Anda di halaman 1dari 38

BAB I

KRITERIA PENGGALIAN

1.1

Pendahuluan
Dalam dunia pertambangan ada banyak cara dan teknik yang dipakai

untuk mendapatkan solusi terhadap suatu permasalahan. Salah satunya adalah


mengenai pembongkaran batuan (bahan galian) yang sangat keras, di mana batuan
tersebut tidak dapat dibongkar secara manual maupun mekanis. Maka dipilih
teknik pemboran dan peledakan. Untuk itu diperlukan suatu pengenalan dengan
mengikuti Praktikum Pemboran dan Peledakan ini. Pada Acara I praktikum yang
dilakukan adalah mengetahui kriteria penggalian.
Praktikum Acara I ini praktikan dengan dibimbing asisten melakukan
pendiskripsian cara bagaimana cara menentukan kriteria penggalian. Di samping
itu praktikan diharapkan dapat mengerti secara jelas bagaimana menentukan
metode penggalian.
Dengan adanya praktikum peledakan, diharapkan praktikan dapat
memahami secara jelas, kriteria penggalian pada proses pemboran, serta tata cara
pemilihan alat bor. Dengan begitu, praktikan dapat menerapkan prinsip prinsip
pemilihan alat, serta mekanisme kerja dari alat bor di kemudian hari.
1.2

Latar Belakang Teori


Pekerjaan pertama dalam suatu operasi peledakan adalah mengetahui

kriteria penggalian pada suatu batuan,apakah harus dengan pemboran dan


peledakan atau tidak. Dalam menentukan kriteria penggalian yang harus
diperhatikan yaitu:
1. Batuan yang akan dibor
2. Cara penentuan kriteria penggalian

Aji Satrio Wicaksono/112110113


1

1.3

Deskripsi
Batuan umumnya tidak homogen anisotropik, dengan demikian koefisien

kekuatan untuk setiap jenis batuan juga berbeda, sehingga dipengaruhi juga oleh
kekuatan tenaga bor tersebut. Untuk memperkirakan kemampuan pemboran suatu
alat bor didasarkan pada penampilan mesin bor dan laju pemboran.
Dalam kegiatan pemboran terdapat faktor-faktor yang mempengaruhi
kinerja pemboran yaitu sifat batuan yang dibor, rock drillability, geometri
pemboran, umur dan kondisi mesin bor serta keterampilan operator mesin bor.
1.

Sifat batuan
Sifat batuan berpengaruh pada penetrasi dan sebagai konsekuensi pada
pemilihan pada pemilihan metode pemboran, yaitu :
a.

Kekerasan
Kekerasan adalah tahanan dari suatu bidang permukaan halus terhadap
abrasi, kekerasan dipakai untuk mengukur sifat-sifat teknis dari material
batuan dan dapat juga dipakai untuk menyatakan kerusakan pada
batuan. Kekerasan batuan merupakan suatu fungsi dari kekerasan,
komposisi butiran mineral, porositas, dan derajat kejenuhan merupakan
hal utama yang harus diketahui, karena setelah mata bor menetrasi
batuan, maka akan menentukan tingkat kemudahan pemborannya.

b.

Kekuatan (strength)
Kekuatan mekanik suatu batuan adalah suatu sifat dari kekuatan
terhadap gaya luar, baik itu kekuatan statik maupun dinamik. Pada
prinsipnya kekuatan batuan tergantung pada komposisi mineralnya.
Di antara mineral-mineral yang terkandung di dalam batuan, kuarsa
adalah terkompak dengan kuat tekan mencapai lebih dari 500 Mpa,
sehingga semakin tinggi kandungan kuarsa, akan memberikan kekuatan
semakin meningkat.

Aji Satrio Wicaksono/112110113


2

Tabel 1.1
Kekerasan batuan dan kekuatan batuan

c.

Klasifikasi

Skala Mohs

Kuat tekan batuan (MPa)

Sangat keras

+7

+200

Keras

6-7

120 200

Kekerasan sedang

4,5-6

60 -120

Cukup lunak

3-4,5

30 - 60

Lunak

2-3

10 - 30

Sangat lunak

1-2

-10

Elastisitas
Sifat elastisitas batuan dinyatakan dengan modulus elastisitas atau
modulus Young (), dan nisbah Poisson ().

Modulus elastisitas

merupakan faktor kesebandingan antara tegangan normal dengan


regangan

relatifnya,

sedangkan

nisbah

Poisson

merupakan

kesebandingan antara regangan lateral dengan regangan aksial. Modulus


elastisitas sangat tergantung pada komposisi mineral, porositas, jenis
perpindahan dan besarnya beban yang ditarapkan. Nilai modulus
elastisitas untuk batuan sedimen sangat rendah, hal ini disebabkan
komposisi mineral teksturnya, seperti modulus elastisitas pada arah
sejajar bidang perlapisan selalu lebih besar dibandingkan dengan arah
pada tegak lurus.
d.

