Anda di halaman 1dari 65

Hama pada tanaman Hortikultura

Kamis, 07 Juni 2012


Tugas Makalah

Oleh
Mutiara Sani Samosir
Hama Penyakit Tanaman

HAMA PENTING TANAMAN HORTIKULTURA

A. Hama Penting Tanaman Kacang Panjang


1. Lalat bibit (Ophiomyia phaseoli)
Klasifikasi
Filum : arthropoda
Class : insecta
Ordo : Diptera
Family : Agromyzidae
Genus : Ophiomyia
Spesies: Ophiomyia phaseoli
Bioekologi
Lalat Kacang (Ophiomyia phaseoli) merupakan salah satu jenis hama yang pertama
sekali menyerang tanaman kedelai. Gejala kerusakan tanaman mulai terlihat pacta 14
hari setelah tanam dan berakhir pada 30 hari setelah tanam. Kerugian hasil yang
disebabkan oleh serangan lalat kacang adalah setara dengan presentase kematian
tanaman pada suatu areal pertanaman.
Lalat kacang dewasa berukuran 1,9-2,2 mm berwarna hitam, lalat dewasa meletakan
telur sejak tanaman kedelai muncul diatas tanah sampai sekitar 2 minggu setelah
tanam. Telur diletakan secara terpisah dalam lubang di dikoteledon atau pangkal helai
daun pertama atau kedua.
Seekor induk betina lalat mampu meletakan telur 94-183 butir menetas 48 jam setelah
diletakan. Larva berbentuk ramping panjang maksimal 3,75 mm dan lebar 0,15 mm

memakan keping biji atau daun selama 2 hari, larva menggerek daun menuju ke batang
hingga pangkal batang atau pangkal akar. Melalui kulit batang. Stadia larva berkisar
antara 7 -11 hari.
Pupa terbentuk di bawah epidermis kulit padakal batang atau pangkal akar. Siklus
hidup lalat kacang berkisar 17-26 hari.
Gejala
Gejala serangan lalat kacang mula-mula terlihat berupa bintik-bintik putih pada
kotiledon kemudian berupa berupa alur - alur korokan yang melengkung berwama
coklat pada daun pertama dan kotiledon. Gerekan larva menyebabkan tanaman menjadi
layu mati dan kering karena akar tidak dapt berfungsi normal untuk mengisap air dan
unsur hara.
Pengendalian
" Pergiliran tanaman dengan bukan kacang-kacangan
" Tanam serempak dengan selisih waktu tanam kurang dari 10 hari
" Menutup lubang tugal dengan mulsa (jerami, rumput daun kering)
" Pencabutan dan pemusnahan tanaman terserang
" Perawatan benih (untuk benih yang akan ditanam di daerah kronis/endemis)
" Penyemprotan insektisida efektif apabila ditemukan serangan kurang dari 2% pada
umur kurang 10 hari setelah tanam.
2. Ulat Penggerek Polong (Etiella zinckenella T)
Klasifikasi
Filum : arthropoda
Class : insecta
Ordo : lepidoptera
Family : pyralidae
Genus : Etiella
Spesies: Etiella zinckella
Bioekologi
Morfologi dari ulat polong yaitu mempunyai panjang ngengat kurang lebih 12 mm.
sayap mukanya pada bagian tepi berwarna putih seperti perak, atau kuning pucat.
Kepala ulat berwarna hitam. Warna ulat mula-mula hijau pucat, kemudian berubah
menjadi merah muda. Bentuk ulat silindris dengan panjang kuang lebih 15 mm.
Telur diletakkan pada polong atau daun. Jmlahnya 7-15 butir. Setelah menetas ulat
segera membuat lubang pada polong. Ulat kemudian memakan biji dan mengeluarkan
kotorannya. Ulat yang telah dewasa berwarna merah. Setelah dewasa ulat meninggalkan
polong an berkepompong di tanah.
Gejala serangan
Gejala serangan dapat dilihat dengan terdapatnya bercak hitam pada kuit polong, dan
didalamnya terdapat ulat. Warna buah yang terserang berubah dari hijau menjadi gelap
berkilau, sedangkan bijinya keropos.
Pengendalian
Tindakan yang perlu dilakukan dalam mengendalikan hama ulat polong ini yaitu :
" Tindakan pencegahan dilakukan penanaman serentak dan dalam aktu yang relative
singkat selesai.

" Penggunaan insektisida pada saat setelah buah mulai terbentuk. dengan interval
penyemprotan trgantung denga intensitas serangan.
3. Ulat Polong (Helicoverpa armigera)
Klasifikasi
Filum : Arthropoda
Class : Insecta
Ordo : Lepidoptera
Family : Noctuidae
Genus : Helicoverpa
Spesies: Helicoverpa armigera
Bioekologi
Ngengat betina muncul sehari lebih dahulu dari pada ngengat jantan. Ngengat jantan
mudah dibedakan dari ngengat betina karena ngengat betina mempunyai pola bercakbercak berwarna pirang tua, sedang ngengat jantan tidak mempunyai pola seperti itu.
Nisbah kelamin jantan dan betina 1 : 1. Daur hidup H. armigera dari telur hingga
ngengat mati berkisar antara 52 - 58 hari.
Ngengat betina meletakkan telur satu persatu pada pucuk daun, sekitar bunga dan
cabang. Telur berbentuk bulat dan berwarna putih agak kekuning-kuningan, kemudian
berubah menjadi kuning tua dan ketika akan menetas terlihat adanya bintik hitam.
Stadium telur berkisar antara 10 - 18 hari dan persentase penetasan telur berkisar 63 82 persen.
Stadium larva berkisar antara 12 - 23 hari. Ketika baru keluar dari telur, larva
berwarna kuning muda dan tubuhnya berbentuk silinder. Larva muda kemudian
berubah warna dan terdapat variasi warna dan pola antar sesama larva. Larva H.
armigera terdiri dari lima instar, instar pertama, kedua, ketiga, keempat dan kelima,
masing-masing berumur 2 - 3 hari, 2 - 4 hari 2 - 5 hari, 2 - 6 hari dan 4 - 7 hari.
Pupa dibentuk di dalam tanah. Pupa yang baru terbentuk berwarna kuning, kemudian
berubah kehijauan dan akhirnya berwarna kuning kecoklatan. Lama stadium pupa 15 21 hari. Hama ulat buah tersebut menyebar di daerah sentra produksi tomat di
Sumatera, Jawa dan Sulawesi.
Gejala
Larva H. armigera melubangi buah tomat baik buah muda maupun yang sudah tua.
Buah tomat yang terserang akan busuk dan jatuh ke tanah. Kadang-kadang larva juga
menyerang pucuk tanaman dan melubangi cabang-cabang tomat.
Tanaman inang lain
Tanaman inang utama ulat buah adalah tomat, tembakau, jagung, dan kapas. Tanaman
inang lainnya misalnya kentang, kubis, kacang-kacangan.
Pengendalian
a) Kultur teknis . Pengaturan waktu tanam. Tomat yang ditanam pada bulan September
terserang ringan oleh larva H. armigera.
b) Penanaman varietas toleran, seperti LV 2100 dan LV 2099. Penanaman tanaman
perangkap tagetes (Tagetes erecta) di sekeliling tanaman tomat. Sistem tumpangsari

tomat dengan jagung dapat mengurangi serangan H. armigera.


c) Pengendalian fisik/mekanis. Mengumpulkan dan memusnahkan buah tomat yang
terserang H. armigera. Pemasangan perangkap feromonoid seks untuk ngengat H.
armigera sebanyak 40 buah / ha.
d) Pengendalian hayati. Pemanfaatan musuh alami seperti parasitoid telur H. armigera
yaitu Trichogramma sp., parasitoid larva yaitu Eriborus argenteopilosus, dan virus
HaNPV sebagai patogen penyakit larva H. armigera.
e) Pengendalian kimiawi. Bila ditemukan ulat buah ? 1 larva / 10 tanaman contoh, dapat
diaplikasikan insektisida yang efektif dan diizinkan, antara lain piretroid sintetik
(sipermetrin, deltametrin), IGR (klorfuazuron), insektisida mikroba (spinosad), dan
patogen penyakit serangga H. armigera HaNPV 25 LE.
4. Ulat Jengkal (Plusia sp)
Klasifikasi
Filum : Arthropoda
Class : Insecta
Ordo : Lepidoptera
Family : Noctuidae
Genus : Plusia
Spesies: Plusia chalcites
Ulat jengkal memiliki beberapa nama daerah seperti ulat lompat, ulat kilan, ulat
jengkal semu dan ulat keket. Spesies ulat jengkal yg menyerang kacang panjang adalah
Plusia chalcites esper atau Chrydeixis chalcites esper. Ciri-ciri tubuhnya berwarna hijau
dan terdapat garis berwarna lebih muda pada sisi sampingnya. Panjang tubuhnya
sekitar 2 cm. Ciri khasnya adalah berjalan dengan melompat atau melengkungkan
tubuhnya. Lama masa ulat 2 minggu sebelum menjadi kepompong. Imagonya berupa
ngengat yang mampu bertelur sampai 1000 butir. Telurnya berbentuk bulat putih.
Telur-telur terdapat di permukaan bawah daun yang akan menetas setelah 3 hari.
Ulat jengkal menyerang daun muda maupun tua. Ulat ini juga menyerang pucuk
tanaman dan polong muda. Daun pada mulanya tampak berlubang-lubang tidak
beraturan. Pada tahap selanjutnya, tinggal tersisa tulang-tulang daun saja. Pada tingkat
berat, daun akan habis sehingga menimbulkan kerugian cukup besar.
5. Kutu daun (Aphis cracivora Koch)
Klasifikasi
Filum : Arthropoda
Kelas : Insecta
Ordo : Homoptera
Famili : Aphididae
Genus : Aphis
Spesies : Aphis craccivora
Bioekologi

1) Sifatnya partenogenesis, yaitu telurnya berkembang menjadi nimfa tanpa terjadi


pembuahan, kemudian dilahirkan oleh induknya.
2) Lama hidupnya antara 13 - 18 hari dengan 4 - 8 kali instar.
3) Nimfa yang baru terbentuk langsung mengisap cairan tanaman secara bergerombol.
Nimfa dewasa berwarna hitam dan berkilau. Antenenya lebih pendek dari pada
abdomen.
4) Betina menjadi dewasa setelah berumur 4 - 20 hari. Panjang tubuh yang bersayap
rata-rata 1,4 mm dan yang tidak bersayap rata-rata 1,5 mm. Mulai menghasilkan
keturunan pada umur 5 - 6 hari dan berakhir sepanjang hidupnya.
Gejala Serangan
Stadia yang merusak adalah nimfa dan imago yang umumnya mengisap pada bagian
daun permukaan bawah, kuncup, batang muda. Tanaman yang terserang akan
terhambat pertumbuhannya menjadi lemah dan kehilangan warna daun, mengkerut
dan akhirnya menyebabkan penurunan hasil produksi. Serangan berat pada fase
pembungaan atau pembentukan polong dapat menurunkan hasil panen. Selain itu, kutu
daun kacang juga merupakan vektor penyakit virus (CAMV).
Tanaman Inang
Kacang panjang dan jenis tanaman kacang-kacangan lainnya (Leguminoseae), kapaskapasan (Malvaelae), waluh-waluhan (Cucurcitaceae), dll.
Pengendalian
" Penanaman tanaman yang resisten.
" Penggunaan musuh alami seperti Coleoptera, Harmonia arcuata, dan dari ordo
Diptera.
6. Ulat grayak (Spodoptera litura F.)
Klasifikasi
Filum : Arthropoda
Kelas : Insecta
Ordo : Noctuidae
family : Lepidoptera
Genus : Spodoptera
Spesies: Spodoptera litura
Bioekologi
Serangga ini berkembang secara metamorfosis sempurna. Perkembangan S. litura
terdiri dari empat stadia yaitu telur, larva, pupa, dan imago. Hama ini bersifat polifag
atau mempunyai kisaran inang yang cukup luas. Pada umur 2 minggu, panjang ulat
sekitar 5cm. Ulat berkepompong di dalam tanah, membentuk pupa tanpa rumah pupa
(kokon), berwarna coklat kemerahan dengan panjang sekitar 1,60 cm. Siklus hidup
berkisar antara 30-60 hari (lama stadium telur 2-4 hari). Stadium larva terdiri atas 5
instar yang berlangsung selama 20-46 hari. Lama stadium pupa 8-11 hari. Seekor
ngengat betina dapat meletakkan 2.000-3.000 telur. Ulat grayak tersebar luas di Asia,
Pasifik, dan Australia. Di Indonesia, hama ini terutama menyebar di Aceh, Jambi,
Sumatera Selatan.
Gejala

Larva yang masih muda merusak daun dengan meninggalkan sisa-sisa epidermis
bagian atas (transparan) dan tulang daun. Larva instar lanjut merusak tulang daun dan
kadang-kadang menyerang polong. Biasanya larva berada di permukaan bawah daun
dan menyerang secara serentak dan berkelompok. Serangan berat menyebabkan
tanaman gundul karena daun dan buah habis dimakan ulat.
Serangan berat pada umumnya terjadi pada musim kemarau, dan menyebabkan
defoliasi daun yang sangat berat. serangan ulat yang masih kecil mengakibatkan bagian
daun yang tersisa tinggal epidermis bagian atas dan tulang daunnya saja. Ulat yang
besar memakan tulang daun. Serangan berat dapat mengakibatkan tanaman menjadi
gundul.
7. Penggerek biji (Callosobruchus maculatus L)
Klasifikasi
Filum : Arthropoda
Kelas : Insecta
Ordo : Coleoptera
family : Brunchidae
Genus : Callosobruchus
Spesies: Callosobruchus maculates
Bioekologi
Hama ini merupakan hama gudang yang menyerang hasil panen dalam gudang. Tarsi
tampaknya 4-4-4, tapi sesungguhnya 5-5-5. Tubuh oval, bagian belakang lebar, warna
hitam atau coklat dengan bintik-bintik. Dari atas kepala tersembunyi elytra pendek
tidak sampai ujung abdomen. Serangga ini merupakan family dengan jumlah yang
relatif sedikit. sepanjang hidupnya larva berada dalam biji-bijian, dewasa sebagian
ditemukan dibunga-bunga.
Gejala
Biji dirusak berlubang-lubang, hancur sampai 90%. Pengendalian: dengan
membersihkan dan memusnahkan sisa-sisa tanaman tempat persembunyian hama.
Benih kacang panjang diberi perlakuan minyak jagung 10 cc/kg biji.
Pengendalian
Dengan membersihkan dan memusnahkan sisa-sisa tanaman tempat persembunyian
hama dan benih kacang panjang diberi perlakuan minyak jagung 10 cc/kg biji.
8. Ulat bunga (Maruca testulalis)
Klasifikasi
Filum : Arthropoda
Kelas : Insekta
Ordo : Lepidoptera
family : pyralididae
Genus : Maruca

Spesies: Maruca testulalis


Bioekologi
Hama ini tersebar di daerah tropis, ia menkhususkan diri menyerang tanaman family
Leguminosae. Termasuk dalam daftarnya buncis, kacang panjang, tanaman penutup
tanah Crotalaria, dan kedelai. Larva menyerang ovarium bunga yang baru mekar,
kelopak bunga, polong muda, daun muda, dan tunas. Ukuran larva berwarna hijau
cerah dengan kepala gelap ini sekitar 1,6 cm. Selanjutnya ia akan membentuk pupa di
dalam tanah.
Serangan terjadi saat tanaman baru bertunas atau mengeluarkan polong. Siklus hidup
Ngengat bertelur di kuncup bunga, bunga, atau pada polong muda. 3-5 hari telur
menetas menjadi larva dan mulai memakan tunas, bunga, daun, dan polong. Larva
bertambah besar dan berpindah ke tempat lain pada umur 4-7 hari , ini merupakan
stadia paling berbahaya dari pertumbuhan hama ini. Setelah umur 6-8 hari larva
berubah menjadi pupa di tanah dan membutuhkan waktu 5-7 hari untuk menjadi
serangga dewasa.
Gejala
Bunga yang baru mekar, kelopak bung , polong muda, daun muda dan tunas rusak
dengan bekas gigitan. Bagian tanaman dijalin dengan jaring mirip jaring laba-laba,
kalau di buka, didalamnya tampak sosok larva.
Pengendalian
Dengan cara mekanis dapat langsung di ambil dan di musnahkan yang terlihat pada
tanaman yang terserang. Secara kimiawi dengan menyemprotkan insektisida kontak
berbahan dasar Protiofos, seperti Tokuthion 500 EC, Prevathon 50 SC berbahan aktif
Klorantraniliprol dan Regent 50 SC berbahan aktif Fipronil pada onsentrasi sesuai label.
Dengan cara budidaya, membersihkan serasah dan gulma di sekitar tanaman utama.
B. Hama Penting Tanaman Kubis
1. Ulat kubis (Plutella xylostella L.)
Klasifikasi
Filum : Arthropoda
Kelas : Insekta
Ordo : Lepidoptera
family : Plutellidae
Genus : Plutella
Spesies: Plutella xylostella
Bioekologi
Serangga hama ini dikenal dengan ulat daun kubis atau diamond back moth, termasuk
ordo Lepidoptera, family Plutellidae dan mernpunyai daerah penyebaran di Indonesia.
Ngengat P. xylostella kecil berwarna coklat kelabu, pada sayap depan terdapat tanda
"tiga berlian". Ngengat aktif pada senja dan malam hari dengan meletakkan telur
tersebar pada daun. Stadium telur 3-5 hari. Larva instar pertama berukuran 1,2 mm
berwarna hijau cerah dengan kepala tampak hitam. Stadium larva 7-11 hari. Pupanya
tertutup oleh kokon, berwarna kuning pucat. Daur hidupnya berkisar 21 hari.

