Anda di halaman 1dari 50

Tugas individu DOSEN PEMBIMBING

Defrioza, S Hut, MSi

TUGAS

PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP

OLEH:

RIA RAFIANTI

80700

JURUSAN PENDIDIKAN GEOGRAFI

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS RIAU

PEKANBARU

2009
PERBURUAN RAJA ASHOKA
(252 SM)

Di Asia Timur, konservasi sumberdaya alam hayati (KSDAH) dimulai


saat Raja Asoka (252 SM) memerintah, dimana pada saat itu diumumkan
bahwa perlu dilakukan perlindungan terhadap binatang liar, ikan dan hutan.
Raja Asoka melakukan konservasi untuk kegiatan pengawetan.
Raja Asoka dari dinasti Maurya yang berkuasa di India dari tahun 273
SM hingga 232 SM adalah seorang raja beragama Buddha yang menguasai
sebagian besar anak benua India. Setelah mengenal ajaran Buddha, Raja
Asoka mengalami transformasi diri luar biasa dan bersemangat hidup dalam
Dhamma. Dari seorang raja yang dijuluki sebagai Canda Asoka, yang
menunjukkan bahwa ia adalah pembunuh yang tak kenal kasih, kemudian
berubah menjadi Dhammasoka yang berarti Asoka penganut Dhamma atau
Asoka yang saleh. Selama kepemimpinannya, Raja Asoka menyebarluaskan
ajaran Buddha dengan dibantu oleh putranya yang bernama Mahinda dan
putrinya yang bernama Sanghamitta. Kedua putra-putrinya ini menjadi
anggota Sangha dan berkelana memperkenalkan ajaran Buddha ke seluruh
pelosok India hingga ke Srilanka, Mesir dan Yunani. Semangat hidup dalam
Dhamma merupakan suatu sikap antusias yang mengarah ke arah yang positif
dan bijaksana dalam mejalankan ajaran Buddha dalam keseharian kita serta
mengakar sedemikian rupa dalam diri kita. Dengan mengakar akan menjadikan
kita sebagai ‘lonceng kesadaran’ bagi pihak lain. Setiap orang adalah “Lonceng
Kesadaran’ yang memanggil-manggil kita untuk kembali pada latihan jalan
berkesadaran. Layaknya bel di Sekolah sebagai alat pengingat waktu
pergantian aktivitas yang dilakukan. Tidak mustahil jikalau transformasi diri
akan kita peroleh bahkan transformasi sosial dan lingkungan hidup pun
terjadi, apabila kita menyentuhnya lebih mendalam.
Transformasi diri merupakan perubahan yang terjadi dalam diri
seseorang yang telah berhenti ‘berlari’ dari masa lalu maupun masa yang akan
datang dan berusaha untuk hadir dalam kekinian serta berusaha belajar,
berlatih untuk menyentuh ajaran Buddha, memeluknya secara langsung dan
melihatnya secara mendalam, dengan mengolah energi kedamaian, kesolidan,
dan suka cita yang positif, energi-energi itu akan tahu bagaimana menangani
energi negatif dalam dirinya.
Sedangkan transformasi sosial dan lingkungan merupakan dampak
positif yang timbul baik secara langsung maupun secara tidak langsung dari
perubahan diri seseorang yang telah menyentuh dan memeluk ajaran Buddha
secara mendalam dan menjadikan dirinya sebagai ‘lonceng kesadaran’ serta
berbagi hasil bagi pihak di luar diri/sekelilingnya.
Tidak hanya Raja Asoka saja yang dapat merasakan semangat hidup
dalam Dhamma serta berbagi hasil untuk para rakyat, binatang serta
lingkungannya, kita juga akan dapat melakukan hal itu. Walau telah berlalu
lebih dari 2000 tahun keruntuhan masa kejayaan Raja Asoka, bukanlah
menjadi persoalan. Itu hanya permainan waktu saja, layaknya roda yang selalu
berputar. Begitu juga dengan kehidupan sekarang, walaupun sudah menginjak
abad ke 21 tidak jauh berbeda dengan keadaan abad-abad yang lalu. Bahkan
kehidupan sekarang lebih memperihatinkan. Sebagai seorang Buddhis, sudah
saatnya kita berbagi sesuatu yang berbeda melalui belajar, berlatih, dan
berbagi hidup berkesadaran yang berlandaskan perhatian murni, serta
semangat hidup dalam dhamma yang membawa terjadinya transformasi diri,
transformasi sosial, dan pelestarian lingkungan hidup.
CONSERVATION INTERNATIONAL
(1987)
Conservation International (CI) adalah sebuah organisasi nirlaba
yang berkantor pusat di Washington, DC area metropolitan, yang berusaha
untuk melindungi bumi keanekaragaman hayati “hotspot”, keanekaragaman
hayati tinggi area hutan belantara serta daerah laut penting diseluruh dunia.
CI didirikan pada tahun 1987 oleh Spencer Beebe dan kini mempunyai staf
yang jumlahnya lebih dari 900 karyawan. Tujuan CI : untuk melestarikan bumi
yang masih hidup warisan alam, keanekaragaman hayati global kami, dan untuk
menunjukkan bahwa manusia dapat hidup secara harmonis dengan alam.
Proyek dan keberhasilan
Pada Desember 2005, sebagai bagian dari Program Penilaian Cepat
(Rapid Assessment Program -RAP), para ilmuwan dari Conservation
International melakukan survai di daerah Pegunungan Foja di Papua Barat,
Indonesia. Mereka menemukan 20 spesies katak yang sebelumnya tidak
dikenal, empat kupu-kupu yang baru, lima palma dan satu spesies baru burung
pemakan madu. Para peneliti juga menemukan kanguru pohon berbulu emas —
sebuah spesies yang tak pernah diketahui hidup di Indonesia, dan diburu di
tempat lain hingga hampir punah — dan mengambil foto-foto pertama dari
Berlepsch's six-wired bird of paradise. Wilayah ini begitu terisolir sehingga
banyak binatang yang mereka temukan tidak takut kepada manusia. Temuan-
temuan Conservation International dilaporkan secara luas di seluruh dunia
pada Februari 2006 termasuk dalam Nightline, sebuah cara televisi di stasiun
TV ABC, NBC Nightly News, dan New York Times.
Penemuan spesies baru
17 September: Ketika menjelajahi wilayah perairan di Provinsi Papua
Barat, Indonesia (yang dikenal sebagai Daerah Kepala Burung atau Segi Tiga
Karang Asia), para ilmuwan melaporkan temukannya 52 spesies baru
(termasuk 24 jenis ikan baru). Di antara temuan ini, mereka juga menemukan
(dan memotret) ikan hiu yang hidup di dasar samudra dan berjalan dengan
siripnya serta udang yang mirip dengan belalang sentadu.
Defying Nature’s End : The Afrika konteks
Selama 20-24 Juni 2006, CI mengadakan symposium besar
dimadagaskar, salah satu planet yang paling penting hotspot keanekaragaman
hayati, berjudul “Defying Nature’s End: The Afrika Konteks”, ditujukan untuk
membantu Negara-negara Afrika makmur dengan melindungi habitat alami
mereka dan membawa bersama-sama international yang lebih dari450 wakil-
wakil dari pemerintah, sector swasta, organisasi non-pemerintah dan
masyarakat Afrika local.
Simposium ini menghasilkan dokumen akhir yang disebut “Deklarasi
madagaskar”, yang CI’s Olivier Langrnd dibacakan pada upacara.
KONPRENSI LAUT DIMANADO
(2009)
Konprensi laut dimanado digelar pada 11-15 Mei 2009. Kesepakatan-
kesepakatan dalam forum WOC rencanya dituangkan dalam manado Ocean
Declaration yang berisi komitmen politik dari perwakilan pemerintah dalam
menempatkan nilai strategia laut terhadap pemanasan global.
Deklarasi manado bertujuan untuk meningkatkan pemahaman mengenai
perubahan iklim dan pengaruhnya bagi kesejahteraan social dan ekonomi
masyarakat pesisir serta kondisi lingkungan laut dan wilayah pesisir, peran
laut dalam menyikapi fenomena perubahan iklim dan langkah-langkah adaptasi
dan mitigasi untuk menghadapi perubahan iklim itu sendiri.
Pelaksanaan Konferensi Laut Dunia (WOC) di Manado dari 11 – 15 Mei
2009. World Ocean Conference atau Konferensi Kelautan Sedunia (KKS)
telah selesai digelar di Manado, Sulawesi Utara, beberapa bulan lalu. Pada
konferensi kelautan pertama di dunia yang diselenggarakan 11-15 Mei 2009,
Indonesia menjadi tuan rumah. Konferensi yang dihadiri 73 negara dan 11
lembaga internasional ini menekankan pentingnya memperhatikan laut dalam
konteks perubahan iklim yang menjadi momok dunia dewasa ini. Jika
Konferensi Perubahan Iklim di Bali Desember 2007 lebih memfokuskan pada
isu yg sifatnya kedaratan (seperti industrialisasi, gaya hidup dan peran
penting hutan), KKS 2009 ini semakin menyadarkan kita tentang pentingnya
laut dalam isu perubahan iklim.
Negara yang mengadopsi deklarasi itu antara lain Indonesia, Filipina,
Thailand, Malaysia, Somalia, Suriname, Pakistan, Grenada, Amerika Serikat,
Republik Korea, Perancis, India, China, Kamboja, Angola, Filipina, dan Namibia.
Ketua Pertemuan Pejabat Tinggi (Senior Official Meeting/SOM) WOC
Eddy Pratomo mengatakan, kesepakatan dalam deklarasi ini selanjutnya
diharapkan bisa memengaruhi pembahasan global mengenai perubahan iklim,
dan menjadikan dimensi laut sebagai arus utama di dalamnya.
Deklarasi Kelautan Manado terdiri atas 14 paragraf pembuka inti dan 21
poin kesepakatan operatif. Isi deklarasi antara lain berupa komitmen negara-
negara peserta untuk melakukan konservasi laut jangka panjang, menerapkan
manajemen pengelolaan sumber daya laut dan daerah pantai dengan
pendekatan ekosistem, serta memperkuat kemitraan global untuk
pembangunan berwawasan lingkungan. Mereka juga menyepakati perlunya
strategi nasional untuk pengelolaan ekosistem laut dan kawasan pantai serta
penerapan pengelolaan laut dan daerah pantai secara terpadu. Kesepakatan
untuk bekerja sama dalam riset kelautan serta pertukaran informasi terkait
hubungan perubahan iklim dan laut juga masuk dalam deklarasi yang dibahas
sejak 11 Mei hingga 14 Mei itu.
Deklarasi juga menekankan kebutuhan dukungan finansial dan insentif
untuk membantu negara-negara berkembang mewujudkan lingkungan yang baik
bagi komunitas yang paling rentan terkena dampak perubahan iklim, serta
mengundang negara-negara dalam UNFCCC untuk mempertimbangkan dan
memasukkan proposal proyek adaptasi perubahan iklim di laut ke dalam
Adaptation Fund Board.
Pertukaran teknologi untuk pengurangan dampak perubahan iklim
terhadap laut dan sebaliknya juga ditekankan, tetapi belum ada penjelasan
mengenai mekanisme transfer teknologi yang dimaksud. Mereka yang
menyepakati deklarasi juga menyatakan akan melanjutkan kerja sama pada
tingkat nasional dan regional, serta selanjutnya membangun area perlindungan
laut. Mereka juga mendorong upaya Sekretaris Jenderal PBB untuk
memfasilitasi kerja sama dan koordinasi terkait masalah ini dalam sistem
PBB, serta mengharapkan hasil efektif dari pertemuan para pihak
(Conference of Parties/COP) UNFCCC ke-15 di Kopenhagen, Denmark, pada
Desember mendatang.
KTT PERUBAHAN IKLIM DI BALI
(2007)

KTT perubahan iklim berlangsung di Bali kawasan Nusa Dua, selama 3-


14 Desember 2007. Konferensi Perubahan Iklim PBB 2007 diselenggarakan
di Bali International Convention Center (BICC), Hotel The Westin Resort,
Nusa Dua, Bali, Indonesia mulai tanggal 3 Desember-14 Desember 2007
untuk membahas dampak pemanasan global. Pertemuan ini merupakan
pertemuan lanjutan untuk mendiskusikan persiapan negara-negara di dunia
untuk mengurangi efek gas rumah kaca setelah Protokol Kyoto kadaluwarsa
pada tahun 2012.

