Anda di halaman 1dari 56

a. Latar belakang

BAB I PENDAHULUAN

Bissu adalah sebutan bagi kelompok masyarakat Bugis yang berperan sebagai

pemimpin dalam prosesi adat dan spiritual. Peran tersebut menempatkan bissu sebagai

tokoh sentral di setiap prosesi adat yang melibatkan dirinya. Keberadaannya sudah ada

sejak masa Bugis klasik yang dapat dilacak dalam epos terpanjang La Galigo 1 . Pada

masa pemerintahan kerajaan sebelum masuknya Islam di Sulawesi Selatan, peran bissu

sangat penting. Saat Islam masuk pun peran bissu masih dibutuhkan oleh kerajaan dan

masyarakat pendukungnya. Namun, sejalan dengan semakin kuatnya pengaruh ajaran

Islam peran bissu menurun. Bissu zaman dulu berperan sebagai pemimpin ritual yang

berhubungan dengan daur hidup life-cycles seperti upacara menaiki rumah baru,

kelahiran bayi, kematian, dan perkawinan. Bahkan seorang raja tidak bisa dilantik tanpa

kehadiran sang bissu. Disamping itu, bissu bertugas sebagai penjaga sekaligus perawat

regalia istana. Berbagai lapisan masyarakat juga memerlukan uluran tangan bissu

misalnya menjadikan bissu sebagai dukun jika ada masyarakat yang sakit.

Sosok bissu sangat unik karena secara fisik ia adalah laki-laki, namun tingkah laku

dan tutur katanya menyerupai wanita. Kebanyakan bissu berjenis kelamin laki-laki

namun tidak berarti hanya laki-laki saja yang berhak menjadi bissu. Malah kemunculan

awal bissu pada catatan yang ada di La Galigo menyebutkan bissu berjenis kelamin

perempuan. Sepertinya menjadi keharusan bahwa yang menjadi bissu haruslah orang

yang tertentu yakni secara fisik laki-laki namun tingkah laku dan tutur kata seperti

wanita. Disamping itu, dalam kepercayaan bugis kuno sosok seseorang yang tidak jelas

1 Karya sastra Bugis klasik dengan gaya bahasa sastra tinggi. La Galigo merupakan salah satu epos terbesar di dunia yang lebih panjang dari Mahabrata. Dari 113 naskah yang ada, jumlah halamannya terdiri atas 31.500 halaman. Antara tahun 1931 hingga 1954, seorang Belanda, R.A. Kern menyaring dan membuat ringkasan setebal 1.356 halaman (Pelras, 2006:37). Pada mulanya La Galigo merupakan karya lisan dan memiliki pengarang lebih dari seorang yang namanya tidak diketahui dengan pasti. Begitu pula dengan tahun munculnya epos ini, tidak diketahui secara tepat. Namun, beberapa orang Eropa memperkirakan munculnya sekitar abad ke-14. Naskah karya ini tidak sambung menyambung, melainkan berisi episode yang terpisah-pisah. Pada tahun 1860 upaya penulisan kembali dalam aksara Bugis dilakukan oleh seorang perempuan bangsawan Bugis dari Tanete bernama Arung Pancana Tua Colliqpujie (Ambo Enre, 1999:7). Kern menyebut La Galigo sebagai roman keluarga yang sedemikian luasnya yang isinya berupa upacara penyambutan, kelahiran, perkawinan, pelantikan bissu, perjamuan, pertempuran darat, pertempuran laut, bahkan acara sabung ayam (Kern, 1993:7).

1

jenis kelaminnya ditempatkan sebagai tokoh yang sakti dan dikeramatkan. Meskipun bissu secara fisik kebanyakan dari laki-laki namun tidak jelas jenis kelaminnya. Pelras bahkan mengklaim bahwa calabai merupakan manusia berjenis kelamin ketiga dan calalai bejenis kelamin keempat (Pelras, 2006: 190). Bissu tidak termasuk jenis kelamin laki-laki maupun perempuan, tidak pula calabai atau calalai. Meskipun secara fisik ia adalah laki-laki. Bissu memiliki gender tersendiri yang mempunyai fungsi dan peran yang berbeda dengan empat gender sebelumnya. Jika demikian, dapat dikatakan bahwa bissu adalah manusia gender kelima. Saat sekarang bissu masih dapat dijumpai dalam keadaan dan jumlah yang semakin memprihatinkan bahkan mungkin dapat dikatakan berangsur-angsur hampir punah. Ruang untuk peran bissu di tengah-tengah masyarakat juga semakin sempit. Peran sentral bissu dalam abad ini pernah terjadi pada Juli 2004 saat pelantikan raja Pammana ke-40 di Kabupaten Wajo. Hampir semua prosesi upacara pelantikan tersebut dilakukan oleh bissu. Segala atraksi bissu yang sakral dipentaskan seperti sere bissu tari bissu, mallejja bara menginjak bara api, nyanyian yang mengundang penguasa ‘dunia atas’ dan ‘dunia atas’ untuk menyaksikan prosesi pelantikan, maggiri menusukkan alameng sejenis parang ke tubuh bissu, dan ritual yang menyebabkan bissu berada pada alam bawah sadar. Ritual yang dilakukan oleh bissu ini sangat jarang dimunculkan sepanjang tahun bahkan dekade. Bissu melakukan ritual ini hanya pada saat pelantikan raja. Pelantikan ini sempat mengalami kesenjangan waktu yang sangat lama. Ritual pelantikan raja sebelumnya pernah dilakukan pada masa sebelum kemerdekaan. Secara keseluruhan, peran yang memunculkan bissu saat sekarang tidak lagi seperti masa lampau. Kemunculannya lebih banyak berupa atraksi yang tidak lagi memiliki nilai ritual. Misalnya atraksi penyambutan tamu atas permintaan pemerintah daerah. Nilai sakral atraksi ini sudah tidak ada lagi. Pemunculan bissu tidak lebih sebagai pelengkap acara saja. Bissu dibutuhkan hanya pada atraksinya, selain itu mereka tidak dibutuhkan lagi. Bissu telah mengalami pergeseran peran karena makna upacara tradisional yang membawa posisi bissu menjadi penting, telah tereduksi oleh pengaruh kapitalisme dan logika individual yang cenderung tidak menempatkan bissu pada fungsi sesungguhnya. Hubungan antargenerasi bissu yang merupakan bagian budaya genetik mengalami kesenjangan sehingga harmoni atau integrasi yang diharapkan kurang berfungsi dengan

2

baik. Berbagai upacara tradisional yang menjadi simbol dimaknai pada tataran yang berbeda dari tujuan yang sesungguhnya (Abdullah, 2006). Sebagai contoh, tarian penyambutan tamu istimewa sere leluso yang sarat makna dan hanya dilakukan oleh bissu, pada saat sekarang sudah dilakonkan dengan leluasa oleh sanggar seni. Betapa memprihantinkan kondisi kehidupan bissu saat ini. Rumah khusus untuk kelompok bissu yang dibangun pihak kerajaan sudah tidak ada lagi. Rumah bissu ini menjadi tempat berkumpul, bermusyawarah, dan tempat tinggal sehari-hari para bissu. Dalam penelitian Lathief menunjukkan bahwa hilangnya tempat ini mengakibatkan tempat tinggal kelompok bissu tercerai berai. Para bissu sangat mendambakan dibangunnya kembali tempat tersebut. Namun sampai sekarang yang didambakan tak kunjung tiba. Banyak bissu memilih jalan hidup menyendiri di tempat tersendiri. Jika salah seorang bissu sakit, maka ia sakit seorang diri. Beberapa bissu meninggal dalam kesendiriannya (Lathief, 2004: 55-56). Tidak adanya perhatian khusus dari pemerintah terhadap kehidupan bissu sehari-hari bukan bermaksud untuk menyalahkan pemerintah. Hal ini berkaitan erat dengan sistem pemerintahan saat ini yang bukan lagi sistem kerajaan dimana bissu mempunyai peran strategis. Saat sekarang tidak ada lagi peran penting bissu kepada pemerintah kecuali bissu dibutuhkan hanya sekedar pelengkap acara saja utamanya pada upacara penyambutan tamu. Jumlah kelompok bissu di lokasi penelitian menunjukkan jumlah yang mengkhawatirkan. Jumlah kelompok bissu Pammana di Kabupaten Wajo mencapai 18 orang dipimpin oleh seorang angkuru bissu. Jumlah bissu yang sangat memprihatinkan berada di Kabupaten Bone. Pemunculan bissu pada setiap ritual di tempat ini mengharuskan 40 orang, namun bissu resmi hanya satu orang. Pimpinan kelompok bissu disebut puang matowa yang telah meninggal awal tahun 2007 sehingga yang menggantikan sekarang adalah lolo wakilnya. Adapun yang lain hanya merupakan calabai yang berperan seperti bissu. Dalam jumlah seperti ini dikhawatirkan akan tidak ada lagi bissu dijumpai pada masa-masa yang akan datang. Dengan kata lain warisan budaya bugis kuno ini telah punah ditelan zaman. Dari keprihatinan ini memberikan pelajaran kepada kita bahwa pelestarian budaya ini bukan hanya tanggung jawab satu pihak misalnya pihak bissu sendiri, namun tanggung jawab ini merupakan tanggung jawab bersama. Apresiasi dan dorongan moril kita terhadap keberlangsungan bissu

3

merupakan hal mutlak yang kita lakukan jika masih ingin melihat sisa-sisa budaya bugis kuno ini. Respon sebagian masyarakat yang mencibir kehadiran bissu juga menjadi masalah tersendiri bagi keberlangsungan upacara tradisional dan keberadaan bissu sebagai bagian dari warga masyarakat. Masih banyak masyarakat yang belum bisa membedakan antara calabai atau waria (wanita pria) dengan bissu. Kesan buruk banyak dicitrakan pada calabai karena tingkah laku mereka banyak yang bertentangan dengan tata krama sopan santun masyarakat misalnya dalam tata krama berpakaian. Disamping itu, calabai diidentikkan dengan tindakan asusila, walaupun sebenarnya tidak semua calabai melakukan tindakan tersebut. Kenyataan ini menunjukkan ruang gerak dan peran bissu di tengah masyarakat yang memang sempit menjadi semakin sempit. Bahkan dapat dikatakan nyaris tidak ada sama sekali. Rentetan ini baik secara langsung maupun tidak langsung berpengaruh pada kelangsungan hidup secara ekonomi seorang bissu karena sumber penghasilan utama bissu berasal dari prosesi adat. Hal ironis yang masih tetap terjadi sekarang adalah impian untuk menjadi bissu tidak pernah surut meskipun berbagai risiko dan konsekuensi seperti yang telah disebutkan di atas berada di depan mata. Seorang calabai di Bone bernama Ita menuturkan keinginannya untuk menjadi bissu (wawancara dengan peneliti, 3 April 2007). Baginya, bissu merupakan sosok yang telah lama diimpikan karena kedudukannya lebih tinggi dibanding dengan calabai. Lain halnya dengan calabai Bakri Daeng Talebbi 50 tahun di Wajo yang sejak kecil bercita-cita ingin menjadi bissu. Tantangan terberatnya ialah niatnya untuk menjadi bissu ditentang keras oleh orangtuanya. Meskipun pada akhirnya setelah melewati berbagai tantangan ia telah berhasil menjadi bissu dan bergabung di dalam kelompok bissu Pammana. Tugasnya di kelompok ini yaitu sebagai mallawa botting atau dalam makna harafiahnya adalah menghalau pengantin. Maksudnya adalah pada saat upacara pernikahan dilaksanakan sebelum mempelai laki-laki bertemu dengan mempelai wanita terlebih dahulu dihadang oleh Bakri Daeng Talebbi. Selain itu ia juga termmasuk dalam kelompok penari sere bissu tarian bissu. Ini menunjukkan sosok bissu memiliki kharisma tersendiri baik dikalangan bissu maupun masyarakat sehingga tidak heran menjadi dambaan utamanya bagi calabai atau kaum wanita pria (waria).

4

Bissu dituntut harus malebbi menjaga kesopanan dan tidak melakukan hal asusila yang tercela. Untuk menjadi bissu harus melalui prosesi atau persyaratan yang berat. Tidak semua calon bissu dapat serta-merta menyandang gelar bissu. Faktor ini turut memicu penurunan jumlah bissu di Sulawesi Selatan khususnya di Pammana Kabupaten Wajo. Peminat bissu antusias biasanya dijumpai dikalangan calabai. Namun, jika calabai tersebut belum menunjukkan tingkah laku sopan dan masih berbuat asusila maka ia belum berhak mengikuti prosesi pelantikan bissu. Akibatnya, hasrat menjadi bissu besar namun terbentur pada persyaratan yang berat maka jadilah peran seolah-olah bissu. Bissu yang seharusnya dilingkupi aturan ketat, kini pemeran bissu melonggarkan aturan. Misalnya dalam berpakaian lebih mengikuti kecenderungan pakaian sekarang, bagaikan seorang remaja dengan istilah anak gaul. Jadi tuntutan untuk malebbi menjaga kesopanan tinggal tuntutan dan tetap saja ditemukan oknum bissu melanggar aturan ini. Pelanggaran aturan ini tidak tergolong berat karena oknum bissu tersebut hanya mengikuti perkembagan kecenderungan berpakaian model anak muda yang ukuran pakaiannya serba 'minim'. 2 Isyarat di atas menunjukkan bahwa tidak ada lagi bissu dalam budaya Bugis tetapi pada kenyataannya bissu masih tetap ada. Bissu dalam budaya bugis mempunyai dinamika perkembangan dari masa ke masa yang memiliki keunikan tersendiri. Berbagai aktor bissu tampil silih berganti mewakili zamannya dari masa silam hingga kini. Mereka tampil mewarnai berbagai kegiatan yang melibatkan bissu. Aturan-aturan dalam dunia bissu diterjemahkan berdasarkan keadaan jamannya masing-masing sehingga menimbulkan berbagai penafsiran. Penafsiran yang muncul turut mempengaruhi bertahannya bissu dalam suatu wilayah. Disamping itu, upacara yang melibatkan bissu sebagai tokoh sentral mendapat tentangan berat karena dianggap bertentangan dengan kepercayaan mayoritas bugis sebagai pemeluk taat ajaran Islam. Namun demikian, tidaklah berarti bahwa budaya bissu harus dihapus karena budaya ini merupakan warisan leluhur budaya bugis yang usianya sudah sangat lama. Upaya pelestarian tradisi bissu

2 Observasi yang dilakukan peneliti sejak tahun 2004 sampai 2007 terhadap kelompok bissu Pammana Kabupaten Wajo. Masn seorang oknum bissu dengan jabatan sebagai angkuru lolo bissu Pammana atau wakil pemimpin bissu yang peneliti istilahkan sebaga bissu gaul karena dalam berpakaian ia sudah mengikuti kecenderungan pakaian yang modelnya bertentangan dengan aturan bissu yang mengharuskan bissu menjadi orang yang malebbi. Namun diawal tahun 2007 Masn sudah tidak muncul lagi pada setiap upacara yang melibatkan bissu dalam kelompok bissu Pammana karena sudah tidak tercatat lagi sebagai anggota kelompok ini.

5

perlu dilakukan dengan jalan mencari bentuk reinvensi kultural yang cocok seiring dengan perkembangan zaman. Hal ini menjadikan masalah yang menarik untuk dikaji. b. Permasalahan Berbagai upacara tradisional yang dilakukan oleh bissu di kabupaten Wajo khususnya kelompok bissu Pammana masih berhubungan dengan sinkretisme. Hal ini mempengaruhi peran bissu dalam masyarakat menjadi semakin memudar. Pada masa silam upacara yang dilakonkan oleh bissu mengangkat kelompok ini pada posisi yang tidak tergantikan. Akan tetapi saat sekarang, upacara justru mengakibatkan kelompok bissu Pammana menjadi semakin terpuruk. Jika demikian, upacara yang dilakukan oleh bissu mempunyai nilai yang berarti peluang sekaligus ancaman. Dikatakan peluang karena upacara yang dilakonkan oleh bissu dapat dihidupkan kembali dengan segala konsekuensinya termasuk akan mengalami pergeseran makna ritual. Peluang ini juga berarti dapat mendukung kehidupan sosial ekonomi kelompok bissu Pammana. Dilibatkannya kelompok ini dalam satu kemasan atraksi yang berkaitan dengan wisata. Upacara juga mempunyai dampak ancaman apabila tidak dilakukan penyesuaian- penyesuaian terhadap masyarakat yang selalu mengalami perubahan. Perubahan yang terjadi dalam masyarakat disebabkan oleh the difference between the current and antecedent condition of any selected aspect of social organization or structure (Jary dan Julia, 1991: 577). Terdapat selisih antara kondisi saat sekarang dengan masa lampau. Kondisi tersebut bisa jadi merupakan unsur-unsur dalam ajaran agama. Sehingga hal yang patut dicurigai yang membutuhkan kajian yang lebih lanjut adalah apakah benar ajaran agama dapat mengancam upacara yang dilakonkan oleh bissu atau sebaliknya. Secuil harapan yang memungkinkan upacara berkelanjutan yakni mencari unsur-unsur yang sudah menggunakan berbagai istilah yang terdapat dalam ajaran Islam. Hal ini sebaiknya dicarikan titik temu agar ada lagi upacara tradisional bissu yang dapat diterima luas oleh masyarakat. Secara implisit berimplikasi pula kepada perlunya inventarisasi upacara yang menampilkan kelompok bissu Pammana. Berbagai komponen masyarakat yang terlibat dalam upacara yang menampilkan bissu mengukuhkan bissu pada posisi penting atau sebaliknya tidak bermakna sama sekali. Komponen masyarakat merupakan salah satu subsistem yang membentuk ekuilibrium yang turut menentukan kestabilan dalam konteks bissu ditengah-tengah

6

masyarakat. Apabila salah satu dalam komponen masyarakat tidak mendukung ritual

bissu karena alasan keyakinan atau pemaknaan masyarakat terhadap ritual bissu tidak mendapatkan apresisasi yang memadai maka dapat berakibat bissu menjadi terpinggirkan. Sebaliknya, apabila komponen masyarakat memberikan apresiasi kepada bissu dan ritualnya serta memberikan ruang-ruang maka bissu kembali akan berada pada posisi yang penting. Disamping komponen masyarakat, upacara yang didalamnya terdapat ritual, dan regenerasi bissu menjadi subsistem dalam sebuah sistem ekuilibrium. Dibutuhkan hubungan yang harmonis diantara unsur-unsur yang telah disebutkan agar tidak ada kepincangan dalam sistem ekuilibrium. Saya menduga bahwa dengan terjaganya keharmonisan tiap-tiap subsistem maka dengan sendirinya akan berimplikasi pada reinvensi bissu. Reinvensi mengarah pada pembaharuan kembali tradisi lama dengan jalan melakukan beberapa penyesuaian sehingga dapat diterima oleh masyarakat luas dalam konteks kekinian. Berbagai hal yang telah disebutkan di atas membawa kepada sebuah pertanyaan mendasar (grand tour question) mengapa bissu masih bisa bertahan dalam masyarakat yang telah mengalami perubahan? Pertanyaan turunan dari masalah mendasar di atas dapat dirunut sebagai berikut:

1. Bagaimana bissu ditampilkan dalam kehidupan sosial?

2. Mengapa masyarakat memerlukan kehadiran bissu?

3. Mengapa kelompok bissu dapat bertahan dalam masyarakat yang berubah?

c. Kerangka teori dan konsep Isu sentral kajian ini mengenai reinvensi yang berkaitan dengan upaya menghidupkan kembali tradisi bissu. Upaya ini khususnya pada nilai-nilai dalam upacara

tradisional dan eksistensi bissu itu sendiri. Objek kajian adalah kelompok bissu Pammana

di Kabupaten Wajo. Kajian ini menggunakan istilah kelompok bukan komunitas. Saya

mengacu pada pernyataan Koentjaraningrat (Koentjaraningrat dkk., 1984: 84,98) bahwa

kelompok adalah kolektif manusia yang merupakan kesatuan beridentitas dengan adat istiadat dan sistem norma yang mengatur pola-pola interaksi antar manusia itu.

