Anda di halaman 1dari 8

URGENSI PENDIDIKAN DAN PEMBINAAN ISLAM

DALAM PENGEMBANGAN KEPRIBADIAN MUSLIM

Amanah dakwah yang bertimbun bagi sebagian aktivis dakwah terkadang


membuatkan mereka cepat lemah dan jumud. Tawaran amanah dakwah seolah datang tak
kenal waktu, menuntut kita untuk segera menyelesaikannya, belum lagi ‘homework’ yang
bertimbun, ‘report’ dan sebagainya. Waktu senggang bagi aktivis dakwah adalah kesempatan
besar yang tak boleh disia-siakan, untuk sekadar melepaskan penat yang melekat. Atau
paling tidak, dapat sedikit bernafas dengan lega dari amanah-amanah yang ada.
Fenomena cuti aktivis menjadi hal yang amat unik untuk diperhati. Sebahagian diantaranya
sibuk mempersiapkan diri menyusun agenda percutiannya. Mulai dari rehlah, mokhoyyam
sehingga pulang ke kampung pada batas waktu yang tak tentu. Sebahagian lagi sibuk
memikirkan perancangan dakwah ke hadapan. Mulai dari target halaqoh, strategi masuk ke
sekolah, jaulah dan lain-lain. Apakah ada yang salah bila aktivis-aktivis ini bercuti? Kalau
selama ini mereka dikenal dengan sebutan “nahnu qowwiyun amaliyun”, jawabnya tidak!
Kerana sesungguhnya kita sangat perlukan istirehat. Perlu untuk melunjurkan kaki sejenak,
perlu air dingin walau seteguk dan perlu berhenti untuk mendapatkan kekuatan itu kembali.
Tetapi tidak adil rasanya ketika kita mulai melepaskan ingatan-ingatan kita tentang
dakwah itu sendiri. Angan kita jauh melayang entah kemana, fikiran kita seolah bebas
merdeka tanpa ikatan beban apapun. Sehingga tidak dapat menangkap seberapa pentingnya
amanah dakwah yang ada, menganggap amanah-amanah itu hanya milik para qiyadah
semata. Ketika datang saat mutaba’ah tentang amanah yang ada, kita dengan mudah
mengatakan “Afwan, belum sempat diselesaikan” atau mungkin “Afwan, tak sempat nak
berfikir!”
Bukan berarti menjadi saat terpenting bagi untuk mengakhiri tugas-tugas panjang ini. Hal
yang paling penting bagi seoarng aktivis dakwah ketika menghadapi masa cuti adalah
mewaspadai kekerasan hati yang diakibatkan terlalu lamanya seseorang tidak aktif dalam
medan dakwah. Hal ini tidak muncul secara sekaligus, akan tetapi secara perlahan-lahan dan
berangsur-angsur sehingga hampir-hampir tidak disedari. Ketika liburan datang dengan
mudahnya kita mengajukan “Cuti” pada murabbi untuk sekedar tidak menghadiri liqo’. Atau
mengajukan “keringanan” kepada para qiyadah untuk bebas dari amanah, sementara hari-
hari kita berlalu begitu saja tanpa tarbiyah, tanpa amanah dan tanpa bergumul dengan
dakwah. Akibat dari semua ini mulai beransur-ansurlah semangat dakwah kita tidak berdaya
untuk terus aktif dan terlibat dalam persoalan-persoalan dakwah. Berkaratnya hati ini
membuat kita semakin mudah mengabaikan tugas-tugas jihad serta menyeru panggilan-
panggilan Allah.
“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman untuk tunduk hati mereka
mengingati Allah dan kepada kebenaran yang telah turun dan janganlah mereka seperti
orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan alkitab kepadanya, kemudian berlalulah
masa yang panjang atas mereka, lalu hati mereka menjadi keras, dan kebanyakan mereka
adalah orang-orang yang fasiq.” (Al-Hadid:16).
Ikhwah fillah, fahamilah bahawa dakwah yang kita lakukan sekarang bukanlah dakwah
sesaat. Ini bukanlah dakwah semusim yang gelora dan semangatnya menggema saat kita
menghabiskan waktu di kampus ini saja. Sementara menjelang cuti atau berakhirnya masa
kuliah kita di kampus tiada lagi gaungnya sama sekali seperti gelanggang yang ditinggal
penontonnya. Tiada lagi sorak sorak suara pendukungnya, tiada lagi sorot cahaya
keindahannya. Diperparah lagi banyaknya kader yang menjadi “veteran”dalam medan
perjuangan.
Jadi kita boleh mengukur sejauh mana keberhasilan cuti kita dengan amanah dakwah yang
ada. Sehingga semakin banyak tugas-tugas dakwah semestinya boleh diselesaikan dengan
professional, diertikan dengan pola kerja dakwah yang rapi, terstruktur dan tepat waktu
karena kita mempunyai rentang waktu yang cukup untuk memikirkan dan
merencanakannya. Dan juga kita boleh menilai sejauh mana kesiapan para kader dakwah
menyongsong dan menyambut amanah dakwah, karena ia telah mendapatkan kekuatan
kembali. Jadi ketika panggilan jihad itu mengalun indah bagaimana respon kita masing-
masing untuk menyambutnya.
Salah satu keutamaan Al-Islam bagi umat manusia adalah adanya sistem yang
paripurna dan konsisten di dalam membina mental, melahirkan generasi, membina umat dan
budaya, serta memberlakukan prinsip-prinsip kemuliaaan dan peradaban. Semua itu
dimaksudkan untuk merubah manusia dari kegelapan syirik, kebodohan, kesesatan dan
kekacauan menuju cahaya tauhid, ilmu, hidayah dan kemantapan.

Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Alloh, dan kitab yang menerangkan.
Dengan kitab itulah Alloh menunjuki orang-orang yang mengikuti keridhaan-Nya ke jalan-
jalan keselamatan, dan (dengan kitab itu pula) Alloh mengeluarkan orang-orang itu dari
gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seidzin-Nya menunjuki mereka
ke jalan yang lurus . (5:1516)

Kesempurnaan sistem Islam tersebut terlihat pula dalam sistem pendidikan Rasulullah
dalam mendidik para shahabat yang telah menghasilkan generasi yang tak ada duanya.
Generasi yang disebut-sebut sebagai generasi terbaik yang pernah muncul di muka bumi ini.
Tak ada yang mampu menandinginya baik sebelum dan sesudah generasi shahabat tersebut.

Namun bukan berarti sepeninggal Rasulullah, kita tak akan merasakan dan tak mampu
melaksanakan pendidikan Islam. Sebab beliau telah meninggalkan dua kurikulum yang
dapat kita pakai acuan dalam mendidik manusia yakni Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Pendidkan Islam bertujuan menumbuhkan keseimbangan pada kepribadian manusia ,


sedangkan tujuan akhir pendidikan Islam adalah perwujudan penyerahan mutlak kepada
Alloh, pada tingkat individual, masyarakat dan kemanusiaan pada umumnya. Oleh karena
itu Islam memandang, kegiatan pendidikan merupakan satu-kesatuan integral yang
melibatkan seluruh aspek kehidupan manusia. Ia harus berjalan harmoni dan seimbang serta
menjadi tanggung jawab manusia secara keseluruhan dalam melahirkan kehidupan yang
sehat, bersih dan benar (Islam).

KONSEP-KONSEP ISLAM DAN PENDIDIKAN MASYARAKAT MODERN

Islam bermula dari pendidikan dan puncak keberhasilannya juga berupa berkembangnya
pendidikan. Di dalam wahyu pertama yang diturunkan kepada Rosululloh, bertebaran istilah
yang merupakan unsur esensi bagi pendidikan: iqro’,Rabb, insaan, ‘allama, dan qalam.
Istilah Rabb menjadi sumber dalam aspek pendidikan Islam, sehingga pendidikan yang
dilahirkan oleh ajaran Islam adalah pendidikan yang mengacu kepada kebenaran Allah,
Rabb semesta alam (Tarbiyah Rabbaniyah).