Konferensi yang diadakan oleh badan PBB United Nations Framework


Convention on Climate Change (UNFCC) ini merupakan kali ke-13 dan diikuti
oleh sekitar sembilan ribu peserta dari 186 negara. Selain itu ada sekitar tiga
ratus LSM internasional yang terlibat. Konferensi internasional ini diliput
oleh lebih dari tiga ratus media internasional dengan jumlah wartawan lebih
dari seribu orang.

Konferensi ini digelar sebagai upaya lanjutan untuk menemukan solusi


pengurangan efek gas rumah kaca yang menyebabkan pemanasan global. Selain
itu, pembicaraan juga akan membahas mengenai cara membantu negara-
negara miskin dalam mengatasi pemanasan dunia.

Konferensi kali ini mendapat tekanan untuk segera dapat mencari


persetujuan global baru untuk memotong tingkat gas rumah kaca yang terus
bertambah. Saat ini dari negara-negara maju emiten karbon utama dunia yang
menolak menjadi bagian dari Protokol Kyoto, hanya Australia dan Amerika
Serikat yang menolak menandatangani Protokol Kyoto, namun dalam
konferensi kali ini, delegasi Australia di bawah kepemimpinan Perdana
Menteri yang baru, Kevin Rudd, berjanji untuk meratifikasi Protokol Kyoto,
yang akan menjadikan Amerika Serikat sebagai negara maju tunggal yang
menolak ratifikasi tersebut.

Dalam diskusi konferensi, ada dua pihak yang menentukan yakni


penghasil emisi dan penyerap emisi. Permasalahan yang sedang ditengahi
adalah memberi nilai pada karbon. Selama ini pembangkit listrik tenaga batu
bara dinilai lebih murah dibanding pembangkit listrik tenaga geothermal,
karena karbon yang dihasilkan oleh pembangkit listrik tenaga batu bara tidak
dihitung sebagai biaya yang harus ditanggung. Sementara untuk para pemilik
lahan (hutan) yang menjadi penyerap karbon akibatnya harus bertanggung
jawab terhadap keberlangsungan lahannya. Maka diperlukan pendapatan bagi
pemilik lahan untuk memelihara lahannya. Pemilik lahan biasanya negara-
negara berkembang, sedangkan penghasil karbon adalah negara-negara
industri maju. Jadi negara-negara berkembang bisa memelihara hutannya
dengan kompensasi dari negara-negara maju, sehingga semua pihak
bertanggung jawab untuk pengelolaan karbon di bumi. Inilah logika berpikir di
belakang kebijakan REDD, reforestation dan CDM.

Konferensi Bali ini merupakan:

• Sesi ketiga belas Konferensi Para Pihak/KPP-12 (bahasa Inggris:


Conference of Party/COP) dan agendanya
• Sesi ketiga Conference of the Parties serving as the meeting of the
Parties to the Kyoto Protocol/CMP-3 dan agendanya
• Sesi keduapuluh tujuh Subsidiary Body for Scientific and
Technological Advice/SBSTA-27
• Sesi keduapuluh tujuh Subsidiary BOdy for Implementation/SBI-27
• Sesi keempat lanjutan Ad Hoc Working Group on Further
Commitments for Annex I Parties under the Kyoto Protocol/AWG-4

Sehubungan dengan konferensi ini, berbagai LSM di seluruh dunia akan


menggelar aksi demonstrasi serentak pada 8 Desember 2007. Aksi ini
menggunakan semboyan "Kyoto Now!". Diperkirakan ratusan ribu orang dari
60 negara (dan terus bertambah) akan turun ke jalan menuntut para
pemimpin dunia agar mengambil tindakan segera dan pasti yang diperlukan
untuk mencegah bencana besar kekacauan iklim.[2]

• Di Bali, Global Day Action pada Sabtu (8 Desember) dibuka di Gedung


Wantilan DPRD Bali, ribuan peserta aksi bergerak mengelilingi
Lapangan Puputan Margarana yang berada di pusat pemerintahan
Propinsi Bali. Ribuan massa tersebut merupakan organisasi atau aliansi
dari Walhi, Friends of Earth, Greenpeace, Gerak Lawan, Solidaritas
Perempuan, Republik Mimpi, Kelompok Penyandang Cacat.
• Tema yang diteriakan, seperti penolakan terhadap REDD, isu Climate
Justice diteriakkan oleh Walhi dan Friends of The Earth. Tema lain
yang diusung adalah keadilan iklim dengan melibatkan perempuan,
penolakan utang, sejahterakan petani nelayan, singkirkan kapitalisme
dan anti globalisasi dunia serta persamaan gender. Tuntutan untuk
memperoleh rasa keadilan dan hak dasar hidup juga diteriakkan oleh
para korban lumpur lapindo yang turut ikut dalam global action day.
GAME MANAGEMENT ALDO LEOPOLD

Game Management Aldo Leopold dikemukakan oleh aldo leopod dan di


seorang Bapa of Wildlife Management 1887-1948. Aldo Leopold dilahirkan di
Burlington, Iowa, pada 11 Januari 1887, putra dari produsen terkemuka
berkualitas terbaik kenari meja dan cucu dari Jerman berpendidikan arsitek
lansekap. Menuruni tebing dan melintasi rel kereta api adalah sungai besar,
berpindah jalur untuk seperempat dari bebek dan angsa dari benua. Itu
bottomlands adalah satwa liar sepanjang tahun wonderland bagi anak laki-laki
yang sedang tumbuh.

"Aldo banyak membaca sebagai seorang anak laki-laki, ia lebih suka


yang buku-buku tentang pengetahuan kayu. Bahkan kemudian ia menjadi
pandai membaca tanda-tanda, tahu apa yang binatang sedang makan, apa yang
telah mengejar mereka, siapa yang makan siapa. Dia sepertinya telah
mendapatkan cintanya dari luar dari Ayah. "

Pada pagi jatuh gelap Aldo muda dan ayahnya memakai sepatu bot
pinggul oleh lampu gas, kemudian mengelompok menuruni bukit ke stasiun
kereta api untuk suatu breakfast of pork
and beans and a baked apple. sarapan
daging babi dan kacang-kacangan dan apel
panggang. Kereta membawa mereka
menyeberangi Mississippi ke rawa di mana,
berjongkok di sebuah rumah tikus kesturi,
mereka menunggu siulan suara bebek. Di
luar musim, mereka akan menjelajahi rawa, menemukan bulu sarang dan
menemukan apa yang bulu telah makan. Jauh sebelum undang-undang federal
melarang berburu selama musim bersarang, ayah Aldo menyimpulkan bahwa
itu salah untuk melakukannya dan mengakhiri penembakan di musim dingin, di
sportif pelajaran tidak hilang pada anaknya.

Selama tahun-tahun sekolah di Burlington, di Lawrenceville Prep di


New Jersey, dan pada Yale University, Leopold mempertahankan minat yang
marak dalam bidang ilmu burung (studi burung) dan sejarah alam. He
recorded his observations in a journal, which became a lifelong practice. Ia
mencatat pengamatannya dalam sebuah jurnal, yang menjadi praktek seumur
hidup.

Ketika ia lulus dari Yale dengan gelar Master Kehutanan pada bulan
Juni 1909, ia bergabung dengan Amerika Serikat yang baru dibentuk Dinas
Kehutanan dan dikirim ke Arizona dan New Mexico wilayah. Experience and
promotions came fast in those days, and by 1912 Leopold was supervisor of
the Carson National Forest in northern New Mexico. Pengalaman dan promosi
datang cepat di hari-hari, dan pada 1912 Leopold adalah pengawas Carson
National Forest di utara New Mexico.

Badai tertangkap Leopold di pedalaman, dan akut nephritis, suatu


penyakit ginjal, mengakhiri hari-harinya sebagai hutan pedalaman dan hampir
mengambil hidupnya. Sick for more that a year, he recuperated at home in
Burlington. Sakit selama lebih dari setahun, ia sembuh di rumah di Burlington.

Aldo Leopold returned to New Mexico and the Forest Service. Aldo
Leopold kembali ke New Mexico dan Dinas Kehutanan. In 1915, he was
assigned to game and fish work in the Service's Southwest District. Pada
tahun 1915, ia ditugaskan untuk permainan dan ikan bekerja di Kabupaten
Southwest Service. Several years earlier, the Forest Service had entered an
agreement with the states through which forest rangers were deputized as
state game wardens. Beberapa tahun sebelumnya, Dinas Kehutanan telah
memasuki perjanjian dengan negara-negara di mana jagawana yang ditugasi
sebagai pengawas hutan negara. Up to the time Leopold arrived, not a single
arrest had been made. Hingga saat Leopold tiba, tidak ada satu penangkapan
telah dibuat. He immediately prepared a "Game and Fish Handbook," defining
the duties and powers of forest officers in cooperative game work and began
stumping the region to organize game protection groups and promote strict
enforcement of game laws, creation of game refuges, and restocking of
depleted lands and waters. Dia segera menyiapkan sebuah "permainan dan
Ikan Handbook," mendefinisikan tugas dan wewenang petugas hutan dalam
permainan kooperatif bekerja dan mulai stumping daerah untuk mengatur
perlindungan permainan kelompok dan mempromosikan permainan ketat
penegakan hukum, menciptakan permainan tempat perlindungan, dan
Restocking dari habis tanah dan air.

Sebelum meninggalkan Southwest untuk pekerjaan dengan


Laboratorium Produk Kehutanan Amerika Serikat di Madison, Leopold punya
ide. Untuk beberapa waktu ia telah mendesak Dinas Kehutanan untuk
menyisihkan roadless wilayah sebagai padang gurun. Dia tidak ingin melihat
daerah dibagi untuk rekreasi "perbaikan" (homesites, campgrounds publik,
swasta dan komersial leasing). Pada tahun 1924, Dinas Kehutanan menerima
rekomendasi dan ditetapkan sebagai wilayah Gila di New Mexico sebagai
daerah padang gurun - 40 tahun sebelum Wilderness Act.

Dia ingin bekerja di satwa liar dan konservasi. Dengan pendanaan dari
Sporting Senjata dan amunisi Produsen Institute, ia mulai melakukan survei
satwa liar Tengah Utara Serikat.

Survei dan kerja terkait termasuk penerbitan bukunya Manajemen


Permainan Leopold didirikan sebagai salah satu negara yang berwenang di
permainan asli binatang. Leopold dianggap sebagai "bapak" dari profesi
pengelolaan satwa liar di Amerika. University of Wisconsin begitu terkesan
oleh Leopold yang ditetapkan baginya dalam permainan posisi manajemen pada
tahun 1933. Ia menjadi guru yang berdedikasi. S Leopold tujuan dalam ekologi
satwa liar populer tentu saja adalah "untuk mengajar siswa untuk melihat
tanah, untuk memahami apa yang ia lihat, dan menikmati apa yang ia mengerti.
Leopold s di kelas, latihan mungkin lanskap sederhana teka-teki yang
memerlukan pemahaman penuh interaksi di antara tanaman, hewan, tanah,
penggunaan lahan, dan perubahan musiman. Sebuah mungkin ujian akhir, "Pilih
satu tanaman atau hewan yang Anda lihat di kampus hari ini dan
mendiskusikan perannya dalam sejarah Wisconsin."

Selama bertahun-tahun Aldo telah mencari tanah dekat Madison untuk


digunakan sebagai retret akhir pekan. Pada tikungan Sungai Wisconsin, ia
menemukan sebuah peternakan ditinggalkan dengan rawa, sebuah "kornet-
out" lapangan, dan telanjang melayang bukit pasir. Satu-satunya struktur
berdiri kandang ayam, lantainya jauh di dalam pupuk. Leopold bought it and
slowly began restoring the land. Leopold membelinya dan perlahan-lahan mulai
memulihkan tanah.