Gejala
Daun yang terserang P. xylostella berlubang-lubang kecil dan bila serangan berat,
tinggal tulang daun. Serangan berat terjadi pada musim kemarau, saat tanaman
berumur 5-8 minggu. Tanaman inang P. xylostella adalah petsai, brokoli, dan kubiskubisan lainnya.
Pengendalian
Untuk pengendalian hama ulat kubis Plutella xytostella dapat dilakukan dengan cara
mekanis dan kimia. Cara mekanis yaitu dengan memusnahkan dan mengumpulkan
semua larva imago yang ditemukan, sedangkan cara kimiawi dilakukan dengan
penggunaan pestisida selektif bila ditemukan 5 larva setiap 10 tanaman dan 5% dari
jumlah tanaman telah terserang hama tersebut. Dengan melakukan pengamatan, maka
akan menghemat penggunaan pestisida 7 - 11 kali penyemprotan dengan dosis 0,5 1cc/liter tiap penyemprotan. Hama ulat kubis ( Plutella maculipennis), dikendalikan
dengan Diazinon atau Bayrusil 1 -2 cc/1 air dengan frekwensi penyemprotan 1 minggu.
Sedangkan ulat kubis (Crocidolonia binotalis) dikendalikan dengan Bayrusil 13 cc/1 air.
2. Ulat Krop Kubis (Crocidolomia pavonana)
Klasifikasi
Filum : Arthropoda
Kelas : Hexapoda
Ordo : Lepidoptera
family : pyralidae
Genus : Crocidolomia
Spesies: Crocidolomia pavonana
Bioekologi
Serangga hama ini dikenal dengan ulat krop kubis atau large cabbage heart caterpillar,
termasuk ordo Lepidoptera, farnili Pyralidae dan mempunyai daerah penyebaran di
Indonesia. Ngengat C. binotalis berwarna kelabu kecoklatan dengan rentangan sayap 20
mm dan panjang 13 mm. Telur diletakkan secara berkelompok pada daun dengan
stadium 4 hari. Larvanya berwarna coklat sampai hijau tua. Stadium larva 14 hari.
Pupanya berada dalam tanah. Daur hidup 24-32 hari. Larva C. binotalis merusak kubis
yang sedang membentuk krop, sehingga daun kubis berlubang-lubang.
Gejala
Kerusakan ringan berakibat menurunnya kualitas kubis sedang kerusakan berat
menyebabkan tanaman kubis tidak dapat dipanen. Tanaman inang C. binotalis adalah
petsai dan kubis-kubisan.
Pengendalian
Pengendalian C. binotalis dapat dilakukan dengan cara mengumpulkan
(memusnahkan) telur, larva atau imago yang ditemukan. Pengendalian secara kimiawi
dapat dilakukan bila ditemukan 3 paket telur pada 10 tanaman dan 5 % tanaman
terserang hama tersebut. Pengendalian kimia cara tersebut dapat menghemat/menekan
penggunaan pestisida 7 - 11 kali penyemprotan. Pemilihan bahan aktif insektisida
dilakukan dengan selektif dan yang efektif diantaranya Bacillus thuringiensis (Turex,

Thuricide), sipermetrin (Cymbush), Klorfluazuron (Atabron), lufenuron (Match),


Lamda sihalotrin (Matador), Protiofos (Tokuthion) dan lain-lain. Selain itu dapat juga
digunakan pestisida nabati atau biologi dengan dosis anjuran adalah : Bacillus
thurigiensis, biji sirsak atau dengan menggunakan biji nimba 30 gr/liter.
3. Ulat kubis (Hellula undalis)
Serangga hama ini dikenal dengan ulat krop bergaris atau striped cabbage heart
caterpillar, termasuk ordo Lepidoptera, famili Pyralidae dan mempunyai daerah
penyebaran di Indonesia. Ngengat H undalis berwarna kelabu dan pada sayap depan
terdapat garis-garis pucat serta titik-titik. Larvanya berwarna kuning kecoklatan dengan
kepala hitam dan pada badannya terdapat enam garis yang memanjang berwarna
coklat. Pupanya di tanah terbungkus kokon, tertutup oleh partikel tanah. Daur
hidupnya 23-25 hari.
Serangan larva muda seperti serangan yang disebabkan oleh Plutela sp. dan gejala
serangan larva tua seperti gejala serangan Crocidolomia sp. Tanaman inang H.undalis
adalah Petsai, sawi, lobak, dan, kubis tunas.
Pengendalian H. undalis dapat diakukan dengan:
" Pemusnahan tanaman yang terserang
" Penyemprotan insektisida sistemik pada saat tanaman muda dan ditemukan gejala
serangan.
4. Kumbang daun (Phyllotreta vittata)
Serangga hama ini dikenal dengan kumbang daun atau leaf beetle, termasuk ordo
Coleoptera, family Chrysomelidae dan mempunyai daerah penyebaran di Indonesia.
Kumbang ini berwarna coklat kehitaman dengan sayap bergaris kuning. Panjang
kumbang 2 mm. Telur diletakkan berkelompok pada kedalaman l-3 cm di tanah.
Panjang larva 3-4 mm. Pupanya berada pada kedalaman tanah 5 cm. Daur hidupnya 3-4
minggu.
Daun kubis yang terserang P. vittata berlubang-lubang kecil. Larvanya seringkali
merusak bagian dasar tanaman dekat dengan permukaan. Tanaman inang P. vittata
adalah petsai, lobak, dan sawi. Pengendalian P. vittata dapat dilakukan dengan
" Pemusnahan tanarnan yang terserang
" Penggunaan insektisida bila ditemukan gejala serangan dan saat tanaman masih
muda.
5. Ulat Grayak (Spodoptera litura)
Serangga hama ini dikenal dengan ulat grayak atau army worm, termasuk ordo
Lepidoptera, family Noctuidae dan mempunyai daerah penyebaran di Indonesia. Telur
S litura diletakkan secara berkelompok pada permukaan bawah daun. Stadium telur 2-8
hari. Larva berwarna keabu-abuan dengan panjang larva instar akhir 50mm. Pupa
berwarna coklat berada dalam tanah. Stadium pupa 9-10 hari. Ngengat berwarna agak

keabu-abuan. Larva S. litura memakan daun dan pucuk tanaman kubis, sehingga daun
transparan.
Pada serangan berat tinggal tulang daun. Tanaman inang S. litura adalah kacang tanah,
tembakau, bawang merah, dan ketela rambat. Pengendalian S. litura dapat dilakukan
dengan:
" Pergiliran tanaman dengan tanaman buhan inang.
" Penanaman serempak
" Pengolahan tanah yang baik untuk mematikan larva/pupa dalam tanah.
" Pemusnahan kelompok telur dan larva
" Konservasi musuh alami seperti penggunaan parasitoid telur Telenomus spodopterae
Dodd
" Penggunaan insektisida bila telah ditemukan gejala serangan.
6. Ulat Jengkal (Chrysodeixis chalcites)
Serangga hama ini dikenal dengan ulat jengkal atau green semilooper, termasuk ordo
Lepidoptera, family Noctuidae dan mempunyai daerah penyebaran di Indonesia. Telur
C. chalcites diletakkan pada daun, berwarna keputihan. Stadium telur 3-4 hari.
Larvanya berwarna hijau dengan stadium larva 14-19 hari. Pupanya di daun dengan
stadium 6-11 hari. Ngengat berwarna coklat tua.
Daun kubis yang terserang C. chalcites akan tampak tinggal epidermis dan tulang
daunnya. Tanaman inang C. chalcites adalah kentang, jagung, tembakau, apel, kacang
tanah, rami, dan kacang hijau. Pengendalian C. chalcites dapat dilakukan dengan:
" Pergiliran tanaman dengan tanaman bukan inang
" Penanaman serempak
" Pemusnahan larva yang ditemukan
" Penyemprotan insektisida bila ditemukan gejala serangan.
7. Penggerek buah dan tunas (Helicoverpa armigera Hubn)
Klasifikasi
Filum : Arthropoda
class : Insecta
Ordo : Lepidoptera
Famili : Noctuidae
Genus : Helicoverpa
Spesies: Helicoverpa armigera
Bioekologi
Helicoverpa armigera merupakan family Noctuide. Telur berwarna putih kemudian
berubah menjadi coklat (Gambar 1). Larva (Gambar 2) terdari dari enam instar. Instar
pertama berukuran 1-3 mm dengan warna kepala coklat kehitaman atau kuning
keputihan. Tubuh berwana gelap. Instar kedua memilki panjang 4-7 mm, instar tiga 813 mm, instar empat 14-23 mm, instar lima 24-28 mm, dan instar enam 29-30+ mm.
Pupa berwarna coklat dan berbentuk oval . Imago memilki rentang sayap 30-45
mm,sayap depan berwarna coklat atau coklat kemerahan. Sayap belakang berwarna

pucat dengan margin terluar gelap.


Suhu optimum H.armigera adalaah 25C. H.armigera meletakan telur pada daun dan
bunga secara sendiri-sendiri atau berkelompok. Setelah 4-6 hari telur menetas. Larva
memakan daun, dan buah. Stadia larva berlangsung selama 14 hari yang terdiri dari
enam larva. Larva yang menyerang buah cabai menggorok ke dalam buah. Setelah itu
larva menuju tanah den masuk ke dalam tanah sedalam 10 cm. Stadia pupa berlangsung
selama 10-12 hari. Imago mampu hidup selama 10 hari. H.armigera dapat meletakan
1000 telur selama hidupnya. Imago mengkonsumsi nektar untuk kebutuhan pakannya.
Gejala
Daun kubis yang terserang larva H. armigera berlubang-lubang. Bila serangan cukup
tinggi, banyak daun kubis yang berlubang sehingga menurunkan kualitas kubis.
Tanaman inang H. armigera adalah sorghum, kentang, tomat, jagung, tembakau, kapas,
dan kacangkacangan.
Pengendalian
a) Pengendalian Secara Mekanis. Pengendalian secara mekanis dilakukan dengan
sanitasi buah cabai dan bagian tanaman yang terinvestasi H.armigera (telur dan larva).
Bagian tanaman yang di ambil di bakar.
b) Pengendalian Secara Biologi. Pengendalian secara biologi dapat dilakukan dengan
memanfaatkan parasitoid dan entomopathogen. Parasitoid yang dapat dimanfaatkan
diantara lain adalah Microplitis, Trichogramma dan Telenomus, Netelia, Heteropelma
dan Ichneumon. Parasitoid tersebut memparisiti larva dan pupa H.armigera.
Entomopathogen yang dapat dimanfaatkan adalah nucleopolyhedrovirus (NPV). NPV
diaplikasikan dengan disemprotkan ke tanaman dengan dosis 250-500ml
(1ml/litre)/hektar 2-3 kali dengan interval 10 hari. Penyemprotan dilakukan pada
malam hari. Selain itu dapat memanfaatkan Bakteri berspora Bacilus thuringensis dan
jamur metarizium.
c) Pengendalian Kimiawi. Pengendalian kimiawi dapat dilakukan dengan menggunakan
feromon sex sintetik. H.armigera yang tertarik adalah Imago jantan. Feromon sex
berbentuk seperti karet. Feromon tersebut dimasukan kedalam suatu tempat Yang di
bagian dasarnya terdapat air atau insektisida. Pengendalian dengan menggunakan
insektisida nabati dapat digunakan Neem oil, karena neem oil bersifat sistemik
terhadap tanaman. Neem oil bekerja dengan menghambat hormon ecdyson yang
berperan dalam penggatian kulit serangga. Bila serangan sudah sangat berat dapat
digunakan insektisida sintetik sistemik seperti karbofuran.
8. Kutu Daun (Myzus persicae Sulz)
Klasifikasi
Filum : Arthropoda
Class : Insekta
Ordo : Hemiptera
Famili : Aphididae
Genus : Myzus
Spesies: Myzus persicae

Bioekologi
Secara umum kutu berukuran kecil, antara 1 - 6 mm, tubuhnya lunak, berbentuk seperti
buah pir, mobilitasnya rendah dan biasanya hidup secara berkoloni. Satu generasi kutu
ini berlangsung selama 6 - 8 hari pada kondisi lingkungan sekitar 25oC, dan 21 hari
pada 15oC.
Di antara semua kutu daun yang menyerang jeruk, kutu daun coklat merupakan yang
terpenting. Karena kutu tersebut merupakan penular virus penyebab penyakit Tristeza
yang paling efisien. Secara visual, bentuk dan ukuran spesies-spesies kutu daun ini
serupa. Kutu daun tidak menyebabkan kerusakan yang berarti pada tanaman, tetapi
perannya sebagai vektor virus Tristeza jauh lebih berbahaya karena virus ini
menyebabkan kerugian ekonomis yang tinggi. Pada saat tanaman sedang bertunas,
perkembangbiakan kutu mencapai optimum.
Gejala
Kerusakan karena hama ini tampak pada bagian-bagian tanaman yang masih muda,
misalnya tunas-tunas dan daun-daun serta tangkai daun yang masih muda. Hal ini
terjadi karena serangga menusukkan stiletnya, kemudian mengisap cairan sel tanaman,
sehingga hanya jaringan tanaman yang lunak yang paling disukainya. Daun berkerut
dan keriting serta penumbuhannya terhambat. Pada bagian tanaman di sekitar
aktivitas kutu daun tersebut terlihat adanya kapang hitam, yaitu Capnodium sp. yang
tumbuh pada sekresi atau kotoran kutu daun berupa embun madu. Kadang-kadang di
sekitar koloni tersebut terdapat semut yang juga menyukai sekresi yang dihasilkan
serangga ini.
Pengendalian
Pengendalian secara bercocok tanam/kultur teknis, meliputi cara-cara yang mengarah
pada budidaya tanaman sehat yaitu : terpenuhinya persyaratan tumbuh (suhu, curah
hujan, angin, ketinggian tempat, tanah), pengaturan jarak tanam, pemupukuan, dan
pengamatan pada kanopi tunas seluas 0,25 m2. Hitung serangga dewasa yang ada
setiap 2 minggu.
Pengendalian mekanis dan fisik, dilakukan dengan membersihkan kebun/ sanitasi
terhadap gulma atau dengan menggunakan mulsa jerami di bedengan pembibitan jeruk,
serta membunuh langsung serangga yang di-temukan.
Pengendalian biologi, dengan memanfaatkan musuh alami predator dari famili
Syrphidae, Menochillus sp., Scymnus sp. (Coccinelidae), Crysophidae, Lycosidae dan
parasitoid Aphytis sp.
Pengendalian kimiawi, dengan menggunakan insektisida selektif dan efektif sesuai
rekomendasi, dilakukan secara spot spray pada tunas bila tunas terserang 25 %.
C. Hama Penting Tanaman Kentang
1. Penggorok Daun (Liriomyza huidobrensis spp)
Klasifikasi
Filum : Arthropoda
Class : Insecta
Ordo : Diptera

Family : Trypetidae
Genus : Liriomyza
Spesies: Liriomyza huidobrensis
Bioekologi
Telur berwarna putih bening, berukuran 0,28 mm x 0,15 mm, dan lama stadium telur
berlangsung antara 2 - 4 hari. Jumlah telur yang diletakkan serangga betina selama
hidupnya berkisar 50 - 300 butir, dengan rata-rata 160 butir. Telur diletakkan dalam
jaringan daun melalui ovipositor.
Larva yang baru keluar, berwarna putih susu atau putih kekuningan, segera mengorok
jaringan mesofil daun dan tinggal dalam liang korokan selama hidupnya. Stadium larva
antara 6 -12 hari, dan larva yang sudah berusia lanjut (instar 3) berukuran 3,5 mm.
Larva instar 3 dapat mengorok jaringan 600 x lipat dari larva insatar 1, dan larva ini
kemudian keluar dari liang korokan untuk berkepompong.
Pupa lalat pengorok daun ini umumnya ditemukan di tanah, tetapi pada tanaman
bawang merah sering ditemukan menempel pada permukaan bagian dalam dari rongga
daun bawang. Stadium pupa antara 9 - 12 hari, lalau keluar menjadi serangga
dewasa/imago.
Imago betina mampu hidup selama 6 - 14 hari dan imago jantan antara 3 - 9 hari. Lalat
L. Chinensis pada bagian punggungnya berwarna hitam, sedangkan pada lalat L.
Huidobrensis dan L. Sativa di bagian ujung punggungnya terdapat warna kuning.
Gejala
Daun bawang yang terserang lalat pengorok memperliharkan gejala bintik-bintik putih
akibat tusukan ovipositor, dan berupa liang korokan larva yang berkelok-kelok.
Serangan berat dapat mengakibatkan hampir seluruh helaian daun penuh dengan
kotoran, sehingga daun menjadi kering dan berwarna cokelat seperti terbakar.
Tanaman inang lain
Lalat L. Chinensis merupakan OPT baru, sehingga sampai saat ini belum banyak dapat
diperoleh informasinya tentang tanaman inang lainnya, mungkin dapat menyerang
tanaman inang Liriomyza lainnya (L. Huidobrensis, L. Sativa).
Pengendalian
" Pengendalian secara bercocok tanam, meliputi pengaturan waktu tanam, pergiliran
tanaman, budidaya tanaman sehat, penanaman tanaman perangkap (tanaman kacang
merah ditanam + 2 minggu sebelum tanaman bawang merah), penanaman varietas
toleran (varietas Filipina).
" Pengendalian fisik/mekanik, dengan cara penggunaan mulsa plastik; pemotongan
daun yang menunjukkan gejala, dikumpulkan kemudian dimusnahkan; pemerangkapan
lalat secara masal dengan pemasangan kartu perangkap, kain perangkap dan
penyapuan dengan kain berperekat; pemasangan kain kelambu.
" Pemanfaatan musuh alami, dari beberapa jenis tabuhan Ascecodes sp. Hemiptarsenus
varicornis, Gronotoma sp., dan Opius sp., merupakan parasit yang menyerang larva
lalat pengorok daun.
" Pengendalian dengan peraturan, melarang masuknya benih atau bagian tanaman lain
terutama dari daerah serangan yang dikhawatirkan membawa telur atau larva pengorok
daun ke daerah yang masih bebas dari serangan pengorok daun.
" Pengendalian kimia, dengan menggunakan pestisida yang diizinkan oleh Menteri
Pertanian.

2. Kumbang Kubah (Epilachna sparsa)


Klasifikasi
Filum : Arthropoda
Class : Insecta
Ordo : Coleoptera
Family : Coccilinedae
Genus : Epilachna
Spesies: Epilachna sparsa
Bioekologi
Serangga hama ini dikenal dengan kumbang daun kentang atau potato leaf beetle,
termasuk ordo Coleptera, famili Coccinellidae dan mempunyai daerah penyebaran di
Indonesia. Telur E. sparsa diletakkan pada daun yang masih much. Larva berukuran
panjang 10 mm den mullah terlillat karena pada bagian dorsal terdapat driri-duri lunak.
Larva ini memakan daun kentang. Kumbangnnya berukuran panjang 10 mm, berwarna
merah dengan spot hitam. Banyaknya spot hiram ini membedakan species yang satu
dengan yang lainnya. Daur hidup kumbang 7-10 rninggu.
Gejala
Larva dan kumbang E. Sparsa memakan permukaan alas dan bawah daun kentang
sehingga tinggal epidermis dan tulang daunnya (karancang). Tanaman inang E. sparse
adalah terung, tomat, jagung, padi, dan kacang tanah.
Pengendalian
Pengendalian E. Sparse dapat dilakukan dengan
" Pengambilan larva den imago kemudian dimusnahkan
" Penyemprotan insektisida sistemik bila sudah ditemukan gejala serangan.
3. Penggerek Umbi (Phthorimaea operculella)
Klasifikasi
Filum : Arthropoda
Kelas : Insecta
Ordo : Lepidoptera
Family : Gelechiidae
Genus : Phthorimaea
Spesies: Phthorimaea operculella
Bioekologi
Serangga hama ini dikenal dengan penggerek umbi kentang atau potato tuber borer,
termasuk ordo Lepidoptera, famili Gelechiidae dan mempunyai daerah penyebaran di
Indonesia.
Telur P. operculella kecil berwarna kekuningan, diletakkan pada daun. Stadium telur 315 hari. Larvanya berwarna putih kelabu dan menggorok daun, cabang, atau melipat
daun.
Aktivitas larva dilanjutkan ke umbi kentang di lapangan ataupun umbi kentang yang

ada di gudang. Stadium larva 9-33 hari. Pupanya berada di dalam lekukan umbi
kentang dengan stadium pupa berkisar 6-26 hari (bergantung kepada temperatur).
Ngengatnya berwarna coklat kelabu berukuran 10-15 mm, daur hidupnya 5-6 minggu.
Tanaman inang P. operculella adalah terung, tembakau, jenis Solanaceae lainnya.
Gejala
Daun yang terserang P. operculella menggulung dan berwarna kemerahan. Gejala pada
umbi kentang tampak adanya kotoran di sekitar mata tunas. Bila umbi itu dibelah akan
terlihat lorong-lorong gerekan.
Pengendalian
" Monitoring hama pada pertanaman.
" Pergiliran tanaman dengan tanaman bukan inang.
" Pembumbunan umbi yang terlihat darl permukaan.
" Eradikasi sisa-sisa tanaman dan umbi kentang yang terserang.
" Penggunaan insektisida apabila telah ditemukan lebih 2 ekor larva setiap tanaman.
4. Orong-orong (Gryllotalpa Africana)
Klasifiakasi
Filum : Arthropoda
Class : Insekta
Ordo : Orthoptera
Family : Gryllidae
Genus : Gryllotalpa
Spesies: Gryllotalpa Africana
Bioekologi
Serangga hama ini dikenal dengan anjing tanah/orong-orong/gaang atau small mole
cricket, termasuk ordo Orthoptera, famili Gryllotalpidae dan mempunyai daerah
penyebaran di Indonesia. Telur G. africana diletakkan di bawah permukaan tanah
dalam lubang sekitar 10-15 cm. Produksi telur serangga betina sekitar 100 butir.
Stadium telur 2-3 minggu. Nimfanya aktif pada malam hari untuk mencari makanan.
Serangga dewasa benwarna kecoklatan, panjang 2,5 cm. Kaki depannya cukup kuat
sebagai kaki penggali tanah.
Gejala
Umbi kentang yang terserang G. africana berlubang-lubang cukup besar. Bila serangan
tinggi, banyak umbi kentang yang berlubang dengan bentuk lubang beraturan.
Tanaman inang G. africana adalah berbagai tanaman muda.
Pengendalian
" Pengolahan tanah yang baik
" Pemasangan umpan beracun dengan insektisida triklorfon (Dipterex 25 SL) dengan
dosis 2-4 kg bahan aktif setiap hektar dicampur dengan 20 kg dedak, 1-2 kg gula merah,
20 L air yang disebarkan pada sore hari di sekitar tanaman.
" Penggunaan insektisida sistemik yang ditaburkan di sekitar tanaman.
" Konservasi musuh alami seperti parasitaid Campsomeris leefmansi Betr.