Inilah konsep dasar pendidikan Islam yang terus-menerus disosialisasikan Rasulullah SAW
dengan berbagai aspek yang menunjangnya. Dan konsep ini pulalah yang seharusnya
melandasi setiap proses pendidikan di dunia kaum muslimin hingga detik ini.
Bagaimanakah sistem pendidikan masyarakat modern kini ? Tak dapat dipungkiri bahwa
pendidikan masyarakat modern kini jauh dari hakekat pendidikan Islam. Pendidikan modern
memang melibatkan sarana-sarana yang hebat dan canggih namun bukan berarti tanpa
kelemahan. Tidak dipungkiri kemajuan manusia di bidang iptek melonjak jauh. Hampir
disemua lini tersentuh teknologi mutakhir. Namun dari pendidikan modern ini kita tidak
menemukan kesempurnaan akhlak dan ruhani. Fenomena-fenomena yang kita temukan
adalah penindasan antar manusia dan merosotnya moral.

Tampaknya, tujuan pendidikan modern adalah tercapainya tujuan material yang berkembang
menjadi rasa cinta terhadap pekerjaan dan produksi dengan mengesampingkan nilai-nilai
dan norma-norma kemasyarakatan. Sehingga sekolah-sekolah modern telah mengalami
kemerosotan mutu pada setiap skala dalam dua dimensi, yaitu dimensi syar’iyyah dan
dimensi ilmiyah paedagogis.
Artinya, sekolah-sekolah itu bukan sekedar tidak islami tapi juga tidak mampu berfungsi
sebagai salah satu sarana pendidikan.

Karena problem serius inilah umat Islam perlu segera mengembalikan orientasi sistem
pendidikannya, yaitu pendidikan dan pembinaan Islam yang dilaksanakan dalam konteks
kehidupan modern. Untuk mengatur kembali iptek dan menggunakannya bagi manfaat
manusia dan kehidupan secara luas, dan yang lebih penting lagi, untuk mengembalikan
penghambaan manusia hanya kepada Allah semata.

PENDIDIKAN ISLAM DALAM PEMBINAAN MUSLIM

1. Pengertian
Pendidikan Islam adalah pendidikan yang melatih sensibilitas individu sedemikian rupa,
sehingga dalam perilaku mereka terhadap kehidupan, langkah-langkah dan keputusan begitu
pula pendekatan mereka terhadap semua ilmu pengetahuan diatur oleh nilai-nilai etika Islam
yang sangat dalam dirasakan.

Dengan pendidikan Islam itu mereka akan terlatih dan secara mental sangat berdisiplin
sehingga mereka ingin memiliki pengetahuan bukan saja untuk memuaskan rasa ingin tahu
intelektual atau hanya manfaat kebendaan yang bersifat duniawi, tetapi juga untuk tumbuh
sebagi makhluk yang rasional, berbudi dan menghasilkan kesejahteraan spiritual, moral dan
fisik keluarga mereka, masyarakat dan umat manusia.

Pendidikan Islam yang memiliki tujuan besar dan universal ini, bukan berlangsung
temporal, tapi dilakukan secara berkesinambungan. Artinya tahapan-tahapannya sejalan
dengan kehidupan, tidak berhenti pada batas-batas tertentu, terhitung sampai dunia ini
berakhir.

Pendidikan yang memiliki makna demikian ini adalah menjadi tujuan terpenting dalam
kehidupan, baik secara individu maupun keseluruhan. Kita telah memahami, sasaran
pendidikan dan pembinaan ini adalah kemaslahatan umat. Dengan demikian asas yang
paling hakiki dari sebuah pendidikan adalah mencapai keridhaan Allah SWT, seperti
termaktub dalam firman Allah :
“ Tidak wajar bagi seorang manusia yang Alloh berikan kepadanya Al Kitab, hikmah, dan
kenabian, lalu ia berkata kepada manusia, `hendaklah kamu menjadi penyembah-
penyembahku, bukan penyembah Allah.` Akan tetapi (dia berkata), `Hendaklah kamu
menjadi orang-orang Robbani, karena kamu selalu mengajarkan Al Kitab dan disebabkan
kamu tetap mempelajarinya”.(3: 79).