Leopold percaya bahwa masa depan Amerika terletak sebagian besar


satwa liar di tanah pribadi, dalam sikap dan keputusan-bijaksana atau tidak-
petani Amerika dan tuan tanah.

Pada tanggal 24 April 1948, Aldo Leopold meninggal karena serangan


jantung sambil membantu melawan rumput tetangga api yang mengancam
daerah pasir peternakan. Satu minggu sebelumnya, Oxford Press telah
menelepon untuk memberitahu kepadanya bahwa mereka telah menerima buku
esai yang dia telah mencari penerbit sejak awal 1941. Itu diterbitkan pada
tahun 1949 sebagai A Sand County Almanac. Buku mewakili potongan seumur
hidup observasi dan refleksi pada hubungan antar-ekologi, dan etika.

Adapun Leopold's gubuk, itu masih berdiri di daerah pasir di sepanjang


Sungai Wisconsin. Ini berfungsi sebagai sumber inspirasi, simbol
kesederhanaan hidup, serta pentingnya bekerja untuk memahami tanah.
REDUCE EMISION FROM DEFORESTATION AND DEGRADATION

REDD singkatan untuk Pengurangan Emisi dari Deforestasi dan Degradasi


Hutan (REDD) [1]. REDD mechanisms use market/financial incentives to
reduce the emission of greenhouse gases from deforestation and forest
degradation . Menggunakan mekanisme REDD pasar / insentif keuangan untuk
mengurangi emisi gas rumah kaca dari deforestasi dan degradasi hutan. While
initially excluded from the land use, land-use change and forestry sector
within the UNFCCC Clean Development Mechanism [ 2 ] it is suspected to be
part of the successor to the Kyoto Protocol [ 3 ] . Meskipun awalnya
dikeluarkan dari penggunaan lahan, perubahan penggunaan lahan dan
kehutanan sektor dalam UNFCCC Mekanisme Pembangunan Bersih [2] itu
diduga menjadi bagian dari penerus Protokol Kyoto [3]. REDD credits offer the
opportunity to utilise funding from developed countries to reduce
deforestation in developing countries. Kredit REDD menawarkan kesempatan
untuk memanfaatkan dana dari negara-negara maju untuk mengurangi
deforestasi di negara berkembang.

Considering that approximately 17% of greenhouse gas emissions originate


from deforestation and forest degradation, it is increasingly accepted that
mitigation of climate change will not be achieved without the inclusion of
forests in an international regime. Menimbang bahwa sekitar 17% dari emisi
gas rumah kaca berasal dari deforestasi dan degradasi hutan, semakin
menerima bahwa mitigasi perubahan iklim tidak akan tercapai tanpa
dimasukkannya hutan dalam rezim internasional.

Pada 2007 Bali UNFCCC pertemuan pada tahun 2007, sebuah kesepakatan
dicapai pada "kebutuhan mendesak untuk mengambil tindakan yang berarti
lebih lanjut untuk mengurangi emisi dari deforestasi dan degradasi hutan".
The deadline for reaching an agreement on the specifics of an international
REDD mechanism, at least as regards to it being implemented in the short
and medium term [ 4 ] , is the 15th Conference of the Parties to the UNFCCC
(COP-15) which will be held in Copenhagen in December 2009. Batas waktu
untuk mencapai kesepakatan mengenai spesifikasi mekanisme REDD
internasional, setidaknya sebagai salam untuk itu dilaksanakan dalam jangka
pendek dan jangka menengah [4], adalah ke-15 Konferensi Para Pihak untuk
UNFCCC (COP-15) yang akan akan diselenggarakan di Kopenhagen pada
Desember 2009.
Kegiatan REDD nasional atau dilakukan oleh pemerintah daerah, LSM, sektor
swasta, atau kombinasi dari semuanya. A number of NGOs, development
agencies, research institutes and international organizations support
developing countries that wish to engage in REDD activities. Sejumlah LSM,
lembaga pengembangan, lembaga penelitian dan organisasi internasional
mendukung negara-negara berkembang yang ingin terlibat dalam kegiatan
REDD. The World Bank's Forest Carbon Partnership Facility [6] , the UN-
REDD Programme , Norway 's International Climate and Forests Initiative
[7] are such examples. The World Bank's Forest Carbon Partnership Facility
[6], yang UN-REDD Programme, Norwegia 's Internasional Inisiatif Iklim dan
Hutan [7] adalah contoh-contoh tersebut. The genuine actors of REDD,
however, will be the populations whose livelihoods derive from forests. Aktor
asli dari REDD, bagaimanapun, akan menjadi mata pencaharian penduduk yang
berasal dari hutan. Indigenous Peoples and forest-dependent communities
will be the front liners of REDD, and the success of REDD activities will
largely depend on their engagment. Masyarakat Adat dan masyarakat yang
bergantung pada hutan akan menjadi garis depan dari REDD, dan keberhasilan
kegiatan REDD akan sangat tergantung pada engagment mereka.

Masalah

• The availability of a large supply of potentially cheap carbon credits


could provide an avenue for companies in the developed world to
simply purchase REDD credits without providing meaningful emission
reductions at home. [ 8 ] Ketersediaan pasokan besar murah kredit
karbon potensial dapat menyediakan sebuah jalan bagi perusahaan-
perusahaan di negara maju untuk REDD hanya membeli kredit tanpa
memberikan pengurangan emisi yang berarti di rumah. [8]

• Large number of carbon credits could swamp developing carbon


markets...but could also facilitate ambitious emissions targets in a
post-Kyoto agreement. Jumlah besar kredit karbon rawa dapat
mengembangkan pasar karbon ... tapi bisa juga memfasilitasi target
emisi ambisius dalam kesepakatan pasca-Kyoto.

• Putting a commercial value on forests neglects the spiritual value they


hold for Indigenous Peoples and local communities. Menempatkan nilai
komersial pada hutan mengabaikan nilai spiritual yang mereka pegang
untuk Masyarakat Adat dan masyarakat setempat.

• There is no consensus on a definition for forest degradation. Tidak


ada konsensus mengenai definisi degradasi hutan.

• Fair distribution of REDD benefits will not be achieved without a


prior reform in forest governance and more secure tenure systems in
many countries. [ 9 ] Adil distribusi manfaat dari REDD tidak akan
dicapai tanpa reformasi sebelumnya di kelola hutan dan sistem
kepemilikan yang lebih aman di banyak negara. [9]
REDD-plus

The Bali Action Plan calls for: The Bali Action Plan panggilan untuk:

Policy approaches and positive incentives on issues relating to reducing


emissions from deforestation and forest degradation in developing countries;
and the role of conservation, sustainable management of forests and
enhancement of forest carbon stocks in developing countries Pendekatan
kebijakan dan insentif positif pada isu-isu yang berkaitan dengan
pengurangan emisi dari deforestasi dan degradasi hutan di negara
berkembang dan peran konservasi, pengelolaan hutan secara lestari dan
peningkatan cadangan karbon hutan di negara-negara berkembang

Para Konvensi Kerangka Kerja PBB mengenai Perubahan Iklim (UNFCCC)


agenda pada "Mengurangi emisi dari deforestasi di negara berkembang dan
pendekatan untuk merangsang aksi" pertama kali diperkenalkan pada
Konferensi Para Pihak (COP11) pada bulan Desember 2005 oleh pemerintah
Papua New Guinea dan Kosta Rika, didukung oleh delapan Pihak lain. The
challenge was to establish a functioning international REDD finance
mechanism that can be included in an agreed post-2012 global climate change
framework. Tantangannya adalah untuk mendirikan REDD internasional yang
berfungsi mekanisme keuangan yang dapat dimasukkan dalam pos yang
disepakati tahun 2012 kerangka perubahan iklim global. Progress has been
made and the need to meet the challenge is now reflected in the Bali Action
Plan and the COP13 Decision 2/CP.13. Kemajuan telah dicapai dan kebutuhan
untuk memenuhi tantangan sekarang tercermin dalam Rencana Aksi Bali dan
2/CP.13 Keputusan COP13. A functioning international REDD finance
mechanism needs to be able to provide the appropriate revenue streams to
the right people at the right time to make it worthwhile for them to change
their forest resource use behaviour. REDD internasional yang berfungsi
mekanisme keuangan harus mampu memberikan aliran pendapatan yang sesuai
untuk orang yang tepat pada saat yang tepat untuk membuatnya berharga
bagi mereka untuk mengubah perilaku penggunaan sumber daya hutan.

In response to the COP13 decision, requests from countries, and


encouragement from donors, FAO, UNDP and UNEP have developed a
collaborative REDD programme. Sebagai tanggapan terhadap keputusan
COP13, permintaan dari negara-negara, dan dorongan dari para donor, FAO,
UNDP dan UNEP telah mengembangkan program REDD yang kolaboratif. The
UN-REDD Programme is aimed at tipping the economic balance in favour of
sustainable management of forests so that their formidable economic,
environmental and social goods and services benefit countries, communities
and forest users while also contributing to important reductions in
greenhouse gas emissions. UN-REDD Program ini bertujuan untuk memberi
tip keseimbangan ekonomi yang mendukung pengelolaan hutan berkelanjutan
sehingga berat ekonomi, lingkungan dan sosial manfaat barang dan jasa
negara, masyarakat dan pengguna hutan serta berkontribusi terhadap
pentingnya pengurangan emisi gas rumah kaca. The aim is to generate the
requisite transfer flow of resources to significantly reduce global emissions
from deforestation and forest degradation. Tujuannya adalah untuk
menghasilkan aliran transfer yang diperlukan sumber daya untuk mengurangi
emisi global dari deforestasi dan degradasi hutan. The immediate goal is to
assess whether carefully structured payment structures and capacity
support can create the incentives to ensure actual, lasting, achievable,
reliable and measurable emission reductions while maintaining and improving
the other ecosystem services forests provide. Tujuan langsung adalah untuk
menilai apakah pembayaran terstruktur dengan hati-hati struktur dan
dukungan kapasitas dapat menciptakan insentif untuk memastikan
sebenarnya, yang berlangsung, dapat dicapai, dapat diandalkan dan terukur
pengurangan emisi dengan tetap menjaga dan meningkatkan layanan ekosistem
hutan lainnya sediakan.

The UN-REDD Programme Fund is administered by the Multi-Donor Trust


Fund (MDTF) Office of the United Nations Development Programme (UNDP)
in accordance with its financial regulations and rules. UN-REDD Program
Dana ini dikelola oleh Multi Donor Trust Fund (MDTF) Kantor dari United
Nations Development Programme (UNDP) sesuai dengan peraturan dan aturan
keuangan.
CLEAN DEVELOPMENT MECHANISM

