Anda di halaman 1dari 2

SEUNTAI BAIT

BAGI SANG PEMIMPIN


( GURITA CIKEAS )
Oleh : Aryo Dwiatmojo Raksa Buana.

Manufer Politis dan Polemik yang Hangat menjadi isu sentral


Kabinet Baru, banyak spekulan-spekulan brilian yang angkat bicara
tentang dinamika yang terjadi. Rezim Populis ditentang kuat oleh
Oposisi, Republik menjadi sorotan media dan masyarakat. Masyarakat
sudah tentu dibuat bingung mengenai isu yang mencuat, Apalagi
dengan hadirnya Buku kontroversial yang berjudul Gurita Cikeas, yang
menurut Penulisnya adalah Produk Empiris yang autentik.
Wahai Negaraku Engkau adalah Bahtera Umat Indonesia,
Pemimpinku adalah Nakhoda Pandai yang mampu Mengendalikam
bahtera ketika Badai Pasang Menghempas ditengah Perjalanan. Kau
tak Perlu Menantang Badai itu, dan kuyakin Ilmumu sudah mempuni
untuk Menkondisikan Keadaan. Biarkan para Penumpang itu kacau dan
riuh , tak perduli isinya Jendral, Sipil, Wartawan, Seniman, Budayawan,
maupun para Akademisi. Kau Punya Tugas hanyalah membawa kami
Selamat dalam Pelayaran. Jangan Lupa Kibarkanlah Sang Merah Putih
dengan gagah Berani ketika nanti kita berlabuh di Armada Tujuan.
Keributan itu hanyalah isu kecil untuk mendukungmu, Media itu
menyampaikan bait kritis mengenai sedikit kesalahpahaman yang
terjadi. Jangan secara frontal melakukan tindakan destruktif untuk
menanggapi segalanya. Secara Persuasif Pemimpinku punya koridor
sendiri untuk itu. Tangan gaib itu terpaksa Menuliskan bait Kritis
kepadamu karena desakan Emosional jiwanya, Ia adalah Saudaramu
juga yang memimpikan Bangsa Ini menjadi bangsa Yang berdaulat.
Kita Perlu sadar bahwa Bangsa ini setelah sekian lama Merdeka,
namun tetap saja konstruksinya dibangun diatas Pondasi yang rapuh.
Desain Eksteriornya nampak Anggun dan Menawan padahal
interiornya benar-benar berwajah Kusut dan Buram. Letakanlah Bineka
tunggal Ika itu sebagai Mahkota daulat sang Paduka. Gunakanlah
Bintang dalam Pancasila sebagai Senjata untuk melindungi rakyat mu,
gunakan Beringin sebagai Tempat berteduh rakyatmu, gunakan rantai
pancasila itu sebagai Pemersatu Kabinet dan Rakyatmu, gunakan
banteng itu sebagai Perisai Pelindungmu,serta gunakanlah Padi itu
untuk mengisisi kekosongan Perut rakyatmu.
OKHH….Pemimpinku aku jadi teringat sosok Bapak yang pernah
mengajariku tentang makna hakiki sebuah Demokrasi, Andaikata ia
masih hidup dia pasti akan mengantarkan rakyatnya pada pelajaran
nasionalis. Karena Hanya dengan itu kita akan dapat tumbuh
Menghargai perbedaan, menghormati Hak-hak preogatif orang lain,
Melaksankan Kewajiban berdasarkan Realitas Sosial, dan
Melaksanakan Tanggung jawab Berdasarkan Realitas Moriil dan
Spritual. Lanjutkan PerjalananMu, Para Pemimpin Terdahulu telah
Menanti di Armada Tujuan. Kami rakyat Indonesia Percaya Akan
Kemampuanmu mengatasi berbagai Persoalan Negeri ini.