2. Karakteristik Sistem Pendidikan Islam


Pendidikan Islam sebagai satu mata rantai dari Syariat Islam, memiliki ciri khusus yang
sama dengan kekhususan Al Islam sendiri, yaitu syamil-kamil-mutakamil (sistem yang
integral-sempurna-dan menyempurnakan). Integralitas sistem pendidikan Islam ini secara
garis besar mencakup seluruh aspek kehidupan manusia, yang secara garis besar adalah :

a. Pendidikan Keimanan (aqidah)


Yang dimaksud dengan pendidikan iman adalah mengikat individu dengan dasar-dasar
iman, rukun Islam dan dasar-dasar syari’ah Islamiyah. Metode pendidikan ini adalah
menumbuhkan pemahaman terhadap dasar-dasar keimanan dan ajaran Islam yang
bersandarkan pada wasiat-wasiat Rosululloh saw. dan petunjuknya.

b. Pendidikan Moral (Akhlaq)


Maksud pendidikan moral adalah pendidikan mengenai dasar-dasar moral dan keutamaan
perangai, tabiat yang harus dimiliki dan dijadikan kebiasaan oleh individu sejak masa
analisa hingga ia menjadi seorang mukallaf, pemuda yang mengarungi lautan kehidupan.
Tidak diragukan lagi bahwa keutamaan-keutamaan moral, perangai dan tabiat merupakan
salah satu buah iman yang mendalam, dan perkembangan religius yang benar.

c. Pendidikan Fisik
Pendidikan Islam sangat memperhatikan fisik tiap-tiap muslim. Apabila kita bicara tentang
fisik dalam pendidikan, yang dimaksud bukan hanya otot-ototnya, panca inderanya dan
kelenjar-kelenjarnya, tetapi juga potensi energik yang muncul dari fisik dan terungkap
melalui perasaan.

Islam mendidik umatnya dengan memberikan rangsangan yang baik sebagaimana dalam
sabda Rasulullah saw. : “ Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai daripada mukmin
yang lemah.” Islam juga mengajarkan aturan -aturan yang sehat dalam makan, minum, dan
tidur. Mendidik untuk menjaga kesehatannya, dengan selalu menganjurkan olah raga dan
menjauhkan diri dari penyebab-penyebab kelemahan.

d. Pendidikan intelektual
Maksud pendidikan intelektual adalah pembentukan dan pembinaan berpikir individu
dengan segala sesuatu yang bermanfaat, ilmu pengetahuan, hukum, peradaban ilmiah dan
modernisme serta kesadaran berpikir dan berbudaya. dengan demikian ilmu, rasio dan
peradaban individu tersebut benar-benar dapat dibina.

Akal adalah kekuatan manusia yang paling besar dan merupakan pemberian Allah yang
paling berharga. Dan al-Qur’an memberikan perhatian yang sangat besar terhadap
perkembangan akal ini. Al-Qur’an mendidik akal dengan begitu banyak ayat-ayat alam
semesta untuk jadi bahan perenungan. Tapi bukan perenungan itu yang menjadi tujuannya,
melainkan mendidik akal agar cermat, cerdas dan akurat dalam berpikir dan bersikap serta
menempuh jalan hidup. (67:4 / 35:40 / 53:28 / 17:36)

e. Pendidikan Psikhis
Maksud pendidikan psikhis adalah mendidik individu supaya bersikap berani, berterus
terang, merasa sempurna, suka berbuat baik terhadap orang lain, menahan diri ketika marah
dan senang kepada seluruh bentuk keutamaan psikhis dan moral secara keseluruhan.