Plastisitas
Plastisitas batuan merupakan perilaku batuan yang menyebabkan
deformasi tetap setelah tegangan dikembalikan ke kondisi awal, dimana
batuan tersebut belum hancur. Sifat plastik tergantung pada komposisi
mineral penyusun batuan dan dipengaruhi oleh adanya pertambahan
kwarsa, felspar dan mineral lain. Lempung lembab dan beberapa batuan
homogen mempunyai sifat plastik.

Aji Satrio Wicaksono/112110113


3

Tabel 1.2.
Sifat fisik dan mekanik dari batuan sedimen

e.

Batuan
sedimen

Modulus elastisitas

Nisbah poisson

Porositas

Dolomite

1,96-8,24

0,08-0,2

0,27-4,10

Limestone

0,98-7,85

0,1-0,2

0,27-4,10

Sandstone

0,49-8,83

0,066-0,125

1,62-26,40

Shale

0,8-3,0

0,11-0,54

20,00-50,00

104 x (MPa)

Abrasivitas
Abrasivitas adalah sifat batuan untuk menggores permukaan material
lain, ini merupakan suatu parameter yang mempengaruhi keausan
(umur) mata bor dan batang bor. Kandungan kuarsa dari batuan
biasanya dianggap sebagai petunjuk yang dapat dipercaya untuk
mengukur keausan mata bor.
Faktor yang mempengaruhi abrasivitas batuan adalah ;

Kekerasan butir batuan, batuan dengan keberadaan butiran kuarsa


mempunyai tingkat abrasitas yang tinggi.

Bentuk butir, bila bentuk butir tersebut tidak teratur maka lebih
abrasiv dibandingkan dengan yang berbentuk bulat.

Ukuran butir

Porositas batuan

Ketidaksamaan, batuan polimineral sekalipun mempunyai kekerasan


sama akan lebih abrasiv karena meninggalkan permukaan yang
kasar.

f.

Tekstur
Tekstur suatu batuan menunjukkan hubungan antara mineral-mineral
penyusun batuan, sehingga dapat diklasifikasikan berdasarkan dari sifatsifat porositas, ikatan antar butir, bobot isi dan ukuran butir. Tekstur
juga mempengaruhi kecepatan pemboran. Jika butirannya mempunyai
bentuk lembaran, seperti pada batuan schist, pemboran akan lebih sulit

Aji Satrio Wicaksono/112110113


4

dibanding jika butirannya berbentuk bulat seperti batu pasir. Sedangkan


batuan yang mempunyai bobot isi rendah, lebih porous, akan
mempunyai tingkat pecah rendah sehingga akan lebih mudah jika dibor.
g.

Struktur geologi
Struktur geologi seperti patahan, rekahan, kekar, bidang perlapisan
berpengaruh pada penyesuaian kelurusan lubang ledak, aktifitas
pemboran dan kemantapan lubang ledak. Adanya rekahan-rekahan dan
rongga-rongga dalam batuan seperti di batugamping mempersulit kerja
pemboran, karena batang bor dapat terjepit.
Tabel 1.3.
Kandungan kuarsa dari batuan
Tipe batuan

Kandungan
kuarsa

Tipe batuan

Kandungan kuarsa
%

h.

Amphibolite

0-5

Mica gneiss

0-30

Anorthosite

Mica schist

15-35

Diabase

0-5

Norite

Diorite

10-20

Pegmatite

15-30

Gabro

Phylite

10-25

Gneiss

15-50

Quartzite

60-100

Granite

20-35

Sandstone

25-90

Greywacke

10-25

Slate

10-35

Limestone

0-5

Shale

0-20

Marble

Taconite

1-10

Karakteristik Pecahan
Karakteristik pecahan (Breaking Charactereristics) dapat digambarkan
seperti perilaku batuan ketika dipukul. Tiap-tiap tipe batuan mempunyai
karakteristik pecah yang berbeda dan ini berhubungan dengan tekstur,
komposisi mineral dan struktur.

Aji Satrio Wicaksono/112110113


5

3. Cara menentukan kriterian penggalian.

a. Kriteria Penggalian menurut RMR.


Kemampuan untuk menaksir kemampugalian suatu massa bafuan
sangatlah penting, apalagi bila akan menggunakan alat gali mekanis
kontinu. Fowell & Johnson (19g2) menunjukkan hubungan yang erat
antara kinerja (produksi) Road Header kelas berat (>50 ton) dengan
RMR (lihat Gambar t.l).
Selanjutnya pada tahun 1991 mereka melaporkan bahwa hubungan
tersebut di atas dapat dibagi menjadi 3 zonapenggalian :

Zone kerja l :
Kinerja penggalian sangat ditentukan oleh sifat - sifat batuan utuh

Zone kerja2 :
Keberhasilan kerja penggalian dibantu oleh kehadiran struktur massa
batuan.

Pengaruh

sifarsi{ht

batuan

ufuh

menurun

dengan

memburuknya kualitas massa


batuan.

Zone kerja 3:
Kinerja penggalian semata-mata dipengaruhi oleh struktur massa
batuan.

