Anda di halaman 1dari 11

a.

Pernafasan B1 (breath)

a)

Bentuk dada : normal

b)

Pola napas : tidak teratur

c)

Suara napas : normal

d)

Sesak napas : ya

e)

Batuk : tidak

f)

Retraksi otot bantu napas ; ya

g)

Alat bantu pernapasan : ya (O2 2 lpm)

b.

Kardiovaskular B2 (blood)

a)

Irama jantung : irregular

b)

Nyeri dada : tidak

c)

Bunyi jantung ; normal

d)

Akral : hangat

e)

Nadi : Bradikardi

f)

Tekanana darah Meningkat

c.

Persyarafan B3 (brain)

a)
Penglihatan (mata) : penurunan penglihatan, hilangnya ketajaman atau
diplopia.
b)

Pendengaran (telinga) : terganggu bila mengenai lobus temporal

c)
Penciuman (hidung) : mengeluh bau yang tidak biasanya, pada lobus
frontal
d)
Pengecapan (lidah) :ketidakmampuan sensasi (parathesia atau
anasthesia)
e)
Afasia :kerusakan atau kehilangan fungsi bahasa, kemungkinan ekspresif
atau kesulitan berkata-kata, reseotif atau berkata-kata komprehensif, maupun
kombinasi dari keduanya.
f)
Ekstremitas :kelemahan atau paraliysis genggaman tangan tidak
seimbang, berkurangnya reflex tendon.
g)
GCS : Skala yang digunakan untuk menilai tingkat kesadaran pasien,
(apakah pasien dalam kondisi koma atau tidak) dengan menilai respon pasien
terhadap rangsangan yang diberikan.

Hasil pemeriksaan dinyatakan dalam derajat (score) dengan rentang angka 1- 6


tergantung responnya yaitu :
Eye (respon membuka mata)
(4)

Spontan

(3)

Dengan rangsang suara (suruh pasien membuka mata).

(2)
:
Dengan rangsang nyeri (berikan rangsangan nyeri, misalnya
menekan kuku jari)
(1)

Tidak ada respon

Verbal (respon verbal)


(5) : Orientasi baik
(4) : Bingung, berbicara mengacau ( sering bertanya berulang-ulang )
disorientasi tempat dan waktu.
(3) : Kata-kata saja (berbicara tidak jelas, tapi kata-kata masih jelas, namun tidak
dalam satu kalimat. Misalnya aduh, bapak)
(2) : Suara tanpa arti (mengerang)
(1) : Tidak ada respon
Motor (respon motorik)
(6) : Mengikuti perintah
(5) : Melokalisir nyeri (menjangkau & menjauhkan stimulus saat diberi
rangsang nyeri)
(4) : Withdraws (menghindar / menarik extremitas atau tubuh menjauhi
stimulus saat diberi rangsang nyeri)
(3) : Flexi abnormal (tangan satu atau keduanya posisi kaku diatas dada & kaki
extensi saat diberi rangsang nyeri).
(2) : Extensi abnormal (tangan satu atau keduanya extensi di sisi tubuh,
dengan jari mengepal & kaki extensi saat diberi rangsang nyeri).
(1) :

Tidak ada respon

d.

Perkemihan B4 (bladder)

a)

Kebersihan : bersih

b)

Bentuk alat kelamin : normal

c)

Uretra : normal

d)

Produksi urin: normal

e.

Pencernaan B5 (bowel)

a)

Nafsu makan : menurun

b)

Porsi makan : setengah

c)

Mulut : bersih

d)

Mukosa : lembap

f.

Muskuloskeletal/integument B6 (bone)

a)

Kemampuan pergerakan sendi : bebas

b)

Kondisi tubuh: kelelahan

B.

Diagnosa Keperawatan

1.
Perubahan perfusi jaringan otak b/d kerusakan sirkulasi akibat penekanan
oleh tumor.
2.

Nyeri b/d peningkatan tekanan intrakranial.

3.
Kurang pengetahuan mengenai kondisi dan kebutuhan pengobatan b/d
ketidakmampuan mengenal informasi.
4.
Nyeri akut b/d traksi dan pergeseran struktur peka-nyeri dalam rongga
intrakranial.
5.
Defisit perawatan diri yang b/d kelemahan neuromuskular, menurunnya
kekuatan dan kesadaran, kehilangan kontrol otot/koordinasi.
6.
Gangguan nutrisi: kurang dari kebutuhan yang b/d peningkatan
pemakaian energi untuk metabolisme, asupan nutrisi yang kurang, mual, dan
muntah.
7.

