. Oleh sebab itu,tubuh kita memerlukan suatu
substansi penting, yakni antioksidan yang dapat membantu melindungi tubuh
dari serangan radikal bebas dan meredam dampak negatifnya3.
Antioksidan merupakan zat yang dapat menetralkan radikal bebas
sehingga dapat melindungi sistem biologi tubuh dari efek merugikan yang
timbul dari proses ataupun reaksi yang menyebabkan oksidasi yang
berlebihan4. Salah satu tanaman dari Indonesia yang telah terbukti memiliki
efek sebagai antioksidan adalah buah naga (Hylocereus polyrhizus Britton &

Rose). Senyawa kimia dari tanaman ini yang memiliki aktivitas sebagai
antioksidan adalah vitamin C, vitamin E, vitamin A dan senyawa polifenol 5.
Penelitian dengan menggunakan ekstrak metanol buah naga (Hylocereus
polyrhizus Britton & Rose) yang diformulasikan dalam bentuk lotio telah
membuktikan bahwa buah naga memiliki aktivitas sebagai antioksidan6.
Kulit merupakan salah satu organ tubuh yang rentan terhadap radikal
bebas. sehingga diperlukan suatu sediaan antioksidan alami untuk melindungi
kulit dari pengaruh radikal bebas yaitu dengan menggunakan sistem
nanoemulsi. Berdasarkan penelusuran literatur yang telah dilakukan, belum
ada hasil penelitian yang mengembangkan buah naga (Hylocereus polyrhizus
Britton & Rose) dalam bentuk nanoemulsi sebagai salah satu sistem
penghantaran obat (Drug Delivery System). Nanoemulsi adalah sistem emulsi
yang transparan, tembus cahaya dan merupakan dispersi minyak dan air yang
distabilkan oleh lapisan film dari surfaktan atau molekul surfaktan, yang
memiliki ukuran droplet 50 nm 500 nm7. Oleh sebab itu, formulasi sediaan
antioksidan dengan sistem nanoemulsi dipilih karena mempunyai kestabilan
secara kinetik sehingga mencegah terjadinya sedimentasi dan kriming selama
penyimpanan8,

jernih,

dapat

meningkatkan

kelarutan

zat

aktif

dan

meningkatkan bioavailabilitasnya10. Karakteristik tersebut membuat sediaan


topikal nanoemulsi mempunyai peranan penting sebagai dalam formula untuk
zat aktif yang tidak larut terutama zat aktif yang sifatnya hidrofil sehingga
sulit untuk menembus lapisan kulit yang sifatnya lipofil.

Sediaan nanoemulsi yang dibuat dalam penelitian ini menggunakan tipe


nanoemulsi air dalam minyak (A/M). Sehingga diperlukan adanya surfaktan
dengan nilai HLB rendah (3-6) untuk membantu terbentuknya nanoemulsi
A/M9. Surfaktan yang dipilih dalam formulasi ini adalah surfaktan nonionik
lipofilik Span 80 (Sorbitan monoleat) dengan nilai HLB 4,3 karena dapat
mempengaruhi sifat barrier kulit dan koefisien partisi pembawa-stratum
korneum, sehingga dapat meningkatkan laju penetrasi zat aktif 10.
Berdasarkan hal-hal yang telah dipaparkan tersebut maka dalam penelitian
ini akan dibuat suatu sediaan antioksidan topikal nanoemulsi tipe A/M
menggunakan span 80 sebagai surfaktan sehingga menghasilkan sediaan
antioksidan alami dengan konsentrasi optimum dari aktivitas antioksidan
ekstrak etanol Hylocereus polyrhizus Britton & Rose, dimana uji efektivitas
antioksidan sediaan nanoemulsi akan diuji melalui metode DPPH, serta uji
stabilitasnya akan dilakukan untuk menentukan formula terbaik.
1.2 Rumusan Masalah
a. Apakah ekstrak etanol buah naga (Hylocereus polyrhizus Britton & Rose)
dapat dibuat dalam bentuk sediaan topikal nanoemulsi ?
b. Berapakah nilai IC50 sediaan topikal nanoemulsi ekstrak etanol buah naga
(Hylocereus polyrhizus Britton & Rose) ?
c. Bagaimana pengaruh Span 80 terhadap stabilitas dari sediaan topikal
nanoemulsi ekstrak etanol buah naga (Hylocereus polyrhizus Britton &
Rose) ?

d. Bagaimana sifat fisik, kimia dan stabilitas sediaan topikal nanoemulsi


ekstrak etanol buah naga (Hylocereus polyrhizus Britton & Rose) ?
1.3 Tujuan
a. Mengetahui apakah ekstrak etanol buah naga (Hylocereus polyrhizus
Britton & Rose) dapat dibuat dalam bentuk sediaan topikal nanoemulsi.
b. Mengetahui nilai IC50 ekstrak etanol buah naga (Hylocereus polyrhizus
Britton & Rose) dalam sediaan topikal nanomulsi.
c. Mengetahui pengaruh Span 80 terhadap stabilitas dari sediaan topikal
nanoemulsi ekstrak etanol mengembangkan buah naga (Hylocereus
polyrhizus Britton & Rose).
d. Mengetahui sifat fisik, kimia dan stabilitas sediaan topikal nanomulsi
ekstrak etanol buah naga (Hylocereus polyrhizus Britton & Rose).
1.4 Manfaat Penelitian
a. Mengetahui manfaat dari ekstrak buah naga (Hylocereus polyrhizus
Britton & Rose) sebagai antioksidan alami.
b. Sebagai dasar penelitian lebih lanjut dalam usaha pengembangan obat
yang berasal dari alam dalam upaya peningkatan kesehatan masyarakat
dan pemanfaatan bahan alam.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

II.1 Buah Naga (Hylocereus polyrhizus Britton & Rose)


II.1.1 Taksonomi Tanaman
Sistematika taksonomi tanaman H. polyrhizus (Gambar 1) adalah
sebagai berikut11:
Kingdom : Plantae
Sub kingdom

: Tracheobionta (tanaman vaskular)

Super divisi

: Spermathophyta (tumbuhan berbiji)

Divisi

: Magnoliophyta (tanaman berbunga)

Kelas

: Magnoliopsida (tanaman dikotil atau berkeping dua)

Ordo

: Caryophyllales

Famili

: Cactaceae (kaktus)

Genus

: Hylocereus

Spesies

: Hylocereus polyrhizus Britton & Rose

(A)

(B)