CDM adalah salah satu sumber pendanaan luarnegri yang dapat diarahkan
untuk mendukung program rehabilitasi dan konservasi. CDM merupakan
mekanisme dibawah Kyoto Protocol. Yang dimaksudkan untuk:
- Membantu Negara maju/industry memenuhi sebagian kewajibannya
menurunkan emisi GHGs
- Menbantu Negara berkembang dalam upaya menuju pembangunan
berkelanjutan dan kontribusi terhadap pencapaian tujuan konvensi
perubahan iklim
CDM merupakan satu-satunya mekanisme dibawah Kyoto Protocol yang
menawarkan Win-win solution antara Negara maju dan Negara berkembang
dalam rangka mengurangi emisi gas rumah kaca (GHGs), dimana Negara maju
menanamkan modalnya dinegara berkembang dalam proyek-proyek yang dapat
menghasilkan penguragan gas emisi GHGs, dengan imbalan CER.
Mekanisme Pembangunan Bersih Instrumen Merupakan salah satu yang
diciptakan oleh Protokol Kyoto untuk memfasilitasi perdagangan karbon. Ini
adalah yang pertama dari mekanisme yang fleksibel mulai berlaku, dengan
peluncuran badan regulasi, Badan Eksekutif CDM pada akhir tahun 2002, dan
persetujuan, dan pendaftaran proyek pertama, berbasis di Brasil, pada akhir
2004. Ini adalah pertama dari mekanisme fleksibel untuk mulai berlaku,
dengan badan Peluncuran regulasi itu, Dewan Eksekutif CDM pada akhir tahun
2002, dan Persetujuan, dan pendaftaran proyek pertama, berbasis di Brasil,
pada akhir 2004.
Mekanisme Pembangunan Bersih (CDM) adalah Suatu Kesepakatan di
bawah Protokol Kyoto yang memungkinkan negara-negara industri gas rumah
kaca dengan komitmen Pengurangan untuk berinvestasi dalam proyek-proyek
yang Mengurangi emisi di negara-negara Berkembang Sebagai alternatif
untuk Pengurangan emisi mereka sendiri lebih mahal negara. Sebuah fitur
penting yang telah disetujui proyek karbon CDM yang telah ditetapkan bahwa
pengurangan yang direncanakan tidak akan terjadi tanpa insentif tambahan
yang disediakan oleh kredit pengurangan emisi, sebuah konsep yang dikenal
sebagai "additionality". Sebuah fitur penting yang telah CDM Disetujui adalah
proyek karbon Bahwa ia telah Menetapkan Bahwa Pengurangan direncanakan
tidak akan terjadi tanpa insentif tambahan kredit yang disediakan oleh
Pengurangan emisi, sebuah konsep yang dikenal Sebagai "additionality".
CDM memungkinkan bersih emisi gas rumah kaca global akan berkurang
pada yang jauh lebih rendah biaya global dengan membiayai proyek-proyek
pengurangan emisi di negara-negara berkembang di mana biaya lebih rendah
daripada di negara-negara industri. Namun, dalam beberapa tahun terakhir,
kritik terhadap mekanisme telah meningkat. Namun, dalam beberapa tahun
terakhir, kritik terhadap mekanisme telah meningkat.
CDM ini diawasi oleh Dewan Eksekutif CDM (CDM EB) dan berada di
bawah bimbingan Konferensi Para Pihak (COP / MOP) dari Konvensi Kerangka
Kerja PBB mengenai Perubahan Iklim (UNFCCC).
Tujuan CDM didefinisikan berdasarkan Pasal 12 dari Protokol Kyoto.
Selain membantu negara-negara Annex 1 sesuai dengan komitmen
pengurangan emisi mereka, hal itu harus membantu negara-negara
berkembang dalam mencapai pembangunan berkelanjutan, serta berkontribusi
terhadap stabilisasi konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer. Selain
membantu Lampiran 1 negara sesuai dengan komitmen Pengurangan emisi
mereka, hal itu harus membantu negara-negara Berkembang Mencapai dalam
pembangunan berkelanjutan, serta berkontribusi terhadap stabilisasi
konsentrasi gas rumah kaca di Atmosfer.
Untuk Mencegah negara-negara industri dari penggunaan terbatas
membuat CDM, Kerangka kerja memiliki Bahwa ketentuan penggunaan CDM
menjadi 'suplemen' untuk domestik Tindakan untuk Mengurangi emisi. Kata-
kata ini telah Menimbulkan berbagai Penafsiran - Misalnya Belanda bertujuan
untuk Mencapai Pengurangan setengah dari emisi yang diperlukan (dari awal
BAU) oleh CDM. Memperlakukan perusahaan-perusahaan Belanda 'pembelian
Skema Perdagangan Emisi Eropa tunjangan dari perusahaan-perusahaan di
negara lain Tindakan Sebagai bagian dari dalam negeri.
CDM mendapatkan momentum pada tahun 2005 setelah berlakunya
Protokol Kyoto. Sebelum Protokol mulai berlaku, investor dianggap kunci ini
faktor risiko. Protokol sebelum mulai berlaku, investor Dianggap Risiko faktor
kunci ini. Awal tahun beroperasi kredit CDM menghasilkan lebih sedikit
daripada yang diharapkan pendukung, seperti Pihak tidak menyediakan cukup
dana untuk EB.
Dana Adaptasi Didirikan untuk membiayai proyek-proyek Adaptasi
konkret dan program-program di negara-negara Berkembang yang Pihak
Protokol Kyoto. Dana tersebut akan dibiayai dengan pembagian hasil dari
mekanisme pembangunan bersih (CDM) kegiatan proyek dan menerima dana
dari sumber lainnya.
KTT BUMI
(1997)
Para delegasi ke KTT Bumi di Johannesburg, Afrika Selatan,
menyetujui sebuah deklarasi mendukung perjanjian Kyoto mengenai naiknya
suhu bumi, tanpa mempermalukan Amerika Serikat, yang tahun lalu menolak
perjanjian itu. Para perunding di Johannesburg mengatakan, mereka
menyepakati sebuah kompromi yang menyerukan agar negara negara yang
telah meratifikasi Perjanjian Kyoto tahun 1997 mendesak negara negara lain
agar segera ikut meratifikasinya. Tahun lalu Presiden Bush mengatakan, ia
tidak akan minta kepada Kongres agar meratifikasi perjanjian itu, karena
pembatasan pembatasan yang ditetapkan dalam perjanjian itu akan merugikan
perekonomian Amerika. Kepala negara lebih dari 100 negara mulai
berdatangan ke Johannesburg untuk menghadiri babak akhir KTT yang akan
dimulai hari Senin besok.
The Earth Summit in Rio de Janeiro was unprecedented for a UN
conference, in terms of both its size and the scope of its concerns. KTT
Bumi di Rio de Janeiro itu belum pernah terjadi sebelumnya untuk konferensi
PBB, dalam hal ukuran dan ruang lingkup keprihatinan. Twenty years after the
first global environment conference, the UN sought to help Governments
rethink economic development and find ways to halt the destruction of
irreplaceable natural resources and pollution of the planet. Dua puluh tahun
setelah konferensi pertama lingkungan global, PBB Pemerintah berusaha
untuk membantu memikirkan kembali pembangunan ekonomi dan mencari cara
untuk menghentikan penghancuran sumber daya alam tak tergantikan dan
polusi dari planet. Hundreds of thousands of people from all walks of life
were drawn into the Rio process. Ratusan ribu orang dari berbagai latar
belakang tertarik ke dalam proses Rio. They persuaded their leaders to go to
Rio and join other nations in making the difficult decisions needed to ensure
a healthy planet for generations to come. Mereka membujuk para pemimpin
mereka untuk pergi ke Rio dan bergabung dengan bangsa-bangsa lain dalam
membuat keputusan-keputusan sulit yang diperlukan untuk memastikan planet
yang sehat untuk generasi yang akan datang.
The Summit's message — that nothing less than a transformation of
our attitudes and behaviour would bring about the necessary changes — was
transmitted by almost 10,000 on-site journalists and heard by millions
around the world. KTT pesan - bahwa tidak ada yang kurang dari
transformasi sikap dan perilaku kita akan membawa perubahan yang
diperlukan - ini ditularkan oleh hampir 10.000 di tempat wartawan dan
didengar oleh jutaan orang di seluruh dunia. The message reflected the
complexity of the problems facing us: that poverty as well as excessive
consumption by affluent populations place damaging stress on the
environment. Pesan mencerminkan kompleksitas permasalahan yang dihadapi
kami: bahwa kemiskinan serta konsumsi yang berlebihan oleh penduduk kaya
tempat stres merusak lingkungan. Governments recognized the need to
redirect international and national plans and policies to ensure that all
economic decisions fully took into account any environmental impact.
Pemerintah menyadari kebutuhan untuk mengarahkan rencana nasional dan
internasional dan kebijakan untuk memastikan bahwa semua keputusan
ekonomi sepenuhnya memperhitungkan dampak lingkungan apapun. And the
message has produced results, making eco-efficiency a guiding principle for
business and governments alike. Dan pesan telah menghasilkan hasil, membuat
efisiensi eko-prinsip panduan untuk bisnis dan pemerintah sama.

• Patterns of production — particularly the production of toxic


components, such as lead in gasoline, or poisonous waste — are being
scrutinized in a systematic manner by the UN and Governments alike;
Pola produksi - khususnya produksi komponen beracun, seperti timah
hitam dalam bensin, atau limbah beracun - yang sedang diteliti secara
sistematis cara oleh PBB dan Pemerintah sama;

• Alternative sources of energy are being sought to replace the use of


fossil fuels which are linked to global climate change; Alternatif
sumber energi sedang berusaha untuk menggantikan penggunaan bahan
bakar fosil yang terkait dengan perubahan iklim global;

• New reliance on public transportation systems is being emphasized in


order to reduce vehicle emissions, congestion in cities and the health
problems caused by polluted air and smog; Baru ketergantungan pada
sistem transportasi publik sedang ditekankan dalam rangka untuk
mengurangi emisi kendaraan, kemacetan di kota-kota dan masalah
kesehatan disebabkan oleh polusi udara dan asap;

• There is much greater awareness of and concern over the growing


scarcity of water. Ada banyak kesadaran yang lebih besar dan
keprihatinan terhadap meningkatnya kelangkaan air.

The two-week Earth Summit was the climax of a process, begun in


December 1989, of planning, education and negotiations among all Member
States of the United Nations, leading to the adoption of Agenda 21, a wide-
ranging blueprint for action to achieve sustainable development worldwide.
Dua minggu KTT Bumi adalah puncak dari sebuah proses, dimulai pada bulan
Desember 1989, perencanaan, pendidikan dan negosiasi di antara semua
Negara Anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa, yang mengarah pada
pengadopsian Agenda 21, suatu cetak biru luas untuk bertindak untuk
mencapai pembangunan berkelanjutan di seluruh dunia. At its close, Maurice
Strong, the Conference Secretary-General, called the Summit a “historic
moment for humanity”. Pada dekat, Maurice Strong, Konferensi Sekretaris-
Jenderal, yang disebut KTT sebuah "momen bersejarah bagi kemanusiaan".
Although Agenda 21 had been weakened by compromise and negotiation, he
said, it was still the most comprehensive and, if implemented, effective
programme of action ever sanctioned by the international community. Agenda
21 Meskipun telah dilemahkan oleh kompromi dan negosiasi, katanya, itu
masih yang paling komprehensif dan, jika dilaksanakan, program tindakan yang
efektif yang pernah disetujui oleh masyarakat internasional. Today, efforts
to ensure its proper implementation continue, and they will be reviewed by
the UN General Assembly at a special session to be held in June 1997. Hari
ini, upaya untuk menjamin pelaksanaan yang tepat terus, dan mereka akan
diperiksa oleh Majelis Umum PBB pada sesi khusus yang akan diadakan pada
bulan Juni 1997.