Kecemasan yang b/d prognosis penyakit yang tidak jelas.

C.

Rencana Intervensi

1.
Perubahan perfusi jaringan otak b/d kerusakan sirkulasi akibat penekanan
oleh tumor.
Data penunjang : perubahan tingkat kesadaran, kehilangan memori, perubahan
respon sensorik/motorik, gelisah, perubahan tanda vital.
Tujuan : gangguan perfusi jaringan berkurang/hilang
Kriteria hasil : Tingkat kesadaran stabil atau ada perbaikan, tidak adan tandatanda peningaktan TIK.
Intervensi

Rasional


Pantau status neurologis secara teratur dan bandingkan dengan nilai
standar.

Pantau tanda vital tiap 4 jam.

Pertahankan posisi netral atau posisi tengah, tinggikan kepala 200-300.

Pantau ketat pemasukan dan pengeluaran cairan, turgor kulit dan keadaan
membran mukosa.

Bantu pasien untuk menghindari / membatasi batuk, muntah, pengeluaran


feses yang dipaksakan / mengejan.

Perhatikan adanya gelisah yang meningkat, peningkatan keluhan dan


tingkah laku yang tidak sesuai lainnya.
o
Mengkaji adanya perubahan pada tingkat kesadran dan potensial
peningaktan TIK dan bermanfaat dalam menentukan okasi, perluasan dan
perkembangan kerusakan SSP.
o
Normalnya autoregulasi mempertahankan aliran darah ke otak yang stabil.
Kehilanagn autoregulasi dapat mengikuti kerusakan vaskularisasi serebral lokal
dan menyeluruh.
o
Kepala yang miring pada salah satu sisi menekan vena jugularis dan
menghambat aliran darah vena yang selanjutnya akan meningkatkan TIK.
o
Bermanfaat sebagai indikator dari cairan total tubuh yang terintegrasi
dengan perfusi jaringan. Aktivitas ini akan meningkatkan tekanan intra toraks
dan intra abdomen yang dapat meningkatkan TIK.

Petunjuk non verbal ini mengindikasikan adanya penekanan TIK atau


mennadakan adanya nyeri ketika pasien tidak dapat mengungkapkan
keluhannya secara verb
2.

Nyeri b/d peningkatan tekanan intrakranial.

Data penunjang: klien mengatakan nyeri, pucat pada wajah, gelisah, perilaku
tidak terarah/hati hati, insomnia, perubahan pola tidur.
Kriteria hasil: Klien melaporkan nyeri berkurang/terkontrol, klien menunjukkan
perilaku untuk mengurangi kekambuhan.
Intervensi

Rasional

Teliti keluhan nyeri: intensitas, karakteristik, lokasi, lamanya, faktor yang


memperburuk dan meredakan.

Observasi adanya tanda-tanda nyeri non verbal seperti ekspresi wajah,


gelisah, menangis/meringis, perubahan tanda vital.

Instruksikan pasien/keluarga untuk melaporkan nyeri dengan segera jika


nyeri timbul.

Berikan kompres dingin pada kepala.

Nyeri merupakan pengalaman subjektif dan harus dijelaskan oleh pasien.


Identifikasi karakteristik nyeri dan faktor yang berhubungan merupakan suatu
hal yang amat penting untuk memilih intervensi yang cocok dan untuk
mengevaluasi keefektifan dari terapi yang diberikan.

Merupakan indikator/derajat nyeri yang tidak langsung yang dialami

Pengenalan segera meningkatkan intervensi dini dan dapat mengurangi


beratnya serangan.

Meningkatkan rasa nyaman dengan menurunkan vasodilatasi.

3.
Kurang pengetahuan mengenai kondisi dan kebutuhan pengobatan b/d
ketidakmampuan mengenal informasi.
Data penunjang: Klien dan keluarga meminta informasi, ketidakakuratan
mengikuti instruksi, perilaku yang tidak tepat.
Kriteria hasil: Klien/keluarga mengungkapkan pemahaman tentang kondisi dan
pengobatan, memulai perubahan perilaku yang tepat.
Intervensi

Rasional

Diskusikan etiologi individual dari sakit kepala bila diketahui.

Bantu pasien dalam mengidentifikasikan kemungkinan faktor predisposisi.

Diskusikan mengenai pentingnya posisi/letak tubuh yang normal.

Diskusikan tentang obat dan efek sampingnya.

