Anda di halaman 1dari 1

Pembangunan Rusuna Bisa Lebih Efisien

Selasa, 27 Nopember 2007

JAKARTA (Suara Karya): Pemerintah akan menggunakan sistem pracetak dan prategang
untuk pembangunan rumah susun sederhana (rusuna) berlantai tinggi. Ini karena sistem
pracetak dan prategang dinilai lebih murah, cepat, dan efisien dibanding dengan sistem
konvensional. Dengan demikian, rusuna dengan luas lantai 36 m2 seharga Rp 114 juta
seperti yang ditetapkan pemerintah, dapat dilaksanakan dengan efisien.
"Diharapkan dengan penggunaan sistem ini unsur arsitektur ataupun struktur dan
konstruksi bangunan serta utilitas bangunannya bisa saling melengkapi. Sehingga
dihasilkan rusun yang sekalipun harga jualnya dibatasi oleh pemerintah, akan tetapi
cukup berkualitas dan layak dimanfaatkan," kata Deputi Bidang Perumahan Formal
Kementerian Negara Perumahan Rakyat Zulfi Syarief Koto kepada wartawan, di sela
acara workshop tentang "Value Engineering Rumah Susun Sederhana Bertingkat
Sedang dan Bertingkat Tinggi Dengan Sistem Pracetak dan Prategang Sebagai
Antisipasi Bencana Gempa" di Jakarta, Senin (26/11).
Menurut Zulfi, sistem pracetak dan prategang memiliki banyak kelebihan jika
dibandingkan dengan sistem konvensional. Selain murah dan cepat, sistem ini juga
tahan gempa, sehingga cocok untuk digunakan pada rusuna. Karenanya, pemerintah
diperkirakan akan menggunakan sistem itu untuk bangunan berlantai tinggi, seperti
rusuna. Untuk itu, lanjutnya, perlu adanya koordinasi antara organisasi profesi,
seperti Ikatan Ahli Pracetak dan Prategang Indonsia (IAPPI) dengan Pemprov DKI
maupun Ditjen Cipta Karya Departemen Pekerjaan Umum.
Sementara itu, Ketua Umum IAPPI HR Sidjabat MPCI mengatakan, sistem pracetak
adalah sistem yang menawarkan pelaksanaan yang kualitasnya terkontrol, lebih
cepat, rapi, dan ekonomis. Sistem ini, cocok untuk diterapkan di bangunan modular
seperti rusun. Hingga saat ini, sekitar 22 sistem pracetak yang sudah dikembangkan
sedang dipatenkan dan diuji ketahanannya terhadap gempa.
"IAPPI saat ini memiliki 30 anggota yang berada di DKI Jakarta. Program 1.000
tower yang dicanangkan pemerintah adalah jumlah yang sangat luar biasa.
Karenanya, perlu ada usaha tetap untuk memenuhi persyaratan teknis dalam
perencanaan, pelaksanaan dan pengawasan," katanya. (Novi)