Anda di halaman 1dari 11

Skenario

A mother brings her son (5 months) to get immunization. She doing this in order to have her son good immunity. However, mother
has afraid that the immunization can cause her son sicks. See the picture above
Step 1
Immunity: sistem pertahanan manusia sebagai perlindungan terhadap infeksi bakteri atau virus yang masuk dalam tubuh.
Imunization: memberikan kekebalan terhadap penyakit tertentu dengan memasukan virus atau bakteri yang dilemahkan yang komponennya
dilemahkan ke dalam tubuh seseorang.
Step 2
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.

Apa tujuan imunisasi?


Imunization is safety or not?
Kapan dilakukannya imunisasi?
Apa saja faktor-faktor yang mempengarui kekebalan tubuh?
What kind of imun system?
Erapa lama imunisasi itu bertahan?
Bagaimana mekanisme pertahanan tubuh?
What kind of imunization system and how to use it?
How imunization work?
Penyakit apa saja yang akan timbul jika tidak dilakukannya imunisasi?
Bagaimana jika bayi tidak dilakukan imunisasi?
Keadaan setelah dilakukannya imunisasi?
bagaimana pendapat kita jika ada bayi setelah dilakukan imunisasi meninggal?
Bagaimana cara menurunkan suhu tubuh pada bayi setelah imunisasi?

Step 3
1.

2.

3.

4.

5.

6.

Apa tujuan imunisasi?


Untuk mencegah terjadinya penyakit tertentu pada seseorang atau bahkan menghilangkan penyakit tertentu yang ada di dunia
contonya penyakit cacar.
Dan mengurangi angka penderita, agar mencegah terjadinya penyakit.
Dapat menghancurkan atau menghilangkan mikroorgansi atau substansi asing yang masuk dalam tubuh.
Imunization is safety or not?
Aman, karena imunisasi yang berisi virus yang dilemahkan akan menimbulkan kekebalan.
Aman,tapi dalam dunia medis tidak 100% aman karena dapat menimbulkan dampak buruk atau efek samping.
Imunisasi dalam dunia islam itu haram, karena bisa menyebabkan penyakit, karena nantinya akan menimbukan penyakit yang
lebih besar.
Kapan dilakukannya imunisasi?
Hepatitis B saat setelah lahir
Polio, 1 bulan setelah lahir
Campak, pada umur 9 bulan setelah lahir.
Tetanus, 5-28 hari.
Jadwal pemberian imunisasi:
1 bulan bcg, polio 1
2 bulan dpt atau Hb 1, polio 2
3 bulan dpt / Hb 2, polio 3
4 bulan dpt 3 / Hb 3, polio 4
9 bulan campak.
Kenapa polio dilakukan berulang-ulang?
Karena pada waktu umur 16-17 tahun terkena polio karena hanya disuntikan polio 1 kali.
Apa saja faktor-faktor yang mempengarui kekebalan tubuh?

Umur : kalau anak kelenjar tymus masih berkembang dengan baik, kalau sudah dewasa kelenjar tymus akan
berkurang

Lingkungan : suhu mempengaruhi

Gaya hidup : olahraga, makanan.


What kind of imun system?
1.
Non spesifik: bawaan dari kandungan

Fisik: kelenjar lendir, penolakan virus berupa bersin.

Biokimia : ASI, mempertahankan tubuh untuk bayi karena dapat melindungi bakteri gram positif (dinding sel
lebih tebal, sifilis). Ada yang berbentuk lizozim menurunkan bakteri gram negatif (dinding sel lebih tipis,
penyakit kolera).

Humoral: komplomen (membantu proses pemusnahan fagosit dari bakteri) dan interferon (terdapat glikoprotein
yang mengaktifkan sel NK natural killer).
2.
Spesifik: lingungan

Humoral: penghasil limfosit B /sel B (memproduksi antibody)


Macam sel B:
sel B plasma (untuk menghasilkan antibody)
se B memory (untuk mengingat antigen yang pernah masuk)
sel B pembelah ( untuk memproduksi sel B lebih banyak lagi)

Selular: penghasil sel T dari intraseluler.


Berapa lama imunisasi itu bertahan?
Tidak bertahan seumur hidup.

7.
8.

9.
10.
11.

12.
13.

14.
1.

Tetanus bertahan 30 tahun


Batuk rejan (DPT) bertahan 5 tahun.
Kenapa imunisasi perlu diulang-ulang?
Bagaimana mekanisme pertahanan tubuh?
Patogen masuk dari lingkungan bakteri yang lolos akan dimakan oleh makrofag limposit dan monosit diproses oleh
respon imun spesifik.
What kind of imunization system and how to use it?
Vaksin BCG: suntikan ke dalam kulit lengan atas.
Vaksin DPT: difteri, tatanus, pestusis. Otot di pangkal paha
Campak: gumpalan yang beku atau kering. Disuntikan di bawah kulit lengan kiri atas.
Hb: di lengan.
TT: pada otot lengan, paha, dan punggung.
Penyakit apa saja yang akan timbul jika tidak dilakukannya imunisasi?
BCG, tetatus, hepatitis, cacar, polio, campak, idiot
Bagaimana jika bayi tidak dilakukan imunisasi?
Daya tahan tubuh menurun
Terkena berbagai macam penyakit
Keadaan setelah dilakukannya imunisasi?
BCG bayi melakukan penolakan dengan cara demam,efek samping pembengkakan di bekas luka penyuntikan. 2 minggu setelah
penyuntikan dan berakhir 2-3 minggu.
DPT panas 1-2 hari.
Campak: demam, 4-10 hari
bagaimana pendapat kita jika ada bayi setelah dilakukan imunisasi meninggal?
Bagaimana cara menurunkan suhu tubuh pada bayi setelah imunisasi?
Di kompres
Di beri obat, berupa paracetamol
Di beri ASI
Penggunaan termometer untuk memantau panas tubuh
Di kasih selimut tipis
Penggunaan baju yang mudah menyerap keringat
Pengertian vaksin & perbedaan vaksin dan imunisasi?
Imunisasi dalam dunia islam itu haram,

Tentang Imunisasi / Vaksinasi


Sabtu, 1-Sep-2012 | Penulis : KH. WAWAN SHOFWAN
Apa hukum imunisasi/vaksinasi dalam pandangan Islam? Karena ada yang menerangkan bahwa vaksin itu dibuat dengan bahan yang haram.
Misal pangkreas babi, ginjal kera, sel kanker manusia.


