Anda di halaman 1dari 12

A.

Pengantar Awal
Definisi Asbabun Nuzul adalah suatu hal yang karenanya
Al-Quran diturunkan untuk menerangkan status (hukum)-nya
pada masa hal itu terjadi baik berupa peristiwa maupun
pertanyaan. Ihwal turunnya ayat Al-Quran terbagi atas dua
bagian yaitu (1) diturunkan tanpa sebab atau pertanyaan
sebelumnya & (2) diturunkan setelah adanya kasus (sebab)
ataupun pertanyaan. Oleh karena itu tidak semua ayat Quran
mempunyai Asbabun Nuzulnya. Tidak termasuk Asbabun Nuzul
berita-berita tentang generasi terdahulu & peristiwa-peristiwa
masa lalu, seperti kisah serangan tentara gajah sebagai
Asbabun Nuzul surah Al-Fiil, kisah Kaum Nuh, Kaum Ad, Kaum
Tsamud & lain-lain.
Para ulama menaruh perhatian yang sangat besar dalam
pengetahuan Asbabun Nuzul. Ulama yang terkenal dibidang ini
adalah Ali bin Madini (guru Imam Bukhari), Al-Wahidi, AlJabari, Syaikhul Islam Ibnu Hajar & As-Suyuthi. As-Suyuthi
dalam Al-Itqan jilid 1 hal 28 berkata, Dalam hal ini, aku
telah mengarang satu kitab lengkap, singkat & sangat baik
serta dalam bidang ilmu ini belum ada satu kitab pun dapat
menyamainya. Kitab itu aku namakan Lubabul Manaqul fi
Asbabin Nuzul. [1]
Pedoman dasar ulama mengetahui Asbabun Nuzul adalah
riwayat shahih dari Rasul SAW atau shahabat ra. Karena
pemberitahuan shahabat mengenai hal ini (bila jelas) maka
hal itu mempunyai hukum marfu. As-Suyuthi berpendapat
dalam Al-Itqan jilid 1 hal 31 bahwa bila ucapan seorang
tabiin secara jelas menunjukkan Asbabun Nuzul, maka
ucapan itu dapat diterima. Dan mempunyai
kedudukan mursal bila penyandaran kepada tabiin itu benar
& ia termasuk salah seorang imam tafsir yang mengambil
ilmunya dari shahabat, seperti Mujahid, Ikrimah & Said bin
Jubair serta didukung oleh hadits mursal yang lain.[2]
B. Manfaat Mempelajarinya
Mengetahui Asbabun Nuzul dari ayat Quran adalah
perkara
yang
penting. Al-Wahidi berpendapat
bahwa

menafsirkan ayat tanpa bertitik tolak pada sejarah &


penjelasan
turunnya
tidaklah
mungkin. Ibnu
Daqiqil
Iedberpendapat bahwa keterangan tentang Asbabun Nuzul
merupakan salah satu jalan yang tepat dalam memahami AlQuran. Ibnu Taimiyah berpendapat bahwa ilmu Asbabun
Nuzul akan membantu dalam memahami ayat, karena ilmu
tentang sebab akan menimbulkan ilmu akibat.
Adapun manfaat mempelajari Asbabun Nuzul adalah :
1. Mengetahui hikmah diundangkannya suatu hukum & perhatian
syara terhadap kepentingan umum.
2. Mengkhususkan hukum yang diturunkan dengan sebab yang
terjadi, bila hukum itu dinyatakan dalam bentuk umum. Ini
bagi mereka yang berpendapat bahwa yang menjadi pegangan
adalah sebab yang khusus bukan lafal yang umum. Masalah ini
merupakan masalah khilafiyah yang akan saya jelaskan
kemudian.
3. Memberi pengkhususan lafal umum (yang terdapat dalil yang
mengkhususkan) hanya terhadap yang selain bentuk sebab.
Dan bentuk sebab itu tidak dapat dikeluarkan, karena
masuknya sebab ke dalam lafal yang umum itu
bersifat qahti (pasti). Contohnya :
Sesungguhnya orang-orang yang menuduh wanita-wanita
yang baik-baik, yang lengah lagi beriman (berbuat zina),
mereka kena la`nat di dunia dan akhirat, dan bagi mereka
azab yang besar. (QS. An-Nuur [24] : 23)
Ayat ini turun berkenaan dengan Aisyah ra secara
khusus[3] atau para isteri Nabi SAW. Namun juga berlaku
umum untuk semua mukminah. Tetapi Allah SWT tidak
menerima tobat orang yang menuduh zina Aisyah atau para
isteri Nabi SAW & menerima tobat jika yang dituduh adalah
mukminah selain mereka.[4] Hal ini mengingat masuknya
sebab (orang menuduh Aisyah & isteri-isteri nabi SAW)
kedalam cakupan makna lafal yang umum itu bersifat qathi.
4. Merupakan cara terbaik untuk memahami makna Al-Quran &
menyingkap kesamaran yang tersembunyi dalam ayat-ayatnya.
Contohnya :