5. Holotrichia javana Brsk.


Serangga hama ini dikenal dengan uret/lundi atau grub, termasuk Coleoptera, famili
Scarabaeidae dan mempunyai daerah penyebaran di Jativa. Larva H. javana berada
dalam tanah memakan bagian tanaman yang ada dalal tanah senerti akar dan umbi
kentang. Larvanya lebih menyukai umbi kentang. Kumbang ini berukuran panjang 2,02,5 cm dan berwarna coklat tua. Daur hidupnya berkisar 10 bulan. Kumbang betina
meletakkan telurnya
dalam tanah pada kedalaman 10-20 cm.
Umbi kentang yang terserang H. javana berlubang-lubang dengan bentuk lubang tidak
beraturan. Pada populasi tinggi, kehadiran lundi ini dapat mengurangi hasil umbi
kentang. Tanaman iuang H. javana adalah pada, jagung. karek, kina, bayam, kacang kacangan, dan Centrosema sp.
Pengendalian H. javana dapat dilakukan dengan
" Pengolahan tanah yang baik.
" Konservasi musuh alami seperti parasitaid Campsomeris leefmansi Betr. serta
penggunaan insektisida granular yang ditaburkan di sekitar tanaman.
6. Agrotis ipsilon (Hufn)
Bioekologi
Serangga hama ini dikenal dengan ulat tanah atau back cutworm, termasuk ordo
Lepidoptera, famili Noctuidae dan mempunyai daerah penyebaran di Indonesia.
Serangga betina A. ipsilon meletakkan telur pada tanah dekat dengan tanaman.
Produkasi telurnya berkisar 1.800 butir. Telurnya berwarna keputihan dan berbentuk
bulat. Daur hidupnya 4-6 minggu.
Larva bersembunyi di dalam tanah pada waktu siang hari dan keluar waktu malam hari
untuk menyerang tanaman dengan memotong batang tanaman dekat permukaan tanah.
Tanaman inang A. ipsilon adalah tomat, cabe, kubis, terung, jagung, dan kacangkacangan.
Gejala Serangan
Pangkal batang tanaman kentang yang terserang A. ipsilon terpotong dan bagian yang
terpotong ini terkulai layu dekat dengan tanaman yang dipotong. Biasanya dengan
sedikit membongkar tanah di sekitar tanaman yang terpotong itu ditemukan larva
Agrotis. Serangga ini banyak menimbukan kerugian atau kerusakan.
Pengendalian
" Pengolahan tanah dan bila memungkinkar, pemberian air/penggenangan sebelum
lahan ditanami.
" Pergiliran tanaman dengan tanaman bukan inang, pengumpulan larva di sekitar
tanaman yang diserang dan memusnahkannya.
" Penanaman serempak.
" Penggunaan parasitoid larva Apanteles ruficrus Hal., Tritaxys braueri (DeMey) dan
Cuphocera varia (F.).
" Pemasangan umpan beracun di tempat-tempat yang menjadi sarang larva.
" Penyemprotan insektisida Decis 2,5 EC apabila ditemukan serangan berat.

7. Kutu Daun (Myzus persicae Sulz)


Serangga hama ini dikenal dengan kutu daun persik atau tobacco aphid, termasuk ordo
Nomoptera, family Aphididae dan mempunyai daerah penyebaran di Indonesia. M.
persicae menyerang pertanaman kentang pada saat cuaca kering. Kelembapan udara
yang tinggi akan menghambat perkembangannya. Nimfa dan serangga dewasa yang
tidak bersayap sulit dibedakan. Daur hidupnya 7-10 hari. M persicae merupakan vektor
virus penggulung
daun kentang, yaitu Potato Leaf Roll Virus (PLRV) dan Potato Virus Y (PVY), serta
Potato Virus X (PVX).
Tanaman yang terserang M. persicae daunnya terpuntir, 1ayu, serta pertumbuhan
tanaman kerdil dan berwarna kekuningan. Tanaman inang M persicae adalah
tembakau, cabe, tomat, kentang, dan petsai.
Pengendalian M. persicae dapat dilakukan dengan
" Konservasi rnusuh alarm predator Menochilus sp. dan kumbang Coccinellidae
" Penyemprotan insektisida sistemik setelah ditemukan 10 ekor nimfa setiap 35 daun
dalam satu tanaman.
8. Thrips palmy (Karny)
Klasifikasi
Filum : Arthropoda
Class : Insecta
Ordo : Thysanoptera
Family : Thripidae
Genus : Thrips
Spesies: Thrips palmy
Bioekologi
Serangga hama ini dikenal dengan Thrips kentang atau potato thrips, termasuk ordo
Thysanoptera, famili Thripidae dan mempunyai daerah penyebaran di Jawa dan
Sumatera. Telur T. palmy diletakkan pada jaringan epidermis daun dengan stadium 410 hari. Nimfa berwarna kuning sampai coklat. Serangga dewasa bersayap seperti
rumbai. Daur hidup 11-17 hari. Hidupnya pada daun dengan mengisap cairan. Thrips ini
merupakan vektor Potato Spotted Wilt Virus (PSWV).
Tanaman yang terserang T. palmy daunnya berwarna kuning keperak-perakan atau
kekuningan seperti perunggu. Selanjutnya, daun berkerut karena cairan sel daunnya
dihisap.
Pengendalian T. Palmy dapat dilakukan dengan penggunaan insektisida sistemik
setelah ditemukan 5 ekor nimfa setiap pucuk.
9. Empoasca flavescens
Serangga hama ini dikenal dengan wereng hijau kentang atau green leaf hopper,

termasuk ordo Homoptera, famili Cicadellidae dan mempunyai daerah penyebaran di


Indonesia. E. flavescens berwarna hijau kekuningan dengan spot coklat tua pada sayap
depannya. Tanaman inang E. flavescens adalah kapas, terung, lombok, kacang tanah,
dan Hibiscus.
Serangga ini mengisap cairan daun sambil mengeluarkan racun yang dapat menambah
kerusakan daun. Daun kentang yang teserang E. Flavesccens menjadi kemerahan dan
keriput sehingga mengganggu proses fotosintesis. Pada serangan berat akin mengurangi
hasil panen.
Pengendalian E. flavescens dapat dilakukan dengan Penyemprotan insektisida sistemik
setclah ditemukan adanya wereng hijau kentang.
10. Planacoccus cirri (Risso)
Serangga hama ini dikenal dengan kutu daun atau citrus mealybug, termasuk ordo
Homoptera, famili Pseudococcidae dan mempunyai daerah penyebaran di Indonesia.
Telur P. citri berwarna kuning muda dengan panjang 0,3-0,4 mm. Telur tersebut
diletakkan di sisi badan sebelah belakang. Stadium telur 3-9 hari. Nimfa akan
meninggalkan induknya untuk mencari tempat tingggalnya. Karena jumlahnya sangat
banyak, kutu ini akan saling bertumpuk sehingga disebut sebagai kutu dompolan.
Tempat gang disukainya adalah tempat
teduh dan lembap.
Daun yang teserang P. citri berwarna kuning pucat, lama kelamaan daun itu mengering.
Pada populasi tinggi, kehadiran kutu ini menghambat pertumbuhan tanaman. Tanaman
inang P. citri adalah jeruk, kopi, teh, kina, jati, kakao, dadap, tembakau, nenas, dan
kapas.
Pengendalian P. cirri dapat dilakukan dengan konservasi musuh alami predator
Scynmus sp., Brumus suturallis F. dan parasitoid Empusa fresenii, dan penyemprotan
insektisida pada bagian tanaman yang terdapat kutu itu.
11. Tungau Kuning (Polyphagotarsonemus laotus)
Hama ini dikenal dengan tungau kuning teh atau yellow tea mite, termasuk ordo
Acarina, family Tarsonemitidae dan mempunyai daerah penyebaran di Indonesia. Telur
P. latus berukuran pan,jang 0,7 mm dengan stadium telur 2-3 hari. Tungau muda
berada di bagian bawah daun kentang. Tungau dewasa berukuran 0,25 mm. Tubuh
berwarna hijau kekuningan, tungkainya pipih dan bergerak dengan cepat. Daur hidup
berkisar 7 hari.
Daun kentang yang teserang P. latus agak tebal dan terpuntir, berwarna kuning
kecoklatan. Pucuk tanaman mengering dan akhirnya mati. Tanaman inang P. latus
adalah tomat, cabe, karet, krna, tembakau, teh, dan kacang panjang.
Pengendalian E.flavescens dapat dilakukan dengan penyemprotan insektisida sistemik
setelah ditemukan adanya wereng hijau kentang.
D. Hama Penting Tanaman Tomat

1. Ulat Tanah (Agrotis ipsilon Hufn)


Klasifikasi
Filum : Arthropoda
Kelas : Insecta
Ordo : Lepidoptera
Famili : Noctuidae
Genus : Agrotis
Spesies: Agrotis ipsilon
Bioekologi
Umumnya ngengat Famili Noctuidae menghindari cahaya matahari dan bersembunyi
pada permukaan bawah daun. Sayap depan berwarna dasar coklat keabu-abuan dengan
bercak-bercak hitam. Pinggiran sayap depan berwarna putih. Warna dasar sayap
belakang putih keemasan dengan pinggiran berenda putih. Panjang sayap depan
berkisar 16 -19 mm dan lebar 6-8 mm. Ngengat dapat hidup paling lama 20 hari.
Apabila diganggu atau disentuh, ngengat menjatuhkan diri pura-pura mati.
Perkembangan dari telur hingga serangga dewasa rata-rata berlangsung 51 hari.
Telur diletakkan satu-satu atau dalam kelompok. Bentuk telur seperti kerucut
terpancung dengan garis tengah pada bagian dasarnya 0,5 mm. Seekor betina dapat
meletakkan 1.430 - 2.775 butir telur. Warna telur mula-mula putih lalu berubah
menjadi kuning, kemudian merah disertai titik coklat kehitam-hitaman pada
puncaknya. Titik hitam tersebut adalah kepala larva yang sedang berkembang di dalam
telur. Menjelang menetas, warna telur berubah menjadi gelap agak kebiru-biruan.
Stadium telur berlangsung 4 hari.
Larva menghindari cahaya matahari dan bersembunyi di permukaan tanah kira-kira
sedalam 5-10 cm atau dalam gumpalan tanah. Larva aktif pada malam hari untuk
menggigit pangkal batang. Larva yang baru keluar dari telur berwarna kuning kecoklatcoklatan dengan ukuran panjang berkisar antara 1-2 mm. Sehari kemudian larva mulai
makan dengan menggigit permukaan daun. Larva mengalami 5 kali ganti kulit. Larva
instar terakhir berwarna coklat kehitam-hitaman. Panjang larva instar terakhir berkisar
antara 25-50 mm. Bila larva diganggu akan melingkarkan tubuhnya dan tidak bergerak
seolah-olah mati. Stadium larva berlangsung sekitar 36 hari. Pembentukan pupa
terjadi di permukaan tanah.
Gejala
Larva aktif pada malam hari untuk mencari makan dengan menggigit pangkal batang.
Pangkal batang yang digigit akan mudah patah dan mati. Di samping menggigit pangkal
batang, larva yang baru menetas, sehari kemudian juga menggigit permukaan daun.
Ulat tanah sangat cepat pergerakannya dan dapat menempuh jarak puluhan meter.
Seekor larva dapat merusak ratusan tanaman muda.
Tanaman inang lain
Selain menyerang tanaman tomat, ulat tanah juga menyerang tanaman jagung, padi,
tembakau, tebu, bawang, kubis, kentang dan sebagainya.
Pengendalian
a) Kultur teknis. Pengolahan tanah yang baik untuk membunuh pupa yang ada di dalam

tanah. Sanitasi dengan membersihkan lahan dari gulma yang juga merupakan tempat
ngengat A. ipsilon meletakkan telurnya.
b) Pengendalian fisik / mekanis. Pengendalian secara fisik dengan mengumpulkan larva
dan selanjutnya dimusnahkan. Sebaiknya dilakukan pada senja - malam hari, dan larva
biasanya dijumpai di permukaan tanah sekitar tanaman yang terserang.
c) Pengendalian hayati. Pemanfaatan musuh alami : parasitoid larva A. ipsilon yaitu
Goniophana heterocera, Apanteles (= Cotesia) ruficrus, Cuphocera varia dan Tritaxys
braueri. Predator penting adalah Carabidae. Patogen penyakit yang sering menyerang A.
ipsilon adalah jamur Metharrizium spp. dan Botrytis sp. serta nematoda Steinernema
sp.
d) Pengendalian kimiawi. Apabila serangan ulat tanah tinggi, dapat dilakukan
penyemprotan dengan insektisida yang efektif, antara lain aplikasikan Sipermetrin pada
tanah di sekeliling tanaman tomat.
Ulat Tanah : Agrotis ipsilon Hufn
Nama umum : Agrotis ipsilon (Hufnagel, 1766)
Klasifikasi : Kingdom : Animalia
Filum : Arthropoda
Kelas : Insecta
Ordo : Lepidoptera
Famili : Noctuidae
Sumber gambar : CABI
Morfologi/Bioekologi

Umumnya ngengat Famili Noctuidae menghindari cahaya matahari dan bersembunyi


pada permukaan bawah daun. Sayap depan berwarna dasar coklat keabu-abuan dengan
bercak-bercak hitam. Pinggiran sayap depan berwarna putih. Warna dasar sayap
belakang putih keemasan dengan pinggiran berenda putih. Panjang sayap depan berkisar
16 -19 mm dan lebar 6 - 8 mm. Ngengat dapat hidup paling lama 20 hari. Apabila
diganggu atau disentuh, ngengat menjatuhkan diri pura-pura mati. Perkembangan dari
telur hingga serangga dewasa rata-rata berlangsung 51 hari.
Telur diletakkan satu-satu atau dalam kelompok. Bentuk telur seperti kerucut terpancung
dengan garis tengah pada bagian dasarnya 0,5 mm. Seekor betina dapat meletakkan 1.430
- 2.775 butir telur. Warna telur mula-mula putih lalu berubah menjadi kuning, kemudian
merah disertai titik coklat kehitam-hitaman pada puncaknya. Titik hitam tersebut adalah
kepala larva yang sedang berkembang di dalam telur. Menjelang menetas, warna telur
berubah menjadi gelap agak kebiru-biruan. Stadium telur berlangsung 4 hari.
Larva menghindari cahaya matahari dan bersembunyi di permukaan tanah kira-kira
sedalam 5 - 10 cm atau dalam gumpalan tanah. Larva aktif pada malam hari untuk
menggigit pangkal batang. Larva yang baru keluar dari telur berwarna kuning kecoklatcoklatan dengan ukuran panjang berkisar antara 1 - 2 mm. Sehari kemudian larva mulai
makan dengan menggigit permukaan daun. Larva mengalami 5 kali ganti kulit. Larva
instar terakhir berwarna coklat kehitam-hitaman. Panjang larva instar terakhir berkisar
antara 25 - 50 mm. Bila larva diganggu akan melingkarkan tubuhnya dan tidak bergerak

seolah-olah mati. Stadium larva berlangsung sekitar 36 hari. Pembentukan pupa terjadi
di permukaan tanah.
Hama ulat tanah tersebut menyebar di daerah sentra produksi tomat.

Gejala serangan
Larva aktif pada malam hari untuk mencari makan dengan menggigit pangkal batang. Pangkal
batang yang digigit akan mudah patah dan mati. Di samping menggigit pangkal batang, larva
yang baru menetas, sehari kemudian juga menggigit permukaan daun. Ulat tanah sangat cepat
pergerakannya dan dapat menempuh jarak puluhan meter. Seekor larva dapat merusak ratusan
tanaman muda.
Tanaman inang lain
Selain menyerang tanaman tomat, ulat tanah juga menyerang tanaman jagung, padi, tembakau,
tebu, bawang, kubis, kentang dan sebagainya.
Pengendalian
a). Kultur teknis

Pengolahan tanah yang baik untuk membunuh pupa yang ada di dalam tanah.
Sanitasi dengan membersihkan lahan dari gulma yang juga merupakan tempat ngengat A.
ipsilon meletakkan telurnya.

b). Pengendalian fisik / mekanis

Pengendalian secara fisik dengan mengumpulkan larva dan selanjutnya dimusnahkan.


Sebaiknya dilakukan pada senja malam hari, dan larva biasanya dijumpai di permukaan
tanah sekitar tanaman yang terserang.

c). Pengendalian hayati

Pemanfaatan musuh alami : parasitoid larva A. ipsilon yaitu Goniophana heterocera,


Apanteles (= Cotesia) ruficrus, Cuphocera varia dan Tritaxys braueri. Predator penting
adalah Carabidae. Patogen penyakit yang sering menyerang A. ipsilon adalah jamur
Metharrizium spp. dan Botrytis sp. serta nematoda Steinernema sp. (lihat Lampiran....).

d). Pengendalian kimiawi

Apabila serangan ulat tanah tinggi, dapat dilakukan penyemprotan dengan insektisida
yang efektif, terdaftar dan diizinkan Menteri Pertanian (lihat Lampiran....) antara lain
aplikasikan Sipermetrin pada tanah di sekeliling tanaman tomat.