The Earth Summit influenced all subsequent UN conferences, which


have examined the relationship between human rights, population, social
development, women and human settlements — and the need for
environmentally sustainable development. KTT Bumi dipengaruhi semua
konferensi PBB berikutnya, yang telah meneliti hubungan antara hak asasi
manusia, kependudukan, pembangunan sosial, perempuan dan pemukiman
manusia - dan kebutuhan lingkungan pembangunan berkelanjutan. The World
Conference on Human Rights, held in Vienna in 1993, for example,
underscored the right of people to a healthy environment and the right to
development, controversial demands that had met with resistance from some
Member States until Rio. Konferensi Dunia Hak Asasi Manusia, yang
diselenggarakan di Wina pada tahun 1993, misalnya, menggarisbawahi hak
masyarakat untuk lingkungan yang sehat dan hak untuk pembangunan,
tuntutan yang kontroversial telah bertemu dengan perlawanan dari beberapa
Negara Anggota sampai Rio.
AGENDA 21
(1992)
Agenda 21 is a comprehensive plan of action to be taken globally, nationally
and locally by organizations of the United Nations System, Governments, and
Major Groups in every area in which human impacts on the environment.
Agenda 21 adalah suatu rencana aksi komprehensif yang harus diambil secara
global, nasional dan lokal oleh organisasi-organisasi Sistem PBB, Pemerintah,
dan Mayor Grup di setiap wilayah di mana dampak manusia terhadap
lingkungan.
Agenda 21, the Rio Declaration on Environment and Development, and the
Statement of principles for the Sustainable Management of Forests were
adopted by more than 178 Governments at the United Nations Conference on
Environment and Development (UNCED) held in Rio de Janerio, Brazil, 3 to 14
June 1992. Agenda 21, pada Deklarasi Rio tentang Lingkungan dan
Pembangunan, dan prinsip-prinsip Pernyataan untuk Pengelolaan Hutan yang
Berkelanjutan diadopsi oleh lebih dari 178 Pemerintah pada Konferensi
Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Lingkungan dan Pembangunan (UNCED)
yang diselenggarakan di Rio de Janerio, Brazil, 3 sampai 14 Juni 1992.
The Commission on Sustainable Development (CSD) was created in December
1992 to ensure effective follow-up of UNCED, to monitor and report on
implementation of the agreements at the local, national, regional and
international levels. The Commission on Sustainable Development (CSD) telah
dibuat pada Desember 1992 untuk menjamin efektivitas tindak lanjut
UNCED, untuk memonitor dan melaporkan pelaksanaan kesepakatan di tingkat
lokal, nasional, regional dan internasional. It was agreed that a five year
review of Earth Summit progress would be made in 1997 by the United
Nations General Assembly meeting in special session. Disepakati bahwa
selama lima tahun peninjauan kemajuan KTT Bumi akan dilakukan pada tahun
1997 oleh Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa bertemu di sesi khusus.
The full implementation of Agenda 21, the Programme for Further
Implementation of Agenda 21 and the Commitments to the Rio principles,
were strongly reaffirmed at the World Summit on Sustainable Development
(WSSD) held in Johannesburg, South Africa from 26 August to 4
September 2002. Penuh pelaksanaan Agenda 21, Program untuk Pelaksanaan
lebih lanjut Agenda 21 dan Komitmen pada prinsip-prinsip Rio, yang sangat
menegaskan kembali di World Summit on Sustainable Development (WSSD)
yang diselenggarakan di Johannesburg, Afrika Selatan dari 26 Agustus-4
September 2002.
Pembangunan Agenda 21
The full text of Agenda 21 was revealed at the United Nations Conference
on Environment and Development ( Earth Summit ), held in Rio de Janeiro on
June 14 , 1992 , where 178 governments voted to adopt the programme. Teks
lengkap dari Agenda 21 tersebut terungkap pada Konferensi Perserikatan
Bangsa-Bangsa tentang Lingkungan dan Pembangunan (KTT Bumi), yang
diadakan di Rio de Janeiro pada Juni 14, 1992, di mana 178 pemerintah
memutuskan untuk mengadopsi program ini. The final text was the result of
drafting, consultation and negotiation, beginning in 1989 and culminating at
the two-week conference. Teks akhir adalah hasil dari penyusunan, konsultasi
dan negosiasi, mulai tahun 1989 dan mencapai puncaknya pada konferensi dua
minggu. The number 21 refers to an agenda for the 21st century. Nomor 21
yang merujuk pada agenda untuk abad ke-21. It may also refer to the number
on the UN's agenda at this particular summit. Mungkin juga merujuk pada
nomor pada agenda PBB pada pertemuan puncak khusus ini.
Rio+5 Rio 5
In 1997, the General Assembly of the UN held a special session to appraise
five years of progress on the implementation of Agenda 21 (Rio +5). Pada
tahun 1997, Majelis Umum PBB mengadakan sidang khusus untuk menilai lima
tahun kemajuan pelaksanaan Agenda 21 (Rio +5). The Assembly recognized
progress as 'uneven' and identified key trends including increasing
globalization , widening inequalities in income and a continued deterioration
of the global environment. Majelis kemajuan diakui sebagai 'merata' dan
mengidentifikasi tren kunci termasuk peningkatan globalisasi, pelebaran
kesenjangan pendapatan dan kerusakan yang terus lingkungan global. A new
General Assembly Resolution (S-19/2) promised further action. Majelis
Umum baru Resolusi (S-19 / 2) menjanjikan tindakan lebih lanjut.
The Johannesburg Summit Johannesburg Summit
The Johannesburg Plan of Implementation, agreed at the World Summit on
Sustainable Development ( Earth Summit 2002 ) affirmed UN commitment
to 'full implementation' of Agenda 21, alongside achievement of the
Millennium Development Goals and other international agreements. Rencana
Johannesburg untuk Implementasi, disepakati pada World Summit on
Sustainable Development (Earth Summit 2002) menegaskan komitmen PBB
untuk 'implementasi penuh' dalam Agenda 21, di samping pencapaian Tujuan
Pembangunan Milenium dan perjanjian internasional lainnya.
Implementation Pelaksanaan
The Commission on Sustainable Development acts as a high level forum on
sustainable development and has acted as preparatory committee for
summits and sessions on the implementation of Agenda 21. Para Komisi
Pembangunan Berkelanjutan bertindak sebagai forum tingkat tinggi pada
pembangunan berkelanjutan dan telah bertindak sebagai panitia persiapan
untuk puncak dan sesi mengenai pelaksanaan Agenda 21. The United Nations
Division for Sustainable Development acts as the secretariat to the
Commission and works 'within the context of' Agenda 21. Divisi PBB untuk
Pembangunan Berkelanjutan bertindak sebagai sekretariat untuk Komisi dan
bekerja 'dalam konteks' Agenda 21. Implementation by member states
remains essentially voluntary. Pelaksanaan oleh negara-negara anggota tetap
dasarnya sukarela.
Structure and contents Struktur dan isi
There are 40 chapters in the Agenda 21, divided into four main sections. Ada
40 bab dalam Agenda 21, yang dibagi menjadi empat bagian utama.
Section I: Social and Economic Dimensions Bagian I: Sosial dan Ekonomi
Dimensions
Includes combating poverty, changing consumption patterns, population and
demographic dynamics, promoting health, promoting sustainable settlement
patterns and integrating environment and development into decision-making.
Termasuk memerangi kemiskinan, mengubah pola konsumsi, dinamika populasi
dan demografi, meningkatkan kesehatan, meningkatkan pola pemukiman
berkelanjutan dan lingkungan hidup dan pembangunan integrasi ke dalam
pengambilan keputusan.
Section II: Conservation and Management of Resources for Development
Bagian II: Konservasi dan Pengelolaan Sumberdaya untuk
Pembangunan
Includes atmospheric protection , combating deforestation , protecting
fragile environments, conservation of biological diversity ( biodiversity ), and
control of pollution . Termasuk perlindungan atmosfer, memerangi
deforestasi, melindungi lingkungan yang rapuh, konservasi keanekaragaman
hayati (keanekaragaman hayati), dan pengendalian polusi.
Section III: Strengthening the Role of Major Groups Bagian III:
Penguatan Peran Mayor Grup
Includes the roles of children and youth, women, NGOs, local authorities,
business and workers. Termasuk peran anak-anak dan remaja, perempuan,
LSM, pemerintah daerah, bisnis dan pekerja.
Section IV: Means of Implementation Bagian IV: Sarana Pelaksanaan
Implementation includes science, technology transfer , education ,
international institutions and mechanisms and financial mechanisms.
Pelaksanaan meliputi ilmu pengetahuan, transfer teknologi, pendidikan,
lembaga dan mekanisme internasional dan mekanisme finansial.
Local Agenda 21 Local Agenda 21
The implementation of Agenda 21 was intended to involve action at
international, national, regional and local levels. Pelaksanaan Agenda 21 itu
dimaksudkan untuk melibatkan tindakan di tingkat internasional, nasional,
regional dan lokal. Some national and state governments have legislated or
advised that local authorities take steps to implement the plan locally, as
recommended in Chapter 28 of the document. Beberapa nasional dan
pemerintah negara bagian telah undangkan atau menyarankan agar
pemerintah daerah mengambil langkah-langkah untuk melaksanakan rencana
secara lokal, seperti yang dianjurkan dalam Bab 28 dari dokumen. Such
programmes are often known as 'Local Agenda 21' or 'LA21'. [ 1 ] Program-
program tersebut sering dikenal sebagai 'Lokal Agenda 21' atau 'LA21'.
WORLD WILDLIFE FUND
(1961)

WWF - The Conservation Organization (WWF-Organisasi

Perlindungan) dulunya bernama World Wildlife Fund dan Worldwide Fund for

Nature, didirikan pada 1 September 1961 oleh beberapa orang, di antaranya

ahli biologi Sir Julian Huxley, Pangeran Bernhard dari Belanda, Max

Nicholson, dan naturalis dan pelukis Sir Peter Scott yang mendesain logo

panda hitam-putihnya. WWF adalah salah satu organisasi lingkungan terbesar

di dunia. Ia mempunyai 28 organisasi nasional dan kantor pusatnya berada di

Gland, Swiss. Hingga 2002, organisasi ini masih menggunakan singkatan WWF

World Wrestling Federation walau telah dinamakan ulang menjadi World

Wrestling Entertainment, atau WWE.

Dalam sejarahnya, beberapa penyumbang terbesarnya termauk

Chevron dan Exxon (masing-masing lebih dari 50 ribu dolar Amerika Serikat

(AS) pada 1988, Philip Morris, Mobil, dan Morgan Guaranty Trust. Tokoh

WWF yang paling terkenal adalah Y.M. Pangeran Philip. Philip adalah presiden

pertama WWF-Britania sejak pendiriannya pada tahun 1961 hingga 1982,

Presiden Internasional WWF (1981--1996), dan kini President

Emeritus.Mereka mendukung Protokol Kyoto dan tetap pada pendiriannya

bahwa pihak-pihak pemerintah perlu memperkuat usahanya dalam melawan

pemanasan global.

Organisasi ini bertujuan melindungi keanekaragaman genetis, spesies

dan ekosistem, menjaga bahwa penggunaan sumber daya alam dapat ditahan

untuk jangka waktu yang lama demi keuntungan semua kehidupan di bumi dan

mengurangi polusi dan konsumsi yang tidak berguna hingga sekecil-kecilnya.

Beberapa Presiden WWF, yakni Y.M. Pangeran Bernhard dari Belanda

yang menjabat pada 1962--1976, John H. Loudon (1976--1981), Y.M. Pangeran


Philip (1981--1996), Syed Babar Ali (1996--1999), Ruud Lubbers (2000--

2000), Sara Morrison (2000--2001), Emeka Anyaoku (2001--kini).


