Anda di halaman 1dari 7

A.

Klasifikasi dan Karakteristik Ikan Pari


Sistematika ikan pari (Dasyatis kuhlii, Mller & Henle, 1841) menurut
Mller dan Henle (1841) sebagai berikut :
Kingdom
: Animalia
Filum
: Chordata
Kelas
: Chondricthyes
Sub kelas
: Elasmobranchii
Kohor
: Neoselachii
Ordo
: Rajiformes
Famili
: Dasyatidae
Genus
: Dasyatis
Specific name : kuhlii
Spesies
: Dasyatis kuhlii
Common name in England : Blue Spotted Pipefish
Common name in Indonesia : Pari Kukul, Pari Totol, Pari Kotak
Last dan Stevens (1994 dalam Allen, 2000) menyatakan bahwa Ikan pari
(rays) termasuk dalam sub grup elasmobranchii, yaitu ikan yang bertulang rawan dan
grup Cartilaginous. Ikan pari mempunyai bentuk tubuh gepeng melebar (depressed)
dimana sepasang sirip dada (pectoral, fins)-nya melebar dan menyatu dengan sisi kirikanan kepalanya, sehingga tampak atas atau tampak bawahnya terlihat bundar atau oval.
Ikan pari umumnya mempunyai ekor yang sangat berkembang (memanjang) menyerupai
cemeti. Pada beberapa spesies, ekor ikan pari dilengkapi duri penyengat sehingga disebut
'sting-rays', mata ikan pari umumnya terletak di kepala bagian samping. Posisi dan bentuk
mulutnya adalah terminal (terminal mouth) dan umumnya bersifat predator. Ikan ini
bernapas melalui celah insang (gill openings atau gill slits) yang berjumlah 5-6 pasang.
Posisi celah insang adalah dekat mulut di bagian bawah (ventral). Ikan pari jantan
dilengkapi sepasang alat kelamin yang disebut "clasper" letaknya di pangkal ekor. Ikan
pari betina umumnya berbiak secara melahirkan anak (vivipar) dengan jumlah anak
antara 5-6 ekor.
Bentuk badannya yang picak (gepeng) sehingga sepintas tampak seperti layanglayang. Ikan ini tidak memiliki sirip punggung dan memiliki ukuran gigi yang kecil,

keras, dan tersusun rata. Lubang penyembur air berada di belakang mata
dengan ukuran lebih besar daripada diameter mata. Daerah tulang belikat licin
atau dengan bintik-bintik duri pada bagian tengahnya. Ikan ini memiliki ekor yang
panjang degan jari-jari yang keras pada pangkalnya, selain itu dilengkapi dengan 3 duri
yang mempunyai kelenjar racun (poison gland) yang digunakan sebagai alat petahanan
terhadap musuh. Warna tubuh bagian dorsalnya adalah coklat sawo matang dan terdapat
bintik-bintik berwarna biru keputihan yang tersebar pada seluruh permukaan sampai ke
pangkal ekor. Sedangkan pada bagian bawah tubuhnya berwarna putih (Direktorat
Jenderal Perikanan, 1979).
Secara anatomi ikan pari memilik usus yang pendek dengan diameter cukup
besar dan berisi membran ulir yang berfungsi membuat makanan berputar-putar
sehingga waktu pencernaanya lama untuk diserap. Ikan pari termasuk ke dalam hewan
carnivora,degan memakan ikan-ikan kecil, crustacea dan beberapa hewan
dasar lainnya (FAO 1971).
KELAS CHONDRICHTHYES
(IKAN BERTULANG RAWAN)
1.