Sedangkan komunitas merupakan kesatuan sosial yang terikat oleh rasa kesadaran wilayah. Pernyataan ini tidak secara tegas memberikan kriteria mengenai jumlah manusia

di dalamnya sehingga dapat dikategorikan sebagai kelompok atau komunitas. Namun,

7

secara tersirat saya memahami bahwa istilah kelompok lebih tepat saya gunakan dalam kajian ini. Alasannya jumlah bissu di Pammana hanya 18 orang yang terikat dengan identitas, adat, dan pola intekasi yang sama. Keterikatan identitas ini didukung oleh formalitas keanggotaan any collectivity or plurality of individuals bounded by informal or formal criteria of membership (Jary dan Julia Jary, 1991: 264). Secara formal, kelompok bissu Pammana berada dalam struktur organisasi dewan adat Pammana. Kondisi yang mengharuskan reinvensi kultural diantaranya karena berbagai upacara tradisional yang dilakukan oleh bissu dianggap oleh sebagian masyarakat mendekati syirik. Namun, tidak demikian oleh bissu sendiri. Bissu menganggap tidak semua upacara tradisional yang dilakukannya bertentangan dengan ajaran agama Islam sebagai agama utama orang Bugis. Dalam beberapa upacara yang menggunakan bahasa Bugis kuno sudah diselipkan kata atau ujaran berbahasa Arab yang berkaitan erat dengan agama Islam misalnya kata bismillah atau kalimat syahadat. Hal ini menandakan bahwa terdapat ‘benang merah’ yang menghubungkan antara ritual bissu dan keyakinan sekarang yang dianut oleh mayoritas orang Bugis. Jika benar ada upacara tradisional bissu yang tidak bertentangan dengan ajaran agama artinya upacara tersebut dapat dipertahankan atau dihidupkan lagi. Hal ini senada dengan gagasan Darma (Darma, 1995:72 dalam Tuloli, 2003:6) tentang keterbukaan budaya. Dalam keterbukan terjadi perubahan sebagai berikut: (1) ada unsur-unsur yang aus kemudian mati, (2) ada unsur-unsur baru yang kemudian hidup, (3) ada pula unsur-unsur yang telah mati menjadi hidup kembali karena ternyata bisa menyesuaikan dengan dinamika baru. Pertama, unsur-unsur yang aus kemudian tidak bertahan lagi yang tentunya tidak seiring dengan ajaran Islam. Kemungkinan lain yaitu terputusnya regenerasi lisan dari generasi pendahulu ke pelanjut bissu. Hal ini berkaitan dengan budaya lisan yang dianut oleh kalangan bissu masih sangat kental. Bahasa Bugis kuno yang digunakan oleh bissu dalam setiap upacara tradisional dipelajari secara lisan dan turun temurun hanya dikalangan bissu. Upaya pendokumentasian dan pengkajian bahasa Bugis kuno ini dilakukan secara parsial seperti yang dilakukan oleh Syahrir. Ia mendokumentasikan nyanyian dan doa-doa bissu dalam jumlah yang sangat terbatas (Syahrir, 2003: 31-82). Upaya pengkajian dan pendokumentasian bahasa Bugis kuno secara lengkap dan menyeluruh belum terlalu mendapatkan perhatian serius oleh pemerintah dan ahli bahasa.

8

Oleh karena tidak adanya referensi bahasa Bugis kuno maka bagi bissu jalan satu-satunya untuk mempelajari bahasa ini adalah hanya secara lisan dan sifatnya tertutup. Kedua, unsur-unsur baru kemudian hidup diakibatkan oleh pengaruh kuat ajaran Islam, misalnya dalam upacara tradisional bissu menyelipkan kalimat syahadat tentang kesaksian tiada tuhan selain Allah dan nabi Muhammad sebagai utusan-Nya. Hal ini sebagai bentuk penyesuaian upacara dengan jalan to give any desired change (Hobsbawm, 2003:6). Perubahan tersebut yakni memasukkan unsur lain yang dominan sehingga terjadi perubahan dalam ritual. Perubahan tersebut tentu saja tidak mempengaruhi secara signifikan makna dalam upacara tersebut. Ketiga, unsur-unsur yang dulunya ada namun tidak digunakan lagi saat ini, dimunculkan kembali karena ternyata masih sesuai dengan kondisi saat ini. Kategori ini sulit dilacak karena memerlukan kajian lebih mendalam dan melibatkan paradigma lain misalnya sejarah. Disamping itu, generasi ‘sepuh’ bissu ini sudah banyak yang tidak ada lagi sehingga informasi budaya generik berupa upacara tradisional yang diturunkan dari generasi ke generasi mengalami berbagai distorsi. Distorsi ini memerlukan waktu dan tenaga untuk melacak unsur-unsur yang sudah tidak digunakan untuk digunakan kembali. Konsep selanjutnya adalah upacara. Definisi upacara dalam bahasa Inggris memiliki dua pengertian yaitu ritual dan ceremony (Koentjaraningrat, 1984:189 dan Echols, 1997:605). Ritual mengandung pengertian kegiatan yang memiliki makna sakral dan religi any formal action which is set apart from profane action and which expresses sacred and religious meaning ( Jary dan Julia Jary, 1991: 536). Makna sakral biasanya dikaitkan dengan kepercayaan terhadap supranatural yang diwujudkan berupa pemberian sesaji, berdoa, dan menyanyikan lagu-lagu keramat (Abdullah, 2002:10). Makna ceremony memiliki pengertian yang lebih luas dari pada ritual, dalam Dictionary of Antrhropology (Charles Winick 1977:105 dalam Abdullah 2002: 10) menerangkan a fixed or sanctioned pattern of behavior which surrounds various phases of life, often serving religious or aesthetic ends and confirming the group’s celebration of a particular situation. Ceremony meliputi berbagai fase kehidupan manusia yang saling terkait termasuk didalamnya ritual. Ceremony juga sering dikaitkan dengan peristiwa penting yang terjadi di tengah masyarakat. Berdasarkan definisi ini, konsep upacara yang sesuai dalam kajian ini yaitu sesuai dengan pengertian ceremony karena yang akan

9

dibahas bukan hanya ritual tetapi tingkah laku kelompok bissu Pammana pada situasi tertentu misalnya atraksi sere leluso untuk penjemputan tamu bagi penguasa daerah dan masyarakat umum. Upacara ini tidak melibatkan unsur-unsur supranatural. Bentuk upacara kelompok bissu Pammana hanya satu yaitu mabbissu atau upacara tradisional yang melibatkan bissu sebagai tokoh sentral. Dalam upacara ini terdiri lagi beberapa bagian yang memiliki makna yang mendalam. Apabila upacara ini diadakan oleh kerabat istana maka perlengkapan ritual dalam upacara ini ditata secara lengkap. Begitu pula ritual yang harus dilakonkan oleh bissu jaga ditampilkan secara lengkap. Namun, upacara yang diselenggarakan oleh masyarakat umum pendukung kelompok bissu Pammana dan atas undangan penguasa daerah, bentuk upacara, perlengkapan ritual, dan atraksi bissu dilaksanakan tidak selengkap dengan upacara bagi kerabat istana. Konsekuensi upacara tradisional ini tentu saja mempunyai implikasi pada aktor utamanya, dalam hal ini yaitu bissu. Mereka dari segi ekonomi akan mendapatkan keuntungan dari hasil upacara tradisional yang dilakoninya. Hal ini tentu saja akan dapat mendukung pemenuhan kebutuhan material sehari-hari. Namun, jika tidak ada upacara, mereka terpaksa ‘banting haluan’ untuk menyokong pemenuhan kebutuhan sehari-hari umumnya sebagai pelaksana kegiatan pada pesta perkawinan yang dilakukan oleh masyarakat umum. Aktor kedua, adalah kerabat istana. Kerabat ini menggunakan kelompok bissu Pammana dalam upacara tradisional yang bersifat resmi. Upacara tersebut erat kaitannya dengan life-cycles dan urusan istana. Dalam aturan istana, kelompok bissu Pammana ibarat protokoler kegiatan-kegiatan istana (wawancara Andi Syahrazad Pallawaruka Datu Pammana ke-40 tanggal 27 Maret 2007 di Sengkang). Aktor yang paling banyak menuai keuntungan adalah kerabat istana kerena kehadiran kelompok bissu Pammana dalam upacara semakin mengukuhkan atau ‘show of force’ kerabat istana baik dimata pendukungnya maupun masyarakat umum. Konsep lain yang perlu dijelaskan yaitu konsep tentang aktor atau pelaku dalam upacara yang melibatkan kelompok bissu Pammana. Definisi aktor dalam Tesaurus Bahasa Indonesia yaitu pelaku, penonton, tokoh (Endarmoko, 2006). Saya lebih cenderung menggunakan kata pelaku untuk memberikan pengertian tentang kata aktor. Pelaku yang dimaksud adalah orang yang melakukan kegiatan upacara baik sifatnya pribadi maupun kelompok. Pelaku yang terlibat dalam upacara yang menampilkan

10

kelompok bissu Pammana dapat dikelompokkan menjadi tiga bagian yaitu masyarakat, dewan adat, dan pemerintah daerah. Masyarakat dibagi menjadi dua bagian yaitu kerabat istana dan masyarakat umum. Seperti pembahasan sebelumnya bahwa apabila kerabat istana melaksanakan upacara maka benda-benda ritual dan atraksi bissu harus tersaji lengkap. Upacara yang dilaksankan oleh kerabat istana seputar life-cycles dan pelantikan raja. Sebaliknya, apabila kalangan masyarakat umum pendukung bissu misalnya sanro atau dukun yang harus ditampilkan oleh bissu tidak harus lengkap. Dewan adat Pammana menampilkan bissu dalam upacara mallawa botting atau pesta pengantin sebagai atraksi wisata andalan Pammana. Dewan adat yang memayungi kelompok bissu Pammana. Dewan ini mengupayakan pelestarian kelompok bissu dengan jalan memasukkan kelompok bissu dalam struktur lembaga ini. Upaya ini dengan harapan mengangkat citra kelompok bissu Pammana di masyarakat luas dan lebih memudahkan koordinasi apabila ada permintaan dari berbagai kalangan untuk menampilkan bissu. Lembaga ini juga melindungi kelompok bissu Pammana dari segala upaya dari oknum yang hanya memanfaatkan bissu untuk kepentingan pribadi. Aktor terakhir yaitu penguasa daerah, dalam hal ini dinas Pariwisata Kabupaten Wajo. Dinas ini sering mengundang kelompok bissu Pammana untuk melakukan atraksi penjemputan tamu misalnya Gubernur Sulawesi Selatan dan Pejabat petinggi pemerintahan lainnya. Konsekuensi yang harus diterima kelompok bissu Pammana apabila tidak ada aktor, tentu saja kelompok ini tidak akan mempunyai arti apa-apa. Bahkan dapat dikatakan kelompok bissu Pammana sudah punah. Betapa besar pengaruh aktor atas kelangsungan hidup kelompok bissu ini. Namun demikian, ada pula aktor secara tersirat yakni berupa oknum. Oknum dalam konteks ini dapat berupa pribadi atau kelompok. Oknum dapat berada di dalam kelompok bissu Pammana sendiri maupun di luar kelompok ini. Oknum sering mendapatkan ‘benturan’ dengan dewan adat karena oknum sering mengatasnamakan atau menggunakan kelompok bissu Pammana dalam upacara tanpa sepengetahuan dewan adat yang berfungsi sebagai ‘event orgaizer’nya kelompok bissu Pamana. Konsep terakhir yang perlu dijelaskan yaitu bertahan berdasarkan definisi Tesaurus Bahasa Indonesia (Endarmoko, 2006) bahwa bertahan berdasarkan beberapa pengertian yaitu: berdiam, bergeming, berdengung, berkeras hati, berkuat, bersikukuh, bersitegang,

11

bersiteguh, bersitegun, mengotot, dan tarik ulur. Berdasarkan beberapa pengertian di atas, yang akan digunakan dalam kajian ini adalah bersiteguh karena menyangkut sesuatu yang dilakukan tidak surut atau dengan kata lain dapat bertahan. Penyebab kelompok bissu Pammana dapat bertahan karena tiga faktor. Tiga faktor tersebut yaitu: faktor upacara, faktor regenerasi, dan faktor masyarakat pendukung atau aktor. Bissu bersiteguh menjalankan proses upacara karena tanpa ada upacara bissu tidak dapat menjalankan fungsinya. Faktor regenerasi memungkinkan kelompok bissu Pammana masih tetap ada hingga sekarang. Jumlah personil kelompok bissu Pammana hanya 18 orang, apabila tidak ada regenerasi kelompok ini maka dapat dipastikan kelompok bissu Pammana akan punah. Faktor terakhir yaitu masyarakat pendukung. Masih didapatkan jumlah yang sangat kecil masyarakat pendukung kelompok bissu Pammana. Biasanya mereka bersal dari kalangan dukun dan masyarakat yang tingkat pendidikannya rendah. Faktor bertahan tersebut memungkinkan membuka jalan bagi upaya pelestarian kelompok ini yaitu dengan cara mempertahankan bentuk upacara yang telah ada dan melakukan penyesuaian bentuk upacara. Hobsbawm dalam bukunya The Invention of Tradition menggagas untuk memunculkan kembali tradisi lama dalam masa kini dengan jalan melakukan beberapa perubahan. Sebagaimana ia mendefinisikan the term of invented tradition …it include ‘traditions’ actually invented, constructed, and formally instituted and these emerging in a less easily traceable manner within a brief and dateable period (Hobsbawm, 2003:1). Upacara tradisional kelompok bissu Pammana yang dilakukan sekarang merupakan ritual yang dilakukan oleh pendahulunya pada masa lalu. Namun, tidak semua ritual tersebut dapat dipertahankan pada saat ini. Memerlukan adaptasi untuk menciptakan sebuah kondisi baru dalam hal ini yang berhubungan dengan nilai ajaran Islam. Hal ini senada dengan gagasan Hobsbawn adaptation took place for old uses in new conditions and by using old models for new purposes (Hobsbawn, 1983). Berdasarkan sintesa beberapa konsep di atas maka teori yang akan digunakan dalam kajian ini berdasarkan pada pendekatan fungsional-struktural yang menitikberatkan agar peneliti berupaya untuk menunjukkan relasi fungsional antara suatu unsur budaya atau gejala sosial budaya tertentu dengan struktur sosial yang ada dalam masyarakat. (Ahimsa- Putra, 2007:29). Dalam hal ini yaitu relasi fungsional antara upacara tradisional

12

kelompok bissu Pammana dan relasi sosial yang menyebabkan kelompok ini bertahan hinga kini. Pendekatan fungsional-struktural yang akan digunakan berdasarkan yang telah dikembangkan oleh Tallcot Parsons (Nasikun, 1984: 14). Perubahan yang terjadi melalui penyesuaian terhadap unsur-unsur yang datang dari luar (extra systemic change). Hal ini berkaitan erat dengan pertanyaan utama mengenai masih bertahannya bissu hingga kini. Salah satu penyebab bissu bertahan karena ritual yang dilakonkan dapat diterima oleh masyarakat. Ritual tersebut telah mengalami penyesuaian sejalan dengan perkembangan logika dan keyakinan masyarakat yang selalu berubah. d. Metodologi Penelitian ini berlokasi di dua kecamatan yang saling berbatasan langsung yaitu Kecamatan Tempe dan Pammana Kabupaten Wajo Sulawesi Selatan. Meskipun kelompok bissu ini berasal dari kecamatan Pammana, namun upacara tradisional yang dilakukan bissu lebih banyak dilakukan di Kecamatan Tempe seperti upacara yang menampilkan ritual yang berhubungan dengan daur hidup life-cycles dan atraksi penyambutan tamu. Kehadiran bissu pada upacara tradisional yang berhubungan dengan siklus kehidupan dilakukan oleh masyarakat pendukungnya dan kalangan kerabat istana. Selanjutnya, pada penyambutan tamu umumnya permintaan dari pemerintah daerah dalam hal ini dinas Pariwisata Kabupaten Wajo. Tidak semua tamu disambut dengan tarian bissu, hanya tamu tertentu saja yang disambut dengan melibatkan bissu misalnya gubernur, menteri, atau presiden. Kecamatan Pammana dipilih karena tempat inilah menjadi asal bissu Pammana dan menjadi basis utama kegiatan mereka. Di kecamatan ini pula terdapat dewan adat yang secara stuktur organisasi menjadikan kelompok bissu Pammana bagian dari lembaga ini. Pada saat upacara pelantikan datu atau raja Pammana yang terakhir pada tahun 2004 dilakukan di tempat ini. Dewan adat mempunyai wewenang atas segala kegiatan yang mengatasnamakan kelompok bissu Pammana sehingga setiap kegiatan baik sifatnya ritual atau upacara lainnya harus sepengetahuan dewan adat. Campur tangan dewan adat ini turut memberi warna tersendiri dalam hubungannya dengan bentuk ritual yang harus diperankan oleh kelompok bissu Pammana. Kecamatan Tempe letaknya berbatasan langsung dengan Kecamatan Pammana. Sengkang ibukota Kabupaten Wajo berada di Kecamatan Tempe. Secara tidak langsung Kecamatan Tempe juga menjadi basis kegiatan