WAHANA LINGKUNGAN HIDUP
(1980)
WAHANA LINGKUNGAN HIDUP INDONESIA (WALHI) adalah
organisasi lingkungan hidup yang independen, non-profit dan terbesar
diindonesia.
Walhi didirikan pada 15 Oktober 1980 sebagai reaksi dan keprihatinan
atas ketidakadilan dalam pengelolaan sumberdaya alam dan sumber-sumber
kehidupan, sebagai akibat dari paradigma dan proses pembangunan yang tidak
memihak keberlanjutan dan keadilan. WALHI merupakan forum kelompok
masyarakat sipil yang terdiri dari organisasi non-pemerintah
(LSM/Ornop/NGO), Kelompok Pecinta Alam (KPA) dan Kelompok Swadaya
Masyarakat (KSM).
Kegiatan utama
Permasalahan lingkungan saling terkait dan telah berdampak besar
terhadap kehidupan masnusia dalam bentuk pemiskinan, ketidakadilan dan
menurunnya kualitas hidup manusia. Sebagai solusi, penyelamatan lingkungan
hidup harus menjadi sebuah gerakan publik.
Sebagai organisasi publik, WALHI terus berupaya:
• Menjadi organisasi yang populis, inklusif dan bersahabat.
• Menjadi organisasi yang bertanggung gugat dan transparan.
• Mengelola pengetahuan yang dikumpulkannya untuk mendukung upaya
penyelamatan lingkungan hidup yang dilakukan anggota dan jaringannya
maupun publik.
• Menjadi sumberdaya ide, kreatifitas dan kaderisasi kepemimpinan
dalam penyelamatan lingkungan hidup.
• Menggalang dukungan nyata dari berbagai elemen masyarakat.
• Menajamkan fokus dan prioritas dalam mengelola Kampanye dan
advokasi untuk berbagai isu:
1. Air, pangan dan keberlanjutan
2. Hutan dan Perkebunan
3. Energi dan Tambang
4. Pesisir dan Laut
5. Isu-isu Perkotaan
Pengambilan keputusan WALHI
Forum pengambilan keputusan tertinggi WALHI adalah dalam
pertemuan anggota setiap tiga tahun yang disebut Pertemuan Nasional
Lingkungan Hidup (PNLH). Forum ini menerima dan mensahkan
pertanggungjawaban Eksekutif Nasional, Dewan Nasional serta Majelis Etik
Nasional; merumuskan strategi dan kebijakan dasar WALHI; menetapkan dan
mensahkan Statuta; serta menetapkan Eksekutif Nasional, Dewan Nasional,
dan Majelis Etik Nasional.
Setiap tahun diselenggarakan pula Konsultasi Nasional Lingkungan
Hidup (KNLH) sebagai forum konsultasi antarkomponen WALHI dan evaluasi
program WALHI. Format pengambilan keputusan yang sama juga terjadi di
forum-forum WALHI daerah.
IUCN
(1984)
IUCN (international union for conservation of nature) adalah organisasi
internasional yang didedikasikan untuk konservasi sumber daya alam. Badan
ini didirikan pada tahun 1984 dan berpusat di Gland, Switzerland.
Tujuan IUCN adalah membantu komunitas diseluruh dunia dalam konservasi
alam.
International Union for Conservation of Nature and Natural Resources
disingkat IUCN terkadang juga disebut dengan World Conservation Union
adalah sebuah organisasi internasional yang didedikasikan untuk konservasi
sumber daya alam. Badan ini didirikan pada 1948 dan berpusat di Gland,
Switzerland. IUCN beranggotakan 78 negara, 112 badan pemerintah, 735
organisasi non-pemerintah dan ribuan ahli dan ilmuwan dari 181 negara.
Tujuan IUCN adalah untuk membantu komunitas di seluruh dunia dalam
konservasi alam.
IUCN Red List dipertimbangkan sebagai sistem klasifikasi spesies yang
paling objektif mengenai kelangkaan suatu spesies.
IUCN akan memperbaiki dan mengevaluasi status setiap spesies lima
tahun sekali jika memungkinkan, atau setidaknya sepuluh tahun sekali. Untuk
melakukan hal itu, IUCN dibantu oleh organisasi internasional seperti
BirdLife International, Institute of Zoology (divisi penelitian dari Zoological
Society of London), World Conservation Monitoring Centre, dan banyak
organisasi internasional lainnya yang tergabung dalam Species Survival
Commission (SSC).
IUCN Red List memberikan gambaran taksonomi, distribusi spesies,
analisa informasi taksa dan status konservasi secara global.
Spesies diklasifikasikan ke dalam sembilan kelompok, diatur
berdasarkan kriteria-kriteria seperti jumlah populasi, penyebaran geografi
dan risiko dari kepunahan, sebagai berikut.
• "Punah" (Extinct; EX)
• "Punah di alam liar" (Extinct in the Wild; EW)

• "Kritis" (Critically Endangered; CR)


• "Genting" (Endangered; EN)

• "Rentan" (Vulnerable; VU)


• "Hampir terancam" (Near Threatened; NT)

• "Beresiko rendah" (Least Concern; LC)


• "Informasi kurang" (Data Deficient; DD)

• "Tidak dievaluasi" (Not Evaluated; NE)


FAO
(1945)
FAO (Food and Agriculture Organisation) merupakan organisasi
dibawah naungan PBB yang dibentuk tahun 1945 di Quebec City,
Quebec, kanada.
Organisasi Pangan dan Pertanian (bahasa Inggris: Food and
Agriculture Organisation/FAO) berada di bawah naungan Perserikatan
Bangsa-Bangsa (PBB). Bermarkas di Roma, Italia, FAO bertujuan untuk
menaikkan tingkat nutrisi dan taraf hidup; meningkatkan produksi, proses,
pemasaran dan penyaluran produk pangan dan pertanian; mempromosikan
pembangunan di pedesaan; dan melenyapkan kelaparan. Misalnya, langkah FAO
untuk membasmi lalat buah Mediterania dari Lembah Sungai Karibia
menguntungkan industri jeruk Amerika Serikat.
FAO dibentuk tahun 1945 di Quebec City, Quebec, Kanada. Pada 1951,
markasnya dipindahkan dari Washington, D.C., AS ke Roma, Italia. Terhitung
26 November 2005, FAO mempunyai 189 anggota (188 negara dan Komunitas
Eropa).
Aktivitas utama FAO terkonsentrasi pada 4 bagian:
• Bantuan Pembangunan untuk negara-negara berkembang.
• Informasi mengenai nutrisi, pangan, pertanian, perhutanan dan
perikanan.
• Nasehat untuk pemerintah.
• Forum netral untuk membicarakan dan menyusun kebijakan mengenai
isu utama pangan dan pertanian.
CAGAR BIOSFER
(1976)
Manusia dan Biosfer (MAB) dari UNESCO pada tahun 1974. Jaringan
cagar biosfer diluncurkan pada tahun 1976 dan sejak Maret 1995, telah
berkembang menjadi 324 cagar di 82 negara. Jaringan tersebut merupakan
komponen kunci dari tujuan MAB untuk mencapai keseimbangan yang
berkelanjutan antara pencapaian tujuan melestarikan keanekaragaman hayati
yang terkadang menimbulkan konflik, peningkatan pembangunan sektor
ekonomi dan pelestarian nilai-nilai budaya yang terkait. Cagar biosfer
merupakan situs terpilih untuk menguji, memperbaiki, mendemonstrasikan dan
rnelaksanakan tujuan tersebut.
Pada tahun 1983, UNESCO dan UNEP bekerjasama dengan FAO dan
IUCN menyelenggarakan Kongres Internasional Pertama Cagar Biosfer di
Minsk (Belarus). Kegiatan Kongres yang dirumuskan pada tahun 1984 menjadi
"Rencana Tindak untuk Cagar Biosfer", yang secara resmi disahkan oleh
Konperensi Umum UNESCO dan oleh Dewan Kerja UNEP. Walaupun sebagian
besar Rencana Kerja tersebut masih berlaku hingga saat ini, namun
implementasi pengelolaan cagar biosfer telah banyak mengalami perubahan,
sebagaimana disebutkan dalam UNCED terutama setelah adanya Konvensi
Keanekaragaman Hayati. Konvensi tersebut ditandatangani dalam "Earth
Summit' di Rio de Janeiro pada bulan Juni 1992 dan berlaku mulai bulan
Desember 1993 dan sampai saat ini telah diratifikasi oleh lebih dari 100
negara. Tujuan utama Konvensi ini adalah: konservasi keanekaragaman hayati;
pemanfaatan sumber daya alam yang berkelanjutan, dan pembagian yang adil
dan merata atas keuntungan yang diperoleh dari pemanfaatan sumber daya
genetik. Cagar biosfer mendorong pendekatan terpadu dan dengan demikian
mempunyai posisi yang baik untuk mendukung proses implementasi Konvensi.
Cagar Biosfer adalah situs yang ditunjuk oleh berbagai negara melalui
kerjasama dengan program MAB-UNESCO untuk mempromosikan konservasi
keaneragaman hayati dan pembangunan berkelanjutan, berdasarkan pada
upaya masyarakat lokal dan ilmu pengetahuan yang handal. Sebagai kawasan
yang menggambarkan keselarasan hubungan antara pembangunan ekonomi,
pemberdayaan masyarakat dan perlindungan lingkungan, melalui kemitraan
antara manusia dan alam, cagar biosfer adalah kawasan yang ideal untuk
menguji dan mendemonstrasikan pendekatan-pendekatan yang mengarah
kepada pembangunan yang berkelanjutan pada tingkat regional.
Karakteristik Utama Cagar Biosfer
1. Mempunyai pola zonasi untuk konservasi dan pembangunan;
2. Memfokuskan pada arah pendekatan berbagai pemangku kepentingan,
yang secara khusus menekankan partisipasi masyarakat lokal dalam
pengelolaan kawasan;
3. Membentuk suatu metode untuk penyelesaian konflik pemanfaatan
sumber daya alam melalui dialog;
4. Mengintegrasikan keanekaragaman budaya dengan keanekaragaman
hayati, terutama mengenai peran pengetahuan tradisional dalam
pengelolaan ekosistem;
5. Mendemonstrasikan kebijakan-kebijakan yang sesuai dengan hasil
penelitian dan diikuti oleh kegiatan pemantauan;
6. Merupakan lokasi untuk pendidikan dan pelatihan; dan penting juga,
7. Berpartisipasi dalam Jaringan Dunia.
Pengelolaan Terpadu
Cagar Biosfer mempunyai tujuan untuk mewujudkan pengelolaan lahan,
perairan tawar, laut dan sumber daya hayati secara terpadu, melalui program
perencanaan bioregional, yang mengintegrasikan konservasi keanekaragaman
hayati ke dalam pembangunan berkelanjutan, yang dapat dicapai melalui
pengembangan sistem zonasi tepat. Sistem zonasi ini mencakup, zona inti,
kawasan yang dilindungi secara ketat, yang dilindungi oleh zona pengangga
yang menekankan aspek konservasi, namun masyarakat diperbolehkan tingal
dan bekerja, dan secara keseluruhan kawasan tersebut dikelilingi oleh zona
transisi, atau disebut juga wilayah kerjasama, untuk mempromosikan
pembangunan berkelanjutan.
Cagar Biosfer berakar kuat dalam konteks budaya, gaya hidup
tradisional, pelaksanaan rencana tataguna lahan dan pengetahuan serta
kearifan lokal; oleh keran itu Cagar Biosfer memberikan kontribusi dalam
memelihara nilai-nilai budaya dan secara bersamaan melestarikan
keanekaragaman hayati.
UNESCO
(1945)
UNESCO (united nations educational, scientific and cultural
organization) merupakan badan khusus PBB yang didirikan pada 1945.
Tujuannya adalah mendukung perdamaian dan keamanan dengan
mempromosikan kerjasama antar Negara melalui pendidikan, ilmu
pengetahuan, dan budaya dalam rangka meningkatkan rasa saling menghormati
yang berlandaskan kepada keadilan, peraturan hokum, HAM, dan kebebasan
hakiki.
Situs Warisan Dunia UNESCO (bahasa Inggris: UNESCO’s World
Heritage Sites) adalah sebuah tempat khusus (misalnya hutan, pegunungan,
danau, gurun pasir, bangunan, kompleks, atau kota) yang telah dinominasikan
untuk program Warisan Dunia internasional yang dikelola UNESCO World
Heritage Committee, terdiri dari 21 kelompok (21 state parties) yang dipilih
oleh Majelis Umum (General Assembly) dalam kontrak 4 tahun. Sebuah Situs
Warisan Dunia adalah suatu tempat atau budaya atau benda yang berarti.
Program ini bertujuan untuk mengkatalog, menamakan, dan
melestarikan tempat-tempat yang sangat penting agar menjadi warisan
manusia dunia. Tempat-tempat yang didaftarkan dapat memperoleh dana dari
Dana Warisan Dunia di bawah syarat-syarat tertentu. Program ini diciptakan
melalui Pertemuani Mengenai Pemeliharaan Warisan Kebudayaan dan Alamiah
Dunia yang diikuti di oleh Konferensi Umum UNESCO pada 16 November
1972.
CITES
(1963)
CITES (Convention on International Trade in Endangered Species of
Wild Fauna and Flora) atau konvensi perdagangan internasional tumbuhan dan
satwa liar spesies terancam adalah perjanjian internasional antarnegara yang
disusun berdasarkan resolusi sidang anggota World Conservation Union
(IUCN) tahun 1963. Konvensi bertujuan melindungi tumbuhan dan satwa liar
terhadap perdagangan internasional spesimen tumbuhan dan satwa liar yang
mengakibatkan kelestarian spesies tersebut terancam. Selain itu, CITES
menetapkan berbagai tingkatan proteksi untuk lebih dari 33.000 spesies
terancam.
Tidak ada satu pun spesies terancam dalam perlindungan CITES yang
menjadi punah sejak CITES diberlakukan tahun 1975 (lihat pula )
[1][2]

Pemerintah Indonesia meratifikasi CITES dengan Keputusan Pemerintah No.