Gambar 1. (A) Tanaman Buah Naga Merah (B) Buah Naga Merah

II.1.2 Penyebaran Tanaman Buah Naga


Tumbuhan buah naga berasal dari daerah beriklim tropis kering.
Habitat aslinya di Meksiko, Amerika Tengah dan Amerika Selatan bagian
Utara. Di daerah asalnya tersebut buah naga atau dragon fruit ini dinamai
pitahaya atau pitaya roja. Buah naga mulai dikembangkan di Indonesia sejak
tahun 2001 yang mana daerah yang mengembangkan tanaman buah naga ini,
antara lain Pasuruan, Jember, Mojokerto, dan Jobang11.
Adapun jenis dari tanaman buah naga yang diusahakan dan
memiliki prospek yang baik, antara lain11:
a. Buah naga berkulit merah dan berdaging putih (Hylocereus undatus).
b. Buah naga berkulit merah dan berdaging merah (Hylocereus polyrhizus).
c. Buah naga berkulit merah dan berdaging super merah (Hylocereus
castaricensis).
d. Buah naga berkulit kuning halus dan berdaging putih (Selenicereus
megalanthus).
II.1.3 Morfologi Tanaman
Tanaman buah naga merupakan tanaman perennial, tumbuh cepat,
merambat dan tidak berdaun. Batang buah naga berwarna hijau tua,
bersegmen-segmen, tidak berkayu dan kebanyakan berduri. Buah naga
berbentuk lonjong agak mengerucut (oblong) atau secara umum disebut
bentuk berry. Buah tanaman ini memiliki banyak variasi warna, mulai dari
kuning, merah muda, sampai merah12. Ketebalan kulit buah 2-3 cm. Pada

permukaan kulit buah terdapat jumbai atau jambul berukuran 1-2 cm. Biji
berbentuk bulat berukuran kecil dengan warna hitam. Kulit biji sangat tipis,
tetapi keras dan terdapat sekitar 1.200-2.300 biji11.
II.1.4 Kandungan Kimia
H. polyrhizus mengandung senyawa flavonoid dan polifenol, dimana
senyawa ini mempunyai kandungan antioksidan untuk mengikat radikal
bebas dalam sistem biologis14. Selain itu, buah naga juga mengandung
berbagai macam kandungan gizi yang menyehatkan. Kandungan gizi H.
polyrhizus (Tabel 1) secara lengkap telah dilaporkan oleh Taiwan Food
Industry Development and Research Authorities13.
Tabel 1. Kandungan Gizi H. polyrhizus per 100 g 13
Keterangan
Kelembaban air (g)
Protein (g)
Lemak (g)
Serat kasar (g)
Karotenoid (mg)
Kalsium (mg)
Fosfor (mg)
Besi (mg)
Vitamin B1 (mg)
Vitamin B2 (mg)
Vitamin C (mg)
Thiamin (mg)
Riboflavin (mg)
Niasin (mg)
Abu (g)
Lain-lain (g)

Komposisi
82,5-83
0,159-0,229
0,21-0,61
0,7-0,9
0,005-0,012
6,3-8,8
30,2-36,1
0,55-0,65
0,28-0,043
0,043-0,045
8,0-9,0
0,28-0,30
0,043-0,044
1,297-1,300
0,28
0,54-0,68

II.1.5 Manfaat H. polyrhizus Secara Biologis


H. polyrhizus memiliki khasiat untuk kesehatan manusia,
diantaranya ialah sebagai penyeimbang kadar gula darah, pencegah kanker

usus, pelindung kesehatan mulut, pencegah pendarahan dan obat keputihan11.


Pemberian ekstrak metanol H. polyrhizus secara oral pada mencit dapat
menurunkan total kolesterol hingga 49,14%15. Ekstrak metanol H. polyrhizus
dengan konsentrasi 1250, 2500 dan 5000 mg/kg BB tikus yang diberikan
secara oral dengan dosis tunggal tidak menunjukan adanya toksisitas akut
maupun kronis16.
II.2 Kulit
Kulit merupakan organ yang menutupi permukaan tubuh dan memiliki
fungsi utama sebagai pelindung dari berbagai gangguan dan rangsangan luar.
Kulit terbagi atas dua lapisan utama, yaitu epidermis (kulit ari) sebagai lapisan
paling luar dan dermis (korium, kutis, kulit jangat). Di bawah dermis terdapat
subkutis atau jaringan lemak bawah kulit17.

Gambar 2. Struktur dasar kulit manusia18


Epidermis adalah lapisan kulit yang paling luar. Epidermis memiliki
ketebalan yang berbeda, paling tebal berukuran 1 mm, misalnya pada telapak kaki

dan telapak tangan, dan paling tipis berukuran 0,1 mm terdapat pada kelopak
mata, pipi, dahi, dan perut. Sel epidermis disebut dengan keratinosit17.
Epidermis terbagi menjadi lima lapisan, yaitu:
a. Stratum corneum (lapisan tanduk)
Lapisan ini merupakan lapisan yang paling atas dan terdiri atas beberapa
lapis sel pipih, mati, tidak memiliki inti, tidak mengalami metabolisme, tidak
berwarna, dan sangat sedikit mengandung air. Lapisan ini sebagian besar terdiri
atas keratin (protein yang tidak larut dalam air) dan sangat resisten terhadap bahan
kimia. Secara alami, sel-sel yang mati di permukaan kulit akan melepaskan diri
untuk beregenerasi. Permukaan lapisan ini dilapisi oleh lapisan pelindung lembab
tipis bersifat asam disebut mantel asam kulit17.
b. Stratum lucidum (lapisan jernih)
Lapisan ini disebut juga lapisan barrier yang letaknya tepat di bawah
stratum corneum. Lapisan ini merupakan lapisan tipis, jernih, mengandung eleidin
yang terdapat antara stratum lucidum dan stratum granulosum terdapat lapisan
keratin tipis disebut

reins barrier (Szakall) yang tidak dapat ditembus

(impermeable)17.
c. Stratum granulosum (lapisan berbutir-butir)
Lapisan ini tersusun atas sel-sel keratinosit berbentuk poligonal, berbutir
kasar, berinti mengkerut. Dalam butir keratohyalin tersebut terdapat bahan logam,
khususnya tembaga, sebagai katalisator proses pertandukan kulit17.
d. Stratum spinosum (lapisan malphigi)
Lapisan ini memiliki sel berbentuk kubus dan seperti berduri, berinti besar

10

dan berbentuk oval. Setiap sel berisi filamen kecil terdiri atas serabut protein.
Cairan limfe ditemukan mengitari sel-sel dalam lapisan ini17.
e. Stratum germinativum (lapisan basal atau membran basalis)
Lapisan ini merupakan lapisan terbawah epidermis. Di dalamnya terdapat
sel-sel melanosit, yaitu sel yang tidak mengalami keratinisasi dan fungsinya hanya
membentuk pigmen melanin dan melalui dendrit-dendrit diberikan kepada sel-sel
keratinosit. Satu sel melanin untuk sekitar 36 sel keratinosit dan disebut dengan
unit melanin epidermal17.
Dermis terdiri dari serabut kolagen dan elastin, yang berada dalam
substansi dasar yang bersifat koloid dan terbuat dari gelatin mukopolisakarida.
Serabut kolagen mencapai 72% dari keseluruhan berat kulit manusia tanpa lemak.
Di dalam dermis terdapat folikel rambut, papila rambut, kelenjar keringat, saluran
keringat, kelenjar sebasea, otot penegak rambut, ujung pembuluh darah dan ujung
saraf, juga sebagian serabut lemak yang terdapat pada lapisan lemak bawah
kulit19.
II.2.1 Keratinisasi
Sel keratinosit pada lapisan basal atau lapisan tanduk akan
memperbanyak diri, berdiferensiasi, terdesak menuju ke permukaan kulit
sehingga menjadi sel-sel yang mati, kering, dan pipih dalam

stratum

corneum. Kandungan lemak pada stratum germinativum sekitar 13-14%,


sedangkan dalam stratum granulosum turun menjadi 10%, dan hanya bersisa
7% atau kurang dalam stratum corneum. Kandungan air dalam stratum