Sesuatu yang diperbolehkan karena terpaksa, adalah menurut kadar halangannya.apa yang disembelih dengan menyebut nama selain
Allah; tetapi barangsiapa yang terpaksa memakannya dengan tidak menganiaya dan tidak pula melampaui batas, maka sesungguhnya
Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Q.s. 16/An-Nahl:115


Keadaan darurat itu membolehkan hal-hal yang dilarang,
Kekhawatiran akan menggunakan barang atau cara yang haram dalam menjaga kesehatan atau mengobati penyakit menjadi sebab kahatihatian yang wajib dipelihara. Akan tetapi kebutuhan akan kesehatan dan tindakan medis antuk memeliharanya merupakan bagian dari
dharuriyatul insan yang wajib terpenuhi. Selanjutnya denga amat sederhana kami jelaskan sedikit mengenai poin-poin yang terkandung
dalam pertanyaan.
1.

2.

Penggunaan ginjal kera, maksudnya adalah menggunakan ginjal bayi kera kera yang masih hiup sebagai sawah ladang sekaligus
makanan bagi umpamanya virus polio. Jenis virus ini hanya bisa hidup dan bertumbuhkembang pada ginjal yang masih hidup.
selanjutnya kera itu mati setelah dimbil ginjalnya dan injaya senddiri tetap hidup. Selanjutnya virus itu dipanen diolah dengan
menggunakan media tertentu dan dicampur dengan bahan baku lainnya sehingga menjadi vaksin. Jadi, pada kasus ini tidaklah
menjadi masalah karena ginjal kera menjadi media atau makanan bakteri atau kuman itu tidak terkena hukum haram. Lalu vaksin
yang diantara bahan bakunya bakteri atau kuman yang diinjeksikan ke dalam tubuh manusia hukumnya mubah.
Pankreas babi digunakan untuk diambil enzimnya. Enzim TRIPSIN yang spesifik memotong protein tertentu yang diperlukan
dalam pemisahannya dari bahan lain yang tidak diperlukan. Maka sejak akhir tahun 2008 enzim babi ini telah tidak digunakan
lagi sebagai katalisator, karena telah berhasil menggunakan katalisator lain yang bukan dari binatang itu, jadi vaksin meningitis
yang digunakan sejak akhir tahun 2008 itu telah terbebas dari penggunaan unsur babi pada proses pembuatannya. Jadi, dapat
dikatakan bahwa vaksin unpamanya meningitis yang sekarang beredar itu merupakan cucu buyut yang telah diproduksi tampa
menggunakan enzim babi lagi. Berbeda dengan ketika awal pembuatannya. Jadi, vaksin seperti ini wak. Maka waktu diinjeksikan
diinjeksikan sudah merupakan produk turunan yang sudah bercampur dengan barang haram. Maka dapat disimpulkan bahwa
vaksin jenis ini boleh digunakan. Dan perlu dikeahui bahwa vaksin itu hanya dilakukan dalam keadaan yang amat sangat
dibutuhkan.

3.

Sel Kanker manusia. Pada dasarnya belum didapatkan vaksin yang diambil dari sel kanker manusia untuk mengobati kanker itu
sendiri. Hal itu masil dalam penelitian yang bisa jadi berhasil atau tidak. Akan tetapi yang jelas kanker manusia ini melihat
pertumbuhkembangannya yang begitu cepat dapat dikembangbiakan dengan cepat. Hanya saja perlu dilakukan penelitian yang
berkelanjutan untuk sampai mendapatkan anti bagi kenker manusia yang sedang bertumbuhkembang di dalam tubuh manusia itu
sendiri. Dan jika hal itu terwujud, yaitu anti pertumbuhkembangan kanker pada tubuh manusia apalagi dapat mematikan kanker
pada tubuh manusia, maka jelas hukumnya boleh dimanfaatkan. Penelitian sel kanker ini dilakukan karena terapi bagi penyakit
kanker yang sekarang berkembang masih terlalu besar resikonya bagi pasien. Wallohu alam bish-shawab.

b. Pro Versus Kontra: Haram versus Halal Tentang Vaksinasi-Imunisasi


1). Haram
Para ulama, pemikir, mujtahid ada yang menghukumi haram terhadap tindakan vaksinasi-imunisasi. Argumen yang diajukan antara
lain memasukkan barang najis dan racun ke dalam tubuh manusia. Manusia iu merupakan khaifatullah fi al-ard} dan asyraf almakhlu>qa>t (maskhluk yang paling mulia) dan memiliki kemampuan alami melawan semua mikroba, virus, serta bakteri asing dan
berbahaya.Berbeda dengan orang kafir yang berpendirian manusia sebagai makluk lemah sehingga perlu vaksinasi untuk
meningkatkatkan imunitas pada manusia..
MUI [Mejlis Ulama Indonesia] menghukumi haram menggunakan obat, termasuk vaksinasi-imuniasi, yang najis. Pemberian vaksinasi
IPV [Infection of Pneumococus vaction, selanjutnya cukup disebut IPV] terhadap anak yang menderita imunocompromisme saat ini
boleh sepanjang belum ada jenis IPV lain yang halal. Manfaat yang diharapkan dari vaksin ini antara lain juga untuk mengusahakan
kekebalan paru-paru dari serangan penyakit.
2). Halal
Kelompok kedua mengatakan bahwa vaksinasi-imunisasi adalah halal. Pada prinsipnya vaksinasi-imunisasi adalah boleh alias halal
karena; (1) vaksinasi-imunisasi sangat dibutuhkan sebagaimana penelitian-penelitian di bidang ilmu kedokteran, (2) belum ditemukan
bahan lainnya yang mubah, (3) termasuk dalam keadaan darurat,(4) sesuai dengan prinsip kemudahan syariat di saat ada kesempitan
atau kesulitan. Ayat tersebut menjelaskan prinsip kemudahan dalam pelaksanaan syariat Islam:
Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, dan binatang yang (ketika disembelih) disebut (nama)
selain Allah. Tetapi barang siapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula)
melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (QS al-Baqarah/2 :
172).
c. Pertimbangan-pertimbangan Umum Kehalalan Vaksinasi-Imunisasi
Dalam kesempatan ini penulis memberikan lima macam reasioning yang kiranya dapat menghantarkan pada sikap yang mudahmudahan objektif, sesuai syariat, dan sejalan dengan paradigma ilmu kesehatan.
1). Istih}a>lah
Istih}a>lah adalah berubahnya benda najis atau haram menjadi benda lain yang berbeda nama maupun sifatnya. Contoh (1) adalah
khamer menjadi cuka. Khamer haram hukumnya dan sifatnya memabukkan, setelah menjadi cuka halal hukumnya dan tidak
memabukkan sifatnya. Khamer memang berasal dari benda-benbda suci seperti anggur, kurma, singkong, beras ketan, dan aneka buahbuahan seperti nanas dan dunrian. Contoh (2) adalah kulit bangkai ketika disamak menjadi suci (al-Hadis). Dari kedua benda ini, yaitu
cuka dan kulit yang telah disamak, ternyata tidak ada hukum yang menyatakan najis dan haram.
Atas dasar prinsip ini, cairan vaksin atau vaksin dalam arti bentuk produk yang sudah jadi yang sudah berubah dari bentuk, bau dan
sifatnya dari bahan asalnya, kemudian dimasukkan ke dalam tubuh manusia berproses secara alami atau kimiawi, atau senyawa yang
akhirnya hilang substansi dan sifat vaksin menyatu dengan seluruh organisme dalam tubuh. Selanjutnya difusi makro itu berubah
menjadi zat anti bodi, yaitu sistem kekebalan tubuh terhadap suatu penyakit.
2). Istihla
Istihla adalah bercampunya benda haram atau najis dengan benda lainnya yang suci dan halal yang lebih banyak sehingga
menghilangkan sifat najis dan keharamannya karena benda najis dan haram tersebut telah hilang rasa, bau, maupun warna. Relefan
dengan kasus ini adalah sabda Nabi Saw.:
. .
.
Apabila air telah mencapai dua qullah maka tidak kotor. Dalam suatu riwayat tidak najis. HR. Empat orang [at-Turmuzi, Abu Dawud,
an-Nasai, dan Ibnu Majah. Ibnu Khuzaimah menshahihkannya Ibnu Hajar a-Asqalanbi, 2000: 28).