43 Tahun 1978.
CITES merupakan satu-satunya perjanjian global dengan fokus
perlindungan spesies tumbuhan dan satwa liar. Keikutsertaan bersifat
sukarela, dan negara-negara yang terikat dengan konvensi disebut para pihak
(parties). Walaupun CITES mengikat para pihak secara hukum, CITES bukan
pengganti hukum di masing-masing negara. CITES hanya merupakan rangka
kerja yang harus dijunjung para pihak yang membuat undang-undang untuk
implementasi CITES di tingkat nasional. Seringkali, undang-undang
perlindungan tumbuhan dan satwa liar di tingkat nasional masih belum ada
(khususnya para pihak yang belum meratifikasi CITES), hukuman yang tidak
seimbang dengan tingkat kejahatan, dan kurangnya penegakan hukum
terhadap perdagangan satwa liar.[4]. Di tahun 2002 hanya terdapat 50% para
pihak yang bisa memenuhi satu atau lebih persyaratan dari 4 persyaratan
utama yang harus dipenuhi: (1) keberadaan otoritas pengelola nasional dan
otoritas keilmuan, (2) hukum yang melarang perdagangan tumbuhan dan satwa
liar yang dilindungi CITES, (3) sanksi hukum bagi pelaku perdagangan, dan (4)
hukum untuk penyitaan barang bukti.
Naskah konvensi disepakati 3 Maret 1973 pada pertemuan para wakil 80
negara di Washington, D.C.. Negara peserta diberi waktu hingga 31 Desember
1974 untuk menandatangani kesepakatan, dan CITES mulai berlaku tanggal 1
Juli 1975. Setelah melakukan ratifikasi, menerima, atau menyetujui konvensi,
negara-negara yang menandatangani konvensi disebut para pihak ( parties). Di
tahun 2003, semua negara penanda tangan CITES telah menjadi para pihak.
Negara yang belum menandatangani dapat ikut serta menjadi para pihak
dengan menyetujui CITES. Di bulan Agustus 2006 tercatat sejumlah 169
negara telah menjadi para pihak dalam CITES.
Sekretariat CITES berkantor di Geneva, Swiss dan menyediakan
dokumen-dokumen asli dalam bahasa Inggris, Perancis, dan Spanyol.
Pendanaan kegiatan sekretariat dan Konferensi Para Pihak (COP) berasal dari
dana perwalian yang merupakan sumbangan para pihak. Dana perwalian tidak
bisa digunakan para pihak untuk meningkatkan taraf implementasi atau
pelaksanaan CITES. Dana perwalian hanya untuk kegiatan sekretariat,
sedangkan para pihak dalam melaksanakan kegiatan yang berkaitan dengan
CITES harus mencari pendanaan eksternal (dilakukan NGO dan dana
bilateral).
Para pihak anggota konvensi harus menunjuk satu atau lebih otoritas
pengelola yang memberi perizinan, dan satu atau lebih otoritas ilmiah yang
menilai dampak perdagangan terhadap kelestarian spesies tersebut.
Departemen Kehutanan berdasarkan pasal 65 Peraturan Pemerintah Nomor 8
tahun 1999 ditunjuk sebagai otoritas pengelola konservasi tumbuhan dan
satwa liar di Indonesia. Selanjutnya, Direktur Jenderal Perlindungan Hutan
dan Konservasi Alam ditunjuk sebagai otoritas pengelola CITES di Indonesia
melalui Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 104/Kpts-II/2003 (sebagai
pengganti Keputusan Menteri Kehutanan No.36/Kpts-II/1996).[6] Selain itu,
Peraturan Pemerintah No. 7 dan 8 Tahun 1999 juga menunjuk Lembaga Ilmu
Pengetahuan Indonesia (LIPI) sebagai otoritas keilmuan CITES.
Spesies yang diusulkan masuk dalam apendiks CITES dibahas dalam
Konferensi Para Pihak (COP), yang konferensi berikutnya diadakan bulan Juni
2007. Para pihak bisa mengusulkan suatu spesies walaupun habitat spesies
tersebut tidak berada dalam wilayah negara pengusul. Usulan bisa disetujui
masuk dalam apendiks CITES asalkan didukung suara mayoritas 2/3 dari para
pihak, walaupun ada para pihak yang berkeberatan.
Apendiks CITES berisi sekitar 5.000 spesies satwa dan 28.000 spesies
tumbuhan yang dilindungi dari eksploitasi berlebihan melalui perdagangan
internasional. Spesies terancam dikelompokkan ke dalam apendiks CITES
berdasarkan tingkat ancaman dari perdagangan internasional, dan tindakan
yang perlu diambil terhadap perdagangan tersebut. Dalam apendiks CITES,
satu spesies bisa saja terdaftar di lebih dari satu kategori. Semua populasi
Gajah Afrika (Loxodonta africana) misalnya, dimasukkan ke dalam Apendiks I,
kecuali populasi di Botswana, Namibia, Afrika Selatan, dan Zimbabwe yang
terdaftar dalam Apendiks II.
CITES terdiri dari tiga apendiks:
• Apendiks I: daftar seluruh spesies tumbuhan dan satwa liar yang