Nilai-nilai UCS, Energi Spesifik, Koefisien Abrasivity secara keseluruhan


menyimpulkan bahwa batuan utuh tersebut tidak dapat digali dengan baik
oleh roadheader. Namun seperti dilaporkan oleh Fowell & Johnson (1991)
bahwa pada kenyataannya massa batuan itu dapat digali dengan cara hanya
menggoyang bongkah-bongkah batuan dari induknya dan akhirnya jatuh
bebas.

Aji Satrio Wicaksono/112110113


6

RMR juga pernah dipakai untuk mengevaluasi kinerja roadheader Dosco SL-120
(Sandbak1985, lihat Gambar 1.2). Penelitian ini dilaksanakan pada bijih temba ga
Kalamazoo & San Manuel, Arizona.

Aji Satrio Wicaksono/112110113


7

b. Kriteria Penggalian menurut RMR & Q Sistem


Hubungan antara RMR dan Q-Sistem untuk berbagai
kondisi penggalian dapat dilihat pada Gambar l'3. Jelas tampak
bahwa hubungan antara RMR & Q-sistem adalah linier. Titik-titik
yang

menunjukkan

harga

RMR

&

Q-sistern

yang

tinggi

mencerminkan kondisi material keras


yang penggaliannya perlu peledakan. Sedangkan kehadiran alat gali,
seperti Surface Miner,yang menggunakan mekanisme potong rupanya
dapat menggantikan operasi peledakan. Dalam upaya melengkapi
informasi Gambar 3, data asli hasil penelitian Abdullatif & Cruden
(1983) dimasukkan dan data penggunaan surface miner disuplai oleh
Kramadibrata (lgg2-Potong).

Gambar 1.3. Klasifikasi metoda penggalian menurut RMR dan Q-System

c. Kriteria Penggalian menurut kecepatan seismik


Aji Satrio Wicaksono/112110113
8

Seperti sudah disebutkan bahwa kecepatan seismik sudah banyak


dipakai untuk menduga kemampugaruan suafu massa batuan.
Berbagai kemungkinan cara penggalian untuk berbagai macam massa
batuan menurut kecepatan seismik diberikan oleh Atkinson (1971,
lihat
Gambar 1.4)- Penggalian disini meliputi dari cara manual hingga
mekanis penuh.

Selain Atkinson, pendekatan lain yang dapat dilakukan untuk kriteria


penggaruan juga banyak dikeluarkan oleh industry alat berat. Misalnya dalam
Caterpillar Ferformance Handbook (2006), rnemberikan grafik hubungan
kecepatan seismik terhadap kemampugaruan dari berbagai peralatan berat
seperti cAT tipe D8R (305 Hp), DgR (405 Hp), Dl0R (570HP) dan Dl lR (850
HP). Sebagai contoh jika akan menggunakan peralatan D9R, maka kriteria
penggaruan yang dapat dilakukan adalah seperti terlihat pada Gambar 1.5.

Aji Satrio Wicaksono/112110113


9

Gambar 1.5. Kriteria penggaruan dengan D9R

d. Kriteria Penggalian menurut indeks kekuatan batuan


Drilabilitas Franlclin dkk (1971) rrtengusulkan klasifikasi massa
batuan menurut dua parameter, yaitu Fracture Index dan Point Load
Index (PLD. Fracture Index dipakai seba.gai uktran karakteristik
diskontinuiti dan didefinisikan sebagai jarak rata-rata fraktur dalam
sepanjang bor inti atau massa batuan. kedua parameter ini di plot
dalam satu diagram untuk menduga
kemampugalian suatu massa batuan , dimana I1 dan I, masingmasing menyatakan fracfure Index dan PLI.
Diagram klasifikasi dibagi kedalarn tiga zona umum yaitu
penggalian bebas (free digging), penggaruan (ripping) dan peledakan
(blasting). Massa batuan yang terkekarkan dan lemah masuk
kedalam kategori bagian bawah kiri diagram, sedangkan massa
batuan massif dan kuat di plot dibagian atas kanan. Yang pertama
tentunya sangat mudah untuk digali dan yang terakhir sangat sulit
digali dengan alat mekanis

Aji Satrio Wicaksono/112110113


10

Gambar 1.6. Kriteria indeks kekuatan batu (Franklin, dkk., 1971)

Pettifer & Fookes di UK (lgg4) mencoba untuk melakukan modifikasi


terhadap kriteria\ penggaruan sebelumnya -'-245 seperti ditujukkan Gambar
1.7, jika menggunakan peralatan CAT BH. Kriteria ini sejenis dengan
kriterianya Franklin. Selanjutnya, mereka menduga bahwa jarak kekar ratatata dengan kuat tekan batu merupakan parameter penting dalammenilai
kemampugaruan, yang percontoh batuannya dapat diperoleh dari singkapan
atau bor inti. Grafik ini bukanlah petunjuk mutlak yang rnampu memberikan
jawaban sebenarnya,
karena biaya dan faktor lainnya juga ikut menentukan kemampugaruan suatu
massa batuan oleh sebuah bulldozer