Mempengaruhi pemilihan terhadap penanganan dan berkembnag ke arah


proses penyembuhan.

Menghindari/membatasi faktor-faktor yang sering kali dapat mencegah


berulangnya serangan. Menurunkan regangan pada otot daerah leher dan
lengan dan dapat menghilangkan ketegangan dari tubuh dengan sangat berarti.

Pasien mungkin menjadi sangat ketergantungan terhadap obat dan tidak


mengenali bentuk terapi yang lain.
4.
Nyeri akut b/d traksi dan pergeseran struktur peka-nyeri dalam rongga
intrakranial.
Tujuan: Nyeri berkurang/hilang atau teradaptasi.
Kriteria hasil : Secara subjektif melaporkan nyeri berkurang atau dapat
diadaptasi, dapat mengindentifikasi aktivitas yang meningkatkan atau
menurunkan nyeri, klien tidak gelisah, skala nyeri 1 (0-4).
Intervensi

Rasional


Jelaskan dan bantu klien dengan tindakan pereda nyeri nonfarmakologi
dan non-invasit.

Ajarkan Relaksasi:

Teknik-teknik untuk menurunkan ketegangan otot rangka, yang dapat


menurunkan intensitas nyeri dan juga tingkatkan relaksasi masase,

Ajarkan metode distraksi selama nyeri akut

Berikan kesempatan waktu istirahat bila terasa nyeri dan berikan pnsisi
yang nyaman misalnya waktu tidur, belakangnya dipacang bantal kecil.

Tingkatkan pengetahuan tentang penyebab nyeri dan menghubungkan


berapa lama nyeri akan berlangsung

Observasi tingkat nyeri dan respons motorik kiien, 30 menit setelah


pemberian obat analgesik untuk mengkaji efektivitasnya. Serta setiap 1-2 jam
setelah tindakan perawatan selama 1-2 hari.

Kolaborasi dengan dokter, pemberian analgesik

Pendekatan
dengan mengguna-kan relaksasi dan non-farmakologi lainnya telah menunjukkan
keefektifan dalam mengurangi nyeri.

Akan melancarkan peredaran dash sehingga kebutuhan O2 jaringan akan


terpenuhi dan dapat akan mengurangi nyerinya.

Mengalihkan perhatian nyerinya ke hal-hal yang menyenangkan.

Istirahat akan merelaksasi semua jaringan sehingga akan meningkatkan


kenyamanan.

Pengetahuan yang akan dirasakan membantu mengurangi nyerinya. Dan


dapat membantu mengembangkan kepatuhan klien terhadap rencana
terapeutik.

Pengkajian yang optimal akan memberikan perawat data yang objektif


untuk mencegah kemungkinan komplikasi dan melakukan intervensi yang tepat.

Analgesik memblok lintasan nyeri sehingga nyeri akan berkurang.

5.
Defisit perawatan diri yang b/d kelemahan neuromuskular, menurunnya
kekuatan dan kesadaran, kehilangan kontrol otot/koordinasi.
Tujuan : Klien dapat menunjukkan perubahan gaya hidup untuk kebutuhan
merawat diri, klien mampu melakukan aktivitas perawatan dini sesuai dengan
tingkat kemampuan, mengidentifikasi personal/masyarakat yang dapat
membantu.
Intervensi

Rasional

Kaji kemampuan dan tingkat penurunan dalam melakukan ADL.

Hindari apa yang tidak dapat dilakukan klien dan bantu bila perlu.

Menyadarkan tingkah laku/sugesti tindakan pada perlindungan


kelemahan. Pertahankan support pola pikir, izinkan klien melakukan tugas, beri
umpan balik positif untuk usahanya.

Rencanakan tindakan untuk menangani defisit penglihatan seperti


tempatkan makanan dan peralatan dalam suatu tempat, dekatkan tempat tidur
ke dinging

Tempatkan perabotan ke dinding, jauhkan dari jalan.

Beri kesempatan untuk menolong diri seperti menggunakan kombinasi


pisau garpu, sikat dengan pegangan panjang, ekstensi untuk berpijak pada lantai
atau ke toilet, kursi untuk mandi.

Kajo kemampuan komuninasi untuk BAK. Kemampuan menggunakan


urinal, pispot. Antarkan ke kamar mandi bila kondisi memungkinkan.

Identifikasi kebiasaan BAB. Anjurkan minum dan meningkatkan aktifitas.