Janganlah sekali-kali kamu menyangka bahwa orang-orang
yang gembira dengan apa yang telah mereka kerjakan dan
mereka suka supaya dipuji terhadap perbuatan yang belum
mereka kerjakan janganlah kamu menyangka bahwa mereka
terlepas dari siksa, dan bagi mereka siksa yang
pedih. (QS. Ali Imran [3] : 188)
Marwan bin Al-Hakam kesulitan memahami ayat ini,
sehingga Ibn Abbas menjelaskan bahwa ayat ini turun
berkenaan dengan ahli kitab yang menyembunyikan persoalan
dari Rasul SAW. Dengan cara itu mereka mengharap dipuji &
mereka bergembira telah berbuat seperti itu.[5] Contoh
lainnya, Firman Allah SWT :





...
Sesungguhnya Shafaa & Marwah adalah sebahagian dari
syi`ar Allah. Maka barangsiapa yang beribadah haji ke
Baitullah atau ber-`umrah, maka tidak ada dosa baginya
mengerjakan sa`i antara keduanya. (QS. Al-Baqarah [2] :
158)
Ada yang berpendapat sai itu mubah dengan ayat ini.
Namun Aisyah ra menjelaskan bahwa sai itu suatu kewajiban
dengan cara menceritakan asbabun nuzul ayat ini yang
berkenaan dengan kebiasaan jahiliyyah orang Anshar.[6]
5. Mengetahui kepada siapa ayat itu diturunkan sehingga ayat
tersebut tidak diterapkan kepada orang lain karena dorongan
rasa permusuhan & perselisihan. Contohnya :







Dan orang yang berkata kepada dua orang ibu bapaknya: "Cis
bagi
kamu
keduanya,
apakah
kamu
keduanya
memperingatkankepadaku bahwa aku akan dibangkitkan,
padahal sungguh telah berlalu beberapa umat sebelumku?
lalu kedua ibu bapaknya itu memohon pertolongan kepada
Allah seraya mengatakan, "Celaka kamu, berimanlah!

Sesungguhnya janji Allah adalah benar". Lalu dia berkata: "Ini


tidak lain hanyalah dongengan orang-orang yang dahulu
belaka". (QS. Al-Ahqaf [46] : 17)
Karena marah kepada Abdurrahman bin Abu Bakar, Marwan
mengatakan bahwa ayat ini turun mengenai Abdurrahman.
Namun Aisyah ra membantahnya & mengatakan, Marwan
telah berdusta. Demi Allah, maksud ayat itu tidaklah
demikian.[7]
C. Lafal & Sebab Ayat
Pembahasan ini dibagi menjadi dua yaitu :
1. Apabila yang diturunkan sesuai dengan sebab secara umum,
atau sesuai dengan sebab secara khusus, maka yang umum
diterapkan pada keumumannya & yang khusus pada
kekhususannya.
Contoh pertama