11

corneum hanya sekitar 25%, sedangkan pada lapisan lainnya dapat mencapai
70%19.
Keratinisasi adalah proses pendewasaan dari stratum germinativum
sampai menjadi sel tanduk dalam stratum corneum yang berlangsung selama
14 21 hari dan sering disebut Cell Turn Over Time19.
II.2.2 Fungsi Biologik Kulit
II.2.2.1 Proteksi
Serabut elastis pada dermis serta jaringan lemak subkutan
berfungsi mencegah trauma mekanik langsung terhadap tubuh bagian
dalam. Lapisan tanduk dan mantel lemak kulit menjaga kadar air
dengan mencegah masuknya air dari luar tubuh dan mencegah
penguapan air, serta sebagai barrier terhadap racun dari luar. Mantel
asam kulit dapat mencegah pertumbuhan bakteri di kulit20.
II.2.2.2 Termoregulasi
Temperatur tubuh diatur dengan mekanisme dilatasi dan
konstriksi pembuluh kapiler dan melalui perspirasi. Saat temperatur
badan menurun terjadi vasokonstriksi, sedangkan saat temperatur
meningkat terjadi vasodilatasi sehingga penguapan akan menjadi lebih
banyak dan tubuh menjadi dingin kembali20.
II.2.2.3 Persepsi sensoris
Kulit bertanggung jawab sebagai indera terhadap adanya
rangsangan dari luar. Rangsangan tersebut kemudian diterima oleh
reseptor-reseptor dan diteruskan ke sistem saraf pusat yang selanjutnya

12

diinterpretasi oleh korteks serebri. Reseptor-reseptor yang bertanggung


jawab terhadap adanya rangsangan tersebut, antara lain Meissner
sebagai reseptor raba, Pacini sebagai reseptor tekanan, Ruffini dan
Krauss sebagai reseptor suhu, dan Nervus End Plate sebagai
reseptor nyeri20.
II.2.2.4 Absorbsi
Absorbsi melalui kulit terdiri dari dua jalur, yaitu melalui
epidermis dan melalui kelenjar sebasea. Bahan-bahan yang mudah larut
dalam lemak akan lebih mudah diabsorbsi dibandingkan dengan air
ataupun bahan yang dapat larut dalam air. Obat dapat terpenetrasi pada
kulit melalui dinding saluran folikel rambut, kelenjar keringat atau
kelenjar sebasea. Dapat pula lewat antara sel-sel stratum corneum atau
menembus sel-sel stratum corneum, cara ini disebut transepidermal17,20.
II.3 Antioksidan
Radikal bebas adalah molekul atau atom yang memiliki satu atau lebih
elektron yang tidak berpasangan. Elektron tersebut sangat reaktif dan cepat
bereaksi dengan molekul lain sehingga terbentuk radikal bebas baru dalam jumlah
besar secara terus-menerus. Radikal bebas dapat menimbulkan kerusakan di
berbagai bagian sel dan menyebabkan berbagai penyakit seperti tumor, kanker,
arterosklerosis, katarak, keriput, penuaan dan lainnya, sehingga diperlukan
antioksidan untuk menghambat oksidasi radikal bebas21,22.
Antioksidan adalah senyawa kimia yang dapat menyumbangkan satu atau

13

lebih elektron kepada radikal bebas, sehingga radikal bebas tersebut dapat
diredam. Antioksidan bersifat sebagai free radical scavenging yang mampu
menghambat oksidasi radikal bebas. Antioksidan digunakan untuk melindungi
kulit dari kerusakan akibat oksidasi dan mencegah penuaan dini. Tubuh manusia
tidak mempunyai cadangan antioksidan dalam jumlah berlebih, sehingga jika
terjadi paparan radikal berlebih maka tubuh membutuhkan antioksidan eksogen
yang dapat berupa pemberian oral dan topikal. Pemberian antioksidan secara
topikal dapat melindungi kulit dari pengaruh buruk sinar UV. Antioksidan pada
penggunaanya, dapat berfungsi sebagai bahan tambahan dan sebagai bahan aktif.
Berdasarkan kelarutanya antioksidan dibagi menjadi 2 yaitu antioksidan larut air
(sodium metabisulfit, asam sitrat dan vitamin C) dan antioksidan larut lemak
(BHT, BHA dan vitamin E). Pada sediaan gel digunakan antioksidan yang larut
dalam air23.
II.4 Nanoemulsi
II.4.1 Deskripsi Nanoemulsi
Nanoemulsi dapat didefinisikan sebagai emulsi dengan ukuran
globul yang sangat kecil. Nanoemulsi dibagi menjadi 2 tipe yaitu sistem
stabil termodinamika dan metastabil. Namun, perbedaan antara nanoemulsi
dengan sistem stabil termodinamika dan metastabil masih kurang begitu
jelas. Berbeda dengan sistem stabil termodinamika, kestabilan sistem
metastabil bergantung pada metode pembuatan. Nanoemlsi dapat memiliki
stabilitas kinetik yang tinggi dan transparan seperti sistem stabil
termodinamika (mikroemulsi). Walaupun metastabil, nanoemulsi dapat

14

memiliki stabilitas lebih dari beberapa bulan atau bahkan lebih dari beberapa
tahun karena adanya misel surfaktan sebagai penstabil24.
Ukuran globul nanoemulsi lebih kecil daripada gelombang cahaya
tampak sehingga terlihat transparan. Ukuran rata-rata nanoemulsi memiliki
kisaran 1-100 nm25.Karena transparan danbiasanya encer, sedikit tanpa
ketidakstabilan dapat dengan mudah terlihat24.
Ukuran globul yang sangat kecil menyebabkan penurun gaya gravitasi
yang besar dan gerak Brown yang dapat mencegah terjadinya sedimentasi
atau creamin sehingga dapat meningkatan stabilitas fisik. Nanoemulsi dapat
stabil secara kinetik karena ukuran globul yang sangat kecil sehingga stabil
dari sedimentasi dan creaming. Ukuran globul yang kecil pun dapat
mencegah flokulasi. Nanoemulsi dapat menghasilkan tegangan permukaan
yang sangat rendah dan luas permukaan yang besar antara fase minyak dan
air24.
Nanoemulsi terbagi menjadi 3 tipe sejak pembuatan nanoemulsi
pertama tahun 1940-an, yaitu nanoemulsi minyak dalam air (O/W), air dalam
minyak (W/O) dan bikontinu. Perubahan antara ketiga tipe tersebut dapat
diperoleh dengan menvariasikan komponen dari nanoemulsi26.
II.4.2 Kelebihan dan Kekurangan Nanoemulsi
Nanoemulsi memiliki kelebihan sebagai berikut24,26,27 :
a. Ukuran globul yang sangat kecil menyebabkan penurunan gaya gravitasi
dan gerak Brown sehingga dapat mencegah terjadinya flokulasi