Atas dasar prinsip ini, cairan vaksin yang begitu sedikit dalam ukuran cc dimasukkan ke dalam tubuh bercampur dengan darah atau
cairan lain, (unsur cairan dalam tubuh mencapi 80 %) yang sekian ratus ribu kali jauh lebih banyak kemudian melaui proses-proses
yang terjadi di dalam tubuh hilanglah sifat, warna, maupun baunya dari materi vaksin asli (sebelum dimasukkan). Harap diingat pula
materi vaksin itu telah berbeda sama sekali dengan bahan-bahan aslinya ketika masing-masingnya belum disenyawakan. Prinsip
istihla sejalan dengan prinsip istihsan. Melalui prinsip ini, najis yang terlalu sedikit yang menempel dalam tubuh tidak menjadi
halangan untuk melakukan salat selama belum hadas. Contohnya adalah jika seseorang melakukan salat. Pada saat itu ada seekor
nyamuk hinggap di tangan. Nyamuk itu kemudian menggigit dan menyedot darah dalam tubuh. Akibatnya si mushalli merasa gatal,
kemudian nyamuk itu dipencet (dalam bahasa Jawa dipithes) sehingga ia mati dan ada darahnya di tempat itu. Keadaan ini tidak
membatalkan salat karena terdapat barang najis, yaitu darah yang tertumpah. Darah yag terlalu sedikit ini tidak dihitung sebagai najis,
dikenal mafu (diampuni atau dimaklumi).
3). Kemudahan dalam kesempitan
Imam asy-Syatibi, ulama dari Andalusia, Spanyol, sekurun dan sekelas Imam Syafii, mengatakan bahwa dalil-dalil tentang
kemudahan bagi umat Islam telah mencapai derajat yang pasti. Di antara dalil itu berbunyi; (1) ad-Di>nu yusrun. Ah}abbu ad-di>ni
ila-lla>hi as-samh}atu al-hani>fatu (Agama itu mudah. Agama yang disenangi Allah adalah agama mudah dan ringan al-Hadis).
(2) Imam Syafii sendiri mengatakan bahwa kaidah syariat itu dibangun di atas fondasi segala sesuatu apabila sempit maka menjadi
luas. (3) Allah berfirman sebagai berikut:
Artinya:
Tiada dosa atas orang-orang yang buta dan atas orang yang pincang dan atas orang yang sakit (apabila tidak ikut berperang). Dan
barangsiapa yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya; niscaya Allah akan memasukkannya ke dalam surga yang mengalir di bawahnya
sungai-sungai dan barang siapa yang berpaling niscaya akan diazab-Nya dengan azab yang pedih.(QS. Al-Fath/48 : 17).
Ayat tersebut menjelaskan bahwa dalam beragama tidak perlu bersulit-sulit. Selain itu, dalam berbagai peristiwa, secara tekstual
hingga 10 kali Allah memberikan kebebasan sebagai peringanan karena tidak bisa melaksanakan perintah-Nya. Intinya, umat Islam
dalam menjalankan keberagamaannya jangan sampai menyulitkan diri, tetapi juga jangan melecehkannya, menganggap ringan, atau
seenaknya sendiri. Melaksanakan perintah sejauh kemampuannya. Allah mengingatkan kepada umat Islam melalui firmannya sebagai
berikut:
Artinya:
Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang
diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdoa): "Ya Tuhan kami, janganlah Engkau
hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat
sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang
tak sanggup kami memikulnya. Beri ma'aflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah
kami terhadap kaum yang kafir."(QS. Al-Baqarah/2 : 286).
4). Berobat dengan yang Haram secara prinsip itu boleh menurut imam syafii, Imam Hanafi, dan Ibnu Hazm Kalau keadaannya
terpaksa dengan mengajukan ayat Alquran sebagai berikut:
Artinya:
Mengapa kamu tidak mau memakan (binatang-binatang yang halal) yang disebut nama Allah ketika menyembelihnya, padahal
sesungguhnya Allah telah menjelaskan kepada kamu apa yang diharamkan-Nya atasmu, kecuali apa yang terpaksa kamu memakannya.
Dan sesungguhnya kebanyakan (dari manusia) benar benar hendak menyesatkan (orang lain) dengan hawa nafsu mereka tanpa
pengetahuan. Sesungguhnya Tuhanmu, Dia-lah yang lebih mengetahui orang-orang yang melampaui batas (QS. Al-Anam/6 : 119).
Dalam ayat ini jelas ada ungkapan boleh memakan haram karena terpaksa, yaitu dalam potongan ayat . . . Ma> harrama alaikum
illa> mad}thurirtum . . . ( . . . kecuali apa yang terpaksa kamu memakannya. ..) dalam posisi makan haram terpaksa adalah
memasukkan barang haram dan najis ke dalam tubuh. Allah membolehkannya
Nabi sendiri membolehkan laki-laki memakai sutra karena sakit kulit. Beliau membolehkan memakai emas kepada sahabat dari
Arfajah untuk menutupi aibnya. Beliau juga membolehkan mencukur rambutnya di waktu ihram karena terkena penyakit di kepala
(borok).
5). Fatwa Majlis Eropa lil Iftaa wa al-Buhuts
Lembaga fatwa dalam merespon kehebohan vaksinasi-imunisasi bagi anak-anak muslim memberikan dua macam pertimbangan, (1)
Mempertimbangkan manfaat vaksin sebagaimana diketahui dari ilmu kedokteran dan menghindari bahaya yang lebih besar, selama
belum ada yang lain yang halal, maka hukumnya boleh berimunisasi untuk anak-anak karena masalah ini termasuk keadaan darurat.
(2) Memberikan wasiat kepada para pemimpin umat Islam agar tidak terlalu keras dalam masalah ijtihadiyah seperti ini yang
membawa maslahat yang lebih besar bagi anak-anak muslim selagi tidak bertentangan dengan dalil-dalil yang jelas.
d. Konklusi dan Implikasi