Mereka bertanya kepadamu tentang haidh. Katakanlah :
"Haidh itu adalah kotoran". Oleh sebab itu hendaklah kamu
menjauhkan diri dari wanita di waktu haidh; & janganlah
kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci. Apabila
mereka telah suci, maka campurilah mereka itu di tempat
yang diperintahkan Allah kepadamu. Sesungguhnya Allah
menyukai orang-orang yang taubat & menyukai orang-orang
yang mensucikan diri. (QS. Al-Baqarah [2] : 222)
Anas berkata : Bila isteri orang-orang Yahudi haid, mereka
dikeluarkan dari rumah. Tidak diberi makan & minum. Dan
didalam rumah tidak boleh bersama-sama. Lalu ditanyakan
tentang hal ini kepada Rasulullah SAW, maka Allah SWT
menurunkan Al-Baqarah [2] : 222. Kemudian sabda Rasul SAW
:
Bersama-samalah dengan mereka di rumah & perbuatlah
segala sesuatu kecuali menggaulinya. (HR. Muslim, Abu
Daud, Nasai, Tirmidzi, Ibnu Majah & yang lainnya)[8]
Contoh kedua

) 78() 77(


)
02() 79(
Dan kelak akan dijauhkan orang yang paling takwa dari
neraka itu, yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah) untuk
membersihkannya, padahal tidak ada seorangpun memberikan
suatu ni'mat kepadanya yang harus dibalasnya, tetapi (dia
memberikan itu semata-mata) karena mencari keridhaan
Tuhannya Yang Maha Tinggi. Dan kelak dia benar-benar
mendapat kepuasan. (QS. Al-Lail [92] : 17-21)
Kata al-atqa menunjukkan
tasrif
berbentuk afal untuk
menunjukkan arti superlative, tafdil yang disertai al-adiyah,
sehingga ia dikhususkan bagi orang yang karenanya ayat itu
turun. Menurut Al-Wahidi, Al-Atqa adalah Abu Bakar AsSiddiq, menurut pendapat para ahli tafsir. Menurut Urwah,
Abu Bakar telah memerdekakan 7 (tujuh) orang budak yang
disiksa karena membela agama Allah, untuk itu turunlah ayat
ini.[9] Amir bin Abdullah bin Zubair, menambahkan, Maka
berkenaan dengan Abu Bakar, turunlah ayat ini.[10]
2. Jika sebab itu khusus sedang ayat yang turun berbentuk
umum. Ada dua pendapat :
a. Menurut Jumhur Ulama, yang menjadi pegangan adalah lafal
yang umum bukan sebab yang khusus. Contohnya :







) 7(



) 6(




) 8(




Dan orang-orang yang menuduh isterinya (berzina), padahal
mereka tidak ada mempunyai saksi-saksi selain diri mereka
sendiri, maka persaksian orang itu ialah empat kali
bersumpah dengan nama Allah, sesungguhnya dia
adalahtermasuk orang-orang yang benar. Dan (sumpah) yang
kelima : bahwa la`nat Allah atasnya, jika dia termasuk orangorang yang berdusta. Isterinya itu dihindarkan dari hukuman
oleh sumpahnya empat kali atas nama Allah sesungguhnya
suaminya itu benar-benar termasuk orang-orang yang dusta,
dan (sumpah) yang kelima : bahwa la`nat Allah atasnya jika

suaminya itu termasuk orang-orang yang benar. (QS. AnNuur [24] : 6-9)
Hukum yang diambil dari lafal umum ini tidak hanya
mengenai peristiwa Hilal, tetapi diterapkan pula pada kasus
serupa lainnya tanpa memerlukan dalil lain. Dan inilah kiranya
pendapat yang lebih tepat.
b. Segolongan ulama berpendapat, yang menjadi pegangan
adalah sebab yang khusus, bukan lafal yang umum. Karena
lafal yang umum itu menunjukkan bentuk sebab yang khusus.
Untuk dapat diberlakukan kepada kasus selain sebab,
diperlukan dalil lain seperti qias.
D. Redaksi Sebab Nuzul
Cara menilai redaksi asbabun nuzul yang bersumber dari
riwayat yang shahih adalah :
1. Redaksi yang menunjukkan dengan jelas sebab nuzul
Berupa
pernyataan
tegas
seperti
perawi
mengatakan sebab nuzul ayat ini adalah begini atau
menggunakan fa taqibiyah (kira-kira seperti maka yang
menunjukkan urutan peristiwa) yang dirangkaikan dengan kata
turunlah ayat, sesudah ia menyebutkan peristiwa atau
( Telah terjadi
pertanyaan. Misalnya ia mengatakan
peristiwa begini) atau