15

b. Nanoemulsi memiliki luas permukaan yang besar dari sistem emulsi


memungkinkan penetrasi yang cepat dari bahan aktif
c. Ukuran globul yang kecil dapat mencegah terjadinya flokulasi
d. Tidak merusak sel normal dari manusia dan hewan sehingga baik untuk
tujuan terapetik pada manusia dan hewan.
e. Dapat diberikan secara oral jika dalam formula mengandung surfaktan
yang biokompatibel.
f. Merupakan cara yang paling efektif untuk meningkatkan bioavailabilitas
dari nutrasetika.
Disisi lain, seperti halnya mikroemulsi, karena sistem penghantaran
obat sebaiknya biokompatibel, pemilihan eksipien untuk pembuatan
nanoemulsi menjadi terbatas. Penggunaan surfaktan dalam jumlah besar yang
dibutuhkan untuk pembuatan nanoemulsi pun menjadi hal yang tidak
diinginkan. Oleh karena itu, pemilihan yang tepat dari komponen nanoemulsi
dan konsentrasinya menjadi sangat penting28.
II.4.3 Formulasi dan Komposisi Nanoemulsi
Komponen nanoemulsi terdiri dari minyak, air dan surfaktan atau
sering ditambahkan kosurfaktan.
II.4.3.1 Fase Minyak
Komponen minyak yang digunakan memiliki kemampuan
berpenetrasi berbeda yang natinya akan mengembang di daerah grup
ekor dari lapisan surfaktan sehingga mempengaruhi HLB. Minyak
rantai pendek dapat berpenetrasi pada area grup ekor lebih baik

16

daripada rantai panjang alkana sehingga dapat menurunkan HLB. Asam


lemak jenuh seperti asam laurat, miristat, dan kaprat dan asam lemak
tidak jenuh seperti asam oleat, linoleat dan linolenat elah banyak
dipelajari sejak lama dan ditemukan memiliki sifat peningkat penetrasi
masing-masing. Ester asam lemak seperti ester dari etil atau metil asam
laurat, miristat, dan oleat pun dapat digunakan sebagai fase minyak.
Jika fase minyak akan ditambahkan obat, disarankan menggunakan obat
yang lipofilik atau yang memiliki kelarutan tinggi di dalam fase minyak
tersebut agar dapat meminimalkan volume dalam formulasi28.
A. Deskripsi HLB
Konsep HLB (Hidrophile-Lipophile-Balance) ditemukan oleh
Griffin untuk surfaktan non-ionik. Griffin menyusun setiap surfaktan
ke dalam harga bilangan tanpa dimensi yang dihitung dari
perbandingan stoikiometri bagian lipofil dan hidrofil surfaktan
sehingga harga HLB berisi informasi keseimbangan hidrofil-lipofil
yang dihasilkan dari ukuran dan kekuatan gugus hidrofil dan lipofil.
Dengan adanya HLB, identifikasi surfaktan menurut sifatnya
amfifilnya dan klasifikasi tujuan penggunaan yang sesuai menjadi
mungkin dilakukan29.
Berdasarkan tujuan pemakaian, sistem HLB mengikuti skala
angka skala 1 sampai 20 berdasarkan Tabel 2. Harga batas dominasi
antara senyawa lipofil dan hidrofil adalah 10. Secara umum, surfaktan
dengan HLB rendah (3-6) digunakan pada pembuatan W/O sedangkan

17

surfaktan dengan HLB tinggi (8-18) lebih sesuai digunakan dalam


pembuatan O/W29.
Tabel 2. HLB29
Rentang HLB

Aplikasi

1-3

Bahan anti busa

3-6

Emulgator W/O

7-9

Bahan pembasah

8-18

Emulgator O/W

13-15

Zat-zat aktif pencuci

15-18

Mediator larutan

Untuk surfaktan jenis tertentu seperti turunan polioksietilen


dari alkohol lemak dan ester asam lemak dari alkohol bervalensi
banyak, harga HLB-nya pun dapat ditentukan dengan rumus :
HLB = 20 ( 1- VZ )
SZ
Harga HLB juga dapat dihitung langsung dari formula
kimianya dimana sifat hidrofil dan lipofil dari setiap gugus yang
ditentukan melalui pengukuran koalensi lalu disusun sehingga
menghasilkan harga tertentu yaitu :
HLB = harga gugus hidrofil + n (harga gugus dari -CH2)+7

18

Dimana harga n merupakan jumlah gugus dalam molekul.


Harga positif dihasilkan oleh gugus hidrofil sedangkan harga negatif
dihasilkan oleh gugus hidrofob. Formula diatas tidak dapat digunakan
untuk senyawa tidak jenuh stereoisomer atau posisi isomer29.
II.5 Surfaktan
Surfaktan atau zat aktif permukaan adalah suatu zat yang dapat
menurunkan tegangan antarmuka30.Molekul surfaktan terdiri dari dua bagian
berbeda yaitu bagian polar pada kepala dan non polar pada ekor. Dalam
farmasetik, surfaktan digunakan khususnya sebagai emulgator, solubiliter, dan
agen pembasah31.
Apabila surfaktan dimasukkan dalam sistem yang terdiri dari air dan
minyak, maka gugus polar akan mengarah ke fase air sedangkan gugus non polar
akan mengarah ke fase minyak. Surfaktan yang memiliki gugus polar lebih kuat
cenderung membentuk tipe emulsi dalam air (m/a), sedangkan apabila gugus non
polar yang lebih kuat cenderung membentuk tipe air dalam minyak
(a/m)30.Surfaktan yang dipilih harus32:
a. Dapat menurunkan tegangan antarmuka untuk membantu proses
penyebaran selama proses pembentukan system.
b. Menghasilakan film yang fleksibel yang dapat marusak bentuk tetesan
pada kedua fase sehingga dapat bercampur.
c. Memiliki sifat hirdofil-lipofil untu memberikan lengkungan yang tepat
pada daerah antarmuka agar dapat terlihat tipe sistem yang diinginkan,
m/a, a/m, atau bicontinuous.