13

kelompok bissu Pammana. Berbagai upacara yang melibatkan bissu digelar di tempat ini misalnya upacara yang berhubungan dengan life-cycles dan penjemputan tamu penting oleh pemerintah daerah. Disamping dua lokasi penelitian yang telah disebutkan, dipilih pula lokasi di Watampone sebagai data pembanding antara dua kelompok bissu. Kelompok bissu Pammana mempunyai upacara tradisional khas yang tidak didapatkan pada bissu Watampone dan begitu pula sebaliknya. Data dari informan yang diperoleh di Watampone khusunya mengenai proses menjadi bissu, motivasi menjadi bissu, dan perbandingan jumlah bissu. Proses menjadi bissu pada kedua tempat tersebut memiliki perbedaan yang signifikan. Motivasi menjadi bissu juga beragam, namun pada dasarnya memiliki kesamaan. Hal ini tidak lepas dari pencitraan bahwa derajat bissu lebih tinggi dibanding dengan calabai. Perbandingan jumlah bissu pada daerah yang berbeda juga tidak seragam. Tidak ada kesepakatan bersama untuk menentukan jumlah bissu pada daerah yang memiliki bissu misalnya yang terdapat di Sengkang Kabupaten Wajo dan Watampone Kabupaten Bone. Bissu yang dipilih sebagai informan adalah pimpinan kelompok bissu Pammana dan seorang bissu generasi terakhir 3 . Saya anggap sebagai bissu generasi terakhir karena ia menjadi bissu pada masa arung matowa Wajo atau raja tertinggi Wajo bertahta. Pada masa tersebut sistem kepemimpinan pada hampir semua wilayah di Indonesia masih didominasi oleh sistem pemerintahan kerajaan. Bissu pada masa tersebut merupakan tokoh sentral dan upacara yang dilakukannya hanya di seputar saoraja atau istana raja. Bissu lain yang seangkatan dengan bissu generasi terakhir semuanya sudah meninggal. Kedua informan tersebut dipilih karena sangat menguasai berbagai atraksi dalam upacara tradisional baik berupa ceremonial maupun ritual. Disamping itu, menguasai bahasa bissu, tingkah laku yang seharusnya dilakonkan oleh bissu, sejarah kelompok bissu Pammana, pernah mengadakan ‘transfer pengetahuan bissu’ dari generasi bissu

3 Haji Lacce usia sekitar 80 tahun berdomisili di Sengkang. Ia adalah satu-satunya bissu istana arung matowa Wajo (raja tertinggi Wajo) yang masih hidup di Wajo. Ia melakoni masa mudanya sebagai seorang bissu istana yang bertugas sebagai penari bissu. Pada masa mudanya sebagai bissu ia hanya mengingat kepada Allah SWT 25% sisanya ia mempercayai dewata yang selalu dipuja oleh masyarakat Bugis kuno. Saat tidak menggeluti sebagai bissu lagi, ia berpendapat bahwa dewata yang selalu dipuja oleh bissu tidak lain adalah sejenis jin kafir. Ia rajin memberi wejangan kepada bissu muda agar selalu mengingat dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Menunaikan ibadah haji tahun 1967. Kini kondisi tubuhnya semakin renta dan sakit-sakitan, kegiatan sehari-harinya diisi dengan kegiatan tadarus Al'quran.

14

sebelumnya, dan sudah lama melakoni hidup sebagai bissu. Alasan tersebut meyakinkan saya untuk mendapatkan data yang akurat. Informan selanjutnya, tokoh sekaligus pimpinan dewan adat Pammana yang berfungsi sebagai ‘event organizer’ kelompok bissu ini. Informan ini banyak berperan dalam rangka mengangkat kembali harkat dan martabat kelompok bissu Pammana ditengah-tengah masyarakat. Dibutuhkan pula informan dari tokoh masyarakat dan aparat pemerintah daerah kabupaten Wajo dalam hal ini Dinas Pariwisata yang terlibat dalam kegiatan yang menghadirkan kolompok bissu Pammana. Data yang diperoleh dari informan tokoh masyarakat merupakan persepsi masyarakat terhadap peran dan keberadaan bissu dalam masyarakat. Informan kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Wajo didapatkan data mengenai pelibatan bissu dalam kegiatan yang digelar oleh pemerintah daerah. Cara pengumpulan data dilakukan dengan teknik observasi dan interview. Observasi pada ritual-ritual yang dilakonkan oleh kelompok bissu Pammana. Teknik ini dimaksudkan untuk mendapatkan gambaran sistematis proses atraksi dan bagaimana atraksi tersebut dimaknai oleh masyarakat. Untuk maksud ini, peneliti melakukan dokumentasi gambar bergerak yang disimpan dalam format Video Compact Disk dan gambar tidak bergerak (still image). Sebenarnya pendokumentasian sudah lama diupayakan oleh peneliti sejak bulan Juli 2004 dan terakhir pada pengambilan data awal Maret 2007. Data Video Compact Disk ditayangkan dan diamati dengan menggunakan televisi atau di layar monitor komputer. Data tersebut merupakan dokumentasi tata upacara pelantikan datu atau raja Pammana yang dilaksanakan pada masa kemerdekaan RI. Upacara tersebut melibatkan bissu sebagai tokoh sentral. Data ini sangat membantu utamanya dalam deskripsi tahapan ritual. Still image atau gambar diam menayangkan benda-benda ritual yang digunakan oleh bissu yang diambil secara dekat sehingga memudahkan benda tersebut dideskripsikan. Dilakukan pula indepth interview untuk menggali data kualitatif dari informan bissu tokoh masyarakat, aparat pemerintahan, dan tokoh dewan adat. Wawancara kepada bissu ditujukan untuk mengetahui lebih dalam konsep dan makna yang berhubungan dengan upacara tradisional yang diperankan oleh kelompok bissu Pammana. Selain itu, dimaksudkan untuk mendapatkan informasi mengenai berbagai atraksi yang

15

menampilkan kelompoknya. Terakhir, informasi mengenai upaya-upaya yang dilakukan sehingga kelompok ini masih bisa bertahan hingga sekarang. Interview yang dilakukan kepada tokoh masyarakat untuk mendapatkan gambaran yang jelas tentang persepsi umum masyarakat kepada kelompok bissu Pammana termasuk tanggapan tentang peran dan posisi bissu di tengah-tengah masyarakat yang semakin memudar. Selanjutnya, interview juga dilakukan kepada aparat pemerintahan untuk mendapatkan tangapannya dalam hal pelibatan kelompok bissu Pammana dalam beberapa kegiatan pemerintah daerah. Terakhir, interview juga dilakukan kepada tokoh dewan adat untuk mendapatkan tanggapannya mengenai kelangsungan sosial ekonomi kelompok bissu Pammana. Diharapkan informasi yang didapatkan dari informan di atas dapat lebih rinci dan dipertangungjawabkan. Analisis data yang akan digunakan adalah analisis data model interaktif yang dikemukakan oleh Matthew B. Miles (Miles dan Huberman, 1992:19). Terdapat tiga hal utama dalam model ini yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Data yang diperoleh dari hasil observasi berupa dokumentasi gambar bergerak akan dideskripsikan apa adanya, begitu pula dengan hasil wawacara informan akan dicatat untuk selanjutnya direduksi. Reduksi data ini menjurus ke arah gagasan-gagasan baru guna dimasukkan ke dalam suatu matriks atau penyajian data. Pencatatan data mensyaratkan reduksi data selanjutnya. Setelah penyajian data atau matriks telah terisi maka sudah dapat ditarik kesimpulan.

matriks telah terisi maka sudah dapat ditarik kesimpulan. Sketsa Sulawesi bagian Se latan. Sengkang ibu kota

Sketsa Sulawesi bagian Selatan. Sengkang ibu kota Kabupaten Wajo terletak di tengah-tengah

16

BAB II KEHIDUPAN SOSIAL KEAGAMAAN DI KABUPATEN WAJO

a. Letak Geografis Wajo

Wajo adalah salah satu kabupaten yang ada di Sulawesi Selatan. Memiliki luas

sekitar 250.619 hektar yang terdiri atas 14 kecamatan, 48 kelurahan, dan 128 desa 4 .

Ibukota kabupaten Wajo adalah Sengkang yang berjarak sekitar 200 kilometer dari

Makassar ibukota provinsi Sulawesi Selatan. Secara georafis kabupaten Wajo terletak

pada koordinat antara 30 ° 39' sampai 4 ° 16' Lintang Selatan dan 119 ° 53' sampai 120 °

27' Bujur Timur. Sebelah barat kota Sengkang terletak Danau Tempe, sebelah timurnya

terbentang gugusan gunung yang salah satu gunung terkenal yaitu Pattirosompe. Gunung

didekatnya yaitu Pessangrahan yang sangat mudah dijangkau dengan berjalan kaki

maupun dengan kendaraan. Kabupaten Wajo bertetangga dengan kabupaten lain seperti

Bone disebelah timur, Soppeng di sebelah selatan, Sidrap di sebelah barat, dan Luwu di

sebelah utara. Letak kabupaten Wajo berada di tengah-tengah Sulawesi Selatan sehingga

menjadikan tempat ini sebagai daerah strategis dalam bidang perdagangan dan wisata.

Sebelah timur merupakan daerah pesisir pantai di Teluk Bone membentang sekitar 110

km yang memiliki potensi ikan laut yang besar.

Hamparan persawahan membentang di kabupaten Wajo yang luasnya sekitar

86.000 hektar. Potensi lahan perkebunan sekitar 38.000 hektar yang cocok ditanami

tanaman perkebunan komoditi ekspor seperti cengkeh, kakao, sawit, dan kelapa hibrida.

Tanah yang berbukit-bukit yang merupakan hutan tanaman industri dan cocok digunakan

sebagai kebun coklat, cengkeh, jambu mete, serta pengembangan ternak. Terdapat pula

padang rumput seluas 34.000 hektar yang sangat cocok menjadi lahan peternakan baik

skala kecil maupun besar 5 . Potensi alam ini turut mempengaruhi kegiatan ekonomi di

daerah ini. Mata pencaharian utama daerah ini masih didominasi oleh petani. Penduduk

Sengkang banyak yang berprofesi sebagai pegawai negeri, karyawan, pengusaha, dan

pedagang. Penduduk di pesisir danau Tempe dan di sekitar aliran sungai Walanae banyak

bekerja sebagai nelayan. Di pinggiran kota Sengkang penduduknya banyak yang bertani

4 Data dari situs resmi Pemerintah Kabupaten Dati II Wajo pada http://www.wajo.go.id.

5 ibid

17

dan berladang. Pendapatan perkapita masyarakat Wajo sekitar awal tahun 2000-an adalah 3,5 juta per tahun. Danau Tempe merupakan sumber penghidupan nelayan sekitar danau begitu pula dengan satwa dan tumbuhan danau seperti ikan mas, nila, sepat, udang, burung belibis, kangkung, dan enceng gondok. Sekitar tahun 1970-an, Danau Tempe pernah menjadi penghasil ikan air tawar terbesar di Indonesia. Hasil ikan tersebut mencapai 40.000 ton ikan air tawar yang mampu menyuplai kebutuhan Pulau Jawa. Pemasaran ikan tersebut mencapai daerah Jakarta, Surabaya, dan Kalimantan. Bagian tengah danau Tempe diperkirakan seluas 13.000 hektar yang banyak ditumbuhi oleh tumbuhan air baik di dalam air maupun yang mengapung di air. Tidak seperti danau lainnya yang ada di Indonesia, danau ini banyak ditumbuhi enceng gondok dan kangkung. Sehingga di atas air danau ini kelihatan menghijau. Tumbuhan yang hidup di atas permukaan air menjadi tempat bersarang burung belibis, bangau, dan beberapa burung air. Bagian bawahnya sebagai tempat beberlindung ikan danau dan udang khas danau ini. Ukuran udangnya kira-kira satu sentimeter lebih kecil daripada udang biasa. Masyarakat Wajo dan daerah sekitar danau menyebutnya sebagai alame. Makanan khas yang bahannya dari udang ini disebut ronto' yang disajikan dengan bahan utamanya adalah alame yang dicuci bersih tanpa dimasak ditambah dengan bumbu lain seperti garam, cabe, bawang putih, kemiri goreng, asam, dan jahe. Masyarakat Wajo menikmati makanan ini bersama dengan nasi dan ada pula menikmati dengan rebus pisang muda. Danau Tempe berada di antara tiga kabupaten yang bertetangga yaitu Soppeng, Wajo, dan Sidrap. Sungai-sungai yang berasal dari kabupaten Soppeng, Bone, Sidrap, bahkan sungai yang berasal dari beberapa daerah yang berdekatan dengan Wajo bermuara di danau Tempe. Sungai tersebut membawa lumpur dan pasir dari daerah gunung dan menimbun lumpur tersebut di danau. Satu-satunya sungai tempat pembuangan air dari danau Tempe ke laut adalah sungai Walanae yang bermuara di Teluk Bone. Akibatnya lumpur yang berkumpul di danau lama kelamaan menimbulkan pendangkalan. Apabila musim hujan tiba di daerah tetangga yang memiliki sungai yang bermuara di danau Tempe maka daerah pesisir danau Tempe menjadi tenggelam oleh banjir. Daerah yang paling banyak mengalami kerugian yaitu di kecamatan Tempe. Hampir setiap tahun banjir menjadi langganan tetap di kecamatan Tempe Sengkang.

18

Masyarakat sudah terbiasa dengan banjir tersebut sehingga hampir semua rumah yang berada di pesisir danau Tempe adalah rumah panggung. Setiap tangal 23 Agustus tiap tahun menjadi agenda tetap pemerintah kabupaten Wajo mengadakan Festival Danau Tempe. Kegiatan ini dilakukan di pesisir danau Tempe dan bentaran sungai Walanae. Beragam atraksi budaya lokal ditampilkan dalam kegiatan ini termasuk yang berbentuk perlombaan dan pagelaran seni tradisional bugis Wajo. Perlombaan yang dilaksanakan seperti lomba balap perahu atau perahu dayung, perahu hias, dan perahu tradisional. Peserta perlombaan ini diikuti oleh hampir semua daerah kecamatan yang ada di Wajo. Terdapat pula lomba permainan rakyat seperti lomba mappadendang atau menabuh lesung dan lomba layang-layang tradisional. Untuk kegiatan yang melibatkan pemuda digelar acara pemilihan Ana'dara Kallolono Wajo atau pemilihan gadis dan jejaka Wajo 6 . Digelar pula pagelaran musik tradisional seperti makkacapi memainkan musik kecapi dan massure nyanyian yang banyak mengandung petuah bijak orang , dan atraksi tari bissu. Acara intinya adalah maccera tappareng mengarung sesajian ke dalam danau sebagai pertanda rasa syukur atas limpahan tangkapan ikan danau ini. b. Penduduk Wajo yang Religi Agama utama di Wajo adalah Islam yang dipeluk oleh sebagaian besar penduduknya. Pemeluk utamanya adalah orang Bugis yang telah lama mendiami Wajo. Sebelum ajaran Islam masuk di tempat ini, masyarakat Wajo menganut kepercayaan bugis kuno yang berhubungan dengan animisme dan dinamisme. Masyarakat Wajo percaya akan adanya zat pencipta yang mereka kenal dengan nama dewata seuweE. Saat ini berbagai agama lain dijumpai di Wajo khususnya di Sengkang seperti kristen protestan dan kristen katolik. Agama kristen protestan dari orang Toraja atau suku lainnya yang masuk mencari penghidupan atau ditugaskan bekerja di Sengkang. Begitu pula dengan kristen katolik yang kebanyakan dianut oleh orang Tionghoa yang mencari penghidupan di tempat ini. Kepercayaan Tolotang merupakan sisa-sisa kepercayaan bugis kuno juga dijumpai di Wajo. Agama lain dan kepercayaan Tolotang yang ada di daerah ini secara keseluruhan merupakan masyarakat minoritas non-muslim Wajo.

