Anda di halaman 1dari 4

Patogenesis dan Patofisiologi

Epistaksis cenderung merupakan suatu gejala dari penyakit lain dan


seringkali muncul mendadak secara idiopatik. Secara garis besar epistaksis terjadi
karena terdapat dua faktor utama yatu kelainan lokal dan kelainan sistemik.
Faktor-faktor lokal yang bisa menyebakan terjadinya epistaksis meliputi trauma
nasal, penggunaan obat hidung kortikosteroid secara kronis, kelainan anatomis
(seperti krista, deciasi septum nasi, spina septum yang tajam), tumor intranasal
dan sinonasal, iritasi akibat lokal pada pemakaian oksigen Continuous Positive
Airway Pressure (CPAP). Sedangkan faktor risiko dari kelainan sistemik antara
lain penyakit kardiovaskular seperti hipertensi dan arteriosklerosis, Sindrom
Rendu Osler Weber (hereditary hemorrhagic telangectasia) yang menyebabkan
penurunan

gerakan

kontraktilitas pembuluh darah dan munculnya fistula

arteriovenous, penggunaan obat golongan antikoagulasi (heparin, warfarin) dan


antiplatelets (aspirin, clopidogrel) sehingga luka perdarahaan sulit terkoagulasi.
Kegagalan fungsi organ seperti uremia dan sirosis

hepatis serta gangguan

hormonal seperti kelebihan hormon adrenokortikosteroid juga menambah risiko


epistaksis (Budiman dan Hafix, 2012; Soepardi, 2007).
Epistaksis terbagi dalam dua golongan berdasarkan lokasi perdarahannya
yaitu epistaxis anterior dan epistaxis posterior. Epistaxis anterior merupakan jenis
epistaksis yang

kurang berbahaya karena cenderung bisa berhenti sendiri.

Epistaxis anterior ini berasal dari perdarahahan pleksus Kiesselbach yang


merupakan bagunan anastomosis dari berbagai pembuluh darah di septum nasi
anterior terletak pada posterosuperior vestibulum nasi sehingga jika ada kerusakan
vaskular maka mudah terjadinya perdarahan nyata. Selain area tersebut,
perdarahan pada epistaksis anterior bisa juga terjadi pada bagian anteriror konka
inferior yang memiliki mukosa rapuh dan menempel erat dengan

kartiolago

dibawahnya. Lokasinya yang terbuka dengan udaraha inspirasi dan lingkungan


luar akan memudahkan terjadinya trauma , ulkus, bahkan ruptur yang memicu
perdarahan juga (Munir et al., 2006).
Sedangkan, epistaxis posterior memiliki sumber perdaharan yang berasal
dari

. Epistaksis posterior ini sendiri cenderung berkaitan dengan penyakit

hipertens, arteriosklerossis, serta gangguan kardiovaskular pada orang-orang

lanjut usia. Epistaksis posterior ini lebih berbahaya dari epistaksis anterior karena
perdarahannya masif dan sulit berhenti spontan. Epistaksis anterior dan epistaksis
posterior dibatasi area sumber perdarahannya oleh

ostium sinus maksilaris

(Budiman dan Yolazenia, 2012).


Baik epistaksis maupun penanganan epistaksisnya itu sendiri memiliki
komplikasi yang berbahaya. Perdarahan yang hebat saat epistaksis akan
memungkinkan terjadinya aspirasi darah ke dalam paru-paru dan menimbulkan
gangguan pernafasan. Selain itu bisa juga terjadi sampai anemia, gagal ginjal akut
serta juga syok akibat kehilangan darah. Kehilangan darah ini menyebabkan
perfusi jaringan menurun dan tekanan darah juga turun mendadak sehingga
memicu hipoksia, iskemia serebral, bahkan sampai infark miokard sehingga
menimbulkan kematian. Terjadinya perdarahan menandakan adanya luka terbuka
sehingga memudahkan infeksi terutama pemberian tampon sehingga bisa memicu
sepsis dan toxin shock syndrom. Selain itu, epistaksis juga bisa memicu
hemotimpani dan bloody tears akibat aliran darah retrograde masu ke telinga
tengah dan duktus nasolakrimalis (Soepardi, 2007).

Faktor Lokal :
Trauma nasal
Penggunaan obat hidung
kortikosteroid secara kronis
Kelainan anatomis (seperti
krista, deviasi septum nasi,
spina septum yang tajam),
tumor intranasal dan
sinonasal
iritasi lokal dari pemakaian
oksigen Continuous Positive
Airway Pressure (CPAP).

Faktor Sistemik
penyakit kardiovaskular seperti hipertensi dan
arteriosklerosis
Sindrom Rendu Osler Weber (hereditary
hemorrhagic telangectasia) penurunan
gerakan kontraktilitas pembuluh darah dan
munculnya fistula arteriovenous
Penggunaan obat golongan antikoagulasi
(heparin, warfarin) dan antiplatelets (aspirin,
clopidogrel)
Kegagalan fungsi organ ( uremia,sirosis
hepatis serta gangguan hormonal seperti
kelebihan hormon adrenokortikosteroid)

Ruptur Vaskular

Plexus Keisselbach, Vaskular di


area Konka Inferior

Epistaxis Anterior

Arteri Sfenopalatina dan


Arteri Etmoidalis Posteriror

Epistaxis Posterior

Komplikasi
Perdarahan yang hebat saat epistaksis akan memungkinkan
terjadinya aspirasi darah ke dalam paru-paru dan menimbulkan
gangguan pernafasan. Selain itu bisa juga terjadi sampai anemia,
gagal ginjal akut serta juga syok akibat kehilangan darah
Terjadinya perdarahan menandakan adanya luka terbuka sehingga
memudahkan infeksi terutama pemberian tampon sehingga bisa
memicu sepsis dan toxin shock syndrom
hemotimpani dan bloody tears akibat aliran darah retrograde masu
ke telinga tengah dan duktus nasolakrimalis

Gambar 1. Patomekanisme Epistaksis

DAFTAR PUSTAKA
Budiman, Bestari J, Hafiz, Al.2012.Epistaksis dan Hipertensi : Adakah
Hubungannya?.Available at
:http://jurnal.fk.unand.ac.id/articles/vol_1no_2/75-79.pdf (diakses terakhir
11 November 2014)
Budiman, Bestari Jaka, Yolazenia.2012. Epistaksis Berulang dengan
Rinosinusitis Kronik, Spina pada Septum dan Telangiektasis. Available at
: http://repository.unand.ac.id/17694/1/Epistaksis%20berulang%20denga
%20rinosinusitis%20kronis,%20spina%20pada%20septum,%20dan%20te
angiektasis.pdf
Munir, Delfitri, Haryono, Yuritna, Rambe, Andrina Y.M..2006.Epistaksis
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/20688/1/mkn-sep2006
%20sup%20%2815%29.pdf
Soepardi, Efiaty Arsyad.2007.Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga, Tenggorok ,
Kepala dan Leher Edisi 6. Jakarta : FKUI