Pendahuluan

Kelas Chondrichthyes, hiu, ikan pari, dan chimaera (berasal dari bahasa
Yunani,chondros=tulang rawan +inchthyes=ikan ) merupakan vertebrata hidup
tingkat terendah dengan tulang belakang yang lengkap dan terpisah, rahang
dapat digerakan, serta embelan berpasangan. Semua merupakan predator, dan
hampir semua merupakan penghuni lautan. Kelompok ini berasal dari jaman
Silur dan dipresentasikan oleh banyak sisa-sisa fosil, terutama gigi, duri sirip dan
sisik.
Ikan bertulang rawan menunjukan keunggulan dari Cyclostomata karena
memiliki sisik yang melindungi tubuh, dua pasang sirip lateral, rahang yang dapat

digerakan berartikulasi ke kranium, gigi berlapis email pada rahang, tiga kanalis
semisirkularis di setiap telinga,dan sepasang organ reproduksi dan salurannya.
Ikan ini lebih rendah dari ikan bertulang karena memiliki kerangka dari tulang
rawan bukan tulang sejati, sisik plakoid, belahan insang terpisah, sepasang
spirakel yang tehubung ke faring, dan tidak ada kantung udara.
Beberapa teori telah dikemukakan tentang asal mula sirip berpasangan pada
ikan. Balfour dan yang lain memperoleh sirip berpasangan dari lipatan sirip
lateroventral yang memanjang yang ditopang oleh jejari sirip paralel seperti
pada amphioxus.
Dogfish (squalus) tumbuh hingga mencapai 1 m, dan sebagian besar hiu
memiliki panjang dibawah 2,4 m, hiu putih besar (Carcharodon carharias ) dan
hiu basking (Cetorhinus maximus) dapat mencapai panjang 12m, dan hiu paus
(Rhineodon typus ) mencapai panjang 15 m. Sebagian besar ikan pari memiliki
panjang 30,5 cm-1 m, tetapi ikan iblis besar (Manta birostris) tumbuh mencapai
panjang 5m dan 6m menyilang sirip pektora. Chimaeramemiliki panjang kurang
dari 1 m.
Morfologi
Morfologi pada kelas Chondichtyes dideskripsikan berdasarkan perwakilan kelas
yaitu ikan hiu. Hiu memiliki sirip ekor heterocercal yang di gunakan untuk
berenang, celah insang lateral, terdapat spirakel di belakang mata, sirip terdiri
atas sepasang sirip dada (pectoral) dan sirip perut (pelvic), satu atau dua sirip
punggung (dorsal), satu sirip ekor, kadang-kadang terdapat sepasang sirip dubur
(anal). Hiu adalah sekelompok ikan dengan kerangka tulang rawan yang lengkap
dan tubuh yang ramping. Mereka bernapas dengan menggunakan lima liang
insang (kadang-kadang enam, tujuh tergantung pada spesiesnya). Hiu
mempunyai tubuh yang dilapisi kulit dermal denticles untuk melindungi kulit
mereka dari kerusakan, dari parasit dan untuk menambah dinamika air. Hiu
mempunyai beberapa deret gigi yang dapat di gantikan.
5.
a)

Anatomi Eksternal
Gigi

Gigi ikan hiu berkembang baik yang membuatnya ditakuti organisme lain. Gigi
pada hiu yang berada di gusi tidak menempel di rahang secara langsung dan
gigi tersebut bisa diganti setiap waktu. Di beberapa baris gigi pengganti tumbuh
jalur di bagian dalam rahang dan terus bergerak maju seperti ikat pinggang.
Beberapa hiu dapat kehilangan sekitar 30.000 lebih gigi semasa hidupnya.
Tingkat pergantian gigi bervariasi dari sekali setiap 7-8 hari sampai beberapa
bulan. Pada sebagian besar spesies gigi yang diganti satu persatu, kecuali hiu
cookiecutter yang mengganti seluruh barisan gigi sekaligus.
b)