2. Bemisia tabaci Genn.


Klasifikasi

Filum : Arthropoda
Class : Insecta
Ordo : Homoptera
Family : Aleyrodidae
Genus : Bemisia
Spesies: Bemisia tabaci
Telur berbentuk lonjong agak lengkung seperti pisang, berwarna kuning terang,
berukuran panjang antara 0,2-0,3 mm. Telur biasanya diletakkan di permukaan bawah
daun, pada daun teratas (pucuk). Serangga betina lebih menyukai daun yang telah
terinfeksi virus mosaik kuning sebagai tempat untuk meletakkan telurnya daripada
daun sehat. Rata-rata banyaknya telur yang diletakkan pada daun yang terserang virus
adalah 77 butir, sedangkan pada daun sehat hanya 14 butir. Lama stadium telur ratarata 5,8 hari.
Nimfa terdiri atas tiga instar. Instar ke-1 berbentuk bulat telur dan pipih, berwarna
kuning kehijauan, dan bertungkai yang berfungsi untuk merangkak. Nimfa instar ke-2
dan ke - 3 tidak bertungkai, dan selama masa pertumbuhannya hanya melekat pada
daun. Stadium nimfa rata-rata 9,2 hari.
Imago atau serangga dewasa tubuhnya berukuran kecil antara (1-1,5 mm), berwarna
putih, dan sayapnya jernih ditutupi lapisan lilin yang bertepung. Serangga dewasa
biasanya berkelompok pada bagian permukaan bawah daun, dan bila tanaman
tersentuh biasanya akan berterbangan seperti kabut atau kebul putih. Lama siklus
hidup (telur - nimfa - imago) pada tanaman sehat rata-rata 24,7 hari, sedangkan pada
tanaman terinfeksi virus mosaik kuning hanya 21,7 hari.
Gejala Serangan
Kerusakan langsung pada tanaman disebabkan oleh imago dan nimfa yang mengisap
cairan daun, berupa gejala becak nekrotik pada daun akibat rusaknya sel-sel dan
jaringan daun. Ekskresi kutu kebul menghasilkan madu yang merupakan media yang
baik untuk tempat tumbuhnya embun jelaga yang berwarna hitam. Hal ini
menyebabkan proses fotosintesa tidak berlangsung normal.
Selain kerusakan langsung oleh isapan imago dan nimfa, kutu kebul sangat berbahaya
karena dapat bertindak sebagai vektor virus. Yang dapat menyebabkan kehilangan hasil
sekitar 20-100 %. Sampai saat ini tercatat 60 jenis virus yang ditularkan oleh kutu kebul
antara lain Geminivirus, Closterovirus, Nepovirus, Carlavirus, Potyvirus, Rod-shape
DNA Virus.
Tanaman Inang
Kutu kebul merupakan hama yang sangat polifag menyerang berbagai jenis tanaman,
antara lain tanaman hias, sayuran, buah-buahan maupun tumbuhan liar atau gulma.
Beberapa contoh tanaman budidaya yang menjadi inang kutu kebul antara lain tomat,
cabai, kentang, mentimun, terung, kubis, buncis, selada, bunga potong Gerbera, ubi
jalar, singkong, kedelai, tembakau, lada dan tanaman liar yang paling disukai adalah
babadotan (Ageratum conyzoides).
Pengendalian
a) Kultur teknis
" Menanam pinggiran lahan dengan tanaman jagung atau bunga matahari sebagai
barier dan memperbanyak populasi agens hayati.
" Pergiliran (rotasi) tanaman dengan tanaman bukan inang (terutama bukan famili

Solanaceae seperti tomat, cabai, kentang dan Cucurbitaceae seperti mentimun).


Pergiliran tanaman harus satu hamparan, tidak perorangan, serentak dan seluas
mungkin.
" Sanitasi lingkungan, terutama untuk mengendalikan gulma daun lebar babadotan dan
ciplukan yang dapat menjadi tanaman inang virus.
" Tumpang sari antara tanaman sayuran, cabai atau tomat dengan tagetes untuk
mengurangi risiko serangan.
b) Pengendalian fisik / mekanis
" Pemasangan perangkap likat berwarna kuning (40 buah per ha);
" Pemasangan kelambu di pembibitan sampai di pertanaman, terutama saat populasi
tinggi/musim kemarau dan di daerah serangan virus;
" Sisa tanaman terserang dikumpulkan dan dibakar.
c) Pengendalian hayati
" Pemanfaatan musuh alami.
" Kumbang predator Menochilus sexmaculatus (Coccinelidae), mampu memangsa 200 400 ekor nimfa kutu kebul. Siklus hidup predator 18 - 24 hari, dan satu ekor betina
mampu menghasilkan telur 3000 butir;
" Tabuhan parasitoid nimfa Encarcia formosa serangga betinanya mampu menghasilkan
telur sebanyak 100 - 200 butir;
" Cara pelepasan E. formosa untuk tanaman tomat : 1 ekor E. formosa setiap 4
tanaman/minggu, dilakukan selama 8 - 10 minggu;
" Untuk meningkatkan musuh alami di lapangan diperlukan pelepasan parasitoid dan
predator secara berkala;
d) Pengendalian kimiawi
" Dalam hal cara lain tidak dapat menekan populasi hama, dapat digunakan insektisida
yang efektif, antara lain Applaud 10 WP (buprofesin 10%), Confidor 5 WP (imidakloprid
5%), Mitac 200 EC (amitraz 200 g/l), dan Orthene 75 SP (asefat 75%);
" Penyemprotan diusahakan mengenai daun bagian bawah. Perlu dihindari penggunaan
pestisida secara berlebihan, karena dapat mendorong meningkatnya populasi kutu
kebul;
" Penggunaan pestisida nabati seperti : nimba, tagetes, eceng gondok, atau rumput laut
untuk mengendalikan kutu kebul
3. Thrips tabaci Lind.
Klasifikasi
Filum : Arthropoda
class : Insecta
Ordo : Thysanoptera
Famili : Thripidae
Genus : Thrips
Spesies: Thrips tabaci
Bioekologi
Trips dewasa berukuran 1 mm, berwarna kuning pucat, coklat atau hitam. Semakin
rendah suhu suatu lingkungan warna trips biasanya lebih gelap. Trips jantan tidak

bersayap, sedangkan yang betina mempunyai dua pasang sayap yang halus dan
berumbai. Hama ini berkembang biak secara partenogenesis atau dapat menghasilkan
telur tanpa melalui kawin terlebih dahulu. Telur yang dihasilkan dapat mencapai 80120 butir. Imago dapat hidup sampai 20 hari.
Siklus hidup hama trips sekitar 3 minggu. Di daerah tropis siklus hidup tersebut bisa
lebih pendek (7-12 hari), sehingga dalam satu tahun dapat mencapai 5-10 generasi.
Trips dewasa dapat hidup sampai 20 hari. Telur trips berbentuk oval. Telur diletakkan
secara terpisah-pisah di permukaan bagian tanaman atau ditusukkan ke dalam jaringan
tanaman oleh alat peletak telur.
Nimfa berwarna keputih-putihan atau kekuning-kuningan, tidak bisa terbang tetapi
hanya meloncat-loncat saja. Penyebaran dari satu tanaman ke tanaman lain
berlangsung sangat cepat dengan bantuan angin.
Pupa terbentuk setelah melewati beberapa instar nimfa. Pupa banyak dijumpai di
bagian daun atau di dalam tanah di sekitar tanaman. Hama trips tersebut menyebar di
daerah sentra produksi bawang merah di Sumatera, Jawa dan Sulawesi.
Gejala serangan
Nimfa atau trips dewasa menyerang tanaman bawang dengan menggaruk jaringan daun
dan mengisap cairan selnya, terutama daun yang masih muda. Nimfa paling suka
dengan daun yang masih muda atau kuncup daun. Karena itu, hama ini banyak ditemui
di kuncup-kuncup daun. Gejala yang ditimbulkan adalah daun mula-mula bernoda
putih mengkilat seperti perak, kemudian menjadi kecoklat-coklatan dengan bintik
hitam. Biasanya serangan akan hebat apabila hujan rintik-rintik dan suhu di atas
normal dengan kelembaban di atas 70 persen. Pada musim hujan lebat atau suhu yang
dingin sekali, hama ini akan musnah dengan sendirinya. Tanaman bawang yang
terserang berat, seluruh daun memperlihatkan warna putih, sehingga hama ini sering
disebut hama putih. Tanaman bawang yang terserang akan menyebabkan umbi yang
kecil dengan kualitas rendah.
Sering dijumpai hama trips bersembunyi di bagian umbinya. Apabila keadaan tersebut
terjadi di saat menjelang panen, maka hama ini dapat terbawa umbi ke tempat
penyimpanan dan dapat merusak bagian lembaga umbi bawang merah.
Tanaman inang lain
Tanaman bawang merah dan jenis tanaman bawang yang lain merupakan tanaman
inang utama bagi trips spesies ini. Tanaman inang yang lain adalah kentang, cabe,
tomat, waluh dan bayam.
Pengendalian
Pengendalian secara bercocok tanam, penyiraman tanaman bawang terserang, pada
siang hari untuk menurunkan suhu di sekitar pertanaman dan menghilangkan nimfa
trips yang menempel pada daun. Pengendalian fisik, dengan cara pemasangan
perangkap berwarna kuning berperekat sebanyak 80 - 100 per hektar. Pengendalian
biologi, memanfaatkan musuh alami trips yaitu predator kumbang macan Coccinellidae.
Pengendalian kimia, dengan menggunakan insektisida yang diizinkan oleh Menteri
Pertanian.
4. Kutu Daun (Myzus persicae Sulz)
Hama ini dikenal dengan nama kutu daun persik atau Tobacco aphid, termasuk ordo

Homoptera, family Aphididae dan memiliki daerah penyebaran di Indonesia. Nimfa dan
serangga dewasa menyerang pertanaman tomat dengan cara menghisap cairan tomat.
Lamanya daur hidup berkisar 7-10 hari. Gejala serangannya, daun tomat
memperlihatkan bercak coklat disekitar tusukan stilet kutu ini. Bila serangan tinggi
akan menurunkan kualitas tomat.
Tanaman inangnya, tembakau, cabe, tomat, kentang dan petsai. Pengendalian serangga
hama ini dilakukan dengan konservasi musuh alaminya yaitu predator Menochilus sp.
Dan kumbang Coccinellidae, penyemprotan insektisida sistemik bila ditemukan gejala
serangan.
5. Ulat Grayak (Spodoptera litura)
Klasifikasi
Filum : Arthropoda
Kelas : Insecta
Ordo : Noctuidae
family : Lepidoptera
Genus : Spodoptera
Spesies: Spodoptera litura
Serangga hama ini dikenal dengan nama ulat grayak atau Army worm, termasuk ordo
Lepidoptera, family Noctuidae , dan memiliki daerah penyebaran di Indonesia. Telur
diletakkan secara berkelompok pada permukaan bawang daun. Stadium telur 2-S hari.
Larva
berwarna keabu-abuan dengan panjang larva instar terakhir 50 mm. Ngengat berwarna
agak keabu-abuan.
Gejala serangannya, larva memakan daun tomat sehingga daun transparan/robek.
Serangan berat, menimbulkan kerugian yang tinggi. Tanaman inangnya kacang tanah,
temhakau, bawang merah dan ketela rambat.
Pengendalian serangga hama ini dilakukan dengan pergiliran tanaman dengan tanaman
bukan inang, tanam serempak, pengolahan tanah yang baik untuk mematikan
larva/pupa dalam tanah, pemusnahan kelocnpok telur dan larva, konservasi musuh
alaminya parasitoid telir Telcnomus spodopterae Dodd, penyemprotan insektisida bila
ditemukan gejala serangan.
6. Nezara viridula L.
Serangga hama ini dikenal dengan nama kepik hijau (Green stink bug), termasuk ordo
Homoptera, famili Pentatomidae, dan mempunyai daerah penyebaran di Indonesia.
Kepik ini berwarna hijau dan bersifat polyphag. Daun tomat yang disukai adalah daun
pucuk. Telurnya diletakkan secara berkelompok. Stadium telur 5-7 hari dan daur
hidupnya 60-70 hari. Gejala serangannya, adanya bercak setempat pada daun yang
dihisap. Bercak tersebut kemudian mengering.
Tanaman inangnya tembakau, kapas, padi, kentang, kedelai, jeruk, dan ubi jalar.
Pengendalian serangga hama ini dapat dilakukan dengan menangkap kepik hijau dan

memusnahkannya. konservasi musuh alaminya yaitu parasitoid telur Ooencyrtus


malayensis Ferr, Telenomus sp, penyemprotan insektisida sistemik saat tanaman masih
muda.
7. Kutu Daun (Aphis cracivora Koch)
Klasifikasi
Filum : Arthropoda
Class : Insecta
Ordo : Hemiptera
Family : Aphididae
Genus : Aphis
Spesies: Aphis cracivora
Serangga hama ini dikenal dengan nama kutu daun atau Cotton aphid, termasuk ordo
Nomoptera, family Aphididae, dan mempunyai daerah penyebaran di lndonesia. Kutu
daun dewasa berukuran 1-2 mm. Nimfa dan kutu daun dewasa menghisap cairan daun.
Selain
itu kutu daun ini mcrupakan vektor penyakit yang penting. Gejala serangannya pada
daun tomat tampak bercak pucat, akhirnya berkeriput. Serangan tinggi akail
mengakibatkan produksi tomat menurun.
Tanaman inangnya, kapas, wijen, kapuk. Foseila, tembakau, dan tanaman
Cucurditaceae. Pengenldalian serangga hama ini dapat dilakukan dengan
penyemprotan insektisida sistemik bila ditemukan kutil daun ini.
8. Phthorimaea operculella (Zell)
Serangga hama ini dikenal dengan hama penggerek umbi kentang atau Potato tuber
borer, termasuk ordo Lepidoptera, famili Gelechiidae, dan mempunyai daerah
penyebaran di lndonesia. Telurnya kecil diletakkan di permukaan bawah daun.
Larvanya berwarna putih kelabu dan menggerek daun, cabang, bahkan sekali-kali
mellggerek buah tomat. Ngengatnya berwarna coklat kelabu berukuran 10-15 mm, daur
hidupnya 5-6 minggu.
Gejala serangannya, daun ataupun cabang digerek larva ini, bahkan buah tomat
sekalipun. Lubang gerekan pada cabang atau buah tidak tampak spesifik karena
beberapa serangga hama lainnya memperlihatkan gejala yang sama. Tanaman
inangnya, terung, tembakau, jenis solanaceae lainnya, dan Bete vulgaris.
Pengendalian serangga hama ini dilakukan dengan pergiliran tanaman dengan tanaman
bukan inang, eradikasi sisa-sisa tanaman sebelumnya, penyemprotan insektisida bila
ditemukan serangga hama ini.
9. Helicoverpa armigera Hbn
Serangga hama ini dikenal dengan hama ulat buah tomat atau Cotton bollworm,

termasuk ordo Lepidoptera, famili Noctuidae. Dan mempunyai daerah penyebaran di


Indonesia Serangga hama ini polyphag dengan meletakkan telur pada bagian atas
tomat. Larvanya menggerek buah tomat, stadium larva 14-24 hari. Ngengatnya dapat
hidup 1-2 minggu, berwarna sawo kekuning-kuningan dengan bintik-bintik dan garis
yang berwarna hitam. Daur hidupnya 52-58 hari.
Gejala serangannya, buah tomat berlubang/busuk dan airnya jatuh. Buah yang disukai
adalah buah tomat hijau. Sesekali larva menyerang pucuk tanaman dan melubangi
cabang-cabang tanaman tomat. Tanaman inangnya kapas, tembakau, jagung, sorghum,
dan kacang-kacangan.
Pengendalian serangga hama in dapat dilakukan dengan pengambilan larva dibuah
tomat dan mematikannya, konservasi musuh alaminya berupa parasitoid telur
Trichogramma nana Zehntn.
10. Penggerek buah (Leucinodes orboinalis Gn)
Klasifikasi
Filum : Arthropoda
Class : Insecta
Ordo : Lepidoptera
Family : Crambidae
Genus : Leucinodes
Spesies: Leucinodes orboinalis
Serangga hama ini dikenal dengan nama penggerek buah terung atau Eggplant Fruit
Borer. Termasuk kedalam ordo Lepidoptera, famili Pyralidae dan mempunyai daerah
penyebaran di Indonesia. Larva serangga hama ini berwarna merah jambu atau merah
dan menggerek buah tomat. Kehidupan serangga ini belum banyak diketahui.
Gejala serangannya lubang pada buah tomat biasanya berukuran lebih kecil dari lubang
pengerek Helicoverpa Armigera. Tanaman inangnya terung, kentang dan tomat.
Pengendalian serangga hama ini dapat dilakukan dengan, pengambilan buah tomat
yang terserang dan dimusnahkan sehingga Larvanya mati, penyemprotan insektisida
saat tanaman mulai berbuah.
E. HAMA UTAMA TANAMAN CABAI
1. Thrips
Hama thrips (Thrips Sp.) sudah tidak asing lagi bagi para petani cabai. Hama thrips
tergolong sebagai pemangsa segala jenis tanaman, jadi serangan bukan hanya pada
tanaman cabai saja. Panjang tubuh sekitar + 1 mm, serangga ini tergolong sangat kecil
namun masih bisa dilihat dengan mata telanjang. Thrips biasanya menyerang bagian
daun muda dan bunga . Gejala serangan hama ini adalah adanya strip-strip pada daun
dan berwarna keperakan. Noda keperakan itu tidak lain akibat adanya luka dari cara

makan hama thrips. Kemudian noda tersebut akan berubah warna menjadi coklat
muda. Yang paling membahayakan dari thrips adalah selain sebagai hama perusak juga
sebagai carrier atau pembawa bibit penyakit (berupa virus) pada tanaman cabai. Untuk
itu, bila mengendalikan hama thrips, tidak hanya memberantas dari serangan hama
namun juga bisa mencegah penyebaran penyakit akibat virus yang dibawanya.
Pengendalian secara kultur teknis maupun kimiawi. Kultur teknis dengan pergiliran
tanaman atau tidak menanam cabai secara bertahap sepanjang musim. Selain itu dapat
menggunakan perangkap kuning yang dilapisi lem. Pengendalian kimia bisa dilakukan
dengan penyemprotan insektisida Winder 25 WP konsentrasi 0,25 - 0,5 gr /liter atau
insektisida cair Winder 100EC konsenstrasi 0.5-1 cc/L.
2. Tungau (Mite)
Hama mite selain menyerang jeruk dan apel juga menyerang tanaman cabai. Tungau
bersifat parasit yang merusak daun, batang maupun buah sehingga dapat
mengakibatkan perubahan warna dan bentuk. Pada tanaman cabai. Tungau menghisap
cairan daun sehingga warna daun terutama pada bagian bawah menjadi berwarna
kuning kemerahan, daun akan menggulung ke bawah dan akibatnya pucuk mengering
yang akhirnya menyebabkan daun rontok. Tungau berukuran sangat kecil dengan
panjang badan sekitar 0,5 mm, berkulit lunak dengan kerangka chitin. Seperti halnya
thrips, hama ini juga berpotensi sebagai pembawa virus.
Pengendalian secara kimia dapat dilakukan dengan Penyemprotan menggunakan
Akarisida Samite 135 EC. Konsentrasi yang dianjurkan 0,25 -0,5 ml/L.
3. Kutu (Myzus persicae)
Aphids merupakan hama yang dapat merusak tanaman cabai. Serangannya hampir
sama dengan tungau namun akibat cairan dari daun yang dihisapnya menyebabkan
daun melengkung ke atas, keriting dan belang-belang hingga akhirnya dapat
menyebabkan kerontokan. Tidak sepeti mite, kutu ini memiliki kemampuan
berkembang biak dengan cepat karena selain dapat memperbanyak dengan perkawinan
biasa, hama ini juga mampu bertelur tanpa pembuahan.
Pengendalian hama aphids secara kimia dapat dilakukan dengan menyemprot
insektisida Winder 100EC konsentrasi 0,5 - 1,00 cc/L.
4. Lalat Buah (Bactrocera dorsalis)
Kehadiran lalat buah ini, dapat menjadi hama perusak tanaman cabai. Buah cabai yang
menunggu panen bisa menjadi santapannya dalam sekejap dengan cara menusukkan
ovipositornya pada buah serta meletakkan telur, menetas menjadi larva yang kemudian
merusak buah cabai dari dalam.
Pengendalian kultur teknis dapat dilakukan dengan membuat perangkap dari botol
bekas air mineral yang di dalamnya diberi umpan berupa Atraktan Lalat Buah
(ATLABU) keluaran Balai Penelitian Obat dan Aromatik. Selain itu dapat juga

digunakan perangkap kuning seperti yang dilakukan pada hama thrips. Karena
umumnya serangga-serangga tersebut sangat menyukai warna-warna mencolok.
5. Ulat Grayak (Spodoptera litura)
Ulat ini saat memasuki stadia larva, termasuk hewan yang sangat rakus. Hanya dalam
waktu yang tidak lama, daun-daun cabai bisa rusak. Ulat setelah dewasa berubah
menjadi sejenis ngengat akan memakan daun-daunan pada masa larva untuk
menunjang perkembangan metamorfosisnya.
Pengendalian dapat dilakukan terhadap ngengat dewasa yang hendak meletakkan
telurnya pada tanaman inang dengan menyemprotkan insektisida, atau dengan
insektisida biologis Turex WP konsentrasi 1 - 2 gr/Lt.