Atas dasar lima pertimbangan umum di atas dinyatakan bahwa vaksinasi-imunisasi yang bertujuan untuk mengusahakan kesehatan
manusia itu boleh atau halal selagi belum ada bahan vaksinasi-imunisasi yang halaalan thayyiban. Untuk itu, tenaga medis: dokter,
perawat, dan bidan bisa menyuntikkan vaksin (DPT, BCG, MMR, IPV, dan meningitis) untuk mengusahakan kekebalan tubuh manusia
inklusif balita dari serangan penyakit yang disebabkan oleh bakteri, kuman, dan virus yang berbahaya bagi kesehatan. Akan sangat
bagus kalau para sarjana kesehatan (apoteker, analis kesehatan, dokter, Farmakolog, mungkin juga termasuk herbalis) segera
memproduk vaksin yang seluruhnya terbuat dari bahan atau sintetisnya yang sepenuhnya secara material halal).
Himpunan Fatwa Majlis Ulama Indonesia
1. Kenapa polio dilakukan berulang-ulang?
Imunisasi adalah memberikan antigen(gen kekebalan) melalui patogen(penyebab penyakit) yang telah
dilemahkan, Misalnya polio. vaksin polio yang digunakan untuk imunisasi polio diambil dari suku sabin yang
telah dilemahkan.
Kenapa harus berulang-ulang?
Ada 3 fase dari pemberian imunisasi polio sama halnya dengan imunisasi yang lainnya.
Fase pengenalan dimana sistem pertahanan tubuh mulai mengenal penyakit dan membuat
antibody(kekebalan).
berikutnya adalah fase efektor dimana pertahanan tubuh mulai terbentuk untuk melawan penyakit.
fase efektor ini biasanya tidak tahan lama jika tidak diperkuat makanya ada fase ketiga
fase penguat (booster) supaya tubuh tidak melupakan kekebalan yang sudah ada. Dengan fase ini tubuh
mengingat kembali kekebalan dan memperkuat kekebalan.
2. Kenapa imunisasi perlu diulang-ulang?
Kendati di usia bayi imunisasinya sudah lengkap, bukan berarti di usia ini si kecil sudah aman dari ancaman penyakit. Itulah
mengapa ada imunisasi yang harus diulang, disamping imunisasi lanjutan.
Imunisasi akan memberikan antibodi bagi anak. Setelah diimunisasi, antibodi anak akan naik. Tapi suatu saat, antibodi itu akan
turun lagi. Nah, pada saat antibodi turun atau hampir habis, harus diberikan imunisasi lagi agar antibodi yang turun itu bisa
kembali baik. Itulah mengapa, imunisasi ulangan sangat penting.
Kalau tidak, "Antibodi dalam tubuh akan habis atau berkurang, sehingga kemungkinan anak terserang penyakit akan lebih besar,"
terang Prof. Dr. Sri Rezeki H. Hadinegoro, Sp.AK.
Sesuai jadwal
Memang, tutur Sri, imunisasi hanya bersifat pre exposure atau pencegahan primer. "Sebelum anak berkenalan dengan kuman,
jauh-jauh hari sudah kita siapkan pencegahannya." Apalagi jika anak sudah mulai bersosialisasi; mulai masuk play group ,
bermain, bertemu dengan banyak orang, dan sebagainya. Nah, kita, kan, enggak tahu kesehatan orang-orang yang bertemu
dengan anak kita. Tahu-tahu saja anak terkena dipteri, polio, TBC, dan sebagainya. Bahkan, anak yang "dikurung" pun terkadang
masih bisa kena juga. Itulah mengapa, imunisasi menjadi penting.
Lebih jauh dijelaskan oleh Sri, tubuh memiliki ambang pencegahan terhadap serangan penyakit. Ambang pencegahan bisa dilihat
atau diukur lewat pemeriksaan darah. Misalnya, DPT, diukur berapa kadar Dipteri, Pertusis, dan Tetanusnya. Nah, seorang anak
bisa tak terkena ketiga penyakit ini jika antibodinya lebih dari ambang pencegahan.
Ambang pencegahan inilah yang harus dikejar lewat pemberian imunisasi. Tentu saja pemberian imunisasi sebaiknya dilakukan
sesuai jadwal. Biasanya dokter yang akan memberikan jadwal tersebut.
"Jadwal itu bukan asal ditentukan, lo, tapi memang dilihat dari perjalanan penyakit." Jadi, kalau pemberiannya terlambat,
hasilnya pun tak akan maksimal sehingga anak tetap berisiko kena penyakit. Namun begitu, bukan berarti imunisasi lantas tak
perlu diberikan karena sudah kadung terlambat. "Bagaimanapun telatnya, anak tetap harus diberikan imunisasi," tegas Sri,
"dengan harapan belum kebablasan," lanjutnya.
Kendati hasilnya tak maksimal, paling tidak, dengan imunisasi ulangan tersebut, antibodinya tak terlalu rendah. Jadi, Bu-Pak,
segera bawa si kecil ke dokter bila imunisasinya terlambat. Dokter pun akan membuatkan jadwal ulang agar bisa secepatnya
menyelesaikan jadwal imunisasi tersebut, dengan persetujuan orang tua. Tapi harus ditaati, jangan sudah diberi jadwal tapi masih
juga bandel terlambat.
Imunisasi yang harus diulang
Sebagaimana diketahui, ada 5 imunisasi dasar yang diberikan saat anak berusia 0-1 tahun, yaitu Hepatitis B, BCG, DPT, Polio,
dan Campak. Selain itu, ada satu lagi vaksin yang sifatnya hanya dianjurkan -karena biayanya agak mahal- diberikan di usia 0-1
tahun, yaitu HiB (Haemofillus Influenza tipe B) . "HiB merupakan suatu kuman yang bisa menyebabkan radang selaput otak atau
meningitis dan pneumonia. Ini paling berbahaya.