Tujuan pendidikan ini adalah membentuk, menyempurnakan dan menyeimbangkan


kepribadian individu, sehingga mampu melaksanakan kewajiban-kewajibannya dengan baik
dan sempurna.

f. Pendidikan Sosial
Maksud pendidikan sosial adalah mendidik individu agar terbiasa menjalankan adab-adab
sosial yang baik dan dasar-dasar psikhis yang mulia dan bersumber pada aqidah Islamiyah
yang abadi dan perasaan keimanan yang mendalam, agar di dalam masyarakat nanti ia bisa
tampil dengan pergaulan dan adab yang baik, keseimbangan akal yang matang dan tindakan
yang bijaksana.

g. Pendidikan seksual
Yang dimaksud pendidikan seksual adalah upaya pengajaran, penyadaran dan penerangan
tentang masalah-masalah seksual yang diberikan kepada individu, sejak ia mengerti
masalah-masalah yang berkenaan dengan seks, naluri dan perkawinan. Sehingga, jika anak
tumbuh menjadi seorang pemuda, dia dapat memahami masalah yang dihalalkan dan yang
diharamkan. Bahkan mampu menerapkan tingkah laku Islami sebagai akhlak, kebiasaan,
dan tidak akan mengikuti syahwat dan cara-cara hedonisme.

Diantara pendidikan ini adalah mendidik adab-adab meminta idzin, adab memandang,
keharusan menghindarkan diri dari rangsangan-rangsangan seksual, mengajarkan tentang
hukum-hukum pada masa pubertas dan masa baligh, Perkawinan dan hubungan seksual,
isti’far (mensucikan diri) bagi orang yang belum mampu menikah, dll.

Selain syamil, pendidikan Islam juga memiliki keistimewaan lain yaitu, Berdimensi
manusiawi dengan paket pembinaan yang bertahap dan tawazun (penuh keseimbangan
dalam segala sisi kehidupannya). selain juga terus mengikuti perkembangan jaman serta
tetap menjaga orisinalitasnya.

Itulah garis besar karakteristik pendidikan Islam yang keberlangsungannya sangat


bergantung pada manusia pelaksananya, perangkat serta keistiqomahan seluruh masyarakat
dalam merealisir konsep pendidikan itu pada tujuan yang benar. Yakni upaya sungguh-
sungguh (jihad) menciptakan masyarakat yang seluruh aktifitas ritual, sosial, intelektual,
dan fisikalnya tunduk kepada tata aturan Maha pencipta alam semesta.

3. Pendidikan Islam dimasa Rasulullah


Segera setelah hijrah Rasulullah memberikan prioritas utama pada pendidikan umat Islam.
Pusat pendidikan Islam pertama `As-Sufah`, didirikan sebagai pusat pemukiman di salah
satu ruangan dalam rumah yang bergandengan dengan rumah nabi. Pendidikan tersebut
secara keseluruhan berada di bawah pengawasan beliau. Tujuan utamanya adalah
mensucikan hati dan menerangi jiwa, sehingga mereka dapat meningkatkan diri dari tingkat
iman ke tingkat ihsan (penyerahan diri secara total).

Kadang-kadang Nabi menyuruh para sahabatnya menemui utusan-utusan yang datang dari
berbagai suku. Pengiriman guru ke wilayah-wilayah yang berdekatan merupakan ciri khas
kebijaksanaan pendidikan Nabi.

Pada zaman Nabi terdapat 9 buah masjid di Madinah. Setiap Masjid juga berfungsi sebagai
sekolah, yang kadang-kadang diadakan kuliah malam. Kuliah ini diikuti oleh banyak siswa,
lebih dari 70 orang. Selain itu Nabi juga mengajarkan spesialisasi. Mereka yang ingin
belajar Al-Quran harus pergi kepada orang-orang tertentu, dan mereka yang ingin
mendalami tajwid atau syariah harus belajar kepada orang-orang lain yang mendalam benar
pengetahuannya tentang bidang studi tersebut.
Pendidikan bagi kaum wanita juga tak kalah pentingnya. Nabi menyediakan satu hari
khusus untuk memberikan kuliah-kuliah kepada kaum wanita. Nabi juga mengajarkan
bagaimana cara memanah, berenang, dan meramu obat-obatan, mengajarkan astronomi,
geneologi dan fonetika praktis yang diperlukan untuk membaca Alquran.