(Rasulullah
SAW ditanya tentang hal begini, maka turunlah ayat ini).
2. Redaksi yang boleh jadi menerangkan sebab nuzul atau
sekadar menjelaskan kandungan hukum ayat
Perawi tidak memastikan sebab nuzul. Hal ini bila perawi
mengatakan : (1) ( ayat ini turun mengenai
urusan ini), (2)

( aku mengira ayat ini
turun mengenai soal ini), (3)

(aku
tidak mengira ayat ini turun kecuali mengenai hal yang
begini).
Ulama belum sepakat untuk redaksi pertama (ayat ini
turun mengenai urusan ini). Imam Bukharimemasukkannya
sebagai hadits musnad[11] sedang yang lain tidak. Imam
Zarkasyi memasukkan redaksi tersebut sebagai kandungan

hukum bukannya sebab nuzul. Ibnu Taimiyah mengatakan


bahwa redaksi itu terkadang menyatakan sebab turun dan
terkadang pula menyatakan kandungan hukum meskipun
sebabnya tidak ada.[12]
E. Cara menentukan Asbabun Nuzul
Abul Hasan Ali bin Ahmad An-Nahwi Al-Mufassir (AlWahidi) mengatakan, Tidak halal berpendapat mengenai
Asbabun Nuzul Kitab kecuali dengan berdasarkan pada
riwayat atau mendengar langsung dari orang yang
menyaksikan turunnya, mengetahui sebab-sebabnya &
membahas tentang pengertiannya serta bersungguh-sungguh
dalam mencarinya. [13]
Adapun cara menentukan Asbabun Nuzul adalah :
1. Apabila semuanya tidak tegas dalam menunjukkan sebab,
maka tidak ada salahnya untuk membawanya kepada atau
dipandang sebagai tafsir & kandungan ayat.
2. Apabila sebagian tidak tegas & sebagian lain tegas, maka yang
menjadi pegangan adalah yang tegas. Contohnya :
Isteri-isterimu adalah (seperti) tanah tempat kamu
bercocok-tanam, maka datangilah tanah tempat bercocoktanammu itu bagaimana saja kamu kehendaki. Dan
kerjakanlah (amal yang baik) untuk dirimu, dan bertakwalah
kepada Allah dan ketahuilah bahwa kamu kelak akan
menemui-Nya. Dan berilah kabar gembira orang-orang yang
beriman. (QS. Al-Baqarah [2] : 223)
Ibn Umar berkata,Ayat ini turun mengenai persoalan
mendatangi isteri dari belakang.[14] Namun bentuk redaksi
riwayat ini tidak tegas. Dalam riwayat lain yang tegas, dari
Jabir dikatakan,Orang-orang Yahudi berkata : Apabila lakilaki mendatangi isterinya dari belakang, maka anaknya nanti
akan bermata juling. Maka turunlah ayat ini.[15]
3. Apabila semuanya tegas, maka riwayat yang shahih yang
menjadi pegangan. Contohnya :

