Anda di halaman 1dari 2

SOPAN SANTUN REMAJA

Belajar sopan santun sejak dini akan membentuk anak menjadi pribadi dewasa yang
bertata krama.
Siapa bilang anak batita belum bisa diajarkan tata krama? Justru di usia inilah saatnya
untuk mengenalkan sopan santun kepada anak. Dengan demikian, anak jadi tahu apa
yang sebaiknya dilakukan atau tidak di berbagai kesempatan. Saat bertamu, misal, anak
tahu etika umum apa saja yang berlaku. Demikian juga saat makan atau berbicara.
Dengan mengenalkan si kecil kepada berbagai etika, dia akan tumbuh menjadi seorang
dewasa yang sopan.
Namun tentunya, pengajaran harus disesuaikan dengan usia anak. Tuntutan sopan santun
buat anak berbeda jauh dengan orang dewasa. Cukup ajarkan hal-hal kecil yang bisa
dilakukan anak di usia ini. Menuntut anak agar bisa makan dengan rapi dan memakai
celemeknya sendiri, misal, sama saja dengan mengharapkan kucing bernyanyi. Lagi pula,
sikap sopan umumnya akan terbentuk dari pembiasaan, yang dilakukan secara berulang-
ulang dalam waktu lama.
Sebenarnya, teve sangat efektif mengajarkan sopan santun. Sayangnya, banyak tayangan
teve yang justru mengajarkan ketidaksenonohan, termasuk film-film kartun yang cukup
digemari anak. Banyak sekali ketidaksopanan yang muncul, dari kata-kata yang tak
pantas diucapkan seperti “bodoh”, “goblok”, “sialan”, dan sebagainya, hingga perilaku
kasar. Karena itu, orangtua hendaknya selalu mendampingi anak saat menonton teve agar
tayangan tersebut tak direkam dan dijadikan acuan berperilaku oleh anak. Jelaskan pada
si batita bahwa kata-kata atau perilaku tersebut tidak sopan dan jangan ditiru.

SANTUN BERBICARA
Agar si kecil memiliki sopan santun dalam berbicara, kenalkan ia pada 4 kata “sakti”
berikut ini:
1. Terima Kasih
Ajari anak mengucapkan “terima kasih” kepada orang-orang yang telah memberikan
pertolongan ataupun hadiah. Dengan demikian, anak terbiasa menghargai orang lain.
Saat anak diberi mainan oleh kakeknya, misal, katakan pada si kecil, “Adek, Kakek sudah
memberimu mainan. Adek sebaiknya mengucapkan terima kasih kepada Kakek.” Jika
anak masih sungkan, jangan segan untuk berbicara atas nama anak, “Terima kasih ya,
Kek.” Jika ucapan itu didengar anak berkali-kali, anak pun belajar etika berterima kasih
kepada si pemberi. Berikan pujian jika anak bisa melakukannya, meski dia belum fasih
mengucapkan terima kasih seperti “siih”, “cih”, atau “maacih.”
Jika anak tetap tak mau mengucapkannya, hindari sikap mempermalukan anak di depan
umum. Maksud orangtua mungkin mengingatkan, “Hayo, kalau diberi mainan bilang
apa?” Atau “Kamu kok tidak mengucapkan terima kasih?” Tapi harus diingat, cara itu
justru membuat anak ogah mengucapkannya. Kalau mau mengingatkan, hindari di depan
umum, tetapi saat Anda dan anak tinggal berdua. Atau, cari cara yang halus dengan
mengatakan, “Kayaknya, Adek lupa ya dengan kata-kata sakti kalau seseorang
memberikan hadiah.”
Tentunya, orangtua juga harus menunjukkan dirinya beradab, bukan hanya menuntut
anak berlaku sopan. Bagaimana mungkin anak mau mengucapkan terima kasih, jika
orangtua sendiri lupa mengucapkan kata sakti itu kepada petugas parkir, kasir, atau
semua orang yang memberikan pertolongan? Jadi, jika mengharapkan anak sopan,
berikanlah teladan. Mulailah dari hal kecil, seperti mengucapkannya kepada anak karena
mau mengambilkan remote teve, dan sebagainya.
2. Tolong
Biasakan mengucapkan kata “tolong” saat meminta bantuan orang lain seperti pengasuh.
Anak batita umumnya dapat merangkai 2-3 kata. Jadi, kata “tolong” sebaiknya diucapkan
saat anak meminta diambilkan air minum, dibukakan pintu, dipasangan batu baterai ke
dalam mainannya, dan lain-lain. Namun dalam mengajarkannya tidak dengan paksaan.
Hindari menolak keinginan anak hanya karena ia tak mengucapkan kata “tolong”. Anak-
anak hanya perlu diingatkan, tapi tidak dipaksa. Lambat laun anak akan mengenal
pentingnya mengucapkan kata itu saat meminta bantuan/pertolongan.
3. Maaf
Mulailah dari diri orangtua. Ketika Anda tak sengaja menginjak mainan si kecil, misal,
mintalah maaf kepadanya. Pendeknya, jangan segan mengucapkan kata maaf. Dengan
demikian, anak tahu, dia harus mengucapkannya kala berbuat khilaf. Begitu pula saat
anak memukul temannya karena berebutan mainan, orangtua harus proaktif mengajak
anak meminta maaf. Plus dengan janji tak akan mengulangi lagi perbuatannya.
4. Permisi
Jelaskan pada anak bahwa orang lain memiliki privasi yang harus dihargai. Jadi, saat
anak masuk rumah atau kamar orang lain, ajarkan untuk mengetuk pintu dan
mengucapkan permisi. Berikan juga contoh, misal, mengucapkan kata yang sama saat
orangtua hendak masuk kamar anak.
Selain dari tindakan sehari-hari, orangtua bisa mengajarkan pentingnya kata permisi
lewat bacaan atau dongeng karangan orangtua. Misal, Kancil yang selalu mengatakan
permisi kalau masuk kamar Tupai, juga mengucapkannya saat berjalan melewati Kadal
tua yang sedang duduk. Gambarkan juga di dalam cerita itu, reaksi positif yang muncul
dari orang yang mendapat ucapan permisi. Dengan demikian, anak senang berlaku sopan
karena reaksi positif akan segera diterima dari lingkungannya.

