Anda di halaman 1dari 19

BAB I.

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG


Ilmu katalis sangat dipengaruhi oleh teknologi. Katalisis tersebut
memainkan peranan dominan dalam industri kimia. Banyak proses manufaktur
melibatkan kimia katalitik. Perkembangan kimia katalitik akan terus ditingkatkan
dalam berbagai penelitian, terutama yang dikaitkan dengan kimia organik dan
anorganik .
Kinerja

katalis

berkaitan

dengan

kinetika

kimia,

yaitu

katalis

meningkatkan laju reaksi kimia tanpa mempengaruhi keseimbangan. Katalis


berperan dalam reaksi kimia akan tetapi tidak ikut bereaksi dengan rektan untuk
menghasilkan produk. Kinerja katalis dipengaruhi oleh sifat-sifat katalis dimana
sifat-sifat katalis berupa sifat-sifat fisik yang dapat berkaitan dengan reaksi kimia.
Kinerja katalis berupa ukuran dari seberapa cepat reaksi katalitik terjadi
(mungkin aktivitas laju reaksi, dengan laju konstan, atau konversi); selektivitas
adalah ukuran distribusi produk, seperti rasio tingkat laju kehilangan kegiatan atau
selektivitas selama operasi sebagai katalis mengalami perubahan struktur dan
komposisi. Permukaan katalis sangat dipengaruhi oleh perkembangan teknologi.

1.2 RUMUSAN MASALAH


Berdasarkan latar belakang di atas, kami merumuskan permasalahan
sebagai berikut:
1. Apa pengertian katalis?
2. Apa fungsi dari katalis ?
3. Bagaimana sifat-sifat dari katalis ?
4. Bagaimana deaktivasi katalis?

1.3 TUJUAN
Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini adalah:
1. Untuk mengetahui pengertian katalis
2. Untuk mengetahui fungsi dari katalis
3. Untuk mengetahui sifat-sifat dari katalis
4. Untuk mengetahui deaktivasi katalis

1.4 METODE PENYUSUNAN


Adapun metode yang digunakan dalam penyusunan makalah ini yaitu
metode stuudi pustaka, yang merupakan metode mengumpulkan, menyaring, dan
menyimpulkan suatu bahan bacaan dari berbagai buku dan sumber lainnya.

BAB II.
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Katalis


Katalis adalah suatu zat yang dapat mempercepat laju reaksi reaksi kimia
pada suhu tertentu, tanpa mengalami perubahan atau terpakai oleh reaksi itu
sendiri (lihat pula katalisis). Katalis dapat dibedakan ke dalam dua golongan
utama: katalis homogen dan katalis heterogen. Katalis homogen adalah senyawa
yang memiliki fase sama dengan reaktan ketika reaksi kimia berlangsung. Katalis
homogen merupakan katalis yang mempunyai fasa sama dengan reaktan dan
produk. Penggunaan katalis homogen ini mempunyai kelemahan yaitu:
mencemari lingkungan, dan tidak dapat digunakan kembali. Contoh Katalis
Homogen : Katalis dan pereaksi berwujud gas, dan katalis dan pereaksi berwujud
cair. Sebagian besar reaksi katalis homogen adalah asam basa, seperti halnya
reaksi hidrolisis dari ester atau mutarotasi glukosa.
Katalis heterogen adalah katalis yang fasenya berbeda dengan fase zat
yang bereaksi maupun zat hasil reaksi.Katalis heterogen biasanya membutuhkan
pendukung (support), karena pendukung katalis memiliki kekuatan mekanik,
tahan panas, mempunyai kerapatan ruah yang optimal, dan kemampuan pelarutan
fase aktif. Dalam mempelajari katalis asam basa akan diketahui katalisator asam
spesifik, katalisator basa spesifik, katalisator asam umum dan katalisator basa
umum.
BEBERAPA GAMBARAN TENTANG KATALIS
(1)

Katalis berperan mempercepat reaksi (meningkatkan kecepatan/laju reaksi)

(2)

Katalis tidak muncul di dalam persamaan stoikiometri reaksi, karena


katalis bukanlah reaktan dan juga bukan produk. Hal berlaku secara
umum, kecuali pada kasus reaksi autokatalitik. Katalis muncul di dalam
mekanisme reaksi, serta muncul (secara langsung maupun tidak
langsung) dalam persamaan kecepatan reaksi.
3

(3)

Kuantitas atau banyaknya katalis tidak mengalami perubahan selama


reaksi berlangsung.
Kendatipun demikian, seiring dengan berlangsungnya proses, pada
kenyataannya katalis dapat mengalami perubahan sifat-sifat kimia dan
fisika secara irreversibel yang mengarah kepada terjadinya deaktivasi.