Aji Satrio Wicaksono/112110113


11

Rumus :

e. Kriteria Penggalian menurut indeks kekuatan batuan


Kolleth (1990) telah menibuat suatu pendekatan untuk menganalisis
suatu batuan dapat digali dengan menngunakan peralatan tertentu
berdasarkan pada nilai UCS. Terdapat empat macam kelompok
peralatan yang telah diamati, yaitu:
Dragline, shovel, backhoe,
Aji Satrio Wicaksono/112110113
12

Scraper
Surface miner
Bucket Wheel Excavator

UCS = 23 IS

Aji Satrio Wicaksono/112110113


13

1.4

Pembahasan

KRITERIA PENGGALIAN MENURUT KECEPATAN SEISMIK

Conto
V seismic (m/s)
Tinggi (cm)
Diameter (cm)
Beba (kN)
KonversiSatuan

Limestone
3921
4,1
5
4,1

PerhitunganUntukConto Irregular

UntukConto Irregular

PerhitunganUntuk Limestone

Aji Satrio Wicaksono/112110113


14

Siltstone
1970
6
5,9
1

0,1266MPa
UCS = 23 Is
UCS = 23 (0,1266)
UCS = 2,9118MPa
PehitunganUntuk Siltstone

Is = 0,0336
UCS = 23 Is
UCS = 23(0,336)
UCS = 0,7728MPa

Aji Satrio Wicaksono/112110113


15

Keterangan
Limestone,
Silsttone
Limestone terletakpada marginal hanya bias diledakkan.
Silstone terletakpadarippable bias dilakukanpenggaruan.
Grafik 1

Keterangan
: Limestone Tidakdapatdilakukanpenggaruan (denganpeledakan).
: Siltstone tidakdapatdilakukanpenggaruan.

Limestone,
Silsttone

PERHITUNGAN KRITERIA PENGGALIAN MENURUT INDEKS


KEKUATAN BATU
SpasiKekar
Aji Satrio Wicaksono/112110113
16

Spasi kekar A
Spasi kekar B
Spasi kekar rata-rata sebenarnya
Frekuensi kekar ( )
RQD
Arah umum kekar A
Arah umum kekar B
KekuatanBatu
Limestone
Is
UCS
Siltstone
Is
UCS

= 0,0844 m
= 0,4004 m
= 0,2424 m
= 4,1254 m
= 93,5054 %
= N 2850 E
= N 2290 E

= 0,1266MPa
= 2,9118MPa
=0,0336 MPa
= 0,7728MPa

Keterangan
: Limestone dapatdigali bebas
: siltstone dapat digali bebas

Aji Satrio Wicaksono/112110113


17

Aji Satrio Wicaksono/112110113


18

Keterangan
: Limestone sukar digali
: Siltstone sukar digali.

KRITERIA PENGGALIAN DENGAN MENGGUNSKSN INDEKS KUAT


TEKAN UNIAKSIAL (UCS)

Keterangan :
: Limestone bisa digali dengan alat.
: Siltstone bisa digali dengan alat.

1.5 Kesimpulan
Mengetahui metode penggalian ini sangat berguna dalam proses peledakan.
Kita dapat mengetahui bagaimana material itu dapat dibongkar karena tidak
Aji Satrio Wicaksono/112110113
19

semua material harus dibongkar menggunakan pengeboran dan peledakan. Ada


beberapa material yang bisa dibongkar dengan cara digali atau digaru. Contohnya
Silt (batu pasir) & batu andesit yang kita gunakan saat melakukan praktikum.
a) Menurut kecepatan gelombang seismik :
Silt stone
Rippable : Dapat dilakukan penggaruan, tanpa peledakan.
Marginal : Mungkin dilakukan penggaruan ataupun peledakan.
Alat : Tractor scraper (after ripping).
Dapat dilakukan penggaruan (rippable).
Limestone
Karena nilai kecepatan seismik rata-rata tinggi, maka tidak dapat

dilakukan penggaruan (dengan peledakan).


Tidak dapat dilakukan penggaruan, hanya dengan peledakan (nonrippable).

b)

Menurut Indeks kekuatan batuan:


Silt stone
Nilai point load index termasuk medium, nilai fracture index
termasuk tinggi sehingga dilakukan penggaruan.
mudah digaru dengan ukuran blok sedang.
Limestone
Nilai point load index termasuk sangat tinggi, nilai fracture

c)

index termasuk tinggi sehingga dilakukan peledakan retakan.


sangat kuat untuk digaru dengan ukuran blok sedang.

Menurut UCS :
Silt stone
Karena memiliki nilai UCS rendah, maka dengan semua alat
dapat dilakukan penggaruan.
Limestone
Karena memiliki nilai UCS tinggi, maka hanya dapat dilakukan
peledakan.

d) Menurut grafik criteria penggaruan ( pettifer & fookes, 1994 )


Silt stone
Berdasarkan grafik tersebut silt stone bisa di garu dengan alat
D6 & D7. Tetapi akan mudah bila digali dengan alat D8.