) 3() 2() 1(



) 4(

Demi waktu matahari sepenggalahan naik, dan demi malam


apabila telah sunyi, Tuhanmu tiada meninggalkan kamu dan
tiada (pula) benci kepadamu, dan sesungguhnya akhir itu
lebih baik bagimu dari permulaan. Dan kelak Tuhanmu pasti
memberikan karunia-Nya kepadamu, lalu (hati) kamu menjadi
puas. (QS. Adl-Dluha [93] : 1-5)
Telah beberapa hari wahyu tidak turun. Dalam satu
riwayat dikatakan seorang wanita berkata bahwa setannya
Muhammad sudah meninggalkannya. Maka turunlah ayat
ini.[16] Dalam riwayat lain dikatakan tidak turunnya wahyu
karena dibawah tempat tidur Rasul SAW ada bangkai anak
anjing. Setelah dibersihkan, baru turunlah ayat ini.[17] Dan
yang diambil adalah riwayat pertama karena ia merupakan
riwayat yang shahih.
4. Apabila semuanya shahih, maka dilakukan pentarjihan[18] bila
mungkin. Contohnya :
Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah :
"Roh itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi
pengetahuan melainkan sedikit". (QS. Al-Isra [77] : 85)
Diriwayatkan ayat ini turun di Mekkah[19] sedangkan
riwayat lain dikatakan turun di Madinah.[20] Namun karena
diriwayat kedua ada Ibnu Masud yang hadir & menyaksikan
kejadian itu. Maka yang diambil adalah riwayat kedua.
5. Apabila riwayat sama kuat akan dipadukan. Contohnya :
Dan orang-orang yang menuduh isterinya (berzina), padahal
mereka tidak ada mempunyai saksi-saksi selain diri mereka
sendiri, maka persaksian orang itu ialah empat kali
bersumpah dengan nama Allah, sesungguhnya dia adalah
termasuk orang-orang yang benar. (QS. An-Nuur [24] : 6)
Pemaduan dilakukan antara riwayat[21] yang menyatakan
ayat ini turun mengenai bin Umayyah dengan riwayat[22] yang
menyatakan bahwa ayat ini turun berkenaan dengan
Uwaimir.
6. Apabila riwayat tidak bisa dipadukan akan dipandang sebagai
Asbabun Nuzul yang berulang. Contohnya :


)706(






)707(


Dan jika kamu memberikan balasan, maka balaslah dengan
balasan yang sama dengan siksaan yang ditimpakan
kepadamu. Akan tetapi jika kamu bersabar, sesungguhnya
itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang sabar.
Bersabarlah (hai Muhammad) dan tiadalah kesabaranmu itu
melainkan dengan pertolongan Allah dan janganlah kamu
bersedih hati terhadap (kekafiran) mereka dan janganlah
kamu bersempit dada terhadap apa yang mereka tipu
dayakan. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang
bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan. (QS. AnNahl [16] : 126-128)
Dikatakan ayat ini turun di Mekkah sebelum hijrah
kemudian turun lagi di Uhud kemudian turun lagi sewaktu
penaklukan Makkah.
Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang
beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang
musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum
kerabat (nya), sesudah jelas bagi mereka, bahwasanya orangorang musyrik itu, adalah penghuni neraka Jahannam. (QS.
At-Taubah [9] : 113)
Dikatakan ayat ini turun karena peristiwa Rasul SAW
meminta ampunan untuk Abu Thalib yang sedang
sekarat,[23] kemudian juga turun karena kisah Ali kw yang
mendengar seorang lelaki yang meminta ampunan untuk
kedua orangtuanya yang kafir,[24] juga turun karena kisah
Rasul SAW meminta ampunan untuk ibunya.[25]
As-Suyuthi mengatakan bahwa kadang-kadang sebuah
ayat diulang-ulang penurunannya untuk peringatan & nasehat.
Satu nash Al-Quran kadang-kadang turun dua kali untuk
mengagungkan urusannya & mengingatkan ketika terjadi
sebabnya atau kekhawatiran melupakannya. Hikmah
diulangnya penurunan ini ialah karena timbulnya pertanyaan
atau kasus yang menuntut penurunan lagi ayat itu. Diulangnya

penurunan ini berkemungkinan juga karena ia termasuk hurufhuruf yang harus dibaca atas dua bacaan atau lebih seperti AlFatihah.[26] Ash-Shabuni juga berpendapat sama.[27]
Al-Qattan mengatakan bahwa pendapat mengenai nuzul
yang berulang itu tidak atau kurang memiliki nilai positif
mengingat hikmah berulang kalinya turun suatu ayat itu tidak
begitu nampak dengan jelas. Riwayat yang ada, masih dapat
ditarjih. Misal pembahasan asbabun nuzul yang berkenaan QS.
At-Taubah (9) : 113, dimana riwayat dari Bukhari & Muslim
dapatlah dianggap paling kuat dibanding riwayat yang lain.
Dan juga asbabun nuzul dari akhir QS. An-Nahl yang mana
riwayat-riwayatnya tidak sama derajatnya jadi masih mungkin
ditarjih. Mengambil riwayat yang paling kuat adalah lebih baik
dari pada menyatakannya sebagai asbabun nuzul yang
berulang.[28]
F. Penurunan Ayat Lebih Dahulu daripada Hukumnya
Mengenai hal ini ulama berbeda pendapat. AzZarkasyi mengemukakan pembahasan penurunan ayat lebih
dahulu daripada hukumnya dalam Al-Burhan. Contoh yang
diberikannnya tidaklah menunjukkan bahwa ayat itu turun
mengenai hukum tertentu, kemudian pengamalannya datang
sesudahnya. Tetapi menunjukkan bahwa ayat itu diturunkan
dengan lafal mujmal yang mengandung arti lebih dari satu
kemudian penafsirannnya dihubungkan dengan salah satu artiarti tersebut. Misalnya :