Satu hal yang perlu dicatat, meskipun perhatian dipusatkan kepada Al Quran dan Ilmu-ilmu
keislaman ,namun pengajaran semua bidang studi yang dinilai membantu pengembangan
kepribadian setiap individu atau masyarakat secara sehat dimasukkan sebagai bagian atau
paket dalam sistem pendidikan Islam kala itu. Pendidikan untuk anak laki-laki dan
perempuan juga sama-sama diutamakan. Orang-orang dewasa diberi tanggung jawab untuk
mengajar yang muda, baik mengenai agama maupun pengalamannya. Hal ini mendorong
berdirinya beberapa buah sekolah dan lembaga pendidikan.

Jadi dengan kepemimpinan Nabi yang dinamik itu, tujuan akhir dalam hidup manusia bukan
saja ditunjukkan, tetapi juga diterjemahkan dalam kegiatan praktis, suatu sistem dan
organisasi untuk mencapai tujuan itupun dibentuk.

Begitulah cara Nabi mendidik ummatnya. sederhana namun mengena . Dibalik


kesederhanaan itu kita melihat suatu kompleksitas yakni suatu kebersamaan dalam
mendidik manusia . Tak hanya aspek ruhiyah atau fikriyah saja, tapi ilmu praktis kehidupan
serta jasadiyah turut diperhatikan .

Tidak mengherankan jika anak-anak dan wanita pada jaman Rasulullah tumbuh menjadi
manusia yang berani. Mereka mengerti kapan bersuara dan kapan berdiam diri. Pribadi-
pribadi yang tertarbiyah oleh tangan Rasulullah tumbuh menjadi pribadi yang sehat, tahu
persoalan ummat sekaligus ahli dalam bidang yang diminati.

Mereka juga terkenal sebagai manusia-manusia kuat, sanggup menempuh perjalanan


panjang serta mampu berjihad dalam waktu yang relatif lama.

Pendek kata hampir semua sisi kebutuhan manusia dipenuhi oleh pendidikan Rasulullah,
sehingga mereka tumbuh menjadi insan kamil ( manusia sempurna).

Sebagai bukti keberhasilan pembinaan Rosululloh adalah ungkapan Sayyid Quthb sebagai
berikut, “ Muhammad saw. telah menang pada hari beliau menjadikan para shahabatnya
sebagai gambaran-gambaran hidup dari keimanannya yang memakan makanan dan berjalan
di pasar-pasar, pada hari beliau membuat tiap kepala di antara mereka sebagai Al-Qur’an
yang hidup merayap di permukaan bumi, pada hari beliau menciptakan tiap individu
diantara mereka sebagai contoh yang menjelma bagi Islam, yang dapat dilihat oleh manusia,
sehingga mereka benar-benar dapat melihat Islam. Muhammad saw. telah berhasil merubah
gagasan-gagasan yang termuat dalam Al-Qur’an menjadi manusia-manusia yang dapat
disentuh oleh tangan dan dapat dilihat oleh mata”.

“Muhammad bin Abdillah saw. dalam posisi menang ketika berhasil menginternalisasikan
Al-Islam, merubah keimanan manusia kepada Islam sampai pada tingkah laku dan
mencetak puluhan, ratusan dan ribuan naskah mushhaf. Bukan sekedar mencetak dengan
tinta diatas lembaran-lembaran kertas, tetapi mencetak dengan cahaya di atas kepingan-
kepingan hati untuk bergaul dengan manusia, mengambil dari mereka, memberi dan berkata
kepada mereka dengan ihwal sesuai dengan maksud Al-Islam yang dibawa oleh Rosululloh
dari sisi Alloh SWT.”
Apakah dunia mengetahui ada orang yang lebih mulia, terhormat, pengasih, penyayang,
agung, luhur atau lebih pandai dari mereka ?!

Cukuplah bagi mereka untuk dikatakan sebagai orang-orang mulia dan agung, apabila Al-
Qur’anul Karim telah mengatakan tentang hak mereka. (48:29 / 59:9 / 33:23)

Sekarang tinggal kita, mampukah menyerap hakikat pembinaan Rasulullah dan


mengejawantahkan dalam kondisi kekinian ?