6 Op cit

19

Penduduk Wajo dikenal sebagai muslim yang taat menjalankan ajaran agama Islam. Islam di Wajo sudah ada sekitar empat ratus tahun yang lalu. Awal mulanya penduduk Wajo memeluk Islam pada saat raja atau yang bergelar Arung Matowa Wajo XII La Sangkuru Patau Sultan Abdur Rahman bertahta. Wajo menerima Islam atas pengaruh kerajaan Gowa yang lebih dulu memeluk Islam. Tepat hari Selasa tanggal 15 Shafar 1020H atau 6 Mei 1610M La Sangkuru bersama rakyatnya mengucapkan dua kalimat syahadat. Raja atau Karaeng Gowa Mangerangi Daeng Manrabila Sultan Alaudin mengikut prosesi ini di Wajo. Untuk lebih mempermantap ajaran Islam di daerah ini raja Wajo memohon ke raja Gowa agar diutus orang yang mengajarkan agama. Dikirimlah Datuk Sulaiman untuk mengajarkan Islam kepada raja Wajo bersama kerabat istana lainnya. Ia mengajarkan Islam dengan memperkenalkan tauhid yang mengesakan Allah swt., kemudian larangan mengerjakan dosa besar, dan rukun Islam. Ia mengajarkan dengan jelas sehingga orang yang baru belajar mudah memahaminya. Ajaran Islam diterima dengan cepat di Wajo atas keikhlasan dan kesabaran muballig Datuk Sulaiman dalam mengajarkan ajaran ini. Berdasarkan kesepakatan arung patapuloe semacam badan legislatif kerajaan Wajo yang angotanya berasal dari perwakilan tiap-tiap kerajaan bawahan dalam lingkup kerajaan Wajo, mempercayakan kepada Datuk Sulaiman untuk menangani urusan agama dan diamanahkan juga menjadi kadhi Wajo. Tugasnya yaitu mengangkat guru syara' dan sekaligus mengaturnya mulai dari kerajaan-kerajaan kecil bawahan Wajo hingga ke pusat kerajaan Wajo. Tidak beberapa lama kemudian, Datuk Sulaiman meninggalkan Sengkang karena mendapat tugas baru dikirim ke Luwu. Ia juga mengajarkan Islam di kerajaan Luwu. Ia digantikan oleh Datuk Ribandang Abdul Makmur. Datuk Ribandang menjadi kadhi Wajo dan melanjutkan usaha yang dirintis oleh Datuk Sulaiman. Setelah ratusan tahun perjalanan Islam di Wajo yang telah mengalami pasang surut, cahaya Islam kembali bersinar setelah didirikan Pondok Pesantren As'adiyah yang diawali dengan lembaga pendidikan Madrasah As'adiyah antara tahun 1929 – 1930 di Sengkang (Pasanreseng, 1992: 94). Pendiri lembaga ini seorang keturunan bugis Sengkang yang lahir di Mekah pada hari Senin 12 Rabiul Tsany 1328 Hijriyah atau bertepatan pada tahun 1907 Miladiyah. Ia bernama Gurutta Asysyeh Haji Muhammad As'ad. As'ad yang menghabiskan banyak waktunya memperdalam ilmu agamanya di

20

tanah suci Mekah dan sudah menghafal isi Al qur'an 30 juz. Ia pulang mengabdikan ilmunya di tanah leluhurnya dengan mendirikan pesantren. Awal kegiatan pesantren hanya sebagi pengajian biasa dan dihadiri oleh masyarakat kota Sengkang. Namun lambat laun masyarakat luas berdatangan untuk belajar sebagai santri di lembaga ini. Hal ini berlanjut terus menerus hingga perkembangannya sangat pesat. Masyarakat yang berdatangan untuk menunut ilmu bukan hanya berasal dari Wajo atau daerah tetangganya. Namun, lebih dari itu banyak santri yang berdatangan dari luar pulau seperti Sumatra, Jawa, Kalimantan, dan Malaysia. Keberadaan pesantren ini turut mewarnai kehidupan beragama di Wajo karena mubalighnya turun langsung melakukan dakwah ke hampir semua masjid yang ada di daerah ini. Disamping itu, pesantren ini memiliki tokoh agama yang kharismatik dan disayangi oleh masyarakat Wajo. Para kiyai yang sudah lama mengajar dan selalu memberikan siraman rohani kepada masyarakat luas bergelar gurutta atau anre gurutta. Masyarakat Wajo sangat memegang teguh dalam menjalankan nilai-nilai ajaran Islam. Untuk itu, mereka membutuhkan gurutta untuk membimbing urusan rohani mereka. Siraman rohani Islam yang disampaikan oleh gurutta biasanya disampaikan setelah shalat magrib sambil menunggu shalat isya yang dilakukan di masjid-masjid. Pada perkembangan selanjutnya sejak tahun 1968 siraman rohani dalam bentuk pengajian yang dilaksankan setiap hari selesai shalat magrib di masjid Raya Wajo telah disebarluaskan melalui radio suara As'adiyah. Sehingga masyarakat luas tanpa keluar rumah sekalipun dapat mendengarkan siraman rohani tersebut. c. Kehidupan Sosial Ekonomi Disamping gambaran perkembangan kehidupan keagamaan masyarakat Wajo seperti yang dipaparkan di atas, Sengkang dikenal pula dengan industri kain sutera. Industri ini turut membantu mengembangkan perputaran roda ekonomi di Sengkang kabupaten Wajo. Masyarakat memproduksi sendiri kain sutera dalam bentuk sarung dan kain untuk bahan pakaian. Rumah masyarakat Wajo kebanyakan rumah kayu panggung yang fungsinya sekaligus sebagai tempat memproduksi kain sutera. Alat tenun ditempatkan pada bagian bawah rumah. Sementara pada bagian atas ditempati sebagai tempat tinggal. Alat tenun yang digunakan terdiri atas dua jenis. Jenis yang pertama masih tradisional dan yang kedua alat tenun bukan mesin. Sarung yang ditenun dengan

21

menggunakan alat tenun tradisional harganya lebih mahal dibanding dengan yang diproduksi dengan menggunakan alat tenun bukan mesin. Produksi sarung sutera biasanya dijual langsung oleh pedagang dari Sempangge ke daerah-daerah tetangga Wajo hingga luar pulau Sulawesi. Biasanya mereka menjual dengan menggunakan sepeda motor dan menjajakannya ke rumah-rumah penduduk. Orang Wajo mempunyai jiwa kewirausahawanan yang tinggi. Banyak orang Wajo pergi merantau meninggalkan kampung halamannya dengan harapan dapat mengubah kehidupannya menuju masa depan cerah. Mereka kebanyakan bekerja sebagai pedagang dan sebagiannya lagi bekerja pada sektor perkebunan. Daerah yang ramai dikunjungi seperti di Sumatra, Kalimantan, Jawa, dan Papua. Sementara di Wajo sendiri mata pencaharian utama penduduknya sebagian besar masih petani, sebagiannya lagi sebagai pegawai dan pedagang. Disamping jiwa kewirausahawanan, orang Wajo juga masih memelihara dengan teguh tradisi gotong-royong. Apabila sebuah anggota keluarga hendak menyelenggarakan hajatan maka keluarga lainnnya atau para tetangga dengan suka rela berdatangan membantunya. Biasanya hajatan yang mereka gelar berhubungan dengan daur kehidupan seseorang misalnya acara pengantin dan acara kelahiran. Demikian sekelumit gambaran kehidupan religi dan kondisi sosial ekonomi masyarakt Wajo dari masa lalu hingga sekarang. Orang Wajo mempunyai motto maradeka towajoe ade'nami napopuang orang Wajo sejak dulu merupakan individu yang merdeka dan hanya adatlah yang dipertuan. Motto ini dicetuskan oleh seorang negarawan Wajo sekaligus arung simettengpola atau raja Simettengpola La Tiringeng To Taba pada masa raja Wajo yang begelar Batara Wajo I La Tenri Bali bertahta sekitar tahun 1399 pada abad XV. Tahun ini sekaligus merupakan penetapan hari lahir Wajo. Pada masa tersebut di Wajo sudah dikenal dengan istilah ata atau hamba yaitu orang-orang yang kehilangan kemerdekaannya. Seluruh hidupnya hanya untuk mengabdi kepada raja atau bangsawan lainnya tanpa mendapatkan gaji. Orang Wajo sejak dilahirkan dari rahim ibunya sudah menjadi individu yang merdeka dan tidak dikenal sistem penindasan nilai-nilai kemanusiaan. Orang Wajo bebas mengeluarkan pendapat tanpa ada sanksi yang sifatnya melecehkan nilai-nilai kemanusiaan. Orang Wajo menjunjung tinggi kesepakatan dalam adat. Mereka mempertuankan adat bukan manusia. Mereka tunduk dan mematuhi adat sebagai

22

pedoman untuk mendapatkan keselamatan dan kesejahteraan. Sehingga Wajo pada masa kerajaan termasuk daerah yang telah mengenal dan menjalankan sistem pemerintahan yang demokratis. d. Bissu Selayang Pandang Ada beberapa pendapat mengenai istilah bissu. Istilah pertama menganggap berasal dari kata bessi dalam bahasa Bugis berarti bersih (Lathief, 2004:2). Dianggap bersih karena mereka tidak mengalami haid, suci (tidak kotor), tidak memiliki payudara. Pendapat lain menyebutkan bahwa bissu berasal dari kata bismillah yang dianggap sebagai pembuka atau awal dalam melakukan sesuatu (wawancara dengan Andi Syahrazad Datu Pammana ke-40 tanggal 27 Maret 2007 di Sengkang). Pendapat ini lemah karena budaya bissu sudah ada jauh sebelum pengaruh Islam masuk di Sulawesi Selatan. Pendapat selanjutnya, kata bissu mendapatkan pengaruh dari agama Hindu dimana pemimpin ritual atau pendeta Hindu disebut biksu (Sumange, 2003:11). Sumange menduga istilah biksu merupakan upaya B.F Matthes untuk mengaburkan adat bugis. Pendapat ini juga tidak memiliki dasar yang kuat karena belum ada bukti-bukti yang kuat mengenai pengaruh Hindu di Sulawesi Selatan. Jadi asal kata istilah bissu belum diketahui secara pasti yang ada hanya semacam spekulasi istilah saja. Sejarah asal mula bissu dapat ditelusuri dengan menggunakan data yang ada dalam naskah La Galigo. Keberadaan bissu sudah ratusan tahun ada di Sulawesi Selatan. Bissu mulai dikenal dimasa Bugis klasik Sawerigading. Catatan pengamat Barat pertama tentang bissu dibuat pada tahun 1545 oleh Paiva seorang Portugis (Pelras, 2006:191). Ia melukiskan bissu secara tidak mendalam sehingga informasi yang disuguhkan sepihak dan tidak komprehensif. Pada zaman La Galigo, bissu memiliki posisi diluar sistem kemasyarakatan. Peran bissu sebagai pendeta, dukun, dan ahli ritual. Bissu berperan sebagai penghubung antara manusia dengan dewata karena untuk berkomunikasi dengan dewata harus menggunakan bahasa torilangi atau bahasa langit. Bahasa ini juga dikenal sebagai bahasa bissu yang sebenarnya merupakan bahasa bugis kuno. Disamping bahasa ini digunakan untuk berkomunikasi kepada dewata juga digunakan berkomunikasi antar sesama bissu. Bahasa ini dianggap sebagai bahasa suci karena diturunkan dari surga melalui dewata.

23

Secara fisik, bissu berjenis kelamin laki-laki namun dalam bertingkah laku dan bertutur kata menyerupai wanita. Ada pula bissu wanita namun dalam jumlah yang sangat terbatas. Pada mulanya terdapat bissu dari kalangan putri bangsawan, namun lambat laun banyak diisi oleh laki-laki yang bertingkah seperti wanita. Dalam I La Galigo disebutkan bahwa putri bangsawan yang menjadi bissu diantaranya saudara kembar Sawerigading, We Tenriabeng, dan salah seorang anak perempuannya, We Tenridio. Bissu memiliki pasangan mistis dari mahluk kahyangan. Mereka memiliki dua pasangan gaib yaitu laki-laki dan perempuan. Jadi baik bissu laki-laki maupun perempuan memiliki pasangan hidup keduanya. Meskipun bissu memiliki pasangan hidup di dunia, tetap saja kelak akan memiliki pasangan dua pasangan gaib. Olehnya itu demi menjaga kesucian bissu maka bissu tidak boleh memiliki pasangan hidup di dunia sebagai mana layaknya pasangan suami istri.

hidup di dunia sebagai mana layaknya pasangan suami istri. Gambar 1 Bissu di Wajo Pemipin bissu

Gambar 1 Bissu di Wajo Pemipin bissu disebut Angkuru Tua wakilnya Angkuru Lolo

1 Bissu di Wajo Pemipin bissu disebut Angkuru Tua wakilnya Angkuru Lolo Gambar 2 Seorang bissu

Gambar 2 Seorang bissu dalam satu upacara

24

Bissu mempunyai beberapa tugas dalam istana seperti penasehat spiritual raja, menjaga dan merawat benda-benda pusaka kerajaan. Kadang-kadang diperlukan ritual khusus untuk menghormati dan memelihara pusaka tersebut. Hamonic menyebut tugas bissu sebagai sisi lain dari kepribadian bissu (Hamonic, 2001:4). Sisi lain tersebut seperti sebagai orang yang bisa mengobati atau sanro, kajangeng, samaritu, meramal hari depan atau toboto, menyanyi untuk dewa atau pasabo, dan yang lebih penting adalah pembaca naskah La Galigo. Tugas lain yang melibatkan bissu seperti yang digambarkan dalam La Galigo adalah upacara yang berkaitan dengan perkawinan, kelahiran, pelantikan raja, dan penyambutan tamu terhormat. Sebagai bagian dari lembaga kerajaan, keberadaan bissu sangat penting dan dibutuhkan karena sebuah kerajaan dianggap tidak lengkap tanpa kehadiran bissu. Seorang raja yang akan dilantik harus dihadiri oleh kelompok bissu. Pada prosesi pelantikan raja, bissu berperan sebagai penghubung segala yang ada dari dunia atas dan bawah untuk menghadiri prosesi pelantikan tersebut. Bissu di Sulawesi Selatan umumnya terdapat di daerah yang memiliki konsep tomanurung. Tomanurung merupakan mitos yang berperan sebagai “juru penyelamat”. Seorang tokoh yang muncul secara misterius untuk menyelamatkan masyarakat yang kondisinya kacau balau. Dalam bahasa Bugis sianrebalei taue atau ikan yang saling memakan, yang besar memakan yang kecil dan yang kecil tidak lagi menghiraukan yang besar. Tidak ada lagi yang dipercaya untuk memimpin negeri sehingga keadaan kepemimpinan menjadi lowong. Rakyat pun kehilangan panutan dan pelindung. Tidak ada arah yang jelas. Ditengah-tengah kebimbangan masyarakat, sosok sakti tomanurung tampil bagai pahlawan yang mampu memecahkan masalah masyarakat setempat. Wibawa tomanurung berkaitan dengan kesaktian yang dimiliki sehingga masyarakat mempercayai tomanurung sebagai tokoh yang dikirim dari langit untuk menyelamatkan manusia. Pada perkembangan selanjutnya terjadi perjanjian dan kesepakatan antara tomanurung dengan rakyat yang berakhir dengan diangkatnya tomanurung sebagai pemimpin atau raja mereka. Pada saat ini, kelompok bissu yang jumlahnya kian merosot bahkan dapat dikatakan nyaris punah, tersebar pada beberapa daerah di Sulawesi Selatan seperti yang ada di kabupaten Wajo, Bone, Soppeng, Luwu, dan Pangkep. Di kabupaten Gowa kelompok bissu sudah tidak dijumpai lagi. Masih adanya unsur sinkretisme dalam

25

berbagai ritual bissu mengundang kontraversi dari berbagai kalangan. Kelompok pendukung bissu menghendaki dihidupkan kembali berbagai ritual yang harus dilakukan dalam upacara. Namun pada sisi lain, justru dari masyarakat pendukung bissu sendiri secara perlahan-lahan mulai meninggalkan bentuk ritual yang ditampilkan oleh bissu karena berbagai alasan seperti pergeseran pemahaman tentang keagamaan dan sistem pemerintahan. Ritual yang dilakukan bissu juga mendapat kecaman yang serius oleh para pemuka agama Islam. Salah satu daerah di Kabupaten Wajo yang masih memiliki kelompok bissu adalah Kecamatan Pammana Kabupaten Wajo. Letak Kecamatan Pammana berbatasan langsung dengan Sengkang ibu kota Kabupaten Wajo. Jarak ke Makassar sekitar 180 kilometer kearah selatan. Secara historis, Pammana yang sebelumnya bernama Cina 7 merupakan satu kerajaan tertua dan berdiri sendiri sebelum bergabung dengan kerajaan Wajo. Dalam struktur pemerintahan kerajaan Pammana, penguasa tertinggi disebut datu atau raja. Pada prosesi pelantikan seorang datu, bissu merupakan tokoh yang amat penting. Tugas bissu melakukan ritual yang menghadirkan reprentasi ‘dunia atas, tengah, dan bawah’ dalam pelantikan datu. Dalam prosesi pelantikan datu dihadiri oleh yang mewakili ketiga dunia tadi atas ritual yang dilakukan oleh bissu. Benda-benda ritual merupakan simbol-simbol yang menghubungkan antara 'dunia bawah' dan 'dunia atas'. Bissu Pammana dilantik oleh datu atas hasil musyawarah. e. Kehidupan Bissu Sehari Hari Kehidupan sehari-hari Bissu Pammana Kabupaten Wajo tidak berbeda dengan masyarakat umumnya. Bissu adalah masyarakat biasa dan bukan dari kelompok bangsawan. Adapun jika ada dari golongan bangsawan maka bissu tersebut hanya kebetulan saja karena tidak ada aturan yang mengharuskan bahwa bissu harus dari golongan bangsawan. Bissu Pammana tidak menikah dengan perempuan lawan jenisnya maupun sesama laki-laki sehingga mereka tidak mempunyai keturunan. Bissu sebagai bagian dari masyarakat berbaur dan diterima oleh masyarakat disekitarnya. Meskipun demikian, tidak sedikit masyarakat yang memandang sebelah mata kehidupan bissu.

7 Cina selalu disebut dalam epos La Galigo. Berbagai penafsiran muncul untuk menentukan lokasi Cina secara pasti. Ada anggapan yang mengatakan bahwa Cina yang dimaksud adalah Negara Cina, ada pula yang berpendapat terdapat di salah satu daerah di Bone. Namun bukti yang paling kuat dan meyakinkan yaitu di Kecamatan Pammana Kabupaten Wajo karena memilii bukti situs yang sama di sebutkan dalam La Galigo.

