Anda di halaman 1dari 5

Antasida

Antasida (senyawa magnesium, aluminium, dan bismut, hidrotalsit, kalsium karbonat, Nabikarbonat)
Antasida adalah obat yang menetralkan asam lambung sehingga efektifitasnya bergantung pada
kapasitas penetralan dari antasida tersebut. Kapasitas penetralan (dalam miliequivalen) adalah
mEq HCl yang dibutuhkan untuk memepertahankan suspensi antasida pada pH 3,5 selama 10
menit secara in vitro. Peningkatan pH cairan gastric dari 1,3 ke 2,3 terjadi penetralan sebesar
90% dan peningkatan ke pH 3,3 terjadi penetralan sebesar 99% asam lambung.
Antasida ideal adalah yang memiliki kapasitas penetralan yang besar, juga memiliki durasi kerja
yang panjang dan tidak menyebabkan efek lokal maupun sistemik yang merugikan.
Antasida dapat meningkatkan pH cairan lambung sampai pH 4, dan menghambat aktifitas
proteolitik dari pepsin. Antasida tidak melapisi dinding mukosa namun memiliki efek adstringen.
Secara kimia antasida merupakan basa lemah yang bereaksi dengan asam lambung membentuk
garam dan air. Antasida juga dapat menstimulasi sintesis prostaglandin. Secara umum antasida
dapat dibagi menjadi dua golongan yaitu antasid sistemik dan non sistemik. Seluruh antasida
dapat digunakan untuk terapi tukak duodenum dan terbukti efektif untuk tukak lambung akut.
Antasida sistemik, diabsorpsi dalam usus halus sehingga dapat menyebabkan urin bersifat
alkali. Untuk keadaan pasien dengan gangguan ginjal, dapat terjadi alkalosis metabolik sehingga
saat ini penggunaannya sudah jarang. Contoh antasida sistemik adalah Natrium bikarbonat
(NaHCO3).
Antasida non sistemik, tidak diabsorpsi dalam usus sehingga tidak menimbulkan alkalosis
metabolik. Salah satunya adalah Magnesium [Mg(OH)2], Aluminium [(Al(OH)3], Kalsium
(CaCO3), Magnesium trisilikat (Mg2Si3O8nH2O), Magaldrat.
Mg(OH)2 memiliki efek netralisasi yang lebih lama dibandingkan NaHCO3 atau CaCO3,
sedangakan Magnesium trisilikat, Al(OH)3 dan Aluminium fosfat memiliki aktivitas antasid
yang lemah.
Penggunaannya bermacam-macam, selain pada tukak lambung-usus, juga pada indigesti pada
refluks oesophagitis ringan, dan pada gastritis. Obat ini dapat mengurangi rasa nyeri di lambung
dengan cepat (dalam beberapa menit). Efeknya bertahan 20-60 menit bila diminum pada perut
kosong dan sampai 3 jam bila diminum 1 jam sesudah makan. Makanan dengan daya mengikat
asam (susu) sama efektifnya terhadap nyeri.
Peninggian pH
Garam-garam magnesium dan Na-bikarbonat menaikkan pH isi lambung sampai 6-8, CaCO3
sampai pH 5-6 dan garam-garam aluminium hidroksida sampai maksimal pH 4-5.
Kehamilan dan Laktasi
Wanita hamil sering kali dihinggapi gangguan refluks dan rasa terbakar asam. Antasida dengan
aluminium hidroksida dan magnesiumhidroksida boleh diberikan selama kehamilan dan laktasi.