19

Ada empat jenis surfaktan berdasarkan ionisasinya dalam larutan air yaitu
anionik, kationik, nonionik, dan amfoterik33.
a. Surfaktan Anionik
Surfaktan ini membawa muatan negatif pada bagian hidrofilik. Golongan
utama yang terkandung di dalam surfaktan anionik adalah ion karboksilat, sulfat,
dan sulfonat. Secara luas, surfaktan ini banyak digunakan karena harganya yang
murah. Namun, surfaktan ini dapat menyebabkan iritasi dan toksik sehingga
hanya digunakan untuk sediaan luar. Surfaktan ini hanya menghasilkan emulsi
A/M. Contoh surfaktan ionik yaitu: Garam Na, K, atau ammonium dari asam
lemak

rantai

panjang

seperti

sodium

stearat;

Sodium

lauril

sulfat;

Triethanolamine; Sodium dioctylsulphosuccinate; dan sebagainya33.


b. Surfaktan Kationik
Surfaktan ini mengandung muatan positif pada bagian hidrofilik. Gugus
terpenting pada surfaktan ini terdiri atas senyawa quartenary ammonium.
Surfaktan ini memiliki sifat toksik sehingga cenderung digunakan untuk formula
krim antiseptik. Surfaktan kationik tidak dapat bercampur dengan surfaktan
anionik dan anion polivalen, serta tidak stabil di pH tinggi. Contoh surfaktan
kationik yaitu: Cetrimide; Cetrimonium bromida; Benzalkonium chlorida; dan
Cetylpyridinium chlorida33.
c. Surfaktan Amfoterik
Surfaktan ini memiliki dua sifat pada bagian hidrofiliknya, tergantung pH
sistem. Surfaktan ini bersifat kationik jika pH rendah dan bersifat anionik jika pH
tinggi. Contoh surfaktan amfoterik yaitu: Lecithin33.

20

d. Surfaktan Nonionik
Surfaktan nonionik tidak memiliki muatan pada bagian hidrofiliknya.
Surfaktan nonionik mempunyai kemampuan melarutkan senyawa yang kurang
larut dan memiliki toksisitas rendah. Contoh surfaktan nonionik yaitu: Glikol dan
gliserol ester; Sorbitan ester; Polisorbat; PEG; dan Poloxalkol33.
Untuk mensistematisasi pendekatan hidrofilik/lipofilik pada pemilihan
pengemulsi, Griffin pada tahun 1947 mengembangkan sistem HydrophileLipophile Balance (HLB) dari surfaktan34.Dengan metode ini tiap zat mempunyai
harga HLB atau angka yang menunjukkan polaritas dari zat tersebut. Makin tinggi
harga HLB suatu zat maka zat tersebut bersifat hidrofilik. Sebaliknya, makin kecil
harga HLB maka makin bersifat lipofilik zat tersebut. Nilai HLB suatu surfaktan
dapat menentukan tipe nanoemulsi. Surfaktan dengan nilai HLB 3-6 akan
membentuk tipe air dalam minyak (A/M atau W/O), sedangkan surfaktan dengan
nilai HLB 8-18 akan membentuk tipe minyak dalam air (M/A atau O/W)35.
Bila air dan minyak dicampur dan dikocok akan terbentuk bermacammacam ukuran butiran tetesan. Terjadi tegangan pada antar muka, sebab dua fase
yang tak tercampur mempunyai kekuatan tarik menarik yang berbeda bagi
molekul pada antar muka. Molekul fase A akan ditarik ke dalam fase A dan
ditolak oleh fase B. Umumnya makin besar derajat ketidakcampuran maka makin
besar tegangan antar muka. Untuk membentuk dispersi dan menjaga integritasnya,
yaitu denagan menurunkan tegangan antar muka atau mencegah terjadinya
koalesen30.

21

Surfaktan membantu pembentukan emulsi dengan mengabsorpsi pada


antar muka, dengan menurunkan tegangan interfasial dan bekerja sebagai
pelindung agar butir-butir tetesan tidak bersatu. Emulgator membantu
terbentuknya emulsi dengan 3 jalan yaitu36:
1. Penurunan tegangan antar muka (stabilisasi termodinamik),
2. Terbentuknya film antar muka yang kaku (pelindung mekanik terhadap
koalesen),
3. Terbentuknya lapisan ganda listrik, merupakan pelindung listrik dari
partikel.
II.6 Kosurfaktan
Dalam kebanyakan kasus, surfaktan dalam keadaan sendiri tidak dapat
menurunkan tegangan antarmuka air-minyak secara cukup untuk menghasilkan
sebuah nanoemulsi. Dibutuhkan penambahan sebuah molekul amfifilik rantai
pendek atau kosurfaktan untuk membawa tegangan antarmuka mendekati nol.
Kosurfaktan merupakan molekul kecil bersifat amfifilik, sebuah alkohol rantai
pendek hingga medium (C2-C10). Secara luas molekul yang dapat berfungsi
sebagai kosurfaktan meliputi surfaktan nonionik, alkohol, asam alkanoat,
alkanediol dan alkil amina37.
Sebagian besar surfaktan tidak cukup untuk menurunkan tegangan
antarmuka antara minyak dengan air. Fungsi kosurfaktan adalah untuk membantu
menurunkan tegangan antarmuka antara fase air dan fase minyak. Penambahan
kosurfaktan berperan dalam meningkatkan solubilisasi gugus non polar dan

22

meningkatkan mobilitas ekor hidrokarbon sehingga penetrasi minyak pada bagian


ekor menjadi lebih besar32.
II.7 Cara Pembuatan Nanoemulsi
Pada beberapa kasus, pembuatan nanoemulsi membutuhkan aplikasi
teknik khusus. Nanoemulsi ini dapat dibuat dengan teknik energi tinggi seperti
ultrasonikasi, mikrofluidisasi dan homogenizer bertekanan tinggi. Pembuatan
nanoemulsi dengan energi tinggi ini bergantung pada pembentukan ukuran globul
yang kecil dengan adanya surfaktan atau campuran surfaktan dengan masukan
energi

tinggi.