26

Masyarakat yang demikian mengangap bahwa bissu tidak ada bedanya dengan calabai yang kurang memiliki tata krama sopan santun. Padahal bissu mempunyai tata krama tersendiri dan memiliki perbedaan fungsi dan peran dengan calabai. Masyarakat seperti ini memiliki pengetahuan yang kurang terhadap bissu sehingga mereka menilai bissu secara tidak seimbang. Untuk menopang kebutuhan hidup sehari-hari, bissu bekerja menyewakan kebutuhan pesta pengantin seperti hiasan atau dekorasi yang dibutuhkan pada pesta pengantin, jasa memasak lauk-pauk atau kue pada pesta pengantin, dan merias pengantin. Ada anggapan masyarakat bugis yang mengatakan bahwa jika seorang calon mempelai wanita dirias oleh bissu maka akan terpancar kecantikan mukanya pada saat duduk di pelaminan (wawancara dengan H. Palippui pada tanggal 24 Mei 2007 di Sengkang). Kelebihan bissu zaman dulu adalah cenning rara atau mantra-mantra untuk pengasih yang digunakan pada pengantin yang diriasnya. Jika cenning rara digunakan oleh bissu, maka orang yang melihat pengantin akan melihatnya sangat menawan. Hal ini membuat masyarakat lebih mempercayakan kepada bissu untuk menangani pesta pernikahan. Namun seiring dengan perkembangan jaman, posisi bissu telah diambil alih oleh juru rias yang terlatih sehingga berangsur-angsur bissu tidak digunakan lagi merias pengantin. H. Palippui, 76 tahun, seorang tokoh masyarakat di Sengkang merasa terkesan atas jasa bissu yang mampu mengobati penyakitnya. Ia menuturkan pada masa mudanya sekitar tahun 1954 ia merasa badannya bengkak-bengkak. Temannya yang mengalami penyakit serupa berangkat ke Makassar untuk menjalani pengobatan. Namun sayang, temannya tersebut meninggal. H. Palippui kemudian mengobati penyakitnya pada seorang bissu yang tinggal tetangga kampung dengannya. Ia mendengarkan kesaktian yang dimiliki oleh bissu Angkuru Condong yakni sudah tiga kali Angkuru Condong mengalami walung atau sudah dianggap mati sehingga sudah diperlakukan sebagai mana layaknya orang meninggal seperti sudah dibungkus dengan kain kafan. Angkuru Condong kemudian mengambil bila atau buah maja yang bentuknya seperti bola dan isinya berwarna putih dan sangat pahit rasanya. Buah maja tersebut dijadikan wadah air untuk kemudian dijampi-jampi dengan menggunakan mantra-mantra. Setelah beberapa kali mengunjungi Angkuru Condong, rupanya bissu ini merasa kasihan kepada pasiennya sehingga ia rela dan ikhlas memberikan mantra tersebut kepada H.Palippui untuk dipakai

27

mengobati sendiri penyakitnya. Setelah mencoba melakukan penyembuhan sendiri, rupanya penyakit H.Palippui dapat disembuhkan. Sampai sekarang H.Palippui menyimpan mantra tersebut untuk digunakan pada jalan untuk melakukan kebaikan. Secara keseluruhan, kehidupan sehari-hari dan segala upacara yang dilakukan oleh bissu utamanya kelompok bissu Pammana sudah diterima oleh masyarakat. Masyarakat tidak mengganggu atau menghalang-halangi upacara yang melibatkan bissu karena bissu adalah bagian dari masyarakat dan memeluk ajaran Islam. Masyarakat menerima bissu sebagai saudara sesama umat Islam. Bissu juga mampu menyesuaikan diri sesuai kondisi masyarakat sekitarnya. Bahkan banyak bissu yang telah menunaikan ibadah haji contohnya angkuru tua pemimpin dan angkuru lolo wakil pemimpin kelompok bissu Pammana. Namun, meskipun demikian apabila bissu tersebut masih melakukan berbagai ritual maka tetap saja dianggap berada pada jalur yang tidak lurus. Ritual yang dilakukan oleh bissu masih meyakini kekuatan dan pencipta lain selain dari Allah SWT. Kritikan ini utamanya dimotori oleh para tokoh agama yang kemudian diikuti oleh sebagian warga masyarakat. Tidak ada upaya masyarakat untuk membasmi bissu karena bissu merupakan warisan budaya yang tidak ternilai harganya juga bissu sendiri mempunyai keluarga yang merupakan bagian dari masyarakat Wajo.

28

BAB III REINVENSI KULTURAL KELOMPOK BISSU

a. Aktor yang Menghadirkan Bissu

Berbagai upacara yang melibatkan bissu masih ditemukan hingga saat ini. Bissu

tidak tampil atas prakarsa bissu sendiri melainkan dilakukan oleh beberapa aktor yang

masih memerlukannya. Aktor yang masih memerlukan kehadiran bissu dalam upacara

atau ritual seperti keluarga istana dan masyarakat yang berprofesi sebagai petani,

nelayan, dan dukun. Selain itu, dewan adat dan pemerintah daerah juga merupakan aktor

yang memunculkan bissu dalam berbagai kegiatan. Para aktor tersebut memperlakukan

bissu sebagai tokoh sentral, sebagai pelengkap, penasehat ritual, dan penghibur. Terdapat

pula stigma pada pemunculan bissu di tengah masyarakat Wajo. Penyimpangan yang

dilakukan oleh bissu bukan hanya dianggap sebagai tindakan yang menyalahi kodrat.

Lebih jauh, malah dianggap sebagai tindakan yang berbenturan dengan syariah Islam

yang dianut oleh sebagian besar masyarakat Bugis sekarang. Namun para tokoh yang

memunculkan bissu memiliki pemaknaan tersendiri dalam pelibatan bissu pada upacara

atau ritual yang mereka gelar.

Pendukung bissu dari kalangan istana adalah bangsawan yang memerlukan bissu

dalam berbagai upacara yang mereka gelar. H. Lacce seorang informan bissu

mengemukakan "iafa na matase na makarame gaukE narekko engka bissu" artinya

sebuah upacara yang digelar hanya akan bernilai sakral jika ada bissu. Jika bukan bissu

yang terlibat dalam sebuah upacara kaum bangsawan maka upacara tersebut tidak berarti

apa-apa. Upacara tersebut berkitan erat dengan life-cycles. Olehnya itu, keluarga istana

berusaha memunculkan bissu terutama yang berkaitan dengan upacara yang mereka

gelar. Keluarga dari kalangan istana sendiri memiliki kriteria yang bisa menggunakan

jasa bissu yaitu setingkat ana' mattola atau pangeran yang kelak akan menjadi raja. Ana'

mattola memunculkan bissu sebagai fappannessa atau sebagai pertanda bahwa memang

ialah yang berhak akan memegang tampuk pemerintahan. Adapun bangsawan setingkat

andi mereka harus menghadap memohon izin kepada arung ennengge atau enam

bangsawan tinggi agar diperkenankan memunculkan bissu pada upacara yang mereka

gelar.

29

Tidak semua petani yang ada di Wajo memerlukan bissu karena mereka telah mengolah sawahnya dengan mekanisasi alat pertanian dan pengairan. Pada saat ini masih ada segelintir petani di Wajo yang masih mempercayai hal mistik menjelang penanaman padi. Petani ini memerlukan ritual bissu pada saat menjelang turun ke sawah menyemaikan bibit padi. Ritual yang dilakukan bisanya maddoja bine yang biasanya dihadiri oleh sebagian penduduk negeri dan membuka lahan pertanian. Apabila petani kesulitan menghadirkan bissu dalam upacara minimal mereka meminta petunjuk tentang tata upacara yang akan mereka gelar. Petani yang membutuhkan bissu bermukim di daerah pedesaan seperti yang ada di daerah Kecamatan Maniangpajo, Liu, dan di sekitar pesisir danau Tempe (wawancara dengan H. Palippui tanggal 24 Mei 2007 di Sengkang). Upacara atau ritual di tempat lain yang membutuhkan bissu yang berkenaan dengan pertanian yaitu mappalili merupakan ritual khas bissu di Kecamatan Segeri Mandalle Kabupaten Pangkajene Kepulauan. Sebelum petani turun sawah menanam bibit padi didahului oleh ritual ini. Sebuah bajak sawah keramat diangap sebagai arajang atau benda pusaka diarak keliling kampung dan dibersihkan dengan menggunakan air sungai yang ada di Segeri. Setelah prosesi arak-arakan dan pencucian benda ini kemudian dibungkus dengan menggunakan kain putih untuk di simpan kembali di bola ridie rumah pusaka. Acara akan digelar kembali untuk musim tanam berikutnya. Upacara mappalili merupakan puncak acara yang sebelumnya diawali oleh beberapa rangkaian ritual. Ritual-ritual yang telah disebutkan di atas merupakan bentuk massompa atau persembahan yang intinya menjadikan ritual ini sebagai sarana permintaan maaf kepada dewata atau toriolo atau leluhur. Orang bugis yang masih memegang tradisi lama percaya akan adanya kemungkaran para dewata dan leluhur kepada orang yang melakukan kemungkaran. Untuk meghindari kemungkaran digelarlah upacara untuk memohon dan menyembah para dewata tersebut (Lathief, 2004:17). Petani ini memaknai ritual sebagai upaya untuk mendapatkan keselamatan terhadap bibit yang akan ditanam agar nantinya dapat tumbuh subur dan akhirnya menghasilkan panen pada musim panen berikutnya sesuai dengan yang diharapkan. Nelayan pendukung bissu umumnya mendiami pesisir danau Tempe yang sekaligus menjadi tempat diadakan ritual. Nelayan memerlukan bissu pada saat mereka mengadakan selamatan yang dimaknai sebagai syukuran atas berkah limpahan ikan hasil

30

tangkapan. Sama halnya dengan petani, apabila bissu tidak dapat dihadirkan dalam upacara atau ritual biasanya nelayan butuh nasehat atau pertunjuk pelaksanaan upacara dari bissu. Upacara maccera tappareng atau memberi sesajian di danau juga merupakan sisa-sisa kepecayaan lama yang masih dijumpai saat ini. Para nelayan di pesisir danau Tempe menjadi aktor utamanya. Upacara ini semakin meriah setelah pemerintah daerah memfasilitasi kegiatan ini menjadi kegiatan promosi wisata. Turut campurnya pemda pada pelaksanaan upacara ini tentunya mempunyai implikasi terhadap ritual ini dan pelakunya. Pada sisi ritual, upacara ini menjadi kegiatan yang sifatnya seremonial. Lebih bersifat tontonan yang menghibur dan nilai-nilai kesakralannya sudah terkikis. Dari sisi pelakunya dalam hal ini adalah nelayan tentunya turut memberi peluang terbukanya ruang-ruang untuk berhubungan dengan dunia diluar profesinya yang berimplikasi membantu pemasukan ekonomi keluarga. Dukun atau sanro merupakan bagian dari masyarakat Wajo biasanya memberikan pelayanan kepada masyarakat yang mempercayainya berhubungan dengan hal supranatural. Mereka dibutuhkan untuk membantu menyembuhkan penyakit non-medis dan sebagai konsultan spiritual Bugis. Selain dibutuhkan masyarakat sanro juga membutuhkan bissu sebagai penasehat pelaksanaa ritual. Dalam catatan lapangan saya tanggal 30 Maret 2007, saya menjumpai seorang sanro di kelurahan Cempalagi pingiran kota Sengkang yang menyelenggarakan hajatan menempati rumah baru yang ia klaim sendiri sebagai rumah budaya dan rumah bissu. Dukun ini mendapat wangsit dari leluhur lewat mimpinya agar menyelenggarakan hajatan ini. Diundanglah beberapa tokoh kerabat istana dan masyarakat luas berdatangan dari berbagai daerah di dalam dan tetangga Wajo. Sanro menjadikan dan menampilkan bissu sebagai tokoh sentral dalam acara hajatannya. Bissu melangsungkan serangkaian ritual mulai dari ritual penjemputan tamu agung atau kerabat istana, sere bissu atau tari bissu, ritual-ritual permohonan izin kepada dewata dan toriolo leluhur untuk melaksanakan upacara ini, dan acara diluar ritual yang sifatnya menghibur seperti mappadendang tarian menumbuk lesung.

31

Gambar 3 Bissu sedang mappadendang tarian menumbuk lesung Dewan adat yang ada sekarang merupakan bentukan

Gambar 3 Bissu sedang mappadendang tarian menumbuk lesung

Dewan adat yang ada sekarang merupakan bentukan dari masyarakat kecamatan Pammana yang menginginkan dihadirkannnya kembali bentuk dan atraksi budaya gemilang kerajaan Pammana masa lampau. Hal ini sejalan pula dengan tuntutan otonomi daerah yang memiliki orientasi penggalian budaya lampau sebagai sumber kearifan lokal. Dengan terpilihnya Andi Syahrazad Pallawarukka sebagai ketua dewan adat Pammana pada tahun 2004 lalu yang sekaligus menjadi datu Pammana pada zaman modern ini berbagai kegiatan pelestarian budaya mulai dilakukan. Bahkan bukan hanya itu, lembaga ini memiliki kepedulian terhadap kesejahteraan masyarakat sekitar dengan membentuk wadah koperasi yang bernama Lapallawagau dan kelompok kecil petani untuk mengurus hal yang berkenaan dengan penggarapan sawah secara bersama-sama. Dalam stuktur organisasi dewan adat Pammana, bissu menjadi bagian dalam institusi ini. Fungsi dewan adat terhadap bissu mirip dengan fungsi istana masa silam. Beberapa pihak masih menginginkan ditampilkan bissu dalam upacara-upacara yang mereka gelar baik yang sifatnya pribadi maupun resmi harus sepengetahuan dewan adat. Pihak yang biasanya menggunakan jasa bissu adalah masyarakat kerabat istana atau masyarakat biasa yang membutuhkan atraksi bissu utamanya dalam penyelenggaran pesta perkawinan. Pihak lain yaitu pemerintah daerah dalam hal ini dinas pariwisata. Dewan adat secara berkala mengagendakan atraksi budaya mallawa botting atau menunggu pengantin. Atraksi ini menyuguhkan tata cara upacara pengantin bugis yang lengkap dan atraktif sehingga mampu menarik banyak perhatian penonton. Atraksi ini sekaligus menjadi andalan atraksi wisata kecamatan Pammana pada khususnya dan kabupaten Wajo pada umumnya. Atraksi ini melibatkan bissu sebagai unsur yang harus

32

ada dalam atraksi ini. Bissu melakukan ritual mabbissu yang terdiri atas serangkaian ritual mulai dari penjemputan datu dan tamu penting, hingga atraksi yang sifatnya hiburan seperti mappadendang menari sambil memukul-mukul lesung, mallejja bara atau menginjak bara api dengan kaki telanjang dan sere bissu tari bissu. Dewan adat juga telah menampilkan bissu sebagai tokoh penting dalam prosesi pelantikan datu yang bertepatan dengan upacara pembentukan dewan adat Pammana. Dalam prosesi ini bissu tampil sebagai tokoh sentral jalannya upacara yakni sebagai penggerak inti jalannya upacara. Dalam momen ini, dewan adat telah menempatkan bissu sebagaimana peran yang sesunguhnya dilakonkan pada masa dulu. Dewan adat telah mengembalikan kharisma bissu yang telah lama menghilang. Selain itu, upaya lembaga ini berimplikasi kepada upaya membantu pemerintah dalam menggalakkan kembali budaya lokal untuk menunjang program pariwisata dan secara langsung dapat menjadi pemasukan finansial bagi bissu. Pemerintah daerah dalam hal ini dinas pariwisata kabupaten Wajo mempunyai tugas mempromosikan potensi wisata lokal kepada wisatawan lokal maupun manca negara untuk pemasukan kas daerah. Orientasi kerjanya ke arah komersialisasi. Lain halnya dengan dinas pendidikan kabupaten Wajo yang turut pula memperhatikan budaya lokal namun diarahkan pada aspek pendidikan utamanya penyusunan petunjuk teknis tentang pembinaan dan pengembangan aspek-aspek kebudayaan. Dinas pariwisata menggelar festival Danau Tempe pada tanggal 23 Agustus setiap tahun. Dalam festival tersebut diselengarakan beberapa atraksi seperti lomba perahu tradisional, lomba perahu hias, lomba permainan rakyat, lomba menabuh lesung mappadendang, pagelaran musik tradisional, dan tari bissu. Atraksi lain yang yang diselenggaran oleh pemda yang melibatan bissu seperti maccera tappareng melarungkan sesajian ke danau dan yang paling sering melibatkan bissu yaitu atraksi penjemputan tamu. Dalam atraksi ini bissu menari diiringi oleh tabuhan genderang, le lea, ana' beccing, pui-pui, kancing, dan gong. Atraksi yang diselenggarakan dinas pariwisata dan melibatkan bissu bersifat seremonial. Tidak ditampilkan lagi unsur-unsur ritualnya sehinga penampilan bissu tidak memiliki nilai sakral. Meskipun demikian, bissu masih tetap melakukan ritual yang tidak ditampilkan didepan masyarakat umum. Pada acara penyambutan tamu agung misalnya, bissu menari sere luluso sebagai atraksi tari penyambutan. Sebelum bissu menari, mereka

33

melakukan ritual agar pada saat tamu agung datang tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan misalnya ada salah seorang yang hadir dalam acara tersebut mengalami kesurupan. Dinas pariwisata yang menampilkan atraksi bissu pada masyarakat umum turut berperan atas keberlangsungan atraksi-atraksi bissu. Lembaga ini turut membantu memperkenalkan bissu secara lebih luas kepada masyakat. Namun, karena upaya ini lebih melihat pada sisi komersial tentunya ada unsur-unsur yang terabaikan. Apa yang dulunya berdasarkan pada kebiasaan ritual sekarang berdarkan pada kepercayaan dogmatis yang dirasionalisasikan (Geertz, 1992:142). Tugas bissu pada ritual dalam lingkungan istana tempo dulu yaitu sebagai penghubung antara manusia dengan dewata yang bersemayam di dunia atas. Penampilan bissu telah dirasionalisasikan sehingga tidak lagi mengarah pada hakekat keberadaan ritual bissu sesungguhnya. Penampilannya kini telah mengalami pergeseran nilai ritual dari yang sakral menjadi tidak sakral lagi.

nilai ritual dari yang sakral menjadi tidak sakral lagi. Gambar 4 Tari sere luluso sebagai tari
nilai ritual dari yang sakral menjadi tidak sakral lagi. Gambar 4 Tari sere luluso sebagai tari

Gambar 4 Tari sere luluso sebagai tari penjemputan. Bissu penarinya memegang luluso yang bentuknya seperti pipa. Tarian ini biasa juga disebut dengan sere bissu.