Senyawa magnesium dan aluminium


Keduanya dengan sifat netralisasi baik tanpa diserap usus merupakan pilihan pertama. Karena
garam magnesium bersifat mencahar, maka biasanya dikombinasi dengan senyawa aluminium
(atau kalsium karbonat) yang bersifat obstipasi (dalam perbandingan 1:5). Persenyawaan
molekuler dari Mg dan Al adalah hidrotalsit yang juga sangat efektif.
Natriumbikarbonat dan kalsiumkarbonat
Bekerja kuat dan pesat, tetapi dapat diserap usus dengan menimbulkan alkalosis. Adanya alkali
berlebihan di dalam darah dan jaringan menimbulkan gejala mual, muntah, anoreksia, nyeri
kepala, dan gangguan perilaku. Semula penggunaannya tidak dianjurkan karena terbentuknya
banyak CO2 pada reaksi dengan asam lambung, yang dikira justru mengakibatkan hipersekresi
asam lambung (rebound effect). Tetapi penelitian pada tahun 1996 tidak membenarkan perkiraan
tersebut.
Bismutsubsitrat
Dapat membentuk lapisan pelindung yang menutupi tukak, lagipula berkhasiat bakteriostatik
terhadap Helicobacter pylori. Kini banyak digunakan pada terapi eradikasi tukak, selalu bersama
dua atau tiga obat lain.
Waktu makan obat
Secara umum, keasamaan di lambung menurun segera setelah makan dan mulai naik lagi satu
jam kemudian hingga mencapai konsentrasi tinggi tiga jam sesudah makan. Oleh karena itu,
antasida harus digunakan lebih kurang satu jam sesudah makan dan sebaiknya dalam bentuk
suspensi. Telah dibuktikan bahwa tablet bekerja kurang efektif dan lebih lambat, mungkin karena
proses pengeringan selama pembuatan mengurangi daya netralisasinya.
Pada oesophagitis dan tukak lambung sebaiknya obat diminum 1 jam sesudah makan dan
sebelum tidur. Pada tukak usus 1 dan 3 jam sesudah makan dan sebelum tidur.
Penyebab kegagalan pengobatan dengan antasida dapat terjadi karena frekuensi pengobatan tidak
adekuat, dosis yang diberikan tidak cukup, pemilihan sediaan tidak tepat, dan sekresi asam
lambung sewaktu tidur tidak terkontrol.
Proton Pump Inhibitor (PPI)
Contoh : Omeprazol, lansoprazol, pantoprazol, rabeprazol dan esomeprazol.
Mekanisme kerja
Obat-obat golongan proton pump inhibitor mengurangi sekresi asam lambung dengan jalan
menghambat enzim H+, K+, ATPase (enzim ini dikenal sebagai pompa proton) secara selektif
dalam sel-sel parietal. Enzim pompa proton bekerja memecah KH ATP yang kemudian akan
menghasilkan energi yang digunakan untuk mengeluarkan asam dari kanalikuli sel parietal ke
dalam lumen lambung. Ikatan antara bentuk aktif obat dengan gugus sulfhidril dari enzim ini
yang menyebabkan terjadinya penghambatan terhadap kerja enzim. Kemudian dilanjutkan
dengan terhentinya produksi asam lambung.
Farmakologi
Dosis : 20 mg sehari, kecuali untuk pasien sindrom Zollinger-Ellison yang memerlukan 60-70
mg sehari.
Penghambatan terhadap enzim pompa proton maksimal bertahan selama 4 jam, tetapi produksi

asam lambat kembali ke jumlah normal (3-5 hari setelah pemakaian dosis tunggal). Kerjanya
panjang akibat akumulasi di sel-sel parietal. Kadar penghambatannya tergantung dosis dan pada
umumnya lebih kuat dari AH2.
Obat-obat golongan ini memiliki digunakan untuk mengobati tukak peptik dan sindrom
Zollinger-Ellison.
Farmakokinetik
Obat-obat golongan ini mempunyai masalah bioavailabilitas karena mengalami aktivitasi di
dalam lambung lalu terikat pada berbagai gugus sulfhidril mukus dan makanan. Oleh karena itu,
sebaiknya diberikan dalam bentuk tablet salut enterik.
Obat-obat golongan ini mengalami metabolisme lengkap. Tidak ditemukan dalam bentuk asal di
urin, 20% dari obat radioaktif yang ditelan ditemukan dalam tinja.
Efek Samping
Penggunaan jangka panjang dapat menimbulkan kenaikan gastrin darah dan dapat menimbulkan
tumor karsinoid pada tikus percobaan. Pada manusia belum dapat dibuktikan.
Interaksi Obat
1. Omeprazol dengan Diazepam terjadi peningkatan kadar Diazepam.
2. Omeprazol dengan Barbiturat memanjangkan waktu tidur yang merupakan efek dari
Barbiturat.
ANALOG PROSTAGLANDIN
Mekanisme kerja
Prostaglandin E2 dan I2 dihasilkan oleh mukosa lambung, menghambat seksresi HCl dan
merangsang seksresi mukus dan bikarbonat (efek sitoprotektif). Defisiensi prostaglandin diduga
terlibat dalam patogenesis ulkus peptikum.
Farmakologi dan farmakokinetik
Misoprostol yaitu analog prostaglandin E digunakan untuk mencegah ulkus lambung yang
disebabkan antiinflamasi non steroid (NSAIDs). Obat ini kurang efektif bila dibandingkan
antagonis H2 untuk pengobatan akut ulkus peptikum.
Efek samping yang sering timbul adalah diare dan mual. Selain itu, menyebabkan kontraksi
uterus dan menjadi kontraindikasi selama kehamilan.
Dosis 200 g 4x sehari atau 400 g 2x sehari
SUKRALFAT
Mekanisme kerja
Mekanisme Sukralfat atau aluminium sukrosa sulfat adalah disakarida sulfat yang digunakan
dalam penyakit ulkus peptik. Mekanisme kerjanya diperkirakan melibatkan ikatan selektif pada
jaringan ulkus yang nekrotik, dimana obat ini bekerja sebagai sawar terhadap asam, pepsin, dan
empedu. Obat ini mempunyai efek perlindungan terhadap mukosa termasuk stimulasi
prostaglandin mukosa. Selain itu, sukralfat dapat langsung mengabsorpsi garam-garam empedu,
aktivitas ini nampaknya terletak didalam seluruh kompleks molekul dan bukan hasil kerja ion
aluminium saja.
Farmakologi dan farmakokinetik
Sukralfat dapat digunakan untuk mengobati ulkus, tetapi lebih utama digunakan dalam