Selama

pembuatan,

beberapa parameter seperti

tekanan

homoginezer, jumlah siklus homogenisasi dan suhu homogenisasi dapat berubah


yang nantinya akan mempengaruhi ukuran globul nanoemulsi yang sangat penting
dalam stabilitas fisik sistem tersebut24.
Metode pembuatan dengan energi tinggi tidak dapat digunakan pada
beberapa kasus terutama untuk molekul yang labil. Pada kasus tersebut,
digunakan teknik emulsifikasi dengan menggunakan energi rendah seperti
emulsifikasi spontan atau suhu inversi fase24.Metode emulsifikasi spontan sering
dugunakan karena mudah dibuat dalam skala laboratorium, tidak membutuhkan
peralatan yang rumit atau temperatur yang tinggi, dan secara umum dapat
menghasilkan ukuran globul yang kecil38.
II.8 Stabilitas Nanoemulsi
Stabilitas didefinisikan sebagai kemampuan suatu produk obat atau
kosmetik untuk bertahan dalam spesifikasi yang diterapkan sepanjang periode

23

penyimpanan dan penggunaan untuk menjamin identitas, kekuatan, kuaitas, dan


kemurnian produk39.
Ketidakstabilan fisika dari sediaan ditandai dengan adanya pemucatan
wara atau munculnya warna, timbul bau, perubahan dan pemisahan fase, pecahnya
emulsi, pengendapan suspensi atau caking, perubahan konsistensi, pertumbuhan
kristal, terbentuknya gas, dan perubahan fisik lainnya. Kestabilan dari suatu
emulsi ditandai dengan tidak adanya penggabungan fase dalam, tidak adanya
creaming, dan memberikan penampilan bau, warna, dan sifat-sifat fisik lainnya
yang baik30. Kestabilan fisik suatu emulsi atau suspensi dapat dipengaruhi oleh
faktor-faktor yang mempengaruhi kestabilan kimia dari bahan pengemulsi
(emulgator), agen pensuspensi (suspending agent), antioksidan, pengawet dan
bahan aktif39.
II.9 Uji Antioksidan dengan Metode DPPH (2,2-difenil-1-pikrilhidrazil)
Salah satu metode pengujian antioksidan yang populer adalah metode
DPPH40. Metode DPPH merupakan metode yang simpel, cepat dan nyaman
digunakan

dalam

skrining

banyak

sampel

untuk

mengetahui

aktivitas

penangkapan radikal bebas (radical scavenging41. DPPH merupakan radikal bebas


yang stabil yang elektronnya dapat terdelokalisasi sehingga menghasilkan warna
ungu mantap yang dapat dikarakterisasi pada 520 nm. Saat larutan DPPH
dicampur dengan senyawa yang dapat mendonorkan atom hidrogen, terjadi bentuk
reduksi yang ditandai dengan penurunan intensitas warna ungu. Reaksi utama
yang terjadi40 :
Z* + AH = ZH + A*

24

Keterangan :
Z* = radikal DPPH
AH = senyawa pendonor atom hidrogen
ZH = bentuk tereduksi dari DPPH
A* = hasil radikal bebas yang terbentuk

25

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

III.1 Alat dan Bahan


III.1.1 Alat
Alat-alat

yang

dipakai

pada

penelitian

ini,

antara

lain

spektrofotometer Visibel (Shimadzu tipe 2450),vortex, timbangan digital


(Precisa tipe XB 4200C dan BEL tipe M254Ai), freeze drying, homogenizer,
zetasizer nano ver. 6.20,alat-alat gelas (Pyrex), hot plate (Schott tipe D55122), tabung reaksi (Pyrex), bejana maserasi, blender (Cosmos tipe 289G), rotary evaporator (Heldolph tipe Hei-VAP), beban 50, 100, 150, 200 g,
gelas objek, kaca arloji, viskometer Brookfield, pH meter (Horiba tipe
B212), mortir dan stamper, lemari pendingin, , lemari asam (ESCO model
EFH-4A1), sentrifugator, kain saring, krusibel porselen (Pyrex), cawan
penguap (Iwaki Pyrex), desikator (Pyrex), oven (Modena tipe BO 3633).
III.1.2 Bahan
Bahan-bahan yang dipakai pada penelitian ini, antara lain buah naga
merah (H. polyrhizus), etanol p.a, akuades, kalium iodida, bismuth subnitrat,
asam asetat glasial, iodin, garam merkuri (HgCl2), HCl 2 N, HCl pekat,
larutan FeCl3 1%, larutan NaCl 10%, garam gelatin, serbuk seng atau
magnesium, H2SO4 pekat, kloroform, NaOH 2M, HCl 2M, larutan DPPH
(Sigma-Aldrich kode bahan No.SA D9132-1G), etanol 95%, minyak zaitun,
span 80,akuades.

26

III.2 Cara Penelitian


III.2.1 Rancangan Penelitian
Penelitian ini terdiri dari 5 tahap yaitu : 1) ekstraksi H. polyrhizus
dengan etanol memakai cara maserasi, 2) uji pendahuluan ekstrak etanol H.
polyrhizus, 3) formulasi nanoemulsi ekstrak etanol H. polyrhizus, 4) evaluasi
sediaan, 5) uji efektivitas antioksidan dengan metode DPPH.
III.2.2 Variabel Penelitian
III.2.2.1. Variabel bebas
Variabel bebas, yaitu variabel yang mempunyai pengaruh
terhadap penelitian, dalam hal ini adalah variasi konsentrasi ekstrak
etanol H. polyrhizus sebesar 0,04%; 0,08%; 0,16%; 0,32% dan 0,64%
dalam sediaan nanoemulsi.
III.2.2.2. Variabel terikat
Variabel terikat, yaitu variabel yang dipengaruhi atau yang
menjadi akibat adanya variabel bebas, dalam hal ini adalah persen
peredaman radikal bebas DPPH.
III.2.3. Determinasi Tanaman
Determinasi H. polyrhizus yang digunakan dilakukan di Fakultas
Matematika dan Ilmu Pengetahuan Universitas Tanjungpura Pontianak
III.2.4. Pengekstraksian Sampel
Metode ekstraksi yang digunakan dalam penelitian ini adalah
ekstraksi secara maserasi dengan cara buah segar dilumatkan kemudian
dicampurkan dengan etanol sambil diaduk selama 24 jam dalam 3 hari.

27

Ekstrak etanol buah segar disaring dengan kain saring, kemudian ekstrak
etanol dipekatkan menggunakan alat evaporator. Setelah itu ekstrak
dipekatkan menggunakan freeze drying sampai menghasilkan ekstrak kental.
III.2.5. Uji Parameter Non-Spesifik
III.2.5.1. Penetapan kadar Abu Total
Ekstrak ditimbang seksama seberat 1,617 g, lalu dimasukkan
ke dalam cawan penguap yang telah dipijarkan dan ditara. Ekstrak
dipijarkan perlahan-lahan hingga habis, didinginkan dan ditimbang.
Jika dengan cara ini arang tidak dapat dihilangkan, ditambah air panas,
disaring melalui kertas saring bebas abu. Sisa dan kertas saring
dipijarkan dalam krus yang sama. Filtrat dimasukkan ke dalam krus,
diuapkan, dipijarkan hingga bobot tetap dan ditimbang. Kadar abu
terhadap bahan yang telah dikeringkan di udara dihitung42.
III.2.5.2. Penetapan Susut Pengeringan
Ekstrak ditimbang seksama seberat 0,988; 0,9991; dan 1,0473
g zat dalam cawan penguap yang sebelumnya telah dipanaskan pada
suhu penetapan selama 30 menit dan ditara. Ekstrak diratakan dalam
cawan penguap lalu dimasukkan ke dalam ruang pengering,
dikeringkan pada suhu 105 C hingga bobot tetap. Sebelum setiap
penimbangan, ekstrak dibiarkan dalam keadaan tertutup mendingin
dalam eksikator hingga suhu kamar42.