Implikasi umum pelibatan bissu dalam berbagai ritual yang digelar oleh berbagai macam aktor seperti dari kalangan keluarga istana dan masyarakat seperti petani, nelayan, dan sanro. Selanjutnya, dari dewan adat Pammana dan pemerintah daerah, dalam hal ini dinas pariwisata secara tidak langsung turut mendukung keberlangsungan tradisi bissu. Namun pada sisi lain, tidak jarang mendapatkan kritikan utamanya dari para ulama Islam karena ritual yang dilakukan oleh bissu dianggap hal yang bertentangan dengan ajaran Islam. Davies mengistilahkan sebagai anti-bissu sentiment sentimen anti bissu yang dimotori oleh ulama. Ulama menganggap perbuatan bissu merupakan hal yang terkutuk, aib, dan musyrik (Davies, 2007:98). Hal ini berbias kepada masyarakat luas. Masyarakat turut mencibir kehadiran bissu dan menyamakan dengan calabai. Padahal

34

meskipun antara bissu dan calabai mamiliki kesamaan fisik namun bissu menganggap dirinya lebih tinggi dan terhormat dibanding dengan calabai. b. Upacara yang Menampilkan Bissu Pada masa dulu atraksi yang dilakonkan oleh bissu secara khusus merupakan tugas atau pengabdian bissu kepada istana. Segala upacara atau ritual yang menampilkan bissu adalah merupakan kegiatan resmi dan harus sepengetahuan keluarga istana. Bissu merupakan bagian dari istana sehingga ritual yang dilakoninya merupakan kegiatan resmi istana. Namun yang terjadi sekarang adalah beberapa upacara yang menampilkan bissu tidak lagi didominasi oleh kalangan istana. Sudah terjadi pergeseran pemaknaan upacara atau ritual akibat berubahnya sistem pemerintahan dari kerajaan menjadi republik dan keadaan sosial ekonomi masyarakat yang selalu berubah. Pelaksanaan upacara atau ritual tidak lagi merupakan persembahan untuk istana melainkan untuk menopang ekonomi bissu, hiburan, dan pelengkap acara yang tidak ada hubunganya dengan upacara bissu. Beberapa bagian dari upacara dipangkas atau dihilangkan sama sekali. Kondisi ini memunculkan komersialisasi budaya sehingga kemunculan bissu khususnya bissu Pammana di tengah-tengah masyarakat dapat dibedakan menjadi dua yaitu dalam upacara non-komersil orientasi budaya dan komersil orientasi ekonomi. Masyarakat pendukung bissu dalam melakukan upacara atau ritual non-komersil terdiri atas keluarga istana dan golongan masyarakat tertentu. Dalam keluarga istana pemunculan bissu berkaitan dengan upacara atau ritual dalam life-cycles seperti acara memmana' lolo kelahiran bayi, amatengeng kematian, mappabotting mengadakan pesta pernikahan, menre bola baru menempati rumah baru, mappano arajang perawatan benda pusaka kerajaan, dan mallanti arung pelantikan raja. Keberadaan bissu pada acara tersebut yaitu untuk menambah karame'na acara atau memberi nuansa keramat atau sakralnya acara. Disamping itu, untuk menunjukkan kharisma keluarga istana dimata masyarakat luas. Masyarakat pendukung bissu dari golongan masyarakat tertentu seperti petani, nelayan, dan sanro. Mereka membutuhkan bissu pada upacara yang berhubungan dengan pekerjaan mereka.

35

Gambar 5 Bissu dalam pelantikan datu Pammana ke-40 pada tahun 2004 Pada umumnya upacara atau

Gambar 5 Bissu dalam pelantikan datu Pammana ke-40 pada tahun 2004

Pada umumnya upacara atau ritual dalam life-cycles, bissu selalu menampilkan sere bissu. Dalam upacara pesta pernikahan dan kelahiran bayi para bissu melakukan mallabu kesso yaitu melakukan sere bissu tarian bissu yang waktunya menjelang dan setelah magrib. Para bissu menari hingga selesai kira-kira setelah shalat isya. Keesokan paginya menjelang subuh para bissu bangun pagi-pagi untuk kembali sere bissu lagi. Dalam acara pelantikan raja, bissu juga melakukan sere bissu menari mengelilingi arung matoa gelar raja tertinggi di Wajo. Sere bissu dilakukan pada waktu-waktu tertentu misalnya pada saat menjelang malam dan menjelang pagi dan dilakukan satu hingga dua hari. Disamping tarian bissu, ritual yang sering dilakukan oleh bissu seperti dalam perawatan benda pusaka yang biasanya dilakukan dengan jalan membersihkan benda tersebut. Bissu melakukan ritual dengan jalan membacakan mantra-mantra yang intinya meminta izin kepada 'penghuni' benda pusaka tersebut sebelum benda pusaka dibersihkan agar prosesinya dapat berjalan lancar.

pusaka dibersihkan agar prosesinya dapat berjalan lancar. Gambar 6 Alameng sejenis parang panjang merupakan benda

Gambar 6 Alameng sejenis parang panjang merupakan benda pusaka Kerajaan Pammana. Pada zaman kerajan benda ini dirawat oleh bissu

36

Semua penari dalam sere bissu berjumlah delapan belas orang untuk kelompok bissu Pammana. Tarian diringi oleh tabuhan gendang bersama dengan alat musik lain seperti lé léa yang bahannya terbuat dari bambu pada bagian ujungnya dibelah-belah hingga mirip lidi. Bagian yang menimbulkan bunyi pada bagian ujungnya yang berbentuk sekumpulan lidi. Pemainnya membunyikan dua buah lé léa dengan jalan memukul-mukul benda ini hingga menghasilkan suara khas. Alat musik selanjutnya yaitu ana beccing terbuat dari logam yang bentuknya mirip saji besi penggorengan. Ana beccing berjumlah dua buah yang keduanya diikat dengan sebuah tali. Kancing dua buah terbuat dari logam yang bentuknya seperti piring yang diikat dengan menggunakan tali pengikat. Cara membunyikan yaitu dengan saling membenturkan kedua permukaan kancing tersebut sehingga menghasilkan bunyi yang mirip cymbal ukuran kecil. Peralatan sere bissu atau sere luluso yang lengkap dan meriah yaitu dengan menambahkan pui-pui sejenis suling dan gong. Pada bagian kepala pui-pui dibuat membentuk semacam klep yang bahannya dari daun lontar. Apabila ditiup akan menimbulkan bunyi yang sangat nyaring. Bagian batang pui-pui dilubangi untuk menghasilkan nada tinggi dan rendah. Bagian ujungnya dipasang benda yang mirip bagian ujung terompet.

ujungnya dipasang benda yang mirip bagian ujung terompet. Gambar 7 Bissu pengiring musik memegang kancing dan
ujungnya dipasang benda yang mirip bagian ujung terompet. Gambar 7 Bissu pengiring musik memegang kancing dan

Gambar 7 Bissu pengiring musik memegang kancing dan lé léa

Pendukung bissu dari kalangan masyarakat tertentu terdiri atas sanro atau dukun, petani, nelayan, dan sebagian kecil masyarakat. Dalam menjalankan perannya melayani masyarakat membantu menyembuhkan penyakit, sanro membutuhkan bissu sebagai konsultan spiritual sebelum melakukan ritual. Para sanro melakukan berbagai ritual sebelum prosesi penyembuhan berlangsung. Disamping itu, sanro biasanya meminjam kepada bissu perlengkapan yang digunakan oleh bissu dalam melakukan

37

berbagai ritual. Petani membutuhkan bissu pada saat akan menebarkan benih padi di sawah. Bissu melakukan ritual agar bibit padi yang disebarkan dapat tumbuh dengan baik yang pada akhirnya dapat berhasil dipanen. Nelayan membutuhkan bissu pada saat acara maccera tappareng atau ritual pemberian sesaji yang diadakan di danau. Acara ini digelar sebagai tanda syukur atas sumber daya danau berupa berupa hasil tangkapan ikan yang melimpah. Pada sebagian kecil masyarakat yang masih menyimpan benda-benda pusaka di rumahnya juga membutuhkan bissu terutama dalam ritual pembersihan benda pusaka. Setelah terbentuknya dewan adat Pammana pada tahun 2003 lalu, kegiatan yang dilakukan oleh bissu sudah terorganisir dengan baik di bawah wewenang lembaga ini. Kegiatan yang dilakukan oleh bissu sebelum lembaga ini dibentuk dilakukan secara sporadis dan tidak tertata dengan baik. Pada saat diresmikan dewan adat ini dilakukan pula acara pelantikan datu atau raja yang sekaligus manjadi ketua dewan adat Pammana. Namun, datu yang dilantik hanya sebagai simbol dan tidak memiliki wewenang kekuasaan dalam sistem pemerintahan sekarang. Salah satu peran datu yaitu berusaha melestarikan sisa-sisa warisan budaya yang jarang bahkan tidak ditampilkan lagi sehingga generasi sekarang dan mendatang dapat mengetahui dan memiliki apresiasi akan budayanya sendiri. Pemunculan bissu dalam acara pelantikan datu ini sebagai tokoh sentral. Acara diawali dengan atraksi dan ritual oleh bissu. Mulai penjemputan datu yang diiringi oleh tarian bissu, menuntun datu memasuki tempat pelantikan, hingga pada proses pelantikan datu. Seiring dengan bergulirnya jaman yang selalu berubah dan tuntutan ekonomi yang semakin mendesak tentunya turut mempengaruhi bentuk upacara yang dilakukan oleh bissu. Upacara yang menghadirkan bissu turut mengalami imbasnya dengan terdapatnya beberapa perubahan bentuk penyajian upacara misalnya dengan mengurangi jumlah benda-benda ritual atau persyaratan ritual. Hal ini berlangsung bukan tidak disengaja, melainkan dengan sengaja dibuat sedemikian rupa oleh para aktor yang melibatkan bissu pada beberapa upacara yang mereka gelar. Dilain pihak, perubahan- perubahan ini tentunya telah melalui kesepakatan antara bissu dengan aktor atau antara sesama bissu sendiri. Para aktor tersebut yaitu oknum tertentu dari kalangan yang berhubungan dengan bissu, pemerintah daerah dalam hal ini dinas pariwisata, dan dewan adat. Betapa besar peranan aktor ini dalam komersialisasi upacara bissu.

38

Calabai Sulaiman 87 tahun merupakan oknum tertentu yang menginginkan dianggap sebagai sesepuh dan bagian dari bissu. Kegiatan sehari-harinya melayani perlengkapan pesta pengantin dan urusan masakan pesta. Sebagai seorang sesepuh calabai, tentunya dia sudah lama dikenal luas oleh masyarakat. Sudah tidak terhitung lagi pesanan untuk persiapan pesta perkawinan yang ia tangani dari berbagai lapisan sosial ekonomi masyarakat. Ia juga sangat dekat dan dikenal oleh kelompok bissu. Bahkan jika ada pesanan dari masyarakat luas untuk menampilkan bissu atau benda-benda ritual bissu maka melalui dialah keinginan masyarakat itu dapat diwujudkan. Tentunya keuntungan yang ia peroleh adalah Sulaiman mendapatkan bayaran atas jasa yang ia sediakan. Terjadilah komersialisasi budaya bissu yang memberikan nuansa baru bagi bissu sendiri. Komersialisasi upacara memiliki keterkaitan yang sangat erat dengan seni pertunjukan. Hal ini senada dengan pendapat Soedarsono tentang fungsi pertunjukan yang ia bedakan menjadi dua jenis yaitu primer dan sekunder (Soedarsono, 2002). Fungsi primer menekankan pada hiburan yang bersifat pribadi dan fungsi sekunder dibuat untuk kepentingan budaya estetik yang termasuk di dalamnya yaitu komersial. Pemunculan bissu dalam upacara atau ritual jika dikaitkan dengan pemahaman Soedarsono rupanya muncul sebagai sebuah bentuk pertunjukan yang memiliki salah satu dari kedua fungsi tadi. Pada masa dulu saat bissu tampil dalam lingkungan istana fungsi pertunjukan yang mendominasi yaitu fungsi pertunjukan primer. Fungsi ini sebagai penghibur dalam lingkungan istana yang termasuk didalamnya terdapat unsur-unsur ritual. Namun pada saat ini, fungsi yang mendominasi upacara bissu yaitu fungsi sekunder, bagaimana melakukan upacara yang efisien. Melakukan penyesuian-penyesuaian dalam melakukan ritual misalnya dengan mengurangi urutan prosesi upacara sehingga pelaksanaan upacara atau ritual lebih singkat. Komersialisasi upacara saat sekarang sudah tidak dapat dihindari lagi. Para pendukung bissu dan diantara bissu sendiri juga tidak mampu untuk berbuat apa-apa untuk mencegah praktek komersialisasi. Upaya untuk menempatkan kembali peruntukan upacara yang dilakukan oleh bissu hanya kepada istana merupakan tindakan yang sia-sia. Komersialisasi ini tidak hanya terjadi pada masalah bissu namun terjadi pula dalam budaya lain dalam spektrum yang lebih luas, bahkan bisa dikatakan peristiwa ini terjadi sudah mengglobal. Olehnya itu, masyarakat pendukung bissu dan kerabat istana harus

39

menyadari kenyataan ini dan berbesar hati. Untuk itu, apabila upacara bissu diupayakan untuk kepentingan seni pertunjukan pariwisata maka terdapat lima hal yang harus diperhatikan dalam pementasan wisata yaitu tiruan dari aslinya, singkat atau bentuk mini dari aslinya, penuh variai, aspek ritualnya ditinggalkan, dan murah harganya (Soedarsono, 1999:3). Jika hal ini dilakukan konsekuensinya adalah bentuk upacara yang menampilkan bissu akan mengalami perubahan untuk kepentingan komersial. Perampingan benda-benda yang digunakan dalam upacara, durasi waktu pelaksanaan upacara yang relatif singkat, dan tentu saja sudah tidak ada lagi unsur ritualnya. Setelah melihat berbagai bentuk upacara atau ritual bissu yang mengalami beberapa perubahan, peran aktor yang melibatkan bissu, dan kenyataan sebagian masyarakat yang menolak ritual yang dilakukan oleh bissu seperti yang telah digambarkan. Pada sisi lain muncul pula kekhawatiran akan punahnya warisan budaya yang tidak ternilai ini, maka untuk melakukan pelestarian budaya bissu salah satu cara yang ditempuh yaitu dengan melakukan reinvensi kultural. Peneliti menggunakan istilah reinvensi karena terinspirasi oleh Hobsbawm dalam bukunya The Invention of Tradition. Penemuan tradisi untuk dimunculkan kembali dengan cara yang berbeda. The Invention of Tradition diartikan sebagai seperangkat praktek dalam upacara yang sifatnya keagamaan yang dilakukan baik secara terbuka maupun tertutup yang dilakukan secara berulang-ulang dengan tujuan untuk mencari atau menanamkan norma-norma atau nilai- nilai perilaku tertentu. Praktek yang dilakukan secara berulang-ulang ini merupakan kesinambungan dari masa lalu (Hobsbawm, 2003:1). Upacara yang dilakukan oleh bissu pada saat sekarang merupakan merupakan bentuk yang digunakan pada masa lalu. Begitu pula upacara yang dilakukan oleh bissu masa lalu merupakan bentuk praktek yang digunakan oleh generasi bissu sebelumnya. Upacara itulah yang terpelihara hingga sekarang. Namun yang menjadi pertanyaan adalah apakah bentuk upacara yang dilakukan oleh bissu dari generasi ke generasi bentuknya sama? Bukankah dalam perkembangan budaya bissu mengalami beberapa fase zaman yang berbeda? Hamonic mengkategorikan empat zaman keberadaan bissu yakni zaman pra-La Galigo diperkirakan sebelum abad X, proto sejarah atau zaman La Galigo sekitar abad X – XIII, zaman kelahiran kerajan sekitar abad XIII – XIV, dan masuknya agama Islam sekitar abad XVII – sekarang (Hamonic, 2002: 2-3).

40

Melihat panjangnya sejarah bissu tersebut yang diperkirakan bissu sudah ada sebelum abad X maka sangatlah memungkinkan berbagai praktek dalam upacara yang dilakukan oleh bissu mengalami pengaruh dari unsur-unsur luar. Pengaruh tersebut misalnya dengan memasukkan kosa kata bahasa Arab sebagai ide baru dalam upacara yang dilakukan oleh bissu. Ide seperti ini dikenal dengan istilah invensi. Secara khusus, invention dipahami sebagai penemuan tradisi yang berkaitan dengan masa lampau namun tradisi tersebut tidak dapat digunakan atau diadaptasi. Koentjaraningrat memberikan definisi invention sebagai adat atau ide baru yang sudah diakui dan diterima oleh sebagian besar warga dalam masyarakat (Koentjaraningrat, 1990: 109). Saya menggunakan istilah reinvensi dalam penelitian ini untuk memberikan penekanan pada invention. Reinvensi atau reinvention berarti penemuan kembali, apa yang ada dalam invention diperbaharui kembali yakni dengan jalan tradisi yang ada sekarang dalam hal ini merupakan kesinambungan dari tradisi masa lampau kembali lagi dihidupkan. Cara menghidupkannya yaitu dengan jalan melakukan penyesuaian yang dapat diterima dalam kondisi kini. Penyesuaian yang dimaksud yaitu dengan menambahkan atau mengurangi unsur-unsur dalam satu tradisi. Misalnya dalam ritual mabbissu seorang bissu memasukkan istilah dalam bahasa Arab bismillah atau astagfirullah dimana istilah tersebut sama sekali tidak dikenal dalam bahasa torilangi atau bahasa bissu atau Bugis kuno, bahasa yang digunakan oleh bissu dalam melakukan ritual. Penyesuaian dapat pula dilakukan pada upacara lainnya yang melibatkan bissu. c. Faktor Bissu Bertahan Diperkirakan bissu sudah ada ratusan tahun yang lalu sebelum masuknya Islam di Sulawesi Selatan. Bahkan seorang antropolog Amerika memperkirakan bahwa bissu sudah ada lebih dari enam ratus tahun yang lalu (Kennedy, 1993). Dalam epos I La Galigo sudah banyak membahas mengenai bissu yakni tentang asal-usulnya, aktor yang menjadi bissu, dan peranan bissu dalam masyarakat. Jika ingin mengetahui awal mula bissu menenurut sumber tertulis I La Galigo maka dapat dirunut berdasarkan munculnya epos ini. Pada abad ke-13 di Sulawesi Selatan dianggap sebagai zaman gelap karena tidak ditemukan data sejarah tertulis. Barulah sekitar abad ke-14 sisi sejarah Sulawesi Selatan dapat terungkap dengan munculnya epos ini. Jadi apabila sejarah awal mulanya bissu disesuaikan dengan data yang ada dalam I La Galigo maka untuk sementara saya dapat

41

mengakatakan bahwa bissu sudah ada pada abad ke-14. Berdasarkan perkiraan waktu di atas dan melihat kenyataan bahwa bissu masih ada hingga sekarang dalam konteks kini maka pertanyaan mengenai mengapa bissu bertahan hingga kini, ternyata menurut penelitian saya setidaknya memiliki tiga hal atau komponen. Ketiga komponen tersebut yaitu regenerasi, kebutuhan upacara, dan aktor yang melakukan komersialisasi upacara bissu.

