Anda di halaman 1dari 8

Upaya Meraih Rahmat Allah swt

.

.




.
:

.






. .


.
Syukur Alhamdulillah, kita panjatkan kepada Allah SWT, karena taufik, hidayah
dan inayah-Nya, dan Insya Allah dengan ridha-Nya pula pada siang hari ini kita
dapat meninggalkan berbagai macam aktivitas keseharian, kita peruntukkan
memenuhi panggilan Allah SWT melaksanakan shalat Jumat dengan segala
rangkaiannya. Mudah-mudahan ibadah yang sudah kita lakukan dan yang akan kita
lakukan mampu mengangkat kita menjadi orang yang benar-benar taqwallah.
Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan kepada junjungan kita Nabi
Muhammad SAW beserta keluarganya, para sahabatnya, dan kaum muslimin yang
mengikuti petunjuknya.
Sebagai khotib, saya berwasiat kepada diri saya pribadi dan para jamaah sekalian,
marilah kita terus menerus berusaha meningkatkan kualitas keimanan dan
ketaqwaan kepada Allah SWT dengan menunaikan segala perintah-Nya dan
1

menjauhi segala larangan-Nya. Marilah kita selalu meningkatkan kewaspadaan,


agar kita tidak mudah terperdaya oleh rayuan syetan dan bujukan hawa nafsu yang
akan merobek-robek keimanan dan menggelincirkan kita ke dalam kenistaan dan
kebinasaan. Semoga kita termasuk dalam golongan hamba Allah yang bertaqwa,
yang mendapatkan kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat kelak, amin.
Pada kesempatan ini, saya akan menyampaikan khutbah jumat dengan tema Upaya
Meraih Rahmat Allah SWT
Jamaah Jumah Rahimakumullah
Materi khotbah kali ini merupakan penjabaran dari istilah rahmat dalam surat AzZumar ayat 53 yang berbunyi:









Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka
sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah
mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun
lagi Maha Penyayang.
Bahwasanya kita semua dilarang untuk merasa putus asa atas rahmat Allah swt.
Bagaimana kita akan putus asa kalau kita sendiri tidak memahami rahmat itu
sendiri. Oleh karena itulah tema khotbah kali ini akan lebih banyak membicarakan
hal tersebut.
Sebuah kisah yang berdasarkan pada hadist Rasulullah saw dari cerita Malaikat
Jibril sungguh dahulu pernah ada seorang hamba (abid) yang tinggal seorang diri
di sebuah gunung paling tinggi di dunia. Begitu tingginya gunung itu, sehingga aku
(jibril) sering melaluinya ketika hendak turun dari langit melaksanakan titah dari
Yang Maha Kuasa. Gunung itu tidak begitu luas, tetapi cukup lengkap persediaan
2