Diposkan oleh Sani Ongen di 23.23


Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest
Tidak ada komentar:
Poskan Komentar
Beranda
Langganan: Poskan Komentar (Atom)

About me

Sani Ongen
Lihat profil lengkapku

Arsip Blog

12 (1)
o Juni (1)
Tugas Makalah

Template Picture Window. Gambar template oleh TommyIX. Diberdayakan oleh Blogger.

fhalfero Mz
Jumat, 06 Januari 2012

laporan pratikum dasar dasar perlindungan tanaman

LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM


DASAR-DASAR
PERLINDUNGAN TANAMAN

OLEH

Farid Halfero
1010212027

PRODI AGROEKOTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS ANDALAS
PADANG
2011

KATA PENGANTAR
Bismillahirrahmanirrahim..
Puji dan syukur atas karunia yang diberikan oleh Allah SWT yang selalu memberi kenikmatan
iman dan islam serta nikmat dalam menikmati kehidupan didunia ini. Shlawat dan salam tercurahnya
selalu kepada baginda Besar Muhammad SAW, yang membawa ummadnya dari zaman kebodohan ke
alam yang berilmu pengetahuan. Sehingga ilmu sapai sekarang dapat dimamfaatkan dalam berbagai
kegunaan di dunia ini.
Salah satu solusi untuk dapat mengetahui jenis hama maupun penyakit perlu adanya percobaan
dan pengamatan pada objek yang bersangkutan secara langsung, dengan praktikum ini salah satu solusi
untuk mengetahui jenis nematoda pada tanaman itu sendiri. Laporan ini merupakan syarat untuk
mengikuti UAP dasar-dasar perlindungan tanaman padi semester III ini yang berisi dari hasil pengamatan
secara langsung dan penyebab dari nematoda terhadap berbagai jenis tanaman.
Semoga dengan laporan ini sedikit bisa menjadikan bahan pegangan untuk permasaalahan di
lingkungan sendiri. Penulis menyadari masih banyak kesalahan didalam penyusunan laporan ini, maka

dari itu penulis sangat mengharapkan kritikan, saran dan masukan dalam hal membangun agar dapat
mempertajam dari kebenaran laporan ini kedepannya.
Akhirnya ucapan terima kasih sebesar-besarnya penulis kepada dosen, asisten yang sudah
membagikan ilmu dan membimbing penulis dalam suksesnya penyusunan laporan ini. Terima kasih
juaga kepada rekan-rekan seperjuangan yang sudah bekerja sama pada saat praktikum berlangsung.
Semoga laporan ini dapat bermamfaat terutama untuk penulis sendiri dan bagi pembaca laporan ini,
semoga bisa menjadi pegangan untuk melakukan kegiatan praktikum yang sama kedepannya.
Padang, 02 Desember 2011

Penulis

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .............................................................................

DAFTAR ISI ............................................................................................ ii


BAB I. PENDAHULUAN.......................................................................................... 1
1.1. Latar Belakang .............................................................................................. 1
1.2.Tujuan .... ............................................................................................................. 2
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA .................................................................................. 3
2.1.Patogen Jamur pada Tanaman............................................ 3
2.2. Virus pada Tanaman .............................................................................. 5
2.3. Identivikasi Bakteri................................................................................. 7
2.4. Nematoda .............................................................................................. 7
2.5. Morfologi serangga...................................................................

2.6. Perkembangbiakan Serangga....................................................

2.7. Ordo Serangga........................................................................... 11


2.8. Gejala serangan Hama............................................................... 12
2.9. Gulma ............................................................................................... ... 18
2.10Pengendalian PHT ............................................................................ ..... 21
BAB III. BAHAN DAN METODA ............................................................................. 26
3.1. Tempat dan Waktu ............................................................................... 26
3.2. Alat dan Bahan ..................................................................................... 26
3.3. Prosedur Kerja ...................................................................................... 26

BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN ....................................................................... 27


4.1. Hasil dean Pembahasan Patogen Jamur Tanaman ................................ 27
4.2. Hasil dan Pembahasan Patogen Virus Tanaman .................................... 27
4.3.Identifikasi bakteri........................................................................... ..... 28
4.4.Nematoda........................................................................................ ..... 28
4.5.Morfologi Serangga..................................................................... 28
4.6.Perkembangbiakan serangga....................................................... 28
4.7.Ordo Serangga............................................................................. 29
4.8.Kulia lapangan ................................................................................. ..... 31

BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN ......................................................................... 33


5.1. Kesimpulan . .......................................................................................... 33
5.2. Saran .................................................................................................... 33
DAFTAR PUSTAKA..................................................................... 34
LAMPIRAN ............................................................................................ 35

BAB I
PENDAHULUAN
1. 1. Latar Belakang
Dasar perlindungan tanaman merupakan kajian ilmu yang mempelajari bagaimana cara
menanggulangi gangguan terhadap tanaman, melindungi tanaman, serta memaksimalkan pemanfaatan
mikroorganisme dari yang awalnya mengganggu dapat berubah menjadi mikroorganisme yang berguna
bagi pertanian. Pada kajian ilmu ini dibagi dua objek besar yaitu Hama dan Penyakit. Bagaimana cara
kita menanggulangi hama terebut dan bagaimana cara kita mengatasai penyakit yang menyerang
tanaman.
Untuk mengenal berbagai jenis binatang yang dapat berperan sebagai hama, maka sebagai
langkah awal dalam kuliah dasar-dasar Perlintan akan dipelajari bentuk atau morfologi, khususnya
morfologi luar (external morphology) binatang penyebab hama. Namun demikian, tidak semua sifat
morfologi tersebut akan dipelajari dan yang dipelajari hanya terbatas pada morfologi penciri dari
masing-masing golongan. Hal ini bertujuan untuk mempermudah dalam melakukan identifikasi atau
mengenali jenis-jenis hama yang dijumpai di lapangan.
Dunia binatang (Animal Kingdom) terbagi menjadi beberapa golongan besar yang masing-masing
disebut Filum. Dari masing-masing filum tersebut dapat dibedakan lagi menjadi golongan-golongan yang
lebih kecil yang disebut Klas. Dari Klas ini kemudian digolongkan lagi menjadi Ordo (Bangsa) kemudian
Famili (suku), Genus (Marga) dan Spesies (jenis).
Dasar-dasar perlindungan tanaman ini notabene merupakan bidang kajian ilmu yang wajib dimiliki
dan menjadi basic bagi mahasiswa pertanian pada umumnya. Karena kajian ilmu ini mempelajari
bagaimana cara menanggulangi gangguan terhadap tanaman yang berasal dari hama dan penyakit
tanaman. Didasari dari hal inilah maka sebagai mahasiswa pertanian haruslah memiliki skill di bidang ini.
Pada dewasa ini, salah satu masalah yang menyelimuti dunia pertanian adalah tentang hama dan
penyakit tanaman ini. Diperlukan lulusan-lulusan fakultas pertanian yang dapat meminimalisir dampak
yang dihasilkannya.
Disamping mendapatkan ilmu melalui teori yang diajarkan oleh dosen di dalam kelas, mahasiswa
juga dapat menambah ilmu melalui praktikum-praktikum yang diadakan baik itu di laboratorium atau di
lapangan. Maka oleh sebab itu perlu diadakan praktikum untuk memperdalam pengetahuan sebagai
pelengkap teori yang diberikan oleh dosen pada waktu perkuliahan.

1. 2. Tujuan Praktikum
Praktikum dasar perlindungan tanaman ini memiliki tujuan untuk mengetahui secara dalam hama
dari bentuk morfologinya, ordo, dan metamorfosisnya serta mengetahui berbagai macam penyakit dan
cara menanggulanginya.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Patogen Jamur pada Tanaman


Klasifikasi dari penyakit Collectotrichum capsici yang menyerang tanaman cabai terdiri atas
Kingdom

Fungi,

Divisio

Ascomycota,

Kelas

Sordariomycetes,

Ordo

Phyllachorales,

Famili

Phyllachoraceae, Genus Collectotrichum capsici, spesies Collectotrichum capsici (Wordpress, 2008)


Klasifikasi dari penyakit Fusarium oxysporum yang menyerang tanaman tomat terdiri atas Kindom
Fungi, Divisi Eumycota, SubDivisi Deuteromycotina, Kelas Hypomycetes, Ordo Moniliales, Famili
Tuberculariaceae, Genus Fusarium, Spesies Fusarium oxysporum f.sp lycopersici (Blogspot, 2009)
Klasifikasi dari penyakit Phytophthora palmivora yang menyerang tanaman kakao terdiri atas
Kingdom Stramenophiles, Kelas Oomycetes, ordo Peronosporales, Famili Pythiaceae, Genus
Phytophthora, Spesies Phytophtora palmivora Butler. (Wordpress, 2008)
Klasifikasi dari penyakit Fusarium oxysporum yang menyerang tanaman pisang terdiri atas Kindom
Fungi, Divisi Eumycota, SubDivisi Deuteromycotina, Kelas Hypomycetes, Ordo Moniliales, Famili
Tuberculariaceae, Genus Fusarium,
Spesies Fusarium oxysporum f.sp cubense (Blogspot, 2009)
Mekanisme Jamur Menginfeksi Tanaman
Jamur Collectotrichum capsici menginfeksi tanaman cabai melalui biji buah yang sakit dengan
masuk kedalam ruang biji. jamur ini dapat mempertahankan diri dalam sisa-sisa tanaman sakit
(Wordpress, 2008).
Jamur Fusarium oxysporum f.sp lycopersici menginfeksi tanaman tomat dengan cara mengadakan
infeksi pada akar melalui luka-luka, lalu menetap di berkas pembuluh. Selain itu, Jamur dapat juga
menginfeksi tanaman karena faktor pengangkutan bibit, tanah yang terbawa oleh angin atau air atau
alat pertanian (Blogspot, 2009).

Jamur Phytophthora palmivora dapat menginfeksi tanaman kakao melalui tanah ataupun bagian
tanaman lain yang sakit. Misalnya batang yang sakit kanker batang, buah yang sakit, dan tumbuhan
inang lainnya, Selain itu, tanaman dapat pula terinfeksi karena alat pertanian yang digunakan
terkontaminasi oleh jamur (Wordpress, 2008).
Jamur Fusarium oxysporum f.sp cubense dapat menginfeksi tanaman melalui adanya luka-luka pada
akar, penularan penyakit karena perakaran tanaman sehat berhubungan dengan spora yang dilepaskan
oleh tanaman sakit didekatnya. Jamur dapat pula terbawa oleh tanah yang melekat pada alat-alat
pertanian, selain itu, perendaman tanah dan air pengairan dapat juga menyebabkan pemencaran
setempat
(Blogspot, 2009).
Gejala Serangan
Menurut Triharso (2004), Gejala serangan Jamur Colletotrichum capsici pada tanaman cabai mulamula membentuk bercak cokelat kehitaman, yang lalu meluas menjadi busuk lunak. Pada tengah bercak
terdapat kumpulan titik-titik hitam yang terdiri dari kelompok seta dan konidium jamur. Serangan yang
berat dapat menyebabkan seluruh buah mengering dan mengerut (keriput). Buah yang seharusnya
berwarna merah menjadi berwarna seperti jerami. Jika cuaca kering jamur hanya membentuk bercak
kecil yang tidak meluas. Tetapi kelak setelah buah dipetik, karena kelembaban udara yang tinggi selama
disimpan dan diangkut, jamur akan berkembang dengan cepat.
Menurut Semangun (2004),Gejala yang ditimbulkan Jamur Fusarium oxysporum f.sp lycopersici
pada tanaman tomat ialah menjadi pucatnya tulang-tulang daun, terutama daun-daun sebelah
atas,kemudian diikuti dengan merunduknya tangkai dan akhirnya tanaman menjadi layu keseluruhan.
kadang kelayuan didahului dengan menguningnya daun, terutama daun-daun sebelah bawah. Tanaman
menjadi kerdil dan merana tumbuhnya. Jika tanaman yang sakit itu dipotong dekat pangkal batang atau
dikelupas dengan kuku atau pisau akan terlihat suatu cincin coklat dari berkas pembuluh.
Infeksi jamur Phytophthora palmivora pada buah menunjukkan gejala bercak berwarna kelabu
kehitaman. Biasanya bercak tersebut terdapat pada ujung buah. Bercak mengandung air yang kemudian
berkembang sehingga menunjukkan warna hitam. Bagian buah menjadi busuk dan biji pun turut
membusuk. Pembentukan spora terlihat dengan adanya warna putih di atas bercak hitam yang telah
meluas. Jaringan yang tidak terinfeksi tampak jelas dan dibatasi oleh permukaan kasar, tetapi bercak

dapat berkembang dengan cepat dan seringkali menampakkan pembusukan yang menyeluruh dan
berwarna hitam. (Blogspot, 2009)
Menurut Semangun (2004), Gejala serangan jamur Fusarium oxysporum f.sp cubense pada tanaman
pisang terlihat pada tepi daun-daun bawah berwarna kuning tua, yang lalu menjadi coklat dan
mengering. Tangkai daun patah disekeliling batang palsu. Gejala dalam yang dimiliki jamur ini adalah jika
pangkal batang dibelah membujur, terlihat garis-garis coklat atau hitam menuju ke semua arah, dari
batang ke atas melalui jaringan pembuluh ke pangkal daun dan tangkai. Perubahan warna pada berkas
pembuluh paling jelas tampak dalam batang.
2.2 Virus pada Tanaman
Virus hanya dapat membiak di dalam sel yang hidup dan disebut parasit yang biotroph. Secara
kimiawi virus terdiri dari nucleoprotein, suatu persenyawaan dari asam inti dan putih telur.
Asam inti pada virus dapat dibedakan menjadi dua macam yaitu RNA atau Ribo Nuclei Acid yang
terdapat pada virus yang menyerang tumbuhan dan DNA atau Deoxy Nuclei Acid yang terdapat pada
virus yang menyerang hewan dan bakteri.
Putih telur virus umumnya terdiri dari Purine dan Pyrymidine. Derivat dari Purine adalah
Adenine dan Guanine, sedangkan derivat dari Pyrimidine adalah Cytosine dan Thymine yang mengikat
DNA serta Cytosine dan Uracil yang mengikat RNA.
Pada virus yang berbentuk batang ternyata di dalamnya terdapat rongga sebesar 9,0 nm. Asam
inti pada virus tersebut berupa nucleotida yang membentuk spiral dan setiap tiga nucleitida mengikat
satu unit putih telur.
Virus sebenarnya bentuknya macam-macam. Tetapi kita tidak dapat mengadakan determinasi
hanya berdasarkan bentuk atau morfologi saja, sebab di samping satu virus bentuknya dapat berubahubah juga ada beberapa virus yang bentuknya sama. Secara garis besar bentuk virus dibedakan atas
bulat (coccus), batang pendek (bacillus), batang biasa dan benang (filamen).
Virus dapat menular dari suatu tanaman ke tanaman lain dengan berbagai cara antara lain
secara mekanis, melalui biji, dengan penyambungan atau penempelan dan yang paling umum melalui
vektornya yang dapat berupa serangga, nematoda, jamur, bakteri dan tumbuhan tinggi parasitis. Virus
yang ditularkan oleh vektor serangga dapat dibedakan menjadi nonpersisten artinya begitu dihisap oleh

serangga segera dapat ditularkan ke tanaman lain, tetapi daya infektifnya cepat habis dan yang
persisten artinya agar dapat ditularkan ke tanaman lain memerlukan waktu di dalam tubuh
serangganya, tetapi kalau sudah ditularkan daya infektifnya lama bahkan ada yang dapat diturunkan ke
anak cucunya.
Virus dapat di-inaktifkan dengan berbagai cara, antara lain dengan suhu baik rendah maupun
tinggi atau pembekuan serta pemanasan; radiasi dengan sinar X, sinar UV, sinar radioaktif; dengan
getaran ultrasonik; dengan penyimpangan; dengan tekanan tinggi; dengan pengenceran; dengan
perubahan pH dan bahan atau senyawa yang berasal dari organisme lain.
Virus dapat diberi nama menurut SMITH yaitu berdasarkan nama dari tanaman inangnya dan
bila pada tanaman itu terdapat banyak virus maka untuk membedakan virus satu dengan virus yang lain
dengan menggunakan nomer. Sedang menurut HOLMES pemberian nama seperti pada organisme lain,
misalnya Marmor saccaari sama dengan Saccjarum virus 1, Galla fijlensis sama dengan Saccharum virus
2 dan seterusnya.
Virus yang dianggap sebagai suatu ordo dibagi menjadi tiga sub ordo berdasarkan organisme
yang diserangnya, yaitu sub ordo Phaginae yang menyerang bakteri, Phytophaginae yang menyerang
tumbuhan dan Zoophaginae yang menyerang hewan. Dari sub ordo Phytophaginae ada beberapa genus
yang penting misalnya Marmor antara lain M. tabaci yang menyerang tembakau, M. theobromae yang
menyerang coklat, M. arachidis yang menyerang kacang tanah; genus Corium misalnya C. solani yang
menyerang Solanaceae; genus Nanus misalnya N. sacchari yang menyerang tebu; genus Ruga misalnya
R. tabaci yang menyerang tembakau; genus Rimocortium misalnya R. psorosis penyebab penyakit
psorosis pada tanaman jeruk.