Menurut penelitian, penyakit ini juga menyebabkan kematian terbanyak pada anak-anak. Karena itulah dibuat vaksinnya, meski
masih agak mahal," terang Sri Rezeki . Nah, dari kelima vaksin dasar yang merupakan program pemerintah ini, ada 3 vaksin
yang harus diulang di usia batita, yaitu DPT, polio, dan campak. Sedangkan vaksin BCG dan Hepatitis B cukup diberikan hanya
sekali di usia bayi.
"Vaksin BCG tak perlu diulang karena antibodi yang diperoleh tinggi terus, tak pernah turun seumur hidup. Demikian pula
vaksin Hepatitis B, bisa bertahan lama," jelas Sri. Khusus Hepatitis B, lanjut Sri, yang penting sebetulnya mencegah penularan
dari ibu ke anak. "Usia produktif wanita untuk memiliki anak biasanya, kan, berkisar pada usia 20 sampai 35 tahun. Nah, usia
produktif inilah yang harus dilindungi, yaitu dengan pemberian vaksin Hepatitis B.
Meskipun cuma diberikan satu kali ketika si anak perempuan berusia bayi, namun sudah cukup untuk melindunginya sampai di
usia produktif nanti." Sementara vaksin yang diulang, yaitu DPT, dilakukan setahun setelah DPT 3 karena setelah setahun,
antibodinya akan turun. "Jadi, harus digenjot lagi agar antibodinya bisa baik kembali." DPT memang sangat crusial karena
antibodi yang dihasilkan tak bertahan lama.
Demikian pula halnya dengan Polio, juga diulang setelah Polio 3 karena antibodinya akan turun setelah setahun. Sedangkan
campak diulang pada saat anak berusia 15-24 bulan. Pengulangan dilakukan lewat imunisasi MMR (Measles, Mumps, Rubella) ,
karena selain untuk mencegah campak (Measles) , juga mencegah gondongan (Mumps) dan Rubella yang juga merupakan
sejenis campak.
Pengulangan ini sangat penting agar ibu hamil terhindar dari serangan Rubella. Pasalnya, serangan Rubella selagi hamil
menyebabkan anak yang dilahirkan bisa menjadi cacat. Misalnya, tubuhnya kecil, menderita kelainan jantung, buta, atau cacat
sejak lahir.
Nah, inilah yang harus kita cegah. Bukan berarti vaksin Rubella hanya penting bagi anak perempuan saja, lo. "Anak lelaki juga
penting karena dia akan menjadi calon bapak. Bisa saja, kan, si calon bapak ini menjadi carrier atau pembawa penyakit. Nah, dia
tentu akan menularkan kepada anaknya," terang Sri.
Jadi, tandasnya, kalau mau membasmi penyakit, ya, harus pada semua anak, bukan cuma anak perempuan. Sementara
gondongan, virusnya bisa masuk ke alat-alat reproduksi, baik testis maupun ovum anak. "Bila anak sampai mengalami infeksi
akibat virus gondongan, ia bisa mandul kelak," tutur Sri
http://health.kompas.com/read/2010/11/01/12324224/Mengapa.Imunisasi.Harus.Diulang.
3. bagaimana pendapat kita jika ada bayi setelah dilakukan imunisasi meninggal?
15. Pengertian vaksin & perbedaan vaksin dan imunisasi?
Imunisasi berarti membuat seseorang kebal terhadap sesuatu. Vaksinasi, sebaliknya, menurut Kamus Kedokteran Dorland, hanya
berarti untuk menyuntikkan suspensi mikroorganisme dilemahkan atau dibunuh diberikan untuk pencegahan atau
pengobatan penyakit menular. Vaksinasi tidak menjamin kekebalan
http://www.anakku.net/mengapa-vaksin-perlu-diulang.html
Apa itu vaksin?
Vaksin merupakan suatu sediaan farmasi, yang berisikan zat-zat (substansi) dari mikroorganisme patogen yang dimodifikasi sehingga aman
diberikan kepada manusia. Substansi ini dapat menimbulkan respon fisiologis (bentuk pertahanan diri dari tubuh kita) dan meningkatkan
produksi komponen sistem imun (istilahnya merangsang pembentukannya). Tujuan utamanya bukanlah hal itu, tapi adalah agar sel B dapat
merekam dalam memorinya (tubuh dapat mengenali mikroorganisme yang dimasukkan) sehingga jika ada mikroorganisme tersebut yang
masuk kedalam tubuh, sudah ada pertahanan yang bisa langsung dilakukan karena tubuh sudah mengingat mikroorganisme tersebut.
Vaksinasi & Imunisasi
Apa bedanya?
Vaksinasi adalah proses pemberian vaksin atau toxoid kepada makhluk hidup, dari vaksinasi ini didapatkan artificial immunity (kekebalan
buatan) yang penjelasannya sudah ada di atas.
Imunisasi adalah proses dalam menginduksi atau menyediakan kekebalan tubuh seperti diatas. Salah satunya adalah dengan cara vaksinasi..
jadi yang biasanya kita lihat waktu imunisasi itu, salah satunya adalah vaksin yang diberikan kepada anak-anak.
Apa Isinya?
Vaksin berisikan komponen-komponen tertentu untuk dapat berfungsi meningkatkan respon imun sekaligus menghasilkan kekebalan
buatan. Di dalam vaksin berisi zat yang menyebabkan terbentuknya kekebalan tubuh, zat yang berfungsi meningkatkan kekebalan tubuh,
serta zat-zat yang mampu mengawetkan substansi tersebut diatas.
Secara umum isinya adalah :
1 agen penginfeksi
Substansi ini adalah suatu mikroorganisme atau virus yang telah dilemahkan, yang akan dikenalkan pada sistem imun. Agen penginfeksi
ini dapat berupa
a. substansi utuh agen penginfeksi,
b. bagian tubuh agen penginfeksi,
c. protein membran luar,
d. lipopolisakarida,

e. fimbria, fillia, flagella, dll.,


f. protein yang disekresikan (dikeluarkan)
g. DNA
2 agen peningkat sistem imun (adjuvan)
3 agen pengawet (aditif [preservatif, buffer, surfaktan])
Intinya, pemberian vaksin ini adalah yang paling sering dalam rangka menghambat penyebaran penyakit tertentu, dengan cara meningkatkan
kekebalan tubuh agar siap membentuk kekebalan terhadap penyakit tersebut (yang sudah dimasukkan dalam vaksin dan sebelumnya
dimodifikasi).
Kekebalan Tubuh
Bila sistem imun terpapar pada zat yang dianggap asing, maka ada 2 jenis respon imun yang akan terjadi, yaitu :
1.

respon imun nonspesifik.