Faktor regenerasi bissu adalah salah satu unsur bertahannya bissu hingga kini. Dalam beberapa tempat terdapatnya bissu ditemukan aturan untuk menjadi bissu yang sangat rumit sehingga turut mempengaruhi minimnya regenerasi bissu. Bissu di Bone dan Segeri Pangkep misalnya menerapkan aturan yang berat yaitu harus melewati prosesi irebba. Posisi ini mensyaratkan bahwa seorang calon bissu yang umumnya berasal dari kalangan calabai harus memiliki masa lalu yang tidak pernah melakukan tindakan asusila dan tercela. Sebab dalam prosesi ini calon bissu harus dikafani dan diperlakukan sebagai seorang mayat. Apabila calon bissu mempunyai masa lalu yang banyak melakukan tindakan yang tidak terpuji atau tercela maka ia akan langsung meninggal. Namun apabila masa lalunya banyak diisi dengan tindakan yang terpuji maka ia akan lulus menjadi seorang bissu. Prosesi irebba yang baru dilakukan di Bone yakni pada tahun 2003 dimana seorang calabai yang bernama Enjel yang memiliki nama laki-laki Samsul Bahri kelahiran tahun 1969 telah lulus menjalani prosesi tersebut dan berhak menyandang gelar bissu. Sessung Riu menjadi nama baru bissu Enjel yang diambil dari nama tokoh bissu yang pandai di bidang sastra. Prosesi irebba dilakukan di rumah adat yang sekarang berfungsi sebagai museum Bola Soba Bone. Sebelum calon bissu irebba maka ia harus melalui beberapa proses seperti dikafani. Pada masa lampau prosesi irebba dilakukan selama tujuh hari tujuh malam. Namun atas berbagai pertimbangan maka pada saat sekarang hanya dilakukan selama tiga hari. Prosesi irebba bissu Enjel dilakukan selama tiga hari. Selama itu pula makan dan minumnya hanya air jalaju atau air kelapa. Selama tiga hari prosesi irebba digelar sere bissu tarian bissu, disemarakkan dengan bunyi- bunyian atau tetabuhan. Berbagai nyanyian pujian dengan menggunakan bahasa bissu turut pula digelar seperti memmang nyanyian-nyanyian bissu yang sarat dengan makna,

42

ranging-ranging puji-pujian, icabo nyanyian lemah lembut yang temanya melampiaskan perasaan yang mengadu atau memohon. Namun pada sisi lain, minat para calabai untuk menjadi bissu tak pernah ada habisnya. Hal ini karena bissu lebih terhormat dari pada calabai. Bissu mempunyai wawasan tentang adat istiadat yang lebih luas dibanding dengan calabai. Bissu mempunyai peran yang penting dalam institusi adat khususnya dalam lingkungan istana. Bissu memiliki kelebihan supranatural dibanding dengan calabai. Bissu selalu menjaga diri agar selalu malebbi atau menjaga sopan santun, sedangkan calabai masih banyak yang belum mengindahkan untuk menjadi seorang yang malebbi. Seorang calabai di Bone bernama Ita lahir 1973 mempunyai cita-cita untuk menjadi seorang bissu. Kegiatannya sehari-hari sebagai perias pengantin dan pelaminan pesta pernikahan. Keinginannya begitu kuat sehingga langkah pertama yang ia tempuh yaitu turut melibatkan diri dalam kegiatan bissu. Ia diikutkan dalam kelompok penari bissu dan bertugas sebagai paggiri atau atraksi bissu yang menusukkan keris atau parang ke bagian tubuh seperti pada bagian kepala, lengan, dan mata. Faktor utama yang mendorongnya menjadi bissu yaitu bissu lebih terhormat dari pada calabai. Lain halnya bissu di Wajo khususnya kelompok bissu Pammana. Aturan untuk menjadi bissu berbeda dengan yang ada di Bone. Aturan di Wajo lebih longar karena tidak melalui proses irebba. Pada masa dulu pelantikan bissu dilakukan setelah pelantikan Arung Matoa gelar raja tertinggi di Wajo. Namun hanya satu bissu yang dilantik yaitu angkuru gelar pemimpin bissu. Setelah angkuru dilantik maka ia berhak untuk mencari dan memilih sendiri para bissu yang akan mendampinginya. Bissu yang terpilih oleh angkuru merupakan bissu resmi istana dan berhak menggunakan gelar bissu dengan memperhatikan berbagai syarat yang satunya yaitu seorang bissu tidak boleh berbuat tindakan asusila macolla. Adapun yang melantik angkuru bissu dan Arung Matoa yaitu arung enneng Wajo atau enam bangsawan tinggi yang mewakili enam wilayah di kerajaan Wajo. Fungsi arung ennennge mirip dengan dewan perwakilan rakyat sekarang. Sebagai konsekuensi aturan untuk menjadi bissu seperti yang telah dipaparkan yaitu memiliki dua hal yang berbeda. Pertama, mengancam regenerasi bissu ke arah diambang kepunahan seperti yang terjadi pada bissu Bone. Bissu di tempat ini kini jumlahnya tinggal satu orang saja yang seharusnya berjumlah empat puluh orang. Jumlah

43

ini bisa saja bertambah apabila ada yang telah melalui prosesi irebba yang berat. Namun hingga saat ini jumlah bissu belum bertambah karena belum ada calon bissu yang berani melewati prosesi irebba. Kedua, peluangnya memudahkan untuk menjadi bissu seperti bissu yang terdapat di Wajo khususnya bissu Pammana. Regenerasi bissu di tempat ini sempat terputus dengan bergantinya sistem pemerintahan dari bentuk kerajaan menjadi kabupaten sekitar tahun 1940-an. Namun, setelah pelantikan datu atau raja yang digelar pada tahun 2004 lalu yang turut pula melantik angkuru bissu Pammana, proses regenerasi bissu kembali berlanjut di abad ini. Dengan demikian, kelompok bissu Pammana berdasarkan sudut pandang regenerasi bissu belum diangap terancam punah. Dengan kata lain, faktor regenerasi merupakan salah satu penyebab bissu masih bisa bertahan hingga kini.

Sampai saat ini para pendukung bissu masih setia menggunakan jasa bissu untuk membantu melakukan upacara meskipun dalam jumlah yang dapat dihitung. Upacara yang paling banyak melibatkan bissu yaitu yang berhubungan dengan life-cycles utamanya upacara pernikahan dengan pendukung utamanya yaitu keluarga istana. Upacara lainnya dibutuhkan oleh sebagian kecil kelompok masyarakat misalnya nelayan, petani, dan dukun. Kelompok masyarakat ini membutuhkan upacara dalam bentuk ritual. Upacara juga telah mengalami pergeseran yang lebih mengarah kepada seni pertunjukan untuk tujuan komersil yang diupayakan oleh dinas Pariwisata dan dewan adat Pammana. Upacara diarahkan dalam bentuk atraksi yang dikemas menjadi paket wisata dan diselenggarakan secara tetap dan berkala. Pelibatan bissu dalam atraksi wisata ini dapat memberi daya tarik tersendiri karena merupakan bentuk atraksi yang sangat unik sehingga pada akhirnya dapat membantu menaikkan angka kunjungan wisatawan. Fungsi upacara yang melibatkan bissu bermakna strategis bagi datu dan keluarga istana. Untuk itu, bissu sering tampil menjadi tokoh sentral dalam apacara atau ritual yang digelar oleh datu atau keluarga istana. Datu atau raja merupakan pemimpin tradisional yang memiliki kekuasaan atas wilayah dan masyarakat di daerah kekuasaannya. Dalam konsep pemimpin tradisional yang digagas oleh Koentjaraningrat diperkenalkan istilah kekuasaan dalam arti luas yang terdiri atas empat komponen kekuasaan. Komponen tersebut yaitu kharisma, keabsahan, kewibawaan, dan kekuasaan dalam arti khusus (Koentjaraningrat, 1999: 225). Kekuasaan dalam arti khusus

44

maksudnya yaitu kemampuan untuk mengerahkan kekuatan fisik dan mengorganisasi orang banyak atas dasar suatu sistem sanksi. Keempat komponen tersebut menjadi syarat bagi pemimpin tradisional untuk melanggengkan kekuasaannya. Bissu menjadi sarana bagi datu atau keluarga istana untuk menjustifikasi kekuasaan mereka. Upacara atau ritual yang dipimpin oleh bissu salah satu fungsinya yaitu mengumumkan kharisma dan keabsahan atas kekuasaan yang dimiliki oleh seorang datu atau keluarga istana. Kharisma bermakna memiliki wahyu Tuhan atau dewa-dewa dan melalui perantaraan bissu wahyu tersebut disampaikan kepada datu atau keluarga istana. Keabsahan bermakna seorang datu memiliki kekuatan sakti dan memiliki pusaka- pusaka keramat yang melambangkan kebesaran kerajaan. Pusaka-pusaka keramat yang disebut arajang disimpan dalam istana. Bissu bertugas sebagai penjaga dan pengurus pusaka tersebut. Bissu melakukan ritual pencucian benda pusaka tersebut. Namun saat sekarang, tidak ditemukan ritual ini di Pammana karena ada masalah internal keluarga istana. Tempat penyimpanan arajang selalu berada di saoraja atau istana raja. Upacara yang ditampilkan oleh bissu umumnya memiliki bentuk yang sama. Begitu pula dengan benda-benda ritual penggunaanya juga sama. Maksudnya pada upacara atau ritual yang berhubungan dengan life-cycles dan pelantikan datu, upacara dan benda ritual yang digunakan selalu sama. Namun, dalam hal-hal tertentu bentuk upacara dan benda ritual yang digunakan biasanya disesuaikan dengan yang memiliki hajatan upacara. Lengkapnya prosesi pelaksanaan upacara dan benda ritual yang digunakan menunjukkan status dari pelaksana upacara. Misalnya seorang datu yang melaksanakan upacara perkawinan keluarganya, prosesi dan benda ritual yang ditampilkan oleh bissu harus lengkap. Berbeda dengan keluarga istana yang bukan dari golongan bangsawan tingkat tinggi. Bentuk upacara dan benda ritual jumlahnya tidak selengkap dengan upacara datu. Ada bagian upacara dan jumlah benda ritual yang dikurangi Bentuk upacara yang dilakukan oleh bissu terdiri atas beberapa rangkaian dan memiliki nama masing-masing. Data yang saya peroleh pada tanggal 30 Maret 2007 di Sengkang dalam acara hajatan sanro yang melibatkan bissu sebagai tokoh sentral. Upacara ini menampilkan bentuk upacara dan kelengkapan benda ritual mirip yang dilaksanakan oleh keluarga istana. Upacara dilaksanakan di dalam rumah sanro yang diklaim sendiri oleh sanro sebagai rumah adat. Sanro menerima wangsit dari leluhur

45

melalui mimpi agar meresmikan rumah baru ini dengan melaksanakan ritual yang melibatkan bissu sebagai tokoh sentral. Pada bagian depan rumah ditempatkan benda- benda ritual yang memiliki beragam fungsi dan simbol. Pada umumnya berfungsi sebagai benda-benda penyambutan untuk menghormati datu atau tamu. Selanjutnya, benda-benda tersebut memiliki simbol kosmologi antara dewata dan manusia. Benda-benda ritual yang digunakan banyak terbuat dari gerabah dan logam. Sebagian menggunakan bambu dan kain. Pada bagian depan rumah digelar sebuah kaci kain kafan atau kain putih yang berfungsi sebagai permadani yang dilalui oleh datu atau tamu agung. Kain ini dibentangkan yang panjangnya kira-kira lima belas meter menuju tangga rumah. Sepanjang bentangan kain tadi dijejer benda ritual yang harus dilalui dan sebagian diinjak oleh datu atau tamu agung yang berfungsi sebagai penghormatan dan harapan semoga ritual ini diberkahi oleh dewata. Benda ritual tersebut seperti mattarawue, benno pulaweng, felleng mabborongeng, dafo sabangeng, ompa sikati, lawolo, tanggareng, tana menroja, falakaje, fappacella, dan kepala kerbau. Pada bagian depan tempat upacara ditancapkan bambu kuning yang masih lengkap dengan dan dan rantingnya. Di rantingnya ditempatkan benda-benda ritual seperti kain warna-warni, ula menreli sawa sinempang atau boneka ular, dan sepasang gelang disebut lola dan fattappo lola.

Kira-kira satu setengah meter ujung bagian depan kain ini didirikan rangkaian bambu yang disebut awo menrawe yang bentuknya mirip dengan rangka atap. Jumlah bambu sebelah kiri sembilan sama dengan jumlah kanan yang berwarna kining pada sisi sebelah kanan dan merah sebelah kiri. Awo menrawe terletak pada bagian atas kain putih sehingga apabila datu atau tamu agung yang dijemput harus lewat dibawah awo menrawe dan berjalan di atas kain putih dengan melewati benda-benda ritual yang digelar. Di dalam rumah tempat upacara terdapat lesung kayu yang akan digunakan oleh kelompok bissu untuk melakukan atraksi mappadendang atau tari lesung. Tidak ketinggalan perlengkapan bunyi-bunyian yang digunakan untuk mengiringi tari bissu yang terdiri atas ana beccing, le lea, kancing, pui pui, dan gendang yang bahannya terbuat kayu dan kulit kambing. Di dalam rumah dihiasi dengan sampe hiasan kain perlengkapan pesta pengantin yang ditempel di dinding. Berbagai macam makanan dan kue disajikan dalam `bosara wadah tempat kue yang bentunya mirip dengan piring yang memiliki pengalas

46

dan ditutup dengan menggunaka fassampo bosara atau penutup bosara. Pada bagian sudut rumah didirikan tempat pelaminan yang didalamnya terdapat tempat duduk sanro dan suaminya. Sanro mengenakan pakaian pengantin sehingga suasana di rumah tersebut sangat meriah dan mirip pesta pengantin. Upacara atau ritual yang diperankan oleh bissu seperti yang telah digambarkan tadi secara umum merupakan sarana untuk berkomunikasi dengan dewata yang bersemayan di dunia atas. Manusia tidak dapat melakukan komunikasi secara langsung kepada dewata. Melalui bissu permintaan manusia kepada dewata disampaikan melalui ritual. Bissu menjadi perantara permintaan manusia tersebut kepada dewata. Dalam teori Liminal Zone Leach yang telah dimodifkasi oleh Abdullah menunjukan dua buah lingkaran yang saling berhubungan. Daerah persinggungan kedua lingkaran tersebut disebut sebagai liminal zone (Abdullah, 2002: 84). Dengan melakukan modifikasi, lingkaran pertama mewakili 'dunia bawah' tempat manusia. Lingkaran kedua mewakili 'dunia atas' tempat bersemayan para dewata. Daerah persinggungan yaitu liminal zone adalah ritual yang dilakukan oleh bissu untuk memohon kesejahteraan dan keselamatan kepada dewata. Bissu dalam melakukan ritual harus memahami dan menggunakan bahasa torilangi yang dikenal oleh dewata. Bahasa torilangi hanya dikenal oleh bissu dan sejumlah kecil masyarakat. Melihat ketergantungan aktor kepada bissu dalam hal pelaksana upacara atau ritual yang memerlukan bissu sangat kuat maka sebagai implikasinya yaitu bissu masih tetap dibutuhkan dan menyebabkan bertahannya institusi bissu.

The world of the other Liminal temporal world of experience zone experience A reversed not-A
The world of
the other
Liminal
temporal
world of
experience zone
experience
A
reversed
not-A

Gambar 8 Liminal Zone, lingkaran kiri mewakili 'dunia bawah, lingkaran kanan mewakili 'dunia atas', dan daerah persinggungan adalah ritual

Faktor terakhir dalam penelitian ini yang menyebabkan bissu masih dapat bertahan hingga kini adalah komersialisasi upacara. Dengan melakukan reinvensi kultural maka upacara yang melibatkan bissu dapat lebih dikenal dan diterima oleh masyarakat. Tentunya reinvensi dilakukan dengan memperhatikan berbagai aspek seperti upacara

47

yang ditampilkan merupakan tiruan dari aslinya, dimasukkan beberapa variasi misalnya dengan mengucapkan kata bismillahirrahmanirrahim pada permulaan pementasan, disajikan secara singkat atau dipadatkan dari bentuk aslinya, murah harganya, dan nilai sakralnya dihilangkan. Konsekuensinya ada dua, pertama pemuka agama akan dapat bersikap lunak akan upacara yang menampilkan bissu. Meskipun tidak berarti dapat menerima secara keseluruhan karena seorang bissu masih dianggap orang yang menyalahi kodrat. Kedua, pendukung utama bissu dari keluarga istana akan melontarkan kecaman karena upacara yang menampilkan bissu sifatnya primer atau hanya dapat dipentaskan di depan raja atau keluarga istana. Namun bagaimanapun bentuk konsekuensi yang akan terjadi kiranya perlu dipahami dan dimengerti keberlangsungan bertahannya bissu bahwa bissu merupakan warisan budaya yang tidak ternilai harganya. Kearifan kita dibutuhkan untuk turut memberikan ruang-ruang kepada bissu agar dapat hidup dengan layak dan dapat diterima oleh masyarakat serta bissu masih dapat bertahan hingga ke generasi mendatang.

48

BAB IV KESIMPULAN

Salah satu tempat bissu di Sulawesi Selatan yaitu di Kecamatan Pammana

Kabupaten Wajo. Pammana merupakan wilayah bekas kerajaan tertua yang sudah lama

berdiri sendiri sebelum bergabung dengan Wajo. Wilayah ini menjadi istimewa diantara

banyak nama tempat di Sulawesi karena nama Pammana selalu disebut-sebut dalam salah

epos terbesar dunia berbahasa bugis kuno I La Galigo. Dalam epos ini Pammana dikenal

dengan nama Cina. Pammana memiliki budaya yang khas di Wajo karena Pammana de'

nattamai ade maksudnya Pammana tidak dimasuki oleh budaya luar, justru Pammanalah

yang memberi pengaruh kepada budaya diluar Pammana. Penguasa tertinggi disebut datu

atau raja yang dalam prosesi pelantikannya bissu tampil sebagai tokoh yang amat

penting. Tugasnya melakukan ritual yang menghadirkan reprentasi ‘dunia atas, tengah,

dan bawah’ dalam pelantikan datu. Prosesi pelantikan datu tidak dapat dilakukan tanpa

kehadiran bissu. Begitu pula ritual lain yang berhubungan dengan life-cycles

menampilkan bissu sebagai tokoh sentral. Bukan itu saja, banyak peran yang dilakonkan

oleh bissu baik yang berhubungan dengan institusi kerajaan maupun masyarakat.