Limestone

Aji Satrio Wicaksono/112110113


20

Berdasarkan grafik tersebut batu kuarsa mudah di garu dengan


alat D6 & D7. Tetapi akan mudah bila digali dengan alat D8.

BAB II
KOMPRESOR DAN ALAT BOR

2.1

Pendahuluan
Salah satu peralatan penting dalam proses pemboran dan peledakan batuan

adalah kompresor. Untuk iti pada praktikum Acara II ini praktikan dikenalkan
dengan kompresor dan alat bor. Praktikum Acara II ini praktikan dengan
dibimbing asisten melakukan pendeskripsian bagian bagian dari kompresor.
Dengan

pengenalan kompresor untuk memahami prinsip kerja,

mekanisme, dan fungsi dari bagian-bagian kompresor dan bor serta sistem
peralatan yang berhubungan. Dengan adanya Praktikum Pemboran dan Peledakan
ini terutama Acara I dan II, diharapkan praktikan dapat memahami dan mengerti
secara jelas, alat alat yang digunakan pada proses pemboran, serta tata cara
pemilihan alat bor dan kompresor untuk keperluan pembuatan lubang ledak.
Dengan demikian, praktikan dapat menerapkan prinsip prinsip pemilihan alat,
serta mekanisme kerja dari alat bor dan kompresor di kemudian hari.
2.2

Latar Belakang Teori


Udara bertekanan tinggi yang dihasilkan oleh kompresor merupakan

sumber tenaga bagi alat bor, misal jack hammer dan crawl rock drill ( CRD ) dll.
Disamping sebagai sumber tenaga untuk menggerakkan rangkaian alat bor, udara
bertekanan tinggi tersebut juga berfungsi untuk :
1.

Membersihkan lubang bor yang mengangkat cuttings.

2.

Mendinginkan mata bor.

Klasifikasi kompresor berdasarkan cara kerjanya adalah :


1.

Reciprocating Compressor ( single stage, multistage )

Aji Satrio Wicaksono/112110113


21

2.

Rotary Compressor.

3.

Centrifugal Compressor.
Kapasitas kompresor dinyatakan dalam Cubik Feet per Menit (Cfm), yaitu

udara bebas yang dihisap dan ditekan oleh kompresor merupakan udara pada
kondisi tekanan udara bebas atau atmosfer ( 1 atm ), yang berada pada batas
permukaan air laut. Proses penekanan udara tersebut ada 2 macam :
1.

Kompresi Adiabatik
Yaitu proses penekanan udara dimana tekanannya tetap.

2.

Kompresi Isotermik
Yaitu proses penekanan udara dimana suhunya tetap.
Menurut tipenya kompresor dibagi menjadi 2 kelompok yang didasarkan

pada tekanan yang dihasilkan yaitu :

Perpindahan dinamik ( dynamic displacement ) dimana peningkatan


tekanan dicapai dengan cara akselerasi udara dengan suatu elemen rotasi
dan aksi posterior dari sebuah diffuser. Kompresor sentifugal dan aksial
masuk dalam kelompok ini.

Perpindahan positif ( positif displacement ), jenis ini yang dipakai untuk


mesin bor, dimana tekanan tinggi diperoleh dengan cara menekan gas
dalam ruang tertutup, mengurangi volume dengan gerakan satu atau
beberapa elemen. Kompresor rotari atau bolak-balik termasuk dalam
kelompok ini. Jenis yang paling banyak dipakai untuk pemboran adalah
kompresor piston (resiprokating), jika ia adalah stasioner, dan jenis
sliding-vane atau rotary screw ( helical ) untuk model portable.
Perlengkapan kompresor yang paling penting dalam penggunaannya untuk

pengeboran antara lain :


1.

Saringan hampa (vacuum filters )

2.

Pemisah air ( water separator )

3.

Penyimpan udara ( air receiver )

4.

Lubrikator

5.

Penguat tekanan ( pressure multiplier atau booster )

6.

Slang fleksibel ( flexible hose )

Aji Satrio Wicaksono/112110113


22

Dalam pemilihan kompresor harus mempertimbangkan tekanan udara


yang dibutuhkan alat bor, jika aliran udara bertekanan tidak mencukupi dapat
berakibat:
1.

Kecepatan pemboran akan berkurang

2.

Biaya pemakaian mata bor dan batang bor meningkat

3.

Konsumsi bahan bakar bertambah

4.

Perlu merawat lebih banyak kompresor


Jadi untuk menentukan kapasitas dan jumlah kompresor yang diperlukan

dalam suatu operasi pemboran harus mempertimbangkan hal-hal seperti berikut:


1.

Jumlah dan ukuran mesin bor yang harus dilayani

2.

Ketinggian tempat kerja ( berpengaruh pada tekanan udara bebas )

3.

Luas tempat kerja (berpengaruh pada panjang jaringan dan


kehilangan tekanan)

Kompresor digunakan untuk mendukung kinerja dari alat bor. Sedangkan


berdasarkan prinsip kerjanya alat bor dibagi menjadi dua golongan yaitu:
1.