(4)

Komposisi kimiawi suatu katalis tidak berubah pada akhir reaksi.

(5)

Katalis dibutuhkan oleh suatu reaksi dalam kuantitas yang sangat sedikit.
Contoh: 1 gram katalis logam Pt dibutuhkan untuk reaksi
penguraian 108 liter H2O2.

(6)

Jika lebih dari 1 (satu) reaksi berlangsung secara simultan pada saat
yang bersamaan, maka pada umumnya katalis mempengaruhi arah atau
selektivitas atau spesifisitas reaksi.

Artinya, katalis bersifat unik

(spesifik); katalis tertentu hanya mempercepat jenis reaksi tertentu.


(7)

Katalis tidak mengubah atau menggeser kesetimbangan reaksi, termasuk


semua sifat termodinamikanya, seperti kecenderungan keberlangsungan
energi bebas Gibbs reaksi, G),

reaksi (berdasarkan perubahan

besarnya panas reaksi (H), harga tetapan kesetimbangan reaksi (K),


dan konversi maksimum reaksi (Xe) yang dapat dicapai pada kondisi
tertentu. Dengan atau tanpa katalis, sifat-sifat termodinamika reaksi tidak
mengalami perubahan. Katalis hanya berpengaruh terhadap sifat kinetika
reaksi.
(8)

Katalis tidak memulai berlangsungnya suatu reaksi, tetapi mempengaruhi


kecepatan reaksinya. Katalis hanya mempromosikan reaksi-reaksi yang
perubahan energi bebas Gibbs (G)-nya berharga negatif. Dengan kata
lain, katalis tidak mampu mempercepat suatu reaksi, pada kondisi
tertentu, yang secara termodinamika tidak dapat berlangsung.

(9)

Katalis hanya mempercepat reaksi untuk mencapai kesetimbangan


(Bandingkan 2 grafik profil konversi reaksi versus waktu reaksi yang
diilustrasikan pada gambar di bawah ini. Reaksi yang menggunakan
katalis jauh lebih cepat mencapai kesetimbangan dibandingkan dengan
reaksi tanpa katalis).

Karena tetapan kesetimbangan reaksi (K) yang merupakan


perbandingan antara tetapan kecepatan reaksi ke kanan terhadap tetapan
kecepatan reaksi ke kiri tidak mengalami perubahan, maka katalis
bersifat mempercepat reaksi dalam kedua arah. Artinya, katalis yang
mempercepat reaksi ke kanan juga akan mempercepat reaksi ke kiri
(reaksi balik). Contoh: logam baik digunakan sebagai katalis reaksi
hidrogenasi dan sekaligus dehidrogenasi.
(10) Katalis mempunyai suhu operasi optimum

(11) Katalis dapat teracuni oleh suatu zat dalam jumlah yang sangat sedikit
yang disebut racun katalis. Contoh:
Reaksi

Katalis
Pt
Pt
Cu-Zn
Pt

H2 (g) + O2 (g) H2O (g)


SO2 (g) + O2 (g) SO3 (g)
C2H4 (g) + H2(g) C2H6 (g)
H2O2 (g) H2O (g) + O2 (g)

Racun Katalis
CO, H2S, CS2
Senyawa-senyawa Arsen
CO, Hg
HCN, HgCl2

(12) Keaktifan katalis dapat diperbesar oleh suatu zat yang disebut pemercepat
katalis (promotor).
Contoh:

Efisiensi

katalis

CuO-ZnO

yang

digunakan

untuk

mengkatalisis reaksi shift conversion (CO (g) + H2O (g)