pencegahan stress ulserasi. Diindikasikan untuk penggunaan jangka pendek, dan lebih efektif
pada ulkus usus. Obat ini sukar diabsorpsi secara sistemik (meskipun telah didokumentasikan
adanya peningkatan kadar obat ini dalam darah pada penderita gagal ginjal). Berikatan dengan
protein bebas, dan konsentrasi sukralfat pada bagian ulkus lebih besar daripada pada jaringan
normal. Efek samping yang sering terjadi dari penggunaan obat ini yaitu konstipasi yang
disebabkan karena adanya aluminium. Sekitar 3-5% aluminium dari dosis diabsorpsi dapat
menyebabkan toksisitas aluminium pada penggunaan jangka panjang. Resiko ini meningkat pada
pasien dengan gangguan ginjal. Efek yang jarang terjadi termasuk diare, mual, kesulitan
mencerna, mulut kering, dan mengantuk.
Dosis
Dosis sukralfat adalah 2 g 2 kali sehari (pagi dan sebelum tidur malam) atau 1 g 4 kali sehari
pada waktu lambung kosong (paling kurang 1 jam sebelum makan dan sebelum tidur malam),
diberikan selama 4-6 minggu atau pada kasus yang resisten 12 minggu, maksimal 8 g sehari.
Anak-anak tidak dianjurkan mengkonsumsi obat ini. Profilaksis tukak stress (suspensi), 1 g 6
kali sehari (maksimal 8 g sehari). Saran untuk obat ini yaitu sediaan tablet dapat didispersikan
dalam 10-15 ml air. Obat ini juga diperlukan pH asam untuk diaktifkan dan sehingga tidak boleh
diberikan bersama antasid atau antagonis reseptor H2. Jika digunakan bersama antasida harus
diberikan 30 menit sebelum atau sesudah sukralfat.
Interaksi obat
Sukralfat dapat menurunkan absorpsi siprofloksasin, norfloksasin, ofloksasin, tetrasiklin,
warfarin, fenitoin, ketokonazol, glikosida jantung, dan tiroksin, simetidin, ranitidin dan teofilin.

SENYAWA BISMUT
Mekanisme kerja
Senyawa bismut juga bekerja secara selektif berikatan dengan ulkus, melapisi dan melindungi
ulkus dari asam dan pepsin. Postulat lain mengenai mekanisme kerjanya termasuk penghambatan
aktivitas pepsin, merangsang produksi mukosa, dan meningkatkan sintesis prostaglandin. Obat
ini mungkin juga mempunyai beberapa aktivitas antimikroba terhadap H pylori. Bila
dikombinasi dengan antibiotik seperti metronidazol dan tetrasiklin, kecepatan penyembuhan
ulkus mencapai 98%. Biaya dan potensi toksisitas dari regimen ini dapat membatasi
penggunanya pada ulkus yang serius atau pada penderita yang sering kambuh. Garam bismut
tidak menghambat ataupun menetralisasi asam.
Farmakologi dan farmakokinetik
Bismut subsalisilat (Pepto-Bismol) telah digunakan dalam uji di AS. Ketidaknormalan ginjal
dapat menurunkan eliminasi bismut, sehingga perlu perhatian penggunaannya pada pasien lanjut
usia dan gagal ginjal. Bismut subsalisilat dapat menyebabkan sensitif terhadap salisilat dan
perdarahan, dan perlu perhatian juga pada pasien yang menerima terapi dengan salisilat. Pasien
harus diberitahu bahwa garam bismut dapat menyebabkan warna hitam pada tinja dan lidah (jika
menggunakan sediaan cair). Trikalium disitratobismutat telah diuji secara luas di Eropa dan
memperlihatkan proses penyembuhan ulkus lambung dan ulkus duodenum lebih baik dari
plasebo. Trikalium disitratobismutat memilki masa tinggal lebih panjang jika dinbanding dengan
antagonis reseptor H2, tetapi masih terjadi kambuh dan sekarang telah dikembangkan aturan
pakai regimen yang melibatkan antibiotika. Meskipun kandungan bismutnya rendah, tetapi telah

dilaporkan terjadinya absorpsi. Efek sampingnya yaitu dapat membuat lidah berwarna gelap dan
wajah kehitaman, mual dan muntah, dan belum ada laporan tentang terjadinya ensefalopati pada
pemakaian jangka panjang senyawa bismut lain. Sediaan tablet sama efektifnya dengan sediaan
cair dan lebih enak.
Dosis
Regimen dosis bismut dengan kombinasi 3 obat lain digunakan dalam lini pertama pengobatan
ulkus karena H pylori. Regimen ini terdiri dari antagonis reseptor H2 (omeprazole 40 mg 2 kali
sehari), bismuth subsalisilat 525 mg 4 kali sehari, metronidazol 250-500 mg 4 kali sehari, dan
tetrasiklin 400 mg 4 kali sehari (atau amoksisilin 500 mg 4 kali sehari atau klaritromisin 250-500
mg 4 kali sehari). Jangka waktu pemakaian regimen dosis ini yaitu 14 hari.
Interaksi obat
Trikalium disitratobismutat dapat menurunkan absorpsi tetrasiklin.