Kerangka

Hiu dan pari memiliki kerangka yang berbeda dengan ikan dan vertebrata
daratan. Hiu dan pari memiliki kerangka yg terbuat dari tulang rawan dan
jaringan konektif, karena itu keduanya memang tergolong pada kelas
Chondrichthyes atau ikan bertulang rawan. Ikan memiliki kerangka tulang sejati,
sama dengan tulang yang dimiliki semua vertebrata daratan. Tulang rawan atau
cartilago merupakan kerangka yang lentur yang memiliki kepadatan setengah
dari tulang. Hal ini dapat mengurangi bobot kerangka, sehingga dapat
menghemat energi
c)

Rahang

Rahang hiu tidak melekat pada kranium. Permukaan rahang hiu dan lengkungan
tulang insangnya membutuhkan penopangan ekstra karena paparan yang berat
untuk fisik hiu serta butuh kekuatan yang besar. Bagian ini mengandung lapisan
heksagonal piring kecil yang disebut tesserae, yang merupakan blok Kristal
garam kalsium yang diatur menjadi mosaik. Hal ini memberikan banyak kekuatan
pada daerah-daerah tertentu, yang juga sama seperti hewan lain.
Umumnya hiu hanya memiliki satu lapisan tesserae, tapi untuk spesies yang
besar seperti hiu banteng,hiu harimau, dan hiu putih besar, terdapat dua sampai
tiga lapisan bahkan lebih, tergantung ukuran tubuhnya. Khusus hiu putih besar,
rahangnya dapat mencapai lima lapisan. Pada moncongnya, tulang rawannya
memiliki kemampuan spons dan fleksibel untuk menyerap kekuatan tekanan.
d)

Ekor

Bentuk ekor hiu dipengaruhi lingkungan sehingga bentuknya bervariasi dari satu

jenis dengan jenis lainnya. Ekor berguna dalam memberi dorongan, memberi
kecepatan dan percepatan tergantung bentuk ekornya. Hiu memiliki sirip ekor
heterocercal di mana bagian punggungnya biasanya terasa lebih besar
dibandingkan bagian ventral. Hal ini disebabkan ruas tulang belakang hiu meluas
ke bagian dalam punggung sehingga memberikan area permukaan yang lebih
besar untuk lampiran otot. Hal ini memungkinkan gerak yang lebih efisien pada
ikan bertulang rawan apung negatif. Sebaliknya, ikan memiliki tulang yang paling
menyerupai sirip caudal homocercal.
Ekor hiu harimau memiliki lobus atas yang besar yang memberikan daya
maksimum untuk penjelajahan lambat atau ledakan kecepatan mendadak. Hiu
harimau mampu memutar dan mengubah arah di dalam air dengan mudah ketika
berburu untuk mendukungnya mendapat makanan, sedangkan porbeagle, yang
berburu ikan bergerombolan seperti makarel dan herring memiliki lobus yang
lebih besar dan rendah untuk membantu mengimbangi kecepatan renang
mangsanya.
e)

Kepala

Terdapat reseptor medan elektromagnetik (disebut ampullae of Lorenzini) dan


gerak mendeteksi kanal di kepala hiu. Mereka berjumlah ratusan hingga ribuan.
Hiu menggunakan disebut ampullae of Lorenzini untuk mendeteksi medan
elektromagnetik dimana semua makhluk hidup menghasilkan. Ini membantu hiu
(terutama hiu martil) mencari mangsa. Hiu ini memiliki sensitivitas listrik terbesar
binatang. Hiu mencari mangsa tersembunyi di pasir dengan mendeteksi medan
listrik yang mereka hasilkan. Arus laut bergerak dalam medan magnet Bumi juga
menghasilkan medan listrik yang digunakan oleh ikan hiu untuk orientasi dan
navigasi.
f)

Sistem Muskular

Otot tubuh dan ekor merupakan karakter segmental dan berfungsi untuk
menghasilkan undulasi lateral batang tubuh dan ekor yang dibutuhkan untuk
berenang. Otot yang lebih terspesialisasi melayani sirip yang berpasangan,
daerah insang, dan struktur kepala.

6.