Respon imun nonspesifik umumnya merupakan kekebalan bawaan dalam arti bahwa respon terhadap zat asing dapat terjadi
walaupun tubuh sebelumnya tidak pernah terpapar pada zat tersebut.

1.

respon imun spesifik.


Respon imun spesifik merupakan respon didapat yang timbul terhadap zat asing tertentu, terhadap mana tubuh pernah terpapar
sebelumnya. Respon imun jenis ini memiliki memori sehingga paparan berikutnya akan meningkatkan keefektifan mekanisme
pertahanan tubuh. Sifat demikian tidak dimiliki oleh sistem imun bawaan. Respon imun spesifik merupakan dasar dilakukannya
vaksinasi.

Dilihat dari cara timbulnya, terdapat 2 jenis kekebalan, yaitu kekebalan pasif dan kekebalan aktif. Kekebalan pasif adalah kekebalan yang
diperoleh dari luar tubuh, bukan dibuat oleh individu itu sendiri. Contohnya adalah kekebalan pada janin yang diperoleh dari ibu atau
kekebalan yang diperoleh setelah pemberian suntikan imunoglobulin. Kekebalan pasif tidak berlangsung lama karena akan dimetabolisme
oleh tubuh. Waktu paruh IgG misalnya adalah 28 hari, sedangkan yang lainnya lebih pendek. Kekebalan aktif adalah kekebalan yang dibuat
oleh tubuh sendiri akibat terpajan pada antigen (zat asing) seperti pada vaksinasi, atau terpajan secara alamiah.
Berdasarkan respon yang terjadi kekebalan aktif dibagi 2, yaitu respon primer dan respon sekunder. Respon imun primer adalah respon imun
yang terjadi pada pajanan pertama kalinya dengan antigen. Antibodi yang terbentuk pada respon imun primer kebanyakan adalah IgM dan
IgG dengan titer yang lebih rendah dibandingkan dengan respon imun sekunder, demikian pula dengan afinitasnya serta lag phase (waktu
yang dibutuhkan tubuh untuk memberi respon) lebih lama. Respon imun sekunder terjadi pada pajanan kedua dan seterusnya, terhadap zat
asing. Antibodi yang dibentuk terutama IgG dengan titer (jumlah) yang lebih besar dan afinitas yang lebih tinggi serta lag phase yang
singkat. Nah, inilah yang dijadikan dasar vaksinasi. Tubuh bayi yang belum pernah terpajan zat asing diberi vaksin sehingga akan
terbentuk respon imun primer. Bila suatu saat, bayi terpajan oleh kuman (zat asing) yang sesungguhnya, maka akan terbentuk
respon imun sekunder sehingga tubuh akan lebih banyak, lebih cepat, dan lebih kuat memberantas zat asing tersebut dan tidak
menimbulkan sakit.
Aspek Imunisasi
Perlu diketahui bahwa istilah imunisasi dan vaksinasi seringkali diartikan sama. Padahal, tidak lah sama. Imunisasi adalah suatu proses yang
bertujuan untuk membuat tubuh kebal terhadap suatu penyakit. Imunisasi dibagi menjadi 2, yaitu imunisasi aktif dan imunisasi pasif.
Imunisasi aktif adalah suatu tindakan yang dengan sengaja memberikan paparan kepada tubuh dari antigen yang berasal dari suatu patogen,
dengan harapan tubuh akan membentuk sistem kekebalan terhadap patogen tersebut. Imunisasi aktif sering disebut dengan vaksinasi.
Sedangkan imunisasi pasif adalah memberikan imunoglobulin (kekebalan yang sudah jadi) kepada tubuh seseorang sehingga dapat
memberikan perlindungan dengan segera dan cepat yang seringkali dapat terhindar dari kematian. Hanya saja perlindungan tersebut tidaklah
permanen melainkan berlangsung beberapa minggu saja. Demikian pula cara tersebut adalah mahal dan memungkinkan anak justru menjadi
sakit karena secara kebetulan atau karena suatu kecelakaan serum yang diberikan tidak bersih dan masih mengandung kuman yang aktif.
Dengan demikian vaksinasi dengan imunisasi tidak lah sama. Vaksinasi adalah bagian dari imunisasi. Namun, tidak semua imunisasi adalah
vaksinasi.
Jenis-Jenis Vaksin
Pada dasarnya vaksin dibuat dari :
1.

Kuman yang telah dilemahkan atau dimatikan.


Vaksin hidup dibuat dari virus atau bakteri liar penyebab penyakit. Virus atau bakteri liar ini dilemahkan di laboratorium,
biasanya dengan cara pembiakan berulang-ulang, misalnya vaksin campak yang dipakai sampai sekarang, diisolasi untuk

mengubah virus liar campak menjadi virus vaksin dibutuhkan 10 tahun dengan cara melakukan penanaman pada jaringan media
pembiakan secara serial dari seorang anak yang menderita penyakit campak pada tahun 1954.
Vaksin yang dimatikan dihasilkan dengan cara membiakan bakteri atau virus dalam media pembiakan, kemudian dibuat tidak
aktif dengan penambahan bahan kimia (biasanya formalin).
Contoh vaksin yang dimatikan : vaksin polio salk, vaksin batuk rejan. Contoh vaksin yang dilemahkan : vaksin BCG, vaksin
polio sabin, vaksin campak.
Adapun media pembiakan (tempat menumbuhkan kuman sehinga menjadi banyak sebelum dibuat vaksin) itu bermacam-macam.
Kuman penyebab demam kuning ditumbuhkan di dalam media yang terbuat dari embrio ayam, kuman polio ditumbuhkan dalam
media yang terbuat dari sel ginjal monyet, kuman tuberkulosis (BCG) ditumbuhkan dalam media bakteriologik.
Jadi tidak seperti yang ditanyakan oleh ummi syakir di atas, vaksin tidak lah mengandung bahan-bahan seperti sel ginjal monyet,
sel kanker, atau sel babi. Hanya saja kuman yang dibuat vaksin harus ditumbuhkan dulu di media pembiakan yang sudah kami
sebutkan di atas, sebelum dijadikan vaksin. Kenapa harus dibiakan? Agar didapatkan kuman yang lemah atau mati sehingga tidak
menyebabkan sakit pada bayi.
1.