2.3 Identifikasi Bakteri


Bakteri adalah mikroorganisme bersel satu dengan ukuran sangat kecil yang hanya dapat dilihat
dengan menggunakan mikroskop. Bakteri berkembang biak dengan cara membelah diri, serta
mengambil bahan makanan secara parasitis dengan cara menghisapnya melalui dinding sel. Bakteri
diketahui memiliki empat bentuk, diantaranya berbentuk batang (baksilus), bulat (kokkus), koma
(vibrion), dan spiral (spirilum). Virus merupakan organisme subselular yang berukuran sangat kecil, lebih
kecil dari bakteri sehingga hanya dapat dilihat menggunakan mikroskop elektron dan hanya dapat

membiak di dalam sel yang hidup sehingga virus disebut parasit yang biotroph. Gejala serangan penyakit
virus sering tidak dapat dibedakan dengan gejala kekurangan unsur hara, pengaruh faktor lingkungan
yang ekstrim ataupun pengaruh pencemaran bahan kimia. Yang membedakan penyakit tanaman karena
serangan virus dengan penyakit tanaman Non-patogenik (yang bukan disebabkan oleh patogen) adalah
bahwa penyakit tanaman yang terserang virus dapat ditularkan pada tanaman yang sehat, sedangkan
tanaman Non-patogenik tidak dapat ditularkan. Agar terhindarnya tanaman dari penyakit, maka
pengetahuan lebih lanjut tentang bakteri dan virus harus dikembangkan untuk mendapatkan
pengendalian peyakit yang efektif (Triharso, 2004).
2.4 Nematoda
Nematoda meskipun termasuk hewan tapi biasa kiita golongkan sebagai penyebab penyakit
karena gejala dan cara penyerangannya mirip dengan patogen lainnya. Nematoda boleh diartikan
sebagai cacing silindris yang tidak bersegmen (unsegmented roundworm) meskipun sebenarnya
nematoda berarti menyerupai benang (threadlike). Namun demikian nematoda ini sangat berbeda
dengan cacing yang lain. Nematoda mempunyai sejumlah spesies yang sangat banyak.
Nematoda ada yang bersifat saprofitis dan ada yang bersifat parasitis pada berbagai organisme
lain seperti serangga, ikan, burung, manusia, tumbuhan termasuk jamur dan bakteri bahkan juga
terhadap nematoda yang lain.
Daur hidup nematoda pada umumnya sebagai berikut :
1. Nematoda betina meletakkan telurnya dlam tanah atau di dalam tanaman inangnya,
2. Telur yang menetas menghasilkan larva,
3. Larva ini berkembang melalui empat tingkatan,
4. Setelah larva terakhir terbentuklah nematoda dewasa yang dapat dibedakan menjadi jantan dan
betina.
Namun demikian banyak nematoda yang hermaprodit, bahkan ada jenis yang jantannya tidak pernah
dijumpai.
Nematoda yang menyerang tanaman adalah parasit obligat, oleh karena itu telurnya harus
diletakkan di dalam atau di dekat tanaman inangnya hingga segera setelah menetas langsung
mendapatkan makanannya. Di samping itu banyak telur nematoda yang untuk penetasan telurnya

memerlukan rangsangan dari tanaman inangnya, dengan demikian sangat membantu kelangsungan
hidupnya. Larva nematoda tidak mampu bergerak lebih dari 1-2 kali dari telurnya setelah menetas.
Nematoda parasit pada tanaman dapat dibedakan menjadi ectoparasit dan endoparasit.
Nematoda ectoparasit misalnya genus Trichodorus, Longidorus dan Xiphinema. Ketiga nematoda ini
selain menjadi patogen pada tumbuhan juga menjadi vektor virus yang menyerang tumbuhan.
Nematoda endoparasit ada dua golongan yaitu yang dapat berpindah tempat dan yang
menetap. Keduanya dapat dibedakan menjadi yang sebagian tubuhnya tenggelam ke dalam jaringan
tanaman iang dan yang seluruh tubuhnya tenggelam ke dalam tumbuhan inangnya. Nematoda
endoparasit yang dapat berpindah dan seluruh tubuhnya tenggelam ke dalam tanaman, misalnya genus
Radopholus, Ditylenchus dan Aphilenchus sedang yang hanya sebagian tubuhnya yang tenggelam dalam
tanaman, misalnya genus Hoplolainus, Hellicotylenchus dan Rotylenchus.
Nematoda endoparasit yang menetap dan seluruh tubuhnya tenggelam ke dalam tanaman
inangnya misalnya Meloidogyne dan Heterodera sedang yang hanya tenggelam sebagian tubuhnya ke
dalam tanaman inangnya misalnya Rotylenchus dan Tylenchulus.

2.5 Morfologi Serangga


Tubuh serangga seperti pada belalang dan kumbang dibagi dalam tiga daerah yaitu: Kepala,
toraks, dan abdomen. Kepala terdiri dari satu segmen merupakan daerah yang jelas pembawa
kebanyakan organ sensori serangga seperti mata, antenna, dan alat mulut. Toraks terdiri dari 3 segmen
dan merupakan bagian yang terberat dari tubuh, dan pembawa kaki serta sayap bila telah ada.
Abdomen terdiri dari 11 segmen atau kurang; biasanya ia tidak mempunyai anggota gerak, segmen pada
bagian posterior mempunyai fungsi khusus untuk reproduksi. (Triharso. 1996. 75)

2.6 Perkembang biakan serangga


Sebagian besar serangga mempunyai jenis kelamin yang terpisah dengan system reproduksi
kompleks. Pada jantan sperma berkembang dalam sepasang testis dan dialirkan sepanjang duktus
(saluran) yang melilit-lilit menuju dua vesikula seminalis, tempat sperma akan disimpan. Selama
perkawinan sperma diejakulasi ke system reproduksi betina. Pada betina telur berkembang dalam
sepasang ovarium dan dialirkan melalui duktus ke vagina, dimana fertilisasi terjadi. Pada banyak spesies
sistem reproduksi melipiti spermateka yaitu sebuah kantong tempat sperma disimpan didalamnya

selama

satu

tahun

atau

lebih.(Campbell.2002:156)

Semua makhluk hidup mempunyai kemampuan untuk menghasilkan organisme baru yang sama
dengan dirinya, ini berkaitan dengan reproduksi. Pertumbuhan serangga setelah embrio terdiri atas
serangkaian tahapan, dimana serangga mengalami perubahan bentuk dari larva kebentuk dewasa atau
imago. Proses yang melibatkan pertumbuhan mengalami serangkaian ganti kulit dan perubahan bentuk
dimana

ciri-ciri

larva

hilang

dan

muncul

ciri

dewasa.

Seperti pada anthropoda lain, pertumbuhan serangga merupakan serangkaian dari tahap
eksdisis (ganti kulit). Disini rangka luar (eksoskeleton) yang kaku tidak dapat merentang, secra periodik
dilepaskan dan diganti dengan rangka luar baru yang lebih besar. Banyak serangga yang mengalami
metamorfosis dsisni terdapat sederetan tahap juvenile yang masing-masing memerlukan pembentukan
rangka luar baru. Pada beberapa ordo yang lain bentuk dewasa dipisah dari tahap larva oleh bentuk
pupa

(Kepompong)

dan

perubahan

menjadi

bentuk

dewasa

berlangsung

secara

tiba-

tiba.(Soewolo.1997:376)

Perkembang biakan serangga umumnya secra perkawinan aseksual yang berarti sel telur
mengalami perkembangan jika bertemu dengan sperma dari yang jantan. Pada umunya serangga betina
bertelur dan serangga tersebut disebut ovipar. Ada juga serangga yang berkembang biak tanpa
pembuahan, perkembangan tersebut disebut parthenogenesis, sedangkan perkembang biakan dari satu
sel

telur

menjadi

banyak

embrio

disebut

polyembriani.

Bila perkembangbiakan serangga yakni serangga pradewasa yang memperoleh makanan dalam
tubuh induknya dan keluar dari tubuh induknya tersebut disebut vivivar. Bila telur menetas dalam tubuh
induk dan dilahirkan disebut dengan ovovivivar. Bentuk dan ukuran telur serangga bermacam-macam.
Banyak serangga bergani bentuk selama perkembangan pasca embrio, dan instar-instrar yang berbeda
tidak semuanya serupa. Perubahan ini disebut metamorfosis. Beberapa serangga mengalami sedikit
perubahan bentuk, dan yang muda dan dewasa sangat mirip kecuali mengenai ukuran. Ada tiga tipe
metamorfosis pada serangga a) Tidak ada metemorfosis b) metemorfosis sederhana c)
metamorfosisisempurna.(Parto.1992:45)
Perkembangan dari setipa serangga terdiri atas tiga tahap utama embrio, masa belum dewasa,
dan masa dewasa. Serangga makan dan tumbuh menyusul penetasan, berganti kulit beberapa waktu
sampai tingkat reproduksi dewasa tercapai.(Sunarjo.P.I.1990:147)

Metamorfosis biasanya terjadi pada fase berbeda-beda, dimulai dari larva atau nimfa, kadangkadang melewati fase pupa, dan berakhir sebagai imago dewasa. Ada dua macam metamorfosis utama
pada serangga, hemimetabola dan holometabola. Fase spesies yang belum dewasa pada metamorfosis
biasanya disebut larva/nimfa. Tapi pada metamorfosis kompleks pada kebanyakan spesies serangga,
hanya fase pertama yang disebut larva/nimfa. Pada hemimetabolisme, perkembangan nimfa
berlangsung pada fase pertumbuhan berulang dan ekdisis (pergantian kulit), fase ini disebut instar.
Hemimetabola juga dikenal dengan metamorfosis tidak sempurna.
Pada holometabola, larva sangat berbeda dengan dewasanya. Serangga yang melakukan
holometabola melalui fase larva, kemudian memasuki fase tidak aktif yang disebut pupa, atau chrysalis,
dan akhirnya menjadi dewasa (imago). Holometabola juga dikenal dengan metamorfosis sempurna.
Sementara di dalam pupa, serangga akan mengeluarkan cairan pencernaan, untuk menghancurkan
tubuh larva, menyisakan sebagian sel saja. Sebagian sel itu kemudian akan tumbuh menjadi dewasa
menggunakan nutrisi dari hancuran tubuh larva. Proses kematian sel disebut histolisis, dan
pertumbuhan sel lagi disebut histogenesis.

2.7 Ordo Serangga


Ordo Orthoptera (bangsa belalang). Sebagian anggotanya dikenal sebagai pemakan tumbuhan,
namun ada beberapa di antaranya yang bertindak sebagai predator pada serangga lain. Anggota dari
ordo ini umumnya memiliki sayap dua pasang. Sayap depan lebih sempit daripada sayap belakang
dengan vena-vena menebal/mengeras dan disebut tegmina . Sayap belakang membranus dan melebar
dengan vena-vena yang teratur. Pada waktu istirahat sayap belakang melipat di bawah sayap depan
Ordo Hemiptera (bangsa kepik) / kepinding. Ordo ini memiliki anggota yang sangat besar serta
sebagian besar anggotanya bertindak sebagai pemakan tumbuhan (baik nimfa maupun imago). Namun
beberapa di antaranya ada yang bersifat predator yang mingisap cairan tubuh serangga lain. Umumnya
memiliki sayap dua pasang (beberapa spesies ada yang tidak bersayap). Sayap depan menebal pada
bagian pangkal ( basal ) dan pada bagian ujung membranus. Bentuk sayap tersebut disebut Hemelytra .
Sayap belakang membranus dan sedikit lebih pendek daripada sayap depan.
Ordo Homoptera (wereng, dan kutu). Anggota ordo Homoptera memiliki morfologi yang mirip
dengan ordo Hemiptera. Perbedaan pokok antara keduanya antara lain terletak pada morfologi sayap
depan dan tempat pemunculan rostumnya. Sayap depan anggota ordo Homoptera memiliki tekstur
yang homogen, bisa keras semua atau membranus semua, sedang sayap belakang bersifat membranus.
Ordo Coleoptera (bangsa kumbang). Anggota-anggotanya ada yang bertindak sebagai hama
tanaman, namun ada juga yang bertindak sebagai predator (pemangsa) bagi serangga lain. Sayap terdiri
dari dua pasang. Sayap depan mengeras dan menebal serta tidak memiliki vena sayap dan disebut
elytra. Apabila istirahat, elytra seolah-olah terbagi menjadi dua (terbelah tepat di tengah-tengah bagian
dorsal). Sayap belakang membranus dan jika sedang istirahat melipat di bawah sayap depan. Alat mulut
bertipe penggigit-pengunyah , umumnya mandibula berkembang dengan baik.

Ordo Lepidoptera (bangsa kupu/ngengat). Dari ordo ini, hanya stadium larva (ulat) saja yang
berpotensi sebagai hama , namun beberapa diantaranya ada yang predator. Serangga dewasa umumnya
sebagai pemakan/pengisap madu atau nektar. Sayap terdiri dari dua pasang, membranus dan tertutup
oleh sisik-sisik yang berwarna-warni. Pada kepala dijumpai adanya alat mulut seranga bertipe pengisap ,
sedang larvanya memiliki tipe penggigit .
Ordo Diptera (bangsa lalat, nyamuk). Serangga anggota ordo Diptera meliputi serangga pemakan
tumbuhan, pengisap darah, predator dan parasitoid. Serangga dewasa hanya memiliki satu pasang
sayap di depan, sedang sayap belakang mereduksi menjadi alat keseimbangan berbentuk gada dan
disebut halter . Pada kepalanya juga dijumpai adanya antene dan mata facet.
Ordo Hymenoptera (bangsa tawon, tabuhan, semut). Kebanyakan dari anggotanya bertindak
sebagai predator/parasitoid pada serangga lain dan sebagian yang lain sebagai penyerbuk. Sayap terdiri
dari dua pasang dan membranus. Sayap depan umumnya lebih besar daripada sayap belakang. Pada
kepala dijumpai adanya antene (sepasang), mata facet dan occelli.

2.8. Gejala serangan hama


Mengenal kerusakan pada tanaman yang disebabkan oleh berbagai pengganggu akan sangat
membantu dalam diagnosis. Diagnosis merupakan proses yang sangat penting. Hasil diagnosis akan
menentukan keberhasilan suatu pengelolaan penyakit tanaman. Kegagalan suatu diagnosis akan
menyebabkan kegagalan dalam tahap pengendalian. Sebagai contah klasik dikemukakan oleh Fry (1982)
pada pertanaman bit gula dipinggiran kota New York terjadi masalah kekerdilan tanaman. Dugaan awal
kekerdilan tersebut disebabkan oleh karena kekurangan hara. Namun ternyata aplikasi pemupukan
tidak menyelesaikan masalah. Konsultasi dengan ahli penyakit tanaman menyimpulkan bahwa tanaman
terserang oleh nematoda Heterodera schachtii. Dengan demikian diagnosis yang baik harus memiliki
efektivitas yang tinggi. Disamping itu diagnosis juga harus cepat. Keterlambatan hasil diagnosis karena
berbagai hal dapat menyebabkan penyakit sudah berkembang pesat, sehingga hasil tidak dapat
diselamatkan. Disamping efektif dan cepat, diagnosis juga harus murah. Biaya diagnosis yang mahal
tidak

akan

terjangkau

oleh

petani

kecil,

sehingga

mereka

enggan

pergi

ke

klinikuntukmemeriksakantanaman.
Ganguan merupakan suatu proses interaksi anatara berbagai factor yang mempengaruhi. Hasil
proses interaksi tersebut dapat dilihat dengan adanya kerusakan pada tanaman, Karena tanaman yang
terganggu oleh pengganggu tertentu sering menunjukkan kerusakan akan tertentu pula. Beberapa jenis
hama tidak hanya memakan bagian tubuh tanaman tetapi juga mengeluarkan substansi tertentu yang
berpengaruh

terhadap

pertumbuhan

tanaman.

Beberapa

jenis

hama

yang,lainakan,meninggalkan,bebasaktivitasyangkhas.
Banyak macam patogen tumbuhan dan tidak sedikit diantaranya yang mempunyai arti ekonomi
penting. Setiap macam tanaman dapat diserang oleh banyak macam patogen tumbuhan, begitu pula
satu macam patogen ada kemungkinan dapat menyerang sampai berpuluh-puluh tanaman. Sering pula
terjadi, bahwa patogen tumbuhan tertentu dapat menyerang satu macam organ tanaman atau ada pula
yang menyerang berbagai macam organ tanaman. Sebagai akibat dari reaksi tersebut maka suatu
kerusakan tertentu akan tampak pada tanaman. Perkembangan selanjutnya, bagian pathogen atau
pathogen itu sendiri dapat menampakkan diri pada permukaan tanaman inang yang abnormal.
Abnormalitas atau perubahan-perubahan yang ditunjukkan oleh tanaman sakit sebagai akibat adanya
serangan agensia penyakit-penyakit (pathogen) tersebut disebut gejala, sedangkan pengenal yang
ditunjukkan oleh selain reaksi tanaman inang disebut tanda. Contoh tanda penyakit misalnya miselium
jamur, spora atau konidi jamur, badan buah jamur, mildew, sklerosium, koloni baketri yang berupa
lendir, dan sejenisnya. Parasit yang menyebabkan penyakit pada tanaman pada umumnya membentuk
bagian vegetatifnya di dalam jaringan tanaman sehingga tidak tampak dari luar. Tetapi walaupun
demikian ia membentuk bagian reproduktifnya pada permukaan tanaman yang diserangnya atau hanya
sebagian tampak pada permukaan tersebut. Selan itu sering pula pembentukan propagul dalam bentuk
istirahat pada permukaan tanaman. Pada beberapa kasus hampir seluruh bagian dari parasit termasuk,
propagul vegetatif dan generatif terdapat pada bagian luar tanaman sehingga dapat dilihat. Dalam
hubungan ini untuk penamaan penyakit dapat didasarkan pada struktur patogen yang terlihat:
Mildew
Merupakan penyakit tanaman dimana patogen terlihat sebagai pertumbuhan pada permukaan luar dari
bagian tanaman yang terserang. Biasanya tampak dalam bentuk yang berwarna keputih-putihan pada
daun,

cabang

atau

buahnya.

DownyMildew
Merupakan

pertumbuhan

yang

ditandai

dengan

lapisan

seperti

bulu-bulu

kapas.

PowderyMildew
Merupakan bentuk yang terdapat pada permukaan tanaman yang tampak sebagai lapisanpupur.
Karat
Gejala pada permukaan tanaman seperti karat. Hal ini karena adanya kumpulan spora yang keluar dari
stomata

dengan

warna

seperti

karat

(merah

kehitam-hitaman

dan

kecoklat-coklatan).

Smut(Gosong)
Gejala

ini

menyerupai

tepung

berwarna

terdapat

pada

organ

perbungaan,batang,daundansebagainya.
Kudis
Patogen

(tubuh

buah)

yang

muncul

pada

permukaan

bagian

yang

terserang

berbentukagakkasarsepertikudis.
Cacar
Bagian tanaman biasanya daun muda yang terserang mengelupuh (seperti cacar) dan pada bagian yang
menonjol

terbentuk

lapisaan

tubuh

buah.

Bercater(Tarspot)
Bagian yarig terserang agak menonjol dan berwarna hitam. Bagian yang hitam tersebut terdiri dari
tubuh buah cendawan. Perubahan yang ditunjukkan suatu penyakit dapat hanya setempat atau
menyeluruh. Abnormalitas yang timbul hanya setempat atau hanya terbatas pada daerah tertentu saja
di bagian tubuh tanaman disebut abnormalitas lesional atau local, sedangkan abnormalitas yang timbul
pada seluruh tubuh tanaman disebut abnormalitas sistemik. Abnormalitas yang tampak sebenarnya
disebabkan

oleh

adanya

perubahan

sel-sel

bagian

tanaman

yangbersangkutan.

Penyakit dapat dikenal dengan mata telanjang dari gejalanya atau simptomnya. Penyakit tumbuhan
dialam yang belum ada campur tangan manusia adalah hasil interaksi antara pathogen, inang dan
lingkungan. Sedangkan penyakit tanaman yang terjadi setelah campur tangan manusia adalah hasil
interaksi antara pathogen, inang, lingkungan dan manusia. Tanaman individual dapat menunjukkan
gejala: perubahan warna, perubahan bentuk, kelayuan, dan pertanaman dapat menunjukkan kelompok
gejala yang membentuk gambaran penyakit atau sindrom. Dari gambaran penyakit ini orang
menentukan penyebabnya atau mengadakan diagnosis. Untuk diagnosis biasanya dilakukan dilapangan
atau di laboratorium. Penyakit disebabkan oleh penyebab abiotik dan biotik. Penyebab penyakit abiotik
disebut fisiopath, sedang penyebab penyakit yang biotic disebut pathogen. Gejala morfologi penyakit
tumbuhan dibedakan atas tiga pokok yaitu : nekrosis (matinya sel, jaringan atau seluruh organ),
hipoplasia (terjadinya hambatan pertumbuhan), dan hyperplasia (terjadinya pertumbuhan yang luar
biasa).
1.gejalanekrosis
Yaitu tipe kerusakan yang disebabkan karena adanya kerusakan pada sel atau kerusakan bagian sel atau
matinya sel. Terdapat berbagai bentuk gejala nekrotik yang disebabkan oleh berbagai patogen yang
berbeda

pada

bagian

tanaman

yang,

diserangnya:

Bercak. Sel-sel yang rnati hanya terjadi pada luasan terbatas dan biasanya bewarna kecoklat-coklatan.
Sebelum terjadi di kematian sel warnanya agak kekuning-kuningan. Bagian jaringan yang mati seringkali

sobek dan terpisah dari jaringan yang ada sekitarnya yang. masih sehat. Gejala tersebut disebut shothole atau tembus peluru. Bentuk, lesio dari bercak ini dapat bundar, segi empat bersudut, atau tidak
teratur. Sisi bercak berwarna jingga, coklat, dan sebagainya seringkali pada bercak tersebut terlihat
adanya

tubuh

buah.