CO2 (g) + H2 (g)) pada proses pembuatan pupuk urea
ditingkatkan melalui penambahan promotor Al2O3.
(13) Pada reaksi-reaksi tertentu, terdapat salah satu produk reaksi yang
dapat berfungsi sebagai katalis untuk reaksi yang bersangkutan. Zat atau
produk reaksi ini disebut autokatalis, sedangkan reaksinya biasa disebut
reaksi autokatalitik. Contoh:
Reaksi

Autokatalis

CH3COOCH3 + H2O CH3COOH + CH3OH

CH3COOH

2 KMnO4 + 5 H2C2O4 + 3 H2SO4


2 MnSO4 + K2SO4 + 8 H2O + 10 CO2
2 AsH3 2 As + 3 H2

MnSO4
As

(14) Katalis yang dapat menghambat atau memperlambat kecepatan reaksi


disebut katalis negative (atau inhibitor). Contoh:
Reaksi

Inhibitor
Yod, CO
Asam encer, gliserol
Benzenol, SnCl2

H2 + O2 H2O
H2O2 H2O + O2
H2SO3 + udara H2SO4

2.2 Sifat-Sifat Katalis


1.

Katalis tidak mengalami perubahan yang permanen dalam reaksi,

tapi terlibat dalam mekanisme reaksi, Sehingga pada akhir reaksi zat
tersebut dapat diperoleh kembali.
Berikut ini merupakan skema umum reaksi katalitik, di mana C
melambangkan katalisnya:
A + C AC (1)
B + AC AB + C (2)
Meskipun katalis (C) termakan oleh reaksi 1, namun selanjutnya
dihasilkan kembali oleh reaksi 2, sehingga untuk reaksi keseluruhannya
menjadi,
A + B + C AB + C
Salah satu contohnya adalah reaksi fase gas antara berelang
dioksida (SO2) dan oksigen (O2) untuk menghasilkan belerang trioksida
(SO3), yaitu :
2SO2 (g) + O2 (g) SO3 (g) (1)
Lambat dan mempunyai energi pengaktifan tinggi.
Laju reksi tersebut dapat ditingkatkan dengan menambahkan
katalis, katalis yang digunakan adalah nitrogen oksida (NO). Reaksi
hadirnya NO sebagai katalis adalah sebagai berikut :
2NO (g) + O2 (g) 2NO2 (g) (2)

NO2 (g) + SO2 (g) SO3 (g) + NO (g) (3)


Dua reaksi yang lebih cepat menggantikan reaksi yang lebih lambat.
NO2 yang terbentuk dalam reaksi (2) merupakan senyawa antara darimana
NO dihasilkan kembali dalam reaksi (3).
.
2.

Katalis mempercepat laju

reaksi tetapi tidak mengubah jenis

maupun jumlah hasil reaksi. Katalis mempercepat laju reaksi dengan cara
menyediakan suatu jalur pilihan dengan energi aktivasi yang lebih rendah.
Katalis

dapat

bekerja

dengan membentuk

senyawa antara

atau

mengabsorpsi zat yang direaksikan. Sehingga katalis dapat meningkatkan


laju reaksi, sementara katalis itu sendiri tidak mengalami perubahan kimia
secara permanen. Cara kerjanya yaitu dengan menempel pada bagian
substrat tertentu dan pada akhirnya dapat menurunkan energi pengaktifan
dari reaksi, sehingga reaksi berlangsung dengan cepat.

Berdasarkan

gambar

disamping

,terjadinya

penurunan

energi

aktivasi

sehingga satu reaksi lebih cepat


bereaksi, sehingga dengan kata
lain untuk meningkatkan laju
reaksi

kita

perlu

meningkatkan
tumbukan-tumbukan

untuk
jumlah
yang

efektif. Salah satu cara alternatif


untuk mewujudkannya adalah
dengan

menurunkan

energi

aktivasi. Menambahkan katalis


memberikan perubahaan yang
berarti pada energi aktivasi.

3.

Katalis dapat menurunkan energi aktivasi, tetapi ia tidak

mempengaruhi perbedaan energi antara produk dan pereaksi . Dengan kata


lain, penggunaan katalis tidak akan mengubah entalpi reaksi.