Zat racun (toxin) yang telah dilemahkan (toxoid).


Vaksin jenis ini dibuat dengan mengambil zat racun dari kuman. Contoh : toksoid tetanus, toksoid difteri.

1.

Bagian kuman tertentu atau komponen kuman yang biasanya berupa protein khusus.
Vaksin jenis ini, organisme tersebut dibuat murni dan hanya komponen-komponennya yang dimasukkan dalam vaksin, seperti
kapsul polisakarida, bagian fraksional yang masuk sub unit kuman. Contoh : Hepatitis B, pertusis, Tifoid Vi, pneumokokus,
meningokokus.

Untuk meningkatkan imunogenitas (kekuatan yang dapat menimbulkan kekebalan) vaksin perlu diberi zat tambahan, yang dinamakan
adjuvan. Misalnya, vaksin tetanus toxoid sering berisi garam alumunium. Garam ini akan berinteraksi dengan toxoid secara ionik sehingga
dapat menstimulasi respon imun. Toxin pertusis dapat menjadi adjuvan dari toxoid tetanus dan toxoid difteri, sehingga dapat
dikombinasikan menjadi vaksin DPT.
Keberhasilan Imunisasi
Terkadang anak yang sudah diimunisasi masih tetap terkena penyakit. Jadi tidak semua anak yang diimunisasi terbebas dari serangan
penyakit. Semua itu tergantung seberapa tingkat keberhasilan imunisasi yang dilakukan. Begitu pula, waktu perlindungan yang terjadi pun
bervariasi. Ada anak yang terlindung dalam waktu yang lama, ada pula yang terlindung hanya sebentar saja. Keberhasilan imunisasi
tergantung pada beberapa faktor :
1.

Waktu pemberian
Vaksin yang diberikan ketika anak masih memiliki kadar antibodi dari ibunya yang masih tinggi akan memberikan hasil yang
kurang memuaskan. Begitu juga anak yang masih berumur kurang dari 5 bulan dan mendapatkan ASI, mempengaruhi
keberhasilan vaksinasi polio. Oleh karena itu perlu pemberian vaksin berulang, dan hendaknya ASI jangan diberikan dahulu 2
jam sebelum dan sesudah vaksinasi.

1.

Kematangan imunologik
Pada bayi belum memiliki fungsi imun yang matang sehingga akan memberikan hasil yang kurang dibandingkan pada anak.
Maka, bila imunisasi diberikan sebelum berumur 2 bulan, jangan lupa imunisasi berulang.

1.

Status imun
Individu yang imunnya lemah, seperti mendapat obat imunosupresan, sedang infeksi, maka akan mempengaruhi keberhasilan.

1.

Keadaan gizi
Gizi yang kurang menyebabkan kemampuan sistem imun lemah. Meskipun kadar imunoglobulin normal atau meningkat, tidak
mampu mengikat antigen dengan baik karena kekurangan asam amino yang dibutuhkan dalam pembuatan antibodi.

1.

Faktor genetik (keturunan)

Ada beberapa orang yang memang dari lahir memiliki kemampuan sistem imun yang kurang baik atau tidak berespon dengan
baik terhadap vaksinasi.
1.

Cara pemberian vaksin


Cara pemberian mempengaruhi respon yang timbul. Vaksin polio oral (lewat mulut) akan menimbulkan imunitas lokal dan
sistemik. Sedangkan vaksin polio parenteral (disuntikan) hanya memberikan kekebalan sistemik saja.

1.

Dosis vaksin
Dosis yang terlalu sedikit akan menimbulkan respon yang kurang pula. Dan dosis yang terlalu tinggi akan menghambat sistem
kekebalan yang diharapkan.

1.

Frekuensi pemberian
Jarak pemberian yang terlalu dekat, hal mana kadar antibodi masih tinggi, maka antigen yang masuk segera dinetralkan oleh
antibodi tersebut sehingga tidak sempat merangsang sistem kekebalan.

1.

Adjuvan yang digunakan


Adjuvan penting untuk meningkatkan imunogenitas.

1.

Jenis vaksin
Vaksin hidup akan menimbulkan respon imun yang lebih baik dibanding vaksin mati.

Imunisasi Pasif
Sudah disebutkan di atas bahwa imunisasi pasif adalah memberikan antibodi yang sudah jadi kepada seseorang. Imunisasi pasif diberikan
kepada :
1.
2.

seseorang yang mengalami defisiensi sistesis antibodi (orang yang tidak mampu membuat kekebalan sendiri).
pasien yang sedang menderita sakit dan ada kemungkinan besar terkena infeksi lain (misalnya pasien leukemia yang terpapar
varisela), atau kepada orang yang terpapar tetapi belum pernah divaksinasi.

3.

sebagai tindakan pengobatan untuk membantu menekan efek toxin (pada pasien difteri, tetanus).

Jenis antibodi yang dapat diberikan :


1.
2.

Imunoglobulin. Dibuat dari derivat plasma pasien dewasa yang diproses melalui fraksinasi alkohol, steril dan tidak tercemar.
Imunoglobulin merupakan fraksi primer (95%) sisanya IgA dan IgM.
Imunoglobulin spesifik, diproduksi dari donor yang diseleksi. Contoh : imunoglbulin hepatitis A.

3.

Plasma manusia. Biasanya diberikan pada kasus luka bakar.

4.

Antibodi hewan. Dibuat dari serum kuda, dengan cara mengendapkan fraksi globulin serum dengan amonium sulfat. Produk ini
dipakai sangat terbatas, yaitu apabila preparat dari manusia tidak tersedia.
Seperti yang ditanyakan Ummi Syakir, apakah vaksin isinya adalah serum atau cairan sapi, babi, kuda. Jawabannya adalah tidak.
Yang benar adalah yang mengandung cairan hewan adalah antibodi yang digunakan untuk imunisasi pasif. Antibodi ini diambil
dari serum kuda.