Manual driven
Prinsip kerja dari manual driven sangat sederhana karena hanya
menggunakan tenaga manusia sebagai tenaga penggerak. Contoh : auger
drill, bangka bor, churn drill, bor mesin semprot ( BMS ).

2.

Mechanic driven
Prinsip kerja dari mechanical driven yaitu penggunaan mesin sebagai tenaga
penggerak alat bor. Mechanic driven dibagi menjadi 3 jenis, yaitu :
a. Percussive drill : churn drill dan hammer drill
b. Rotary drill : hydraulic drill, diamond drill, chiled shot drill, turbo drill
dan jet pierce drill
c. Rotary percuassive drill : jack hammer
Dalam kegiatan penambangan terbuka untuk pengeboran alat yang

digunakan adalah down the hole drill, Rotary driven, dan top hammer. Untuk
kegiatan penambangan bawah tanah alat yang digunakan diantaranya : mekanik
jumbo dan Hand held rock drill (terdiri atas : stopper, shinker, difter).
Aji Satrio Wicaksono/112110113
23

Cara kerja pemboran mata bor ada tiga jenis, tumbuk, putar, putar-tumbuk.
1. Metode pemboran perkusif (percussive drill)
Pada pemboran ini energi dari mesin bor (rock drill) diteruskan oleh batang
bor dan mata bor untuk meremukan batuan. Komponen utama dari mesin bor
ini ialah piston yang mendorong dan menarik tangkai (shank) batang bor.
Energi kinetik piston diteruskan ke batang bor dalam bentuk gelombang
kejut (shock wave) yang bergerak sepanjang batang bor dengan kecepatan
5000 m/detik (setara kecepatan suara pada baja).
Frekuensi impak normal untuk rockdrill ialah 50 tumbukan/detik, yang
berarti jarak antara gelombang kejut adalah 100 m.
Pada metode perkusif, yang terjadi ialah proses peremukan (Crushing)
peremukan batuan oleh mata bor.
2. Metode Rotari (Rotary drill)
Berdasarkan sistem penetrasinya, metode rotary terbagi menjadi 2 sistem
yaitu tricone dan drag bit. Disebut tricone jika penetrasinya berupa gerusan
(crushing) dan drag bit jika hasil penetrasinya berupa potongan. Sistem
tricone digunakan untuk batuan sedang hingga lunak, system drag bit
digunakan untuk batuan lunak. Contoh alat bor dengan system ini adalah
hydroulic rotary drill.
3. Metode Rotari Perkusif (Rotary-Percussive drill)
Pada

pemboran

rotary-perkusif,

aksi

penumbukan

oleh

mata

bor

dikombinasikan dengan aksi putaran, sehingga terjadi proses peremukan dan


penggerusan permukaan batuan. Metode ini dapat digunakan pada
bermacam-macam jenis batuan.
Metode putar-tumbuk terbagi menjadi dua, yaitu :
a) Top Hammer
Metode pemboran Top hammer adalah metode pemboran yang terdiri
dari 2 kegiatan dasar yaitu putaran dan tumbukan. Kegiatan ini
diperoleh

dari

gerakan

gigi

dan

piston,

yang

kemudian

ditransformasikan melalui shank adaptor dan batang bor menuju mata


Aji Satrio Wicaksono/112110113
24

bor. Berdasarkan jenis penggerak putaran dan tumbukannya, metode ini


dibagi menjadi dua jenis yaitu : Hydrolic Top Hammer dan Pneumatic
Top Hammer.
b) Down the Hole Hammer ( DTH Hammer )
Metode pemboran ini adalah metode pemboran tumbuk-putar yang
sumber dasarnya menggunakan udara bertekanan. DTH Hammer
dipasang dibelakang mata bor, di dalam lubang sehingga hanya sedikit
energi tumbukan yang hilang akibat melewati batang bor dan
sambungan-sambungannya. Contoh dari alat bor dengan menggunakan
sistem tumbuk putar adalah jack hammer.
Pada praktikum peledakan ini juga dikenalkan tentang suatu rumus yang
antara lain :

Keterangan :
=Jumlah Burden

= Jumlah Spasi
L = Tinggi Jenjang

Vequivalen (

) =

Keterangan
n = Jumlah Lubang Ledak
H = Kedalaman Lubang Ledak
Kecepatan Pemboran (Vpemboran) (
Keterangan

= Kedalaman pemboran

Ct

= Cycle Time

Aji Satrio Wicaksono/112110113


25

) = H / Ct

Produksi Mesin Bor (

= Vpemboran x Vsetara x x 60

menit
Keterangan : = Efisiensi Mesin Bor
Tonase (ton/jam)
2.3

= Produksi Mesin Bor x Densitas

Deskripsi
Pelaksanaan praktikum diawali dengan mendeskripsikan bagian bagian

dari kompresor, disamping itu juga dikenalkan prisip kerja dari kompresor, yaitu :
1. Pulley bergerak karena energi dari motor yang dihubungkan dengan belt.
2. Piston turun dan katup isap terbuka kemudian menghisap udara.
3. Piston naik, udara masuk ke lubang menuju tabung.
4. Piston turun dan katub isap terbuka kemudian menghisap udara.
Praktikan juga mendapatkan pengetahuan tentang kegunaan kompresor,
yaitu untuk memberikan tekanan udara pada alat bor. Selain itu praktikan juga
diajarkan cara menghitung kapasitas kompresor.