Dalam

gambaran

distribusi

Maxwell-Blotzmann
menggambarkan daerah yang
berwarna biru adalah reaksi
dimana partikel-partikel reaksi
tersebut tidak memiliki energi
yang cukup untuk terjadinya
reaksi,

sedangkan

daerah

disebelah kanan batas energi


aktivasinya

adalah

daerah

dimana partikel-partikel dalam


reaksi tersebut memiliki energi
yang cukup untuk bereaksi saat
terjadinya tumbukan.

Berdasarkan gambar disamping,


penambahan katalis membuat batas
energi

aktivasi

menyebabkan

bergeser
semakin

ke

kiri

besarnya

peluang satu reaksi terjadi lebih banyak

4.

Katalis mengubah mekanisme reaksi dengan menyediakan tahap-

tahap yang mempunyai energi pengaktifan lebih rendah. Penambahan


katalis akan menyebabkan terbentuknya tahap-tahap reaksi tambahan,
yaitu tahap pengikatan katalis dan tahap pelepasan katalis pada akhir
reaksi
5.

Katalis

mempunyai

aksi

spesifik,

artinya

hanya

dapat

mengkatalisis reaksi tertentu.


6.

Katalis hanya diperlukan dalam jumlah sedikit.

7.

Katalis dapat teracuni.

Bila dalam suatu reaksi ada salah satu hasil reaksi yang memiliki sifat
katalis maka disebut autokatalis. Reaksi ini memiliki ciri khas, yaitu mula-mula
reaksi berjalan lambat, lama kelamaan makin cepat. Contoh : reaksi-reaksi Kalium
Permanganat, KMnO4. Salah satu hasil reaksinya adalah MnO atau MnO2.
Sifat Katalis berdasarkan jenisnya
Elemen Katalis

Homogen

Heterogen

Struktur/stoikiometri

Mudah ditentukan

Sulit ditentukan

Daya tahan suhu

Rendah

Tinggi

Tehnik

Seringkali

pemisahan

katalis

(distilasi,

rumit
ekstraksi,

Suspensi, filtrasi (sistem


slurry)

dekomposisi kimiawi)
Tidak

perlu

pemisahan

(sistem fixed-bed)
Kemungkinan

daur

Bisa dilakukan

Tidak perlu (fixed-bed)

ulang katalis
Mudah
slurry)

(suspensi

atau

Potensi

kehilangan

Tinggi

Rendah

katalis

Pengaruh katalis terhadap energy aktivasi dapat dilihat pada gambar 2.

Gambar 2

2.3 Deaktivasi Katalis


Deaktivasi katalis merupakan penurunan aktivitas dan selektivitas katalis
selama pemakaian katalis tersebut. Secara umum, menurut Hughes (1984), ada 3
macam penyebab terjadinya deaktivasi katalis, yaitu:

a. Peracunan (poisoning)
Peracunan secara umum, walaupun tidak tepat, sering diterapkan pada
semua bentuk deaktivasi katalis. Peracunan katalis merupakan deaktivasi katalis
yang disebabkan oleh sejumlah kecil material tertentu untuk katalis tertentu dan