SOPAN SAAT BERTAMU ATAU KETIKA ADA TAMU


Banyak orangtua kesal karena ulah anaknya saat diajak bertamu. Dari meminum
minuman orang lain hingga bolak-balik mengambil kue, bahkan bermain di kursi tamu.
Hal yang sama juga terjadi saat ada tamu datang ke rumah, si kecil tetap over acting.
Cara mengajarkan:
Jelaskan dengan bahasa yang mudah dimengerti, seperti, “Adek jangan minum dari gelas
itu karena punya Paman. Adek kan sudah punya gelas sendiri.” Hindari menghukum anak
di depan tamu, karena sama saja dengan mempermalukannya di depan orang lain.
Kecuali kalau anak memang benar-benar tak bisa diatur, apa boleh buat, orangtua harus
mengajak anak ke luar/kamar dan berikan penjelasan bahwa tak baik mengganggu tamu.
Selain itu, cari penyebab, mengapa si kecil bersikap berlebihan. Jika bosan, orangtua
sebaiknya membawa mainan dari rumah, atau meminta pengasuh menemani anak
bermain.
Bermain peran sangat efektif mengajarkan etika bertamu. Berikan peran tamu kepada
anak dan Anda sebagai tuan rumah. Jelaskan, apa saja yang boleh dan tak boleh
dilakukan saat bertamu. Selanjutnya, orangtua bisa berganti peran menjadi tamu dan anak
menjadi tuan rumahnya, hingga anak tahu etika bertamu dan menerima tamu.

SOPAN BERTINDAK
Sopan santun tidak melulu berkaitan dengan etika berkata-kata, tapi juga tindakan.
Pengendalian emosi adalah salah satunya. Nah, tugas orangtualah untuk mengarahkan
anak agar bisa mengendalikan emosi. Khususnya saat kemauannya tak bisa dipenuhi.
Menangis berguling-guling, merusak, memukul, memang tidak 100% dapat dihilangkan
di usia ini, tapi setidaknya orangtua bisa mengendalikannya seminimal mungkin.
Cara mengajarkan:
Memang, tak mudah untuk mengajarkannya, apalagi anak sedang mengalami masa
tantrum. Di sini, anak harus diajarkan, tidak semua keinginan anak dapat dipenuhi saat itu
juga. Tugas orangtualah memberikan penjelasan logis mengapa kemauannya tak bisa
dipenuhi, semisal, tak dibelikan permen karena sedang sakit gigi. Ajarkan pula untuk
mengungkapkan emosi secara sehat, antara lain dengan ucapan asertif, seperti “Jangan
ambil” lebih baik daripada memukul anak yang hendak merebut mainannya.

SOPAN SAAT MAKAN


Bukan berarti orangtua mengajarkan table manner, lo. Melainkan mengajarkan bahwa
ada etika yang harus dilakukan anak saat makan, juga terhadap makanan. Dengan
demikian, tak ada lagi aktivitas membuang makanan, melempar makanan, menyembur-
nyembur makanan, dan sebagainya.
Cara mengajarkan:
Lakukan pembiasaan saat makan. Biasakan anak duduk di meja khusus saat makan, juga
bercelemek. Dengan pembiasaan itu, anak tahu, dia harus diam saat makan dan menjaga
bajunya tetap bersih saat makan. Hindari makan sambil menonton teve atau melakukan
kegiatan lain.
Hal lain yang perlu diingat, pastikan menu makanan bervariasi agar anak tak bosan.
Berikan porsi secukupnya hingga tak ada kesempatan buat anak memainkan makanan.
Juga atur jadwal makan agar anak bisa makan tanpa dipaksa.