Keterangan:
1. Tabung
2. Pulley
Besar
3. Pulley Kecil
4. Belt
5. Filter
6. Piston
7. Indikator
RPM
8. Tutup Klep
9. Dinamo
10. Selang
Gambar 2.1
Kompresor dan bagian-bagiannya

Aji Satrio Wicaksono/112110113


26

Hasil adalah praktikum yang telah kami lakukan adalah :

Mengetahui fungsi dari kompressor yaitu udara bertekanan tinggi yang


dihasilkan oleh kompresor merupakan sumber tenaga bagi alat bor.

Mengetahui dan memahami prinsip kerja, mekanisme dan fugsi bagianbagian kompressor serta system peralatan yang berhubungan..

Mengetahui fungsi serta bagian-bagian dari kompressor.


Suatu alat bor yang biasa digunakan untuk dipasangkan dengan
kompresor terdiri dari beberapa bagian penting diantaranya :
1. Mesin bor
Mesin bor adalah alat pengubah energi potensial berupa udara
bertekanan dari kompresor menjadi energi mekanik penggerak piston
dan drill rod.
2. Shank adaptors
Shank adaptor adalah bagian tangkai yang digunakan untuk
mentransmisikan energi tumbukan dari piston ke batang bor, kemudian
dilanjutkan ke mata bor.
3. Coupling
Coupling digunakan untuk menghubungkan batang bor yang satu
dengan yang lainnya sampai kedalaman lubang bor yang diinginkan
4. Drill rod
Drill rod merupakan bagian yang menggerakkan bit ( mata bor ) atau
sebagai tempat mata bor.
5. Bit ( mata bor )
Merupakan mata bor yang jenisnya tergantung dari tujuan pemboran.
Mata bor ( bit ) ada beberapa macam yaitu :
Datacable bit
Disebut deteacable bit apabila bitnya bisa diganti-ganti tidak
menyatu dengan drill rod. Pada jack hammer deteacable bit ini
dikenal juga dengan soket.
Forget bit

Aji Satrio Wicaksono/112110113


27

Disebut Forget bit apabila menyatu dengan drill rod dan bitnya tidak
bisa lepas. Pada jack hammer, forget bit ini dikenal juga dengan
nama chiel.

Gambar Alat Bor

Gambar 2.2

Gambar 2.3

Diamond Bit

Coupling Bit

Gambar 2.4

Gambar 2.5

Drag Bit

Tricone Bit

Gambar 2.6

Gambar 2.7

X Bit

Aji Satrio Wicaksono/112110113


28

Bottom Bit

Gambar 2.8
Chisel Bit

2.4

Pembahasan
1.

Perbandingan antara kompresor adiabatic dan kompresor isothermis


1) Kompresor adiabatic :
Peningkatan tekanan pada volume konstan

tetapi tekanan dan

temperatur berubah.
2) Kompresor isothermis :
Peningkatan tekanan pada temperatur tetap dan tekanan yang
berubah. Pada kompresor adiabatic tekanan udara yang dihasilkan
jauh lebih besar bila dibandingkan pada kompresor isothermis.
2.

Tujuan proses penekanan udara pada kompresor dilakukan bertahap


agar distribusi udara yang dihasilkan untuk disalurkan pada mesin bor
tetap terjaga sehingga dapat terjadi alur/ proses discharge ( pengeluaran ),
return, suction

( isap udara ) secara teratur dan akhirnya dapat

diperoleh kualitas udara yang baik pula dan juga berfungsi untuk
efisiensi kerja water separator (pemisah air) untuk dapat dilakukan
pemisahan uap air dari udara bertekanan secara teratur sehingga
dihasilkan udara yang kering serta dapat dilakukan penyimpanan udara
bertekanan apabila kebutuhannya melebihi kapasitas kompresor oleh
penyimpan udara.
3.

Perbandingan ke tiga jenis kompresor


a.

Reciprocating compressor, merupakan jenis yang paling


banyak dipakai untuk pemboran yang menggunakan piston sebagai
sumber penggerak utama dalam penangkapan udara.

Aji Satrio Wicaksono/112110113


29

b.

Rotary compressor, merupakan jenis kompresor di mana


tekanan tinggi diperoleh dengan cara menekan gas dalam ruang
tertutup dan mengurangi volume dengan gerakan satu atau beberapa
langkah biasanya menggunakan baling baling udara.

c.

Centrifugal compressor, merupakan jenis kompresor di


mana peningkatan tekanan dicapai dengan cara akselarasi udara
dengan suatu elemen rotasi dan aksi posterior dari sebuah disffuser.