10

berkaitan dengan adsorpsi racun pada situs aktif katalis, sehingga akan
menghalangi proses adsorpsi reaktan oleh katalis.
Peracunan sering dihubungkan dengan kontaminan, misalnya senyawaan
belerang pada aliran umpan dalam proses fraksinasi minyak bumi, yang sering
juga disebut sebagai peracunan oleh pengotor. Kebanyakan proses peracunan
katalis adalah proses irreversibele (tidak dapat balik), sehingga katalis yang telah
teracuni harus diganti atau diregenerasi bila memungkinkan. Secara prinsip,
dimungkinkan upaya untuk menghilangkan pengotor yang bertindak sebagai
racun katalis dari aliran material dasar (raw material) suatu reaksi atau dengan
menggunakan pelindung katalis (catalyst guard).
Tetapi untuk menurunkan kadar pengotor dalam material dasar (misalnya,
menurunkan kadar senyawa belerang sebensar dari 1 ppm dalam reaksi metanasi
terkatalisis oleh nikel) membutuhkan dana yang cukup besar.
Oleh karena itu usaha yang dilakukan adalah mentoleransi kadar pengotor
sampai batas tertentu. Peracunan pada katalis logam didasarkan pada sifat struktur
elektron dari racun dalam fasa gas dan elektron dari katalis dalam fasa padat.
Peracunan terjadi karena racun diserap oleh situs aktif katalis membentuk
kompleks yang teradsorpsi secara kimia. Racun yang efektif pada proses
deaktivasi katalis adalah racun yang mengandung unsure N, P, As, Sb, O, S, Se Te
dan molekul yang mengandung ikatan rangkap, misalnya CO.
Logam berat (Hg, Pb, Bi, Sn, Zs, Cd, Cu) dapat menurunkan aktivitas
katalis. Toksisitas logam berat berkaitan dengan kelima sub orbital d yang terisi
elektron secara penuh atau paling sedikit terisi oleh satu pasangan elektron.
Toksistas tidak akan tejadi apabila unsur tidak mempunyai orbital d atau kalaupun
memiliki orbital d, orbital d-nya kosong. Elektron pada orbital d, berperan pada
proses terjadinya ikatan intermetalik antara logam berat dengan katalis yang akan
menyebabkan adanya toksisitas.
Proses melekatnya benda asing pada permukaan aktif katalis dapat terjadi secara:
a. Fisis dapat diaktifkan kembali. Contoh: Cl2, HCl katalis diaktifkan lagi
dengan cara pemanasan di dalam gas yang bebas Cl2 dan HCl.

11

b. Kimia adsorpsi secara kuat pada permukaan aktif tidak dapat diaktifkan
lagi. Contoh: senyawa arsenik, selenium, tellurium, antimony, lead. (Katalis
V2O5 dan Platinized-silica-gel tahan terhadap racun arsenik).
Apabila sebagai zat yang meracuni adalah reaktan dan berlangsung secara
reversibel maka eliminasinya mudah, akan tetapi apabila zat yang meracuninya
adalah produk maka regenerasinya dilakukan dengan cara :
-

Membuat konversi proses rendah,

Melakukan recycle dengan rasio besar.

Contoh katalis dan racunnya:


Katalis pada kendaraan diesel (CuO atau Al2O3)
Katalis CuO atau Al2O3 akan mengalami keracunan jika terdapat senyawa
sulfur dalam reaktan. Solar Indonesia mengandung sulfur sebesar 0,5% berat,
sehingga CuO atau Al203 tidak dapat digunakan sebagai katalis untuk katalitik
konverter kendaraan diesel.
Katalis pada Sintesis Asam Sulfat (Pt, Fe2O3, V2O5)
Katalis yang digunakan:
a. Pt dengan penyangga asbes atau magnesium sulfat yang telah dikalsinasi
atau silika gel.
b. Fe2O3 Kurang reaktif dibandingkan Pt, tetapi murah, terdapat pada
terak pemanggangan pirit.
c. V2O5 dengan penyangga zeolit atau natural diatomite brick
Tujuan pemakaian penyangga: memperluas permukaan kontak katalis
dengan reaktan
Katalis pada Catalitic reforming (Ni)
Pada umumnya katalis yang dipakai di Steam Reforming adalah Nikel.
Nikel merupakan sulfur absorbent yang sangat baik. Dalam jumlah sangat sedikit

12

saja akan menyebabkan deaktivasi katalis total. Deaktivasi artinya berkurangnya


keaktifan katalis. Dapat terjadi secara kimiawi dan secara fisik.
Penyebab berkurangnya sifat aktif dari katalis
Katalis
Silika alumina

Reaksi

Penyebab

Cracking

Carbon, logam berat, Chemisorpsi


hidrokarbon

Ni, Pt, Cu

Tipe Poisoning

deposition stability

Hidrogenasi,

Senyawa S, Se, Te, P, Chemisorpsi

dehidrogenasi

As, Zn, Pb, NH3, H2S,


C2H4, Fe2O3

Kobalt

Hidrocracking

NH3, S, Se, Te, P, Chemisorpsi

Perak

C2H4 + 1/2O2 --> C2H4O

V2O5

Oksidasi

Fe

Sintesa, Amoniak

CH4, C2H6

Selectivity

Ag

Chemisorpsi
Chemisorpsi

b. Pencemaran (fouling)
Secara umum, jumlah material yang berperan dalam proses deaktivasi
katalis pada proses pencemaran lebih banyak dibandingkan pada proses
peracunan. Tipe proses pencemaran katalis yang paling umum adalah
pembentukan kokas (endapan karbon) dan pengendapan logam pada permukaan
katalis.