Bissu merupakan bentuk warisan budaya bugis kuno yang masih bertahan dan

dapat dijumpai sekarang. Tentunya tidak lagi seperti masa silam karena berbagai kondisi

yang terjadi seperti perubahan bentuk sistem pemerintahan, sistem kepercayaan, dan

sistem sosial budaya. Bissu hanya dapat dijumpai di tempat-tempat tertentu dalam jumlah

yang memprihatinkan. Tempat tertentu tersebut berada pada daerah yang masih

mempunyai kepedulian terhadap budaya lokal. Bentuk kepedulian tersebut seperti masih

adanya pendukung bissu yang menginginkan upacara yang digelar melibatkan bissu.

Daerah yang tidak mempunyai lagi pendukung bissu yang memerlukan bissu pada

upacara hajatan, bissu di tempat tersebut berangsur-angsur mulai tidak terdengar lagi.

Bahkan di Gowa bissu sudah tidak dijumpai lagi. Di Bone jumlah bissu pada masa silam

adalah 40 orang dan dalam upacara yang melibatkan bissu semua anggotanya

ditampilkan secara utuh. Namun saat sekarang jumlah bissu Bone hanya satu orang.

Kondisi yang dipaparkan di atas hanya sebagian kecil memudarnya peran bissu

dari segi kuantitas. Namun, ironisnya tidak sedikit orang yang berniat menjadi bissu.

Sebagian besar peminat bissu berasal dari kalangan calabai. Bissu memiliki daya tarik

49

tersendiri bagi peminatnya. Berbeda dengan bissu Gowa dan Bone, bissu Pammana justru tidak mengalami krisis kuantitas bissu. Saat ini jumlah kelompok bissu Pammana yaitu 18 orang. Jumlah ini sebenarnya masih bisa bertambah lagi. Hal ini karena syarat untuk menjadi bissu tidak seketat atau serumit dengan yang ada di Bone atau di Segeri Pangkep. Dengan dibentuknya dewan adat Pammana menjadikan kelompok bissu di tempat ini terlindungi. Maksudnya dewan adat memberikan ruang bagi bissu untuk tetap melakukan upacara yang melibatkan kelompok bissu. Dewan adat memfungsikan dirinya sebagai event organizer bagi bissu. Setiap upacara yang melibatkan bissu olah pihak luar selain dewan adat harus sepengetahuan dewan adat. Hal ini dimaksudkan agar upacara yang dilakukan oleh bissu dilakukan secara proporsional. Melihat beberapa kenyataan di atas dan bahwa bissu sudah ada di Sulawesi Selatan sekitar enam ratus tahun yang lalu dan masih bertahan hingga kini. Selanjutnya yang menjadi pertanyaan utama dalam penelitian ini bahwa mengapa budaya bissu masih bisa bertahan sampai sekarang? Bukankah waktu selama enam ratus tahun merupakan waktu yang sangat lama? Jika sebuah produk budaya yang dibuat seratus tahun yang lalu misalnya, belum tentu masih dapat dijumpai sekarang. Sedangkan bissu yang telah melewati rentang waktu yang sedemikian panjang itu masih eksis sampai sekarang. Ternyata ada beberapa faktor yang ditemukan dalam penelitian ini sehingga bissu khususnya yang ada di Kabupaten Wajo masih tetap bertahan hingga kini. Faktor tersebut terdiri atas tiga komponen. Ketiga komponen tersebut sekaligus merupakan jawaban dari pertanyan penelitian ini. Ketiga komponen tersebut yaitu aktor, upacara, dan regenerasi. Ketiga komponen ini saling berkaitan sehingga membentuk sebuah mata rantai yang saling berhubungan. Pendekatan fungsional-struktural berdasarkan yang telah dikembangkan oleh Tallcot Parsons (Nasikun, 1984: 14). Dengan melakukan modifikasi digunakan dalam penelitian ini untuk menjawab pertanyaan penelitian. Sub sistem dalam pendekatan ini adalah faktor-faktor yang menyebabkan bertahannya bissu Pammana. Sub sistem tersebut yaitu aktor, upacara, dan regenerasi beserta seluruh unsur yang ada dalam tiap subsistem tersebut. Apabila subsistem ini saling berhubungan tanpa adanya konflik maka kelanggengan akan terjadi. Kelompok bissu Pammana telah memenuhi unsur atau dengan kata lain subbsistemnya saling berhubungan secara harmonis. Sehingga pertanyaan

50

bahwa mengapa kelompok bissu Pammana masih bisa bertahan dapat dijawab. Selanjutnya, salah satu hal menarik yang ditemukan dalam penelitian ini yaitu terjadinya tarik menarik dalam subsistem antara upacara dan aktor pendukung bissu. Pendukung dari kalangan istana menginginkan upacara yang dilakukan oleh bissu hendaknya hanya diperuntukkan bagi keluarga istana sebagaimana tugas utama bissu tempo dulu. Aktor pendukung bissu lain lebih berorientasi memodifikasi upacara tersebut agar tradisi bissu dapat bertahan. Tentunya dibarengi dengan konsekuensi perubahan bentuk upacara bissu. Konsekuensi ini sebenarnya merupakan hal yang lumrah bagi pengembangan budaya lokal. Sebab yang mengalami hal ini bukan saja masalah bissu namun budaya lokal lain yang ada di Nusantara misalnya yang terjadi di Bali. Untuk melihat budaya bissu masih tetap ada sampai sekarang salah satu jalan yang ditempuh yaitu dengan jalan melakukan reinvensi budaya. Penelitian ini mengusulkan untuk melakukan reinvensi budaya kolompok bissu Pammana. Dengan melakukan modifikasi teori the invention of tradition oleh Hobsbawm, peneliti mengunakan istilah reinvensi untuk menghidupkan kembali budaya bissu dengan jalan melakukan modifikasi atraksi yang ditampilkan oleh bissu. Modifikasi yang dimaksudkan berdasarkan teori Soedarsono tentang atraksi seni pertunjukan yaitu murah, miniatur dari aslinya, dimasukkan variasi, dipersingkat durasi waktunya, dan nilai ritualnya ditanggalkan. Reinvensi ini lebih banyak mambantu upaya komersialisai upacara. Dalam hal ini aktor yang melakukan komersialisasi khususnya dewan adat untuk atraksi wisata malawa botting dan dinas Pariwisata untuk atraksi dalam Fastival Danau Tempe dan upacara penjemputan tamu penting. Selanjutnya untuk menjawab pertanyaan penelitian mengenai aktor, upacara, dan regenerasi dapat diurai seperti berikut. Bissu di kabupaten Wajo ditampilkan melalui agen aktor. Ada beberapa aktor yang berperan memunculkan bissu yaitu keluarga istana, masyarakat, dewan adat, dan pemerintah daerah. Masyarakat dibagi lagi menjadi tiga unsur yaitu petani, nelayan, dan sanro. Para aktor tersebut memerlukan bissu terutama dalam pelaksanaan upacara. Dalam berbagai upacara atau ritual yang diadakan oleh aktor tersebut, bissu diposisikan sebagai penentu upacara. Dengan kata lain bissu dianggap sebagai tokoh sentral atau tokoh penting atas keberlangsungan upacara. Upacara atau ritual tidak akan mempunyai arti atau makna apa-apa tanpa dilaksanakan oleh bissu. Sebaliknya, bissu juga diposisikan

51

sebagai pelengkap upacara saja. Upacara akan tetap berlangsung dengan atau tanpa kehadiran bissu. Tidak ada lagi makna filosofis upacara, upacara diadakan hanya sekedar memenuhi unsur-unsur yang harus ada dalam upacara termasuk pelibatan bissu. Aktor yang menempatkan bissu sebagai tokoh penting yaitu keluarga istana, masyarakat, dan dewan adat. Sedangkan aktor yang memposisikan bissu sebagai pelengkap upacara yaitu pemerintah daerah dalam hal ini yaitu dinas pariwisata. Telah terjadi pergeseran peran bissu sebagai tokoh penting menjadi tokoh pelengkap yang dilakukan oleh aktor yang menampilkan bissu. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa penting tidaknya tokoh bissu dalam suatu upacara atau ritual bergantuanng pada aktor yang menapilkan bissu. Masyarakat memerlukan bissu karena memiliki peran dalam upacara atau ritual. Masyarakat dalam hal ini adalah masyarakat pendukung bissu dalam arti luas. Dengan kata lain masyarakat atau aktor yang menampilkan bissu. Upacara yang dibutuhkan oleh masyarakat tersebut telah mengalami pergeseran makna. Pada awalnya masyarakat pendukung bissu utamanya keluarga istana dalam berbagai upacara atau ritual, bissu dilibatkan hanya untuk kepentingan istana dan raja. Namun, setelah munculnya masyarakat pendukung bissu selain keluarga istana maka orientasi upacara mengarah kepada kegiatan komersial. Pemerintah daerah, dewan adat, dan oknum tertentu yang berperan memunculkan bissu justru berorientasi kepada komersialisasi upacara. Hal ini mengakibatkan protes dikalangan keluarga istana agar segala kegiatan bissu dikembalikan di lingkungan istana. Pertentangan tersebut merupakan dinamika dalam masyarakat pendukung bissu. Pertentangan pendapat ini mengisyaratkan bahwa bissu di Wajo khususnya kelompok bissu Pammana masih tetap dibutuhkan oleh masyarakat pendukungnya maupun masyarakat luas. Kelompok bissu Pammana masih dapat bertahan karena disamping faktor aktor dan peran bissu dalam upacara seperti yang telah disebutkan tadi, faktor regenerasi juga turut berperan. Di daerah luar Wajo banyak calabai memiliki minat untuk menjadi bissu. Namun banyak diantara mereka tidak dikabulkan keinginannya karena terbentur oleh syarat prosesi yang sangat berat. Lain halnya dengan kelompok bissu Pammana yang memiliki regenerasi bissu yang memadai. Bahkan secara kuantitas jumlahnya dianggap tidak mengkhawatirkan. Hal ini karena di Pammana, aturan untuk menjadi bissu dilonggarkan. Di tempat ini tidak dikenal prosesi irebba yang diperlakukan sebagai mana

52

layaknya orang meninggal dan sulit dilaksanakan. Jadi kelompok bissu ini diresmikan atau disahkan secara adat pada saat upacara atau ritual pelantikan datu atau raja Pammana. Keberadaan kelompok bissu ini dikukuhkan secara adat bertepatan pada prosesi pelantikan datu Pammana ke-40 tahun 2004 lalu. Sehingga jumlah bissu 'resmi' Pammana menjadi bertambah. Berkenaan dengan uraian sebelumnya mengenai aktor yang menampilkan bissu, upacara yang dibituhkan oleh masyarakat, dan yang sementara dibahas yaitu regenerasi bissu secara tersirat dapat dikatakan bahwa kelompok bissu Pammana masih dapat bertahan dalam kondisi masyarakat yang selalu berubah.

53

DAFTAR PUSTAKA

Ahimsa-Putra, Heddy Shri. 2007. Paradigma, Epistemologi danMetode Ilmu Sosial Budaya: Sebuah Pemetaan. Yogyakarta: Makalah CRCS-UGM tidak dipublikasikan.

Abdullah, Irwan. 2002. Simbol Makna dan Pandangan Hidup Jawa: Analisis Gunungan pada Upacara Gerebeg. Yogyakarta: Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional.

------------. 2006. Konstruksi dan Reproduksi Kebudayaan.Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Ambo Enre, Fachruddin. 1999. Ritumpanna Wélenrénngé: Sebuah Episoda Sastra Bugis Klasik Galigo. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

Badaruddin, M. 1980. Bissu dan Peralatannya. Ujung Pandang: Proyek Pengembangan Permuseuman Sulawesi Selatan.

Darma, Budi. 1995. Harmonium.Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Davies, Sharyn Graham. 2007. Challenging Gender Norms: Five Genders Among the Bugis in Indonesia. Australia: Thomson Wadsworth.

Endarmoko, Eko. 2006. Tesaurus Bahasa Indonesia. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Geertz,

Clifford.

1992.

Tafsir

Kebudayaan.(diterjemahkan

Hardiman). Yogyakarta: Penerbit Kanisius.

oleh

Fransisco

Budi

Hamonic, Gilbert. 2002. Kepercayaan dan Upacara daei Budaya Bugis Kuno: Pujaan Pendeta Bissu dalam Mitos La Galigo.(Maklah disampaikan pada Festival dan Seminar Internasional La Galigo Barru, Sulawesi Selatan, 15-20 Maret 2002. Pancana Barru Sulawesi Selatan.

Hobsbawm,

Eric

(ed.).

2003.

University Press.

The

Invention

of

Tradition.Cambridge:

Cambridge

Jary, David dan Julia Jary. 1991. Collins Dictionary of Sociology. Great Britain: Harper Collins Publishers.

Lathief, Halilintar. 2004. Bissu: Pergulatan dan Peranannya di Masyarakat Bugis. Depok: Desantara.

54

Matthes, B.F. 1874. Boegineesch-Hollandsch Woordenboek, met Hollandsch- Boeginesche Woordenlijst. En Verklaring van Een Tot Opheldering Bijgevoegden Ethnographischen Atlas. Amsterdam: Bij C.A. Spin & Zoon.

Nasikun. 1984. Sistem Sosial Indonesia. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

Kennedy, M. 1993. Clothing, Gender, and Ritual Transvetism: The Bissu of Sulawesi. The Journal of Men's Studies, 2 (1), 1-3.

Kern, R.A. 1993. I La Galigo. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Koentjaraningrat (dkk.). 1984. Kamus Istilah Antropologi. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Koentjaraningrat. 1999. Sejarah dan Teori Antropologi II. Jakarta: UI Press.

Pasanreseng, Muh. Yunus. 1992. Sejarah Lahir dan Pertumbuhan Pondok Pesantren "As'adiyah" Sengkang. Sengkang: Pengurus Besar "As'Adiyah" 1989 – 1992.

Pelras, Christian. 2006. Manusia Bugis. Jakarta: Nalar bekerja sama dengan Forum Jakarta-Paris.

Soedarsono, R.M.

1999. Seni Pertunjukan Pariwisata. Bandung: Masyarakat Seni

Pertunjukan Indonesia.

---------------. 2002. Seni Pertunjukan di Era Globalisasi. Bandung: Masyarakat Seni Pertunjukan Indonesia.

Sumange, H.Hary dan M.E.Fachry. 2003. Menelusuri Keberadaan Bissu (Calabai) di Kabupaten Soppeng (Telaah Bacaan, Cerita Rakyat dan Proses Perjalanan Calabai). Makalah dibawakan pada Festival Galigo dan Seminar International Sawerigading Mamasa 10-14 Desember 2003. Mamasa: Yayasan Budaya Soppeng.

Syahrir, Nurlina. 2003. Bissu dalam Masyarakat Pangkep Kedudukan, Upacara, dan Sejarahnya. Makassar: Badan Pengembangan Bahasa dan Seni FBS UNM.

Tuloli, Nani (dkk.). 2003. Dialog Budaya, Wahana Pelestarian dan Pengmbangan Kebudayaan Bangsa. Jakarta: Badan Pengembangan Kebudayaan dan Pariwisata Deputi Pelestarian dan Pengembangan Budaya Direktorat Tradisi dan Kepercayaan Proyek Pelestarian dan Pengembangan Tradisi dan Kebudayaan.

55

BIODATA PENELITI

Nama Tempat, Tanggal Lahir Pekerjaan Pangkat/Gol./NIP Jabatan Fungsional Alamat Lengkap :

: Andi Muhammad Yauri, S.S., M.Hum. : Sengkang, 16 November 1971 : Dosen STAIN Watampone : Penata/IIIc/150 295 330 : Lektor

Mobile Phone

Email

Kantor: STAIN Watampone Jl. HOS Cokroaminoto Watampone Tlp. (0481) 21395 Rumah: Rumdin PKM Watampone Jl. Besse Kajuara No. 18A Watampone Tlp. (0481) 23589 : 0815 603 8230

Tlp. (0481) 21395 Rumah: Rumdin PKM Watampone Jl. Besse Kajuara No. 18A Watampone Tlp. (0481) 23589

: andi_yaurie@yahoo.com :

: andi_yaurie@yahoo.com : Riwayat Pendidikan

Riwayat Pendidikan

1. Sekolah Dasar Negeri (SDN) No. 5 Sengkang 1984

2. Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 1 Sengkang 1987

3. Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) I Sengkang 1990

4. S1 Sastra Inggris Universitas Hasanuddin Makassar 1997

5. S2 Magister Linguistik Universitas Padjadjaran Bandung 2004

Pengalaman Penelitian:

1. Kohesi pada Tajuk Rencana The Jakarta Post : Suatu Analisis Wacana (Skripsi) 1997

2. Tingkat Penguasaan Structure pada Mahasiswa Semester II STAIN Watampone (Studi Kuantitatif Program Matrikulasi Unit Bahasa STAIN Watampone) 2001

3. Kemampuan Memahami Teks Bahasa Inggris oleh Mahasiswa S2 dan S3

PPs Unpad Bandung (Penelitian Mini) 2003

4. Koherensi dalam Wacana Komik The Born Loser (Tesis) 2004

5. Kesulitan-Kesulitan dalam Membuat Kalimat Sederhana Bahasa Inggris pada Murid Kelas 5 SD/MI di Watampone: Satu Analisis Kesilapan (Penelitian Mandiri) 2005

Karya Ilmiah yang Dipublikasikan:

1. Penulis Buku Integrated English Structure: Elementary Exercises. Tahun 2007, Yogyakarta: Eja Publisher.

2. Editor Buku Belajar Ilmu Sosial Dasar. Penulis Andi Adijah. Tahun 2007 Tahun 2007, Yogyakarta: Eja Publisher.

56