Dari kompresor yang ada di laboratorium dilakukan pengukuran untuk


menentukan kapasitas dari kompresor tersebut. Kapasitas kompresor dapat
dihitung dengan menggunakan rumus :

Kapasitas Kompresor (Cfm) = Vpiston x Rpm x


Untuk memilih alat bor yang digunakan untuk pemboran. Dasar pemilihan alat
bor adalah :
1. Jenis pekerjaaan yang akan dilakukan, apakah surface atau
underground
2. Volume produksi yang direncanakan
3. Jenis batuan
4. Tinggi jenjang ( Geometri pemboran )
5. Diameter lubang ledak
6. Kondisi lapangan
7. Peraturan atau undang undang setempat
8. Fragmentasi
Dari praktikum Acara I, kami mendapatkan informasi mengenai
bagian bagian dari alat bor khususnya jack hammer, jenis jenis bit, cara
kerja dari jack hammer dan merakit sekaligus melepas jack hammer.
Ada tiga produser yang digunakan/ dipakai untuk menentukan
kecepatan pemboran :
1. Pengujian di laboratorium

Aji Satrio Wicaksono/112110113


30

2. Perhitungan penetrasi berdasarkan kuat tekan batuan


3. Estimasi berdasarkan siklus pemboran
Dasar penentuan produksi alat bor adalah produksi mesin bor
tergantung kecepatan pemboran mesin bor, volume setara dan penggunaan
efektif mesin bor. Produksi mesin bor dinyatakan dalam m3/jam.

2.5

Kesimpulan
1. Kompresor merupakan alat yang berfungsi menghasilkan udara
bertekanan

tinggi yang merupakan sumber tenaga bagi alat bor.

Energi yang dihasilkan oleh mesin bor merupakan energi potensial


(udara bertekanan) yang kemudian oleh mesin bor akan diubah menjadi
energi mekanik.
2. Udara bertekanan yang dihasilkan oleh kompresor berguna untuk :
Menggerakkan mesin bor.
Membersihkan

lubang

bor

guna

mengangkat

cutting.
Mendinginkan mata bor.
Kegiatan yang petama kali sebelum dilakukan
peledakan adalah penyediaan lubang tembak yang
dilakukan melalui pengeboran batuan dengan
menggunakan alat bor.
3. Dalam pemilihan kompresor harus disesuaikan dengan alat bor karena
itu sangat berpengaruh pada kegiatan pemboran.

Aji Satrio Wicaksono/112110113


31

DAFTAR PUSTAKA

Dwinagara, Barlian. 2013. Buku Panduan Praktikum Teknik Peledakan,


Laboratorium Pemboran & Peledakan Program Studi Teknik Pertambangan,
UPN Veteran Yogyakarta:Yogyakarta.

Aji Satrio Wicaksono/112110113


32

LAMPIRAN

Aji Satrio Wicaksono/112110113


33

PERHITUNGAN I

Menghitung volume udara yang dihasilkan kompresor per ft3/menit.


Diketahui :
Diameter pulley besar

= 17 cm

Diameter pulley kecil

= 8,08 cm

Diameter silinder (d)

= 5,04 cm

Panjang langkah

= 4,2 cm ( dari TMA ke TMB)

(t)

RPM

= 1420 rpm

Jawab :
Kapasitas kompresor =

d2t

x Rpm x(Diameter pulley kecil/Diameter pulley

besar)

= (1/4)(22/7) (5,05)2 ( 4,2 )x 1420 x (8,08/17)


= 56799 cm3/menit
= 0,056799 m3/menit
Keterangan Konversi
1 m = 3,28 ft
100 cm = 3,28 ft
1 cm = 3,28 x 10-2 ft
1 cm3 = (3,28 x 10-2)3 ft3
1 cm3/menit = 3,288 x 10-5 ft3/menit
56799 cm3/menit = 3,5288 x 10-5 ft3/menit x 56799
= 2.004 Cfm

Aji Satrio Wicaksono/112110113


34

PERHITUNGAN II
Free Face
4M
3M

GEOMETRI PELEDAKAN

Keterangan :
B

= Burden

= Tinggi Jenjang

= Kedalaman Lubang Ledak

= Spasi

= Sumbat (Stemming)

PC

= Powder Charge (Isian Bahan Peledak)

= Primer

= Subdrilling

Diketahui:
B=3m
Aji Satrio Wicaksono/112110113
35

S=4m
CT = 19 menit
H = 15 m
Densitas = 2,35 T/m3
Effisiensi = 85 %
Jawab :
Vtotal = (B X S) X H = (3 x 4) x 20 = 240 m3

Vequivalen (

) =
=
= 0.3

m3
m

Kecepatan pemboran = H / Ct
= 15m / 19menit
= 0,789 m/menit
Produksi pemboran

= Vequivalen x Vpemboran x x 60
= (0.3) (0,789) (87 %) (60 menit)
= 12,3557m3 / jam

Tonase = produksi pemboran x densitas


=

(12,3557 m3 / jam) (2,35 ton/m3)

= 29,035 ton/jam

Aji Satrio Wicaksono/112110113


36

PERHITUNGAN 3

Aji Satrio Wicaksono/112110113


37

Aji Satrio Wicaksono/112110113


38