13

Pembentukan kokas umumnya terjadi pada katalis yang digunakan dalam


proses fraksinasi minyak bumi atau reaksi yang menggunakan senyawa organik
sebagai umpan.
Kokas terbentuk selama reaksi katalisis, dan bukan merupakan pengotor. Secara
umum, kokas bisa berasal dari reaktan ataupun produk.
Kokas dapat terjadi karena hasil samping reaksi ataupun produk suatu
reaksi. Kokas yang merupakan hasil samping suatu reaksi disebut pencemaran
pencemaran yang berlangsung secara paralel. Sedangkan kokas yang terbentuk
sebagai hasil (produk) reaksi disebut pencemaran secara seri (konsekutif) .Karena
adanya asosiasi intrinsik secara kimiawi, pencemar katalis tidak dapat dihilangkan
dengan cara memurnikan umpan ataupun dengan pemakaian pelindung katalis
(catalyst guard). Sepanjang reaksi kimia berlangsung, kokas akan terbentuk.
Pembentukan kokas dapat diminimalkan dengan cara pemilihan kondisi
reaktor dan pengoperasiannya yang tepat, atau dengan cara memodifikasi katalis
yang digunakan.

Perbedaan utama antara peracunan dan pencemaran katalis dapat adalah:


Peracunan. Berkurangnya ukuran partikel katalis akan menyebabkan
meningkatnya luas permukaan partikel katalis. Luas permukaan partikel katalis
yang besar akan lebih bisa mengakomodasikan racun, karena proses peracunan
terjadi pada lapisan aktif yang tipis di dekat permukaan luar partikel katalis.
Pencemaran. Pencemaran katalis, terutama pembentukan kokas, terjadi pada
situs katalis yang memiliki laju reaksi paling besar. Bertambahnya jumlah
endapan yang relatif besar, akan menutup situs aktif katalis.

c. Sintering (Penggumpalan)
Sintering merupakan proses deaktivasi termal, yaitu proses fisik yang
berkaitan:
hilangnya area material pengembang atau basa oksida
hilangnya penyebaran kristal logam pada katalis logam pengemban
penurunan komponen logam dalam katalis.

14

Berdasarkan tipe katalis yang digunakan, proses sintering dapat dibedakan


menjadi dua. Tipe pertama adalah katalisnya merupakan material tipe pengemban
dengan daerah suhu operasional normal sampai tinggi, misalnya SiO2, Al2O3.
Pengoperasian katalis tipe ini pada suhu tinggi akan menyebabkan
hilangya luas permukaan katalis yang berakibat pada berubahnya struktur pori,
sehingga akan menurunkan aktivitas katalis.
Tipe kedua adalah katalis dengan bahan aktifnya adalah logam yang
diembankan pada pengemban oksida dengan daerah suhu operasional tinggi,
misalnya platina yang diembankan pada silika atau alumina.
Pada tipe kedua ini, sintering terjadi tidak hanya karena pengurangan ara
pengemban, tetapi juga karena hilangnya penyebaran logam pada katalis yang
pada akhirnya menyebabkan turunnya aktivitas katalis. Lebih lanjut sintering tipe
kedua dapat terjadi pada suhu operasional di bawah suhu minimum yang bisa
menyebabkan terjadinya hilangnya area. Pada kasus katalis bifungsi, misalnya
platina teremban dalam alumina, penyimpangan suhu dari suhu daerah
operasional akan menurunkan area kedua komponen katalis, yakni platina dan
alumina.

Beberapa mekanisme pada proses sintering adalah:

Penguapan kondensasi. Karena tekanan uap lebih besar daripada tekanan


pada permukaan cembung ataupun cekung pada permukaan katalis, akan
terjadi kecenderunganpenguapan, dari pertikel penyusun katalis ke
permukaan cekung di antara partikel.

Difusi volume. Difusi atom terjadi dari partikel satu ke partikel yang
berdekatan.