28

III.2.6. Skrining Fitokimia


Uji fitokimia dilakukan untuk menentukan komponen bioaktif yang
terdapat pada ekstrak metanol H. polyrhizus. Uji fitokimia yang dilakukan
terdiri dari uji alkaloid, fenol, flavonoid, tannin, steroid/triterpenoid, saponin,
serta identifikasi betasianin.
III.2.6.1. Pembuatan Pereaksi
a. Pereaksi Dragendroff
Senyawa KI sebanyak 8 g dilarutkan dalam 20 mL air suling,
sedangkan pada bagian lain 1 g bismuth subnitrat dilarutkan dalam 10
mL asam asetat glasial dan 40 mL air suling. Kedua larutan
dicampurkan kemudian diencerkan dengan akuades sampai volume
100 mL. Larutan ini disimpan dalam botol berwarna coklat43.
b. Pereaksi Wagner
Senyawa KI sebanyak 2 g dan iodine sebanyak 1,3 g
dilarutkan dengan akuades sampai volume 100 mL kemudian disaring.
Larutan disimpan dalam botol berwarna coklat43.
c. Pereaksi Meyer
Senyawa HgCl2 sebanyak 1,5 g dilarutkan dengan 60 mL
akuades. Di tempat lain dilarutkan KI sebanyak 5 g dalam 10 mL
akuades. Kedua larutan yang telah dibuat dicampur dan diencerkan
dengan akuades sampai volume 100 mL. Pereaksi Meyer yang
diperoleh disimpan dalam botol berwarna coklat43.

29

III.2.6.2. Alkaloid
Larutan ekstrak sebanyak 1 mL ditambah dengan 1 mL HCl 2
N dan 9 mL akuades. Kemudian dipanaskan di atas penangas air
selama 2 menit, didinginkan dan disaring. Filtrat sebanyak 3 tetes
dipindahkan pada 3 tabung reaksi, kemudian diperiksa adanya
senyawa alkaloid dengan menambahkan pereaksi Meyer, Wagner dan
Dragendroff masing-masing sebanyak 2 tetes. Adanya alkaloid
ditandai dengan terbentuknya endapan putih pada pereaksi Meyer dan
endapan coklat/merah bata pada pereaksi Wagner dan Dragendorff
43,44

III.2.6.3. Fenol
Sebanyak 1 g ekstrak ditambahkan dengan 3 tetes FeCl3 1%.
Terjadinya warna hijau, merah, ungu, biru, atau hitam kuat
menunjukkan adanya fenolat45.
III.2.6.4. Flavonoid
Larutan ekstrak sebanyak 1 mL ditambah dengan sedikit serbuk
seng atau magnesium dan 2 mL HCl pekat. Senyawa flavonoid akan
menimbulkan warna jingga sampai merah dalam waktu 3 menit44.
III.2.6.5. Tanin
Sebanyak 1 g ekstrak diekstraksi dengan 10 mL NaCl 0,9% dan
disaring. Kemudian filtrat ditambah garam gelatin, diamati perubahan
yang terjadi. Pengendapan dengan reagen yang pertama (NaCl 0,9%)

30

atau dengan reagen kedua (garam gelatin) merupakan indikasi adanya


tanin44.
III.2.6.6. Triterpenoid dan Steroid
Ekstrak diekstraksi dengan kloroform atau n-heksan (pelarut
non polar), kemudian disaring. Filtrat yang diperoleh ditambahkan 1
mL CH3COOH glasial dan 1 mL larutan H2SO4 pekat. Jika warna
berubah menjadi biru atau ungu menandakan adanya kelompok
senyawa steroid. Jika warna berubah menjadi merah menunjukkan
adanya senyawa triterpenoid43.
III.2.6.7. Saponin
Larutan ekstrak sebanyak 1 mL ditambahkan 10 mL akuades
dan dikocok kuat selama 10 detik. Hasil dinyatakan positif apabila
buih yang terbentuk stabil selama tidak kurang dari 10 menit, setinggi
1 sampai 10 cm. Pada penambahan 1 tetes HCl 2 N, buih tidak
hilang42.
III.2.6.8. Identifikasi Betasianin
Identifikasi betasianin dilakukan sebanyak 2 cara. Cara pertama
yaitu larutan ekstrak sebanyak 1 mL dipanaskan dengan HCl 2 M
selama 5 menit pada suhu 100 C. Cara kedua yaitu larutan ekstrak
sebanyak 1 mL ditambah dengan NaOH 2 M tetes demi tetes.
Betasianin dalam ekstrak dikatakan positif apabila hilangnya warna
ekstrak semula (cara pertama) dan warna berubah menjadi kuning
(cara kedua)45.

31

III.2.7. Pembuatan Sediaan Topikal Nanoemulsi Ekstrak Etanol H.


Polyrhizus
Nanoemulsi dibuat menjadi 3 formula dengan fase minyak
menggunakan minyak zaitun dan akuades sebagai fase air dengan
perbandingan konsentrasi surfaktan span 80 dan kosurfaktan etanol 95%
(Tabel 3).
Tabel 3. Variasi Formula Nanoemulsi ekstrak Etanol Buah Naga (H.
Polyrhizus)
Komposisi (% b/b)
Bahan

Ekstrak H. Polyrhizus

0,16

0,32

0,64

Minyak Zaitun

Span 80

40

40

40

Etanol 95%

Gliserin

Akuades

Ad 100

Ad 100

Ad 100

Fase minyak nanoemulsi dibuat dengan mencampurkan Span 80 dan


Minyak zaitun

kemudian diaduk konstan sampai homogen dengan

homogenizer dengan kecepatan 5000 rpm selama 1 menit dan ditambahkan


aquades sambil dihomogenkan dengan homogenizer hingga terbentuk sistem
nanoemulsi (tampilan = jernih). Ekstrak H. Polyrhizus dilarutkan dalam
campuran etanol 96%. Larutan ini kemudian dimasukkan ke dalam campuran

32

fase minyak dan fase air sedikit demi sedikit,diaduk dengan homogenizer
dengan kecepatan 5000 rpm sampai larut dan homogen selama 60 menit
hingga terbentuk sistem nanoemulsi yang jernih.
III.2.8 Evaluasi Sediaan Nanoemulsi
III.2.8.1 Organoleptis
Pengamatan secara organoleptis diamati dengan melihat adanya
perubahan bentuk,warna dan bau. Pemeriksaan dilakukan setiap 2
minggu selama 8 minggu
III.2.8.2 Uji Ph
Uji ph dapat dilakukan menggunakan Ph meter pada suhu
ruang. Pertama-tama elektroda dikalibrasi dengan dapar standar ph 4
dan ph 7. elektroda lalu dicelupkan kedalam sediaan higga ph muncul
di layar. Hasil ph di catat46.
III.2.8.3 Penentuan Bobot Jenis
Bobot jenis diukur menggunakan piknometer pada suhu 29 C.
Piknometer yang bersih dan kering ditimbang (A g) lalu diisi dengan
air dan ditimbang (A1 g). Air dikeluarkan dari piknometer dan
piknometer dibersihkan. Sediaan nanoemulsi lalu diisikan ke dalam
piknometer dan ditimbang (A2 g). Bobot jenis sediaan diukur dengan
perhitungan sebagai berikut46:
Bobot jenis = A2-A x massa jenis air (29C)
A1-A

33

III.2.8.4 Penentuan Distribusi Ukuran Globul


Distribusi ukuran globul dari nanoemulsi diukur dengan
menggunakan zetasizer pada suhu 25C.
II.2.8.5 Pengukuran Viskositas
Pengukuran

viskositas

dilakukan

menggunakan

alat

viskometer bola jatuh Hoppler dengan bola jenis stainless steel.