Kolaboratif:

Pemberian supositoria dan pelumas feses/pencahan


Konsul ke dokter terapi okupasi.
Membantu dalam mengantisipasi dan
merencanakan pertemuan kebutuhan individual

Klien dalam keadaan cemas dan ketergantungan, hal ini dilakukan untuk
mencegah frustasi dan harga diri klien.

Klien memerlukan empati, tetapi perlu mengetahui perwatan yang


konsisten dalam menangani klien. Sekaligus meningkatkan harga diri,
memandirikan klien dan menganjurkan klien untuk terus mencoba.

Klien akan mampu melihat dan memakan makanan, akan mampu melihat
keluar masuknya orang ke ruangan.

Menjaga keamanan klien bergerak di sekitar tempat tidur dan


menurunkan risiko tertimpa perabotan.

Mengurangi ketergantungan.

Ketidakmampuan berkomunikasi dengan perawat dapat menimbul-kan


masalah pengosongan kandung kemih oleh karena masalah neurogenik.

Meningkatkan latihan dan menolong mencegah konstipasi.

Pertolongan pertama terhadap fungsi bowell atau BAB.

Untuk mengembangkan terapi dan melengkapi kebutuhan khusus.

6.
Gangguan nutrisi: kurang dari kebutuhan yang b/d peningkatan
pemakaian energi untuk metabolisme, asupan nutrisi yang kurang, mual, dan
muntah.
Tujuan : Kebutuhan nutrisi klien terpenuhi.
Kriteria hasil: Mengerti tentang pentingnya nutrisi bagi tubuh, memperlihatkan
kenaikan berat badan sesuai dengan hasil pemeriksaan laboratorium
Intervensi

Rasional

Evaluasi kemampuan makan klien

Observasi/timbang berat badan jika memungkinkan

Monitor keadaan otot yang menurun dan kehilangan lemak subkutan

Catat pemasukan per oral jika diindikasikan. Anjurkan khen untuk makan

Berikan makanan kecil dan lunak

Kajilah fungsi sistem gastrointestinal yang meliputi suara bising usus,


catat terjadi perubahan di dalam lambung, seperti mual dan, muntah. Observasi
perubahan pergerakan usus misalnya diare, konstipasi.

Anjurkan pemberian cairan 2500 cc/hari selama tidak terjadi gangguan


jantung

Aturlah diet yang diberikan sesuai keadaan klien

Lakukan pemeriksaan laboratorium yang diindiksikan seperti serum,


transferin, BUN/Creative, dan glukosa.
Klien dengan tracheostomy tube
mungkin sulit untuk makan, tetapi klien dengan endotracheal tube dapat
menggunakan mag slang atau memberi makanan parenteral.

Tanda kehilangan berat badan (7-10%) dan kekurangan intake nutrisi


menunjang terjadinya masalah katabolisme, kandungan glikogen dalam otot dan
kepekaan terhadap pemasangan ventilator.

Menunjukkan indikasi kekurang-an energi otot dan mengurangi fungsi


otot-otot pernapasan.

Nafsu makan biasanya berkurang dan nutrisi yang masuk pun berkurang.
Anjurkan klien memilih makanan yang disenangi dapat dimakan (bila sesuai
anjuran).

Mencegah terjadinya kelelahan, memudahkan masuknya makanan, dan


mencegah gangguan pada lambung.

Fungsi sistem gastrointestinal sangat penting untuk memasuk-kan


makanan. Ventilator dapat menyebabkan kembung pada lambung dan
perdarahan lambung.


Mencegah terjadinya dehidrasi akibat penggunaan ventilator selama tidak
sadar dan mencegah terjadinya konstipasi

Diet tinggi kalori, protein, karbohidrat sangat diperlukan, selama


pemasangan ventilator untuk mempertahankan fungsi otot-otot respirasi.
Karbohidrat dapat berkurang dan penggunaan lemak meningkat untuk
mencegah terjadinya produksi CO2 dan pengaturan sisa respirasi.

Memberikan informasi yang tepat tentang keadaan nutrisi yang


dibutuhkan klien.
7.

Kecemasan b/d prognosis penyakit yang tidak jelas.

Tujuan: Secara subjektif melaporkan rasa cemas berkurang.