Difusi permukaan. Mekanisme difusi permukaan mencakup migrasi atom


ke permukaan partikel

Difusi butiran di daerah batas antar butiran

Laju sintering meningkat dengan cepat seiring dengan meningkatnya


temperatur. Secara umum proses sintering yang terjadi pada katalis teremban
oksida dengan daerah operasional suhu tinggi meliputi tiga tahap, yaitu:

15

Tahap I, terjadi pertumbuhan partikel-partikel dari area kontak membentuk


leher.

Tahap II, merupakan tahap intermediet, yaitu terjadinya persinggungan


atau titik potong di antara leher-leher tersebut membentuk pori yang
tertutup.

Tahap III, terjadi pertumbuhan lebih lanjut dari partikel-partikel area


kontak tersebut akan menghilangkan pori tertutup pada Tahap II.

Mekanisme proses sintering pada katalis dapat dilihat pada Gambar 2

Berikut adalah daftar beberapa katalis logam dengan suhu sintering-nya.

16

BAB III.
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
-

Katalis adalah

suatu

zat

yang

mempercepat laju

reaksi reaksi

kimia pada suhu tertentu, tanpa mengalami perubahan atau terpakai


oleh reaksi itu sendiri .
-

Fungsi katalis adalah memperbesar kecepatan reaksinya (mempercepat


reaksi) dengan jalan memperkecil energi pengaktifan suatu reaksi dan
dibentuknya tahap-tahap reaksi yang baru

Sifat-sifat katalis :
1. Katalis tidak mengalami perubahan yang permanen dalam reaksi,
tapi terlibat dalam mekanisme reaksi
2. Katalis mempercepat laju

reaksi tetapi tidak mengubah jenis

maupun jumlah hasil reaksi.


3. Katalis dapat menurunkan energi aktivasi, tetapi ia tidak
mempengaruhi perbedaan energi antara produk dan pereaksi
4. Katalis mengubah mekanisme reaksi dengan menyediakan tahaptahap yang mempunyai energi pengaktifan lebih rendah.
5. Katalis mempunyai aksi spesifik, artinya hanya dapat mengkatalisis
reaksi tertentu.
6. Katalis hanya diperlukan dalam jumlah sedikit.
7. Katalis dapat teracuni.
-

Deaktivasi katalis merupakan penurunan aktivitas dan selektivitas


katalis selama pemakaian katalis tersebut. Ada 3 macam penyebab
terjadinya

deaktivasi

katalis,

yaitu:

Peracunan

Pencemaran (fouling), Sintering (Penggumpalan)

17

(poisoning),

3.2 Saran
Katalis sangat diperlukan di berbagai industri, salah satunya di bidang
industri kimia. Sebagai mahasiswa yang nantinya akan terjun ke dunia industri
sebaiknya lebih memahami materi maupun praktikum mengenai sifat-sifat katalis
agar proses yang dilakukan berjalan sesuai prosedur dan mendapatkan hasil yang
diinginkan.

18

DAFTAR PUSTAKA
Purnamasari,Indah , Rusdianasari. 2014. Teknik Reaksi Kimia. Palembang :
Politeknik Negeri Sriwijaya.
2012. Dasar-dasar Katalis. .http://jsruangberbagi.blogspot.com/2012/09/membaca-sambil-menulis-dasardasar.html Diakses pada tanggal 26 Oktober 2014.
2013. Katalis Homogen dan Katalis Asam Basa.
https://dyahernawati.wordpress.com/2013/12/27/katalis-homogen-dankatalis-asam-basa/. Diakses pada tanggal 26 Oktober 2014.
2014. Faktor- faktor yang mempengaruhi laju reaksi.
http://bisakimia.com/2014/01/13/faktor-faktor-yang-mempengaruhi-lajureaksi/. Diakses pada tanggal 26 Oktober 2014.
2009. Ringkasan katalis dan katalisis.
http://matainginbicara.wordpress.com/2009/06/29/ringkasan-katalis-dankatalisis/. Diakses pada tanggal 26 Oktober 2014.
2013. Apakah itu katalis .
http://ilmupengetahuankatalis.blogspot.com/2013/01/apakah-katalisitu.html . Diakses pada tanggal 26 Oktober 2014.

19