Sesungguhnya beruntunglah orang yang membersihkan diri
(dengan beriman) (QS. Al-Ala [87]: 74)
Diriwayatkan oleh Baihaqi dengan diisnadkan kepada Ibn
Umar, bahwa ayat itu turun berkenaan dengan zakat
Ramadlan (fitrah), Kemudian
dengan isnad yang marfu, Baihaqi meriwayatkan pula
keterangan yang sama. Sebagian dari mereka berkata, Aku
tidak mengerti maksud penakwilan yang seperti ini, sebab
surah ini Makkiyah, sedang di Mekah belum ada Idul Fitri &
zakat.

As-Suyuthi mengemukakan
mendahului hukum :

contoh

nuzul

yang

) 7(

Aku benar-benar bersumpah dengan kota ini (Makkah) &
kamu (Muhammad) menduduki kota (Makkah) ini. (Al-Balad
[90] : 1-2)
Ayat ini Makkiyah padahal Rasul SAW menduduki Mekah adalah
setelah Hijrah.
Abu Muhammad Al-Hasan bin Masud bin Muhammad AlBagawi mengatakan bahwa nuzul itu boleh saja mendahului
hukumnya seperti Firman Allah SWT :
Golongan itu pasti akan dikalahkan & akan mundur
kebelakang. (QS. Al-Qamar [54] : 45)
Surah ini Makkiyah. Umar ra berkata, Aku tidak mengerti
golongan mana yang akan dikalahkan itu. Namun ketika
terjadi Perang Badar, aku melihat Rasulullah SAW berkata
: Golongan itu pasti akan dikalahkan & akan mundur ke
belakang.
Al-Qattan mengatakan bahwa bentuk redaksi sebab nuzul
itu mungkin menunjukkkan sebab & mungkin menunjukkan
hukum-hukum yang dikandung oleh ayat. Dan ayat-ayat yang
disebutkan diatas itu bersifat mujmal, mengandung lebih dari
satu makna atau dengan bentuk bahasa pemberitahuan
tentang apa yang akan terjadi dimasa mendatang.[29]
G. Korelasi Antar Ayat & Surah
Korelasi atau munasabah dalam pengertian bahasa berarti
kedekatan. Az-Zarkasyi mengatakan
manfaatnya
ialah
menjadikan sebagian pembicaraan berkaitan dengan yang
lainnya sehingga hubungannya menjadi kuat, bentuk
susunannya
kukuh
&
bersesuaian
bagian-bagiannya.
Pengetahuan
masalah
ini
tidak
bersifat tauqifi,
tetapi ijtihadi. Berikut beberapa contoh munasabah :
1. Munasabah antar ayat. Contohnya :
) 11(


) 18(



) 11(

"Maka apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana

dia diciptakan, Dan langit, bagaimana ia ditinggikan? Dan


gunung-gunung bagaimana ia ditegakkan? Dan bumi
bagaimana ia dihamparkan?)"QS. Al-Ghasyiyah [88] : 17-20(
Penggabungan antara unta, langit & gunung ini karena
memperhatikan kebiasaan & adat orang-orang yang hidup
dipadang pasir. Dimana mereka sangat membutuhkan unta,
mereka selalu menatap langit menanti hujan, menjadikan
gunung tempat berlindung dan hamparan padang rumput
tempat gembalaan.