Kriteria hasil: Klien mampu mengungkapkan perasaan yang kaku cara-cara yang
sehat kepada perawat, klien dapat mendemonstrasikan keterampilan
pemecahan masalahnya dan perubahan koping yang digunakan sesuai situasi
yang dihadapi, klien dapat mencatat penurunan kecemasan/ketakutan dibawah
standar, klien dapat rileks dan tidur/istirahat dengan baik.
Intervensi

Rasional

Mandiri

Identifikasi persepsi klien untuk menggambarkan tindakan sesuai situasi,

Monitor respons fisik seperti kesemahan, perubahan tanda vital, gerakan


yang berulang-ulang, catat kesesuaian respons verbal dan nonverbal selama
komunikasi.

Anjurkan klien dan keluarga untuk mengungkapkan dan meng-ekspresikan


rasa takutnya, akuilah situasi yang membuat cemas dan takut.

Hindari perasaan yang tak berarti seperti mengatakan semuanya akan


menjadi baik.

Identifikasi/kaji ulang bersama klien/keluarga tindakan pengaman yang


ada seperti kekuatan dan suplai oksigen, kelengkapan suction emergency.
Diskusikan arti dari bunyi alarm.

Catat reaksi dari klien/keluarga. Berikan kesempatan untuk mendiskusikan


perasaannya/ konsentrasinya dan harapan masa depan.

Identifikasi kemampuan koping klien/keluarga sebelumnya dan mengontrol


penggunaannya.

Demonstrasikan/anjurkan klien untuk melakukan teknik relaksasi seperti


mengatur pernapasan, menuntun dalam berkhayal, relaksasi progresif.

Anjurkan aktivitas pengalihan perhatian sesuai kemampuan individu


seperti menulis, nonton TV, dan keterampilan tangan.

Kolaborasi

Rujuk ke bagian lain guna penanganan selanjutnya.

Menegaskan batasan masalah individu dan pengaruhnya selama diberikan


intervensi.

Digunakan dalam mengevaluasi derajat/tingkat kesadaran/ konsentrasi,


khususnya ketika melakukan komunikasi verbal.

Memberikan kesempatan untuk berkonsentrasi, kejelasan dari rasa takut


dan mengurangi cemas yang berlebihan.

Memvalidasi situasi yang nyata tanpa mengurangi pengaruh emosional.


Berikan kesempatan bagi klien/keluarga untuk menerima apa yang terjadi pada
dirinya serta mengurangi kecemasan.

Membesarkan / menentramkan hati klien untuk membantu menghilangkan


cemas yang tak berguna, mengurangi konsentrasi yang tidak jelas dan
menyiapkan rencana sebagai respons dalam keadaan darurat.

Anggota keluarga dengan responnya pada apa yang terjadi dan


kecemasannya dapat disampaikan kepada klien

Memfokuskan perhatian pada kemampuan sendiri dapat meningkatkan


pengertian dalam penggunaan koping.

Pengaturan situasi yang aktif dapat mengurangi perasaan tak berdaya.

Sejumlah ketrampilan baik secara sendiri maupun dibantu selama


pemasangan ventilator dapat membuat klien merasa berkualitas dalam
hidupnya.

Mungkin dibutuhkan untuk membantu jika klien / keluarga tidak dapat


mengurangi cemas atau ketika klien membutuhkan alat yang lebih canggih.
BAB IV
PENUTUP
A.

Kesimpulan

Tumor ialah Istilah umum yang mencakup setiap pertumbuhan benigna


(jinak) dalam setiap bagian tubuh.

Adapun faktor-faktor yang perlu ditinjau, yaitu :

Herediter

Sisa-sisa Sel Embrional (Embryonic Cell Rest)

Radiasi

Virus

Substansi-substansi Karsinogenik

Klasifikasi

Glioma adalah tumor jaringan glia

Tumor meningen (meningioma)

Tumor hipofisis

Tumor saraf pendengaran (neurilemoma)

Tumor metastatis

Tumor pembuluh darah

B.

Saran

Diharapkan mahasiswa dapat memahami dan mengerti serta mampu


mengaplikasikan tentang Asuhan Keperawatan Pada Tumor Otak.
DAFTAR PUSTAKA
Muttaqin Arif (2008), Buku Ajar Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan
system Persarafan, Penerbit Salemba Medika., Jakarta
Marylin E. Doengoes, Mary Frances Moorhouse, Alice C. Geissler (2000), Rencana
Asuhan Keperawatan: Pedoman Untuk Perencanaan dan Pendokumentasian
Perawatan Pasien Edisi 3, Peneribit Buku Kedokteran EGC, Jakarta
http://yuliastanto.wordpress.com/2008/08/16/konsep-penyakit-dan-asuhankeperawatan-pada-pasien-dengan-gangguan-persyarafan-tumor-otak-s-o-p/