Streak dan shipe. bagian yang nekrotik memanjang masing-masing sepanjang tulang daun dan di antara
tulang daun Kanker. Terjadi kematian sel kulit batang terutama pada tanaman berkayu. Permukaan
bercaknya agak tertekan kebawah atau bagian kulitnya pecah sehingga terlibat bagian kayunya. Pada
bagian

yang

pecah

tersebut

dapat

terlihat

adanya

tubuh

buah

cendawan.

Blight. Menyerupai bentuk yang terbakar. Gejala ini terjadi jika sel-sel organ tanaman mati secara
cepat (daun, bunga, ranting dan sebagainya). Bagian tanaman tersebut menjadi coklat atau hitam.
Damping - off (lodoh). Keadaan di mana batang tanaman diserang permukaan tanah. Bagian tanaman
yang terserang disekitar permukaan tanah tertekan sehingea tidak mampu untuk menahan beban yang
berat dari bagian atas tanaman. Terbakar, scald atau scorch. Bagian tanaman yang sukulen mati atau
berwarna

coklat

akibat

temperatur

tinggi.

Busuk. Bagian yang terserang mati, terurai dan berwarna coklat. Hal ini disebabkan oleh serangan
cendawan dan bakteri yang menguraikan ikatan antara dinding sel oleh berbagai enzym. Tergantung
dari bagian tanaman yang, terserang maka terdapat berbagai gejala busuk seperti busuk akar, busuk
batang, busuk- pucuk, busuk buah. Tergantung pada tipe pembusukan maka terdapat busuk basah,
busuk lunak, busuk kering. Layu. Efek dari gejala layu ini daunnya kehilangan ketegarannya dan layu.
Gejala ini diakibatkan oleh kerusakan bagian perakaran, penyumbatan saluran air atau oleh senyawa
yang beracun yang dikeluarkan oleh patogen yang terbawa oleh aliran air kebagian atas tanaman.
Die-back. Terjadi kematian ranting atau cabang dari bagian ujung atasnya dan meluas kebagian sebelah
bawahnya.Gugur daun, bunga, buah sebelum waktunya. Hal ini disebabkan oleh gangguan fisiologi atau
sebagai akibat tidak langsung oleh gangguan patogen. Perubahan organ tanaman (transportasi) dari
organ tanaman jadi bentuk lain. Bagian tanaman diganti oleh struktur cendawan, seperti bunga yang
baru terbuka mengandung kumpulan. spora (smut) atau perbungaan yang seharusnya dibentuk dirubah
menjadi

bentuk

daun

(filodi).

Klorosiskarenarusaknyaklorofil

2.GejalaHipoplasia
Yaitu type kerusakan yang disebabkan karena adanya ambatan atau terhentinya pertumbuhan
(underdevelopment) sel atau bagian sel. Terdapat berbagai bentuk gejala hipoplastik yang disebabkan

oleh

berbagai

patogen

yang

berbeda

pada

bagiantanamanyang,diserangnya:

Etiolasi : tumbuhan menjadi pucat, tumbuh memanjang dan mempunyai daun-daun yang sempit karena
mengalami

kekurangan

cahaya.

Kerdil (atrophy) : gejala habital yang disebabkan karena terhambatnya pertumbuhan sehingga
ukurannya

menjadi

lebih

kecil

daripada

biasanya.

Klorosis : terjadinya penghambatan pembentukan klorofil sehingga bagian yang seharusnya berwarna
hijau menjadi berwarna kuning atau pucat. Bila pada daun hanya bagian sekitar tulang daun yang
berwarna hijaumaka disebut voin banding. Sebaliknnya jika bagian-bagian daun di sekitar tulang daun
yang

menguning

disebutvoinclearing.

Perubahan simetri : hambatan pertumbuhan pada bagian tertentu yang tidak disertai dengan
hambatan pada bagian di depannya, sehingga menyebabkan terjadinyapenyimpanganbentuk.
Roset : hambatan pertumbuhan ruas-ruas (internodia) batang tetapi pembentukan daun-daunnya tidak
terhambat, sebagai akibatnya daun-daun berdesak-desakan membentuk suatu karangan. Klorosis
karena

terhambatnya

pembentukan

klorofil

3.gejalahiperplasia
Yaitu tipe kerusakan yang disebabkan karena adanya pertumbuhan sel atau bagian sel atau bagian sel
yang melebihi (overdevelopment) dari pada pertumbuhan biasa. Terdapat berbagai bentuk gejala
hipoplastik yang disebabkan oleh berbagai patogen yang berbeda pada bagian tanaman yang,
diserangnya:
Erinosa : terbentuknya banyak trikom (trichomata) yang luar biasa sehingga pada permukaan alat itu
(biasanya

daun)

terdapat

bagian

yang

seperti

beledu.

Fasiasi (Fasciasi, Fasciation) : suatu organ yang seharusnya bulat dan lurus berubah menjadi pipih,
lebar

dan

membelok,

bahkan

ada

yang

membentuk

seperti

spiral.

Intumesensia (intumesoensia) : sekumpulan sel pada daerah yang agak luas pada daun atau batang
memanjang sehingga bagian itu nampak membengkak, karena itu gejala ini disebut gejala busung
(cedema).
Kudis (scab) : bercak atau noda kasar, terbatas dan agak menonjol. Kadang-kadang pecah-pecah. Di
bagian tersebut terdapat sel-sel yang berubah menjadi sel-sel gabus. Gejala ini dapat dijumpai pada
daun,

batang,

buah

atau

umbi.

Menggulung atau mengeriting : gejala ini disebabkan karena pertumbuhan yang tidak seimbang dari
bagian-bagian daun. Gejala menggulung terjadi apabila salah satu sisi pertumbuhannya selalu lebih

cepat dari yang lain, sedang gejala mengeriting terjadi apabila sisi yang pertumbuhannya lebih cepat
bergantian.
Pembentukan alat yang luar biasa terdiri atas Antolisis (antholysis) : perubahan dari bunga menjadi
daun-daun kecil dan Enasi : pembentukan anak daun yang sangat kecil pada sisi bawah tulang daun.
Perubahan Warna : perubahan yang dimaksud di sini adalah perubahan yang bukan klorosis
yang

terjadi

pada

suatu

organ

(alat

tanam).

Prolepsis : berkembangnya tunas-tunas tidur atau istirahat (dormant) yang berada dekat di bawah
bagian yang sakit, berkembang menjadi ranting-ranting segar yang tumbuh vertikal dengan cepat yang
juga

dikenal

dengan

tunas

air.

Rontoknya alat-alat : rontoknya daun, bunga atau buah yang terjadi sebelum waktunya dan dalam
jumlah yang lebih besar dari biasanya. Rontoknya alat tersebut karena terbentuknya lapisan pemisah
(abcission layar) yang terdiri dari sel-sel yang berbentuk bulat dan satu sama lain terlepas.
Sapu (witches broom) : berkembangnya tunas-tunas ketiak atau samping yang biasanya tidur (latent)
menjadi seberkas ranting-ranting rapat. Gejala ini umumnya disertai dengan terhambatnya
perkembangan

ruas-ruas

(internodia)

batang,daunpadatunasbaru.

Sesidia (cecidia) atau tumor : pembenkakan setempat pada jaringan tumbuhan sehingga terbentuk
bintil-bintil atau bisul-bisul. Bintil ini dapat terdiri dari jaringan tanaman dengan atau tanpa koloni
patogennya.

Klorosis

karena

pigmen

maupunklorofilyangberlebihan.

4.gejala Injury Yaitu tipe kerusakan yang disebabkan karena adanya aktivitas hama tertentu atau setiap
bentuk penyimpangan fisiologis tanaman sebagai akibat aktivitas atau serangan OPT.
2.9 Gulma
Gulma adalah tumbuhan yang kehadirannya tidak diinginkan pada lahan pertanian karena menurunkan
hasil yang bisa dicapai oleh tanaman produksi.
Batasan gulma bersifat teknis dan plastis. Teknis, karena berkait dengan proses produksi suatu tanaman
pertanian. Keberadaan gulma menurunkan hasil karena mengganggu pertumbuhan tanaman produksi
melalui kompetisi. Plastis, karena batasan ini tidak mengikat suatu spesies tumbuhan. Pada tingkat
tertentu, tanaman berguna dapat menjadi gulma. Sebaliknya, tumbuhan yang biasanya dianggap gulma
dapat pula dianggap tidak mengganggu. Contoh, kedelai yang tumbuh di sela-sela pertanaman
monokultur jagung dapat dianggap sebagai gulma, namun pada sistem tumpang sari keduanya
merupakan tanaman utama. Meskipun demikian, beberapa jenis tumbuhan dikenal sebagai gulma

utama, seperti teki dan alang-alang.Ilmu yang mempelajari gulma, perilakunya, dan pengendaliannya
dikenal sebagai ilmu gulma.

Macam-macam gulma
Biasanya orang membedakan gulma ke dalam tiga kelompok:

teki-tekian

rumput-rumputan

gulma daun lebar.

Ketiga kelompok gulma memiliki karakteristik tersendiri yang memerlukan strategi khusus untuk
mengendalikannya.
Gulma teki-tekian
Kelompok ini memiliki daya tahan luar biasa terhadap pengendalian mekanik karena memiliki umbi
batang di dalam tanah yang mampu bertahan berbulan-bulan. Selain itu, gulma ini menjalankan jalur
fotosintesis C4 yang menjadikannya sangat efisien dalam 'menguasai' areal pertanian secara cepat. Ciricirinya adalah penampang lintang batang berbentuk segi tiga membulat, dan tidak berongga, memiliki
daun yang berurutan sepanjang batang dalam tiga baris, tidak memiliki lidah daun, dan titik tumbuh
tersembunyi. Kelompok ini mencakup semua anggota Cyperaceae (suku teki-tekian) yang menjadi
gulma. Contoh: teki ladang (Cyperus rotundus), udelan (Cyperus kyllinga), dan Scirpus moritimus.
Gulma adalah sebagai tumbuhan yang tumbuh pada areal yang tidak dikehendaki tumbuh pada
areal pertanaman. Gulma secara langsung maupun tidak langsung merugikan tanaman budidaya.
Pengenalan suatu jenis gulma dapat dilakukan dengan melihat keadaan morfologinya, habitatnya, dan
bentuk pertumbuhanya. Berdasarkan keadaan morfologinya, dikenal gilma rerumputan (grasses), tekitekian (sedges), dan berdaun lebar (board leaf). Golongan gulma rurumputan kebanyakan berasal dari
famili gramineae (poaceae). Ukuran gulma golongan rerumputan bervariasi, ada yang tegak, menjalar,
hidup semusim, atau tahunan. Batangnya disebut culms, terbagi menjadi ruas dengan buku-buku yang
terdapat antara ruas. Batang tumbuh bergantian pada dua buku pada setiap antara ruas daun terdiri
dari dua bagian yaitu pelepah daun dan helaian daun., contoh gulama rerumputan Panicium repens,
Eleusine indica, Axonopus compressus dan masih banyak lagi. Golongan teki-tekian kebanykan berasal

dari famili Cyperaceae. Golongan ini dari penampakanya hampir mirip dengan golongan rerumputan,
bedanya terletak pada bentuk batangnya. Batang dari golongan teki-tekian berbentuk segitiga. Selain itu
golongan teki-tekian tidak memiliki umbi atau akar ramping di dalam tanah. Contoh golongan tekitekian: Cyprus rotundus, Cyprus compresus. Golongan gulma berdaun lebar antara lain: Mikania spp,
Ageratum conyzoides, Euparotum odorotum. Berdaarkan habita tunbuhanya, dikenal gulma darat, dan
gulma air. Gulma darat merupakan gulma yang hidu didarat, dapat merupakan gulma yang hidup
setahun, dua tahun, atau tahunan (tidak terbatas). Penyebaranya dapat melalui biji atau dengan cara
vegetatif. Contoh gulma darat diantaranya Agerathum conyzoides, Digitaria spp, Imperata cylindrical,
Amaranthus spinosus. Gulma air merupakan gulama yang hidupnya berada di air. Jenis gulma air
dibedakan menjadi tiga, yaitu gulma air yang hidupnya terapung dipermukaan air (Eichhorina crassipes,
Silvinia) spp, gulma air yang tenggelam di dalam air (Ceratophylium demersum), dan gulma air yang
timbul ke permukaan tumbuh dari dasar (Nymphae sp, Sagitaria spp).
Gulma daun lebar
Berbagai macam gulma dari anggota Dicotyledoneae termasuk dalam kelompok ini. Gulma ini biasanya
tumbuh pada akhir masa budidaya. Kompetisi terhadap tanaman utama berupa kompetisi cahaya. Daun
dibentuk pada meristem pucuk dan sangat sensitif terhadap kemikalia. Terdapat stomata pada daun
terutama pada permukaan bawah, lebih banyak dijumpai. Terdapat tunas-tunas pada nodusa, serta titik
tumbuh terletak di cabang. Contoh gulma ini ceplukan (Physalis angulata L.), wedusan (Ageratum
conyzoides L.), sembung rambut (Mikania michranta), dan putri malu (Mimosa pudica).
Pengendalian gulma
Pengendalian gulma merupakan subjek yang sangat dinamis dan perlu strategi yang khas untuk setiap
kasus. Beberapa hal perlu dipertimbangkan sebelum pengendalian gulma dilakukan:

jenis gulma dominan

tumbuhan budidaya utama

alternatif pengendalian yang tersedia

dampak ekonomi dan ekologi

Kalangan pertanian sepakat dalam mengadopsi strategi pengendalian gulma terpadu untuk
mengendalikan pertumbuhan gulma.
Agensi pengendali gulma dinamakan herbisida (herbicide).

2.10 Pengendalian PHT


Menurut Smith dan Apple (1978), langkah langkah pokok yang perlu dikerjakan dalam
pengembangan PHT adalah sebagai berikut.
Langkah 1
Mengenal Status Hama yang Dikelola
Hama-hama yang menyerang pada suatu agroekosistem, perlu dikenal dengan baik. Sifat-sifat
hama perlu diketahui, meliputi perilaku hama, dinamika perkembangan populasi, tingkat kesukaan
makanan, dan tingkat kerusakan yang diakibatkannya. Pengenalan hama dapat dilakukan melalui
identifikasi dan hasil analisis status hama yang ada.
Dalam suatu agroekosistem, kelompok hama yang ada bisa dikategorikan atas hama utama, hama
kadangkala (hama minor), hama potensil, hama migran dan bukan hama. Dengan mempelajari dan
mengetahui status hama, dapat ditetapkan jenjang toleransi ekonomi untuk masing-masing kategori
hama.
Hama utama atau hama kunci (main pest) merupakan spesies hama yang selalu menyerang pada
suatu tempat, dengaan intensitas serangan yang berat dalam daerah yang luas, sehingga memerlukan
usaha pengendalian. Tanpa usaha pengendalian, kelompok hama ini akan mendatangkan kerugian
ekonomi bagi petani. Biasanya pada suatu agroekosistem, hanya ada satu atau dua hama utama,
selebihnya termasuk dalam kategori hama yang lain. Dalam penerapan PHT sasaran yang dituju adalah
menurunkan populasi hama utama.
Hama kadangkala atau hama minor (occasional pest) sering juga disebut hama kedua. Kelompok ini
merupakan jenis hama yang relatif kurang penting, karena kerusakan yang diakibatkan masih dapat
ditoleransikan oleh tanaman. Kadang-kadang populasinya pada suatu saat meningkat melebihi aras
toleransi ekonomik tanaman. Peningkatan populasi ini mungkin disebabkan karena gangguan pada
proses pengendali alami, keadaan iklim, atau kesalahan pengelolaan oleh manusia. Kelompok hama ini
sering kali peka terhadap perlakuan pengendalian yang ditujukan pada hama utama. Oleh karena itu
kelompok hama ini perlu diawasi, agar tidak menimbulkan apa yang disebut ledakan populasi hama
kedua.