dilarang dalam segala bentuk perdagangan internasional


• Apendiks II: daftar spesies yang tidak terancam kepunahan, tapi

mungkin terancam punah bila perdagangan terus berlanjut tanpa adanya


pengaturan
• Apendiks III: daftar spesies tumbuhan dan satwa liar yang dilindungi
di negara tertentu dalam batas-batas kawasan habitatnya, dan suatu saat
peringkatnya bisa dinaikkan ke dalam Apendiks II atau Apendiks I.
Apendiks I - sekitar 800 spesies
Spesies yang dimasukkan ke dalam kategori ini adalah spesies yang
terancam punah bila perdagangan tidak dihentikan. Perdagangan spesimen
dari spesies yang ditangkap di alam bebas adalah ilegal (diizinkan hanya dalam
keadaan luar biasa).
Satwa dan tumbuhan yang termasuk dalam daftar Apendiks I, namun
merupakan hasil penangkaran atau budidaya dianggap sebagai spesimen dari
Apendiks II dengan beberapa persyaratan. Otoritas pengelola dari negara
pengekspor harus melaporkan non-detriment finding berupa bukti bahwa
ekspor spesimen dari spesies tersebut tidak merugikan populasi di alam
bebas. Setiap perdagangan spesies dalam Apendiks I memerlukan izin ekspor
impor. Otoritas pengelola dari negara pengekspor diharuskan memeriksa izin
impor yang dimiliki pedagang, dan memastikan negara pengimpor dapat
memelihara spesimen tersebut dengan layak.
Satwa yang dimasukkan ke dalam Apendiks I, misalnya gorila, simpanse,
harimau dan subspesiesnya, singa Asia, macan tutul, jaguar cheetah, gajah
Asia, beberapa populasi gajah Afrika, dan semua spesies Badak (kecuali
beberapa subspesies di Afrika Selatan).
Apendiks II - sekitar 32.500 spesies
Spesies dalam Apendiks II tidak segera terancam kepunahan, tapi
mungkin terancam punah bila tidak dimasukkan ke dalam daftar dan
perdagangan terus berlanjut. Selain itu, Apendiks II juga berisi spesies yang
terlihat mirip dan mudah keliru dengan spesies yang didaftar dalam Apendiks
I. Otoritas pengelola dari negara pengekspor harus melaporkan bukti bahwa
ekspor spesimen dari spesies tersebut tidak merugikan populasi di alam
bebas.
Apendiks III - sekitar 300 spesies
Spesies yang dimasukkan ke dalam Apendiks III adalah spesies yang
dimasukkan ke dalam daftar setelah salah satu negara anggota meminta
bantuan para pihak CITES dalam mengatur perdagangan suatu spesies.
Spesies tidak terancam punah dan semua negara anggota CITES hanya boleh
melakukan perdagangan dengan izin ekspor yang sesuai dan Surat Keterangan
Asal (SKA) atau Certificate of Origin (COO).
MEN LH
(2009)
Kementerian Negara Lingkungan Hidup, disingkat Kemeneg LH, adalah
kementerian dalam Pemerintah Indonesia yang membidangi urusan lingkungan
hidup. Kemeneg LH dipimpin oleh seorang Menteri Negara Lingkungan Hidup
(Meneg LH) yang sejak tanggal 22 Oktober 2009 dijabat oleh Gusti
Muhammad Hatta.
Tugas pokok dan fungsi
Kementerian Negara Lingkungan Hidup mempunyai tugas membantu
Presiden dalam merumuskan kebijakan dan koordinasi di bidang lingkungan
hidup dan pengendalian dampak lingkungan; serta menyelenggarakan fungsi :
• Perumusan kebijakan nasional di bidang lingkungan hidup dan
pengendalian dampak lingkungan
• Koordinasi pelaksanaan kebijakan di bidang lingkungan hidup
dan pengendalian dampak lingkungan
• Pengelolaan barang milik/kekayaan negara yang menjadi
tanggungjawabnya
• Pengawasan atas pelaksanaan tugasnya
• Penyampaian laporan hasil evaluasi, saran, dan pertimbangan di
bidang tugas dan fungsinya kepada Presiden.
DEPTAN
(1974)
Sejak dibentuk pada tahun 1974, Badan Litbang Pertanian mengalami
beberapa kali perubahan dan penyempurnaan. Secara ringkas, evolusi
organisasi dan kelembagaan Badan Libang Pertanian adalah sebagai berikut:
Periode 1974 - 1980
Keppres tahun 1974 dan 1979 menetapkan bahwa Badan Litbang
Pertanian sebagai unit Eselon I, membawahi 12 unit Eselon II, yaitu: 1
Sekretariat, 4 Pusat (Pusat Penyiapan Program, Pusat Pengolahan Data
Statistik, Pusat Perpustakaan Biologi dan Pertanian, dan Pusat Karantina
Pertanian) 2 Pusat Penelitian (Puslit Tanah dan Puslit Agro-Ekonomi), serta 5
Pusat Penelitian Pengembangan (Puslitbang Tanaman Pangan, Puslitbang
Tanaman Industri, Puslitbang Kehutanan, Puslitbang Peternakan, dan
Puslitbang Perikanan).
Periode 1981 - 1986
Pada tahun 1983 Badan Litbang mengalami perubahan sesuai dengan
perubahan lingkungan strategis dan tuntutan pembangunan pertanian.
Berdasarkan Kepres No. 24 tahun 1983, Badan Litbang Pertanian terdiri atas:
Sekretariat, Pusat Data Statistik, Pusat Perpustakaan Pertanian, Puslit
Tanah, Puslit Agro-Ekonomi, Puslitbang Tanaman Pangan, Puslitbang Tanaman
Industri, Puslitbang Hortikultura, Puslitbang Peternakan, dan Puslitbang
Perikanan.
Periode 1987 - 1991
Dalam Keppres No. 4 1990 struktur Organisasi Badan Litbang Pertanian
terdiri atas: Sekretariat, Pusat Data Statistik, Pusat Perpustakaan Pertanian
dan Komunikasi Penelitian, Puslit Tanah & Agroklimat, Puslit Sosial Ekonomi
Pertanian, Puslitbang Tanaman Pangan, Puslitbang Tanaman Industri,
Puslitbang Hortikultura, Puslitbang Peternakan, dan Puslitbang Perikanan.
Berdasarkan Keputusan Menteri Pertanian No. 75/Kpts/OT.210/2/1991,
Badan Litbang mendapat tambahan satu unit Eselon II yaitu Balai Besar
Pengembangan Alat dan Mesin Pertanian (BBP Alsintan).
Periode 1992 - 1997
Seiring dengan program pemerintah untuk merampingkan jabatan
struktural dan mengembangkan jabatan fungsional, dikeluarkan Keppres No.
83 tahun 1993 yang dijabarkan dalam Kepmen Pertanian
No.96/Kpts/OT.210/2/1994 tentang organisasi dan tata kerja Departemen
Pertanian. Selanjutnya susunan organisasi Badan Litbang Pertanian terdiri
atas 11 unit Eselon II, yaitu: Sekretariat, Pusat Penyiapan Program Penelitian,
Pusat Perpustakaan Pertanian dan Komunikasi Penelitian, Puslit Tanah &
Agroklimat, Puslit Sosial Ekonomi Pertanian, Puslitbang Tanaman Pangan,
Puslitbang Tanaman Industri, Puslitbang Hortikultura, Puslitbang Peternakan,
dan Puslitbang Perikanan, serta BBP Alsintan. Pada reorganisasi saat ini,
dibentuk Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) dan Loka Pengkajian
Teknologi Pertanian (LPTP) yang tersebar di sebagian besar propinsi di
Indonesia.
Periode 1998 - 1999
Berdasarkan Keppres No.61/1998 Badan Litbang Pertanian mengalami
perubahan, karena Puslitbang Tanaman Industri masuk ke Departemen
Kehutanan dan Perkebunan, maka susunan organisasinya sebagai berikut:
Sekretariat, Pusat Penyiapan Program Penelitian, Pusat Perpustakaan
Pertanian dan Komunikasi Penelitian, Puslit Tanah & Agroklimat, Puslit Sosial
Ekonomi Pertanian, Puslitbang Tanaman Pangan, Puslitbang Hortikultura,
Puslitbang Peternakan, dan Puslitbang Perikanan, serta BBP Alsintan.
Periode 2000 - 2001
Pada pertengahan tahun 2000 Badan Litbang melakukan perampingan
organisasi berdasarkan SK. Mentan No.160/Kpts/OT.210/3/2000. Pada
periode ini Pusat Penelitian dan Pengembangan (Puslitbang) berubah menjadi
Pusat Penelitian (Puslit). Susunan organisasi Badan Litbang terdiri atas 7 unit
Eselon II: Sekretariat, Puslit Tanah & Agroklimat, Puslit Sosial Ekonomi
Pertanian, Puslit Tanaman Pangan, Puslit Hortikultura, Puslit Peternakan,
serta BBP Alsintan sebagai unit Eselon IIb. Sesuai SK Mentan tersebut pula
Puslitbang Perikanan masuk ke Departemen Kelautan dan Perikanan.
Sedangkan Pusat Perpustakaan dan Penyebaran Teknologi Pertanian (tadinya
Pusat Perpustakaan Pertanian dan Komunikasi Penelitian) berada dibawah
administrasi Sekretariat Jenderal Deptan.
Periode 2001 - 2003
Sesuai SK Menteri No. 01/Kpts/OT.210/1/2001 susunan organisasi
Badan Litbang Pertanian berubah lagi ditandai dengan berubahnya 'Puslit'
menjadi 'Puslitbang' dan kembalinya Perkebunan ke lingkungan Departemen
Pertanian. Strukturnya menjadi 8 unit Eselon II: Sekretariat, Puslitbang
Tanah & Agroklimat, Puslitbang Sosial Ekonomi Pertanian, Puslitbang Tanaman
Pangan, Puslitbang Hortikultura, Puslitbang Peternakan, dan Puslitbang
Perkebunan, sedangkan BBP Mekanisasi Pertanian belum berubah.
Periode 2003 - 2004
Terjadi penyempurnaan organisasi dan tata kerja dua Balai Penelitian.
Balai Penelitian Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian berdasarkan
Keputusan Menteri Pertanian No: 631/Kpts/OT.140/12/2003 disempurnakan
menjadi Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan
Sumberdaya Genetik Pertanian. Sedangkan Balai Penelitian Pascapanen
Pertanian dengan Keputusan Menteri Pertanian No:
631/Kpts/OT.140/12/2003 disempurnakan menjadi Balai Besar Penelitian dan
Pengembangan Pascapanen Pertanian. Dengan demikian Badan Litbang
Pertanian mempunyai 10 unit eselon II.
Selain itu juga terjadi pembentukan 2 unit organisasi BPTP di 2 Propinsi,
yaitu Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Banten, dan Balai Pengkajian
Teknologi Pertanian Kepulauan Bangka Belitung (Kepmentan No.
633/Kpts/OT.140/12/2003).
Periode 2005
Berdasarkan Peraturan Menteri Pertanian (Permentan)
299/Kpts/OT.140/7/2005, Badan Litbang Pertanian terdiri dari satu
Sekretariat Badan dan empat Pusat Penelitian dan Pengembangan (Puslitbang)
yang meliputi 1) Puslitbang Tanaman Pangan, 2) Puslitbang Hortikultura, 3)
Puslitbang Perkebunan, dan 4) Puslitbang Peternakan. Di samping itu, dibentuk
Pusat Analisis Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian sebagai perubahan dari
Puslitbang Sosial Ekonomi Pertanian. Berdasarkan Permentan No.
328/Kpts/OT.220/6/2005 Badan Litbang Pertanian membina Pusat Analisis
Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian. Berdasarkan Permentan No.
329/Kpts/OT.220/6/2005, Pusat Perpustakaan dan Penyebaran Teknologi
Pertanian dibina sepenuhnya oleh Badan Litbang Pertanian.
Selanjutnya berdasarkan Permentan No. 300/Kpts/OT.140/7/2005
telah dibentuk Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan
Pertanian (BBSDL) sebagai perubahan dari Puslitbang Tanah dan Agroklimat,
sedangkan Balai Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian berubah
menjadi Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian
(BBP2TP) berdasarkan Permentan No. 301/Kpts/OT.140/7/2005. BBSDL
mengkoordinasikan kegiatan penelitian dan pengembangan yang bersifat lintas
sumberdaya di bidang tanah, agroklimat dan hidrologi, lahan rawa, serta
pencemaran lingkungan. Sedangkan BBP2TP mengkoordinasikan kegiatan
pengkajian dan pengembangan teknologi pertanian yang bersifat spesifik
lokasi di 28 BPTP.
Periode 2006
Sesuai dengan perubahan lingkungan strategis, tahun 2006 Unit
Pelaksana Teknis (UPT) mengalami penataan organisasi. Penataan UPT
tersebut meliputi peningkatan status eselon yaitu Balai Penelitian Tanaman
Padi dari eselon III-a menjadi Balai Besar Penelitian Tanaman Padi eselon
II-b, Balai Penelitian Veteriner menjadi Balai Besar Penelitian Veteriner
eselon II-b. Loka Penelitian Tanaman Jeruk dan Hortikultura Subtropik dari
eselon IV-a menjadi Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Subtropika
eselon III-a, Loka Penelitian Tanaman Sela Perkebunan menjadi Balai
Penelitian Tanaman Rempah dan Aneka Tanaman Industri eselon III-a, dan
Loka Penelitian Pencemaran Lingkungan Pertanian menjadi Balai Penelitian
Lingkungan Pertanian eselon III-a.
Di samping itu, UPT yang mengalami perubahan nomenklatur adalah Balai
Penelitian Tanaman Buah menjadi Balai Penelitian Tanaman Buah Tropika,
Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat menjadi Balai Penelitian Tanaman
Obat dan Aromatik. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) tahun 2006
bertambah dua unit organisasi yaitu BPTP Gorontalo dan BPTP Maluku Utara.
Sehingga tahun 2006 Badan Litbang Pertanian terdiri atas Sekretariat
Badan, 4 Puslitbang, 2 Pusat, 7 Balai Besar, 15 Balai Penelitian, 30 Balai
Pengkajian, dan 3 Loka Penelitian.
Periode 2007
Tahun 2007 Badan Litbang Pertanian mendapat penambahan dua UPT
eselon III yaitu Balai Pengelola Alih Teknologi Pertanian (BPATP) dan BPTP
Papua Barat. Jadi pada tahun 2007 Badan Litbang Pertanian terdiri atas
Sekretariat Badan, 4 Puslitbang, 2 Pusat, 7 Balai Besar, 15 Balai Penelitian, 1
Balai PATP, 31 Balai Pengkajian, dan 3 Loka Penelitian.
DEPHUT

Keputusan Menteri Pertanian Republik Indonesia Nomor :


430/Kpts/7/1978 tanggal 10 Juli 1978, tentang susunan organisasi dan tata
kerja Balai Planologi Kehutanan. menteri Pertanian Republik Indonesia :
Merumuskan keduduka, tugas, fungsi, susunan organisasi dan tata kerja Balai
Planologi Kehutanan, Departemen Pertanian, sebagai pelaksanaan lebih lanjut.
Keputusan Presiden Nomor : 190/Kpts/Org/5/1975 beralih namanya menjadi
Balai Planologi Kehutanan VI MALIRJA ( Maluku Irian Jaya )
Badan Inventarisasi dan Tata Guna Hutan dalam rangka pelaksanaan
kegiatannya sejak berbentuknya Tahun 1983 sampai bulan Maret 1988 maka
disusunlah laporan Badan Inventarisasi dan Tata Guna Hutan periode 1983
sampai dengan 1988 yang berpedoman Surat Keputusan Menteri Kehutanan
Nomor : 08/Kpts-II/1985 tanggal 10 Januari 1985
SK Menteri Kehutanan Nomor : 20/Kpts-II/1983 Tentang Organisasi
dan Tata Kerja Departemen Kehutanan tanggal 5 Juli 1983, Badan
Inventarisasi dan Tata Guna hutan mempunyai tugas melaksanakan,
Mengkoordinasikan dan membina seluruh Kegiatan Inventarisasi, Pengukuhan
dan Perpetaan serta Penatagunaan Hutan berdasarkan kebijaksanaan yang
ditetapkan oleh Menteri dan Peraturan Perundangan yang berlaku.
Badan Inventarisasi dan Tata Guna Hutan mempunyai Unit Pelaksana
Teknis yang tertera dalam SK Menhut Nomor : 093/Kpts-II/1983 tanggal 12
Mei 1984, tentang organisasi dan tata kerja Balai Inventarisasi dan
Perpetaan Hutan, telah diubah dengan Surat Keputusan Menteri Kehutanan
Nomor : 146/Kpts-II/1991 tanggal 13 Maret 1991, Balai inventarisasi dan
Perpetaan hutan adalah Unit Pelaksana Teknis yang berada dibawah dan
bertanggung jawab kepada Kepala Kantor Wilayah Departemen Kehutanan dan
Perkebunan (dilikuidasi) dan secara teknis fungsional dibina oleh Badan
Planologi Kehutanan.
Dalam rangka penataan Unit Pelaksana Teknis (UPT) Badan Planologi
Kehutanan Daerah telah dibahas bersama kantor Menteri Negara
Penatagunaan Aparatur Negara dan Biro Hukum dan Organisasi Sekretaris
Jenderal Departemen kehutanan sesuai dengan surat meneg PAN Nomor :
8/M.PAN/1/2002 tanggal 14 Januari 2002 tentang organisasi dan Tata Kerja
(UPT) Departemen Kehutanan, bahwa UPT Badan Planolgi Kehutanan telah di
setujui dengan nama Balai Pemantapan Kawasan Hutan Wilayah X Jayapura.
Keputusan Menteri Kehutanan Nomor : 6188/Kpts-II/20002 tanggal 10
Juni 2002 tentang Organisasi dan Tata Kerja Balai Pemantapan Kawasan
Hutan.
PROTOCOL KYOTO

Protokol Kyoto adalah sebuah amandemen terhadap Konvensi Rangka


Kerja PBB tentang Perubahan Iklim (UNFCCC), sebuah persetujuan
internasional mengenai pemanasan global. Negara-negara yang meratifikasi
protokol ini berkomitmen untuk mengurangi emisi/pengeluaran karbon
dioksida dan lima gas rumah kaca lainnya, atau bekerja sama dalam
perdagangan emisi jika mereka menjaga jumlah atau menambah emisi gas-gas
tersebut, yang telah dikaitkan dengan pemanasan global.
Jika sukses diberlakukan, Protokol Kyoto diprediksi akan mengurangi
rata-rata cuaca global antara 0,02°C dan 0,28°C pada tahun 2050. (sumber:
Nature, Oktober 2003)
Nama resmi persetujuan ini adalah Kyoto Protocol to the United
Nations Framework Convention on Climate Change (Protokol Kyoto mengenai
Konvensi Rangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim). [1] Ia dinegosiasikan di
Kyoto pada Desember 1997, dibuka untuk penanda tanganan pada 16 Maret
1998 dan ditutup pada 15 Maret 1999. Persetujuan ini mulai berlaku pada 16
Februari 2005 setelah ratifikasi resmi yang dilakukan Rusia pada 18
November 2004.