KESIMPULAN

Di dunia ini tidak banyak orang yang memilki kepedulian begitu tinggi terhadap agamanya.
Semua orang tahu bahwa dunia modern yang ditandai dengan corak pemikiran materialis-
kapitalistik telah banyak menggelapkan hati nurani manusia, sehingga banyak manusia yang
kehilangan nilai-nilai kemanusiaannya, bahkan nilai-nilai ketuhanannya. Orang modern
cenderung mengganggap bahwa apa yang telah mereka lakukan selama ini adalah semata
sebagai puncak dari keberhasilan mereka dalam mendayagunakan seluruh potensi yang
dimilikinya. Mereka lupa bahwa ada Tuhan yang telah memberikan dan menjadi penyebab
utama atas apa mereka anggap sebagai suatu keberhasilan.

Dengan tetap istiqamah dalam pendiriannya, dan tidak tertipu oleh kemajuan semu
peradaban modern. Hidup ditengah kemajuan semu dunia modern yang telah banyak
meracuni pikiran umat manusia membuat Nasr semakin sadar bahwa apa yang menjadi
realitas yang selama ini dilihatnya harus segera diluruskan, dan terutama ia harus
membentengi umat Islam sebelum racun peradaban barat meracuni umat Islam. kemudian
menggelorakan semangat pembaharuan (tajdidd), yaitu seruan agar umat Islam tidak tertipu
oleh peradaban barat, dan kembali pada nilai-nilai tradisi Islam, yang dilandasi oleh Al-
Qur’an dan al-Hadits. Nasr berkeyakinan bahwa hanya jalan itulah yang mampu
mengembalikan jati diri manusia terutama umat Islam untuk menyadari hakikat keberadaan
dirinya. Semangat pembaruan atau tajdidd ini kemudian kita yang kenal dalam bahasa Islam
sebagai tradisi.
Islam tradisi tidak berarti menutup diri terhadap kemajuan, malahan Islam merupakan
agama yang menyuruh umatnya untuk maju dan mengelola segala potensi yang telah
diberikan Tuhan untuk manusia. Karena manusia adalah khalifah Tuhan dimuka bumi.
Namun manusia juga harus menyadari hakekat keberadaan dirinya di muka bumi ini yaitu
untuk beribadah dan menghambakan dirinya pada Tuhan. Karena hakekat dan tujuan hidup
manusia adalah untuk Tuhan, jadi segala apa yang manusia lakukan dam manusia dapatkan
seharusnya hal itu bisa lebih menambah rasa keimanan pada Tuhan. Kita patut
mengacungkan jempol atas gagasan yang cukup brilian ini. karena umat Islam tidak akan
menjadi umat yang beruntung ketika ia meninggalkan atau tercerabut dari tradisinya. Ketika
orang-orang barat meninggalkan tradisinya, maka mereka berhasil mencapai kemajuan.
Namun ketika umat Ilam meninggalkan tradisinya, maka yang akan didapatkan hanyalah
kenistaan.

DAFTAR PUSTAKA
Dr. Badri Yatim. M.A.
2000, Sejarah Peradaban Islam, PT. Raja Garafindo Persada, Jakarta.
Dr. Muhammad Husein Haekal
1993, Gerakan-gerakan Mengguncang Islam, Pustaka Progresif, Surabaya.
K.H. Munawar Cahlil
2001, Kelengkapan Tarikh Nabi Muhammad, Gema Insani, Jakarta.
Drs. H. Munzeir Suparta. M.A,
2003, Metode Dakwah, Fajar Interpratama Offset, Jakarta.
Drs. H. R. Abuy Sodikin
2002, Metodologi Studi Islam, Insan Mandiri, Bandung.
sumber : http://makalah-artikel.blogspot.com/2007/11/urgensi-pendidikan-dalam-membina-
muslim.html
www.halaqah-online.com/.../dakwahkampus.jpg