Anatomi Internal

Anatomi internal tubuh hiu berbeda dengan ikan yang memiliki tulang sejati
(tulang keras). Salah satu perbedaan utama adalah bahwa semua hiu memiliki
kerangka kartilago. Penyayatan perut dari panggul sirip ke sirip dada organ
pertama ditemui adalah hati. Hati menempati sebagian besar rongga tubuh hiu.
Hati hiu berukuran besar, lembut dan berminyak. Organ ini terdiri dari hingga
25% dari total berat badan.
Hati hiu memiliki dua fungsi. Yang pertama adalah sebagai penyimpan energi
karena semua cadangan lemak disimpan di sini. Fungsi kedua hati adalah untuk
organ hidrostatik. Pelumas yang lebih ringan dari air disimpan dalam hati. Hal ini
mengurangi kepadatan sehingga memberikan daya apung tubuh untuk
mencegah tenggelamnya hiu. Selain hati, lambung dapat dilihat di dalam rongga
tubuh. Di dalam perut hiu sering ditemukan isi makanan terakhir.
Perut hiu sendiri berakhir pada penyempitan yang disebut pilorus, yang
mengarah pada duodenum dan kemudian ke katup spiral usus. Katup spiral usus
adalah organ yang digulung secara internal berfungsi meningkatkan luas bidang
permukaan untuk membantu penyerapan nutrisi. Katup spiral usus bermuara di
rektum dan anus yang pada gilirannya akan bermuara di kloaka. Kloaka adalah
ruang tempat saluran pencernaan, saluran kemih dan saluran kelamin yang
terbuka ke luar. Lambung, usus, dan organ dalam yang lain terdapat pada
rongga tubuh yang besar (selom). Selom dilapisi oleh membrane halus yang
mengkilat

yang

organ.organ0organ

disebut
yang

peritoneum,
ditopang

dari

yang
dinding

juga

melapisi

middorsal

selom

organoleh

mesenterium tipis, juga salah satui bentuk peritoneum. Septum transversal


memisahkan selom dari rongga yang mengandung jantung.
Ikan pari sengat (DASYATIDAE), mempunyai 1-3 duri berbisa pada pangkal ekor
yang dapat membuat luka sangat menyakitkan bahkan dapat mematikan.
Terdapat sekitar 90 jenis dengan diameter "cakram" 0,30 - 2,1 m. Tubuhnya
sangat pipih dengan bentuk bervariasi, ada yang bundar, segitiga atau belah
ketupat. Sirip dada mirip sayap, sirip punggung kecil dan hanya satu, bahkan

pada kebanyakan jenis tidak ada. Sirip ekor tidak ada, kecuali ge-nus
Aetoplatera dan Gymnura, yang berekor pendek. Semua ikan pari sengat
berekor kecil panjang mirip cambuk, lebih panjang daripada tubuhnya. Mata
terletak di puncak kepala dan di belakangnya terletak lubang pernapasan yang
merupakan pintu masuk air untuk memasok insangnya yang terletak di sisi
bawah belakang mulut. Di sisi atas dan di dekat pangkal pangkal ekor terdapat 1
- 3 sengat yang merupakan duri tajam, digunakan hanya untuk membela diri bila
diganggu atau diserang. Di dalam duri tersebut terdapat sel-sel kelenjar bisa,
sehingga di banyak daerah duri-duri ini digunakan sebagai ujung tombak.
Panjang duri ini biasanya 7,5-10 cm, bahkan ada yang mencapai 38 cm pada
ikan berukuran besar. Pari sengat biasanya berdiam diri di pasir atau Lumpur
pada pantai yang dangkal dan sulit terlihat. Di Amerika Serikat setiap tahun
terjadi sekitar 1500 "kecelakaan" yang diakibatkan oleh ikan pari sengat,
beberapa diantaranya mengakibatkan kelumpuhan otot-otot jantung dan
kematian (HALSTEAD, 1959; van HOEVE, 1992).