Imunisasi adalah pemberian kekebalan tubuh terhadap suatu penyakit dengan memasukkan sesuatu ke dalam
tubuh agar tubuh tahan terhadap penyakit yang sedang mewabah atau berbahaya bagi seseorang. Imunisasi
berasal dari kata imun yang berarti kebal atau resisten. Imunisasi terhadap suatu penyakit hanya akan
memberikan kekebalan atau resistensi pada penyakit itu saja, sehingga untuk terhindar dari penyakit lain
diperlukan imunisasi lainnya.
Imunisasi biasanya lebih fokus diberikan kepada anak-anak karena sistem kekebalan tubuh mereka masih
belum sebaik orang dewasa, sehingga rentan terhadap serangan penyakit berbahaya. Imunisasi tidak cukup
hanya dilakukan satu kali, tetapi harus dilakukan secara bertahap dan lengkap terhadap berbagai penyakit
yang sangat membahayakan kesehatan dan hidup anak.
PERBEDAAN IMUNISASI DAN VAKSINASI

pengertian imunisasi sudah dijelaskan diatas yah dirangkum bahwa imunisasi merupakan pemberian
kekebalan tubuh terhadap suatu penyakit.
sedangkan Vaksinasi adalah proses memasukkan vaksin atau kuman yang sudah dilemahkan ke dalam tubuh
TUJUAN
Tujuan dari diberikannya suatu imunitas dari imunisasi adalah untuk mengurangi angka penderita suatu
penyakit yang sangat membahayakan kesehatan bahkan bisa menyebabkan kematian pada penderitanya.
Beberapa penyakit yang dapat dihindari dengan imunisasi yaitu seperti hepatitis B, campak, polio, difteri,
tetanus, batuk rejan, gondongan, cacar air, tbc, dan lain sebagainya.
TEKNIK CARA IMUNISASI
Teknik atau cara pemberian imunisasi umumnya dilakukan dengan melemahkan virus atau bakteri penyebab
penyakit lalu diberikan kepada seseorang dengan cara suntik atau minum / telan. Setelah bibit penyakit masuk
ke dalam tubuh kita maka tubuh akan terangsang untuk melawan penyakit tersebut dengan membantuk
antibodi. Antibodi itu uumnya bisa terus ada di dalam tubuh orang yang telah diimunisasi untuk melawan
penyakit yang mencoba menyerang.
JENIS/MACAM IMUNISASI
Macam-macam / jenis-jenis imunisasi ada dua macam, yaitu

imunisasi pasif yang merupakan kekebalan bawaan dari ibu terhadap penyakit

imunisasi aktif di mana kekebalannya harus didapat dari pemberian bibit penyakit lemah yang mudah
dikalahkan oleh kekebalan tubuh biasa guna membentuk antibodi terhadap penyakit yang sama baik
yang lemah maupun yang kuat.

Jenis / Macam Imunisasi Vaksin Wajib Pada Anak :


1. BCG
- Perlindungan Penyakit : TBC / Tuberkolosis
- Penyebab : Bakteri Bacillus Calmette Guerrin
- Kandungan : Bacillus Calmette-Guerrin yang dilemahkan
- Tanda Keberhasilan : Suntikan ini akan menampakkan "bisul" kecil di daerah yang disuntik. Bila tidak, harus
dilakukan suntikan ulang.
- Waktu Pemberian :
I. Umur / usia 2 bulan
2. DPT/DT
- Perlindungan Penyakit : Difteri (infeksi tenggorokan), Pertusis (batuk rejan) dan Tetanus (kaku rahang).
- Penyebab : Bakteri difteri, pertusis dan tetanus
- Waktu Pemberian :
I. Umur / usia 3 bulan
II. Umur / usia 4 bulan
III. Umur / usia 5 bulan
IV. Umur / usia 1 tahun 6 bulan
V. Umur / usia 5 tahun
VI. Umur / usia 10 tahun
3. Polio
- Perlindungan Penyakit : Poliomielitis / Polio (lumpuh layuh) yang menyababkan nyeri otot, lumpuh dan
kematian.
- Waktu Pemberian :
I. Umur / usia 3 bulan
II. Umur / usia 4 bulan
III. Umur / usia 5 bulan
IV. Umur / usia 1 tahun 6 bulan
V. Umur / usia 5 tahun
4. Campak / Measles

- Perlindungan Penyakit : Campak / Tampek


- Efek samping yang mungkin : Demam, ruam kulit, diare
- Waktu Pemberian :
I. Umur / usia 9 bulan atau lebih
II. Umur / usia 5-7 tahun
5. Imunisasi HBV
- Perlindungan Penyakit : Infeksi Hati / Kanker Hati yang mematikan
- Waktu Pemberian :
I. Ketika baru lahir atau tidak lama setelahnya
II. Tergantung situasi dan kondisi I
III. Tergantung situasi dan kondisi II
IV. Tergantung situasi dan kondisi III
Jenis / Macam Imunisasi Vaksin Yang Dianjurkan/Tambahan Pada Anak :
1. MMR
- Perlindungan Penyakit : Campak, gondongan dan campak Jerman
- Waktu Pemberian :
I. Umur / usia 1 tahun 3 bulan
II. Umur / usia 4-6 tahun
2. Hepatitis A
- Perlindungan Penyakit : Hepatitis A (Penyakit Hati)
- Penyebab : Virus hepatitis A
- Waktu Pemberian :
I. Tergantung situasi dan kondisi I
II. Tergantung situasi dan kondisi II
3. Typhoid & parathypoid
- Perlindungan Penyakit : Demam Typhoid
- Penyebab : Bakteri Salmonela thypi
- Waktu Pemberian :
I. Tergantung situasi dan kondisi
4. Varisella (Cacar Air)
- Perlindungan Penyakit : Cacar Air
- Penyebab : Virus varicella-zoster
- Waktu Pemberian :
I. Umur / usia 10 s/d 12 tahun 1 kali dan
II. di atas 13 tahun 2 kali dengan selang waktu 4 s/d 8 minggu.
Sumber :
(1.) http://organisasi.org/jenis-macam-vaksin-imunisasi-untuk-anak-informasi-imunisasi-lengkap-wajibpenangkal-penyakit
(2.) http://organisasi.org/arti-definisi-pengertian-imunisasi-tujuan-manfaat-cara-dan-jenis-imunisasi-padamanusia
(3.) http://www.ibudanbalita.com/diskusi/pertanyaan/10815/Macam-Macam-Imunisasi-Untuk-Anak-