Nanoemulsi dimasukkan ke dalam suatu tabung gelas yang hampir
vertikal dengan volume tertentu. Bola yang digunakan dimasukkan ke
dalam tabung dan salah satu sisi tabung ditutup rapat agar nanoemulsi
tidak keluar dan tabung tidak bocor,sedangkan sisi yang lainnya
ditutup sebelum nanoemulsi dimasukkan ke dalam tabung gelas.
Tabung gelas lalu dibalik sehingga bola akan mulai bergerak ke
bawah. Waktu yang diperlukan bola untuk jatuh diantara garis putih
awal dan garis putih akhir yang ada pada tabung gelas dihitung
dengan teliti. Percobaan ini dilakukan sebanyak 3 kali dan dihitung
rata-ratanya. Viskositas nanoemulsi diukur berdasarkan perhitungan
sebagai berikut :
Viskositas= B pb-pf.t
Keterangan : B= konstanta bola (mPa.s.cm3/g.s) ; pb = kerapatan
bola (g/cm3); pf = kerapatan cairan (g/cm3) ; t = waktu yang
diperlukan bola jatuh (detik)30

34

III.2.8.6 Uji Stabilitas Fisik


A. Uji stabilitas pada suhu ruang
Sampel sediaan disimpan pada suhu kamar (27-30 C) selama
8 minggu, kemudian dilakukan pengamatan organoleptis (perubahan
warna, bau, dan sineresis), pengukuran pH, dengan pengamatan setiap
2 minggu sekali. Pengukuran viskositas dilakukan pada minggu ke-0
dan ke-8.
B. Uji stabilitas pada suhu tinggi
Sampel sediaan disimpan pada suhu tinggi (4020C) selama
8 minggu, kemudian dilakukan pengamatan organoleptis (perubahan
warna, bau, dan sineresis), pengukuran pH, dengan pengamatan setiap
2 minggu sekali.
C. Cycling Test
Sediaan disimpan pada suhu 4C selama 24 jam, lalu
dipindahkan ke dalam oven yang bersuhu 4020C selama 24 jam.
Perlakuan ini adalah satu siklus. Percobaan diulang sebanyak 6 siklus
dan dilakukan evaluasi fisik (perubahan warna, bau, dan sineresis).
Kondisi fisik sediaan dibandingkan selama percobaan dengan sediaan
sebelumnya.
III.2.8.7 Uji Aktivitas Antioksidan dengan Metode DPPH (2,2
difenil-1-pikrihidrazil)
Pengukuran aktivitas antioksidan dilakukan terhadap 2
kelompok,yaitu :

35

a. Kelompok ekstrak etanol H. Polyrhizus setelah penyimpanan


selama 8 minggu pada suhu kamar.
b. Kelompok sampel nanoemulsi yang telah diformulasikan dan
disimpan selama 8 minggu pada suhu kamar.
A. Pembuatan Larutan Sampel`
Formula A, B, dan C sebanyak 1 g masing-masing dilarutkan
dengan 10 mL metanol dalam labu ukur, kemudian disaring
menggunakan kertas saring. Hasil penyaringan kemudian ditampung
filtratnya.
B. Pembuatan Larutan DPPH 50 ppm
Sebanyak 25 mg DPPH dilarutkan dengan metanol dalam labu
ukur sampai 10 mL sehingga diperoleh larutan dengan konsentrasi
2500 ppm, kemudian diencerkan dengan metanol sampai diperoleh
larutan dengan konsentrasi 50 ppm40.
C. Penentuan Panjang Gelombang Serapan Maksimum DPPH
Sebanyak 4 mL larutan DPPH 50 ppm dibiarkan selama 30
menit ditempat gelap pada suhu kamar, serapan larutan diukur dengan
spektrofotometer Visibel pada panjang gelombang 380-780 nm40,42.
D. Perlakuan Nanoemulsi untuk Uji Aktivitas Antioksidan
Sampel sediaan diambil sebanyak 1 gram kemudian
diekstraksi dengan penambahan ad. 100 mL metanol p.a. Kocok
dengan cepat kurang lebih 5 menit. Kemudian hasil pengocokan
disaring dengan kertas saring dan ditampung filtratnya. Dilakukan

36

pengenceran hingga 10.000 ppm dengan cara 1 mL dari filtrat yang


telah disaring diencerkan ad. 100 mL metanol p.a. Selanjutnya
dilakukan pengenceran kembali hingga 1000 ppm. Kemudian
disiapkan 5 buah labu ukur 10 mL, larutan sampel dipipet dengan
sejumlah volume tertentu yaitu 0,25 mL, 1,5 mL, 2,5 mL, 3 mL dan 5
mL, ditambahkan metanol p.a sampai dengan tanda batas sehingga
dihasilkan larutan sampel dengan beberapa konsentrasi yaitu 25 ppm,
150 ppm, 250 ppm, 300 ppm dan 500 ppm. Selanjutnya 1 mL dari
masing-masing larutan sampel ditambahkan 1 mL DPPH dan 3 mL
metanol p.a, dihomegenkan. Larutan uji dan larutan blanko diinkubasi
pada suhu 37C selama 30 menit.
E. Uji Aktivitas Antioksidan dengan Metode DPPH
Serapan larutan uji diukur dengan spektrofotometer UV-Vis
pada panjang gelombang maksimum. Perlakuan yang sama dilakukan
untuk pengujian aktivitas antioksidan ekstrak Etanol H. Polyrhizus
yang telah disimpan selama 8 minggu pada suhu kamar.

37

III.3 Rancangan Penelitian


Fase minyak :
minyak zaitun
dan Span 80

Fase air : akuades

diaduk konstan sampai homogen dengan homogenizer dengan kecepatan


5000 rpm selama 1 menit

Campuran fase air


dan fase minyak

Ekstrak H.
Polyrhizus dilarutkan
dalam campuran
etanol 96%

diaduk dengan homogenizer dengan kecepatan 5000 rpm sampai larut


dan homogen selama 60 menit

sistem nanooemulsi
yang jernih

Gambar 3. Skema Rancangan Penelitian