bahan makanan dan buah-buahan juga air terjun yang menyegarkan. Hal itu
mempermudah abid menjaga perut dari kekosongan dan memudahkannya
berwudhu sehinga ia selalu dalam keadaan suci.
Di atas gunung yang sangat indah itu, abid hidup selama lima ratus tahun. Ia tidak
punya kegiatan, selain beribadah, bermunajat, dan berdoa, tidak pernah terlintas
dibenaknya untuk berbuat dosa dan mendurhkai-Nya. Salah satu doa yang
dikabulkan Allah swt adalah permohonannya setiap saat untuk mati dalam keadaan
sujud. Demikianlah, akhirnya abid meninggal dunia dalam usia lima ratus tahun.
Setelah kematiannya Allah swt berkata kepadanya wahai hambaku karena rahmatKu, engkau akan segera aku masukkan ke dalam surga. Mendengar pernyataan
tersebut si abid berubah mukanya, terkesan tidak menerima. Karena ia merasa
bahwa amal-ibadahnya selama lima ratus tahun tanpa dosalah yang
menyebabkannya layak masuk ke surga. Bukan semata karena rahmat-Nya.
Demikian protes abid kepada Allah swt.
Mafhum apa yang dimaksud oleh si abid. Maka segeralah Allah menugaskan
seorang malaikat untuk menghitung dan menimbang seluruh amal-ibadahnya
selama lima ratus tahun tanpa dosa yang diandalkannya sebagai modal meraih
sorga. Kemudian ditimbangnya amal tersebut dibandingkan dengan rahmat
pemberian-Nya. Ternyata rahmat Allah swt yang diberikan kepada abid yang
terdapat dalam mata (termasuk di dalamnya kemampuan melihat) saja jauh lebih
berat nilainya dibandingkan dengan ibadahnya selama lima ratus tahun. Belum
nikmat anggota badan yang lain, otak, kaki, tangan, dan seterusnya.
Maka sesuai dengan protes yang diajukannya, Allahpun memerintahkan malaikat
untuk menyeret si abid ke dalam neraka. Karena nilai amal-ibadahnya jauh lebih
ringan dari pada rahmat yang terdapat pada mata. Ketika itulah si abid baru sadar
ternyata kebergantungannya pada amal tidak dapat menyelamatkannya. Segera ia
meminta ampunan dan mengakui akan segala kesalahan dan kesombongannya. Ia
terlalu mengandalkan amal ibadahanya dan mengabaikan rahmat-Nya.
Akhirnya Allah mengampuninya dan sekali lagi menanyakan kepada si abid
apakah engkau masuk surga ini karena amalmu? si abid menjawab tidak ya
Allah Tuhanku, sungguh ini semua karena rahmat-Mu.
Jamaah Jumah Rahimakumullah

Cerita di atas membuktikan betapa hidup manusia ini sangat tergantung pada rahmat
Allah swt sebagai pengatur alam jagad raya. Ia-lah yang menentukan semuanya. Ia
berhak melakukan apapun kepada makhluk-Nya. Sebagai Sang Pencipta, sebagai
Sang Maha Kuasa, Dia bebas menyiksa dan mengganjar siapa saja yang Ia
kehendaki. Tidak ada yang dapat membatasi gerak-Nya. Ketundukan atau
kedurhakaan kita kepada-Nya tidaklah mampu menggeser kekuasaannya walau
sedikitpun. Oleh karena itulah hidup semua makhluk ini sungguh-sungguh
tergantung pada rahmatnya, bukan pada kesalehan amal ibadah kita.
Oleh karena itulah kita diajari sebuah doa yang sangat masyhur:

,

Irhamna ya Allah, lianna rahmataka arja lana min jamii amaalinaa. Waghfir
lanaa ya Allah, lianna maghfiratakan ausau lana min dzunubinaa.
Ya Allah kasihanilah kami, karena rahmat-Mu lebih kami harapkan dari pada
semua amal kami. Dan ampunilah kami, karena pengampuanan-Mu lebih luas dari
pada dosa-dosa kami.
Begitulah hendaknya, manusia sebagai hamba yang lemah tidak dibenarkan terlalu
merasa aman dengan amal ibadah yang telah kita kerjakan. Karena hal itu tidak
serta merta mampu menyelamatkan diri kita. Karena keselamatan dan pertolongan
itu terkandung dalam rahmat Allah SWT.
Dengan kata lain, sungguh merugi jika manusia merasa nyaman dengan tumpukan
dan penjumlahan amal yang telah dilakukannya, dengan harapan amal-ibadah itu
akan menyelamatkannya dari api neraka.
Sebuah kisah masyhur dari kitab Nashaihul Ibad karya Syaikh Nawawi al-Bantani
tentang al-Ghazali. Diceritakan bahwa Imam Ghazali tampak dalam mimpi, maka ia
ditanya oleh Allah SWT Apa yang Allah lakukan kepadamu? lalu ia menjawab
Allah membiarkanku di hadapan-Nya, kemudian Allah berkata, kenapa Engkau
dihadapkan kepada-Ku, apa yang engkau bawa? Maka Al-Ghazali menyebutkan
segala amal-ibadahnya. Tetapi Allah menjawab sesungguhnya Aku tidak
menerima semua amal-ibadahmu, kecuali satu amal pada suatu hari ketika engkau
membiarkan sesekor lalat hinggap di atas tintamu dan meminum tinta itu dari ujung
4