Hama potensil merupakan sebagian besar jenis serangga herbivora yang saling berkompetisi dalam
memperoleh makanan. Kelompok hama ini, tidak mendatangkan kerugian yang berarti dan tidak
membahayakan dalam kondisi pengelolaan agroekosistem yang normal. Namun karena kedudukannya
dalam rantai makanan, populasi kelompok ini berpotensi meningkat, dan menjadi hama yang
membahayakan. Hal ini sangat mungkin terjadi, terlebih akibat perubahan cara pengelolaan
agroekosistem oleh manusia.
Hama migran merupakan hama yang tidak berasal i dari agroekosistem setempat. Kelompok hama
ini datang dari luar, dan sifatnya berpindah-pindah (migran). Banyak serangga belalang, ulat grayak dan
bangsa burung memiliki sifat demikian. Kelompok hama migran kalau datang pada suatu tempat, dapat
menimbulkan kerusakan yang berarti. Tetapi hanya dalam jangka waktu yang pendek, karena akan
pindah ke daerah lain.
Kecuali empat kelompok tersebut, ada beberapa pakar yang menambah satu kelompok hama lagi
yaitu hama sekunder atau hama sporadis. Kelompok hama ini dalam keadaan normal, selalu dapat
dikendalikan oleh musuh alaminya, sehingga tidak membahayakan. Kelompok ini baru menjadi masalah
bila populasi musuh alami berkurang, karena terbunuh oleh pestisida misalnya.
Satu jenis serangga dalam kondisi tempat dan waktu tertentu dapat berubah status, misal dari hama
potensil menjadi hama utama, atau dari hama utama kemudian menjadi hama minor.
Langkah 2
Mempelajari Komponen Saling Tindak dalam Ekosistem
Komponen suatu ekosistem perlu ditelaah dan dipelajari. Terutama yang mempengaruhi dinamika
perkembangan populasi hama-hama utama. Termasuk dalam langkah ini, ialah menginventarisir musuhmusuh alami, sekaligus mengetahui potensi mereka sebagai pengendali alami.
Interaksi antar berbagai komponen biotis dan abiotis, dinamika populasi hama dan musuh alami,
studi fenologi tanaman dan hama, studi sebaran hama dan lain-lain, merupakan bahan yang sangat
diperlukan untuk menetapkan strategi pengendalian hama yang tepat.
Langkah 3
Penetapan dan Pengembangan Ambang Ekonomi

Ambang ekonomi atau ambang pengendalian sering juga diistilahkan sebagai ambang toleransi
ekonomik. Ambang ini merupakan ketetapan tentang pengambilan keputusan, kapan harus
dilaksanakan penggunaan pestisida. Apabila ternyata populasi atau kerusakan hama belum mencapai
aras tersebut, penggunaan pestisida masih belum diperlukan.
Untuk menetapkan ambang ekonomi bukanlah pekerjaan yang gampang. Dibutuhkan banyak
informasi, baik data biologi dan ekologi, serta ekonomi. Penetapan kerusakan hasil dalam hubungannya
dengan populasi hama, merupakan bagian yang penting dalam pengembangan ambang ekonomi.
Demikian juga analisis biaya dan manfaat pengendalian, sangat perlu diketahui.
Langkah 4
Pengembangan Sistem Pengamatan dan Monitoring Hama
Untuk mengetahui padat populasi hama pada suatu waktu dan tempat, yang berkaitan terhadap
ambang ekonomi hama tersebut, dibutuhkan program pengamatan atau monitoring hama secara rutin
dan terorganisasi dengan baik. Metode pengambilan sampel secara benar perlu dikembangkan. Agar
data lapangan yang diperoleh dapat dipercaya secara statistik, dan cara pengumpulan data mudah
dikerjakan.
Jaringan dan organisasi monitoring yang merupakan salah satu bagian organisasi PHT, perlu
dikembangkan agar dapat menjamin ketepatan dan kecepatan arus informasi dari lapangan ke pihak
pengambil keputusan pengendalian hama dan sebaliknya.
Langkah 5.
Pengembangan Model Deskriptif dan Peramalan Hama
Dengan mengetahui gejolak populasi hama dan hubungannya dengan komponen-komponen ekosistem
lainnya, maka perlu dikembangkan model kuantitatif yang dinamis. Model yang dikembangkan
diharapkan mampu menggambarkan gejolak populasi dan kerusakan yang ditimbulkan pada waktu yang
akan datang. Sehingga, akan dapat diperkirakan dinamika populasi, sekaligus mempertimbangkan
bagaimana penanganan agar tidak sampai terjadi ledakan populasi yang merugikan secara ekonomi.
Langkah 6
Pengembangan Srategi Pengelolaan Hama

Strategi dasar PHT adalah menggunakan taktik pengendalian ganda dalam suatu kesatuan sistem
yang terkordinasi. Strategi PHT mengusahakan agar populasi atau kerusakan yang ditimbulkan hama
tetap berada di bawah aras toleransi manusia. Beberapa taktik dasar PHT antara lain : (1).
memanfaatkan pengendalian hayati yang asli ditempat tersebut, (2). mengoptimalkan pengelolaan
lingkungan melalui penerapan kultur teknik yang baik, dan (3). penggunaan pestisida secara selektif.
Srategi pengelolaan hama berdasarkan PHT, menempatkan pestisida sebagai alternatif terakhir.
Pestisida digunakan, jika teknik pengendalian yang lain dianggap tidak mampu mengendalikan serangan
hama.
Langkah 7
Penyuluhan Kepada Petani Agar Menerima dan Menerapkan PHT
Petani sebagai pelaksana utama pengendalian hama, perlu menyadari dan mengerti tentang cara
pendekatan PHT, termasuk bagaimana menerapkannya di lapangan. Pemahaman lama secara
konvensional tentang pemberantasan hama, perlu diganti dengan pengertian pengendalian atau
pengelolaan hama. Petani perlu diberikan kepercayaan dan kemampuan untuk dapat mengamati
sendiri dan melaporkan keadaan hama pada pertanamannya.
Langkah 8
Pengembangan Organisasi PHT
Sistem PHT mengharuskan adanya suatu organisasi yang efisien dan efektif, yang dapat bekerja
secara cepat dan tepat dalam menanggapi setiap perubahan yang terjadi pada agroekosistem.
Organisasi tersebut tersusun oleh komponen monitoring, pengambil keputusan, program tindakan, dan
penyuluhan pada petani. Organisasi PHT merupakan suatu organisasi yang mampu menyelesaikan
permasalahan hama secara mandiri, pada daerah atau unit kerja yang menjadi tanggungjawabnya.

BAB III
BAHAN DAN METODA

3.1. Tempat dan Waktu


Pelaksanaan praktikum Dasar-dasar Perlindungan tanaman ini bertempat di Laboratorium
Mikrobiologi Perlindungan Tanaman Faperta, yang dilaksanakan sebanyak 8 kali pertemuan mulai
Oktober sd Desember 2011. Praktikum dilaksanakan setiap hari senin pukul 11.20 sd 13.00 WIB.

3.2. Alat dan Bahan


Dalam praktikum ini tidak banyak dipergunakan pasilitas yang ada di laboratorium, praktiukum
dilakukan pengamatan secara langsung dan menggambar serta mengidentifikasi dari penyebab OPT.
Yang perlu disiapkan Buku gambar, Pensil, Penggaris, Pensil berwarna dan Objek yang terserang hama
atau Penyakit.serangga (belalang), buku gambar, pensil, penggaris, penghapus, mikroskop, jarum ose,
alkohol, dll.

3.3 Cara Kerja


Metoda moist chamber
Cara Kerja Moist chamber yang pratikan lakukan adalah :
Pertama sediakan alat dan bahan terlebih dahulu,lalu potong dingan pisau bagian yang terkena
antraknosa dengan perbandingan satu banding satu (1:1), artinya setengah bagian yang sehat dan
setengah yang sakit,setelah dipotong sampai 8 bagian dan disterilisasi kan dengan aquades,alqohol lalu
akuades lagi,setelah disterilisasi ambil dengan pinset bagian tanaman tadi lalu masukan ke dalam petri
dish yang telah di isi media tumbuh organisme(agar),lalu ingkubasi di ruangan ingkubator 5 kali 24
jam.lalu amati dan gambar,dokumentasikan.

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Patogen Jamur Pada Tanaman


Patogen penyebab penyakit pada tanaman akan Nampak gejala nya pada tanaman sehingga kita
dapat menentukan apakah patogen nya Jamur,bakteri,Virus dan Nematoda.Pada pratikum yang pratikan
laksanakan pratikan menganalisa gejalah dari daun tanaman yang terkena virus,dari daun tersebut
secara makroskopis dapat dilihat gejala nya seperti ada Hiva pada daun tersebut,ada miselium ada spora
pada daun tersebut sehingga pratikan dapat memastikan bahwa daun tersebut terkena pathogen
Jamur.dan pada daun terdapat Karat : Gejala pada permukaan tanaman seperti karat. Hal ini karena
adanya kumpulan spora yang keluar dari stomata dengan warna seperti karat (merah kecoklat-coklatan).

4.2 Patogen Virus pada Tanaman Capsicum annum


Pada tanaman cabe yang pratikan analisa terdapat gejala gejala patogen pada tanaman cabe
tersebut diantara nya adalah daun rapuh, daun keriting,warna daun kekuning kuningan,gejala tampak
pada permukaan daun yang keriting daun mudah nya dan berwarna kekuning kuningan daun mudah
nya.
Seringkali warna hijau pada bagian tanaman yang terserang berubah menjadi warna kuning. Perubahan
tesebut dapat terjadi oleh berbagai berikut sebab :

Etiolasi. Akibat kekurangan cahaya atau terlalu lama tumbuh di tempat gelap.

Khlorosis. Akibat temperatur rendah, kekurangan Fe, terserang virus, gangguan oleh cendawan,
bakteri dan sebagainya.

Khorornosis. Warna hijau dirubah oleh zat yang memberi warna, merah jingga dan sebagainya.

Albino. Tanaman gagal membentuk zat warna.

Gejala pathogen virus diantara nya mosaic,bercak bercincin,percabangan yang berlebihan,vein


clearing,vein banding,kedil,klorosis,keriting,kerupuk,menggulung daun.
4.3 Identifikasi Bakteri

Pengamatan Makroskopis pada patogen Bakteri Xanthomonas axonopodis ini didapatkan hasil
pengamatan nya warna koloni pada bakteri ini adalah warnah kuning bentuk permukaan nya cembung
sedangkan diameter nya 0,5 cm dan bentuk bakterinya Reguler.Sedangkan pada pengamatan
mikroskopis pada pathogen jamur Fusarium.sp didapatkan hasil Pusatnya bewarna restua dengan tepi
merah mudah,konidia pada fusarium sp sering berbentuk bulan sabit,dalam pengamatan dengan
mikroskopis kita dapat melihat dibawah mikroskop langsung ada hiva dan miselium pada objek glass
yang telah diambil sampel pada petri dish yang hidup pathogen jamur Fusarium sp.
4.4 Nematoda
Pada pengamatan Nematoda ada beberapa gejala yang dapat dilihat pada tanaman puru pada
akar,daun dan biji,bintil bintil akar,bercak akar,layu,kerdil,bercak daun dan luka akar,Contoh penyebab
penyakit nematoda adalah bengkak akar pada wortel
4.5 Morfologi Serangga
Morfologi Serangga,Serangga memiliki 3 bagian dalam tubuh nya diataranya adalah kepala
serangga, Toraks serangga dan Abdomen Serangga. Pada bagian kepala serangga Terdapat Antena
serangga di antena nya ada 4 bagian yaitu flagellum, pedicel,scape,Antennal Sclerite.ada Mulut serangga
Pada mulut serangga ada 4 macam tipe mulutnya antara lain menggigit-mengunya,menusukmenghisap,meraut-menghisap,meraut menghisap.Pada bagian Abdomen Serangga Terdapat Sayap
serangga pada bagian mesa dan meta,Tungkai Serangga,Dan pada bagian Abdomen serangga terdapat
alat kelamin betina untuk meletakan telur Ovipositor.
4.6 Perkembang Biakan Serangga
Pada pratikum perkembang biakan serangga kami pratikan membahas perkembangan biakan
seranggga secara embrionik yaitu bertelur,beranak dan bertelur beranak, dan Perkembangbiakan
pascaembrionik atau setelah bertelur,dan pratikan membahas Metamorfosis pada serangga.
Metamorfosis Serangga ada 4 macam tapi yang pratikan lakukan dan laksanakan hanya 3
macam metamorfosis diantara nya metamorfosis ametabola,paurometabola dan homometabola.Pada
pengamatan ametabola pratikan menggambar gaead dan imago Thysanura,pada metamorfosis
ametabola ini bentuk luar serangga pradewasa serupa dengan imago nya kecuali ukuran dan
kematangan alat kelamin contoh nya kutu buku.Pada pengamatan paurometabola bentuk umum
serangga pradewasa menyerupai serangga dewasa tetapi terjadi perbedaan pada bentuk sayap danalat
kelamin. Pada metamorfoosis kupu kupu dengan metamorfosi holometabola telur yanng mula mula
akan berubah menjadi larva dan larva akan menjadi pupa pada fase pupa akan menjadi serangga
dewasa.

4.7 Ordo Serangga patogen Tanaman

Dari pratikum yang telah pratikan lakukan Pratikan menggambar Serangga dengan oRdo yang
berbeda beda sebanyak 5 ordo Serangga,dan memberikan catatan pada gambar tersebut ciri dari ordo
ordo serangga yang di gambar.
@Kupu kupu
OrdoLepidoptera
Dari ordo ini, hanya stadium larva (ulat) saja yang berpotensi sebagai hama, namun beberapa
diantaranya ada yang predator. Serangga dewasa umumnya sebagai pemakan/pengisap madu atau
nektar. Sayap terdiri dari dua pasang, membranus dan tertutup oleh sisik-sisik yang berwarna-warni.
Pada kepala dijumpai adanya alat mulut seranga bertipe pengisap, sedang larvanya memiliki tipe
penggigit. Pada serangga dewasa, alat mulut berupa tabung yang disebut proboscis, palpus maxillaris
dan

mandibula

biasanya

mereduksi,

tetapi

palpus

labialis

berkembang

sempurna.

Metamorfose bertipe sempurna (Holometabola) yang perkembangannya melalui stadia : telur > larva
> kepompong > dewasa. Larva bertipe polipoda, memiliki baik kaki thoracal maupun abdominal,
sedang pupanya bertipe obtekta.
@. Lalat Buah
OrdoDiptera
Serangga anggota ordo Diptera meliputi serangga pemakan tumbuhan, pengisap darah, predator dan
parasitoid. Serangga dewasa hanya memiliki satu pasang sayap di depan, sedang sayap belakang
mereduksi menjadi alat keseimbangan berbentuk gada dan disebut halter. Pada kepalanya juga dijumpai
adanya

antene

dan

mata

facet.

Tipe alat mulut bervariasi, tergantung sub ordonya, tetapi umumnya memiliki tipe penjilat-pengisap,
pengisap, atau pencucuk pengisap. Pada tipe penjilat pengisap alat mulutnya terdiri dari tiga bagian
yaitu : 1.bagian pangkal yang berbentuk kerucut disebut rostum 2. bagian tengah yang berbentuk
silindris
3.

bagian

disebut
ujung

yang

berupa

spon

haustellum
disebut

labellum

atau

oral

disc.

Metamorfosenya sempurna (holometabola) yang perkembangannya melalui stadia : telur > larva >
kepompong > dewasa. Larva tidak berkaki (apoda_ biasanya hidup di sampah atau sebagai pemakan
daging, namun ada pula yang bertindak sebagai hama, parasitoid dan predator. Pupa bertipe coartacta.
@. Andrena sp

OrdoHymenoptera
Kebanyakan dari anggotanya bertindak sebagai predator/parasitoid pada serangga lain dan sebagian
yang lain sebagai penyerbuk.Sayap terdiri dari dua pasang dan membranus. Sayap depan umumnya
lebih besar daripada sayap belakang. Pada kepala dijumpai adanya antene (sepasang), mata facet dan
occelli.
Tipe alat mulut penggigit atau penggigit-pengisap yang dilengkapi flabellum sebagai alat
pengisapnya.Metamorfose sempurna (Holometabola) yang melalui stadia : telur-> larva> kepompong
> dewasa. Anggota famili Braconidae, Chalcididae, Ichnemonidae, Trichogrammatidae dikenal sebagai
tabuhan parasit penting pada hama tanaman.Beberapa contoh anggotanya antara lain adalah :
-

Trichogramma

sp.

Apanteles

Tetratichus brontispae Ferr. (parasit kumbang Brontispa).

artonae

(parasit
Rohw.

telur
(tabuhan

penggerek
parasit

tebu/padi).
ulat

Artona).

@ Belalang
OrdoOrthoptera
Sebagian anggotanya dikenal sebagai pemakan tumbuhan, namun ada beberapa di antaranya
yang

bertindak

sebagai

predator

pada

serangga

lain.

Anggota dari ordo ini umumnya memilki sayap dua pasang. Sayap depan lebih sempit daripada sayap
belakang dengan vena-vena menebal/mengeras dan disebut tegmina. Sayap belakang membranus dan
melebar dengan vena-vena yang teratur. Pada waktu istirahat sayap belakang melipat di bawah sayap
depan.
Alat-alat tambahan lain pada caput antara lain : dua buah (sepasang) mata facet, sepasang antene, serta
tiga buah mata sederhana (occeli). Dua pasang sayap serta tiga pasang kaki terdapat pada thorax. Pada
segmen (ruas) pertama abdomen terdapat suatu membran alat pendengar yang disebut tympanum.
Spiralukum yang merupakan alat pernafasan luar terdapat pada tiap-tiap segmen abdomen maupun
thorax. Anus dan alat genetalia luar dijumpai pada ujung abdomen (segmen terakhir abdomen).
Ada mulutnya bertipe penggigit dan penguyah yang memiliki bagian-bagian labrum, sepasang
mandibula, sepasang maxilla dengan masing-masing terdapat palpus maxillarisnya, dan labium dengan
palpus labialisnya.Metamorfose sederhana (paurometabola) dengan perkembangan melalui tiga stadia
yaitu telur > nimfa > dewasa (imago). Bentuk nimfa dan dewasa terutama dibedakan pada bentuk
dan ukuran sayap serta ukuran tubuhnya.

@.Rayab
Ordo pada rayap adalah Isoptera,tekstur sayap seperti membran,bentuk dan pembulu sayap depan dan
belakang semu,metamorfosa paurometabola dan pada mulut rayap bertipe mulutut menggigit dan
mengunya.
4.8 Pratikum Lapangan Pengamatan Hama dan penyakit tanaman.
Pada tanaman brokoli gejala serangan korokan pada daun dan berlobang lobang daun nya,opt nya
liriomiza,pada kubis gejala serangan ada spora di daun OPT nya jamur. Pada tanaman worter gejala
serangan hama nya adalah berkurang nya volume daun nya.daun bawang gejala nya terdapat korokan
pada daun hama nya liriomiza pada tanaman yang sama hama memakan epidermis daun bagian dalam
oleh hama spodektera isigua,pada tanaman cabe gejala nya ada daun keriting,warnah kekuning
kuningan dan bercak hitan dan daun rapuh OPT nya ada Virus,pada tanaman teronggejala daun daun
berlobang dan korokan pada daun hama nya pupa coleoptera.padi gejalanya bercak coklat OPT
Anternaria pori,pada tanaman nya sama gejala nya gampang putus bulir kosong semua seperti
penggerek batabang.pada tanaman kacang panjang gejalanya bercak coklat dikelilingi kuning kuning
yang OPT nya Cocospora alacidicola.

BAB V
PENUTUP

5. 1. Kesimpulan
Pengendalian hama merupakan upaya manusia untuk mengusir, menghindari dan membunuh
secara langsung maupun tidak langsung terhadap spesies hama. Pengendalian hama tidak bermaksud
memusnahkan spesies hama, melainkan hanya menekan sampai pada tingkat tertentu saja sehingga
secara ekonomi dan ekologi dapat dipertanggungjawabkan.
Penyebab penyakit atau patogen dapat dibedakan menjadi dua kelompok yaitu Biotik (parasit)
dan Abiotik (fisiopat). Kelompok biotik terdiri dari Tumbuhan tinggi parasitik, yang dapat bersifat parasit
sejati dan setengah parasit.
5. 2.

Saran

Untuk lebih efektifnya praktikum diharapkan para praktikan agar mematuhi semua peraturan
yang ada pada saat di dalam laboratorium dan membawa objek praktikum yang lengkap.

DAFTAR PUSTAKA

Agrios, G. N. 1988. Plant Pathology. Academic Press, Inc. San Diego, California.
Arief, arifin. 1994. Perlindungan Tanaman Hama Penyakit dan Gulma. Usaha Nasional. Surabaya.
Dharmadi, A. dan Wahyu H., 1997. Petunjuk Kultur Teknis Tanaman Tea.
PPTK Gambung.
Hidayat, Anwar. Ir., MS.2001. Metode Pengendalian Hama. Depdiknas. Jakarta
Jahmadi 1972. Budidaya Dan Pengolahan KOPI. BPP JEMBER.
Muzik, T.J. 1970. Weed Biology and Control. McGrow Hill Book Comp. New York.
Parnata, 1980. Keadaan Hama Dan Penyakit Tanaman Coklat Di Sumatera
Utara Dewasa Ini BPP (RISPA) Medan
Pujiatmoko, 2008. Budidaya Tanaman Tomat
Smith, R.F.1978. Distory and Complexity of Integrated Pest Management. In: Pest Control Strategis. S.H. Smith
and D. Pimentel (Ed.). Acad. Press. New York.
Smith, R.F and J.L. Apple. 1978. Principles of Integrated Pest Control. IRRI Mimeograph.
Totok Herwanto 1988. Peralatan Pengendalian Hama Dan Penyakit Tanaman,
Pusat Pengembangan Pendidikan Politeknik Pertanian. Bandung.
Triharso. 1996. Dasar-dasar Perlindungan Tanaman. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.

Diposkan oleh farid halfero di 00.34


Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest

Tidak ada komentar:


Poskan Komentar
Posting Lama Beranda
Langganan: Poskan Komentar (Atom)

Pengikut
Arsip Blog

2012 (1)
o Januari (1)
laporan pratikum dasar dasar perlindungan tanaman

2011 (2)

Mengenai Saya

farid halfero
Lihat profil lengkapku
Template Watermark. Diberdayakan oleh Blogger.