Anda di halaman 1dari 3

ARAH ITU PAICA??!?

Pagi hari di sudut ruangan sebuah gedung, bunyi genta mengalun indah dan
merdu (yang pasti bukan dagang es camcau!!) memenuhi semua isi gedung itu.
Di salah satu ruangnya berkumpul beberapa anak muda dengan pakaian rapi
kepura dan dua orang dewasa yang salah satunya berpakaian putih rapi
sedangkan yang satunya memakai pakaian kemeja rapi dan berwibawa seperti
seorang ayah dari semua anak muda itu.

Seorang anak muda yang kliatan bingung berkata pada temennya, “bos nyanyi
donk masa gak nyanyi, masa pak wasi udah ngucapin mantra gak ada yang
nyanyi, ida ratu kek ato apa”. Temannya pun dengan wajah yang polos dan tidak
bersalah menjawab “aku tu cuma tahunya peterpan conk!”, “waduh berarti
sama gobloknya dengan aku, nyesel aku nanya kamu.” Mereka berdua tampak
bingung dan entah dimulai dari mana tiba-tiba nyanyian berkumandang dari
sudut ruangan “idaaaa....ratuuuu.....” dan keduanya pun ikut bernyanyi sambil
berpikir “ngendingang ida ratu gen telung jam ne” (he..). dan nyanyian dharma
berkumandang dengan indahya di udara dingin pagi itu.

Di ruangan itu terlihat banyak banten dan sesajen yang ditata dengan sangat
baik diatas meja kayu baru dengan merek terkenal (kayaknya terkenal). Dan
dibawah terlihat nasi warna dengan arak dan tuak serta canang sari indah
dengan bunga mawar merah sebagai penghiasnya ditambah bunga sandat yang
semerbak. Diatas meja dan sesajen itu bersandar di tembok, sebuah
‘pelangkiran’ berukirkan dengan indah dengan daksina lengkap. Namun apa
yang terjadi disaat bersamaan entah angin dari mana, meniupkan dinginnya
membuat bulu kuduk berdiri, membuat ruangan semakin sepi, semuanya
terdiam dan tertegun mata mereka menerawang entah kemana, detak jantung
pun semakin berdebar dan....sesosok putih mulai mendekati pelangkiran
itu..pelan tapi pasti membawa sebuah benda putih...dan.... (stooop!! Itu pak wasi
jangan mikir yang gak-gak ya!)

Pak wasi pun mengucapkan mantra diiringi dentangan genta yang


mengheningkan pikiran (serius..ne) semua yang berada di dalam ruangan itu
mulai terhanyud dengan indahnya suasana tersebut. Inilah yang terjadi disaat
acara melaspas dan pemindahan pelangkiran yang dilakukan KMHD UNY karena
pemindahan sekretariat baru dari gedung rektorat lama ke Student Center Lantai
2 UNY. Pemindahan ini atas permintaan rektorat untuk menyatukan semua UKM
dalam satu gedung. Prosesi pemlaspasan di lakukan dengan hikmat dan dihadiri
oleh bapak pembina Drs. Putu Sudira dan Bapak Wasi dari Banguntapan serta
anggota KMHD sendiri.

Setelah dilakukan prosesi pemlaspasan, pak wasi memberikan berbagai


wejangan yang berguna yaitu tentang bagaimana belajar yang baik agar
mendapatkan wahyu dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa khususnya Ida Bhatari
Dewi Saraswati. Beliau mengatakan bahwa dalam menuntut ilmu apapun baik
ilmu hitam, gelap atau black ehmm.. maksudnya semua ilmu baik dari bangku
sekolah formal ataupun informal tidak akan bisa lepas dengan Dewi Saraswati
sebagai penguasa ilmu pengetahuan oleh karena itu hendaknyalah kita
mengingat, mengheningkan pikiran untuk menyembah dan memohon restu dari
Ida Bhatari untuk dituntun pikirannya agar apa yang dipelajari bisa keluar dalam
ujian ehmm...maksudnya bisa menjadi hal yang berguna jika nantinya harus
langsung terjun ke masyarakat untuk meraih cita-cita yang diharapkan. Pak Wasi
juga mengatakan belajar bukan untuk meraih nilai ujian atau nilai yang tertinggi
namun untuk mengabdi kepada masyarakat memberikan semua apa yang telah
dipelajari sehingga dapat memberikan kebahagiaan kepada semua orang
sekitar. Meraih cita-cita bukan hanya untuk diri sendiri namun untuk orang lain
akan memberikan semangat yang berbeda pada diri.

Di saat yang sama Pak Wasi juga mengataan bahwa dalam belajar juga
hendaknya melihat ke arah mana kita belajar, karena dalam kepercayaan Hindu
arah sangat menentukan seperti layaknya Dewata Nawa Sanga yang menjaga
berbagai penjuru mata angin. Pak Wasi menjelaskan berbagai pengertian
sebagai berikut, 1) Utara, didentikkan dengan gunung, gunung adalah sumber
dari mata air, sedangkan air adalah harta atau sesuatu yang benar-benar
berharga bagi kehidupan. Jadi arah utara merupakan arah yang yang bertujuan
untuk meminta berkah kepada Sang Hyang Widhi Wasa. 2) Selatan, air yang dari
gunung di utara akan mengalir ke arah selatan dan bermuara kelaut. Jadi arah
selatan adalah arah untuk mengheningkan pikiran membuang segala yang buruk
dan jelek dari diri kita (muka jelek gak bisa!) sehingga hanya ada kebaikan
dalam diri. 3) Timur, adalah tempat terbitnya matahari yng cerah, jadi timur
untuk bersujud kepada ida sang hyang widhi guna mencari pencerahan dalam
diri, 4) Barat, adalah tempat arah untuk melihat bayangan sendiri, mengkoreksi
apa yang telah dilakukan guna menjadikan kita orang yang berwibawa. Orang
yang berwibawa diidentikkan sebagai pangkat. Jadi timur untuk berdoa kepada
tuhan guna diberi restu menempati jabatan yang diinginkan.

Tapi Pak Wasi juga mengatakan percaya atau tidak semuanya akan selalu
berpulang pada diri sendiri, seberapa dekatkah engkau dengan ida hyang widhi
karena semuanya tanpa restunya tidakkan mungkin akan terwujud (AFH).