penamu, serta engkau membiarkannya karena kasihan kepada lalat itu. Kemudia
Allah berkata wahai malaikat, bawalah hambaku ini ke surga.
Fragmen Al-Ghazali ini menunjukkan kepada kita bahwa posisi rahmat Allah itu
sangat rahasia. Ia bisa terdapat pada bentangan amal kita yang tidak kita ketahui
persisnya. Beratus-ratus kitab karya al-Ghazali, bertahun-tahun ibadahnya, tetapi
rahmatnya malah terdapat di tinta pada ujung penanya. Bukankah secara logika
ratusan karya itu lebih bernilai? Tidak demikian. Rahmat Allah SWT tidak dapat
dikalkulasi, diprediksi dan diperinci karena rahmat itu adalah hak prerogatif milik
Allah SWT.
Jamaah Jumah Rahimakumullah
Oleh karena itulah tidak dibenarkan bagi kita untuk menilai rendah sebuah amal
ibadah. Walaupun itu sekedar menghindarkan duri dari tengah jalan. Karena bisa
saja amal itu yang dirahmati Allah swt. Kita tidak boleh meremehkan amal walau
sekecil apapun siapa tahu itulah yang akan menyelamatkan kita di akhirat nanti
Bukankah Sayyidina Umar masuk surga karena sekedar menyelamatkan burung
emprit yang dibelinya dari seorang anak kecil yang menyiksa burung itu? Cerita ini
kemudian diabadikan dengan sebutan kitab sfuriyah. Begitu sebaliknya, kita tidak
dibenarkan pula menyombongkan amal ibadah walau sebesar apapun amal tersebut.
Karena belum tentu amal itu mengandung rahmat dari Allah SWT.
Jamaah Jumah yang Dirahmati Allah SWT.
Dalam konteks kekinian rahmat Allah dapat saja berada dalam amal yang sungguh
sepele. Mungkin saja rahmat itu terletak dalam diri anak-anak jalanan yang
mengulurkan tangan ke hadapan kita, atau di dalam diri pengamen yang
menyanyikan lagu sumbang tak jelas suara dan nadanya. Dan juga mungkin sekali
rahmat itu terletak dalam amal kita dalam memberi selembar kertas koran sebagai
alas shalat jumat. wal hasil sekecil apapaun amal itu tidak boleh kita sepelekan.
Hal ini tentunya akan mengajak kita memandang fenomena akan lebih hati-hati dan
tidak mudah syuud dhann. Janganlah kita mudah buruk sangka dan memandang
remeh kepada pekerjaan orang lain. Tukang sayur yang mangkal setiap pagi, tukang
loper koran, tukang ojek dan tukang-tukang lain yang sering kita nikmati jasanya
tanpa kita kenal profilenya dengan dekat, bahkan seringkali kita jadikan kambing
hitam, bisa jadi pekerjaan merekalah yang mengandung rahmat Allah swt
dibandingkan pekerjaan kita.

Akhirul kalam, bahwasannya manusia tidak boleh berputus asa untuk terus
memburu rahmat Allah, karena sesungguhnya rahmat itu amat luasnya, hanya
kebanyakan manusia tidak memahami hikmah dibalik itu semua.
Demikianlah khotbah jumah kali ini semoga membawa banyak manfaat. Minimal
meyakinkan pada diri kita agar tidak mudah memandang remeh pada amal-amal
kecil dan juga amal-amal orang lain.






Khutbah II
















.





















.